Grace to You Resources
Grace to You - Resource

Kita masih punya waktu beberapa minggu lagi sebelum musim panas berakhir dan kita memasuki jadwal musim gugur, ketika semua orang kembali beraktivitas. Karena itu, saya agak ragu untuk langsung memulai seri pembahasan 2 dan 3 Yohanes pada kebaktian Minggu malam. Jadi saya putuskan untuk menyampaikan satu seri singkat pada kebaktian Minggu pagi dengan tema, "Allah: Benarkah Dia Ada? Siapakah Dia? Dan Seperti Apakah Pribadi-Nya?" Lalu pada kebaktian malamnya, temanya adalah, "Iblis: Benarkah Dia Ada? Siapakah Dia? Dan Seperti Apakah Dia?" Jadi malam ini, dan selama beberapa minggu ke depan, kita akan mempelajari karakter Iblis. Saya rasa sangat penting bagi kita untuk memiliki pemahaman yang benar tentang Iblis. Saya masih ingat ketika saya masih kuliah, salah satu hal yang kami lakukan dalam latihan sepak bola. Kami melakukan banyak hal yang terdengar aneh sebagai persiapan menghadapi pertandingan. Salah satu yang selalu kami lakukan adalah mengambil pemain lapis ketiga atau lapis keempat—dan memang seperti itulah banyak pemain menghabiskan seluruh karier sepak bola mereka, dengan bermain di tim lapis ketiga atau keempat. Kelompok pemain itu kemudian diminta bermain, bergerak, dan bertindak persis seperti tim lawan yang akan kami hadapi pada hari Sabtu. Setelah itu kami berlatih melawan rekan-rekan kami sendiri yang memainkan gaya permainan lawan, supaya kami bisa lebih mengenal musuh yang akan kami hadapi.

Mampu memperkirakan apa yang akan dilakukan lawan adalah hal yang sangat penting. Dalam sepak bola profesional, bahkan sekarang juga di tingkat perguruan tinggi, sistem yang digunakan sudah sangat canggih hingga memanfaatkan ilmu komputer. Dengan bantuan komputer, mereka hampir selalu dapat memprediksi dengan tepat apa yang akan dilakukan lawan. Mereka mengetahui berapa kali sebuah tim menjalankan pola permainan tertentu pada situasi tertentu, di posisi lapangan tertentu, dan pada kesempatan tertentu. Semua informasi itu dianalisis oleh komputer, sehingga mereka sudah memiliki gambaran sebelumnya tentang apa yang kemungkinan besar akan dilakukan lawan. Satu-satunya hal yang masih sulit diprediksi hanyalah kesalahan manusia. Cara seperti ini memang bijaksana dalam dunia olahraga. Seorang petinju yang akan bertanding akan mempelajari di mana titik kelemahan lawannya, lalu menyerang tepat di bagian itu. Prinsip ini berlaku dalam segala bentuk pertandingan atau ketika kita menghadapi seorang lawan.

Hal yang sama juga berlaku dalam kehidupan rohani. Jika kita ingin mengetahui cara terbaik untuk meraih kemenangan, kita harus memahami siapa musuh kita. Semakin kita mengenal musuh kita, semakin kita memahami kelemahan dan keterbatasannya. Itulah yang ingin kita lakukan, yaitu mempelajari Iblis. Tentu saja bukan untuk memuliakannya, melainkan untuk menyingkapkan siapa dia sebenarnya, supaya kita melihat dia sebagai pribadi yang sudah rusak dan telah dikalahkan. Sekarang, kita semua mengenal kisah penciptaan dalam Kejadian pasal 1 dan 2. "Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong. Kegelapan menutupi permukaan samudra raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air." Lalu penciptaan pun dimulai. Kita semua sudah mengenal kisah itu.

Pada waktu itu sebenarnya sudah ada makhluk-makhluk hidup di alam semesta. Mungkin Anda bertanya, "Siapa mereka?" Mari kita membuka Alkitab kita di kitab Ayub pasal 38 untuk melihat siapa yang sudah ada ketika Allah menciptakan dunia. Ayub 38 ayat 4. Di bagian ini, Tuhan menyampaikan beberapa pernyataan yang menarik kepada Ayub. Dalam ayat 4, Dia berkata, "Di manakah engkau ketika Aku meletakkan dasar bumi? Ceritakanlah, kalau engkau mempunyai pengertian." Tentu saja maksudnya adalah Ayub tidak ada di sana. Ayub tidak memiliki jawaban, karena ia memang tidak menyaksikan peristiwa itu. "Di manakah engkau ketika Aku meletakkan dasar bumi, Ayub? Engkau tidak berada di mana pun. Siapa yang menentukan ukurannya, jika engkau tahu? Atau siapa yang membentangkan tali pengukur di atasnya? Di atas apakah dasar-dasarnya dipasang? Atau siapa yang meletakkan batu penjurunya? Katakan kepada-Ku, Ayub. Ceritakan kepada-Ku bagaimana proses penciptaan itu terjadi. Apakah engkau ada di sana?" Tentu saja tidak. Tetapi perhatikan ayat 7, "Pada waktu bintang-bintang fajar bersorak-sorak bersama-sama, dan semua anak Allah bersorak-sorai?" Nah, perhatikan baik-baik bagian ini. Allah menghubungkan peristiwa ketika bintang-bintang fajar bernyanyi bersama-sama dan semua anak Allah bersorak-sorai dengan saat penciptaan. Apakah Anda melihatnya?

"Di manakah engkau ketika Aku menciptakan? Di manakah engkau ketika bintang-bintang fajar bernyanyi bersama-sama dan anak-anak Allah bersorak-sorai?" Kalau begitu, bintang-bintang fajar itu bukanlah bintang dalam arti sebenarnya. Lalu siapakah mereka? Mereka adalah pribadi yang sama dengan anak-anak Allah. Siapakah mereka? Tidak lain adalah para malaikat. Jadi, para malaikat sudah ada ketika Allah menciptakan dunia. Itulah makna yang tersirat dari bagian ini. Dalam Ayub 1:6, para malaikat disebut ben haElohim, yang berarti "anak-anak Allah." Sebutan yang sama juga muncul dalam Ayub 2:1 dan di sini, Ayub 38:7. Dan seperti yang kita pelajari pagi tadi, istilah "anak-anak Allah" digunakan bagi mereka yang diciptakan secara langsung oleh tindakan Allah. Kita memang tidak tahu kapan tepatnya para malaikat diciptakan. Namun saya rasa cukup aman untuk mengatakan bahwa mereka sudah ada ketika dunia diciptakan. Kita juga tidak tahu sudah berapa lama mereka ada sebelum itu, karena Alkitab tidak memberikan penjelasan. Tetapi yang penting adalah, mereka memang sudah ada.

Sekarang mari kita lihat Kolose pasal 1. Di sana dikatakan, "Karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di surga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia." Perhatikan bahwa singgasana, kerajaan, pemerintah, dan penguasa adalah berbagai sebutan atau tingkatan bagi para malaikat. Itu semua adalah jenjang dalam dunia malaikat. Kolose 1:16 mengatakan bahwa Allah menciptakan para malaikat. Kata kerja yang digunakan menunjukkan suatu tindakan yang terjadi pada satu titik tertentu di masa lampau. Artinya, pada suatu waktu dalam sejarah, Allah menciptakan para malaikat. Dan menurut saya, dari apa yang diajarkan Firman Allah, tampaknya semua malaikat diciptakan pada saat yang sama. Semuanya diciptakan secara langsung oleh Allah. Bahkan, Firman-Nyalah yang menciptakan mereka. Firman Allah menciptakan segala sesuatu, dan para malaikat pun tidak terkecuali.

Mazmur 148 ayat 2 berkata, "Pujilah Dia, hai segala malaikat-Nya. Pujilah Dia, hai segala tentara-Nya! Pujilah Dia, hai matahari dan bulan, pujilah Dia, hai segala bintang yang benderang. Pujilah Dia, hai langit yang mengatasi segala langit, hai air yang di atas langit. Baiklah semuanya memuji nama TUHAN, sebab Dia memberi perintah, dan semuanya tercipta." Segala sesuatu, termasuk para malaikat, dipanggil untuk memuji Allah karena mereka diciptakan oleh perintah-Nya. Sama seperti Allah menciptakan segala sesuatu dalam kitab Kejadian secara seketika, demikian pula Dia menciptakan semua malaikat dalam sekejap. Mungkin Anda bertanya, "Bagaimana Anda tahu Allah tidak menciptakan beberapa malaikat terlebih dahulu, lalu mereka berkembang biak?" Jawabannya adalah karena malaikat tidak dapat berkembang biak. Malaikat tidak beranak cucu. Mungkin Anda bertanya lagi, "Dasarnya dari mana?"

Dasarnya terdapat dalam Matius pasal 22 ayat 28. Tentu saja kita tidak akan membahas seluruh bagian ini. Di sana dikatakan, "Pada waktu kebangkitan nanti, perempuan itu akan menjadi istri siapa?" Anda tentu ingat kisah tentang seorang laki-laki yang meninggal, lalu menurut kebiasaan saat itu saudaranya yang belum menikah harus mengambil istrinya untuk meneruskan garis keturunan keluarga. Saudara itu pun menikahinya, lalu ia juga meninggal. Kemudian saudara berikutnya melakukan hal yang sama, dan akhirnya perempuan itu menikah dengan tujuh bersaudara. Lalu orang-orang datang kepada Tuhan dan bertanya, "Pada waktu kebangkitan nanti, dari ketujuh orang itu, perempuan itu akan menjadi istri siapa?" Sebenarnya situasi itu memang sangat aneh. Kalau sampai saudara ketiga atau keempat juga meninggal seperti itu, tentu orang-orang sudah mulai curiga. Tetapi andaikan memang sampai saudara yang ketujuh, pertanyaan yang diajukan kepada Yesus oleh orang-orang Saduki—yang sebenarnya sedang berusaha menjebak-Nya karena mereka tidak percaya akan adanya kebangkitan—adalah, "Kalau nanti terjadi kebangkitan, perempuan itu menjadi istri siapa?"

Yesus menjawab mereka dalam ayat 29, "Kamu sesat, sebab kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah! Karena pada waktu kebangkitan, mereka tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di surga." Para malaikat tidak menikah dan tidak berkembang biak. Mereka semua diciptakan sekaligus melalui satu firman Allah pada suatu waktu di masa lampau, sebagai tindakan penciptaan Allah. Kemungkinan besar itu terjadi sebelum dunia diciptakan, sehingga mereka dapat bernyanyi bersama ketika penciptaan berlangsung. Dan tampaknya mereka mempersembahkan pujian yang luar biasa indah pada saat dunia sedang diciptakan. Para malaikat diciptakan dengan tujuan untuk melayani dan memuliakan Allah. Itulah tujuan Allah menciptakan semua malaikat. Ada dua hal yang perlu kita ingat: mereka diciptakan untuk melayani dan memuliakan Allah—memuji Dia dan menaati Dia. Jika Anda membaca kitab Wahyu, khususnya pasal 4, Anda akan melihat bahwa memang itulah yang mereka lakukan: mereka memuji Allah. Jika Anda membaca Ibrani pasal 1, Anda juga akan menemukan bahwa mereka melayani Allah. Dalam Ibrani pasal 1, para malaikat disebut sebagai "roh-roh yang melayani." Kata itu sendiri berarti melayani. Mereka melaksanakan kehendak Allah, menjalankan setiap perintah-Nya, serta menghormati, memuji, dan memuliakan Dia.

Nah, menarik juga jika kita memikirkan berapa banyak jumlah malaikat yang ada. Saya bukan sedang mengangkat kembali pertanyaan teologis lama seperti, "Berapa banyak malaikat yang bisa ditempatkan Allah di atas ujung sebuah jarum?" Tentu saja pertanyaan itu tidak relevan. Bukan itu yang sedang kita bahas. Tetapi memang menarik untuk memikirkan, dari sisi jumlah, sebenarnya ada berapa banyak malaikat. Menjelang penyaliban-Nya, Yesus berkata bahwa jika Dia menghendakinya, Dia dapat memanggil dua belas pasukan malaikat. Satu pasukan tentara Romawi berjumlah sekitar enam ribu orang. Padahal, sebenarnya satu malaikat saja sudah lebih dari cukup. Tidak diragukan lagi. Dalam Perjanjian Lama, satu malaikat pernah membunuh 185.000 orang dalam satu peristiwa. Jadi sebenarnya tidak diperlukan banyak malaikat. Mungkin Anda bertanya, "Apakah jumlah mereka hanya sebanyak itu?" Tidak. Jumlah mereka jauh lebih banyak. Bahkan Alkitab memberi tahu kita—saya sedang mengarahkan pembahasan kita ke sana—dalam Wahyu pasal 5. Saya tidak bisa langsung menjelaskan semuanya sekaligus. Di ayat 11 dikatakan, "Lalu aku melihat dan mendengar suara banyak malaikat"—berapa banyak?—"di sekeliling takhta, makhluk-makhluk dan tua-tua itu; jumlah mereka beratus-ratus ribu dan berjuta-juta." Yang ingin disampaikan Yohanes di sini bukanlah angka yang tepat, melainkan gambaran bahwa jumlah mereka begitu besar sehingga tidak mungkin dihitung.

Bahkan dalam Ibrani 12:22 dikatakan, "Kamu sudah datang ke Bukit Sion, ke kota Allah yang hidup, Yerusalem surgawi"—perhatikan bagian ini—"dan kepada beribu-ribu malaikat, suatu kumpulan yang meriah." Jadi, tahukah Anda berapa banyak malaikat yang ada? Jumlah mereka terlalu banyak untuk dihitung. Mungkin ada yang bertanya, "Apakah Anda percaya jumlah mereka mencapai miliaran?" Ada yang berpendapat bahwa jumlah malaikat sama banyaknya dengan bintang-bintang di langit. Karena malaikat juga disebut sebagai bintang, sebagian orang menyimpulkan bahwa mungkin jumlah mereka sama banyak dengan jumlah bintang. Lalu, ada berapa banyak bintang? Jangan tanyakan kepada saya. Jumlahnya miliaran. Ada juga yang beranggapan bahwa karena Tuhan pernah menyebut tentang "malaikatnya" seolah-olah untuk setiap orang, maka setiap individu yang pernah hidup memiliki satu malaikat. Saya sendiri tidak terlalu yakin bahwa pandangan itu benar. Sebab kalau begitu, seorang malaikat mungkin hanya bertugas sekitar enam puluh tahun, lalu setelah itu tidak melakukan apa-apa sepanjang sisa waktu. Jadi mungkin saja mereka bergantian tugas dari waktu ke waktu. Saya tidak tahu. Bisa jadi ketika seseorang meninggal, malaikat itu kemudian ditugaskan untuk seseorang yang baru lahir.

Tapi intinya adalah ini, Saudara: malaikat itu benar-benar ada, dan jumlahnya sangat banyak. Terlalu banyak untuk dihitung. Jadi ketika Allah menciptakan para malaikat, Dia melakukan sesuatu yang luar biasa. Itu adalah tindakan penciptaan yang sangat dahsyat. Sering kali kita membayangkan penciptaan secara sederhana. Allah menciptakan manusia. Seolah-olah Dia hanya mengambil sedikit debu lalu membentuknya. Tetapi jika kita memikirkan betapa besarnya karya penciptaan itu, bayangkanlah Allah mengucapkan satu firman, dan seketika itu juga miliaran makhluk langsung hadir. Semuanya indah, semuanya berhikmat, semuanya penuh kuasa, semuanya hidup untuk memuliakan dan melayani Dia. Semua itu muncul ke dalam keberadaan hanya melalui satu firman yang keluar dari Allah—satu kehendak yang lahir dari pikiran-Nya.

Nah, mungkin Anda bertanya, "Kalau begitu, sebelum Kejadian pasal 3 pasti ada sesuatu yang terjadi pada para malaikat, karena ketika kita sampai di Kejadian 3, salah satu dari mereka sudah menjadi sangat jahat. Dia bahkan menyelinap di taman seperti seekor ular." Ya, benar. Tahukah Anda apa yang terjadi? Para malaikat jatuh ke dalam dosa. Terjadi sebuah tragedi besar. Sekelompok besar malaikat di surga memberontak. Salah satu pertanyaan paling sulit dalam dunia teologi adalah apa yang disebut sebagai masalah teodisi. Dari manakah asal dosa? Kita sering menjawab, dosa pertama kali dilakukan oleh para malaikat. Mereka jatuh. Tetapi dari mana dosa itu berasal? Jawaban terbaik yang dapat kita berikan adalah: kita tidak tahu. Namun satu hal yang pasti, dosa memang muncul. Itu jelas terlihat. Saya sering bertanya kepada diri sendiri, "Bagaimana mungkin para malaikat bisa memberontak?" Maksud saya, apa yang mereka lawan? Allah yang sepenuhnya kudus? Keadaan yang penuh kebahagiaan dan kesempurnaan? Mereka memiliki akal budi. Mereka dapat melihat keadaan tempat mereka hidup, dan mereka pasti menyadari bahwa itu adalah keadaan yang sungguh mulia. Mereka mampu berkomunikasi. Mereka dapat merespons Allah, dan Allah juga merespons mereka. Mereka memiliki perasaan. Mereka menghabiskan waktu mereka untuk memuji Allah. Mereka adalah makhluk yang bertanggung jawab. Mereka bukan robot. Mereka memiliki kecerdasan, emosi, dan kehendak bebas, sebagaimana terlihat dari pilihan yang mereka buat. Namun, mereka tetap memilih untuk memberontak.

Saya tidak tahu mengapa. Saya tidak tahu bagaimana hal itu bisa terjadi. Saya juga tidak tahu bagaimana pencobaan itu pertama kali muncul dalam pikiran Lucifer. Tetapi saya tahu bahwa hal itu memang terjadi, karena saya sendiri hidup di tengah akibat dari kejatuhan itu. Pemimpin pemberontakan tersebut adalah Iblis. Dalam Matius 25:41, Tuhan kita menyebut para pengikutnya sebagai "malaikat-malaikatnya"—"Iblis dan malaikat-malaikatnya." Sekarang dengarkan baik-baik. Berapa banyak malaikat yang ikut jatuh? Wahyu pasal 12 memberikan jawaban yang jelas. Saya ingin mengajak Anda melihat bagian itu. Dalam Wahyu pasal 12, ayat 3 dan 4 berbicara tentang Iblis, yang disebut sebagai naga. Pada ayat 3, ia disebut "naga merah yang besar." Lalu ayat 4 menggambarkan kejatuhannya. Dengarkan: "Ekornya menyeret sepertiga dari bintang-bintang di langit." Jadi, berapa banyak malaikat yang ikut dalam pemberontakan itu? Sepertiga dari seluruh malaikat. Artinya, jumlah mereka masih kalah dua banding satu dibandingkan para malaikat kudus. Namun, itulah jumlah malaikat yang bergabung dalam pemberontakan tersebut.

Nah, sepertiga dari para malaikat memberontak bersama Iblis. Mungkin Anda bertanya, "Apakah semua malaikat itu sekarang berkeliaran di bumi sebagai malaikat-malaikat Iblis yang kita sebut sebagai roh-roh jahat?" Tidak. Tidak semuanya berkeliaran. Sebagian dari mereka sedang dipenjarakan. Tahukah Anda bahwa ada roh-roh jahat yang sedang dipenjarakan? Sebagian dipenjarakan untuk sementara waktu, dan sebagian lagi dipenjarakan untuk selama-lamanya. Saya ingin memberikan gambaran sederhana, seperti ketika kita membuat diagram sebuah kalimat. Bayangkan ada satu garis yang bertuliskan "malaikat", lalu garis itu dibagi menjadi dua. Di bagian atas ada malaikat-malaikat kudus atau malaikat-malaikat pilihan Allah. Di bagian bawah ada malaikat-malaikat yang telah jatuh. Dari kelompok malaikat yang jatuh ini, ada dua golongan, yaitu yang bebas dan yang terikat. Yang bebas itulah yang kita sebut sebagai roh-roh jahat. Sedangkan yang terikat juga terbagi menjadi dua kelompok, yaitu yang terikat untuk selama-lamanya dan yang terikat untuk sementara waktu. Kelompok yang terikat untuk selama-lamanya dijelaskan dalam surat Yudas dan juga dalam surat Petrus, yaitu mereka yang disimpan dalam belenggu kekal. Kami percaya bahwa merekalah malaikat-malaikat yang berdosa dalam Kejadian pasal 6, ketika mereka hidup bersama perempuan-perempuan dan melahirkan orang-orang raksasa di bumi, yang kemudian dimusnahkan melalui air bah. Adapun mereka yang terikat untuk sementara waktu kemungkinan adalah roh-roh yang telah dilemparkan ke dalam jurang maut. Dalam Wahyu pasal 9, mereka digambarkan keluar dari jurang itu pada masa kesengsaraan besar. Namun, saat ini masih ada sangat banyak roh-roh jahat yang berkeliaran. Jadi, ada miliaran roh jahat. Sebagian terikat untuk sementara, sebagian terikat untuk selama-lamanya, dan sangat banyak yang sekarang masih bebas berkeliaran. Mereka adalah malaikat-malaikat Iblis.

Itulah pengantar singkat mengenai keberadaan satu pribadi yang nyata dan hidup, yang kita kenal sebagai Iblis. Dialah pemimpin pemberontakan para malaikat itu. Sekarang muncul pertanyaan yang wajar: benarkah semua ini? Apakah Iblis benar-benar ada? Sebagian orang menganggap satu-satunya hal yang nyata tentang Iblis hanyalah kostum yang dipakai saat perayaan Halloween, tidak lebih dari itu. Mereka menganggap gambaran tentang Iblis hanyalah tokoh rekaan yang diciptakan untuk menakut-nakuti anak-anak supaya mereka mau menuruti orang tua mereka. Tetapi, adakah bukti bahwa Iblis benar-benar ada sebagai pribadi yang aktif dan menentang rencana Allah? Jika kita memikirkannya secara logis maupun filosofis, kita akan melihat bahwa memang harus ada seorang lawan. Mari kita lihat dari sudut pandang filsafat. Ada Allah, dan Dia menciptakan dunia. Dia tentu memiliki kuasa penuh untuk menciptakan dunia sesuai dengan kehendak-Nya. Namun, di dalam dunia yang telah Dia ciptakan itu, kita tidak menemukan keselarasan yang sempurna. Sebaliknya, kita melihat adanya pertentangan yang membingungkan: ada kebahagiaan dan kesedihan, hikmat dan kebodohan, keberhasilan dan kegagalan, kebaikan dan kekejaman, kehidupan dan kematian.

Kita melihat seolah-olah ada dua kekuatan yang berjalan berdampingan, dan hal itu sering kali membingungkan kita. Ketika kita berkata kepada seseorang yang tidak percaya kepada Allah, "Allah adalah Allah yang baik dan penuh kasih," sering kali mereka akan menjawab, "Oh ya? Kalau begitu jelaskan kepada saya. Bagaimana dengan ini, dan ini, dan ini, dan semua tragedi itu?" Fakta bahwa begitu banyak hal yang menentang Allah benar-benar ada merupakan bukti bahwa ada pribadi lain yang secara aktif berusaha menggagalkan rencana Allah. Mungkinkah Pribadi yang sama menciptakan sesuatu yang baik, lalu menciptakan lawannya, kemudian berperang melawan diri-Nya sendiri dan akhirnya berdiri dalam keadaan frustrasi karena pertarungan itu? Tentu tidak. Itu sama seperti pertanyaan lama, "Bisakah Allah menciptakan sebuah batu yang begitu besar sehingga Dia sendiri tidak dapat mengangkatnya?" Pertanyaan itu tidak masuk akal. Dr. Vaughn Gertile mengatakan, "Di satu sisi, alam semesta menunjukkan terlalu banyak kecerdasan, terlalu banyak hikmat, dan terlalu banyak kebahagiaan sehingga kita tidak mungkin menyangkal keberadaan Allah. Namun di sisi lain, alam semesta juga memperlihatkan terlalu banyak kebodohan, kejahatan, dan penderitaan sehingga membuat kepercayaan kepada Allah tampak sulit dipahami."

Eric Sauer, dalam bukunya Man, The King of The Earth (Manusia, Sang Raja di Bumi), memberikan penjelasan yang sangat membantu. Ia berkata, "Keberadaan penderitaan dan kejahatan di seluruh dunia membuktikan adanya suatu kuasa yang nyata, melampaui dunia ini, yang bersifat aktif dan memusuhi Allah, dan kuasa itu bukanlah kehendak Allah." Saya ingin menambahkan, Allah tidak mungkin menciptakan sesuatu, lalu pada saat yang sama menciptakan perlawanan terhadap apa yang telah Dia rencanakan. Itu sama seperti seseorang yang sedang membangun sebuah gerbang, tetapi pada saat yang sama menutup gerbang itu dengan tembok. Hal seperti itu tidak masuk akal. Sauer melanjutkan, "Faktanya, Iblis adalah makhluk roh yang keberadaannya tidak dapat disangkal baik oleh filsafat maupun oleh ilmu pengetahuan alam. Sebab justru di dunia kita dan di alam semesta yang ada di sekitar kita, kita melihat ketidakharmonisan, kematian, dan kehancuran. Bahkan jika seseorang hanya merenungkan alam secara murni dari sudut pandang pemikiran, ia akan sampai pada kesimpulan bahwa dunia ini, dan kemungkinan juga tata surya yang berkaitan dengannya, berada di bawah wilayah penguasa dunia ini." Jadi, sangat jelas bahwa ada satu pribadi yang benar-benar ada dan terus berusaha melawan tujuan-tujuan Allah.

Selain alasan-alasan filosofis tadi, Alkitab juga memberikan banyak bukti bahwa Iblis benar-benar ada. Dan menurut saya, bukti yang paling kuat adalah kesaksian Tuhan Yesus sendiri. Tuhan Yesus percaya bahwa Iblis adalah pribadi yang nyata. Dia percaya bahwa Iblis benar-benar ada. Mari kita membuka Matius pasal 4.

"Lalu Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis.  Setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus. Lalu datanglah si penggoda dan berkata kepada-Nya, ‘Karena Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.’ Tetapi Yesus menjawab, ‘Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja.’" Dan Anda tentu mengetahui kelanjutan percakapan itu. Dalam bagian yang dicatat di sana, Tuhan menghabiskan setidaknya sepuluh ayat untuk berbicara secara langsung dengan Iblis.

Tidak ada keraguan bahwa Tuhan kita benar-benar yakin akan keberadaan Iblis. Sepanjang pelayanan-Nya, Dia berulang kali berbicara tentang Iblis. Dia pergi ke berbagai tempat mengusir roh-roh jahat. Dia juga membatalkan berbagai pekerjaan yang sedang dilakukan oleh Iblis. Dalam Yohanes 12:31, Yesus berkata, "Sekarang berlangsung penghakiman atas dunia ini: Sekarang juga penguasa dunia ini akan dilemparkan ke luar." Dengan kata lain, Tuhan sedang berkata, "Aku sedang berperang melawan Iblis, dan Aku akan pergi ke kayu salib untuk menang." Tuhan Yesus tahu benar apa yang sedang Dia lakukan. Dia tahu bahwa Dia sedang berhadapan dengan satu pribadi yang nyata. Mengapa? Karena sejak kekekalan, sejak Dia sendiri menciptakan makhluk itu, Dia sudah mengenalnya. Dia mengenalnya sebelum kejatuhannya, menyaksikan saat ia jatuh, dan terus mengenalnya setelah itu. Tuhan tahu persis siapa yang sedang Dia hadapi. Dan ada satu Pribadi yang tidak akan pernah bisa diperdaya oleh Iblis, yaitu Allah yang menciptakannya.

Dalam Yohanes 14:30 Yesus berkata, " Tidak banyak lagi Aku berkata-kata dengan kamu, sebab penguasa dunia ini datang. Ia tidak berkuasa sedikit pun atas diri-Ku." "Penguasa dunia ini datang." Yesus percaya bahwa Iblis sedang bekerja secara nyata dan aktif di dunia ini. Kemudian dalam Yohanes 16, Dia berkata, "Penguasa dunia ini telah dihukum." Tidak ada keraguan bahwa Tuhan Yesus benar-benar sedang berada dalam peperangan melawan Iblis.

Dalam Yohanes 8:44 Yesus berkata, "Iblislah yang menjadi bapamu." Lalu dalam Efesus 2:2, Paulus berbicara tentang "roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka." Paulus percaya bahwa Iblis benar-benar ada. Yohanes juga percaya akan keberadaan Iblis. Dalam 1 Yohanes pasal 3, yang baru-baru ini kita pelajari, dikatakan, "Siapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab sejak semula Iblis terus-menerus berbuat dosa. Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis." Dengarkan baik-baik. Jika seseorang mengaku percaya kepada Kristus tetapi tidak percaya bahwa Iblis benar-benar ada, maka ia sebenarnya sedang merendahkan makna dari apa yang Kristus lakukan. Anda harus percaya kepada keduanya. Jika tidak, Anda bahkan tidak akan dapat memahami Perjanjian Baru. Bahkan dalam 1 Yohanes 5:19 dikatakan, "Seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat." Yakobus juga percaya kepada Iblis. Dalam Yakobus 4:7 ia berkata, "Lawanlah Iblis, maka ia akan lari daripadamu." Petrus pun percaya kepada Iblis. Dalam 1 Petrus 5:8 ia berkata, "Iblis berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya."

Seluruh isi Perjanjian Baru penuh dengan pembahasan tentang hal ini. Mereka percaya bahwa Iblis benar-benar ada. Mereka memahami bahwa tujuan Allah adalah mengutus Kristus untuk menghadapi dan mengalahkan Iblis. Jika Anda sungguh mempelajari Alkitab, Anda akan sampai pada kesimpulan bahwa Iblis memang ada. Perhatikan fakta-faktanya. Iblis mencobai Hawa dalam Kejadian pasal 3. Ia mencobai Kristus dalam Matius pasal 4. Ia memutarbalikkan Firman Allah dalam Matius pasal 4. Ia menentang pekerjaan Allah dalam Zakharia pasal 3. Ia menghalangi para hamba Allah dalam 1 Tesalonika pasal 2. Ia menghalangi pemberitaan Injil dalam Matius pasal 13 dan 2 Korintus pasal 4. Ia menjerat orang-orang fasik dalam 2 Timotius pasal 2. Ia menyesatkan bangsa-bangsa dalam 1 Raja-Raja pasal 22 dan Wahyu pasal 16. Ia menyamar sebagai malaikat terang dalam 2 Korintus pasal 11. Ialah yang membawa dosa masuk ke dalam dunia dan menyebabkan kejatuhan umat manusia dalam Kejadian pasal 3. Ia datang menghadap Allah dalam Ayub pasal 1. Ia berjalan keliling seperti singa yang mengaum dalam 1 Petrus pasal 5. Ia adalah pendakwa saudara-saudara seiman dalam Wahyu pasal 12. Ia memiliki kuasa atas maut menurut Ibrani pasal 2, dan seluruh dunia berada di bawah kuasanya menurut 1 Yohanes pasal 5. Sangat jelas bahwa Alkitab menyatakan Iblis benar-benar ada. Bahkan, ia sangat aktif bekerja. Jika seseorang menolak keberadaan Iblis, maka pada saat yang sama ia juga seharusnya menolak keberadaan Kristus, karena Alkitab sama-sama menyatakan bahwa keduanya adalah pribadi yang sungguh-sungguh ada.

Bukan hanya spekulasi filsafat dan penyataan Alkitab yang menunjukkan bahwa Iblis benar-benar ada, tetapi pengalaman manusia juga membuktikannya. Siapa pun yang hidup di dunia pada abad ke-20 ini lalu menyangkal keberadaan Iblis sebagai pribadi yang nyata, sebenarnya tidak sungguh-sungguh memperhatikan apa yang sedang terjadi di sekelilingnya. Pada zaman ini, Iblis telah menyatakan dirinya dengan sangat nyata. Ada orang-orang yang begitu yakin akan keberadaannya sehingga mereka secara terbuka dan terang-terangan menyembahnya. Bahkan ada berbagai tindakan yang tampak seperti kesembuhan dan berbagai mujizat yang ia lakukan di tengah dunia, yang menjadi bukti akan keberadaannya. Apakah Iblis benar-benar ada? Ya, benar, dia ada.

Nah, hal kedua yang ingin kita pelajari adalah: siapakah dia? Sama seperti yang kita bahas tentang Allah pagi tadi, kita sudah mengetahui bahwa dia ada. Tetapi siapakah dia sebenarnya? Kita telah melihat bahwa dia adalah seorang malaikat. Dia adalah malaikat yang telah rusak oleh dosa. Dia adalah malaikat yang telah jatuh. Tapi tetap saja, dia adalah seorang malaikat. Dan dengarkan baik-baik: para malaikat memiliki kepribadian.

Sering kali kita membayangkan malaikat sebagai sosok yang samar-samar, berpakaian putih, memiliki sayap, tetapi seolah-olah tidak memiliki kepribadian. Padahal, para malaikat memiliki kepribadian. Tahukah Anda bahwa para malaikat memiliki nama? Benar, nama yang sesungguhnya. Allah mengenal nama setiap malaikat. Ketika Allah memanggil seorang malaikat, Dia tidak berkata, "Malaikat nomor satu juta empat ratus sekian." Tidak. Dia memanggil mereka dengan nama masing-masing, apa pun nama itu. Allah mengenal mereka satu per satu. Allah tahu bahwa setiap malaikat memiliki karakter pribadi. Para malaikat adalah pribadi. Mereka memiliki semua sifat yang dimiliki oleh seorang pribadi. Mereka memiliki perasaan, sebab mereka bersukacita. Mereka memuji Allah. Mereka membela Allah, dan mereka berperang melawan roh-roh jahat.

Kita juga mengetahui bahwa Iblis adalah suatu pribadi, dan ada banyak alasan untuk itu. Sama seperti Allah adalah Pribadi, demikian juga Iblis adalah pribadi. Pertama, ia memiliki ciri-ciri kepribadian. Tahukah Anda salah satu ciri paling mendasar dari seorang pribadi? Kemampuan untuk membuat rencana. Pernahkah Anda melihat seekor anjing duduk di sudut ruangan sambil menyusun strategi? Salah satu ciri seorang pribadi adalah mampu merancang sesuatu atau menyusun siasat. Hewan tidak melakukan hal seperti itu. Hewan tidak membuat rencana. Pribadilah yang melakukannya. Jika Anda membaca 2 Korintus, bahkan seluruh Perjanjian Baru, Anda akan melihat bahwa Iblis terus-menerus menyusun rencana. Salah satu alasan saya percaya bahwa Iblis adalah pribadi adalah karena apa yang ia lakukan. Dalam 2 Korintus 11:3 tertulis, "Aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya." Dengarkan baik-baik. Iblis terus-menerus merancang berbagai cara untuk menjatuhkan manusia. Kemampuan menyusun rencana dan tipu muslihat adalah salah satu tanda bahwa ia adalah suatu pribadi.

Bukan hanya itu. Ciri lain dari seorang pribadi adalah kemampuan untuk berkomunikasi. Seorang pribadi dapat berkomunikasi, dan Iblis sangat mampu melakukannya. Bukankah ia pernah berbicara dengan Yesus dalam Matius pasal 4? Ia juga berbicara dengan Hawa di Taman Eden. Ia telah berbicara dengan banyak orang, dan sampai sekarang pun terus melakukannya. Selain itu, ia juga memiliki kehendak. Kemampuan untuk menghendaki sesuatu atau membuat pilihan adalah salah satu ciri kepribadian. Iblis memilih apa yang ingin ia lakukan. Ia memiliki keinginan-keinginan tertentu, lalu mengarahkan kehendaknya untuk mencapai apa yang ia inginkan. Ketika ia membawa Yesus ke atas gunung, ia berkata, "Lihatlah semua kerajaan dunia ini. Jika Engkau melakukan apa yang aku katakan, semuanya akan kuberikan kepada-Mu." Ia dengan sengaja memilih cara itu untuk mencobai Kristus. Ia berbicara dengan Yesus, lalu mengarahkan pikirannya pada satu tujuan tertentu, yaitu menjebak Kristus. Semua itu menunjukkan bahwa ia memiliki ciri-ciri seorang pribadi.

Selain ciri-ciri kepribadian itu, saya juga percaya bahwa Iblis adalah suatu pribadi karena Alkitab menggunakan kata ganti orang untuk menyebut dirinya. Dalam Yehezkiel pasal 28 digunakan kata "engkau", dan di seluruh Perjanjian Baru digunakan kata ganti seperti "dia" dan "dirinya sendiri" ketika berbicara tentang Iblis. Bahkan dalam 2 Korintus pasal 11, kedua bentuk kata ganti itu digunakan. Alasan lain yang menunjukkan bahwa Iblis adalah pribadi bukan hanya karena sifat-sifat kepribadiannya atau penggunaan kata ganti orang, tetapi juga karena ia memiliki nama-nama pribadi. Ia memiliki banyak nama khusus, dan nama-nama seperti itu hanya diberikan kepada pribadi. Nanti kita akan melihat nama-nama itu satu per satu. Ada satu hal lagi yang menurut saya penting, yaitu bahwa Allah menuntut pertanggungjawaban pribadi darinya. Hal itu hanya berlaku bagi suatu pribadi. Hewan tidak dimintai pertanggungjawaban secara moral. Alkitab tidak menetapkan standar moral bagi perilaku seekor binatang. Tetapi Allah berkata bahwa Dia akan menghakimi Iblis. Ketika Allah mengatakan bahwa Dia akan menghakimi Iblis, itu berarti Iblis telah melanggar standar Allah, dan ia bertanggung jawab secara pribadi atas pelanggaran tersebut. Itu adalah salah satu tanda bahwa ia adalah suatu pribadi.

Sekarang mari kita lihat gelar-gelar yang dimilikinya. Selain memiliki tanggung jawab pribadi dan berbagai ciri lainnya, Iblis juga harus dipahami sebagai pribadi karena ia memiliki gelar-gelar pribadi. Bagian ini sangat menarik. Saya akan menunjukkan beberapa di antaranya. Misalnya, dalam Yehezkiel 28:14—yang nanti akan kita bahas lebih lanjut—Iblis disebut sebagai "kerub, penjaga yang diurapi." Gelar " kerub, penjaga yang diurapi" menunjukkan bahwa ia dahulu adalah malaikat dengan kedudukan yang sangat tinggi. Dan gelar itu sendiri sudah menunjukkan bahwa ia adalah seorang pribadi. Iblis juga disebut sebagai "penguasa dunia ini." Sebutan itu kembali menunjukkan kedudukannya sebagai pemimpin yang menguasai sistem dunia yang jahat, baik atas malaikat-malaikat yang telah jatuh maupun manusia. Ia adalah seorang penguasa. Ia juga disebut "penguasa kerajaan angkasa," yaitu penguasa atas wilayah kekuasaannya di alam roh. Selain itu, ia disebut "ilah zaman ini." Kata "zaman" yang digunakan di sini adalah kata Yunani aiōn, yang menunjuk pada suatu masa atau era. Jadi, ia adalah ilah yang menguasai zaman ini, yang terus menyebarkan sistem pemikirannya sendiri, seperti humanisme, materialisme, dan penyalahgunaan seksualitas. Dalam Lukas 11:15, ia juga disebut "penghulu roh-roh jahat." Kemudian, dalam 2 Korintus 4:4, ia kembali disebut sebagai "ilah zaman ini."

Namun dalam Lukas 11:15, Iblis juga disebut "Beelzebul, pemimpin setan." Pernahkah Anda mendengar nama Beelzebul? Itu adalah sebutan yang menarik. Secara harfiah, artinya adalah "Tuan atas lalat-lalat." Mungkin Anda pernah mendengar judul buku atau film Lord of the Flies. Nama itu berasal dari gelar dewa orang Filistin, dan bukan hanya dipakai untuk menyebut dewa tersebut, tetapi juga untuk menunjuk kepada Iblis yang berada di balik penyembahan kepada dewa itu. Jadi, semua gelar pribadi yang telah kita lihat—kerub yang diurapi dan berjaga, penguasa dunia ini, penguasa kerajaan angkasa, ilah zaman ini, dan penghulu roh-roh jahat—semuanya berbicara tentang kedudukan. Gelar-gelar itu menunjukkan kekuasaan, wewenang, kepemimpinan, kemampuan mengatur, merencanakan, menetapkan tujuan, dan melaksanakan rencananya. Semua itu menunjukkan bahwa Iblis adalah suatu pribadi yang mampu melakukan hal-hal tersebut.

Lalu, siapakah sebenarnya Iblis? Selain sebagai pribadi, ia juga adalah roh. Iblis adalah roh, dan seperti yang kita bahas pagi tadi, roh adalah makhluk yang tidak memiliki tubuh jasmani. Bisa saja saat ini Iblis berada di sini. Saya tidak tahu apakah ia sedang berada di sini—kemungkinan besar ia sedang mengerjakan hal lain. Tetapi jika saat ini ia memang ada di sini, kita tidak akan mengetahuinya. Mengapa? Karena ia adalah roh. Namun, itu tidak berarti bahwa ia tidak mungkin berada di sini. Kita hidup dalam dunia yang hanya mengenal tiga dimensi. Mungkin kita dapat membayangkan adanya dimensi lain, tetapi kita sering tidak menyadari bahwa pada saat ini ruangan ini mungkin dipenuhi oleh banyak malaikat. Sebagian adalah malaikat kudus, dan sebagian lagi adalah malaikat yang telah jatuh. Kita sama sekali tidak tahu apa yang sedang berlangsung di sekitar kita. Terus terang, saya sendiri ingin sekali mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi, tetapi saya tidak akan pernah bisa mengetahuinya. Yang jelas, dunia ini sedang berada di bawah pengaruh Iblis, dan ada pasukan roh-roh jahat yang aktif berusaha menghambat pekerjaan Allah. Salah satu alasan saya tahu bahwa kita memiliki kuasa atas mereka adalah karena pekerjaan Allah tetap berlangsung meskipun mereka berusaha menghalanginya.

Para malaikat adalah roh; mereka adalah makhluk yang tidak bertubuh. Dalam Lukas 8:2, roh-roh jahat disebut "roh-roh jahat." Dalam Lukas 11:24 mereka disebut "roh jahat." Semuanya disebut sebagai roh. Para malaikat adalah makhluk roh yang tidak berwujud jasmani. Namun, perhatikan baik-baik, mereka tidak sama dengan Allah. Allah adalah Roh dan hadir di mana-mana. Sebaliknya, para malaikat memiliki keterbatasan ruang. Mereka memang roh, tetapi mereka tetap memiliki batas. Mereka harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Mereka tidak bisa berada di semua tempat sekaligus. Mereka bergerak sangat cepat, bahkan sangat-sangat cepat. Dan ada hal yang menarik. Sebagian malaikat bergerak lebih cepat daripada yang lain. Coba pikirkan itu. Mungkin Anda bertanya, "Apakah maksudnya mereka bisa mengadakan perlombaan lari, lalu ada yang lebih cepat daripada yang lain?" Alkitab memang menggambarkan beberapa malaikat memiliki kecepatan yang luar biasa. Yang lain tampaknya bergerak lebih lambat. Yang jelas, mereka memiliki keterbatasan ruang. Dalam Daniel pasal 9 dan 10, kita melihat dengan jelas bahwa para malaikat berada di suatu tempat dan sedang menuju ke tempat lain. Itulah sebabnya ketika Tuhan Yesus mengusir roh-roh jahat masuk ke dalam kawanan babi, mereka benar-benar berpindah ke sana. Mereka terikat oleh keberadaan di suatu tempat tertentu. Mereka tidak hadir di mana-mana sekaligus dan tidak dapat memecah diri lalu melayang ke berbagai tempat. Mereka hanya berada di tempat di mana mereka memang berada.

Nah, jangan pernah lupa bahwa Iblis juga seperti itu. Karena itu, setiap kali ada orang berkata kepada saya, "Iblislah yang membuat saya melakukannya," saya selalu berpikir, belum tentu itu Iblis sendiri. Memang, dia bergerak sangat cepat. Tetapi apakah dia cukup cepat untuk mendatangi setiap orang di seluruh dunia, menggoda mereka satu per satu tanpa henti? Saya tidak tahu seberapa cepat dia, tetapi sebenarnya dia tidak perlu melakukan itu. Dia memiliki keterbatasan ruang. Nah, dengarkan baik-baik. Banyak roh dapat berada dalam satu tempat yang sama. Saya tidak tahu seberapa kecil atau seberapa besar wujud roh itu. Tampaknya makhluk roh yang tidak berwujud jasmani itu dapat berada bersama-sama dengan cara yang tidak kita pahami. Saya sendiri tidak tahu bagaimana hal itu bisa terjadi. Tetapi bukankah menarik membayangkan malaikat-malaikat kudus berperang melawan malaikat-malaikat yang jatuh? Apa yang sebenarnya mereka lakukan? Bagaimana mereka bertempur? Saya sendiri tidak tahu. Tetapi Alkitab mengatakan bahwa mereka memang berperang. Hal itu menunjukkan bahwa kita hidup pada satu tingkat keberadaan, sedangkan mereka berada pada tingkat yang berbeda yang belum dapat kita pahami.

Mungkin Anda berkata, "Bukankah kadang-kadang malaikat memiliki tubuh?" Dengarkan baik-baik. Kadang-kadang makhluk-makhluk roh yang tidak berwujud itu dapat menampakkan diri dalam bentuk jasmani. Mereka dapat mengambil rupa yang dapat dilihat manusia. Saya tidak tahu bagaimana mereka melakukannya, tetapi mereka memang bisa. Tubuh yang mereka tampilkan bukanlah tubuh seperti tubuh kita, karena dalam beberapa bagian Alkitab mereka bahkan digambarkan memiliki sayap, seperti dalam Yesaya pasal 6. Ketika para malaikat menampakkan diri di Sodom, penduduk kota itu belum pernah melihat makhluk yang begitu indah. Kita tahu bahwa Sodom terkenal dengan dosa homoseksualitasnya. Ketika orang-orang Sodom melihat para malaikat itu menampakkan diri dalam bentuk jasmani, mereka menjadi sangat tergoda. Mereka berkata, "Belum pernah kami melihat yang seperti ini." Lalu mereka berlari menuju rumah Lot dan hampir merobohkan rumah itu karena ingin mendapatkan para malaikat tersebut. Itulah sebabnya Allah kemudian memusnahkan kota itu. Dari peristiwa itulah muncul istilah "sodomi" yang dikaitkan dengan homoseksualitas. Para malaikat itu memiliki keindahan yang luar biasa, sehingga orang-orang yang telah begitu rusak oleh hawa nafsu mereka tertarik kepada para malaikat itu secara seksual.

Hal lain yang menarik tentang para malaikat adalah bahwa mereka tidak dapat mati. Para malaikat tidak pernah mati. Sejak saat mereka diciptakan, mereka akan hidup untuk selama-lamanya. Namun, jika Anda memahami ajaran Alkitab, sebenarnya hal yang sama juga berlaku bagi manusia, bukan? Kita semua juga akan hidup untuk selama-lamanya, entah bersama Allah ataupun terpisah dari-Nya. Tingkatan malaikat yang paling tinggi adalah kerubim atau kerub. Mereka adalah makhluk-makhluk malaikat dengan kedudukan yang paling tinggi. Keindahan dan kuasa mereka sama sekali tidak dapat digambarkan dengan kata-kata. Wujud dan sifat mereka begitu jauh melampaui imajinasi kita sehingga kita bahkan tidak mampu membayangkannya. Keindahan mereka berada di luar segala sesuatu yang dapat dipahami oleh pikiran manusia. Mungkin Anda bertanya, "Apa tugas para kerub itu?" Tampaknya mereka adalah malaikat dengan kedudukan tertinggi, dan tugas utama mereka adalah menjaga kekudusan Allah. Mereka selalu digambarkan berada di sekitar hadirat Allah. Mereka menjaga kekudusan-Nya, dan dalam beberapa kesempatan mereka juga menyatakan anugerah-Nya. Mereka adalah makhluk-makhluk yang sungguh luar biasa dan penuh kemuliaan.

Di antara para kerub itu, Alkitab menyebutkan beberapa nama secara khusus. Bahkan, saya rasa kita dapat mengenal tiga kerub utama yang disebutkan dalam Alkitab. Yang pertama adalah Gabriel. Gabriel tampaknya memiliki tugas yang sangat khusus, yaitu menyatakan dan menjelaskan maksud serta rencana Allah mengenai Kerajaan-Nya. Ada malaikat lain yang tentu sudah kita kenal, yaitu Mikhael. Mikhael adalah sosok yang saya suka sebut sebagai "malaikat super." Dialah panglima bala tentara surga. Namun, ada satu malaikat yang bahkan lebih agung daripada Gabriel maupun Mikhael. Dialah makhluk paling mulia yang pernah Allah ciptakan. Mari saya perkenalkan dia kepada Anda. Bukalah Yesaya 14, ayat 12. "Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai..." siapa? "...Bintang Timur atau Lucifer, putra fajar." Sulit rasanya membayangkan nama yang lebih indah daripada Lucifer. Tapi sekarang, ketika kita mendengar nama itu, kesannya justru seperti sebuah kutukan. Tahukah Anda apa arti nama Lucifer? Artinya adalah "putra fajar", "yang bercahaya", dalam bahasa Ibrani disebut helel, atau "bintang timur". Dialah yang paling agung—bintang fajar, putra fajar, yang bercahaya. Betapa mulianya malaikat itu dahulu. Ingin melihat bagaimana kemuliaannya? Mari kita beralih ke Yehezkiel pasal 28. Nanti kita akan kembali lagi ke Yesaya 14.

Dalam Yehezkiel 28, kita akan memperoleh sedikit gambaran tentang seperti apa sebenarnya seorang malaikat. Dan gambaran ini benar-benar membuat kita takjub. Tapi sebelum itu, saya perlu menjelaskan konteksnya. Yehezkiel adalah seorang nabi yang menyampaikan berita penghakiman. Salah satu pihak yang Allah putuskan untuk dihakimi karena kejahatannya adalah raja Tirus. Tirus adalah sebuah wilayah yang sangat terkenal dalam sejarah Alkitab. Raja Tirus adalah seorang yang sangat jahat—kejam, tidak mengenal belas kasihan, dan hidup tanpa takut akan Allah. Karena itu, Tuhan akan menjatuhkan hukuman atas dirinya. Dalam Yehezkiel 28 ayat 1 sampai 10, Yehezkiel menyampaikan nubuat terhadap raja, atau seperti disebut dalam ayat 2, penguasa Tirus. Allah menyatakan penghakiman yang sangat keras terhadapnya. Dalam ayat 10 dikatakan, "Engkau akan mati seperti orang tak bersunat, oleh tangan orang asing. Sebab Aku yang mengatakannya, demikianlah firman Tuhan ALLAH." Bahkan pada ayat 9 dikatakan bahwa raja itu pernah berkata, "Aku ini Allah." Tetapi Tuhan menjawab, "Di tangan penikammu, engkau adalah manusia, bukan Allah.” Allah macam apa engkau? Di hadapan orang yang membunuhmu, engkau sama sekali bukan Allah.

Jadi, di sini kita melihat seseorang yang menganggap dirinya sebagai Allah. Dosa apakah itu? Itulah dosa yang paling mendasar, yaitu kesombongan. Karena itu, meskipun Yehezkiel sedang berbicara kepada raja Tirus, sebenarnya ia sedang menyingkapkan sumber kejahatan yang ada di balik raja itu, yaitu Iblis. Mulai ayat 11, pembicaraannya beralih kepada Iblis yang bekerja di balik raja Tirus. Pola seperti ini bukanlah hal yang asing dalam Alkitab. Dalam banyak Mazmur Mesianik, misalnya, Daud tampaknya sedang berbicara tentang dirinya sendiri, tetapi sebenarnya perkataannya menunjuk kepada Mesias. Demikian juga dalam Injil Matius, ketika Tuhan Yesus berkata kepada Petrus, "Enyahlah Iblis!" Yesus memang berbicara kepada Petrus, tetapi sesungguhnya Dia sedang menegur kuasa jahat yang bekerja di balik tindakan Petrus saat itu. Demikian pula di sini, Yehezkiel melampaui sosok raja Tirus dan menyingkap siapa sebenarnya yang mendorong raja itu bertindak seperti itu.

Ayat 12 berkata, "Hai anak manusia, nyanyikanlah ratapan mengenai raja Tirus dan katakanlah kepadanya: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Engkau adalah gambar kesempurnaan, penuh hikmat dan sangat indah." Lalu dilanjutkan, "Engkau di taman Eden, yaitu taman Allah." Jelas sekali bahwa raja Tirus tidak pernah berada di Taman Eden. Pada titik ini Yehezkiel sudah melampaui raja itu dan sedang berbicara tentang Iblis. Ia berkata, "Gambar dari kesempurnaan engkau." Apa artinya? Artinya, engkau adalah makhluk yang diberi cap kesempurnaan oleh Allah. Engkau adalah puncak dari seluruh ciptaan Allah, dan Allah sendiri menandaimu sebagai lambang kesempurnaan-Nya. Engkau adalah makhluk paling agung yang pernah Allah ciptakan, "penuh hikmat dan maha indah." Jika seseorang ingin mengetahui seperti apa keindahan menurut pandangan Allah, ia harus melihat keindahan rohani yang Allah tempatkan dalam diri malaikat ini. Dari situlah kita dapat memahami apa yang Allah anggap indah. Allah menciptakannya dengan keindahan yang sempurna, penuh hikmat, sebagai puncak kesempurnaan seluruh ciptaan-Nya, lalu memberi cap kesempurnaan atas dirinya. Bukankah menarik bahwa ketika kita memikirkan Iblis sekarang, yang terbayang justru sosok yang mengerikan dan buruk rupa?

Ayat 13 melanjutkan, "Engkau di Eden, taman Allah." Lalu digambarkan bagaimana penampilannya. Gambaran itu begitu kaya dan memukau. Dikatakan bahwa ia berhiaskan segala batu permata: "yaspis merah, krisolit dan yaspis hijau, permata pirus, krisopras dan nefrit, lazuardi, batu darah dan malakit." Bayangkanlah gambaran ini. Malaikat itu dilukiskan bagaikan dipenuhi kilauan permata yang beraneka warna dan memancarkan cahaya yang luar biasa. Sulit sekali membayangkan keindahannya. Lalu ada satu hal lain yang dikatakan tentang dirinya. Dengarkan baik-baik: "Tempat tatahannya diperbuat dari emas, semuanya itu disediakan pada hari penciptaanmu." Tahukah Anda bahwa dahulu ia adalah pemusik terbesar di surga? Sangat mungkin Iblis dahulu adalah pemimpin paduan suara surgawi. Ia adalah makhluk tertinggi dalam seluruh ciptaan Allah dan menjadi keindahan yang menghiasi surga. Dialah puncak kesempurnaan ciptaan Allah, dan kemampuan musiknya melampaui apa pun yang dapat kita bayangkan. Hal ini juga memberi kita sedikit gambaran tentang bagaimana Allah memandang musik yang indah. Allah mengasihi musik yang baik. Ketika Allah menciptakan makhluk yang paling agung yang pernah Dia buat, Dia menciptakannya sebagai seorang pemusik.

Ayat 14 berkata, "Engkaulah kerub, penjaga yang diurapi, demikianlah Kutetapkan engkau; di gunung kudus Allah engkau berada." Dengan kata lain, Allah berkata, "Akulah yang menjadikan engkau malaikat yang paling tinggi kedudukannya, kerub yang diurapi dan berjaga." Tepatnya apa arti "berjaga" atau "menaungi" di sini saya tidak tahu. Mungkin maksudnya adalah malaikat yang berdiri atau menaungi hadirat Allah dengan cara yang istimewa. “Engkaulah kerub, penjaga yang diurapi, demikianlah Kutetapkan engkau; di gunung kudus Allah engkau berada, dan berjalan-jalan di tengah batu-batu berapi." Apa sebenarnya yang dimaksud dengan semua itu, saya juga tidak tahu. Tetapi tampaknya di surga ada sesuatu yang disebut gunung Allah, ada semacam tempat yang penuh dengan kemuliaan yang tak terbayangkan, dengan batu-batu yang bercahaya, berkilau, dan memancarkan kemuliaan Shekinah Allah. Di tempat itulah malaikat ini hidup dan berjalan bersama Allah. Itulah kedudukan yang dimilikinya dahulu.

Ayat 15 melanjutkan, "Engkau tak bercela dalam tingkah lakumu sejak hari penciptaanmu." Tidak bercela, sempurna. Lalu datang kalimat berikutnya: "Sampai ditemukan kecurangan padamu." Seandainya ia hanya berdosa seorang diri, itu sudah merupakan hal yang sangat buruk. Tetapi tahukah Anda apa yang ia lakukan? Ia tidak menyimpan dosanya untuk dirinya sendiri. Ia menyebarkannya. Ayat 16 berkata, "Dengan perdaganganmu yang besar, engkau penuh dengan kekerasan dan engkau berbuat dosa. Maka Kubuang engkau dari gunung Allah, hai Kerub penjaga dari tengah batu-batu berapi." Apa pun yang dimaksud dengan gunung Allah dan batu-batu api itu, semuanya menunjuk pada tempat yang paling dekat dengan hadirat Allah, pusat kemuliaan surga. Allah berkata, "Aku akan mengusirmu, bukan hanya karena engkau telah berdosa, tetapi karena engkau telah menyebarkan dosamu kepada yang lain."

Dalam ayat 18 dikatakan lagi, "Dengan banyaknya kesalahanmu dan kecurangan dalam perdaganganmu engkau melanggar kekudusan tempat kudusmu." Dengan kata lain, engkau menyebarkan pemberontakan itu. Ketika Iblis jatuh, ia tidak jatuh sendirian. Berapa banyak yang ikut bersamanya? Sepertiga dari para malaikat. Allah kemudian berkata, "Maka Aku menyalakan api dari tengahmu; yang akan memakan habis engkau. Kubiarkan engkau menjadi abu di atas bumi di hadapan semua yang melihatmu." Allah berkata, "Engkau akan menerima hukumanmu, Iblis. Dan hukuman itu akan sangat berat." Sekarang pertanyaannya adalah: dosa apakah yang membuat makhluk yang begitu mulia itu jatuh sedemikian dalam hingga menjadi begitu rusak? Mari kita kembali ke Yesaya pasal 14 untuk melihat jawabannya. Ayat 12 berkata, "Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai Bintang Timur!" Dapatkah Anda membayangkan betapa dahsyatnya kejatuhan makhluk itu? Dari kemuliaan yang digambarkan dalam Yehezkiel 28, ia berubah menjadi makhluk yang paling rusak, paling hina, paling dibenci, dan paling jahat seperti yang kita kenal sekarang. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Ketika Anda merasa marah kepada Iblis dan membenci segala kejahatannya, jauh di lubuk hati Anda mungkin tetap muncul rasa iba, membayangkan bahwa makhluk yang sedemikian mulia bisa jatuh sedemikian rendah.

"Hai Lucifer, putra fajar, engkau sudah dihempaskan ke tanah, hai penakluk bangsa-bangsa!" Inilah dosanya: "Engkau yang tadinya berkata dalam hatimu..." Nah, Saudara, inilah akar dosanya, yaitu kesombongan. Dosa kesombongan itu dinyatakan melalui lima kali perkataan, "Aku hendak." Yang pertama: "Aku hendak naik ke langit." Apa maksudnya? Bukankah ia sudah memiliki akses ke hadirat Allah? Bukankah ia adalah kerub yang paling tinggi kedudukannya? Jadi, ia bukan sedang berkata, "Aku ingin pergi mengunjungi Allah." Maksudnya adalah, "Aku akan naik untuk menduduki takhta Allah. Aku akan mengambil tempat-Nya." Dari kedudukannya sebagai malaikat tertinggi, hanya ada satu tempat yang lebih tinggi lagi, yaitu takhta Allah sendiri. Jadi, ketika ia berkata, "Aku hendak naik," maksudnya adalah, "Aku akan mengambil alih posisi Allah."

Yang kedua: "Aku hendak mendirikan takhtaku melampaui bintang-bintang Allah." Artinya, "Aku akan merebut otoritas Allah atas para malaikat. Aku akan menjadi penguasa surga." Yang ketiga: "Aku hendak duduk di atas gunung sidang ilahi." Kemudian ayat 14 melanjutkan: "Aku hendak naik melampaui ketinggian awan-awan." Sebagian besar penafsir berpendapat bahwa awan di sini bukan menunjuk kepada awan putih yang kita lihat di langit, melainkan kepada kemuliaan Allah, sebagaimana bintang-bintang melambangkan para malaikat. Jadi maksudnya adalah, "Aku akan meninggikan diriku melebihi kemuliaan Allah." Lalu semuanya dirangkum dalam pernyataan terakhir: "Aku hendak menyamai Yang Maha Tinggi." Tahukah Anda bahwa "Yang Mahatinggi" adalah sebuah gelar? Itu adalah gelar Allah sebagai Pemilik langit dan bumi. Jadi yang sebenarnya sedang dikatakan Iblis adalah, "Aku akan menjadi pemilik langit dan bumi." Dapatkah Anda melihat betapa luar biasanya kesombongan dan keakuan di balik dosa itu? Karena itulah ia jatuh. Yesus sendiri berkata, "Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit." Ketika ia jatuh, kejatuhannya terjadi dengan sangat cepat dan sangat dahsyat. Keindahannya seketika berubah menjadi kerusakan. Dan setiap malaikat yang ikut memikirkan hal yang sama bersamanya pun ditetapkan menuju kebinasaan kekal. Tahukah Anda bahwa neraka memang diciptakan bagi Iblis dan malaikat-malaikatnya? Betapa mengerikannya dosa itu, dan betapa mengerikannya kejatuhan yang diakibatkannya. Namun, semua itu benar-benar terjadi.

Lalu, apa akibat dari semua itu? Yesaya 14 ayat 15 berkata, "Nyatanya, ke dalam dunia orang mati engkau diturunkan, ke tempat terdalam jurang maut." Ia dibuang dari surga. Ia menjadi makhluk yang telah rusak. Ayat-ayat berikutnya berkata, "Orang-orang yang melihat engkau akan memperhatikan dan mengamati engkau, katanya: ‘Inikah dia yang telah membuat bumi gemetar, dan membuat kerajaan-kerajaan berguncang? Inikah dia yang telah membuat dunia seperti padang gurun, yang menghancurkan kota-kotanya, dan tidak melepaskan tawanan-tawanannya pulang ke rumah?'" Jadi, bukan saja ia dijatuhkan ke dalam kebinasaan, tetapi ia juga menjadi sosok yang hina dan menjijikkan. Kelemahannya akan terlihat jelas di hadapan semua yang memandangnya. Pernyataan dalam ayat 15 bahwa ia akan dibuang ke dalam liang itu pada akhirnya akan digenapi. Menurut Wahyu pasal 20, Iblis akan ditangkap dan dilemparkan ke dalam lautan api untuk selama-lamanya. Demikianlah Iblis jatuh dengan kehancuran yang total.

Setelah Iblis jatuh, dunia belum berada dalam dosa, bahkan mungkin dunia belum diciptakan. Kita tidak tahu pasti kapan kejatuhan itu terjadi, apakah sebelum Kejadian pasal 1 atau sesudahnya. Namun ketika Iblis dan para malaikat yang mengikutinya memberontak, Allah sebenarnya memiliki dua pilihan. Allah dapat saja mengucapkan satu firman, dan seketika itu juga Iblis beserta semua malaikat yang jatuh lenyap dari keberadaan. Dengan satu firman saja Allah dapat memusnahkan Lucifer. Dia dapat menghentikan pemberontakan itu saat itu juga, dan semuanya selesai. Lalu, jika suatu hari pemberontakan yang sama muncul lagi, Dia dapat menanganinya kembali. Tetapi Allah tidak memilih jalan itu. Sebaliknya, Allah membiarkan si pemberontak memiliki kesempatan penuh untuk menggunakan seluruh kekuatannya, mencoba setiap cara yang mungkin, dan menjalankan pemberontakannya sampai batas yang paling jauh. Sejak Kejadian pasal 3 hingga masa Kerajaan Allah kelak, Allah mengizinkan Iblis menjalankan seluruh pemberontakannya. Mengapa? Mengapa Allah melakukan itu? Mengapa Dia mengizinkannya? Alkitab memang tidak memberikan jawaban secara langsung. Namun saya percaya salah satu alasannya adalah agar pemberontakan itu dibiarkan berjalan sampai benar-benar mencapai akhirnya, sampai seluruh kekuatannya habis. Dengan demikian, semua makhluk di sepanjang segala zaman akan melihat bahwa tidak ada satu pun jalan yang dapat berhasil menggulingkan Allah dari takhta-Nya. Dan ketika semuanya berakhir, tidak akan ada lagi seorang pun yang meragukan bahwa otoritas Allah tidak mungkin direbut.

Dengan kata lain, semua klaim dan semua perkataan "Aku hendak" dari Iblis diberi kesempatan untuk diuji sepanjang sejarah. Dan pada akhirnya, seluruh alam semesta akan menyaksikan untuk selama-lamanya bahwa mustahil menggulingkan Allah dari takhta-Nya. Ketika kita sampai pada kitab Wahyu, kita melihat para malaikat memuji Allah bersama-sama dan menyatakan bahwa hanya Allah yang layak dimuliakan dan hanya Kristus yang layak memerintah. Mereka tahu bahwa tidak ada jalan lain. Sementara pemberontakan itu terus berlangsung, Allah, karena kekudusan-Nya, harus menunjukkan kebencian-Nya terhadap dosa. Dan karena kasih-Nya, Dia juga menyelamatkan orang-orang yang tidak mau menjadi bagian dari pemberontakan itu.

Saudara terkasih, peperangan itu sedang berlangsung. Percayalah, peperangan itu terjadi di setiap tingkat kehidupan. Tahukah Anda? Di setiap tingkat alam semesta ini, peperangan sedang berlangsung. Pemberontakan itu bahkan menjangkau hadirat Allah sendiri. Menurut Ayub pasal 1, Iblis masih memiliki akses menghadap takhta Allah, dan di sana terjadi pertentangan. Menurut Daniel pasal 10, peperangan juga terjadi di dunia para malaikat. Allah pernah mengutus seorang malaikat pada zaman Daniel, tetapi malaikat itu ditahan oleh roh jahat. Lalu Allah mengutus Mikhael. Sang panglima malaikat itu datang, mengalahkan roh jahat tersebut, sehingga malaikat yang diutus tadi dapat melanjutkan tugasnya. Jadi ada peperangan di tingkat malaikat. Dan Saudara, jika sampai sekarang Anda belum menyadarinya, sudah saatnya Anda menyadari bahwa peperangan juga sedang berlangsung di tingkat manusia. Dalam Yohanes 8:44, Yesus berkata, "Kamu berasal dari bapamu, yaitu Iblis." Sementara kita adalah anak-anak Allah. Anak-anak Allah dan anak-anak Iblis terus berada dalam pertentangan. Seluruh alam semesta ini adalah medan peperangan. Kadang-kadang saya bertanya-tanya, apakah orang-orang Kristen yang menjalani hidup dengan santai dan tanpa kesadaran rohani benar-benar memahami apa yang sedang terjadi? Iblis sedang berjuang untuk merebut jiwa-jiwa manusia. Allah juga sedang bekerja untuk menyelamatkan jiwa-jiwa manusia. Dan kita dipanggil untuk berdiri di pihak Allah serta ikut berjuang bersama-Nya.

Apakah Iblis benar-benar ada? Anda sebaiknya percaya bahwa dia memang ada. Siapakah dia? Dia adalah suatu pribadi. Dia adalah roh. Dia adalah malaikat yang telah jatuh. Dan sampai hari ini dia tetap aktif serta terus menyerang Allah dan pekerjaan-Nya di dunia. Saya ingin menutup dengan satu hal. Setiap orang yang duduk di ruangan ini, dan setiap orang di muka bumi, adalah anak Allah atau anak Iblis. Tidak ada posisi di tengah. Anda berada di salah satu pihak. Bukankah demikian? Yesus berkata, "Siapa yang tidak bersama Aku, ia melawan Aku." Jadi, jika Anda memilih berpihak kepada makhluk yang telah jatuh ini, yang sudah ditetapkan untuk menerima hukuman kekal, dan semua yang bergabung dengannya akan menerima nasib yang sama, itu adalah pilihan Anda sendiri. Bahkan Yesus berkata, dengan hati yang penuh dukacita, "Kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu." Anda dapat berpihak kepada Allah dengan datang kepada Kristus. Dan bagi Saudara yang sudah menjadi orang percaya, jika sekarang Anda semakin memahami siapa Iblis itu, apa yang sedang ia kerjakan, betapa tragis kejatuhannya, dan bagaimana sebenarnya kerajaan kegelapan bekerja, saya berharap hal itu memberi semangat baru kepada Anda untuk berjuang. Lawanlah Iblis. Jangan berikan kesempatan sedikit pun kepadanya. Jangan biarkan ia memperoleh keuntungan atas hidup Anda. Jangan berikan sejengkal pun ruang baginya. Allah layak menerima seluruh kemuliaan, seluruh pujian, dan seluruh hidup Anda. Iblis memang sudah dikalahkan di kayu salib. Namun, meskipun ia adalah musuh yang sudah kalah, ia masih terus melawan dan terus berjuang sampai akhirnya tiba. Karena itu, kita harus berdiri di pihak Allah, berjuang bersama-Nya, dan terus bertahan dalam peperangan rohani dengan menyadari siapa musuh kita, demi kemuliaan Allah dan dengan kekuatan yang berasal dari-Nya.

Bapa, kami bersyukur untuk waktu yang Engkau berikan malam ini, untuk kesempatan mempelajari Firman-Mu. Kami berdoa, ketika kami baru mulai mempelajari tentang pribadi yang memang benar-benar ada ini, bahkan mungkin sedang mendengar apa yang kami katakan, kami mengucap syukur kepada-Mu karena Dia yang ada di dalam kami lebih besar daripada dia yang ada di dalam dunia. Kami bersyukur karena Iblis adalah musuh yang sudah dikalahkan. Ya Allah, jagalah kami agar jangan pernah memberikan tempat sedikit pun kepadanya, jangan pernah condong ke arahnya, dan jangan pernah menerima filsafat-filsafatnya, humanismenya, materialismenya, ataupun cara hidup yang dikuasai oleh hawa nafsu dan penyalahgunaan seksualitas, serta berbagai hal lain yang terus ia sebarkan. Tolonglah kami agar mengarahkan seluruh hidup kami kepada Dia yang telah menebus kami, yang telah mengasihi kami, yaitu Allah yang layak menerima segala pujian, hormat, dan hidup kami. Terima kasih, Bapa, karena Engkau telah menolong kami mengenal musuh kami dengan lebih baik. Sekarang, setelah kami mengenalnya, mampukanlah kami untuk melawannya, berperang melawan dia, dan menjadi kuat di dalam Tuhan serta di dalam kuasa kekuatan-Mu. Kami berdoa dalam nama Kristus yang mulia, Sang Pemenang. Amin.

SELESAI

This sermon series includes the following messages:

Please contact the publisher to obtain copies of this resource.

Publisher Information
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969

Welcome!

Enter your email address and we will send you instructions on how to reset your password.

Back to Log In

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize
View Wishlist

Cart

Cart is empty.

Subject to Import Tax

Please be aware that these items are sent out from our office in the UK. Since the UK is now no longer a member of the EU, you may be charged an import tax on this item by the customs authorities in your country of residence, which is beyond our control.

Because we don’t want you to incur expenditure for which you are not prepared, could you please confirm whether you are willing to pay this charge, if necessary?

ECFA Accredited
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Back to Cart

Checkout as:

Not ? Log out

Log in to speed up the checkout process.

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize