Grace to You Resources
Grace to You - Resource

Dalam pembelajaran Firman Tuhan kali ini, kita sampai pada Injil Lukas pasal 20, mendekati bagian penutup dari pasal yang begitu kaya ini.

Mungkin yang lebih penting daripada pasal ini adalah urutannya dalam waktu. Saat ini kita berada di hari Rabu, di penghujung harinya, di minggu terakhir kehidupan Tuhan kita. Pada hari Jumat Dia akan disalibkan, dan pada hari Minggu pagi Dia akan bangkit. Jadi, ini adalah hari Rabu.

Kemungkinan besar pada hari Senin, Yesus masuk ke kota Yerusalem, disambut dengan seruan “Hosana” dari kerumunan besar orang. Lalu pada hari Rabu ini, Dia menghabiskan sepanjang hari di dalam dan sekitar area Bait Allah, mengajar orang banyak dan berhadapan dengan para pemimpin agama. Mereka melakukan segala cara hari itu untuk mempermalukan Dia di muka umum. Orang Farisi sudah mencoba. Para pendukung Herodes sudah mencoba. Orang Saduki juga sudah berusaha.

Tapi semuanya gagal. Semuanya dipermalukan. Semuanya tersingkap oleh hikmat, kejelasan, dan kuasa jawaban dari Tuhan kita. Lukas mencatat di ayat 40: “Mereka tidak berani lagi menanyakan apa-apa kepada Yesus.” Kini giliran Yesus yang bertanya. Dan di ayat 41 kita baca, “Kemudian Yesus berkata kepada mereka, ‘Bagaimana orang dapat mengatakan bahwa Mesias adalah Anak Daud? Sebab Daud sendiri berkata dalam kitab Mazmur: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuh-Mu menjadi tumpuan kaki-Mu. Jadi, Daud menyebut Dia 'Tuan', bagaimana mungkin Ia anaknya pula?’”

Kalau saya harus memberi judul untuk pesan ini, mungkin saya akan menamainya, “Anak sekaligus Tuhan Daud.” Judul ini sendiri adalah sebuah judul yang mengejutkan. Tidak ada seorang ayah di Timur Tengah pada zaman itu—dalam keadaan apa pun—yang akan menyebut anaknya sebagai “Tuhan.” Itu sama saja membalikkan tata cara penghormatan. Namun, Anak Daud ternyata juga adalah Tuhannya Daud.

Hakikat Yesus Kristus, jati diri yang paling mendasar dari Yesus Kristus, telah diperdebatkan sejak Dia ada di bumi sampai hari ini. Dan perdebatan itu akan terus berlangsung sepanjang sejarah manusia. Intinya bermuara pada pertanyaan ini: Apakah Yesus itu Allah? Apakah Dia sungguh-sungguh Allah? Atau Dia hanyalah seorang manusia?

Konsensus umum di dunia adalah bahwa Yesus hanyalah seorang manusia: hidup dan mati, mulia, berwawasan, bijaksana, saleh, penyayang, penuh pengorbanan, bermaksud baik—dan sederet kata sifat lain yang Anda mau tambahkan. Tapi tetap saja seorang manusia. Pandangan itu sesuai dengan agenda Iblis, karena kalau Yesus hanya manusia, maka Dia bukan Allah, bukan Juruselamat, Alkitab tidak benar, dan Kekristenan bukan agama yang sejati melainkan palsu. Sebaliknya, jika Yesus adalah Allah—jika Dia memang Allah—maka Dialah Yang Berdaulat, Dia memegang kendali, Alkitab benar, dan Kekristenan itu asli. Inilah persoalan yang krusial.

Saya pernah menerima sebuah iklan melalui pos yang berbunyi: “Pada hari Minggu pukul 7 malam, kelompok Christadelphians mengundang Anda ke sebuah studi Alkitab dengan topik ‘Yesus bukan Allah.’” Sebuah studi Alkitab dengan tema Yesus bukan Allah dari Christadelphians, yang dalam bahasa Yunani berarti “para pecinta Kristus.” Tetapi bukan hanya kelompok Christadelphians yang aneh dan menyimpang itu yang menolak keilahian Yesus Kristus; orang Yahudi pun menolaknya, begitu juga kaum Muslim, Hindu, Buddha, Mormon, Saksi-Saksi Yehuwa, Ilmuwan Kristen, dan Scientologi—dan masih banyak lagi. Jika seseorang hendak menolak Kekristenan dan menyangkal kebenarannya, maka dia harus menolak keilahian Yesus Kristus, sebab Yesus tidak mungkin Allah. Karena kalau Dia memang Allah, maka inilah agama yang sejati.

Jadi, sasaran utama dari agama-agama palsu itu selalu adalah pribadi Kristus. Ada kesalahan-kesalahan lain di antara orang-orang yang menyebut dirinya Kristen tetapi sesat, misalnya dalam hal keselamatan yang hanya oleh kasih karunia dan iman. Tapi, dalam Kekristenan yang sejati, Yesus adalah Allah, dan jika seseorang merendahkan atau menafsirkan-Nya kurang dari itu dalam hal hakikat-Nya, maka itu bukanlah agama Kristen yang sejati.

Dengan demikian, saya juga perlu menyatakan bahwa ada orang-orang Kristen yang sesat—kita mungkin menyebut mereka "orang Kristen liberal"—yang menyebut diri mereka Kristen tetapi menolak bahwa Yesus adalah Allah. Tapi, itu bukan Kekristenan yang sejati. Orang Yahudi, baik di masa sekarang maupun sepanjang sejarah, termasuk pada zaman Yesus, tidak mengakui-Nya sebagai Allah. Mereka tidak mengakui-Nya sebagai Allah yang menjelma, Yahweh yang menjadi manusia. Mereka tidak mengakui-Nya sebagai Allah, anggota kedua dari Tritunggal. Bahkan, mereka tidak percaya bahwa Mesias adalah Allah. Menurut mereka, Mesias hanyalah seorang manusia, tidak lebih. Manusia yang luar biasa, manusia yang berkuasa, manusia yang berpengaruh, manusia yang memiliki segala potensi kemanusiaan dan diberkati oleh Allah untuk melakukan hal-hal besar melebihi manusia lain, tapi Dia tetaplah seorang manusia.

Mesias dipandang sebagai manusia. Dia dianggap sebagai seorang manusia yang datang ke dunia, menjadi penguasa Israel, memulihkan kerajaan Allah, menaklukkan semua musuh Israel, memerintah bangsa-bangsa dari Yerusalem, dan menepati semua janji Allah kepada Abraham dan Daud. Mereka tidak melihat Mesias sebagai Allah, Anak Allah, atau Juruselamat bagi para pendosa. Bagi mereka, Dia hanyalah seorang manusia.

Itulah yang jelas diyakini oleh orang banyak karena itulah yang diajarkan para pemimpin kepada mereka. Ketika Yesus mengaku sebagai Allah, Dia langsung dianggap menghujat. Dia melakukan dosa yang paling keji menurut sistem agama mereka. Mengaku sebagai Allah bagi mereka adalah suatu kegilaan.

Selain itu, Yesus kemudian melancarkan serangan yang berapi-api terhadap teologi mereka, kekuasaan mereka, pengaruh mereka, posisi mereka, kebenaran palsu mereka, bahkan kegiatan mereka di Bait Allah. Hal ini terjadi sejak awal pelayanan-Nya, berlangsung sepanjang pelayanan-Nya, dan kembali terjadi di akhir, bahkan pada minggu terakhir kehidupan-Nya. Dia membersihkan Bait Allah, menyingkapkan korupsi mereka, membuka kedok kemunafikan mereka, dan semakin membangkitkan keinginan mereka yang besar untuk menyingkirkan-Nya.

Menurut keyakinan mereka, Mesias sejati hanyalah seorang manusia, tidak lebih. Dan ketika Yesus mengaku sebagai Allah, datang dengan otoritas itu, membersihkan Bait Allah, menegur teologi mereka, kebenaran palsu mereka, serta agama mereka, hal itu dianggap sebagai kejahatan yang pantas dihukum mati. Jadi, pada minggu itu, mereka mencoba menghadapi-Nya, namun gagal. Akhirnya, seperti yang kita baca di ayat 40, mulut mereka tertutup.

Sekarang giliran-Nya. Ini adalah kesempatan terakhir-Nya untuk berhadapan dengan para pemimpin agama Israel, orang-orang yang memiliki pengaruh besar. Saat ini adalah kesempatan terakhir-Nya, percakapan terakhir-Nya. Bisa dibayangkan, apa yang akan dibicarakan dalam percakapan terakhir itu? Anda tentu mengira, jika ini percakapan terakhir-Nya dengan mereka, Dia akan membahas hal yang paling penting—dan memang begitu. Dia mengajukan pertanyaan ini, ayat 41: “Yesus berkata kepada mereka, ‘Bagaimana orang dapat mengatakan bahwa Mesias adalah Anak Daud?’” Mari kita sebut ini pertanyaan yang tajam, pertanyaan yang menembus inti masalahnya, provokatif, dan jelas. Bagaimana mungkin mereka mengatakan bahwa Mesias adalah Anak Daud?

Sekadar pengingat saja, Injil Matius mencatat pertanyaan ini dari Yesus, begitu juga Markus. Catatan Matius dan Markus memperkaya catatan Lukas ini, seperti yang sering kita lihat dalam Injil sinoptik. Jika kita melihat ke Matius dan Markus, ada beberapa hal yang membantu kita memahami konteksnya. Yang pertama, kita bisa bertanya: mengapa Yesus membahas hal ini? Bukankah pada titik ini Dia sudah menyadari bahwa mereka benar-benar menolak diri-Nya? Apa tujuan-Nya mengulang untuk menegaskan siapa Dia sebenarnya? Apa gunanya?

Mereka sudah teguh dan tak tergoyahkan lagi dalam permusuhan, kebencian, dan kepahitan mereka. Mereka ingin Dia mati, dan setiap saat yang berlalu keinginan itu semakin besar. Lalu mengapa Yesus kembali membahas masalah identitas-Nya? Jawabannya ada di Markus 12:34: Dia tahu ada beberapa orang yang tidak jauh dari kerajaan Allah. Dia tahu ada beberapa yang tidak jauh dari kerajaan. Ini termasuk, misalnya, salah satu pemimpin bernama Yusuf dari Arimatea, yang kemudian dikenal sebagai orang yang menyediakan kubur bagi Tuhan.

Percaya atau tidak, ini adalah upaya terakhir-Nya untuk memberitakan Injil. Bahkan setelah semua kebencian yang ditunjukkan oleh para pemimpin itu, dan semua kepentingan dangkal dari orang banyak yang mudah berubah-ubah dan tidak tegas, yang pada akhirnya dibawa ke mana-mana oleh arus opini, Yesus tetap menjadi penginjil yang penuh belas kasihan. Dia masih terus mengajak orang berdosa yang menuju neraka untuk mengenal Dia sebagaimana Dia sebenarnya, untuk berhenti menolak-Nya secara terbuka, dan untuk berhenti ragu-ragu.

Ya, Dia telah menegur mereka dengan teguran yang paling keras. Dia telah mempermalukan mereka secara publik karena kejahatan dan kebohongan mereka. Tapi Dia masih menunjukkan perhatian yang cukup untuk sekali lagi menyampaikan kebenaran, karena sebagai Allah, Dia tidak bersukacita atas kematian orang fasik. Sukacita-Nya ada dalam keselamatan orang berdosa, dan kesedihan-Nya ada pada kehancuran mereka.

Kembali ke Lukas 19:41. Saat pertama kali Yesus mendekati Yerusalem, pada peristiwa masuknya yang penuh kemenangan di hari Senin, beberapa hari sebelumnya, Dia melihat kota itu dan menangisinya. Dia adalah Juruselamat yang meratap. Jadi, sekali lagi, Dia memanggil mereka kepada kebenaran tentang diri-Nya. Dan ini, Saudara, adalah sesuatu yang mutlak penting bagi keselamatan. Tidak seorang pun dapat masuk surga jika dia tidak percaya bahwa Yesus adalah Allah, tidak seorang pun. Tidak seorang pun.

Inilah kesaksian Kitab Suci yang jelas, tegas, dan tidak bisa disalahartikan. Yohanes 5:37, misalnya, mengatakan: “Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang telah bersaksi tentang Aku. Kamu tidak pernah mendengar suara-Nya, rupa-Nya pun tidak pernah kamu lihat,  dan firman-Nya tidak menetap di dalam dirimu, sebab kamu tidak percaya kepada Dia yang diutus-Nya.” Jika seseorang tidak percaya pada kebenaran tentang Kristus, maka dia tidak memiliki hubungan dengan Allah.

Rasul Paulus menyatakannya dengan tegas: “Barangsiapa tidak mengasihi Tuhan Yesus Kristus, dan mengakui Dia sebagaimana siapa Dia sebenarnya, terkutuklah dia.” Dalam 1 Yohanes 2:22 tertulis, “Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Mesias? Inilah antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak. Sebab siapa yang menyangkal Anak, ia tidak memiliki Bapa. Siapa yang mengaku Anak, ia juga memiliki Bapa.” Dengan kata lain, seseorang tidak memiliki hubungan dengan Bapa kecuali dia mengakui kebenaran tentang Sang Anak.

Jadi sekali lagi, Tuhan Yesus menegaskan dan menyatakan kodrat ilahi-Nya sebagai Allah, dan dengan demikian menawarkan diri-Nya bahkan kepada mereka yang membenci-Nya. Coba kita kembali sejenak ke pasal 15, tepatnya kisah yang luar biasa yang kita kenal sebagai kisah Anak yang Hilang—sebuah cerita tentang dua anak laki-laki dan seorang ayah yang luar biasa. Dalam kisah itu, kita ingat si bungsu kembali pulang. Sang ayah memeluknya, mendamaikannya, menciumnya, memberinya cincin di jarinya, jubah untuk menutupi tubuhnya, sepatu di kakinya, lalu mengadakan pesta perayaan. Di tengah sukacita itu, muncullah si anak sulung. Ayat 25 mengatakan bahwa dia sedang berada di ladang, mendekati rumah, mendengar musik dan tarian. Dia memanggil seorang hamba dan bertanya apa yang sedang terjadi. Hamba itu menjawab, “Adikmu telah kembali, dan ayahmu menyembelih anak lembu tambun karena dia telah menerimanya kembali dengan selamat.” Tetapi si sulung menjadi marah dan menolak masuk. Lalu ayahnya keluar dan mulai membujuknya.

Anak sulung itu, ingat, mewakili siapa? Orang-orang Farisi, ahli Taurat, kaum legalis, para pemimpin agama. Sedangkan si bungsu melambangkan orang-orang terbuang, para pemungut cukai, para pelacur, orang-orang hina, para pendosa. Mereka datang kepada Allah, datang kepada Kristus, dikasihi, diampuni, dipeluk. Dan semua itu membangkitkan amarah orang-orang Farisi yang penuh kesombongan rohani, yang dilukiskan lewat si anak sulung. Lalu bagaimana tanggapan sang ayah terhadap hal ini?

Dia mulai membujuk anak sulung itu, ayat 29, “Tetapi ia menjawab ayahnya: Lihatlah, telah bertahun-tahun aku melayani Bapa dan belum pernah aku melanggar perintah Bapa, tetapi kepadaku belum pernah Bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak Bapa yang telah memboroskan harta kekayaan Bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka Bapa menyembelih anak lembu yang gemuk itu untuk dia. Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala milikku adalah milikmu.”

Di sinilah Yesus, kembali ke Lukas 20, sedang berhadapan dengan si anak sulung—berhadapan dengan orang-orang Farisi, ahli Taurat, para pemimpin agama—yang berulang kali mengeluh karena Dia menerima orang-orang berdosa, para anak hilang. Dan di sini Yesus sekali lagi memberikan undangan kepada mereka untuk mempertimbangkan siapa diri-Nya sebenarnya, dan untuk menerima berkat yang dengan rela akan Dia berikan bahkan kepada seorang munafik yang mau bertobat.

Maka Tuhan pun menanyakan kepada mereka pertanyaan yang sangat penting. Tetapi saya harus membawa Anda kembali ke Matius, Matius 22:41. Di sanalah percakapan ini sebenarnya dimulai. Ingat, Matius, Markus, dan Lukas sama-sama mencatatkan peristiwa ini, dan masing-masing memberikan detail kecil. Matius 22:41, beginilah awalnya: Yesus bertanya kepada mereka, "Apakah pendapatmu tentang Mesias? Anak siapakah Dia?" Apa pendapatmu tentang Kristus, anak siapakah Dia? Dan mereka menjawab kepada-Nya—secara harfiah hanya satu kata—“Daud.” Dan itulah jawaban yang memang Yesus harapkan dari mereka. Apa pendapatmu tentang Mesias? Bagaimana pandanganmu tentang Mesias? Mari kita bicarakan hakikat Mesias. Mari kita bicarakan esensi Mesias. Anak siapakah Dia? Sifat apa yang Dia miliki? Dan mereka langsung menjawab dengan jawaban Yahudi yang umum: “Anak Daud.”

Nah, kalau kita masuk ke Injil Lukas, kita membaca bahwa Yesus berkata, “Bagaimana orang dapat mengatakan bahwa Mesias adalah Anak Daud?” Bagaimana kamu sampai pada kesimpulan itu? Dia mempertanyakan jawaban umum mereka—dan memang itu jawaban umum mereka. Mereka percaya bahwa Mesias hanyalah seorang manusia, tetapi manusia terbaik, manusia paling mulia, paling berbakat, paling diberkati, dan seorang keturunan Daud. Saya ingatkan sekali lagi bahwa pertanyaan paling mendasar dalam kekristenan adalah tentang hakikat Yesus Kristus. Jika Dia hanyalah manusia biasa, maka Alkitab tidak benar, Dia bukan Allah, dan kekristenan tidak ada artinya. Mereka yakin Mesias hanyalah seorang manusia. Karena itu, Yesus menempatkan di hadapan mereka sebuah pertanyaan yang sangat langsung, sangat relevan, sangat penting dan mendasar. Saya menyebutnya sebuah “pertanyaan yang menyingkapkan,” karena pertanyaan ini menyingkapkan inti terdalam dari kondisi rohani seseorang.

Jawaban mereka ternyata jawaban yang kurang lengkap, jawaban yang tidak memadai. Mereka berkata, “Anak Daud,” seperti yang dicatat dalam Matius 22. Benarkah itu? Ya, benar. Dalam 2 Samuel 7:12–14 sudah jelas dinubuatkan bahwa Mesias akan datang dari keturunan Daud. Bacalah Mazmur 89, di sana disebutkan lima atau enam kali bahwa Mesias berasal dari garis keturunan Daud. Demikian juga dalam Amos 9:11 dan Mikha 5:2, nubuatan itu ditegaskan kembali.

Jadi, orang-orang Yahudi pada zaman Yesus memang sudah mempercayai hal ini. Hal itu begitu jelas dalam Perjanjian Lama sehingga menjadi keyakinan umum. Misalnya, dalam Matius 9:27 diceritakan bahwa ketika Yesus lewat, ada dua orang buta yang mengikuti Dia sambil berseru, “Kasihanilah kami, hai Anak Daud!” Jadi, bukan hanya Mesias yang harus berasal dari garis keturunan Daud—semua orang tahu itu—tetapi Yesus memang benar berasal dari keturunan Daud. Dan tampaknya orang banyak bukan hanya tahu bahwa Mesias akan disebut Anak Daud, melainkan juga mereka tahu bahwa Yesus sendiri adalah Anak Daud.

Memang benar, sebutan ini sangat umum digunakan. Dalam Matius 12:23, setelah Yesus menyembuhkan seorang yang kerasukan setan, buta, dan bisu, orang banyak takjub lalu berkata, “Ia ini agaknya Anak Daud” Ungkapan itu sekali lagi menunjukkan pemahaman mereka bahwa Mesias memang harus berasal dari keturunan Daud.

Dalam Matius 15:22, seorang perempuan Kanaan dari daerah Tirus dan Sidon berseru, “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita..” Lalu dalam Matius 20:30, dua orang buta di pinggir jalan dekat Yerikho berteriak, “Tuhan, Anak Daud, kasihanilah kami!” Ketika Yesus masuk Yerusalem, orang banyak berseru, “Hosanna bagi Anak Daud!” (Mat. 21:9). Jadi semua orang mengerti hal itu. Bahkan dalam Lukas 18:38-39, orang buta di Yerikho juga memanggil-Nya, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!”

Memang benar, Yesus memang berasal dari garis keturunan Daud. Silsilah dalam Matius 1 menegaskan bahwa Dia ada dalam garis keturunan Daud, demikian juga silsilah dalam Lukas 3. Yusuf, ayah-Nya secara hukum, berasal dari keturunan Daud, dan Maria, ibu-Nya, juga berasal dari keturunan Daud. Dengan demikian, kedua jalur tersebut bertemu dalam diri-Nya: melalui darah dari Maria dan melalui hak hukum dari Yusuf, meskipun Yusuf bukanlah ayah-Nya dalam kelahiran jasmani. Karena itu, Yesus sungguh adalah Anak Daud.

Dan perlu dicatat, jika Yesus bukan Anak Daud, hal itu pasti langsung dijadikan bahan tuduhan terhadap-Nya. Sebab, para ahli Taurat, orang Farisi, bahkan orang Saduki menyimpan catatan silsilah dengan sangat teliti, yang semuanya hancur pada tahun 70 M dalam salah satu peristiwa kehilangan terbesar bagi bangsa Yahudi. Pada masa itu, garis keluarga setiap orang Yahudi benar-benar tercatat dengan jelas dalam silsilah mereka. Semua itu dapat diakses di Bait Allah. Jadi, jika Yesus sebenarnya bukan keturunan Daud, para pemimpin Yahudi pasti segera menemukannya dalam catatan resmi tersebut dan langsung mendiskreditkan-Nya di hadapan semua orang.

Ahli-ahli Taurat memang menjaga catatan silsilah itu dengan sangat teliti—menyimpannya dalam garis suku yang tepat, keluarga yang tepat, warisan yang tepat—semua demi masa depan kerajaan yang besar dan mulia yang mereka nantikan. Karena itu, silsilah seseorang bisa dengan mudah diperiksa. Dan saya yakin, hal itu memang telah diperiksa, dan mereka tahu bahwa Yesus benar-benar adalah Anak Daud. Jadi, jawaban mereka tidak salah. Itu benar, tetapi hanya sebagian. Jawaban itu benar, tetapi tetap kurang lengkap, tidak memadai.

Sebenarnya, ketika orang banyak memanggil-Nya, “Anak Daud, Anak Daud,” para pemimpin agama langsung bereaksi negatif karena mereka tahu bahwa seruan itu bukan sekadar menunjuk pada garis keturunan-Nya, tapi memanggil Dia sebagai Anak Daud yang dimaksudkan dalam nubuat—yaitu Sang Mesias. Itulah yang mereka tolak dan benci. Dari keturunan Daud memang lahir puluhan ribu keturunan, dan tidak masalah jika Yesus hanya dianggap salah satunya. Tetapi menyebut Dia Anak Daud dengan huruf besar, sebagai gelar Mesianik, itu yang mereka tidak bisa terima. Jadi, benar bahwa Yesus berasal dari garis keturunan Daud, benar bahwa Dia bagian dari dinasti Daud. Namun, hanya berhenti di situ saja tidak cukup untuk memahami siapa diri-Nya yang sesungguhnya.

Jadi, kita bergerak dari sebuah pertanyaan yang menyingkapkan, melalui jawaban yang tidak memadai, menuju apa yang bisa disebut sebagai realitas ilahi. Inilah bagian yang luar biasa. Ayat 42 mencatat pertanyaan Yesus: “Bagaimana orang dapat mengatakan bahwa Mesias adalah Anak Daud? Sebab Daud sendiri berkata dalam kitab Mazmur: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuh-Mu menjadi tumpuan kaki-Mu. Jadi, Daud menyebut Dia 'Tuan', bagaimana mungkin Ia anaknya pula?" Ini sungguh luar biasa.

Nah, izinkan saya menjelaskan apa yang sedang dilakukan Yesus di sini sebagai sebuah argumen. Mengapa kamu hanya menyebut Mesias sebagai anak Daud, padahal Daud sendiri berkata dalam Mazmur 110:1—itulah Mazmur yang sedang Ia kutip—“ Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuh-Mu menjadi tumpuan kaki-Mu.”

Sekarang, saya jelaskan dasar dari argumen Tuhan kita. Semua orang – ya, semua orang – tahu bahwa Mazmur 110 adalah Mazmur Mesianik. Tafsiran Yahudi yang baku dan universal tentang Mazmur 110 adalah bahwa mazmur itu berbicara mengenai Mesias yang akan datang. Mesias inilah yang akan duduk di sebelah kanan Allah, yaitu posisi kuasa dan otoritas, dan yang akan menjadikan semua musuh Israel—dan dengan demikian juga musuh Allah—sebagai tumpuan bagi kaki-Nya. Dialah pahlawan penakluk. Dialah pahlawan penakluk. Sangat mengingatkan pada Mazmur 2. Itulah cara orang Yahudi menafsirkan Mazmur 110, dan tafsiran itu bersifat universal. Mazmur itu Mazmur Mesianik. Dan ketika Mesias datang, Dia akan memakai tangan kanan Allah. Dia akan menggunakan otoritas dan kuasa Allah. Dia akan menaklukkan semua musuh Allah, yaitu musuh Israel, dan menempatkan mereka di bawah kaki-Nya.

Dan sebagai penjelasan lebih lanjut tentang hal itu: ditempatkan di bawah kaki seorang penguasa bukanlah posisi yang diinginkan, karena itu benar-benar merupakan simbol eksekusi. Perhatikan kitab Yosua pasal 10. Lima raja dibawa kepada Yosua. Ayat 24, “Setelah raja-raja itu dibawa keluar kepada Yosua, dia memanggil semua kali-laki Israel, lalu berkata kepada panglima-panglima tentara, yang ikut berperang dengan dia: "Mendekatlah, taruhlah kakimu pada tengkuk raja-raja itu." Mereka mendekat dan menaruh kaki mereka pada tengkuk raja-raja itu.” Ayat 26, “Sesudah itu, Yosua membunuh raja-raja itu dan menggantung mereka pada lima tiang.”

Semua orang tahu apa artinya menjadikan musuhmu sebagai tumpuan kaki, meletakkan kaki di atas leher musuh. Itulah Mesias. Mereka tahu Mesias akan datang dan menghancurkan musuh-musuh Allah karena itulah yang dinubuatkan dalam Perjanjian Lama. Lalu bagaimana, jika ini Mesias, dan Mesias adalah anak Daud, bagaimana Daud bisa menyebut Dia “Tuanku”?

Karena ayat 1 dalam Mazmur 110 dimulai dengan, “Firman Tuhan kepada tuanku,” artinya Yahweh sedang berbicara kepada Mesias, dan Daud menyebut Mesias sebagai Tuhannya. Bagaimana Mesias bisa sekaligus menjadi Anak Daud dan Tuan Daud? Hanya ada satu cara, Dia haruslah Allah yang kekal yang menjadi manusia. Dia haruslah Allah yang kekal yang pada akhirnya menjadi ciptaan.

Hal ini sungguh mengejutkan bagi mereka. Bahkan, begitu mengejutkannya sehingga orang-orang Yahudi selama berabad-abad berusaha mencari cara untuk menghindar dari argumen ini. Tidak lama setelah Perjanjian Baru selesai ditulis dan beredar, orang Yahudi mulai mengubah tafsiran mereka atas Mazmur 110. Ada yang mengatakan mazmur itu berbicara tentang Abraham dengan cara yang aneh. Ada juga yang berkata, “Tidak, itu merujuk pada Melkisedek.” Yang lain lagi berpendapat, “Tidak, itu menunjuk pada Yudas Makabeus,” seorang pemimpin antara tahun 143–135 SM. Mereka yang mendukung tafsiran Yudas Makabeus bahkan mengutak-atik teks Ibrani untuk membuat akrostik dari namanya. Dengan kata lain, merekalah yang pertama-tama menciptakan semacam “kode Alkitab.” Mereka melakukan segala cara untuk memanipulasi Mazmur 110 agar tidak dipahami sebagai Mesianik. Karena jika benar mazmur itu berbicara tentang Mesias, dan Mesias jelas adalah Anak Daud, maka Daud sekaligus menyebut Dia sebagai “Tuhannya.”

Mesias adalah manusia sekaligus Allah. Dia adalah Anak Allah yang kekal sekaligus manusia, Anak Daud. Dia adalah Anak Daud dan juga Tuhan Daud. Kalau Dia hanyalah keturunan yang akan lahir berabad-abad kemudian, bagaimana mungkin Daud dalam bentuk waktu sekarang menyebut-Nya sebagai “Tuhanku”? Jika Anda berpikir penjelasan Alkitab tidak perlu sampai memperhatikan kata ganti orang, inilah bukti bahwa hal itu justru sangat penting. Betapa pentingnya kita memahami kata-kata, frasa, bahkan preposisi dan kata ganti dengan tepat!

Nah, ada sebagian kaum liberal yang berkata, “Oh, Daud salah ketika dia mengucapkan hal ini. Itu hanya momen aneh bagi Daud. Dia keliru.” Kalau hanya membaca kitab Lukas, mungkin orang bisa menyimpulkan bahwa memang Daud yang mengatakannya, tetapi seharusnya dia tidak mengatakannya. Namun, Matius 22:43 menegaskan, “Daud berkata oleh pimpinan Roh.” Atau, seperti dalam Markus 12:36, “Daud sendiri dengan pimpinan Roh Kudus berkata.” Jadi jelas sekali, bukan oleh roh manusia. Dia benar-benar mengatakannya, dan dia mengatakannya oleh Roh Kudus. Jadi semua dasar sudah tertutup rapat di sini.

Apa yang dikatakan Daud waktu itu tidaklah salah; itu benar, benar-benar tepat dan akurat. Konstruksi kalimat yang sama dapat ditemukan juga di kitab Markus dan Kisah Para Rasul 4:25, yang berbunyi, “Oleh Roh Kudus dengan perantaraan hamba-Mu Daud, bapak kami.” Intinya sama: Roh Allah mengilhami Daud untuk mengatakannya. Daud menyatakan bahwa Mesias, yang bahkan belum datang pada waktu itu, pada saat itu sudah adalah Tuhanku. Itu mengingatkan saya pada kata-kata Tomas ketika dia melihat Yesus setelah kebangkitan dan berkata, “Tuhanku dan Allahku.”

Ini dapat menimbulkan kepanikan permanen di kalangan lawan, karena Yesus telah menguraikan mazmur yang memang mereka akui sebagai Mazmur Mesianik. Dari Abad Pertengahan hingga sekarang, orang-orang Yahudi yang serius mempelajari Firman Tuhan umumnya kembali pada kesimpulan bahwa ini memang sebuah Mazmur Mesianik. Saya tidak tahu bagaimana mereka menghindari kenyataan bahwa Mesias pasti sudah hidup pada zaman Daud sekaligus menjadi Anak Daud di masa depan. Namun bagi siapa pun yang berpikir secara jernih, argumen yang sama ini adalah argumen yang sangat kuat bagi Tuhan Yesus Kristus.

Dan kemudian suatu hari, sesuai dengan maksud, pemeliharaan, dan rencana sempurna Allah, Mesias akan datang kembali untuk memerintah dan meletakkan tumit-Nya di atas leher musuh-musuh-Nya dalam peristiwa eskatologis besar itu—yaitu kedatangan-Nya yang mulia, penghakiman, dan pendirian kerajaan-Nya. Tetapi sampai hari itu tiba, tumit-Nya tetap jatuh di atas leher musuh-musuh-Nya setiap detik, setiap hari. Penghakiman Kristus atas orang berdosa dan penolak-Nya tidak menunggu sampai penghakiman terakhir; penghakiman itu berlangsung setiap hari. Musuh-musuh-Nya selalu menjadi tumpuan kaki-Nya.

Ketika ayat 44 merangkum, “Jadi Daud menyebut Dia ‘Tuan,’ — lalu bertanya — “bagaimana mungkin Ia anaknya pula?” di situlah muncul dilema yang mustahil. Orang-orang Yahudi benar-benar terhenti. Dan memang, itulah yang dicatat Matius. Matius pada dasarnya mengatakan hal yang sama seperti Lukas, hanya saja ditempatkan sebelum peristiwa ini. Dalam Matius 22:46 tertulis, “Tidak ada seorang pun yang dapat menjawab-Nya, dan sejak hari itu tidak ada seorang pun yang berani menanyakan sesuatu kepada-Nya.”

Setelah percakapan dengan orang Saduki, Lukas mengatakan semuanya selesai. Orang Farisi sempat kembali setelah berdiskusi sebentar, mereka mencoba mengangkat satu isu terakhir, tetapi Yesus justru menghadapkan mereka dengan pertanyaan itu. Setelah itu, mereka benar-benar tidak berkutik. Lukas mencatat bahwa mereka tidak punya jawaban lagi. Yesus yang mengajukan pertanyaan, dan mereka tak bisa menjawab. Mereka dibungkam dua kali lipat.

Tidak ada jalan lain jika seseorang menolak Yesus Kristus. Jangan datang dengan sikap meremehkan sambil berkata bahwa Yesus hanyalah seorang tokoh baik atau Alkitab hanyalah buku yang luar biasa. Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa Yesus adalah Allah. Dia adalah Anak Daud sekaligus Tuhan Daud. Dia adalah Allah-Manusia. Jika kita percaya itu, kita meneguhkan kebenaran Kitab Suci. Jika tidak percaya, maka kita menyangkal Kitab Suci. Dan bila demikian, Alkitab hanyalah tipuan bagi kita, Yesus hanyalah seorang penipu, dan seluruh isi Alkitab penuh kebohongan. Jadi sebaiknya tinggalkan saja kekristenan, jauhkan diri dari gereja sejauh mungkin. Namun, jika Alkitab itu benar — dan memang benar — maka Yesus adalah Allah sekaligus Manusia, maka apa yang Dia katakan adalah kebenaran, apa yang Dia lakukan adalah satu-satunya jalan keselamatan, dan hanya melalui iman kepada-Nya ada jalan menuju surga.

Ada banyak cara untuk membicarakan keilahian Yesus Kristus. Dia menunjukkan atribut-atribut Allah: Mahakuasa, memerintah atas alam, memerintah roh jahat, memerintah dunia fisik, memerintah atas kematian, memberikan hidup, dan mengampuni dosa. Dia memiliki sifat mahahadir, dapat berada di mana saja setiap saat jika Dia kehendaki. Dia maha tahu, mengetahui segala sesuatu termasuk isi hati manusia. Dia tidak berubah. Dia kudus, benar, bijaksana, berdaulat, penuh kasih, kekal, mulia, dan tidak pernah berubah. Dia adalah Allah. Dia adalah Allah sebagimana Allah adalah Allah, tidak kurang sedikit pun.

Dan jika Allah menjadi manusia — mari kita buat sebuah hipotesis. Jika Allah menjadi manusia, bagaimana kita mengharapkan Dia? Pertama-tama, kita tentu mengharapkan Dia tanpa dosa, karena Allah, Allah yang sejati, Allah dalam Kitab Suci adalah kudus, kudus, kudus. Jadi, jika Allah menjadi manusia, Dia pasti tanpa dosa. Apakah Yesus tanpa dosa? Ya. Bahkan musuh-musuh-Nya pun tidak bisa menemukan tuduhan apa pun terhadap-Nya. Dia kudus, tidak bercela, murni, dan terpisah dari orang berdosa.

Jika Allah menjadi manusia, kita tidak hanya mengharapkan ketiadaan dosa, tetapi juga kehadiran kebenaran yang sempurna. Dia akan menjadi pribadi yang paling murni yang pernah hidup.Jika Allah menjadi manusia, kita akan mengharapkan kata-kata-Nya menjadi kata-kata terbesar yang pernah diucapkan. Karena Dia memiliki kecerdasan terbesar, hikmat terbesar, penguasaan kebenaran yang paling sempurna, dan kemampuan paling tinggi untuk menyatakan kebenaran itu. Kata-kata Yesus akan berbeda dari kata-kata yang pernah diucapkan siapa pun, kapan pun, di mana pun. Dan memang dikatakan tentang Dia, “Belum pernah manusia berbicara seperti Dia.” Dia berkata, “Percayalah kepada-Ku karena perbuatan-Ku — tanpa dosa, benar, dan penuh kuasa. Percayalah kepada-Ku karena firman-Ku.”

Jika Allah menjadi manusia, kita akan mengharapkan Dia menampilkan kuasa supranatural dengan mudah, sebab itu adalah cerminan sejati dari kodrat-Nya. Yesus menguasai alam, menyembuhkan orang sakit, berjalan di atas air, membangkitkan orang mati, menaklukkan kerajaan Iblis, dan lolos dari mereka yang berusaha membunuh-Nya. Dia benar-benar melakukan mukjizat dalam jumlah yang tak terhitung, dan Yohanes menutup injilnya dengan mengatakan bahwa terlalu banyak untuk dituliskan satu per satu.

Jika Allah menjadi manusia, kita akan mengharapkan Dia memberikan pengaruh yang mendalam atas umat manusia. Yesus melakukannya dengan cara yang tak tertandingi sepanjang sejarah. Dia mengubah dunia.

Jika Allah menjadi manusia, kita juga akan mengharapkan Dia menyatakan kasih Allah, anugerah Allah, kebaikan Allah, belas kasihan Allah. Dan Dia melakukannya. Kita juga akan mengharapkan Dia menunjukkan keadilan Allah, penghakiman Allah, murka Allah. Dan Dia pun melakukannya.

Jika kita membaca Perjanjian Lama dan mendapatkan gambaran tentang Allah, lalu membaca Perjanjian Baru, Kristus adalah representasi sempurna dari Allah dalam wujud manusia. Itulah yang ditegaskan dalam Ibrani 1.

Orang-orang Yahudi tidak mau percaya. Apa pun yang Yesus lakukan, mereka tetap tidak mau percaya. Baca Lukas 22:66, setelah mereka menangkap-Nya. Ayat 66 berkata, “Setelah hari siang berkumpullah sidang para tua-tua bangsa itu dan imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu mereka menghadapkan Dia ke Mahkamah Agama mereka, katanya, ‘Jikalau Engkau adalah Mesias, katakanlah kepada kami.’” Ini serius? Inilah bukti betapa kerasnya hati mereka. “Jikalau Engkau adalah Mesias, katakanlah kepada kami.” Dan Yesus menjawab, “‘Sekalipun Aku mengatakannya kepada kamu, kamu tidak akan percaya; dan sekalipun Aku bertanya, kamu tidak akan menjawab.’”

Perhatikan, mereka tidak pernah menyangkal mujizat-mujizat-Nya. Tidak satu pun. Mereka tidak pernah menyangkal hikmat Yesus. Mereka tidak pernah membantah penjelasan-Nya tentang Kitab Suci. Mereka juga tidak pernah mendiskreditkan jawaban-jawaban-Nya. Mereka hanya tidak mau percaya. Itulah kesalahan menyedihkan yang terus terjadi sepanjang sejarah dan bahkan sampai hari ini.

Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda termasuk para pemimpin yang berhati keras dan beku seperti batu, yang melihat semuanya tetapi tetap tidak menyadarinya? Yang tidak pernah menyangkal apa pun, namun tidak mau percaya? Atau apakah Anda termasuk kerumunan yang ragu terus-menerus, yang mudah dibawa ke sana kemari, yang suatu hari bisa berseru “Hosana,” lalu beberapa hari kemudian berteriak “Salibkan Dia”? Bagaimana jawaban Anda atas pertanyaan: Anak siapakah Yesus Kristus? Jika Dia Anak Allah, maka Dia sungguh Mesias, Tuhan, satu-satunya Juruselamat, dan satu-satunya jalan di mana seorang pendosa, hanya melalui iman saja, dapat selamat dari neraka dan masuk ke surga.

Bapa, kami kembali melihat keindahan dan kemuliaan Yesus Kristus yang menakjubkan di dalam Firman-Mu, seperti yang selalu kami alami. Kami melihat betapa indahnya Dia menggunakan Kitab Suci untuk menyatakan keilahian dan kemuliaan-Nya sendiri. Kami melihat belas kasih-Nya kepada mereka yang berhati keras maupun yang ragu-ragu. Dan, Tuhan, semua ini Engkau berikan bagi kami hari ini sebagai panggilan bagi setiap orang yang masih hidup dalam penolakan atau kebimbangan, untuk kembali merenungkan siapakah Engkau sebenarnya. Engkau adalah Anak Daud, ya, tetapi juga Anak Allah yang kekal, satu-satunya Juruselamat, yang datang pertama kali sebagai persembahan bagi dosa, dan akan datang kembali sebagai Raja yang memerintah.

Bapa, aku berdoa kiranya tidak ada hati yang berpaling, tetapi semuanya mau menerima Sang Juruselamat, percaya, bertobat, dan menerima anugerah hidup yang kekal. Dalam nama-Nya kami berdoa. Amin.

SELESAI

This sermon series includes the following messages:

Please contact the publisher to obtain copies of this resource.

Publisher Information
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969

Welcome!

Enter your email address and we will send you instructions on how to reset your password.

Back to Log In

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize
View Wishlist

Cart

Cart is empty.

Subject to Import Tax

Please be aware that these items are sent out from our office in the UK. Since the UK is now no longer a member of the EU, you may be charged an import tax on this item by the customs authorities in your country of residence, which is beyond our control.

Because we don’t want you to incur expenditure for which you are not prepared, could you please confirm whether you are willing to pay this charge, if necessary?

ECFA Accredited
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Back to Cart

Checkout as:

Not ? Log out

Log in to speed up the checkout process.

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize