Grace to You Resources
Grace to You - Resource

Pagi ini kita akan memulai seri yang sangat singkat tentang doktrin Allah. Judulnya, "Allah: Benarkah Dia Ada? Siapakah Dia? Dan seperti apakah Pribadi-Nya?" Biasanya kita mempelajari kitab demi kitab dalam Alkitab, tetapi untuk beberapa waktu ini kita akan mengadakan pembelajaran singkat tentang teologi. Jadi, siapkan Alkitab Anda, karena sebentar lagi kita akan membuka dan melihat beberapa bagian Firman Tuhan bersama-sama. Sejarawan Will Durant pernah berkata, "Pertanyaan terbesar pada zaman kita bukanlah komunisme melawan individualisme, bukan Eropa melawan Amerika, bahkan bukan Timur melawan Barat. Pertanyaan terbesarnya adalah apakah manusia sanggup hidup tanpa Allah." Saya setuju dengan pernyataan itu. Saya percaya bahwa persoalan terbesar di dunia ini adalah keberadaan Allah. Alkitab dengan sangat jelas menyatakan keberadaan Allah, dan kita sebagai orang Kristen percaya kepada Allah. Itulah inti iman kita. Dalam Mazmur 90 ayat 2, Alkitab berkata tentang Allah, "Sebelum gunung-gunung dilahirkan, bumi dan dunia diperanakkan, dari dahulu kala sampai selama-lamanya Engkaulah Allah." Ini adalah sebuah pernyataan doktrin yang sangat agung tentang Allah. Ayat ini menyatakan bahwa Allah adalah satu-satunya Allah, "Engkaulah Allah." Ayat ini juga menyatakan bahwa Allah adalah Allah yang kekal, "dari dahulu kala sampai selama-lamanya Engkaulah Allah." Selain itu, ayat ini menunjukkan bahwa Allah adalah Allah Sang Pencipta. "Sebelum gunung-gunung dilahirkan, sebelum Engkau membentuk bumi dan dunia." Betapa luar biasanya pernyataan tentang Allah ini. Allah adalah satu-satunya Allah. Allah adalah Allah yang kekal. Allah adalah Allah Sang Pencipta.

Menariknya, mazmur ini ditulis oleh Musa. Di dalamnya Musa menggambarkan karakter Allah dengan membandingkannya dengan rapuhnya kehidupan manusia. Misalnya, dalam Mazmur 90 ayat 10, ia mengatakan bahwa umur manusia tujuh puluh tahun, dan jika ia kuat, delapan puluh tahun. Namun bahkan setelah mencapai usia delapan puluh tahun itu, kekuatan manusia pun habis. Yang tersisa hanyalah jerih lelah dan kesusahan. Lalu dengan nada yang seakan penuh perenungan ia berkata, "kami melayang lenyap." Musa menunjukkan betapa rapuhnya manusia dan betapa berdosanya manusia. Sebaliknya, ia memperlihatkan bahwa Allah adalah tempat perlindungan, sumber keamanan, dan Pribadi yang kekal.

Sebagai contoh, pada ayat 1 ia berkata, "Tuhan, Engkaulah perteduhan kami turun-temurun." Kami selalu menemukan perlindungan di dalam Engkau. Kami selalu harus menghadapi keterbatasan dan kelemahan kami sendiri, dan kami selalu tahu bahwa satu-satunya kekuatan yang dapat kami andalkan adalah kekuatan-Mu. Jadi kita melihat Allah sebagai satu-satunya Allah yang kekal, Allah Sang Pencipta, dan sumber kekuatan bagi umat-Nya. Itulah Allah pada dasarnya.

Pertanyaan yang muncul ketika kita mulai membahas hal ini adalah kenyataan bahwa ada sebagian orang yang mengatakan bahwa orang-orang Kristen sebenarnya hanya mengarang Allah. Bahkan mereka berpendapat bahwa semua orang di dunia yang memiliki agama hanyalah menciptakan agamanya sendiri, atau menjadi korban dari nenek moyang yang lebih dulu menciptakannya. Padahal, menurut mereka, sebenarnya sama sekali tidak ada sesuatu yang bersifat supranatural. Karena itu kita sampai pada pertanyaan pertama dalam kerangka pembahasan kita: Benarkah Dia ada? Apakah Allah yang menurut Alkitab benar-benar ada itu memang sungguh-sungguh ada? Apakah Dia benar-benar ada?

Sigmund Freud pernah berkata—dan saya tidak sering mengutip perkataannya—bahwa manusialah yang menciptakan Allah. Tentu saja, itu merupakan kebalikan dari apa yang Alkitab ajarkan, yaitu bahwa Allah yang menciptakan manusia. Dalam bukunya yang berjudul The Future of an Illusion (Masa Depan Sebuah Ilusi), Freud—yang Anda ingat sebagai psikiater asal Wina yang dikenal sebagai pelopor psikoanalisis modern—mengatakan bahwa manusia sangat membutuhkan rasa aman. Karena manusia memiliki ketakutan yang begitu mendalam, dan karena ia hidup di dunia yang penuh ancaman serta memiliki sangat sedikit kendali atas keadaan hidupnya, maka manusia menciptakan Allah sebagai tempat meminta pertolongan ketika ia membutuhkannya. Dalam buku The Future of an Illusion itu, Freud mengatakan bahwa manusia menciptakan Allah karena tiga alasan. Alasan pertama, manusia takut menghadapi alam yang tidak dapat diprediksi, yang tidak memiliki belas kasihan, dan yang bekerja tanpa memandang siapa pun. Dengan kata lain, manusia melihat penyakit, kelaparan, dan berbagai bencana, lalu menyadari bahwa dirinya tidak mempunyai pertahanan terhadap semua itu. Karena itulah ia membayangkan adanya seseorang di suatu tempat yang dapat menyelamatkannya. Gambaran ini mirip seperti seorang pria yang tinggal di sebuah pulau vulkanik di Laut Selatan. Ia hidup terisolasi di pulau yang tidak memiliki jalan untuk melarikan diri. Suatu hari ia sedang duduk di gubuk lumpurnya, melakukan apa saja yang biasa dilakukan di dalam gubuk seperti itu—tentu saja bukan menyapu lantai—lalu ia mulai mendengar suara gemuruh, dan tanah di bawahnya mulai bergetar pelan. Ia melakukan apa yang masih bisa ia lakukan. Hal seperti itu memang sesekali terjadi karena ia tinggal di pulau vulkanik. Ia memperkuat gubuk kecilnya, memastikan anak-anaknya aman, mencoba menenangkan istrinya, lalu gemuruh itu semakin keras. Ia keluar dari gubuknya, mendongak ke atas, dan melihat lahar menyembur dari puncak gunung. Saat itu ia sadar bahwa merapikan gubuknya tidak akan banyak berarti, begitu juga menenangkan anak-anaknya. Ketika lahar mulai mengalir menuruni lereng gunung, tidak ada lagi jalan untuk menyelamatkan diri. Pada saat itulah ia merasa hanya memiliki satu harapan, yaitu mencari pertolongan dari suatu kuasa adikodrati, sesuatu yang melampaui manusia, semacam "pengait dari langit" yang dapat menyelamatkannya. Jadi, menurut Freud, pada saat seperti itulah manusia menciptakan Allah.

Hal kedua yang menurut Freud menyebabkan manusia menciptakan Allah adalah karena manusia takut menghadapi hubungan dengan sesamanya. Karena manusia sering merasa diperlakukan tidak adil oleh orang lain, ia merasa perlu membayangkan adanya semacam hakim ilahi, semacam wasit kosmik dengan peluit yang sangat berkuasa, yang pada akhirnya akan menghentikan permainan ini dan memberikan kepada setiap orang apa yang memang pantas mereka terima. Seseorang yang akan meluruskan segala ketidakadilan, sekalipun selama hidup ini kita tidak selalu diperlakukan dengan adil. Alasan ketiga, menurut Freud, manusia menciptakan Allah karena ia takut menghadapi kematian dan lenyap dari keberadaan. Karena itu, manusia ingin memiliki Bapa di surga, Pribadi yang penuh kebahagiaan di suatu tempat, yang akan membawanya ke tempat yang penuh kebahagiaan juga. Sebab manusia tidak sanggup menerima kenyataan bahwa suatu hari ia akan berhenti ada. Itulah sebabnya, menurut Freud, manusia kemudian membayangkan adanya surga.

Nah, itulah pandangan Freud tentang Allah. Menurutnya, Allah tidak benar-benar ada. Allah hanyalah hasil khayalan manusia. Namun, tidak ada bukti apa pun yang mendukung pandangan itu. Gagasan tersebut lahir dari pikirannya sendiri yang telah menyimpang, sebagaimana juga berbagai teori lain yang ia hasilkan. Sama sekali tidak ada dasar pembuktiannya, dan pandangan itu tidak dapat dipertahankan. Meskipun demikian, sangat banyak orang yang mempercayainya. Sebenarnya, pandangan itu juga menunjukkan pemahaman yang sangat sederhana dan kurang mendalam tentang agama. Sebab jika kita benar-benar mempelajari agama-agama di dunia, kita akan menemukan bahwa ketika manusia menciptakan ilahnya sendiri, ilah itu jarang digambarkan sebagai sosok yang membebaskan. Justru biasanya ilah itu adalah sosok yang menindas dan terus-menerus harus dipuaskan. Pernahkah Anda memperhatikan hal itu? Saya justru berpendapat sebaliknya dari Freud, dan saya ingin mengajak Anda mempertimbangkan hal ini. Saya percaya bahwa manusia tidak menciptakan Allah. Sebaliknya, jika manusia benar-benar bisa memilih, justru manusia lebih suka kalau Allah tidak ada. Manusia lebih ingin menyingkirkan Allah. Bahkan jika kita mempelajari sejarah dengan saksama, kita akan melihat bahwa manusia, baik melalui filsafat maupun melalui cara hidupnya, berusaha hidup tanpa Allah. Manusia melakukan segala cara untuk menyingkirkan Allah. Bahkan muncul berbagai ajaran teologi yang mengatakan bahwa Allah sudah mati. Dan orang-orang yang tidak mampu menerima secara filsafat bahwa Allah tidak ada pun, pada akhirnya tetap menjalani hidup seolah-olah Allah memang tidak ada.

Sebagai contoh, mari kita kembali ke Taman Eden. Hal pertama yang terjadi di sana, selain manusia berjalan dan berbicara dengan Allah, adalah kejatuhan ke dalam dosa. Benar, bukan? Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa. Lalu apa hal pertama yang mereka lakukan setelah itu? Begitu mereka berdosa, Adam dan Hawa langsung bersembunyi. Bersembunyi dari siapa? Dari Allah. Sejak saat itu mereka mulai berharap seolah-olah Allah tidak ada. Dan itulah yang terus menjadi kecenderungan manusia sepanjang sejarah. Bahkan dalam Roma pasal 1 dikatakan bahwa Allah itu ada, dan manusia sebenarnya mengetahui bahwa Allah ada di dalam hatinya. Benar? "Apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka." Kemudian pada ayat 20 dikatakan bahwa mereka mengenal Allah. Ayat 21 juga mengatakan bahwa mereka mengenal Allah. Tetapi pada Roma 1:28 dikatakan, "Mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah." Pernahkah Anda memperhatikan ayat itu? Jadi, manusia tidak menciptakan Allah. Sebaliknya, manusia berharap agar Allah tidak ada.

Karena itu saya berani mengatakan bahwa Freud benar-benar keliru. Manusia tidak menciptakan Allah. Dan saya ingin menambahkan satu hal lagi. Kalaupun manusia menciptakan ilah-ilah dalam agama-agama palsu, ilah-ilah itu bukanlah sosok pelindung yang penuh kasih. Justru ilah-ilah itu adalah sosok yang ditakuti manusia. Menurut Anda, apakah seorang wanita di India yang membawa bayinya lalu melemparkannya ke Sungai Gangga hingga tenggelam memandang ilahnya sebagai penyelamat yang agung, sebagai hakim semesta yang akan membebaskannya dari segala persoalan? Sama sekali tidak. Ia memandang ilah itu sebagai sosok yang mengerikan dan menakutkan, yang harus terus-menerus dipuaskan. Kalau memang manusia menciptakan ilah-ilahnya sendiri, tampaknya mereka justru menciptakan ilah yang salah. Kenyataannya, alasan mengapa sistem-sistem agama palsu melahirkan ilah-ilah seperti itu adalah karena memang ada roh-roh jahat yang nyata dan sangat aktif bekerja di baliknya. Jadi, manusia bukan menghendaki Allah menjadi ada. Kalau manusia bisa memilih, ia justru ingin menyingkirkan Allah dari keberadaannya.

Bukti-bukti bahwa Allah benar-benar ada sebenarnya sangat jelas. Saya rasa kita tidak bisa begitu saja mengabaikan semua bukti itu, lalu menyimpulkan bahwa Allah tidak ada, kemudian menciptakan teori bahwa manusialah yang menciptakan Allah, tanpa menutup mata terhadap begitu banyak kenyataan yang sangat penting. Para teolog telah menyusun berbagai alasan mengapa kita percaya kepada Allah. Saya hanya akan menyebutkannya secara singkat dan tidak akan membahasnya panjang lebar. Mereka mengatakan bahwa ada banyak alasan mengapa kita percaya kepada Allah. Memang mereka tidak dapat membuktikan Allah secara mutlak, tetapi mereka dapat menunjukkan bahwa ada jauh lebih banyak alasan untuk percaya kepada Allah daripada untuk tidak percaya kepada-Nya. Bukankah demikian? Coba perhatikan ini. Sebagai orang Kristen, kita menerima satu mukjizat besar, yaitu Allah. Satu mukjizat besar, yaitu Allah. Setelah itu, segala sesuatunya menjadi masuk akal. Sebaliknya, seorang ateis menolak keberadaan Allah, tetapi akhirnya harus membutuhkan mukjizat untuk menjelaskan hampir segala hal. Ironisnya, mereka justru mengatakan bahwa dibutuhkan iman yang terlalu besar untuk percaya kepada Allah. Padahal, sebenarnya ada begitu banyak bukti yang mendukung keberadaan-Nya.

Sebagai contoh, ada yang oleh para teolog disebut sebagai argumen teleologis. Istilah ini berasal dari kata Yunani teleios, yang berarti kesempurnaan, hasil akhir, atau sesuatu yang telah diselesaikan. Ketika kita melihat sesuatu yang sudah selesai dibuat dengan sempurna, kita menyadari bahwa itu adalah sebuah rancangan, dan setiap rancangan pasti memiliki seorang perancang. Coba bayangkan, Anda membongkar sebuah jam tangan, memasukkan semua komponennya ke dalam saku, lalu menggoyang-goyangkan kaki Anda sampai Anda mendengar bunyi "tik... tik..." dari jam itu. Kita tahu bahwa jika ada sesuatu yang dapat berfungsi dengan baik, pasti ada seseorang yang membuatnya bekerja. Ketika Anda melihat sebuah piano, Anda tentu tidak akan beranggapan bahwa seekor gajah menabrak sebuah pohon, lalu ada seseorang yang sedang memainkan harpa di atas pohon itu, kemudian semuanya jatuh begitu saja dan tiba-tiba terbentuklah sebuah piano lengkap dengan tuts gading, kayu, dan senarnya. Itu jelas konyol dan tidak masuk akal. Sebuah rancangan selalu menunjukkan adanya seorang perancang.

Argumen kedua yang digunakan untuk mendukung keberadaan Allah adalah argumen ontologis. Kata ontos adalah bentuk partisipel dalam bahasa Yunani yang berkaitan dengan kata kerja "ada", yaitu tentang keberadaan Allah. Fakta bahwa manusia mampu memahami dan membayangkan Allah sesuai dengan karakter yang memang benar-benar dimiliki-Nya menunjukkan bahwa Allah memang ada. Argumen ketiga adalah argumen dari keindahan. Orang mengatakan bahwa karena ada keindahan dan ada kebenaran, maka pasti ada suatu standar di alam semesta yang menjadi dasar bagi keindahan dan kebenaran itu. Ada juga argumen kehendak bebas. Karena manusia setiap hari dihadapkan pada begitu banyak pilihan, karena manusia memiliki kehendak untuk menentukan pilihannya, dan karena manusia mampu menyatakan kehendaknya secara pribadi, maka pasti ada suatu kehendak yang tidak terbatas. Dan dunia sebagaimana adanya merupakan ungkapan dari kehendak itu. Lalu ada pula argumen moralitas. Fakta bahwa kita mengetahui adanya yang benar dan yang salah menunjukkan bahwa pasti ada suatu standar yang mutlak.

Tadi pagi, setelah kebaktian kedua, ada seseorang datang menemui saya. Ia berkata, "Saya punya seorang teman yang tidak percaya bahwa ada yang namanya benar dan salah. Menurut dia, sama sekali tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah." Lalu ia bertanya kepada saya, "Apa yang harus saya katakan kepadanya?" Saya menjawab, "Coba tanyakan kepadanya apakah menurut dia boleh jika seseorang membawa senapan mesin lalu melakukan tindakan yang mengerikan, misalnya menembaki sekelompok anak kecil yang sedang bermain di halaman sekolah. Tanyakan kepadanya apakah itu benar atau salah." Seseorang harus benar-benar kehilangan akal sehat jika masih menolak mengakui bahwa dalam situasi seperti itu ada sesuatu yang benar dan ada sesuatu yang salah. Dan jika memang ada yang benar dan ada yang salah, berarti pasti ada suatu standar yang menjadi ukurannya. Kalau memang ada standar itu, maka kita harus mencari tahu dari standar tersebut apa lagi yang benar dan apa lagi yang salah. Itulah yang disebut argumen dari moralitas.

Lalu ada juga argumen kosmologis—bukan, seperti yang pernah dikatakan seseorang, "kosmetologi"—melainkan kosmologi. Jelas sangat berbeda. Kosmologi adalah argumen tentang sebab dan akibat. Sebenarnya hanya ada dua cara memandang alam semesta. Yang pertama, Allah ada, dan itu membuat segala sesuatu masuk akal. Yang kedua, Allah tidak ada, tetapi kalau begitu kita akan menghadapi banyak persoalan. Misalnya, jika Allah tidak ada, maka rumusnya menjadi: tidak ada siapa pun, dikalikan tidak ada apa pun, hasilnya adalah segala sesuatu. Agak sulit dipercaya, bukan? Kita melihat alam semesta, lalu harus menerima bahwa "tidak ada siapa pun dikalikan tidak ada apa pun menghasilkan segala sesuatu." Kemungkinan yang lain adalah: ada Pribadi yang menciptakan sesuatu dari yang semula tidak ada, lalu menghasilkan segala sesuatu. Itu jauh lebih masuk akal. Itulah yang dimaksud dengan argumen kosmologis, yaitu argumen berdasarkan sebab dan akibat. Kata kosmos berarti dunia atau alam semesta. Alam semesta adalah akibatnya. Ketika kita melihatnya, kita menyimpulkan bahwa pasti ada Pribadi yang menciptakannya. Dan semakin kita memahami dunia ini, semakin kita mengenal Pribadi yang telah menciptakannya.

Sebagai contoh, penyebab dari gerakan yang terus berlangsung haruslah memiliki kuasa yang besar. Penyebab dari kerumitan alam semesta haruslah Mahatahu. Penyebab dari kesadaran haruslah bersifat pribadi. Penyebab dari perasaan haruslah memiliki emosi. Penyebab dari kehendak haruslah memiliki kehendak. Penyebab dari nilai-nilai moral haruslah bermoral. Penyebab dari nilai-nilai rohani haruslah bersifat rohani. Penyebab dari keindahan haruslah memiliki keindahan dalam diri-Nya. Penyebab dari kebenaran haruslah kudus. Penyebab dari keadilan haruslah adil. Penyebab dari kasih haruslah penuh kasih. Penyebab dari kehidupan haruslah hidup. Yang perlu kita lakukan hanyalah memperhatikan dunia ini dengan saksama. Maka kita akan melihat bahwa pasti ada Allah yang tidak terbatas, kekal, Mahakuasa, Mahahadir, Mahatahu, bersifat pribadi, memiliki emosi, memiliki kehendak, bermoral, rohani, penuh keindahan, kudus, adil, penuh kasih, dan hidup. Semua itu tampak jelas. Lalu ketika Anda membuka Alkitab, Anda akan menemukan bahwa Alkitab meneguhkan semua hal itu. Allah memang benar-benar ada.

Mungkin Anda berkata, "Kalau begitu, seseorang yang percaya bahwa Allah tidak ada pasti benar-benar tidak tahu apa-apa." Namun Alkitab mengatakannya dengan sangat jelas dalam Mazmur 14:1 dan Mazmur 53:1, "Orang bebal berkata dalam hatinya: 'Tidak ada Allah.'" Itulah pernyataan yang bodoh.

Namun saya bukan hanya yakin bahwa Allah itu ada karena saya tidak menemukan penjelasan lain yang masuk akal untuk segala sesuatu. Saya juga yakin bahwa Allah itu ada karena saya sangat membutuhkan-Nya. Ada sebuah kisah tentang seorang ateis yang akhirnya berada dalam keadaan yang sangat genting. Dalam kondisi itu ia mulai berseru kepada Allah. Lalu seseorang bertanya kepadanya, "Mengapa sekarang kamu berseru kepada Allah?" Ia menjawab, "Kalau memang Allah tidak ada, seharusnya ada Allah, terutama untuk saat-saat seperti ini." Sejujurnya, saya juga merasakan hal yang sama. Bukankah Anda juga demikian? Kalau memang tidak ada Allah, seharusnya memang ada Allah. Karena kita hidup di dunia yang penuh dengan persoalan. Salah satu hal yang paling meyakinkan saya bahwa Allah benar-benar ada adalah kerinduan yang begitu besar dalam hati saya untuk mengenal dan mengetahui bahwa Dia memang ada. Sebab ketika saya melihat orang-orang yang menyangkal keberadaan Allah, saya juga melihat seperti apa kehidupan yang mereka jalani. Tahukah Anda, mempelajari sejarah dan melihat kehidupan para filsuf terkenal yang ateis, lalu memperhatikan bagaimana kehidupan mereka berakhir, adalah salah satu hal yang paling menarik untuk dipelajari. Mereka adalah orang-orang yang hidup dengan harapan yang sangat suram, penuh keputusasaan, dan dipenuhi ketakutan.

Izinkan saya memberikan sebuah contoh. Voltaire mengatakan hal ini menjelang akhir hidupnya: "Singkirkan beberapa orang bijak, maka kumpulan manusia yang tersisa tidak lebih dari sekumpulan penjahat malang yang mengerikan, dan dunia ini tidak berisi apa pun selain mayat-mayat. Aku gemetar harus mengeluh sekali lagi tentang keberadaan dari segala keberadaan. Ketika aku memandang gambaran yang begitu mengerikan ini, aku berharap seandainya aku tidak pernah dilahirkan." Renan berkata, "Kita hidup hanya dari aroma sebuah vas yang kosong." H.G. Wells, yang juga seorang ateis, berkata, "Tidak ada jalan keluar, tidak ada jalan memutar, dan tidak ada jalan menembusnya. Inilah akhirnya." Robert Ingersoll berkata, "Hidup hanyalah sebuah tirai tipis di antara dua puncak kekekalan yang dingin dan tandus. Kita berusaha sia-sia untuk melihat apa yang ada di baliknya. Kita berseru keras, tetapi satu-satunya jawaban yang kita dengar hanyalah gema dari tangisan kita sendiri." Mark Twain berkata seperti ini: "Berjuta-juta manusia dilahirkan. Mereka bekerja keras, berkeringat, dan berjuang hanya untuk mendapatkan makanan. Mereka bertengkar, saling memarahi, dan saling melawan. Mereka berebut keuntungan-keuntungan kecil yang tidak berarti atas sesamanya. Lalu usia tua datang menghampiri. Penyakit dan kelemahan menyusul. Rasa malu dan penghinaan meruntuhkan kesombongan dan keangkuhan mereka. Orang-orang yang mereka kasihi diambil dari mereka, dan sukacita hidup berubah menjadi duka yang menyakitkan. Beban penderitaan, kekhawatiran, dan kesengsaraan semakin berat dari tahun ke tahun. Akhirnya, ambisi mati. Kesombongan mati. Keangkuhan mati. Yang tersisa hanyalah kerinduan untuk dibebaskan. Lalu akhirnya datanglah kematian, satu-satunya pemberian dunia yang tidak tercemar bagi mereka. Kemudian mereka lenyap dari dunia tempat mereka sebenarnya tidak berarti apa-apa, tidak mencapai apa-apa, menjadi sebuah kesalahan, sebuah kegagalan, dan sebuah kebodohan. Mereka tidak meninggalkan tanda apa pun bahwa mereka pernah ada. Dunia hanya akan meratapi mereka selama satu hari, lalu melupakan mereka untuk selama-lamanya. Setelah itu datang lagi jutaan orang lain yang menggantikan mereka, mengulangi semua yang mereka lakukan, menempuh jalan yang sama yang tidak menghasilkan apa-apa, lalu menghilang seperti mereka juga telah menghilang, memberi tempat bagi orang berikutnya, lalu berikutnya lagi, dan berjuta-juta manusia lainnya yang akan mengikuti jalan yang sama, melewati padang gurun yang sama, dan mencapai hasil yang sama seperti generasi pertama dan semua generasi sesudahnya—tidak menghasilkan apa pun." Demikian kutipannya.

Bertrand Russell berkata, "Manusia adalah hasil dari sebab-sebab yang sama sekali tidak mengetahui tujuan akhir yang sedang dihasilkannya. Asal-usulnya, pertumbuhannya, harapan dan ketakutannya, kasih dan keyakinannya, semuanya hanyalah hasil dari pertemuan atom-atom yang terjadi secara kebetulan. Tidak ada semangat, tidak ada keberanian, tidak ada kedalaman pikiran ataupun perasaan yang dapat mempertahankan kehidupan seseorang setelah kematian. Seluruh jerih lelah sepanjang zaman, seluruh pengabdian, seluruh inspirasi, seluruh kecemerlangan kecerdasan manusia, semuanya telah ditetapkan untuk berakhir dalam kematian besar tata surya ini. Dan seluruh bangunan pencapaian manusia pada akhirnya pasti akan terkubur di bawah puing-puing alam semesta yang telah runtuh. Semua hal ini, jika pun belum sepenuhnya tidak dapat diperdebatkan, setidaknya sudah begitu mendekati kepastian sehingga tidak ada filsafat yang menolaknya dapat berharap untuk tetap bertahan." Betapa suramnya cara pandang terhadap kehidupan seperti itu, bukan?

Semua bukti menunjukkan bahwa Allah itu ada. Dan siapa pun yang sungguh-sungguh menyadari keadaannya tentu akan berusaha mencari kebenaran, jika ia tahu bahwa tanpa mengenal Allah, hidupnya bisa berakhir seperti gambaran yang baru saja kita dengar. Sebaliknya, akibat dari iman kepada Allah adalah pengharapan yang penuh terang. Pemazmur berkata, "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak akan takut bahaya, sebab Engkau besertaku." T.B. Larimore menulis kata-kata ini pada hari-hari terakhir hidupnya: "Imanku tidak pernah sekuat sekarang. Pengharapanku tidak pernah secerah sekarang. Pikiranku tidak pernah sejernih sekarang. Hatiku tidak pernah setenang sekarang. Hidupku tidak pernah semurni sekarang. Aku mengasihi semua orang dan tidak membenci siapa pun. Kasihku kepada beberapa orang mengangkat jiwaku ke tingkat yang begitu mulia. Aku siap mati hari ini. Namun aku juga siap hidup seribu tahun lagi untuk terus menceritakan kisah lama yang indah tentang Yesus dan kasih-Nya. Sahabat-sahabatku semakin berharga bagiku. Kebersamaan dengan mereka semakin manis bagiku. Belas kasihku kepada jiwa-jiwa yang menderita semakin besar. Kasihku kepada segala sesuatu yang murni, yang benar, yang indah, yang baik, dan yang mulia—mulai dari kuncup bunga, bunga yang mekar, seorang bayi, sampai kepada Dia yang menjadi sumber segala berkat—menjadi semakin tulus, semakin lembut, dan semakin manis daripada sebelumnya. Aku tidur dengan nyenyak, bermimpi dengan indah, dan terus bersukacita." Saya tidak tahu bagaimana Anda ingin mengakhiri hidup Anda, tetapi saya ingin mengakhirinya seperti itu. Karena itu saya berkata, dalam kekristenan kita menerima satu mukjizat yang besar, yaitu Allah, dan setelah itu segala sesuatu menjadi masuk akal. Tetapi jika Anda menolak satu mukjizat besar itu, maka tidak ada lagi yang benar-benar masuk akal. Allah itu ada.

Sekarang mari kita masuk ke poin kedua. Siapakah Dia? Kita sudah melihat bahwa Dia ada, tetapi siapakah Dia sebenarnya? Siapakah Allah itu? Tadi kita sudah mendapat sedikit gambaran tentang-Nya. Sekarang mari kita mengembangkannya sedikit. Anda akan melihat bahwa pada bagian ini dalam kerangka pembahasan kita ada tiga poin kecil. Namun sebelumnya saya ingin menambahkan satu poin umum yang menjadi dasar bagi ketiga poin itu. Siapakah Allah? Pertama-tama, Allah adalah Pribadi. Allah adalah Pribadi, bukan sekadar semacam sumber energi kosmis yang melayang-layang di alam semesta. Albert Einstein pernah berkata, "Ya, kita tahu ada suatu kuasa kosmis di alam semesta, tetapi kuasa itu tidak mungkin dikenal." Menurut saya, Einstein keliru. Kita percaya bahwa Allah adalah Pribadi. Salah satu alasannya adalah karena kepribadian hanya dapat berasal dari Pribadi. Kita adalah pribadi-pribadi yang memiliki kemampuan berpikir, merasa, dan berkehendak. Semua unsur yang membentuk kepribadian kita pasti berasal dari suatu Sumber yang juga adalah Pribadi. Kita mengetahui bahwa Allah adalah Pribadi melalui Alkitab, karena Alkitab sendiri menyatakan demikian. Alkitab menggunakan berbagai sebutan yang bersifat pribadi untuk menggambarkan Allah. Dia memiliki nama-nama yang menunjukkan pribadi-Nya. Misalnya, Dia disebut Bapa. Dia disebut Gembala. Dia juga disebut Sahabat, Penasihat, dan masih banyak lagi. Semua sebutan itu menunjukkan bahwa Allah adalah Pribadi. Bukan hanya itu, Alkitab juga selalu menggunakan kata ganti orang untuk Allah. Dalam bahasa Ibrani maupun Yunani, Allah selalu disebut "Dia", bukan "itu". Allah adalah Pribadi. Dia berpikir, bertindak, merasakan, berbicara, dan berkomunikasi. Semua itu adalah ciri-ciri seorang pribadi. Seluruh kesaksian Alkitab menunjukkan bahwa Allah adalah Pribadi, dan seluruh kesaksian dari ciptaan serta keberadaan kita sebagai pribadi juga menunjukkan bahwa kita berasal dari Pribadi seperti itu.

Lalu bagaimana kita menjelaskan Pribadi Allah? Kita dapat memahaminya melalui tiga hal. Yang pertama, Allah adalah Roh. Allah adalah Roh. Dalam Perjanjian Lama, tepatnya Bilangan 23:19, dikatakan, "Allah bukanlah manusia." Allah bukan manusia. Allah adalah Roh. Dalam Yohanes 4:24, Yesus berkata, "Allah itu Roh, dan barangsiapa menyembah Dia harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran." Jadi, Allah adalah Roh. Kemudian dalam Lukas 24:39 Yesus berkata, "Roh tidak mempunyai daging dan tulang." Itu berarti Allah bukanlah makhluk yang memiliki tubuh jasmani. Mungkin ada yang berkata, "Tetapi Alkitab mengatakan bahwa mata-Nya menjelajah seluruh bumi, tangan-Nya tidak terlalu pendek untuk menyelamatkan, dan lengan kanan-Nya penuh kuasa." Benar. Tetapi ungkapan-ungkapan seperti itu disebut antropomorfisme. Tahukah Anda artinya? Itu adalah cara Alkitab menggambarkan Allah dengan menggunakan istilah-istilah manusia, seolah-olah Allah memiliki tubuh seperti manusia. Mengapa demikian? Karena kalau Alkitab mengatakan, "Allah melihat seluruh bumi dengan glirp-Nya," kita tidak akan mengerti apa itu "glirp". Jadi tidak ada gunanya memakai istilah yang tidak kita pahami. Ketika Alkitab mengatakan bahwa Allah mendengar, kita langsung membayangkan telinga, karena itulah yang kita kenal. Dengan kata lain, kita memahami Allah melalui istilah-istilah yang akrab bagi manusia. Alkitab menyesuaikan cara penyampaiannya agar kita dapat memahaminya. Namun jangan melangkah terlalu jauh lalu menyimpulkan bahwa Allah benar-benar adalah manusia, seperti yang dilakukan beberapa kelompok ajaran sesat. Kalau demikian, Anda akan menghadapi banyak kesulitan. Sebab di bagian lain Alkitab juga dikatakan bahwa Allah menaungi kita dengan kepak-Nya. Tentu itu bukan berarti Allah adalah seekor burung. Allah bukan manusia, dan Allah juga bukan burung. Allah adalah Roh.

Dalam 1 Timotius 1:17, Allah disebut sebagai Allah yang tidak kelihatan. Tidak seorang pun akan pernah melihat Allah. Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah. Agar seseorang dapat melihat Allah, ia harus menjadi Allah sendiri. Sebab Allah berfirman, "Tidak ada seorang pun yang dapat melihat Aku dan tetap hidup." Tidak mungkin manusia mencapai tingkat di mana ia dapat memandang Allah secara langsung. Memang, dalam Perjanjian Lama Allah menyatakan diri-Nya melalui kemuliaan Shekinah, melalui cahaya dan api. Di dunia ini Allah juga menyatakan diri-Nya melalui Pribadi Yesus Kristus, sehingga kita dapat melihat Kristus. Dan dalam Yohanes pasal 14 Yesus berkata, "Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa." Dengan kata lain, itulah yang paling dekat yang dapat kita alami. Kita tidak akan melihat Allah secara langsung karena Allah memang tidak dapat dilihat. Dia adalah Allah yang tidak kelihatan. Memang, Allah dapat memilih untuk menyatakan diri-Nya melalui suatu bentuk tertentu, dengan membatasi penyataan diri-Nya dalam sesuatu yang dapat dilihat, sehingga manusia dapat mengenal-Nya. Namun itu bukanlah keseluruhan keberadaan Allah. Allah adalah Roh. Dan saya bersyukur bahwa Allah adalah Roh, karena sebagai Roh Dia juga hadir di mana-mana. Nah, tentang hal itu kita akan membahasnya minggu depan.

Yang pertama, Allah adalah Roh. Yang kedua, Allah adalah satu. Hanya ada satu Allah. Tidak ada banyak allah. Tahukah Anda itu? Hanya ada satu Allah, tidak lebih. Dalam Ulangan 6:4 terdapat sebuah pernyataan yang sangat penting, yang menjadi inti iman bangsa Israel: "Dengarlah, hai orang Israel: TUHANlah Allah kita, TUHAN itu esa!" Itulah kebenarannya. Pada waktu itu mereka hidup di tengah masyarakat yang percaya kepada banyak ilah. Namun mereka menyatakan dengan tegas, "Hanya ada satu Allah." Mungkin ada yang bertanya, "Lalu bagaimana dengan Yesus? Bukankah Dia datang kemudian dan mengaku sebagai Allah? Apakah berarti ada Allah yang kedua? Bukankah sekarang menjadi dua?" Tidak. Mari kita melihat Markus pasal 12. Saya ingin menunjukkan sesuatu yang sangat menarik tentang bagaimana Yesus memandang diri-Nya dalam kaitannya dengan ajaran bahwa Allah itu esa. Dalam Markus 12:29 tertulis, "Yesus menjawab: Perintah yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhanlah Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu." Sekarang perhatikan baik-baik. Jika benar Yesus datang untuk mengatakan, seperti yang dipahami sebagian orang, bahwa selain Allah Bapa ada juga Allah Yesus, sehingga sekarang ada dua Allah, maka Yesus tentu tidak akan pernah berkata, "Dengarlah, hai orang Israel, Tuhanlah Allah kita, Tuhan itu esa."

Lalu Yesus melanjutkannya dengan berkata, "Kasihilah Dia dengan segenap hatimu, segenap jiwamu, dan segenap akal budimu." Seandainya Yesus sedang menempatkan diri-Nya sejajar dengan Allah sebagai allah yang lain, lalu berkata, "Aku adalah Allah yang lain," maka seharusnya Dia juga berkata, "Bagilah kesetiaanmu di antara Kami berdua." Tetapi ketika Yesus berkata, "Kasihilah Allah dengan segenap keberadaanmu," Dia sedang menegaskan bahwa hanya ada satu Allah. Pada saat yang sama, Dia juga sedang menyatakan bahwa Dia sendiri adalah Allah itu. Apakah Anda melihat maksudnya? Ini adalah pernyataan yang sangat kuat tentang keilahian Yesus. Meskipun Dia menyatakan bahwa Dia adalah Allah, pada saat yang sama Dia juga menegaskan, "Sekalipun ada dua Pribadi, Allah itu tetap satu. Dan engkau dapat memberikan seluruh kesetiaanmu kepada Allah yang satu itu." Itulah sebabnya Yesus berkata, "Dengan segenap hatimu, segenap jiwamu, segenap akal budimu, segenap kekuatanmu," karena hanya ada satu Allah. Tidak ada persaingan. Anda tidak perlu membagi kesetiaan Anda kepada pihak lain. Itulah kekuatan dari bagian firman ini. Allah itu esa.

Dalam 1 Korintus pasal 8, Rasul Paulus sedang membahas salah satu persoalan yang dihadapi jemaat di Korintus. Mereka hidup di tengah masyarakat penyembah berhala yang memiliki banyak ilah. Berhala ada di mana-mana. Pada waktu itu orang-orang biasa mempersembahkan korban kepada ilah-ilah mereka, dan salah satu persembahan yang paling umum adalah makanan. Misalnya, jika seseorang ingin menyembah dewa Mars, atau dewi Diana, yang juga dikenal sebagai Artemis, ia akan membawa sedikit makanan ke kuil. Lalu ia meletakkan persembahan itu di depan patung ilah yang disembahnya. Tentu saja sebenarnya tidak ada siapa pun di sana, tetapi orang itu tidak menyadarinya. Setelah makanan itu diletakkan di depan patung, makanan itu tentu tidak dibiarkan begitu saja. Para imam yang mengurus kuil akan datang mengambilnya, membawanya ke bagian belakang kuil, lalu menjualnya kembali di pasar kecil yang mereka kelola. Mengapa tidak? Mereka bisa mendapatkan keuntungan. Orang-orang merasa sudah beribadah, sementara para imam memperoleh penghasilan untuk menjalankan tempat itu.

Jadi, makanan yang dibawa orang sebagai persembahan langsung dijual kembali di pasar yang berada di belakang kuil. Nah, yang terjadi kemudian adalah orang-orang Kristen pergi ke pasar untuk mencari makanan dengan harga yang lebih murah, lalu mereka membeli makanan itu. Tanpa mereka sadari, makanan tersebut berasal dari pasar di belakang kuil penyembahan berhala. Akibatnya, sebagian orang Kristen menjadi sangat terganggu ketika melihat saudara seiman mereka memakan makanan yang pernah dipersembahkan kepada berhala. Misalnya, mereka datang ke sebuah jamuan makan lalu bertanya, "Makanan ini dibeli dari mana?" Lalu dijawab, "Dari pasar itu." Mereka langsung berkata, "Wah, saya tidak mau makan itu. Makanan itu pernah dipersembahkan kepada berhala." Akibatnya timbul berbagai persoalan dalam persekutuan mereka. Karena itulah Paulus menulis bagian ini untuk menjelaskan bagaimana mereka seharusnya menyikapi persoalan tersebut.

Dalam 1 Korintus 8 ayat 4 Paulus berkata, " Tentang hal makan daging yang dipersembahkan kepada berhala, kita tahu: "Tidak ada berhala di dunia." Itulah inti yang ingin ia sampaikan. Berhala bukanlah apa-apa. Jadi, silakan saja makan makanan itu. Kalau memang itu adalah harga terbaik di pasar, belilah. Makan saja. Tidak akan ada pengaruh apa pun, karena memang tidak ada apa-apa di balik berhala itu. Berhala bukanlah apa-apa. Lalu perhatikan bagian akhir ayat 4, "Dan tidak ada Allah lain selain Allah yang esa." Hanya itu. Hanya ada satu Allah. Kemudian Paulus melanjutkan, "Sebab sungguhpun ada apa yang disebut "ilah", baik di surga, maupun di bumi — dan memang benar ada banyak "ilah" dan banyak "tuhan" yang demikian —namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari Dia berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup." Sekarang dengarkan bagian berikutnya, "Dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus." Mungkin Anda berkata, "Tunggu dulu. Satu Allah ditambah satu Tuhan, bukankah itu berarti dua?" Tidak. Perhatikan baik-baik. Paulus berkata, "Hanya ada satu Allah, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan kita hidup bagi Dia; dan satu Tuhan, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu dijadikan dan oleh-Nya kita hidup." Sekarang pikirkan baik-baik. Bagaimana mungkin segala sesuatu berasal dari Allah Bapa, tetapi pada saat yang sama segala sesuatu juga ada melalui Tuhan Yesus? Bagaimana mungkin kita hidup di dalam Allah, tetapi juga hidup melalui Tuhan Yesus, kalau keduanya bukan satu dalam hakikat yang sama? Ini kembali merupakan pernyataan yang sangat jelas tentang keilahian Yesus Kristus, tanpa membagi Allah menjadi dua Allah. Allah itu esa. Allah itu satu.

Hal yang sama juga dinyatakan dalam 1 Timotius 2:5. Di sana dikatakan bahwa hanya ada satu Allah. Hanya satu, bukan banyak. Jadi sebenarnya kehidupan rohani kita menjadi sederhana, karena hanya ada satu Allah. Mungkin Anda berkata, "Tunggu dulu, John. Saya tahu ayat di Mazmur 82. Di sana tertulis bahwa para pemimpin Israel disebut sebagai allah." Saya juga tahu ayat itu. Memang dalam Mazmur 82 Allah berkata kepada para hakim Israel, "Kamu adalah allah." Lalu ada yang bertanya, "Apakah itu berarti ada banyak allah?" Tentu tidak. Dalam Mazmur 82 Allah sedang berbicara kepada para hakim Israel. Yang dibicarakan bukanlah hakikat mereka, melainkan jabatan mereka. Maksud Allah adalah, "Kalian yang menghakimi Israel sedang menempati posisi yang dipercayakan Allah." Mengerti maksudnya? "Kalian menghakimi seolah-olah Allah sendiri yang hadir. Kalian duduk di tempat otoritas yang diberikan Allah." Namun mereka telah menyalahgunakan wewenang itu. Bahkan pada ayat berikutnya Allah mengatakan bahwa Dia akan menghukum mereka. Jadi jelas bahwa mereka bukan allah dalam arti memiliki hakikat yang sama dengan Allah yang kudus. Kalau memang demikian, tentu Allah tidak akan berbicara seperti itu kepada mereka. Bahkan ayat berikutnya berkata, "Bangunlah, ya Allah, hakimilah bumi."

Yang ketiga—dan memang tepat jika ini menjadi poin ketiga—Allah memiliki tiga Pribadi. Allah adalah Roh. Allah itu esa. Dan Allah adalah tiga Pribadi. Orang sering berkata, "Doktrin Tritunggal itu tidak bisa dibuktikan." Sebenarnya, cara paling sederhana untuk melihat kebenaran Tritunggal adalah dengan membaca Alkitab dari awal sampai akhir. Di sepanjang Alkitab, Anda akan terus menemukan tiga Pribadi yang selalu bekerja bersama. Itulah gambaran yang utuh. Sebagai contoh, dalam Kejadian pasal 1 tertulis, "Pada mulanya Allah..." Kata "Allah" di sana adalah Elohim. Dalam bahasa Ibrani, akhiran "im" menunjukkan bentuk jamak, sama seperti akhiran "s" dalam bahasa Inggris yang menunjukkan lebih dari satu, seperti "dogs" atau "cats". Jadi secara harfiah kata itu berbentuk jamak. Namun yang menarik, meskipun bentuk katanya jamak, maknanya tetap menunjuk kepada Allah yang esa. Sejak ayat pertama Alkitab, kita sudah melihat petunjuk tentang Tritunggal. Lalu dalam Matius pasal 3, ketika Yesus dibaptis, Alkitab mencatat bahwa Yesus sedang dibaptis, Roh Kudus turun seperti burung merpati, dan Bapa berseru, "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan." Bapa, Anak, dan Roh Kudus hadir bersama dalam satu peristiwa yang sama. Kemudian dalam Yohanes pasal 14, Yesus berkata, "Aku akan pergi kepada Bapa, dan Aku akan meminta kepada-Nya supaya Ia mengutus Roh Kudus." Sekali lagi, ketiga Pribadi itu muncul bersama dalam bagian yang sama, yaitu Yohanes 14 ayat 16 dan 17.

Dalam 1 Korintus pasal 12, Rasul Paulus berbicara tentang karunia-karunia rohani. Ia menjelaskan bahwa Roh bekerja dengan berbagai cara, Tuhan memberikan berbagai bentuk pelayanan, tetapi Allah tetap satu yang mengerjakan semuanya. Dalam tiga ayat itu, ketiga Pribadi Tritunggal kembali disebutkan. Lalu di bagian penutup 2 Korintus 13:13 kita membaca, "Anugerah Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian." Ketiga Pribadi disebutkan bersama dalam satu ayat. Demikian juga dalam 1 Petrus 1:2, "Yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya." Sekali lagi, ketiga Pribadi hadir bersama dalam satu ayat. Itu baru sebagian kecil dari begitu banyak bagian Alkitab yang menunjukkan hal yang sama. Jadi Allah itu esa, tetapi juga tiga Pribadi. Mungkin Anda bertanya, "Bagaimana itu bisa terjadi?" Saya tidak tahu. Saya sama sekali tidak mempunyai penjelasan yang tuntas. Bahkan seluruh khotbah ini, jika dibandingkan dengan kenyataan tentang Allah yang sesungguhnya, ibarat hanya sebutir pasir dibandingkan dengan seluruh pasir yang ada di alam semesta. Saya tidak sanggup memahami Allah sepenuhnya. Jika Anda mencoba menjelaskan Tritunggal hanya dengan logika manusia, Anda bisa berakhir kebingungan. Tidak ada cara bagi kita untuk menguraikannya secara sempurna. Karena itu, biarkan Allah tetap menjadi Allah. Percayalah kepada-Nya.

Allah itu esa, namun pada saat yang sama Dia adalah tiga Pribadi. Dan ketika saya mengatakan bahwa Allah adalah tiga Pribadi, saya bukan sedang mengajarkan paham Modalisme atau Sabelianisme, yaitu sebuah ajaran sesat pada masa gereja mula-mula yang mengatakan bahwa Allah hanyalah seperti seorang aktor yang terus berganti peran. Seolah-olah Allah memiliki sebuah lemari pakaian. Lalu Dia keluar memakai "kostum Allah Bapa" dan menjalankan peran-Nya. Setelah itu Dia masuk lagi, berganti memakai "kostum Roh Kudus", lalu keluar menjalankan peran itu untuk sementara waktu. Kemudian Dia masuk lagi dan berganti peran yang lain. Kurang lebih seperti itulah yang mereka ajarkan. Tetapi bukan itu yang Alkitab nyatakan. Allah itu esa, namun pada saat yang sama Dia adalah tiga Pribadi secara bersamaan. Ada juga yang mencoba menjelaskan Tritunggal dengan mengatakan bahwa Allah seperti sebuah telur, yang terdiri dari kuning telur, putih telur, dan cangkang. Bagi saya, perumpamaan itu tidak memadai. Saya tidak bisa membandingkan Allah dengan sebuah telur. Ada juga yang mengatakan Allah seperti air yang dapat berbentuk es, cair, atau uap. Itu juga tidak cukup menggambarkan Allah. Sebenarnya Allah tidak dapat dibandingkan dengan apa pun. Ada pula yang mengatakan bahwa Allah seperti cahaya yang dapat menerangi, menghangatkan, dan menghasilkan energi. Namun Allah hanyalah Allah. Tidak ada bola lampu, tidak ada telur, dan tidak ada setetes air pun yang dapat menjadi gambaran yang tepat tentang Dia. Dia adalah Allah, dan Dia adalah tiga Pribadi dalam satu Allah. Saya tidak memahaminya sepenuhnya, tetapi saya mempercayainya. Dan saya justru bersyukur karena saya tidak dapat memahami Allah sepenuhnya. Sebab jika suatu hari saya benar-benar dapat memahami Allah secara utuh, itu berarti saya sudah setara dengan Allah. Dan kalau itu sampai terjadi, kita semua berada dalam masalah besar.

Lalu siapakah Allah itu? Dia adalah Pribadi. Dia adalah Roh. Dia esa, namun sekaligus tiga Pribadi. Dan terakhir, saya akan menutup dengan pertanyaan ini: Seperti apakah Allah itu? Pada akhirnya saya akan membahas sekitar sepuluh sifat Allah. Tetapi untuk saat ini saya hanya akan menyampaikan satu sifat, lalu kita akan mengakhirinya. Seperti apakah Allah itu? Terlepas dari hubungan-Nya dengan kita, seperti apakah Dia pada diri-Nya sendiri? Yang pertama—dan inilah satu-satunya yang akan kita bahas sekarang, karena ini sangat penting—Allah tidak berubah. Pegang baik-baik kebenaran ini. Ini adalah konsep yang sangat besar. Allah tidak pernah berubah. Dalam Mazmur 102:26 dikatakan bahwa langit akan berubah, bahkan Allah sendirilah yang akan mengubahnya, tetapi Dia sendiri tetap sama. Allah tidak pernah berubah. Dalam Maleakhi 3:6 Allah berkata kepada keturunan Yakub, "Sesungguhnya Aku, TUHAN, tidak berubah, dan kamu, bani Yakub, tidak akan dilenyapkan." "Aku, TUHAN, tidak berubah." Itulah Maleakhi 3:6. Kemudian Yakobus berkata, "Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna datangnya dari atas, turun dari Bapa segala terang. Pada-Nya tidak ada perubahan ataupun bayangan karena pertukaran." Tidak ada sedikit pun tanda bahwa Allah akan berubah.

Allah tidak pernah berubah. Coba pikirkan hal ini. Setiap perubahan pasti mengarah ke salah satu dari dua kemungkinan: menjadi lebih baik atau menjadi lebih buruk. Benar, bukan? Tetapi kedua kemungkinan itu sama sekali tidak mungkin terjadi pada Allah. Allah tidak mungkin menjadi lebih baik, karena Dia sudah sempurna. Dan Dia juga tidak mungkin menjadi lebih buruk. Tidak ada yang perlu diubah dari diri-Nya. Itulah yang membedakan Allah dari segala sesuatu yang lain, karena segala sesuatu pasti berubah. Langit pun berubah. Kita memandang ke langit dan melihat benda-benda langit bergerak, beredar, dan mengalami perubahan, meskipun semuanya mengikuti keteraturan yang telah ditetapkan. Kitab Wahyu, khususnya pasal 6 sampai 19, menyatakan bahwa suatu hari nanti Tuhan akan mengguncang seluruh langit. Bintang-bintang akan berjatuhan seperti buah ara yang gugur dari pohonnya ketika diguncang angin kencang. Langit akan tergulung seperti gulungan kitab. Matahari akan menjadi gelap, bulan akan berubah seperti darah, dan seluruh tatanan langit akan mengalami kekacauan besar. Percayalah, langit pun akan berubah.

Bukan hanya langit, bumi juga berubah. Manusia sendiri mengubah permukaan bumi dengan buldoser-buldosernya. Manusia juga mengubah atmosfer melalui pencemaran yang diciptakannya. Bumi terus berubah setiap waktu. Dan dalam Wahyu pasal 6 sampai 19 kita kembali membaca bahwa Allah sendiri suatu hari akan bertindak atas bumi ini dan mengubah banyak hal secara sangat drastis. Laut-laut akan tercemar. Air tawar akan tercemar. Sebagian besar rumput dan tumbuh-tumbuhan hijau akan mati. Banyak manusia akan binasa. Akan terjadi malapetaka yang mengerikan, termasuk hujan es dengan bongkahan seberat sekitar 45 kilogram yang jatuh ke bumi. Wajah bumi akan berubah. Bumi pernah berubah karena air bah pada zaman Nuh, dan suatu hari nanti akan berubah lagi. Unsur-unsur alam akan hancur karena panas yang dahsyat ketika bumi dimusnahkan. Orang-orang fasik juga terus berubah. Mereka berubah-ubah sepanjang waktu. Kesetiaan mereka berubah. Sikap mereka berubah. Dan suatu hari nanti seluruh keadaan mereka akan berubah ketika mereka berdiri di hadapan Allah yang kudus. Apa yang selama ini mereka anggap sebagai cara hidup yang menyenangkan akan berubah menjadi tragedi ketika mereka harus menjalani kekekalan tanpa Allah.

Tahukah Anda? Bahkan orang-orang kudus pun berubah. Kita semua berubah, bukan? Bagaimana kalau ada kalimat seperti ini, "John MacArthur tetap sama, dahulu, sekarang, dan selama-lamanya." Kedengarannya aneh, bukan? Saya tidak sama dahulu, sekarang, dan selama-lamanya. Itu sesuatu yang tidak masuk akal. Saya berubah. Ada saat-saat ketika kasih saya kepada Kristus menyala begitu kuat sehingga saya taat kepada-Nya. Tetapi ada juga saat-saat ketika kasih itu hanya seperti bara yang redup, dan saya tidak taat. Bukankah Anda juga mengalaminya? Kita berubah. Bahkan orang-orang kudus yang terbaik pun berubah. Daud pernah berkata dalam 2 Samuel 22:3, "Allahku, gunung batuku; tempat aku berlindung." Kita mendengar itu dan berkata, "Luar biasa, Daud!" Tetapi di kesempatan lain Daud berkata, "Suatu hari nanti aku akan mati di tangan Saul." Tunggu dulu, Daud. Bukankah Allah akan memeliharamu atau tidak sama sekali? Seolah-olah Daud berkata, "Ya, kadang-kadang saya memang goyah." Dan kita semua mengerti itu, karena kita juga demikian. Bagi kita, Allah sering kali tampak sebagai Pemecah Masalah yang luar biasa—setelah masalahnya selesai. Bahkan para malaikat pun mengalami perubahan. Dalam surat Yudas ayat 6 dikatakan bahwa para malaikat "tidak mempertahankan kedudukan mereka yang semula." Saudara-saudara, segala sesuatu di seluruh alam ciptaan ini mengalami perubahan, kecuali Allah. Allah tidak pernah berubah, dan demikian juga Yesus. Itulah sebabnya Yesus adalah Allah. Pernyataan, "Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya," adalah salah satu pernyataan paling agung tentang keilahian Yesus Kristus di dalam Alkitab. Hanya ada satu Pribadi di seluruh alam semesta yang tidak pernah berubah, yaitu Allah.

Lalu apa artinya semua itu bagi orang percaya? Saya hanya akan menyampaikan beberapa hal. Apa artinya bagi saya sebagai orang Kristen bahwa Allah tidak pernah berubah? Saya akan memberi tahu Anda. Bagi saya, itu adalah sumber penghiburan. Dengarkan baik-baik. Jika Allah pernah mengasihi saya, maka Dia mengasihi saya untuk selama-lamanya. Jika Dia pernah mengampuni saya, maka pengampunan itu berlaku untuk selama-lamanya. Jika Dia pernah menyelamatkan saya, maka keselamatan itu juga untuk selama-lamanya. Jika Dia pernah memberikan janji kepada saya, maka janji itu tetap berlaku untuk selama-lamanya. Firman Tuhan berkata, "Allahku tidak lalai menepati janji-Nya." Dalam Roma pasal 11 dikatakan bahwa "karunia-karunia dan panggilan Allah tidak dapat ditarik kembali." Allah tidak pernah berubah pikiran. Bukankah itu sesuatu yang sangat melegakan? Mungkin Allah memandang saya dan berkata, "MacArthur, sebenarnya Aku pantas menghukummu." Tetapi kemudian Dia berkata, "Namun Aku adalah TUHAN, Aku tidak berubah." Dan ada satu bagian Firman Tuhan yang sangat kuat, yang ingin saya bacakan. Mungkin Anda sudah mengenalnya. Dalam 2 Timotius 2:13 dikatakan, "Jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya."

Tahukah Anda apa yang menjadi dasar keselamatan dan jaminan keselamatan kita? Apa dasarnya? Dasarnya adalah karakter Allah yang tidak berubah, yaitu natur-Nya yang sempurna dan tetap. Yeremia 31:3 berkata, "Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal." Jika Allah pernah mengasihi Anda, maka Dia mengasihi Anda untuk selama-lamanya. Yesaya berkata, "Sekalipun gunung-gunung bergeser dan bukit-bukit bergoncang, kasih setia-Ku tidak akan beranjak darimu, dan perjanjian damai-Ku tidak akan berubah." Dalam Yesaya 46:10 Allah juga berfirman, "Rancangan-Ku akan tetap terlaksana." Bukankah menarik bahwa agar kita dapat memiliki hubungan yang benar dengan Allah yang tidak berubah, justru kita sendirilah yang harus mengalami perubahan yang sangat besar? Hanya itulah jalannya, bukan? Agar dapat berhubungan dengan Allah yang tidak berubah, kita harus mengalami perubahan yang radikal. Karena itulah Yesus berkata kepada Nikodemus, "Kamu harus dilahirkan kembali." Mungkin Anda berkata, "Tetapi MacArthur, ada beberapa ayat yang belum Anda jelaskan. Misalnya Amos pasal 7, Kejadian 6:6, atau Yunus 3:10. Di sana dikatakan bahwa TUHAN menyesal atas apa yang hendak dilakukan-Nya." Benar, memang demikian bunyinya. Tetapi di Bilangan 23:19 juga dikatakan, "Allah bukanlah manusia sehingga Ia harus menyesal." Lalu bagaimana mungkin Alkitab mengatakan bahwa Allah tidak menyesal, tetapi di bagian lain dikatakan bahwa Dia menyesal? Untuk memahaminya, kita harus melihat konteks setiap peristiwa. Tidak adil jika kita menggabungkan semua ayat itu tanpa memperhatikan situasinya masing-masing.

Allah tidak berubah. Dengarkan baik-baik. Allah tidak pernah berubah. Itu jelas. Dia tidak pernah berubah. Allah tidak pernah mengubah kehendak-Nya. Namun di dalam kehendak-Nya yang tetap itu, Dia memang telah menetapkan bahwa dalam keadaan tertentu akan terjadi perubahan sesuai dengan respons manusia. Sebagai contoh, Allah berkata kepada kota Niniwe, "Niniwe, kamu akan dihukum dan dimusnahkan." Mengapa? Karena mereka adalah kota yang penuh dosa. Lalu Allah berkata kepada Yunus, "Pergilah ke sana." Anda tentu ingat apa yang terjadi. Yunus sempat menempuh perjalanan singkat di dalam seekor ikan yang sangat besar, tetapi akhirnya ia sampai juga ke Niniwe. Ketika ia memberitakan firman Tuhan, seluruh kota itu bertobat. Lalu Alkitab berkata bahwa Allah "menyesal" atas malapetaka yang hendak didatangkan-Nya, dan sebagai gantinya Dia memberkati mereka. Apakah itu berarti Allah benar-benar berubah pikiran? Bukan Allah yang berubah. Yang berubah adalah Niniwe. Allah telah berkata, "Niniwe akan dihukum," dan memang itulah yang akan mereka alami jika mereka tetap hidup seperti semula.

Ketika Allah memandang dunia sebelum air bah, Dia berkata, "Aku menyesal telah menjadikan manusia." Mengapa? Karena manusia telah mendatangkan dukacita, sehingga Allah harus memusnahkan mereka melalui air bah. Mengapa Allah mengatakan demikian? Bukankah sejak semula Allah menciptakan manusia untuk menerima berkat? Tetapi manusia berbalik melawan Allah dan melanggar ketetapan-Nya, sehingga Allah harus menjatuhkan hukuman kepada mereka. Perhatikan baik-baik. Allah tidak pernah mengubah kehendak-Nya. Kehendak-Nya selalu tetap sama, yaitu memberi upah kepada yang berbuat baik dan menghukum yang berbuat jahat. Yang berubah bukanlah Allah, melainkan manusia yang menjadi sasaran tindakan-Nya. Ibarat sinar matahari yang melelehkan lilin tetapi mengeraskan tanah liat. Kita tidak menyalahkan matahari atas hasil yang berbeda itu. Perbedaannya terletak pada benda yang terkena sinar matahari, bukan pada mataharinya. Demikian juga dengan hubungan manusia dengan Allah. Apa yang terjadi kepada seseorang bergantung pada bagaimana ia berdiri di hadapan Allah. Dari sudut pandang manusia mungkin tampak seolah-olah Allah berubah. Misalnya ketika Anda mengendarai sepeda melawan arah angin. Anda mengayuh dengan susah payah karena anginnya sangat kencang. Lalu setelah sampai di tujuan, Anda berbalik arah dan tiba-tiba angin terasa mendorong Anda dengan ringan. Saat itu Anda mungkin berkata, "Wah, anginnya berubah." Padahal anginnya tidak berubah sama sekali. Yang berubah adalah arah Anda. Demikian juga Allah. Dia tidak pernah berubah. Sejak semula prinsip-Nya tetap sama: Allah memberi upah kepada yang baik dan menghukum yang jahat. Semuanya bergantung pada bagaimana seseorang menempatkan dirinya terhadap aliran kasih karunia dan kehendak Allah.

Jadi ketika Alkitab mengatakan bahwa "Allah menyesal," itu bukan berarti Allah berkata, "Ternyata Aku keliru. Lebih baik Aku lakukan dengan cara lain." Maksudnya adalah Allah mengubah tindakan yang harus dilakukan-Nya terhadap manusia sesuai dengan keadaan mereka pada waktu itu. Ketika mereka mengubah sikap dan perilaku mereka, Allah pun bertindak sesuai dengan perubahan itu. Namun kehendak Allah sendiri tidak pernah berubah. Sejak semula kehendak-Nya tetap sama, yaitu menghukum kejahatan dan memberi upah kepada kebaikan. Allah tidak pernah berubah. Dia tidak pernah menyimpang dari jalan-Nya. Itulah sebabnya Allah tetap tidak berubah.

Saudara-saudara, saya tidak tahu bagaimana kebenaran ini memengaruhi hati Anda. Tetapi bagi saya, ini adalah sesuatu yang sangat menguatkan. Saya adalah milik-Nya, dan Dia pasti memelihara saya. Jika Dia pernah memberikan janji kepada saya, maka janji itu berlaku untuk selama-lamanya. Jika Firman Tuhan berkata, "Allahku akan memenuhi segala keperluanmu," itu bukan berarti persediaan-Nya habis pada tahun 1950 lalu sekarang Dia kesulitan memenuhi kebutuhan manusia. Janji itu tetap berlaku bagi setiap orang percaya, sepanjang segala zaman. Dan di situlah letak rasa aman saya. Bukankah Anda juga dapat memiliki keyakinan yang sama?

Lalu apa artinya bagi orang yang belum percaya? Artinya adalah ini: jika Allah berkata, "Orang yang berbuat dosa pasti mati," maka Dia sungguh-sungguh memaksudkannya. Jika Allah berkata, "Upah dosa ialah maut," maka itulah yang Dia maksudkan. Jika Allah berkata bahwa ada neraka yang kekal, maka itu benar-benar ada. Apa yang Allah firmankan sekarang adalah apa yang juga telah Dia firmankan sejak dahulu, dan semuanya pasti akan terjadi tepat seperti yang Dia katakan. Mazmur 119:89 berkata, "Untuk selama-lamanya, ya TUHAN, firman-Mu teguh di surga." Berapa lama? Selama-lamanya. Allah tidak pernah berubah. Bagi sebagian dari kita, kebenaran ini membawa sukacita yang melimpah. Tetapi bagi sebagian yang lain, seharusnya kebenaran ini menimbulkan rasa gentar.

Mari kita berdoa. Bapa, kami bersyukur pagi ini karena Engkau memberi kami kesempatan untuk bersama-sama belajar Firman-Mu. Terima kasih karena melalui Firman-Mu Engkau telah menyatakan diri-Mu sebagai Allah yang sejati. Bapa, terima kasih karena Engkau adalah Allah yang penuh belas kasihan. Tolonglah kami yang telah menjadi orang percaya, yang hidup di dalam aliran kasih karunia dan kehendak-Mu, yang menikmati dorongan "angin" dari-Mu, supaya kami sungguh menyadari bahwa kami memiliki keamanan, perlindungan, dan berkat yang kekal, lalu menjalani hidup dengan penuh ucapan syukur. Dan Bapa, saya juga berdoa bagi mereka yang sedang berjalan melawan arah kehendak-Mu, yang terus berbenturan dengan kasih karunia dan kehendak-Mu. Ya Bapa, kiranya Engkau dapat bertindak berbeda terhadap mereka ketika mereka mengubah sikap mereka kepada-Mu. Kiranya mereka menjadi ciptaan yang baru di dalam Kristus, sehingga mereka dapat memiliki hubungan yang benar dengan-Mu.

Sementara setiap kepala tertunduk, sebagai penutup saya ingin mengatakan satu hal. Jika pagi ini ada di antara Anda yang belum pernah menyerahkan hidup kepada Kristus, yang belum pernah membuka hati kepada-Nya, saya berdoa kiranya pagi ini Anda mengambil langkah untuk memiliki hubungan yang benar dengan Allah yang tidak pernah berubah, sehingga Anda dapat menerima segala berkat yang ingin Dia berikan. Mungkin Anda bertanya, "Bagaimana caranya, John?" Alkitab berkata, "Siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru. Yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." Ketika Anda menaruh iman kepada Kristus dan menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat, pada saat itulah Anda memiliki hubungan yang benar dengan Allah, dan lengan-Nya yang penuh perlindungan akan memelihara Anda untuk selama-lamanya. Doa kami, kiranya pagi ini Anda mengambil keputusan itu di dalam hati Anda. Dan bagi Anda yang sudah mengenal Kristus, kiranya saat ini menjadi kesempatan untuk mengucap syukur kepada Allah atas semua yang telah, sedang, dan akan terus Dia lakukan bagi Anda untuk selama-lamanya. Bapa, terima kasih untuk persekutuan kami pagi ini, untuk setiap pribadi yang berharga yang hadir di tempat ini, dan untuk kehadiran ilahi-Mu di tengah kami. Kami berdoa agar melalui Roh Kudus-Mu Engkau bekerja di dalam setiap kehidupan sesuai dengan kebutuhan mereka, sehingga mereka dapat memiliki hubungan yang benar dengan-Mu dan menerima dengan penuh segala berkat yang berasal dari janji-Mu yang tidak pernah berubah. Kami berdoa di dalam nama Yesus. Amin.

SELESAI

This sermon series includes the following messages:

Please contact the publisher to obtain copies of this resource.

Publisher Information
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969

Welcome!

Enter your email address and we will send you instructions on how to reset your password.

Back to Log In

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize
View Wishlist

Cart

Cart is empty.

Subject to Import Tax

Please be aware that these items are sent out from our office in the UK. Since the UK is now no longer a member of the EU, you may be charged an import tax on this item by the customs authorities in your country of residence, which is beyond our control.

Because we don’t want you to incur expenditure for which you are not prepared, could you please confirm whether you are willing to pay this charge, if necessary?

ECFA Accredited
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Back to Cart

Checkout as:

Not ? Log out

Log in to speed up the checkout process.

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize