Malam ini kita akan kembali melihat Kolose pasal 1, suatu bagian firman Tuhan yang sangat penting, yang berbicara kepada saya tentang pribadi yang paling utama di seluruh alam semesta ini, yaitu Allah di surga yang dinyatakan sebagai Anak. Inilah inti dari kekristenan, esensi dari semua yang kita percayai, dan merupakan dasar dari iman kita. Di sinilah medan pertempuran kita melawan berbagai ajaran sesat dan berbagai paham yang berusaha menghilangkan inti kekristenan, yaitu kebenaran tentang keilahian Tuhan Yesus Kristus, dan itulah tema Paulus dalam Kolose 1:15-19. Bagian ini sangat penting dalam keseluruhan argumen kitab ini, bahkan sangat penting bagi dasar pemahaman Kekristenan.
Seseorang pernah menyebut Alkitab sebagai “buku tentang Yesus,” dan ungkapan itu sudah berulang kali dikatakan, dan dalam satu sisi, itu memang benar. Jika kita memahami Alkitab, kita akan mengerti bahwa Alkitab adalah kitab yang berbicara tentang Kristus, tentang Tuhan Yesus. Dalam Perjanjian Lama, ada persiapan untuk kedatangan Yesus. Dalam kitab-kitab Injil, ada penyataan tentang Kristus, bahwa Dia telah datang. Dalam Kisah Para Rasul, ada pemberitaan, yaitu kabar keselamatan di dalam Kristus disampaikan. Dalam surat-surat rasuli, kita mempelajari bagaimana Kristus dinyatakan dalam hidup orang percaya, seperti “bagiku hidup adalah Kristus,” yaitu bagaimana Kristus yang telah mati dan bangkit itu hidup kembali di dalam umat-Nya. Dan dalam kitab Wahyu, kita melihat Kristus yang berkuasa, Kristus yang bertakhta, pemerintahan Sang Raja, Anak Domba yang duduk di atas takhta.
Jadi dalam setiap hal, Alkitab adalah kisah tentang Kristus, kitab yang menceritakan segala sesuatu tentang Dia. Dalam Kisah Para Rasul pasal 8, hal ini ditunjukkan kepada kita di ayat 35 ketika Filipus berbicara kepada sida-sida Etiopia di jalan menuju Gaza, dan Roh Kudus menyatakan bahwa “Filipus pun mulai berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil tentang Yesus kepadanya.” Tentu saja, ia memulainya dari Perjanjian Lama, dari kitab nabi Yesaya.
Kita bisa mulai dari bagian mana pun dalam Kitab Suci dan mengajarkan tentang Yesus. Dalam Injil Lukas, bagian yang sudah sangat dikenal, pasal 24 ayat 27, saat setelah kebangkitan-Nya, ketika Kristus bertemu dengan murid-murid di jalan menuju Emaus, dikatakan bahwa “mulai dari kitab-kitab Musa”, yaitu Taurat, “dan segala kitab nabi-nabi”, yaitu kitab-kitab nubuat, “Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis dalam seluruh Kitab Suci”, atau Hagiographa, yang adalah tulisan-tulisan suci, segala sesuatu yang tertulis tentang diri-Nya. Perjanjian Lama bagi orang Yahudi, dan sampai sekarang pun, dibagi menjadi tiga bagian: Musa atau Taurat, kitab-kitab nabi, dan Hagiographa atau tulisan-tulisan suci, yaitu kitab-kitab puisi dan sejarah. Di dalam semua bagian itu, Yesus menjelaskan kepada mereka hal-hal yang berbicara tentang diri-Nya.
Jadi, Alkitab adalah kitab tentang Kristus, kitab yang menyatakan Allah dan kedatangan Kristus ke dalam dunia, tentang Allah yang menjadi manusia. Dalam setiap bagian Alkitab, sisi-sisi kebenaran ini dinyatakan dengan jelas. Namun dari semua pernyataan dalam firman Tuhan tentang Allah yang menjadi manusia, tidak ada yang lebih penting daripada yang tertulis dalam Kolose 1:15, karena di sini kita melihat dengan sangat jelas bahwa Anak itu adalah Allah. Mari saya bacakan. “Anak” pada ayat 13 adalah acuan dari kata “yang” pada ayat 15: “Dialah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di surga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu menyatu di dalam Dia. Dialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Dialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Dialah yang lebih utama dalam segala sesuatu. Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan tinggal di dalam Dia.”
Pernyataan ini adalah pernyataan yang sangat luar biasa, dan sangat penting untuk memahami iman Kristen, dan untuk menyingkirkan segala kebingungan tentang siapa sebenarnya Tuhan Yesus Kristus. Nah, izinkan saya menempatkan bagian ini dalam konteksnya di dalam kitab Kolose. Paulus memahami bahwa ada suatu ajaran palsu yang sedang disebarkan di Kolose, dan ia mengetahui hal itu karena Epafras telah mengunjunginya. Epafras, yang kemungkinan besar adalah salah satu gembala jemaat di Kolose dan mungkin juga pendirinya, datang untuk menemui rasul Paulus.
Rasul Paulus mendengar dari Epafras bahwa ada hal-hal yang sangat serius sedang terjadi, yaitu penyebaran ajaran sesat di Kolose. Salah satu ajaran sesat itu berkaitan dengan keilahian Yesus Kristus. Para pengajar sesat mengatakan bahwa Kristus bukanlah Allah, bahwa Dia tidak cukup untuk keselamatan, dan bahwa selain Kristus, orang juga perlu menyembah roh-roh lain - mungkin malaikat-malaikat. Mereka juga mengajarkan bahwa harus ada penglihatan-penglihatan khusus dan pengetahuan tertentu, semacam pengetahuan tingkat tinggi yang melampaui apa yang bisa diperoleh di dalam Kristus. Bahkan, mereka mengatakan bahwa Yesus Kristus hanyalah satu dari sekian banyak roh yang berasal dari Allah, dan Yesus hanyalah salah satu dari pancaran yang baik itu. Dia bukan Allah, bahkan bukan Juruselamat. Mereka percaya bahwa pengetahuan di luar Dia adalah satu-satunya jalan menuju keselamatan.
Jadi, serangan dari ajaran sesat ini, yang kemudian berkembang menjadi apa yang kita kenal sebagai Gnostisisme, berfokus pada keilahian Kristus dan kecukupan-Nya sebagai Juruselamat. Karena itu, dalam tiga pasal pertama kitab Kolose, Paulus secara langsung membahas persoalan ini. Misalnya, dalam Kolose 1:27 dikatakan, “Kepada mereka Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan! Dialah yang kami beritakan bilamana tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus.” Yang Paulus maksudkan di sini adalah bahwa tidak diperlukan apa pun lagi selain Kristus untuk membawa seseorang kepada kesempurnaan. Ia sedang menentang ajaran para pengajar sesat yang berkata, “Harus ada Kristus, ditambah pengetahuan, ditambah penglihatan khusus, ditambah penyembahan malaikat, dan sebagainya.” Padahal, seseorang dapat menjadi sempurna hanya di dalam Kristus Yesus saja.
Dalam Kolose pasal 2 ayat 2, Paulus kembali mengembangkan argumennya: “Supaya hati mereka terhibur dan mereka bersatu dalam kasih, sehingga mereka memperoleh segala kekayaan dan keyakinan pengertian, dan mengenal rahasia Allah, yaitu Kristus, sebab di dalam Dialah tersembunyi,” bukan sebagian, bukan banyak, tetapi “segala harta hikmat dan pengetahuan.”
Sekali lagi, tentang kecukupan Kristus. Tidak ada pengetahuan tambahan di luar Kristus yang diperlukan untuk keselamatan. Perhatikan ayat 9, “Sebab dalam Dialah,” dan yang dimaksud “Dia” adalah Kristus pada ayat 8, “berdiam secara jasmaniah seluruh,” bukan sebagian, bukan banyak, tetapi “seluruh kepenuhan keilahian.” Lalu ayat 19, “Kepala,” itu adalah Kristus, dan “tubuh,” seperti disebut dalam ayat 17, menunjuk kepada Kristus dalam arti penggenapan, karena Perjanjian Lama hanyalah bayangan dari penggenapan di dalam Kristus. Dan di sini, kepala dalam ayat 19 adalah Kristus, “dari mana seluruh tubuh yang ditopang dan diikat menjadi satu oleh urat-urat dan sendi-sendi, bertumbuh menurut pertumbuhan yang berasal dari Allah.”
Dengan kata lain, Kristus adalah kepala atas segala sesuatu. Semua pertumbuhan, semua pemeliharaan, semua yang menyatukan dan membuat bertumbuh, semuanya berkaitan dengan Kristus. Tidak ada yang lain yang diperlukan.
Dalam pasal 3 ayat 1 dikatakan, “Karena itu, apabila kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus,” artinya jika kamu adalah orang percaya, “carilah hal-hal yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah hal-hal yang di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Apabila Kristus, yang adalah hidup kita,” atau lebih tepatnya, Kristus menjadi hidup kita, “menyatakan diri-Nya.” Semuanya adalah Kristus. Hidup kita adalah Kristus. Pengharapan kita adalah Kristus. Seluruh hikmat ada di dalam Kristus. Seluruh pengetahuan ada di dalam Kristus. Seluruh pertumbuhan ada di dalam Kristus. Seluruh kesempurnaan ada di dalam Kristus. Itulah inti dari seluruh argumen Paulus ini. Dalam tiga pasal pertama kitab Kolose, ia mau berkata kepada jemaat di Kolose, “Jangan biarkan siapa pun membuatmu berpikir bahwa engkau membutuhkan Kristus ditambah malaikat lain, ditambah pengetahuan tingkat tinggi, ditambah penglihatan-penglihatan khusus. Yang engkau butuhkan hanyalah Kristus. Itu saja sudah cukup.”
Kolose 1 ayat 19, menurut saya, menyatakannya dengan sangat indah: “Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan tinggal di dalam Dia.” Artinya, di dalam Kristus ada berapa banyak kepenuhan? Seluruh kepenuhan. Semuanya ada di dalam Dia. Jadi, rasul Paulus sedang melawan ajaran sesat yang sudah masuk ke Kolose. Ajaran sesat ini pada dasarnya berakar pada dualisme filsafat, seperti yang sudah kita lihat dalam pengantar kitab Kolose. Dualisme filsafat mengajarkan bahwa materi itu jahat dan roh itu baik, dan karena Allah adalah Roh, maka Dia baik. Tetapi karena seluruh ciptaan adalah materi, maka dianggap jahat. Dengan demikian, menurut pemikiran ini, Allah yang baik tidak mungkin menciptakan ciptaan yang dianggap jahat.
Jadi menurut ajaran itu, yang terjadi adalah Allah mulai mengeluarkan pancaran, atau roh-roh mulai keluar dari Allah seperti riak di permukaan air. Pancaran itu terus muncul, semakin banyak, yang pertama baik, lalu tetap baik, kemudian menjadi netral, dan akhirnya menjadi jahat. Setelah begitu banyak pancaran terjadi, muncullah beberapa pancaran yang jahat, dan salah satunya dianggap cukup jahat untuk menciptakan dunia. Nah, dalam pandangan ini, Yesus hanyalah bagian dari rangkaian pancaran tersebut, memang yang baik, tetapi tetap hanya salah satunya. Dia dianggap setara dengan malaikat, dan itulah sebabnya mereka menyembah pancaran - pancaran itu, atau roh-roh, atau malaikat.
Maksud Paulus di sini adalah untuk menegaskan kepada jemaat Kolose bahwa Yesus bukanlah pancaran dari Allah. Dia bukan sesuatu yang berada di bawah atau lebih rendah dari hakikat Allah. Dia adalah Allah yang menjadi manusia. Sebelumnya Paulus sudah menyampaikan bagian pembuka. Ia telah memberi salam kepada mereka, mengucap syukur kepada Allah untuk mereka dalam ayat 3 dan seterusnya. Ia juga telah berdoa supaya mereka dipenuhi dengan pengetahuan akan kehendak-Nya, dengan segala hikmat dan pengertian rohani, sehingga mereka dapat hidup layak dan berkenan kepada-Nya, dan seterusnya. Semua bagian pengantar itu sudah ia sampaikan, dan sekarang ia langsung masuk ke inti persoalannya.
Ia mengucap syukur kepada Allah atas keselamatan yang mereka terima dalam ayat 12 sampai 14, yaitu penebusan dan pengampunan dosa. Lalu dari situ ia langsung menegaskan bahwa Pribadi yang telah menebus kita ini, yang telah mengampuni kita, yang telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan, yaitu Anak yang dikasihi, yang memiliki kerajaan itu, Dialah gambar Allah yang tidak kelihatan. Dan hal ini sangat penting dalam keseluruhan pesannya.
Nah, saat kita melihat ayat 15 sampai 19 ini, kita ingin memahami Yesus Kristus dalam hubungannya dengan lima hal. Kita akan melihat Dia dalam hubungannya dengan Allah, dengan alam semesta, dengan dunia yang tidak kelihatan, dengan jemaat, dan dengan segala hal lainnya sebagai penutup. Pertama, Yesus dalam hubungannya dengan Allah, yaitu ayat 15. Di sini kita menemukan definisi yang sangat jelas tentang Yesus dalam kaitannya dengan Allah: “Dialah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan.”
Para pengajar sesat berusaha menunjukkan bahwa Yesus hanyalah sebuah pancaran, sekadar riak dari hakikat Allah, salah satu dari rangkaian panjang makhluk yang semakin rendah hingga akhirnya mencapai tingkat yang jahat dan mampu menciptakan dunia. Tetapi Paulus menegaskan, “Kristus adalah Allah.” Bahkan dalam ayat 16, ia mengatakan bahwa Dialah yang menciptakan segala sesuatu. Dialah yang melakukannya. Para pengajar sesat itu bahkan mengajarkan bahwa Allah tidak mungkin masuk ke dalam tubuh manusia, karena jika Allah masuk ke dalam tubuh manusia, maka Allah yang baik akan berada dalam materi yang dianggap jahat. Menurut mereka, pancaran yang baik tidak mungkin memiliki tubuh, karena tidak mungkin mengambil tubuh materi yang dianggap jahat. Karena itu mereka mengajarkan bahwa Yesus tidak memiliki tubuh, bahwa Dia hanyalah pancaran yang baik dalam bentuk bayangan atau semacam roh tanpa wujud. Seperti yang pernah saya jelaskan, mereka percaya bahwa ke mana pun Yesus pergi, Dia tidak meninggalkan jejak kaki, karena tubuh-Nya hanya seperti bayangan, seperti hantu, tidak nyata.
Jadi, Paulus ingin menegaskan dengan jelas bahwa Yesus adalah Allah, bahwa Dia adalah Allah yang menjadi manusia, dan bahwa Dia adalah Pencipta alam semesta. Pernyataan ini saja sudah cukup untuk sekaligus meruntuhkan seluruh ajaran mereka. Sekarang mari kita lihat. Dalam ayat 15 dikatakan, “Dialah gambar Allah yang tidak kelihatan.” Untuk memulainya, Allah itu tidak kelihatan. Dalam 1 Timotius disebutkan bahwa Allah tidak kelihatan. Dalam Perjanjian Lama juga dikatakan bahwa Allah tidak dapat dilihat. Allah tidak terlihat oleh mata manusia. Allah adalah Roh, dan Yesus berkata, “Roh tidak mempunyai,” apa? “daging dan tulang.” Allah itu tidak kelihatan, tetapi Allah menjadi kelihatan. Allah menjadi manusia, dan Kristus adalah Allah yang dinyatakan secara nyata. Dialah gambar Allah yang tidak kelihatan.
Dalam Kejadian 1:27 kita menemukan penggunaan istilah “gambar.” Di sana dikatakan bahwa Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya, tetapi itu bukanlah maksud yang sama seperti yang Paulus katakan di sini, karena konsepnya berbeda. Dalam 1 Korintus pasal 11, setidaknya kita perlu menyinggungnya, ayat 7 mengatakan bahwa “laki-laki menyinarkan gambaran dan kemuliaan Allah.” Jadi, Allah memang menciptakan manusia menurut gambar-Nya, dan 1 Korintus 11:7 kembali menegaskan hal yang sama, tetapi manusia bukanlah gambar Allah yang sempurna. Mungkin kita bertanya, “Dalam hal apa manusia adalah gambar Allah? Dalam hal apa saya dan Anda, sebagai manusia, diciptakan menurut gambar Allah? Apa arti sebenarnya dari hal ini?” Pada dasarnya, kita diciptakan menurut gambar Allah dalam hal kemampuan untuk berpikir, merasakan, dan mengambil keputusan.
Jelas kita tidak diciptakan menurut gambar Allah secara moral, bukan? Dia kudus, sedangkan kita tidak. Bahkan Adam pun tidak diciptakan kudus, melainkan dalam keadaan tidak berdosa, dan ia gagal dalam ujian pertamanya. Kita juga tidak diciptakan menurut gambar Allah secara esensi, yaitu dalam hakikat-Nya, karena kita bukan roh yang bebas melayang. Kita tidak bisa bergerak bebas di seluruh alam semesta. Kita tidak mahakuasa, tidak mahahadir, tidak mahatahu, dan tidak pula tidak berubah, atau tetap sama selamanya.
Jadi kita tidak diciptakan menurut gambar Allah secara esensi, dan juga tidak secara moral, tetapi kita diciptakan menurut gambar Allah dalam arti kepribadian. Artinya, kita bisa berpikir, kita bisa merasakan, dan kita bisa mengambil keputusan. Dalam pengertian itulah kita adalah gambar Allah. Tapi tentu saja, gambar itu sudah sangat rusak, dan kerusakan itu terjadi sejak kejatuhan manusia dalam dosa. Gambaran Allah dalam diri Adam dulu jauh lebih jelas. Di satu sisi, Adam cukup dekat dengan Allah sehingga dapat mewakili-Nya secara moral. Dalam arti tertentu, Adam juga cukup dekat dengan Allah untuk mencerminkan-Nya dalam hal esensi, karena ia tidak dapat mati, sehingga ia memiliki kualitas kekekalan. Ada semacam ketidakberubahan dalam diri Adam. Semuanya itu, dalam batas tertentu, merupakan bagian dari gambar Allah dalam dirinya, tetapi semuanya rusak ketika ia jatuh ke dalam dosa. Dan satu-satunya cara untuk memulihkannya adalah ketika seseorang datang mengenal Yesus Kristus.
Nah, ketika seseorang diselamatkan, maka gambar Allah di dalam dirinya dipulihkan. Ada suatu pengertian, perhatikan baik-baik, bahwa ketika kita diselamatkan, kita mulai masuk ke dalam gambar Allah secara moral. Karena Allah, secara moral, membentuk kita menjadi serupa dengan siapa? Dengan Kristus. Dalam arti tertentu, kita juga mulai mengambil bagian dalam kualitas hakikat Allah, karena Allah menjadikan kita memiliki jenis hidup apa? Hidup yang kekal. Itulah kualitas keberadaan Allah. Jadi ada suatu pengertian bahwa melalui keselamatan, gambar Allah di dalam diri kita dipulihkan, dan mungkin Efesus pasal 4 dapat membantu kita memahami hal ini.
Saya tidak bisa terlalu memastikan secara detail dalam hal-hal ini. Saya hanya menyampaikan gambaran umumnya saja, karena memang tidak bisa dijelaskan dengan sangat rinci. Saya tidak ingin terlalu memaksakan penjelasan yang sangat spesifik seolah-olah, “Inilah persisnya.” Tetapi dalam Efesus 4:24 dikatakan, dan ini menurut saya sangat membantu, yaitu “mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah.” Apakah Anda melihatnya disini? Pemulihan manusia ke dalam gambar Allah terjadi ketika ia mengenakan manusia baru. Pada saat itulah, dalam satu pengertian, Allah dipulihkan di dalam diri orang itu, yaitu dalam kebenaran dan kekudusan yang sejati. Jadi, gambar Allah itu nyata kembali ketika seseorang mengenakan manusia baru.
Mungkin ada yang bertanya, “Apakah itu berarti keselamatan?” Ya, sebagian benar, tetapi itu juga berarti ketika kita hidup sebagai manusia baru. Saat itulah hal itu menjadi terlihat dan nyata. Dalam Kolose 3:10 dikatakan, “dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbarui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Penciptanya.” Di sini kita melihat kebenaran yang sama, bahwa gambar Allah dipulihkan dalam diri seseorang ketika ia menjadi percaya dan membiarkan Allah dinyatakan melalui hidupnya, ketika ia mengenakan manusia baru itu. Bukan hanya menjadi manusia baru, tetapi juga hidup sebagai manusia baru. Ketika ia menampilkan kehidupan yang baru itu, maka Allah menjadi terlihat.
Jadi ada suatu pengertian bahwa manusia mencerminkan gambar Allah. Semua manusia, menurut saya, mencerminkan gambar Allah dalam hal kemampuan untuk berpikir, merasakan, dan mengambil keputusan, yaitu keputusan yang didasarkan pada fakta dan logika, dan bukan sekadar naluri seperti binatang. Tapi juga, ketika seseorang menjadi Kristen, ada pengertian bahwa gambar Allah secara moral dan secara esensi mulai dipulihkan di dalam dirinya. Hanya saja, sekalipun semua itu digabungkan, Saudara, tetap saja tidak sempurna. Yang terbaik yang bisa kita capai pun masih akan selalu kurang.
Jadi, kembali ke Kolose 1, Kristuslah satu-satunya gambar Allah yang tidak kelihatan yang benar, yang nyata, yang sempurna, tanpa cacat, dan sepenuhnya tepat. Saudara, jika bukan karena Dia adalah gambar Allah, tidak seorang pun dari kita akan mampu mendekati gambaran itu. Perhatikan Ibrani 1:3, dan di sana kembali kita menemukan pernyataan tentang Kristus, di mana kata “yang” merujuk kepada “Anak” pada ayat 2, yaitu Anak-Nya, “adalah cahaya kemuliaan Allah dan keberadaan Allah yang sesungguhnya.”
Di sini kita melihat bahwa Anak, yaitu Kristus, adalah pancaran kemuliaan Allah. Artinya, Dialah yang menyatakan Allah. Dialah yang datang dari Allah untuk menyatakan hakikat Allah itu sendiri.
Kedua, perhatikan dalam Ibrani 1:3 bahwa “Ia adalah gambar keberadaan Allah yang sesungguhnya,” yaitu gambar yang tepat, gambar yang sempurna. Hakikat-Nya sama persis. Kata “gambar” di sini, dalam bahasa Yunani klasik, digunakan untuk menunjuk pada cap atau alat ukir yang menghasilkan cetakan yang benar-benar sama, suatu salinan yang persis. Yesus adalah gambaran yang tepat dari Allah, tidak ada yang kurang, tidak ada yang berubah, tidak ada yang berbeda. Dalam Yohanes 1:18 dikatakan, “Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.” Dan ketika kita melihat Anak itu, kata Yohanes, kita melihat kemuliaan-Nya, yaitu “kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa.”
Sangat jelas bahwa Dia menyatakan Allah. Dalam Filipi 2:6 dikatakan, “yang walaupun dalam rupa Allah,” artinya Kristus memiliki seluruh hakikat dan sifat Allah, namun Dia menjadi manusia, “mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba,” dan seterusnya.
Orang Ibrani selalu memahami penyataan pribadi Allah dalam apa yang Allah katakan. Mereka tidak dapat melihat Allah, tetapi hampir selalu mereka dapat mendengar-Nya, bukan? Berapa kali dalam Perjanjian Lama kita membaca, “Firman Tuhan datang kepada…” atau “Firman Tuhan berfirman.” Mereka selalu melihat bahwa Allah dinyatakan melalui perkataan-Nya. Penyataan Allah bersifat verbal. Tidak heran bahwa ketika Yesus Kristus datang ke dalam dunia, Yohanes menulis, “Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah.” Karena bagi orang Yahudi, Allah selalu dipahami sebagai Pribadi yang dinyatakan melalui Firman-Nya.
Allah dinyatakan melalui firman. Tidak heran dalam Ibrani pasal 1 dikatakan bahwa “Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dengan berbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan para nabi, maka pada zaman akhir ini,” apa? “Ia berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya.” Penyataan Allah selalu melalui Firman-Nya, dan Firman itu adalah Kristus. Kristus adalah pikiran dan pernyataan Allah yang sama persis. Itulah sebabnya Yesus berkata dalam Yohanes 14:9, “Siapa saja yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa.” Dalam Matius 17, Yesus bahkan memberikan kepada mereka sekilas gambaran bahwa Dia adalah Allah. Hal ini seharusnya mengakhiri segala spekulasi atau perdebatan tentang hal ini untuk selamanya, ketika kita melihat Tuhan Yesus Kristus menyatakan diri-Nya. Dalam Matius 17, peristiwa transfigurasi, ayat 2 mengatakan, “Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan jubah-Nya menjadi putih berkilau seperti cahaya.” Lalu terdengar suara dari dalam awan, “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” Pada saat itu Dia menyatakan diri-Nya, seolah-olah menyingkapkan kemanusiaan-Nya, dan berkata, “Sekarang kamu melihat Allah dalam kemuliaan Shekinah-Nya.”
Jadi, Sang Anak adalah satu-satunya gambaran Allah yang sempurna. Manusia tidak demikian. Manusia hanyalah gambar yang telah rusak. Bahkan ketika dipulihkan di dalam Kristus, tetap saja tidak sepenuhnya sempurna. Hanya di dalam Kristus, Allah dapat dilihat dengan kesempurnaan yang mutlak. Dalam 2 Korintus 4:6, ini dinyatakan dengan indah, “Sebab Allah yang telah berfirman, "Dari dalam gelap akan terbit terang!", Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah.” Lalu bagaimana Allah melakukannya? Bagaimana Allah memberikan kepada manusia terang pengetahuan tentang kemuliaan-Nya? Inilah jawabannya, “yang tampak pada wajah Kristus.” Allah telah menyatakan kemuliaan-Nya di dalam Yesus Kristus. Di situlah Allah dinyatakan.
Sekarang, kembali ke Kolose 1 dan melihat kata “gambar” itu, artinya adalah salinan yang tepat, suatu replika yang sempurna. Kristus adalah gambaran Allah yang sempurna, tanpa cacat sedikit pun. Dia bukan sekadar sketsa, tetapi gambaran yang utuh dan lengkap. Dalam Kolose 2:9 dikatakan, “Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan keilahian,” dan dalam Kolose 1:19, “Karena seluruh kepenuhan plērōma Allah berkenan tinggal di dalam Dia.” Jadi, Saudara, Yesus adalah penyataan Allah yang penuh, yang terakhir, dan satu-satunya, tanpa ada yang kurang. Menganggap Yesus kurang dari itu adalah suatu penghujatan terhadap Allah, bahkan merupakan penyembahan berhala, seperti yang telah kita bahas sebelumnya.
Dalam Kejadian 32, kalau tidak salah, ayat 30, “Yakub menamai tempat itu Pniel,” karena ia berkata, “Aku telah melihat Allah berhadapan muka.” Pniel berarti “wajah Allah.” “Aku telah melihat Allah berhadapan muka.” Siapa yang ia lihat? Saya percaya bahwa ia melihat Sang Anak, yaitu penyataan Kristus sebelum Dia menjadi manusia.
Kita adalah gambar yang sudah rusak, tidak memadai. Hanya Kristus yang benar-benar sempurna. Tetapi ada satu hal yang sangat menguatkan untuk dipikirkan, yaitu 1 Yohanes 3:2, bahwa suatu hari nanti kita akan menjadi serupa dengan Kristus. Itu adalah kenyataan yang luar biasa besar. Membayangkan bahwa Allah menjadi manusia, bahwa Allah masuk ke dalam dunia dalam wujud manusia, adalah sebuah pemikiran yang sangat mengagumkan.
Efesus 4:13 mengatakan bahwa tujuan kita sebagai orang Kristen, di sini dan sekarang, adalah “sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus.” Kita akan menjadi seperti Dia. Sekarang kita masih rusak, tetapi kita akan menjadi seperti Dia. Dan seharusnya kita berjuang untuk menjadi seperti Dia, bahkan mulai sekarang.
Jadi, Kristus adalah Allah yang dinyatakan di dalam dunia. Jika kita ingin mengetahui seperti apa Allah itu, lihatlah Kristus, karena Dialah yang menyatakan siapa Allah. Jika Allah menjadi manusia, kita tentu mengharapkan Dia tidak berdosa, dan Yesus memang demikian. Jika Allah menjadi manusia, kita mengharapkan Dia mengucapkan perkataan-perkataan terbesar yang pernah ada, dan Yesus melakukannya. Jika Allah menjadi manusia, kita mengharapkan Dia memberi pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan manusia, melebihi siapa pun yang pernah hidup, dan Yesus melakukannya. Jika Allah menjadi manusia, kita mengharapkan Dia melakukan mukjizat dengan mudah, dan Yesus melakukannya. Jika Allah menjadi manusia, kita mengharapkan Dia mengasihi, dan Yesus melakukannya, karena Dia adalah Allah, dan Allah tidak dapat dikenal selain melalui Yesus Kristus. Paulus berkata bahwa tidak seorang pun dapat menyebut Yesus sebagai Tuhan selain oleh Roh Kudus. Jadi, semuanya adalah soal penyataan ilahi.
Selanjutnya dalam Kolose 1, kita tidak perlu terjebak terlalu lama pada istilah-istilahnya. “Dialah gambar Allah yang tidak kelihatan.” Lalu yang kedua, dalam ayat 15, “yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan.” Ungkapan ini sering menimbulkan kebingungan, karena banyak orang tidak memahami maksudnya. “Yang sulung” atau “yang pertama lahir dari segala ciptaan” ini bukan berbicara tentang waktu, melainkan tentang kedudukan. Ungkapan ini menunjuk pada posisi, bukan urutan waktu. Artinya, Dia bukan makhluk pertama yang diciptakan dalam urutan waktu.
Ada dua alasan kuat untuk hal itu. Alasan pertama, Dia tidak pernah diciptakan. Dia sendiri berkata dalam Yohanes 8:58, “Sebelum Abraham ada, Aku telah ada.” Dalam kitab Wahyu, Dia disebut sebagai Dia yang ada, yang sudah ada, dan yang akan datang. Ada yang berkata, “Dia diciptakan.” Tidak, Dia tidak pernah diciptakan. Ada juga yang berkata, “Yang sulung dari segala ciptaan berarti Dia yang pertama diciptakan.” Bukan demikian, karena kalau dilihat secara urutan waktu, banyak yang sudah ada sebelum Dia datang ke dunia. Jadi, apa arti “yang sulung”? Kata Yunani prōtotokos menunjuk pada kedudukan. Perhatikan ini baik-baik, ini sangat penting. Kata itu berbicara tentang posisi, tentang hak, tentang otoritas, tentang keutamaan, bukan tentang urutan waktu. Yang sulung adalah dia yang memiliki hak warisan. Dalam konteks Yahudi, semua orang memahami hal itu. Bahkan dalam konteks bangsa-bangsa lain pun demikian. Jemaat di Kolose tidak bingung dengan maksud ini, bahwa Kristus adalah Pribadi yang dimuliakan, yang memiliki hak istimewa, yang tertinggi, dan yang menjadi ahli waris dari Bapa.
Yakub dan Esau, Anda ingat? Esau lahir lebih dulu, tetapi Yakublah yang menjadi yang sulung, karena ia yang menerima berkat. Dalam Mazmur 89:28 dikatakan, “Aku pun akan mengangkat dia menjadi anak sulung,” lalu Allah sendiri menjelaskannya, “menjadi yang tertinggi di antara raja-raja dunia.” Jadi, apa arti “anak sulung”? Artinya adalah yang tertinggi, yang ditinggikan, yang memiliki kedudukan paling utama.
Kembali ke Ibrani pasal 1, dikatakan, “Pada zaman akhir ini, Allah telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya.” Perhatikan ini, “Anak-Nya yang telah Ia tetapkan sebagai ahli waris segala sesuatu.” Ahli waris itu ditentukan oleh seorang bapa. Biasanya memang yang menjadi ahli waris adalah anak sulung, tetapi jika anak sulung tidak memenuhi syarat karena alasan tertentu, sang bapa berhak memberikan hak itu kepada yang lain. Namun, semuanya harus ditetapkan oleh sang bapa.
Apakah Anda ingat dalam budaya Yahudi, seorang bapa harus memberikan berkat kepada anak sulung? Jadi yang menjadi persoalan bukan sekadar siapa yang lahir lebih dulu, tetapi siapa yang ditetapkan sebagai anak yang dihormati, yang memiliki kedudukan istimewa, dan yang menerima seluruh warisan dari sang bapa. Dan warisan itu diberikan kepada Kristus.
Dalam Wahyu pasal 5, Allah duduk di atas takhta dan di tangan-Nya ada sebuah gulungan kitab, yaitu surat hak milik atas bumi, yang dimeteraikan dengan tujuh meterai, sesuai dengan kebiasaan hukum Romawi. Dalam penyegelan suatu wasiat, gulungan itu harus dimeteraikan tujuh kali supaya tidak bisa dibuka tanpa terlihat jelas. Lalu dikatakan, “Aku melihat pula seorang malaikat yang gagah, yang berseru dengan suara nyaring, ‘Siapa yang layak membuka gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya?’” Siapa yang berhak memiliki bumi? Siapa ahli waris yang akan mengambil alih dunia? Siapa yang memiliki hak untuk memerintah bumi, mengambilnya kembali, dan mewarisinya? “Tetapi tidak ada seorang pun yang di surga atau di bumi atau di bawah bumi, yang dapat membuka gulungan kitab itu atau melihat sebelah dalamnya.” Dan Yohanes berkata, “Aku pun menangis dengan sangat sedih, karena tidak ada seorang pun yang dianggap layak.”
Di manakah yang sulung itu? Di manakah prōtotokos itu? Di manakah yang utama? Di manakah ahli waris itu? “’Jangan menangis,’ kata salah satu tua-tua itu kepadaku, ‘Lihatlah, singa dari suku Yehuda, yaitu tunas Daud, telah menang, sehingga Ia dapat membuka gulungan kitab itu dan membuka ketujuh meterainya.’ Lalu aku melihat di tengah-tengah takhta dan keempat makhluk itu dan di tengah-tengah tua-tua itu berdiri seekor Anak Domba seperti telah disembelih, bertanduk tujuh dan bermata tujuh: Itulah ketujuh Roh Allah yang diutus ke seluruh bumi. Lalu datanglah Anak Domba itu dan menerima gulungan kitab itu dari tangan kanan Dia yang duduk di atas takhta itu.”
Di sinilah Kristus mengambil surat hak milik atas bumi sebagai prōtotokos, sebagai yang berhak menerima warisan, untuk memerintah dan berkuasa sebagai Raja di atas segala raja dan Tuhan di atas segala tuan. Dari pasal 6 sampai pasal 19, kita melihat bagaimana Dia mengambil alih bumi, hingga akhirnya Dia memerintah dalam pasal 20. Ayat 13 menggema dengan suara seluruh surga: “Lalu aku mendengar semua makhluk yang di surga dan di bumi dan di bawah bumi dan di laut dan semua yang ada di dalamnya, berkata, ‘Bagi Dia yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba, adalah puji-pujian dan hormat dan kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya!’" Seluruh alam semesta bersatu menyatakan bahwa Dialah yang layak.
Kenyataannya yang menyedihkan, Saudara, adalah bahwa satu hal yang sangat diinginkan oleh Iblis adalah memastikan supaya tidak ada orang yang benar-benar memahami hal ini, supaya tidak ada yang sungguh-sungguh percaya bahwa Yesus adalah Allah, bahwa Dia bukan makhluk ciptaan, melainkan Pribadi yang utama di atas segala sesuatu. Karena itu dalam 2 Korintus 4:4 dikatakan, “yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini,” siapa itu? Iblis, “sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus yang adalah gambaran Allah.”
Iblis tidak ingin orang mengetahui bahwa Kristus adalah gambar Allah. Iblis tidak ingin orang tahu bahwa Dialah satu-satunya yang berhak memerintah dunia. Iblis tidak ingin hal itu dipahami, sehingga pikiran manusia dibutakan oleh ketidakpercayaan. Itu sebabnya ayat ini sangat baik untuk ditunjukkan kepada seseorang ketika mereka berkata, “Kristus bukan Allah.” Kita bisa menjelaskan kepada mereka mengapa mereka bisa berpikir seperti itu.
Dalam Yohanes 10:33, orang-orang Yahudi menjawab. Yesus memang membuat banyak pernyataan, dan orang-orang Yahudi itu menangkap maksud-Nya. Ada yang berkata, “Yesus tidak pernah mengaku sebagai Allah.” Itu tidak benar. Dalam Yohanes 10:33 dikatakan, “Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menjadikan diri-Mu Allah.” Mereka mengerti maksud-Nya, mereka benar-benar mengerti. Mereka tahu persis apa yang Dia nyatakan. Dia mengklaim otoritas ilahi atas malaikat, otoritas ilahi atas manusia, bahkan Dia mengklaim otoritas ilahi atas segala sesuatu ketika Dia berkata, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi,” dalam Matius 28:18. Dia juga menyatakan otoritas ilahi atas hukum Taurat, atas hari Sabat, atas tradisi para tua-tua, atas semuanya. Dia mengklaim kuasa untuk mengampuni dosa, kuasa untuk membangkitkan diri-Nya dari kematian, dan Dia membuktikannya.
Tidak, Yesus bukanlah semacam makhluk ilahi rendahan yang keluar dari Allah. Dia adalah Allah. Jadi, dalam ayat 15 kita melihat dengan sangat jelas hubungan Yesus dengan Allah. Sekarang kita melihat dalam Kolose 1 ayat 16, yaitu hubungan Yesus dengan dunia. “Karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di surga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.”
Nah, kita sudah melihat bahwa Dia memiliki kedudukan tertinggi atas seluruh ciptaan, dan Anda tahu alasannya? Karena Dialah yang menciptakan semuanya. Yohanes 1 mengatakan, “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.” Perhatikan lagi ayat 16, “Karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu.” Siapa yang menciptakan segala sesuatu? Kristus, bukan makhluk ilahi tingkat bawah, bukan semacam pencipta, bukan emanasi kecil, bukan juga makhluk jahat. Kristus. Dialah Allah Pencipta. Dia menciptakan segala sesuatu oleh diri-Nya, untuk diri-Nya, dan bagi kemuliaan-Nya. Dalam Ibrani 1:2 juga dikatakan, “Melalui Dia Allah telah menjadikan alam semesta.” Jadi melalui Kristuslah segala sesuatu dijadikan. Sungguh, jika kita memikirkannya, hal ini benar-benar luar biasa.
Al Oliver, yang tadi bersama kita dalam acara dedikasi anak sekitar satu jam yang lalu, memiliki seorang bayi, bukan bayi yang sangat kecil, tapi bayi yang cukup besar, lucu sekali, namanya Matthew. Ia sedang menggendong Matthew di tangannya, lalu berkata, “Beberapa hari lalu saya melihat anak ini, dan saya berpikir, bisakah kamu percaya bahwa Allah pencipta alam semesta pernah menjadi seperti ini, dan menyerahkan diri-Nya ke dalam tangan manusia? Luar biasa!” Saya menjawab, “Itu benar-benar pemikiran yang dalam.” Coba bayangkan, apakah Anda percaya bahwa sosok kecil seperti itu adalah Pencipta alam semesta? Lihatlah anak kecil Anda sendiri. Bisakah Anda mempercayainya? Sungguh luar biasa. Allah menjadi manusia. Allah mengambil tubuh manusia. Allah yang menciptakan segala sesuatu. Itu benar-benar menakjubkan.
Saya bukan ilmuwan, sama sekali bukan. Waktu pelajaran sains dulu, yang saya lakukan cuma membakar alat Bunsen dan memecahkan gelas percobaan. Saya benar-benar bukan ilmuwan. Tetapi saya tahu satu hal. Saya tahu cukup banyak, dan saya sudah cukup membaca untuk mengerti bahwa dunia ini sangat kompleks, dan siapa pun yang merancang dan menciptakannya pasti luar biasa.
Coba kita berhenti sejenak dan memikirkannya. Matahari itu begitu besar. Bayangkan, Anda bisa membuat sebuah lubang di dalam matahari, dan ke dalamnya bisa dimasukkan sekitar 1.200.000 bumi, dan masih ada ruang untuk sekitar 4.300.000 bulan di sekelilingnya. Itu luar biasa besar. Bintang terdekat berjarak sekitar 200 miliar mil. Bintang Utara sekitar 400 miliar mil. Ada satu bintang yang namanya selalu membuat saya takjub, namanya Betelgeuse, dan jaraknya sekitar 880 kuadriliun mil. Jangan tanya saya seberapa jauh itu, 880 kuadriliun mil. Ilmu pengetahuan mengatakan bahwa bintang itu begitu besar sehingga diameternya lebih besar dari orbit bumi. Itu benar-benar jumlah materi yang luar biasa besar.
Yesus Kristus menciptakan semuanya, tetapi orang berkata, “Saya tidak percaya mukjizat air menjadi anggur itu.” Ah, masa begitu? “Saya tidak percaya Dia benar-benar menyembuhkan orang lumpuh itu.” Coba pikirkan lagi. Kalau Anda mau memperdebatkan kuasa penciptaan-Nya dengan saya, Anda harus melewati saya dulu, karena saya adalah ciptaan baru, dan saya tahu apa yang dapat Dia lakukan. Itulah sebabnya saya menolak evolusi. Bagi saya, evolusi itu tidak masuk akal. Hanya ada satu alasan orang bisa mempercayai evolusi, atau lebih tepatnya dua alasan. Yang pertama, ketidaktahuan, artinya memang belum tahu kebenarannya. Yang kedua, ketidakpercayaan yang disengaja. Seperti yang pernah saya baca dari seorang ilmuwan yang berkata, “Saya menolak gagasan tentang Allah yang melampaui segalanya, jadi pilihan apa lagi yang saya punya?” Nah, di situlah jawabannya. Dia menciptakan semuanya. Itulah satu-satunya hal yang masuk akal jika kita benar-benar memikirkannya.
Jadi, Paulus sedang meletakkan dasar yang sangat kuat tentang siapa Kristus itu. Lalu ada satu pemikiran lagi dalam ayat 17 yang menurut saya sangat luar biasa: “Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu menyatu di dalam Dia.” Dia ada sebelum segala sesuatu. Tahukah Anda apa yang saya sukai? Pernyataan dalam Yohanes 8:58, “Sebelum Abraham ada, Aku telah ada.” Saya berharap bisa ada di sana melihat reaksi orang-orang saat itu, karena itu benar-benar pernyataan yang mengguncangkan. Dia ada sebelum segala sesuatu. Sebelum ada apa pun, Dia sudah ada. Dan itu memang harus demikian jika Dia adalah Pencipta segala sesuatu. Dalam Wahyu 1:17 Ia berkata, “Akulah Alfa dan Omega, Akulah Yang Pertama dan Yang Terkemudian, dan Yang Hidup. Aku hidup, sampai selama-lamanya.” Dalam Wahyu pasal 2 juga dikatakan, “Inilah firman dari Yang Awal dan Yang Akhir, yang telah mati dan hidup kembali.” Sungguh pernyataan-pernyataan yang luar biasa.
Yang pertama, sumber dari segala sesuatu. Dalam Wahyu 22:13 dikatakan, “Akulah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir.” Lalu ayat 16, saya sangat menyukai bagian ini, “Akulah tunas, yaitu keturunan Daud.” Coba pikirkan, bagaimana mungkin seseorang menjadi tunas sekaligus keturunan dari orang yang sama? Bagaimana mungkin menjadi Bapa Daud sekaligus Anak Daud? Tetapi itulah Dia. Dia ada sebelum segala sesuatu. Dan ini juga luar biasa, dikatakan, “dan segala sesuatu ada di dalam Dia.” Apakah Anda melihatnya? “Segala sesuatu ada di dalam Dia.” Dalam Ibrani 1:3 dikatakan, “Ia menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan,” dalam bentuk sekarang, artinya Dia terus-menerus menopang segala sesuatu.
Nah, saya ingin mendapatkan sedikit gambaran tentang hal ini, jadi saya membaca sebuah buku yang diberikan oleh Bob Heinmiller kepada saya, dan di dalamnya ada beberapa hal yang sangat menarik. Sebentar lagi akan saya bagikan beberapa di antaranya, tetapi kalau kita memikirkan bagaimana bumi ini bisa tetap bertahan dan teratur, itu benar-benar luar biasa. Sungguh luar biasa. Jika rotasi bumi melambat, kita akan bergantian mengalami pembekuan dan panas yang membakar. Jadi bumi harus berputar dengan kecepatan yang tetap. Jika suhu matahari berubah dari, kira-kira sekitar 6.650 derajat Celcius, hal yang sama juga akan terjadi. Bumi kita memiliki kemiringan sekitar 23 derajat, yang memungkinkan kita mengalami empat musim. Jika tidak demikian, uap air dari lautan akan bergerak ke arah utara dan selatan, menutupi daratan dengan lapisan es. Jika bulan tidak berada pada jarak yang tepat seperti sekarang, pasang surut air laut bisa menenggelamkan kita. Jadi siapa yang menopang semuanya itu? Paulus berkata, “Anak Allah, yaitu Kristus yang adalah Allah”.
Artikel yang diberikan Bob itu ditulis oleh seorang bernama Chestnut, seorang dokter sekaligus ahli fisika nuklir. Ia menyampaikan beberapa hal yang sangat menarik. Izinkan saya membagikan sebagiannya kepada Anda. Ini benar-benar membuat kita takjub. “Ilmu nuklir menyatakan bahwa semua materi di alam semesta tersusun dari tiga partikel dasar, yaitu proton, elektron, dan neutron.” Anda semua pasti pernah mempelajarinya di sekolah. Ada inti atom yang terdiri dari proton dan neutron, dan elektron-elektron kecil yang bergerak mengelilinginya. Kita tidak bisa melihatnya karena ukurannya sangat kecil, tetapi itulah bahan dasar dari segala sesuatu yang ada.
Nah, ia mengatakan dalam tulisannya bahwa, “Karena bagian-bagian subatom ini adalah fragmen terkecil dari alam semesta, maka di dalamnya tersimpan rahasia tentang rancangan dan perilaku segala sesuatu. Jika Allah benar-benar adalah Allah, maka hal-hal ini akan menunjuk kepada-Nya.” Proton dan neutron membentuk inti atom, sementara elektron berada relatif jauh, bergerak mengelilinginya. Jadi untuk pemikiran sederhana ini, kita abaikan dulu elektron, dan kita fokus pada inti atom, yaitu gabungan dari proton dan neutron.
Dr. Chestnut mengatakan, dan ini sebenarnya adalah pengetahuan umum, “Setiap proton memiliki muatan listrik positif, sedangkan neutron tidak memiliki muatan listrik sama sekali. Para ilmuwan sering menghindari menjelaskan mengapa demikian, karena sejujurnya mereka tidak tahu alasannya. Tetapi yang menarik adalah, selama puluhan tahun para ilmuwan memiliki hukum yang tidak bisa diganggu gugat, yaitu bahwa muatan listrik atau magnet yang sejenis akan saling tolak-menolak.”
Intinya adalah, jika ada begitu banyak proton yang masing-masing membawa muatan listrik positif, mengapa mereka tidak saling tolak dan terpencar keluar? Apa yang sebenarnya menahan inti atom itu tetap bersatu? Hukum mengatakan bahwa proton seharusnya tidak bisa berada berdampingan di dalam inti atom, karena muatan yang sama saling menolak. Para ilmuwan nuklir pada tahun 1930-an menyimpulkan bahwa hukum Coulomb, yaitu hukum tolak-menolak antara muatan sejenis, bekerja di dalam inti setiap atom, seolah-olah berusaha menghancurkannya dari dalam.
Mereka memiliki hukum ini, yang disebut hukum Coulomb, dan mereka mengatakan, “Hukum ini bekerja dan berusaha sekuat tenaga untuk memecah atom itu.” Lalu di zaman modern, kita sudah menemukan cara untuk meniadakan gaya yang menahannya sehingga atom itu bisa terpecah, meskipun itu bukan hal yang mudah. Pernahkah Anda melihat fasilitas besar yang membentang bermil-mil, seperti yang ada di dekat Palo Alto, yang digunakan untuk tujuan itu? Tetapi mereka juga mengatakan, yang anehnya dan sulit dipahami, adalah bahwa ada gaya kedua di dalam inti atom yang melawan gaya yang mencoba memecahnya dan justru menahannya tetap bersatu. Mereka menyebutnya “lem nuklir.” Namun mereka sendiri tidak benar-benar tahu apa itu. Tetapi kita tahu.
Jadi bayangkan sebuah atom. Di dalamnya ada dua hukum yang saling bertentangan bekerja sekaligus. Ketika manusia dengan seluruh pengetahuan ilmiahnya sampai pada hal yang paling dasar, ia justru menemukan persoalan yang tidak bisa dijelaskan sepenuhnya. Hukum sains mengatakan bahwa seharusnya atom itu terpecah, tetapi ada sesuatu yang menahannya tetap utuh. Ada sesuatu yang melawan gaya yang ingin memisahkannya. Di satu sisi ada hukum Coulomb yang berusaha menghancurkan atom, tetapi di sisi lain ada kekuatan yang lebih besar yang menahannya tetap menyatu.
Karl Darrow, seorang ahli fisika dari Laboratoriun Bell di New York, pernah berkata, “Inti-inti atom ini seharusnya tidak bisa bertahan sama sekali. Bahkan, seharusnya mereka tidak pernah terbentuk; dan kalaupun terbentuk, seharusnya langsung hancur seketika. Namun kenyataannya, mereka tetap ada.” Dan kenyataannya itulah segalanya, karena dari situlah semua terbentuk. Ia juga berkata, “Ada suatu penahan yang kuat dan tidak bisa digoyahkan yang terus-menerus menjaga semuanya tetap bersatu.” Izinkan saya memperkenalkan kepada Anda siapa penahan yang tidak tergoyahkan itu.
George Gamow, profesor fisika dari Universitas George Washington, pernah berkata, “Setiap benda pada dasarnya adalah potensi ledakan nuklir, hanya saja tidak meledak.” Luar biasa, bukan? Lalu siapa yang menahannya tetap utuh? Kita tahu siapa. Ilmu pengetahuan boleh menyebutnya “lem nuklir.” Mereka bahkan memberi nama seperti “Colossus.” Tetapi itu bukan “Colossus.” Itu adalah Kolose. Saya katakan, itu adalah Kolose 1:17.
Sekadar memberi gambaran, ayah saya membicarakan hal ini Minggu malam yang lalu. Lihat 2 Petrus 3:10. Anda pasti akan lebih bersyukur bahwa Allah yang menahan semuanya tetap utuh, bukan? Karena kalau Dia melepaskannya, selesai sudah! Dalam 2 Petrus 3:10 dikatakan, “Hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus oleh nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap.” Lalu dikatakan, “Segala sesuatu ini akan,” apa katanya? “hancur.” Kata itu secara harfiah berarti sesuatu yang terikat menjadi terlepas. Tahukah Anda apa artinya? Kata ini menggambarkan saat ketika semua yang selama ini ditahan akan dilepaskan.
Suatu hari nanti, ketika waktunya tiba menurut kehendak Allah, Dia akan melepaskan ikatan atom-atom itu. Alam semesta akan meledak dalam suatu reaksi dahsyat. Langit akan lenyap dengan ledakan yang disebut sebagai “suara yang dahsyat,” dan saya membayangkan itu akan menjadi sesuatu yang tidak terbayangkan. “Dan unsur-unsur dunia akan hangus oleh nyala api,” sebagai akibat dari pelepasan energi yang luar biasa itu di seluruh alam semesta. Segala sesuatu akan meleleh, benar-benar terurai. Kata yang dipakai adalah luō, yang berarti “melepaskan.” Artinya, melepaskan sesuatu yang selama ini terikat.
Ketika “lem nuklir” itu dilepaskan, semuanya akan hancur dan meleleh. Pelepasan dari kekuatan yang mengikat itu akan menghancurkan inti dari semua atom. Hukum tolak-menolak akan mengambil alih. Hukum Coulomb akan menghancurkan alam semesta. Jadi ketika Paulus berkata, “Ia menopang segala sesuatu,” atau “di dalam Dia segala sesuatu ada,” ia sedang menunjukkan kepada kita siapa yang sebenarnya memegang dan menjaga semuanya tetap utuh.
Kembali lagi ke Kolose 1. Sekarang saya ingin menunjukkan kepada Anda Kristus dalam hubungannya dengan dunia yang tidak kelihatan. Kita akan singkat saja. Hubungan Kristus dengan dunia yang tidak kelihatan terlihat lagi dalam ayat 16: “Karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di surga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan.” Lalu disebutkan berbagai jenis atau tingkatan malaikat: “singgasana, kerajaan, pemerintah, dan penguasa.” Semua itu diciptakan oleh Dia. Di sini kita melihat berbagai golongan malaikat. Kita tidak sepenuhnya mengetahui perbedaan tingkatannya atau bagaimana susunannya, tetapi kita tahu bahwa ada tingkatan-tingkatan yang berbeda. Ada yang disebut pemerintah, ada yang disebut kuasa, ada yang disebut penguasa, ada yang disebut kerajaan, dan ada juga yang disebut singgasana. Apa pun tingkatan malaikat itu, semuanya diciptakan oleh Kristus. Dialah yang menjadikan mereka. Dia bukan bagian dari emanasi itu. Justru Dialah yang menciptakan semua yang disebut emanasi itu, seperti yang Paulus tegaskan.
Dalam Ibrani 1:7 dikatakan, “Tentang malaikat-malaikat Ia berkata: ‘Yang membuat malaikat-malaikat-Nya menjadi badai dan pelayan-pelayan-Nya menjadi nyala api.’” Di sini kita melihat bahwa malaikat adalah ciptaan. Lalu tentang Anak dikatakan, “Takhta-Mu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya; dan tongkat kerajaan-Mu adalah tongkat kebenaran.” Dalam Ibrani pasal 1, sebenarnya ada tujuh kutipan dari Perjanjian Lama yang menunjukkan bahwa Kristus lebih tinggi dari malaikat. Malaikat adalah ciptaan, tetapi Kristus jauh lebih tinggi, karena Dia adalah Anak. Bahkan dalam Filipi 2 dikatakan bahwa akan “bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi.” Siapa pun mereka, termasuk para malaikat, semuanya akan sujud kepada-Nya.
Dalam Efesus 1:21 dikatakan bahwa “Kristus jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang.” Segala sesuatu telah diletakkan di bawah kaki-Nya. Itulah simbol tentang pemerintahan. Seorang raja duduk di atas takhta yang tinggi, dan semua berada di bawah kakinya. Semua malaikat, semua pemerintah, semua penguasa, semua kerajaan, semua yang berkuasa dalam dunia rohani, semuanya berada di bawah otoritas Yesus Kristus. Dia bukanlah salah satu dari mereka.
Dalam 1 Petrus 3:22 dikatakan, “Yesus Kristus, yang duduk di sebelah kanan Allah, setelah Ia naik ke surga sesudah segala malaikat, kuasa dan kekuatan ditaklukkan kepada-Nya.” Jadi jelas bahwa Dia bukan malaikat, melainkan Dia berkuasa atas para malaikat. Dengan demikian, kita melihat Yesus dalam hubungannya dengan Allah, dalam hubungannya dengan dunia, dan dalam hubungannya dengan dunia yang tidak kelihatan.
Keempat, dalam Kolose 1:18, kita melihat Yesus dalam hubungannya dengan jemaat. Kita sudah sering membahas hal ini, jadi saya tidak akan menghabiskan banyak waktu di sini, hanya ingin menegaskannya saja. Ayat 18 mengatakan, “Dialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Dialah yang sulung,” yaitu prōtotokos lagi, atau yang utama dari antara orang mati, “sehingga Dialah yang lebih utama dalam segala sesuatu.”
Di sini ada empat kebenaran besar tentang Kristus. Yang pertama, Dia adalah kepala dari tubuh, yaitu jemaat. Jemaat disebut sebagai “tubuh Kristus.” Ada banyak gambaran yang dipakai untuk menjelaskan jemaat. Kita disebut sebagai keluarga, kerajaan, kebun anggur, kawanan domba, bangunan, dan juga mempelai. Tetapi yang paling khas, dan yang tidak memiliki padanan dalam Perjanjian Lama untuk bangsa Israel seperti jemaat, adalah gambaran tubuh. Ini adalah sesuatu yang hidup, yang organik. Kristus adalah kepala, dan kita adalah anggota tubuh, seperti tangan, kaki, dan organ-organ yang bekerja sebagai respons terhadap kendali dari kepala. Inilah gambaran yang paling sering digunakan oleh Paulus untuk menjelaskan jemaat. Nanti ketika kita masuk ke 1 Korintus 12 dalam pembelajaran kita beberapa minggu ke depan, kita akan membahas hal ini dengan lebih mendalam dan serius. Jadi untuk malam ini, saya tidak akan membahasnya terlalu panjang.
Cukuplah dikatakan bahwa jemaat adalah suatu organisme yang hidup. Kita terikat satu sama lain secara tidak terpisahkan oleh Kristus yang hidup. Karena Dia hidup di dalam kita semua dengan kehidupan yang sama, maka kita dipersatukan dengan Dia dan juga dipersatukan satu dengan yang lain. Kita semua melayani sebagai satu tubuh. Kita harus melayani bersama-sama, saling terhubung satu sama lain. Dan setiap kita memiliki tanggung jawab untuk saling melayani satu terhadap yang lain.
Dalam 1 Korintus 12 hal ini dijelaskan dengan sangat indah dan jelas. Tubuh itu harus ditandai dengan kesatuan. Artinya, kita semua adalah satu tubuh yang bergerak ke satu tujuan. Kita bukan tubuh yang kacau dan tidak terarah, tetapi tubuh yang bersatu dan taat kepada kendali Sang Kepala.
Yang kedua, di dalam tubuh itu ada keberagaman. Meskipun ada satu kesatuan pikiran dan satu arah respons kepada Kepala, yaitu Kristus, pada saat yang sama juga ada perbedaan karunia, perbedaan pelayanan, dan perbedaan cara kerja.
Ketiga, di dalam tubuh ada saling ketergantungan. Artinya, setiap anggota tubuh melayani dan menopang anggota yang lain. Ini sangat penting. Jadi kita adalah tubuh, dan Kristus adalah kepala. Dialah yang memimpin, mengarahkan, dan mengendalikan. Kita tidak bergantung pada malaikat, seperti yang Paulus katakan kepada jemaat Kolose. Kita juga tidak bergantung pada penglihatan-penglihatan khusus atau pengetahuan di luar Kristus. Kristus adalah kepala, dan Dialah yang memerintah jemaat.
Di bagian dasar tengkorak kita terdapat kelenjar pituitari yang, di antaranya, mengatur hormon pertumbuhan. Kita bertumbuh sebagai respons terhadap kepala kita. Otak kecil, atau cerebellum, disebut sebagai “pengatur gerakan otot,” yang membuat tubuh kita bisa bergerak, berfungsi, dan terarah. Demikian juga Kristus yang menyebabkan pertumbuhan dan memberikan arah bagi tubuh-Nya. Dialah kepala. Dialah yang memerintah jemaat. Kita hidup sebagai respons terhadap Dia. Dialah yang memegang kendali. Dia bukan sekadar salah satu di antara banyak pilihan. Dia bukan hanya satu malaikat yang bisa kita pilih untuk disembah, lalu ditambah dengan hal-hal lain. Dialah kepala dari jemaat, yaitu tubuh.
Kemudian ia mengatakan, yang kedua, “Ia adalah permulaan dari jemaat.” Kata “permulaan” di sini, archē, memiliki arti sebagai sumber dan juga kedudukan. Dalam arti keutamaan, Dialah yang utama. Kata ini bisa diterjemahkan sebagai “yang terutama” atau juga “pelopor,” yang di depan, yang paling atas, yang nomor satu, dan juga berarti “sumber.” Jadi, Dialah sumber dari jemaat, yaitu asal mula dan kuasa yang melahirkannya, sekaligus yang terutama dan yang memegang posisi tertinggi di dalam jemaat.
Kemudian Paulus berkata, “Dialah yang sulung,” prōtotokos lagi, dari antara orang mati. Seperti yang sudah saya jelaskan, ini berarti bahwa dari semua orang yang pernah dibangkitkan dari kematian, Dialah yang utama. Dialah yang pertama dalam kedudukan, yang memimpin, yang memiliki peringkat tertinggi, yang terbesar di antara semuanya.
Keempat, “Sehingga Dialah yang lebih utama dalam segala sesuatu.” Hal yang membuat Dia memiliki keutamaan itu, Saudara, adalah karena Dia bangkit dari antara orang mati. Karena Dia mati di kayu salib dan bangkit, Bapa sangat meninggikan Dia. Dia juga memiliki keutamaan. Sangat masuk akal bahwa Dia yang memiliki peringkat pertama di seluruh alam semesta, yang menjadi pusat acuan sejarah, yang adalah pelaku, tujuan, pelopor, penopang, dan penguasa dalam seluruh ciptaan, yang adalah kepala jemaat, yang adalah permulaan, sumber, dan yang terutama, yang adalah yang tertinggi di antara semua yang dibangkitkan, yang adalah buah sulung dari mereka yang telah mati, Dialah yang berhak menyandang gelar “yang terutama.” Bukankah begitu? Jadi, dalam hubungannya dengan Allah, dengan alam semesta, dengan dunia yang tidak kelihatan, dan dengan jemaat, kita melihat Kristus.
Terakhir, Kristus dalam hubungannya dengan segala sesuatu yang lain, yaitu ayat 19. Ayat ini merangkum semuanya. “Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan tinggal di dalam Dia.” Kalau ada yang belum tercakup, di sini dijelaskan bahwa tidak ada bagian dari Allah yang ada pada siapa pun selain di dalam Dia. Semuanya ada di dalam Dia. Supaya tidak ada yang terlewat, perhatikan ini baik-baik, seluruh kuasa keilahan, seluruh sifat kedaulatan, tidak dibagi-bagikan kepada banyak makhluk, tetapi semuanya dimiliki oleh satu Pribadi, yaitu Kristus. Jadi, Anda tidak memerlukan malaikat lain untuk membantu Anda diselamatkan, seperti yang mereka ajarkan. Anda tidak memerlukan roh-roh lain atau makhluk lain. “Seluruh kepenuhan Allah berkenan tinggal di dalam Dia.”
Dia tidak membutuhkan tambahan apa pun. Dalam pasal 2 ayat 3 dikatakan, “Di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan.” Dia tidak memiliki saingan. Dalam pasal 2 ayat 9 dikatakan, “Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan keilahian,” dan Anda telah menjadi lengkap di dalam Dia. Tidak ada yang lain yang diperlukan. Yang luar biasa adalah ketika seseorang menjadi Kristen, saya sangat menyukai ini, Yohanes 1:16 berkata, “Dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima, anugerah demi anugerah.” Ketika Anda menjadi orang percaya, semua yang ada pada-Nya menjadi milik Anda. Itulah kebenaran yang luar biasa.
John Owen pernah berkata dengan sangat baik, “Penyataan tentang Kristus dan Injil yang mulia jauh lebih tinggi, lebih mulia, dan lebih penuh dengan pancaran hikmat dan kebaikan ilahi daripada seluruh ciptaan, bahkan pemahaman yang paling dalam sekalipun tidak akan mampu sepenuhnya menangkapnya. Tanpa pengetahuan akan hal ini, pikiran manusia, betapapun bangganya dengan berbagai penemuan dan pencapaiannya, tetap berada dalam kegelapan dan kebingungan. Karena itu, hal ini layak mendapatkan perhatian kita yang paling serius, perenungan terbaik kita, dan kesungguhan yang terbesar dari kita. Sebab jika kebahagiaan kita di masa depan adalah hidup bersama Dia dan memandang kemuliaan-Nya, maka persiapan terbaik untuk itu adalah dengan terus-menerus merenungkan kemuliaan tersebut sekarang, melalui penyataan yang diberikan dalam Injil, supaya melalui pandangan itu kita diubahkan secara bertahap menjadi serupa dengan kemuliaan yang sama.”
Respon saya adalah seperti perkataan Petrus, “kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan dan bertumbuhlah dalam anugerah dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.”
Bapa kami, kami bersyukur atas apa yang kembali Engkau ajarkan kepada kami malam ini, ketika kami melihat Kristus. Terima kasih untuk mukjizat yang luar biasa ketika Engkau masuk ke dalam kehidupan manusia. Aku bersyukur untuk setiap orang yang berharga ini, untuk kasih mereka kepada-Mu, untuk kesetiaan mereka datang, mendengar, mengajar, dan pergi untuk hidup dalam kebenaran ini. Terima kasih untuk arti mereka dalam hidupku, bagaimana mereka telah menguatkanku, dan bagaimana mereka saling mengasah seperti batu dengan batu sehingga menajamkanku, mendorongku untuk bersungguh-sungguh supaya aku dapat memberi makan jiwa mereka.
Aku bersyukur kepada-Mu karena aku dapat datang kepada-Mu dan menerima makanan rohani, sehingga pada gilirannya, aku juga dapat memberi makan mereka. Doa terbesarku malam ini adalah meninggikan Sang Anak, dan aku memohon, ya Bapa, kiranya itu sungguh telah terjadi, dan kiranya kami meninggalkan tempat ini dengan melihat Yesus Kristus dalam seluruh kemuliaan pribadi-Nya.
Sementara Anda masih berdoa, merenungkan, dan memikirkan Kristus yang kita kasihi, mungkin baik jika Anda memberi ruang bagi respons di dalam hati Anda. Saya yakin ada di antara kita malam ini yang belum mengenal Yesus Kristus sebagai Juruselamat. Anda sudah mendengar tentang Dia, dan malam ini Anda benar-benar telah mendengarnya. Dia datang ke dalam dunia sebagai Allah. Dia mati di kayu salib untuk dosa Anda dan dosa saya. Dia mati supaya Anda bisa hidup, Dia telah membayar hukuman atas dosa Anda. Dia menawarkan kepada Anda sebuah pemberian cuma-cuma. Itu adalah karunia dari Allah, bukan hasil usaha, supaya tidak ada seorang pun yang dapat bermegah. Karunia itu adalah keselamatan. Dan Dia berkata, “Jika engkau mau mengulurkan tanganmu kepada-Ku, Aku akan memberikannya kepadamu. Aku tidak meminta apa pun selain engkau menyerahkan dirimu kepada-Ku, berhentilah hidup menurut caramu sendiri, berhentilah melakukan kehendakmu sendiri, dan biarkan Aku mengambil alih, memerintah atas hidupmu, dan membuatnya menjadi utuh.”
Saya tidak tahu bagaimana dengan Anda, tetapi saya sungguh bersukacita karena saya telah menerima kepenuhan Kristus, seperti yang dikatakan dalam Yohanes 1:16. Saya hanya ingin mengatakan kepada Anda, jika Anda ingin menerima karunia itu, mengapa tidak langsung mengatakannya kepada-Nya? Anda bisa saja berkata, “Tuhan, saya tidak memahami semuanya tentang hal ini, tetapi saya tahu bahwa Engkau telah mati bagi saya, dan Engkau menyediakan keselamatan sebagai suatu pemberian, dan saya ingin menerimanya.”
Bisakah Anda mendoakan itu di dalam hati Anda? Jika Anda melakukannya, Anda akan menerima jawabannya. Dia selalu menjawab. Mungkin Anda sedang menghadapi pergumulan atau kecemasan, dan merasa sudah sampai di ujung kekuatan Anda, dan tidak tahu harus ke mana lagi. Datanglah kepada Yesus Kristus, dan Anda akan dipulihkan. Anda tidak akan rugi. Ini adalah hubungan pribadi antara Anda dan Allah.
Bapa, terima kasih untuk persekutuan kami malam ini. Sungguh ini sangat indah. Kami menikmati waktu yang begitu berharga bersama sebagai keluarga. Semua ini sangat berarti bagi kami. Terima kasih karena kami boleh semakin mengenal satu sama lain. Terima kasih karena kami boleh memuji-Mu dan menyatakan kasih kami kepada-Mu, dan ajar kami untuk sungguh-sungguh saling mengasihi, karena Engkau telah lebih dahulu mengasihi kami. Yang terutama, kami bersyukur untuk Yesus Kristus. Kami tidak akan pernah sepenuhnya memahami misteri mengapa Engkau memilih kami. Namun kami mengucap syukur, dan kami berdoa kiranya Engkau menarik kepada-Mu mereka yang sedang dijamah oleh Roh-Mu malam ini, demi kemuliaan-Mu. Berikan kami minggu yang baik untuk membagikan kebenaran yang telah kami pelajari. Dalam nama Kristus, Amin.
SELESAI
This article is also available and sold as a booklet.
