Grace to You Resources
Grace to You - Resource

Kita sedang mempelajari kitab Efesus dan sangat menikmati setiap bagian dari pembelajaran ini. Ketika kita sampai pada pasal 5 ayat 18 dalam pembahasan kita tentang bagaimana orang percaya harus hidup dengan cara yang berkenan kepada Tuhan, kita berhenti sejenak untuk membahas hal lain karena begitu banyak orang mengajukan pertanyaan tentang minum anggur. Dalam ayat 18 kita membaca: “Janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh.” Nah, kita sudah mempelajari ayat ini dalam konteksnya, tapi ayat ini menimbulkan sebuah pertanyaan.

Kita tahu bahwa kita tidak boleh mabuk, kita tahu Alkitab melarang kita untuk mabuk, bahwa mabuk itu adalah dosa, dan bahwa itu merupakan bagian dari kehidupan kita yang dulu. Perkataan Petrus kembali terngiang-ngiang: “Sebab telah cukup banyak waktu kamu pergunakan untuk melakukan apa yang suka dilakukan orang-orang yang tidak mengenal Allah.” Kemudian dia melanjutkan dengan berbicara tentang hidup dalam pesta pora, hawa nafsu, kemabukan, pesta-pesta liar, hura-hura, dan penyembahan berhala yang menjijikkan. Kita tahu bahwa semua itu merupakan bagian dari kehidupan masa lalu, kita tahu bahwa kemabukan adalah sesuatu yang dilarang, dan kita tahu bahwa kita harus dipenuhi oleh Roh. Tapi pertanyaan yang muncul adalah ini: Kita setuju bahwa mabuk adalah dosa, tapi bagaimana dengan minum anggur itu sendiri? Bagaimana seharusnya sikap orang Kristen terhadap minuman beralkohol? Dan karena ini merupakan persoalan yang sangat besar saat ini dan merupakan pembahasan yang sangat relevan serta dibutuhkan, kita menyimpang sejenak dari teks yang sedang kita pelajari untuk membahas persoalan ini. Haruskah orang Kristen minum, atau apa yang Alkitab katakan tentang orang Kristen dan minuman beralkohol?

Nah, Anda tentu ingat bahwa terakhir kali kami mencoba membagikan kepada Anda beberapa prinsip yang harus kita gunakan sebagai tolok ukur dalam pembahasan ini. Alkitab tidak mengatakan bahwa kita tidak boleh minum anggur. Saya sudah mengatakan kepada Anda terakhir kali, kalau Alkitab mengatakan demikian, saya akan membacakan ayatnya lalu pulang. Tapi Alkitab tidak mengatakan demikian. Jadi, kita harus menggunakan prinsip-prinsip lain untuk menentukan apakah hal itu benar atau salah, dan kalau memang boleh, kapan boleh dan kapan tidak, dan seterusnya. Haruskah orang Kristen minum minuman beralkohol? Ini adalah persoalan yang sangat penting. Jadi, kalau Firman Tuhan memang mengatakan sesuatu tentang hal ini, ada banyak orang di luar sana yang seharusnya mendengarkannya.

Sekarang, kami sudah mengatakan kepada Anda bahwa ada delapan prinsip atau tolok ukur yang perlu kita lalui untuk sampai pada sebuah jawaban. Terakhir kali kita sudah membahas dua yang pertama. Mari saya ingatkan kembali. Pertanyaan pertama yang kita ajukan adalah: Apakah (anggurnya) sama? Dengan kata lain, apakah anggur yang ada sekarang sama dengan anggur yang diminum pada zaman Alkitab? Dan alasan kita perlu membahas persoalan ini adalah karena orang-orang hampir selalu akan berkata—maksud saya, orang-orang Kristen, kalau mereka minum anggur atau minuman beralkohol—bahwa orang-orang pada zaman Alkitab juga meminumnya. Jadi, kalau mereka melakukannya pada zaman Alkitab, baik pada zaman Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, berarti tentu saja tidak apa-apa kalau kita melakukannya sekarang. Jadi pertanyaannya adalah: Apakah minuman yang dikonsumsi pada zaman Alkitab sama dengan yang ada sekarang? Apakah produknya sama? Apakah anggurnya sama? Kita sudah membahasnya secara sangat rinci pada hari Minggu lalu dan kita menemukan bahwa jawabannya apa? Tidak. Anggur yang diminum pada zaman Alkitab bukanlah anggur dengan kadar alkohol 9 sampai 11 persen seperti yang diminum orang-orang sekarang.

Kita sudah membahas bahwa sebenarnya ada tiga jenis anggur. Ada gleukos, kata Yunani gleukos, yang mengacu pada anggur baru, anggur yang masih segar. Dalam Perjanjian Lama ada kata tirosh, dan itu sangat mirip dengan jus anggur. Tentu saja, anggur ini bisa mengalami fermentasi dengan sangat cepat sehingga bisa menyebabkan kemabukan, dan karena itu dicampur dengan air. Pengenceran yang paling sedikit adalah tiga bagian air untuk satu bagian anggur, sehingga kadar alkoholnya menjadi sangat rendah, bahkan bisa dikatakan tidak berarti. Jadi, minuman itu bahkan tidak akan digolongkan sebagai minuman beralkohol, dan seseorang harus duduk di sana dan minum, minum, dan minum sampai perutnya kembung untuk bisa mabuk. Kemudian ada oinos—oinos, dan kata ini pada dasarnya adalah kata umum untuk anggur. Dalam bentuk cairnya, kita melihat bahwa anggur selalu dicampur dengan air.

Dalam Perjanjian Baru, anggur biasa yang sudah disimpan cukup lama dalam wadah besar kemudian dicampur dengan air, dengan perbandingan bisa mencapai 10 sampai 15 bagian air untuk 1 bagian anggur, atau paling sedikit 3 bagian air untuk 1 bagian anggur, sehingga tidak menghasilkan kadar alkohol yang cukup untuk menyebabkan kemabukan. Jadi, ada anggur segar yang juga dicampur dengan air, ada anggur yang sudah mengalami fermentasi yang juga dicampur dengan air, dan kemudian ada anggur yang kita lihat berbentuk pasta kental yang sudah direbus. Mereka mengambil anggur baru, merebusnya dengan air, menguapkan seluruh airnya, dan membunuh semua bakterinya—sehingga anggur itu tidak bisa mengalami fermentasi. Mereka kemudian menyimpannya dalam kantong-kantong kulit anggur. Dan ketika mereka ingin meminumnya, mereka akan memerasnya keluar. Hasilnya akan seperti pasta madu yang kental, lalu dicampur lagi dengan air—Plinius, sejarawan Romawi, mengatakan bahwa perbandingannya bisa mencapai 20 bagian air untuk 1 bagian pasta anggur karena konsentrasinya sangat kental—dan kemudian diminum. Pada saat itu, anggur tersebut tidak mengalami fermentasi.

Jadi, anggur dalam Alkitab itu berupa anggur yang belum mengalami fermentasi, berbentuk pasta yang dicampur dengan air, atau anggur dalam bentuk cair yang juga dicampur dengan air. Tapi anggur murni seperti yang kita kenal sekarang, dengan kadar alkohol 9 sampai 11 persen, dalam Perjanjian Lama akan digolongkan sebagai shakar, dan dalam Perjanjian Baru sebagai sikera, yang bisa diterjemahkan sebagai minuman keras. Dan kami sudah menunjukkan kepada Anda bahwa baik para sejarawan, orang-orang kafir, maupun Kitab Suci memandang minuman seperti itu sebagai minuman orang barbar. Jadi, anggur murni seperti yang kita kenal sekarang, dengan kadar alkohol 9 sampai 11 persen, bukanlah minuman yang biasa dikonsumsi oleh orang-orang pada zaman Alkitab. Belum lagi berbagai minuman keras lainnya yang ada sekarang, yang kadar alkoholnya berkisar antara 15 sampai 50 persen, seperti kadar alkohol pada minuman 100 proof. Jadi, memang berbeda, dan kita harus menyatakan hal itu karena kita tidak mau mendasarkan kebiasaan minum kita sekarang pada kenyataan bahwa orang-orang dalam Alkitab juga minum, kalau ternyata minuman yang mereka konsumsi tidak sama dengan yang kita minum sekarang.

Pertanyaan kedua yang kita ajukan, tolok ukur yang kedua: Bukan hanya apakah sama, tapi apakah perlu? Kita sudah menunjukkan bahwa bagi kebanyakan orang pada zaman Perjanjian Lama, minum anggur itu bisa dikatakan sebagai suatu kebutuhan. Mereka tidak punya banyak pilihan selain air, susu kambing atau susu sapi, dan anggur. Mungkin ada beberapa minuman lain yang mereka buat sendiri, tapi pada dasarnya, pilihan mereka memang sangat terbatas dan biasanya cukup perlu untuk minum anggur dalam bentuk tertentu. Seperti yang saya katakan, anggur itu diencerkan untuk kehidupan sehari-hari, kecuali kalau seseorang memang ingin minum minuman keras untuk mabuk atau sebagai obat penenang ketika mengalami penyakit yang berat. Tapi pada zaman Alkitab, mereka menghadapi masalah dalam hal pilihan. Pilihan mereka memang sangat terbatas. Tapi sekarang kita tidak menghadapi masalah seperti itu. Jadi, yang kedua kita bisa bertanya: Apakah itu perlu? Apa jawabannya? Tidak, sekarang ini tidak perlu minum anggur. Jadi, minum anggur masuk ke dalam kategori pilihan, masuk ke dalam kategori kesukaan pribadi, masuk ke dalam kategori keinginan. Saya pernah mendengar beberapa orang berkata, “Saya memang suka rasanya,” dan itu tidak masalah. Itu adalah kesukaan, pilihan pribadi, atau keinginan, tapi bukan kebutuhan.

Kita tidak seperti beberapa kebudayaan tertentu—dan ngomong-ngomong, mungkin ada orang-orang dari beberapa kebudayaan di dunia yang akan mendengarkan rekaman ini, dan dalam situasi mereka, pilihan mereka sangat terbatas. Mereka benar-benar tidak punya pilihan sama sekali dalam keadaan tertentu pada suatu waktu, dan itu mungkin merupakan kasus yang berbeda. Tapi dalam masyarakat kita, dan sejujurnya, sebagian besar tempat di seluruh dunia, minum anggur bukanlah sesuatu yang diperlukan. Saya berani mengatakan bahwa di setiap tempat yang pernah saya kunjungi, dalam setiap bahasa, setiap kebudayaan, dan setiap iklim, di suatu tempat pasti ada Coca-Cola. Dan selain Coca-Cola, bahkan di negara-negara Arab, di tengah-tengah daerah terpencil—kami pernah berada di tengah-tengah kawasan piramida, dan di sana ada orang-orang yang menjual minuman bersoda. Anda memang harus memeriksa dulu minuman soda Anda untuk melihat apa yang sedang berenang di dalamnya, tapi bagaimanapun juga, itu tetap minuman soda.

Jadi, memang minum anggur bukanlah suatu kebutuhan pada zaman sekarang. Kita sudah memiliki teknologi yang lebih maju dalam memproduksi minuman, dan kita memiliki lemari pendingin serta berbagai hal lain yang dapat mencegah terjadinya fermentasi. Jadi, kita tidak berada dalam kategori yang sama. Jadi pertanyaan pertama: Apakah sama? Tidak. Pertanyaan kedua: Apakah perlu? Tidak. Jadi, kita sampai pada kesimpulan bahwa minum anggur adalah sebuah pilihan. Kalau Anda memilih untuk minum, itu karena Anda memang memilih untuk minum. Itu adalah pilihan, dan orang-orang akan berkata, “Saya memiliki kebebasan di dalam Kristus, saya bebas. Segala sesuatu halal,” seperti yang dikatakan dalam 1 Korintus 6:12. Segala sesuatu halal, saya tidak terikat, saya tidak berada di bawah hukum Taurat, makanan tidak lagi bersifat sakral, tidak ada lagi makanan yang najis dan yang tahir, seperti dalam Kisah Para Rasul pasal 10 dan Roma pasal 14. Jadi, saya tidak perlu takut untuk minum. Kebebasan saya memberi saya hak untuk memilih itu. Jadi, ini adalah pilihan dan saya bisa memilih untuk melakukannya atau tidak.

Mari saya ajukan pertanyaan ketiga: Apakah itu pilihan yang terbaik? Apakah itu pilihan yang terbaik? Ada banyak hal yang merupakan pilihan, dan Alkitab tidak mengatakan bahwa Anda tidak boleh memasukkan daun ke dalam mulut lalu membakarnya. Alkitab tidak mengatakan demikian. Kalau Anda mau memasukkan daun ke dalam mulut, membakarnya, lalu mengembuskan asap melalui hidung, Anda punya hak untuk melakukannya. Itu tidak dilarang dalam Alkitab. Tentu saja, ada yang berkata bahwa kalau Tuhan memang bermaksud agar manusia merokok, Dia pasti sudah menciptakan kita dengan cerobong asap, tapi mungkin juga tidak demikian. Tapi hal itu memang tidak dilarang dalam Alkitab. Itu adalah pilihan yang Anda buat, dan beberapa orang akan mengatakan kepada Anda bahwa itu bukan pilihan yang terbaik. Anda punya pilihan untuk minum kopi atau tidak minum kopi. Ada orang yang menganggap kopi itu luar biasa, sementara yang lain berpikir bahwa kafein memberikan dampak negatif dan mungkin bukan pilihan yang terbaik, walaupun Anda memiliki kebebasan untuk minum kopi, membakar tanaman di dalam mulut, dan juga minum anggur kalau Anda memilih untuk menggunakan kebebasan itu. Jadi, ini adalah masalah pilihan. Tapi apakah itu pilihan yang terbaik? Dan mari kita membahasnya dalam kategori ini selama beberapa menit.

Saya ingin menunjukkan kepada Anda sebuah rangkaian kebenaran Alkitab untuk membantu Anda melihat mana pilihan yang terbaik, ya? Mari kita kembali ke Imamat pasal 10. Dan saya rasa Anda akan menemukan hal ini sangat menarik. Dalam tatanan dasar yang Tuhan tetapkan bagi bangsa Israel, ada perbedaan di antara orang-orang. Ada standar yang lebih tinggi bagi orang-orang yang memiliki tanggung jawab lebih besar. Saya tidak tahu apakah Anda benar-benar menyadari hal itu, tapi memang demikian. Hal ini bisa digambarkan dengan banyak cara. Misalnya, lihatlah persembahan penghapus dosa. Ingat, orang-orang tertentu harus datang—sebenarnya semua orang harus datang dan membawa persembahan penghapus dosa, tetapi kalau yang berdosa adalah seluruh jemaat, persembahannya adalah seekor lembu jantan. Kalau yang berdosa adalah imam besar, persembahannya juga seekor lembu jantan. Kalau yang berdosa adalah seorang pemimpin, persembahannya adalah seekor kambing jantan. Kalau yang berdosa hanya seorang dari kalangan rakyat biasa, persembahannya bisa berupa dua ekor burung tekukur, bisa berupa anak burung merpati, bahkan bisa berupa tepung. Dengan kata lain, sepertinya semakin tinggi kedudukannya, semakin tinggi pula tuntutan terhadap persembahannya. Semakin tinggi kedudukan seseorang dalam tatanan teokratis, semakin mahal persembahan yang harus diberikan. Dan karena jemaat itu sendiri merupakan bangsa yang dipanggil sebagai imam, mereka perlu memberikan persembahan yang setara dengan persembahan imam besar.

Imam besar harus memberikan persembahan yang paling tinggi, yaitu seekor lembu jantan. Di bawahnya, para pemimpin harus memberikan seekor kambing. Di bawah mereka, rakyat dapat memberikan burung merpati dan persembahan-persembahan seperti itu, karena semakin tinggi kedudukannya, semakin serius tanggung jawabnya dan semakin besar pula kesalahannya. Lihat, itulah yang dikatakan dalam Yakobus 3:1, janganlah terlalu banyak orang di antara Anda yang menjadi guru, karena mereka akan menerima hukuman yang lebih berat. Itulah sebabnya Tuhan berkata, “Kepada siapa yang banyak diberi”—apa?—“dari padanya akan banyak dituntut.” Semakin tinggi kedudukan seseorang dalam tatanan teokratis, semakin besar tanggung jawabnya dan, akibatnya, semakin serius dosanya. Dosa itu membawa kesalahan yang lebih besar ketika dilakukan oleh seseorang yang memiliki kedudukan lebih tinggi, karena ketika Anda berdosa dalam posisi yang tinggi, dampaknya menjangkau sangat jauh, bukan? Dosa dalam hati seorang imam besar, pemimpin, atau raja memberikan dampak yang luar biasa kepada seluruh rakyat, dan dampaknya menjangkau sangat jauh. Jadi, demikian juga halnya dengan standar yang Tuhan tetapkan.

Nah, Tuhan telah menetapkan standar bagi umat-Nya, tetapi pada zaman Perjanjian Lama, Dia memanggil orang-orang tertentu untuk hidup melampaui standar tersebut, dan Dia berkata, “Aku menetapkan standar yang lebih tinggi bagimu.” Dan gambaran pertama mengenai hal itu terdapat dalam Imamat 10 ayat 8. Di sini Tuhan sedang memberikan persyaratan bagi para imam, dan ini sangat menarik. Dia berkata kepada Harun, yang adalah imam besar, “Jangan engkau minum anggur atau minuman keras, engkau serta anak-anakmu, ketika kamu masuk ke dalam Kemah Pertemuan, supaya jangan kamu mati.” Nah, itu adalah persyaratan yang cukup tegas: tidak boleh minum anggur ataupun minuman keras. Sekarang Anda bisa melihat apa yang sedang terjadi? Sementara orang-orang minum anggur yang dicampur dengan air, atau pasta yang dikeluarkan dari kantong kulit anggur, dan orang-orang meminumnya, bahkan ada sebagian orang yang hidupnya tidak bermoral yang sampai minum minuman keras, para imam dipanggil untuk hidup pada tingkat yang lebih tinggi, Anda lihat ini? “Kamu tidak boleh melakukan hal ini ketika masuk ke dalam Kemah Pertemuan, atau kamu akan mati. Itulah suatu ketetapan untuk selamanya bagi kamu turun-temurun. Kamu harus dapat membedakan antara yang kudus dan yang tidak kudus, antara yang najis dan yang tahir.” Dengan kata lain, “Engkau dipanggil untuk hidup terpisah, untuk dikuduskan, untuk memiliki tingkat pengabdian yang lebih tinggi, dan tingkat komitmen yang lebih tinggi kepada Tuhan.”

Dan beberapa penafsir mengatakan bahwa hal itu hanya berlaku ketika mereka melayani di Kemah Suci, hanya ketika mereka melayani Tuhan, dan ada juga yang mengatakan bahwa hal itu berlaku sepanjang hidup mereka. Tapi bagaimanapun juga, intinya adalah ketika mereka melayani Tuhan, ketika mereka dipanggil untuk melayani Allah, mereka harus benar-benar berpantang. Benar-benar tidak boleh minum sama sekali. Mengapa? Supaya penilaian mereka atau fungsi mereka sebagai imam tidak sedikit pun menjadi kabur karena mengonsumsi minuman beralkohol. Tuhan menginginkan pikiran mereka tetap bersih, jernih, dan murni. Karena itu, mereka dilarang melakukan hal tersebut, seolah-olah Tuhan sedang mengangkat mereka ke standar yang lain, ke tingkat yang lebih tinggi daripada orang-orang pada umumnya.

Amsal 31, pasal terakhir dalam kitab ini, ayat 4—di sini Anda melihat standar yang sama lagi, bukan hanya bagi para imam, tetapi juga bagi para raja dan para pemimpin. Amsal 31 ayat 4 berkata: “Tidaklah pantas bagi raja, hai Lemuel, tidaklah pantas bagi raja meminum anggur, ataupun bagi para pembesar mengingini minuman keras.” Mengapa? Supaya “jangan sampai karena minum ia melupakan apa yang telah ditetapkan, dan membengkokkan hak orang-orang yang tertindas.” Dengan kata lain, bukan hanya para imam yang dipanggil untuk tidak minum, tetapi para raja dan para pemimpin juga. Tuhan tidak ingin penilaian mereka menjadi kabur. Tuhan tidak ingin pikiran mereka menjadi samar atau tidak jernih. Tuhan ingin mereka dikhususkan. Tuhan ingin mereka dikuduskan. Tuhan ingin mereka terpisah dan berbeda dari orang-orang pada umumnya. Dan ayat 6 mengatakan, kalau Anda akan memberikan minuman keras kepada seseorang, minuman keras itu hanya boleh diberikan kepada orang yang sudah hampir binasa. Dengan kata lain, siapa pun yang meminumnya dianggap melakukan sesuatu yang biadab. Minuman keras, yang merupakan anggur murni tanpa campuran, seharusnya diberikan kepada seseorang yang sedang sekarat. Dengan kata lain, sebagai obat penenang bagi seseorang yang sedang menanggung rasa sakit menjelang kematian.

Nah, anggur biasa yang sudah dicampur dengan air seharusnya diberikan kepada orang-orang yang sedang patah hati. Biarlah mereka minum dan melupakan kemiskinan mereka, dan tidak lagi mengingat kesengsaraan mereka. Biarlah kehangatan dan sukacita yang datang dari anggur itu diberikan kepada mereka yang sedang menghadapi masalah berat, atau biarlah minuman keras diberikan kepada mereka yang sedang sekarat. Tapi bagi para raja, para pemimpin, dan para imam, kalau kita menambahkan Imamat ke dalam pemahaman ini, mereka harus benar-benar berpantang. Jadi, ada tingkat pengudusan dalam kepemimpinan yang menuntut standar yang lebih tinggi.

Sekarang, mari kita melihat Bilangan pasal 6, dan saya akan menunjukkan kepada Anda bahwa bukan hanya para raja, para pemimpin, para imam, dan imam besar, tetapi ada juga orang-orang tertentu di tengah jemaat Israel yang memilih standar ini. Siapa pun bisa memilih untuk naik ke standar ini—dan ini adalah standar yang paling tinggi. Dan Anda tentu ingat, dalam Bilangan pasal 6 ayat 1, Tuhan berfirman kepada Musa: “Berbicaralah kepada orang Israel dan katakanlah kepada mereka: Apabila seorang laki-laki atau perempuan, mengucapkan nazar khusus, nazar orang nazir, untuk mengkhususkan dirinya bagi TUHAN.”

Nah, berhenti sebentar di sini. Siapa pun dalam jemaat Israel bisa berkata, “Saya ingin menguduskan seluruh hidup saya bagi Tuhan. Saya ingin mengabdikan seluruh hidup saya kepada Tuhan. Saya ingin mengkhususkan diri saya bagi Tuhan. Saya ingin mengatakan tidak kepada hal-hal dalam kehidupan ini dan ya kepada hal-hal yang berasal dari Tuhan. Saya ingin menjadi berbeda. Saya ingin hidup kudus.” Jadi Tuhan berkata, “Aku menetapkan suatu bentuk pengudusan yang paling tinggi. Dan ini disebut nazar orang Nazir.” Kata ini berasal dari kata “nazir”, yang berarti orang yang dikuduskan. Seorang Nazir adalah orang yang dikuduskan. Jadi, ketika seorang Yahudi ingin memisahkan dirinya dan benar-benar menyerahkan hidupnya kepada Tuhan, itulah yang disebut nazar orang Nazir. Orang Nazir mengambil nazar untuk memisahkan diri. Bagian akhir ayat 2 mengatakan demikian: “Untuk mengkhususkan dirinya bagi Tuhan.” Sebuah nazar kekudusan, sebuah nazar pengudusan untuk memisahkan diri bagi Tuhan.

Lalu, seperti apa bentuknya? Ayat 3: “maka ia harus menjauhkan dirinya dari anggur dan minuman keras, tidak meminum cuka dari anggur atau dari minuman keras, tidak meminum minuman yang dibuat dari buah anggur, dan tidak memakan buah anggur, baik yang segar maupun yang dikeringkan. Selama kenazirannya janganlah ia makan apa pun yang berasal dari pokok anggur, dari bijinya sampai kulitnya. Selama waktu nazarnya sebagai orang nazir janganlah pisau cukur menyentuh kepalanya.” Jadi, itulah nazar orang Nazir. Anda tidak boleh memotong rambut dan Anda tidak boleh menyentuh anggur. Tingkat pengudusan yang paling tinggi mencakup sikap berpantang. Seolah-olah mereka sedang naik ke tingkat yang lain dan menyatakan diri sebagai bagian dari para imam, para raja, para pemimpin, dan mereka yang paling dikhususkan bagi Tuhan. Mereka bisa mengambil nazar orang Nazir selama 30 hari, 60 hari, 90 hari, atau bahkan seumur hidup. Dan ada tiga orang dalam Alkitab yang menjadi Nazir seumur hidup: Samuel, Simson, dan Yohanes Pembaptis. Dan yang sangat menarik, bukan hanya mereka menjadi Nazir seumur hidup, tetapi dalam kasus istri Manoah, ibu Simson, malaikat datang kepadanya dan berkata, “Engkau tidak boleh minum anggur ataupun minuman keras, bahkan selama anak yang sedang kamu kandung itu masih dalam kandungan.”

Kembali ke Hakim-hakim pasal 13 ayat 4, kita membaca pernyataan mengenai ibu Simson, supaya Anda tahu di mana ayatnya. “Oleh sebab itu, jagalah dirimu, jangan minum anggur atau minuman keras dan jangan makan apapun yang najis. Sebab engkau akan mengandung.” Kemudian dalam ayat 7, bagian terakhir ayat 7, “Karena anak itu akan menjadi seorang nazir Allah sejak dari kandungan sampai hari kematiannya.” Nah, ketika Anda sampai pada Perjanjian Baru, Anda menemukan hal ini dalam Lukas pasal 1 ayat 15. Sangat menarik. Zakharia dan Elisabet diberitahu oleh seorang malaikat bahwa mereka akan memiliki seorang anak laki-laki—dalam ayat 13—yang akan membawa sukacita dan kegembiraan besar bagi mereka, dan banyak orang akan bersukacita atas kelahirannya. Dan Lukas 1 ayat 15 mengatakan, “Sebab ia akan besar di hadapan Tuhan dan ia tidak akan minum anggur atau minuman keras, dan ia akan penuh dengan Roh Kudus bahkan sejak dari rahim ibunya.”

Nah, inilah manusia terbesar yang pernah hidup. Yesus berkata dalam Matius 11:11 bahwa manusia terbesar yang pernah hidup adalah Yohanes Pembaptis. Manusia terbesar yang pernah hidup adalah seorang yang sama sekali tidak minum minuman beralkohol sepanjang hidupnya. Anda lihat, ada suatu tingkatan, ada tingkat yang lebih tinggi daripada sekadar standar umum, yang Tuhan berikan kepada orang-orang tertentu. Manusia terbesar yang pernah hidup. Jadi, untuk waktu-waktu khusus, baik bagi para imam, para raja, para pemimpin, maupun hakim-hakim besar seperti Simson, atau orang-orang besar milik Tuhan seperti Samuel, atau hamba Tuhan yang besar seperti nabi Yohanes Pembaptis, ada tingkat pengudusan yang lain, tingkat pengabdian yang lain. Sebuah nazar yang lebih tinggi daripada yang dituntut dari orang-orang pada umumnya. Dan ngomong-ngomong, hal ini bukan hanya berlaku bagi para pemimpin tersebut. Siapa pun bisa melakukannya, dan ada banyak orang Nazir di Israel. Saya rasa kita tidak menyadari hal itu, tapi kita memang tidak tahu berapa banyak jumlah mereka. Yang kita tahu, ada banyak orang yang mengambil nazar sebagai orang Nazir.

Sebagai contoh, dalam Amos pasal 2, ayat 11 mengatakan bahwa Tuhan berfirman, “‘Aku telah membangkitkan dari antara anak-anakmu menjadi nabi dan dari teruna-terunamu menjadi nazir. Bukankah begitu, hai orang Israel?’ demikianlah firman TUHAN.” Dengan kata lain, Tuhan berkata, “Aku membangkitkan para nabi dan Aku juga membangkitkan orang-orang Nazir. Aku membangkitkan beberapa orang yang dikhususkan. Beberapa orang yang mengambil nazar yang lebih tinggi. Beberapa orang yang memiliki standar atau standar hidup yang lebih tinggi di tengah-tengah kamu.” Dan tentu saja, kemudian Amos melanjutkan dengan mengatakan bagaimana mereka telah merusak mereka. Amos berkata kepada bangsa itu, “Tetapi kamu memberi para nazir minum anggur dan memerintahkan kepada para nabi: Janganlah bernubuat!’” Mereka menajiskan orang-orang Nazir itu, mereka yang telah Tuhan pisahkan dan kuduskan bagi diri-Nya melalui pantangan total. Bangsa Tuhan justru menajiskan mereka dan memberi mereka anggur untuk diminum. Nah, menurut saya, banyak dari orang-orang yang Tuhan tetapkan sebagai orang Nazir dalam Amos pasal 2 ini mungkin memang merupakan orang Nazir seumur hidup, yang kemudian dinajiskan, atau sebenarnya dipaksa atau dibujuk untuk tidak taat oleh orang-orang lainnya.

Jadi, Tuhan telah menetapkan nazar pengudusan ini, dan ada banyak orang yang mengambilnya. Tuhan telah menetapkan nazar yang tinggi ini, dan Dia membangkitkan orang-orang untuk hidup pada tingkat ini—para imam, raja, pemimpin, nabi-nabi tertentu, hakim-hakim tertentu, dan orang-orang khusus seperti Simson dan yang lainnya, yang Tuhan angkat ke tingkat tersebut. Tapi entah mengapa, orang-orang merasa bahwa mereka perlu menarik mereka turun ke tingkat mereka sendiri. Anda tahu, ada hal yang lucu tentang manusia. Bukannya berusaha mencapai tingkat yang paling tinggi, mereka justru ingin menarik orang-orang yang sudah berada di tingkat tertinggi itu dan menyeret mereka turun ke tingkat mereka sendiri. Itulah yang terjadi di Israel. Dan Yeremia ketika dia melihat apa yang sedang terjadi, Tuhan memakai dia untuk berbicara mengenai persoalan itu. Dan dia berkata kepada Yehuda, “Kamu tidak taat, hai Yehuda.” Dalam pasal 35 kitab Yeremia, dia berkata, “Kamu tidak taat.”

Mari saya berikan sebuah perbandingan. Dalam Yeremia pasal 35, dia berkata, “Apakah kamu ingat orang-orang Rekhab? Orang-orang Rekhab, keturunan Yonadab? Apakah kamu ingat bahwa Yonadab berkata kepada orang-orang Rekhab, ‘Kamu tidak boleh minum anggur ataupun minuman keras, baik kamu, anak-anakmu, anak-anak perempuanmu, istri-istrimu, maupun siapa pun dalam keluargamu, untuk selama-lamanya’?” Dengan kata lain, seluruh keluarga mengambil nazar untuk berpantang. Seluruh keluarga itu naik ke tingkat yang paling tinggi. Dan Tuhan berkata, “Bahkan ketika Aku menaruh mangkuk-mangkuk berisi anggur di hadapan orang-orang Rekhab, mereka tidak mau meminumnya.” Yeremia 35 ayat 2 sampai 6. “Aku meletakkan piala-piala penuh anggur dan cawan-cawan di hadapan mereka, dan mereka tidak mau meminumnya.” Dan dia terus membahas hal itu sepanjang pasal tersebut, lalu akhirnya menyimpulkan dengan berkata, “Lihatlah berbagai pencobaan yang mereka hadapi untuk minum anggur, tetapi mereka tidak pernah menyerah pada pencobaan itu. Tapi kamu—kamu telah tidak taat kepada-Ku.” “Kamu telah tidak taat kepada-Ku.” Di sini ada sekelompok orang yang taat, dan mereka diperhadapkan sebagai kontras dengan Israel yang tidak taat. Dan yang menjadi bukti ketaatan mereka adalah pantangan mereka secara total. Mereka telah mengambil tingkat yang lebih tinggi itu, dan Tuhan memakai mereka sebagai teladan.

Nah, Anda mungkin berkata, “Apa hubungannya semua itu dengan saya?” Nah, secara tidak langsung, banyak sekali hubungannya. 2 Korintus 6:17 berkata, “Keluarlah kamu dari antara mereka dan pisahkanlah dirimu dari mereka. Dan janganlah menyentuh apa yang najis.” 2 Korintus 7:1, “Marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah.” Kita semua dipanggil kepada tingkat yang tertinggi; kita semua diangkat untuk membuat pilihan-pilihan yang terbaik. Ketika Anda masuk ke dalam Perjanjian Baru, saudara yang terkasih, saya tidak percaya standarnya berubah, sungguh, saya tidak percaya. Saya tidak percaya standar itu berubah. Saya tidak berpikir bahwa dalam Perjanjian Baru Tuhan menurunkan standar-Nya. Dengarkan, kalau seorang imam harus selalu memiliki pikiran yang jernih dan tidak pernah memberi dirinya kesempatan untuk jatuh ke dalam pencobaan, kalau hal itu berlaku bagi seorang raja, kalau berlaku bagi seorang pemimpin, kalau berlaku bagi seorang hakim, kalau berlaku bagi seorang pemimpin besar seperti Samuel, kalau berlaku bagi seorang nabi seperti Yohanes Pembaptis, apakah standar itu menjadi lebih rendah bagi mereka yang memimpin dalam gereja Yesus Kristus, yang telah Dia tebus dengan darah-Nya sendiri yang sangat berharga? Apakah standarnya seharusnya lebih rendah?

Nah, yang saya katakan adalah ini: Ada standar yang tinggi dalam Alkitab bagi mereka yang memiliki tanggung jawab dan kepemimpinan rohani, dan bagi saya, itulah pilihan yang terbaik. Anda tahu, kalau kita semua adalah imam, kalau kita semua adalah orang-orang yang dikhususkan bagi Tuhan dan dikuduskan oleh Roh Kudus, kalau kita semua—Roma 12:1—harus mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, kalau kita semua harus datang sebagai kurban bakaran, mempersembahkan diri kita dalam pengudusan total sebagai suatu tindakan ibadah yang wajar dan normal, maka menurut saya, kita semua seharusnya mempertimbangkan untuk mengambil pilihan yang terbaik dan yang paling tinggi.

Jadi kita bertanya, apakah sama? Tidak. Apakah perlu? Tidak. Apakah itu pilihan yang terbaik? Mungkin tidak. Mungkin pilihan yang terbaik adalah berdiri bersama mereka yang memisahkan diri pada zaman Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dan di dalam gereja saat ini, bersama orang-orang yang memimpin.

Mari kita mengajukan pertanyaan keempat. Kalau kita akan minum minuman beralkohol, kita harus menghadapi pertanyaan ini: Apakah itu bisa menjadi kebiasaan yang mengikat? Apakah itu bisa menjadi kebiasaan yang mengikat? Nah, ini adalah persoalan yang sulit karena banyak hal bisa menjadi kebiasaan. Anda berkata, “Setiap hari saya memakai kaus kaki di kaki kiri terlebih dahulu, baru kaki kanan. Itu sudah menjadi kebiasaan karena saya sudah melakukannya begitu lama, tapi itu tidak merugikan saya.” Nah, yang tersirat dalam pengertian “menjadi kebiasaan yang mengikat” adalah kebiasaan yang menimbulkan dampak negatif. Ini membawa kita kepada 1 Korintus 6:12. 1 Korintus 6:12, dan tadi saya sudah mengutip sebagian dari ayat ini, tetapi inilah bunyinya: “Segala sesuatu halal bagiku.” “Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna.”

Bukan semuanya berguna. Ada hal-hal yang bisa saya lakukan, tetapi hal-hal itu bisa membuat saya tersandung, bisa mengikat saya. Segala sesuatu diperbolehkan, tetapi beberapa hal bisa menghambat saya, beberapa hal bisa menjerat saya. Dan itulah salah satu hal yang dilakukan alkohol, walaupun kita mungkin berkata, “Saya punya kebebasan, saya punya hak untuk melakukan itu.” Kita bisa menemukan bahwa dalam menggunakan kebebasan itu, hal itu justru menjadi sesuatu yang menjerat, karena bagian akhir ayat itu berkata, “Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak mau membiarkan diriku diperhamba oleh …”—apa?—“apa pun.” Alkohol memiliki kemampuan untuk menjerat Anda, tapi lebih dari itu, alkohol dapat membuat Anda berada di bawah kuasa suatu pengaruh lain. Alkohol dapat menciptakan ketergantungan, suatu kebiasaan yang bisa menguasai pilihan dan proses berpikir Anda sendiri.

Dan saya rasa, pada akhirnya, saya sampai pada persoalan ini: Saya ingin menghindari dosa, bukan? Dan saya rasa Anda juga demikian. Saya sungguh-sungguh percaya itu. Kalau saya tahu bahwa sesuatu adalah dosa, dalam hati saya ingin menghindarinya. Tapi saya ingin melangkah lebih jauh dan mengatakan bahwa saya juga ingin menghindari hal-hal yang bisa memperbesar kemungkinan terjadinya dosa. Saya merasakan hal yang sama dalam hal makanan. Kerakusan adalah dosa, dan kalau saya tidak tahu bagaimana mengendalikan diri dalam hal makanan, saya bisa mengalami banyak masalah. Nah, saya tidak punya banyak pilihan dalam hal makan—saya harus makan. Dalam hal itu, makan tidak sama dengan minum anggur. Tapi Anda tahu apa yang saya suka lakukan? Saya suka mengatur pola makan saya dengan berbagai cara dan kadang-kadang sama sekali tidak makan untuk jangka waktu tertentu secara teratur, supaya saya tetap memegang kendali atas apa yang saya makan, sehingga makanan tidak mengendalikan saya. Dan menurut saya, ini adalah hal yang sangat mendasar dalam kehidupan Kristen. Kita tidak pernah ingin berada di bawah kendali dan kuasa hal-hal yang merupakan pengaruh yang tidak kudus, hal-hal yang bisa menyebabkan kita jatuh ke dalam dosa. Jadi, saya akan mengatakan bahwa jalan yang paling aman adalah menghindari dosa dan juga menghindari hal-hal yang bisa memperbesar kemungkinan kita jatuh ke dalam dosa.

Orang-orang di Alcohol Institute mengatakan bahwa alkohol dapat menjadi kebiasaan yang mengikat karena alkohol memiliki kemampuan untuk menyerang otak dan menciptakan ketergantungan, dan kita semua tahu tentang hal itu. Kita semua tahu tentang hal itu. Nah, beberapa orang bisa minum dan hal itu tidak menjadi kebiasaan, tapi alkohol memiliki potensi itu. Alkohol bisa menjadi kebiasaan. Jadi kita harus menjawab pertanyaan ini. Apakah alkohol bisa menjadi kebiasaan yang mengikat? Ya, bisa. Alkohol bisa membentuk kebiasaan, bisa menciptakan ketergantungan, dan bisa membawa kita berada di bawah kuasanya, sehingga kita melakukan, mengatakan, dan memikirkan hal-hal yang bukan merupakan pikiran kita sendiri, tetapi muncul dalam diri kita karena pengaruh dan keberadaan alkohol.

Mari kita masuk ke pertanyaan kelima. Kalau memang alkohol bisa menjadi kebiasaan yang mengikat, apakah alkohol juga berpotensi merusak? Kalau alkohol bisa menjadi kebiasaan yang mengikat atau berpotensi menjadi kebiasaan yang mengikat, apakah hal itu bisa menjadi sesuatu yang merusak? Dan jawabannya adalah ya. Saya memegang sebuah surat dari seorang wanita muda yang terkasih di gereja kami, dan hari ini saya tidak akan meluangkan waktu untuk membaca seluruh surat itu. Saya hanya akan menyampaikan sedikit isi suratnya kepada Anda. “Hari Minggu lalu, selama pelayanan tentang Efesus 5:18, saya merasa terdorong untuk membagikan sesuatu kepada Anda. Ibu saya, pada tanggal 15 Agustus 1978, meninggal di General Hospital, di ruang perawatan intensif, akibat serangan jantung dan gagal pernapasan. Dia mengalami pengerasan hati, tekanan darah tinggi, kerusakan ginjal, dan menurut penilaian saya sendiri, hati yang hancur. Tidak perlu dikatakan lagi, ibu saya adalah seorang pecandu alkohol. Dia sudah menjadi pecandu alkohol sejak akhir usia dua puluhan sampai hari dia meninggal pada usia 66 tahun.

“Ketika saya menyerahkan hidup saya kepada Kristus, tentu saja saya sangat memikirkan keselamatan ibu saya. Saya berkali-kali membagikan Injil kepadanya, dan dia berkata bahwa Tuhan tidak mungkin menolongnya karena dia adalah orang yang sangat buruk. Saya mengatakan kepadanya bahwa Tuhan mengasihinya, apa pun keadaan dirinya dulu maupun sekarang, tapi bagi ibu saya, semuanya terasa seperti tidak ada harapan. Ketika saya berbicara dengannya melalui telepon atau dalam kesempatan lain, kadang-kadang dia meminta saya untuk mendoakannya. Dia juga sesekali membaca Alkitab dan mencari Tuhan. Hari-hari terakhirnya dihabiskan di sebuah hotel tua yang sangat buruk di Los Angeles, tempat dia pernah dipukuli dan lebih dari sekali dirampok.”

“Suatu hari, dia dibawa ke rumah sakit karena serangan asma, dan ketika saya menelepon rumah sakit, mereka mengatakan kepada saya bahwa dia sedang koma. Dia sudah mengalami dua kali henti jantung dan satu kali serangan jantung. Nah, dalam keadaan koma itu, tidak mungkin saya bisa menyampaikan tentang Yesus kepadanya, jadi saya meminta semua teman saya, termasuk kelompok doa Gereja Grace, untuk berdoa agar dia sadar dari komanya. Keesokan harinya, dia benar-benar sadar. Ada alat bantu pernapasan di mulutnya untuk membantunya bernapas, dan mereka memasang mesin untuk memantau detak jantungnya serta semacam mesin untuk membantu fungsi ginjalnya. Sungguh menyedihkan melihat keadaannya. Saya menemaninya dan berdoa hampir sepanjang hari, serta menceritakan kepadanya tentang kasih Tuhan dan anugerah keselamatan. Dia sangat gelisah dan sepertinya tidak selalu menyadari bahwa saya ada di sana.”

Dia melanjutkan dengan menjelaskan beberapa hal medis lainnya. “Saya bertanya kepadanya apakah dia percaya bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamatnya dan bahwa Dia telah mati untuk dosa-dosanya, dan kalau dia percaya, saya memintanya untuk meremas tangan saya, dan dia meremas tangan saya. Setelah itu, detak jantungnya mulai menurun dan akhirnya turun menjadi 94 kali per menit, dan tetap berada di sekitar angka itu sepanjang waktu. Dia kemudian menjadi lebih tenang, dan dua hari kemudian jantung ibu saya berhenti dan dia meninggal. Alkohol dan kehidupan yang seperti itu, serta menjadi seorang pecandu alkohol, itulah yang menyebabkan kematiannya.” Dia melanjutkan.

Tidak ada keraguan bahwa kita semua tahu tentang hal itu. Saya tidak tahu persis apa yang terjadi di dalam hati wanita terkasih itu sebelum dia meninggal. Saya berharap bahwa remasan tangannya itu benar-benar berarti demikian, bukan? Tapi Anda tahu betapa buruknya dampak alkohol dan Anda tahu bahwa alkohol berpotensi merusak. Tapi saya ingin melihat Efesus 5:18, bukan hanya mengetahuinya dari kesaksian seseorang, tetapi juga memahaminya dari teks itu sendiri. Dalam Efesus 5:18, ada sebuah kata kecil yang sangat kuat. “Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, yang menimbulkan hawa nafsu.” Kata itu adalah asōtia, A-S-O-T-I-A. Asōtia adalah kata yang sangat menarik dan penting. Pada mulanya—nah, perhatikan ini—kata itu pada mulanya berarti menjadi sakit tanpa harapan, sakit yang tidak dapat disembuhkan. Menjadi sakit tanpa harapan, sakit yang tidak dapat disembuhkan. Sekarang bacalah ayat itu dengan pengertian tersebut. “Janganlah kamu mabuk oleh anggur, yang menyebabkan seseorang menjadi sakit tanpa harapan, sakit yang tidak dapat disembuhkan.” Menurut Anda, apakah Tuhan tahu bahwa kemabukan dapat membawa kepada kehidupan yang penuh kehancuran? Ya. Ya.

Kita bisa mengatakan bahwa makna harfiahnya pada zaman Paulus menulis adalah seperti ini: seseorang yang asōtia adalah orang yang melalui cara hidupnya menghancurkan dirinya sendiri. Orang yang melalui cara hidupnya menghancurkan dirinya sendiri. Kemabukan membawa kepada penyakit yang tidak dapat disembuhkan dan kehancuran yang tidak ada harapan. Itulah yang dikatakan Alkitab. Ngomong-ngomong, dalam Lukas 15:13, kata asōtia ini juga digunakan. Dikatakan bahwa seorang anak muda datang kepada ayahnya dan berkata, “Ayah, berikan kepadaku segala sesuatu yang menjadi bagianku,” dan Anda ingat bahwa dia mengambil semua yang menjadi bagiannya lalu pergi ke negeri yang jauh. Dan dikatakan bahwa di sana dia hidup berfoya-foya. Anda ingat itu? Hidup berfoya-foya. Lukas 15:13 menggunakan kata asōtia. Dia menghancurkan dirinya sendiri, dia menjalani kehidupan yang membawa kepada penyakit yang tidak dapat disembuhkan dan kehancuran yang tidak ada harapan, kehidupannya membawa kepada kehancuran, kehidupan yang liar, tidak terkendali, dan penuh dengan pesta pora. Tidak ada keraguan bahwa kata ini menunjukkan bahwa Tuhan sedang mengatakan kepada kita: kemabukan membawa kepada kehancuran, kemabukan membawa kepada kebinasaan. Anda mempelajarinya di seluruh Alkitab dan Anda akan menemukan hal yang sama.

Anggur adalah pencemooh dan minuman keras adalah pengamuk, demikian dikatakan. Dalam Amsal 4:17, dikatakan bahwa kalau Anda minum anggur, Anda akan menemukan kekerasan menyertainya. Anda kembali ke kitab Kejadian, dan Anda akan menemukan bahwa ketika ada kemabukan, ada percabulan; ketika ada kemabukan, ada hubungan sedarah. Anda kembali ke Ulangan 21:20: ketika ada kemabukan, ada kerakusan; ketika ada kemabukan, ada pemberontakan; ketika ada kemabukan, ada ketidaktaatan kepada orang tua; ketika ada kemabukan, ada kehidupan yang tidak terkendali. Ke sanalah semuanya itu membawa. Janganlah kamu mabuk oleh anggur yang menghasilkan penyakit yang tidak ada harapan dan tidak dapat disembuhkan. Alkitab berkata kepada kita bahwa hal itu dapat membawa kepada kehancuran.

Saya tidak tahu apakah Anda mengetahui hal ini, tapi seperempat dari semua pasien yang dirawat di rumah sakit jiwa memiliki masalah dengan alkohol. Alkohol benar-benar menghancurkan pikiran. Dan kita tahu bahwa secara fisik, alkohol menyebabkan pengerasan hati. Kerusakan pada hati menyebabkan pembengkakan. Bahkan, menurut sebuah laporan medis yang pernah saya baca, alkohol juga menyebabkan pembuluh darah di kerongkongan membengkak. Pembuluh darah yang menipis itu lebih mudah pecah ketika makanan ditelan dan dapat menyebabkan perdarahan hebat yang bisa berakibat fatal, sehingga beberapa orang yang meninggal karena kondisi ini sebenarnya baru saja makan sebelum meninggal.

Lebih jauh lagi, Anda mungkin lalai kalau tidak mengingat bahwa alkohol bukan hanya membunuh orang yang meminumnya, tapi juga membunuh banyak orang tidak bersalah yang kebetulan berada di sekitar mereka. Tahukah Anda bahwa dalam 41,2 persen dari semua kematian akibat kekerasan, alkohol merupakan salah satu faktornya? Hampir separuh dari semua orang yang meninggal secara tragis—hampir separuh—meninggal akibat suatu hal yang berkaitan dengan alkohol. Sebuah penelitian yang dilakukan di Delaware menunjukkan bahwa alkohol terlibat dalam separuh dari kematian akibat kecelakaan lalu lintas. Di New York City, penelitian bersama yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan Negara Bagian New York dan Universitas Cornell menunjukkan bahwa 73 persen pengemudi yang bertanggung jawab atas kecelakaan yang menyebabkan kematian mereka ternyata telah minum alkohol—73 persen. Di Westchester County, New York, dilakukan pemeriksaan darah terhadap 83 pengemudi yang tewas dalam kecelakaan kendaraan tunggal. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa 79 persen dari pengemudi tersebut berada di bawah pengaruh minuman keras.

Alkohol adalah sesuatu yang mematikan. Alkohol membawa kepada kehidupan yang berlebihan, asōtia, penyakit yang tidak ada harapan dan tidak dapat disembuhkan, dan kitab Amsal membicarakan hal ini berulang kali, berulang kali, dan berulang kali. Yesaya pasal 28, mari saya bacakan ayat 7. Dikatakan, “Tetapi mereka juga telah menyimpang”—dengarkan ini—“karena anggur dan karena minuman keras mereka kehilangan arah.” Para imam dan nabi telah menyimpang karena minuman keras, mereka terhuyung-huyung karena anggur, mereka kehilangan arah karena minuman keras, mereka salah dalam penglihatan mereka, mereka tersandung dalam memberikan keputusan, meja-meja mereka penuh dengan muntah dan kotoran, sehingga tidak ada tempat yang bersih.

Jadi, siapa yang masih tersisa untuk mengajarkan pengetahuan? Siapa yang masih tersisa untuk berbicara bagi Tuhan? Alkohol merusak keimaman, alkohol merusak para nabi. Itulah sebabnya Tuhan mengangkat setiap orang yang Dia kehendaki untuk memimpin, dan menempatkan mereka di atas standar tersebut. Itulah sebabnya Dia meninggikan orang-orang itu. Karena alkohol berpotensi membuat sekelompok pemimpin menjadi orang-orang yang terhuyung-huyung, sakit, dan muntah-muntah sambil duduk mengelilingi sebuah meja. Jadi Tuhan menetapkan standar yang lebih tinggi. Dalam kitab Yoel, Tuhan bahkan mencabut hak untuk minum. Yoel 1:5: “Bangunlah, hai pemabuk, dan menangislah! Merataplah, hai semua peminum anggur karena anggur baru, sebab anggur itu sudah dirampas dari mulutmu!” Tuhan berkata, “Tidak ada lagi minuman untuk kamu.” Mengapa? Belalang datang dan menghancurkan hasil panen, lalu Dia berkata, “Kamu tidak akan minum lagi selama kamu hidup.”

Kejahatan Efraim dalam Hosea pasal 7 dikaitkan dengan anggur. Amos menulis di beberapa bagian, pasal 2, pasal 4, pasal 6, tentang pesta pora yang mengerikan yang muncul dari kemabukan dan anggur. Kita tahu bahwa hal itu bisa membawa kepada semua itu. Jadi muncul pertanyaan: kalau sesuatu bisa membawa kepada hal seperti itu, mengapa kita harus menempatkan sesuatu seperti itu di hadapan kita, padahal kita tidak harus melakukannya? Habakuk 2:15: “Sungguh celaka orang yang memberi sesamanya minum campuran amarah, bahkan memabukkan mereka supaya dapat melihat aurat mereka. Engkau akan kenyang dengan kehinaan, bukan dengan kemuliaan. Engkau sendiri, minumlah juga sampai terhuyung-huyung. Kepadamu akan beralih piala dari tangan kanan TUHAN, dan kehinaan akan menutupi kemuliaanmu.” Wah, sungguh luar biasa ayat ini. Kalau Anda melakukan hal itu, Tuhan akan menimpakan muntahan-Nya kepada Anda. Tuhan akan membuat Anda minum dari cawan penghakiman-Nya. Anda membuat tetangga Anda mabuk, dengarkan, dan Tuhan akan menimpakan muntahan-Nya kepada Anda. Ini adalah hal yang serius.

Anda lihat, Tuhan tahu apa akibatnya. Anda pernah datang ke daerah kumuh, Anda pernah melihat orang-orang miskin yang sangat menyedihkan berjalan di daerah itu, Anda tahu apa yang terjadi dengan orang yang membawa pisau dan orang-orang tidak berdaya yang sama sekali tidak mampu melindungi diri mereka dari serangan, atau setidaknya untuk membela diri secara wajar. Anda pernah melihat kehidupan seperti itu. Saya sendiri, ketika masih kecil dan di tahun-tahun awal pelayanan saya, berkhotbah di berbagai pelayanan misi, satu demi satu pelayanan misi di daerah itu, jadi saya tahu seperti apa keadaannya, dan Anda juga tahu. Anda tahu ke mana semua itu membawa seseorang. Saya harus bertanya kepada diri saya sendiri: Kalau sesuatu memiliki potensi untuk begitu merusak, apakah bijaksana bagi saya untuk terlibat dalam bentuk hiburan apa pun yang berkaitan dengannya?

Jadi—apakah sama, apakah perlu, apakah itu pilihan yang terbaik, apakah bisa menjadi kebiasaan yang mengikat, apakah berpotensi merusak? Nomor enam—dan kita akan membahas tiga yang terakhir dengan cepat. Apakah itu dapat menjadi batu sandungan bagi orang Kristen lainnya? Ini adalah tolok ukur berikutnya. Anda harus bertanya kepada diri Anda sendiri: Kalau saya minum, apakah itu akan menjadi batu sandungan bagi orang Kristen lainnya? Anda berkata, “Saya bebas. Saya tidak mau terjebak dalam belenggu legalisme. Saya bebas melakukan apa yang saya mau dan saya bisa mengendalikannya.” Minggu lalu ada seorang pria berkata kepada saya, “Saya bisa mengendalikannya. Saya tidak tahu mengapa Anda begitu mempermasalahkannya. Saya hanya suka minum sedikit wiski Scotch di pagi hari dan sedikit lagi di malam hari, dan saya bisa mengendalikannya. Itu tidak berpengaruh apa-apa pada saya.” Saya berkata, “Mungkin Anda memang bisa mengendalikannya. Mungkin memang bisa. Tapi mungkin orang lain yang melihat Anda melakukannya tidak bisa.”

Sekarang, dengarkan ini. Dalam 1 Korintus pasal 8 ayat 9, ada sebuah prinsip umum, dan kemudian prinsip ini dijelaskan secara lebih spesifik dalam Roma pasal 14. Tapi 1 Korintus 8:9 berkata, “Jagalah, supaya kebebasanmu ini jangan menjadi batu sandungan bagi mereka yang lemah.” Anda tahu, saya pernah didatangi orang tua yang berkata kepada saya, “Dulu kami minum, dan kami terus minum sampai anak-anak kami menjadi remaja. Kemudian kami berhenti minum karena kami melihat mereka mengikuti teladan kami dan mulai minum, dan mereka tidak mampu mengendalikannya.” Anda tahu, banyak orang tua mengalami hal seperti itu. Ketika polisi menelepon mereka dan berkata, “Kami membawa anak Anda ke sini. Dia mabuk. Kami menemukannya tergeletak di jalan.” Anda lihat, mungkin Anda memiliki kebebasan, mungkin Anda memiliki kemampuan untuk mengendalikan diri, mungkin Anda memiliki kedewasaan dan kekuatan, tapi Anda sedang memberikan contoh kepada seseorang yang tidak mampu mengendalikannya.

Lebih jauh lagi, pada zaman Paulus, kemabukan dikaitkan dengan agama kafir, ingat? Bacchus dan Dionysus serta semua hal yang sudah kita bahas terakhir kali. Kemabukan dikaitkan dengan agama kafir, dan ketika orang-orang menjadi Kristen, sama seperti mereka tidak lagi mau makan daging yang dipersembahkan kepada berhala, banyak dari mereka juga tidak mau lagi berurusan dengan minuman beralkohol. Dan ketika mereka menjadi Kristen, salah satu hal yang mereka tinggalkan adalah minum. Mereka menjadi orang yang sama sekali tidak minum alkohol. Dan ketika orang-orang Kristen datang dan berkata, “Kami memiliki kebebasan untuk minum,” lalu mereka minum anggur, hal itu akan sangat menyinggung orang-orang yang sepanjang hidup mereka hidup dalam kekafiran dan mengaitkan minum dengan upacara-upacara pagan.

Sekarang mari kita buka Roma pasal 14, dan saya akan menunjukkan kepada Anda hal itu, karena memang itulah persoalan yang sedang dibicarakan Paulus. Di Roma, ada orang-orang yang sebelumnya terpapar dengan semua kemabukan yang jahat ini, yang berkaitan dengan penyembahan berhala, dan sekarang mereka sudah menjadi orang Kristen. Sementara itu, ada orang-orang Kristen lainnya—mungkin mereka adalah orang Kristen Yahudi—yang tidak memiliki latar belakang seperti itu dan tidak mempunyai masalah dengan minum. Tapi bagi sebagian orang Kristen non-Yahudi ini, kemabukan, pesta pora, percabulan, kerakusan, kejahatan, dan segala kehancuran mengerikan yang berkaitan dengan kemabukan sudah begitu melekat dalam kehidupan mereka sebelumnya. Jadi ketika mereka menjadi orang Kristen, mereka benar-benar tidak mau lagi berurusan dengan semua itu. Lalu ada orang Kristen lain yang datang dan berkata, “Ah, minum saja, itu bukan masalah besar,” dan hal itu sangat menyinggung mereka. Mereka merasa tidak memiliki kebebasan untuk melakukan itu, karena bagi mereka, itu adalah bagian dari kehidupan yang lama, dan sekarang dalam kehidupan yang baru, semuanya seharusnya berbeda.

Dan ada orang-orang Kristen yang menggunakan kebebasan mereka untuk minum di depan orang-orang Kristen yang tidak bisa memiliki kebebasan itu karena masa lalu mereka. Hal itu akan sangat menyinggung mereka, dan membuat saudara tersebut tersandung, terluka, dan berduka. Jadi dalam Roma 14, Paulus berkata, Anda tidak boleh melakukan itu. Dalam ayat 13, lihat bagian akhir ayat 13: “Janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara seiman kita jatuh atau tersandung!” Jangan lakukan itu; itu akan menyinggung dia.

Lebih jauh lagi, ada kategori orang yang lain. Ada orang-orang yang tidak mampu mengendalikan diri dalam hal-hal tertentu. Tapi kalau Anda melakukannya, mereka akan berkata, “Oh, berarti itu boleh,” lalu mereka ikut melakukannya dan akhirnya menjadi pecandu alkohol, Anda lihat? Anda bukan hanya akan menyinggung sebagian orang, tetapi Anda juga bisa membuat sebagian orang tersandung dan menjadi lemah. Jadi dia berkata, jangan lakukan itu, jangan membuat orang tersandung, baik dengan melakukan sesuatu yang mereka anggap sangat salah, maupun dengan melakukan sesuatu yang mereka pikir mereka juga berhak lakukan, lalu ketika mereka melakukannya, mereka akhirnya menjadi pecandu alkohol.

Anda tahu, saya sudah bertemu terlalu banyak pecandu alkohol. Saya sudah melihat Yesus Kristus mengubah hidup terlalu banyak pecandu alkohol. Saya sudah menghadiri terlalu banyak pertemuan Alcoholics Anonymous dan duduk di belakang sambil melihat apa yang terjadi. Saya sudah terlalu sering melihat semua itu sehingga saya tidak pernah mau dalam hidup saya menjadi orang yang bertanggung jawab memberikan kesan kepada siapa pun bahwa mereka boleh minum sesuka hati. Karena saya tidak punya kendali atas siapa yang akan mengikuti teladan saya dan akhirnya mengalami kehidupan yang hancur. Tapi perhatikan apa yang dia katakan di sini: “Tidak ada sesuatu yang najis dari dirinya sendiri”—ayat 14. Itu bukan persoalannya, bukan pada dirinya sendiri. Tapi kalau saudara Anda berdukacita karena makanan Anda—ayat 15—“maka Anda tidak hidup lagi menurut tuntutan kasih.” Dengan kata lain, Anda berkata, “Lihat, saya tidak peduli apa yang Anda pikirkan. Saya akan minum kalau saya mau, dan terserah Anda.” Kalau begitu, Anda tidak mengasihi saudara Anda. Anda tidak mengasihi saudara Anda. Karena ayat 17 berkata, “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita dalam Roh Kudus.” Yang ingin Anda tumbuhkan adalah kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita, bukan kebebasan untuk minum dan makan.

Jadi—ayat 19—“Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun.” Lakukan saja apa yang akan membangun orang lain, bukan apa yang akan menjatuhkan mereka. Jangan lakukan sesuatu yang akan membuat mereka tersandung, menjadi lemah, atau tersinggung. “Karena makanan”—ayat 20—“janganlah engkau merusak pekerjaan Allah.” “Memang segala sesuatu adalah suci, tetapi seseorang akan bersalah, jika oleh makanannya orang lain tersandung.” Mungkin minum itu sendiri tidak salah, tidak ada yang salah dengan anggur pada dirinya sendiri kalau dicampur dengan air secara tepat dan tidak membuat Anda kehilangan kesadaran. Tapi kalau Anda melakukannya, apakah itu akan membuat orang lain tersandung? Jadi ayat 21 meminta kita untuk sama sekali tidak minum dalam situasi tertentu. “Baiklah engkau jangan makan daging atau minum anggur.” Jangan meminumnya sama sekali “jika hal itu menyebabkan saudaramu tersandung, tersinggung, atau menjadi lemah.” Anda lihat? Singkirkan itu. Di sini dia bukan sedang berbicara tentang semua jenis makanan, tetapi tentang daging yang dipersembahkan kepada berhala. Jadi dia berkata, jangan makan daging yang dipersembahkan kepada berhala dan jangan minum anggur apa pun kalau hal itu membuat seseorang tersinggung atau tersandung.

Anda berkata, “Wah, berarti sepanjang hidup kita harus menyesuaikan diri dengan orang lain.” Memang itulah maksudnya. Itulah yang Tuhan ingin Anda lakukan. Anda tahu, ada orang-orang yang telah keluar dari kehidupan yang penuh dengan alkohol, dan itu adalah salah satu hal yang paling luar biasa di dunia, bahwa Yesus Kristus telah membebaskan mereka. Hal yang paling menggembirakan bagi mereka adalah bahwa Kristus telah membebaskan dan menyelamatkan mereka, menyucikan mereka, dan mengambil dosa jahat berupa kecanduan alkohol dan kemabukan dari kehidupan mereka. Jadi, ketika seorang Kristen datang dan seolah-olah membanggakan kebebasan untuk minum di depan mereka, itu sangat menyinggung mereka. Belum lagi kalau Anda melakukannya dan membiarkan anak-anak Anda melihatnya, atau seorang saudara yang lebih lemah melihatnya, lalu mereka jatuh ke dalam jurang yang sangat, sangat dalam.

Jadi kita mengajukan pertanyaan: Apakah sama? Jawabannya tidak. Apakah perlu? Jawabannya tidak. Apakah itu pilihan yang terbaik? Jawabannya tidak. Apakah bisa menjadi kebiasaan yang mengikat? Ya, bisa. Apakah berpotensi merusak? Oh, ya. Apakah bisa menyinggung orang Kristen lainnya? Sangat sering. Mungkin ada beberapa tempat di dunia di mana hal itu tidak berlaku, tetapi dalam masyarakat seperti kita yang pernah mengalami masa pelarangan alkohol, Kekristenan sejak dulu memang sering dikaitkan dengan tidak minum alkohol. Jadi, tentu saja hal itu bisa menyinggung banyak orang karena alasan tersebut, dan juga menyinggung orang-orang lain yang bisa tersandung karenanya dan merasa sangat tersinggung karena mereka melihatnya sebagai bagian dari kehidupan mereka yang lama.

Saya akan ajukan dua pertanyaan lagi dengan cepat. Apakah hal itu akan merusak kesaksian Kristen saya? Nah, orang-orang berkata, “Oh, Anda tahu, kalau saya minum, saya bisa menjangkau orang lain. Kalau saya melakukan apa yang mereka lakukan, mereka akan menerima saya.” Apakah itu benar-benar akan membantu kesaksian Anda, atau sebaliknya, justru akan merusaknya? Nah, dalam Roma 14:16 dikatakan, “Jangan biarkan dirimu difitnah tentang apa yang baik padamu.” Sangat mungkin Anda adalah orang baik dengan pelayanan yang baik, tapi kalau Anda menggunakan kebebasan Anda untuk minum dan hal itu menyinggung orang lain, mereka akan meremehkan kesaksian dan pelayanan Anda dan memandang Anda lebih rendah. Saya tahu ini benar. Kalau saya berdiri di mimbar dan berkata kepada Anda, “Sekarang, saya ingin Anda tahu bahwa saya minum, tapi saya bisa mengendalikannya.” Beberapa dari Anda akan terkejut. Beberapa dari Anda mungkin akan memeluk Alkitab Anda dan lari ke sudut ruangan? “John MacArthur minum.” Dan setiap kali saya berdiri lagi untuk berbicara, Anda akan mengingat, “Dia minum. Dia minum. Saya bertanya-tanya apakah pikirannya benar-benar jernih.” Anda lihat? Dan hal itu akan mengganggu banyak dari Anda. Bagi sebagian dari Anda, itu mungkin sama sekali tidak menjadi masalah, tapi bagi sebagian lainnya, hal itu akan mengganggu.

Jadi, kalau bukan karena alasan lain, saya tidak ingin ada seorang pun yang merasa terganggu atau terusik, dan saya sama sekali tidak ingin kesaksian Kristen saya berkurang dalam bentuk apa pun hanya karena saya melakukan sesuatu. Jadi saya bertanya kepada diri sendiri: Apakah orang lain akan memandang saya lebih rendah sebagai seorang Kristen kalau saya melakukan hal itu? Dan saya tahu bahwa di lingkungan gereja, di kalangan orang Kristen, ada banyak orang yang akan memandang saya jauh lebih rendah kalau saya melakukan hal itu. Jadi, saya tidak ingin menyinggung mereka. Tapi bagaimana dengan dunia? Bagaimana dengan orang-orang yang belum diselamatkan?

Lihat 1 Korintus 10. 1 Korintus 10:31. Ini sangat menarik. 1 Korintus 10:31 berkata, “Karena itu, baik kamu makan atau minum, ataupun melakukan sesuatu yang lain,” entah Anda makan daging yang dipersembahkan kepada berhala, minum anggur, atau melakukan apa pun, “lakukanlah semuanya untuk kemuliaan Allah”. Nah, bagaimana Anda bisa melakukan semuanya untuk kemuliaan Allah? Ayat 32 berkata, “Janganlah” — apa? — “kamu membuat orang tersandung, baik orang Yahudi atau orang Yunani, maupun jemaat Allah.” Jadi, saya tidak mau melakukan sesuatu yang bisa menyinggung jemaat. Saya tidak mau menggunakan kebebasan saya dengan cara yang membuat banyak orang Kristen tersinggung dan akhirnya memandang kesaksian saya lebih rendah. Saya juga tidak mau menyinggung orang Yahudi atau orang Yunani.

Sekarang, “Sama seperti aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka diselamatkan.” Supaya mereka beroleh keselamatan. Anda tahu, apa yang sebenarnya Paulus mau katakan di sini? Kalau Anda ingin menjangkau orang-orang yang belum diselamatkan, berhentilah minum dan berhentilah makan makanan yang dipersembahkan kepada berhala. Biarkan mereka melihat ada perbedaan. Anda mengerti? Biarkan mereka melihat ada perbedaan. Saya tidak mencari apa yang saya inginkan. Mungkin saya punya kebebasan untuk melakukan hal tertentu, tapi saya punya standar. Pertama, untuk memuliakan Allah; kedua, sama sekali tidak menyinggung siapa pun; dan ketiga, memastikan bahwa hidup saya menunjukkan sesuatu yang berbeda, supaya orang-orang dapat diselamatkan, supaya mereka melihat adanya perbedaan.

Dan akhirnya, kalau Anda sudah melewati tujuh tolok ukur pertama, inilah yang kedelapan. Tanyakan kepada diri Anda sendiri: Apakah Anda benar-benar yakin bahwa minum itu benar? Maksud saya, apakah Anda benar-benar yakin? Karena kalau di dalam hati Anda masih ada keraguan sedikit saja tentang hal itu, Anda perlu menyelesaikannya. Minggu lalu ada seorang pria datang kepada saya dan berkata, “Anda tahu, saya minum bir bersama teman-teman.” Lalu dia bertanya, “Apakah itu salah?” Saya berkata, “Menurut Anda bagaimana?” Dia menjawab, “Saya rasa itu tidak salah, tapi saya merasa terganggu.” Saya berkata, “Anda suka merasa terganggu?” Dia menjawab, “Tidak, saya tidak suka merasa terganggu.” Saya berkata, “Anda tahu bagaimana caranya supaya tidak merasa terganggu?” “Ya, jangan lakukan itu.” Ya, dia berkata, “Saya rasa itu tidak salah, tapi saya merasa terganggu.” Anda tahu, Roma 14:23 adalah ayat yang sangat membantu dalam hal ini. Saya tidak punya waktu untuk membahas seluruh penjelasannya, tapi sekadar untuk memberi Anda gambaran, ayat itu berkata, “Siapa saja yang bimbang, kalau ia makan, ia telah dihukum, karena ia tidak melakukannya berdasarkan iman. Segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa.”

Nah, gambaran sederhananya seperti ini, ya. Mari kita lihat dari sisi soal minum. Ada seorang pria yang dulu keluar dari agama penyembahan berhala. Dia berkata, “Wah, minum itu salah. Semua itu bagian dari ritual penyembahan berhala. Saya tidak mau menyentuhnya.” Tapi kemudian ada saudara seiman yang merasa dirinya sudah bebas berkata, “Ah, ayolah, Charlie. Jangan terpaku pada hal itu. Kita sudah bebas di dalam Kristus, jadi minumlah.” Tapi dia minum dalam keraguan. Akibatnya, dia sebenarnya sudah terikat oleh sikap legalismenya, dia memang sudah menjadi orang yang lebih lemah dalam iman, dan dia sendiri sudah tidak bisa menikmati kebebasannya. Lalu Anda memaksanya melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nuraninya. Yang terjadi justru Anda mendorongnya semakin dalam ke dalam keraguan, semakin dalam ke dalam perasaan bersalah, dan semakin dalam mempertanyakan apa yang sebenarnya boleh dia lakukan sebagai orang yang sudah bebas. Dan karena dia melakukannya tanpa benar-benar percaya bahwa dia bebas untuk melakukannya, hal itu menjadi dosa baginya.

Karena kalau Anda tidak bisa melakukan sesuatu dengan hati nurani yang benar-benar bebas, dengan keyakinan penuh bahwa apa yang Anda lakukan itu benar, jangan lakukan. Sebab kalau Anda melakukannya, Anda justru akan semakin terjerumus ke dalam perasaan bersalah. Dan saya ingin menambahkan satu hal lagi. Ketika Anda melanggar hati nurani Anda, itu adalah sesuatu yang buruk, karena semakin sering Anda melanggar hati nurani, semakin Anda menumpulkan hati nurani itu, seperti dibakar dengan besi panas. Dan kalau Anda terus menumpuk jaringan parut di sana, ketika Tuhan benar-benar ingin menyentuh hati Anda dalam suatu hal yang penting, Anda tidak akan merasakannya. Hati nurani adalah alat yang Tuhan gunakan untuk menyatakan kesalahan dan menegur Anda. Dan kalau Anda terus-menerus melanggar hati nurani, lagi dan lagi, yang akan terjadi adalah ketika Anda membutuhkannya, hati nurani itu tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya.

Jadi, ada beberapa standar yang perlu kita ikuti, dan Anda perlu menguji diri sendiri berdasarkan semua hal ini. Jalani satu per satu dan tanyakan kepada diri Anda sendiri pertanyaan yang juga saya tanyakan kepada diri saya sendiri. Apakah ini sama? Apakah ini perlu? Apakah ini yang terbaik? Apakah ini bisa membuat ketagihan? Apakah ini berpotensi merusak? Apakah ini bisa menyinggung orang Kristen lain? Apakah ini akan merusak kesaksian saya? Dan apakah saya benar-benar yakin bahwa ini benar? Dan apakah saya bisa melakukannya dengan iman yang sepenuhnya percaya kepada Allah bahwa apa yang saya lakukan ini benar? Dan, saudara yang saya kasihi, semua ini sebenarnya hanyalah salah satu bagian dari bagaimana kita hidup dengan penuh kehati-hatian, bukan seperti orang bodoh, tetapi seperti orang yang bijaksana, dan mempergunakan waktu yang ada, karena hari-hari ini penuh dengan kejahatan. Kalau Anda ingin hidup sebagai orang Kristen yang bijaksana, ini adalah salah satu cara untuk menentukan arah hidup Anda. Anda harus menyelesaikan persoalan ini. Mari kita berdoa.

Bapa, terima kasih untuk waktu kami pagi ini, untuk kesempatan yang Engkau berikan kepada kami untuk membahas dan berbagi tentang hal yang sangat penting ini. Tuhan, kami tidak ingin menjadi legalistis, kami juga tidak ingin menjadi tidak mengasihi, atau sekadar menyesuaikan diri dengan keadaan dan budaya di sekitar kami, tapi kami hanya ingin berpegang pada kebenaran dan Firman-Mu. Tolong kami untuk menyatukan semua yang telah kami pelajari dan mengambil keputusan yang bijaksana. Dalam nama Yesus, amin.

SELESAI

This sermon series includes the following messages:

Please contact the publisher to obtain copies of this resource.

Publisher Information
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969

Welcome!

Enter your email address and we will send you instructions on how to reset your password.

Back to Log In

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize
View Wishlist

Cart

Cart is empty.

Subject to Import Tax

Please be aware that these items are sent out from our office in the UK. Since the UK is now no longer a member of the EU, you may be charged an import tax on this item by the customs authorities in your country of residence, which is beyond our control.

Because we don’t want you to incur expenditure for which you are not prepared, could you please confirm whether you are willing to pay this charge, if necessary?

ECFA Accredited
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Back to Cart

Checkout as:

Not ? Log out

Log in to speed up the checkout process.

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize