Mengenal Allah, dan semua yang telah Dia nyatakan tentang diri-Nya, adalah tujuan tertinggi dalam hidup manusia. Amsal 9:10 berkata, “Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.” Seseorang belum benar-benar mulai menjadi bijaksana sampai ia mengenal Allah, dan ia tidak akan memiliki pengertian sejati tanpa pengetahuan akan Yang Kudus. Mengenal Allah adalah pencarian tertinggi dalam hidup manusia. Dalam Yohanes 17:3, dalam doa-Nya sebagai Imam Besar, Tuhan Yesus berkata bahwa Dia datang untuk memberikan hidup yang kekal, dan hidup yang kekal itu adalah “mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar.” Jadi, mengenal Allah adalah tujuan tertinggi dalam hidup manusia. Untuk itulah Yesus datang ke dunia—supaya kita dapat mengenal Allah. Itulah arti dari hidup yang kekal. Sering orang bertanya, apa itu hidup yang kekal? Hidup yang kekal adalah mengenal Allah—mengenal Dia secara pribadi dan intim—serta mengambil bagian dalam hidup dan natur-Nya.
Orang paling bijaksana yang pernah hidup pernah menerima nasihat yang baik dari seseorang yang kadang-kadang juga menunjukkan ketidakbijaksanaan, yaitu Daud ketika memberi nasihat kepada Salomo. Tapi pada saat itu, apa yang dikatakan Daud sangat bijaksana. Dalam 1 Tawarikh 28:9, Daud berkata kepada anaknya, “Adapun engkau, anakku Salomo, kenallah Allah ayahmu dan beribadahlah kepada-Nya dengan segenap hati dan kerelaan.” Itu nasihat yang sangat baik. Salomo, kenallah Allah. Dan ketika engkau mengenal-Nya, layanilah Dia dengan kerelaan hati dan ketulusan, “sebab TUHAN menyelidiki setiap hati dan mengerti setiap niat dan rancangan. Jika engkau mencari Dia, Ia akan kautemui, tetapi jika engkau meninggalkan Dia, Ia akan membuang engkau untuk selamanya.”
Petrus berkata, “Bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.” Dalam 2 Tesalonika 1:8 dikatakan bahwa Tuhan akan datang “dalam api yang bernyala-nyala, dan mengadakan pembalasan terhadap mereka yang tidak mau mengenal Allah.” Jadi, mengenal Allah adalah inti dari keberadaan kita. Mengenal Allah adalah tujuan tertinggi dalam hidup ini. Mengenal Allah adalah segalanya, dan kemudian mengenal semua yang telah Dia nyatakan tentang diri-Nya melalui halaman-halaman Firman-Nya. Bukan hanya mengenal Allah adalah tujuan tertinggi manusia, tetapi mengenal Allah juga adalah tujuan utama Allah sendiri. Dia tidak hanya ingin kita mengenal-Nya, tetapi Dia juga bertindak dari pihak-Nya untuk menyatakan diri-Nya kepada kita. Allah rindu supaya kita mengenal Dia. Alkitab sangat jelas tentang hal ini. Dalam Hosea 6:6, ketika Allah menegur Israel karena kemunafikan mereka—mereka melakukan ibadah lahiriah tetapi hati mereka jauh dari-Nya—Allah berkata, “Sebab Aku menyukai kasih setia dan bukan kurban sembelihan; Aku menyukai pengenalan akan Allah, lebih daripada kurban bakaran.” Lebih dari segala hal yang bersifat lahiriah, Allah menginginkan kita mengenal Dia. Manusia dipanggil untuk mengenal Allah, dan Allah sendiri menghendaki hal itu. Inilah makna hidup. Inilah tujuan kita. Ini adalah pencarian tertinggi kita, dan sekaligus tujuan tertinggi Allah bagi hidup kita.
Saya mencoba memikirkan cara untuk menggambarkan betapa pentingnya bagi Allah agar kita mengenal Dia. Dan saya teringat pada nabi Yehezkiel, yang berusaha menyatakan kemuliaan Allah. Dalam Yehezkiel pasal 1, kita melihat penglihatan tentang Allah. Kitab itu dimulai dengan Allah. Dikatakan, “Pada tahun yang ketiga puluh, di bulan keempat, tanggal lima bulan itu, ketika aku bersama para buangan berada di tepi Sungai Kebar, terbukalah langit dan aku melihat penglihatan-penglihatan tentang Allah.” Yehezkiel memulai pelayanannya dengan menceritakan penglihatan tentang Allah yang ia lihat. Lalu jika kita pergi ke bagian akhir kitab Yehezkiel—tidak perlu membukanya sekarang—di pasal 48:35, kalimat terakhirnya adalah, “TUHAN Hadir di Situ.” Kitab ini dimulai dengan penglihatan tentang Allah, dan diakhiri dengan Allah yang kekal memerintah di dalam Kerajaan-Nya yang kekal. Yehezkiel memperkenalkan Allah di awal, dan menutupnya dengan Allah di akhir. Dan sesungguhnya, seluruh isi di antara keduanya adalah menekankan pada karakter Allah.
Ketika saya melihat bagian awal dan akhir kitab Yehezkiel itu, saya mulai berpikir, “Apa sebenarnya yang terus ditekankan Yehezkiel di bagian tengah kitab ini?” Lalu saya mencoba mempelajarinya sendiri, dan saya menemukan sesuatu yang sangat penting tentang apa yang Allah ingin kita ketahui. Mari kita lihat Yehezkiel pasal 6. Perhatikan bersama-sama. Saya akan membacakan satu kalimat yang muncul berulang-ulang—kadang di awal ayat, kadang di tengah, kadang di akhir. Ayat 7: “Kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN.” Ayat 10: “Dan mereka akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN.” Ayat 13: “Maka kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN.” Lanjut ke pasal 7 ayat 4, di akhir ayat: “Kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN.” Ayat 9: “Kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN.” Lalu ke pasal 11 ayat 12: “Kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN.” Pasal 12 ayat 16: “Mereka akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN.” Ayat 20: “Kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN.” Pasal 13 ayat 9: “Kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN.” Ayat 14: “Kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN.” Ayat 21: “Kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN.” Ayat 23: “Kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN.” Pasal 14 ayat 8: “Kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN.”
Ada satu pesan besar di sini. Apakah Anda menangkapnya? Pasal 15 ayat 7: “Kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN.” Pasal 20 ayat 12: “Supaya mereka mengetahui bahwa Akulah TUHAN.” Ayat 20: “Supaya mereka mengetahui bahwa Akulah TUHAN, Allahmu.” Ayat 26: “Supaya mereka mengetahui bahwa Akulah TUHAN.” Ayat 38: “Kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN.” Ayat 42: “Kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN.” Ayat 44: “Kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN.” Lanjut lagi, pasal 22 ayat 16: “Kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN.” Pasal 24 ayat 24: “Kamu akan mengetahui bahwa Akulah Tuhan ALLAH.” Ayat 27: “Mereka akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN.” Dan itu terus berulang, lagi dan lagi, sampai ke akhir kitab. Bahkan tanpa menghitung jumlahnya, jelas sekali bahwa kalimat itu muncul berkali-kali. Sampai akhirnya kita tiba pada pasal-pasal terakhir, di mana Allah menyatakan kemuliaan-Nya dalam Kerajaan-Nya yang mulia. Seluruh kitab ini pada dasarnya memiliki satu tujuan: supaya manusia mengetahui bahwa Dialah TUHAN.
Jadi, apa yang sebenarnya Allah ingin sampaikan kepada kita? Dia ingin kita mengenal Dia. Inilah kerinduan Allah bagi manusia. Allah tidak sedang bersembunyi. Dia bukan seperti sesuatu yang disembunyikan dan kita harus mencarinya tanpa arah. Allah tidak sedang menutupi diri-Nya. Sebaliknya, Allah telah menyatakan diri-Nya dengan jelas, dan Dia rindu supaya kita mengenal Dia. Dan itulah tujuan tertinggi dalam hidup manusia.
Lalu bagaimana kita bisa mengenal Dia? Bagaimana kita bisa mengenal Allah? Seperti yang dikatakan para nabi, “Jika kamu mencari Aku dengan segenap hatimu, kamu akan menemukan Aku.” Salomo juga memberikan penjelasan yang sangat bijaksana dalam Amsal 2:3-5. Ia berkata, “Ya, jikalau engkau berseru kepada pengertian, dan bersuara memohon kepandaian, jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam, maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan TUHAN dan mendapat pengenalan akan Allah.” Salomo mengatakan bahwa hanya ada satu cara untuk benar-benar mengenal Allah dan semua yang telah Dia nyatakan tentang diri-Nya, yaitu menjadikannya sebagai tujuan utama hidup. Jika seseorang mengejar uang, kesuksesan, atau hal-hal lain, ia tidak akan sungguh-sungguh menemukan pengenalan akan Allah. Tetapi jika seseorang mencari Allah seperti mencari perak, dan mengejar-Nya seperti harta yang tersembunyi, maka ia akan menemukan pengenalan akan Dia. Allah rindu supaya kita mengenal Dia. Allah ingin kita mengejar Dia. Dan itulah tujuan dari pembelajaran ini—supaya kita semakin mengenal Dia, dan supaya saya dapat menolong Anda untuk mengenal Dia lebih dalam.
Sekarang, mari kita masuk ke dalam catatan garis besar kita. Kita sudah menjawab dua pertanyaan pertama: apakah Dia ada, dan siapa Dia. Sekarang kita masuk ke pertanyaan ketiga, yaitu: seperti apakah Dia? Seperti apakah Allah itu?
Nah, kita sudah mengatakan bahwa Allah dinyatakan dalam Alkitab melalui atribut atau karakteristik-Nya. Apa itu atribut? Atribut adalah segala sesuatu yang benar tentang Allah—apa pun yang benar tentang diri-Nya. Tentu saja, kita hanya bisa membahas atribut-atribut yang dinyatakan dalam Kitab Suci. Lalu, berapa banyak atribut yang dimiliki Allah? Jumlahnya tidak terbatas. Tidak bisa dihitung. Yang kita temukan di Alkitab hanyalah sebagian yang dinyatakan kepada kita. Dan dari semua yang dinyatakan itu, kita hanya memilih beberapa saja, supaya kita bisa lebih memahami siapa Allah itu.
Sekarang, apa saja yang sudah kita pelajari? Pertama, kita belajar bahwa Allah itu tidak berubah. Artinya, Dia tidak berubah dan memang tidak bisa berubah—Allah selalu tetap sama. Kedua, kita belajar bahwa Allah itu mahahadir. Artinya, Dia ada di mana-mana pada saat yang sama, dengan kesadaran penuh. Ketiga, yang kita pelajari minggu lalu, Allah itu mahakuasa. Artinya, Dia memiliki segala kuasa. Dia dapat melakukan apa saja, melakukannya dengan mudah, dan melakukan apa pun yang Dia kehendaki. Jadi, Allah itu tidak berubah, hadir di mana-mana setiap saat, dan memiliki kuasa atas segala sesuatu.
Nah, hari ini saya ingin membagikan dua atribut lain tentang karakter Allah. Yang keempat: Allah itu Mahatahu. Artinya sederhana—Dia mengetahui segala sesuatu. Allah tahu segala sesuatu, benar-benar segala sesuatu. Dalam Mazmur 147:5 dikatakan, “Kebijaksanaan-Nya tak terhingga.” Itu berarti tidak ada batasnya. Pengertian-Nya tidak terbatas. Allah bukan hanya mengetahui hal-hal yang bisa diketahui, tetapi juga mengetahui hal-hal yang tidak dapat kita pahami. Dalam 1 Timotius 1:17, Dia disebut “satu-satunya Allah yang bijaksana.” Dalam Yudas 25 juga disebut demikian, dan dalam Roma 16:27, Paulus menyebut-Nya “satu-satunya Allah yang penuh hikmat.” Jadi, Allah bukan hanya bijaksana dan mengetahui segala sesuatu, tetapi Dia satu-satunya yang memiliki pengetahuan itu secara sempurna. Malaikat memang mengetahui banyak hal, tetapi tidak seperti Allah. Kita juga mengetahui beberapa hal, tetapi tidak ada seorang pun yang mengetahui seperti Allah. Hikmat, pengertian, dan pengetahuan-Nya tidak tertandingi dan tidak terbatas.
Tahukah Anda bahwa Allah tidak pernah belajar apa pun? Ketika Anda berdoa, Anda tidak sedang memberi informasi baru kepada Tuhan. Anda tidak berkata, “Tuhan, saya mau memberitahu Engkau tentang ibu mertuaku yang sedang sakit,” seolah-olah Tuhan belum tahu. Tidak. Anda tidak memberi-Nya informasi yang belum Dia ketahui. Yang Dia kehendaki adalah hubungan dengan Anda—bahwa Anda peduli dan Dia memilih untuk bekerja melalui doa-doa kita. Tidak ada hal yang mengejutkan bagi Allah. Dia tidak pernah belajar sesuatu yang baru. Lalu siapa yang bisa mengajar Dia? Yesaya 40:13 berkata, “Siapa yang dapat mengatur Roh TUHAN atau memberi petunjuk kepada-Nya sebagai penasihat-Nya?” Roma 11:34 juga berkata, “Sebab siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya?” Jawabannya jelas: tidak seorang pun. Tidak ada yang pernah mengajar Allah. Karena Allah mengetahui segala sesuatu.
Saudara-saudara, kalau kita pikirkan sejenak—kita duduk di sini, dan banyak dari kita mengenal dan mengasihi Tuhan Yesus, mengenal Allah—pernahkah Anda menyadari satu hal yang luar biasa tentang kemahatahuan Allah? Allah mengenal kita sepenuhnya… dan kita masih ada di sini. Itu sungguh luar biasa. Allah mengetahui segala sesuatu tentang kita—setiap pikiran, setiap dosa, setiap kelemahan kita—dan tetap mengasihi kita. Ini sangat menakjubkan. Kalau Anda menggabungkan hal ini dengan atribut yang lain, yaitu kekudusan Allah—bahwa Allah membenci dosa—dan kemudian menyadari bahwa Dia mengetahui segala sesuatu tentang kita, lalu bertanya, “Bagaimana mungkin kita bisa berada di hadapan-Nya?” Maka Anda akan menemukan satu atribut yang lain lagi: kasih. Allah mengetahui segala sesuatu, namun Dia tetap menebus kita.
Anda mungkin bertanya, “Mengapa?” Yesaya 48 menjelaskan hal itu dengan sangat jelas. Dalam ayat 8, Tuhan berkata bahwa manusia tidak mau mendengar, tidak mau taat sejak awal. “Aku telah mengetahui bahwa engkau berkhianat sekeji-kejinya, dan orang menyebut engkau si Pemberontak sejak dari kandungan.” Artinya, Tuhan sudah tahu sejak awal bahwa manusia adalah orang berdosa. Bahkan sejak dalam kandungan, natur dosa itu sudah ada. Namun kemudian Tuhan berkata, “Oleh karena nama-Ku Aku menahan amarah-Ku dan oleh karena kemasyhuran-Ku Aku menahan diri terhadap engkau, sehingga Aku tidak melenyapkan engkau. Sesungguhnya, Aku telah memurnikan engkau, namun tidak seperti perak, Aku telah menguji engkau dalam perapian kesengsaraan. Aku akan melakukannya demi Aku, ya demi Aku sendiri.” Jadi gambaran besarnya adalah ini: Allah melihat kita dan mengetahui segalanya tentang kita. Ia tahu sejak awal bahwa kita berdosa, bahwa kita akan memberontak. Dia membenci dosa—itu bagian dari kekudusan-Nya. Namun tetap saja, Dia menyelamatkan. Mengapa? Bukan terutama demi Anda, tetapi karena Dia ingin menyatakan kepada dunia salah satu atribut-Nya yang lain, yaitu kasih; dan kepada para malaikat, atribut-Nya yang lain, yaitu hikmat—demi diri-Nya sendiri.
Saudara-saudara, hal yang paling mengagumkan bagi saya adalah bahwa Allah mengetahui segala sesuatu, namun tetap mengasihi saya. Tidak ada yang tersembunyi dari Allah. Tahukah Anda bahwa segala sesuatu tentang tubuh Anda diketahui oleh-Nya? Bahkan rambut di kepala Anda pun terhitung. Bagi sebagian orang mungkin itu tidak sulit dihitung, tetapi intinya adalah: Allah mengetahui segala sesuatu tentang Anda. Anda mungkin bertanya, “Mengapa Allah repot-repot menghitung rambut kita?” Sebenarnya, Dia tidak perlu menghitung. Dia sudah mengetahui semuanya secara sempurna. Allah tidak sedang mencatat satu per satu untuk membuktikan sesuatu. Apa pun yang ada, Dia sudah mengetahuinya—tanpa perlu belajar atau mencari tahu. Dia mengetahui tubuh Anda. Tetapi bukan hanya itu—tubuh Anda pun terbuka di hadapan-Nya. Dalam Wahyu 2:23, Tuhan berkata, “Akulah yang menguji pikiran dan hati orang.” Tubuh kita tidak menyembunyikan apa pun dari-Nya. Dia melihat hati dan pikiran kita sama jelasnya seperti Dia melihat penampilan luar kita. Awan, kegelapan, atau malam tidak bisa menutupi apa pun dari-Nya. Mazmur 139:12 berkata, “Kegelapan tidak menggelapkan bagi-Mu.” Memang sering dikatakan bahwa manusia lebih suka kegelapan daripada terang karena perbuatannya jahat, dan banyak dosa dilakukan di tempat yang tersembunyi atau redup. Tetapi semua itu tetap terbuka dalam terang sempurna dari kemahatahuan Allah. Malam tidak menyembunyikan apa pun dari Allah.
Bisikan pun tidak bisa disembunyikan dari telinga Tuhan. Mazmur 139:4 berkata, “Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN.” Allah mendengar bisikan kita seolah-olah itu disuarakan dengan jelas. Anda mungkin berkata, “Bagaimana dengan pikiran saya?” Bahkan pikiran yang paling halus pun tidak pernah berada di luar pengetahuan Allah. Yesaya 66:18 berkata, “Aku mengenal rancangan mereka.” Yesus sendiri, dalam Yohanes pasal 2, menunjukkan bahwa Dia adalah Allah ketika dikatakan bahwa tidak perlu ada orang yang memberitahukan kepada-Nya apa yang ada di dalam hati manusia, karena Dia sendiri mengetahuinya. Ketika Yesus berbicara dengan Nikodemus, Nikodemus mengajukan satu pertanyaan dengan mulutnya, tetapi ada pertanyaan lain di dalam pikirannya—dan Yesus menjawab pertanyaan yang ada di dalam pikirannya, yang tidak pernah ia ucapkan. Tidak ada tempat tersembunyi di rumah Anda, atau di mana pun di dunia ini, yang bisa menyembunyikan Anda dari Allah. Dalam ayat yang sama di Yesaya 66, Tuhan berkata, “Aku mengenal segala perbuatan mereka.” Dia tahu segalanya. Dan dengarkan ini: semua yang Dia ketahui adalah benar. Karena dalam Ulangan 32:4, Dia disebut Allah yang setia dan benar. Tidak mungkin Dia berdusta. Dia tidak pernah salah. Dia tidak bisa keliru. Allah mengetahui segala sesuatu, dan semua yang Dia ketahui adalah benar dan sempurna.
Anda mungkin berkata, “Saya berharap pada Hosea 13:12—‘Kesalahan Efraim diikat, dosanya disimpan.’ Mungkin ada dosa yang Tuhan tidak tahu?” Tapi, bukan itu maksudnya. Alkitab sudah sangat jelas: Allah mengetahui segala sesuatu. Tidak ada satu pun dosa yang luput dari pengetahuan-Nya. Lalu apa arti ayat itu? Ini bukan suatu kontradiksi. Maksudnya adalah bahwa dosa Efraim “diikat” atau “disimpan”—bukan disembunyikan dari Allah, tetapi ditahan untuk waktu tertentu, yaitu untuk hari penghakiman di masa depan. Dengan kata lain, dosa itu tidak langsung dihukum saat itu juga, tetapi “disimpan” sampai waktu penghakimannya tiba. Gambaran sederhananya: bukan “tidak diketahui,” tetapi “ditunda pembalasannya”—seperti prinsip, berbuat dosa sekarang, dibayar kemudian.
Betul sekali. Kadang kita melihat seolah-olah orang benar lebih banyak mengalami tekanan daripada orang fasik. Lalu muncul pertanyaan: mengapa orang fasik bisa tampak berhasil? Jawabannya: itu tidak selamanya. Seperti Efraim, dosa mereka untuk sementara “disimpan”—bukan hilang, tetapi ditahan sampai hari penghakiman di masa depan. Itulah yang dimaksud dalam Roma 2:5-6, ketika Paulus berkata “Oleh kekerasan hatimu yang tidak mau bertobat, engkau menimbun murka atas dirimu sendiri pada hari murka.” Dengan kata lain, seseorang yang terus hidup dalam dosa sedang menumpuk dosa demi dosa—seperti menimbun sesuatu—untuk suatu hari di masa depan. Hari itu adalah saat “hukuman Allah yang adil akan dinyatakan. Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya.” Akan datang waktunya ketika penghakiman itu dinyatakan. Dan semua dosa yang sekarang tampaknya tersembunyi atau “ditahan” itu akan dibukakan—tidak ada lagi yang tersembunyi—dan semuanya akan dihakimi dengan adil.
Allah mengetahui segala sesuatu—segala sesuatu. Dan itu membawa kita pada satu atribut lainnya, yaitu hikmat. Apa itu hikmat? Definisi sederhananya adalah ini: hikmat adalah kemahatahuan yang bekerja melalui kehendak yang kudus. Dengan kata lain, hikmat adalah ketika pengetahuan Allah yang sempurna dinyatakan dalam tindakan yang benar dan kudus. Jika Allah mengetahui segala sesuatu, maka segala sesuatu yang Dia lakukan pasti sempurna dan bijaksana. Tidak ada keputusan-Nya yang salah. Jika Dia mengetahui akhir dari awal, maka Dia juga mengetahui setiap langkah di antaranya. Jika Allah mengetahui siapa Anda saat ini, dan juga mengetahui akan menjadi apa Anda nanti, dan mungkin kita tidak mengerti apa yang sedang terjadi di tengah-tengah perjalanan hidup kita, tetapi Dia mengerti. Dan itu berarti semuanya tetap berada dalam kendali yang sempurna. Jika Allah memiliki pengetahuan yang sempurna, maka Dia juga memiliki hikmat yang sempurna. Itulah hikmat: kemahatahuan yang dinyatakan dalam tindakan yang benar. Dia mengetahui segala sesuatu. Segalanya.
Anda bisa melihat begitu banyak ilustrasi tentang hikmat Allah. Lihat saja ciptaan-Nya—dari alam semesta yang begitu luas sampai detail terkecil dalam kehidupan—semuanya menunjukkan hikmat yang luar biasa. Betapa menakjubkannya hikmat Allah! Bayangkan, Allah menciptakan seluruh alam semesta, dengan jumlah komponen yang melampaui kemampuan kita untuk menghitungnya, dan setiap bagian bekerja selaras dengan bagian lainnya. Semua bergerak dengan keteraturan yang sempurna untuk menghasilkan tepat seperti yang Allah kehendaki. Dan bukan hanya hasil akhirnya—setiap proses di sepanjang jalan juga sepenuhnya sesuai dengan hikmat-Nya. Ciptaan adalah monumen dari hikmat Allah. Mazmur 104:24 berkata, “Betapa banyaknya perbuatan-Mu, ya TUHAN, segalanya Kaujadikan dengan hikmat.” Dan seperti yang dikatakan dalam Efesus 1:11, segala sesuatu bekerja “menurut keputusan kehendak-Nya.”
Kita juga harus mengakui bahwa penebusan adalah tindakan hikmat Allah. Allah memilih orang-orang yang tidak kuat, tidak terpandang, dan tidak dianggap bijaksana oleh dunia, lalu menjadikan mereka umat-Nya. Dengan cara itu, Dia mempermalukan yang kuat, yang berhikmat, dan yang mulia menurut ukuran dunia—seperti yang kita lihat dalam 1 Korintus 1. Lalu dalam Efesus 3:10 dikatakan bahwa melalui gereja, Allah menyatakan hikmat-Nya kepada para malaikat. Seolah-olah gereja menjadi “panggung” tempat Allah memperlihatkan betapa bijaksana-Nya Dia. Jadi, hikmat Allah bukan hanya terlihat dalam penciptaan, tetapi juga dalam penebusan kita yang adalah gereja-Nya.
Allah itu bijaksana. Allah mengetahui segala sesuatu. Lalu apa pelajaran praktisnya bagi kita? Apa dampak praktisnya bagi seorang Kristen? Yang pertama: ini menjadi penghiburan yang besar. Mengapa? Karena sangat melegakan untuk tahu bahwa Dia mengetahui segala sesuatu—termasuk kita. Pertama-tama, sungguh menghibur untuk mengetahui bahwa Dia mengenal kita. Kalau Dia bisa mengenal kita, berarti Dia memang mengetahui segala sesuatu—karena kita ini bukan siapa-siapa di alam semesta ini. Pernahkah Anda berpikir, “Apakah Tuhan benar-benar tahu saya ada di sini?” Apalagi kalau kita merasa biasa saja, tidak terkenal, tidak menonjol, seolah-olah hanya satu dari antara miliaran manusia. Mungkin ada yang sesekali berpikir, “Apakah Tuhan benar-benar memperhatikan saya? Saya tidak terlalu terlihat, tidak terlalu ‘berisik’ di dunia ini.”
Menarik sekali, ada gambaran seperti itu di zaman nabi Maleakhi. Pada waktu itu, Tuhan sedang menyatakan penghakiman atas bangsa itu, dan Maleakhi menyampaikan teguran yang keras. Di tengah situasi itu, ada sekelompok kecil orang yang takut akan Tuhan. Mereka mulai merasa gelisah dan berkata satu sama lain, “Jangan-jangan kita ikut kena semua ini… apakah Tuhan ingat kita?” Lalu dalam Maleakhi 3:16 dikatakan bahwa mereka yang takut akan Tuhan saling berbicara, “lalu TUHAN memperhatikan dan mendengarnya; sebuah kitab peringatan ditulis di hadapan-Nya bagi orang-orang yang takut akan TUHAN dan bagi yang menghormati nama-Nya. Mereka akan menjadi milik kesayangan-Ku pada hari Aku bertindak, firman TUHAN semesta alam. Aku akan mengasihani mereka sama seperti seseorang menyayangi anaknya yang melayani dia.”
Allah punya sebuah kitab, saudara-saudara, dan Dia tidak pernah lupa siapa saja yang ada di dalamnya. Bukankah itu sesuatu yang melegakan kita? Saya bersyukur Dia mengetahui segala sesuatu. Dia mengenal John MacArthur, dan Dia tahu bahwa saya mengenal Yesus Kristus, sehingga Dia tahu bahwa saya termasuk di dalam kitab itu. Bahkan, Dia sudah mengetahui itu sejak lama, sampai-sampai nama saya sudah ditulis sebelum dunia dijadikan. Ini menjadi penghiburan bagi saya, mengetahui bahwa Allah mengetahui segala sesuatu—dan bahwa tidak ada satu pun yang berada di luar pengetahuan-Nya. Dia mengenal saya, dan Dia tahu bahwa saya adalah milik-Nya. Ini sangat menghiburkan hati saya. Dalam Mazmur 56:9—saya sangat menyukai bagian ini: “Sengsaraku telah Kaucatat; taruhlah air mataku ke dalam kirbat-Mu.” Engkau menaruh air mataku ke dalam kirbat-Mu. Pada zaman Timur kuno, ketika orang-orang berkabung datang—itu adalah hal yang umum—semua orang menangis. Beberapa dari para pelayat bahkan menampung air mata mereka dalam sebuah botol. Mereka dibayar untuk berkabung. Mungkin itu salah satu cara untuk membuktikan bahwa mereka benar-benar menjalankan tugas mereka—menyerahkan sebotol air mata, lalu menerima bayaran. Jadi ada orang-orang yang datang untuk berkabung, dan mereka menampung air mata mereka dalam botol, lalu meninggalkannya sebagai suatu tanda.
Daud berkata bahwa Tuhan menampung air matanya dalam botol-Nya. Tuhan mengingat air mata saya. Tuhan bukan hanya mengenal saya, tetapi juga mengetahui air mata saya. Bukankah itu sesuatu yang indah untuk diketahui? Tidakkah menghiburkan hati Anda mengetahui bahwa Tuhan tahu setiap pergumulan yang Anda alami? Bahwa Tuhan menampung air mata Anda dalam botol-Nya? Pasti botol-Nya sangat besar. Mungkin Dia mengisinya sampai menjadi lautan, dan itulah sebabnya air laut asin, entahlah. Tuhan menampung air mata Anda dalam botol-Nya. Itu berarti bahwa Tuhan peduli tentang saya. Dan saya bersyukur mengetahui hal itu.
Dalam Matius pasal 6, Tuhan bukan hanya mengetahui kecemasan dan penderitaan saya, bukan hanya mengetahui siapa saya, tetapi Dia juga mengetahui semua kebutuhan saya. Dalam Matius 6:25, Dia berkata, "Janganlah khawatir tentang hidupmu, mengenai apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah khawatir pula tentang tubuhmu, mengenai apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh itu lebih penting daripada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di surga. Bukankah kamu jauh lebih berharga daripada burung-burung itu?” Anda jauh lebih berharga daripada burung-burung itu. “Siapakah di antara kamu yang karena kekhawatirannya dapat menambah sehasta saja pada jalan hidupnya?” Tidak ada gunanya khawatir, toh Anda tidak bisa menolong diri Andqaq sendiri dalam hal itu. Lalu “Mengapa kamu khawatir mengenai pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi, jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? Karena itu, janganlah kamu khawatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di surga tahu bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kehendak-Nya, maka” – apa? - “semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”
Bapa mengenal saya, dan nama saya ada di dalam kitab-Nya. Bapa mengetahui air mata saya. Dan Bapa mengetahui kebutuhan saya, dan Dia memelihara semuanya. Saya lebih berharga daripada seekor burung. Saya lebih penting daripada bunga bakung. Bunga memang indah, burung juga baik, tetapi saya lebih berharga daripada rumput yang hari ini ada dan besok lenyap, karena Tuhan memelihara saya. Saudara, sungguh menghiburkan hati saya mengetahui bahwa Allah mengetahui segala sesuatu. Dia mengenal saya, kecemasan saya, pergumulan saya, air mata saya, kebutuhan saya. Dan dengarkan ini: di tengah semua itu, Dia tidak pernah, tidak pernah, tidak pernah membuat kesalahan—tidak pernah. Dengarkan baik-baik: jika Allah memiliki sifat yang tak terbatas dan pengetahuan yang tak terbatas, lalu Anda tidak mengerti sesuatu, jangan katakan bahwa Allah membuat kesalahan. Sadari saja bahwa kita yang tidak tahu banyak hal. Jangan menyalahkan Allah seolah-olah Dia keliru, tetapi akuilah keterbatasan kita. Allah tidak pernah salah.
Selain itu, bagi orang Kristen, kemahatahuan Allah bukan hanya memberi penghiburan, tetapi juga memberi keyakinan. Dulu, saya justru menganggap ajaran tentang kemahatahuan Allah bukan sesuatu yang menenangkan. Waktu saya kecil, orang tua saya sering berkata, “Kami mungkin tidak tahu apa yang kamu lakukan, tapi Tuhan tahu. Dia melihat semuanya.” Anda ingat itu? Saya sering mendengarnya—“Tuhan tahu.” Dan waktu itu, saya merasa ajaran tentang Allah yang mengetahui segala sesuatu itu justru menakutkan, dan bukan menguatkan hati. Tetapi kemudian saya mempelajari Yohanes 21 dan mulai lebih mengerti. Di sana Petrus berusaha meyakinkan Tuhan bahwa ia mengasihi-Nya. Dan Tuhan terus bertanya kepadanya. Akhirnya Petrus berkata, “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Petrus bersandar pada apa? Pada atribut Allah yang mana? Atribut Kemahatahuan-Nya.
Kemahatahuan Allah itu sesuatu yang luar biasa, Saudara. Bukan sekadar Tuhan melihat dan mengawasi kita—itu hanya sebagian saja. Tapi tahukah Anda, kalau Tuhan tidak Mahatahu, ada hari-hari di mana Dia mungkin tidak tahu bahwa Anda mengasihi Dia, karena itu tidak selalu terlihat jelas? Kalau Dia tidak mengetahui segala sesuatu, Dia mungkin tidak tahu bahwa Anda peduli. Saya rasa dalam hidup saya, ada banyak hari di mana saya tidak terlihat berbeda dari orang-orang dunia. Mungkin Anda juga merasakan hal yang sama. Lalu bagaimana Tuhan tahu bahwa saya mengasihi Dia? Oh, Dia mengetahui banyak hal. Dia mengetahui segalanya. Dia mengetahui hati saya. Dan itu memberi saya keyakinan—bahwa bahkan ketika saya gagal, kasih saya kepada-Nya tetap aman, karena Dia mengenal hati saya.
Hal yang ketiga—dan ini sudah saya singgung sebelumnya—adalah koreksi atau teguran. Coba pikirkan ini: kalau Anda tahu bahwa Tuhan tidak mengetahui segala sesuatu, maka apa yang akan Anda lakukan, yang saat ini tidak Anda lakukan? Pikirkan baik-baik. Itu pertanyaan yang serius. Kalau Anda tahu Tuhan tidak tahu segalanya, dan Dia tidak akan pernah mengetahuinya, apa yang akan Anda lakukan? Mungkin daftar jawabannya akan panjang sekali. Karena itu saya katakan, hasil praktis ketiga dari doktrin kemahatahuan Allah adalah koreksi atau teguran. Tuhan adalah satu-satunya “Guru” yang tidak pernah meninggalkan ruangan. Tapi, semua itu selalu dilakukan-Nya dengan kasih.
Dia mengetahui segala sesuatu. Coba pikirkan ini baik-baik: kalau Anda ingin tahu di mana kelemahan terbesar Anda, di mana dosa Anda, di mana bagian paling buruk dalam diri Anda—bayangkan apa yang akan Anda lakukan jika Anda tahu Tuhan tidak akan mengetahuinya. Di situlah biasanya letak sebenarnya. Tetapi Dia tahu. Dan seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, karena Dia ada di mana-mana, setiap dosa yang kita lakukan seolah-olah naik ke ruang takhta Allah, berdiri di hadapan-Nya, dan dilakukan tepat di hadapan wajah-Nya. Perjanjian Baru juga mengatakan bahwa suatu hari nanti, semua yang kita lakukan di dalam tubuh ini akan dipertanggungjawabkan, seperti tertulis dalam 2 Korintus 5. Dan dalam 1 Korintus 4:5 dikatakan bahwa hari itu akan menyingkapkan hal-hal yang tersembunyi dalam kegelapan. Segala sesuatu yang Allah ketahui—semua jalan kita, pikiran kita, sikap kita—semuanya akan dinyatakan. Bagi orang percaya, ini menjadi koreksi yang kuat. Jika Dia mengetahui semuanya, saya tidak ingin melakukannya. Saya tidak ingin melukai hati-Nya. Saya tidak ingin mempermalukan Dia. Itulah koreksi. Dan di sisi lain, ada keyakinan karena Dia mengetahui hati saya. Ada penghiburan karena Dia tahu bahwa saya milik-Nya. Dia tahu air mata saya, Dia tahu kebutuhan saya, dan Dia tidak pernah membuat kesalahan.
Bagaimana dengan orang yang belum percaya? Apa arti kemahatahuan Allah bagi Anda? Anda ada di sini, belum mengenal Allah, belum mengenal Kristus, mungkin hanya sedang memperhatikan dan mendengar—lalu apa artinya ini bagi Anda? Pertama, ini seharusnya menunjukkan betapa sia-sianya kemunafikan. Jika Anda berpikir bisa bermain peran dan lolos begitu saja, Anda keliru. Allah mengetahui segala sesuatu. Jangan pernah berpikir bahwa Allah percaya pada “penampilan” Anda. Tidak. Dia tidak tertipu. Kemunafikan Anda terbuka sepenuhnya di hadapan-Nya. Ketika Yesus menegur Israel dalam Khotbah di Bukit, Dia benar-benar membuka semua kepura-puraan mereka. Dia menyingkapkan semuanya tanpa sisa. “Hai orang-orang munafik!” Dan mereka tidak bisa bersembunyi lagi ketika Dia selesai berbicara. Perhatikan Pengkhotbah 12:14, “Sesungguhnya Allah akan membawa setiap perbuatan ke penghakiman yang berlaku atas segala yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat.” Artinya jelas: Allah tidak tertipu oleh apa yang Anda tampilkan. Allah tidak melihat seperti manusia. “Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.” Dia mengenal Anda dengan sangat jelas. Saudara, jika Anda belum mengenal Kristus, Anda perlu menyadari sejak awal bahwa Anda tidak mengenal Allah. Dan segala usaha untuk terlihat baik di hadapan-Nya, semua “permainan” yang Anda lakukan, itu tidak akan berhasil. Kemunafikan itu sia-sia. Jika Allah mengetahui segala sesuatu, maka Dia tahu jauh lebih banyak daripada yang Anda kira.
Hal kedua yang ingin saya sampaikan kepada orang yang belum percaya adalah ini: ada kepastian bahwa penghakiman Allah itu benar dan tepat. Dalam Roma 2:2, Paulus berkata, “Hukuman Allah berlangsung secara adil atas mereka yang berbuat demikian.” Ketika tiba saat penghakiman terakhir—tentang siapa yang akan dihukum—itu akan menjadi penghakiman yang adil. Allah menghakimi berdasarkan kebenaran, karena Dia memiliki pengetahuan yang sempurna. Tidak seorang pun yang bisa menipu Allah. Dalam Yeremia 16:17 dikatakan, “Kesalahan mereka pun tidak terlindung dari mata-Ku.” Tidak ada yang bisa disembunyikan. Dalam 1 Samuel 16:7, “Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” Penghakiman akan didasarkan pada kebenaran, dan tidak ada cara untuk menyembunyikan apa pun dari Allah. Dia tahu apakah Anda berdosa atau tidak. Dia tahu apakah Anda sudah diampuni atau belum. Dia tahu apakah yang Anda miliki hanya sekadar agama tanpa hubungan dengan-Nya. Dia tahu apakah Anda hanya mengandalkan perbuatan baik. Dia tahu apakah nama Anda ada di dalam kitab-Nya atau tidak. Dia tahu apakah Anda sudah bertobat dan datang kepada Kristus. Dia tahu. Dia mengetahui segala sesuatu. Dan tidak ada satu pun “permainan” yang bisa menipu Dia—baik yang Anda lakukan maupun saya.
Hal lain yang ingin saya sampaikan kepada orang yang belum percaya adalah ini: mengetahui bahwa Allah mengetahui segala sesuatu seharusnya membuat Anda sadar akan betapa sia-sianya hikmat manusia. Allah mengetahui segala sesuatu. Jadi jika Anda ingin benar-benar bijaksana, Anda perlu mengambil bagian dalam pengetahuan-Nya. Seperti yang dikatakan Salomo kepada anaknya, “Carilah pengetahuan.” Ia mengulanginya berkali-kali, khususnya dalam Amsal pasal 8—dari awal sampai akhir—“Carilah pengetahuan, carilah pengetahuan.” Dan yang dimaksudnya adalah pengetahuan akan Allah. Orang yang bodoh mengejar pengetahuan dunia saja. Tetapi dalam 1 Korintus 1:19 dikatakan, “Aku akan membinasakan hikmat orang-orang berhikmat.” Hikmat dunia pada akhirnya akan menjadi sia-sia.
Jadi kepada orang yang belum percaya, saya akan berkata: ada kebodohan dalam kemunafikan. Allah akan menghakimi Anda menurut kebenaran. Jangan mengandalkan hikmat manusia. Allah mengetahui segala sesuatu. Bagi kita, itu adalah suatu penghiburan. Tetapi bagi yang belum percaya, itu seharusnya menjadi peringatan yang serius. Allah itu tidak berubah. Allah ada di mana-mana. Allah mahakuasa. Dan Allah mahatahu.
Terakhir, saya ingin berbicara tentang atribut yang kelima, yaitu kekudusan Allah. Allah itu kudus. Bagi saya, ini adalah atribut yang paling penting dari semua sifat-Nya. Ini seperti permata yang paling berkilau di mahkota-Nya—ini yang tertinggi. Allah itu kudus. Ketika para malaikat memuji Dia, mereka tidak berkata, “Kekal, kekal, kekal.” Mereka tidak berkata, “Setia, setia, setia,” atau “Bijaksana, bijaksana, bijaksana,” atau “Berkuasa, berkuasa, berkuasa.” Apa yang mereka katakan? “Kudus, kudus, kudus, Tuhan Allah Yang Mahakuasa.” Inilah puncak dari siapa Dia. Dia kudus. Keluaran 15:11 berkata, “Siapakah seperti Engkau… mulia dalam kekudusan-Mu, menakjubkan karena perbuatan-Mu yang masyhur?” Siapa yang seperti Dia dalam kekudusan? Tidak ada. Tahukah Anda bahwa itu adalah nama-Nya? Mazmur 111:9 berkata, “Kudus dan dahsyatlah nama-Nya.” Kudus adalah nama-Nya. Dalam Ayub 6:10, Dia disebut “Yang Mahakudus.” Yesaya mendengar seruan, “Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya.” Dalam Wahyu 4:8, makhluk-makhluk hidup berseru, “Kudus, kudus, kudus.” Dan dalam 1 Samuel 2:2 dikatakan bahwa tidak ada yang kudus seperti Dia.
Allah itu kudus. Dan saya tidak tahu cara lain untuk memahami kekudusan Allah selain dengan membandingkannya dengan dosa. Dalam Alkitab, menurut saya, salah satu bagian yang paling jelas menggambarkan kekudusan Allah adalah Yesaya pasal 6. Tidak perlu dibuka sekarang, biar saya jelaskan. Yesaya berkata, “Pada tahun kematian raja Uzia, aku melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, bagian bawah jubah-Nya memenuhi Bait Suci.” Ia mendapat penglihatan tentang Allah dan ia berkata, “Para Serafim berdiri di sekitar-Nya, masing-masing mempunyai enam sayap; dua sayap untuk menutupi muka mereka, dua sayap untuk menutupi kaki mereka, dan dua sayap untuk melayang-layang.” Kita ingat juga bahwa salah satu malaikat mengambil bara dari mezbah dengan penjepit dan menyentuh bibir Yesaya. Tetapi sebelum itu, apa inti dari bagian ini? Yesaya berkata, “Celakalah aku! Aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, TUHAN Semesta Alam.” Ia benar-benar hancur sampai ke dalam dirinya yang paling dalam. Ia terguncang hebat. Ia merasa benar-benar runtuh. Mengapa? Karena ia melihat kekudusan Allah. Dan ketika ia melihat kekudusan Allah, ia langsung menyadari keberdosaannya sendiri dengan sangat dalam.
Dan saya katakan ini, saudara, seseorang tidak akan pernah benar-benar memahami kekudusan Allah tanpa melihatnya dibandingkan dengan dosanya sendiri. Sampai Anda mengerti dosa Anda sendiri, Anda tidak akan pernah benar-benar mengerti kekudusan Allah. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Anda tidak bisa mengenal dosa tanpa melihat kekudusan-Nya, dan Anda tidak bisa memahami kekudusan-Nya tanpa menyadari dosa Anda. Yesaya melihat Tuhan yang tinggi dan mulia, lalu ia melihat dirinya sendiri, dan ia pun berseru dari lubuk hatinya, “Celakalah aku, aku binasa.” Di antara Anda dan Allah ada jurang yang sangat dalam—antara kekudusan dan ketidak-kudusan. Kita tidak kudus, tetapi Dia kudus. Dan kita seharusnya memang benar-benar terguncang sampai ke dasar hati kita bila melihat diri kita dibandingkan dengan Dia. Allah itu kudus.
Sekarang dengarkan baik-baik: Allah tidak menyesuaikan diri dengan suatu standar kekudusan. Dia sendirilah standar itu. Dia sepenuhnya kudus. Dia tidak pernah melakukan kesalahan. Dia tidak pernah keliru. Dia tidak pernah salah menilai. Dia tidak pernah membuat keputusan yang salah. Dia tidak pernah mengizinkan sesuatu terjadi dalam hidup Anda tanpa tujuan yang benar atau tanpa maksud yang baik. Dia selalu melakukan yang benar. Dan tidak ada tingkatan dalam kekudusan-Nya—Dia kudus secara mutlak dan tidak terbatas. Karena Allah itu kudus, itu menjadi syarat bagi siapa pun yang ingin berada di hadirat-Nya. Ketika malaikat berdosa, apa yang Dia lakukan? Dia langsung mengusir mereka dan menyiapkan tempat yang terpisah dari hadirat-Nya. Ketika manusia menolak datang kepada Allah, ketika mereka menolak Yesus Kristus, apa yang terjadi pada akhirnya? Mereka akan masuk ke tempat yang sama, yang disediakan bagi iblis dan malaikat-malaikatnya—terpisah dari hadirat Allah. Mengapa? Karena untuk berada di hadirat Allah, seseorang harus kudus.
Anda mungkin berkata, “Tapi bagaimana mungkin saya bisa menjadi kudus?” Anda bisa, melalui iman kepada Tuhan Yesus Kristus. Melalui Kristus, Allah memberikan kekudusan Kristus kepada kita dan memandang kita kudus secara posisi. Allah menjadikan kita kudus di dalam Kristus. Kepada jemaat di Korintus, rasul Paulus berkata, “Sekarang kamu kudus. Sekarang kamu telah dikuduskan di dalam Kristus.” Lebih jauh lagi, satu-satunya cara untuk memahami kekudusan Allah adalah dengan melihat kontrasnya. Kita harus melihat bagaimana Dia membenci dosa. Kita tidak bisa memahami kekudusan-Nya tanpa melihat kebencian-Nya terhadap dosa, karena dari situlah kita lebih mudah mengerti. Allah membenci dosa—benar-benar membencinya. Dalam Habakuk 1:13 dikatakan, “Mata-Mu terlalu suci untuk melihat kejahatan dan Engkau tidak tahan memandang kelaliman.” Allah tidak bisa mentoleransi dosa. Dia tidak bisa menerima kejahatan. Dia sepenuhnya terpisah dari itu. Dosa tidak bisa masuk ke hadirat-Nya. Dosa tidak bisa tinggal bersama-Nya.
Ketika dosa Sanherib memuncak, Roh Kudus berkata, “Terhadap siapakah engkau menyaringkan suaramu, dan memandang dengan sombong-sombong? Terhadap Yang Mahakudus, Allah Israel!” Artinya, dosa Sanherib menjadi jelas terlihat justru karena kekudusan Allah.
Ketika orang Mesir yang jahat ditenggelamkan dalam Keluaran 15, tahukah Anda apa yang sebenarnya menenggelamkan mereka? Ada yang berkata itu karena kuasa Allah. Tidak sepenuhnya benar. Dengarkan Keluaran 15, “Laut pun melingkupi mereka. Seperti timah mereka tenggelam dalam air yang dahsyat.” Lalu dikatakan, “Siapakah seperti Engkau, mulia dalam kekudusan-Mu.” Tahukah Anda mengapa mereka tenggelam? Bukan semata-mata karena kuasa Allah, tetapi karena kekudusan-Nya. Dia tidak dapat mentoleransi kejahatan mereka. Kekudusan Allah paling jelas terlihat dalam kebencian-Nya terhadap dosa. Dalam Amos pasal 5, ada kata-kata yang sangat keras: “Aku membenci, Aku menghina perayaanmu, dan Aku tidak menyukai perkumpulan rayamu. Meskipun kamu mempersembahkan kepada-Ku kurban-kurban bakaran dan kurban-kurban sajianmu, Aku tidak suka, dan kurban keselamatanmu berupa ternak yang tambun, tidak akan Kupandang. Jauhkanlah dari-Ku keramaian nyanyian-nyanyianmu, lagu gambusmu tidak akan Kudengar.” Padahal semua itu adalah hal-hal yang Tuhan sendiri tetapkan. Tetapi ketika hal-hal yang benar itu dilakukan dengan hati yang tidak murni, Tuhan membencinya. Allah tidak menginginkan orang melakukan hal yang benar dengan sikap hati yang salah. Tuhan berkata, “Aku membenci semuanya itu. Hentikan.” Dosa adalah sesuatu yang tidak berkenan bagi-Nya. Sebaliknya, Allah mengasihi kekudusan. Dalam Mazmur 11:7 dikatakan, “Sebab TUHAN itu adil dan Ia mengasihi keadilan.” Betapa indahnya pernyataan itu. Allah mengasihi kekudusan.
Nah, kita sudah melihat kekudusan Allah dari sisi negatif, yaitu kebencian-Nya terhadap dosa. Tetapi ada hal yang luar biasa di sini—dan ini harus kita masukkan—yaitu kasih Allah. Walaupun Dia kudus dan benar-benar membenci dosa, dan walaupun Dia Mahatahu dan mengetahui segala sesuatu, tidakkah luar biasa bahwa Dia tetap menebus kita? Sungguh menakjubkan bahwa Dia mengenal saya, membenci setiap dosa dalam diri saya, namun tetap mengasihi saya. Di situlah kasih berperan. Kekudusan Allah, kemahatahuan Allah, dan kasih Allah semuanya bekerja bersama. Betapa luar biasanya ini: Allah mengetahui segala sesuatu tentang saya, Dia membenci setiap dosa dalam diri saya, namun tetap mengasihi saya. Saya mencoba mencari ilustrasi untuk ini, dan mungkin ini bisa digambarkan seperti penyakit kanker. Anda mengasihi tubuh Anda, tetapi Anda membenci kanker di dalamnya. Anda akan melakukan segala sesuatu untuk menjaga tubuh Anda tetap sehat, merawatnya, memenuhi kebutuhannya, dan pada saat yang sama, Anda akan berusaha sekuat mungkin untuk menghancurkan kanker itu. Anda membenci sesuatu yang ada di dalam tubuh Anda, tetapi bukan keseluruhan diri Anda. Demikian juga, Allah memandang manusia—Dia mengasihi pribadi itu, tetapi membenci dosa di dalamnya.
Di mana kita bisa melihat kekudusan Allah dinyatakan? Kita bisa melihatnya dalam banyak hal. Allah tidak pernah menghendaki dosa. Tidak pernah. Dia mungkin mengizinkan seseorang berdosa jika orang itu memilihnya, tetapi Dia sendiri tidak pernah menghendaki dosa itu. Allah tidak pernah mencobai siapa pun untuk berbuat dosa. Allah tidak ingin Anda berdosa. Ada orang yang seolah-olah berpikir bahwa Tuhan ingin mereka berdosa. Bahkan ada yang berkata, “Lebih baik hidup dalam dosa yang dalam dulu, supaya nanti waktu bertobat, bisa punya kesaksian yang hebat— dan orang akan melihat perubahan yang besar.” Seolah-olah Tuhan ingin seseorang jatuh sedalam mungkin supaya ceritanya lebih dramatis. Itu salah. Tuhan tidak pernah bersukacita atas dosa siapa pun—tidak pernah. Dan Allah tidak pernah mencobai manusia untuk berdosa. Seperti yang dikatakan dalam Yakobus 1:13-14, “Allah tidak mencobai siapa pun.”
Tetapi kekudusan Allah juga terlihat dalam hal-hal yang sangat positif. Misalnya, kekudusan-Nya terlihat dalam penciptaan. Dalam Pengkhotbah 7:29 dikatakan, “Allah telah menjadikan manusia yang jujur, tetapi mereka mencari banyak dalih.” Artinya, ketika Allah menciptakan manusia, manusia diciptakan dalam keadaan benar, dalam keadaan kudus. Jadi, kekudusan Allah nyata sejak awal dan terlihat dalam ciptaan-Nya.
Kedua, kekudusan Allah terlihat dalam hukum moral. Hukum moral yang masih ada sampai sekarang—walaupun manusia berusaha merusaknya dan menghapusnya—tapi hukum moral tetap menunjukkan bahwa Allah itu kudus. Dalam Roma 7:12, Paulus berkata, “Hukum Taurat itu kudus, dan perintah itu juga kudus, benar, dan baik.” Jadi, melalui hukum moral yang benar itu, Allah menyatakan bahwa Dia adalah Allah yang kudus. Ketika Allah menetapkan hukum yang benar dan adil, Dia menunjukkan bahwa diri-Nya sendiri adalah pribadi yang benar, adil, dan kudus.
Saya juga melihat bahwa kekudusan Allah tidak hanya terlihat dalam penciptaan dan hukum moral, tetapi juga dalam hukum kurban. Ketika saya melihat Allah menetapkan semua kurban binatang itu, saya melihat bahwa Allah sedang menyatakan bahwa kematian adalah akibat dari dosa. Seolah-olah Tuhan berkata, “Aku ingin engkau melihat ini, dan benar-benar menyadarinya.” Setiap kali orang mempersembahkan kurban, mereka melihat betapa mematikannya dosa itu. Dan hal itu menunjukkan moralitas dan kekudusan Allah. Jadi, kekudusan Allah terlihat dalam penciptaan, dalam hukum moral, dan dalam hukum kurban. Selain itu, kekudusan Allah juga terlihat dalam penghakiman atas dosa. Ketika Anda membaca Alkitab, misalnya dalam 2 Tesalonika pasal 1, tentang Yesus yang datang dalam api yang menyala-nyala untuk membalas mereka yang tidak mengenal Allah dan tidak taat kepada Injil, Anda melihat betapa Allah membenci dosa. Dalam Yudas 4 juga disebutkan tentang orang-orang fasik yang dihukum karena perbuatan mereka yang jahat terhadap Allah. Semua itu menunjukkan bahwa penghakiman Allah atas dosa adalah cerminan dari kekudusan-Nya. Dia harus menghukum dosa.
Dan mungkin yang paling utama adalah kekudusan Allah terlihat di salib, ya di salib. Anda mungkin berkata, “Bukankah di sana semua dosa ditanggung-Nya?” Betul, dan justru di situlah gambaran terbesar dari kekudusan-Nya. Dengarkan baik-baik: Allah begitu kudus sehingga Dia membayar harga yang paling tinggi untuk memenuhi tuntutan kekudusan-Nya sendiri. Dalam Ibrani 9:26, ada pernyataan yang luar biasa. Dengarkan apa yang dikatakannya: “Sebab jika demikian Ia harus berulang-ulang menderita sejak dunia ini dijadikan.” Tapi dengarkan selanjutnya: “Akan tetapi, sekarang Ia hanya satu kali saja menyatakan diri-Nya pada zaman akhir.” Dia datang—Allah sendiri datang, “untuk menghapuskan dosa dengan kurban diri-Nya.” Kekudusan Allah begitu tak terbatas sehingga Ia harus membayar harga tertinggi, yaitu dengan menyerahkan diri-Nya sendiri, menanggung dosa, karena harga itu harus dibayar, bahkan jika itu berarti dengan nyawa-Nya sendiri. Itulah kekudusan. Kekudusan-Nya terlihat dalam kematian Kristus. Kekudusan Allah menuntut pembayaran, bahkan jika Dia sendiri yang harus membayarnya. Dia kudus—kudus.
Apa pelajaran praktis dari kekudusan Allah? Bagi orang yang belum percaya, sederhana saja: kekudusan Allah menuntut kekudusan dalam hidup Anda, dan itu hanya mungkin melalui Yesus Kristus. Dalam Efesus 4 dikatakan tentang “mengenakan manusia baru yang diperbarui dalam kekudusan.” Allah menghendaki Anda menjadi kudus, dan satu-satunya cara untuk menjadi kudus adalah berada di dalam Kristus dan menerima kebenaran-Nya. Sebaliknya, jika Anda bukan orang percaya dan menolak kekudusan yang Allah tawarkan melalui Yesus Kristus, maka atribut Allah yang lain akan bekerja, yaitu keadilan. Jika Anda menolak Allah, maka Anda akan menerima apa yang pantas Anda terima. Itulah keadilan, dan Allah itu adil. Dan bagi mereka yang tidak mau bertobat, kekudusan Allah menuntut keadilan atas mereka.
Bagaimana dengan orang Kristen? Apa arti kekudusan bagi orang percaya? Apa penerapan praktis dari kekudusan Allah dalam hidup saya? Sederhana, seperti yang dikatakan dalam 1 Petrus 1:15, “hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” Jika Allah kudus, apa yang Dia kehendaki dari kita? Kekudusan. Dengarkan ini: secara posisi kita sudah dibuat kudus—di dalam Kristus, kita kudus—tetapi Allah ingin kehidupan kita secara nyata sesuai dengan posisi itu. Dia ingin kita hidup kudus. Bukan hanya kudus secara posisi, tetapi juga hidup dalam kekudusan setiap hari, karena ketika kita hidup kudus, itulah yang membedakan kita dari dunia. Hidup yang kudus menunjukkan kepada dunia bahwa ada perbedaan. Itulah sebabnya dalam 2 Timotius 2:19 dikatakan, “Setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan." Jika Anda menyebut nama-Nya, maka hiduplah sesuai dengan itu. Biarlah dunia melihat bahwa ada perbedaan.
Saya mau katakan satu hal lagi. Kekudusan dalam hidup Anda memberi Anda keberanian di hadapan Allah. Jika Anda seorang Kristen dan hidup dalam kekudusan, membereskan dosa, melakukan hal-hal yang benar dan berkenan kepada Tuhan, lalu hidup dengan jujur, maka Anda akan memiliki keberanian di hadapan-Nya. Dengarkan ilustrasi indah dari Ayub 22 ini: “Jika engkau bertobat kepada Yang Maha Kuasa, engkau akan dipulihkan; Jika engkau menjauhkan kecurangan dari kemahmu.” Artinya, jika Anda mau kembali kepada Tuhan dan membereskan hidup Anda, hal pertama yang harus Anda lakukan adalah menjauhkan dosa. Lalu di ayat 26 dikatakan, “Maka sesungguhnya engkau akan bersenang-senang karena Yang Maha Kuasa, dan akan menengadah kepada Allah.” Anda tidak bisa datang kepada Tuhan, mengangkat wajah, dan bersukacita di hadapan-Nya jika masih ada dosa dalam hidup Anda. Pernahkah Anda mengalaminya? Saya tahu dalam hidup saya, setiap kali ada dosa, saya jadi sulit berdoa. Ayub 22 mengajarkan: bereskan dosamu, maka kamu akan bisa mengangkat wajahmu kepada Tuhan—tanpa rasa bersalah.
Dengarkan ini, kekudusan membedakan kita dari dunia. Kekudusan memberi kita keberanian. Kekudusan memberi kita damai. Dalam Yesaya 57:21 dikatakan, “Tidak ada damai bagi orang-orang fasik itu.” Allah menghendaki kita hidup kudus, bahkan jika Dia harus mendisiplin kita; menurut Ibrani 12:10, Dia akan mendisiplin kita supaya kita menjadi kudus. Lalu apa yang harus dilakukan orang Kristen? Mungkin seperti yang dilakukan Daud dalam Mazmur 51: berdoa memohon hati yang bersih. Dan kemudian, seperti yang dikatakan dalam Amsal 13:20, berjalanlah bersama orang-orang yang benar. “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.”
Mari kita berdoa. Bapa, terima kasih pagi ini atas penyataan diri-Mu kepada kami; kami menyerahkan semua firman dan pemikiran ini ke dalam tangan-Mu. Kiranya semua ini menghasilkan buah dalam hidup kami. Teguhkan kebenaran ini di dalam hati kami, ya Bapa. Pulangkan kami dengan berkat-Mu, dan bawa kami kembali malam ini dengan kerinduan untuk belajar lebih lagi, supaya kami dapat menang dalam kuasa-Mu. Kami memuji Engkau dalam nama Kristus. Amin.
SELESAI
This article is also available and sold as a booklet.
