Lukas 23 adalah bacaan kita hari ini, Lukas 23. Kita akan kembali ke tempat kejadian, yaitu di Golgota, pada hari Jumat Paskah, di musim semi tahun 30 M ketika Tuhan Yesus disalibkan. Saya ingin memberikan gambaran lengkap tentang latar belakangnya seperti yang dicatat oleh Lukas, jadi saya ingin mulai membaca dari ayat 32 hingga ayat 43.
“Ada juga digiring dua orang lain, yaitu dua penjahat untuk dihukum mati bersama-sama dengan Dia. Ketika mereka sampai di tempat yang bernama Tengkorak, mereka menyalibkan Yesus di situ dan juga kedua orang penjahat itu, yang seorang di sebelah kanan-Nya dan yang lain di sebelah kiri-Nya. [Yesus berkata, "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat."] Lalu mereka membuang undi untuk membagi pakaian-Nya. Orang banyak berdiri di situ dan melihat semuanya. Tetapi pemimpin-pemimpin mengejek Dia, katanya, "Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah." Juga prajurit-prajurit mengolok-olokkan Dia; mereka menawarkan anggur asam kepada-Nya dan berkata, "Jika Engkau raja orang Yahudi, selamatkanlah diri-Mu!" Ada juga tulisan di atas kepala-Nya, "Inilah raja orang Yahudi".’ Salah seorang penjahat yang digantung itu menghujat Dia, katanya, "Bukankah Engkau Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!" Tetapi yang lain menegur dia, "Tidakkah engkau takut kepada Allah, sebab engkau menerima hukuman yang sama? Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah." Lalu ia berkata, "Yesus, ingatlah aku, apabila Engkau datang sebagai Raja." Kata Yesus kepadanya, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus."
Kisah tentang penjahat yang bertobat tidak ada dalam kitab Matius, Markus atau pun Yohanes. Kisah ini hanya terdapat dalam kitab Lukas. Hanya ini yang kita miliki. Saat kita melihat ayat 39 sampai 43 dan mempertimbangkan pertobatan ajaib dari seorang penjahat yang tergantung di kayu salib, di samping Tuhan Yesus, kita mungkin menyimpulkan bahwa ini adalah kisah yang samar-samar. Mungkin kita berharap Matius memberi kita pandangan lain tentang hal itu, atau Markus, atau keduanya, atau Yohanes, tetapi hanya ini saja yang kita miliki. Kita telah melihat komedi di Golgota ini, semua olok-olok, parodi, sarkasme, ejekan, lelucon-lelucon yang menganggap bahwa Tuhan Yesus adalah seorang raja adalah hal yang konyol. Mereka mencemooh-Nya, "Jika Engkau seorang raja, selamatkan diri-Mu dan kami!" Kita telah melihat tidak hanya pada suatu komedi di Golgota, tapi kita juga telah melihat perbedaan besar di Golgota; perbedaan yang besar antara kebencian mereka dan pengampunan-Nya saat Dia berdoa, “Bapa, ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat,” padahal mereka sedang dalam proses melakukan hal terburuk yang pernah dilakukan oleh siapa pun sepanjang sejarah.
Dan sekarang kita sampai pada kisah pertobatan di Golgota, kisah tentang keselamatan seorang penjahat yang disalibkan. Dan seperti yang saya katakan, ketika pertama kali Anda melihatnya, kisah itu tampaknya agak singkat dan mungkin tidak begitu menyingkapkan banyak hal, tetapi ketika kita selesai nanti, Anda akan mendapati bahwa kisah ini jauh lebih dalam daripada yang terlihat. Dan ada begitu banyak ironi di Golgota, tetapi kita hampir merasa mustahil untuk menyebutkan semuanya. Di sini Tuhan Yesus yang dihina karena Dia tidak dapat menyelamatkan siapa pun dan Dia tidak dapat menyelamatkan diri-Nya sendiri, tetapi justru menyelamatkan seorang penjahat dengan tidak menyelamatkan diri-Nya sendiri. Ironinya terus berlanjut. Tuhan Yesus dituduh mengklaim dirinya sebagai raja, suatu ancaman terhadap kekuasaan Roma, ancaman terhadap Kaisar, dan ancaman terhadap otoritas Romawi, karenanya Dia harus dieksekusi sebelum Dia dapat memimpin pemberontakan. Tapi, oleh orang-orang yang sama yang mengaku melindungi Roma, Dia dihina, dicemooh, dan diperlakukan dengan sindiran yang kejam sebagai orang yang tak mampu dan tak berdaya. Dia diperlakukan seperti raja hanya dengan lelucon yang penuh sindiran, tetapi pada kenyataannya Dia adalah Raja sejati Allah. Dia dituduh menghujat Allah oleh mereka yang malah menghujat Tuhan yang benar. Jadi, orang-orang yang menghujat itu menuduh yang dihujat melakukan penghujatan. Adalah suatu hal yang ironis juga bahwa Dia, yang tidak bersalah di antara orang benar, dieksekusi oleh orang-orang yang bersalah. Keadilan sudah terbalik. Hal yang agak ironis juga bahwa Dia dikutuk oleh musuh-musuh-Nya yang membencinya, tetapi Dia dikutuk dengan cara yang jauh lebih besar oleh Bapa-Nya yang mengasihi-Nya. Dia tampak tidak dapat menyelamatkan diri-Nya sendiri atau orang lain, tetapi dengan tidak mau menyelamatkan diri-Nya sendiri, Dia menjadi penyelamat dunia. Dia Yang memberi hidup, yang adalah Hidup itu sendiri, menjadi sekarat agar mereka yang mati dapat menerima hidup. Lalu ada satu orang berdosa yang mati tergantung di samping-Nya, dan secara ajaib, Tuhan, dengan penuh kedaulatan, penuh kuasa, dan seketika itu juga memberinya kehidupan, dan itulah satu penjahat ini.
Lalu ada ironi lainnya, yaitu bahwa orang Yahudi ingin Yesus mati agar mereka bisa melanjutkan perayaan Paskah yang sebenarnya menunjuk pada kematian-Nya. Orang-orang Yahudi ingin lanjut menyembelih domba-domba, yang jelas-jelas tidak akan pernah dapat menghapus dosa mereka, sementara mereka menolak satu-satunya Anak Domba Allah yang sejati yang dapat menghapus dosa dunia. Sementara mereka sibuk membunuh domba-domba yang tidak memiliki kuasa, Allah berada di tangan mereka, membunuh Anak Domba yang memiliki segala kuasa keselamatan. Orang-orang Yahudi memandang Paskah sebagai saat dimana Allah menyelamatkan mereka dari Firaun. Padahal, itu sebenarnya bukanlah inti dari makna Paskah. Mereka melihat Paskah sebagai tindakan Allah yang menyelamatkan mereka dari kekuasaan Firaun di Mesir. Namun, sebenarnya maknanya jauh lebih dari itu. Walaupun ada pembebasan dari Mesir, ada pembebasan yang jauh lebih besar dalam Paskah. Apakah Anda ingat apa itu Paskah? Tuhan sendiri berfirman bahwa Dia akan datang dalam penghakiman yang dahsyat atas orang Mesir dan orang Yahudi, dan satu-satunya yang akan terlindungi dari penghakiman itu adalah mereka yang mengoleskan darah anak domba pada tiang pintu dan ambang pintu. Jika darah itu tidak ada, maka penghakiman Tuhan akan menimpa rumah itu dan merenggut nyawa anak sulungnya. Dan saat itu, Tuhan tidak membeda-bedakan antara orang Yahudi dan orang Mesir. Dia akan mengambil nyawa setiap anak sulung. Dia akan mendatangkan murka dan penghakiman atas setiap rumah tangga yang tidak dilindungi oleh darah domba Paskah. Maka dari itu, malam Paskah bukanlah benar-benar pembebasan dari kekuasaan Firaun dan murka Firaun, tetapi pembebasan dari murka Tuhan. Entah bagaimana, mereka telah memutarbalikkan pemikiran itu, mengira bahwa mereka dibebaskan dari murka dan kekuasaan Firaun. Bagian itulah yang mereka rayakan dan mereka lupa bahwa Paskah yang sesungguhnya adalah pembebasan dari murka Tuhan. Dan semua orang berdosa selalu pantas menerima murka Tuhan, kecuali mereka dilindungi oleh darah, dan darah lembu jantan dan kambing tidak dapat menghapus dosa dan tidak dapat benar-benar menutupi orang berdosa. Jadi, mereka tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi di kayu salib di Golgota, ketika Anak Domba Paskah yang sejati sedang sekarat agar darah-Nya dapat menjadi perlindungan bagi semua orang yang percaya kepada-Nya.
Jadi, dengan tidak menyelamatkan diri-Nya sendiri, Tuhan Yesus justru mampu menyelamatkan orang lain, dan ini benar-benar berlawanan dengan asumsi mereka bahwa Dia tidak bisa menyelamatkan siapa pun karena Dia bahkan tidak bisa menyelamatkan diri-Nya sendiri. Betapa salahnya persepsi mereka. Sangat salah! Dan seluruh kejadian ini makin memperparah persepsi yang salah ini. Tidak ada kejelasan di mana pun. Para pemimpin tidak memiliki kejelasan. Orang banyak tidak memiliki kejelasan. Orang-orang Romawi tidak memiliki kejelasan. Para imam besar tidak memiliki kejelasan. Para imam kepala juga tidak memilikinya. Tidak ada yang memiliki kejelasan. Setiap orang memiliki pemahaman yang salah dan menyimpang tentang apa yang sedang terjadi, dan di tengah-tengah semua ini, ada satu orang yang mendapat kejelasan. Terlepas dari semua yang terjadi di sekelilingnya, dimana dia pun ikut terlibat, ada terang yang muncul. Ada kehidupan yang muncul dari kematian. Ada pengetahuan yang muncul dari ketidaktahuan. Ada terang yang mengusir kegelapan. Dan itulah kisah tentang pria ini yang kita sebut sebagai pencuri yang bertobat. Kisah ini adalah kisah pribadi. Kisah ini adalah kisah yang sangat pribadi. Kisah ini adalah kisah tentang satu orang. Kisah ini adalah kisah keselamatan pribadi, tetapi itu juga merupakan pola dari kisah keselamatan semua orang. Anda mungkin membaca kisah ini dan berkata, “Bukan hal semacam ini yang kita hubung-hubungkan dengan keselamatan. Kisah ini terlihat agak samar dan tampaknya seperti sejarah yang disingkat-singkat. Apakah kita benar-benar memiliki cukup pengetahuan untuk tahu bahwa orang ini memenuhi semua persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh keselamatan?” Nah, kalau Anda melihat dengan lebih dekat, maka Anda akan menemukan bahwa jawabannya adalah ya.
Ada lebih banyak hal di dalam kisah pribadi ini daripada yang kita bisa lihat saat membacanya pertama kali. Memang ini adalah kisah pribadi, tetapi ini juga menjadi kisah setiap orang karena ini adalah cara semua orang berdosa datang kepada keselamatan. Jadi jika Anda seorang percaya, kisah ini juga adalah kisah Anda dan kisah saya. Mari kita lihat kisah ini dan kita lihat apa yang diungkapkannya bagi kita. Ayat 39, “Salah seorang penjahat yang digantung itu menghujat Dia, katanya, "Bukankah Engkau Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!",” dan ini diucapkan dengan nada mencemooh dan sindiran. Nah ingatlah, kembali ke ayat 32, ada dua pencuri – dua penjahat – yang dibawa untuk dihukum mati bersama Tuhan Yesus dan ayat 33 mengatakan bahwa mereka disalibkan, seorang di sebelah kanan dan seorang di sebelah kiri. Ayat 39 mengatakan bahwa salah satu penjahat itu menghina-Nya. Tapi ini bukan keseluruhan ceritanya. Kitab Matius dan Markus dalam catatan paralelnya tentang salib memberitakan bahwa kedua penjahat itu melakukan hal yang sama. Keduanya. Mereka berdua ikut mengejek, dan menghujat. Jadi saat peristiwanya dimulai pukul 9:00 pagi ketika Tuhan Yesus disalibkan, mereka berdua menjadi bagian dari lelucon itu. Mereka benar-benar terlibat saat penghujatan yang dipimpin dan diatur oleh para pemimpin Yahudi terjadi. Orang banyak ikut melakukannya, para prajurit ikut melakukannya, dan kedua penjahat ini juga ikut melakukannya, dan meskipun mereka digantung di salib dan merasakan penderitaan yang sama seperti yang dialami Tuhan Yesus secara fisik, meskipun mereka mengalami penderitaan yang sangat menyiksa dan mematikan, tapi mereka masih bisa mengumpulkan cukup tenaga untuk menghina dan menghujat Tuhan Yesus. Begitu dahsyatnya momen itu. Begitu menularnya kebencian itu sampai mereka menggunakan tenaga mereka untuk itu.
Tapi, dalam catatan kitab Lukas, salah satu dari mereka tiba-tiba terdiam. Dan kita hanya punya satu orang yang terus menghina-Nya. Ada sesuatu yang terjadi pada pencuri yang satunya. Seiring berjalannya waktu di kayu salib, salah satu dari dua orang yang paling bejat di gunung itu, di tempat kejadian itu, seorang pria yang mengabdikan dirinya untuk merampok dengan kekerasan, seorang kriminal yang jahat, mengalami transformasi yang besar. Ini sungguh mengejutkan; 180 derajat. Ejekannya berhenti dan sementara tubuhnya mengalami trauma dan penderitaan yang mengerikan, penderitaan penyaliban yang tak tertandingi, pikirannya bisa diasumsikan menjadi kabur saat dia mencoba mengatasi rasa sakit. Dan saat tubuh mengalami shock untuk melindunginya dari penderitaan yang sama sekali tak tertahankan, dan kita tahu bahwa tubuh memiliki kapasitas untuk membuat kita shock demi meringankan pengalaman menyiksa semacam itu, tetapi di saat penderitaan terburuk yang dapat dibayangkan terjadi pada dirinya, pikirannya justru malah menjadi sangat jernih dengan kejelasan dan pemahaman tentang realitas dan kebenaran yang belum pernah ia alami dalam hidupnya, dengan kejelasan dan pemahaman akan kebenaran dan kenyataan yang ia tidak alami 1 menit sebelumnya. Sesuatu telah terjadi. Tiba-tiba, ia menoleh ke temannya dan menegurnya karena melakukan apa yang baru saja dilakukannya. Apa yang telah terjadi?
Saya akan beritahu Anda apa yang telah terjadi: ada sebuah mukjizat ilahi berdaulat yang telah terjadi. Tidak ada penjelasan yang lain. Anda ingin melihat peristiwa yang serupa? Paulus di Jalan Damaskus. Itu adalah perbandingan yang terbaik. Pikirannya tentang Tuhan Yesus adalah pikiran kebencian. Pikirannya terhadap mereka yang mengaku nama Tuhan Yesus adalah pikiran untuk menganiaya dan menghukum mati. Paulus memiliki surat perintah untuk melakukannya. Dia sedang dalam perjalanan ke Damaskus untuk menganiaya dan menghukum mati mereka yang menyebut nama Kristus. Dan ketika dia sedang dalam perjalanan dengan surat perintah di tangannya, Tuhan menyerbu hidupnya, menjatuhkannya ke tanah, membutakan matanya dan menyelamatkannya. Begitulah cara keselamatan bekerja, Saudara. Itulah mukjizat yang berdaulat. Tidak selalu sedramatis itu, tetapi terkadang sedramatis itu. Pertobatan Paulus di Jalan Damaskus adalah perbandingan terbaik dalam Alkitab, dimana karya Tuhan yang luar biasa terjadi untuk mengubah seseorang. Dan itulah yang dikatakan Paulus ketika dia menulis kepada Timotius. Dia berkata, "Aku yang tadinya seorang penghujat, tetapi telah dikasihani-Nya." Nah ingatlah bahwa si pencuri ini pastilah orang yang paling celaka, pastilah dia merupakan orang yang paling buruk di mata orang Yahudi. Orang Yahudi yang religius pastilah menganggapnya sebagai orang yang tidak dapat ditebus. Nah, jika Anda ingin mengaitkan hal ini dengan seseorang, maka orang ini pastilah si anak yang hilang.
Orang ini adalah orang jahat, tetapi tiba-tiba pada saat itu ia berubah secara dramatis dan segera terlihat jelas apa yang sudah terjadi. Ia berubah dari menghujat Tuhan Yesus menjadi seseorang yang merasa ngeri ketika penjahat lainnya menghujat Tuhan Yesus. Seluruh persepsinya tentang bagaimana Anda memperlakukan Tuhan Yesus berubah total dan di situlah kisah ini dimulai. Penjahat yang satu tidak mengalami perubahan seperti itu, dia tergantung di sana sambil terus menghina Tuhan Yesus dengan sindiran yang sama, "Bukankah Engkau Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami." Pasti dia terkejut waktu mendengar temannya yang ada di sisi lain Tuhan Yesus, menjawab dan menegurnya di ayat 40, dengan berkata, "Tidakkah engkau takut kepada Allah, sebab engkau menerima hukuman yang sama? Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah." Hal ini pasti mengejutkan pencuri lainnya yang sedang menghina Tuhan Yesus. ‘Apa yang terjadi padamu? Apa yang terjadi padamu sejak kamu dipaku di sana?’ Pria yang telah berubah itu merasa ejekan yang keluar dari mulut temannya itu menjijikkan dan menakutkan baginya, padahal ejekan yang sama baru saja keluar dari mulutnya. Apa yang dikatakan pria ini adalah bukti dari hatinya yang telah berubah. Keselamatan adalah mukjizat ilahi dan itu terwujud dengan sendirinya. Ada lebih banyak lagi hal di sini daripada yang Anda dapat pikirkan.
Pertama-tama, ia menjadi sangat, sangat sadar akan Tuhan dan takut akan Tuhan. Kemudian dengan terbuka, dia mengakui dosanya sendiri. Lalu dia mengakui ketidakbersalahan Kristus dan menegaskan bahwa Tuhan Yesus adalah Mesias dan Juruselamatnya. Ini adalah hal yang luar biasa. Dan semua ini adalah respons terhadap mukjizat kerja berdaulat dari Roh Tuhan di dalam hatinya yang gelap. Inilah terang Injil Kristus yang mulia yang bersinar di tengah kegelapan dan mengusir kegelapan itu. Saya ingin menguraikan hal-hal yang merupakan bukti nyata bahwa Tuhan telah melakukan transformasi dalam dirinya. Orang berdosa yang lain, ia tidak takut akan Tuhan, tidak takut akan penghakiman, tidak ada rasa berdosa, tidak ada rasa keadilan, tidak ada rasa bersalah, tidak ada keinginan untuk diampuni, tidak ada kerinduan akan kebenaran, dan tidak ada keinginan untuk berdamai. Dan pencuri yang telah diubahkan hatinya itu mengkonfrontasi hal-hal yang tragis itu pada temannya, yang beberapa saat sebelumnya merupakan kondisinya sendiri, tapi ia tidak lagi bisa memahaminya. Lalu dalam sekejap dia berubah - sebelumnya dia adalah bagian dari kondisi itu, tapi sekarang dia tidak dapat memahaminya. ‘Bagaimana bisa kamu bertindak seperti itu? Bagaimana bisa kamu berbicara seperti itu? Tidak takutkah kamu kepada Tuhan? Tidak tahukah kamu bahwa kamu mendapatkan apa yang pantas kamu dapatkan? Tidak tahukah kamu bahwa Orang ini benar?’ Ini benar-benar suatu perubahan. Coba kita lihat lebih dekat.
Sementara penjahat yang satu menghina Tuhan Yesus, penjahat yang lain menjawab dan menegurnya dengan berkata – dan menegur adalah kata yang sangat keras. Epitimaō. Ia berkata, “Apakah kamu bahkan tidak takut kepada Allah?” Izinkan saya memberi tahu Anda bukti pertama bahwa Tuhan sedang melakukan karya pertobatan: adanya rasa takut akan Tuhan. Takut akan Tuhan. Jika seseorang bertobat kepada Kristus, jika seseorang dilahirkan kembali dan diperbarui, Paulus berkata dalam 2 Korintus 5:17 bahwa ia menjadi ciptaan baru, yang lama berlalu dan semuanya menjadi baru. Dan, kita melihat hal itu di sini. Dan hal pertama yang Anda lihat dalam pertobatan sejati adalah kesadaran yang meningkat bahwa Tuhan adalah ancaman. Takut kepada Tuhan, secara harfiah takut kepada Tuhan. Penjahat itu tidak mencari seseorang untuk menurunkannya dari salib. Ia tidak berusaha mencari seseorang yang dapat menyelamatkannya dari kematian fisik. Ia hanya ingin memastikan bahwa ia diselamatkan dari penghakiman ilahi. Masalahnya bukanlah apa yang terjadi padanya di bumi, melainkan apa yang akan terjadi padanya ketika ia datang ke takhta Tuhan. Dia seorang Yahudi, dan tidak diragukan lagi, ia dibesarkan dengan mengenal hukum-hukum Tuhan, untuk memahami Tuhan – kekudusan Tuhan, hukum Tuhan, ketaatan pada hukum Tuhan. Dia adalah pelanggar hukum Tuhan. Dia adalah pelanggar hukum Tuhan yang nyata. Dia terbukti melanggar hukum Tuhan dan dia akan mati dengan adil dan dia mengakuinya. Hukum manusia mencerminkan hukum Tuhan, khususnya di Israel, sehingga ia tahu bahwa jika manusia saja menghukumnya karena melanggar hukum Allah, apa yang akan dilakukan Allah kepadanya? Tiba-tiba dia memiliki kejelasan tentang apa yang telah dia pelajari tentang hukum Taurat, rasa bersalah, dosa dan penghakiman. Dia sadar bahwa dia adalah seorang pelanggar hukum Taurat. Ia merasakan keyakinan dalam hatinya oleh pekerjaan Roh Kudus, menyadari bahwa apa yang ia terima dari hakim manusia hanyalah secuil dari apa yang akan ia terima dari Hakim ilahi. Dan untuk menambah rasa bersalahnya — yang membawanya ke salib — kita bisa tambahkan bahwa ia telah menghujat Mesias, dan sekarang ia menyadarinya, yang menimbulkan rasa bersalah yang lebih besar lagi. Dari kejelasan keyakinan ini dia bahkan tidak dapat membayangkan bahwa dia telah melakukan hal itu, bahwa dia pernah mengatakan hal-hal seperti itu kepada Yesus dan dia tidak dapat mengerti bagaimana temannya bisa mengatakan itu. Dia berkata dalam Lukas 23:40, “Tidakkah engkau takut kepada Allah, sebab engkau menerima hukuman yang sama?” Mereka berdua sama-sama bersalah. Kita memang mendapatkan apa yang pantas kita dapatkan. Tidakkah kamu takut akan apa yang akan terjadi saat kita berakhir di hadapan Tuhan? Seperti yang Tuhan Yesus katakan dalam Lukas 12:4-5, "Janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh, … takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka." Saya ingin Anda mengingat hal ini, Roma 3:18 menjelaskan sifat dasar manusia yang jatuh dalam dosa, " Tidak ada yang benar, seorang pun tidak, Tidak ada seorang pun yang berakal budi, tidak ada yang berbuat baik," dll. Teks dari ayat 10 dari Roma 3 sampai ayat 18, berakhir di ayat 18 dengan pernyataan ini: "Rasa takut kepada Allah tidak ada pada mereka." Orang yang belum lahir baru biasanya tidak takut kepada Tuhan. Komentar seperti ini sangat khas dari orang yang belum dilahirkan kembali: “Saya hidup cukup baik. Tentu saja Tuhan akan membawa saya ke surga.” Seperti orang-orang Yahudi dalam Roma 10 yang tidak memahami kebenaran Tuhan, orang berdosa tidak hidup dalam rasa takut akan Tuhan. Ia harus dibawa untuk memiliki rasa takut itu melalui kuasa Tuhan yang menegur. Pencuri yang masih menghina Tuhan Yesus ini tidak takut akan Tuhan seperti semua orang berdosa lainnya. Namun, orang berdosa yang diselamatkan telah dibawa oleh kuasa Roh Kudus kepada rasa takut yang mendalam terhadap penghakiman ilahi. Dan Saudara, saat kita memberitakan Injil kepada para pendosa, kita tidak boleh menyembunyikan kenyataan ini. Injil bukanlah pesan kepada orang berdosa bahwa Tuhan Yesus akan membuat mereka Bahagia, atau akan memberi mereka kehidupan yang lebih baik, atau akan menyembuhkan luka dan mendatangkan kepuasan hidup. Pesan keselamatan adalah Anda adalah pelanggar hukum Tuhan dan Anda sedang menuju hukuman kekal di bawah murka Tuhan. Anda harus takut akan Tuhan. Itulah pesannya. Dan ketika Anda melihat pertobatan yang nyata, Anda akan melihat hal ini dan hal ini mengingatkan pada Lukas 18, bukan? Apa yang dilakukan orang banyak saat dia menundukkan kepalanya dan melihat ke tanah dan memukul dadanya sambil berkata, "Tuhan, kasihanilah aku, orang berdosa ini." Jangan mengadili aku. Jangan menghukum aku.
Hal pertama yang harus kamu lakukan saat memberitakan Injil, saat menginjili siapa pun, adalah mengarahkan isu utamanya kepada penghakiman ilahi. Ketika Anda mengatakan seseorang diselamatkan, diselamatkan dari apa? Diselamatkan dari Tuhan. Diselamatkan dari murka Tuhan. Diselamatkan dari keadilan Tuhan. Diselamatkan dari penghakiman Tuhan. Diselamatkan dari neraka. Tiba-tiba, semuanya menjadi sejelas kristal dalam pikiran si pencuri bahwa ia akan berdiri di hadapan Tuhan sebagai orang berdosa, tanpa apa pun yang dapat menyelamatkannya. Itulah bukti pertama dari karya keselamatan di dalam hati seseorang. Yang kedua adalah kesadaran akan keberdosaannya sendiri. Keduanya berjalan bersamaan. Rasa takut akan Allah yang disertai dengan kesadaran akan rasa bersalah. Ayat 41, ia berkata, “Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita.” Dia berkata aku pelanggar hukum. Aku tahu itu. Itu adalah penilaian yang jujur tentang kondisinya. Sama Seperti anak yang hilang dalam perumpamaan Yesus di Lukas 15, yang saat berada di antara babi-babi dan hampir mati kelaparan, akhirnya “ia sadar akan keadaannya.” Di situlah pertobatan sejati dimulai, yaitu ketika seseorang sadar akan keadaannya sendiri. Dia bersalah, dia menyadari keberdosaannya, Dalam pengakuannya, ia berkata: Aku adalah orang berdosa. Aku tahu bahwa aku orang berdosa. Aku menerima apa yang pantas aku terima atas perbuatanku. Inilah sikap seorang yang benar-benar bertobat. Ia memahami bahwa jika keadilan bekerja dalam hidupnya, maka ia akan mendapatkan apa yang seharusnya ia dapatkan. Dia tidak memiliki alas an apapun. Dia tidak mengatakan ‘aku telah disesatkan dan ada pengaruh jahat dalam hidupku. Aku dilecehkan ketika aku berusia empat tahun’ atau apa pun itu. Dia berkata “Kita menerima dengan tepat apa yang pantas kita terima atas perbuatan kita.” Keadilan sedang berjalan, dan bukan hanya dalam dunia manusia, tetapi juga akan berjalan dalam ranah Allah. Realitas rohani menyatakan dengan jelas bahwa, meskipun sistem agama Yahudi saat itu mengajarkan keselamatan melalui perbuatan, melalui usaha sendiri, atau melalui upacara-upacara keagamaan, orang yang benar-benar bertobat tidak mengandalkan apa pun, dia hanya mengakui kesalahannya sepenuhnya dan kehancurannya secara rohani. Ia tidak punya apa-apa untuk ditawarkan kepada Allah; tidak ada apa pun yang bisa membuat dirinya layak di hadapan-Nya. Sama seperti anak yang hilang, dia kembali dalam keadaan bau dan sekarat. Dia butuh belas kasihan, dia butuh kasih karunia dan dia tahu itu. Dia adalah orang berdosa yang tidak layak. Ini adalah bukti dari karya penyelamatan Tuhan. Ia membutuhkan belas kasihan, dan belum pernah kebutuhan itu terasa sejelas ini sebelumnya. Dan, dosa tidak pernah tampak sejelas-jelasnya bagi seorang pendosa kecuali saat ia berada di hadapan kebenaran. Sama seperti Yesaya, saat berada di hadapan Tuhan, yang kudus, kudus, kudus, dia berkata, "Celakalah aku, karena aku ini seorang yang najis bibir." Dia memiliki persepsi yang jelas tentang penghakiman Tuhan yang pantas dia terima dan persepsi yang jelas tentang kesalahannya yang besar.
Ada hal ketiga yang menjadi bukti bagi kita tentang karya Tuhan di dalam hatinya, yaitu bahwa dia percaya kepada Kristus. Dia percaya kepada Kristus. Kita berbicara tentang dua hal yang membentuk pertobatan sejati, pertobatan di bawah rasa takut akan murka ilahi dan iman kepada Tuhan Yesus Kristus, dan keduanya jelas terlihat di sini. Apa yang ia katakan tentang Kristus, meskipun singkat, sungguh luar biasa. Di akhir ayat 41, ia melakukan apa yang harus dilakukan setiap orang berdosa, yaitu membandingkan dirinya dengan kesempurnaan Kristus. “Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.” Di sini, kisah ini beralih dari penilaian tentang kondisinya sendiri menjadi penilaian tentang Yesus Kristus. Itulah yang terjadi dalam pertobatan sejati. Dan ia tidak hanya berkata bahwa Tuhan Yesus tidak bersalah atas kejahatan yang membuat-Nya disalibkan, tetapi ia melangkah lebih jauh dari itu. Ia berkata bahwa Tuhan Yesus tidak melakukan kesalahan apa pun. Saya tidak tahu seberapa banyak yang ia tahu tentang semua usaha yang dilakukan orang banyak untuk mencari-cari tuduhan yang sah agar Kristus bisa disalibkan, dimana mereka tidak pernah menemukannya. Saya tidak tahu sejauh mana dia pernah mendengar tentang Kristus. Saya tidak tahu apa yang dia dengar dari orang lain tentang kesempurnaan Yesus Kristus, tetapi Tuhan kita telah tampil selama tiga tahun dengan segala kesempurnaan-Nya dan tidak seorang pun pernah mampu mengajukan tuduhan yang sah terhadap-Nya. Melalui kuasa Roh Kudus, pencuri itu diberikan kejelasan untuk memahami bahwa dia sedang tergantung di salib sebagai seorang pendosa yang mendapatkan hukuman yang layak dia terima, berada di sebelah Seseorang yang benar yang mendapatkan hukuman yang tidak pantas Dia terima. Maka, dia percaya kepada kebenaran Kristus.
Kemudian dia berbicara kepada-Nya di ayat 42, dan ia berkata, “Yesus, ingatlah aku apabila Engkau datang sebagai Raja.” Apa yang dia minta di sini? Singkatnya, pengampunan. Benar? Bagaimana mungkin dia bisa masuk ke dalam kerajaan jika dia tidak diampuni? Apakah dia tahu bahwa Perjanjian Lama berkata, “Siapakah seperti Engkau Allah yang mengampuni dosa?” Mungkin saja. Kemungkinan besar dia tahu. Apakah dia tahu bahwa Tuhan pada dasarnya adalah Tuhan yang bersedia mengampuni? Jika dia tahu sedikit saja tentang Perjanjian Lama, maka dia pasti tahu itu. Apakah dia tahu apa yang dia butuhkan? Ya, dia tidak punya apa-apa untuk membuat dirinya layak. Dia butuh pengampunan. Mengapa pikiran tentang pengampunan bisa terlintas dalam pikirannya? Karena sebelum itu, Tuhan Yesus telah berkata kepada Allah, “Bapa, ampunilah mereka.” Dia cukup tahu tentang Allah untuk mengetahui bahwa Allah adalah Tuhan yang mengampuni dan sekarang dia sudah jelas tentang siapa Yesus sebagai Mesias Tuhan, Kristus Tuhan, Raja yang dijanjikan, Mesias yang dijanjikan, dan dia mendengar-Nya meminta Bapa untuk memberikan pengampunan kepada orang-orang yang ada di sana yang menghujat-Nya, dia pun bertanya apakah dia tidak bisa menjadi salah satu dari penerima pengampunan itu. Dia tahu apa yang dia butuhkan. Yang dia butuhkan adalah pengampunan, oleh kasih karunia dan belas kasihan.
Anda lihat semua komponen pertobatan ada di sini. Ketika Roh Tuhan melakukan karya pertobatan - ketika Dia menyalakan terang - hal pertama yang disingkapkan oleh terang itu adalah murka Tuhan. Hal kedua yang disingkapkan oleh terang itu adalah rasa bersalah atas dosa. Dan hal ketiga yang disingkapkan oleh terang itu adalah kemuliaan Kristus dan harapan akan pengampunan. Hal yang sama yang dikatakan oleh pemungut cukai itu, “Tuhan, kasihanilah aku, orang berdosa.” Seolah-olah dia berkata: “Adakah pengampunan pada-Mu? Adakah pengampunan di sisi-Mu?” Dan bagi pencuri yang disalibkan itu, sangat jelas bahwa doa Yesus memohonkan pengampunan adalah sesuatu yang sungguh mengejutkan dan luar biasa — karena Yesus sedang meminta Bapa-Nya mengampuni orang-orang yang sedang melakukan kejahatan terbesar yang pernah dilakukan. Mereka membunuh Anak Allah dan mereka melakukannya dengan sukacita, dengan sindiran, dengan ejekan, dan penghinaan. Jadi dia menyimpulkan jika ada pengampunan, jika ada kasih karunia, jika ada belas kasihan yang tersedia dari Allah bagi orang-orang yang melakukan ini, mungkin ada kasih karunia dan belas kasihan dan pengampunan baginya. ‘Mungkin aku bisa menjadi salah satu dari mereka yang menerima pengampunan itu.’
Dan kemudian – saya suka ini – dia berkata, “Yesus, yeshua.” Apa artinya itu? Allah menyelamatkan. “Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka.” Matius 1:21. Yeshua. Dia mengakui Tuhan Yesus sebagai Pribadi yang benar. Dia mengakui Tuhan Yesus sebagai sumber pengampunan, kasih karunia, dan belas kasihan. Dia mengakui bahwa Tuhan Yesus penuh belas kasihan dan murah hati sehingga Dia bahkan tidak menuntut dosa orang-orang yang menyalibkan-Nya, tetapi justru menginginkan agar mereka diampuni. Dan saya percaya, dia bisa melihat semua itu dengan kejelasan yang hanya bisa diberikan oleh Roh Tuhan, yang mungkin menggugah dari latar belakangnya, mungkin dari percakapan masa lalu – entah dari mana asalnya – tapi Roh Kuduslah yang memfokuskan pengertiannya, sebab dia harus tahu kebenaran tentang Kristus. Kemudian ketika dia berkata, “Yesus,” ada begitu banyak makna dalam nama itu. Dia mengakui Yesus sebagai Juruselamat. Bagaimana kita tahu itu? Karena dia meminta Tuhan Yesus untuk mengingatnya saat Tuhan Yesus datang dalam kerajaan-Nya — dan permintaan itu hanya masuk akal jika dia percaya bahwa Tuhan Yesus adalah satu-satunya yang bisa menyelamatkannya? Dia tidak berkata kepada-Nya, “Tuan yang terhormat, bisakah Engkau mencari seseorang yang dapat menyelamatkan saya?” Dia tidak berkata, “Bisakah engkau hubungi siapa pun yang berwenang untuk menyelamatkan orang seperti aku?” Dia berkata, “Yesus. Yeshua. Selamatkan aku. Ingatlah akan aku.” Dan kata “ingatlah” di sini bukan sekadar memori samar seperti yang kita bayangkan hari ini. Bukan itu yang dia bicarakan. Jauh, jauh lebih dari itu. Itu adalah seruan dari seorang yang hancur hatinya, seorang pendosa yang tidak layak, yang memohon kasih karunia dan pengampunan. Dan apa yang sebenarnya dia katakan adalah ‘selamatkan aku dari penghakiman Tuhan. Selamatkan aku dari apa yang seharusnya aku terima. Ampuni aku. Engkau telah berdoa untuk pengampunan. Bisakah aku menjadi salah satu jawaban dari doa itu?
Dan saya suka ini. Dia punya pemahaman Kristologi yang cukup komprehensif karena dia berkata, "Ingatlah aku ketika Engkau datang sebagai Raja." Dia punya pemahaman eskatologi Perjanjian Lama. Apa yang diajarkan oleh Perjanjian Lama? Bahwa Mesias akan datang di akhir zaman, dalam kemuliaan, dan mendirikan suatu kerajaan, bukan? Mesias akan menggenapi semua janji kepada Abraham, semua janji kepada Daud dan semua janji yang terus-menerus diulangi dalam Perjanjian Lama oleh para nabi, termasuk janji keselamatan dalam perjanjian baru bagi Israel, dan bahwa akan ada kerajaan yang didirikan di bumi yang dijelaskan dan digambarkan dengan sangat rinci dalam Perjanjian Lama. Sebuah kerajaan nyata di bumi di mana Israel akan diselamatkan, Yerusalem akan ditinggikan, Mesias akan mendirikan takhta-Nya di Yerusalem, dari sanalah Dia akan memerintah dunia. Dunia akan dipenuhi oleh pengetahuan dan damai sejahtera, dan Dia akan memerintah dengan tongkat besi, dengan kebenaran dan kemuliaan. Penjahat ini memiliki pemahaman Mesianik. Dia memahami bahwa Mesias akan membawa kerajaan. Jadi dia berkata, "Ingatlah aku apabila Engkau datang sebagai Raja." Tidak ada seorang pun yang selamat dari penyaliban, jadi dia juga percaya bahwa Yesus akan mati dan apa? Bangkit kembali dan membawa kerajaan-Nya. Ini adalah pemahaman Kristologi yang luar biasa. Itulah yang sebenarnya dia katakan: Ingatlah aku apabila Engkau datang sebagai Raja. Dia mau berkata, ‘ini bukanlah akhir bagi-Mu.’ Anda ingat, sama seperti Perwira yang berkata pastilah ini adalah Anak Allah. Dia begitu yakin.
Anda mungkin berkata mungkin dia tahu kuasa Tuhan Yesus atas kematian. Mungkin saja, karena semua orang di kota tahu bahwa Dia telah membangkitkan Lazarus dari kematian. Dan Matius memberi tahu kita dalam Matius 27 bahwa para pencuri itu menghina Dia dan orang-orang lain berkata, "Engkau yang berkata akan merobohkan Bait Allah dan membangunnya kembali dalam tiga hari” — mereka mengejek-Nya atas klaim-Nya tentang kebangkitan. Jadi mereka yang menjadikan kebangkitan sebagai isu di kaki salib. Pencuri itu sampai pada pemahaman yang dalam tentang siapa Kristus itu. Dia mengerti bahwa Yesus adalah Mesias. Dia adalah Raja yang diurapi dan dipilih Allah karena Dia akan membawa kerajaan-Nya. Dia memahami bahwa Tuhan Yesus itu benar. Dia mengerti bahwa Tuhan Yesus adalah Juruselamat. Dia memahami bahwa Tuhan Yesus akan mati dan bangkit Kembali, dan Dia akan datang dalam kerajaan-Nya dan Dia akan membawa serta orang-orang kudus yang menjadi milik-Nya, dan pencuri ini ingin menjadi salah satu dari mereka.
Ini adalah permintaan eskatologis. Dalam Perjanjian Lama, orang Yahudi memandang kematian mereka sebagai masa menunggu sampai tibanya akhir zaman dan kemuliaan Kerajaan. Mereka tidak memiliki pemahaman sepenuhnya tentang apa yang terjadi setelah Anda meninggal. Mereka berbicara tentang sheol dan kuburan, dan gagasannya mungkin adalah: ‘Tuhan, di masa depan, pada hari terakhir, setelah Engkau mati dan bangkit kembali serta membangkitkan orang-orang kudus-Mu’ — ia mungkin tahu tentang Daniel 12, bahwa orang-orang kudus akan dibangkitkan dan dibawa ke dalam kemuliaan Kerajaan — ‘ketika hari itu tiba, Tuhan, bisakah aku ada dalam Kerajaan-Mu?’ Dia tahu bahwa itu akan murni karena kasih karunia. Itu akan murni karena belas kasihan. Maukah Engkau membangkitkanku dan menjadikan aku bagian dari kerajaan-Mu? Yang sedang dia bicarakan adalah kemuliaan dari Kerajaan Mesianik pada akhir zaman, yang kemudian akan berlanjut ke dalam Kerajaan yang kekal, langit dan bumi yang baru, di mana Kristus memerintah selama-lamanya. Aku ingin berada bersama orang-orang kudus dalam kemuliaan Kerajaan. Aku tahu aku tidak layak, tapi maukah Engkau mengingat aku? Maukah Engkau membawa aku bersama-Mu ketika Engkau datang kembali sebagai Raja?
Jawaban yang Tuhan Yesus berikan kepadanya benar-benar menakjubkan. Ayat 43, Tuhan Yesus berkata kepadanya, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya" - Aku berkata kepadamu, sesungguhnya? Mengapa Dia menambahkan kata "sesungguhnya"? Karena ini sangat sulit dipercaya. Hal ini sangat sulit dipercaya, mustahil untuk dipercaya. Hal ini adalah kejutan besar bagi orang-orang Farisi dan para pemimpin agama, seperti saat sang ayah dalam perumpamaan anak yang hilang berlari menyambut anaknya, memeluk dan menciuminya, mengenakannya jubah, cincin, dan sandal, lalu menjadikannya kembali sebagai anak seutuhnya — dan kemudian mengadakan pesta besar. Ada rekonsiliasi penuh, status sebagai anak yang utuh, kekayaan yang utuh, sumber daya yang sepenuhnya, dan itu sungguh mengejutkan, karena Anda tidak bisa begitu saja merangkul seorang pendosa yang telah menjalani seluruh hidupnya dengan cara yang berdosa. Tapi inilah yang terjadi. Orang ini adalah anak yang hilang, dan kini dia tergantung di kayu salib. Inilah tempat di mana seorang anak hilang akhirnya bisa berakhir. Bahkan manusia pun mengakuinya. Dia disalibkan di sana dan apa yang Tuhan Yesus katakan kepadanya benar-benar mengejutkan. Dia berkata, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya" dan Dia mengatakannya dengan sungguh-sungguh karena terlalu sulit untuk mempercayainya. "Hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus." Jika Tuhan Yesus adalah seorang Katolik Roma, Dia akan berkata, "Mungkin nanti, setelah beberapa waktu di api penyucian, kamu bisa masuk Kerajaan." Atau jika Dia mengikuti sistem Yahudi, Dia mungkin berkata, "Tahukah kamu? Aku suka sikapmu, tetapi kamu tidak punya waktu untuk membuktikan dirimu. Kamu sedang sekarat. Tidak ada banyak harapan untukmu." Tapi apa yang Yesus katakan? Hari ini? Hari ini? Hari ini juga, Aku akan memberimu tempat di Firdaus. Bukan di pinggiran kota, dan saat kamu menunjukkan perkembangan rohani di luar sana, barulah kami akan memindahkanmu lebih dekat ke kota. Tidak begitu. Tapi “Hari ini juga engkau akan” - apa kata berikutnya? “ada bersama-sama dengan Aku.”
Apakah dia punya hak untuk bersama Kristus? Anda bercanda? Bersama Kristus? Hari ini. Apa yang telah dia lakukan untuk layak mendapatkannya? Tidak ada. Dia akan mati sebelum dia bisa melakukan apa pun. Bukankah ini sepenuhnya kasih karunia? Seumpama sang bapa yang mencium putranya, ini adalah rekonsiliasi penuh; seketika itu juga. Hari ini. Firdaus, paradeisos, kata Persia kuno untuk taman. Ini adalah sinonim untuk surga. Dalam 2 Korintus 12, Paulus berkata dalam ayat dua, "Aku diangkat ke tingkat yang ketiga dari surga." Dan dalam ayat empat dia mengatakan dia diangkat ke Firdaus. Hal yang sama. Surga ketiga, surga pertama adalah atmosferik, surga kedua adalah ruang angkasa, dan surga ketiga tempat kediaman Tuhan. Itulah Firdaus. Atau dalam Wahyu dua, Tuhan Yesus berkata, "Siapa yang menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah." Jika Anda membuka Wahyu 21 dan 22, pohon kehidupan ada di surga. Jadi Tuhan Yesus tidak sedang mengatakan apa-apa selain bahwa kamu akan bersama-Ku di surga hari ini. Tidak ada tempat penantian. Tidak ada tempat transisi. Meninggalkan tubuh berarti hadir bersama Tuhan, pergi dan bersama Kristus. Jika itu bukan gambaran kasih karunia yang agung, maka saya tidak tahu apa lagi. Ini adalah seorang pria yang seluruh hidupnya membuatnya layak masuk neraka. Dan dalam satu saat Tuhan yang berdaulat turun, memberinya kejelasan penuh tentang dirinya dan tentang Kristus, dan kuasa Roh Kudus menyelamatkannya dari penghakiman ilahi, dan pada hari yang sama bertemu dengan-Nya di surga dan bersekutu dengan-Nya. Dan tahukah Anda, hal ini sama sekali tidak dapat diterima dalam sistem pembenaran berdasarkan perbuatan?
Dan ada hal lain di sini yang juga mengejutkan saya. Kebanyakan dari kita, di suatu waktu dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen, kita pasti pernah bertanya: apakah saya benar-benar seorang Kristen. Cukup wajar, bukan? Saya bertanya-tanya apakah saya benar-benar diselamatkan. Ada beberapa orang yang lebih bergumul dengan hal itu daripada yang lain. Bukankah akan luar biasa kalau pada saat Anda diselamatkan, Tuhan Yesus muncul dan berkata, “Kamu akan bersama-Ku di Firdaus”? Itu akan menjadi sangat indah—karena ada jaminan yang begitu jelas. Luar biasa. Apa yang terjadi adalah kebaikan dan penghiburan yang luar biasa bagi seseorang yang pada saat itu begitu terbebani dengan dosanya sendiri, bergumul untuk memahami apa yang baru saja Tuhan Yesus katakan, "Hari ini juga engkau akan bersamaku di Firdaus." Dia pasti tersiksa oleh kenyataan pahit dari seluruh hidupnya yang penuh dosa, dan dia tidak memiliki apa pun yang bisa dijadikan pegangan sebagai bukti bahwa dirinya layak. Tidak ada satu pun. Jadi untuk menghilangkan kecemasan yang tidak semestinya itu, Tuhan Yesus hanya mengatakan kepadanya bahwa engkau akan berada di sana bersama-Ku. Bersama-Ku. Surga bukanlah sekadar tempat di mana Anda bisa melihat Tuhan Yesus. Surga adalah tempat di mana Anda akan bersama dengan-Nya. Dia akan tinggal bersama Anda. Orang ini meminta tempat di dalam kerajaan masa depan, dan Kristus memberinya tempat dalam hadirat-Nya hari itu juga—dan untuk selamanya. Tak terpikirkan bagi sang kakak dalam perumpamaan anak yang hilang, bukan? Surga yang seketika. Orang ini percaya pada kerajaan di bumi, kerajaan Mesianik. Dia percaya bahwa kerajaan itu akan dipenuhi oleh orang-orang kudus dan diperintah oleh Mesias. Dia percaya bahwa Tuhan Yesus adalah Sang Mesias, bahwa Tuhan Yesus adalah Juruselamat, bahwa Tuhan Yesus adalah Pribadi yang benar, bahwa Tuhan Yesus menawarkan pengampunan yang penuh kasih karunia — dan dia memohon pengampunan itu, dan menerimanya.
Jadi para pengejek itu salah. Tuhan Yesus memang dapat menyelamatkan. Namun satu-satunya cara Dia dapat menyelamatkan orang berdosa adalah dengan tidak menyelamatkan diri-Nya sendiri. Apakah si pencuri itu paham, saat itu juga, bahwa Tuhan Yesus sedang tergantung di salib sebagai orang yang tidak bersalah? Ya. Apakah dia juga memahami bahwa Tuhan Yesus menanggung kesalahannya? Saya tidak tahu. Namun yang pasti pemungut cukai dalam Lukas 18 memukul-mukul dadanya sambil berkata, "Kasihanilah aku, orang berdosa ini," dia juga tidak mengerti salib. Sebelum salib dan kebangkitan - ini adalah contoh klasik dari pertobatan Perjanjian Lama, hanya saja ini lebih dari sekadar pertobatan ala Perjanjian Lama. Dia telah datang kepada Kristus dan dia percaya sejauh yang dia bisa ketahui tentang kebenaran Kristus. Jadi para pengejek itu benar-benar salah. Tuhan Yesus memang dapat menyelamatkan, tetapi untuk menyelamatkan orang lain, Dia harus menyerahkan nyawa-Nya sendiri. Ini adalah kisah satu orang tapi sebenarnya ini adalah kisah kita semua. Kita semua telah diselamatkan, bukan, oleh kasih karunia yang berdaulat? Kita diberi terang di tengah kegelapan, diberi hidup di tengah kematian saat kita mulai menyadari murka Tuhan, kenyataan dosa, dan kebenaran tentang Kristus—dan kemudian memohon kasih karunia dan pengampunan. Dan Tuhan begitu rindu itu terjadi, sehingga begitu kita meminta, Dia dengan segera berkata: hari ini. Jika ini adalah hari kematianmu, engkau akan bersama-Ku. Sebagian orang berpikir bahwa ketika Tuhan Yesus mati, Dia pergi ke neraka selama tiga hari. Tidak. Ia memang pergi untuk mengumumkan kemenangan-Nya, tetapi pada hari yang sama itu juga, Dia sudah bersama pencuri itu di surga. Betapa besar kasih karunia itu. Inilah kasih karunia yang tersedia bagi siapa saja yang memint pengampunan.
Bapa, kami bersyukur sekali lagi atas kejelasan dari Firman Tuhan. Kami bersyukur atas kekayaannya dan kami sangat diberkati, Tuhan. Apa yang dapat kami katakan? Tak ada kata-kata yang cukup untuk mengungkapkan rasa syukur kami. Kami akan menghabiskan kekekalan untuk terus berkata ‘terima kasih’ karena Engkau telah menarik kami keluar dari kegelapan dan mengangkat kami dari kematian serta memberikan kami hidup oleh kuasa-Mu yang berdaulat. Ini sangat menakjubkan. Keselamatan jelas-jelas adalah karena kasih karunia melalui iman, bukan karena perbuatan. Ini sungguh memuliakan-Mu, yang menunjukkan kemuliaan kasih, belas kasihan, kemurahan, dan anugerah-Mu dengan cara yang luar biasa. Kami semua seperti pencuri yang bertobat itu. Kami semua berada di bawah murka Tuhan. Kami diselamatkan oleh Tuhan yang akan menghancurkan kami jika Dia tidak menyelamatkan kami. Betapa besarnya belas kasih yang mulia ini dan kami bersyukur bahwa kami dapat diampuni karena dosa-dosa kami telah ditebus oleh Kristus. Bapa, kami bersyukur sekali lagi karena telah membuka hati kami terhadap kebenaran. Kami bersyukur atas berkat penyembahan dan persekutuan pagi ini. Kami bersyukur atas sukacita menyanyikan lagu-lagu pujian ini dan berada bersama mereka yang mengasihi-Mu dan mereka yang kami kasihi. Kami bersyukur atas teman-teman yang telah datang berkunjung hari ini. Kami berdoa, Tuhan, kiranya Engkau menanamkan kebenaran ini dalam-dalam ke dalam hati kami agar kami semakin mengenal Engkau dan bersukacita dalam pengenalan akan Engkau melalui pemahaman yang penuh akan besarnya keselamatan-Mu. Pertemukanlah kami lagi malam ini dengan harapan yang besar saat kami kembali membuka firman-Mu dalam persekutuan kami. Kami bersyukur kepada-Mu dalam nama Kristus. Amin.
SELESAI
This article is also available and sold as a booklet.
