Grace to You Resources
Grace to You - Resource

Mari kita buka Alkitab kita di Injil Lukas, yang telah menjadi harta yang berharga bagi kita. Lukas pasal 23. Lukas pasal 23. Dalam pesan terakhir kita dari Lukas 23, kita telah melihat ayat 44 sampai 46, yaitu tentang kematian Tuhan Yesus Kristus. Dan sekarang kita sampai pada ayat 47. Ayat 47 sampai 49 adalah tentang respons di Golgota. Kitab Lukas memberi kita catatan yang sangat singkat tentang respons terhadap kematian Kristus, yaitu respons para prajurit Romawi, respons orang banyak, dan respons para pengikut Yesus. Dan ini adalah cara yang sangat tepat untuk menutup catatan Lukas tentang kematian Kristus karena masing-masing respons ini adalah respons yang benar. Para prajurit Romawi merespons sebagaimana mestinya, kerumunan itu pun merespons sebagaimana mestinya, dan para pengikut Kristus juga merespons sebagaimana mestinya. Masing-masing respons itu berbeda, tapi semuanya tepat. Dan secara bersama, respons mereka memberikan kita gambaran penuh tentang bagaimana seharusnya setiap orang merespons salib Kristus. Sungguh tepat bagi kita merenungkan hal ini pada hari Minggu saat kita datang ke meja perjamuan Tuhan, untuk mempertimbangkan—bagaimana kita merespons salib Kristus.

Tapi, ketika Tuhan memperkenalkan perjamuan ini kepada kita, itu bukan semata-mata untuk mengingat peristiwa sejarahnya, melainkan untuk memperbarui respons yang benar. Meja perjamuan ini, yang membawa kita kembali ke salib, dirancang untuk membangkitkan dalam diri kita pengakuan dosa yang diperbarui, komitmen yang diperbarui untuk taat. Meja ini dirancang untuk membangkitkan rasa syukur dan sukacita dalam hati kita. Meja ini dirancang untuk menjadi kesaksian. Dalam arti tertentu, meja ini menjadi ungkapan penyembahan yang penuh, yang menyatukan semua unsur tersebut. Dan saat kita merenungkan respons-respons yang terjadi pada hari itu di Golgota, kita perlu melihat hati kita sendiri dan bertanya apa respons kita terhadap salib itu.

Izinkan saya membaca ayat 47 sampai 49: “Ketika kepala pasukan melihat apa yang terjadi, ia memuliakan Allah, katanya, "Sungguh, orang ini tidak bersalah!" Sesudah seluruh orang banyak, yang datang berkerumun di situ untuk tontonan itu, melihat apa yang terjadi, pulanglah mereka sambil memukul-mukul diri mereka. Semua orang yang mengenal Yesus dari dekat, termasuk perempuan-perempuan yang mengikuti Dia dari Galilea, berdiri dari jauh dan melihat semuanya itu.” Lukas tidak membuang-buang waktu. Begitu Yesus menghembuskan nafas terakhir-Nya, ayat 46, begitu Dia meninggal, muncul respons-respons yang langsung terjadi. Kita telah melalui momen paling khidmat dalam sejarah, yaitu kematian Kristus. Kita telah memahami bahwa Dia menanggung sepenuhnya murka Allah terhadap dosa-dosa semua orang yang akan percaya. Allah hadir di Golgota, khususnya dari pukul 12 siang hingga pukul 3 sore dalam kegelapan, dan dalam gempa bumi, dan dalam kebangkitan orang-orang kudus dari kubur mereka, dan dalam terbelahnya tabir di Ruang Mahakudus dari atas ke bawah. Allah hadir dalam semacam pratinjau dari penghakiman-Nya yang penuh di Hari Tuhan nanti. Hanya saja kali ini, Dia tidak mencurahkan penghakiman-Nya atas orang-orang berdosa; Dia mencurahkan penghakiman-Nya atas Anak-Nya, yang menggantikan orang-orang berdosa.

Peristiwa ini menandai pengesahan Perjanjian Baru, dan itulah sebabnya pada saat itu juga, tirai di bait suci terbelah karena jalan menuju kepada Allah telah terbuka sepenuhnya. Perstiwa itu adalah akhir dari bait suci, akhir dari keimaman, akhir dari korban-korban persembahan, dan akhir dari tata aturan yang lama. Pada saat Yesus mati, semuanya itu berakhir. Kita telah merenungkan hal-hal tersebut, dan sekarang saatnya melihat ketiga respons ini, dan bertanya pada diri kita sendiri: apa respons saya terhadap peristiwa yang begitu besar dan tiada bandingannya ini?

Pertama-tama, mereka yang menjadi yakin. Mereka yang menjadi yakin, ayat 47. “Ketika kepala pasukan melihat apa yang terjadi, ia memuliakan Allah, katanya, ‘Sungguh, orang ini tidak bersalah!’” Kitab Matius menceritakan tentang dia. Kitab Markus juga menceritakan tentang dia. Kesaksiannya sangat tidak biasa. Kita perlu tahu sedikit tentang seorang kepala pasukan. Seorang kepala pasukan Romawi adalah komandan dari seratus prajurit, seratus prajurit itu disebut satu “century”. Oleh karena itu, komandan mereka disebut “centurion”. Century merupakan satuan dasar dari legiun Romawi. Dalam seluruh pasukan Romawi, terdapat sekitar 25 legiun. Setiap legiun terdiri dari sekitar enam ribu prajurit, yang dibagi menjadi sepuluh kelompok yang masing-masing terdiri dari enam ratus prajurit. Setiap kelompok memiliki tiga manipel, dan setiap manipel dibagi menjadi dua century. Jadi, pada dasarnya, satu century adalah unit terkecil dalam sistem militer Romawi. Setiap century dipimpin oleh seorang kepala pasukan. Mereka ini adalah prajurit, bukan dari kalangan elit. Mereka turun ke lapangan bersama pasukan, dan telah membuktikan diri mereka, serta berhasil mencapai posisi itu berkat keberhasilan mereka dalam berperang. Mereka telah mempertaruhkan nyawa dan membuktikan kepemimpinan mereka dalam situasi paling berat dan berbahaya.

Kepala pasukan yang satu ini sedang menjaga Yesus dan jelas bertanggung jawab atas para prajurit yang ditugaskan untuk mengurus tahanan ini. Ia memimpin para prajurit, kemungkinan besar termasuk yang menangkap Yesus pada Kamis malam di taman, lalu terus mengawasi-Nya agar Dia tidak melarikan diri dan juga tidak ada yang membawa-Nya pergi. Para prajurit ini, bersama dengannya, adalah orang-orang yang berada bersama Yesus sepanjang proses pengadilan, terutama ketika Ia dibawa ke hadapan Pilatus, di Praetorium Pilatus. Kepala pasukan ini dan para prajuritnya adalah orang-orang yang mengejek Yesus. Mereka adalah orang-orang yang melemparkan jubah tua milik prajurit kepada-Nya seolah-olah itu adalah jubah kerajaan, lalu meletakkan buluh di tangan-Nya seolah-olah itu adalah tongkat kerajaan, dan mahkota di kepala-Nya seolah-olah itu adalah mahkota raja, padahal sebenarnya itu adalah mahkota duri.

Mereka adalah orang-orang yang akan mengambil tongkat kerajaan palsu itu dan memukul wajah-Nya dengan tongkat itu, meludahi-Nya, mengejek-Nya, dan menjadikan-Nya bahan tertawaan. Mereka adalah para prajurit yang menjadi saksi mata dari seluruh penderitaan itu sejak awal. Mereka mendengar semua percakapan. Mereka mendengar semua tuduhan. Mereka mendengar segala hal yang dikatakan para pemimpin Israel terhadap-Nya, dan mereka mendengar vonis tidak bersalah diulang setidaknya enam kali. Mereka melihat Yesus bertindak tidak seperti tahanan mana pun yang pernah mereka lihat. Benar-benar tidak bersalah. Ketidakbersalahan-Nya ditegaskan berulang kali, namun Dia tidak pernah membalas, tidak pernah berteriak, tidak pernah menuntut keadilan yang tidak diberikan kepada-Nya. Dia menderita dengan kasih karunia dan kewibawaan melalui pengadilan yang tidak adil, dan Dia menerima semua ejekan dan penyiksaan mereka dengan diam, tanpa pernah memprotes. Meskipun mereka meludahi-Nya, mengejek-Nya, dan menganiaya Dia, Dia tidak pernah mengutuk mereka, dan tidak pernah mengancam mereka.

Mereka pasti sangat heran melihat betapa berbedanya reaksi-Nya terhadap apa yang sedang terjadi dibandingkan dengan setiap tahanan lain yang pernah mereka temui. Tidak ada kategori untuk seseorang yang bersikap seperti ini—seorang pria tak bersalah yang dibawa sampai ke salib, dan kemudian merekalah yang memakukan-Nya di kayu salib itu, setidaknya empat dari mereka. Tapi hingga saat itu, keunikan Yesus ini tampaknya tidak memberikan dampak khusus pada mereka. Mereka adalah orang-orang yang keras kepala. Dan sikap pasif Yesus sepertinya tidak mengubah cara mereka memperlakukan-Nya. Mereka tidak menunjukkan sedikit pun simpati terhadap-Nya, tidak sama sekali. Mereka tidak menunjukkan belas kasihan kepada-Nya. Mereka memalu paku-paku itu menembus tangan-Nya seperti mereka lakukan pada siapa pun, dan juga pada kaki-Nya. Mereka menegakkan salib itu, menjatuhkannya ke dalam lubang yang sudah digali untuk-Nya, sementara salib itu merobek dan mencabik luka-luka-Nya yang terbuka. Mereka membuang undi untuk pakaian Yesus dan mereka hanya duduk menyaksikan Dia sekarat, sama seperti mereka telah menyaksikan ratusan orang lainnya mati. Namun, sementara itu, hal-hal yang mereka alami terus menerus terngiang-ngiang di benak mereka. Mereka mendengar Yesus berdoa untuk para pembunuh-Nya, "Bapa, ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." Mereka melihat cara mulia-Nya selagi menderita. Mereka mendengar Dia berseru kepada Bapa-Nya. Mereka mendengar Dia menjanjikan surga kepada seorang pencuri yang bertobat, yang sebelumnya mengutuki-Nya.

Dan kemudian, mereka mengalami hal yang mustahil: terjadinya tengah malam di siang hari, tiga jam kegelapan pekat, dan gempa bumi yang membelah batu. Mereka tidak bisa lagi mengabaikan kenyataannya. Dan bukti yang terakhir; kegelapan, gempa bumi, dan kemudian Yesus, tepat sebelum Dia mati, berseru dengan suara nyaring, "Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku." Itu belum pernah dilakukan sebelumnya. Orang-orang yang mati karena penyaliban mengalami kekurangan oksigen di otak mereka dan menjadi tidak sadarkan diri sebelum mereka benar-benar mati. Mereka tidak dapat mengumpulkan cukup napas untuk bernapas, apalagi untuk berteriak dengan suara keras. Pria ini menghadapi kematian atas kehendak-Nya sendiri dan menjadikan kematian sebagai pelayan-Nya.

Kitab Markus mencatat, “Waktu kepala pasukan yang berdiri berhadapan dengan Dia melihat-Nya menghembuskan napas terakhir seperti itu, berkatalah ia, ‘Sungguh, orang ini Anak Allah!’” Dari mana ia mengambil ungkapan itu? Yohanes 19:7 mengatakan bahwa orang-orang Yahudi menuduh-Nya dengan cara itu. Mereka berkata: ‘Ia menganggap diri-Nya sebagai Anak Allah,’ dan kepala pasukan itu menyimpulkan bahwa Dia memang Anak Allah. Kitab Matius mencatat bahwa gempa bumi yang terjadi tepat pada saat itu, bersamaan dengan seruan Yesus, mendorong mereka untuk percaya, bukan hanya sang kepala pasukan, tetapi juga para prajurit yang bersama dengannya. Ketika mereka melihat gempa bumi dan semua hal yang terjadi, mereka sangat ketakutan. Ungkapan singkat itu, “sangat ketakutan,” adalah kata-kata yang persis sama seperti yang digunakan di Gunung Transfigurasi ketika Petrus, Yakobus dan Yohanes sangat takut pada Kristus yang berubah rupa ketika mereka melihat-Nya dalam kemuliaan-Nya.

Ketakutan seperti inilah yang menjadi reaksi khas orang-orang yang menyadari kebenaran tentang siapa Yesus sebenarnya. Mereka tersadar bahwa mereka telah menyalibkan Anak Allah. Kitab Lukas memberi tahu kita bahwa kepala pasukan itu berkata, "Sungguh, orang ini tidak bersalah." Orang benar. Itu bukan sekadar pernyataan tentang ketidakbersalahan, tetapi pernyataan tentang kebenaran positif yang menyebabkan dia, bersama dengan prajurit lainnya, mulai memuliakan Tuhan, telah menyadari akan Tuhan yang sejati, Anak Allah yang sejati sebagai pribadi yang benar. Mereka adalah orang-orang pertama yang bertobat kepada Kristus, hanya beberapa saat setelah penyaliban-Nya. Mereka menjadi beriman tepat pada saat Dia mati.

Ada banyak rincian lain yang ingin saya ketahui tentang apa yang mereka pikirkan, tetapi kita harus menunggu sampai ke surga untuk bisa mengetahui rincian tersebut. Apakah mereka tahu bahwa Perjanjian Lama telah menjanjikan bahwa Mesias akan disebut "Yang Benar?" Mazmur 16:10 mengatakan Dia akan menjadi Yang Benar. Yesaya 53:11 mengatakan Dia akan menjadi Yang Benar. Yeremia 23:5 mengatakan Dia akan menjadi Yang Benar. Ini lebih dari sekedar penegasan ketujuh tentang ketidakbersalahan Yesus. Kata itu adalah kata dikaios, yang berarti benar. Dari sudut pandang manusia, seluruh peristiwa ini adalah suatu kejahatan besar terhadap keadilan, dan mereka bersalah atasnya, seolah-olah itu bukan kehendak Allah. Tetapi dari sisi ilahi, itu adalah tindakan keadilan yang luar biasa dan memang kehendak Allah. Hal itu mengguncang mereka. Mereka sebenarnya telah membunuh bukan hanya seorang yang tidak bersalah, tetapi juga seorang yang benar. Tidak bersalah berarti Dia tidak melakukan apa yang dituduhkan kepada-Nya. Benar berarti Dia hanya melakukan apa yang benar. Dan faktanya, mereka telah membunuh Anak Allah.

Bukan hanya kepala pasukan itu, tetapi juga mereka yang bersama dengannya yang datang kepada iman ini. Kita dapat menanyakan rinciannya kepada mereka ketika kita sampai di surga, tetapi mereka telah menyerap semuanya. Klaim-klaim tentang Yesus telah mereka dengar, tuduhan-tuduhan terhadap-Nya telah mereka dengar, dan mereka menarik kesimpulan yang benar. Dan tentu saja ditolong dan dimampukan oleh Roh Kudus, yang mengumpulkan ke dalam Kerajaan Allah bukan hanya seorang pencuri, tetapi juga beberapa prajurit Romawi – prajurit-prajurit Romawi yang keras kepala, penyembah berhala, dan kafir. Bukti-buktinya sangat meyakinkan, dan mereka adalah orang-orang yang diyakinkan.

Ayat berikutnya memperkenalkan kita kepada mereka yang terhukum. “Sesudah seluruh orang banyak, yang datang berkerumun di situ untuk tontonan itu, melihat apa yang terjadi, pulanglah mereka sambil memukul-mukul diri mereka.” Di sini kita kembali bertemu dengan orang banyak yang plin-plan. Wah, itu minggu yang luar biasa. Bicara tentang perubahan emosi yang drastis. Mari kita kembali ke hari Senin, ketika Tuhan Yesus masuk ke kota dan mereka menghamparkan ranting-ranting daun palem di hadapan-Nya, dan menyambut-Nya sebagai Anak Daud dan Mesias, “Hosana, bagi Anak Daud.” Mereka menyambut-Nya sebagai Raja mereka, Mesias mereka. Inilah harapan hati mereka, penuh dengan sukacita. Ada sukacita yang luar biasa. Ada kebahagiaan yang menggembirakan dan meluap-luap. Mereka sangat senang dan saat itu adalah momen mereka. Di antara orang banyak itu, ada antisipasi yang penuh kegembiraan bahwa akhirnya Mesias mereka telah datang. Emosi yang luar biasa yang membuat hati mereka berdebar-debar ketika mereka memikirkan kenyataan bahwa setelah berabad-abad, sang Mesias itu akhirnya datang. Mereka semua dipenuhi sukacita yang luar biasa.

Beberapa hari kemudian, pada Jumat pagi, emosi mereka sangat berbeda. Bukan sukacita yang ekstrem, tetapi sesuatu lain yang ekstrem. Kemarahan, kebencian, sikap memusuhi yang ekstrem saat mereka berteriak, “Salibkan Dia, Salibkan Dia. Kami tidak mau orang ini memerintah atas kami. Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami.” Ada emosi ekstrem yang kembali menguasai mereka. Dan di sini, ketika mereka mengalami perubahan emosi yang begitu besar itu, inilah luapan terakhir mereka yang paling ekstrem. Dan apakah itu? Rasa takut, mereka memukul-mukul dada mereka. Mereka sangat ketakutan. Dikatakan dalam ayat 48, “seluruh orang banyak, yang datang berkerumun di situ”, orang banyak yang mulai berkumpul pada pagi hari dan terus bertambah sepanjang hari, sekarang sedang mengelilingi salib, massa yang plin plan ini telah menonton theōria,” atau tontonan itu - dan ini satu-satunya waktu di dalam Alkitab kata itu pernah digunakan, karena ini adalah peristiwa yang unik, kejadian spektakuler yang tak tertandingi di Golgota, yang adalah kejadian ilahi di Golgota. Dan apa respons mereka? Mereka sangat ketakutan.

Mengapa? Karena mereka memulainya sebagai sebuah komedi, bukan? Dimulai dengan mereka yang membuat lelucon tentang Yesus, menghina-Nya, menyindir-Nya, dan mengejek-Nya. Tapi kemudian Allah datang, dan kehadiran Allah dirasakan oleh mereka dalam kegelapan dan gempa bumi, dan komedi itu berubah menjadi tragedi. Tidak ada seorang pun yang berbicara selama tiga jam, setidaknya tidak tercatat bahwa mereka mengatakan sesuatu dan Yesus pun tidak berbicara selama tiga jam itu. Tetapi Allah mencurahkan murka-Nya dan amarah-Nya, dan mereka ketakutan oleh kegelapan itu, dan oleh gempa bumi yang membelah batu-batu. Itulah yang dikatakan. "Sesudah seluruh orang banyak, yang datang berkerumun di situ untuk tontonan itu, melihat apa yang terjadi, kegelapan, gempa bumi, Allah yang datang, maka mulailah mereka kembali ke kota." Sekarang pukul 3. Saatnya untuk pengorbanan domba Paskah, yang dilakukan antara pukul 3 dan 5 sore. Mereka harus pergi ke bait suci. Dan kalau mereka belum mendengar apa yang terjadi disana, maka pada saat mereka sampai di bait suci, mereka akan menemukan kekacauan. Akan ada puluhan ribu hewan yang siap dikorbankan oleh seluruh barisan para imam, yang saat itu sedang ketakutan karena tirai telah robek dari atas ke bawah, tirai yang memisahkan Ruang Mahakudus, tempat hadirat Allah berada – tempat yang begitu menakutkan sehingga hanya satu orang yang bisa masuk sekali setahun, yaitu Imam Besar pada Hari Penebusan. Dan itupun hanya setelah dia mempersembahkan korban untuk dosa-dosanya sendiri, barulah dia bisa masuk, lalu cepat-cepat dia keluar. Dan sekarang tempat itu terbuka lebar. Kekacauan di bait suci saat itu pasti tidak dapat digambarkan. Mereka tidak akan tahu harus berbuat apa.

Nah, saat orang-orang ini kembali turun dari tempat penyaliban Yesus dan kedua pencuri itu untuk kembali merayakan Paskah mereka, mereka tidak kembali dengan sukacita. Komedinya telah berakhir. Tragedi telah sepenuhnya mengambil alih, dan mereka digambarkan melakukan satu hal: memukul-mukul dada mereka. Percayalah, apa yang mereka nikmati sebelumnya itu telah kehilangan pesonanya. Dan sekarang mereka merasakan luka mematikan di jiwa mereka yang tidak akan sembuh, dimana ada rasa sakit tanpa kelegaan, dan ada rasa bersalah tanpa penghiburan. Mereka tahu Allah telah muncul. Kata-kata hujatan yang baru saja diucapkan, yang dengan begitu mudahnya keluar dari bibir mereka, sekarang menjadi menjadi sumber kecemasan, rasa bersalah, dan ketakutan mereka sendiri. Karena itulah mereka memukul-mukul dada mereka.

Apa yang terjadi ini mengingatkan kita pada si Pemungut Cukai, bukan? Dalam Lukas 18:13, dia merasa ketakutan dan merasa bersalah, dia tidak berani menengadah, bahkan untuk melihat ke langit, tetapi hanya menundukkan kepalanya, sambil memukul-mukul dadanya sendiri sambil berkata, "Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini." Begitulah cara orang Yahudi mengungkapkan rasa bersalah dan rasa takut mereka karena telah melanggar perintah Allah. Hanya hal-hal ajaib yang membuat mereka merasa sangat takut. Dan itu pun, Saudara terkasih, merupakan respons yang benar. Takut akan Tuhan adalah respons yang benar, bahkan merupakan perintah. Ketakutan akan rasa bersalah dan penolakan terhadap Yesus Kristus adalah respons yang benar. Takut akan penghakiman ilahi karena cara Anda memperlakukan Kristus adalah persis seperti yang seharusnya dirasakan oleh orang berdosa. Dan ini ada manfaatnya. Saya yakin bahwa rasa bersalah ini, meskipun tampaknya tidak terselesaikan dalam teks ini, adalah persiapan untuk sesuatu yang akan datang kemudian.

Saat mereka berjalan menuruni bukit itu dengan rasa bersalah, rasa bersalah itu tidak hilang—justru semakin bertambah, hari demi hari, karena mereka tidak dapat menghapus ingatan akan peristiwa itu dari pikiran mereka. Dan ketika Petrus berdiri pada Hari Pentakosta, dan menyampaikan khotbahnya, dia mengakhirinya dengan pernyataan ini: "Seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus." Perkataan ini memperburuk rasa bersalah yang sudah mereka rasakan, rasa takut akan penghakiman Tuhan, atas apa yang telah mereka lakukan. Dan ketika mereka mendengar ini, ayat 37, "Hati mereka tersayat." Hati mereka sudah dilembutkan oleh apa yang mereka alami di kayu salib. Saya percaya bahwa bagi orang-orang itu, rasa bersalah dan ketakutan yang mereka rasakan ketika mereka turun dari Golgota adalah persiapan untuk khotbah Petrus pada Hari Pentakosta. Dan mereka berkata kepada Petrus dan para Rasul lainnya, "Apa yang harus kami perbuat, Saudara-saudara? Bagaimana kami dapat diselamatkan dari murka Allah atas kejahatan kami terhadap Kristus?" Itulah yang mereka tanyakan. Dan Petrus berkata, “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia, yaitu Roh Kudus.”

Berilah dirimu diselamatkan. Dan “Orang-orang yang menerima perkataannya itu dibaptis,” dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. Persiapan awal untuk pertobatan yang terjadi pada Hari Pentakosta adalah detik-detik ketika mereka memukul-mukul dada mereka dengan ngeri, gentar, dan ketakutan atas apa yang telah mereka lakukan terhadap Yesus. Jika Anda membaca pasal 3 dari Kitab Kisah Para Rasul, Anda akan melihat bahwa pesan Injil Yesus Kristus, pesan tentang Yesus Kristus yang mereka salibkan, yang ternyata adalah Tuhan dan Mesias, terus bergema dari bibir para Rasul di seluruh Yerusalem. Lalu para Rasul ini dibungkam dan ditangkap oleh para pemimpin Israel. Namun, pada kenyataannya, itu tidak menghentikan apa pun karena karya Tuhan telah dimulai di hati banyak orang yang ada di sana. Dan meskipun para Rasul dibungkam oleh para pemimpin, Kisah Para Rasul 4:4 mengatakan, “Di antara orang yang mendengar ajaran itu banyak yang menjadi percaya, sehingga jumlah mereka menjadi kira-kira lima ribu orang laki-laki.” Tiga ribu laki-laki sebelumnya, dan kita dapat berasumsi itu belum termasuk wanita. Dan sekarang lima ribu pria, belum termasuk wanita. Ribuan orang datang kepada Kristus dalam minggu-minggu setelah kematian-Nya. Dan persiapan untuk kebangunan rohani itu—semuanya bermula hari itu, di bukit itu, ketika mereka dipenuhi rasa takut akan Allah.

Itulah respons yang benar. Itulah tanggapan yang benar. Respons itu harus menuntun pada pertobatan, rasa takut, rasa bersalah, kecemasan, dan kengerian. Respons itu harus menuntun pada pertobatan dan iman kepada Kristus. Dan ketika itu terjadi, keselamatan datang. Itulah respons yang benar dari orang-orang Romawi yang akhirnya yakin untuk menerima Yesus sebagai Anak Allah. Itulah respons yang benar dari orang banyak dimana merasa takut. Dan bagi ribuan dari mereka, rasa takut itu bukanlah akhir—melainkan awal, untuk kemudian bertobat dan menerima Kristus sebagai Tuhan di kemudian hari.

Lalu, masih ada satu kelompok lainnya. Ayat 49, “Semua orang yang mengenal Yesus dari dekat, termasuk perempuan-perempuan yang mengikuti Dia dari Galilea, berdiri dari jauh dan melihat semuanya itu.” Semua kenalan-Nya dan perempuan-perempuan – inilah kelompok kecil yang akhirnya menjadi pengikut Yesus. Perempuan-perempuan dari Galilea. Susana, Kita ingat Susana dari pasal 8 sebagai salah satu dari mereka. Ada juga Maria Magdalena. Ada Maria, ibu Tuhan kita. Dan masih ada lagi perempuan-perempuan lain yang setia mengikuti Yesus. Kitab Yohanes menyebutkan nama-nama mereka dalam Yohanes pasal 19 ayat 25-27. Dia merinci siapa saja mereka. Izinkan saya membacakannya untuk Anda. Dikatakan: “Dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, istri Klopas dan Maria Magdalena.” Dan masih ada yang lain, seperti yang saya sebutkan dan ditunjukkan dalam pasal kedelapan kitab Lukas, yang adalah para pengikut Kristus.

Ada juga murid yang Tuhan kasihi, yaitu Yohanes. Dan Yohanes memberi tahu kita dalam bagian yang baru saja saya bacakan bahwa mereka berdiri di dekat salib, dan mereka ada di sana pada awal penyaliban, dan pada saat awal itu, Anda ingat, Yesus berkata, "Ibu, lihatlah, anakmu. Anak, lihatlah ibumu." Dan Yesus menyerahkan ibu-Nya kepada Yohanes. Tapi sekarang, mereka tidak lagi berdiri di dekat salib. Ayat 49 mengatakan, "Mereka berdiri dari jauh." Seiring berjalannya olok-olok dan penghinaan, sangat masuk akal untuk menganggap bahwa mereka tidak sanggup menyaksikan apa yang terjadi pada Dia yang mereka kasihi begitu dalam, dan mereka mundur ke pinggir. Dan kemudian, dalam semua kegelapan dan kengerian penghakiman yang dijatuhkan, mereka mungkin berpikir bahwa ketika hadirat Allah turun, Dia akan membinasakan orang-orang Romawi dan orang-orang Yahudi. Tetapi sebaliknya, Kristuslah yang merasakan murka-Nya. Jadi mereka pun tetap di sana, dari kejauhan.

Dan mungkin tampaknya kita benar-benar tidak tahu apa yang mereka pikirkan karena yang tertulis hanyalah, “Melihat semuanya itu. Melihat semuanya itu." Nah, menurut saya itu sudah mengatakan semuanya. Melihat, tanpa berkomentar. Mengapa? Karena mereka tidak tahu harus berkata apa. Mereka terkejut, mereka tercengang. Bagaimana mungkin ini terjadi? Mereka tidak dapat memahaminya. Dia adalah Mesias, mereka tahu itu. Dia adalah Anak Allah, mereka tahu itu. Hati mereka hancur oleh apa yang telah terjadi pada-Nya. Mereka tidak dapat memprosesnya. Mereka tidak dapat memahaminya. Semua ini tidak masuk akal. Sikap yang sama muncul di jalan menuju Emaus, dan para murid tidak dapat memahami apa yang telah terjadi. Sejauh yang mereka ketahui, mereka tidak dapat memahaminya. Seolah-olah semuanya sudah berakhir. Mereka terdiam, terkejut. Dan ini adalah respons yang tepat jika salib adalah akhir dari segalanya. Jika salib adalah segalanya, maka yang tersisa hanyalah keterkejutan. Mereka tidak berbicara karena mereka tidak tahu harus berkata apa. Keheningan dalam keadaan tercengang adalah satu-satunya yang bisa mereka lakukan.

Sampai di pasal 24, di Minggu pagi, ketika para wanita dan para pengikut Yesus mengetahui bahwa Dia masih hidup. Dan saudara, adalah respons yang wajar untuk terpana oleh salib, adalah respons yang wajar untuk terkejut oleh salib, tetapi kebangkitan mengubah semua itu menjadi sukacita yang besar. Saya bahkan tidak dapat membayangkan kesedihan mereka pada hari itu. Mustahil untuk menggambarkan betapa dalamnya duka yang mereka rasakan saat menyaksikan apa yang telah mereka lihat. Namun kesedihan mereka berubah menjadi sukacita ketika Dia keluar dari kubur. Tiga pandangan yang diberikan oleh Lukas ini mengingatkan kita bahwa alasan Yesus mati adalah untuk membawa orang berdosa kepada keyakinan bahwa Dia adalah Anak Allah, untuk membawa orang berdosa bertobat dari dosa-dosa mereka, dan untuk membawa orang berdosa menerima kematian-Nya dan kebangkitan-Nya. Di situlah keselamatan berada.

Lalu, apa respons Anda? Apakah Anda diyakinkan? Apakah Anda merasa bersalah? Atau apakah kebingungan dan keterkejutan Anda sudah sirna dalam kemuliaan kebangkitan-Nya? Saya harap demikian.

SELESAI

This sermon series includes the following messages:

Please contact the publisher to obtain copies of this resource.

Publisher Information
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969

Welcome!

Enter your email address and we will send you instructions on how to reset your password.

Back to Log In

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize
View Wishlist

Cart

Cart is empty.

Subject to Import Tax

Please be aware that these items are sent out from our office in the UK. Since the UK is now no longer a member of the EU, you may be charged an import tax on this item by the customs authorities in your country of residence, which is beyond our control.

Because we don’t want you to incur expenditure for which you are not prepared, could you please confirm whether you are willing to pay this charge, if necessary?

ECFA Accredited
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Back to Cart

Checkout as:

Not ? Log out

Log in to speed up the checkout process.

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize