Grace to You Resources
Grace to You - Resource

Pada pembahasan kita yang lalu, kita sudah memastikan bahwa Iblis benar-benar ada sebagai pribadi yang nyata, lalu kita juga membahas siapa dia sebenarnya. Kita melihat bahwa akal sehat, penyataan Allah, dan pengalaman manusia semuanya saling menguatkan untuk membuktikan keberadaan makhluk ini. Alkitab dengan sangat jelas mengatakan bahwa dia adalah malaikat yang telah jatuh. Bukan sekadar malaikat yang jatuh, tetapi kemungkinan adalah malaikat yang paling tinggi dalam ciptaan Allah, yaitu kerub yang berjaga menutupi takhta, yang mungkin merupakan yang tertinggi di antara semua kerub, bahkan di antara seluruh bala tentara malaikat. Dia adalah makhluk roh. Walaupun dia adalah roh, dia tidak hadir di semua tempat sekaligus, tetapi dia bergerak dengan sangat cepat. Pekerjaannya juga tidak dilakukan sendirian, melainkan bersama bala tentara malaikat yang jatuh bersamanya ketika memberontak terhadap Allah. Jadi, kita sudah menjawab pertanyaan pertama, "Apakah dia ada?" dengan jawaban, "Ya." Lalu kita juga sudah menjawab pertanyaan kedua, "Siapa dia?" dengan mengatakan bahwa dia adalah makhluk roh, malaikat yang telah jatuh, memiliki kuasa yang sangat besar, dan memimpin sekelompok roh-roh jahat, yaitu malaikat-malaikat yang juga telah jatuh dan menentang segala rencana Allah. Kita juga melihat bahwa medan peperangan itu terjadi di hadapan takhta Allah, seperti yang digambarkan dalam kitab Ayub; terjadi di alam surga, seperti yang diperlihatkan dalam kitab Daniel; dan juga berlangsung di bumi, seperti yang berulang kali kita temukan di seluruh Alkitab. Jadi kita menyadari bahwa memang ada konflik rohani yang sedang berlangsung.

Nah, pada kesempatan ini kita akan membahas pertanyaan ketiga. Pertanyaan pertama, apakah dia ada? Kedua, siapa dia? Dan yang ketiga, seperti apakah dia? Kita ingin memahami dengan lebih jelas dan lebih teliti tentang karakter Iblis. Alasan kita mempelajari hal ini adalah karena pemahaman kita tentang apa yang sedang terjadi di dunia ini, sampai tingkat tertentu, bergantung pada seberapa baik kita mengenal apa yang sedang dilakukan oleh musuh kita. Ketika Paulus menulis kepada jemaat di Korintus, dia berkata, "Supaya Iblis jangan memperdaya kita, sebab kita tahu apa maksudnya." Semakin kita mampu mengenali dan memperkirakan cara dia bekerja, semakin siap pula kita membangun pertahanan untuk menghadapinya. Karena itu, sangat penting bagi kita untuk mengetahui seperti apakah dia.

Pertama-tama, ketika kita membahas seperti apakah dia, dan siapkan Alkitab Saudara karena malam ini kita akan melihat beberapa bagian Firman Tuhan, saya ingin memulai dengan menjelaskan beberapa hal tentang apa yang bukan merupakan sifat Iblis. Perhatikan baik-baik bahwa Iblis tidak sama dengan Allah. Dia sama sekali tidak seperti Allah. Maksud saya ada beberapa hal, dan Saudara akan lebih mudah memahaminya jika mengingat apa yang selama ini kita pelajari tentang Allah dalam pertemuan-pertemuan sebelumnya. Pertama, Iblis tidak ada dengan sendirinya. Dia diciptakan. Dia adalah makhluk ciptaan. Hal itu menempatkannya jauh di bawah Allah. Kedua, dia bukan penguasa yang berdaulat. Memang Iblis memerintah suatu wilayah yang dihuni oleh roh-roh jahat, tetapi kekuasaannya tidak pernah melampaui batas-batas yang telah Allah tetapkan baginya.

Faktanya, Iblis tidak pernah berhasil melepaskan diri dari pemerintahan Allah. Saudara perlu menyadari hal itu. Pemberontakannya benar-benar gagal. Kalau Saudara ingin memahami posisi Iblis dengan benar, lihatlah dia sebagai seorang yang sedang dibuang. Dia telah dibuang ke bumi beserta wilayah di sekitarnya. Dia tidak pernah berhasil menyingkirkan pemerintahan Allah; dia hanya terus memberontak terhadapnya. Dia seperti orang yang terbelenggu, terus berusaha melawan rantai yang mengikatnya. Tapi rantai itu hanya memberi ruang sejauh yang Allah izinkan, dan tidak lebih dari itu. Dia hanya dapat bertindak di dalam batas-batas yang Allah izinkan. Rasul Paulus memberikan gambaran bahwa Allah bahkan memakai Iblis untuk menggenapi tujuan-Nya sendiri. Dalam 2 Korintus pasal 12 ayat 7, Paulus mengatakan bahwa apa yang diberikan kepadanya untuk menyakitinya, supaya dia menyadari kelemahannya sendiri, yaitu duri dalam daging itu, adalah "utusan Iblis untuk menghantam aku." Tapi Paulus berdoa kepada Allah supaya hal itu disingkirkan, dan Allah memilih untuk tidak melakukannya. Artinya, Allah sedang mengizinkan Iblis melakukan sesuatu yang pada akhirnya justru membawa kemuliaan bagi Allah. Iblis memang bertindak dalam pemberontakan, tetapi bahkan pemberontakannya pun gagal, karena Allah tetap memakainya untuk menggenapi rencana-Nya sendiri.

Jadi, Iblis tidak sama dengan Allah. Dia tidak ada dengan sendirinya, dan dia juga bukan penguasa yang berdaulat. Ketiga, dia tidak mahakuasa. Dia jelas bukan pribadi yang mahakuasa. Dia memang berkuasa, tetapi bukan memiliki segala kuasa. Dalam 1 Yohanes 4:4 dikatakan, "Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia." Siapakah Dia yang ada di dalam Saudara? Dia adalah Allah melalui Roh-Nya. Dibandingkan dengan Dia, kuasa Iblis sangat jauh lebih kecil. Selanjutnya, Iblis juga tidak mahatahu. Dia tidak mengetahui segala sesuatu. Selama bertahun-tahun, ada orang Kristen yang memperdebatkan apakah Iblis bisa membaca pikiran manusia. Sepanjang yang saya pahami dari Alkitab, tidak ada satu pun ayat yang mengatakan demikian. Saya percaya bahwa Iblis tidak mengetahui segala sesuatu karena dia adalah malaikat, dan malaikat pun tidak mengetahui segala sesuatu. Hal itu terlihat dalam 1 Petrus pasal 1 ayat 11 dan 12, yang tadi pagi sudah kita bahas, bahwa para malaikat sangat ingin memahami keselamatan yang Allah kerjakan. Ada hal-hal yang memang tidak mereka mengerti.

Tadi pagi kita juga membahas tentang hal-hal seperti belas kasihan, kasih karunia, dan pengampunan. Semua itu tidak pernah dialami oleh para malaikat, sehingga mereka tidak dapat memahaminya melalui pengalaman pribadi. Ada banyak hal yang memang tidak mereka mengerti. Kalau malaikat-malaikat kudus saja tidak mengetahui segala sesuatu, tidak ada alasan untuk percaya bahwa malaikat yang sudah jatuh justru mengetahui semuanya. Alkitab tidak pernah memberi petunjuk bahwa Iblis mampu membaca pikiran kita. Memang dia sangat pandai memperkirakan perilaku manusia, karena dia sudah sangat lama mengamati sifat manusia. Dari sikap dan tindakan kita, dia sering kali dapat menebak apa yang sedang terjadi di dalam hati kita. Tapi dia tetap bukan pribadi yang mahatahu. Salah satu bukti bahwa Iblis tidak mengetahui segala sesuatu adalah kekacauan yang sering terjadi di dalam kerajaannya sendiri. Pernahkah Saudara memperhatikan bahwa Iblis sering kali justru menjatuhkan dirinya sendiri? Dia melakukan banyak hal yang sangat bodoh. Misalnya, kalau Iblis benar-benar mengetahui segala sesuatu, dia tidak akan pernah membiarkan Kristus sampai ke kayu salib. Pada awal pelayanan Yesus, tampaknya dia berusaha mencegah Yesus menuju salib. Dia bahkan menawarkan segala sesuatu kepada Yesus; Saudara tentu ingat pencobaan di padang gurun. Kemudian, melalui peristiwa yang melibatkan Petrus, dia kembali berusaha membujuk Yesus agar tidak menempuh jalan salib. Tapi ketika dia sadar bahwa dia tidak bisa menghentikan Kristus, dia justru mendorong semuanya sampai Yesus disalibkan. Padahal, kalau dia mengetahui segala sesuatu, dia pasti tahu bahwa salib itulah yang menjadi pukulan mematikan bagi dirinya sendiri. Jadi, Iblis bukanlah pribadi yang mahatahu.

Kalau Saudara membaca Kisah Para Rasul pasal 19, Saudara akan melihat betapa besarnya kekacauan yang terjadi di sana. Ada orang-orang yang kerasukan roh jahat yang bernubuat dan meramal, sementara ada juga orang-orang yang mencoba mengusir roh jahat, padahal mereka sendiri juga berada di bawah pengaruh kuasa kegelapan. Iblis penuh dengan kebingungan. Kalau Saudara mempelajari Alkitab dengan sungguh-sungguh dan memperhatikan karakter Iblis, Saudara akan melihat bahwa dia sangat tidak konsisten. Itu terjadi karena kerusakan akibat dosa juga memengaruhi cara berpikir. Para malaikat memang memiliki akal budi, tetapi malaikat-malaikat yang telah jatuh memiliki akal budi yang sudah rusak. Karena itu, mereka tidak lagi berpikir dengan benar. Selain tidak mahakuasa dan tidak mahatahu, Iblis juga tidak hadir di semua tempat sekaligus. Seperti yang sudah saya katakan minggu lalu, dia memang bergerak sangat cepat, tetapi dia tidak mahahadir. Tidak ada satu pun malaikat yang memiliki sifat itu. Daniel pasal 9 dan 10 menjelaskan hal ini dengan sangat jelas. Jadi, semua malaikat memiliki keterbatasan, terlebih lagi malaikat-malaikat yang telah jatuh. Iblis adalah makhluk yang sangat terbatas. Itulah hal-hal yang bukan merupakan sifatnya.

Lalu, seperti apakah dia sebenarnya? Cara terbaik untuk memahaminya, dan itulah yang akan kita lakukan malam ini, adalah dengan melihat nama-nama, gelar-gelar, dan sebutan-sebutan yang dipakai Alkitab untuk menggambarkan dirinya. Semua sebutan itu memberi kita gambaran tentang karakternya. Pertama, dia disebut "Setan" atau "Iblis." Ini adalah tempat yang baik untuk memulai. Saya tidak akan mengajak Saudara membuka semua ayat yang menyebut nama itu, karena sebutan "Setan" muncul sebanyak 52 kali di Alkitab, dan itu akan memakan waktu yang cukup lama. Sebagai contoh, Saudara bisa melihat Zakharia 3:1 atau Wahyu 12:9. Kata "Setan" berasal dari bahasa Ibrani yang berarti "lawan" atau "penentang." Dari nama ini kita belajar bahwa Setan adalah seorang musuh. Musuh siapa? Pertama-tama, dia adalah musuh Allah. Lalu dia juga menjadi musuh para malaikat kudus Allah, seperti yang terlihat dalam Wahyu pasal 12 ketika dia berperang melawan Mikhael dan para malaikat sorga. Selain itu, dia juga menjadi musuh umat Allah, yaitu setiap orang yang telah mengikatkan diri kepada Tuhan Yesus Kristus. Jadi, nama "Setan" sendiri sudah menunjukkan karakternya sebagai seorang penentang.

Kedua, Alkitab bukan hanya menyebutnya "Setan," tetapi juga "Iblis." Sebutan ini dipakai sekitar 35 kali dalam Alkitab. Kata Yunani yang digunakan adalah diabolos, yang berarti "pemfitnah" atau "orang yang menjatuhkan." Kalau kedua arti itu digabungkan, maknanya adalah seseorang yang berusaha mencelakakan orang lain melalui fitnah yang jahat. Iblis memfitnah Allah. Dia memfitnah Kristus. Dia memfitnah Roh Kudus. Dia memfitnah gereja. Dia memfitnah Alkitab. Dia memfitnah ajaran yang benar. Dia memfitnah karakter orang-orang percaya. Dia terus-menerus menyebarkan fitnah. Apa pun yang berkaitan dengan Allah akan dia cemarkan dengan tuduhan dan kebohongan. Itulah karakternya. Dia bukan hanya seorang penentang, tetapi juga seorang pemfitnah. Karena itulah, sering kali sangat sulit bagi orang Kristen untuk memiliki nama baik di dunia ini. Sebab, seperti yang dikatakan dalam 1 Yohanes 5:19, dunia ini berada di bawah kuasa si jahat, dan dia terus bekerja memfitnah segala sesuatu yang berhubungan dengan kekristenan.

Ketiga, dia disebut—dan urutan ini tidak berdasarkan tingkat kepentingan tertentu—dalam Wahyu 12:9 sebagai ular tua. Dalam Kejadian pasal 3, kita melihat dia tampil sebagai seekor ular. Lalu dalam 2 Korintus pasal 11 ada sebuah pernyataan yang menarik. Pada ayat 3 dikatakan, "Aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya." Karakter yang paling menonjol dari gambaran ular ini adalah kelicikan dan kecerdikannya. Dia licik, penuh tipu daya, pandai menyelinap, dan menyesatkan. Itulah karakter Iblis. Bahkan ketika Rasul Paulus menulis kepada jemaat di Efesus, dan juga kepada jemaat-jemaat lain yang menerima surat yang beredar itu, dia berkata bahwa anak-anak rohani mudah diombang-ambingkan oleh berbagai angin pengajaran. Paulus menggunakan gambaran tentang tipu muslihat dan kelicikan orang-orang yang dengan sengaja menunggu kesempatan untuk menyesatkan. Jadi, Iblis digambarkan sebagai penipu yang sangat licik dan penuh siasat.

Keempat, ini adalah gambaran yang berbeda. Dalam Wahyu pasal 12, khususnya ayat 3, 7, dan 9, di bagian yang memuat banyak nama dan sebutannya, Iblis disebut sebagai naga besar. Ayat 3 mengatakan, "Lihatlah, seekor naga merah padam yang besar" yang “berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan di atas kepalanya ada tujuh mahkota”. Selanjutnya bagian itu terus menjelaskan tentang dirinya. Pada ayat 7 dia kembali disebut naga, dan pada ayat 9 disebut lagi naga besar, yaitu naga merah yang besar. Apa arti gambaran ini? Gambaran ini menunjukkan kekuatan dan sifat penghancurnya. Dia adalah makhluk yang mengerikan, penuh kuasa untuk membinasakan, dan memang bertujuan menghancurkan. Dalam Wahyu pasal 12, dia digambarkan seperti itu karena dia tampil sebagai panglima bala tentara neraka. Dia memimpin dan mengatur seluruh pasukan roh-roh jahat. Karena itu, dia digambarkan sebagai naga besar yang begitu dahsyat dan menakutkan.

Selain itu, dia juga digambarkan dengan nama binatang yang lain. Dalam 1 Petrus pasal 5 ayat 8, dia disebut singa yang mengaum. Saya sendiri tidak terlalu banyak mengetahui tentang singa, tetapi saya sempat membaca sedikit mengenai kebiasaan mereka, karena saya ingin memahami bagaimana cara Iblis bekerja. Tahukah Saudara kapan seekor singa mengaum? Singa mengaum ketika mangsanya sudah berada dalam cengkeramannya. Menarik, bukan? Singa tidak mengaum ketika sedang mengejar mangsanya, karena kalau begitu mangsanya akan tahu bahwa dia sedang datang. Singa bergerak dengan sangat diam-diam. Ya, tentu saja sediam mungkin untuk binatang sepanjang sekitar dua setengah meter dengan berat hampir dua ratus kilogram yang sedang menerobos hutan. Tapi mereka memang mengendap-endap. Ketika seekor singa sudah berhasil menangkap mangsanya dan yakin bahwa kemenangan sudah ada di tangannya, barulah dia mengaum sebelum menerkam dan melahap mangsanya. Jadi, ketika Saudara mendengar aumannya, sebenarnya semuanya sudah terlambat. Itulah gambaran tentang singa yang mengaum sambil mencari siapa yang dapat ditelannya. Maksudnya adalah bahwa keinginan Iblis adalah menangkap manusia, menjerat mereka ke dalam dosa, lalu menelan mereka habis di dalam kejahatannya.

Beralih dari nama-nama yang berhubungan dengan dunia binatang kepada sebutan-sebutan yang lebih bersifat abstrak, dalam Yohanes 17:15 dia disebut ho ponēros. Dalam bahasa Yunani, istilah itu berarti "si jahat" atau "yang jahat." Sebutan ini menggambarkan salah satu sifat utama Iblis. Dalam 1 Yohanes 5:18 dikatakan, "Kita tahu bahwa setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa; tetapi Dia yang lahir dari Allah melindunginya, dan si jahat tidak dapat menyentuhnya." Kata itu tidak sekadar berarti "menyentuh," tetapi lebih tepat berarti "tidak dapat mencengkeram" atau "tidak dapat menguasai." Kalau Allah sudah memegang hidup seseorang, Iblis tidak dapat lagi menguasai hidup itu. Tapi di ayat tersebut, dia disebut "si jahat." Kata ponēros paling tepat dipahami sebagai kejahatan yang berasal dari dalam dirinya sendiri. Dia adalah perwujudan kejahatan. Dialah bentuk kejahatan yang paling dalam dan paling murni. Dan seperti semua pribadi yang jahat, termasuk semua roh jahat, mereka tidak pernah puas hanya dengan kejahatan mereka sendiri. Mereka selalu ingin menyeret orang lain ke dalam kejahatan yang sama. Hal ini mengingatkan kita pada Roma pasal 1, yang mengatakan bahwa orang-orang bukan hanya senang melakukan kejahatan, tetapi juga menikmati ketika orang lain melakukannya.

Selain itu, dia juga disebut sebagai "si pencoba." Dalam Matius pasal 4 dikatakan bahwa Roh Kudus memimpin Yesus ke padang gurun. Setelah Yesus berpuasa selama empat puluh hari, Dia merasa lapar, lalu Iblis datang kepada-Nya. Di bagian itu, Iblis disebut "si pencoba." Artinya, dia adalah pribadi yang berusaha membujuk dan menggoda manusia supaya jatuh ke dalam dosa. Kita akan membahas hal ini lebih jauh ketika pembahasan kita berlanjut.

Ada lagi nama atau gelar lain yang diberikan kepadanya. Dalam Wahyu 12:10, dia disebut "pendakwa." Salah satu pekerjaan yang paling disukai Iblis adalah mendakwa orang-orang percaya. Dia terus-menerus melakukan hal itu. Tapi Tuhan kita adalah Pembela kita. Iblis boleh mendakwa, tetapi Tuhan Yesus akan membela. Iblis pernah berkata tentang Ayub, "Ayub itu sebenarnya tidak sungguh-sungguh setia. Coba lakukan ini, lakukan itu, dan dia pasti akan meninggalkan-Mu serta mengutuki-Mu. Memang begitulah sifat manusia. Kalau Engkau memperlakukan mereka dengan buruk, mereka semua akan mengutuki-Mu." Itulah sifat Iblis sebagai pendakwa. Saya yakin sampai sekarang pun Iblis terus berusaha mendakwa kita di hadapan Allah, dengan harapan Allah akan melepaskan kita dari tangan-Nya. Iblis berkata, "Orang itu tidak layak. Dia tidak memenuhi tuntutan-Mu. Dia tidak pantas menerima kasih karunia, kasih, dan keselamatan dari-Mu." Tapi kemudian kita membaca Roma pasal 8, yang menyatakan bahwa tidak seorang pun dapat mengajukan dakwaan terhadap orang-orang pilihan Allah. Sebab Yesus Kristus telah membenarkan kita, dan Allah sendiri telah menyatakan bahwa kita dibenarkan. Karena itu, kita tidak mempunyai alasan untuk takut.

Selain semua sebutan itu, seperti pencoba, pendakwa, dan yang lainnya, dalam Efesus 2:2 Iblis juga disebut dengan sebuah gelar yang menarik. Ada yang menganggap ini bukan gelar, melainkan hanya rangkaian kata. Tapi ada juga yang menganggapnya sebagai sebuah gelar. Di sana dia disebut "roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka." Maksudnya adalah bahwa dia adalah roh yang bekerja di dalam orang-orang yang belum percaya. Dia menguasai hati orang-orang yang belum diselamatkan. Jadi, hanya melalui beberapa pernyataan sederhana ini, kita sudah mendapatkan gambaran tentang karakter Iblis. Dia adalah Setan, yaitu musuh atau penentang. Dia adalah Iblis, yaitu pemfitnah. Dia adalah ular tua, yang licik, penuh tipu daya, dan suka menyesatkan. Dia adalah naga besar, makhluk yang sangat kuat, mengerikan, dan ingin menghancurkan. Dia adalah singa yang mengaum, siap menerkam dan menelan siapa saja yang bisa dia seret ke dalam sistem kejahatannya. Dia disebut si jahat, yang pada dasarnya adalah perwujudan kejahatan itu sendiri. Dia tidak pernah puas hanya dengan kejahatannya sendiri, tetapi selalu ingin merusak semua orang. Dia adalah si pencoba, yang membujuk manusia untuk berbuat dosa. Dia adalah si pendakwa, yang berusaha mendatangkan penghukuman Allah atas manusia dengan mengatakan bahwa kita tidak layak menerima kasih karunia, keselamatan, dan perkenanan Allah. Dalam Efesus pasal 2 ayat 2 dia juga disebut roh yang bekerja di dalam orang-orang durhaka. Setiap orang yang hidup di dunia tanpa Allah berada di bawah pengaruh dan kekuasaan makhluk ini.

Semua itu baru nama dan gelarnya. Sekarang mari kita melihat hal yang kedua. Cara lain untuk memahami siapa Iblis adalah dengan memperhatikan istilah-istilah yang dipakai Alkitab untuk menggambarkan dirinya. Istilah-istilah ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan nama dan gelarnya, tetapi lebih berupa kata-kata yang menjelaskan sifat dan karakternya. Saya akan memberikan setidaknya tiga di antaranya sebagai permulaan, lalu nanti kita lihat sejauh mana kita bisa membahasnya. Yang pertama, Iblis disebut sebagai pembunuh. Hal ini terdapat dalam Yohanes 8:44. Ketika Tuhan Yesus sedang berdialog dengan orang-orang Farisi yang mengaku sebagai anak-anak Allah, Dia mengatakan bahwa mereka sama sekali bukan anak-anak Allah. Dalam Yohanes 8:44 Yesus berkata, "Kamu berasal dari bapakmu, yaitu Iblis, dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapakmu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata dari diri sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapak pendusta." Jadi, dia bukan hanya pendusta, tetapi juga pembunuh. Kejahatan pertama yang begitu menonjol dalam ingatan kita setelah manusia jatuh ke dalam dosa adalah ketika Kain membunuh Habel. Di situlah Iblis memulai perannya sebagai seorang pembunuh.

Dalam 1 Yohanes 3:12 dikatakan, "Bukan seperti Kain yang berasal dari si jahat dan membunuh adiknya." Mengapa Kain membunuh? Karena dia berasal dari Iblis, dan Iblis adalah seorang pembunuh. Pembunuhan berasal dari pekerjaan Iblis. Dialah yang mendorong manusia untuk membunuh, dan itulah yang terus dia lakukan. Bahkan, berkali-kali dia berusaha memusnahkan bangsa Israel. Berulang kali dia mencoba melenyapkan mereka. Dalam Wahyu pasal 12 kita melihat bahwa salah satu usaha Iblis bukan hanya memusnahkan bangsa Israel, tetapi juga membinasakan Anak yang lahir dari bangsa Israel, yaitu Sang Mesias. Kalau Saudara mengingat kembali kisah-kisah dalam Alkitab, Saudara akan menemukan banyak peristiwa ketika Iblis berusaha menghancurkan Sang Mesias. Izinkan saya membawa Saudara kembali ke Perjanjian Lama untuk melihat salah satu contohnya. Dalam 2 Raja-Raja pasal 11 terdapat kisah tentang seorang perempuan yang sangat jahat bernama Atalya. Setelah Ahazia mati, ibunya, Atalya yang jahat itu, mengambil alih kekuasaan. Ayat pertama mengatakan, "Ketika Atalya, ibu Ahazia, melihat bahwa anaknya sudah mati, ia segera membinasakan semua keturunan raja."

Di sinilah utusan Iblis berusaha memusnahkan garis keturunan Mesias. Dia ingin melenyapkan seluruh keturunan kerajaan yang memiliki hak untuk memerintah, sehingga garis keturunan yang akan melahirkan Mesias pun terputus. Saudara, ini adalah peristiwa yang sangat penting. Pada saat itu dalam sejarah, garis keturunan Daud tinggal menyisakan satu orang saja. Kalau satu orang itu sampai terbunuh, maka seluruh pengharapan akan kedatangan Mesias akan lenyap. Tapi ayat berikutnya berkata, "Tetapi, Yoseba putri Yoram, saudara perempuan Ahazia, mengambil Yoas bin Ahazia, membawanya diam-diam dari antara anak-anak raja yang hendak dibunuh itu." Saya sendiri tidak tahu bagaimana tepatnya dia melakukan itu, tetapi pastinya itu adalah tindakan yang sangat berani. Firman Tuhan melanjutkan, "Dia diamankan bersama dengan inangnya di kamar tidur, disembunyikan dari Atalya, sehingga dia tidak dibunuh. Yoas tinggal bersama perempuan itu selama enam tahun dengan bersembunyi di rumah TUHAN, sementara Atalya memerintah negeri." Allah melindungi seorang bayi kecil itu, satu-satunya benang yang mempertahankan harapan akan kedatangan Mesias.

Akhirnya Mesias benar-benar lahir. Lalu kita masuk ke Matius pasal 2, dan Iblis menyadari bahwa Anak itu telah lahir. Maka dia kembali berusaha membunuh-Nya. Dalam Matius 2:13 dikatakan, "Setelah orang-orang majus itu berangkat, tampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata, ‘Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir.'" Malaikat itu melanjutkan, "Tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia." Maka Yusuf bangun pada malam hari, membawa Anak itu bersama ibu-Nya ke Mesir. Mereka tinggal di sana sampai Herodes meninggal, sehingga genaplah firman Tuhan yang disampaikan melalui nabi, "Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku." Kemudian, ketika Herodes sadar bahwa dia telah diperdaya oleh orang-orang majus, dia menjadi sangat marah. Dia memerintahkan supaya semua anak laki-laki di Betlehem dan seluruh daerah sekitarnya yang berusia dua tahun ke bawah dibunuh, sesuai dengan waktu yang telah dia ketahui dari orang-orang majus. Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan melalui Nabi Yeremia, "Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi." Sekali lagi, melalui Herodes, Iblis berusaha membinasakan Sang Mesias. Tapi Allah melindungi Mesias itu. Iblis adalah seorang pembunuh. Dia selalu menjadi pembunuh, dan dia akan tetap menjadi pembunuh.

Kedua, untuk memahami karakternya—dan bagian ini akan kita bahas sedikit lebih panjang—Iblis adalah seorang pendusta. Tadi saya sudah bacakan Yohanes 8:44 yang mengatakan, "Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata dari diri sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa pendusta." Dengarkan baik-baik: Saudara tidak pernah bisa mempercayai Iblis. Dia selalu berdusta. Ada orang-orang yang berkata, "Saya mengalami pengalaman yang luar biasa. Saya punya banyak masalah dalam hidup, lalu saya datang kepada seseorang. Orang itu mengungkapkan berbagai macam roh jahat, kemudian mengusir roh yang satu, roh yang lain, lalu roh ini mengatakan begini, roh itu mengatakan begitu." Biasanya kalau ada orang yang bercerita seperti itu, saya akan berkata, "Coba pikirkan satu hal yang sangat mendasar. Saudara tidak bisa mempercayai satu kata pun yang dikatakan oleh roh-roh jahat itu." Ada seorang yang pernah berkata kepada saya, "Saya kira masalah saya disebabkan oleh roh jahat tertentu. Tapi ketika saya mengikuti sebuah pertemuan dan seseorang mengusir roh jahat, ternyata bukan roh itu yang menjadi masalah, melainkan roh yang sama sekali berbeda." Coba pikirkan. Bukankah roh jahat akan mengatakan kebohongan kalau itu bisa membuat Saudara berpikir bahwa Saudara tidak mempunyai masalah yang sebenarnya? Itu seperti orang yang berkata bahwa dia telah dilepaskan dari roh jahat penyebab lendir di belakang hidung. Roh-roh jahat akan mengatakan apa saja kalau mereka tahu Saudara akan mempercayainya. Apa saja. Karena itu, Saudara tidak bisa mempercayai mereka.

Saudara tidak boleh begitu saja mempercayai apa pun yang Saudara dengar. Iblis adalah pendusta. Tidak ada sedikit pun kebenaran di dalam dirinya. Yang dia ucapkan hanyalah kebohongan. Itulah sebabnya saya memiliki banyak pertanyaan tentang pelayanan-pelayanan pelepasan seperti itu. Orang-orang yang terlibat di dalamnya sebenarnya tidak berada pada posisi yang mampu menghadapi roh-roh jahat dan Iblis, karena mereka tidak mampu membedakan kebenaran. Iblis adalah pendusta, dan dia sangat ahli dalam hal itu. Dengarkan ini: dalam Wahyu 12:9 dikatakan bahwa dia menyesatkan seluruh dunia. Dia sangat mahir melakukannya. Dia menyesatkan seluruh dunia. Jadi, jangan pernah berpikir bahwa Saudara bisa berhadapan dengan Iblis, berbicara dengannya, lalu mendapatkan kebenaran. Dia adalah seorang pendusta.

Rasul Paulus berkata dalam 2 Korintus pasal 4 ayat 1, "Oleh rahmat Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu, kami tidak tawar hati. Tetapi kami menolak segala perbuatan tersembunyi yang memalukan; kami tidak berlaku licik dan tidak memalsukan firman Allah. Sebaliknya, kami menyatakan kebenaran." Paulus seolah-olah berkata, "Salah satu perubahan yang langsung terjadi ketika saya meninggalkan kehidupan sebagai orang Farisi dan menjadi pengikut Kristus adalah saya berhenti berdusta dan mulai mengatakan yang benar." Semua agama yang palsu dibangun di atas kebohongan. Paulus berkata, "Saya meninggalkan segala sesuatu yang tersembunyi dan memalukan. Saya berhenti hidup dengan kelicikan. Saya tidak lagi memutarbalikkan firman Allah, tetapi mulai menyatakan kebenaran." Kekristenan adalah kebenaran. Segala sesuatu yang lain adalah kebohongan.

Dalam 1 Yohanes—dan kita baru saja menyelesaikan pembahasannya sehingga bagian ini masih segar dalam ingatan Saudara—1 Yohanes 2:21 berkata, "Aku menulis kepadamu, bukan karena kamu tidak mengetahui kebenaran, tetapi justru karena kamu mengetahuinya dan karena kamu juga mengetahui bahwa tidak ada dusta yang berasal dari kebenaran. Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Mesias? Inilah antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak." Inilah salah satu ciri khas Iblis. Sekarang mari kita lihat pasal 4 ayat 1: "Saudara-saudaraku yang terkasih, janganlah percaya kepada setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia." Iblis adalah seorang pendusta. Dan Saudara tidak berada pada posisi yang mampu menghadapi kebohongannya dengan kekuatan sendiri.

Sekarang izinkan saya menambahkan satu hal. Iblis memiliki kebohongan-kebohongan yang sangat efektif. Saya sungguh merasa bahwa salah satu strategi Iblis pada zaman sekarang, melalui perhatian yang begitu besar terhadap ilmu sihir, okultisme, dan semua hal semacam itu, adalah mengalihkan perhatian orang dari persoalan yang sebenarnya. Memang saya tahu ada banyak hal yang tampak menarik dan menghebohkan tentang papan Ouija dan berbagai praktik semacam itu. Bahkan kita yang adalah orang Kristen, walaupun menolak semua hal tersebut, kadang-kadang tetap merasa penasaran, ingin membaca tentangnya atau mengetahui sedikit lebih banyak, karena semua itu terasa aneh dan menarik. Kita semua pada dasarnya memiliki rasa ingin tahu tentang dunia yang tidak kelihatan. Dan saya yakin, yang Iblis inginkan adalah supaya semua orang sibuk memperhatikan aktivitasnya yang kelihatan, sementara mereka melupakan aktivitasnya yang tersembunyi. Padahal justru di situlah dia bekerja paling keras, yaitu dalam menyebarkan kebohongan. Saya teringat sebuah pernyataan yang menarik dari Dave Breese. Dia berkata, "Ilmu sihir memang berbahaya, tetapi biasanya hanya menipu orang-orang yang mudah diperdaya. Bermain-main dengan papan Ouija atau mempercayai benda-benda jimat dapat membawa pencemaran rohani yang mengerikan. Tapi daya tarik utamanya biasanya hanya bagi orang-orang yang lebih banyak mengandalkan perasaan daripada pemikiran. Fenomena-fenomena lahiriah memang bisa menarik, bahkan mengagumkan, tetapi pengaruhnya terbatas bagi orang-orang yang berpikir dengan sehat. Melalui ilmu sihir, pesta pora, pemanggilan arwah, dan kerasukan setan, Iblis telah menjerat ribuan orang. Tapi melalui ajaran palsu, dia telah menjerat jutaan orang."

Menurut saya, pernyataan itu benar. Pekerjaan utama Iblis sebenarnya adalah melalui ajaran palsu. Kalau Saudara ingin tahu apa yang saya yakini, saya percaya bahwa dalam dampaknya yang paling besar, jauh lebih bersifat satanis apabila seseorang berdiri di mimbar lalu menyangkal Firman Allah, daripada sekadar sebuah praktik pemanggilan arwah. Yang satu terlihat jelas, sedangkan yang lain jauh lebih halus. Saudara-saudara yang saya kasihi, pekerjaan Iblis yang paling mematikan adalah memutarbalikkan kebenaran. Di situlah dia menghabiskan sebagian besar usahanya. Saya juga yakin dia ingin membuat banyak orang Kristen sibuk berpikir bahwa pekerjaannya hanyalah berkeliaran bersama roh-roh jahat dan memainkan berbagai kejadian aneh dalam hidup manusia. Padahal dalam 1 Timotius 4:1 dikatakan, "Roh dengan tegas mengatakan bahwa pada waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan." Di ayat ini kita melihat dua cara kerja Iblis. Perhatikan baik-baik. Yang pertama adalah pekerjaannya yang terlihat, yaitu roh-roh penyesat. Yang kedua adalah pekerjaannya yang tersembunyi, yaitu ajaran-ajaran setan. Jadi dia bekerja dengan dua cara. Secara terbuka melalui roh-roh penyesat, dunia roh, dan spiritisme. Tapi yang jauh lebih penting dan lebih berbahaya adalah melalui ajaran-ajaran setan. Lalu ayat berikutnya menjelaskan bagaimana ajaran itu bekerja, yaitu "oleh tipu daya pendusta-pendusta yang hati nuraninya memakai cap mereka." Inilah sebabnya kita diperintahkan untuk mempelajari Firman Allah dengan sungguh-sungguh, supaya kita mampu melawan segala kebohongan Iblis.

Paulus berkata kepada Titus bahwa seorang harus "berpegang kepada perkataan yang benar, yang sesuai dengan ajaran yang sehat, supaya ia sanggup menasihati orang berdasarkan ajaran itu dan sanggup meyakinkan penentang-penentangnya." Memang ayat itu secara khusus berbicara tentang seorang penatua, tetapi prinsipnya juga berlaku bagi kita semua. Saya juga berpikir bahwa setiap kali orang terlalu terfokus pada pengalaman pribadi, mereka sedang bermain tepat di dalam strategi Iblis. Kebanyakan sistem yang berpusat pada pengalaman dipenuhi dengan ajaran-ajaran yang salah. Saya melihat hal itu begitu banyak terjadi pada apa yang disebut sebagai gerakan karismatik saat ini. Di mana pun pengalaman dijadikan pusat perhatian, hampir selalu di situ muncul banyak ajaran yang keliru—kesalahpahaman tentang Allah, penafsiran Alkitab yang salah, dan penggambaran yang keliru tentang cara Roh Kudus bekerja. Ketika Saudara menjadikan pengalaman sebagai ukuran untuk menentukan kebenaran, saat itulah Saudara sedang masuk ke dalam jebakan Iblis.

Iblis bekerja melalui ajaran palsu. Dia telah mengacaukan dunia dengan berbagai ajaran yang salah. Dan menariknya, ajaran-ajaran itu sering kali disampaikan oleh orang-orang yang masuk akal, berpendidikan, dan cerdas. Hari ini saya menyalakan televisi untuk menonton sebuah acara berjudul Religion Today (Agama Masa Kini), atau mungkin acara lain yang sejenis. Dalam acara itu ada seorang imam Katolik yang sedang berbicara tentang penyiar radio Paus. Penyiar itu ingin menunjukkan kepada dunia, melalui stasiun Radio Vatikan, bahwa Allah itu mengikuti perkembangan zaman dan relevan dengan dunia modern. Karena itu, dia memutar musik rock. Dia adalah seorang imam. Lalu ada juga seorang pendeta Protestan dari Gereja Metodis di Los Angeles yang berbicara tentang beberapa coretan dinding yang berkaitan dengan berita. Setelah itu ada seorang rabi yang ingin membahas hal-hal lain.

Anda tahu, mereka bertiga adalah orang-orang yang cerdas. Mereka bertiga tampak sangat konservatif. Mereka juga terlihat sangat baik. Dan justru itulah gambaran yang sangat khas dari cara Iblis menipu.

Izinkan saya memberikan satu contoh. Ketika saya masih kecil, saya pernah berpikir bahwa penipu terbesar yang dimiliki Iblis di seluruh dunia adalah Mahatma Gandhi. Tahukah Saudara mengapa saya berpikir begitu? Karena dia adalah orang yang sangat baik. Semua orang menyukai Gandhi. Dia hanya duduk dengan tenang. Maksud saya, apa yang mungkin bisa dia lakukan? Bukankah dia dikenal sebagai tokoh perdamaian yang luar biasa? Tapi justru tragedinya ada di situ. Menurut pandangan saya waktu itu, dia adalah alat yang dipakai Iblis untuk membanjiri sebuah peradaban dengan kebohongan. Kalau Saudara mengira bahwa alat Iblis adalah seorang pemabuk yang hidup di jalanan, berarti Anda keliru. Alat Iblis justru adalah orang yang tampak masuk akal, logis, dan sangat religius. Itulah orang yang paling sering dipakainya. Kalau Saudara berpikir alat Iblis adalah seorang penyihir, itu juga tidak tepat. Memang ada orang-orang seperti itu di pinggiran. Tapi alat utama Iblis adalah orang yang penampilannya sama seperti orang Kristen lainnya, memakai istilah-istilah Kristen, tetapi menyampaikan pesan yang berasal dari Iblis. Iblis sangat ahli dalam berdusta. Saya ingin Saudara benar-benar memahami hal itu.

Sekarang saya akan memberitahukan beberapa kebohongan terbaik yang dimiliki Iblis. Dengan begitu, ketika Saudara mendengarnya, Saudara bisa langsung mengenalinya dan menolaknya. Malam ini saya seolah-olah membuka seluruh kantong tipu muslihatnya. Yang pertama, inilah salah satu kebohongan terbesarnya. Mari kita buka Kejadian pasal 3 ayat 1. Nanti kita juga akan melihat beberapa contoh dari kitab Ayub dan Injil Matius. Kebohongan pertama yang saya temukan di sini adalah ini: "Allah adalah Pribadi yang suka merampas kebahagiaan manusia." Kejadian 3:1 berkata, "Ular adalah yang paling cerdik di antara segala binatang liar yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu, 'Tentulah Allah berfirman: Jangan kamu makan buah dari semua pohon di taman ini, bukan?'" Seolah-olah Iblis berkata, "Jadi, Hawa, Allah menempatkanmu di taman ini, lalu melarangmu menikmati semuanya? Allah macam apa itu? Mengapa Dia melakukan hal seperti itu?" Pesan yang ingin ditanamkan Iblis adalah, "Allah itu seorang penguasa yang kejam. Dia senang menempatkan manusia dalam keadaan yang membuat mereka frustrasi. Dia senang berkata, 'Jangan sentuh itu.' Lihat? Dia memang senang membuat hidup manusia terasa menyebalkan. Allah memberikan hukum Taurat yang tidak mungkin ditaati siapa pun, lalu membiarkan semua orang frustrasi karena gagal melakukannya. Dia hanya ingin merampas sukacita manusia. Tidak mungkin orang bisa hidup sesuai semua tuntutan itu. Jadi, tinggalkan saja semuanya dan lakukan apa yang kamu inginkan." Pernahkah Saudara mendengar kebohongan seperti itu? Mungkin dulu pikiran semacam itu pernah juga muncul di benak Saudara.

Nah, sekarang saya berikan kebohongan yang lain. Tahukah Saudara apa itu? Iblis berkata bahwa Allah adalah pendusta. Benar, itulah tuduhannya. Perempuan itu menjawab ular, "Buah dari pohon-pohon di taman ini boleh kami makan, tetapi tentang buah dari pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun sentuh, nanti kamu mati." Apakah Allah benar-benar mengatakan, "Jangan menyentuhnya"? Tidak. Allah tidak pernah mengatakan itu. Hawa sendiri yang menambahkan larangan tersebut. Mungkin Hawa mulai berpikir, "Barangkali Allah memang ingin merampas kebahagiaan kami. Bahkan menyentuhnya saja tidak boleh." Padahal Allah tidak pernah berkata demikian. Memang, kalau Saudara tahu tidak boleh memakannya tetapi tetap menyentuhnya, itu juga bukan tindakan yang bijaksana, karena Saudara sedang membuka pintu bagi pencobaan. Lalu ular berkata kepada perempuan itu, "Sekali-kali kamu tidak akan mati." Kalau diterjemahkan secara sederhana, maksud perkataan itu adalah: "Allah adalah pendusta." Alkitab berkata, "Pastikanlah bahwa dosamu akan menemukanmu." Tapi Iblis berkata, "Tidak akan terjadi apa-apa. Lakukan saja. Siapa yang akan tahu?" Alkitab berkata, "Kalau kamu berbuat dosa, Allah akan mendisiplin kamu." Tapi Iblis berkata, "Nikmati saja hidupmu. Bukankah kamu hidup di bawah kasih karunia?" Iblis selalu berusaha membuat Allah tampak seperti pendusta. Itulah sebabnya satu-satunya perlindungan Saudara terhadap tipu muslihat Iblis adalah perisai iman. Pilihannya hanya dua: Saudara percaya kepada Allah atau percaya kepada Iblis. Begitu Saudara mempercayai Iblis, perisai itu langsung jatuh, dan Saudara menjadi sasaran empuk. Tapi selama Saudara tetap percaya bahwa Allah selalu berkata benar, Saudara akan tahu apa yang harus dilakukan. Sedangkan Iblis terus berkata bahwa Allah adalah pendusta.

Sekarang mari kita buka kitab Ayub pasal 1. Saya ingin menunjukkan beberapa kebohongan Iblis yang lain, supaya kita tahu apa yang harus kita waspadai dari makhluk yang sudah begitu rusak ini. Ayub pasal 1. Saya membayangkan, mungkin Iblis sudah bosan mendengar para pengkhotbah di seluruh Amerika terus-menerus membicarakan semua ini tentang dirinya. Saya yakin dia akan mendengarnya, atau setidaknya ada yang akan melaporkannya kepadanya.

Ayub pasal 1 ayat 6 berkata, "Pada suatu hari datanglah anak-anak Allah menghadap TUHAN, dan di antara mereka datang juga Iblis." Yang dimaksud dengan "anak-anak Allah" di sini tampaknya adalah para malaikat. Di antara mereka datang juga Iblis, sang penentang. Lalu TUHAN bertanya kepada Iblis, "Dari mana engkau?" Kalau diterjemahkan ke dalam bahasa sehari-hari, kira-kira bunyinya, "Dari mana saja kamu?" Terasa berbeda kalau tidak memakai bahasa Inggris versi King James, bukan? Iblis menjawab, "Dari perjalanan berkeliling menjelajahi bumi." Seolah-olah dia berkata, "Aku sedang memeriksa semua orang." Gambaran di sini menunjukkan bahwa dia terus bergerak ke sana kemari dengan sangat sibuk. Lalu TUHAN berkata kepadanya, "Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sesungguhnya, tak ada seorang pun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah, dan menjauhi kejahatan." Seolah-olah Allah berkata, "Ketika kamu sibuk berkeliling tadi, apakah kamu melihat dia? Luar biasa, bukan?" Lalu Iblis menjawab, "Apakah dengan tidak mendapat apa-apa Ayub takut akan Allah?” Tahukah Saudara apa maksud perkataan itu? Kebohongan berikutnya yang disebarkan Iblis adalah bahwa orang-orang percaya hanyalah orang-orang yang mengejar keuntungan materi. Dia berkata, "Satu-satunya alasan Ayub melayani-Mu adalah karena Engkau memberinya begitu banyak berkat. Dia seperti anjing-anjing dalam percobaan Pavlov. Dia tahu Engkau ada, dan dia tahu Engkau akan memberinya hadiah. Jadi dia melakukan apa yang harus dia lakukan supaya mendapatkan hadiah itu. Orang-orang percaya itu materialistis. Engkau pikir dia melayani-Mu karena mengasihi-Mu? Tidak! Apakah dia melayani-Mu tanpa pamrih? Sama sekali tidak. Dia melayani-Mu karena ingin mendapatkan sesuatu dari-Mu. Dia hanya mengambil sebanyak mungkin dari-Mu."

Saudara tahu, saya yakin inilah salah satu kebohongan yang dipercaya banyak orang yang belum mengenal Kristus tentang kita. Mereka berpikir kita melakukan semua ini karena kita mendapatkan kepuasan tertentu, atau karena agama memenuhi kebutuhan psikologis kita, atau karena kita setia kepada Allah hanya karena Allah memberikan berbagai berkat kepada kita. Mereka menganggap kita hanyalah orang-orang yang mengejar keuntungan. Itulah salah satu kebohongan Iblis, dan kebohongan ini sangat populer. Lalu dia melanjutkan dengan kebohongan berikutnya pada ayat 10. Dia berkata, "Bukankah Engkau yang membuat pagar sekeliling dia dan keluarganya serta segala yang dimiliknya? Apa yang dikerjakannya telah Kauberkati dan apa yang dimilikinya makin bertambah di negeri itu.” Dengan kata lain, Iblis berkata, "Lihatlah, Allah. Engkau mengatakan bahwa Ayub itu orang baik? Ya tentu saja! Coba lihat hidupnya. Dia begitu kaya. Engkau memasang tembok perlindungan di sekelilingnya sehingga tidak ada apa pun yang dapat menyentuhnya. Siapa yang tidak akan setia kalau diperlakukan seperti itu? Lihat semua yang sudah Engkau berikan kepadanya. Tapi..." lalu ayat 11 berkata, "Layangkanlah tangan-Mu dan hancurkan segala yang dimilikinya. Ia pasti mengutuki Engkau di hadapan-Mu."

Apa sebenarnya kebohongan Iblis di sini? Kebohongannya adalah bahwa penderitaan dalam hidup orang percaya akan membuat mereka meninggalkan Allah. Seolah-olah dia berkata, "Tentu saja Ayub setia. Lihat saja semua berkat yang dia miliki. Kalau dia berada di posisiku, dia tidak akan begitu bersemangat mengikut Allah." Dengan kata lain, Iblis sedang menuduh bahwa Allah mempertahankan para pengikut-Nya hanya dengan memberikan berbagai berkat. Menurutnya, mereka sebenarnya tidak sungguh-sungguh mengasihi Allah. Itulah salah satu dari sekian banyak kebohongannya.

Masih ada lagi. Lihat pasal 2 ayat 1. "Pada suatu hari datanglah anak-anak Allah menghadap TUHAN, dan di antara mereka datang juga Iblis untuk menghadap TUHAN. TUHAN bertanya kepada Iblis, 'Dari mana engkau?'" Maksudnya, "Dari mana saja kamu?" Iblis menjawab, "Dari perjalanan berkeliling menjelajahi bumi." Lalu TUHAN berkata kepadanya, "Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub?" Peristiwa ini terjadi setelah Allah mengizinkan semua milik Ayub diambil. Tapi Ayub hanya berkata, "Tidak apa-apa, Tuhan. Aku keluar dari kandungan ibuku dengan telanjang, dan kalau sekarang aku kembali tanpa apa-apa, itu bukan perubahan yang besar. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN." Jadi Ayub tetap berdiri teguh. Ayat 22 berkata bahwa dalam semua itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berlaku salah. Lalu Iblis berkata dalam hatinya, "Aku harus mencoba orang ini sekali lagi." Maka Allah berkata kepadanya, " Sesungguhnya, tak ada seorang pun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah, dan menjauhi kejahatan."

Bagaimana mungkin Ayub masih tetap setia? Bukankah Engkau sudah mengizinkan semua miliknya dihancurkan? Lalu Iblis menjawab, "Kulit ganti kulit! Orang akan memberikan segala yang dimilikinya ganti nyawanya. Tetapi layangkanlah tangan-Mu dan sentuhlah tulang dan dagingnya, ia pasti mengutuki Engkau di hadapan-Mu." Seolah-olah Iblis berkata, "Engkau memang sudah mengambil semua keadaan yang menyenangkan dari hidupnya, tetapi yang paling penting bagi manusia adalah hidupnya sendiri. Sentuh tubuhnya, maka dia pasti akan menyerah." Lalu TUHAN berkata kepada Iblis, "Baiklah, dia dalam kuasamu, hanya sayangi nyawanya." Maka Iblis pergi dan menimpakan Ayub dengan barah yang sangat menyakitkan, dari telapak kaki sampai ke puncak kepalanya. Ayub mengambil sepotong pecahan tembikar untuk menggaruk tubuhnya. Yang dimaksud di sini adalah pecahan periuk yang dipakainya untuk mengikis luka-lukanya yang mengering. Kemudian istrinya datang dan berkata, "Kutukilah Allahmu dan matilah." Padahal istrinya sendiri tidak mengalami barah itu. Tetapi Ayub menjawab, seperti yang tertulis pada ayat 10, "Engkau berbicara seperti perempuan bebal. Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?" Dan Alkitab berkata, "Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya." Bukankah itu luar biasa?

Kebohongan Iblis adalah bahwa orang Kristen hanyalah orang-orang yang mengejar keuntungan. Menurutnya, penderitaan akan membuat mereka meninggalkan Allah. Dia juga berkata bahwa yang penting hanyalah kehidupan di dunia ini. Begitu tubuh mereka disakiti, mereka pasti akan berpaling dari Allah. Padahal kenyataannya justru sering kali sebaliknya. Sangat sering, ketika seorang percaya mengalami penderitaan fisik yang berat, pada saat itulah dia justru semakin berpaut kepada Allah. Iblis adalah seorang pendusta. Saya akan menunjukkan beberapa kebohongannya yang lain. Sekarang mari kita buka Matius pasal 4. Wah, yang satu ini berhasil membuat begitu banyak orang percaya. Banyak sekali. Saya pernah membaca sebuah buku tentang hal ini. Judulnya... saya sempat lupa... Oh ya, Like a Mighty Wind (Seperti Angin yang Dahsyat), karya Mel Tari, yang menceritakan tentang sebuah kebangunan rohani yang katanya terjadi di Indonesia.

Yang menarik dari buku itu adalah dia mengatakan bahwa suatu kali mereka—kalau tidak salah, ini justru diceritakannya di luar isi buku, ketika saya mendengar dia memberikan kesaksian—mereka mengadakan sebuah pertemuan yang luar biasa setelah kebaktian selesai. Semua orang merasa lapar dan membutuhkan makanan ringan. Orang yang seharusnya membawanya ternyata lupa. Lalu, menurut ceritanya, Allah secara seketika menciptakan puding di dapur untuk semua orang. Ya, itulah yang dia katakan. Allah menciptakan puding secara instan. Sungguh. Saya sendiri tidak tahu di mana kisah seperti itu cocok dalam pemahaman teologi Saudara, tetapi jelas tidak cocok dalam pemahaman teologi saya. Cara berpikir seperti itu mencerminkan salah satu kebohongan Iblis, yaitu bahwa Allah melakukan mukjizat hanya untuk memuaskan kebutuhan jasmani manusia.

Perhatikan Matius 4:3, "Lalu datanglah si penggoda dan berkata kepada-Nya, "Karena Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.'" Seolah-olah Iblis berkata, "Engkau lapar, dan Engkau adalah Anak Allah. Dahulu Allah memberi makan bangsa Israel di padang gurun, padahal mereka hanyalah manusia biasa dan penuh dosa. Apalagi Engkau adalah Anak Allah. Puaskanlah kebutuhan-Mu. Lakukan mukjizat untuk memenuhi kebutuhan jasmani-Mu." Tetapi Yesus menjawab, "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah." Salah satu kebohongan besar Iblis adalah membuat orang percaya bahwa Allah melakukan mukjizat terutama untuk memenuhi kebutuhan fisik manusia. Saat ini ada banyak orang yang hanya mengejar mukjizat. Mereka menganggap Allah seperti jin ajaib di alam semesta, semacam pesulap supranatural yang terus-menerus melakukan pertunjukan. Mereka bahkan menganggap bahwa tuntutan mereka akan mukjizat adalah bukti iman yang besar. Padahal, terus-menerus menuntut mukjizat bukanlah bukti iman sama sekali. Itu justru merupakan bukti keraguan yang sedang mencari pembenaran.

Saya pernah bertemu dengan sepasang suami istri di Iowa. Mereka adalah pasangan yang sangat baik. Suatu hari mereka datang ke kamar motel tempat saya dan istri saya sedang belajar. Mereka mengetuk pintu dengan wajah yang sangat gelisah. Setelah masuk, mereka berkata, "Kami harus berbicara dengan Anda. Kami benar-benar harus berbicara dengan Anda." Saya menjawab, "Baik, silakan masuk." Kami pun duduk bersama. Lalu sang istri mulai bercerita bahwa mereka adalah orang-orang yang baru percaya kepada Kristus. Setelah itu mereka bergabung dengan sekelompok orang yang selalu mencari mukjizat, mukjizat, dan mukjizat, serta terus membicarakan dan mengejar mukjizat. Tahukah Saudara, setelah Allah, siapakah yang dapat melakukan mukjizat paling hebat di seluruh alam semesta? Iblis. Dia melakukannya terus-menerus demi memuaskan kebutuhan jasmani manusia. Tapi sebagian orang Kristen mengira bahwa semuanya itu berasal dari Allah.

Kemudian perempuan itu mulai menceritakan berbagai mukjizat yang menurut mereka sedang terjadi dalam keluarganya. Yang paling luar biasa, katanya, adalah putri mereka yang saat itu berusia sekitar tujuh tahun mulai menerima penyataan-penyataan dari Allah. Penyataan yang luar biasa, katanya, mengalir terus setiap malam. Mereka mencatat semuanya. "Oh ya, ya, ya... Coba ulangi lagi yang tadi," begitu kira-kira yang mereka lakukan sambil menulis semua penyataan itu. Malam demi malam mereka menuliskan apa yang mereka yakini sebagai wahyu dari Allah. Setiap malam, anak perempuan berusia tujuh tahun itu tidur, lalu di tengah malam dia terbangun dengan tubuh berkeringat dingin. Dia melihat berbagai penampakan aneh di kamarnya, lalu mulai menceritakan penglihatan-penglihatan itu. Mereka berkata kepada saya, "Kami menuliskan semuanya, dan kami percaya semua ini berasal dari Allah. Kami ingin Anda tahu akan hal ini." Saya menduga mereka ingin saya membantu menafsirkan semua pengalaman itu, tetapi kami bahkan belum sempat sampai ke pertanyaan berikutnya. Mereka langsung bertanya, "Menurut Anda bagaimana?"

Bagi mereka, semua itu sangat mengasyikkan, karena ada orang yang telah mengajarkan bahwa begitulah kehidupan Kristen. Seolah-olah setiap hari harus ada satu mukjizat. Seperti ungkapan, "Satu apel sehari membuat dokter menjauh," atau apa pun pepatah itu. Atau mungkin, "Satu mukjizat sehari membuat Iblis menjauh." Pokoknya begitulah cara berpikir mereka. Mereka begitu terobsesi dengan mukjizat. Maka saya berkata kepada mereka, "Izinkan saya mengatakan sesuatu sejak awal. Tidak satu pun dari pengalaman itu berasal dari Allah." Mereka sangat terkejut. Benar-benar terkejut. Lalu mereka berkata, "Sebenarnya kami juga sempat bertanya-tanya. Banyak hal memang tampaknya baik, tetapi ada juga yang terasa aneh. Dan anak kami selalu sangat ketakutan." Memang akhirnya anak itu menjadi penuh rasa takut. Dia bahkan ingin terus tidur bersama orang tuanya. Lalu saya berkata, "Tidak satu pun dari semua itu berasal dari Allah. Tahukah Saudara mengapa? Karena Allah sudah memberikan penyataan-Nya, dan semuanya ada di sini, di dalam Firman-Nya. Coba pikirkan. Kalau Allah masih memiliki sesuatu yang baru untuk disampaikan kepada seluruh dunia, mengapa Dia harus menyampaikannya kepada seorang anak perempuan berusia tujuh tahun di Iowa?"

Ternyata mereka pernah mengikuti sebuah kelompok pendalaman Alkitab, tempat seseorang mengajarkan bahwa orang Kristen seharusnya selalu mengharapkan mukjizat demi mukjizat. Nah, di situlah letak salah satu kebohongan besar Iblis. Dia membuat orang berpikir bahwa Allah seolah-olah tidak bekerja kecuali kalau ada mukjizat, mukjizat, mukjizat, dan mukjizat. Akibatnya, orang mulai mengejar pengalaman-pengalaman seperti itu. Lalu Iblis masuk dan mulai melakukan hal-hal yang memikat pikiran mereka. Itulah salah satu kebohongannya. Iblis adalah pendusta. Masih banyak kebohongan lain yang sebenarnya bisa kita bahas. Dia berdusta tentang begitu banyak hal. Ada satu kebohongan lain yang juga sering dia gunakan. Dia membuat orang berpikir bahwa mereka bisa mempermainkan Allah dan memanfaatkan janji-janji-Nya sesuka hati. Mari kita lihat Matius 4:5. Menarik sekali. Iblis membawa Yesus ke kota suci, menempatkan-Nya di bubungan Bait Allah, lalu berkata, "Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah." Silakan saja melompat. Cara seperti itu sebenarnya sudah pernah dicoba sebelumnya, tetapi gagal. Lalu Yesus seolah bertanya, "Mengapa Aku harus melakukannya?" Iblis menjawab dengan mengutip Firman Tuhan, "Sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menerima Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk pada batu." Maksud Iblis adalah, "Allah sudah berjanji akan melindungi-Mu. Jadi manfaatkan saja janji itu. Paksa Allah untuk menepati janji-Nya. Sudutkan Dia sehingga Dia harus melakukannya." Itulah salah satu kebohongan Iblis. Lakukan sesuatu yang spektakuler, nanti Allah pasti turun tangan. Padahal itu sama sekali memutarbalikkan maksud Firman Tuhan.

Lalu ada lagi kebohongan yang lain, yaitu bahwa Saudara bisa mencapai tujuan Allah dengan jalan pintas. Saudara bisa memperoleh apa yang Saudara inginkan dengan cara sendiri, tanpa harus mengikuti jalan Allah. Padahal Allah memang telah menetapkan bahwa Mesias akan menerima kerajaan-kerajaan dunia. Tetapi Iblis berkata, "Lakukan dengan caraku." Dalam ayat 8, 9, dan 10 dia berkata, "Sembahlah aku, maka semuanya akan kuberikan kepada-Mu. Engkau tidak perlu menunggu. Engkau tidak perlu pergi ke salib. Engkau tidak perlu membayar harga yang mahal. Engkau tidak perlu mengalami penderitaan. Aku akan memberikan semuanya kepada-Mu. Ikuti saja caraku." Itulah salah satu lagi kebohongan Iblis. Dan masih banyak lagi yang lainnya. Iblis adalah pembunuh, dan dia juga seorang pendusta.

Saya ingin memberitahukan satu hal lagi tentang dirinya. Ketiga, kalau kita melihat istilah-istilah yang menggambarkan karakternya, Iblis adalah seorang pendosa. Dalam 1 Yohanes 3:8 terdapat ayat yang sangat penting. Dikatakan, "Siapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab sejak semula Iblis terus-menerus berbuat dosa." Iblis adalah pendosa yang terus-menerus hidup dalam dosa. Minggu lalu kita melihat bagaimana dahulu dia diciptakan dengan kekudusan dan keindahan. Minggu ini kita melihat betapa dalam dosanya. Dari situ Saudara bisa memahami betapa dahsyatnya kejatuhannya. Seperti yang dikatakan Yesus, Dia melihat Iblis "jatuh dari langit seperti kilat." Kerusakan yang terjadi pada dirinya sungguh luar biasa. Dalam ayat ini, bentuk kata kerja bahasa Yunaninya menunjukkan seseorang yang terus-menerus, secara tetap dan menjadi kebiasaan, hidup dalam dosa. Orang seperti itu berasal dari Iblis, karena Iblislah sumber dari dosa. Dan ketika Kristus datang ke dunia, Dia datang bukan hanya untuk menghapus dosa, tetapi juga untuk menghancurkan Iblis. Perhatikan bagian akhir ayat 8, "Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis." Kristus datang bukan hanya untuk menyingkirkan dosa, tetapi juga untuk menghancurkan Iblis. Dia adalah seorang pendosa. Dia menggoda orang lain supaya berbuat dosa. Dia menarik manusia kepada kejahatan. Dan Kristus datang untuk menghancurkan dia.

Keempat, dan kita hanya akan membahas beberapa hal lagi, Iblis adalah penindas orang-orang percaya. Seperti yang tadi saya bacakan dari 1 Petrus 5:8, dia "berjalan keliling." Bentuk kata kerjanya dalam bahasa aslinya menunjukkan bahwa dia terus-menerus mengintai. Dia seperti singa yang mengaum, mencari siapa yang dapat ditelannya. Dia terus memburu mangsanya, dan ketika mangsanya sudah berada dalam jangkauannya, barulah dia mengaum. Dia menindas orang-orang percaya. Dia memburu mereka, berusaha menjebak mereka, dan menyeret mereka ke dalam dosa. Yang kelima, Iblis suka memutarbalikkan. Sangat menarik melihat bahwa hampir setiap hal baik yang Allah ciptakan telah dia rusak. Dia memutarbalikkan segala sesuatu. Allah menciptakan buah anggur untuk dinikmati, tetapi Iblis memutarbalikkannya menjadi alkoholisme. Allah menciptakan hubungan seksual sebagai sesuatu yang baik untuk dinikmati dalam pernikahan, tetapi Iblis mengubahnya menjadi sesuatu yang najis dan penuh perzinahan. Memang itulah pekerjaannya, yaitu merusak setiap hal baik yang Allah ciptakan. Saya tidak bisa tidak memikirkan satu hal yang sedang terlintas di pikiran saya hari ini. Contohnya di bidang makanan. Mungkin ini sedikit keluar dari pembahasan utama, tetapi coba pikirkan. Bahkan sesuatu yang baik seperti makanan pun telah berhasil diputarbalikkan oleh Iblis.

Memang orang tidak mabuk karena makanan seperti halnya karena minuman keras, tetapi seseorang bisa menjadi rakus. Iblis berhasil mendorong manusia ke arah itu. Sekarang mari kita lihat sebentar 1 Timotius pasal 4 ayat 3. Di sana dikatakan bahwa Iblis datang melalui ajaran-ajaran setan. Salah satu ajaran itu adalah melarang orang untuk menikah. Lalu Paulus melanjutkan dengan berkata, "Salah satu ajaran roh-roh jahat juga adalah melarang orang makan makanan yang diciptakan Allah supaya dengan pengucapan syukur dimakan oleh orang yang percaya dan yang telah mengenal kebenaran." Yang sedang dibahas Paulus di sini adalah bahwa Iblis telah mengambil sesuatu yang sederhana seperti makanan, lalu memutarbalikkannya. Dalam beberapa sistem kepercayaan, dia membuat orang percaya bahwa kerohanian seseorang ditentukan oleh apa yang dimakannya. Seolah-olah tingkat kerohanian bergantung pada jenis makanan yang dimakan.

Saya percaya bahwa banyak orang Yahudi merasa tingkat kerohanian mereka bergantung pada apa yang mereka makan. Ketika gereja berdiri pada zaman Perjanjian Baru, banyak orang Kristen berlatar belakang Yahudi masih berpikir bahwa kerohanian mereka ditentukan oleh makanan yang mereka makan atau yang tidak mereka makan. Itulah persoalan yang sedang dibahas Paulus dalam 1 Korintus pasal 8 mengenai daging yang dipersembahkan kepada berhala, dan juga dalam Roma pasal 14 dan 15 ketika mereka saling memperdebatkan soal makanan. Iblis sangat senang jika orang berpikir bahwa kerohanian mereka bergantung pada apa yang mereka makan. Saya yakin ada orang-orang di dunia ini yang benar-benar percaya bahwa seseorang menjadi lebih rohani hanya karena menjadi seorang vegetarian. Dengan cara itu, Iblis kembali memutarbalikkan sesuatu yang baik, bahkan membawanya ke berbagai bentuk ekstrem lainnya. Padahal ayat berikutnya berkata, "Karena semua yang diciptakan Allah itu baik dan suatu pun tidak ada yang haram, jika diterima dengan ucapan syukur." Tapi Iblis juga memutarbalikkan ayat itu ke arah yang sebaliknya. Firman Tuhan mengatakan bahwa semua ciptaan Allah itu baik dan boleh diterima, lalu ada orang yang menggunakan ayat itu sebagai alasan untuk melahap apa saja yang mereka lihat. Mereka berkata, "Lihatlah semua yang Allah sediakan. Berikan semuanya kepada saya. Kelihatannya enak sekali. Tambahkan krim kocok juga sekalian."

Mereka akhirnya jatuh ke sisi yang berlawanan. Kalau sebelumnya orang menganggap pantang makan sebagai tanda kerohanian, sekarang mereka berkata, "Tidak ada lagi yang dilarang untuk saya makan." Lalu Iblis terus mendorong mereka sampai akhirnya jatuh ke dalam kerakusan. Dalam 1 Petrus 4:3 dikatakan, "Sebab telah cukup banyak waktu kamu pergunakan untuk melakukan apa yang suka dilakukan bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Kamu telah hidup dalam berbagai hawa nafsu, keinginan, kemabukan, pesta pora..." Istilah "pesta pora" dan "kemabukan" di bagian itu juga mencakup kebiasaan makan secara berlebihan. Jadi, kerakusan termasuk di dalam gambaran tersebut. Allah sangat serius mengenai keseimbangan hidup, penguasaan diri, dan hidup yang tidak berlebihan dalam hal ini. Amsal 23:1 berkata, "Ketika engkau duduk makan dengan seorang pembesar, perhatikanlah baik-baik apa yang ada di depanmu." Lalu ayat berikutnya mengatakan sesuatu yang sangat kuat, "Taruhlah sebuah pisau pada lehermu, jika besar seleramu!" Wah, kalau dipikir-pikir, itu seperti program diet yang paling efektif. Kita mungkin tertawa mendengarnya, tetapi sebenarnya firman ini berbicara tentang masalah yang sangat nyata, terutama di masyarakat kita sekarang, ketika sebagian besar pekerjaan dilakukan sambil duduk dan tidak lagi menguras tenaga secara fisik. Tetapi itulah yang dikatakan Firman Allah.

Amsal 23 kemudian melanjutkan pada ayat 20, "Janganlah engkau ada di antara peminum anggur dan pelahap daging. Karena si peminum dan si pelahap menjadi miskin, dan kantuk membuat orang berpakaian compang-camping." Maksudnya sederhana. Kalau seseorang terlalu banyak minum, terlalu banyak makan, lalu menjadi malas, akhirnya dia tidak mau bekerja. Kalau dia tidak bekerja, dia tidak memperoleh penghasilan. Dan kalau tidak memiliki penghasilan, akhirnya dia hidup dalam kemiskinan. Kerakusan adalah persoalan yang serius. Contoh ini menunjukkan bagaimana Allah memberikan sesuatu yang sangat baik, yaitu makanan, untuk menjadi sumber tenaga bagi tubuh kita. Tapi manusia telah memutarbalikkan pemberian itu. Ada yang menjadikan makanan sebagai ukuran kerohanian, berdasarkan apa yang boleh atau tidak boleh dimakan. Di sisi lain, ada juga yang menyalahgunakan kebebasan yang Allah berikan dalam hal makanan sehingga jatuh ke dalam kerakusan. Akibatnya, mereka tidak lagi makan supaya dapat hidup, tetapi justru hidup hanya untuk makan. Iblis benar-benar telah memutarbalikkan dan merusak segala sesuatu. Tidak ada satu pun bagian dari kehidupan manusia yang berada di luar jangkauan usahanya untuk merusak. Itulah karakternya. Dia selalu memutarbalikkan segala sesuatu yang baik.

Terakhir, Iblis adalah seorang peniru. Dia tidak pernah memiliki gagasan yang benar-benar asli, kecuali dosa. Setelah itu, yang dia lakukan hanyalah meniru. Siapa yang dia tiru? Allah. Dalam 2 Korintus 11:13 dikatakan, "Sebab orang-orang itu adalah rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, yang menyamar sebagai rasul-rasul Kristus. Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblis pun menyamar sebagai malaikat Terang. Jadi, bukanlah suatu hal yang ganjil, jika pelayan-pelayannya menyamar sebagai pelayan-pelayan kebenaran." Nah, itulah kenyataannya. Iblis adalah seorang peniru. Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, kalau Saudara berpikir bahwa orang yang dipakai Iblis pasti seorang gelandangan, pemabuk, penjahat, atau orang yang hidup dalam penyimpangan seksual, maka Saudara keliru. Saya bahkan membayangkan Iblis sendiri mungkin merasa jijik terhadap orang-orang seperti itu. Mereka bukan iklan yang baik bagi dirinya. Karya terbaiknya justru adalah seorang yang tampak baik, jujur, terhormat, dan religius, tetapi mengajarkan ajaran palsu dengan memakai kedok agama yang benar. Itulah cara kerja Iblis. Dia menyamar sebagai malaikat terang. Dahulu dia adalah malaikat terang, dan sampai sekarang dia selalu tampil sebagai malaikat terang. Dia adalah seorang peniru. Dia adalah penipu. Dia bisa tampil seperti seorang pengkhotbah yang menyamar sebagai utusan Allah. Tahukah Saudara apa yang paling mengerikan tentang antikristus yang akan datang? Bukan karena dia sangat berbeda dari Kristus, tetapi justru karena dia sangat mirip dengan Kristus.

Apakah Iblis benar-benar ada? Ya. Siapakah dia? Dia adalah Lucifer yang telah jatuh. Seperti apakah dia? Semua yang sudah kita pelajari malam ini menjawab pertanyaan itu. Minggu depan kita akan melihat bagaimana dia bekerja melalui orang-orang yang menjadi miliknya, dan juga bagaimana dia berusaha bekerja terhadap anak-anak Allah.

Mari kita berdoa. Bapa kami, kami tahu bahwa hanya ada satu jalan untuk mengalahkan musuh kami, dan Firman-Mu menjelaskannya dengan sangat jelas. Kami teringat akan kata-kata yang indah dalam Wahyu 12:11, "Mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba." Bapa, kami tahu bahwa di kayu salib, Anak Domba Allah yang kudus, yang tidak bercacat dan tidak bernoda, telah mengalahkan Iblis dan melumpuhkan kuasanya. Lalu Engkau menempatkan Roh Kudus di dalam setiap orang yang percaya kepada Kristus, sehingga kami memperoleh kuasa dan kemenangan di dalam Dia. Kami bersyukur kepada-Mu, Bapa, karena bagi kami yang mengenal Tuhan Yesus Kristus, Iblis adalah musuh yang sudah dikalahkan. Tapi pada saat yang sama, Tuhan, kami juga menyadari bahwa bagi mereka yang menolak Tuhan Yesus Kristus dan belum pernah menerima-Nya sebagai Juruselamat, Iblis adalah roh yang bekerja di dalam mereka, mengendalikan hidup dan menentukan arah hidup mereka. Karena itu, Bapa, malam ini kami berdoa. Kami yakin bahwa di tengah-tengah orang banyak seperti ini pasti ada orang-orang yang masih berada di bawah tipu daya, kelicikan, dan kuasa Iblis yang adalah pembunuh, pendusta, pendosa, dan perusak. Kami memohon, kiranya melalui Roh-Mu, Engkau mematahkan setiap belenggu yang mengikat mereka dan membebaskan mereka. Biarlah melalui iman kepada Tuhan Yesus Kristus mereka mengalami kemerdekaan dari dosa, dipindahkan dari kerajaan kegelapan ke dalam Kerajaan Anak-Mu yang terkasih. Ya Bapa, biarlah karya itu terjadi malam ini demi pujian dan kemuliaan nama-Mu. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

SELESAI

This sermon series includes the following messages:

Please contact the publisher to obtain copies of this resource.

Publisher Information
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969

Welcome!

Enter your email address and we will send you instructions on how to reset your password.

Back to Log In

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize
View Wishlist

Cart

Cart is empty.

Subject to Import Tax

Please be aware that these items are sent out from our office in the UK. Since the UK is now no longer a member of the EU, you may be charged an import tax on this item by the customs authorities in your country of residence, which is beyond our control.

Because we don’t want you to incur expenditure for which you are not prepared, could you please confirm whether you are willing to pay this charge, if necessary?

ECFA Accredited
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Back to Cart

Checkout as:

Not ? Log out

Log in to speed up the checkout process.

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize