Grace to You Resources
Grace to You - Resource

Kita memiliki hak istimewa yang besar untuk membuka firman Tuhan; dan ini adalah suatu hak istimewa terbesar untuk bisa mendengar suara Tuhan, karena Dia sendiri telah berfirman di dalam halaman-halaman Alkitab yang kita miliki. Dan teks kita pagi ini adalah Lukas 23 dan tentu saja, kita sedang berada pada salib Kristus. Sepanjang Injil Lukas ini, kita telah menemani sang sejarawan Lukas, mulai dari pengenalan pertama tentang Zakaria dan Elisabet, juga janji dari kelahiran sang pendahulu Mesias, yaitu Yohanes Pembaptis, sampai kelahiran Tuhan Yesus itu sendiri. Kita telah bernyanyi bersama Maria, menaikkan pujian bahwa seorang Penebus telah lahir. Kita telah melihat Tuhan Yesus bertumbuh dan melayani, serta menemani-Nya melalui semua pencobaan dan semua kemenangan-Nya. Dan sekarang kita mendapati diri kita berdiri bersama-Nya, seolah-olah sedang berada di kaki Golgota, dan menyaksikan kenyataan yang mengejutkan dari penyaliban Kristus. Izinkan saya membacakan untuk Anda mulai dari ayat 32 hingga ayat 39, yang merupakan bagian yang saya rujuk dalam pesan terakhir kita, dan kita akan membahasnya lebih dalam pada pagi ini.

“Ada juga digiring dua orang lain, yaitu dua penjahat untuk dihukum mati bersama-sama dengan Dia. Ketika mereka sampai di tempat yang bernama Tengkorak, mereka menyalibkan Yesus di situ dan juga kedua orang penjahat itu, yang seorang di sebelah kanan-Nya dan yang lain di sebelah kiri-Nya. [Yesus berkata, ‘Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.] Lalu mereka membuang undi untuk membagi pakaian-Nya. Orang banyak berdiri di situ dan melihat semuanya. Tetapi pemimpin-pemimpin mengejek Dia, katanya, Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah.’ Juga prajurit-prajurit mengolok-olokkan Dia; mereka menawarkan anggur asam kepada-Nya dan berkata, ‘Jika Engkau raja orang Yahudi, selamatkanlah diri-Mu!’ Ada juga tulisan di atas kepala-Nya, ‘Inilah raja orang Yahudi’. Salah seorang penjahat yang digantung itu menghujat Dia, katanya, ‘Bukankah Engkau Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!’”

Dalam pembahasan terakhir kita tentang bagian ini, saya memakai judul "Komedi di Golgota." Saya mengerti bahwa judul itu terdengar mencengangkan - bahwa peristiwa ini adalah sebuah komedi - tetapi memang itulah yang dimaksudkan oleh para penyalib. Bagi mereka, Tuhan Yesus adalah objek ejekan yang sesungguhnya. Sebagai seorang raja, Dia pantas ditertawakan. Seluruh kejadian ini dimaksudkan untuk mengejek status-Nya sebagai seorang raja. Dia tidak memiliki pasukan. Dia tidak memiliki kedaulatan atas apa pun atau tempat mana pun. Dia hanya memiliki pengikut yang sedikit dan minim. Dia tidak menaklukkan siapa pun atau apa pun, dan tidak membebaskan siapa pun. Tidak ada apa pun tentang diri-Nya yang tampak seolah-olah dia adalah kekuatan besar, tetapi justru Dia semakin lemah dan semakin lemah. Jadi semua ini dianggap begitu lucunya sehingga mereka mengubahnya menjadi semacam olok-olok. Mereka yang berkumpul di sekitar salib mengejek, mencibir, dan menghina Tuhan Yesus dengan sindiran. Mereka berusaha memperlakukan Anak Allah dengan hinaan sebanyak yang dapat mereka lontarkan, dengan rasa tidak hormat, penghinaan, dan rasa malu yang bisa ditimbulkan sebanyak mungkin.

Tapi bagaimanapun juga, ini adalah Allah Sang Anak, karena itu, apa yang mereka lakukan adalah penghujatan yang sangat besar. Inilah puncak dosa. Inilah dosa di titik tertinggi. Inilah puncak penghujatan. Mengejek keilahian, mencemooh Tuhan yang menjadi manusia, dan dengan kepuasan yang dangkal melemparkan cemoohan sindiran pada Sang Pencipta dan Penebus – Raja yang sejati; Mesias yang sejati. Tidak ada dosa manusia yang lebih buruk dari ini. Tidak ada yang dapat dilakukan orang berdosa yang dapat lebih menyinggung Tuhan daripada ini. Penghujatan tidak bisa lebih buruk dari ini. Mengingat betapa kejinya apa yang mereka lakukan ini, kita mungkin bertanya apakah ini saatnya bagi Allah untuk bertindak. Kita mengharapkan Tuhan yang kudus dan benar untuk bereaksi terhadap penghujatan tertinggi semacam ini dengan mencurahkan murka, pembalasan serta kemarahan pada mereka yang melakukan ini pada-Nya. Bahkan di dunia dewa-dewa palsu yang diciptakan oleh manusia dan setan, tidak ada dewa palsu yang akan menoleransi hal semacam ini. Bukankah seharusnya Tuhan yang benar dan kudus menjaga martabat-Nya sampai taraf tertentu? Mempertahankan kehormatan-Nya sampai taraf tertentu? Bukankah seharusnya Tuhan yang benar dan kudus, yang telah menyatakan diri-Nya sebagai bukti yang paling meyakinkan tentang keilahian-Nya, dan sekarang dihujat sedemikian rupa, bukankah seharusnya Dia bereaksi dalam kemarahan yang kudus yang mendatangkan kematian dan penghakiman yang cepat dan seketika? Penghakiman itu akan datang 40 tahun setelah peristiwa ini dalam bentuk penghancuran Yerusalem oleh orang Romawi. Banyak dari mereka, setidaknya sebagian besar dari orang-orang ini, yang berkumpul hari itu, yang masih hidup 40 tahun kemudian, akan binasa dalam penghakiman itu. Banyak yang akan mati sebelum penghakiman itu datang. Tetapi tidakkah ini tampak seperti kesabaran yang tidak semestinya? Seberapa tolerankah kekudusan? Seberapa sabarkah kebenaran? Seberapa tahankah belas kasihan dan kasih karunia Tuhan? Jika ada saat di mana murka Tuhan dibenarkan untuk datang dengan cepat, inilah saatnya.

Nah, ironinya, penghakiman-Nya memang datang dengan cepat di kayu salib, tetapi tidak menimpa orang banyak itu, melainkan menimpa Tuhan Yesus atas nama mereka yang menghujat-Nya. Perjanjian Lama dengan jelas menyatakan tentang penghujatan. Dikatakan dalam Imamat 24:16, "Siapa yang menghujat nama TUHAN, harus dihukum mati." Menghujat nama Tuhan adalah kejahatan yang berat. Mereka adalah penghujat. Mereka tahu itu. Mereka puas menghujat-Nya, mengutuk-Nya, dan mencaci-maki-Nya. Itulah yang sebenarnya mereka lakukan. Namun malah mereka yang menuduh-Nya sebagai penghujat. Ketika dalam pelayanan-Nya sebelumnya, Tuhan Yesus menunjukkan kuasa untuk mengampuni dosa, ada dalam Matius 9, mereka mengatakan bahwa Dia menghujat Allah. Lalu di akhir kitab Matius – atau menjelang akhir kitab Matius, di Pasal 26, Tuhan Yesus berkata, “‘Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit.’ Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata, ‘Ia menghujat Allah. Untuk apa kita perlu saksi lagi? Sekarang telah kamu dengar hujat-Nya.  Bagaimana pendapat kamu?’ Mereka menjawab, ‘Ia harus dihukum mati!’ Lalu mereka meludahi muka-Nya dan meninju-Nya; orang-orang lain memukul Dia.”

Mereka adalah para penghujat, tetapi dengan cara yang menyimpang, mereka malah menjadikan Dia sebagai penghujat sedangkan mereka berpikir bahwa merekalah yang telah menegakkan kebenaran. Dalam Injil Yohanes, di Pasal 10, ada beberapa ayat di sana, ayat 33, “Jawab orang-orang Yahudi itu, ‘Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menjadikan diri-Mu Allah.’” Dan kemudian di ayat 36, Tuhan Yesus berbicara. Ia berkata, “Masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah?” Semuanya jadi terbalik. Keadilan seharusnya dijatuhkan atas mereka tetapi malah dijatuhkan atas Kristus. Penghakiman seharusnya menghancurkan mereka tetapi malah menghancurkan Kristus. Mereka menuduh-Nya melakukan penghujatan, tapi sesungguhnya merekalah yang menghujat. Tentu saja Tuhan kita memiliki hak untuk menghakimi mereka, hak untuk menghancurkan mereka saat itu juga, dan melemparkan mereka ke dalam neraka selamanya. Ada contoh-contoh dari para nabi Perjanjian Lama. Saya teringat dengan Habakuk, nabi yang tidak dapat memahami mengapa Tuhan tidak mendatangkan penghakiman atas Israel yang murtad dan dalam Pasal satu nubuatnya, dalam ayat dua, dia berkata, “Berapa lama lagi, ya Tuhan? Berapa lama lagi? Berapa lama lagi Engkau akan mentolerir Israel yang murtad dan berdosa?” Lalu saya teringat dengan Wahyu 6:10 di mana para martir, di masa depan, pada masa kesengsaraan yang akan datang di dunia, mereka yang telah menderita martir di tangan kekuatan antikristus juga berada di bawah mezbah, mengangkat doa kepada Tuhan dan berkata, “Berapa lamakah lagi, ya Penguasa yang kudus dan benar, Engkau tidak menghakimi dan tidak membalaskan darah kami kepada mereka yang tinggal di bumi?”

Bahkan orang-orang kudus di masa lalu dan di masa depan dan tentu saja di masa sekarang, kadang-kadang bertanya-tanya tentang kesabaran Tuhan. Betapa anehnya bahwa saat peristiwa Golgota, ketika kemarahan Tuhan seharusnya turun atas orang banyak itu, tetapi malah turun atas Kristus demi orang banyak itu, atas nama mereka. Tetapi Anda tahu, ini tidak bertentangan dengan karakter Tuhan dan saya akan memberikan Anda sebuah ilustrasi tentang hal itu dari Perjanjian Lama. Coba kita kembali ke kitab Yesaya, kembali ke kitab Yesaya. Kalau Anda tidak terbiasa dengan nubuat Yesaya, saya ingin mendorong Anda untuk membiasakan diri dengan nubuatnya. Anda dapat melakukannya dengan membacanya. Dan adalah hal yang baik untuk membacanya dan kembali membacanya, kemudian membacanya ulang dan membacanya lagi karena nubuatnya penuh dakwaan. Nubuatnya penuh dengan penghakiman yang jelas, tapi juga penuh dengan janji-janji keselamatan. Dan di sini Anda melihat hati Tuhan: ada penilaian yang sesungguhnya tentang kondisi orang-orang pendosa, ada pernyataan yang sesungguhnya tentang penghakiman yang akan datang, tetapi pada saat yang sama, belas kasihan dan anugerah yang tak terelakkan juga diberikan kepada mereka. Misalnya, dalam Pasal pertama kitab Yesaya, Anda akan melihat gambaran kecil dari yang tadi saya sampaikan. Tuhan berkata dalam ayat dua, "Mereka memberontak terhadap Aku." Dalam ayat tiga, "Lembu mengetahui pemiliknya, keledai mengenal palungan tuannya. Tetapi Israel tidak. Umat-Ku tidak. Sungguh celaka bangsa yang berdosa, umat yang sarat dengan kesalahan, keturunan orang yang jahat-jahat, orang-orang yang berlaku busuk! Mereka meninggalkan TUHAN, menista Yang Maha Kudus, Allah Israel, dan berpaling membelakangi Dia." Betapa tragisnya dan betapa buruknya ini. Lalu, ayat lima, bagian kedua dari ayat tersebut berkata, "Seluruh kepala sakit dan seluruh hati lemah lesu." Betapa buruknya. Ayat enam, “Dari telapak kaki sampai kepala tidak ada yang sehat; bengkak dan bilur serta luka baru, tidak dibersihkan atau dibalut atau dioleskan minyak.” Seperti tubuh yang memar, dipukuli, dihantam, sakit, dan lemah, demikianlah keadaan Israel. Lalu Tuhan mendatangkan hukuman. “Negerimu menjadi sunyi sepi, kota-kotamu habis terbakar.” – ayat tujuh – “Di depan matamu orang asing menjarah tanahmu, sunyi sepi, dijungkirbalikkan orang asing.”

Inilah pola dalam kitab Yesaya, ada dosa dan ada penghakiman. Tapi, mari kita lihat ayat 16 – mungkin lebih baik kita mulai membaca di ayat 14. “Perayaan bulan baru dan hari-hari rayamu Aku benci. Semua itu menjadi beban bagi-Ku, Aku sudah lelah menanggungnya. Ketika kamu menadahkan tanganmu, Aku akan menutup mata-Ku terhadap kamu, bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah.” Mereka ada dalam kondisi yang serius dan kemudian muncullah ini: “Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!” Dan kemudian ada undangan ini: “Marilah, baiklah kita berperkara,” firman Tuhan, “Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” Ayat yang luar biasa ini adalah tentang Tuhan yang menawarkan kasih karunia dan belas kasihan-Nya kepada orang-orang berdosa, yang kepadanya Dia telah menetapkan hukuman yang akan menimpa mereka, kecuali mereka bertobat. Nah, pola ini berlanjut sepanjang Yesaya dengan cara yang sangat luar biasa. Kita punya waktu untuk melihat beberapa di antaranya. Pasal 40, setelah semua janji tentang penghakiman yang akan datang, Pasal 40 dimulai dengan, “Hiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku, demikianlah firman Allahmu. Tenangkanlah hati Yerusalem dan serukanlah kepadanya, bahwa perhambaannya sudah berakhir, bahwa kesalahannya telah impas, sebab ia telah menerima hukuman dari tangan TUHAN dua kali lipat karena segala dosanya. Keselamatan telah menantinya.” Ini adalah suatu ungkapan belas kasihan yang luar biasa.

“Ada suara yang berseru-seru: ‘Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita! Setiap lembah harus ditimbun, setiap gunung dan bukit diratakan; tanah yang berbukit-bukit harus menjadi tanah yang rata, tanah yang berlekuk-lekuk menjadi dataran; maka kemuliaan TUHAN akan dinyatakan dan seluruh umat manusia akan melihatnya bersama-sama; sungguh, TUHAN sendiri telah mengatakannya.’ Akan datang keselamatan yang besar dan mulia.” Bahasa yang sama muncul di Pasal 42, ayat enam, “Aku, TUHAN, telah memanggil engkau dalam kebenaran, telah memegang tanganmu; Aku telah menjaga engkau dan menjadikan engkau perantara perjanjian bagi umat manusia, terang untuk bangsa-bangsa, untuk membuka mata yang buta, untuk mengeluarkan orang hukuman dari penjara dan orang-orang yang duduk dalam kegelapan dari rumah tahanan. Aku, TUHAN, itulah nama-Ku; Aku tidak memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain.” Ayat ini adalah rujukan kepada Mesias yang merupakan sosok hamba yang disebutkan di awal Pasal 42. Jadi, bagi bangsa yang tidak taat, berdosa, jahat, dan terhukum ini, dapat kita katakan, bahwa Dia telah menetapkan bagi bangsa itu, keselamatan yang akan datang, kerajaan yang akan datang, dan Mesias yang akan datang. Anda dapat menemukan hal yang sama di awal Pasal 43. Anda dapat menemukannya di Pasal 52. Dan Anda dapat menemukannya di Pasal 53.

Tetapi mari kita lihat Pasal 55 - dan Pasal ini adalah bagian Alkitab yang sangat luar biasa. Setelah mengucapkan tentang penghakiman dan dakwaan atas dosa, seperti ada berbunyi “Hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang dan makanlah, juga anggur dan susu tanpa bayar! Mengapa kamu belanjakan uang untuk yang bukan makanan, dan upah jerih payahmu untuk yang tidak mengenyangkan? Dengarkanlah Aku, maka kamu akan memakan yang baik, dan menikmati sajian yang paling lezat. Arahkanlah telingamu dan datanglah kepada-Ku; dengarkanlah, maka kamu akan hidup! Aku hendak mengikat perjanjian abadi dengan kamu, menurut kasih setia-Ku yang teguh kepada Daud.” Dan kemudian Dia menarik orang kepada diri-Nya dalam ayat enam, “Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat! Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan menyayanginya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya.” Anda mungkin berkata, "Saya tidak mengerti Tuhan. Saya tidak mengerti bagaimana Tuhan dapat melihat orang-orang yang telah menyembah dewa lain, orang-orang yang telah meninggalkan-Nya, orang-orang yang tidak menunjukkan apa pun kepada-Nya selain pemberontakan dan pembangkangan, dan Dia pun telah mengucapkan hukuman atas mereka. Lalu bagaimana kemudian, Tuhan bisa memperpanjang kasih-Nya kepada mereka seperti ini? Apakah kesabaran Tuhan sebegitu besarnya?

Jawabannya ada di ayat 8, “Sebab, rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” Ketika kesabaran Anda habis, kesabaran Tuhan tidak. Ketika Anda melihat sesuatu dan berpikir, kesabaran Tuhan pasti sudah habis karena kesabaran saya sudah lama habis, tetapi kesabaran Tuhan tidak pernah habis. Dan jawabannya adalah bahwa Tuhan jauh melampaui kita, tak terhingga lebih dari kita, dalam cara Dia berpikir dan bertindak. Keunikan Tuhan adalah ini: ketika Dia sangat tersinggung dan Dia terus-menerus diserang, Dia akan tetap datang kepada para pelanggar itu, dan memperingatkan mereka tentang penghakiman yang akan datang, lalu menawarkan pengampunan, belas kasihan, kasih karunia dan kasih sayang-Nya, dan menjadikan mereka sebagai anak-anak-Nya, dan membawa mereka ke surga-Nya yang kudus untuk selamanya. Itulah Tuhan yang tergantung di kayu salib. Tuhan yang kesabarannya jauh melampaui kita karena jalan-jalan-Nya bukanlah jalan-jalan kita, dan pikiran-Nya bukanlah pikiran kita. Perbedaan yang luar biasa di Golgota adalah perbedaan antara penghinaan tanpa ampun dari orang banyak dan perantaraan penuh belas kasihan dari Kristus, dan itulah dua hal yang saya ingin Anda lihat. Ada Penghinaan yang tak kenal ampun dari orang banyak, di ayat 35. Kita akan melihat penghinaan tanpa belas kasihan dari orang banyak ini. Orang banyak itu terdiri dari empat kelompok. Ada orang banyak itu sendiri, para pemimpin, para prajurit dan para pencuri, dan mereka semua memiliki tanggapan yang sama terhadap Tuhan Yesus. Mereka benar-benar tidak memiliki simpati. Mereka tidak berperasaan, kejam, dan brutal.

Ayat 35, “Orang banyak berdiri di situ dan melihat semuanya.” Nah, Lukas telah memberikan kita sudut pandang terbaik tentang orang banyak itu. Dari kitab Lukas, kita melihat bahwa mereka tampak berada dalam keadaan yang linglung, seperti sedang menyaksikan olahraga berdarah digelar; hanya melihat saja dan menyaksikan komedi itu berlangsung. Jangan lupa bahwa seluruh peristiwa ini telah disusun oleh orang-orang Yahudi dan Romawi untuk menjadi suatu komedi, bahwa Tuhan Yesus mengklaim sebagai seorang raja, dan itu tampak lucu. Itulah yang menjadi titik pemicu seluruh lelucon ini. Semua cemoohan, semua ejekan, dan semua sindiran kasar ini untuk menyerang Tuhan Yesus yang mengaku sebagai raja. Ingat, semuanya dimulai sebelum kejadian ini, seperti yang kita lihat dengan para tentara sebelumnya, waktu mereka mengenakan jubah pada tubuh-Nya, meletakkan buluh di tangan-Nya, dan menancapkan mahkota duri di atas kepala-Nya. Dan ini terus berlanjut ketika mereka menyalibkan-Nya, Dia disalibkan di sana bersama dua pencuri, tetapi mereka memastikan untuk menyalibkan satu pencuri di satu sisi-Nya dan satu pencuri lagi di sisi-Nya yang lain sehingga, dengan cara yang mengejek, hal itu akan mencerminkan seorang raja dengan dua orang pembantunya yang paling penting, satu di sebelah kanan dan satu di sebelah kiri-Nya. Lalu mereka mengejek-Nya dengan bahasa sindiran bahwa jika Ia seorang raja, mungkin Dia harus menunjukkan sebagian dari kekuasaan-Nya yang besar. Mereka sedang mengejek-Nya dan itu dilakukan tanpa simpati. Anda tidak akan menemukan simpati sama sekali di antara orang banyak ini. Tidak seorang pun yang menunjukkan simpati kepada-Nya dan ini adalah pemandangan paling brutal dan kejam yang dapat dibayangkan.

Kita mungkin mengharapkan kekejaman dari tentara Romawi karena mereka melakukan ini sepanjang waktu. Mereka adalah algojo yang pekerjaannya menyalibkan orang. Kita mungkin bahkan mengharapkan kekejaman dari para pemimpin, para pemimpin agama, karena mereka telah menunjukkan betapa kejamnya mereka dengan membebankan beban berat kepada orang-orang, di mana mereka tidak pernah melakukan apa pun untuk membantu mereka. Mereka sangat tidak ramah terhadap orang berdosa, pemungut cukai dan tipe-tipe orang yang diterima Tuhan Yesus. Kita mungkin mengharapkan kekejaman yang tidak berperasaan dari para penjahat karena memang mereka berprofesi sebagai penjahat, dan lama kelamaan, simpati dan kasih sayang mungkin sudah tidak ada lagi di hati mereka, jadi kita tidak akan terkejut dengan mereka. Tapi, tidakkah kita mengharapkan bahwa kerumunan orang ini mungkin sedikit lebih simpatik? Maksud saya, ini adalah orang-orang, yang mungkin disembuhkan oleh Tuhan Yesus dari penyakit tertentu. Mungkin mereka adalah orang-orang yang telah mengalami mujizat-mujizat lain yang dilakukan Tuhan Yesus di daerah Yudea dan Yerusalem, dan banyak dari mereka berasal dari Galilea di utara. Mungkin ada, dan pasti ada, orang-orang dalam kerumunan ini yang mengalami diberi makan di antara 5.000 orang ketika Tuhan Yesus membuat makanan itu. Pasti ada orang-orang yang sangat mengenal mereka yang telah disembuhkan, mungkin yang diberi pendengaran atau penglihatan, atau dibangkitkan untuk berjalan dari keadaan lumpuh. Bukankah kita seharusnya mengharapkan sesuatu yang lebih simpatik dari mereka, dan bukankah mereka pernah mendengar pengajaran Tuhan Yesus, dan bukankah mereka pernah mengalami kelembutan dan kerendahan hati Kristus serta kasih Kristus yang begitu nyata dalam keindahan dan kebesaran dari apa yang Dia ajarkan?

Tapi yang terjadi malah orang banyak itu tidak kenal ampun. Anda mungkin berkata, "Tunggu sebentar. Ayat itu hanya menuliskan ‘orang banyak berdiri di situ dan melihat semuanya’”. Tapi maaf saja saya harus mengatakannya kalau itu bukan satu-satunya yang dapat dikatakan tentang orang banyak yang tidak kenal ampun ini. Ini adalah kerumunan yang besar. Mereka datang dari berbagai tempat karena ini adalah Perayaan Paskah. Kota ini dipenuhi oleh ratusan ribu orang, dan kerumunan yang bergerak menuju Golgota sejak persidangan pagi-pagi sekali itu semakin banyak dan besar, karena Tuhan Yesus adalah orang yang paling populer di negeri ini dan Dia menarik kerumunan besar yang kini terkumpul di sekitar salib. Mereka adalah orang-orang yang ada di sana pada hari Senin untuk menyambut-Nya sebagai calon raja ketika Tuhan Yesus datang ke kota itu. Mereka adalah orang-orang yang sama pagi itu berteriak-teriak, "Salibkan Dia! Salibkan Dia!" dan saya rasa, dari yang diceritakan Lukas kepada kita, sekarang mereka tampak agak kelelahan dengan tatapan yang kosong. Namun kitab Matius dan Markus memberi tahu kita lebih banyak dan memberi tahu kita apa yang perlu kita ketahui. Matius 27:39, “Orang-orang yang lewat di sana menghujat Dia dan sambil menggelengkan kepala, mereka berkata, "Hai Engkau yang mau meruntuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu dan selamatkanlah diri-Mu!"  Demikian juga imam-imam kepala, dst.”

Jadi, yang melakukannya adalah orang banyak dan para pemimpin. Markus 15 ayat 29 berkata, "Orang-orang yang lewat di sana menghujat Dia, dan sambil menggelengkan kepala mereka berkata, "Hai Engkau yang mau meruntuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, turunlah dari salib itu dan selamatkan diri-Mu!" Sekali lagi, dengan cara yang sama, yang memisahkan para pemimpin dari orang banyak yang lalu lalang. Orang banyak itu juga terlibat. Mereka telah dipengaruhi oleh para pemimpin. Mereka mudah tergoda oleh hati mereka yang jahat karena ketidakpercayaan, dan mudah tergoda oleh manipulasi para pemimpin mereka. Mereka ikut bermain dalam permainan komedi itu dan mencurahkan sindiran yang jahat kepada Tuhan Yesus. Orang banyak ini tidak pernah melakukan hal yang benar. Mereka tidak melakukan apapun yang benar sepanjang minggu itu. Mereka kejam dan tanpa ampun, terhadap Anak Allah yang penuh belas kasihan. Sungguh luar biasa. Benar-benar luar biasa. Mungkin ini adalah perilaku terburuk yang pernah dilakukan oleh orang-orang Israel. Jadi kita melihat ada orang banyak yang tidak kenal ampun, dan kemudian para pemimpin yang tidak kenal ampun – kembali ke Lukas 23:35, "Tetapi pemimpin-pemimpin mengejek Dia." Tentu saja mereka yang telah mengatur semuanya, sambil berkata "Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah." Disini, mereka menggunakan istilah-istilah Mesianik, Kristus Allah, Yang Diurapi. Kata Mesias, dan Yang Dipilih-Nya adalah gelar Mesianik yang diambil dari Daniel Pasal 9. Ungkapan-ungkapan Perjanjian Lama yang berkaitan dengan Mesias dirujuk secara umum ketika mereka menggunakan istilah Kristus dari Allah. Kata-kata khusus, “Yang Dipilih-Nya” berasal dari Daniel 9 dan jelas merupakan gelar Mesianik.

Jadi, mereka mengejek-Nya karena klaim-Nya sebagai Mesias. Mereka mengejek-Nya karena klaim-Nya sebagai orang yang dipilih oleh Tuhan. Mereka mengejek-Nya - ini kata yang sangat keras yang hanya digunakan di sini dan satu kali lagi dalam Injil Lukas, dan tidak ada di tempat lain dalam Perjanjian Baru. Kata ini adalah kata majemuk. Kata dalam bahasa Yunani untuk hidung adalah muktēr. Kata ini adalah ekmuktērizō yang artinya menyunggingkan hidung pada-Nya. Kata itu adalah kata majemuk yang Anda lakukan dengan cara yang ekstrem; dengan ejekan dan cemoohan yang intens. Mereka menghujat-Nya. Dan tolong perhatikan bahwa mereka tidak berbicara kepada Tuhan Yesus. Mereka tidak pernah berbicara langsung kepada-Nya. Tidak ada catatan di sekitar peristiwa salib yang menunjukkan bahwa mereka pernah berbicara kepada-Nya. Mereka justru berbicara kepada orang banyak tentang Dia. "Dia menyelamatkan orang lain, biarlah Dia menyelamatkan diri-Nya sendiri jika ini adalah Kristus, Orang yang dipilih Allah." Mereka tidak pernah berbicara kepada Kristus. Tujuan mereka adalah untuk membangkitkan kerumunan, jadi mereka tidak pernah berbicara langsung kepada Tuhan Yesus. "Dia menyelamatkan orang lain, biarlah Dia menyelamatkan diri-Nya sendiri." Apa maksud mereka dengan sindiran dan ejekan itu? Dia tidak menyelamatkan siapa pun. Siapa yang pernah Dia selamatkan? Dari apa? Dia tidak pernah menyelamatkan siapa pun. Tapi tentu saja pembebesan dalam pandangan mereka adalah pembebasan secara politik dan militer.

Jadi karena Dia telah melakukan pekerjaan yang luar biasa dalam menyelamatkan semua orang lain dan membebaskan seluruh Israel, biarlah Dia membebaskan diri-Nya sendiri. Ini benar-benar suatu penghinaan. Dan jujur saja, mereka sangat bangga telah menjadi penakluk raja yang palsu ini. Mereka merasa sangat bangga. Mereka bahkan dengan sukarela menerima tanggung jawab dengan mengatakan, "Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami. Menurut kisah Matius, dalam Matius 27:42, dikatakan, "Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Jika Ia Raja Israel, baiklah Ia turun dari salib itu, maka kami akan percaya kepada-Nya. a mempercayakan diri-Nya kepada Allah: Biarlah Allah menyelamatkan Dia sekarang, jikalau Allah berkenan kepada-Nya! Karena Ia telah berkata: Aku Anak Allah." Anda tahu, mereka mengatakan hal-hal ini dan mereka sama sekali tidak tahu apa yang mereka telah katakan. Dengarkan ini. Mazmur 22 melihat pada salib Kristus. Mazmur ini adalah nubuatan. Dimulai seperti ini di awal Mazmur 22, "Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?" Apakah itu terdengar tidak asing? Itu adalah perkataan Tuhan Yesus di kayu salib. Tapi, lihatlah ayat tujuh, Mazmur 22 ayat 7, “Cela bagi manusia, dihina oleh orang banyak. Semua yang melihat aku mengolok-olok aku. mereka mencibirkan bibirnya, menggelengkan kepalanya.” Itulah yang mereka lakukan. “Ia menyerah kepada TUHAN; biarlah Dia yang meluputkannya, biarlah Dia yang melepaskannya! Bukankah Dia berkenan kepadanya?” Semua sindiran itu telah dinubuatkan dalam kitab Mazmur dan mereka menggenapinya semuanya.

Nah, Anda dapat kembali ke Lukas Pasal sembilan dan dalam ayat 20 dan 35 Anda akan melihat bahwa Tuhan Yesus memang mengambil gelar Kristus dan Dia memang mengambil gelar Orang yang Dipilih-Nya. Mereka tahu bahwa Dia mengklaimnya, tapi itu menggelikan buat mereka sehingga mereka mengubahnya menjadi suatu lelucon. Ingat, Paulus mengatakan dalam 1 Korintus 1 bahwa Mesias yang disalibkan adalah batu sandungan bagi orang Yahudi, dan tentu saja bagi orang bukan Yahudi itu adalah suatu kebodohan. Mereka menganggap seseorang yang tergantung di kayu salib dikutuk oleh Allah, menurut Ulangan 21:23, dan Tuhan Yesus dianggap dikutuk oleh Allah, sehingga mereka menumpahkan segala hinaan atas diri-Nya berdasarkan anggapan bahwa Dia adalah Mesias sejati dan Raja yang telah mereka tunggu-tunggu. Bagaimana mungkin itu benar? Kan sangat tidak masuk akal. Jadi, para pemimpin ini mengatur semuanya dan menghasut orang banyak yang tidak berpikir jauh. Seperti yang saya katakan, mereka tidak tahu bahwa Dia memang sedang dikutuk oleh Allah. Itu memang benar. Lebih jauh, Yesaya 53:4 berkata, “Ia dipukul dan disakiti Allah,” dan ayat 10 berkata, “Tuhan berkehendak meremukkan dia, membuat dia sakit.” Paulus mengingat kembali akan hal itu dan berkata bahwa Dia telah dijadikan kutuk bagi kita. Tapi, semua itu tidak masuk akal bagi orang-orang itu.

Lalu ada kelompok yang ketiga. Ada orang-orang tanpa belas kasihan di antara orang banyak itu. Ada pemimpin-pemimpin tanpa belas kasihan, dan yang ketiga, ada prajurit-prajurit tanpa belas kasihan. Ayat 36, “Juga prajurit-prajurit mengolok-olokkan Dia; mereka menawarkan anggur asam kepada-Nya, dan berkata, "Jika Engkau raja orang Yahudi, selamatkanlah diri-Mu!". Mereka ini tidak tahu apa pun tentang teologi Yahudi. Mereka hanya ikut-ikutan saja. Mereka hanya ikut arus saja. Para prajurit yang kejam ini ikut mengolok-olok-Nya. Mereka mengolok-olok Dia. Kata dalam bahasa Yunani yang sesungguhnya, empaizō, berarti mengejek. Mereka menambah rasa sakit pada dirinya di depan wajahnya saat dia tergantung dalam penderitaan. Dan dengan tindakan pura-pura tunduk dan melayani-Nya seolah-olah Dia adalah seorang raja, mereka menawarkan-Nya anggur asam. Nah, ada beberapa kejadian yang teridentifikasi dengan jelas bahwa Kristus ditawari sesuatu untuk diminum saat Dia disalibkan. Yang pertama adalah ketika mereka membawa-Nya ke tempat untuk disalibkan, Anda ingat mereka menawarkan-Nya minuman yang mengandung obat penenang, yang kemungkinan digunakan untuk sedikit menenangkan orang yang akan disalib sehingga akan lebih mudah untuk memaku-Nya di kayu salib dan ia tidak akan melawan. Dan TuhanYesus menolak itu. Anda ingat itu?

Dan kemudian ketika Dia hampir mati, enam jam kemudian, di penghujung hari, pada pukul 3:00 sore saat Dia akan meninggal, Dia berkata, "Saya haus," dan disitu mereka mengangkat minuman kepada-Nya dengan spons yang ditaruh di ujung tongkat. Bagi saya, ini tampaknya berbeda. Ini tampaknya merupakan bagian dari permainan yang mereka mainkan. Mereka tidak memberikan anggur kepada-Nya untuk memenuhi permintaan-Nya. Spons ini tidak tampak seperti obat penenang karena Dia sudah ada di sana dan ejekan-ejeken sudah mencapai puncaknya. Sepertinya mereka menawarkan anggur asam kepada-Nya dan pada saat yang sama mereka berkata, ‘jika Engkau adalah Raja orang Yahudi, selamatkanlah diri-Mu sendiri’. Apa yang dilakukan adalah tindakan penghormatan palsu, seolah-olah mereka membawa anggur kerajaan kepada sang raja. Ejekan itu mencapai puncaknya. Para prajurit Romawi minum anggur murahan. Mereka menawarkannya kepada-Nya, dengan meniru para pemimpin dan meniru orang banyak, mereka melontarkan ejekan yang sama.

Ayat 38 merupakan catatan yang sangat penting dalam teks ini. Ada juga sebuah tulisan di atas salib-Nya, "Inilah raja orang Yahudi," dan tentu saja itu adalah tema yang menjadi latar belakang seluruh komedi ini. Semuanya peristiwa berputar pada tema itu. Dari mana tulisan itu berasal? Jawabannya ada pada Yohanes 19. Secara sejarah, kita tahu bahwa ketika orang-orang disalibkan, kejahatan mereka diumumkan, dan karena Tuhan Yesus tidak melakukan kejahatan, maka tidak ada kejahatan yang dapat diumumkan di atas-Nya. Jadi Pilatus memutuskan apa yang akan ditempelkan pada tanda itu. Pilatus, dalam Yohanes 19, menulis sebuah tulisan dan meletakkannya di salib. Ini adalah perintah Pilatus dan inilah yang tertulis, "Yesus, orang Nazaret" atau Yesus dari Nazaret, "Raja orang Yahudi." Jika Anda menggabungkan Injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes, sebenarnya tertulis, "Inilah Yesus dari Nazaret, Raja orang Yahudi." Semua itu dipajang di sana. Nah, oleh karena itu, tulisan ini pasti dibaca oleh banyak orang Yahudi karena tempat Tuhan Yesus disalibkan dekat dengan kota, dan lagi-lagi ini menjadi alasan mengapa ada begitu banyak orang disana.

Tulisan itu ditulis dalam bahasa Ibrani, Latin dan Yunani. Pilatus ingin semua orang mengetahuinya, jadi para imam kepala dan orang-orang Yahudi berkata kepada Pilatus, "Jangan tulis ‘Raja orang Yahudi’, tetapi bahwa Dia yang mengatakan, "Akulah Raja orang Yahudi." Tapi jawaban Pilatus adalah, "Apa yang telah kutulis, tetap tertulis." Pilatus tidak akan mengubahnya karena ini adalah cara Pilatus untuk mengejek mereka. Mereka telah mengejeknya. Mereka telah memaksa Pilatus ke posisi yang sulit dan memerasnya untuk mengeksekusi seorang pria yang dia tahu tidak bersalah. Bahkan istrinya berkata agar Pilatus mencuci tangannya dari orang yang tidak bersalah ini. Pilatus berkata berulang kali, "Aku tidak menemukan kesalahan pada-Nya." Herodes pun tidak menemukan kejahatan apa pun. Dan Pilatus telah dibuat tampak seperti orang bodoh dan dia tidak akan membiarkannya begitu saja, jadi dia ingin membalikkan keadaan dan membuat mereka terlihat bodoh. Ini menjadi lelucon kecil Pilatus: ‘Inilah Yesus dari Nazaret, Raja orang Yahudi’. Sedangkan orang banyak berkata, 'Turunkan itu dan gantikan dengan Dia berkata Dia adalah Raja orang Yahudi,' tapi Pilatus berkata, 'Apa yang telah kutulis, tetap tertulis.' Jadi disini Anda melihat orang-orang mengejek Tuhan Yesus tapi Pilatus mengejek orang-orang ini.

Nah, tulisan seperti itu di bagian atas menunjukkan bahwa salib itu adalah salib tradisional dengan bagian dari balok panjang yang memanjang di atas balok salib tempat tanda itu dipasang, dan bukan salib berbentuk T, karena tulisan itu dipasang di atas kepala-Nya. Lalu ada hal lain tentang para prajurit itu di akhir ayat 34, dikatakan, “Mereka membuang undi untuk membagi pakaian-Nya." Nah, itu adalah prosedur standar. Para algojo diberi hak untuk menyimpan barang-barang terakhir orang yang dihukum mati, seperti pakaian dan barang-barang lainnya. Saya rasa itu semacam keuntungan kecil tambahan. Dan ada sedikit detail lebih lanjut tentang hal ini di kitab Yohanes karena Yohanes memberi kita wawasan tentang apa yang sebenarnya dilakukan oleh para prajurit. Dalam Yohanes 19:23, "Sesudah prajurit-prajurit itu menyalibkan Yesus, mereka mengambil pakaian-Nya lalu membaginya menjadi empat bagian." Ada empat bagian. Ada empat pakaian yang dikenakan seorang pria pada zaman itu. Ada jubah luar yang digunakan untuk menghangatkan tubuh, seperti jaket, dan digunakan untuk tidur sebagai selimut. Ada sepatu atau sandal. Ada penutup kepala. Ada ikat pinggang atau sabuk. Empat bagian.

Kita tahu bahwa ada empat prajurit Romawi yang ditugaskan untuk penyaliban. Jika Anda melihat dalam Kisah Para Rasul 12:4, Anda membaca tentang satu regu Romawi. Itu adalah quaternion yang terdiri dari empat orang. Bahkan satu pasukan penuh terdiri dari empat regu, jadi sangat mungkin ada empat prajurit dalam satu regu eksekusi. Itulah sebabnya empat pakaian-Nya bisa dibagi satu untuk masing-masing dari empat prajurit, tetapi ada juga sebuah tunik yang merupakan pakaian biasa-Nya, dan tunik itu tidak bercelah, terbuat dari satu benang yang ditenun jadi satu potong, jadi mereka berkata ‘Jangan merobeknya. Mari kita membuang undi untuk menentukan siapa yang akan memilikinya.’ Jadi ayat Alkitab dalam Mazmur 22 ini digenapi, “Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku.”

Jadi itulah yang mereka lakukan. Mereka membuang undi, membagi pakaian-Nya di antara mereka, masing-masing mengambil satu potong dan kemudian seseorang memenangkan jubah-Nya. Saat Anda memikirkan hal itu, sekarang Anda menyadari bahwa seluruh pakaian Tuhan Yesus telah dilucuti. Dia telah dilucuti dari semua pakaian-Nya dan Dia dalam keadaan telanjang, kecuali tersisa kain cawat. Dan mereka melakukan segala yang mereka bisa untuk melucuti semua martabat-Nya, jika memang ada yang tersisa dari martabat-Nya. Mereka ingin menjadikan-Nya sebegitu hina sehingga tidak akan ada yang tersisa. Dia tergantung di sana dalam keadaan telanjang. Anda tidak dapat tidak memikirkan hal itu tanpa mengingat bahwa ketika Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, mereka segera sadar bahwa mereka adalah, apa? telanjang. Ketelanjangan telah dikaitkan dan menjadi simbol dari rasa bersalah moral, simbol rasa malu di hadapan Tuhan. Dan dengan berhasil, mereka mencoba untuk membuat penutup untuk diri mereka sendiri, dan Tuhan turun tangan dalam Kejadian Pasal tiga dengan membunuh seekor binatang, untuk membuat penutup bagi mereka, untuk rasa malu dan ketelanjangan itu, dan untuk simbol rasa malu dan rasa bersalah moral, Tuhan sendiri yang membuatkan penutupnya.

Di sini, di Golgota, Tuhan Yesus dibuat telanjang menggantikan kita. Tuhan Yesus berada dalam posisi untuk mewujudkan simbol rasa bersalah moral dan rasa malu moral di hadapan Bapa, hanya saja Dia tidak ditutupi. Dia dihakimi. Dia dikutuk oleh Allah dalam ketelanjangan itu, bukan karena kesalahan-Nya, tetapi kesalahan kita. Tuhan Yesus telanjang menggantikan kita, Tuhan Yesus telanjang sebagai simbol rasa bersalah moral dan rasa malu moral kita, dan itu tidak ditutupi oleh Allah. Dia dihakimi oleh Allah dan Allah mencurahkan murka-Nya yang penuh atas ketelanjangan itu. Dan Tuhan Yesus, yang dibuat telanjang bagi kita, menjadi penutup kita. Dia yang menjadi penutup kita, Anak Domba yang menutupi kita. Ini adalah ironi ilahi.

Lalu yang terakhir ada pencuri tanpa belas kasihan, ayat 39, “Salah seorang penjahat yang digantung itu menghujat Dia, katanya, ‘Bukankah Engkau Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!’” Mereka semua ini memainkan permainan yang sama. Salah satu pencuri, hanya satu yang dikutip oleh Lukas, tetapi Matius dan Markus menceritakan kisah selanjutnya. Inilah yang dikatakan Matius 27:44, "Penyamun-penyamun yang disalibkan bersama-sama dengan Dia mencela-Nya demikian juga," keduanya; jamak. Markus 15:32, "Kedua orang yang disalibkan bersama-sama dengan Dia mencela Dia juga." Mereka berdua ikut menghina; seluruh orang banyak, semua pemimpin, semua prajurit, dan kedua pencuri. Yang dilakukan Lukas hanyalah mencatat bagi kita apa yang dikatakan salah satu dari keduanya, tetapi mereka berdua terlibat. "Bukankah Engkau adalah Kristus?" sekali lagi dengan cemoohan dan sindiran, "Selamatkanlah diri-Mu dan kami." Itu semua dikatakan tanpa belas kasihan.

Jadi, berlawanan dengan sikap penghinaan tanpa belas kasihan ini, kita melihat campur tangan penuh belas kasihan dari Kristus. Ini sungguh sangat mencengangkan, sangat bertolak belakang. Ayat 34, “Yesus berkata, ‘Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat’” Ini benar-benar mengejutkan. Sangat mengejutkan. Tak diragukan lagi bahwa apa yang dimuntahkan dari hati-hati yang jahat dan mulut-mulut yang jahat ini tepat kepada Anak Allah adalah penghujatan tertinggi, penistaan tertinggi terhadap kekudusan, dosa terendah yang pernah dilakukan, kejahatan terendah yang pernah dilakukan, dan pantas mendapatkan kutukan ilahi, ancaman ilahi, pembalasan ilahi, penghakiman ilahi, dan penghukuman ilahi. Semuanya adalah ketidakadilan yang tak tertandingi, pelanggaran yang tak ada bandingannya. Ini adalah bidah di atas bidah, ketidakhormatan di atas ketidakhormatan, kata-kata kotor di atas kata-kata kotor, dan penistaan ​​yang tak terbayangkan. Kita mungkin mengira bahwa Tuhan Yesus akan mengutuk mereka semua dengan keras, menghakimi mereka, dan membuat mereka membayar kejahatan mereka yang keterlaluan dan ekstrem saat itu juga. Tapi Dia tidak melakukan hal itu.

Sebaliknya, Dia berkata, “Bapa, ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Dia meminta Allah untuk memberikan pengampunan bagi mereka. Nah, Tuhan Yesus mengucapkan tujuh hal dari kayu salib. Dia berkata kepada salah seorang pencuri, “Hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” Kemudian ia berkata kepada ibu-Nya dan Yohanes, “Lihatlah ibumu, lihatlah anakmu,” dan Dia menyerahkan perawatan ibu-Nya kepada rasul Yohanes yang berdiri jauh, sangat jauh. Dan kemudian, selama tiga jam seluruh bumi menjadi gelap dan Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dan setelah kegelapan itu Dia berbicara kepada Bapa dan Ia berkata, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Dan kemudian Ia berbicara kepada para prajurit dan berkata, “Aku haus,” dan mereka memberikan spons itu kepada-Nya. Dan kemudian Ia berkata kepada dirinya sendiri dan berkata, “Sudah selesai.” Dan kemudian Ia berbicara kepada Bapa dan berkata, “Ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Tetapi hal pertama yang Ia katakan, sebelum semua itu adalah, “Bapa, ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Kata-kata pertama-Nya adalah kata-kata yang memohon pengampunan bagi para pendosa paling celaka di dunia. Tentu saja ini adalah Tuhan Yesus, sang Bapa, yang berlari untuk memeluk anak yang hilang itu, bukan? Ini tidaklah mengherankan. Tuhan Yesus bahkan berkata bahwa semakin seseorang diampuni, semakin mereka mengasihi, jadi Dia membuat diri-Nya mengampuni para pendosa besar ini sehingga Dia dapat mengalami kasih yang besar dari mereka.

Petrus berkata bahwa ketika Dia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, 1 Petrus 2:23 dan 24. Stefanus memahami hal ini dan ketika Stefanus melihat kehidupan dihancurkan oleh batu-batu berdarah, Stefanus, mengikuti Tuhannya dengan berkata, "Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka." Ini adalah doa yang umum. Untuk memahami apa yang ia maksud dengan ini, ini adalah doa yang umum agar seluruh dunia tahu bahwa tidak ada dosa terhadap Anak Allah yang begitu berat yang tidak dapat diampuni jika seseorang bertobat. Itulah pesannya. Jika ada pengampunan bagi orang-orang ini, maka ada pengampunan bagi siapa pun. Anda tidak dapat melampauinya. Namun, lebih dari sekadar doa umum, ini pun adalah doa khusus. Ketika ia berkata, "Bapa, ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan," Dia tahu siapa "mereka" itu karena pada hari Pentakosta, 3.000 orang Yahudi di Yerusalem bertobat kepada Kristus dan dibaptis, dan gereja pun dimulai. Dalam beberapa minggu setelah itu, 5.000 laki-laki lainnya dan semakin banyak orang hingga puluhan ribu orang di Yerusalem yang beriman kepada Yesus Kristus. dan pasti ada banyak dari mereka, yang ada di sana di antara kerumunan itu, yang datang kepada Kristus pada minggu-minggu setelah kebangkitan, sehingga itu adalah doa umum yang memberi tahu seluruh dunia bahwa orang berdosa yang bertobat dan datang kepada Kristus, dapat diampuni dari kejahatan terburuk sekalipun. Tetapi, doa itu juga merupakan doa yang khusus, bahwa Tuhan tahu dalam pikiran-Nya sejak sebelum dasar dunia, siapa di antara mereka yang benar-benar akan Dia ampuni. Sebuah gereja lahir dari orang-orang ini, yang berdiri di kaki bukit Golgota dan menghina Anak Allah. Mereka ini yang menjadi gereja pertama. Tidak hanya itu, ada seorang prajurit di antara para prajurit itu - salah satu dari mereka datang kepada keselamatan.

Lukas 23: 47, “Ketika kepala pasukan melihat apa yang terjadi, ia memuliakan Allah, katanya, ‘Sungguh, orang ini tidak bersalah!’". Dan kitab Matius mengatakan bahwa ia mengatakan sesuatu selain itu. Dia berkata, "Orang ini adalah Anak Allah." Nah, jangan berpikir bahwa itu hanya kepala pasukan itu. Dengarkan Matius 27:54, "Kepala pasukan dan prajurit-prajuritnya yang menjaga Yesus menjadi sangat takut ketika mereka melihat gempa bumi dan apa yang telah terjadi, lalu berkata, ‘Sungguh, Orang ini Anak Allah.’" Doa itu dijawab saat itu juga. Beberapa orang di antara orang banyak itu membentuk gereja pertama. Beberapa di antara para prajurit mengakui keilahian Yesus Kristus, dan seorang perwira Romawi memuji Tuhan Israel yang sejati dan mengakui kenyataan tentang Anak-Nya, dan yang lainnya bersama Dia? Nah, beberapa pemimpin juga mengatakannya. Dalam Kisah Para Rasul 6:7, "Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak;" Lalu, dengarkan ini: "juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya." Nah, salah satu dari dua pencuri itu pun ada yang berkata, “Ingatlah aku apabila Engkau datang sebagai raja,” dan kepadanya Tuhan Yesus berkata “Hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”

Artinya, doa ini merupakan doa umum yang memohon pengampunan Tuhan bagi semua orang yang telah menolak Kristus, tidak peduli seberapa besar kejahatan yang dilakukan terhadap-Nya. Namun, di sisi lain, doa ini merupakan doa yang sangat khusus, yang langsung dijawab di antara orang banyak, di antara para prajurit, di antara para pencuri, dan bahkan di antara para imam. Ironi besar dari Golgota adalah bahwa sementara semua penghinaan ini ditimpakan kepada Kristus, Dia sedang memikul kutukan Allah yang jauh lebih buruk daripada apa pun yang bisa mereka timpakan kepadanya. Anda berpikir dikutuk oleh manusia itu buruk, tapi Dia sedang dikutuk oleh Allah. Tetapi dengan memikul kutukan dari manusia dan kutukan dari Allah, Dia menyediakan penebusan yang memungkinkan pengampunan yang Dia doakan menjadi mungkin.

Tuhan, kami bersyukur sekali lagi atas peristiwa itu, betapa jelasnya, betapa kayanya, betapa menakjubkannya, yang memenuhi jiwa kami dengan sukacita dan rasa syukur. Itulah doa dari hati saya, agar semua yang ada di sini memiliki hubungan yang sejati dengan Kristus, agar kita hanya percaya kepada-Nya saja sebagai penebus dan juru selamat kita, agar kita menerima pengampunan yang Dia tawarkan, bahkan bagi mereka yang telah menghujat nama-Nya yang kudus. Kami bersyukur atas kebesaran kasih karunia. Kami bersyukur bahwa Engkau bersedia menanggung semua kutukan manusia, dan terlebih lagi kutukan Allah, untuk memberikan pengampunan bagi orang-orang berdosa yang tidak layak seperti kami. Kami memuji-Mu dan memberkati-Mu. Tidak heran bila kami tidak dapat menemukan kekuatan yang cukup untuk menyanyikan pujian kami dengan cukup keras dan cukup lama. Sekarang, ya Tuhan, lakukanlah pekerjaan-Mu di setiap hati kami dan kami bersukacita dalam pekerjaan itu. Kami bersyukur kepada-Mu bahwa kami hadir di sana, dalam arti yang sangat nyata dalam pikiran Putra-Mu, ketika Dia berkata, "Bapa, ampunilah mereka." Kami adalah bagian dari "mereka" itu. Kami telah diampuni. Kami adalah orang-orang yang didoakan-Nya dan orang-orang yang Engkau tanggapi. Kami bersyukur atas kebesaran keselamatan kami. Kiranya Engkau memakai kami untuk memberitakan keselamatan ini. Kami berdoa sampai ke seluruh penjuru bumi di dalam nama Juruselamat kami. Amin.

SELESAI

This sermon series includes the following messages:

Please contact the publisher to obtain copies of this resource.

Publisher Information
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969

Welcome!

Enter your email address and we will send you instructions on how to reset your password.

Back to Log In

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize
View Wishlist

Cart

Cart is empty.

Subject to Import Tax

Please be aware that these items are sent out from our office in the UK. Since the UK is now no longer a member of the EU, you may be charged an import tax on this item by the customs authorities in your country of residence, which is beyond our control.

Because we don’t want you to incur expenditure for which you are not prepared, could you please confirm whether you are willing to pay this charge, if necessary?

ECFA Accredited
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Back to Cart

Checkout as:

Not ? Log out

Log in to speed up the checkout process.

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize