Baiklah, mari kita membuka Alkitab kita untuk merenungkan firman Tuhan. Kita akan melihat 1 Tesalonika pasal 5. Minggu lalu dan pagi ini kita sedang mempelajari ayat 12 dan 13. Izinkan saya membacakannya bagi Saudara sekalian, 1 Tesalonika 5:12-13:
“Kami minta kepadamu, Saudara-saudara, supaya kamu menghormati mereka yang bekerja keras di antara kamu, yang memimpin kamu dalam Tuhan dan menegur kamu; dan supaya kamu sungguh-sungguh menjunjung mereka dalam kasih karena pekerjaan mereka. Hiduplah selalu dalam damai seorang dengan yang lain.”
Kedua ayat ini berbicara tentang bagaimana jemaat harus memperlakukan gembala mereka, dan bagaimana para gembala harus memperlakukan jemaat, dalam kerangka persekutuan Kristen di dalam gereja. Minggu lalu, Saudara tentu masih ingat, kita membahas tanggung jawab para gembala terhadap jemaat, yaitu bagaimana seorang gembala harus memelihara domba-dombanya. Tentu saja, pesan itu sangat dekat dengan hati saya sendiri sebagai seorang gembala yang memiliki domba-domba dan yang memikul tanggung jawab di hadapan Tuhan untuk merawat mereka. Pesan itu juga mencerminkan pelayanan semua pendeta dan penatua kami di Gereja Grace.
Ketika saya kembali merenungkan apa yang saya sampaikan minggu lalu—tentang tanggung jawab, sukacita, kesulitan, pencobaan, penderitaan, dan juga kegembiraan yang menyertai pelayanan sebagai seorang pendeta—saya teringat sebuah percakapan beberapa bulan yang lalu. Saat itu saya dan Phil Johnson sedang makan siang bersama. Ia berkata kepada saya, “John, sebentar lagi edisi baru majalah Masterpiece akan terbit. Kamu perlu menulis artikel editorial lagi. Kira-kira topik apa yang ingin kamu tulis? Sambil menikmati sandwich ayam Carl’s yang saya beli di sebuah tempat makan di dekat sana, saya menjawab, “Phil, saya rasa saya ingin menulis sebuah artikel tentang alasan mengapa saya menjadi seorang pendeta. Saya ingin semua orang memahami bahwa, apa pun kesan atau profil yang mungkin terlihat dari diri saya di mata dunia luar, inti dari segala sesuatu dalam hidup saya adalah pelayanan penggembalaan. Itulah panggilan yang Tuhan berikan kepada saya, dan itulah sebenarnya siapa diri saya.”
Lalu Phil bertanya, “Baiklah, bagaimana kamu akan menulisnya?” Saya menjawab, “Bagaimana kalau saya menulis artikel berjudul Sepuluh Alasan Mengapa Saya Menjadi Seorang Pendeta?” Sebenarnya angka “sepuluh” itu saya sebutkan begitu saja secara spontan. Ia kemudian bertanya, “Memangnya kamu bisa menemukan sepuluh alasan?” Saya menjawab, “Saya rasa bisa. Apakah kamu punya pensil? Maka ia mulai menulis sementara saya menyebutkan satu per satu sepuluh alasan mengapa saya menjadi seorang pendeta. Percakapan itu kemudian berkembang menjadi sebuah artikel yang akhirnya dimuat dalam edisi terakhir majalah Masterpiece, pada rubrik editorial tempat saya biasanya menulis.
Pemikiran saya tentang hal ini muncul ketika saya membaca biografi Jonathan Edwards yang ditulis oleh Ian Murray. Dari buku itu saya mengetahui begitu banyak pergumulan dan kepedihan pribadi yang dialami Edwards dalam pelayanannya di gereja. Ia menggembalakan sebuah jemaat, tetapi pada akhirnya jemaat itu justru menyingkirkannya. Mereka melakukan pemungutan suara dan memutuskan untuk memberhentikannya. Padahal selama bertahun-tahun ia telah menjalani pelayanan yang luar biasa mendalam dan sangat diberkati. Jonathan Edwards bahkan menjadi tokoh utama dalam Kebangunan Rohani Besar di Amerika, salah satu kebangunan rohani terbesar yang pernah terjadi di negara itu. Tapi tampaknya jemaatnya sendiri tidak terlalu mempertimbangkan semua hal itu.
Meskipun saat itu saya sudah memasuki tahun ke-22 pelayanan, dan saya tidak memperkirakan akan mengalami nasib seperti itu, saya tahu bagaimana rasanya menerima kritik. Saya tahu bagaimana rasanya terus-menerus menjadi sasaran tuduhan, baik dari dalam maupun dari luar gereja. Percayalah, ada saat-saat tertentu ketika meninggalkan gereja tampak sebagai pilihan yang menarik bagi saya. Dan hampir terus-menerus ada pertanyaan yang ditujukan kepada saya, “Mengapa Anda tidak meninggalkan Gereja Grace dan melakukan hal lain saja?” Tapi saya tidak pernah sungguh-sungguh mempertimbangkan langkah seperti itu, karena saya mengasihi panggilan yang Tuhan berikan kepada saya, saya mengasihi tempat pelayanan saya, dan saya mengasihi jemaat saya. Saya tetap sepenuhnya berkomitmen pada tugas seorang pendeta. Dan ada banyak alasannya mengapa begitu. Izinkan saya mengulas secara singkat sepuluh alasan mengapa saya menjadi seorang pendeta, atau seorang gembala.
Alasan pertama: gereja adalah satu-satunya lembaga yang Kristus janjikan untuk dibangun dan diberkati. Dia berkata, “Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” Saya mendapatkan penghiburan dan keyakinan yang besar dari kenyataan bahwa saya menjadi bagian dari lembaga terbesar di muka bumi ini, yaitu gereja lokal. Dan saya bersyukur karena diberi kesempatan untuk mengambil bagian, meskipun kecil, dalam karya besar Tuhan kita untuk membangun gereja-Nya.
Alasan kedua: semua fungsi kehidupan bersama sebagai tubuh Kristus berlangsung di dalam gereja. Begitu seseorang menjauh dari gereja, ia memisahkan dirinya dari tempat perayaan iman, tempat penyembahan, tempat Perjamuan Tuhan, tempat baptisan, tempat saling menguatkan, tempat membangun iman, dan tempat menerima pengajaran. Jika kita ingin datang seperti yang dikatakan pemazmur, untuk menyembah dan sujud di hadapan Tuhan; jika kita ingin datang mengambil bagian dalam Perjamuan Tuhan; jika kita ingin datang ke dalam air baptisan; jika kita ingin datang untuk diberi makan secara rohani, diajar, dibimbing, dimuridkan, dan menikmati kekayaan persekutuan orang percaya, semuanya itu terjadi di dalam gereja lokal.
Ketiga, saya menjadi seorang pendeta karena pemberitaan firman adalah sarana utama yang Tuhan gunakan untuk menyalurkan anugerah-Nya. Rasul Paulus memerintahkan Timotius untuk memberitakan firman. Melalui firman yang diberitakan, melalui pemberitaan firman itulah orang-orang dibangun, diteguhkan, dikuatkan, didorong, dimotivasi, ditegur, diyakinkan akan dosa, dikoreksi, dan dipulihkan. Setiap hari Minggu saya memiliki hak istimewa untuk menyampaikan pesan Tuhan, sekali pada pagi hari dan sekali pada malam hari. Dan terus terang saja, alasan kami mengadakan kebaktian Minggu malam adalah karena kami ingin memiliki satu kesempatan lagi untuk memberitakan kebenaran itu beserta segala dampaknya dalam kehidupan orang percaya.
Keempat, saya menjadi seorang pendeta karena saya dapat mengabdikan seluruh hidup saya untuk belajar dan bersekutu dengan Tuhan. Saya tidak ingin terlibat dalam mengelola suatu organisasi yang membuat saya sibuk dengan hal-hal kecil, urusan remeh, dan berbagai detail yang tidak berhubungan langsung dengan firman Tuhan, karena hidup saya sepenuhnya dipenuhi oleh Firman Tuhan. Minggu lalu seseorang bertanya kepada saya, “Apa yang mendorong Anda?” Dan saya menjawab, “Kecintaan saya kepada firman Tuhan; itulah yang mendorong saya.” Bagi saya, kenyataan bahwa saya dapat menghabiskan seluruh hidup melakukan apa yang saya sukai adalah suatu sukacita yang luar biasa. Beberapa minggu yang lalu saya berbicara dengan seorang pemain bisbol profesional dan saya bertanya, “Apa yang paling Anda sukai dari pekerjaan Anda?” Ia menjawab, “Yang paling saya sukai adalah saya melakukan apa yang saya cintai.” Saya juga demikian.
Bahkan, apa yang saya cintai itu justru membawa saya ke dalam persekutuan yang pribadi, mendalam, dan terus-menerus dengan Tuhan melalui halaman-halaman Kitab Suci. Dr. Rosscup di seminari kami, yang juga merupakan bagian dari staf pengajar, sedang menulis sebuah buku tentang khotbah ekspositori, dan kami sangat antusias menantikannya. Ia sedang menulis satu bab tentang doa dan khotbah ekspositori. Suatu hari ia mengirimkan sebuah catatan kepada saya dan berkata, “Maukah Anda menuliskan satu paragraf atau lebih tentang bagaimana doa berperan dalam persiapan khotbah Anda?” Dengan senang hati saya menulis draf awalnya, yang sekarang masih berada di meja saya dan menunggu untuk saya revisi dalam satu atau dua hari ke depan. Dalam tulisan itu saya menjelaskan bahwa kenyataan doa sama sekali tidak dapat dipisahkan dari proses persiapan khotbah.
Saya tidak mungkin memisahkan diri dari percakapan yang terus-menerus dengan Tuhan dalam proses persiapan itu. Saat mempersiapkan khotbah, saya berusaha memahami pikiran-Nya, hati-Nya, dan kehendak-Nya. Saya juga memohon agar apa yang sedang saya pelajari dan pahami itu terlebih dahulu diterapkan oleh-Nya dalam hati saya sendiri sebelum pada akhirnya saya sampaikan kepada orang lain. Saudara melihat sisi publik dari diri saya, tetapi ada sisi pribadi yang hanya diketahui oleh Tuhan. Saudara melihat saya selama dua jam setiap hari Minggu, satu jam di pagi hari dan satu jam di malam hari, jika Saudara benar-benar rohani. Jika tidak, mungkin hanya satu jam saja. Tapi waktu itu tidak sebanding dengan setidaknya 30 jam yang saya habiskan dalam persekutuan pribadi dengan Tuhan untuk mempersiapkan satu atau dua jam pelayanan yang Saudara lihat. Itulah sukacita pelayanan. Itulah kecintaan saya. Itulah gairah hidup saya dalam melayani.
Kelima, saya menjadi seorang pendeta karena saya bertanggung jawab secara langsung kepada Tuhan atas kehidupan orang-orang yang telah Dia percayakan kepada saya untuk digembalakan. Dan saya menyukai tanggung jawab itu. Saya tidak keberatan menjadi pengajar melalui radio. Saya tidak keberatan menulis buku. Saya tidak keberatan menyampaikan pemikiran saya kepada orang-orang yang tidak saya kenal, baik mereka mendengarkan saya melalui radio, kaset rekaman, ataupun membaca buku saya. Tetapi hubungan saya dengan jemaat saya adalah hubungan seorang gembala dengan domba-dombanya. Saya memiliki hak istimewa sekaligus panggilan dari Tuhan untuk menjaga jiwa mereka sebagai seseorang yang kelak harus memberikan pertanggungjawaban kepada Tuhan. Dan satu-satunya tempat saya dapat menjalankan panggilan itu adalah di gereja lokal. Saya tidak dapat mempertanggungjawabkan jiwa orang-orang yang hanya mendengarkan saya melalui program radio. Saya tidak dapat mempertanggungjawabkan jiwa orang-orang yang mendengarkan rekaman saya atau membaca buku saya. Saya hanya dapat mempertanggungjawabkan kepada Tuhan jiwa-jiwa domba yang ada dalam kawanan yang Tuhan percayakan kepada saya. Untuk itulah saya dipanggil, dan dalam hal itulah saya ingin tetap setia.
Keenam, saya juga bertanggung jawab kepada orang-orang di gereja saya. Bukan hanya saya bertanggung jawab kepada Tuhan atas jemaat yang ada di gereja saya, tetapi saya juga bertanggung jawab kepada jemaat itu sendiri untuk hidup setia kepada Tuhan. Segala sesuatu terbuka di hadapan Saudara. Setelah hampir 22 tahun pelayanan—tepatnya ulang tahun pelayanan saya yang ke-22 jatuh pada tanggal 9 Februari—semua kehidupan saya terbuka untuk dilihat. Semuanya terlihat dengan jelas. Istri saya, anak-anak saya, kehidupan keluarga saya, kekuatan pribadi saya, kelemahan pribadi saya, hal-hal yang saya sukai, hal-hal yang tidak saya sukai, gaya hidup yang saya jalani, semuanya ada di hadapan Saudara. Dan saya menghargai pertanggungjawaban seperti itu.
Saudara mungkin bertanya, “Mengapa?” Karena pertanggungjawaban itu menjaga saya—menjaga saya tetap berada di tempat yang seharusnya. Pertanggungjawaban menjadi dorongan yang terus-menerus bagi saya untuk mencerminkan Kristus dalam segala yang saya katakan dan lakukan, karena hanya dengan cara itulah saya dapat menopang pesan yang saya sampaikan. Orang-orang bisa mendengarkan saya di radio, tetapi mereka tidak tahu bagaimana saya mengasihi orang lain. Mereka bisa mendengarkan rekaman saya atau membaca buku saya, tetapi mereka tidak mengetahui seperti apa kehidupan saya sebenarnya. Tetapi Saudara mengetahuinya, dan saya sadar bahwa Saudara mengetahuinya. Dan pertanggungjawaban seperti itu sangat, sangat baik bagi saya.
Alasan ketujuh: saya menjadi seorang pendeta karena saya menyukai tantangan membangun tim kepemimpinan yang efektif dari orang-orang yang Tuhan tempatkan di dalam gereja. Saya sungguh percaya bahwa menjadi pemimpin yang efektif di dalam gereja adalah salah satu tugas yang paling menantang di muka bumi ini. Ada banyak alasan untuk itu. Salah satunya, misalnya, ketika seseorang memulai sebuah bisnis atau perusahaan dan ingin berhasil, ia bisa merekrut siapa pun yang ia inginkan. Tetapi ketika membangun sebuah gereja, Anda harus menerima orang-orang yang Tuhan berikan. Itu sangat berbeda—sangat berbeda. Selain itu, gereja adalah organisasi yang dijalankan oleh para sukarelawan. Jadi bukan hanya Anda harus menerima orang-orang yang Tuhan berikan, tetapi Anda juga harus bekerja dengan apa yang mereka bersedia berikan. Dari tantangan seperti itulah Anda dipanggil untuk membangun sebuah tim kepemimpinan yang dapat memajukan Kerajaan Allah.
Dan terus terang, saya tidak mengatakan hal ini untuk membuat siapa pun berkecil hati, tetapi saya ingin Saudara mengetahui bahwa Alkitab berkata, “Tidak banyak di antara kamu yang bijaksana menurut ukuran manusia, tidak banyak yang berpengaruh, dan tidak banyak yang terpandang,” sebagaimana tertulis dalam 1 Korintus 1:26. Pada dasarnya, kita ini adalah orang-orang biasa di dunia ini, bukan? Dan saya berulang kali bersyukur kepada Tuhan karena Dia tidak menempatkan saya di sebuah gereja yang berisi kaum elit. Saya tidak pernah ingin menggembalakan gereja yang terdiri dari kalangan elit. Saya menginginkan sebuah gereja yang mencerminkan keseluruhan tubuh Kristus, di mana hanya sedikit orang yang dianggap berpengaruh atau terpandang, sementara sebagian besar dari kita hanyalah orang-orang biasa yang setia. Saya melihat diri saya sebagai salah satu dari mereka. Dan menjadi sukacita yang luar biasa melihat Roh Allah membangun sebuah tim kepemimpinan disini dan memajukan Kerajaan-Nya melalui gereja kami. Sungguh sebuah tantangan yang luar biasa.
Alasan kedelapan: saya menjadi seorang pendeta karena pelayanan penggembalaan mencakup seluruh aspek kehidupan—seluruh aspek kehidupan. Saya tidak tahu bagaimana dengan Saudara, tetapi saya menyukai petualangan dan saya menyukai keberagaman. Jika Saudara menginginkan hidup yang penuh petualangan dan variasi, jadilah seorang pendeta. Tidak ada dua hari yang sama. Tidak ada dua hari yang sama. Saya tidak diciptakan untuk bekerja di jalur perakitan pabrik. Jika saya harus bekerja di jalur perakitan, mungkin dalam beberapa minggu saya sudah bersembunyi di bawah tempat tidur sambil mengucapkan alfabet Yunani karena pekerjaan itu akan membuat saya benar-benar kehilangan akal. Pikiran saya selalu tertarik pada hal-hal yang beragam, karena memang itulah cara Tuhan membentuk saya. Dan hal yang sama berlaku dalam pelayanan. Pelayanan mencakup seluruh aspek kehidupan. Saya dapat ikut merasakan sukacita orang tua atas kelahiran seorang anak. Saya juga dapat ikut merasakan kesedihan orang tua atas kematian seorang anak. Saya dapat berbagi kebahagiaan dalam sebuah pernikahan. Saya juga dapat memberikan penghiburan yang dibutuhkan dalam sebuah pemakaman.
Seluruh rentang kehidupan terbuka di hadapan seorang pendeta. Semua sukacita, kegembiraan, dan masa-masa bahagia dalam hidup; juga semua tragedi, kesulitan, pencobaan, dan penderitaan hidup. Pelayanan adalah sebuah petualangan yang luar biasa yang bisa dimulai kapan saja, karena setiap kali sesuatu yang tidak biasa terjadi, entah bagaimana saya ikut terlibat di dalamnya. Ada sukacita tersendiri ketika melangkah melampaui khotbah—bagian pelayanan yang dapat diperkirakan—ke dalam bagian pelayanan yang tidak dapat diperkirakan, saat kita berdiri di tengah-tengah sebagai wakil Tuhan dan melayani orang-orang atas nama Kristus dalam kehidupan mereka.
Saya menjadi seorang pendeta karena dua alasan lagi. Alasan kesembilan: saya takut untuk tidak menjadi seorang pendeta. Dan itu benar adanya. Ketika saya berusia 18 tahun, Tuhan membuat saya terlempar dari sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan sekitar 110 kilometer per jam. Saya jatuh dengan punggung bagian bawah terlebih dahulu dan terseret hampir seratus meter di atas jalan aspal. Oleh anugerah Tuhan saya tidak mati, dan oleh anugerah Tuhan pula saya akhirnya berkomitmen untuk menjadi seorang pendeta. Sebelum kejadian itu sebenarnya saya sudah tahu bahwa Tuhan memanggil saya untuk pelayanan tersebut. Namun saya sedang memberontak. Lalu saya memutuskan, jika Tuhan akan berurusan dengan saya seperti itu, maka saya akan menyerah dan menjadi seorang pendeta, atau apa pun yang Dia kehendaki bagi hidup saya. Setiap kali saya menggaruk punggung saya, saya masih bisa merasakan bekas luka itu, karena bekasnya masih ada sampai sekarang sebagai pengingat bahwa saya harus tetap setia dalam pelayanan penggembalaan. Jika tidak, mungkin ada jalan raya lain yang menanti saya di masa depan. Dan itu tidak masalah.
Dan yang terakhir, saya menjadi seorang pendeta karena upah dari pelayanan penggembalaan sungguh luar biasa. Saya harus mengatakan kepada Saudara bahwa saya merasa dikasihi, dihargai, dibutuhkan, dan dipercaya. Mengapa? Bukan karena diri saya sendiri, melainkan karena menjadi alat di tangan Tuhan untuk mengubah kehidupan orang-orang. Ketika Tuhan memakai Saudara untuk memberitakan firman-Nya, mengajarkan firman-Nya, dan menerapkan firman-Nya dalam kehidupan orang lain, hidup mereka berubah. Dan dari situ muncullah kesadaran bahwa hidup ini memiliki makna yang begitu indah dan luar biasa. Hidup saya begitu berharga karena apa yang Tuhan lakukan melaluinya.
Saya tahu Anda mendoakan saya. Saya tahu Anda peduli kepada saya. Saya tahu itu. Saya memiliki utang syukur kepada Tuhan karena semua itu, sebab saya tidak layak menerimanya. Namun saya memahami mengapa hal itu terjadi. Itu adalah bagian dari menjadi saluran yang dipakai Tuhan untuk mengalirkan anugerah-Nya kepada orang-orang. Walaupun Tuhanlah yang melakukan semuanya, dan Roh Kuduslah yang mengerjakan semuanya, ketika ucapan syukur dinaikkan kepada Tuhan, entah bagaimana ucapan syukur itu juga melewati saluran yang dipakai-Nya. Dan itu adalah kenyataan yang sangat indah dan membangkitkan semangat.
Pada akhirnya, sukacita dan kepuasan dalam pelayanan seorang pendeta terletak pada respons dan kasih timbal balik yang dibagikan antara gembala dan domba-dombanya. Saya ingin Anda mengetahui bahwa selama bertahun-tahun saya melayani di sini, saya tidak pernah melayani tanpa sukacita. Saya tidak pernah melayani tanpa kepuasan. Saya tidak pernah melayani dalam kekosongan kasih. Anda selalu mengasihi saya, dan Anda selalu menguatkan hati saya. Respons jemaat kepada gembalanya itulah yang membuat pelayanan ini begitu menggairahkan bagi saya. Dan saya rasa setiap orang yang melayani dalam pelayanan pastoral akan mengatakan hal yang sama. Dari semua sepuluh alasan yang telah saya sebutkan, pada akhirnya kesimpulannya adalah ini: saya berada dalam pelayanan karena upahnya begitu besar. Upah itu bersifat kekal. Dan nilai kekal dari hubungan antara seorang gembala dengan domba-dombanya adalah suatu kebenaran yang sungguh luar biasa.
Saya rasa semua gembala dalam kawanan ini, semua penatua di gereja ini, akan setuju bahwa sukacita dalam pelayanan sangat berkaitan dengan sikap jemaat terhadap gembalanya. Ketika Tuhan menyampaikan kebenaran-Nya melalui saya kepada Anda, dan Anda menyampaikan ucapan syukur melalui saya kepada-Nya, itu menjadi sukacita yang luar biasa. Dan saya harus mengatakan bahwa tidak semua orang mengalami hal seperti itu. Jalan masuk ke banyak gereja seolah-olah dipenuhi bekas rem mendadak dari para pendeta yang pergi dengan tergesa-gesa karena terus-menerus disakiti dan diserang oleh jemaat yang tidak berperasaan dan tidak tahu berterima kasih. Syukurlah, itu bukan pengalaman saya.
Tapi hal ini membawa kita kepada pertanyaan yang muncul dari teks yang sedang kita pelajari: bagaimana seharusnya seorang gembala diperlakukan? Bagaimana seharusnya Anda memperlakukan gembala Anda? Saya menyampaikan pesan ini dengan sedikit rasa enggan, karena pasti akan ada yang berkata, “Oh, seseorang pasti sedang menyusahkan John, jadi dia berkhotbah tentang hal ini untuk meluruskan keadaan.” Itu tidak benar. Anda tahu bahwa kita sampai pada pasal 5 ayat 12 dan 13 hanya karena memang itulah bagian berikutnya dalam pembahasan kita. Dan Anda juga tahu bahwa kita mengikuti rencana Tuhan dalam firman-Nya, bukan agenda pribadi saya.
Bagaimana seharusnya domba-domba memperlakukan gembala mereka? Minggu lalu kita membahas bagaimana gembala harus memperlakukan domba-dombanya. Dan saya sudah mengatakan kepada Saudara bahwa Saudara masih boleh hidup tanpa memikirkan tanggung jawab ini selama satu minggu lagi. Nah, waktunya sudah habis. Waktunya sudah habis. Inilah saatnya, Saudara sekalian. Sekarang kita akan melihat tanggung jawab domba terhadap gembala mereka. Bagi sebagian orang, hal ini mungkin tidak pernah terpikirkan. Kadang-kadang persoalan ini bahkan menjadi bahan lelucon.
Seperti kisah seorang pendeta yang begitu terganggu hingga sulit berkonsentrasi karena ada seorang pria yang selalu tertidur setiap hari Minggu selama khotbahnya berlangsung. Pria itu adalah anggota gereja yang cukup terpandang. Dan setiap khotbah, ia selalu tertidur. Akhirnya sang pendeta memutuskan, “Saya tidak peduli kalau dia orang penting. Saya tidak peduli kalau dia memberi persembahan besar. Saya harus berbicara dengannya.” Maka ia berkata, “Pak, mengapa Anda selalu tertidur saat saya sedang berkhotbah? Itu menunjukkan kurangnya rasa hormat.” Orang itu menjawab, “Apakah menurut Anda saya akan tertidur jika saya tidak mempercayai Anda?” Baiklah, saya tidak membutuhkan kepercayaan seperti itu, kalau boleh jujur.
Bagaimana seharusnya domba memperlakukan gembala mereka? Bagaimana seharusnya domba memperlakukan gembala mereka? Sebuah artikel berjudul “Cara Menyingkirkan Seorang Pendeta” pernah dimuat dalam buletin sebuah gereja. Dengarkan isi pembukaannya. “Belum lama ini sekelompok anggota jemaat dari sebuah gereja tetangga datang menemui saya. Mereka meminta saya memberikan saran tentang cara yang mudah dan tidak menyakitkan untuk menyingkirkan pendeta mereka. Tapi saya khawatir saya tidak banyak membantu mereka. Saat itu saya belum pernah benar-benar memikirkan persoalan tersebut secara serius. Tetapi sejak saat itu saya mulai merenungkannya dengan sungguh-sungguh. Dan jika suatu hari nanti ada orang lain datang meminta nasihat tentang cara menyingkirkan seorang pendeta, inilah yang akan saya katakan kepada mereka...”
“Pertama, tataplah mata pendeta Anda ketika ia berkhotbah dan sesekali ucapkan ‘amin’, maka ia akan berkhotbah sampai kehabisan tenaga. Kedua, tepuklah punggungnya, pujilah hal-hal baik yang ia lakukan, dan kemungkinan besar ia akan bekerja sampai kehabisan tenaga. Ketiga, serahkan kembali hidup Anda kepada Kristus dan mintalah pendeta Anda memberikan suatu pelayanan untuk Anda kerjakan, lebih baik lagi jika itu melibatkan menjangkau orang-orang yang belum percaya kepada Kristus, maka ia mungkin akan meninggal karena terlalu bahagia. Keempat, ajak seluruh gereja bersatu dalam doa bagi pendeta Anda, dan tidak lama kemudian pelayanannya akan menjadi begitu efektif sehingga gereja yang lebih besar akan mengambilnya dari tangan Anda.”
Ketika kita memikirkannya, memang muncul beberapa pertanyaan penting: bagaimana seharusnya kita memperlakukan pendeta? Sebuah survei terhadap 3.000 gereja, yang melibatkan para pendeta dan anggota jemaat, mengajukan pertanyaan, “Apa alasan utama orang meninggalkan gereja?” Salah satu jawaban yang paling sering muncul adalah, “Saya tidak menyukai pendetanya.” Lalu apa sebenarnya tanggung jawab kita? Mari kita kembali kepada teks kita. Kita sudah melihat tanggung jawab para gembala terhadap domba-dombanya. Kita telah mencatat bahwa pertama-tama mereka harus bekerja keras di tengah-tengah domba-domba itu. Kedua, mereka harus menjalankan otoritas atas domba-domba tersebut. Dan ketiga, mereka harus memberikan pengajaran kepada domba-domba itu. Kita sudah membahas ketiga hal tersebut dengan cukup rinci.
Poin pertama, yaitu bekerja di tengah-tengah domba-domba, dapat kita lihat dalam ayat 12, “mereka yang bekerja keras di antara kamu.” Pendeta, penatua, penilik jemaat, dan gembala dipanggil untuk bekerja keras. Mereka harus melayani sampai menguras tenaga, menjalani kehidupan pelayanan yang penuh pengorbanan bersama dengan jemaat yang mereka layani. Di sana kita melihat gambaran tentang penyerahan diri yang total. Itulah peran seorang hamba yang rendah hati. Kemudian perhatikan juga bahwa mereka “memimpin kamu dalam Tuhan.” Mereka memiliki otoritas atas jemaat karena panggilan yang diberikan Tuhan kepada mereka. Demi Tuhan, menurut kehendak-Nya, dan untuk kemuliaan-Nya, mereka dipanggil untuk memimpin, mengarahkan, dan membimbing. Lalu pada bagian akhir ayat 12 disebutkan bahwa mereka harus “memberikan pengajaran” kepada jemaat. Mengajar merupakan unsur yang utama dalam pelayanan mereka. Mereka harus menjadi pengajar yang cakap, terampil dalam menjelaskan dan menyampaikan firman kebenaran.
Sekarang mari kita lihat tanggung jawab domba terhadap gembala mereka. Dan ini adalah hal yang sangat mendasar. Maksud saya, gereja harus memahami hal ini. Inilah dasar dari hubungan kita satu dengan yang lain. Kadang-kadang domba bisa sangat menyulitkan gembala mereka. Seseorang pernah berkata, “Kita menganggap domba sebagai makhluk yang lucu dan menggemaskan karena satu-satunya domba yang biasa kita hadapi adalah domba boneka.” Dan itu benar. Jika Anda pernah berurusan dengan domba sungguhan, dan saya pernah melihatnya secukupnya untuk mengetahui bahwa mereka lemah, tidak berdaya, tidak teratur, mudah tersesat, banyak menuntut, kotor, dan memiliki kuku yang tajam. Jadi ketika Tuhan menggambarkan kita sebagai domba, Dia sedang berbicara tentang domba yang sesungguhnya, bukan domba boneka.
Domba dapat membuat kehidupan seorang gembala kehilangan sukacitanya jika mereka tidak menjalankan tanggung jawab mereka. Mereka dapat membuat hidup seorang gembala menjadi sangat berat jika mereka tidak taat. Karena itu mari kita melihat tiga karakteristik atau prinsip yang harus kita jalankan sebagai domba terhadap gembala kita.
Yang pertama: hargailah gembala Saudara. Ayat 12 berkata, “Kami minta kepadamu, Saudara-saudara, supaya kamu menghormati mereka yang bekerja keras di antara kamu, yang memimpin kamu dalam Tuhan dan menegur kamu.” Kata “menghormati” di sini berasal dari kata Yunani oida, yang berarti “mengetahui.” Kata ini sering digunakan di seluruh Perjanjian Baru dengan arti “mengetahui.” Namun yang dimaksud bukan sekadar mengetahui secara informasi, melainkan pengetahuan yang lahir dari pengalaman; mengenal karena telah belajar mengenal, mengenal karena telah hidup bersama, mengenal karena pengalaman yang menghasilkan pemahaman. Dalam ayat ini kata tersebut mengandung makna pengenalan yang mendalam, pengenalan yang disertai rasa hormat dan penghargaan. Jadi maknanya bukan hanya mengenal, tetapi juga menghargai apa yang dikenal. Karena itu mungkin terjemahan yang paling tepat adalah “menghargai.” Bisa juga diterjemahkan, “hargailah mereka yang bekerja keras di antara kamu,” atau “hormatilah mereka yang bekerja keras di antara kamu.”
Kata itu tidak berarti sekadar mengetahui nama mereka, bukan pengetahuan yang sesederhana itu. Bukan berarti mengetahui nama anak-anak mereka, nama istri mereka, kode pos tempat tinggal mereka, alamat rumah mereka, sekolah tempat mereka lulus, jenis mobil yang mereka kendarai, atau hal-hal semacam itu. Yang dimaksud adalah bahwa Anda telah mengenal mereka secara pribadi dan mendalam, sehingga pengenalan itu menghasilkan penghargaan. Anda mengenal mereka cukup baik sehingga Anda sungguh peduli kepada mereka. Kata “mengenal” ini kadang-kadang juga digunakan untuk menggambarkan hubungan fisik antara seorang pria dan seorang wanita, yaitu jenis pengenalan yang sangat dalam dan intim, ketika seorang pria mengenal seorang wanita dan wanita itu kemudian mengandung seorang anak. Jadi yang dimaksud di sini adalah mengenal seseorang secara mendalam sekaligus menghargai nilai dan keberhargaan orang tersebut.
Saya sering menerima komentar seperti ini ketika berbicara dengan orang-orang yang mendengarkan khotbah saya. Sangat sering mereka berkata kepada saya, “Saya merasa seolah-olah saya mengenal Anda. Saya belum pernah benar-benar berkenalan secara pribadi dengan Anda, saya juga belum pernah menghabiskan banyak waktu bersama Anda, tetapi saya merasa mengenal Anda.” Dan sebenarnya yang mereka maksud adalah bahwa karena mereka telah begitu lama mendengarkan curahan hati seorang pengkhotbah, muncullah perasaan bahwa mereka mengenal orang tersebut. Saya biasanya menjawab, “Kalau Anda sudah lama mendengarkan saya, maka memang Anda mengenal saya, karena apa yang Anda dengar itulah diri saya.” Saya bukanlah apa yang tampak dari penampilan luar saya. Bahkan saya sering bercanda kepada orang-orang yang berkata, “Saya sudah mendengarkan Anda di radio selama bertahun-tahun.” Saya biasanya menjawab, “Saya tahu, saya memang terlihat lebih baik di radio.” Persoalannya bukanlah seperti apa penampilan saya. Anda tidak mengenal saya dari rupa saya; Anda mengenal saya dari apa yang saya rasakan, bukan? Anda mengenal saya dari apa yang keluar dari hati saya. Anda mengenal saya dari hal-hal yang menjadi gairah hidup saya.
Sangat mudah untuk bersikap tidak ramah, mudah untuk mengkritik, dan mudah untuk bersikap acuh tak acuh terhadap seseorang yang tidak benar-benar kita kenal secara mendalam dan pribadi. Tetapi ketika Anda mengenal seseorang, ketika Anda telah mengenalnya melalui pengalaman, dan memahami apa yang menjadi kerinduan terdalam hatinya, maka akan lahir suatu rasa hormat yang muncul dari pengenalan seperti itu. Karena itu, menjadi tanggung jawab Anda untuk mengenal para pemimpin Anda. Jika Anda ingin menghormati mereka, menghargai mereka, mengagumi mereka, dan memahami nilai serta keberhargaan mereka, maka Anda harus sungguh-sungguh mengenal mereka. Dan ketika Anda mengenal mereka, tunjukkanlah penghargaan dan rasa hormat itu kepada mereka.
Nah, saya perlu mengatakan bahwa hal ini juga memiliki kaitan dengan dukungan finansial. Dan sekali lagi saya perlu memberikan penjelasan. Saya tidak menginginkan kenaikan gaji, saya tidak akan menerima kenaikan gaji, dan saya tidak sedang meminta kenaikan gaji. Tetapi penting bagi Anda untuk mengetahui bahwa hubungan pemikiran dalam teks ini menunjukkan bahwa penghargaan juga mencakup dukungan secara finansial. Untuk melihat hal itu, Anda hanya perlu melihat 1 Timotius 5:17. Di sana tertulis, “Penatua-penatua yang baik kepemimpinannya”—yaitu mereka yang melakukannya dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab— “patut dihormati dua kali lipat, terutama mereka yang dengan jerih payah berkhotbah dan mengajar.”
Di sini kita melihat para penatua yang memimpin, dan mereka adalah orang-orang yang layak dihormati. Kelayakan mereka menuntut adanya “penghormatan dua kali lipat.” Kata yang digunakan adalah timē. Apa artinya? Kata itu memang bisa berarti hormat atau penghargaan yang tinggi. Tetapi konteksnya menunjukkan bahwa maknanya juga mencakup dukungan materi. Dalam ayat 3 sampai 16 sebelumnya, Paulus baru saja membahas mengenai pemeliharaan terhadap para janda. Setelah itu ia beralih membahas pemeliharaan terhadap para pelayan Tuhan, yaitu para pendeta dan penatua. Jadi ketika ia mengatakan bahwa mereka layak menerima “penghormatan dua kali lipat,” yang dimaksud bukan hanya penghormatan secara sikap, tetapi juga dukungan secara materi. Perlu diketahui juga bahwa dalam beberapa bagian Perjanjian Baru, seperti Matius 27:6 dan 27:9, serta 1 Korintus 6:20, kata timē berkaitan dengan uang atau nilai yang dibayarkan. Jadi maksud Paulus adalah: berikanlah kepada mereka penghormatan dan dukungan yang layak. Berikanlah penghargaan yang besar, rasa hormat yang besar, dan dukungan yang murah hati. Mengapa? Karena Anda sedang memberikan penghargaan kepada para penatua yang memimpin dengan baik, kepada para pemimpin yang setia dan rajin dalam pelayanannya. Mereka layak menerimanya. Mereka pantas mendapatkannya.
Dan sebagai catatan tambahan, tidak ada orang yang lebih layak dipercaya untuk mengelola sumber daya yang Anda berikan selain seorang yang saleh. Kepada siapa lagi Anda dapat mempercayakan hal itu dengan lebih baik daripada kepada seorang yang takut akan Tuhan dan akan menggunakannya untuk kemuliaan-Nya? Dan pada akhir ayat itu dikatakan, “terutama mereka yang dengan jerih payah berkhotbah dan mengajar”—mereka yang bekerja keras dalam firman Tuhan. Percayakanlah kepada mereka uang yang Tuhan berikan. Berilah mereka penghargaan. Tunjukkan penghormatan Anda kepada mereka dengan cara yang nyata dan praktis.
Jadi ada alur pemikiran yang jelas di sini. Para penatua layak menerima penghormatan. Para penatua layak menerima penghormatan yang juga mencakup dukungan materi. Penatua yang bekerja keras dan melayani dengan baik layak menerima penghormatan dua kali lipat. Dan penatua yang bekerja keras serta melayani dengan baik, khususnya mereka yang berfokus pada pemberitaan firman dan pengajaran, sangat layak menerima penghormatan dan dukungan tersebut. Jadi setiap gembala yang setia patut dihargai, dihormati, dikagumi, dimuliakan, dan didukung. Ada satu ayat yang sangat sederhana dan langsung menyatakan hal ini. Dalam 1 Korintus 9—dan kita akan bergerak lebih cepat pada dua poin berikutnya—ada sebuah prinsip dalam ayat 14 yang merangkum semuanya. 1 Korintus 9:14 berkata, “Demikian pula Tuhan telah menetapkan bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu.” Mereka yang memberitakan Injil harus memperoleh penghidupan dari pemberitaan Injil. Artinya, jika seseorang mengabdikan hidupnya untuk pelayanan itu, maka ia patut didukung agar dapat menjalankan pelayanan tersebut. Sekarang mari kita kembali ke teks kita dalam 1 Tesalonika pasal 5.
Hal pertama yang harus diberikan jemaat kepada para pemimpin mereka—para penatua dan pendeta—adalah penghormatan yang diwujudkan juga melalui dukungan dan pemeliharaan. Dukunglah mereka, berikanlah penghormatan yang besar kepada mereka, bermurah hatilah kepada mereka. Jangan hanya memberikan sekadar cukup untuk bertahan hidup, tetapi tunjukkanlah kemurahan hati, rasa hormat, dan penghargaan yang besar kepada mereka, karena Anda tahu bahwa mereka akan menjadi pengelola yang baik atas apa yang Anda percayakan kepada mereka. Jadi apa tanggung jawab jemaat? Menghormati, mengagumi, memuliakan, dan menghargai para pemimpin rohani mereka.
Kedua—dan ini merupakan kelanjutan langsung dari poin yang pertama—hargailah mereka dengan kasih yang mendalam. Dalam ayat 13 dikatakan, “dan supaya kamu sungguh-sungguh menjunjung mereka dalam kasih karena pekerjaan mereka.” Ini sangat mirip dengan poin pertama, sehingga perbedaannya tidak terlalu besar. Kata “menghormati” atau “menghargai” di sini berasal dari kata Yunani hēgeomai, yang berarti mempertimbangkan, memandang, atau menilai seseorang. Artinya adalah bagaimana Anda memikirkan dan memandang orang tersebut. Namun perintah ini membawa kita selangkah lebih jauh daripada tugas yang pertama, karena dikatakan bahwa Anda harus menghargai mereka “sangat tinggi.” Tahukah Anda bagaimana ungkapan itu dalam bahasa Yunani? Artinya adalah “melampaui segala ukuran”—melampaui segala ukuran. Dan kemudian ada kata yang sangat penting: “dalam kasih”—“dalam kasih, karena pekerjaan mereka.” Bukan karena kepribadian mereka. Ini bukan perlombaan popularitas atau kontes kepribadian. Tetapi karena pekerjaan yang mereka lakukan. Anda harus menghargai mereka melampaui segala ukuran. Anda harus memandang seorang pendeta yang setia dengan penghargaan yang melampaui segala ukuran. Maksudnya adalah tidak ada batasnya. Tidak ada batas untuk penghargaan yang seharusnya Anda berikan kepada orang itu. Tidak ada batas untuk kasih yang seharusnya Anda tunjukkan kepadanya. Anda harus mengasihi orang itu.
Apa arti kasih itu? Kasih berarti melayaninya dengan rela berkorban. Kasih berarti memiliki perhatian dan kasih sayang kepadanya. Bukan karena kepribadiannya, bukan karena ia pernah melakukan kebaikan tertentu bagi Anda, tetapi karena pekerjaannya—karena ia melayani Anda dengan firman Tuhan, karena ia memberi makan jiwa Anda yang membutuhkan. Dalam Galatia pasal 4 ayat 14, Paulus berkata, “Sungguhpun demikian, keadaan tubuhku itu, yang merupakan pencobaan bagi kamu, tidak kamu anggap sebagai sesuatu yang hina dan menjijikkan.” Paulus memiliki kondisi fisik tertentu yang membuat kehadirannya tidak menyenangkan bagi orang lain, namun ia berkata, “Kamu tidak menolaknya.” Tidak ada sesuatu yang menarik secara lahiriah pada dirinya, sama sekali tidak ada. “Kamu telah menyambut aku, sama seperti menyambut seorang malaikat Allah, malahan sama seperti menyambut Kristus Yesus sendiri.”
Itulah semangatnya. Itulah sikap yang benar. Apa pun kepribadiannya, apa pun keadaan yang mungkin tidak menyenangkan, bahkan jika itu berupa penyakit yang menjijikkan, “Kamu menerima aku seolah-olah aku adalah malaikat Allah atau Kristus sendiri.” Lalu dalam ayat 15 ia berkata, “Seandainya mungkin, kamu telah mencungkil matamu dan memberikannya kepadaku.” Ada yang berpendapat bahwa Paulus mungkin menderita penyakit mata yang parah dan tidak sedap dipandang. Dan ia berkata, “Jika kamu bisa, kamu akan mencabut matamu sendiri dari rongganya dan memberikannya kepadaku.”
Nah, itulah yang dimaksud dengan menghargai melampaui segala ukuran. “Kamu mengasihi aku meskipun ada hal-hal yang tidak menyenangkan dalam kondisiku. Kamu mengasihi aku meskipun tidak ada sesuatu yang menarik untuk dilihat pada diriku. Bahkan kamu rela mencungkil matamu untukku”—itulah kasih yang rela berkorban. Ketika membaca surat Galatia, Anda akan ingat bahwa Paulus sebenarnya sedang berkata kepada mereka, “Dulu kalian seperti itu. Apa yang membuat semuanya berubah?” Ia menulis dengan hati yang hancur. “Apa yang terjadi sehingga semua itu berubah? Apa yang telah aku lakukan sehingga kasih kalian berubah?”
Jadi, domba-domba harus menghargai gembala mereka. Lebih dari itu, mereka bukan hanya harus memberikan penghormatan dan dukungan kepada orang yang mereka kenal sebagai gembala mereka, tetapi juga mengasihi gembala itu tanpa batas, bahkan sampai rela berkorban secara pribadi. Mengapa? Bukan karena kepribadiannya, melainkan karena pekerjaannya. Mereka telah dipanggil oleh Tuhan. Mereka telah dipisahkan untuk suatu tugas yang khusus. Karena itu, jemaat harus menghargai mereka dan mengakui dengan kasih pekerjaan yang telah Tuhan percayakan kepada mereka. Dengarkan apa yang dikatakan Yesus dalam Yohanes 13:20, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan siapa saja yang menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku.” Ketika Anda menerima seorang gembala, Anda sedang menerima Sang Gembala Agung yang mengutusnya, dan juga Allah yang mengutus Sang Gembala Agung itu dalam kasih.
Anda harus menghargai para penatua dan pendeta Anda, dan penghargaan itu tidak boleh memiliki batas. Seberapa besar pun penghargaan yang Anda miliki saat ini, tingkatkanlah lagi dalam kasih. Anda harus mengasihi mereka karena apa yang mereka lakukan. Jika Anda tidak melakukannya, maka Anda sedang tidak menaati perintah Alkitab yang sangat jelas ini. Kasih itu berarti Anda mengusahakan yang terbaik bagi mereka. Kasih itu berarti Anda mengabaikan kelemahan dan keterbatasan mereka. Kasih itu berarti Anda berbicara baik tentang mereka. Kasih itu berarti Anda menguatkan mereka. Kasih itu berarti Anda menghormati mereka sebagai orang-orang yang dipanggil Tuhan untuk menyampaikan kebenaran kepada Anda.
Dan yang terakhir, yang ketiga, dalam ayat 13 ia berkata, “Hiduplah selalu dalam damai seorang dengan yang lain.” Inilah hal yang ketiga: tunduklah kepada gembala Anda. Tidak ada sesuatu yang lebih menyedihkan, lebih mengganggu, lebih sulit, dan lebih menyakitkan daripada perselisihan di dalam gereja. Nasihat untuk hidup dalam damai satu sama lain adalah ajaran yang sangat sering muncul dalam Perjanjian Baru. Kita sudah mengenalnya. Nasihat itu muncul berulang kali, misalnya dalam Roma 14:19, 2 Korintus 13:11, Efesus 4:3, Kolose 3:15, dan Yakobus 3:18. Berkali-kali Perjanjian Baru menyerukan hidup dalam damai. Namun di sini maknanya sangat khusus. Di sini nasihat itu muncul dalam konteks hubungan antara domba dan gembala, dan hubungan itu seharusnya menjadi hubungan yang penuh damai. Intinya adalah: tunduklah kepada gembala Anda. Tunduklah. Jangan ada pertengkaran. Singkirkan konflik. Tentu saja, hal ini mengandaikan adanya gembala yang setia. Dan ketika seorang gembala dengan setia melakukan yang terbaik yang dapat ia lakukan dalam kekuatan Roh Allah, maka Anda harus tunduk kepada kepemimpinannya. Itulah perintah Alkitab.
Mari kita melihat Ibrani 13, dan dengan bagian itu kita akan menutup pembahasan poin ini. Dalam Ibrani 13 terdapat tiga ayat yang secara khusus ditujukan kepada jemaat mengenai bagaimana mereka harus memperlakukan gembala mereka. Dalam ayat 7 dikatakan, “Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu,” yaitu para pemimpin rohani Anda. Ingatlah mereka. Siapakah mereka? “Mereka yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu.” Kata “ingatlah” di sini mengandung makna mengingat dengan kasih dan penghargaan. Ini adalah ingatan yang disertai rasa hormat dan kasih sayang. “Ingatlah mereka yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan teladanilah iman mereka.” Mereka telah melayani Anda melalui firman Tuhan. Ingatlah hasil dari kehidupan mereka, bagaimana Tuhan memberkati hidup mereka dan memakai mereka dengan luar biasa. Teladanilah iman mereka, dan ketahuilah bahwa Yesus Kristus, yang tetap sama kemarin, hari ini, dan sampai selama-lamanya, akan memperlakukan Anda dalam ketaatan dengan cara yang sama seperti Dia memperlakukan mereka dalam ketaatan. Dan “Janganlah kamu disesatkan oleh berbagai-bagai ajaran asing.” Ingatlah mereka yang telah mengajarkan kebenaran kepada Anda. Hargailah mereka, kasihilah mereka, dan hormatilah mereka.
Kemudian dalam ayat 17, penulis Ibrani menambahkan sesuatu yang lebih langsung lagi. Pertama, ia berkata, “Ingatlah mereka”—ingatlah mereka dengan hati yang penuh syukur. Lalu dalam ayat 17 ia berkata, “Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka.” “Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka.” Mungkin Anda berkata, “Tetapi saya pikir mereka bisa saja salah.” Baik, tapi tetap saja taati mereka dan tunduk kepada mereka. Merekalah yang harus memberikan pertanggungjawaban, bukan Anda. Jangan pernah berpikir bahwa Anda bisa mengabaikan kepemimpinan rohani yang Tuhan tempatkan atas Anda, karena merekalah yang akan memberikan pertanggungjawaban. Bila mereka tidak meminta Anda untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan Alkitab, tidak sesuai dengan firman Tuhan, tidak saleh, atau berdosa, maka Anda harus mengikuti kepemimpinan mereka. Kami sebagai gembala memiliki tanggung jawab yang sangat serius: kamilah yang akan memberikan pertanggungjawaban, sedangkan Anda dipanggil untuk mengikuti kepemimpinan yang ada. “Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya.”
Itulah pernyataan yang sangat kuat dan sangat berat bagi siapa pun yang berada dalam kepemimpinan rohani, baik saya maupun pendeta dan penatua lainnya. Kami memiliki tanggung jawab yang serius. Kami akan memberikan pertanggungjawaban di hadapan Tuhan. Itu sendiri sudah merupakan beban yang cukup berat untuk dipikul. Saya hidup dengan kesadaran itu setiap saat. Saya bertanggung jawab kepada Tuhan atas keadaan domba-domba yang saya gembalakan. Saya bertanggung jawab kepada Tuhan atas keputusan-keputusan yang saya ambil. Dan kami sebagai satu tim penatua juga bertanggung jawab kepada Tuhan atas keputusan yang kami buat ketika kami mencari hikmat dari Roh Kudus. Itulah sebabnya kami tidak pernah melakukan sesuatu yang tidak disetujui bersama oleh seluruh penatua. Kami ingin benar-benar yakin bahwa kami memahami kehendak Tuhan ketika memimpin jemaat, karena kami harus memberikan pertanggungjawaban kepada-Nya.
Karena itu ia berkata, “Taatilah.” Orang-orang yang keras kepala dan selalu ingin mengikuti kehendaknya sendiri akan merampas sukacita para pendeta mereka dan hanya mendatangkan dukacita bagi mereka. Perhatikan kelanjutan ayat 17: “Supaya mereka melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu..” Apakah Anda ingin memiliki gereja yang tidak bahagia? Milikilah pendeta yang tidak bahagia. Apakah Anda ingin memiliki pendeta yang tidak bahagia? Jangan tunduk pada kepemimpinannya, dan Anda akan merampas sukacitanya. Ia akan menjadi orang yang penuh kesedihan, dan jemaat pun akan menjadi jemaat yang penuh kesedihan. Orang-orang yang keras kepala dan hanya mau mengikuti kehendaknya sendiri merampas sukacita para pemimpin mereka, dan pada akhirnya hanya mendatangkan penderitaan bagi diri mereka sendiri. “Hal itu tidak menguntungkan bagimu,” katanya. Itu tidak akan membawa kebaikan bagi Anda. Tidak ada manfaatnya memiliki seorang gembala yang berdukacita, seorang gembala yang kehilangan sukacita dalam pelayanannya.
Yeremia tentu memahami hal itu. Pelayanannya tidak dipenuhi sukacita karena begitu banyak konflik yang harus ia hadapi. Ia terus-menerus hidup dalam kesedihan karena bangsa itu memberontak dan menolak tunduk kepada apa yang ia sampaikan, padahal yang ia sampaikan adalah firman Tuhan. Dalam pasal 9 ia berkata, “Sekiranya kepalaku sumber air, dan mataku pancuran air mata, siang malam aku akan menangisi orang-orang yang terbunuh dari antara putri bangsaku! Sekiranya di padang gurun aku mempunyai tempat penginapan bagi orang-orang yang sedang dalam perjalanan, maka aku akan meninggalkan bangsaku dan menyingkir dari mereka!” Seolah-olah ia berkata, “Aku akan pergi dari tempat ini dan meninggalkan orang-orang yang keras kepala, memberontak, tegar tengkuk, dan berhati keras ini jika saja aku bisa.” “Sebab mereka semua adalah pezina, gerombolan para pengkhianat. Mereka melenturkan lidahnya seperti busur; bukan kebenaran melainkan dusta merajalela dalam negeri. ‘Sungguh mereka melangkah dari kejahatan kepada kejahatan, tetapi Aku tidak mereka kenal,’ firman Tuhan.” Yeremia dikenal sebagai nabi yang menangis. Yesus juga mengalami hal yang sama. “Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.” Dan Dia menangis. Dia menangis.
Karena itu, jemaat harus hidup dalam damai dengan para pemimpinnya. Jangan memelihara perselisihan. Jangan membangun konflik. Tunduklah dan taatilah mereka. Merekalah yang harus memberikan pertanggungjawaban kepada Tuhan atas apa yang mereka lakukan, bukan Anda. Dan jika Anda dengan setia dan taat mengikuti kepemimpinan mereka, lalu ternyata mereka menuntun Anda ke arah yang kurang tepat atau membuat keputusan yang tidak bijaksana, merekalah yang akan mempertanggungjawabkannya kepada Tuhan. Anda akan diberkati karena telah hidup dalam ketaatan, selama kita tidak sedang berbicara tentang sesuatu yang berdosa. Dalam hal-hal yang menyangkut dosa, Anda sendiri harus menerapkan kebenaran firman Tuhan dengan benar.
Sebenarnya tanggung jawab ini sangat sederhana, bukan? Jika gereja ingin menjadi tempat yang kaya akan berkat, penuh kehangatan, sukacita, dan kebahagiaan, maka para gembala harus setia menjalankan tanggung jawab mereka kepada domba-dombanya, dan domba-domba juga harus setia menjalankan tanggung jawab mereka kepada para gembala. Itu berarti Anda menghargai mereka dengan hormat dan dukungan yang layak. Anda menghormati mereka dengan kasih yang melampaui segala ukuran, bahkan sampai rela berkorban bagi mereka. Itu berarti Anda menjunjung mereka, berbicara baik tentang mereka, menguatkan mereka, dan melakukan segala sesuatu yang dapat membuat pelayanan mereka menjadi berkat dan sukacita, karena merekalah saluran yang Tuhan pakai untuk membawa kebenaran kepada Anda. Dan yang ketiga, Anda tunduk kepada mereka sehingga gereja menjadi tempat yang penuh damai dan bebas dari segala konflik.
Ketika jemaat bersikap seperti itu, dan para gembala juga bersikap seperti yang seharusnya, maka gereja akan menjadi tempat yang penuh sukacita dan damai seperti yang Tuhan kehendaki. Saya teringat ketika Saul pertama kali diangkat menjadi raja. Dalam 1 Samuel 10:26 dikatakan bahwa ia didampingi oleh sekelompok orang “yang hatinya telah dijamah Allah.” Kemudian ketika berita tentang Nahas yang menindas umat Tuhan sampai kepada mereka, Alkitab berkata bahwa Roh Tuhan turun dengan kuasa atas Saul. Sebagai respons terhadap panggilannya, pasal berikutnya, yaitu pasal 11, mengatakan bahwa mereka datang bersama-sama seperti satu orang. Inilah sekelompok orang yang hatinya telah dijamah Allah, yang bersama rajanya maju dengan satu hati dan satu tujuan.
Kesatuan seperti itulah yang Tuhan kehendaki ada di dalam gereja; gembala dan domba hidup dalam keharmonisan yang sempurna. Gembala bekerja keras, memimpin dan mengarahkan, memberi makan rohani kepada jemaat, sementara jemaat menghargai, mendukung, mengasihi, dan tunduk kepada kepemimpinan mereka. Gembala yang setia dan jemaat yang setia akan membuat Kerajaan Allah terus maju dan memuliakan Tuhan. Saya tidak dapat membayangkan mengapa kita ingin melakukan hal lain selain menaati kebenaran-kebenaran ini, baik dari pihak kami maupun dari pihak Anda, supaya kita dapat mengalami sepenuhnya berkat Tuhan yang dijanjikan-Nya kepada orang yang taat. Mari kita berdoa.
Bapa, waktu berlalu begitu cepat, tetapi kami merasa bahwa waktu ini telah diisi dengan pengajaran yang jelas, sederhana, dan bermanfaat bagi kami semua. Bapa, saya bersyukur atas hak istimewa yang luar biasa karena Engkau telah memanggil saya ke dalam pelayanan, meskipun saya sama sekali tidak layak menerimanya. Saya bersyukur atas berkat yang istimewa yang saya terima melalui jemaat ini. Banyak hamba Tuhan tidak memperoleh hak istimewa untuk melayani di tengah lingkungan yang penuh kasih, penghargaan, hormat, dukungan, dan ketundukan seperti ini. Bapa, saya bersyukur untuk semua itu. Saya tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa. Saya tahu bahwa hal itu bukan sesuatu yang dapat diperoleh atau diatur oleh usaha manusia. Semua itu adalah pemberian anugerah-Mu. Karena itu saya mengucap syukur kepada-Mu. Saya juga bersyukur kepada-Mu atas nama jemaat ini, karena selama bertahun-tahun Engkau telah memberikan kepada mereka banyak gembala yang setia untuk memimpin mereka. Bukan hanya melalui mimbar ini, tetapi juga melalui berbagai pelayanan lain di gereja ini: pelayanan anak-anak, pelayanan kaum muda, berbagai pelayanan bagi orang dewasa, pelayanan penginjilan dan penjangkauan, serta banyak pelayanan lainnya
Bapa, Engkau telah memberikan banyak gembala yang setia, yang telah bekerja keras di tengah-tengah domba-domba-Mu, yang dengan setia menjalankan tanggung jawab pengawasan mereka. Engkau telah memberikan banyak gembala yang setia yang mengajarkan firman Tuhan. Dan, Bapa, kami ingin memelihara kesatuan dalam ikatan damai sejahtera yang telah Engkau anugerahkan kepada kami dengan terus hidup dalam kesetiaan. Saya berdoa bagi jemaat ini, kiranya Engkau memenuhi hati mereka dengan penghargaan dan rasa hormat yang sangat besar dalam kasih kepada mereka yang melayani, karena pekerjaan yang mereka lakukan, bukan karena kepribadian mereka atau karena ada sesuatu dalam diri mereka yang menyenangkan untuk disukai. Kiranya Engkau menolong mereka untuk hidup dalam ketaatan dan ketundukan kepada para pemimpin rohani mereka, sehingga ada sukacita yang besar di dalam gereja ini. Jika ada hati yang sedang bergumul untuk menerima kebenaran-kebenaran ini karena kepahitan, permusuhan, konflik, atau pemberontakan, kami berdoa, Tuhan, kiranya Engkau membersihkan semuanya itu dan mengaruniakan kepada kami keharmonisan yang manis. Jadikanlah semua gembala setia, dan jadikanlah domba-domba juga setia, sehingga kami dapat mewakili-Mu dengan benar di dunia ini. Kiranya kami mengalami sukacita dari berkat-Mu yang penuh dan kuasa yang dimiliki oleh sebuah persekutuan orang percaya yang diberkati seperti ini ketika menjangkau orang-orang yang sangat membutuhkan Kristus yang kami beritakan. Untuk tujuan itulah kami berdoa, demi kemuliaan-Mu, dalam nama Kristus. Amin.
SELESAI
This article is also available and sold as a booklet.
