Grace to You Resources
Grace to You - Resource

Malam ini kita sampai pada pesan penutup dari rangkaian singkat kita tentang pasukan Allah yang tak terlihat, yaitu pembahasan mengenai para malaikat kudus. Ini adalah Bagian 3 dari pembahasan kita. Dalam dua bagian sebelumnya, dan juga dalam bagian ini, sebenarnya kita sedang mempersiapkan hati kita untuk mempelajari Kitab Kolose. Kalau Tuhan menghendaki, kita akan memulai pembahasan itu minggu depan. Jadi, selama minggu ini Anda bisa mulai membaca Kitab Kolose dan mempersiapkan hati Anda, karena pada Hari Tuhan berikutnya kita akan menyelaminya bersama-sama.

Dalam beberapa pesan ini, kita sudah membahas banyak fakta tentang para malaikat kudus. Pada tahun-tahun sebelumnya dan dalam beberapa khotbah yang lalu, kita sudah cukup mendalami tentang malaikat-malaikat yang jatuh, yaitu roh-roh jahat atau setan. Karena itu kami merasa sudah seharusnya kita juga memberikan perhatian yang sama kepada malaikat-malaikat kudus milik Allah, yaitu mereka yang tidak jatuh. Saya berharap melalui pembahasan ini kita semua semakin memahami tentang para malaikat. Saya yakin memang demikian. Tapi lebih dari itu, saya berharap kita semakin mengenal Allah. Bagi saya pribadi, hal yang paling berkesan dari pembahasan ini, yang terus teringat dalam pikiran saya, adalah betapa besarnya perhatian Allah untuk menjaga dan menjamin keamanan anak-anak-Nya secara jasmani. Hal itu banyak mengurangi beban kekhawatiran yang biasanya saya rasakan terhadap kemungkinan kecelakaan, penyakit, atau berbagai bahaya lainnya. Sungguh menenangkan mengetahui bahwa malaikat-malaikat Allah melayani untuk memelihara, melindungi, dan menuntun anak-anak-Nya dalam kehidupan jasmani mereka.

Kita sudah melihat bahwa mereka adalah makhluk-makhluk yang luar biasa. Saya yakin kita tidak akan pernah benar-benar memahami mereka sepenuhnya sampai suatu hari kita bertemu dengan mereka. Mungkin saat itulah pengertian kita akan semakin bertambah sehingga kita bisa melihat seperti apa sebenarnya mereka. Minggu lalu kita sempat membahas sedikit tentang apakah malaikat bernyanyi. Esther Vernon menyanyikan sebuah lagu tentang nyanyian para malaikat, dan ternyata lagu itu menjadi lagu yang paling banyak dibicarakan sepanjang sejarah gereja ini. Setelah ibadah selesai, semua orang datang dan mulai menganalisis teologi dari lagu tersebut. Lalu muncullah pertanyaan: apakah malaikat benar-benar bernyanyi? Sebagai pembuka malam ini, mari saya tunjukkan sesuatu yang menarik. Mari kita melihat Ayub pasal 38 ayat 7. Bagian ini menggambarkan karya penciptaan Allah ketika Dia menciptakan dunia. Ayat 4 berbicara tentang saat Dia meletakkan dasar bumi, ayat 5 tentang mengukurnya, dan seterusnya. Lalu ayat 7 berkata bahwa semua itu terjadi ketika bintang-bintang fajar bernyanyi bersama-sama, dan semua anak-anak Allah—yang tentu saja menunjuk kepada para malaikat—bersorak-sorai karena sukacita. Jadi kita tahu bahwa para malaikat bernyanyi pada saat dunia diciptakan, pada saat alam semesta dijadikan. Semua bintang fajar bernyanyi bersama-sama. Jadi kita tahu bahwa para malaikat memang bernyanyi.

Nah, untuk melihat kesamaannya, mari kita buka Wahyu pasal 5 ayat 11. Wahyu pasal 5 ayat 11 berkata, "Lalu aku melihat dan mendengar suara banyak malaikat di sekeliling takhta, makhluk-makhluk dan tua-tua itu; jumlah mereka beratus-ratus ribu dan berjuta-juta, katanya dengan suara nyaring, ‘Anak Domba yang disembelih itu layak.’” Di sini para malaikat berseru, "Anak Domba itu layak." Pertanyaannya adalah: apakah mereka sedang bernyanyi? Mari kita mundur ke ayat 9: "Mereka menyanyikan suatu nyanyian baru." Apakah keempat makhluk hidup itu, yang adalah malaikat, bersama kedua puluh empat tua-tua, yang menurut saya adalah wakil dari gereja, dan tampaknya semua malaikat lainnya ikut menyanyikan nyanyian baru itu? Jadi, ya—catat baik-baik—Alkitab mencatat para malaikat bernyanyi sebanyak dua kali. Pertama, pada saat dunia diciptakan. Kedua, pada saat Yesus Kristus datang kembali. Tahukah Anda apa yang sangat menarik dari hal itu? Tidak ada satu pun catatan bahwa mereka bernyanyi di antara kedua peristiwa tersebut. Seolah-olah segera setelah Allah menciptakan dunia dan manusia jatuh ke dalam dosa, para malaikat kehilangan nyanyian mereka. Dan yang akan memulihkan nyanyian para malaikat adalah kedatangan kembali Yesus Kristus. Pada saat itulah mereka akan bernyanyi lagi.

Sementara itu, selama mereka tidak bernyanyi, mereka sangat sibuk melakukan hal-hal lainnya, dan itulah yang sedang kita pelajari. Kita sudah membahas tentang keberadaan mereka, asal-usul mereka, bahwa mereka adalah makhluk ciptaan. Kita juga membahas natur mereka, bahwa mereka adalah makhluk roh, tetapi tetap memiliki suatu wujud karena mereka dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Jadi kita sudah melihat keberadaan mereka, asal-usul mereka, dan natur mereka. Lalu pada pertemuan yang lalu kita mulai membahas pelayanan mereka. Kita mengatakan bahwa ada empat bidang pelayanan para malaikat. Mereka melayani Allah, mereka melayani Kristus, mereka melayani orang percaya, dan mereka melayani orang yang belum percaya. Itulah empat bidang pelayanan para malaikat.

Pertama, kepada Allah. Kita mengatakan bahwa mereka melayani sebagai penyembah dan juga sebagai pelayan. Di dalam Alkitab kita melihat para malaikat berdiri mengelilingi takhta Allah sambil berkata, "Kudus, kudus, kudus." Mereka terus memuji Allah, meninggikan Allah, dan menyembah Allah. Selain itu, kita juga melihat mereka melayani Allah. Ketika Allah memiliki suatu tugas untuk dilakukan, Dia mengutus malaikat-malaikat-Nya sebagai para utusan.

Kedua, kita mengatakan bahwa para malaikat memiliki pelayanan kepada Kristus. Kita melihat para malaikat melayani Kristus dengan memberitakan kelahiran-Nya. Mereka melayani-Nya pada waktu menjelang kelahiran-Nya dan terus menyertai-Nya sepanjang kehidupan-Nya di bumi. Mereka melayani-Nya ketika Dia dicobai pada awal pelayanan-Nya. Kemudian mereka juga hadir pada saat kebangkitan-Nya, mereka menyertai kenaikan-Nya ke surga, dan mereka akan bersama-Nya ketika Dia datang kembali. Tapi kita juga mengatakan bahwa di sepanjang kehidupan Kristus ada satu masa ketika para malaikat tidak menolong-Nya. Masih ingat kapan itu? Yaitu ketika Dia mati di kayu salib. Pada saat itulah Yesus berkata, "Kalau Aku mau, Aku dapat meminta kepada Bapa-Ku, dan Dia akan mengirimkan dua belas pasukan malaikat." Tapi Dia memilih untuk tidak melakukannya supaya Dia dapat mati bagi Anda dan bagi saya. Selain peristiwa itu, para malaikat terus melayani-Nya sepanjang hidup-Nya. Mereka masih melayani-Nya sampai sekarang, dan Dia akan datang kembali bersama mereka pada kedatangan-Nya yang kedua.

Ketiga, dalam pelayanan para malaikat, kita mulai melihat pelayanan mereka kepada orang-orang percaya, yaitu bagaimana para malaikat melayani kita sebagai orang Kristen. Dan bagian ini benar-benar menarik. Dalam Ibrani 1:14, kita menggunakan sebuah ayat sebagai dasar. Di sana dikatakan, "Bukankah mereka semua adalah roh-roh yang melayani, yang diutus untuk melayani mereka yang akan mewarisi keselamatan?" Para malaikat adalah pelayan yang diutus untuk melayani mereka yang akan menerima keselamatan. Itulah kita. Pelayanan para malaikat adalah memelihara orang-orang Kristen. Dan itu jelas merupakan pekerjaan penuh waktu. Tidak diragukan lagi. Allah membuat sebagian dari mereka terus sibuk memelihara kita. Ada beberapa petunjuk dalam Alkitab bahwa malaikat tertentu ditugaskan untuk orang percaya tertentu. Orang sering bertanya kepada saya, "Apakah kita masing-masing memiliki malaikat pelindung?" Yah, saya tidak yakin kita hanya memiliki satu. Saya justru cenderung berpikir bahwa mungkin ada banyak malaikat yang siap menjalankan perintah Allah untuk memenuhi kebutuhan kita.

Apa saja yang dilakukan para malaikat bagi orang percaya? Pertama, seperti yang sudah kita lihat pada pertemuan yang lalu—ini hanya ulasan singkat—mereka memperhatikan kita. Mereka memperhatikan gereja. Masih ingat saya mengatakan bahwa mereka memperhatikan para wanita untuk memastikan mereka hidup dalam ketundukan? Mereka memperhatikan pengkhotbah. Mereka memperhatikan kehidupan setiap orang percaya. Bahkan Daniel menyebut para malaikat dengan sebutan "para penjaga." Kedua, mereka menyatakan kebenaran Allah. Dalam Alkitab kita berkali-kali melihat bahwa para malaikat menjadi perantara yang dipakai Allah untuk menyampaikan firman-Nya. Ketika Allah menuliskan hukum Taurat dengan jari-Nya di atas loh batu di Gunung Sinai, para malaikatlah yang kemudian membawa hukum itu kepada Musa. Dalam banyak kesempatan, merekalah yang menjadi pembawa penyataan Allah. Ketiga, bagi orang percaya, mereka juga membimbing. Di sepanjang sejarah umat Allah, kita melihat para malaikat membimbing hamba-hamba Tuhan ke berbagai tempat. Seorang malaikat membimbing Filipus. Seorang malaikat membimbing Kornelius. Seorang malaikat membimbing Petrus. Keempat, mereka juga menyediakan kebutuhan. Masih ingat ketika Elia berlari ke padang gurun dan tidak memiliki makanan? Seorang malaikat datang melayaninya, menyentuhnya, memberinya makan, dan menguatkannya. Jadi, mereka memperhatikan, menyatakan kebenaran, membimbing, dan menyediakan kebutuhan. Lalu kita sampai pada pelayanan yang kelima, dan di situlah kita akan memulai pembahasan malam ini.

Pelayanan kelima para malaikat kepada orang-orang percaya yang kita temukan dalam Alkitab adalah melindungi. Mereka terlibat dalam melindungi kita. Mereka menjaga umat Allah dari bahaya fisik. Para malaikat memang berperan dalam perlindungan. Mari saya berikan sebuah contoh. Bukalah Alkitab Anda di Daniel pasal 3. Saya sangat menyukai kisah ini, sungguh luar biasa. Nebukadnezar memiliki masalah besar dengan egonya—kalau diungkapkan dengan halus. Dia ingin semua orang berhenti menyembah allah mana pun selain dirinya sendiri. Semua orang harus menyembah Nebukadnezar, dan hal itu dijadikannya sebagai hukum. Tapi ada beberapa orang Ibrani yang tidak mau melakukan itu. Jadi mereka memutuskan tetap menyembah Allah. Anda tentu ingat kisah Sadrakh, Mesakh, dan Abednego. Pada ayat 16, mereka berkata, "Hai Nebukadnezar, tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada Tuanku dalam hal ini." Dengan kata lain, kami sama sekali tidak khawatir mengenai persoalan ini. Kami tidak sedikit pun gelisah menghadapi semua ini, Nebukadnezar. Kami hanya akan terus melakukan apa yang selama ini memang kami lakukan.

“’Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya Raja. Tetapi, seandainya tidak, hendaklah Tuanku mengetahui, ya Raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa Tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang Tuanku dirikan itu.’ Meluaplah kegeraman Nebukadnezar terhadap Sadrakh, Mesakh dan Abednego, dan air mukanya berubah. Lalu diperintahkannya supaya perapian itu dibuat tujuh kali lebih panas daripada yang biasa. Kepada beberapa orang yang sangat kuat dari antara tentaranya, ia menitahkan untuk mengikat Sadrakh, Mesakh dan Abednego serta mencampakkan mereka ke dalam perapian yang menyala-nyala itu. Lalu ketiga orang itu diikat, dan dengan jubah, celana, topi dan pakaian mereka yang lain mereka dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala. Karena titah raja itu keras, perapian pun dipanaskan secara luar biasa, sehingga nyala api itu membakar mati orang-orang yang mengangkat Sadrakh, Mesakh dan Abednego itu ke atas.”

Orang-orang yang melemparkan mereka ke dalam perapian semuanya mati terbakar karena apinya begitu dahsyat. “Tetapi, Sadrakh, Mesakh dan Abednego, ketiga orang itu jatuh ke dalam perapian yang menyala-nyala itu dalam keadaan terikat.” Orang-orang lain terbakar habis, sementara mereka tetap berada di dalam sana. “Kemudian raja Nebukadnezar terkejut; ia segera bangun dan berkata kepada para menterinya, ‘Bukankah tiga orang yang telah kita campakkan dalam keadaan terikat ke dalam api itu?’ Jawab mereka kepada raja: ‘Benar, ya raja!’

Katanya: ‘Tetapi, aku melihat empat orang berjalan-jalan dengan bebas di tengah-tengah api itu. Mereka tidak terluka, dan yang keempat itu kelihatan seperti anak dewa!’” Nebukadnezar sangat terkejut, ayat 26 berkata, “Lalu Nebukadnezar mendekati pintu perapian yang bernyala-nyala itu dan berkata: ‘Sadrakh, Mesakh dan Abednego, hamba-hamba Allah yang maha tinggi, keluarlah dan datanglah ke mari!’ Sadrakh, Mesakh dan Abednego pun keluar dari api itu.”

Luar biasa, bukan? "Para wakil raja, para penguasa, para bupati, dan para menteri raja datang berkumpul; mereka melihat bahwa tubuh orang-orang ini tidak dikuasai oleh api bahwa rambut di kepala mereka tidak hangus, jubah mereka tidak berubah apa-apa, bahkan bau kebakaran pun tidak ada pada mereka." Sama sekali tidak ada pengaruhnya. Kemudian Nebukadnezar berkata, "Terpujilah Allah Sadrakh, Mesakh dan Abednego! Ia telah mengutus malaikat-Nya dan melepaskan hamba-hamba-Nya, yang mempercayakan diri kepada-Nya." Tahukah Anda siapa orang keempat itu? Ada yang mengatakan bahwa Dia adalah Yesus Kristus. Tapi yang pasti itu adalah seorang malaikat—mungkin Malaikat TUHAN. Ungkapan "seperti anak dewa" adalah komentar dari orang-orang kafir pada waktu itu. Seorang malaikat menyelamatkan mereka dari tengah-tengah perapian yang bahkan membakar sampai mati orang-orang yang berusaha melemparkan mereka ke dalamnya.

Sekarang mari saya tunjukkan hal lain dalam Daniel pasal 6. Para malaikat juga aktif dalam kehidupan Daniel dan teman-temannya. Kali ini rajanya berbeda, yaitu Darius. Tapi dia memiliki masalah yang sama seperti Nebukadnezar, yaitu ingin semua orang menyembah dirinya dan agamanya. Karena itu, Daniel 6 ayat 16 mengatakan bahwa mereka membawa Daniel lalu melemparkannya ke dalam gua singa. Raja sendiri yang memerintahkan hal itu. “Berbicaralah raja kepada Daniel: ‘Allahmu yang kausembah dengan setia, Dialah kiranya yang melepaskan engkau!’” Menurut saya, raja ini sebenarnya sangat menyukai Daniel. Dan saya rasa dia sungguh percaya kepada Allah yang disembah Daniel. Seolah-olah dia berkata, "Jangan khawatir, Daniel. Aku sudah mendengar banyak tentang Allahmu, dan engkau akan baik-baik saja. Engkau akan masuk ke sana, dan Dia akan mengeluarkan engkau kembali." Nah, itulah yang bisa disebut sebagai iman seorang kafir. Kemudian sebuah batu diletakkan menutupi mulut gua itu, lalu raja memeteraikannya dengan cincin meterainya sendiri dan meterai para pembesarnya, supaya keputusan mengenai Daniel tidak dapat diubah lagi. Daniel pun berada di dalam gua singa. Lalu pada ayat 18 dikatakan bahwa raja kembali ke istananya dan melewatkan malam itu dengan berpuasa. Dia tidak makan apa pun. Dia juga tidak mengizinkan alat-alat musik dibawa ke hadapannya, dan dia sama sekali tidak bisa tidur. Saya membayangkan dia mondar-mandir sepanjang malam karena terus mengkhawatirkan Daniel.

“Pagi-pagi sekali ketika fajar menyingsing, raja bangun dan segera pergi ke gua singa. Ketika sampai dekat gua itu, berserulah ia kepada Daniel dengan suara pilu. Katanya kepada Daniel: "Daniel, hamba Allah yang hidup, Allahmu yang kausembah dengan setia, sanggupkah Ia melepaskan engkau dari singa-singa itu?’” Apakah kamu ada disana, Daniel? “Kata Daniel kepada raja: ‘Ya raja, kekallah hidupmu! Allahku telah mengutus’” – apa? – “‘Malaikat-Nya untuk mengatupkan mulut singa-singa itu sehingga mereka tidak melukai aku.’” Luar biasa, bukan, kisah itu? Bagaimana Allah melindungi Daniel? Dengan mengutus seorang malaikat—atau mungkin beberapa malaikat dalam peristiwa ini.

Malaikat-malaikat Allah terus sibuk melindungi orang-orang percaya. Sekarang lihatlah 2 Raja-raja pasal 6. Saya rasa kita sudah sempat menyinggung bagian ini di awal pembahasan kita, tapi mari kita melihatnya lagi. 2 Raja-raja 6 ayat 8. "Raja negeri Aram sedang berperang melawan Israel."—itu ayat 8—"Setelah berunding dengan pegawai-pegawainya, ia berkata: ‘Ke tempat ini dan itu kamu harus menghadang.’” Jadi, saat itu sedang terjadi peperangan antara Israel dan Aram. Itu yang perlu kita pahami terlebih dahulu. Kemudian ayat 14 berkata, "Ia lalu mengirim kuda dan kereta serta pasukan yang besar ke sana. Mereka sampai pada waktu malam dan mengepung kota itu." Lalu pada ayat 15, "Ketika pelayan abdi Allah bangun pagi-pagi dan pergi ke luar, tampaklah pasukan dengan kuda dan kereta ada di sekeliling kota itu. Lalu hambanya itu berkata kepadanya—yaitu Elisa—'Celaka, Tuanku! Apakah yang harus kita lakukan?'" Lihatlah, kita sudah dikepung oleh musuh, yaitu orang-orang Aram. Tapi Elisa berkata, "Jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita daripada yang menyertai mereka." Hamba itu mungkin hanya menggaruk-garuk kepala sambil berpikir, "Apa maksudnya?" Lalu Elisa berdoa, "Ya TUHAN, bukalah kiranya matanya sehingga ia melihat." Maka TUHAN membuka mata orang muda itu, dan dia pun melihat. Apa yang dilihatnya? "Tampaklah gunung itu penuh dengan kuda dan kereta berapi di sekeliling Elisa." Ternyata ada seluruh pasukan malaikat yang mengelilingi mereka.

Tahukah Anda apa yang dilakukan pasukan malaikat itu? Menarik sekali. Lihat ayat 18. "Ketika orang-orang Aram itu mendatangi dia, Elisa berdoa kepada TUHAN: ‘Butakanlah kiranya mata orang-orang ini.’ Lalu dibutakan-Nyalah mata mereka, sesuai dengan doa Elisa." Tampaknya para malaikat itu turun lalu membutakan mereka. Saya tidak tahu apakah caranya sama seperti yang pernah terjadi di Sodom, atau dengan cara yang lain. Apa pun caranya, tampaknya hal seperti itu memang beberapa kali mereka lakukan. Mereka membuat seluruh pasukan itu menjadi buta, lalu menuntun mereka ke Samaria, sehingga mereka benar-benar keluar dari wilayah yang mereka kuasai. Mereka digiring begitu saja, dalam keadaan buta total, sampai ke Samaria. Sekali lagi Allah membebaskan dan melindungi umat-Nya. Mungkin Anda bertanya, "Bagaimana dengan Perjanjian Baru? Apakah ada contoh di Perjanjian Baru tentang para malaikat yang melindungi umat Allah?" Ya, tentu ada. Tidak diragukan lagi.

Mari kita melihat Kisah Para Rasul pasal 27. Anda tentu masih ingat bagian ini ketika kita mempelajarinya. Ini adalah pasal yang luar biasa. Paulus sedang dalam perjalanan menuju Roma dengan sebuah kapal. Pada ayat 14 dikatakan, "Tetapi tidak berapa lama kemudian turunlah dari arah pulau itu angin badai, yang disebut angin ‘Timur Laut.’” Itu adalah angin yang sangat ditakuti di Laut Tengah, semacam badai besar dari timur laut. "Kapal itu dilandanya dan tidak tahan menghadapi angin haluan. Karena itu kami menyerah saja dan membiarkan kapal kami terombang-ambing." Artinya, mereka melepaskan kendali kapal dan membiarkan angin membawa kapal itu ke mana saja. Kemudian mereka berlayar di sisi terlindung sebuah pulau kecil bernama Kauda, dan dengan susah payah mereka berusaha mengamankan sekoci yang ditarik di belakang kapal. Mereka khawatir sekoci itu akan lepas, sehingga mereka bekerja keras untuk mempertahankannya sementara badai semakin hebat. Setelah akhirnya sekoci itu berhasil dinaikkan ke atas kapal supaya tidak hanyut, mereka menggunakan tali-tali untuk mengikat badan kapal. Tindakan ini dikenal dengan istilah "frapping", yaitu melilitkan tali mengelilingi badan kapal di tengah badai, lalu mengencangkannya dengan alat penarik, supaya papan-papan kapal tetap rapat dan seluruh kapal tidak terbelah atau hancur.

Ayat 17, "Karena takut terdampar di dasar pasir Sirtis …." Sirtis adalah kuburan bagi kapal-kapal di pantai Afrika Utara. Bayangkan situasinya. Saat itu mereka berada di bagian utara Laut Tengah, lalu angin timur laut yang sangat dahsyat, yaitu angin Eurokuilon, datang menerjang. Itulah angin yang paling ditakuti. Angin itu mendorong mereka langsung menuju kuburan kapal-kapal di pantai utara Afrika. Mereka berusaha mati-matian mempertahankan kapal itu agar tetap utuh. Ungkapan "mereka menurunkan layar" secara harfiah berarti mereka menurunkan semua perlengkapan layar dan membiarkan kapal terbawa angin. Karena kapal terus dihantam badai dengan sangat hebat, keesokan harinya mereka mulai membuang muatan kapal. “Pada hari yang ketiga mereka membuang alat-alat kapal dengan tangan mereka sendiri. Setelah beberapa hari tidak kelihatan matahari dan bintang-bintang dan angin badai yang dahsyat terus-menerus mengancam kami, akhirnya putuslah segala harapan kami untuk dapat menyelamatkan diri kami.” Dalam kegelapan seperti itu, tanpa matahari dan tanpa bintang, tidak ada cara untuk menentukan arah pelayaran. Sementara badai terus menyeret mereka, mereka sama sekali tidak tahu ke mana kapal itu akan menghantam.

" Karena mereka beberapa lamanya tidak makan,"—bagian ini luar biasa— “berdirilah Paulus di tengah-tengah mereka dan berkata, ‘Saudara-saudara, sekiranya nasihatku dituruti supaya kita jangan berlayar dari Kreta, kita pasti terhindar dari kesukaran dan kerugian ini! Tetapi sekarang, juga dalam kesukaran ini, aku menasihatkan kamu, supaya kamu tetap bersemangat.'" Tenanglah, saudara-saudara. "Tidak seorang pun di antara kalian akan kehilangan nyawanya. Yang akan hilang hanyalah kapalnya." Coba bayangkan kalau Anda mendengar kabar seperti itu. "Saudara-saudara, tidak ada yang akan tenggelam. Kita hanya akan kehilangan kapalnya." Benarkah? Lalu bagaimana kita bisa selamat kalau tidak punya kapal? Mungkin Anda bertanya, "Bagaimana Paulus bisa tahu?" Jawabannya ada pada ayat 23. "Karena tadi malam seorang malaikat dari Allah, yaitu dari Allah yang aku sembah sebagai milik-Nya, berdiri di sisiku." Dan tahukah Anda apa yang dikatakan malaikat itu? "Jangan takut, Paulus! Engkau harus menghadap Kaisar. Sesungguhnya karena rahmat Allah kepadamu, maka semua orang yang berada bersama-sama dengan engkau di kapal ini akan selamat."

Tahukah Anda? Sementara kapal kecil itu dihantam badai dan terombang-ambing di Laut Tengah, ada satu pasukan malaikat, atau entah berapa banyak jumlahnya, yang sedang menjaga setiap orang dan segala sesuatu di atas kapal itu. Allah telah mengutus malaikat-malaikat-Nya. Kisah yang luar biasa ini berlanjut dengan menceritakan bagaimana akhirnya mereka tiba di tempat pendaratan yang aman. Mereka sendiri tidak dapat mempercayainya. Bukannya terus terseret ke selatan, mereka justru dibawa menuju tujuan perjalanan mereka. Ketika kapal itu menghantam batu karang, kapal tersebut hancur berkeping-keping dan semua orang terlempar ke laut. Beberapa saat kemudian, setelah mereka berhasil mencapai pantai, mereka menghitung jumlah orang yang selamat. Ternyata setiap orang ada di sana, tidak seorang pun yang hilang, sementara kapal itu benar-benar hancur, persis seperti yang telah dikatakan oleh malaikat itu. Malaikat-malaikat Allah benar-benar menjaga dan melindungi umat-Nya.

Seseorang pernah bercerita kepada saya bahwa suatu kali dia sedang mengemudi di jalan tol. Dia sangat lelah. Tiba-tiba dia tersentak bangun dan mendapati mobilnya sudah berhenti di pinggir jalan. Penjelasannya adalah, "Saya sendiri tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi. Saya tertidur saat mengemudi. Terakhir yang saya ingat, saya sedang melaju di jalur cepat. Hal berikutnya yang saya sadari, mobil saya sudah terparkir di bahu jalan." Nah, itu pasti pekerjaan malaikat. Tapi melihat cara sebagian dari Anda mengemudi, saya rasa Anda benar-benar membuat para malaikat bekerja ekstra keras. Tidak perlu memberi mereka kekhawatiran yang sebenarnya bisa dihindari. Mereka melindungi kita. Saya sering memikirkan hal itu ketika mengingat anak-anak saya. Bukankah Anda juga begitu? Ketika saya menyadari bahwa Allah mengutus malaikat-malaikat-Nya untuk menjaga mereka, saya tidak terlalu khawatir lagi, karena para malaikat itu dapat melakukan hal-hal yang tidak mungkin bisa saya lakukan, sekalipun saya berada di sana. Dan ketika saya mengingat pengalaman yang pernah saya ceritakan tentang pesawat beberapa waktu yang lalu, saya tidak terlalu yakin bahwa para malaikat tidak sedang berada di bawah sayap pesawat itu untuk menjaganya.

Baiklah, sekarang kita masuk ke hal yang keenam. Sebenarnya ini masih berkaitan dengan yang sebelumnya, hanya tingkatnya sedikit berbeda. Para malaikat juga bertugas melepaskan orang-orang percaya. Ini bukan sekadar mencegah masalah datang, tetapi membebaskan Anda ketika Anda sudah berada di dalam masalah. Saya sangat menyukai kisah dalam Kisah Para Rasul pasal 5. Itu adalah salah satu kisah favorit saya di seluruh Alkitab, karena sekali lagi menunjukkan betapa Allah memelihara umat-Nya. Yang terjadi saat itu adalah gereja mula-mula terus memberitakan Injil dan terus bertumbuh. Akibatnya para pemimpin Yahudi menjadi sangat gusar terhadap gereja. Pada ayat 17 dikatakan bahwa imam besar—kemungkinan besar Kayafas—bangkit bersama semua orang yang ada di pihaknya, yaitu golongan Saduki, kelompok orang-orang kaya itu. Mereka dipenuhi rasa iri hati. Mereka benar-benar marah melihat pertumbuhan kelompok baru yang disebut Kristen itu. Mereka sangat terusik. Lalu mereka menangkap para rasul. Seperti yang pernah saya katakan sebelumnya, mereka jelas bukan sedang menumpangkan tangan untuk menahbiskan para rasul. Mereka menangkap para rasul lalu memasukkan mereka ke dalam penjara umum, yaitu penjara yang diperuntukkan bagi para penjahat.

Yang paling saya sukai adalah ayat berikutnya. "Tetapi pada malam hari seorang malaikat Tuhan membuka pintu-pintu penjara itu dan membawa mereka ke luar, katanya, ‘Pergilah, berdirilah di Bait Allah dan beritakanlah seluruh firman hidup itu kepada orang banyak.’” Yang menarik adalah, orang-orang Saduki itulah yang tidak percaya akan adanya malaikat. Seolah-olah Allah berkata, "Rasakan itu, hai orang-orang Saduki," lalu Dia mengutus seorang malaikat untuk membebaskan para rasul yang baru saja mereka masukkan ke dalam penjara. Lalu kisah ini menjadi semakin menarik. Dikatakan, “Setelah mendengar pesan itu, menjelang pagi masuklah mereka ke dalam Bait Allah, lalu mulai mengajar di situ. Sementara itu Imam Besar dan pengikut-pengikutnya menyuruh Mahkamah Agama berkumpul, yaitu seluruh majelis tua-tua bangsa Israel, dan mereka menyuruh mengambil rasul-rasul itu dari penjara.” Mereka sama sekali tidak tahu bahwa para rasul sudah berada di Bait Allah dan sedang berkhotbah. “Tetapi ketika pejabat-pejabat itu datang ke penjara, mereka tidak menemukan rasul-rasul itu di situ. Lalu mereka kembali dan memberitahukan, katanya, "Kami mendapati penjara terkunci rapat-rapat dan semua pengawal ada di tempatnya di depan pintu." Wah, itu memang penjara yang bagus. Mereka berkata, "Kami datang ke sana dan semuanya masih terkunci." Para penjaga tetap berjaga, semua kunci masih terkunci rapat. Satu-satunya masalah adalah, "Kami tidak menemukan seorang pun di dalam." Bagaimana mereka bisa keluar? Ya, malaikatlah yang membebaskan mereka.

Malaikat-malaikat Allah memang terlibat dalam membebaskan umat-Nya. Sungguh menguatkan mengetahui hal itu. Anda tidak akan pernah berada dalam situasi yang terlalu sulit sehingga Allah tidak sanggup mengeluarkan Anda darinya, jika memang itulah yang Dia kehendaki. Bukankah itu luar biasa? Saya pikir kebenaran ini seharusnya memberi keberanian yang besar kepada setiap misionaris. Ketika mereka pergi ke tempat-tempat yang mungkin menimbulkan rasa takut, mereka dapat mengingat, "Kalau aku menghadapi masalah apa pun di tempat ini, dan Allah menghendaki aku keluar darinya, maka Allah memiliki seluruh pasukan malaikat-Nya yang siap diperintahkan untuk menolong dan membebaskanku."

Sekarang lihatlah Petrus dalam Kisah Para Rasul pasal 12. Perhatikan kisah ini. Petrus kembali dipenjarakan karena memberitakan Injil. Pada Kisah Para Rasul 12 ayat 5, penganiayaan semakin berat. Yakobus, saudara Yohanes, sudah dibunuh. Sekarang Petrus berada di dalam penjara, sementara jemaat terus menaikkan doa baginya. Ayat 6 berkata, "Pada malam sebelum Herodes hendak menghadapkannya kepada orang banyak"—kemungkinan besar untuk dihukum mati keesokan harinya—" Petrus tidur di antara dua orang prajurit, terbelenggu dengan dua rantai, sedangkan di depan pintu, para pengawal sedang menjaga penjara itu." Coba bayangkan. Petrus berada di dalam penjara dengan pengamanan maksimum. Di luar pintu sel ada para penjaga. Di dalam sel, kedua tangannya dirantai kepada dua orang prajurit, satu di sebelah kanan dan satu di sebelah kiri. Itulah yang disebut pengamanan ketat. Sekarang perhatikan.

"Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan dekat Petrus dan cahaya bersinar dalam kamar penjara itu. Malaikat itu menepuk Petrus untuk membangunkannya, katanya, "Bangunlah segera!" Lalu gugurlah rantai itu dari tangan Petrus." Kedua prajurit yang dirantai kepadanya tetap tertidur pulas. Malaikat itu hanya menyentuh Petrus, rantainya langsung terlepas. Lalu malaikat itu berkata, "Ikatlah pinggangmu dan kenakanlah sepatumu! Kita akan pergi." Petrus pun melakukannya. Kemudian malaikat itu berkata lagi, "Kenakan jubahmu dan ikutlah aku." "Pakai mantelmu. Ayo kita pergi."

“Lalu ia (Petrus) mengikuti malaikat itu ke luar dan ia tidak tahu bahwa apa yang dilakukan malaikat itu sungguh-sungguh terjadi, sangkanya ia melihat suatu penglihatan.” Dia mungkin berpikir bahwa sebentar lagi dia akan terbangun dan mendapati dirinya masih terbaring di sana, tetap dirantai kepada dua prajurit itu. Dia benar-benar tidak menyadari bahwa semuanya nyata. " Setelah mereka melalui tempat penjagaan pertama dan tempat penjagaan kedua, sampailah mereka ke pintu gerbang besi yang menuju ke kota. Pintu itu terbuka dengan sendirinya bagi mereka. Sesudah tiba di luar, mereka berjalan sampai ke ujung jalan, dan tiba-tiba malaikat itu meninggalkan dia.” Barulah Petrus sadar sepenuhnya." Akhirnya dia benar-benar tersadar dan mendapati dirinya sudah berdiri di jalan. Lalu dia berkata, "Sekarang tahulah aku benar-benar bahwa Tuhan telah menyuruh malaikat-Nya dan..."—apa?—"... menyelamatkan aku dari tangan Herodes." Setelah itu, tentu saja, Petrus pergi ke rumah tempat jemaat sedang berkumpul untuk berdoa agar dia dibebaskan. Dia mengetuk pintu. Seseorang datang, lalu berkata, "Tidak mungkin itu Petrus. Petrus masih di penjara." Lalu pintunya ditutup lagi dan Petrus ditinggalkan di luar. Luar biasa, ya? Iman mereka benar-benar besar, bukan?

Salah satu pelayanan para malaikat adalah membebaskan umat Allah. Ada sebuah kisah modern yang sangat menarik sebagai gambaran tentang hal ini, yaitu pengalaman seorang Kristen India yang terkenal bernama Sundar Singh. Mungkin sebagian dari Anda pernah membaca kisahnya. Atas perintah kepala lama di sebuah komunitas di Tibet, Sundar Singh dilemparkan ke dalam sebuah sumur kering. Sumur itu memang memiliki penutup yang sengaja dibuat untuk tujuan seperti itu, yaitu untuk menjebloskan orang ke dalamnya. Penutup itu kemudian dikunci rapat, dan Sundar Singh ditinggalkan di sana untuk mati. Dalam tulisannya, ia menceritakan bahwa di dasar sumur itu terdapat banyak tulang belulang, bahkan daging yang sudah membusuk dari orang-orang lain yang sebelumnya juga dibuang ke sana dengan alasan yang sama. Pada malam ketiga, ketika ia terus berseru kepada Allah dalam doa, ia mendengar seseorang membuka kunci penutup sumur itu. Lalu terdengar sebuah suara yang menyuruhnya memegang tali yang diturunkan ke dalam sumur. Ia melakukannya dan bersyukur karena di ujung bawah tali itu terdapat sebuah simpul tempat ia bisa meletakkan kakinya, sebab salah satu lengannya patah ketika ia dilemparkan ke bawah. Setelah itu ia ditarik ke atas dengan kuat. Penutup sumur dipasang kembali dan dikunci lagi. Ketika ia menoleh dalam kegelapan untuk mengucapkan terima kasih kepada orang yang telah menolongnya, tidak ada seorang pun di sana.

Keesokan paginya, Sundar Singh kembali ke kota tempat ia ditangkap, lalu mulai berkhotbah lagi. Berita itu segera sampai kepada kepala lama, yang sama sekali tidak percaya bahwa hal itu mungkin terjadi, karena satu-satunya kunci sumur itu selalu tergantung di ikat pinggangnya sendiri.

Bagaimana hal itu bisa terjadi? Bisa saja itu adalah salah satu malaikat Allah. Dalam peristiwa seperti itulah kita melihat pembebasan dari Allah. Allah memang bekerja dengan cara seperti itu. Coba pikirkan betapa aktifnya Dia bekerja dalam kehidupan semua tokoh yang disebutkan di Ibrani pasal 11. Bayangkan bagaimana Dia memelihara dan membebaskan semua orang itu—para pahlawan iman seperti Gideon, Barak, Simson, Yefta, Daud, dan Samuel. Bayangkan betapa aktifnya para malaikat melayani mereka yang oleh iman menaklukkan kerajaan-kerajaan, melakukan kebenaran, memperoleh janji-janji Allah, menutup mulut singa-singa, memadamkan kedahsyatan api, luput dari mata pedang, dan masih banyak lagi. Pikirkanlah bagaimana sepanjang sejarah para malaikat telah melayani umat Allah melalui perlindungan dan pembebasan. Dan tahukah Anda? Di masa yang akan datang pun para malaikat akan tetap aktif melindungi umat Allah.

Pada masa yang dikenal sebagai masa kesengsaraan besar, setelah Tuhan mengangkat gereja-Nya, Allah akan mengambil 144.000 orang Yahudi—menurut Wahyu pasal 7—yaitu 12.000 orang dari setiap suku Israel, dan menjadikan mereka para pemberita Injil. Roma pasal 11 mengatakan bahwa seluruh Israel akan diselamatkan. Tapi 144.000 orang inilah yang akan menjadi para penginjil untuk memberitakan Injil. Dan supaya tidak seorang pun dapat mencelakakan mereka, Wahyu 7:1 mengatakan demikian, "Setelah itu aku melihat empat malaikat berdiri pada keempat penjuru bumi dan mereka menahan keempat angin bumi, supaya jangan ada angin bertiup di darat, atau di laut atau di pohon-pohon." Sekarang perhatikan. "Lalu aku melihat seorang malaikat lain muncul dari tempat matahari terbit"—yaitu dari timur—"Ia membawa meterai Allah yang hidup; dan ia berseru dengan suara nyaring kepada keempat malaikat yang ditugaskan untuk merusakkan bumi dan laut, ‘Janganlah merusak bumi atau laut atau pohon-pohon sebelum kami memeteraikan hamba-hamba Allah kami pada dahi mereka!’”

Lalu datanglah seorang malaikat yang memeteraikan mereka. Tahukah Anda mengapa? Supaya mereka tidak dapat disentuh, tidak dapat dicelakai, dan tidak dapat dilukai selama masa kesengsaraan itu. Mereka adalah para penginjil Allah. Mereka adalah para misionaris Allah. Meterai yang diberikan oleh malaikat itu melindungi mereka dari kematian di tangan binatang itu. Mungkin meterai itu juga menjadi tanda pengenal bagi para malaikat, sehingga mereka mengetahui siapa yang harus mereka lindungi ketika pembantaian besar pada masa kesengsaraan itu terjadi.

Tadi Paulus membacakan sebuah bagian yang indah dari Yesaya 63:9, yang menggambarkan bagaimana para malaikat turut mengambil bagian dalam pembebasan bangsa Israel dari Mesir. Saya sangat menyukai kalimat ini: "Dalam segala kesesakan mereka, Dia pun turut merasakan kesesakan itu." Allah memandang bangsa Israel, dan setiap kali seorang Israel dipukul dengan cambuk ketika membuat batu bata, Allah turut merasakan sakitnya. Setiap kali seorang Israel ditampar hingga jatuh ke tanah, Allah juga merasakan penderitaan itu. Dalam segala kesesakan mereka, Dia pun turut merasakan kesesakan itu. Lalu ayat itu berkata, "Malaikat hadirat-Nya menyelamatkan mereka. Dalam kasih dan belas kasihan-Nya Dia menebus mereka. Dia mengangkat dan menggendong mereka sepanjang zaman dahulu." Ketika bangsa Israel berada di Mesir, Allah mengasihi mereka. Dia mengangkat mereka dalam pelukan-Nya, menggendong mereka, dan mengutus Malaikat Hadirat-Nya—yang tidak lain adalah Kristus sebelum inkarnasi, suatu penampakan Allah—untuk membebaskan mereka. Allah membebaskan umat-Nya melalui para malaikat-Nya.

Ketujuh, pelayanan para malaikat adalah mereka terlibat dalam menjawab doa. Nah, saya ingin menjelaskan hal ini dengan baik. Para malaikat tidak menjawab doa. Mereka hanya menyampaikan jawaban atas doa. Mereka berperan dalam membawa jawaban doa. Sebagai contoh, kita baru saja membaca Kisah Para Rasul pasal 12. Kisah tentang malaikat yang membebaskan Petrus dari penjara itu diawali dengan keterangan bahwa jemaat sedang berdoa bagi Petrus. Lalu Allah mengutus seorang malaikat sebagai jawaban atas doa mereka. Dalam Daniel pasal 9 kita melihat hal yang serupa: Daniel berdoa, lalu Allah mengutus seorang malaikat. Dalam Daniel pasal 10 juga sama: ada doa, lalu Allah mengutus seorang malaikat. Dalam Kisah Para Rasul pasal 12 juga demikian: gereja berdoa, lalu Allah mengutus seorang malaikat. Kita tidak berdoa kepada para malaikat, karena para malaikat tidak memiliki kebebasan untuk menjalankan kehendak mereka sendiri. Mereka hanyalah para pelayan. Mereka tidak memberi perintah kepada diri mereka sendiri. Mereka tidak melakukan apa yang mereka inginkan. Mereka hanya menaati Allah. Karena itu, doa yang kita panjatkan hanyalah kepada Allah, dan hanya kepada-Nyalah doa dipersembahkan. Tapi Allah dapat menggerakkan para malaikat-Nya sebagai respons terhadap doa itu. Mungkin tidak salah jika kita berdoa seperti ini, "Tuhan, aku membutuhkan malaikat-malaikat-Mu. Maukah Engkau mengutus beberapa dari mereka untuk menolongku menghadapi persoalan ini?" Allah menjawab doa Sundar Singh, yang berdoa selama tiga malam, dan sangat mungkin seorang malaikatlah yang dipakai Allah untuk membebaskannya.

Jadi, apa saja yang dilakukan para malaikat bagi orang-orang percaya? Mereka memperhatikan kita, menyatakan kebenaran Allah, membimbing, menyediakan kebutuhan, melindungi, membebaskan, dan membawa jawaban atas doa. Nah, saya ingin menambahkan satu hal lagi sebagai penutup. Salah satu pelayanan para malaikat kepada orang percaya adalah mendampingi mereka pada saat kematian. Kita sempat menyinggung hal ini minggu lalu, bukan? Para malaikat juga bekerja ketika Anda meninggal dunia.

Pendeta William Kendall meninggal pada tanggal 1 Februari 1858. Menariknya, hari ini adalah hari peringatan kematiannya. Menjelang ajalnya, ia berkata kepada keluarganya, "Lihatlah, surga telah turun ke bumi. Aku melihat para malaikat. Mereka terbang ke seluruh penjuru rumah ini." Seorang wanita bernama Anna Krosen menceritakan bahwa kata-kata terakhir ibunya sebelum meninggal adalah, "Oh, Anna, aku dapat melihat para malaikat. Tidakkah engkau melihat mereka?" Saya juga pernah menemukan sebuah surat lama yang berbunyi demikian, "Nona Bernard meninggal setelah mengalami penderitaan yang sangat berat. Tapi saat-saat terakhirnya berlangsung dengan damai. Kata-kata terakhirnya adalah, 'Aku melihat dua malaikat datang menjemputku.'"

Nah, bukankah itu hal yang menarik? Sekarang mari kita buka Lukas pasal 16, dan melihat apakah ada dasar Alkitab yang mendukung hal itu. Lukas 16 ayat 19 berkata, " Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan." Dialah orang kaya itu. "Ada pula seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu." Lazarus duduk di depan gerbang rumah orang kaya itu dengan luka-luka yang bernanah di sekujur tubuhnya. Keadaannya sungguh menyedihkan. Ia "ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu." Dengan kata lain, ia ingin memakan sisa-sisa makanan, bahkan sampah dari rumah orang kaya itu. Itulah sebabnya ia terus berada di depan gerbang rumah itu. Bahkan dikatakan, "Anjing-anjing datang dan menjilat boroknya." Terus terang, pemandangan itu sangat memprihatinkan. Sekarang lihat ayat 22. "Kemudian matilah orang miskin itu." Mungkin Anda berkata, "Lalu kenapa?" Percayalah, itu adalah peristiwa yang sangat besar. "Lalu dibawa oleh..."—siapa?—"...para malaikat ke pangkuan Abraham." Mungkin selama hidupnya orang itu tidak dianggap penting oleh siapa pun di dunia ini. Tapi ketika dia meninggal, Allah mengutus malaikat-malaikat-Nya untuk membawa dia ke pangkuan Abraham.

Jadi, dengan berbagai cara itulah para malaikat melayani orang-orang percaya. Sungguh luar biasa mengetahui bahwa para malaikat yang perkasa melayani demi kebaikan kita. Dan pelayanan mereka tidak berhenti di masa sekarang saja. Di masa depan pun mereka akan tetap melayani. Pada masa kesengsaraan besar nanti, para malaikat akan melayani orang-orang percaya yang diselamatkan selama masa itu. Orang-orang yang bertobat kepada Kristus pada masa kesengsaraan akan mengalami pelayanan para malaikat. Ketika Yesus datang kembali, Dia berkata dalam Matius 24:31, "Ia akan menyuruh keluar malaikat-malaikat-Nya untuk mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya." Jadi para malaikatlah yang akan mengumpulkan semua orang kudus. Merekalah yang akan mengumpulkan semua orang percaya. Lalu pada masa Kerajaan Seribu Tahun, para malaikat juga akan kembali melayani kita. Dalam 1 Korintus 6 ayat 2 dan 3 dikatakan bahwa kita akan memerintah bersama Kristus di dalam kerajaan itu. Saya bacakan ayatnya. Ayat 2 berkata, "Tidak tahukah kamu bahwa orang-orang kudus akan menghakimi dunia?" Lalu ayat 3 berkata, "Tidak tahukah kamu bahwa kita akan menghakimi malaikat-malaikat?" Dalam kerajaan yang akan datang nanti, kita akan memerintah bersama Kristus sebagai rekan penguasa dan ahli waris bersama-Nya. Para malaikat akan melayani kita, melayani kepentingan kita, dan berada di bawah otoritas yang Allah tetapkan. Mereka melayani kita sekarang, dan mereka juga akan melayani kita di masa yang akan datang.

Bagaimana seharusnya sikap orang percaya terhadap para malaikat? Apa yang seharusnya menjadi sikap kita kepada mereka? Pertama, kita seharusnya menghormati mereka. Bagaimanapun juga, mereka adalah hamba-hamba Allah yang kudus. Kedua, kita seharusnya menghargai mereka. Saya tidak tahu dengan Anda, tetapi saya jauh lebih menghargai mereka sekarang setelah mengetahui apa saja yang mereka lakukan. Ketiga, saya rasa kita juga perlu meneladani mereka, karena mereka tidak pernah berhenti menyembah Allah dan tidak pernah berhenti melayani Allah. Tidak pernah ada jeda dalam kedua hal itu. Bukankah itu suatu teladan yang indah? Tapi sekalipun kita dapat bersyukur, menghargai mereka, dan meneladani mereka, ada satu hal yang harus saya tambahkan: kita tidak boleh menyembah para malaikat, karena itu adalah dosa. Para malaikat tidak menginginkan penyembahan kita. Dengarkan baik-baik. Para malaikat sendiri menyembah Allah. Mereka memberikan teladan kepada kita untuk menyembah Allah.

Alkitab dengan jelas melarang kita menyembah para malaikat. Kolose 2:18 berkata, "Janganlah kamu biarkan kemenanganmu digagalkan oleh orang yang pura-pura merendahkan diri dan beribadah kepada malaikat." Jangan biarkan siapa pun menyesatkan Anda sehingga Anda menyembah para malaikat. Jika itu terjadi, Anda akan kehilangan upah. Dan tahukah Anda? Para malaikat sama sekali tidak menginginkan penyembahan kita. Dalam Wahyu 19:10, Yohanes tersungkur di kaki seorang malaikat untuk menyembahnya. Tapi malaikat itu berkata kepadanya, "Janganlah berbuat demikian!" Seolah-olah dia berkata, "Bangunlah, Yohanes. Aku hanyalah sesama hamba denganmu. Sembahlah Allah." Malaikat itu tahu bahwa penyembahan hanya layak diberikan kepada Allah. Para malaikat tidak menginginkan penyembahan. Lalu dalam Wahyu 22:8, Yohanes berkata, "Aku, Yohanes, akulah yang telah mendengar dan melihat semuanya itu. Setelah aku mendengar dan melihatnya, aku sujud di depan kaki malaikat, yang telah menunjukkan semuanya itu kepadaku, untuk menyembahnya." Tapi malaikat itu berkata, "Jangan berbuat demikian, Yohanes. Bangunlah. Aku hanyalah sesama hamba denganmu. Sembahlah Allah." Dua kali Yohanes melakukannya, dan dua kali pula para malaikat berkata, "Jangan menyembah kami."

Jadi, setelah melakukan semua itu bagi kita, apa yang diminta para malaikat dari kita? Tidak ada. Sama sekali tidak ada. Mereka hanya menginginkan satu hal, yaitu supaya kita menyembah Allah. Para malaikat hanyalah perpanjangan dari kasih Allah. Mereka hanyalah perpanjangan dari pemeliharaan Allah, perpanjangan dari kuasa Allah, perpanjangan dari anugerah Allah, dan perpanjangan dari penyediaan Allah. Hanya itu. Semua kemuliaan adalah milik Allah. Seluruh kemuliaan adalah milik Allah. Jangan menyembah para malaikat. Sembahlah Allah.

Hal ini membawa kita kepada kategori yang terakhir, dan kita akan membahasnya secara singkat. Para malaikat melayani Allah, melayani Kristus, melayani orang-orang percaya, dan juga berhubungan dengan orang-orang yang belum percaya. Apa yang dilakukan para malaikat terhadap orang yang belum percaya? Bagaimana mereka bekerja? Alkitab hanya menyebut satu tugas. Hanya satu. Mereka adalah pelaksana penghukuman Allah. Mereka terlibat dalam penghancuran Sodom dan Gomora, kota-kota yang penuh dosa itu. Mereka juga menjadi pelaksana hukuman atas anak-anak sulung Mesir dalam Keluaran pasal 12. Dalam 2 Raja-raja pasal 19, hanya satu malaikat membunuh 185.000 tentara Asyur yang tidak percaya sebagai jawaban atas doa Hizkia. Para malaikat adalah pelaksana penghukuman Allah terhadap orang-orang yang tidak percaya.

Dalam Kisah Para Rasul pasal 12, kita bertemu dengan seorang yang bernama Herodes, salah satu dari keluarga Herodes. Herodes adalah sebuah dinasti raja-raja. Herodes ini begitu bangga terhadap dirinya sendiri sehingga dia menetapkan sebuah hari khusus untuk menghormati dirinya, yaitu Hari Herodes. Hari itu menjadi semacam hari perayaan nasional untuk memuliakan dirinya. Saat itu dia sedang sangat tidak senang dengan situasi politik yang sedang terjadi, jadi ada unsur politik di balik semua ini. Ayat 21 mengatakan bahwa sebenarnya hari itu adalah hari peringatan bagi Kaisar Klaudius, tetapi Herodes mengubahnya menjadi hari untuk menghormati dirinya sendiri. "Pada suatu hari yang ditentukan, Herodes mengenakan pakaian kerajaan." Menurut Yosefus, sejarawan Yahudi, Herodes mengenakan jubah ungu kerajaan, lalu di atasnya dia memakai jubah yang dibuat dari perak murni. Benar-benar penampilan yang sangat mewah. Dia duduk di atas takhtanya lalu menyampaikan pidato. Dia benar-benar tampil sebaik mungkin. Di amfiteater Kaisarea yang menghadap ke laut—yang sisa-sisanya masih dapat dilihat sampai sekarang—orang-orang duduk berlapis-lapis sambil bersorak dan berteriak ketika Herodes berdiri menyampaikan pidatonya. Lalu orang banyak berseru, "Ini suara dewa dan bukan suara manusia!" Mereka berkata, "Luar biasa! Herodes ini ilahi!"

Tapi Allah tidak berkenan kepadanya. Seketika itu juga ia ditampar malaikat Tuhan karena ia tidak memberi hormat kepada Allah; ia mati dimakan cacing-cacing." Pasti itu adalah suatu pemandangan yang sangat mengerikan. Allah mengutus malaikat-Nya untuk menghukumnya, dan tubuhnya dimakan oleh belatung sampai ia mati.

Di dalam Alkitab, para malaikat muncul dalam hubungannya dengan orang-orang yang belum percaya hanya dalam satu peran, yaitu sebagai pelaksana penghukuman. Sebagai contoh, mari kita melihat Kitab Wahyu sejenak. Dari pasal 6 sampai pasal 19, berulang kali para malaikat tampil sebagai utusan yang membawa penghakiman Allah.

Sebagai contoh, dalam pasal 8 ayat 7 dikatakan, "Malaikat yang pertama meniup sangkakalanya dan terjadilah hujan es, dan api, bercampur darah; dan semuanya itu dilemparkan ke bumi; maka terbakarlah sepertiga dari bumi dan sepertiga dari pohon-pohon dan hanguslah seluruh rumput-rumputan hijau." Kemudian, "Malaikat yang kedua meniup sangkakalanya dan ada sesuatu seperti gunung besar, yang menyala-nyala oleh api, dilemparkan ke dalam laut. Sepertiga dari laut itu menjadi darah." Kemungkinan ini menggambarkan sebuah meteor raksasa yang jatuh dari langit, menghantam bumi, dan mencemari lautan. Akibatnya, sepertiga makhluk di laut mati, sepertiga kapal-kapal hancur, dan sepertiga seluruh kehidupan di laut musnah. "Malaikat yang ketiga meniup sangkakalanya," demikian ayat 10, "dan jatuhlah dari langit sebuah bintang besar." Bintang itu menghantam sumber-sumber air tawar dan mencemarkannya, sehingga banyak orang mati karena air itu menjadi pahit. "Lalu malaikat yang keempat meniup sangkakalanya dan terpukullah sepertiga dari matahari dan sepertiga dari bulan dan sepertiga dari bintang-bintang." Tahukah Anda apa akibatnya? Seluruh keteraturan alam akan menjadi kacau. Kalender akan terganggu, pergantian musim menjadi kacau, pasang surut air laut berubah, semuanya menjadi tidak teratur. Kekacauan total. Lalu dalam ayat 13, seorang malaikat terbang di tengah langit sambil berseru, "Celaka! Celaka! Celaka!" bagi mereka yang akan mengalami bunyi tiga sangkakala berikutnya. Seolah-olah dia berkata, "Kalau menurutmu ini sudah mengerikan, yang akan datang nanti jauh lebih dahsyat."

Lalu pasal 9 dimulai dengan, "Lalu malaikat yang kelima meniup sangkakalanya, dan aku melihat sebuah bintang yang telah jatuh dari langit ke atas bumi. Lalu jurang maut dibuka, dan keluarlah semua roh-roh jahat dari dalamnya." Dan kisah itu terus berlanjut. Berulang kali para malaikat datang membawa tindakan penghakiman, sebagai bagian dari tindakan Allah mengambil alih bumi dari tangan orang-orang fasik. Itu adalah penghakiman yang sangat mengerikan. Kemudian dalam pasal 16 kita melihat para malaikat mencurahkan ketujuh cawan murka Allah, yaitu tahap terakhir dari penghakiman yang sangat dahsyat itu. Ayat 2 berkata, "Malaikat yang pertama itu pun pergi dan ia menumpahkan cawannya ke atas bumi; maka timbullah bisul yang jahat dan yang berbahaya pada semua orang." Malaikat berikutnya mencurahkan cawannya, "maka airnya menjadi darah, seperti darah orang mati dan matilah segala yang bernyawa, yang hidup di dalam laut." Kemudian malaikat yang ketiga, pada ayat 4, mencurahkan cawannya ke sungai-sungai dan mata air, sehingga semuanya menjadi darah. Lalu malaikat yang keempat, pada ayat 8, mencurahkan cawannya ke atas matahari, sehingga matahari diberi kuasa untuk menghanguskan manusia dengan api. Setelah itu malaikat yang kelima mencurahkan cawannya, sehingga orang-orang menggigit lidah mereka karena kesakitan. Bisul-bisul yang mengerikan dan berbagai penderitaan fisik menimpa mereka. Dan semua itu terus berlanjut.

Jadi, para malaikat adalah alat yang dipakai Allah untuk melaksanakan penghakiman atas orang-orang fasik. Dalam 2 Tesalonika pasal 1 ayat 7 dikatakan demikian, "Allah memberikan kelegaan kepada kamu yang ditindas, dan juga kepada kami." Orang percaya dapat hidup dengan tenang. Tapi perhatikan kelanjutan ayat itu. "pada waktu Tuhan Yesus dari dalam surga akan menyatakan diri-Nya bersama-sama dengan malaikat-malaikat-Nya yang penuh kuasa ..."—untuk melakukan apa?—"... di dalam api yang bernyala-nyala, dan mengadakan pembalasan terhadap mereka yang tidak mau mengenal Allah dan tidak menaati Injil Yesus, Tuhan kita. Mereka ini akan menjalani hukuman kebinasaan selama-lamanya, dijauhkan dari hadirat Tuhan dan dari kemuliaan kekuatan-Nya." Akan datang suatu hari ketika Yesus Kristus dinyatakan dari surga bersama para malaikat-Nya yang perkasa dalam api yang menyala-nyala untuk melaksanakan pembalasan. Para malaikat adalah alat yang dipakai Allah untuk menyatakan murka dan penghakiman-Nya. Itulah pelayanan para malaikat terhadap orang-orang yang tidak percaya. Para malaikat tidak membimbing orang yang belum percaya. Mereka tidak melindungi mereka. Mereka tidak membebaskan mereka. Mereka tidak menjaga mereka. Mereka tidak mengantar mereka kepada hadirat Allah saat mereka meninggal. Mereka juga tidak menyampaikan jawaban atas doa mereka. Yang mereka lakukan hanyalah menunggu sampai tiba waktunya Allah mengutus mereka untuk melaksanakan penghakiman.

Dalam Matius 13:41 dikatakan, "Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan dari dalam kerajaan-Nya segala sesuatu yang menyebabkan orang berbuat dosa dan semua orang yang melakukan kejahatan. Semuanya akan dicampakkan ke dalam tungku berapi; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi." Itulah yang dilakukan para malaikat. Mereka adalah pelaksana penghukuman Allah terhadap orang-orang fasik, yaitu mereka yang menolak Tuhan Yesus Kristus yang penuh kasih. Kemudian dalam Matius 25 ayat 41 dikatakan, "Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya"—yaitu orang-orang yang tidak percaya—"’Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah disediakan untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya.'" Mereka akan menghabiskan kekekalan bersama para malaikat yang telah jatuh, yaitu mereka yang memberontak terhadap Allah. Dan menurut ayat 31, penghakiman itu akan dilaksanakan oleh Anak Manusia bersama semua malaikat-Nya yang kudus. Sekali lagi kita melihat para malaikat menjalankan peran mereka sebagai pelaksana penghakiman Allah.

Sungguh merupakan kenyataan yang tragis ketika kita menyadari bahwa setiap orang hanya memiliki dua pilihan. Seseorang akan menerima pelayanan para malaikat yang diperuntukkan bagi orang-orang percaya, atau menerima pelayanan para malaikat bagi orang-orang yang tidak percaya. Cepat atau lambat, setiap orang akan berhadapan dengan para malaikat. Itu pasti. Dan masing-masing dari kita menentukan sendiri pelayanan mana yang akan kita terima: pemeliharaan para malaikat atau penghukuman yang mereka laksanakan. Jika Anda memilih Yesus Kristus, percaya kepada-Nya, dan menerima-Nya sebagai Juruselamat, maka para malaikat akan melayani Anda dengan menjaga, menyatakan kebenaran Allah, membimbing, melindungi, menyediakan kebutuhan, membebaskan, membawa jawaban atas doa, dan mengantar Anda ke surga. Tapi jika Anda memilih untuk menolak Yesus Kristus, merekalah yang akan melemparkan Anda ke dalam neraka. Mereka adalah pelaksana penghukuman Allah.

Mungkin Anda bertanya, "Kalau para malaikat bisa memilih, pelayanan mana yang lebih mereka sukai?" Saya rasa jawabannya mudah. Mari kita lihat Lukas pasal 15. Saya tidak percaya para malaikat menikmati tugas menjalankan penghakiman. Dengarkan Lukas 15:8, "Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu dirham, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya?" Perempuan mana yang tidak akan mencarinya? " Kalau ia telah menemukannya, ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab aku telah menemukan dirhamku yang hilang itu.'" Lalu perhatikan ayat 10, " Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita ..."—di hadapan siapa?—"... malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat." Jadi, pelayanan mana yang lebih mereka sukai? Apakah mereka lebih ingin merawat Anda atau menjadi pelaksana penghukuman Allah? Jawabannya jelas. "Ada sukacita di hadapan para malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat."

Mari kita berdoa.

Bapa, dalam waktu yang singkat melalui pembahasan ini, Engkau telah membuka hati dan pengertian kami tentang satu dimensi yang begitu indah dari pemeliharaan-Mu atas hidup kami. Betapa bersyukurnya kami. Betapa sukacitanya kami mengetahui bahwa Engkau mengutus para malaikat-Mu untuk melayani kami. Tapi pada saat yang sama, Tuhan, kami juga sangat menyadari bahwa masih ada banyak orang yang belum mengenal dan belum mengalami pelayanan para malaikat yang Engkau berikan kepada anak-anak-Mu. Satu-satunya hal yang akan mereka alami adalah kedahsyatan dan penghakiman yang akan dibawa para malaikat pada hari pelaksanaan hukuman itu. Bapa, kami berdoa agar tidak ada seorang pun di tengah-tengah kami malam ini yang belum membuka hatinya bagi Yesus Kristus, yang belum mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, sehingga para malaikat dapat segera diutus untuk melayani dan menjaga mereka. Kiranya malam ini ada sukacita di hadapan para malaikat Allah karena seorang berdosa bertobat dan datang kepada Kristus.

Kami begitu bersyukur, Bapa, karena anugerah-Mu yang luar biasa telah memungkinkan kami luput dari penghukuman yang dilaksanakan oleh para malaikat dan justru menikmati pemeliharaan mereka. Kami berdoa agar tidak ada seorang pun yang meninggalkan tempat ini malam ini tanpa mengalami sendiri kasih, pengampunan, dan keselamatan yang hanya dapat Engkau berikan, serta janji pemeliharaan dari bala tentara sorgawi yang Engkau utus untuk melayani kami. Berkatilah kami ketika kami mengakhiri persekutuan ini dan menikmati sisa waktu yang masih Engkau berikan kepada kami bersama-sama. Dalam nama Kristus kami berdoa. Amin.

SELESAI

This sermon series includes the following messages:

Please contact the publisher to obtain copies of this resource.

Publisher Information
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969

Welcome!

Enter your email address and we will send you instructions on how to reset your password.

Back to Log In

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize
View Wishlist

Cart

Cart is empty.

Subject to Import Tax

Please be aware that these items are sent out from our office in the UK. Since the UK is now no longer a member of the EU, you may be charged an import tax on this item by the customs authorities in your country of residence, which is beyond our control.

Because we don’t want you to incur expenditure for which you are not prepared, could you please confirm whether you are willing to pay this charge, if necessary?

ECFA Accredited
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Back to Cart

Checkout as:

Not ? Log out

Log in to speed up the checkout process.

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize