Kami sungguh bersukacita karena dapat kembali pada pembahasan kita tentang Injil Lukas, sejarah agung yang diilhamkan mengenai kehidupan dan pelayanan Tuhan kita Yesus Kristus. Silakan buka Alkitab Anda di Lukas pasal 20, kita tiba di ayat 9 dan menemukan sebuah perumpamaan nubuat, sebuah perumpamaan profetik mengenai pembunuhan Anak Allah.
Jika Anda mengikuti pembahasan kita dalam beberapa waktu terakhir tentang Injil Lukas, Anda tentu sudah sangat menyadari bahwa kita sekarang telah memasuki minggu terakhir dari kehidupan Tuhan kita sebelum kematian-Nya. Saat kita sampai pada bagian ini, ini adalah hari Rabu, Rabu dalam Minggu Sengsara. Pada hari Jumat Dia akan disalibkan. Pada hari Minggu, Dia akan bangkit kembali. Ini adalah hari Rabu.
Tuhan kita menghabiskan hari Rabu itu di area Bait Allah untuk mengajar tentang kebenaran Kerajaan Allah dan memberitakan Injil, seperti yang dikatakan dalam Lukas 20:1. Sehari sebelumnya, yaitu pada hari Selasa, Dia menyucikan Bait Allah. Dalam Lukas 19:45 dikatakan bahwa Dia “masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ, kata-Nya kepada mereka, "Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun,” atau gua penyamun.
Dia telah masuk ke kota pada hari Senin melalui peristiwa masuknya Dia dengan penuh kemenangan. Dia pergi ke Bait Allah pada akhir hari Senin, melihat apa yang sedang terjadi di sana, lalu kembali pada Selasa pagi, menyucikan Bait Allah, mengusir penjual-penjual yang beroperasi secara tidak sah di situ, yang telah menajiskan dan menghujat nama Allah serta rumah Allah. Setelah menyucikannya, Dia lalu mengambil alih, menjadikannya sebagai tempat untuk mengajar dan memberitakan firman-Nya. Dia juga menyembuhkan orang-orang lumpuh dan buta, serta terus mengajar tentang kebenaran Kerajaan dan memberitakan Injil.
Namun, tindakan-Nya mengusir para penoda Bait Allah, menghentikan kegiatan yang dijalankan di Bait Allah di bawah pengawasan para imam kepala dan imam besar, menjadi pukulan terakhir yang melampaui batas. Tindakan-Nya itu merupakan serangan final terhadap para pemimpin Yahudi, terhadap tatanan keagamaan Yahudi. Mereka sudah lama ingin Dia mati, sudah sejak waktu yang sangat lama. Semakin hari, mereka makin penuh dengan kebencian dan semakin bernafsu untuk mengakhiri hidup-Nya, dan tindakan ini membuat mereka benar-benar melampaui batas kesabaran mereka.
Yesus tahu itu akan terjadi. Dia melakukannya karena itu benar. Dia tahu bahwa tindakan itu akan mempercepat kematian-Nya pada hari Jumat, dan itu memang sesuai dengan rancangan ilahi, sebab Dia harus mati pada hari Jumat, hari di mana domba-domba Paskah disembelih, karena Dia akan mati sebagai satu-satunya kurban Paskah sejati untuk dosa. Tetapi saat itu masih dua hari lagi. Sekarang adalah hari Rabu, dan dalam satu tindakan terakhir yang penuh belas kasihan, simpati, kebaikan, dan anugerah, Tuhan kita menghabiskan hari itu, bahkan juga hari berikutnya, Kamis, dengan mengajar dan memberitakan Injil, membawa kabar keselamatan, pengampunan, dan hidup kekal kepada orang-orang.
Mereka mendengarka-Nyan. Mereka mendengarkan-Nya dengan penuh semangat. Mereka masih terbawa suasana sukacita dari peristiwa masuknya Dia ke Yerusalem dengan penuh kemenangan pada hari Senin. Mereka masih berharap bahwa Dia akan menjadi Raja dan Mesias yang dijanjikan, bahwa Dia akan menggenapi segala sesuatu yang dijanjikan kepada Abraham, kepada Daud, dan melalui para nabi sepanjang Perjanjian Lama. Mereka masih berharap bahwa Dia akan menjadi Sang Pembebas yang telah lama dinantikan, yang akan menghancurkan musuh-musuh mereka dan memimpin Israel menuju kejayaan terakhir dalam kerajaan yang mulia.
Dan memang mereka mendengarkan-Nya. Mereka mendengarkan-Nya dengan penuh perhatian. Para pemimpin juga mendengarkan. Mereka tidak melewatkan satu pun perkataan-Nya. Mereka berada di tengah-tengah atau di sekitar setiap kerumunan yang mendengar Dia berbicara. Mereka menginginkan Dia mati, dan mereka mencari-cari langkah untuk mewujudkan hal itu, meski tidak mudah. Pasal 19 berakhir dengan kata-kata ini, “Tiap-tiap hari Ia mengajar di dalam Bait Allah. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang terkemuka dari bangsa itu berusaha untuk membinasakan Dia, tetapi mereka tidak tahu, bagaimana harus melakukannya, sebab semua orang terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia.”
Mereka takut, seperti yang sudah kita pelajari sebelumnya, untuk mengambil posisi yang menentang Dia karena Dia begitu populer. Namun pada saat yang sama, mereka sangat ingin membunuh-Nya, sebab Dia mengancam teologi mereka, agama mereka, dan juga kerajaan finansial mereka.
Jadi, ketika Yesus sedang berbicara kepada orang banyak, sesungguhnya Dia sedang berbicara kepada mereka tentang para pemimpin melalui perumpamaan yang ada di hadapan kita ini. Perumpamaan yang kita jumpai di ayat 9 adalah salah satu dari tiga perumpamaan yang ditujukan kepada para pemimpin. Matius mencatat ketiganya, sedangkan Lukas hanya mencatat satu.
Sepanjang hari Rabu, sejak pagi-pagi sekali hingga sepanjang hari, Yesus berkeliling Bait Allah dan mengajar. Sangat mungkin Dia mengulangi perumpamaan ini beberapa kali dengan sedikit variasi. Catatan kitab Matius tentang perumpamaan ini pada dasarnya sama, hanya dengan beberapa perbedaan kecil. Catatan Markus tentang perumpamaan ini juga pada dasarnya sama dengan beberapa perbedaan kecil. Dan sangat mungkin bahwa saat Dia bergerak di tengah kerumunan orang banyak, Dia kembali menceritakan dan memperkenalkan tema-tema ini. Namun, tidak ada perbedaan yang mendasar dalam perumpamaan ini. Seperti yang sudah saya katakan, di dalam Injil Matius ada dua perumpamaan lain. Perumpamaan ini adalah yang kedua dari ketiganya. Dan kitab Lukas hanya memberikan satu perumpamaan ini saja.
Izinkan saya menceritakan kisah yang Yesus sampaikan, perumpamaan profetik yang dimulai di ayat 9. “Lalu Yesus menyampaikan perumpamaan ini kepada orang banyak, "Seseorang membuka kebun anggur; kemudian ia menyewakannya kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain untuk waktu yang agak lama. Ketika sudah tiba musimnya, ia menyuruh seorang hamba kepada penggarap-penggarap itu, supaya mereka menyerahkan sebagian dari hasil kebun anggur itu kepadanya. Tetapi penggarap-penggarap itu memukul hamba itu dan menyuruhnya pulang dengan tangan hampa. Sesudah itu, ia menyuruh seorang hamba yang lain, tetapi hamba itu juga dipukul dan dipermalukan oleh mereka, lalu disuruh pulang dengan tangan hampa. Selanjutnya ia menyuruh hamba yang ketiga, tetapi orang itu juga dilukai oleh mereka, lalu dilemparkan ke luar.’”
Kata tuan kebun anggur itu: Apakah yang harus kuperbuat? Aku akan mengutus anakku yang terkasih; tentu ia akan mereka segani. Tetapi ketika penggarap-penggarap itu melihat anaknya itu, mereka berunding, katanya: Inilah ahli warisnya, mari kita bunuh dia, supaya warisan ini menjadi milik kita. Lalu mereka melemparkan dia ke luar kebun anggur itu dan membunuhnya. Sekarang apa yang akan dilakukan oleh tuan kebun anggur itu terhadap mereka? Ia akan datang dan membinasakan penggarap-penggarap itu, dan mempercayakan kebun anggur itu kepada orang-orang lain.” Itulah kisahnya.
Nah, kalau kita lihat cerita ini dan perkataan Tuhan Yesus sesudahnya, kita akan diarahkan pada kematian Yesus yang sebentar lagi terjadi dan apa artinya bagi kita. Jadi, ini adalah perumpamaan yang sangat penting karena menunjuk ke depan, pada peristiwa yang akan segera terjadi. Perumpamaan ini juga sangat penting karena menunjuk ke belakang, ke seluruh sejarah Israel. Perumpamaan ini adalah kisah yang luas dan menyeluruh, diceritakan dengan bahasa yang sederhana, sebuah kisah yang memukau, sarat makna, aneh, dan mengejutkan sebagaimana Anda bisa merasakannya.
Nah, selagi kita membedah kisah ini, saya akan mengajak Anda melihat empat hal. Pertama, ilustrasi, yaitu kisah itu sendiri. Kedua, penjelasannya. Dan minggu depan kita akan melihat perluasan dan penerapannya. Tapi untuk memulainya, mari kita lihat ilustrasi dan penjelasannya.
Ayat 9 berkata, “Lalu Yesus menyampaikan perumpamaan ini kepada orang banyak.” Dia sedang berbicara kepada kerumunan besar yang sudah mengikuti-Nya sejak Dia masuk ke kota beberapa hari sebelumnya. Sekarang mereka berkumpul di sekitar Bait Allah. Dia berbicara kepada orang banyak itu, tapi di antara mereka juga ada para pemimpin Yahudi. Cerita ini ditujukan kepada orang banyak, tetapi juga terdengar jelas oleh para pemimpin. Dan yang paling penting, cerita ini sebenarnya adalah tentang para pemimpin itu.
Ceritanya sederhana dan gampang dipahami. “Ada seorang yang membuka kebun anggur.” Itu hal yang biasa di Israel. Dari sisi pertanian, tanah di Israel memang terbagi dua: tanah datar untuk menanam gandum, dan tanah perbukitan untuk kebun anggur. Di bukit-bukit itu mereka membuat terasering, membuang batu-batu, membuat tembok kecil, lalu menanaminya dengan pohon anggur. Sangat umum di sana.
Dalam catatan Matius tentang cerita ini — yang mungkin merupakan versi lebih lengkap, atau bisa juga cerita yang sama dengan detail yang sedikit berbeda yang Yesus ceritakan di kesempatan lain saat mengajar di Bait Allah — kita melihat betapa seriusnya upaya orang yang membuka kebun anggur itu. Matius menjelaskan bahwa orang itu membuat pagar di sekelilingnya, membangun alat pemeras anggur, bahkan mendirikan sebuah menara, supaya ada orang yang bisa berjaga dan mengawasi, sehingga kebun itu tidak diserang binatang liar atau musuh.
Jadi, itu benar-benar paket lengkap dalam menanam kebun anggur. Hal yang sangat akrab bagi mereka, hal yang biasa. Hampir semua lereng bukit di Israel — dan jumlahnya banyak — dipenuhi dengan kebun anggur seperti itu. “Kemudian ia menyewakannya kepada penggarap-penggarap.” Itu juga hal yang umum. Pemiliknya disebut tuan tanah yang tidak tinggal di situ. Dia punya tanahnya, tapi tidak menetap di sana. Sedangkan para penggarap ini adalah petani penyewa. Kita bisa menyebut mereka begitu, atau dalam istilah sekarang mungkin “petani kontrak.” Mereka tidak punya tanah, tapi punya keterampilan bertani. Jadi mereka menyewa tanah dari pemilik yang tidak tinggal di situ, dengan tujuan menghasilkan panen dan memberikan bagian tertentu sesuai kesepakatan kepada pemilik. Dengan begitu, mereka mendapat kesempatan bekerja di tanah itu sekaligus hasil dari jerih payah mereka.
Mereka sebenarnya sudah dapat yang paling baik. Mereka bebas mengolah tanah itu dengan cara mereka sendiri. Mereka bisa sekreatif yang mereka mau. Tidak ada orang yang terus mengawasi mereka. Ini kesempatan yang luar biasa. Ini juga hak istimewa sekaligus tanggung jawab besar. Mereka bisa bekerja keras, menghasilkan panen, lalu memberikan bagian yang sudah disepakati kepada pemilik, dan sisanya menjadi milik mereka.
Jadi tanpa harus membeli tanah, mereka bisa menikmati hasil terbaik, bekerja keras, dan hidup dengan sangat baik. Pemiliknya, seperti disebutkan di ayat 9, “berangkat ke negeri lain untuk waktu yang agak lama.” Lama sekali. Di zaman itu, semua perjalanan memang memakan waktu panjang. Jadi ini benar-benar waktu yang sangat lama, sampai-sampai dia tidak kembali lagi sejak pertama kali membuat kesepakatan dengan para penggarap itu hingga masa panen tiba.
Semua orang pasti bisa paham keadaan seperti itu. Ada banyak orang yang punya tanah, tapi mereka sendiri tidak tinggal di Israel, orang-orang Yahudi yang tinggal di tempat lain. Jadi ini situasi yang umum.
Lalu tibalah musim panen. Ayat 10 bilang, “Ketika sudah tiba musimnya, ia menyuruh seorang hamba kepada penggarap-penggarap itu.” Hamba ini (doulos) datang sebagai wakil resmi pemilik tanah, dengan tujuan jelas: supaya para penggarap memberikan bagian hasil kebun yang memang sudah disepakati. Itu sudah ada dalam perjanjian, pemilik setuju, para penggarap pun setuju.
Inilah saatnya sang pemilik tanah datang untuk mengambil bagian hasil panen yang memang menjadi haknya. Itu wajar, sudah saatnya dia menerima bagiannya. Tidak ada yang aneh, ini hal yang biasa. Bahkan sampai sekarang, di berbagai belahan dunia, sistem bagi hasil seperti ini masih ada, sudah berlangsung berabad-abad lamanya.
Yang tidak biasa justru reaksi para penggarap itu. Kembali ke ayat 10: “Tetapi penggarap-penggarap itu memukul hamba itu dan menyuruhnya pulang dengan tangan hampa.” Nah, inilah bagian yang mengejutkan dalam cerita ini. Hampir semua perumpamaan Tuhan punya momen seperti ini—momen yang bikin kaget, bikin marah, dan terasa sangat tidak masuk akal, bahkan jahat serta melanggar hukum. Para pendengar kisah ini tentu melihat tindakan itu sebagai perbuatan yang tidak tahu berterima kasih, jahat, kriminal dan ilegal.
Tidak membayar saja sudah melanggar hukum. Tetapi memukuli hamba itu dan mengusirnya dengan tangan kosong adalah tindakan kriminal. Kata “memukul” di sini kuat sekali, artinya bisa seperti dipukuli habis-habisan di seluruh tubuh, benar-benar disiksa. Dan dia dikembalikan tanpa membawa apa-apa. Ayat 11 menceritakan respon pemilik tanah: “Ia menyuruh seorang hamba yang lain, tetapi hamba itu juga dipukul dan dipermalukan oleh mereka”—kata dalam bahasa Yunani yang dipakai di sini menjadi asal kata Inggris traumatize—“lalu disuruh pulang dengan tangan hampa. Selanjutnya ia menyuruh hamba yang ketiga, tetapi orang itu juga dilukai oleh mereka, lalu dilemparkan ke luar.”
Dalam catatan Matius, diceritakan bahkan lebih banyak hamba lagi yang diutus; ada yang dibunuh, ada juga yang dilempari batu. Tingkah para penggarap ini benar-benar keterlaluan. Mereka sudah diberi kesempatan, sudah diberi kebebasan, sudah diberi hak istimewa untuk bisa hidup baik. Mereka bahkan sudah membuat janji dan kontrak. Tapi yang mereka tunjukkan justru sikap egois, penuh dendam, memberontak, dan berperilaku kriminal—sampai tega membunuh. Mereka adalah orang-orang jahat yang kejam dan tidak tahu hormat.
Luar biasanya, pemilik kebun anggur dalam cerita ini menunjukkan kesabaran yang luar biasa. Sebenarnya, setelah hamba pertama dipukuli dan dikirim kembali dengan tangan kosong, dia punya hak penuh untuk segera datang, memanggil pihak berwenang, dan menuntut keadilan serta balas dendam. Tapi dia tidak melakukan itu. Dia malah mengutus hamba yang kedua. Apa yang dilakukannya itu adalah tindakan penuh belas kasihan, penuh kebaikan, dan kesabaran. Tapi, para penggarap melakukan hal yang sama pada hamba kedua. Lalu pemilik itu mengutus hamba yang ketiga. Lagi-lagi, hasilnya sama. Pemilik ini benar-benar sangat sabar, memberikan kesempatan berulang kali supaya mereka melakukan yang benar, untuk menepati janji mereka, dan memenuhi apa yang sudah mereka sepakati.
Lalu di ayat 13, pemilik kebun itu bertanya, “Apakah yang harus kuperbuat?” Pertanyaannya terdengar aneh, bukan? Semua orang yang mendengar kisah itu pasti berpikir, “Sudah jelas! Balas dendam!” Bahkan sejak hamba pertama dipukuli, wajar kalau sang pemilik langsung menuntut balasan. Apalagi setelah hamba kedua dan ketiga. Kenapa sampai muncul pertanyaan seperti ini? Mengapa pemilik kebun seperti berbicara sendiri, seakan-akan bingung harus bagaimana? Sebenarnya tidak ada yang perlu dipertanyakan. Harusnya jelas apa yang dilakukan. Orang-orang yang mendengar kisah itu pasti langsung memihak sang pemilik kebun yang dirugikan. Dalam pikiran mereka, hanya ada satu pilihan: Balas! Balas dengan setimpal—mata ganti mata, gigi ganti gigi, nyawa ganti nyawa.
Tapi yang mengejutkan, pemilik itu kembali menunjukkan kesabaran. Dia memutuskan untuk mencoba sekali lagi. Di akhir ayat 13 dikatakan, “Aku akan mengutus anakku yang terkasih; tentu ia akan mereka segani.” Dalam catatan Matius tentang perumpamaan ini, tertulis, “Akhirnya ia menyuruh anaknya kepada mereka.” Itu berarti, langkah terakhir, yang paling berharga, dia mengutus putra tunggalnya yang dikasihi, dengan harapan para penggarap itu akan menghormatinya.
Kalimat itu sebenarnya hanya cara untuk mengatakan, “Ini yang seharusnya kuharapkan akan terjadi.” Mereka akan menunjukkan rasa hormat, kata aslinya entrepō, yang artinya merasa malu lalu akhirnya menghormati. Setelah semua tindakan memalukan yang sudah mereka lakukan sampai saat ini, wajar kalau sang pemilik berpikir, “paling tidak mereka akan memperlakukan anakku dengan benar.” Mungkin mereka punya pandangan rendah terhadap para hamba, sama seperti banyak orang dunia atau bangsa-bangsa lain yang melihat hamba seperti binatang. Jadi, pemilik itu berpikir wajar kalau kepada hamba mereka tidak hormat, setidaknya kepada anaknya mereka akan hormat.
Tapi lihat apa yang terjadi di ayat 14. “Ketika penggarap-penggarap itu melihat anaknya itu—” bahkan sebelum dia sempat berkata apa pun, karena memang tidak ada satu kata pun yang dicatat keluar dari mulutnya. Mereka melihatnya. Mereka tahu siapa dia. “Mereka berunding,” kata aslinya dialogizomai, artinya mereka berdialog, membicarakannya, dan inilah kesimpulan mereka: “Inilah ahli warisnya, mari kita bunuh dia, supaya warisan ini menjadi milik kita.” Ada perencanaan matang disitu. Mereka tahu betul siapa dia. Para penggarap itu benar-benar merencanakan pembunuhannya supaya mereka bisa menguasai dan memiliki semuanya. Mereka tidak mau dia ikut campur, mereka tidak mau dia mengambil apa pun yang sekarang mereka pikir sebagai milik mereka. Dan cara untuk mendapatkannya adalah dengan membunuh dia.
Mungkin saja ada orang yang mendengar cerita ini lalu membayangkan, mungkin mereka mengira ayahnya sudah mati. Itulah sebabnya ahli waris itu datang tanpa berkata apa-apa. Mereka mungkin mengasumsikan bahwa ketika sang anak muncul, berarti sang raja, pewaris, atau lebih tepatnya pemiliknya—sudah menyerahkan kebun anggur kepada anaknya. Jadi yang perlu mereka lakukan hanyalah membunuh sang anak, dan tanah itu otomatis jadi milik mereka.
Menurut Talmud, kalau tanah tidak diurus atau tidak ada klaim selama tiga tahun, maka tanah itu akan menjadi milik orang yang sedang menggarapnya. Jadi kalau mereka menyingkirkan anak itu, dengan anggapan bahwa sang ayah sudah mati, maka kebun itu akan jadi milik mereka sepenuhnya. Mereka memang ingin warisan itu menjadi milik mereka sepenuhnya. Mereka tidak mau sang anak punya kendali, punya otoritas, atau menuntut apa pun dari mereka.
Mereka langsung melakukan apa yang sudah mereka rencanakan. Ayat 15 berkata, “Mereka melemparkan dia ke luar kebun anggur itu dan membunuhnya.” Cerita yang mengejutkan, seperti banyak perumpamaan Tuhan kita—tanggapan yang mengejutkan, sengaja dibuat untuk menimbulkan rasa marah, untuk membuat pendengar merasa geram terhadap para penggarap kebun itu. Ini sesuatu yang tidak bisa diterima oleh orang-orang yang taat hukum, orang-orang yang merasa dirinya religius, yang merasa menyembah Allah, yang berusaha melakukan yang benar. Ini hal yang keterlaluan. Perilaku ini seperti orang kafir. Karena itu mereka otomatis berpihak penuh kepada sang pemilik tanah, dan marah besar terhadap para penggarap kebun itu.
Lalu di akhir ayat 15 ada pertanyaan: “ekarang apa yang akan dilakukan oleh tuan kebun anggur itu terhadap mereka?” Yesus sengaja melemparkan pertanyaan ini untuk menarik mereka lebih dalam. Apa yang akan dilakukan pemilik itu? Pemiliknya tidak mati. Dia masih hidup. Lalu apa yang akan Dia lakukan? Yesus meminta para pendengar-Nya untuk melengkapi perumpamaan itu sendiri.
Perhatikan di ayat 16 dikatakan, “Ia akan datang dan membinasakan penggarap-penggarap itu, dan mempercayakan kebun anggur itu kepada orang-orang lain.” Dari situ tampaknya Yesus yang langsung menjawab pertanyaan itu sendiri, tidak memberi kesempatan orang-orang untuk menjawab. Tetapi kalau kita lihat catatan Matius, kita menemukan detail tambahan yang penting. Seperti yang sering saya katakan, gambaran lengkap dari kisah-kisah ini bisa kita dapatkan dari gabungan catatan perumpamaan di Injil yang berbeda. Dengarkan apa yang ditambahkan Matius dalam ceritanya, ini sangat membantu. Matius 21:41 mencatat, “Kata mereka kepada-Nya”—“mereka” maksudnya orang banyak yang mendengar cerita itu—ketika Ia bertanya, “‘Jadi, apakah yang akan dilakukan oleh pemilik kebun anggur itu dengan penggarap-penggarap itu?’ Mereka menjawab, ‘Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu.’”
Tentu saja, itu bukan hal yang sulit ditebak. Memang itulah yang seharusnya dilakukan. Tetapi yang penting untuk dicatat adalah bahwa orang banyak setuju dengan hal itu. Mereka berkata kepada-Nya, “Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu.” Lalu mereka juga berkata, “Dan kebun anggurnya akan disewakannya kepada penggarap-penggarap lain, yang akan menyerahkan hasilnya kepadanya pada waktunya.” Itu kesimpulan orang banyak. Itu keputusan yang mereka ambil.
Ya, ada dua hal: Dia akan membinasakan mereka, dan dia akan menyerahkan tanah itu kepada orang lain untuk merawatnya. Itu satu-satunya jawaban yang masuk akal. Itu satu-satunya jawaban yang wajar. Dan itulah tepatnya yang dikatakan orang banyak. Tuhan kita menegaskannya di ayat 16, “Ya, Ia akan datang dan membinasakan penggarap-penggarap itu, dan mempercayakan kebun anggur itu kepada orang-orang lain.” Betul sekali. Semua orang tahu itu. Jelas, kalau orang-orang jahat itu sudah dibinasakan, kebunnya harus diberikan kepada orang lain untuk merawatnya. Itu adalah penghakiman yang pantas, dan tidak ada yang akan membantahnya. Itulah yang dikatakan orang banyak: “Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu dan memberikan tanahnya kepada orang lain.” Mereka benar sekali. Dan sekarang, mereka sudah masuk ke dalam cerita itu. Mereka terlibat di dalamnya
Apa penjelasannya? Apa arti cerita ini? Tadi kita sudah lihat ilustrasinya, sekarang dengarkan penjelasannya. Paruh kedua ayat 16 berkata, “Mendengar itu mereka berkata, ‘Sekali-kali jangan!’” Menarik, bukan? Maksudnya bagaimana? Orang banyak yang baru saja mendengar cerita itu berkata, “Jangan sampai itu terjadi.” Dalam bahasa Yunani dipakai kata mē genoito, yang artinya penolakan paling kuat dalam bahasa Yunani. Bisa diterjemahkan: “Tidak! Tidak mungkin! Mustahil! Tidak akan pernah terjadi!”
Kalau tadi mereka berkata, “Ia akan membinasakan para penggarap itu dan memberikan kebun anggur kepada orang lain,” lalu kenapa mereka langsung berkata, “Tidak, tidak, jangan sampai terjadi. Itu tidak mungkin”? Saya kasih tahu alasannya. Karena mereka mulai mengerti maksud sebenarnya. Perhatikan kalimat di akhir ayat 16, “Ketika mereka mendengarnya...” Kata mendengar di situ berasal dari kata Yunani akouō yang menjadi asal kata “akustik”. Artinya bukan cuma sekadar mendengar dengan telinga, tapi juga memahami, menangkap maksudnya, atau menyadari artinya.
Sebagai contoh, dalam Wahyu pasal 2 dan 3 ada satu frasa yang terus diulang, “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat.” Kalimat itu muncul berulang-ulang, “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat.” Ini bukan sekadar bicara tentang mendengar bunyi atau kata-kata, tetapi tentang menangkap maksud dan pesannya. Itulah cara kata akouō dipakai di seluruh Perjanjian Baru—mendengar dalam arti memahami.
Mereka berkata, “Bunuh para penggarap itu dan ganti dengan penggarap yang lain.” Lalu mereka mulai menyadarinya—entah karena ceritanya memang begitu jelas sehingga pencerahannya datang seketika, atau karena Yesus menjelaskannya kepada mereka—tapi mereka mengerti. Dan begitu mereka paham, mereka langsung berkata, “Tidak, tidak, tidak, tidak. Tidak bisa. Tidak boleh. Tidak mungkin itu terjadi. Kita tidak boleh membunuh orang-orang itu, dan kita tidak boleh mengambil kebun anggur itu dari mereka. Itu tidak boleh terjadi.” Mereka mengerti maksud ceritanya, mereka menangkap pesannya, lalu mereka panik.
Apa yang mereka pahami? Saya akan jelaskan. Coba kita lihat lagi cerita ini dan lihat apa yang mereka pahami. “Ada seorang yang menanam kebun anggur.” Orang itu adalah Allah. Kebun anggurnya adalah Israel. Jelas, ini berbicara tentang Allah yang mendirikan Israel. Pencipta dan pemilik Israel adalah Allah. Israel adalah umat-Nya, yang dipilih, yang terpilih, yang lahir dari keturunan Abraham, diteruskan melalui para leluhur, berkembang menjadi suatu bangsa, dan dipulihkan dari perbudakan di Mesir. Inilah Israel. Bahkan dalam Yesaya 5, tujuh ayat pembukaan yang indah dari nubuat Yesaya, Yesaya berkata, “Allah menanam kebun anggur,” dan ia menjawab pertanyaan siapa kebun anggur itu? Kebun anggur itulah kaum Israel, Yesaya 5:7.
Penanaman bangsa Israel oleh Allah dijelaskan dengan rinci. Allah menanam mereka "di atas bukit yang subur," tanah Kanaan yang indah. Dia menanam pohon anggur pilihan, artinya bangsa Yahudi berasal dari keturunan yang mulia. Dia memberi pagar pelindung, membuat parit di sekeliling mereka, pagar tanaman di sekeliling mereka, bahkan juga tempat pemerasan anggur yang melambangkan sistem kurban. Allah sudah melakukan semua yang terbaik dan berhak berharap hasil anggur yang baik. Tetapi yang Dia dapat justru beushim, buah yang asam.
Allah sudah melakukan segala yang Dia bisa dalam menanam Israel supaya menghasilkan panen yang baik. Tetapi Dia sama sekali tidak mendapat apa-apa. Yesaya mengatakan bahwa Allah akan menginjak-injak kebun anggur-Nya, dan hujan tidak akan turun di atasnya. Kebun itu akan hancur dan kering. Yesaya sedang menggambarkan Israel yang murtad, tidak setia, tidak taat, memberontak, dan menghujat, yang sebentar lagi akan dibawa ke pembuangan oleh bangsa Babel pada tahun 586.
Di sini kita kembali melihat bahasa yang sangat mirip dengan Yesaya 5, dan Yesus berkata, “Tidak ada yang berubah.” Tidak ada yang berubah. Israel adalah kebun anggur Allah, ditanam dengan segala perlengkapannya seperti yang ditulis oleh Matius: tempat pemerasan anggur, menara penjaga, pagar perlindungan, semuanya lengkap. Allah sendiri yang menanam Israel. Gambaran ini juga ada di Mazmur 80:8-16, di mana Allah menyamakan Israel dengan kebun anggur, dan juga di Yeremia 2:21. Gambaran ini sangat dikenal oleh orang Israel. Mereka tahu betul tentang pembuangan ke Babel, mereka juga sangat mengenal bagian kitab Yesaya itu, karena diikuti langsung dengan muncul penglihatan besar Yesaya 6 tentang Allah.
Tapi siapa sebenarnya para penggarap kebun anggur itu? Allah yang menanam kebun anggur. Lalu siapa penggarapnya? Mereka adalah orang-orang yang Allah tugaskan untuk merawat kebun anggur-Nya, yaitu bangsa-Nya. Siapa mereka? Para pemimpin agama, yang bertanggung jawab menuntun umat berjalan dalam jalan Allah, menuntun mereka pada ketaatan dan ibadah sejati, orang-orang yang dipercayakan untuk menjaga bangsa itu. Mereka bukan pemilik, hanya pengelola atas milik Allah. Allah sendirilah yang memiliki bangsa-Nya. Mereka hanyalah orang-orang yang diberi tanggung jawab untuk memimpin secara rohani. Itu termasuk raja-raja, terutama para imam, bahkan juga beberapa nabi palsu yang mengangkat dirinya sendiri—pokoknya semua yang bertanggung jawab atas kesejahteraan rohani Israel, terutama kaum imam.
Jadi Allah membentuk bangsa-Nya dari keturunan Abraham. Allah menyerahkannya ke tangan para imam dan beberapa pemimpin: orang-orang saleh, tua-tua, dan orang bijaksana. Lalu Allah “pergi jauh” untuk waktu yang lama. Apa maksudnya? Itu adalah dua ribu tahun sejarah Perjanjian Lama. Dua ribu tahun sejarah Perjanjian Lama.
Sampai akhirnya Allah memutuskan, pada waktu-waktu tertentu, untuk mengutus hamba-hamba-Nya agar mengambil hasil panen-Nya. Dia tetap “jauh,” dan tidak benar-benar datang kembali sampai Dia datang dalam rupa Anak-Nya. Perjalanan panjang itu menggambarkan sejarah Perjanjian Lama. Allah menyerahkan tanggung jawab bangsa-Nya kepada para pemimpin rohani dan agama Israel: raja-raja dan imam-imam, sejak zaman para leluhur, dimulai dari Abraham. Pada zaman Yesus, yang memegang tanggung jawab itu adalah imam besar, para imam kepala, ahli Taurat, orang Farisi, orang Saduki, tua-tua, dan para pemimpin. Mereka semua diberi tugas untuk mengurus kehidupan rohani bangsa itu.
Ayat 10, dalam bahasa Yunani secara harfiah berbunyi, “Pada waktu itu, pada waktu yang sudah ditentukan, pada saat yang tepat.” Bisa juga disebut “musim panen,” seperti yang ditulis dalam alkitab versi NAS, “Pada musim yang tepat dalam sejarah Israel, Allah mengutus hamba-hamba-Nya.” Siapa mereka? Para nabi, nabi sejati, nabi Perjanjian Lama, yang diutus kepada Israel untuk menyampaikan Hukum Allah, membawa bangsa itu kembali kepada Hukum Allah, kepada ketaatan, dan kepada hidup yang benar. Para nabi datang untuk memanggil bangsa itu agar menghasilkan buah rohani bagi hormat dan kemuliaan Allah.
Dari Musa sampai Yohanes Pembaptis, semuanya punya tanggung jawab yang sama. Mereka memanggil umat untuk hidup menurut hukum Allah, mengasihi Allah, bertobat dari dosa, berbalik kepada Allah, berseru kepada-Nya untuk pengampunan dan keselamatan, serta taat kepada hukum-Nya. Itulah pesan dan pelayanan semua nabi yang sejati. Mereka diutus Allah untuk membuat bangsa ini meninggalkan dosa dan kembali kepada Allah yang benar. Mereka diutus untuk membawa bangsa ini kembali kepada hukum Allah, kepada kekudusan, kepada pertobatan sejati, dan kepada pengejaran akan hidup benar. Ada banyak dari mereka sepanjang lebih dari dua ribu tahun sejarah, dari Musa hingga Yohanes Pembaptis.
Lalu bagaimana mereka diperlakukan? Menurut kisah ini, mereka dianiaya. Mereka dipukul. Mereka dipermalukan. Mereka dilukai. Mereka diusir. Bahkan, memakai semua istilahnya: mereka dibunuh. Mereka dilempari batu. Sejarah Israel adalah sejarah kemurtadan, penyimpangan, dan pemberontakan rohani. Sejarah Israel adalah sejarah nabi-nabi yang datang untuk memanggil Israel kembali, tetapi ditolak, disakiti, dihina, dianiaya, dan dibunuh.
Justin Martyr, dalam dialognya dengan Trypho, menuduh orang Yahudi telah menggergaji Nabi Yesaya menjadi dua dengan gergaji kayu. Dialah yang disebut dalam Ibrani 11:37 sebagai orang yang digergaji. Yeremia terus-menerus diperlakukan dengan kasar, dilemparkan ke dalam sumur, dan menurut cerita tradisi, orang Yahudi merajam dia sampai mati. Yehezkiel juga menghadapi kebencian dan permusuhan yang sama. Amos harus lari demi menyelamatkan nyawanya. Zakharia ditolak dan dirajam, dan Mikha ditinju wajahnya.
Seorang penulis mengatakan, “Permusuhan yang sama dari raja-raja, imam, dan umat terhadap para nabi adalah salah satu ciri paling mencolok dalam sejarah orang Yahudi. Besarnya permusuhan itu berbeda-beda dan muncul dalam berbagai cara, secara umum semakin meningkat, tetapi selalu ada. Sedalam apa pun penyesalan orang Yahudi atas berakhirnya masa para nabi setelah kematian Maleakhi, selama mereka masih memiliki para nabi, mereka pada umumnya justru menentang mereka. Sampai karunia itu ditarik kembali, mereka seakan tidak punya kebanggaan atas anugerah luar biasa yang diberikan kepada bangsa itu, juga tidak punya penghargaan atau rasa syukur atasnya.”
Anda tentu ingat, orang Farisi dan ahli Taurat pernah berkata kepada Yesus, “Kalau kami hidup pada zaman nenek moyang kami yang menganiaya para nabi, kami tidak akan melakukan itu.” Nah, Saat Yesus datang, sudah 400 tahun berlalu tanpa ada nabi. Mereka merasa seolah-olah tidak akan pernah melakukan kepada para nabi seperti yang dilakukan oleh nenek moyang mereka. Mereka bahkan berpikir kalau ada nabi di zaman mereka, mereka tidak akan menganiaya mereka. Tetapi itu hanyalah angan-angan, karena justru merekalah yang begitu bernafsu untuk membunuh bukan hanya nabi-nabi, melainkan Anak itu sendiri.
Untuk memahami hal ini, Anda bisa kembali ke Yeremia pasal 7. Saya ingin menunjukkan kepada Anda, tanpa harus membahas setiap kisah tentang setiap nabi, hanya komentar umum dari Allah tentang masalah ini. Yeremia 7:23. Yeremia 7:23. Ada beberapa ayat di sini yang menegaskan hal itu. Yeremia 7:23, “Inilah yang telah Kuperintahkan kepada mereka: Dengarkanlah suara-Ku, maka Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku, dan ikutilah seluruh jalan yang Kuperintahkan kepadamu, supaya baik keadaanmu! Namun, mereka tidak mau mendengarkan dan mengarahkan telinganya, melainkan mengikuti rancangan-rancangan dan kedegilan hatinya yang jahat, dan mereka memperlihatkan punggungnya dan bukan mukanya.”
Dengarkan ini. Ayat 25, “Sejak waktu nenek moyangmu keluar dari tanah Mesir sampai hari ini, Aku mengutus kepada para nabi - ” Itulah mereka, para hamba itu, dan para hamba itu adalah nabi-nabi. “ - hari demi hari, terus-menerus. Akan tetapi, mereka tidak mau mendengarkan Aku atau mengarahkan telinganya. Bahkan mereka menegarkan tengkuknya, berbuat lebih jahat dari pada nenek moyang mereka.” Keadaannya justru semakin memburuk, bahkan ketika Allah mengutus para nabi-Nya.
Yeremia 25:4, “TUHAN terus-menerus mengutus kepadamu semua hamba-Nya, para nabi, tetapi kamu tidak mau mengarahkan telinga untuk mendengarkannya. Kata mereka: Bertobatlah kamu masing-masing dari tingkah langkahmu yang jahat dan dari perbuatan-perbuatanmu yang jahat, supaya kamu tetap tinggal di tanah yang diberikan TUHAN kepadamu dan kepada nenek moyangmu dari dahulu kala sampai selama-lamanya. Jangan mengikuti ilah lain dengan beribadah dan sujud menyembahnya. Janganlah membangkitkan murka-Ku dengan buatan tanganmu, supaya Aku tidak mendatangkan malapetaka atasmu.’” Itulah pesan yang diberikan para nabi, dan mereka menyampaikannya berulang-ulang, berkali-kali, terus-menerus. Ayat 7, “Akan tetapi, kamu tidak mendengarkan Aku, demikianlah firman TUHAN, sehingga kamu membangkitkan murka-Ku dengan buatan tanganmu untuk kemalanganmu sendiri.’” Lalu Dia melanjutkan dengan menyatakan hukuman dan kehancuran di tangan Nebukadnezar dan orang Babel, ayat 11, “Seluruh negeri ini akan menjadi reruntuhan dan menjadi sunyi sepi. Bangsa-bangsa ini akan menjadi hamba raja Babel selama tujuh puluh tahun.” Pembuangan ke Babel adalah hukuman Allah atas umat-Nya yang memberontak, murtad, tidak taat, dan menolak untuk mendengarkan para nabi.
Mari kita lihat Matius pasal 23 dalam Perjanjian Baru, salah satu pasal yang paling penting. Wawasan ini akan menolong Anda memahami betapa terkenalnya sejarah pembunuhan para nabi di kalangan orang Yahudi. Matius 23, ini perkataan Yesus melawan para pemimpin, ayat 29: “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu membangun makam nabi-nabi dan memperindah tugu orang-orang saleh.” Itulah bagian dari kemunafikan mereka. Mereka munafik dalam segala hal. Salah satu tindakan munafik mereka adalah berpura-pura menghormati nabi-nabi yang sebenarnya telah dibenci, dianiaya, disakiti, dan dibunuh oleh nenek moyang mereka. Mereka mencoba memperindah tugu peringatan para nabi, seakan-akan mereka berbeda, lebih baik, dan tidak akan pernah melakukan hal itu terhadap nabi sejati. Jadi mereka membangun makam-makam yang lebih megah untuk menghormati nabi-nabi, memperindah tugu orang-orang saleh.
Dan mereka berkata - ” ayat 30 “ - Jika kami hidup di zaman nenek moyang kita, tentulah kami tidak ikut dengan mereka dalam pembunuhan nabi-nabi itu,” seperti yang saya katakan beberapa saat lalu. Mereka ingin menampilkan diri seolah-olah mereka lebih baik daripada nenek moyang mereka. Padahal nenek moyang mereka sudah sangat dikenal telah membunuh para nabi.
Tetapi Yesus tidak melihat mereka seperti itu. Ayat 33, “Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular berbisa! Bagaimanakah mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka? Karena itu, lihatlah, Aku mengutus kepadamu nabi-nabi, orang-orang bijaksana dan ahli-ahli Taurat: Sebagian dari mereka akan kamu bunuh dan kamu salibkan, yang lain akan kamu cambuk di rumah-rumah ibadatmu dan kamu aniaya dari kota ke kota.” Yesus sedang berkata, “Kamu tidak berbeda, karena begitu para rasul-Ku pergi memberitakan Injil, kamu akan melakukan hal yang sama kepada mereka seperti yang dilakukan oleh nenek moyangmu terhadap para nabi dahulu. Kamu akan menganiaya mereka. Kamu akan membunuh mereka.” Dan memang itulah yang terjadi. Semua rasul, kecuali Yohanes, mati sebagai martir. Pembantaian itu benar-benar terjadi.
Ayat 35 mengatakan, “Supaya kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel, orang benar itu, sampai kepada Zakharia anak Berekhya, yang kamu bunuh di antara tempat kudus dan mezbah.” Seberapa murtadkah mereka? Mereka membunuh nabi terakhir yang mereka bunuh di dalam bait Allah, tepat di antara mezbah dan Ruang Kudus.
“O Yerusalem, Yerusalem - ” ayat 37 kata Yesus “ - engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu!” Itulah sejarahnya. Itulah sejarah Israel: murtad, tidak taat, tidak percaya, memberontak, penuh penyembahan berhala, menghujat, dan membunuh para nabi.
Dalam Lukas 6:22-23, Tuhan kita memberikan ucapan bahagia, dan salah satunya adalah, “Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu” (Lukas 6:22). “Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat.” Yesus mengatakan itu karena Dia tahu itulah yang akan dialami generasi pertama orang percaya Yahudi di tangan para pemimpin Yahudi. Dia tahu itu. Lalu di ayat 23 Dia berkata, “Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di surga; karena demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi.” Tidak ada yang baru. Sama saja.
Dalam Lukas pasal 11, lagi di ayat 49, “Karena itu, hikmat Allah berkata: Aku akan mengutus kepada mereka nabi-nabi dan rasul-rasul dan sebagian dari antara nabi-nabi dan rasul-rasul itu akan mereka bunuh dan mereka aniaya, supaya dari orang-orang zaman ini dituntut darah semua nabi yang telah tertumpah sejak dunia dijadikan, mulai dari darah Habel sampai kepada darah Zakharia yang dibunuh di antara mezbah dan Rumah Allah. Bahkan, Aku berkata kepadamu: Semuanya itu akan dituntut dari orang-orang zaman ini —” atau dari bangsa ini.
Inilah bangsa itu sepanjang sejarahnya, sejarah panjang zaman Perjanjian Lama. Inilah bangsa yang menganiaya, menolak, dan membunuh para utusan, para hamba yang Allah kirim untuk menuntut hak-Nya atas buah anggur yang baik dari kebun yang telah Dia tanam.
Dalam Lukas pasal 13—Anda tentu ingat ini karena belum lama kita membahasnya—ada bahasa yang sama lagi. Lukas 13:34, “Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu!” Sama seperti yang dikatakan di Matius 23. “Inilah yang kamu lakukan.” Lalu Stefanus, dalam Kisah Para Rasul 7, martir Kristen pertama, sedang berkhotbah. Dengarkan apa yang dia katakan dalam Kisah 7:51, “Hai orang-orang yang keras kepala, yang keras hati dan tuli, kamu selalu menentang Roh Kudus, sama seperti nenek moyangmu, demikian juga kamu.” Dia berkhotbah kepada orang Yahudi di Yerusalem. “Nabi manakah yang tidak dianiaya oleh nenek moyangmu?” Luar biasa. Stefanus bertanya, “Siapa dari nabi-nabi yang tidak dianiaya oleh nenek moyangmu? Bahkan mereka membunuh orang-orang yang lebih dahulu memberitakan kedatangan Orang Benar, yang sekarang telah kamu khianati dan bunuh.”
Kalian telah membunuh para nabi yang memberitakan kedatangan Yang Benar, dan sekarang kalian telah membunuh Dia yang benar itu sendiri. “Ketika anggota-anggota Mahkamah Agama itu mendengar semuanya itu, hati mereka sangat tertusuk. Mereka menyambutnya dengan kertak gigi,” dan mereka merajam dia sampai mati, dan dia pun meninggal. Saulus menyetujui perbuatan itu, lalu dengan napas penuh ancaman dan niat pembunuhan, dia mengamuk terhadap jemaat, melakukan pembunuhan besar-besaran pada generasi pertama, sambil merasa bahwa dia sedang membela Yudaisme. Beginilah keadaannya sejak dulu.
Allah itu sabar. Satu nabi datang, lalu nabi lain, lalu nabi lain lagi, dan seterusnya—tetapi selalu mendapat perlakuan yang sama, perlakuan yang sama. Akhirnya, dalam penafsiran kisah itu, kita kembali ke Lukas 20. Pemilik kebun itu mengajukan pertanyaan yang sangat penting: “Apakah yang harus kuperbuat?” Ayat 13, “Aku akan mengutus anakku yang terkasih; tentu ia akan mereka segani.” Itu jelas sekali, bukan? Itu tidak bisa disalahpahami. Allah mengutus Anak-Nya yang terkasih. Lukas 3:22, Allah berkata saat baptisan Yesus, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi.” Matius 17:5, Allah berkata saat Yesus dimuliakan, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi.” Dalam catatan Markus tentang perumpamaan ini, ditulis, “Ia masih punya satu orang yang dapat diutusnya, seorang anak yang dikasihinya.” Yohanes 3:16, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal.”
Dia ini berbeda dari semua utusan lainnya. Dia bukan seorang hamba, Dia adalah Sang Anak. Dan Allah hanya memiliki satu Anak. Dialah utusan terakhir dalam garis para nabi Perjanjian Lama, Nabi di atas segala nabi. Dialah ahli waris dari segala sesuatu yang Allah miliki. Dialah yang memiliki seluruh otoritas ilahi, dan semua hak ilahi untuk ditaati dan dihormati, sekaligus hak ilahi untuk menghakimi. Mereka seharusnya menghormati-Nya. Mereka seharusnya menaruh rasa hormat kepada-Nya. Mereka seharusnya gentar di hadapan-Nya setelah segala yang mereka lakukan terhadap para nabi yang telah menubuatkan kedatangan-Nya.
Dan ini bukan soal mereka tidak tahu siapa Dia. Perhatikan baik-baik kisahnya: “Ketika para penggarap kebun anggur itu melihat Dia.” Seluruh hidup Yesus dipenuhi dengan bukti tanpa henti bahwa Dia sungguh Anak Allah, sang Mesias. Itu sangat jelas, tidak dapat disangkal. Dan para penggarap itu berkata, “Inilah ahli waris itu.” Ini benar-benar suatu perkataan yang mengejutkan—mereka tahu persis siapa Dia.
Mereka tahu apa yang menjadi klaim-Nya. Mereka tahu Dia membuktikan klaim itu dengan kuasa atas penyakit, kuasa atas kematian, kuasa atas roh-roh jahat. Mereka tahu kuasa mujizat-Nya. Mereka tahu tidak ada penjelasan lain tentang Dia selain bahwa Dia ilahi. Lalu, mengapa mereka tidak percaya? Dengarkan ini, Yohanes 12:42: “Namun banyak juga di antara pemimpin yang percaya kepada-Nya, tetapi oleh karena orang-orang Farisi mereka tidak mengakuinya berterus terang, supaya mereka jangan dikucilkan. Sebab mereka lebih menyukai kehormatan manusia daripada kehormatan Allah.”
Jadi, ini tidak pernah soal bukti. Tidak pernah. Mereka bahkan berkata, “Kami tahu bahwa Engkau berkata benar dari Allah.” Mereka tidak pernah memperdebatkan mujizat-mujizat-Nya. Tidak pernah sekalipun mereka menyangkal satu pun mujizat. Masalahnya, untuk percaya kepada-Nya adalah hal yang tidak bisa diterima karena mereka lebih mencintai agama mereka sendiri dan pujian yang datang darinya daripada mengasihi Allah. Itu bukan masalah kepala, tetapi masalah hati. Dialah Mesias. Dialah Anak Allah yang tunggal dan yang dikasihi.
Jadi Yesus dalam cerita itu, ketika orang banyak mulai menyadarinya, sedang memberitahu para pembunuh-Nya sendiri bahwa Dia tahu persis apa yang akan mereka lakukan dalam dua hari ke depan. Mereka akan membunuh Dia. Mereka akan membunuh Dia karena mereka menginginkan kendali atas warisan itu, “supaya warisan itu menjadi milik mereka.” Kendali atas sistem keagamaan. Kendali atas versi mereka sendiri tentang Kerajaan Allah.
Mereka ingin membakar orang-orang yang sesat. Hal ini terjadi di sepanjang sejarah Kristen oleh mereka yang menganggap diri mereka sebagai pengurus kerajaan Allah yang mengangkat dirinya sendiri. Mereka menginginkan kendali. Mereka ingin dunia sinagoga dan dunia bait suci tetap seperti adanya, dan Yesus menjadi masalah yang nyata. Mari kita bunuh Dia supaya kita bisa mempertahankan agama kita.
Bunuh Dia. Apa maksudnya? Artinya adalah penyaliban dalam dua hari. Mereka sudah merencanakannya sejak lama. Mereka akan melakukannya dengan cepat. Disitu juga tertulis, “Mereka melemparkan dia ke luar kebun anggur itu dan membunuhnya.” “Melemparkan Dia dari kebun anggur,” apa yang digambarkan oleh ayat itu? Penolakan total, mengusir Dia dari bangsa mereka sebagai seorang buangan. Beberapa orang bahkan melihat petunjuk bahwa Dia disalibkan di luar kota, yang kemungkinan mereka lakukan untuk melambangkan bahwa Dia telah ditolak oleh bangsa itu. Dia mati di luar kota.
Inilah sejarah mereka. Ini sejarah yang luas. Dan ketika orang banyak mengerti itu, mereka menyadari apa yang baru saja mereka ucapkan. “Hancurkan para penggarap kebun anggur yang celaka itu, dan berikan kebun anggur itu kepada orang lain.” Apa yang baru saja kita katakan? Kita baru saja mengutuk agama kita sendiri dan bangsa kita sendiri. Itulah sebabnya mereka bereaksi pada akhir ayat 16, “Jangan! Tidak, tidak, tidak, tidak. Kami menariknya kembali. Kami menariknya kembali. Kami menarik perkataan kami kembali. Seharusnya kami tidak pernah mengatakannya. Seharusnya kami tidak pernah mengatakannya.”
Lalu, membinasakan? Apa maksudnya? Ayat 16, “Ia akan datang dan membinasakan penggarap-penggarap itu.” Itulah penghakiman ilahi, yang sudah dinubuatkan. Lukas 13:35, “Sesungguhnya rumahmu ini akan ditinggalkan.” Kembali ke Lukas 19:42. “Alangkah baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu. Sebab akan datang harinya, ketika musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan. Mereka akan membinasakan engkau beserta dengan penduduk yang ada padamu, dan mereka tidak akan membiarkan satu batu pun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat ketika Allah datang untuk menyelamatkan engkau.” Saat ketika Anak Allah datang melawat engkau.
Kehancuran, ini adalah nubuat tentang kehancuran Yerusalem pada tahun 70 M oleh orang Romawi. Puluhan ribu, mungkin ratusan ribu, orang Yahudi dibantai dan kota serta bait suci diratakan sampai ke tanah. Sejak saat itu, tidak pernah lagi ada imamat di Israel, tidak ada bait suci, tidak ada korban, tidak ada upacara, tidak ada Saduki, tidak ada Farisi, tidak ada imam kepala, tidak ada imam besar — seluruh sistem itu berakhir dan tidak pernah dipulihkan. Orang-orang mengerti kisah itu dan mereka panik. Inilah kehancuran para pemimpin kami, inilah penggusuran kami dari tempat yang diberkati.
Tidak butuh waktu lama. Hanya dalam beberapa hari, orang-orang yang di sini merasa ngeri dan berkata, “Tidak, tidak, tidak, tidak, tidak—tidak, tidak, kami ingin Engkau menjadi Raja kami. Kami tidak ingin Engkau melakukan ini. Kami tidak akan pernah membunuh Anak itu. Kami tidak akan pernah membunuh Anak itu. Kami ingin Engkau menjadi Mesias kami.” Orang-orang yang sama, yang pada dasarnya berkata demikian, akan segera berseru, “Salibkan Dia, salibkan Dia, salibkan Dia.” Dan bangsa itu akan mengikuti para pemimpinnya masuk ke dalam penghakiman, ke dalam kehancuran, dan ke dalam neraka.
Dan ada satu unsur lain. “Ia mempercayakan kebun anggur itu kepada orang-orang lain.” Siapakah orang-orang lain itu? Itu untuk minggu depan. Dan itulah puncak dari kisah ini. Itulah klimaks dari cerita ini. Sungguh luar biasa.
Anda berkata, “Tunggu dulu, itu kan gereja.” Tidak sesederhana itu. Kalau memang sesederhana itu, saya sudah mengatakannya. Tetapi ada hal yang jauh lebih besar, dan itu sungguh kebenaran yang dahsyat. Tapi itu untuk minggu depan.
Sekarang bagaimana kita memahami semua ini bersama-sama? Sebenarnya cukup mudah. Konsekuensinya bersifat kekal bagi siapa saja yang menolak Yesus Kristus—baik orang Yahudi di zaman-Nya, atau Yahudi dan non-Yahudi di zaman ini, atau di zaman mana pun sejak saat itu sampai seterusnya. Anda hanya punya dua pilihan: mengasihi Tuhan Yesus Kristus atau Anda terkutuk.
Anda hanya bisa mengakui Dia sebagai Anak Allah, satu-satunya Juruselamat, dan menaruh iman serta percaya kepada-Nya, atau Anda binasa dan terhukum. Penghakiman pasti datang atas semua orang yang menolak Kristus. “Jika ada orang yang tidak mengasihi Tuhan Yesus Kristus,” kata Alkitab, “terkutuklah ia. Biarlah ia binasa.”
Allah telah memberi Anda kehormatan khusus untuk mendengar kebenaran, mengenal kebenaran, dan mendengar pesan Kristus. Tidak semua orang di dunia mendapat kehormatan itu. Anda mendapatkannya. Dalam arti itu, Anda hidup di bawah pengetahuan tentang kebenaran, dan pengetahuan itu membawa tanggung jawab. Apa yang akan Anda lakukan dengan kebenaran itu? Apakah Anda akan menjadi seperti para pemimpin Israel yang, karena ada sesuatu yang lebih mereka cintai — dosa mereka sendiri, sistem mereka sendiri, filosofi mereka sendiri, atau hubungan mereka sendiri — Anda menolak Kristus dan tetap memegang apa yang menghukum mereka? Sekaranglah saatnya melepaskan segala sesuatu, menaruh kepercayaan Anda pada Kristus supaya Anda tidak dihancurkan dan dimasukkan ke dalam golongan mereka yang telah kehilangan semua potensi dan berkat yang ditawarkan oleh kerajaan Allah.
Bapa, ketika kami sampai pada akhir pembahasan pagi ini dan belumlah di akhir dari studi ini, kami sudah cukup tahu urgensi untuk mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Bagi mereka yang diberi hak untuk mengetahui siapa Dia, mereka menanggung tanggung jawab untuk percaya dan menerima Dia sebagai Juruselamat, atau menanggung akibat kekal yang paling mengerikan. Kiranya kasih karunia-Mu berlimpah hari ini di dunia yang pada umumnya dikuasai oleh mereka yang tidak mengenal dan mengasihi Kristus.
Kiranya kami tidak mengikuti mayoritas orang, dimana banyak orang di jalan menuju kebinasaan, tetapi kiranya setiap orang yang ada di sini akan memilih jalan yang sempit, menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat dengan hati yang bertobat, sehingga kami dapat masuk ke dalam sukacita dan berkat, menjadi bagian dari umat-Mu yang menjadi pengelola baru dari kebenaran dan berkat kerajaan Allah, bukan hanya untuk sementara waktu tetapi sampai kekekalan. Kiranya karya kasih karunia dan keselamatan-Mu yang penuh kuasa bekerja di hati kami hari ini. Bawalah banyak orang datang kepada Putra-Mu, kami berdoa dalam nama-Nya. Amin.
SELESAI
This article is also available and sold as a booklet.
