Malam ini kita akan memulai sebuah seri yang berjudul "Pasukan yang Tak Terlihat," yang membahas tentang para malaikat. Dan sebenarnya saya tidak perlu membahas terlalu jauh malam ini, karena kita bisa menghentikannya di bagian mana saja. Pesan ini seperti sosis yang terdiri dari banyak sambungan; Anda bisa memotongnya di bagian mana pun dan tetap mendapatkan isinya. Jadi pembahasannya akan dibagi menjadi beberapa bagian sesuai kebutuhan, karena pada dasarnya ini adalah pembahasan teologi, dan kita akan membahas pokok-pokok ajaran teologis. Malam ini kita akan mulai masuk ke dalam pembahasan tentang para malaikat, khususnya malaikat-malaikat yang baik, kudus, dan terpilih, seperti yang disebutkan dalam Alkitab, berbeda dengan malaikat-malaikat yang jatuh dalam dosa, yaitu roh-roh jahat yang biasa kita kenal sebagai roh jahat. Tentang mereka sebenarnya kita sudah sering membahasnya, dan baru-baru ini dalam pelajaran kita tentang kitab Yudas, Anda tentu masih ingat bahwa kita mempelajari dengan cukup mendalam tentang organisasi serta sebagian dari sifat para malaikat yang telah jatuh itu. Jadi sekarang kita ingin memberikan perhatian yang sama kepada para malaikat yang kudus dalam pembahasan ini.
Camille Flammarion pernah mengatakan sesuatu yang mungkin dapat membantu kita memahami seperti apa luasnya ruang angkasa yang tak berujung. Ia berkata, "Baru kemudian saya mengerti bahwa semua bintang yang pernah diamati di langit, jutaan benda bercahaya, matahari dengan berbagai ukuran dan tingkat terang, tata surya, planet-planet, dan satelit-satelit, yang berjuta-juta bahkan ratusan juta jumlahnya mengisi kehampaan di sekitar kita, dan semua yang oleh manusia disebut sebagai alam semesta, sebenarnya di hadapan ketidakterbatasan, tidak lebih dari sebuah pulau, bahkan tidak lebih dari sebuah kota dalam keseluruhan jumlah penduduk yang sangat besar. Di kota yang berada dalam kerajaan tanpa batas itu, matahari kita beserta tata suryanya hanyalah satu rumah, satu rumah saja di antara jutaan penghuninya. Dan bumi hanyalah sebuah ruangan di dalam rumah yang bernama tata surya itu."
Sungguh luar biasa ketika kita menyadari betapa luasnya ruang angkasa. Saya sering ditanya, "Apakah Anda percaya bahwa ada makhluk hidup di tempat lain selain di bumi?" Jawaban saya selalu, "Ya, tentu saja. Alam semesta dipenuhi oleh berbagai makhluk yang hidup di dalamnya." Pertanyaan berikutnya yang biasanya muncul adalah, "Oh, berarti Anda percaya pada UFO?" Jawaban saya, "Ya, saya percaya ada benda-benda terbang yang belum teridentifikasi. Tapi bukan benda-benda yang berputar-putar seperti piring terbang yang sering dibayangkan orang. Saya percaya Alkitab mengajarkan bahwa ada makhluk-makhluk yang mendiami alam semesta, benar-benar berjuta-juta jumlahnya, memenuhi ruang kosong di sekitar kita. Jumlah mereka tidak terhitung. Mereka hidup di alam surgawi; mereka adalah makhluk-makhluk yang luar biasa. Dan sejak manusia diciptakan, mereka telah terlibat dalam berbagai urusan kehidupan manusia."
Sebagai contoh, dalam Ibrani 13:2 dikatakan, "Jangan kamu lalai memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang tanpa diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat." Salah satu tokoh yang paling luar biasa yang pernah hidup, dan yang biografinya saya baca kembali minggu ini karena selalu menyentuh hati saya setiap kali membacanya, adalah John Paton, seorang misionaris di New Hebrides. Ia menceritakan sebuah kisah tentang perlindungan malaikat yang pernah ia alami. Suatu malam, sekelompok penduduk asli yang liar mengepung rumahnya. Mereka menari-nari dengan liar dan melompat-lompat di tengah hutan sambil berniat membunuh John dan istrinya. Mereka pun berlutut karena menyadari bahwa tidak ada cara bagi mereka untuk melindungi diri dari para kanibal itu, lalu mereka berdoa. Tidak lama kemudian, semua penyerang itu menghilang begitu saja ke dalam hutan. Menurut penulis biografi Paton, setahun kemudian kepala suku itu menjadi seorang Kristen. Saat itulah John bertanya kepadanya, "Apa yang sebenarnya terjadi malam itu, sekitar setahun yang lalu, ketika orang-orangmu mengepung pondok kecil kami di dekat pantai, lalu tiba-tiba mereka pergi?" Inilah jawaban kepala suku itu. "Kami pergi karena semua orang yang bersama kalian." John berkata, "Tidak ada orang lain. Hanya saya dan istri saya." Tapi kepala suku itu bersikeras bahwa mereka melihat banyak pria bertubuh besar berdiri berjaga mengelilingi rumah itu. Mereka mengenakan pakaian yang berkilau dan memegang pedang di tangan mereka. Apakah Allah mengutus satu pasukan malaikat untuk melindungi hamba-Nya? Itu bukanlah pertama kalinya hal seperti itu terjadi.
Dalam 2 Raja-raja pasal 6 kita menemukan kisah yang sangat menarik. Ayat 15 berkata, "Ketika pelayan abdi Allah bangun pagi-pagi..." Pada saat itu Elisa sedang berada dalam bahaya besar. Abdi Allah yang dimaksud di sini adalah Elisa. Pelayannya bangun pagi-pagi dan keluar, lalu melihat bahwa sebuah pasukan lengkap dengan kuda dan kereta perang telah mengepung kota itu. Suatu pasukan besar sedang bergerak mendekat. Pelayan itu berkata kepada Elisa, "Aduh tuanku, bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan? Kita sudah dikepung." Tapi Elisa menjawab, "Jangan takut, sebab yang menyertai kita lebih banyak daripada yang menyertai mereka." Dengan kata lain, pasukan di pihak kita lebih besar daripada pasukan mereka. Bisa dibayangkan reaksi pelayan itu, "Benarkah?" Lalu Elisa berdoa, "Ya TUHAN, bukalah kiranya matanya supaya ia dapat melihat." Saya sangat menyukai doa itu. Lalu TUHAN membuka mata pelayan muda itu, dan ia pun melihat. Apa yang ia lihat? "Sesungguhnya gunung itu penuh dengan kuda dan kereta berapi yang mengelilingi Elisa." Itulah pasukan yang tak terlihat, Saudara.
Pada masa Perang Dunia II ada sebuah kisah terkenal tentang Kapten Eddie Rickenbacker yang pesawatnya ditembak jatuh di Samudra Pasifik. Kisah ini ia ceritakan sendiri kepada Billy Graham. Selama berminggu-minggu ia terombang-ambing di lautan, dan Anda mungkin masih ingat kisah bagaimana ia hanyut tanpa pertolongan. Setelah akhirnya berhasil diselamatkan, inilah yang ia ceritakan. "Sebenarnya saya ragu untuk menceritakan bagian ini, kalau saja tidak ada enam orang saksi yang melihatnya bersama saya. Seekor burung camar tiba-tiba muncul entah dari mana dan hinggap di kepala saya di tengah Samudra Pasifik. Dengan sangat pelan saya mengangkat tangan, menangkapnya, lalu membunuhnya. Kami membaginya sama rata di antara kami, dan kami memakan setiap bagiannya. Belum pernah ada makanan yang terasa seenak itu. Saya tidak punya penjelasan selain bahwa Allah mengutus salah satu malaikat-Nya untuk menyelamatkan kami."
Pernahkah Anda membaca kisah yang sangat mengejutkan tentang Pasukan Berkuda Putih di Bethune, Prancis, pada bulan April 1918? Gwynn Day mencatat kisah itu dalam bukunya The Wonder of the Word (Keajaiban Perkataan), yang diterbitkan oleh Moody Press pada tahun 1957. Inilah yang ia tuliskan. "Kisah tentang Pasukan Berkuda Putih di Bethune disaksikan oleh ribuan tentara Jerman, dan diceritakan kembali melalui perkataan seorang perwira Prusia," lalu ia mengutip: "Kami sedang memimpin pasukan kami maju ke depan. Semua prajurit sedang bersemangat, bernyanyi sambil berjalan, karena kami mengira pasukan Inggris telah dikalahkan dan yang tersisa hanyalah terus maju tanpa perlawanan untuk merebut Paris. Di samping saya ada Letnan Fritz. Tiba-tiba ia memegang lengan saya dan berkata, 'Lihat, Kapten! Ada sekelompok besar pasukan berkuda yang sedang mendekati Bethune dari arah seberang. Mereka berpakaian putih dan menunggang kuda putih. Siapa mereka?' Saya menjawab, 'Saya tidak tahu. Mungkin mereka pasukan berkuda dari koloni Inggris.' Kami pun berhenti tanpa sadar dan berdiri memperhatikan pasukan berkuda berpakaian putih itu maju perlahan menembus asap perang, sementara sosok mereka tampak jelas diterangi sinar matahari."
"Kami melihat peluru-peluru meriam meledak di tengah-tengah mereka, menghancurkan apa pun yang terkena serpihannya dengan ledakan yang mengguncang tanah. Setelah itu rentetan tembakan senapan mesin menyapu mereka dari segala arah, sehingga rasanya mustahil ada seorang pun yang bisa selamat. Tapi Pasukan Berkuda Putih itu terus maju dengan tenang dalam langkah perlahan. Tidak satu pun penunggang ataupun kudanya yang roboh. Seperti gelombang pasang yang tidak dapat dihentikan, mereka terus bergerak maju. Di depan mereka menunggang pemimpin mereka, seorang pria yang tampak sangat agung. Di sisinya tergantung sebilah pedang besar, bukan pedang pasukan berkuda biasa, melainkan pedang seperti yang digunakan para tentara Perang Salib. Tangannya memegang kendali kuda putih besarnya dengan tenang, sementara kuda itu melangkah maju dengan gagah. Lalu rasa takut yang luar biasa menguasai saya, dan saya mendapati diri saya melarikan diri dari pasukan berkuda yang begitu menggentarkan itu. Saya benar-benar ketakutan. Di sekeliling saya ada kerumunan orang yang tadinya merupakan sebuah pasukan, tapi sekarang hanya menjadi massa yang kacau, hancur, dan dipenuhi rasa takut. Mereka semua melarikan diri dari Pasukan Berkuda Putih itu, terutama dari pemimpin mereka yang luar biasa yang menunggang kuda putih besar itu. Tentara Jerman telah dikalahkan. Kami telah kalah dalam perang ini, dan semua itu disebabkan oleh Pasukan Berkuda Putih."
Anda mungkin bertanya, "Apa artinya semua itu?" Mungkin Mazmur 34:8 memberikan penjelasannya, "Malaikat TUHAN berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, lalu meluputkan mereka." Tahukah Anda apa yang diyakini sebagian orang tentang kisah itu? Mereka percaya bahwa Allah telah menjawab doa-doa bangsa Inggris dan menyelamatkan negeri itu. Apakah Allah menjawab doa mereka dengan mengutus pasukan-Nya yang tak terlihat, dan memberikan kepada orang-orang itu sekilas pandangan tentang bala tentara-Nya? Sangat mungkin. Kenyataannya, alam semesta ini memang dihuni oleh makhluk-makhluk tersebut. Dan meskipun pada umumnya mata manusia tidak dapat melihat mereka, mereka tetap hadir dan beraktivitas di bumi, di sekeliling kita.
Yang menarik adalah, ketika mulai berbicara tentang malaikat-malaikat kudus, orang justru lebih skeptis dibandingkan ketika kita berbicara tentang roh-roh jahat. Mereka ada di dalam suatu dimensi yang tidak dapat kita pahami. Albert Einstein pernah berkata, "Sangat mungkin pada saat ini ada sebuah kereta api sedang melintas tepat di tengah ruangan ini, hanya saja kita tidak dapat melihatnya karena kereta itu berada dalam dimensi yang sama sekali berbeda." Ruangan ini dipenuhi oleh para malaikat. Mereka ada di mana-mana di sekitar kita. Dan mungkin juga ada beberapa roh jahat yang berkeliaran di sini. Hanya karena kita tidak dapat melihat mereka, bukan berarti mereka tidak ada. Mereka hidup dalam suatu dimensi yang tidak dapat kita tangkap dengan pancaindra kita, Tapi mereka benar-benar ada. John Milton pernah berkata—ya, John Milton, bukan Milton Berle—Jon Milton berkata, supaya Anda tidak salah paham siapa yang dimaksud—"Jutaan makhluk rohani berjalan di bumi tanpa terlihat." Jutaan. Ketika penglihatan alami dari pelayan muda dalam 2 Raja-raja 6 itu diubahkan, ia melihat pasukan yang tak terlihat itu, bukan? Ia benar-benar melihat mereka.
Sekalipun keberadaan mereka nyata—dan tidak ada alasan untuk meragukannya—faktanya adalah bahwa jumlah mereka berjuta-juta, Tapi kebanyakan orang justru mengabaikan malaikat-malaikat kudus. Tahukah Anda, kesempurnaan dan kebenaran sering kali dianggap tidak terlalu menarik. Kita justru jauh lebih tertarik membicarakan roh-roh jahat daripada malaikat-malaikat kudus. Mungkin itulah salah satu alasan mengapa kita perlu mempelajari topik ini lebih dalam. Kita memiliki ketertarikan yang besar terhadap roh-roh jahat. Dan menurut saya alasannya sama seperti banyak hal lain yang terjadi di dalam gereja: kita sering kali hanya mengikuti apa yang sedang menjadi tren di dunia. Ketika dunia mulai tertarik pada hal-hal yang berhubungan dengan okultisme, kita pun ikut-ikutan dan mulai sangat sibuk membahas roh-roh jahat. Tapi tahukah Anda bahwa ada 278 ayat di dalam Alkitab yang berbicara tentang para malaikat?
Sekarang saya bertanya, berapa kali Allah harus mengatakan sesuatu supaya itu menjadi benar? Cukup satu kali. Maka kalau ada 273 ayat yang berbicara tentang malaikat, saya rasa itu sudah terlalu banyak untuk diabaikan, bukan? Dua ratus tujuh puluh tiga ayat! Mungkin Anda bertanya, "Kalau begitu, mengapa malaikat-malaikat kudus justru diabaikan?" Kalau saya bertanya kepada kebanyakan orang Kristen yang saya temui, "Coba ceritakan sedikit tentang malaikat," mungkin jawabannya seperti ini, "Hmm... mereka punya sayap, memakai pakaian putih, lalu terbang ke sana kemari." Padahal ada 273 ayat tentang mereka, tapi kita hampir tidak tahu apa-apa. Anda mungkin bertanya, "Mengapa bisa begitu?" Saya mencoba memikirkan hal ini, membaca kembali sedikit sejarah, membuka lagi buku-buku sejarah gereja yang lama, dan mencoba memahami apa yang terjadi di dalam gereja sehingga kita seolah melupakan pembahasan tentang para malaikat. Dari situ saya menemukan beberapa hal yang menarik. Izinkan saya menyampaikan beberapa alasan mengapa menurut saya kita telah mengabaikan pembelajaran tentang malaikat-malaikat kudus.
Alasan pertama adalah sebagai reaksi terhadap spekulasi yang berlebihan di masa lalu. Pada masa-masa awal perkembangan teologi, ada begitu banyak teologi yang bersifat spekulatif. Orang-orang memperdebatkan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting, bahkan hal-hal yang aneh dan penuh khayalan. Dan salah satu topik yang paling sering diperdebatkan di awal adalah tentang para malaikat. Dalam perdebatan-perdebatan teologi pada masa itu, mereka membahas berbagai hal tentang malaikat. Mereka memperdebatkan berapa banyak malaikat yang dapat berdiri di ujung sebuah jarum pada saat yang sama. Mereka memperdebatkan apakah seorang malaikat dapat berada di dua tempat sekaligus. Kalau tidak bisa, seberapa cepat mereka dapat bergerak? Berapa lama jarak waktu antara penciptaan para malaikat dan kejatuhan mereka? Bahkan Rosetti mengatakan dalam buku Dante bahwa para malaikat jatuh 20 detik setelah mereka diciptakan. Saya tidak tahu dari mana ia mendapatkan angka itu, Tapi itulah yang ia katakan.
Mereka juga memperdebatkan apakah dosa malaikat pertama menjadi penyebab dosa semua malaikat lainnya, atau apakah mereka semua berdosa secara bersamaan. Mereka memperdebatkan berapa banyak malaikat yang jatuh, padahal hal itu tampaknya sudah cukup jelas dalam Wahyu pasal 12. Mereka memperdebatkan apakah atmosfer bumi adalah tempat para malaikat sedang menjalani hukuman saat ini. Mereka juga memperdebatkan tentang malaikat pelindung, dan apakah seseorang menerima malaikat pelindungnya saat dibaptis, saat lahir, atau bahkan sejak dikandung. Semua perdebatan dan spekulasi seperti ini akhirnya menimbulkan reaksi yang berlawanan. Para ahli Alkitab yang sungguh-sungguh justru mulai menjauh dari pembahasan tentang malaikat. Mereka melakukannya karena ingin menghindari semua spekulasi yang tidak masuk akal itu. Akibatnya, pembahasan tentang malaikat seolah-olah disimpan di rak dan ditinggalkan begitu saja, sementara para teolog yang bertanggung jawab memilih untuk tidak lagi membahasnya.
Alasan kedua mengapa pembelajaran tentang malaikat-malaikat kudus mengalami kemunduran, bahkan hingga beberapa abad terakhir, adalah karena sejak dahulu Gereja Katolik Roma memberikan penghormatan kepada para malaikat, dan gereja-gereja Protestan bereaksi terhadap hal itu. Tahukah Anda bahwa selain menyembah Allah dan Kristus, Gereja Katolik juga mendorong penghormatan kepada orang-orang kudus? Kata penghormatan dan penyembahan di sini pada dasarnya dipakai dengan pengertian yang sama. Tapi tahukah Anda juga bahwa sejak abad keempat, Gereja Katolik telah mendorong penghormatan atau penyembahan kepada para malaikat? Hal inilah yang kemudian memunculkan reaksi. Sebagai contoh, Ludwig Ott, dalam bukunya yang sebenarnya merupakan buku teks teologi Katolik—ia sendiri adalah seorang Katolik dan menulisnya untuk umat Katolik—mengatakan, "Penyembahan kepada malaikat oleh manusia adalah sesuatu yang dibenarkan." Ia juga berkata, "Keputusan Konsili Trente yang mengajarkan kita untuk memohon kepada dan menghormati orang-orang kudus, juga dapat diterapkan kepada para malaikat." Karena itu mereka menghormati para malaikat, dan malaikat yang paling banyak mereka hormati adalah Mikhael. Bahkan tahukah Anda bahwa dalam kalender Gereja Katolik ada sebuah perayaan yang disebut Michaelmas? Perayaan itu jatuh setiap tanggal 29 September. Ada dua gereja besar yang terkenal dibangun untuk memuliakan dan menghormati Mikhael. Yang satu dibangun oleh Konstantinus beberapa mil di luar Konstantinopel, yang sekarang dikenal sebagai Istanbul, dan yang lainnya dibangun di kota Roma.
Tahukah Anda bahwa sebelum abad keempat, ketika Gereja Roma mulai memperkenalkan penyembahan kepada malaikat, praktik seperti itu sebenarnya sudah ada, Tapi dianggap sebagai ajaran sesat? Dalam Kolose 2:18—dan kita akan mempelajari kitab Kolose setelah seri ini selesai sebagai lanjutan pembahasan kita—Paulus memperingatkan jemaat agar tidak menyembah malaikat. Itulah yang sedang terjadi pada waktu itu. Tapi sebagai reaksi terhadap penyembahan kepada malaikat tersebut, gereja Protestan akhirnya memilih untuk tidak terlalu membahas persoalan malaikat sama sekali. Mereka tidak ingin terlibat dalam hal itu, sehingga muncul reaksi yang membuat pembahasan tentang malaikat justru diabaikan.
Ada alasan ketiga mengapa menurut saya pembelajaran tentang para malaikat mengalami kemunduran. Ini juga sedikit pelajaran sejarah. Saya menyebutnya sebagai reaksi terhadap penyembahan berhala atau agama-agama kafir. Jadi ada reaksi terhadap spekulasi, reaksi terhadap ajaran Gereja Roma, dan juga reaksi terhadap paganisme. Tahukah Anda bahwa hampir di setiap sistem kepercayaan—bahkan saya rasa hampir tidak ada agama yang menjadi pengecualian—keberadaan makhluk-makhluk seperti malaikat selalu dipercayai? Semua sistem agama yang saya ketahui, dan semua yang sempat saya pelajari dari sejarah, percaya akan adanya makhluk-makhluk rohani semacam itu. Misalnya di Timur, orang-orang Tiongkok memiliki atap-atap bangunan yang runcing seperti atap pagoda. Tahukah Anda mengapa? Mereka percaya bahwa ketika roh-roh jahat meluncur turun di atas atap itu, ujung atap yang runcing akan menusuk mereka sehingga mereka tidak akan kembali lagi. Mereka benar-benar percaya adanya makhluk-makhluk roh. Memang demikian. Mereka percaya akan keberadaan makhluk-makhluk roh. Itulah sebabnya Anda juga melihat berbagai bentuk atap yang aneh pada bangunan-bangunan tertentu, karena mereka ingin membuat roh-roh jahat kesulitan menemukan tempat berpijak.
Sebagai contoh, kaum Gnostik percaya kepada aeon, roh-roh jahat, dan makhluk setengah dewa. Dalam berbagai agama juga dikenal makhluk seperti jin, bukan? Ada dewa-dewa tingkat bawah, malaikat, dan berbagai makhluk rohani lainnya. Para filsuf kafir juga berbicara tentang makhluk-makhluk rohani. Misalnya, Socrates pernah menyebut tentang seorang "roh baik." Ia menyebutnya roh baik yang menjaga dan membimbing dirinya. Jadi, agama-agama kafir memang dipenuhi dengan penyembahan kepada berbagai macam roh, dewa-dewa kecil, setengah dewa, dan berbagai makhluk rohani lainnya. Di tengah semua kebingungan itu, gereja akhirnya memilih untuk mundur dan memusatkan perhatian kepada siapa? Kepada Kristus. Mereka cenderung meninggalkan seluruh pembahasan tentang makhluk-makhluk rohani itu karena topik tersebut sudah begitu tercampur dengan kepercayaan-kepercayaan kafir sehingga menjadi sangat membingungkan.
Alasan keempat, menurut saya, mengapa pembelajaran tentang malaikat diabaikan adalah munculnya zaman rasionalisme dan ilmu pengetahuan. Ketika dunia memasuki apa yang dikenal sebagai Revolusi Industri, hampir segala sesuatu mulai diarahkan kepada ilmu pengetahuan. Pada abad ke-18, cara berpikir manusia menjadi semakin rasional, dan akal manusia dianggap sebagai ukuran tertinggi. Dalam suasana seperti itu, menerima kenyataan bahwa ada makhluk-makhluk roh yang tidak terlihat di sekitar kita dianggap tidak masuk akal. Karena itu, pembahasan tentang hal-hal tersebut perlahan-lahan disingkirkan. Semangat rasionalisme memang tidak memberi ruang bagi hal-hal semacam itu. Baru setelah masa rasionalisme berakhir dan kita memasuki zaman apa? Zaman eksistensialisme, atau zaman yang lebih menekankan pengalaman, orang-orang mulai kembali membuka diri terhadap gagasan tentang keberadaan roh-roh jahat. Dan jika orang mulai menerima keberadaan roh-roh jahat, maka pembahasan tentang para malaikat pun pada akhirnya akan ikut muncul kembali.
Dan menurut saya, ada alasan kelima yang lebih berkaitan dengan zaman sekarang, yang telah mengalihkan perhatian orang-orang Kristen dari mempelajari malaikat-malaikat kudus, yaitu gerakan okultisme yang membuat kita begitu sibuk memusatkan perhatian pada roh-roh jahat. Nah, itulah sedikit latar belakang yang memberi gambaran mengapa saya merasa pembahasan tentang malaikat-malaikat kudus selama ini diabaikan. Dan memang sangat sedikit buku yang membahas topik ini. Saya melihat Billy Graham baru saja menerbitkan sebuah buku tentang malaikat. Itu adalah salah satu buku pertama tentang topik ini setelah sekian lama. Kalau Anda ingin mencari pembahasan tentang malaikat, Anda harus kembali melihat buku-buku yang ditulis bertahun-tahun yang lalu, misalnya buku lama karya Gaebelein yang berjudul The Angels of God (Malaikat Allah), atau beberapa pembahasan singkat di dalam buku-buku teologi sistematika. Tapi selain itu, hampir tidak ada lagi. Karena itu saya rasa kita memang perlu mempelajari tentang para malaikat. Allah menyebut mereka sebanyak 273 kali di dalam Alkitab. Bukankah itu cukup untuk membuat kita memberi perhatian kepada mereka? Dan ketika kita menyelesaikan seri pembelajaran ini nanti, Anda akan memiliki kesadaran yang sama sekali baru tentang sebuah alam semesta yang dipenuhi makhluk-makhluk yang selama ini mungkin belum pernah benar-benar Anda pahami, padahal Anda akan menghabiskan seluruh kekekalan bersama mereka. Jadi, tidak ada salahnya mulai mengenal mereka dari sekarang. Selama-lamanya Anda akan hidup berdampingan dengan mereka. Tidak perlu nanti ketika tiba di surga Anda baru bertanya, "Siapa kamu?" Lagi pula, mereka sudah ada jauh sebelum Anda datang. Sekarang mungkin Anda bertanya, "Apa manfaat mempelajari hal ini?" Menurut saya, manfaatnya akan datang dari banyak sisi.
Pertama, pembelajaran ini akan memberikan kepada Anda pandangan yang baru tentang kuasa penciptaan Allah. Anda juga akan melihat dengan cara yang baru bagaimana Allah memegang kendali yang mutlak atas dunia dan seluruh alam semesta. Penghargaan Anda kepada Allah akan semakin bertambah ketika Anda melihat apa yang telah Dia ciptakan melalui bala tentara malaikat ini. Dan ketika Anda mulai memahami bagaimana mereka bekerja, Anda akan memperoleh gambaran yang sama sekali baru tentang seperti apa Allah itu.
Kedua, saya rasa Anda akan sangat bersukacita ketika mengetahui bahwa semua malaikat yang kudus itu telah diutus Allah bukan hanya untuk melayani Dia, tetapi juga, dalam pelayanan mereka kepada-Nya, untuk melayani Anda dan saya. Para malaikat terus bekerja melayani dan menjaga kita. Bukankah itu sesuatu yang sangat menguatkan? Menurut saya, itulah salah satu bagian yang paling menarik, dan kemungkinan besar itulah yang akan kita bahas minggu depan, atau mungkin minggu sesudahnya. Saya sendiri belum memastikan jadwalnya. Tapi yang pasti, pembelajaran ini akan sangat bermanfaat.
Hal ketiga yang menurut saya penting dari pembelajaran ini adalah bahwa pembahasan ini akan memaksa kita untuk mempelajari Alkitab, dan itu tentu merupakan hal yang baik, bukan? Sebab satu-satunya sumber yang memberi tahu kita tentang para malaikat adalah Alkitab. Tentu saja kita tidak mungkin membahas semua 273 ayat yang berbicara tentang mereka, jadi kita harus memilih beberapa bagian. Tapi yang pasti, pembelajaran ini akan membawa kita semakin masuk ke dalam firman Allah.
Dalam bukunya Angels: God's Secret Agents (Malaikat: Agen Rahasia Tuhan), Billy Graham mengatakan sesuatu yang sangat baik. Ia berkata, "Saya yakin bahwa makhluk-makhluk surgawi ini benar-benar ada, dan bahwa mereka memberikan pertolongan yang tidak terlihat bagi kita. Saya tidak percaya kepada malaikat karena seseorang pernah menceritakan kepada saya tentang pengalaman luar biasa ketika dikunjungi seorang malaikat, sekalipun kesaksian-kesaksian seperti itu mungkin sangat mengesankan. Saya tidak percaya kepada malaikat karena UFO dalam beberapa laporan tampak sangat mirip dengan malaikat. Saya tidak percaya kepada malaikat karena para ahli ESP membuat dunia roh terdengar semakin masuk akal. Saya tidak percaya kepada malaikat karena dunia saat ini tiba-tiba begitu menaruh perhatian pada kenyataan tentang Iblis dan roh-roh jahat. Saya juga tidak percaya kepada malaikat karena saya pernah melihat salah satunya, sebab saya memang belum pernah melihatnya. Saya percaya kepada malaikat karena Alkitab mengatakan bahwa malaikat itu ada, dan saya percaya bahwa Alkitab adalah firman Allah yang benar."
Itu adalah pernyataan yang sangat membantu, bukan? Pernyataan itu membawa kita kembali kepada dasar yang seharusnya. Kita percaya kepada para malaikat karena Alkitab menyebut mereka sebanyak 273 kali. Dan ketika pembelajaran ini selesai nanti, saya benar-benar yakin Anda akan memiliki pemahaman yang jelas dan bermakna tentang makhluk-makhluk yang luar biasa ini—makhluk yang penuh kuasa, kudus, indah, yang melayani Allah dan juga melayani kita. Sekarang saya ingin kita membahas tiga hal utama. Tidak perlu repot-repot mencatatnya karena ini bukan sesuatu yang terlalu penting untuk ditulis. Cukup simpan di dalam pikiran selagi kita berjalan bersama dalam pembahasan ini. Kita akan mempelajari siapa mereka, apa mereka, dan bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap mereka. Siapa mereka, apa mereka, dan bagaimana kita harus merespons mereka.
Mari kita mulai dengan pertanyaan pertama: siapakah mereka? Dan poin pertama adalah tentang keberadaan para malaikat. Kita hanya akan membahas sedikit bagian ini malam ini, lalu kita akan melanjutkannya pada pertemuan berikutnya. Jadi, kita mulai dengan keberadaan para malaikat. Sejak dahulu selalu ada orang-orang yang tidak percaya kepada malaikat. Mungkin Anda bertanya, "Bahkan pada zaman Alkitab?" Ya. "Maksud Anda, bahkan orang-orang yang mengenal Perjanjian Lama?" Ya. Ada beberapa pemimpin di Israel yang tidak percaya kepada malaikat. Dengarkan Kisah Para Rasul 23:8. Saya akan membacakannya: "Sebab orang-orang Saduki mengatakan bahwa tidak ada kebangkitan..." Itulah sebabnya mereka selalu sedih, bukan? "Tidak ada kebangkitan." Saya rasa itu cukup lucu. Saya butuh sekitar tiga hari untuk menemukan lelucon itu.
Baiklah, "orang-orang Saduki"—saya jamin setelah ini Anda tidak akan pernah lupa. "Mereka mengatakan bahwa tidak ada kebangkitan, tidak ada malaikat, dan tidak ada roh." Di sinilah kita melihat kaum rasionalis dan kaum materialis yang menyangkal keberadaan malaikat. Apakah mereka benar? Tidak. Mereka benar-benar keliru. Mungkin Anda bertanya, "Bagaimana mungkin mereka tetap disebut orang Yahudi? Maksud saya, bagaimana mungkin..." Ya, karena mereka adalah kaum liberal di kalangan orang Yahudi. Mereka tidak menerima ajaran tentang kebangkitan, padahal Perjanjian Lama sudah mengajarkannya, bahkan sejak kitab yang paling tua sekalipun. Ayub berkata (ayub 19:26-27), "Sekalipun sesudah kulit tubuhku sangat rusak, tanpa dagingku pun aku akan melihat Allah. Dia yang akan kulihat memihak kepadaku; mataku sendiri akan memandang-Nya, bukan orang lain." Jadi Ayub sudah memiliki pengertian tentang kebangkitan. Orang-orang Saduki benar-benar salah. Terlalu banyak bukti di dalam firman Allah yang menunjukkan bahwa malaikat itu ada. Malaikat memang benar-benar ada.
Bahkan, Perjanjian Lama menggambarkan para malaikat sebagai pribadi-pribadi yang nyata, yang menjadi utusan dan pelayan Allah. Kalau Anda membaca Perjanjian Lama—dan saya sendiri sedang membacanya sebagai bagian dari pembacaan Alkitab tahun ini—Anda akan melihat bahwa para malaikat muncul di sepanjang kisah-kisahnya. Mereka ada di mana-mana. Kalau semua kisah tentang malaikat dihapus dari Perjanjian Lama, seluruh ceritanya akan menjadi berantakan. Akan ada banyak peristiwa yang tidak bisa dijelaskan. Akan ada bagian-bagian besar yang hilang dari alur cerita. Akan ada kejadian-kejadian yang sama sekali tidak mungkin terjadi tanpa kehadiran para malaikat. Banyak persoalan yang tidak akan pernah memiliki penyelesaian jika para malaikat disingkirkan dari kisah-kisah itu. Mereka begitu aktif di dalam Perjanjian Lama. Mereka ada di mana-mana. Dan pikirkan juga hal ini: kalau memang malaikat tidak ada, berarti Allah sendiri harus dimasukkan ke dalam kelompok orang-orang yang berhalusinasi seperti mereka yang mengaku melihat malaikat. Sebab kalau malaikat memang tidak ada, lalu siapa yang selama ini Allah utus berkali-kali?
Bagaimana dengan Perjanjian Baru? Kalau Anda menolak keberadaan malaikat, maka pada dasarnya Anda juga harus menolak seluruh Perjanjian Baru. Siapa yang memberitakan kelahiran Kristus? Siapa yang memberi tahu para gembala ke mana mereka harus pergi? Siapa yang datang kepada Yesus setelah Dia berpuasa selama 40 hari di padang gurun, lalu melayani-Nya, kalau bukan para malaikat? Siapa yang datang ke kubur dan mengumumkan bahwa Yesus telah bangkit? Siapa yang kelak akan datang untuk mengumpulkan orang-orang pilihan dari keempat penjuru bumi? Siapa yang membebaskan Petrus dan Yohanes? Maksud saya, bagaimana mungkin mereka bisa keluar dari penjara sementara pintu-pintunya masih terkunci, gerbangnya masih tertutup, para penjaga masih tetap berjaga, Tapi mereka sudah tidak ada di sana? Para malaikatlah yang melakukannya. Semua campur tangan yang ajaib dari makhluk-makhluk supranatural di dalam Perjanjian Baru harus dianggap sebagai kebohongan jika malaikat memang tidak ada. Tidak akan ada peperangan rohani dalam kehidupan orang Kristen, karena tidak akan ada malaikat, tidak akan ada roh-roh jahat, tidak akan ada Iblis. Wah, kalau begitu semuanya jadi mudah, bukan? Lalu apa yang sebenarnya sedang kita lakukan? Kita hanya memusatkan perhatian pada sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Berarti Kristus pun hanya membayangkan konflik-Nya dengan Iblis. Kalau begitu, Dia juga sedang hidup dalam delusi. Dan cobalah membaca kitab Wahyu tanpa keberadaan para malaikat. Yang tersisa mungkin hanya judul-judul pasalnya saja. Para malaikat muncul di mana-mana. Dari halaman pertama Alkitab sampai halaman terakhirnya, para malaikat hadir di sepanjang kisah Alkitab.
Menurut saya, kesaksian terbesar yang membuktikan keberadaan para malaikat adalah kesaksian dari Yesus Kristus sendiri. Apakah Anda tahu itu? Sebab saya percaya kepada apa yang Dia katakan. Dan dalam pengajaran-Nya sendiri, Yesus berkali-kali berbicara tentang para malaikat. Dalam Matius 22 Dia berkata, "Mereka seperti para malaikat di surga." Di situ Dia sedang berbicara tentang malaikat. Dalam Matius 24 Dia berbicara tentang malaikat. Dalam Matius 26 Dia juga berbicara tentang malaikat. Dalam Matius 18 pun Dia membahas tentang malaikat. Dan itu baru sedikit contoh dari puluhan kali Yesus berbicara mengenai para malaikat. Para malaikat memang ada. Saya mempercayainya karena Alkitab mengatakannya. Tapi ada hal lain lagi. Saya juga percaya karena saya pernah berjumpa dengan mereka. Saya pernah berhadapan dengan malaikat-malaikat yang telah jatuh, dan saya menyadarinya. Saya juga pernah berjumpa dengan malaikat-malaikat kudus tanpa menyadarinya pada saat itu. Saya tidak dapat melihat mereka sebagaimana adanya, Tapi saya tahu mereka ada. Alkitab mengatakan demikian. Dan saya juga pernah mengalami perlawanan dari Iblis. Bukankah Anda juga pernah? Begitu pula dengan bala tentaranya. Jadi, keberadaan para malaikat sebenarnya sudah memiliki dasar yang sangat kuat.
Sekarang mari kita lihat hal yang kedua, yaitu asal-usul para malaikat. Ada suatu masa ketika para malaikat belum ada. Apa artinya? Artinya para malaikat adalah makhluk yang diciptakan. Mereka adalah ciptaan. Kolose 1:16 berkata, "Karena di dalam Dialah," yang berbicara tentang Kristus, "telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di surga dan yang ada di bumi..." Sekarang perhatikan baik-baik, "...yang kelihatan dan yang tidak kelihatan." Ada makhluk-makhluk yang diciptakan di surga. Anda mungkin bertanya, "Makhluk apa itu?" Jawabannya adalah para malaikat. Anda mungkin berkata, "Saya bisa memahami makhluk yang ada di bumi, yaitu kita. Saya juga bisa memahami segala sesuatu yang kelihatan, itu juga kita. Tapi apakah yang dimaksud dengan yang tidak kelihatan di surga?" Itulah para malaikat. Lalu ayat itu menyebut beberapa istilah yang berkaitan dengan mereka: singgasana, kerajaan, pemerintah, dan penguasa. Semuanya diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Kristuslah yang menciptakan para malaikat. Mereka disebut dengan berbagai istilah seperti singgasana, kerajaan, pemerintah, dan penguasa. Mereka juga disebut sebagai otoritas. Semua itu adalah sebutan bagi para malaikat, yaitu tingkatan-tingkatan yang ada di dalam pasukan yang tak terlihat itu. Dan pasukan yang tak terlihat ini tersusun dengan sangat rapi. Saya katakan kepada Anda, pasukan itu memiliki organisasi yang luar biasa. Semuanya tersusun, teratur, dan memiliki tingkatan masing-masing. Mereka diciptakan oleh Allah. Ayat ini dengan jelas mengatakan bahwa mereka diciptakan oleh Tuhan Yesus Kristus.
Kembali ke kitab Nehemia, pasal 9 ayat 6. Saya ingin menunjukkan beberapa ayat kepada Anda. Nehemia 9:6 berkata, "Hanya Engkaulah TUHAN!" Sekarang dengarkan bagian berikutnya, "Engkaulah telah menjadikan langit, langit segala langit dengan segala bala tentaranya." Di sini terdapat gagasan bahwa Allah bukan hanya menciptakan langit, tetapi juga semua penghuni langit, yaitu para malaikat. Lalu ayat itu melanjutkan, "Dan bumi dengan segala yang ada di atasnya." Jadi Allah menciptakan langit beserta semua yang ada di dalamnya. Dia juga menciptakan bumi beserta semua yang ada di atasnya. Artinya, Allah menciptakan makhluk-makhluk surgawi, yaitu para malaikat, dan juga makhluk-makhluk yang hidup di bumi. Dari ayat-ayat ini jelas bahwa para malaikat adalah makhluk yang diciptakan. Ada petunjuk lain dalam 1 Timotius—tidak perlu membuka ayatnya, saya hanya akan menyebutkannya. Dalam 1 Timotius 6:15 dikatakan, "Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan. Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut." Siapakah satu-satunya Pribadi yang memiliki sifat tidak dapat binasa dengan sendirinya? Allah. Kalau Allah adalah satu-satunya yang memiliki ketidakbinasaan itu, berarti para malaikat tidak memilikinya. Benar, bukan? Itu berarti mereka adalah makhluk yang diciptakan. Mereka memang harus diciptakan. Itulah yang diajarkan dalam 1 Timotius 6:15-16.
Sekarang lihat Mazmur 148 ayat 2. "Pujilah Dia, hai segala malaikat-Nya. Pujilah Dia, hai segala tentara-Nya. Pujilah Dia, hai matahari dan bulan. Pujilah Dia, hai segala bintang yang benderang! Pujilah Dia, hai langit yang mengatasi segala langit, hai air yang di atas langit." Lalu ayat berikutnya berkata, "Baiklah semuanya memuji nama TUHAN"—yang dimaksud juga termasuk awan-awan—"sebab Dia memberi perintah, maka semuanya tercipta." Perhatikan, para malaikat yang disebut dalam ayat 2 juga diciptakan oleh perintah Allah, sama seperti segala sesuatu yang lain. Sama seperti awan, bumi, matahari, bulan, dan seluruh ciptaan lainnya.
Mungkin Anda bertanya, "John, kapan para malaikat diciptakan?" Saya sendiri tidak tahu kapan tepatnya. Tapi tampaknya mereka diciptakan sebelum dimulainya sejarah manusia. Mereka diciptakan sebelum manusia dan bumi, karena pada Kejadian pasal 3 mereka sudah ada dan sebagian dari mereka sudah jatuh ke dalam dosa, bukan? Kalau tidak demikian, bagaimana mungkin Iblis sudah berada di taman Eden untuk mencobai Hawa? Tapi Ayub 38:7 berkata, "Pada waktu bintang-bintang fajar bersorak-sorak bersama-sama, dan semua anak Allah bersorak-sorai." Apa yang sedang dinyanyikan oleh para malaikat itu? Mengapa mereka bersorak? Saya akan memberi tahu Anda. Lihat ayat 4, "Di manakah engkau ketika Aku meletakkan dasar bumi? Ceritakanlah, kalau engkau mempunyai pengertian! Siapakah yang telah menetapkan ukurannya? Bukankah engkau mengetahuinya? Atau siapakah yang merentangkan tali pengukur padanya? Di atas apakah alas-alasnya dipancang, dan siapakah yang memasang batu penjurunya, pada waktu bintang-bintang fajar bersorak-sorak bersama-sama?" Jadi, kita melihat bala tentara malaikat sedang bernyanyi dan bersorak pada saat Allah menciptakan bumi, berarti mereka sendiri pasti telah diciptakan lebih dahulu. Dengan kata lain, keberadaan para malaikat mendahului keberadaan bumi.
Di antara para malaikat tidak ada proses berkembang biak. Tidak ada malaikat ayah dan malaikat ibu, lalu lahir banyak malaikat kecil. Mereka semua diciptakan secara langsung oleh Allah. Mereka tidak memiliki kemampuan untuk berkembang biak. Dalam Matius pasal 22, ketika Tuhan Yesus membahas persoalan ini, Dia menjelaskannya dengan sederhana. "Yesus menjawab mereka, Kamu sesat, sebab kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah! Karena pada waktu kebangkitan, mereka tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di surga.'" Maksud Yesus adalah bahwa malaikat-malaikat Allah di surga tidak menikah dan tidak dikawinkan. Dengan kata lain, tidak ada proses berkembang biak di antara mereka. Bayangkanlah hal ini. Dengan satu perintah saja, Allah langsung menciptakan berjuta-juta makhluk. Setiap malaikat diciptakan secara tersendiri dan langsung oleh Allah. Mereka tidak berkembang biak, sehingga jumlah mereka tidak pernah bertambah. Mereka juga tidak mati, sehingga jumlah mereka tidak pernah berkurang. Satu-satunya perubahan yang pernah terjadi adalah seperti yang disebutkan dalam Wahyu 12:4, ketika Iblis digambarkan sebagai seekor naga yang menyeret sepertiga bintang dari langit dengan ekornya. Tampaknya sepertiga dari para malaikat itu jatuh dan menjadi roh-roh jahat. Tapi mereka semua akan hidup untuk selama-lamanya—sebagian di neraka dan sebagian di surga. Sungguh luar biasa. Para malaikat diciptakan seketika oleh Allah, dan setiap malaikat diciptakan sebagai pribadi yang terpisah dari yang lain.
Tahukah Anda apa yang saya percaya? Saya percaya para malaikat itu seperti kepingan salju. Saya tidak percaya ada dua malaikat yang benar-benar sama. Orang sering bertanya, "Seperti apa sebenarnya rupa para malaikat?" Pernahkah Anda memperhatikan bahwa dalam banyak lukisan, semua malaikat selalu digambarkan sama? Semua wajahnya mirip. Kalau ada satu barisan malaikat, semuanya tampak persis sama, seperti dicetak dengan stempel yang sama. Seolah-olah Allah berkata, "Baiklah, buat satu juta malaikat dengan model ini," lalu semuanya langsung muncul dengan rupa yang sama. Semua kerub juga digambarkan seperti itu, seakan-akan semuanya identik. Tapi saya tidak percaya demikian. Ada hal lain yang juga saya yakini, dan nanti akan kita bahas lebih jauh dalam seri ini. Saya percaya bahwa dalam pengertian tertentu para malaikat juga diciptakan menurut gambar Allah. Maksud saya, mereka diciptakan dengan kemampuan-kemampuan yang kita pahami, seperti kecerdasan, perasaan, dan kehendak. Dan setiap malaikat diciptakan sebagai pribadi yang unik. Saya percaya bahwa dengan satu firman dari mulut-Nya, Allah menciptakan berjuta-juta makhluk yang memenuhi alam semesta, dan tidak satu pun dari mereka sama persis dengan yang lain. Coba pikirkan, kalau Allah sanggup menciptakan jutaan kepingan salju yang masing-masing berbeda, tentu Dia juga sanggup menciptakan jutaan malaikat yang masing-masing memiliki keunikan tersendiri. Mereka semua diciptakan secara unik.
Orang sering bertanya, "Sebenarnya ada berapa banyak malaikat? Dulu ketika Allah menciptakan mereka jumlahnya berapa? Dan sekarang tinggal berapa?" Jawabannya, jumlahnya tetap sama. Mereka sudah ada sejak lama dan telah menyaksikan begitu banyak peristiwa. Berapa jumlah mereka ketika Allah menciptakan mereka? Dan berapa jumlah mereka sekarang? Tetap sama. Sulit untuk mengetahui jumlah pastinya karena Alkitab tidak pernah memberitahukannya. Memang ada banyak pendapat dan spekulasi mengenai hal itu. Tapi izinkan saya memberikan beberapa petunjuk. Pada waktu kelahiran Kristus, Alkitab berkata, "Tampaklah sejumlah besar bala tentara sorga," yang memuji Allah dan berkata-kata. Ada sejumlah besar malaikat. Tapi itu tentu bukan semua malaikat. Itu hanya sebagian dari mereka, seperti yang dicatat dalam Lukas 2. Ketika Yesus ditangkap, Dia berkata, "Kalau Aku mau, Aku dapat meminta..." apa? "...dua belas pasukan malaikat." Di Perjanjian Lama, satu malaikat saja membunuh 185.000 orang. Jadi ketika penduduk asli itu lari kembali ke hutan, mereka sebenarnya mengambil keputusan yang tepat. Satu hal yang pasti, jangan pernah berurusan melawan malaikat-malaikat Allah. Mereka adalah makhluk yang luar biasa.
Ada yang bertanya, "Kalau begitu, ada berapa banyak pasukan malaikat?" Saya sendiri tidak tahu jumlahnya. Tapi ada pendapat lain yang cukup menarik. Dalam Matius 18:10, Yesus sedang berbicara tentang orang-orang yang menjadi milik-Nya, betapa Dia mengasihi dan memelihara mereka. Lalu Dia mengatakan sesuatu yang sangat menarik. " Ingatlah, jangan menganggap rendah salah seorang dari anak-anak kecil ini ..." Sebelumnya Dia memang sedang berbicara tentang anak-anak kecil. Lalu Dia berkata, "... Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di surga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di surga." Jangan meremehkan mereka, karena malaikat-malaikat yang ditugaskan bagi mereka terus berada di hadapan Bapa. Bukankah itu menarik? Apakah itu berarti setiap orang memiliki sekelompok malaikat yang ditugaskan untuk dirinya? Kalau memang demikian, ada yang berpendapat bahwa jumlah malaikat paling sedikit harus sama dengan jumlah manusia. Dan karena ayat itu menggunakan bentuk jamak, mungkin saja jumlah malaikat bahkan lebih banyak daripada jumlah manusia. Kalau begitu, berarti jumlah mereka mencapai miliaran.
Ada juga yang berpendapat, "Tidak, jumlah malaikat sama dengan jumlah bintang." Anda mungkin bertanya, "Memangnya ada berapa banyak bintang?" Nah, itu juga tidak terlalu membantu. Yang pasti, jumlahnya sedikitnya miliaran. Mengapa ada yang menghubungkan jumlah malaikat dengan jumlah bintang? Karena dalam Alkitab istilah-istilah itu kadang digunakan secara bergantian. Malaikat sering disebut sebagai bala tentara sorga, dan kadang-kadang bintang juga disebut bala tentara sorga. Karena itu ada yang menganggap keduanya saling berkaitan. Tapi ada satu ayat yang setidaknya memberi kita sedikit gambaran, walaupun saya rasa itu pun belum mencakup semuanya. Wahyu 5 berkata, "Aku melihat dan mendengar suara banyak malaikat." Sekarang pikirkan baik-baik. Ini berbicara tentang jumlah malaikat yang sangat besar. Apakah ayat itu mengatakan bahwa Yohanes mendengar suara semua malaikat? Tidak. Apakah dikatakan sebagian besar malaikat? Tidak juga. Apakah hampir semua malaikat? Bukan. Yang dikatakan hanyalah "banyak malaikat." Hanya sebagian dari mereka. Lalu berapa jumlahnya? "Jumlah mereka beratus-ratus ribu dan berjuta-juta."
Lalu Anda mungkin bertanya, "Kalau begitu, jumlah itu sebenarnya berapa? Berapa persennya?" Saya benar-benar tidak tahu, Saudara. Tapi yang jelas jumlah mereka sangat banyak. Dan kalau benar setiap anak kecil memiliki sekelompok malaikat yang ditugaskan untuk mereka, berarti jumlah malaikat memang luar biasa besar, karena tugas mereka bukan hanya menjaga anak-anak kecil. Saya percaya ada miliaran malaikat yang tersebar di seluruh alam semesta. Dalam Ibrani 12:22 persoalan ini seolah-olah diselesaikan. Ayat itu berkata, "Kamu sudah datang ke Bukit Sion, ke kota Allah yang hidup, Yerusalem surgawi dan kepada beribu-ribu malaikat, suatu kumpulan yang meriah." Jumlah mereka terlalu banyak untuk apa? Untuk dihitung. Tidak seorang pun dapat menghitung mereka. Jumlah mereka melampaui kemampuan manusia untuk menghitungnya. Bayangkan itu. Jutaan bahkan tak terhitung banyaknya malaikat, indah, penuh kuasa, melaksanakan setiap perintah Allah, bergerak dengan kecepatan luar biasa melintasi langit dan bumi. Organisasi mereka jauh lebih rapi daripada pasukan Kaisar, pasukan Aleksander Agung, Napoleon, Patton, ataupun panglima mana pun dalam sejarah. Ada kerubim, serafim, makhluk-makhluk hidup, takhta-takhta, kerajaan-kerajaan, pemerintah-pemerintah, penguasa-penguasa, penghulu malaikat Mikhael sang pejuang dan pembela, juga Gabriel yang melayani. Seluruh bala tentara malaikat yang luar biasa ini disebut dalam Alkitab sebagai "anak-anak Yang Mahakuasa" dalam Mazmur 89:7, disebut "anak-anak Allah" dalam kitab Ayub, bahkan disebut "allah-allah" dalam arti bahwa mereka berada di alam adikodrati yang berkaitan dengan hadirat Allah. Mereka juga disebut "orang-orang kudus" dalam Mazmur 89, disebut "bintang-bintang" dalam Ayub 38:7, dan disebut "para pemimpin" dalam Daniel 10. Sungguh makhluk-makhluk yang luar biasa. Dan seluruh pasukan yang dahsyat itu diciptakan Allah dalam sekejap, hanya dengan satu kehendak-Nya. Betapa luar biasanya Allah kita. Betapa dahsyat kuasa penciptaan-Nya.
Kalau Anda mempelajari Alkitab, Anda akan menemukan para malaikat berada di langit yang ketiga, yaitu tempat Allah berdiam. Anda juga akan menemukan mereka berada di langit yang kedua, melintasi seluruh alam semesta. Bahkan Anda akan menemukan mereka berada di langit yang pertama, yaitu atmosfer bumi. Mereka hadir di setiap tingkatan langit yang dinyatakan dalam firman Allah. Kadang-kadang mereka berada di hadapan takhta Allah. Kadang-kadang mereka sedang dalam perjalanan, seperti yang kita lihat dalam Daniel pasal 10. Dalam Wahyu pasal 4 dan 5 mereka berada di sekitar takhta Allah. Dalam Daniel pasal 10 mereka sedang bergerak melintasi alam semesta. Dan berkali-kali kita melihat mereka berada di bumi. Bukankah itu yang kita temukan berulang kali di sepanjang Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru? Para malaikat hadir di bumi dan terlibat di tengah kehidupan manusia. Mereka benar-benar makhluk yang luar biasa.
Saya akan menutup pembahasan ini dengan beberapa pemikiran tentang seperti apa para malaikat itu. Yang ketiga adalah sifat atau natur para malaikat. Secara singkat, izinkan saya menjelaskan hal ini. Seperti apa sebenarnya mereka? Pertama-tama, mereka adalah pribadi. Mereka benar-benar pribadi. Mungkin Anda bertanya, "Maksudnya mereka bukan sekadar robot-robot supranatural?" Bukan. Mereka adalah pribadi yang memiliki kepribadian. Lalu Anda bertanya, "Apa saja unsur yang membentuk kepribadian?" Jawabannya adalah kecerdasan, perasaan, dan kehendak. "Apakah para malaikat memiliki kecerdasan?" Ya, tentu saja. Mereka sangat cerdas. Dalam Yehezkiel 28:12, ketika menggambarkan Lucifer, putra fajar, yang dahulu merupakan malaikat yang paling tinggi kedudukannya, Alkitab berkata, "Engkau adalah gambaran kesempurnaan, penuh hikmat dan maha indah." Para malaikat memiliki kecerdasan. Dalam Matius 28:5 dikatakan, “Malaikat itu berkata kepada perempuan-perempuan itu, 'Janganlah kamu takut sebab aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan itu.’” Malaikat itu memahami apa yang sedang mereka lakukan. Ia mengetahui tujuan mereka datang. Itu menunjukkan bahwa ia memiliki kecerdasan. Kecerdasan dapat berkomunikasi. Kecerdasan dapat berbicara dan mengadakan percakapan.
Dalam Wahyu pasal 17 terlihat dengan jelas bahwa para malaikat memahami rencana Allah dan menyatakannya kepada manusia. "Lalu datanglah salah seorang dari ketujuh malaikat yang membawa ketujuh cawan itu dan berkata kepadaku." Dan inilah yang dikatakannya, "Mari ke sini, aku akan menunjukkan kepadamu." Itulah kecerdasan, yaitu kemampuan untuk berkomunikasi. Tapi para malaikat tidak mengetahui segala sesuatu. Mereka tidak mahatahu seperti Allah. Bahkan dalam 1 Petrus 1:12 dikatakan bahwa "Injil adalah hal-hal yang ingin diketahui oleh malaikat-malaikat." Ada hal-hal yang belum mereka mengerti. Ada hal-hal yang belum mereka ketahui. Jadi, mereka memang memiliki kecerdasan, Tapi kecerdasan mereka tetap memiliki batas.
Kedua, para malaikat memiliki perasaan. Saya tahu mereka memiliki perasaan karena dalam Ayub 38:7 dikatakan bahwa mereka bernyanyi bersama-sama. Dan bukankah bernyanyi merupakan ungkapan dari perasaan? Mereka memiliki perasaan sukacita. Tahukah Anda bahwa para malaikat bersukacita ketika satu orang datang kepada Kristus? Di surga ada sukacita karena satu orang berdosa bertobat. Mereka benar-benar mengalami sukacita. Hal lain yang menurut saya juga merupakan ungkapan perasaan adalah penyembahan. Misalnya, dalam Yesaya pasal 6, apa yang dilakukan para serafim? Mereka berdiri di hadapan Allah. Dengan dua sayap mereka menutupi kaki mereka, dengan dua sayap mereka terbang, dan dengan dua sayap lagi mereka menutupi wajah mereka. Lalu mereka terus berseru, "Kudus, kudus, kudus." Itu adalah ungkapan penyembahan, dan penyembahan juga merupakan ekspresi dari perasaan. Jadi, para malaikat memiliki kemampuan untuk merasakan dan mengekspresikan perasaan. Itulah salah satu ciri bahwa mereka benar-benar adalah pribadi.
Ketiga, para malaikat memiliki kemampuan untuk menentukan pilihan, atau dengan kata lain, mereka memiliki kehendak. Allah berbicara kepada kehendak mereka. Misalnya, dalam Ibrani 1:6 dikatakan, "Lagi pula, ketika Ia membawa Anak-Nya yang sulung ke dunia, Ia berkata, ‘Semua malaikat Allah harus menyembah Dia.’” Allah berkata kepada para malaikat, "Sembahlah Anak yang telah lahir itu." Fakta bahwa Allah memerintahkan para malaikat untuk melakukan sesuatu menunjukkan bahwa mereka memiliki kehendak untuk menaati atau melakukannya. Bahkan, bukankah itulah yang membuat Iblis jatuh ke dalam dosa? Dalam Yesaya 14 ia berkata, "Aku hendak... Aku hendak... Aku hendak... Aku hendak... Aku hendak..." sebanyak lima kali. Jadi, para malaikat benar-benar adalah pribadi. Mereka bukan sekadar roh-roh yang melayang-layang tanpa kepribadian, seperti semacam robot yang tidak memiliki kehendak. Mereka adalah pribadi yang memiliki kepribadian. Setiap malaikat berbeda dari malaikat yang lain. Masing-masing unik. Dan mereka juga berbeda dengan manusia. Hal itu jelas, karena dalam Ibrani 2 dikatakan bahwa Yesus Kristus menjadi manusia dan "dibuat sedikit lebih rendah daripada para malaikat." Untuk saat ini, para malaikat memang menempati kedudukan yang lebih tinggi daripada kita. Tapi suatu hari nanti kita akan memerintah atas para malaikat. Dalam 1 Korintus 6:3 dikatakan bahwa kita akan menghakimi atau memerintah para malaikat. Di dalam Kristus kita akan ditinggikan. Mengapa? Karena kita adalah ahli waris bersama dengan Kristus. Kita akan mengambil bagian dalam warisan-Nya. Kita berada di dalam Kristus. Kita adalah satu roh dengan Kristus. Karena itu, di dalam Kerajaan Allah dan di dalam kekekalan nanti, kita akan memerintah bersama Kristus, dan karena kita memerintah bersama-Nya, kita juga akan memerintah atas para malaikat. Ingatlah bahwa dalam kitab Wahyu Yesus berkata, "Kamu akan duduk bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku." Tapi untuk zaman sekarang, kita masih sedikit lebih rendah daripada para malaikat. Mereka berbeda dari kita. Memang kita sama-sama adalah makhluk ciptaan, sama-sama terbatas oleh waktu dan ruang, sama-sama bergantung kepada Allah untuk hidup dan dipelihara, serta sama-sama bertanggung jawab kepada Allah. Tapi tetap ada perbedaan di antara kita.
Tahukah Anda bahwa kehidupan dan dunia para malaikat sama aktifnya, sama sibuknya, dan sama rumitnya dengan kehidupan kita? Semua itu sedang berlangsung di sekeliling kita saat ini. Bedanya, kita tidak dapat melihat dunia mereka, sementara mereka dapat melihat dunia kita. Mereka adalah roh. Itulah perbedaan utamanya. Ibrani 1:14 berkata, "Bukankah mereka semua adalah roh-roh yang melayani?" Dan ayat sebelumnya menjelaskan bahwa yang sedang dibicarakan adalah para malaikat. "Bukankah mereka semua adalah roh-roh yang melayani?"
Orang sering bertanya, "Apakah para malaikat memiliki tubuh?" Tidak. Mereka adalah roh. Mereka tidak memiliki tubuh jasmani seperti kita. Tapi coba pikirkan: apakah tubuh Anda adalah kepribadian Anda? Tentu tidak. Pribadi Anda tinggal di dalam tubuh Anda. Nah, para malaikat adalah pribadi tanpa tubuh daging dan darah seperti yang kita miliki. Mungkin Anda bertanya, "Kalau begitu, mereka sebenarnya terdiri dari apa? Wujud mereka seperti apa? Apakah mereka seperti kain putih yang melayang-layang tanpa isi, seperti gambaran hantu yang sering dibayangkan orang?" Menurut saya tidak demikian. Saya percaya mereka memiliki suatu bentuk keberadaan yang nyata, walaupun berbeda dari tubuh jasmani kita. Mereka adalah roh, tetapi tetap memiliki suatu bentuk keberadaan yang terbatas pada suatu tempat. Mereka bukan seperti Allah. Allah adalah Roh, bukan? Tapi Allah hadir di mana-mana. Bukankah demikian? Allah mahahadir. Roh-Nya memenuhi seluruh alam semesta yang tidak terbatas. Roh-roh malaikat berbeda. Mereka dapat dikatakan sebagai roh-roh yang terbatas. Mereka hanya dapat berada di satu tempat pada satu waktu. Mereka harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Itu berarti mereka memiliki suatu bentuk keberadaan tertentu. Bentuk itu tidak dapat saya lihat ataupun saya pahami sepenuhnya, Tapi saya percaya mereka memang memiliki suatu bentuk keberadaan. Dalam Daniel 9 kita melihat mereka bergerak melintasi langit. Dalam Daniel 10 mereka digambarkan sedang bergerak di alam semesta dan bahkan terlibat dalam peperangan rohani. Mereka berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain.
Mereka juga memiliki keterbatasan dalam hal waktu. Para malaikat sering digambarkan memiliki sayap. Tapi saya sendiri tidak yakin bahwa sayap itu harus dipahami secara harfiah. Menurut saya, sayap melambangkan kecepatan. Sayap merupakan simbol dari ketaatan yang segera. Para malaikat selalu siap bergerak dengan cepat untuk melakukan kehendak Allah. Gambaran itu lebih menekankan bahwa mereka segera menaati perintah Allah daripada menunjukkan bahwa mereka benar-benar makhluk bersayap yang terbang seperti burung. Sebagai makhluk roh, mereka memiliki kemampuan untuk bergerak, dan mereka bergerak dengan sangat cepat dalam ketaatan kepada Allah.
Saya tidak tahu seperti apa bentuk mereka, Tapi saya percaya mereka memiliki suatu bentuk keberadaan. Dan suatu hari nanti, ketika kita tiba di surga, kita akan bisa berkata, "Oh, jadi seperti inilah mereka." Tapi untuk saat ini saya belum tahu. Mungkin Anda bertanya, "Apa yang membuat Anda berpikir bahwa mereka memiliki suatu bentuk?" Salah satu alasannya adalah 1 Korintus 15:44 yang berkata, "Ada tubuh alamiah dan ada tubuh rohaniah." Nah, kalau memang ada tubuh alamiah dan tubuh rohaniah, berarti para malaikat tentu memiliki tubuh rohaniah, bukan tubuh alamiah seperti kita. Mereka memiliki semacam tubuh rohani atau tubuh surgawi. Ketika Allah mengizinkan mereka menampakkan diri, mereka biasanya muncul dalam wujud seorang laki-laki. Memang ada kemungkinan satu pengecualian, Tapi itu pun hanya kemungkinan. Bukti yang ada belum cukup kuat untuk memastikan penafsiran ayat tersebut. Selain itu, setiap kali malaikat menampakkan diri dalam Alkitab, mereka selalu muncul dalam bentuk laki-laki. Bahkan kata ganti yang digunakan untuk mereka selalu berbentuk maskulin. Misalnya dalam Kejadian 18 dan 19, ketika para malaikat mengunjungi Abraham, lalu pergi ke kota Sodom. Mereka tampak seperti pria-pria yang gagah. Mereka duduk bersama Abraham. Mereka makan. Mereka berjalan. Mereka berbicara. Allah membuat mereka dapat terlihat oleh manusia dengan mengambil suatu bentuk yang dapat dilihat.
Dalam Matius 28:3, tentang malaikat yang muncul di kubur Yesus, dikatakan, "Wajahnya bagaikan kilat dan pakaiannya putih bagaikan salju." Wajahnya bercahaya seperti kilat. Itu tentu sesuatu yang luar biasa. Kadang-kadang para malaikat tampak seperti manusia biasa, dan kadang-kadang mereka tampak sebagai manusia dengan penampilan yang sangat mengagumkan. Tapi setiap kali mereka menampakkan diri, kehadiran mereka selalu menimbulkan reaksi yang luar biasa. Misalnya, penduduk asli di hutan itu langsung melarikan diri. Tentara Jerman dalam kisah yang saya bacakan tadi menjadi panik. Maria sangat terguncang ketika Gabriel memberitakan bahwa ia akan mengandung dan melahirkan Sang Juruselamat. Ketika malaikat memberitahukan kepada Zakharia bahwa ia akan mempunyai seorang anak, ia juga menjadi takut dan gentar, seperti yang dicatat dalam Lukas pasal 1. Para gembala yang mendengar kabar kelahiran Kristus dari malaikat juga dikatakan "sangat ketakutan." Mereka benar-benar panik ketika melihat bala tentara sorga itu. Demikian juga para prajurit Romawi dalam Matius 28. Ketika mereka melihat malaikat menggulingkan batu penutup kubur, mereka rebah dan menjadi seperti orang mati. Semua ini menunjukkan bahwa para malaikat adalah makhluk yang berbeda dari manusia. Dan setiap kali mereka hadir, sering kali muncul reaksi-reaksi yang luar biasa, karena seolah-olah dunia yang tidak kelihatan sedang menembus dunia yang kita kenal. Itu adalah sesuatu yang sangat tidak biasa. Nah, kita masih akan belajar banyak lagi tentang kenyataan-kenyataan yang mulia ini.
Mari kita berdoa.
Bapa, terima kasih karena malam ini Engkau telah menolong kami mendapatkan sedikit pengenalan tentang bala tentara makhluk-makhluk yang telah Engkau tetapkan untuk melayani-Mu dan juga melayani kami. Saya tidak tahu siapa malaikat-malaikat yang Engkau tugaskan untuk menyertai saya, Tapi saya ingin mengucap syukur atas pelayanan yang telah mereka lakukan dalam hidup saya, bahkan ketika saya sendiri tidak menyadarinya. Saya juga bersyukur karena Engkau telah membuka firman-Mu kepada kami dalam pembahasan ini, sehingga kami dapat semakin memahami seperti apa Allah yang kami sembah dan apa yang sedang Engkau kerjakan di alam semesta ini. Saat ini bumi seolah-olah menjadi panggung tempat rencana penebusan-Mu dinyatakan, dan Engkau mengutus para malaikat-Mu untuk melaksanakan rencana itu. Terima kasih, ya Bapa kami. Kami memuji Engkau untuk persekutuan yang kami nikmati malam ini. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.
SELESAI
This article is also available and sold as a booklet.
