Grace to You Resources
Grace to You - Resource

Kita kembali ke pasal 20 dari Injil Lukas, Lukas pasal 20, dan menjadi bagian selanjutnya dalam rangkaian paragraf dan teks yang akan kita renungkan selagi kita menjalani minggu terakhir kehidupan Tuhan kita saat Ia menuju salib pada hari Jumat.

Ini adalah Lukas 20:1-8. Lukas 20:1-8. Saya akan membacakannya supaya Anda mengingatnya ketika kita mendengarkan apa yang Tuhan katakan kepada kita melalui peristiwa ini:

“Pada suatu hari ketika Yesus mengajar orang banyak di Bait Allah dan memberitakan Injil, datanglah imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta tua-tua ke situ, dan mereka berkata kepada Yesus, ‘Katakanlah kepada kami dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu, atau siapa yang memberikan kuasa itu kepada-Mu!" Jawab Yesus kepada mereka, "Aku juga akan mengajukan suatu pertanyaan kepada kamu. Katakanlah kepada-Ku: Baptisan Yohanes itu, dari surga atau dari manusia?’”

“Mereka mempertimbangkannya di antara mereka, dan berkata, ‘Jikalau kita katakan: Dari surga, Ia akan berkata: Mengapa kamu tidak percaya kepadanya? Tetapi jikalau kita katakan: Dari manusia, seluruh rakyat akan melempari kita dengan batu, sebab mereka yakin bahwa Yohanes adalah seorang nabi.’ Lalu mereka menjawab bahwa mereka tidak tahu dari mana baptisan itu. Yesus pun berkata kepada mereka, ‘Jika demikian, Aku juga tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu.’”

Ini adalah percakapan yang menyedihkan. Percakapn ini merupakan deklarasi terakhir dari Yesus bahwa Dia tidak punya apa-apa lagi untuk dikatakan kepada Israel, kepada para pemimpin mereka. Dia sudah selesai dengan mereka. Isu yang memunculkan deklarasi tragis terakhir dari Tuhan kita ini adalah isu tentang otoritas. Kita semua memahami kata “otoritas.” Kita tahu apa artinya memegang otoritas dan berada di bawah otoritas. "Otoritas" adalah kata yang sarat makna. Kata ini menunjuk pada izin, kuasa, hak istimewa, aturan, kendali, bahkan dominasi.

Dan dunia kita penuh dengan otoritas. Kita menghadapinya di rumah, di mana ayah dan ibu diberi otoritas atas anak-anak mereka. Kita menghadapinya di sekolah, selalu ada pihak yang memiliki otoritas atas kita. Kita menghadapinya di tempat kerja. Kita juga menghadapinya dalam lingkup pemerintahan yang bertanggung jawab untuk membuat hukum, menegakkannya, dan menjalankannya dengan otoritas. Itu hal yang biasa kita jumpai. Kita semua adalah orang-orang yang hidup di bawah otoritas, dan dalam beberapa kasus, kita juga memiliki otoritas tertentu. Jadi kita paham, kita tahu apa artinya memiliki otoritas. Kita juga tahu apa artinya berada di bawah otoritas. Semua dari kita diberi sebagian otoritas, tetapi pada umumnya kita berada di bawah otoritas yang jauh lebih besar.

Tetapi ketika berbicara tentang Yesus Kristus, otoritas adalah sebuah realitas yang sangat berbeda. Dalam Matius 28:18 Yesus berkata, “Segala kuasa di sorga dan di bumi telah diberikan kepada-Ku.” Segala kuasa atau otoritas. Itu artinya benar-benar berdaulat. Itu artinya tidak perlu menjawab kepada siapa pun di luar diri-Nya sendiri, karena Dia yang memiliki segala otoritas. Dan Yesus berulang kali mendemonstrasikan otoritas-Nya.

Dalam Matius 7:29, di akhir khotbah di bukit setelah Yesus memberitakan khotbah penginjilan yang luar biasa, yang dimulai-Nya dengan membongkar agama palsu Yudaisme dan diakhiri dengan undangan untuk masuk ke jalan yang sempit, respons orang-orang hanya ini, “Dia mengajar sebagai seorang yang berkuasa.” Respon itu benar-benar unik. Mereka tidak terbiasa dengan orang yang menjadi otoritas bagi dirinya sendiri. Mereka terbiasa dengan orang yang mengutip orang lain, yang mengidentifikasi dirinya dengan orang lain, yang mendapatkan otoritas mereka dari orang lain. Tetapi Yesus berbicara sebagai orang yang Diri-Nya sendiri adalah otoritas.

Kemudian dalam Injil Matius, 9:6-8, dikatakan “Dia berkuasa mengampuni dosa,” sebuah otoritas yang mereka pahami hanya dimiliki oleh Satu Pribadi, dan Pribadi itu adalah Allah. Dalam Matius 10:1, menjadi jelas bahwa Dia memiliki otoritas atas semua kuasa neraka, otoritas atas kuasa setan. Dalam Yohanes 1:12, Dia menyatakan otoritas untuk menyelamatkan, yaitu otoritas untuk memberi hidup, kehidupan rohani dan keselamatan. Dalam Yohanes 5:27, dikatakan bahwa Dia diberi otoritas untuk menghakimi semua orang. Dalam Yohanes 10:18 Dia berkata, “Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali.” Artinya Dia memiliki otoritas atas kematian dan otoritas atas kehidupan, yang dinyatakan dengan indahnya dalam Kitab Wahyu sebagai pemegang kunci maut dan Hades (kerajaan maut).

Dan Yohanes 17:2 mengatakan bahwa Dia memiliki otoritas atas seluruh umat manusia. Dia tidak berada di bawah siapa pun selain Allah, dan Dia sejalan sempurna dengan Allah, sebagai Allah. Dia memiliki otoritas. Dia memiliki jenis otoritas yang sama sekali tidak kita kenal. Dia memiliki otoritas mutlak yang sepihak untuk melakukan apa pun yang Dia kehendaki, kapan pun Dia kehendaki, terhadap siapa pun atau apa pun yang Dia kehendaki.

Mungkin cara sederhana untuk memahami inti dari otoritas ini adalah dengan menangkap dua kata Yunani yang dapat diterjemahkan sebagai “otoritas.” Kata pertama adalah dunamis, biasanya diterjemahkan sebagai “kuasa,” yaitu kuasa dari mana kata bahasa Inggris “dynamite” berasal. Dunamis merujuk pada kemampuan untuk melakukan sesuatu, kemampuan untuk melakukannya. Kata lainnya adalah exousia. Exousia adalah kata yang biasanya diterjemahkan sebagai “otoritas” seperti dalam teks ini di mana kata “otoritas” muncul tiga kali. Kata ini berarti hak untuk melakukan sesuatu. Jadi, memiliki semua otoritas berarti memiliki semua kuasa dan semua hak untuk melakukan segala sesuatu yang dikehendaki seseorang untuk dilakukan.

Dia memiliki kemampuan untuk melakukan apa pun yang Dia kehendaki, dan Dia memiliki hak untuk melakukan apa pun yang Dia kehendaki terhadap siapa pun atau apa pun yang Dia kehendaki, dan inilah yang disebut memiliki segala otoritas. Dia memiliki baik dunamis maupun exousia. Dia memiliki kuasa dan Dia memiliki hak. Dia memilikinya karena Dia adalah Allah. Dan sekalipun Dia berinkarnasi, meskipun Dia adalah Allah yang datang dalam daging manusia, sekalipun Dia telah merendahkan diri-Nya sebagai seorang hamba, Dia tetap memiliki kuasa dan otoritas untuk melakukan dengan tepat apa yang dikehendaki Allah untuk Dia lakukan.

Tidak ada batasan bagi kuasa-Nya. Tidak ada seorang pun yang dapat melawan kuasa-Nya. Tidak ada batasan bagi kemampuan-Nya. Tidak ada pula batasan bagi hak-Nya. Dia memiliki baik hak maupun kemampuan untuk melakukan segala sesuatu yang Dia kehendaki untuk dilakukan, dan Dia ingin melakukan apa yang selaras sempurna dengan Bapa.

Akibatnya – dan inilah poin pentingnya – Yesus tidak pernah dalam hidup-Nya di bumi ini meminta izin untuk melakukan sesuatu. Tidak pernah. Dia tidak pernah mencarinya melalui jalur normal dalam pelayanan-Nya. Tidak ada yang lebih tinggi selain Bapa-Nya sendiri, dan Dia berkata, “Aku selalu melakukan apa yang Bapa perintahkan untuk Aku lakukan. Aku selalu melakukan apa yang Bapa tunjukkan kepada-Ku untuk dilakukan. Aku selalu dan hanya melakukan apa yang Bapa kehendaki untuk Aku lakukan.” Apa pun itu, tidak ada otoritas lain yang menjadi tempat Yesus meminta persetujuan.

Nah, Anda harus mengerti, situasi ini sangat mengejutkan bagi pengalaman orang Yahudi, ketika Dia mengajar seperti yang Dia lakukan dalam khotbah di bukit dan pada dasarnya menyerang setiap harta dari agama Yudaisme yang legalistik, dan menghancurkannya, serta tidak memiliki otoritas di luar diri-Nya sendiri—ini adalah sesuatu yang dianggap keterlaluan untuk dilakukan. Dia menyerang praktik memberi mereka. Dia menyerang puasa mereka. Dia menyerang doa mereka. Dia menyerang kurban mereka. Dia menyerang kesalehan diri mereka sendiri. Dia menyerang segala sesuatu yang mereka anggap sakral.

Dia menyerang inti dan substansi dari seluruh sistem keagamaan mereka dalam pengajaran-Nya dan Dia tidak pernah mengutip seorang rabi pun. Dia tidak mendapat izin dari Sanhedrin mana pun. Tidak ada dewan rabi yang kepadanya Dia harus bertanggung jawab. Dia tidak ditahbiskan dengan cara yang dianggap tepat sebagaimana semua guru dan rabi ditahbiskan. Bahkan teologi-Nya pun tidak pernah diperiksa dan disahkan oleh Sanhedrin.

Dan bahkan ketika Dia membuat cambuk di awal pelayanan-Nya dan mengusir semua pembeli dan penjual dari rumah Bapa-Nya, Dia tidak meminta izin dari siapa pun untuk melakukannya. Dia tidak pergi ke dewan bait suci, yang terdiri dari imam besar, imam-imam kepala, para pejabat di bawah mereka, dan semua orang yang mengelola urusan itu, untuk mendapat izin. Dia tidak pergi ke Sanhedrin, badan penguasa yang terdiri dari imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat, dan para tua-tua resmi lainnya, termasuk orang Saduki dan Herodian. Dia tidak meminta izin ketika Dia melakukannya untuk pertama kali, dan Dia pun tidak meminta izin ketika Dia melakukannya untuk yang terakhir kalinya, seperti yang kita lihat dalam studi kita hari Minggu lalu.

Anda ingat, bukan, dalam Lukas 19:45, Dia masuk ke Bait Allah dan mulai mengusir orang-orang yang berjualan, sambil berkata kepada mereka, “Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.” Dan Dia mengusir mereka semua. Dia tidak mendapat izin untuk melakukan hal ini. Apa yang dilakukan-Nya benar-benar mengacaukan semua yang sedang berlangsung di sana tanpa otoritas manusia untuk melakukannya. Tetapi Dia tidak pernah mencari otoritas manusia.

Nah, Anda harus mengerti bahwa ini, dalam arti tertentu, menjadi satu lagi pelanggaran besar bagi orang-orang Yahudi yang memegang kepemimpinan di Israel. Mereka merasa terganggu, pertama-tama, karena Dia menyerang teologi mereka, menyerang kredibilitas mereka. Dia menelanjangi mereka sebagai orang munafik yang paling buruk. Dan sekarang Dia bertindak langsung di wilayah kekuasaan mereka. Dia mengajar tanpa koneksi apa pun dengan mentor atau rabi sebelumnya, tanpa kredensial, dan tanpa penahbisan, yang hanya bisa diberikan oleh Sanhedrin. Tingkah laku semacam ini sudah sangat keterlaluan sejak awal, dan tingkah laku tanpa otoritas resmi semacam ini menjadi semakin keterlaluan.

Yesus adalah otoritas bagi diri-Nya sendiri. Dia berbicara secara profetik. Dia berbicara dengan benar. Dia menafsirkan Kitab Suci Perjanjian Lama dengan tepat. Dia menyampaikan Firman Allah yang benar. Mereka bahkan mengakui hal itu. Dia mengampuni dosa. Dia menyembuhkan orang sakit. Dia membangkitkan orang mati. Dia mengusir setan. Dan Dia melakukan semua itu tanpa pernah meminta izin dari siapa pun.

Sekarang intinya adalah ini. Dia memperlakukan seluruh sistem keagamaan mereka seakan-akan tidak ada. Dia tidak peduli pada Sanhedrin. Dia tidak peduli pada imam-imam kepala. Dia tidak peduli pada dewan-dewan. Dia tidak peduli pada pendapat populer. Dia tidak peduli pada apa pun. Dia benar-benar tidak memedulikan para imam. Dia tidak memedulikan para rabi. Dia tidak memedulikan para ahli Taurat, para ahli kitab, para teolog. Dia tidak memedulikan sistem persembahan kurban. Dia tidak memedulikan urusan Bait Allah. Dia memperlakukannya seakan-akan itu tidak ada. Itu tidak ada pengaruhnya pada hidup-Nya. Itu tidak ada pengaruhnya pada apa yang Dia ajarkan. Itu tidak ada pengaruhnya pada apa yang Dia katakan. Bahkan, Dia pada dasarnya menyerangnya dengan penuh amarah.

Nah, Anda harus mengerti bahwa permusuhan yang semakin memuncak pada titik ini benar-benar tidak terukur lagi. Dia memperlakukan mereka semua – dan ingatlah ini, mereka hidup untuk ditinggikan. Mereka, para pemimpin itu, hidup untuk mengenakan jubah panjang, dan rumbai-rumbai pada jubah mereka, dan berpura-pura kudus. Mereka hidup untuk berpuasa di depan umum, menaruh abu di kepala mereka, dan memberikan persembahan di Bait Allah di depan semua orang sementara ada seseorang yang meniup sangkakala untuk mengumumkan kedatangan mereka. Mereka mencari tempat duduk utama di tempat-tempat tinggi, dan untuk ditinggikan, dan dipanggil “guru” dan “rabi” dan “bapa,” dan semua sebutan itu.

Semuanya hanya soal meninggikan diri mereka, dan Yesus benar-benar memperlakukan mereka dengan penghinaan yang sangat besar. Bagi-Nya, mereka seolah-olah tidak ada. Mereka tidak ada hubungannya dengan Allah. Mereka tidak ada hubungannya dengan kerajaan Allah. Mereka tidak ada hubungannya dengan umat Allah yang sejati. Mereka asing terhadap maksud Allah dan kehidupan Allah.

Tidak ada yang lebih menghancurkan dan lebih sulit diterima daripada diperlakukan seakan-akan Anda tidak berarti padahal Anda merasa sangat berarti. Dan jika semua unsur ini digabungkan, muncullah amarah dalam diri mereka sampai pada tingkat di mana jiwa mereka benar-benar terbakar dengan api kebencian. Dan itu meningkat dengan cepat, lalu meledak dalam kobaran api penyaliban pada hari Jumat.

Sekarang izinkan saya memberikan latar belakangnya. Yesus telah mengakhiri pelayanan-Nya yang singkat di Galilea setelah melayani di Yudea, terutama selama tahun terakhir hidup-Nya. Dia datang ke Yerusalem untuk merayakan Paskah, turun melalui sebelah timur Sungai Yordan, melewati Yerikho, lalu naik bukit menuju Yerusalem. Dia sekarang sudah berada di kota Yerusalem.

Dia tiba di wilayah Yerusalem pada hari Sabtu, tahun 30 Masehi, di bulan Nisan, sebagai persiapan untuk mati pada hari Jumat, yaitu hari ketika domba Paskah disembelih. Dan Dialah Anak Domba Paskah yang sejati, yang akan disembelih pada hari itu di tahun itu, tepat pada tahun yang telah dinubuatkan Daniel. Tetapi pada hari Sabtu itulah Dia tiba di daerah Yerusalem. Dia pergi ke keluarga yang Dia kenal dan kasihi: Maria, Marta, dan Lazarus. Dia tinggal di rumah mereka di sebuah desa bernama Betania, dua mil di sebelah timur Yerusalem.

Dia tinggal di sana bersama mereka pada Sabtu malam. Pada hari Minggunya, kabar tersebar bahwa Dia ada di sana. Kerumunan besar orang datang dari Yerusalem dan desa-desa sekitarnya menuju Betania untuk melihat Dia dan melihat Lazarus, yang telah dibangkitkan-Nya dari kematian beberapa minggu sebelumnya. Itulah yang terjadi pada hari Minggu. Dia tetap tinggal di Betania, dan orang banyak datang kepada-Nya.

Pada hari Senin, Dia masuk dengan penuh kemenangan ke Yerusalem, seperti yang Anda ketahui, dengan menunggangi seekor keledai muda, untuk menggenapi Zakharia 9:9, bahwa Mesias akan masuk ke Yerusalem “dengan menunggangi seekor keledai, seekor keledai beban yang muda.” Dia masuk melalui gerbang timur. Dia disambut oleh kerumunan besar orang sebagai Mesias. Arak-arakan besar itu berakhir di Bait Suci, yang letaknya tepat di dalam gerbang timur. Begitu Dia masuk melalui gerbang itu bersama lautan manusia, Dia langsung berada di area Bait Suci. Itulah hari Senin.

Hari Senin berakhir di Bait Suci. Saat itu senja, hari menjelang malam, maka Dia meninggalkan Yerusalem, berjalan kembali menembus kerumunan, lalu kembali ke Betania untuk bermalam bersama Maria, Marta, dan Lazarus serta para rasul-Nya.

Hari Selasa, Dia datang kembali pada pagi hari dengan murka yang kudus. Pemandangan terakhir yang Dia lihat pada Senin malam adalah Bait Suci. Ketika Dia masuk melalui gerbang timur itu, setelah masuk dengan penuh kemenangan dan memandang Bait Suci, Dia pasti melihat kekacauan mengerikan yang dilakukan oleh para perampok di tempat yang seharusnya menjadi rumah Allah. Gambaran itu tetap ada dalam pikiran-Nya di sepanjang malam, dan pada pagi harinya Dia datang kembali dengan penuh amarah. Dalam murka yang kudus, Dia masuk dan mengusir orang-orang fasik yang menajiskan rumah Bapa-Nya.

Sementara itu terjadi, beberapa anak laki-laki di bait Allah, seperti yang diberitahukan oleh salah satu penulis Injil lainnya, menyambut Dia dengan seruan “Hosana,” yang semakin membuat para pemimpin marah. Bayangkan saja, ketika Dia sedang mengusir mereka, anak-anak itu menyambut Dia dengan seruan “Hosana.” Maka mereka semakin menegaskan perlunya membunuh Dia untuk menghentikan penodaan tanpa henti terhadap agama mereka yang penuh kemunafikan itu.

Mereka tidak bisa menoleransi seseorang yang telah meruntuhkan penyembahan palsu mereka, menyingkapkan kemunafikan mereka yang gila, dan melakukan semua itu tanpa izin. Setelah membersihkan bait pada hari Selasa, Dia kembali ke Betania. Pada hari Rabu, Dia datang kembali.

Jadi, dalam Lukas 20:1, itu adalah hari Rabu. Jika Anda memiliki Alkitab Studi MacArthur, di sana tertulis “Selasa.” Kami perlu membetulkannya. Kami akan melakukannya. Lalu Anda harus membeli yang baru. Yah, Anda bisa memperbaikinya sendiri. Jadi, itu hari Rabu. Dia kembali lagi ke kota. Dia kembali ke bait Allah, yang sekarang sudah bersih. Mereka tidak kembali lagi, yang menunjukkan kuasa yang Dia miliki. Dia sekarang telah membersihkan bait itu dan Dia akan menjadi pusatnya. Tuhan telah datang ke bait-Nya. Seperti yang dikatakan seorang nabi, bahwa “Tiba-tiba Tuhan akan datang ke bait-Nya!” Dia telah datang ke bait-Nya.

Pagi hari Rabu ketika Dia tiba. Dan Dia datang untuk mengajar, ayat 1, “Pada suatu hari – ” yaitu pada hari Rabu jika Anda membandingkan semua catatan “ – Yesus mengajar orang banyak di Bait Allah dan memberitakan Injil.” Inilah saatnya kebenaran hadir di bait Allah. Inilah saatnya untuk menyingkirkan para pendusta, para pembuat cerita, para pemanipulasi, guru-guru palsu, orang-orang munafik, penipu, dan orang-orang yang pura-pura. Inilah saatnya kebenaran. Inilah saatnya guru sejati dari Allah, Firman sejati dari Allah, dan Injil keselamatan yang sejati dari Allah. Inilah saatnya kabar baik yang sesungguhnya. Dan Dia datang dan menjadi pusat perhatian.

Kembali pada ayat 47, ingatlah, di situ dikatakan, “Tiap-tiap hari Ia mengajar di dalam Bait Allah. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang terkemuka dari bangsa itu berusaha untuk membinasakan Dia, tetapi mereka tidak tahu, bagaimana harus melakukannya, sebab semua orang terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia.” Dan selama beberapa hari ini mereka terus terpikat pada perkataan-Nya.

Kalau kita lihat Lukas 21:38, akhir pasal 21 berkata, ayat 37, “Yesus mengajar di Bait Allah,” lalu ayat 38, “Pagi-pagi benar semua oran g banyak datang kepada-Nya di dalam Bait Allah untuk mendengarkan Dia.” Inilah rutinitas harian-Nya. Rabu, Kamis pastinya, dan pada hari Jumat berlangsung peristiwa pengadilan serta penyaliban-Nya. Maka di hari Rabu ini, Dia kembali untuk membawa kebenaran ke tempat yang selama ini dipenuhi kebohongan, membawa pesan sejati dari Allah ke tempat yang selama ini hanya berisi kepalsuan dan tipu daya Iblis. Jadi Dia datang, mengajar orang banyak di bait Allah dan memberitakan Injil.

Hari itu adalah hari yang menakjubkan. Ngomong-ngomong, pengajaran-Nya berlangsung sampai akhir pasal 20, sampai benar-benar selesai. Bahkan ada lagi di pasal 21, tetapi yang kita temukan di pasal 20, seluruh pasal itu pada dasarnya merupakan isi dari pengajaran-Nya pada hari itu, hari Rabu. Pengajaran ini begitu penting sehingga di kitab Matius dan Markus pun dicatat lebih banyak, karena hari ini memang sangat penting. Hari ini adalah kesempatan terakhir-Nya untuk mengajar, kesempatan terakhir-Nya untuk berbicara.

Dan kepada orang banyak, Dia memberitakan Injil. Kepada orang banyak, Dia mengajarkan Firman Allah yang sejati. Inilah anugerah. Inilah belas kasih. Inilah simpati. Inilah kelembutan. Inilah kesabaran. Inilah ketekunan. Inilah kemurahan hati. Dan inilah wilayah-Nya. Beberapa hari terakhir ini digunakan untuk memanggil Israel kepada pertobatan, memanggil Israel kepada keselamatan. Dia tidak memiliki minat untuk membawa reformasi sosial, reformasi politik, reformasi militer, apalagi untuk bangsa yang tidak percaya. Maka Dia datang untuk mengajarkan kebenaran dan memberitakan Injil.

Dan kitab Markus mengatakan kepada kita bahwa Dia melakukannya sambil berjalan-jalan, di dalam dan sekitar pelataran bait Allah yang luas itu, di segala bagian, serambi, dan pelatarannya. Dia bergerak di tengah kerumunan besar itu, dan para pemimpin selalu ada di sana, selalu membuntuti Dia. Lukas 19:47 mengatakan, “Tiap-tiap hari Ia mengajar di dalam Bait Allah. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang terkemuka dari bangsa itu berusaha untuk membinasakan Dia, tetapi mereka tidak tahu, bagaimana harus melakukannya, sebab semua orang terpikat kepada-Nya.”

Mereka ingin menemukan sesuatu untuk menjebak Dia. Mereka tidak berhasil, dan mereka takut kepada orang banyak. Inilah cara khas seorang rabi untuk mengajar. Dia berjalan, bergerak, menanggapi, berinteraksi, ada dialog, dan ada perdebatan. Dan begitulah cara Dia mengajar.

Apa yang Dia katakan? Dia sedang mengajar orang banyak. Apa pesannya? Kemungkinan sama seperti yang tercatat dalam Kisah Para Rasul 1:3. Dia “berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah.” Jadi, itu bukan tentang politik, bukan tentang ekonomi, bukan tentang sopan santun. Dan itu juga bukan tentang hal-hal yang diinginkan orang banyak agar dibawa oleh Sang Mesias kepada mereka. Yang dikatakan-Nya adalah perkara-perkara tentang Kerajaan Allah.

Dia mungkin berbicara tentang dosa, betapa keji dosa itu, dan kebodohan dari agama yang munafik yang tidak mampu menyelesaikan masalah dosa. Dia mungkin mengajar tentang penghakiman, kepastian dari penghakiman ilahi dan neraka. Mungkin Dia berbicara tentang kebenaran, betapa mustahilnya berusaha mencapai kebenaran dengan kekuatan sendiri. Saya yakin Dia berbicara tentang kerendahan hati, perlunya kebangkrutan jiwa, hati yang hancur, dan jiwa yang remuk. Dan Dia berbicara tentang kasih, kasih Allah yang penuh belas kasihan bagi orang-orang berdosa. Dan Dia berbicara tentang kemungkinan untuk berdamai dengan Allah, masuk ke dalam kerajaan-Nya, dan hidup yang kekal, serta pengharapan akan kemuliaan.

Dia mungkin juga berbicara tentang kebodohan doa yang palsu, pengulangan yang sia-sia, melakukan perbuatan agama yang dangkal, hanya untuk dilihat manusia dan merasa puas dengan hal itu, daripada menerima perkenanan Allah. Dia mungkin berbicara tentang kerendahan hati yang palsu, kesombongan rohani, dan mungkin berbicara tentang harga mengikut Dia, penyangkalan diri, dan memikul salib.

Mungkin Dia berbicara tentang penganiayaan, penderitaan yang dialami seseorang yang mengidentifikasi diri dengan Dia. Mungkin Dia berbicara tentang Kitab Suci, Firman Allah, tentang kejujuran, tentang pengampunan, tentang kekayaan sejati, tentang iman, tentang anugerah, belas kasihan, semua hal itu, semuanya menjadi bagian dari euaggelizomai, kata kerjanya “memberitakan Injil.” Dia berbicara tentang semua hal yang berhubungan dengan keselamatan.

Dan orang-orang itu mendengarkan-Nya. Tetapi para pemimpin ada di sana, dan mereka tidak tahan, dan mereka hanya mencari cara untuk menangkap Dia, menjebak Dia, dan mereka sangat kesulitan melakukannya. Di akhir pasal 19, tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk bertindak karena mereka begitu marah, dan di tengah ayat 1, kita sampai pada poin pertama yang perlu diperhatikan dalam peristiwa ini, yaitu konfrontasi, konfrontasi. “Datanglah imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta tua-tua ke situ.”

Ephistēmi adalah kata kerja Yunani. Artinya “menyerang, mendatangi, menerkam.” Peristiwa itu adalah sesuatu yang tak terhindarkan. Mereka tidak bisa menahan kemarahan mereka. Dan mereka berusaha menahannya dengan mengajukan sebuah pertanyaan yang menyamarkan permusuhan mereka yang sesungguhnya dalam semacam kasus teologis. Tetapi mereka mendatangi Dia dengan penuh dendam.

Harap perhatikan bahwa yang datang adalah imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat bersama para tua-tua. Ini sangat penting. Imam-imam kepala mencakup imam besar, orang yang berada tepat di bawah imam besar, semacam pemimpin dari para imam yang darinya imam besar dipilih, yang memiliki tanggung jawab untuk mengawasi hampir semua hal. Lalu ada juga tingkatan-tingkatan imam, imam-imam yang mengawasi para imam yang melayani selama dua minggu setiap tahunnya. Ada bermacam-macam otoritas dan pejabat terhormat. Mereka semua secara kolektif diwakili dalam sebutan imam-imam kepala.

Lalu para ahli Taurat mewakili para teolog. Banyak dari mereka adalah orang Farisi, meskipun tidak semuanya, tetapi sebagian besar memang Farisi. Dan para tua-tua adalah sisanya, termasuk di dalamnya—imam-imam kepala yang sebagian besar berasal dari kelompok Saduki, sementara para tua-tua mungkin terdiri dari sebagian Saduki, kemungkinan juga ada dari golongan Herodian, dan sebagian dari orang Farisi. Bersama-sama mereka membentuk Sanhedrin, kelompok beranggotakan 70 orang yang menjadi dewan penguasa atas segala urusan keagamaan.

Jadi ada rombongan dari kelompok yang besar itu datang menghampiri Dia. Dan yang begitu menarik adalah hal ini: mereka berasal dari kelompok-kelompok yang berbeda pandangan. Orang Saduki punya pandangan mereka sendiri. Orang Farisi punya pandangan yang sangat berbeda. Kaum Herodian juga punya pandangan yang berbeda lagi. Semuanya adalah kelompok-kelompok yang beragam, tetapi mereka sepakat dalam satu hal: kami ingin Pria ini mati. Seluruh lembaga keagamaan bersatu dalam hal ini. Semua kelompok yang berbeda itu bersatu dalam keinginan untuk membunuh Mesias mereka. Jika itu tidak menunjukkan betapa jauhnya Yudaisme saat itu dari Allah, saya tidak tahu apa lagi yang bisa menggambarkannya. Mereka tidak bisa sepakat dalam banyak hal, tetapi mereka bisa sepakat dalam hal ini. Mereka ingin Yesus mati. Ini sebuah pelajaran berharga. Semua agama palsu memiliki perbedaan-perbedaan di dalamnya, tetapi semuanya sepakat untuk menentang Injil Yesus Kristus.

Apa itu agama palsu? Agama palsu adalah agama apa pun dengan nama apa pun yang tidak sesuai dengan Injil Yesus Kristus, entah itu Islam, Buddhisme, Hinduisme, atau bentuk kekristenan yang menyimpang. Semua agama palsu sepakat untuk menentang Injil. Inilah serangan terbesar yang selalu ditujukan pada kebenaran.

Jadi mereka semua bersatu untuk melawan Kristus. Dan memang, pada akhir zaman, agama-agama dunia akan bersatu melawan Kristus. Tetapi mereka ini sebenarnya pengecut. Mereka tidak tahu bagaimana menghadapi hal ini. Mereka tidak mau memperlihatkan isi pikiran, hati, dan keyakinan mereka yang sebenarnya. Maka mereka mencoba menjebak Yesus. Ayat 2, “Mereka berkata kepada Yesus, ‘"Katakanlah kepada kami dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu, atau siapa yang memberikan kuasa itu kepada-Mu!’”

Sekarang, izinkan saya memberi sedikit catatan tambahan. Mereka hidup di dalam dunia di mana otoritas itu sangat besar artinya. Ada—semacam hierarki rumit, yang mirip hierarki pentagon. Ada orang-orang yang ditunjuk khusus untuk mengurus berbagai cabang: ada yang mengurus perayaan, musik, terompet, roti, garam, kayu, persembahan minuman, undian, kurban bakaran, minuman, rambu-rambu, ukupan, tirai, jubah, dan lain-lain. Semuanya diatur dengan urutan jabatan dari bawah sampai ke atas, sampai kepada imam besar, lalu di bawahnya ada kepala pengawal bait Allah yang jadi orang nomor dua, dan kemudian orang-orang berpangkat lainnya. Dan di dunia itu, Anda tidak bisa bergerak melakukan apa pun tanpa otoritas.

Dan mereka semua berkumpul bersama karena, pada dasarnya, mereka semua sudah dipermalukan. Mereka bisa sepakat bahwa ini adalah seorang pria yang keterlaluan, yang melakukan hal-hal yang keterlaluan, dan sama sekali tidak peduli dengan mereka. Maka mereka pikir, pertanyaan yang perlu diajukan adalah soal otoritas, karena mereka yakin orang banyak akan paham hal ini: “Katakan kepada kami, dengan otoritas siapa Engkau melakukan semua ini?”

Semua ini? Semua apa maksudnya? Nah, ada yang mengatakan yang dimaksud adalah soal pengajaran. Itu masuk akal, karena memang tidak ada yang bisa mengajar di bait Allah kecuali sudah ditahbiskan oleh Sanhedrin. Ada juga yang berpikir itu tentang mujizat-mujizat, sebab kita ingat orang buta dan orang lumpuh datang kepada-Nya dan Dia menyembuhkan mereka. Tetapi sebenarnya bukan itu masalahnya di sini. Yang membuat mereka menanyakan pertanyaan ini adalah tindakan-Nya membersihkan bait Allah. Itulah yang dimaksud “Semua ini.” Bagaimana mungkin Engkau berani mengambil alih tempat ini? “Semua ini” maksudnya adalah masuk dengan penuh kemenangan, menerima pengakuan sebagai Mesias, lalu membersihkan bait Allah, dan kemudian bertindak seolah tempat itu milik-Mu. Dengan otoritas siapa Engkau melakukan semua itu?

Dan saya rasa itulah yang mereka maksud, karena kembali di Injil Yohanes pasal 2, di awal pelayanan-Nya ketika Dia pertama kali menyucikan Bait Allah, orang-orang Yahudi menjawab dan berkata kepada-Nya, “Tanda apakah yang dapat Engkau tunjukkan kepada kami bahwa Engkau berhak bertindak demikian?” Dengan kata lain, izin apa yang Engkau miliki untuk melakukan ini? Pertanyaan yang sama muncul lagi. Mereka ingin tahu dari mana Dia mendapat izin pertama kali, dan mereka ingin tahu dari mana Dia mendapat izin kali ini. Dengan otoritas apa Engkau melakukan hal ini, dan siapa yang memberikannya kepada-Mu?

Semua orang paham soal itu. Semua orang tahu ada aturan, ada struktur otoritas yang harus dihormati. Mereka juga tahu bahwa Yesus selalu mengklaim otoritas-Nya berasal dari Allah. Dia selalu berkata begitu. Dia berkata, “Aku melakukan apa yang Bapa-Ku perintahkan kepada-Ku. Aku melakukan apa yang Bapa-Ku tunjukkan kepada-Ku. Aku melakukan kehendak Bapa-Ku.” Saya pikir mereka berharap Dia akan berkata, “Aku menerima otoritas-Ku dari Allah,” dan saat itu juga mereka akan merespons, “Penghujat! Penghujat!” lalu merajam Dia.

Jadi mereka pun mengajukan pertanyaan itu. Dia begitu tidak peduli dengan otoritas manusia. Bahkan sebagai catatan tambahan, para rabi bukan hanya ditahbiskan, tetapi biasanya seorang rabi memakai topi khusus untuk menandakan siapa mentornya. Jadi topi yang dikenakan menunjukkan siapa yang menjadi panutannya. Mungkin Yesus bahkan tidak memakai topi. Sedangkan mereka begitu terobsesi soal otoritas.

Dan jawaban Yesus membongkar siapa mereka sebenarnya. Dari konfrontasi ini, kita beralih kepada apa yang bisa disebut sebagai pertanyaan tandingan. Ayat 3, ada pertanyaan tandingan: “Jawab Yesus kepada mereka, ‘Aku juga akan mengajukan suatu pertanyaan kepada kamu. Katakanlah kepada-Ku:’” Ini gaya rabinik tradisional. Guru yang baik sering melakukan hal ini, tetapi ini benar-benar gaya khas rabinik. Anda menjawab pertanyaan dengan pertanyaan untuk memaksa murid masuk lebih dalam ke pokok masalahnya, ke dalam dilemanya. Yesus tidak sedang menghindari jawaban, tetapi Dia sedang membuka kedok kemunafikan mereka.

Mereka tahu dari mana otoritas-Nya berasal, Dia sudah mengatakan itu berkali-kali. Mereka tahu. Mereka hanya berusaha memancing Dia untuk mengatakannya lagi supaya bisa menuduh-Nya menghujat dan kemudian membunuh-Nya. Tetapi, bukannya menjawab pertanyaan mereka, Dia justru membongkar kemunafikan mereka. Mereka seharusnya adalah guru-guru besar Israel. Mereka seharusnya tahu semua jawaban untuk setiap persoalan. Mereka seharusnya menjadi pemimpin umat. Mereka seharusnya memiliki pengetahuan menyeluruh tentang semua persoalan rohani dan teologis. Jadi Dia berkata, “Izinkan Aku mengajukan satu pertanyaan kepadamu.”

Ngomong-ngomong, Yesus memang sering melakukan ini. Sering sekali. Dia melakukannya di Lukas pasal 5, pasal 6, pasal 11. Dia akan melakukannya lagi di pasal 20, dimana Dia menjawab pertanyaan dengan sebuah pertanyaan. Dia berkata di ayat 4, “Aku juga akan mengajukan suatu pertanyaan kepada kamu. Katakanlah kepada-Ku.” Inilah pertanyaannya: “Baptisan Yohanes itu, dari surga atau dari manusia?”

Semua orang di sana tahu tentang Yohanes. Yang dimaksud adalah Yohanes Pembaptis, benar kan? Yohanes Pembaptis, nabi yang berada di padang gurun dekat Sungai Yordan, membaptis orang dengan baptisan pertobatan untuk mempersiapkan mereka menyambut kedatangan Mesias. Anda ingat bagaimana kitab Lukas dimulai? Malaikat datang kepada Zakharia dan berkata, “Engkau akan punya anak meskipun engkau mandul dan sudah sangat tua. Istrimu, Elisabet, akan melahirkan seorang anak, dan anak itu akan menjadi pembuka jalan bagi kedatangan Mesias.” 

Mereka pun memiliki anak itu. Anak itu adalah Yohanes. Yohanes tumbuh besar, lalu mengumumkan bahwa Mesias segera datang. Yohanes mempersiapkan orang-orang bagi kedatangan Mesias dengan memanggil mereka untuk dibaptis. ‘Datanglah ke sini, akui dosamu, masuklah ke dalam air sebagai lambang penyucian dari dosa sambil menyiapkan hatimu menyambut Sang Mesias.’ Seluruh wilayah Yudea berbondong-bondong datang kepada Yohanes. Orang-orang dibaptis karena mereka ingin siap ketika Mesias datang.

Lalu, suatu hari Yesus datang. Yohanes berkata, “Lihat, Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.” Yohanes pun membaptis Yesus. Lalu terdengar suara Bapa, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.”

Baptisan Yohanes itu sebenarnya menunjuk pada seluruh pelayanan kenabiannya, bukan sekadar pada tindakan baptis itu sendiri. Jadi ketika Tuhan Yesus berkata, “Apakah baptisan Yohanes berasal dari surga atau dari manusia?” maksud-Nya adalah seluruh pelayanan Yohanes—seruannya agar orang bertobat dan mengekspresikan pertobatan itu lewat baptisan. Baptisan itu pada dasarnya adalah baptisan bagi para proselit, yaitu orang non-Yahudi yang ingin masuk ke dalam ibadah orang Yahudi. Jadi dengan baptisan Yohanes, dia sebenarnya meminta orang Yahudi memperlakukan diri mereka seakan-akan mereka orang non-Yahudi yang butuh disucikan agar layak di hadapan Allah.

Jadi, karena orang non-Yahudi dianggap orang luar, ada ritual khusus yang harus mereka jalani. Nah, lewat baptisan Yohanes, sebenarnya dia sedang berkata kepada orang Yahudi: "Kamu pun harus memperlakukan dirimu seperti orang non-Yahudi—sebagai orang buangan—dengan mengaku dosamu, bertobat dari dosamu, dan menjalani tanda upacara pertobatan itu." Itulah makna baptisan Yohanes. Semua itu adalah persiapan untuk menyambut Mesias. Dan pada akhirnya Yohanes menunjuk kepada Yesus sebagai Sang Mesias. Kalau kita lihat kembali di Lukas 3, semua penjelasan detailnya ada di sana. Saya tidak akan membahasnya terlalu lama.

Jadi pertanyaannya sebenarnya sederhana: Apakah pekerjaan Yohanes itu berasal dari manusia atau dari Allah? Dari surga atau dari manusia? Nah, inilah dilema yang mustahil bagi mereka. Mereka ingin mengatakan itu berasal dari manusia. Tapi kalau begitu, mereka akan bermasalah. Di sisi lain, mereka tidak mau mengakui bahwa itu datang dari Allah. Karena mereka benci gagasan itu.

Kembali di Lukas pasal 7, posisi mereka tentang Yohanes Pembaptis sudah jelas tercatat. Ayat 29 mengatakan, ketika semua orang dan para pemungut pajak mendengar berita itu, mereka mengakui keadilan Allah dengan dibaptis baptisan Yohanes. Jadi, orang banyak berbondong-bondong datang untuk dibaptis, menyatakan, “Ya, kami ingin siap. Ya, kami mau mengaku dosa dan bertobat. Kami mau ada di sana ketika Mesias datang mendirikan kerajaan-Nya.”

Tetapi Lukas 7:30 berkata, “Tetapi orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat menolak maksud Allah terhadap diri mereka, karena mereka tidak mau dibaptis oleh Yohanes.” Mereka menolaknya. Mereka tidak akan melakukannya, sebab itu sama saja mengakui bahwa mereka berada di luar perjanjian. Itu berarti mengakui bahwa mereka di luar kerajaan, bahwa mereka tidak kudus. Sama sekali mereka tidak mau. Jadi jawaban mereka pada dasarnya adalah: “Yohanes bukan dari Allah, melainkan dari manusia.”

Yesus pun menempatkan mereka dalam dilema yang sulit. “Apakah baptisan Yohanes itu dari surga atau dari manusia?” Markus 11:30, dalam kisah paralelnya, menambahkan perkataan Yesus, “Berikanlah Aku jawabnya!” Yesus makin menekan mereka. Mereka benar-benar terjebak antara dua pilihan yang sama-sama berbahaya. Kalau mereka mengakui bahwa baptisan Yohanes dari surga, mereka harus menerima Yesus sebagai Mesias. Itu tidak mungkin bagi mereka. Tetapi kalau mereka menyangkal bahwa Yohanes adalah nabi dari Allah, konsekuensinya berat sekali. Apa konsekuensinya? Ayat 5 berkata, “Mereka mempertimbangkannya di antara mereka.” Kata Yunani yang dipakai disini berarti “membahas dengan serius.” Dalam bagian paralel di Matius 21:25 dipakai kata lain yang berarti “berdialog.” Jadi, mereka berunding dan berdiskusi di antara mereka sendiri.

Mereka berkata, "Jikalau kita katakan: Dari surga, Ia akan berkata: Mengapa kamu tidak percaya kepadanya?”  Kalau Yohanes benar nabi Allah dengan pelayanan dari surga, kenapa kalian tidak percaya waktu Yohanes berkata bahwa Yesus adalah Mesias? “Tapi - ” ayat 6 “- jikalau kita katakan: Dari manusia, seluruh rakyat akan melempari kita dengan batu, sebab mereka yakin bahwa Yohanes adalah seorang nabi.”

Kenapa sampai dirajam batu? Karena dianggap menghujat. Mereka bisa merujuk ke Perjanjian Lama, seperti Keluaran 17:4 atau Bilangan 14:10, untuk menuduh bahwa siapa pun yang menyangkal seorang nabi Allah, dia sedang menghujat. Jadi, mereka benar-benar terjepit. “Jika kita katakan itu dari surga, maka kita tak punya alasan lagi untuk menolak Yesus. Tapi kalau kita katakan itu dari manusia, mereka akan merajam kita sampai mati.”

Dari situ Anda bisa melihat betapa memuncaknya emosi orang banyak itu, bukan? Situasi ini menunjukkan betapa mudahnya mereka terbakar semangat sementara karena Yesus. Jadi para pemimpin tidak bisa mengatakan kebenaran. Lalu apa yang mereka lakukan? Ayat 7 berkata, “Mereka menjawab bahwa mereka tidak tahu dari mana baptisan itu.” Mereka memilih tidak memberi jawaban. Jadi lenyaplah klaim pengetahuan mereka yang seakan serba tahu. Padahal seharusnya tugas mereka adalah menjadi pengamat kebenaran dalam urusan agama. Dengan tidak mau menjawab, mereka justru menghakimi diri mereka sendiri. “Kami tidak tahu.” Tidak ada jalan keluar dari dilema itu, dan Yesus berkali-kali membuat mereka terjepit seperti ini.

Dan ini membawa kita pada poin terakhir, yaitu penghakiman. Konfrontasi itu membawa pada pertanyaan balik, dan akhirnya pada penghakiman. Inilah salah satu pernyataan yang benar-benar menyedihkan. “Yesus pun berkata kepada mereka, ‘Jika demikian, Aku juga tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu.’” Itu sungguh tragis. Yesus sebenarnya sedang berkata, “Berdasarkan apa yang sudah kalian lakukan dengan informasi yang kalian miliki, Aku tidak akan memberi kalian lebih banyak lagi. Selesai.”

Saat Ia mengajar orang banyak, memberitakan Injil kepada mereka, Dia sama sekali tidak berkata apa-apa kepada para pemimpin. Mereka tahu pelayanan Yohanes. Mereka tahu Yesus mengaku bahwa Dia, sama seperti Yohanes, diutus oleh Allah. Yohanes dan Yesus tidak bisa dipisahkan. Jika menerima yang satu, maka harus menerima yang lain. Tidak ada gunanya melemparkan mutiara kepada babi. Mereka sudah menolak dengan sengaja semua yang jelas, jadi tidak ada alasan untuk memberi mereka lebih banyak lagi. Inilah penghakiman atas kepemimpinan rohani Israel, penghakiman.

Nanti di Lukas 22:66 dikatakan, “Berkumpullah sidang para tua-tua bangsa itu dan imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat,”— mereka ada di sana lagi, kelompok yang sama, kemudian “- mereka menghadapkan Dia ke Mahkamah Agama mereka, katanya, ‘Jikalau Engkau adalah Mesias, katakanlah kepada kami.’ Jawab Yesus, ‘Sekalipun Aku mengatakannya kepada kamu, kamu tidak akan percaya; dan sekalipun Aku bertanya, kamu tidak akan menjawab. Mulai sekarang Anak Manusia sudah duduk di sebelah kanan Allah Yang Mahakuasa.’ Kata mereka semua, ‘Kalau begitu, Engkau ini Anak Allah?’ Jawab Yesus, ‘Kamu sendiri mengatakan bahwa Akulah Dia.’ Lalu kata mereka, ‘Untuk apa kita perlu kesaksian lagi? Kita telah mendengarnya dari mulut-Nya sendiri. Bunuhlah Dia.”

Tidak ada gunanya memberitahu mereka apa pun. Mereka terlalu teguh dalam ketidakpercayaan mereka. Di Lukas 23:8, “Ketika Herodes melihat Yesus, ia sangat girang. Sebab sudah lama ia ingin melihat-Nya, karena ia sering mendengar tentang Dia dan mengharapkan dapat melihat bagaimana Yesus mengadakan suatu tanda mukjizat.” Di Lukas 23:9, “Ia mengajukan banyak pertanyaan kepada Yesus, tetapi Yesus tidak memberi jawaban apa pun.”

Herodes merasa dirinya orang penting. Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawab satu pun pertanyaannya. Tidak ada yang perlu dikatakan. Tidak ada lagi yang perlu dijawab. Inilah penghakiman. Inilah yang dikatakan Kejadian 6:3, “Roh-Ku tidak akan tinggal di dalam manusia selamanya.” Ada akhir dari kesabaran Allah. Inilah juga yang dikatakan Nehemia 9:30, “Selama bertahun-tahun Engkau bersabar terhadap mereka. Dengan Roh-Mu Engkau memperingatkan mereka, melalui para nabi-Mu, tetapi mereka tidak memasang telinga mereka, sehingga Engkau menyerahkan mereka ke dalam tangan bangsa-bangsa di berbagai negeri.”

Akan tiba saatnya ketika Allah berkata, “Tidak ada lagi yang perlu Kukatakan kepadamu.” Yesaya menegaskannya kembali dalam Yesaya 63:10, “Mereka memberontak dan mendukakan Roh-Nya yang Kudus; maka Ia berbalik menjadi musuh dan Ia sendiri berperang melawan mereka.” Yeremia pasal 11 menyuarakan hal yang sama, khususnya ayat 7 dan 11: “Sungguh Aku telah memperingatkan nenek moyangmu, pada waktu Aku menuntun mereka keluar dari tanah Mesir. Sampai saat ini pun Aku terus-menerus memperingatkan mereka: Dengarkanlah suara-Ku!” Tetapi mereka tidak mau. Ayat 11 menambahkan, “Sebab itu beginilah firman TUHAN: Sesungguhnya, Aku akan mendatangkan ke atas mereka malapetaka yang tidak dapat mereka hindari. Apabila mereka berseru-seru kepada-Ku, Aku tidak akan mendengarkan mereka.”

Ingat juga Lukas 19:41, “Ketika Ia telah mendekati dan melihat kota itu, Yesus menangisinya, kata-Nya, ‘Alangkah baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu.’”

Bagi orang banyak, masih ada belas kasihan yang diberikan, Injil masih diulurkan, kabar itu masih disampaikan. Dan pada hari Pentakosta akan ada 3.000 orang yang percaya, lalu ribuan lagi setelahnya. Tetapi bagi para pemimpin, semuanya sudah berakhir. Bahkan ketika Dia bangkit dari kematian, mereka tidak akan percaya, malah akan mengarang kebohongan untuk menutupinya.

Saya rasa bahkan di dalam jemaat seperti pagi ini, masih ada yang seperti orang banyak itu —dan Tuhan masih menjangkau mereka. Tapi ada juga yang seperti para pemimpin itu—dan pintunya tertutup selamanya. Berapa kali Anda mau mendengar Injil dan menolaknya sebelum Tuhan berkata, “Aku tidak punya apa-apa lagi untuk dikatakan”? Jangan sampai itu terjadi.

Selagi kita datang kepada salib pagi ini, pastikan bahwa pengenalan Anda akan Kristus yang disalibkan itu bersifat pribadi, intim, dan mengubahkan hidup, bukan sekadar pengetahuan sejarah.

Bapa kami, saat kami datang sekarang ke meja-Mu di saat-saat terakhir ini, kami mau menyampaikan keprihatinan kami, keprihatinan yang mendalam, bagi hati dan kehidupan mereka yang ada di sini, supaya kami boleh menjadi jemaat dengan pengenalan yang sejati akan Engkau. Agama bisa menjadi tempat persembunyian yang besar bagi orang-orang munafik. Kami berdoa, Tuhan, kiranya ada penyingkapan terhadap hati yang munafik, dan siapa pun yang tidak benar di hadapan-Mu akan hidup dalam ketakutan bahwa akhir itu akan datang dan Engkau akan berkata, “Aku tidak punya apa-apa lagi yang hendak Kukatakan kepadamu,” dan penghakiman akan memadamkan terang itu, dan hanya menyisakan kegelapan yang kekal.

Sebelum hal itu terjadi, bagi mereka yang sudah mendengar, mendengar, dan mendengar, namun menolak, menolak, dan menolak, kiranya hari ini menjadi hari di mana mereka sungguh-sungguh bertobat dan menerima Injil. Dan ketika kami yang adalah orang percaya datang kepada salib, kiranya kami menyadari bahwa kebencian, kepahitan yang mendorong orang-orang itu untuk menghasut kerumunan yang tadinya tampak setia hingga berteriak, “Salibkan Dia, salibkan Dia,” betapapun mengerikannya, justru menjadi tindakan anugerah terbesar yang pernah terjadi.

Sebab dalam kebencian mereka dan dalam pembunuhan Anak Allah, terjadilah pengorbanan bagi dosa-dosa kami. Dan sementara kami membenci apa yang mereka lakukan terhadap Juruselamat kami, kami mengasihi apa yang Engkau kerjakan melalui Dia. Maka kami datang dengan hati yang penuh syukur dan hati yang bertobat untuk mengingat kematian-Nya bagi kami. Amin.

SELESAI

This sermon series includes the following messages:

Please contact the publisher to obtain copies of this resource.

Publisher Information
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969

Welcome!

Enter your email address and we will send you instructions on how to reset your password.

Back to Log In

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize
View Wishlist

Cart

Cart is empty.

Subject to Import Tax

Please be aware that these items are sent out from our office in the UK. Since the UK is now no longer a member of the EU, you may be charged an import tax on this item by the customs authorities in your country of residence, which is beyond our control.

Because we don’t want you to incur expenditure for which you are not prepared, could you please confirm whether you are willing to pay this charge, if necessary?

ECFA Accredited
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Back to Cart

Checkout as:

Not ? Log out

Log in to speed up the checkout process.

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize