Grace to You Resources
Grace to You - Resource

Selama beberapa bulan terakhir, kita telah mempelajari surat pertama Paulus kepada jemaat di Tesalonika. Pagi ini kita akan melihat bagian firman Tuhan dalam 1 Tesalonika pasal 5 ayat 14 dan 15. Saya mengundang Anda untuk membuka Alkitab dan mengikuti pembacaan bagian tersebut.

Henry Ward Beecher pernah berkata, “Gereja bukanlah galeri untuk memamerkan orang-orang Kristen yang hebat, melainkan sekolah untuk mendidik orang-orang yang belum sempurna.” Dan ia benar. Gereja bukanlah tempat bagi orang-orang yang sempurna. Gereja adalah rumah sakit bagi orang-orang yang menyadari bahwa mereka sakit. Kita sama sekali tidak mengklaim bahwa gereja itu sempurna. Sebaliknya, kita dengan senang hati mengakui bahwa gereja memang tidak sempurna.

Charles Morrison pernah menulis, “Gereja Kristen adalah persekutuan orang-orang berdosa.” Bahkan ia berkata, “Gereja adalah satu-satunya persekutuan di dunia yang syarat keanggotaannya didasarkan pada satu kualifikasi, yaitu bahwa calon anggotanya tidak layak menjadi anggota.”

Gereja penuh dengan masalah karena gereja dipenuhi oleh orang-orang yang memiliki masalah. Setiap orang di dalamnya adalah orang berdosa. Memang mereka telah diselamatkan oleh anugerah, tetapi mereka masih hidup dalam daging yang belum ditebus sepenuhnya, sehingga mereka terus bergumul melawan dosa. Pertumbuhan rohani gereja terjadi sebanding dengan seberapa baik gereja itu menangani dosa yang ada di dalam dirinya.

Karena itu, proses pertumbuhan gereja pada dasarnya adalah proses menyingkirkan pelanggaran, menyingkirkan ketidakbenaran, dan menyingkirkan dosa. Jika gereja ingin terus maju dengan kuasa dan menjadi seperti yang Tuhan kehendaki, maka gereja harus berurusan dengan dosa-dosa yang ada di dalam dirinya sendiri.

Dunia belum pernah benar-benar melihat seperti apa dampaknya jika ada sebuah gereja yang sepenuhnya murni dan kudus. Gambaran yang paling mendekati mungkin adalah gereja mula-mula. Dari api dan semangat kemurnian pada masa kelahirannya muncul suatu tenaga rohani yang mungkin belum pernah tertandingi dalam sejarah gereja sesudahnya.

Pertumbuhan gereja, dari sudut pandang rohani—dan itulah satu-satunya sudut pandang yang benar-benar menjadi perhatian Tuhan—berbanding lurus dengan seberapa baik kita menangani kegagalan-kegagalan yang ada di tengah-tengah kita. Paulus ingin menolong kita melakukan hal itu melalui dua ayat dalam bagian yang akan kita pelajari sebentar lagi. Tapi sebelum kita melihat teks tersebut, mari kita melangkah mundur sejenak dan memandang gereja secara keseluruhan. Jika kita ingin mengelompokkan orang-orang yang menjadi masalah dalam gereja, kira-kira bagaimana kita akan mengelompokkannya?

Mungkin kita dapat menemukan lima kategori orang yang menjadi masalah, lima kelompok yang menghambat pertumbuhan dan kuasa gereja. Kelompok pertama bisa kita sebut sebagai orang-orang yang menyimpang dari jalur. Mereka tidak pernah berjalan seirama. Mereka selalu tidak sinkron. Mereka selalu berada di luar barisan. Mereka tidak pernah benar-benar mengikuti arah yang sedang dituju bersama. Ketika semua orang bergerak maju, mereka justru bergerak mundur. Ketika semua orang mengisi barisan dengan tertib, mereka berada di luar barisan itu dan gagal menjalankan tanggung jawab mereka. Mereka tidak terlalu tertarik untuk melayani, kadang-kadang bahkan tidak tertarik sama sekali untuk memberi. Mereka malas, bahkan mungkin hanya menjadi penonton. Mereka menghambat kemajuan. Mereka bisa menjadi orang yang tidak tertib. Mereka bisa seperti prajurit yang meninggalkan tugas tanpa izin. Mereka bisa bersikap apatis. Kadang-kadang mereka suka menentang. Kadang-kadang mereka memberontak. Dan spektrum mereka mungkin membentang dari sikap apatis hingga pemberontakan yang terang-terangan.

Mereka adalah orang-orang yang menyimpang dari jalur. Mereka seolah-olah tidak pernah berjalan ke arah yang sama dengan yang seharusnya. Mereka selalu bertentangan dengan segala sesuatu.

Kelompok kedua yang dapat kita identifikasi sebagai penghambat kehidupan, pertumbuhan, dan kuasa gereja adalah orang-orang yang penuh kekhawatiran. Kelompok ini pada dasarnya digerakkan oleh rasa takut. Mereka adalah orang-orang di dalam gereja yang tidak memiliki keberanian. Mereka adalah orang-orang yang terkenal dengan kalimat, “Kita belum pernah melakukannya dengan cara seperti itu sebelumnya.” Mereka selalu dapat memberikan sepuluh alasan mengapa sesuatu yang Anda usulkan tidak mungkin dilakukan.

Mereka tidak memiliki semangat untuk mencoba hal-hal baru. Mereka tidak menyukai perubahan. Mereka sangat mencintai tradisi. Mereka takut terhadap hal-hal yang belum dikenal. Mereka tidak ingin mengambil risiko. Mereka mengkhawatirkan segala sesuatu. Berbagai persoalan hidup terasa terlalu berat bagi mereka untuk ditanggung. Mereka biasanya sedih, selalu khawatir, kadang-kadang putus asa, sering merasa tertekan, patah semangat, dan kalah sebelum berjuang. Mereka tidak memiliki semangat, sukacita, antusiasme, dan kegairahan yang biasanya menyertai sebuah petualangan iman.

Kita mungkin juga dapat mengidentifikasi kelompok ketiga. Kita bisa menyebut mereka orang-orang yang lemah. Mereka lemah secara rohani dan moral. Mereka adalah orang-orang Kristen yang karena imannya lemah dan disiplin rohaninya lemah, menjadi sangat rentan terhadap dosa. Mereka jatuh ke dalam dosa yang sama berulang kali. Baru saja Anda menolong mereka bangkit dan membersihkan debu dari diri mereka, tidak lama kemudian mereka sudah jatuh lagi ke lubang yang sama. Mereka merasa sangat sulit untuk melakukan kehendak Tuhan secara konsisten. Mereka mempermalukan diri mereka sendiri. Mereka mempermalukan gereja. Mereka mempermalukan nama Tuhan. Mereka menyita banyak perhatian. Mereka menguji seberapa baik sebuah gereja menerapkan disiplin gereja, dan biasanya mereka akan membawa Anda setidaknya sampai pada tahap kedua dalam proses disiplin tersebut.

Jika kita mengidentifikasi kelompok keempat, kita bisa menyebut mereka orang-orang yang melelahkan. Orang-orang yang melelahkan. Sebutan lain yang mungkin cocok adalah “orang-orang yang membuat frustrasi,” tetapi kata itu tidak dimulai dengan huruf yang sama. Mereka adalah orang-orang yang melelahkan, orang-orang yang selalu menyeret langkah kaki mereka. Mereka sebenarnya berada dalam barisan, tetapi berjalan dengan kecepatan yang salah. Mereka tidak pernah berhasil menyusul. Anda terus mengajar mereka, terus melatih mereka, terus memuridkan mereka. Anda mencurahkan begitu banyak tenaga untuk mereka. Tetapi setiap kali Anda melihat kembali untuk mengetahui sejauh mana perkembangan mereka, rasanya mereka justru semakin jauh tertinggal. Segala sesuatu mudah mengalihkan perhatian mereka. Mereka sangat sulit berkonsentrasi dan sangat sulit memusatkan perhatian. Mereka sering kali membuat frustrasi karena Anda sudah mengerahkan usaha yang maksimal, tetapi hasil yang diperoleh sangat sedikit. Mereka tidak bertumbuh dan berkembang dengan kecepatan yang bisa dianggap normal.

Kelompok yang terakhir, kelompok kelima, adalah orang-orang yang benar-benar jahat. Mereka melakukan kejahatan. Orang-orang Kristen yang melakukan hal-hal jahat. Mereka berbuat dosa terhadap sesama orang percaya bahkan di dalam gereja. Mereka merusak pernikahan orang lain. Mereka mencemari kehidupan anak-anak perempuan. Mereka mencuri. Mereka bergosip. Mereka memfitnah. Mereka melontarkan tuduhan palsu. Singkatnya, mereka adalah orang-orang yang jahat.

Jadi Anda dapat memahami bahwa ketika gereja berusaha untuk bertumbuh, gereja harus berurusan dengan kelima kelompok ini: orang-orang yang menyimpang dari jalur, orang-orang yang penuh kekhawatiran, orang-orang yang lemah, orang-orang yang melelahkan, dan orang-orang yang jahat. Tidak heran jika membangun kawanan domba yang sehat merupakan tugas yang sangat menantang, karena semua kelompok ini membutuhkan pemulihan secara rohani.

Orang-orang yang menyimpang dari jalur perlu kembali masuk ke dalam barisan. Orang-orang yang penuh kekhawatiran perlu memiliki keberanian, iman, keteguhan, dan keyakinan yang lebih kuat. Orang-orang yang lemah perlu memiliki disiplin yang lebih baik dalam hidup yang kudus. Orang-orang yang melelahkan perlu bertumbuh dan mengejar ketertinggalan mereka. Dan orang-orang yang jahat perlu belajar melakukan apa yang benar. Ada begitu banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk membawa semua orang ini kembali berjalan sebagaimana mestinya.

Saat ini begitu banyak yang dibicarakan dan ditulis mengenai pertumbuhan gereja. Ada berbagai data yang canggih, prinsip-prinsip homogenitas, analisis demografi budaya, strategi-strategi yang rumit, metode-metode hiburan, dan teknik-teknik periklanan yang dianggap sebagai kunci untuk membangun dan mengembangkan gereja. Namun sangat sedikit yang dibicarakan mengenai bagaimana membangun kawanan domba yang sehat secara rohani, bagaimana menolong jemaat bertumbuh menjadi semakin serupa dengan Kristus dengan cara mengatasi masalah-masalah seperti ini.

Alkitab tidak pernah berbicara tentang prinsip homogenitas. Alkitab tidak pernah berbicara tentang demografi budaya. Alkitab tidak pernah berbicara tentang strategi-strategi yang rumit. Alkitab tidak pernah berbicara tentang metode hiburan. Alkitab tidak pernah berbicara tentang teknik periklanan. Tetapi Alkitab memang mengatakan bahwa jika Anda ingin gereja bertumbuh, Anda harus menyingkirkan penghalang-penghalang yang menghambat pertumbuhannya. Anda harus menangani apa pun yang memperlambat pertumbuhan gereja itu. Dan ketika gereja menjadi murni dan kudus, gereja akan bergerak maju, mengalami kuasa Tuhan, dan memberikan dampak yang besar bagi budayanya.

Rasul Paulus memahami hal ini. Dan jika Anda datang kepada Paulus untuk mempelajari prinsip-prinsip pertumbuhan gereja, pertanyaan pertama yang perlu diajukan adalah: apa sebenarnya tujuannya? Apa yang ingin ia capai? Gereja seperti apa yang ingin ia lihat? Apakah gereja yang lebih besar? Lebih kaya? Lebih populer? Lebih diterima oleh masyarakat? Mari kita lihat apa yang sebenarnya ia inginkan bagi gereja.

Mari kembali ke pasal 1 surat 1 Tesalonika. Jemaat ini menjadi contoh dan teladan dari apa yang Paulus inginkan bagi setiap gereja. Ia berkata, “Kami selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu semua dan menyebut kamu dalam doa kami.” Paulus sangat bersyukur atas jemaat ini. Sangat bersyukur.

Lalu apa yang membuatnya begitu bersyukur? Di bagian akhir pasal 2 ia berkata, “Kamulah kemuliaan kami dan sukacita kami.” Kemudian pada bagian akhir pasal 5, ayat 26, ia berkata, “Sampaikanlah salam kami kepada semua saudara seiman dengan ciuman yang kudus.” Jelas sekali bahwa ia memiliki kasih yang sangat dalam kepada jemaat ini. Mengapa demikian? Karena mereka sedang bergerak menuju tujuan yang benar. Mereka sedang mengarahkan hidup mereka kepada sasaran yang tepat.

Ketika saya melihat semua pakar pertumbuhan gereja yang bermunculan, yang terlintas dalam pikiran saya hanyalah kisah Daud yang pergi menghadapi Goliat. Saul datang dan memberikan baju perangnya kepada Daud. Anda tentu ingat apa yang tertulis dalam 1 Samuel 17:39. Dikatakan bahwa Daud berusaha berjalan dengan perlengkapan itu, tetapi tidak berhasil karena ia tidak terbiasa menggunakannya. Lalu Daud berkata kepada Saul, “Aku tidak dapat berjalan dengan semua ini karena aku tidak terbiasa memakainya.” Akhirnya Daud melepaskan semuanya, pergi dengan umban yang biasa ia gunakan, dan itulah akhir dari Goliat.

Satu-satunya cara gereja lokal dapat mengalahkan “Goliat-Goliatnya” adalah dengan melakukan apa yang memang telah diajarkan Tuhan untuk dilakukan, apa yang telah diperintahkan, dilatih, dan dikembangkan dalam kehidupannya. Akan selalu ada “Saul-Saul” yang berdiri di pinggir dan ingin mengenakan baju perang mereka kepada “Daud-Daud” yang kecil. Tetapi kita jauh lebih baik menggunakan senjata yang memang sudah kita kenal dan tahu cara memakainya.

Paulus sangat jelas mengenai tujuan pelayanan. Lihat pasal 2 ayat 10. Mari kita mulai memahami apa yang sebenarnya ia maksud dengan perkembangan dan pertumbuhan gereja. “Kamulah saksi, demikian juga Allah, betapa saleh, adil dan tak bercacatnya kami berlaku di antara kamu yang percaya. Kamu tahu, betapa kami, seperti bapak terhadap anak-anaknya, telah menasihati kamu dan menguatkan hatimu seorang demi seorang.”

Baiklah, mereka bekerja keras dalam pelayanan. Tetapi apa tujuan dari semua itu? “upaya kamu hidup sesuai dengan kehendak Allah, yang memanggil kamu ke dalam Kerajaan dan kemuliaan-Nya.” Dengan kata lain, tujuan saya bagi kalian adalah agar kalian hidup dengan cara yang layak bagi Allah yang telah memanggil kalian. Sekarang lihat pasal 3 ayat 1. “Kami tidak dapat tahan lagi, karena itu kami mengambil keputusan untuk tinggal seorang diri di Atena.  Lalu kami mengirim Timotius, saudara seiman kita dan rekan sekerja Allah dalam pemberitaan Injil Kristus.”

Ia berkata, “Aku sudah tidak tahan lagi. Aku tidak tahan karena tidak mengetahui keadaan kalian dan tidak dapat melihat perkembangan rohani kalian. Karena itu, meskipun aku harus tinggal sendirian di Atena, aku mengutus Timotius.” Sebagai catatan, Silas juga telah meninggalkan Makedonia. “Aku mengutus Timotius,” katanya, “saudara seiman kita dan rekan sekerja Allah dalam pemberitaan Injil Kristus, untuk menguatkan hatimu dan menasihatkan kamu tentang imanmu, 3supaya jangan ada orang yang goyah imannya karena kesusahan-kesusahan ini.” Mereka sedang menghadapi penganiayaan. “Kamu sendiri tahu bahwa kita ditentukan untuk itu. Sebab, juga waktu kami bersama-sama dengan kamu, telah kami katakan kepada kamu bahwa kita akan mengalami kesusahan. Seperti yang kamu ketahui, hal itu telah terjadi. Itulah sebabnya, ketika tidak dapat tahan lagi, aku mengirim dia, supaya aku tahu tentang imanmu, karena aku khawatir kalau-kalau kamu telah dicobai oleh si penggoda dan kalau-kalau usaha kami menjadi sia-sia.”

Paulus sangat peduli agar mereka hidup dengan layak di hadapan Tuhan. Ia sangat peduli agar iman mereka kuat dan terus bertumbuh. Ia sangat peduli agar mereka mampu menghadapi penganiayaan dan kesulitan. Dalam ayat 8 ia berkata, “Sekarang kami hidup kembali, asal saja kamu teguh berdiri di dalam Tuhan.” Ia sangat memperhatikan kekuatan rohani mereka. Kemudian dalam ayat 10 ia berkata, “Siang malam kami berdoa dengan sungguh-sungguh, supaya kita bertemu muka dengan muka.” Untuk apa? “Supaya kami menambahkan apa yang masih kurang pada imanmu.”

Jadi yang Paulus inginkan adalah iman yang kuat dan dewasa. Itulah tujuan dari doa-doanya. Itulah sasaran dari semua usahanya. Itulah yang ia kejar. Kemudian ia berkata dalam doa berkatnya yang indah itu, “Kiranya Dia, Allah dan Bapa kita, dan Yesus, Tuhan kita, membukakan bagi kami jalan kepadamu. Kiranya Tuhan menjadikan kamu bertambah-tambah dan berkelimpahan dalam kasih seorang terhadap yang lain.” Kami ingin kalian semakin mengasihi satu sama lain. “Dan terhadap semua orang, sama seperti kami juga mengasihi kamu. Kiranya Dia menguatkan hatimu, supaya tak bercacat dan kudus, di hadapan Allah dan Bapa kita.”

Lihatlah, yang ia kejar adalah iman, kasih, dan kehidupan yang saleh. Dalam pasal 4 ayat 1 ia berkata, “Akhirnya, saudara-saudara, kami minta dan nasihatkan kamu dalam Tuhan Yesus: Kamu telah mendengar dari kami bagaimana kamu harus hidup supaya berkenan kepada Allah. Hal itu memang telah kamu turuti, tetapi baiklah kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi.” Kami ingin kalian hidup dengan layak di hadapan Tuhan. Kami ingin kalian hidup untuk menyenangkan Allah.

Pada akhir ayat 10 ia berkata, “Kami menasihati kamu, Saudara-saudara, supaya kamu lebih bersungguh-sungguh lagi melakukannya.” Dan di sana ia sedang berbicara tentang kasih mereka. Kemudian dalam ayat 11 ia berkata, “Dan anggaplah sebagai suatu kehormatan untuk hidup tenang, untuk mengurus persoalan-persoalan sendiri dan bekerja dengan tangan, seperti yang telah kami pesankan kepadamu.”

Dalam pasal 5 ayat 11 ia berkata, “Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan.” Lalu dalam doa berkat pada pasal 5 ayat 23 ia berkata, “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna tanpa cacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.”

Jelas sekali bahwa Paulus memiliki pemahaman yang sangat jelas tentang apa arti pertumbuhan gereja. Yang ia kejar adalah pendalaman dan penguatan kehidupan rohani orang-orang percaya. Ia tahu betul bahwa ketika hambatan-hambatan yang menghalangi gereja disingkirkan—hambatan yang ditimbulkan oleh orang-orang yang memperlambat pertumbuhan gereja—maka gereja akan mulai bergerak dengan kuasa. Karena itu Paulus mencurahkan sebagian besar tenaga, sumber daya, doa, dan gairah pelayanannya untuk membangun kawanan domba yang sehat secara rohani. Ia berusaha mengubah orang-orang yang menyimpang dari jalur, yang penuh kekhawatiran, yang lemah, yang melelahkan, dan yang jahat menjadi orang-orang yang benar, kuat, dan efektif bagi Tuhan.

Dan ketika usaha itu berhasil, seperti yang terjadi di Tesalonika, Paulus bersukacita. Mari kembali ke pasal 1. Ia benar-benar bersukacita. Dalam ayat 3 ia berkata, “kami selalu mengingat pekerjaan imanmu, usaha kasihmu dan ketekunan pengharapanmu.” Dalam ayat 6 ia berkata, “Kamu mengikuti teladan kami dan teladan Tuhan.” Dalam ayat 7 ia berkata, “Kamu telah menjadi teladan untuk semua orang yang percaya di wilayah Makedonia dan Akhaya.” Kemudian dalam ayat 8 ia berkata, “Dari antara kamu firman Tuhan bergema bukan hanya di Makedonia dan Akhaya saja, tetapi di semua tempat telah tersebar kabar tentang imanmu kepada Allah, sehingga kami tidak usah mengatakan apa-apa tentang hal itu. Sebab mereka sendiri bercerita tentang kami, bagaimana sambutan kamu terhadap kami dan bagaimana kamu berbalik dari berhala-berhala kepada Allah untuk melayani Allah yang hidup dan benar, dan untuk menantikan kedatangan Anak-Nya dari surga.” Kamu telah melakukan pekerjaan yang luar biasa dalam memberitakan Injil dan menunjukkan imanmu melalui kehidupanmu. Betapa besar sukacita yang Paulus rasakan melihat semua itu.

Dalam pasal 2 ayat 13 Paulus berkata, “Karena itulah kami tidak putus-putusnya mengucap syukur juga kepada Allah, sebab kamu telah menerima firman Allah yang kami beritakan itu, bukan sebagai perkataan manusia, tetapi — dan memang sungguh-sungguh demikian — sebagai firman Allah, yang bekerja juga di dalam kamu yang percaya. Sebab kamu, Saudara-saudara, telah mengikuti teladan jemaat-jemaat Allah di Yudea, jemaat-jemaat di dalam Kristus Yesus, karena kamu juga telah menderita dari teman-teman sebangsamu sama seperti yang mereka derita dari orang-orang Yahudi.” Ini adalah pujian yang lain bagi jemaat itu. Mereka sungguh-sungguh percaya. Mereka tulus. Mereka setia. Mereka teguh. Mereka bertahan dalam penderitaan. Dan semua itu memenuhi hati Paulus dengan sukacita.

Itulah sebabnya dalam ayat 19 dan 20 ia berkata, “Kamulah sukacitaku. Kamulah sukacitaku.” Ia mengatakannya berulang kali. Kemudian dalam pasal 3 ayat 6, setelah Timotius kembali, Paulus berkata, “Sekarang, setelah Timotius datang kembali dari kamu dan membawa kabar yang menggembirakan tentang imanmu dan kasihmu, dan bahwa kamu selalu menaruh kenang-kenangan yang baik akan kami dan ingin untuk berjumpa dengan kami, seperti kami juga ingin untuk berjumpa dengan kamu, maka kami juga, Saudara-saudara, dalam segala kesusahan dan kesukaran kami menjadi terhibur oleh kamu dan oleh imanmu. Sekarang kami hidup kembali, asal saja kamu teguh berdiri di dalam Tuhan.”

Lihatlah, ada begitu banyak sukacita ketika gereja bertumbuh dan mengalami kemajuan. Bahkan Paulus berkata, “Tentang kasih persaudaraan, aku sebenarnya tidak perlu mengajar kalian, karena kalian telah diajar oleh Allah sendiri untuk saling mengasihi, dan kalian memang sudah melakukannya. Yang bisa aku katakan hanyalah: lakukanlah itu lebih lagi.” Ia masuk ke pasal 4 ayat 9 dan di sana ia kembali menegaskan kasih mereka yang luar biasa.

Jadi ketika Anda melayani di sebuah gereja yang sedang bertumbuh dan berkembang, ketika iman jemaat semakin kuat, cukup kuat untuk menghadapi penganiayaan, ketika mereka hidup layak di hadapan Allah yang telah memanggil mereka, ketika mereka hidup dalam kekudusan dan berusaha menjadi tak bercacat pada saat kedatangan Yesus Kristus, ketika kasih terus berkembang dan semakin melimpah, maka pelayanan menjadi sesuatu yang sangat membangkitkan semangat dan penuh sukacita.

Kawanan domba yang sehat adalah kawanan yang dikasihi, dan Paulus sangat mengasihi jemaat ini. Ia begitu terikat kepada mereka. Namun itu bukan berarti mereka tidak memiliki masalah. Mereka tetap memiliki masalah. Dan jika Anda melihat bagian kita dalam ayat 14 dan 15, Anda akan bertemu dengan orang-orang yang menjadi sumber masalah tersebut.

Ayat 14 berkata, “Kami juga menasihati kamu, Saudara-saudara, tegurlah mereka yang hidup dengan tidak tertib, hiburlah mereka yang tawar hati, belalah mereka yang lemah, sabarlah terhadap semua orang.” Ayat 15 melanjutkan, “Perhatikanlah, supaya jangan ada orang yang membalas yang jahat dengan yang jahat, tetapi usahakanlah senantiasa yang baik, terhadap kamu masing-masing dan terhadap semua orang.” Kedua ayat ini merupakan pasangan ayat yang sangat indah. Sekalipun jemaat di Tesalonika sedang bertumbuh dan berkembang dengan baik, mereka tetap memiliki masalah. Dan apa pun yang masih kurang dalam kehidupan jemaat itu dapat ditelusuri kembali kepada orang-orang yang menjadi sumber masalah tersebut.

Kelima kelompok yang telah kita sebutkan tadi ada di sana, sama seperti kelima kelompok itu juga ada di sini. Dan, ngomong-ngomong, jika saat ini Anda sedang melihat ke sekeliling dan mencoba menebak siapa yang termasuk kelompok yang mana, perlu diingat bahwa pada satu waktu atau yang lain, kita semua pernah berada dalam salah satu kelompok tersebut.

Paulus berkata dalam 2 Korintus 11:28 bahwa beban terbesar dalam pelayanannya adalah pemeliharaan terhadap semua gereja. Ia mengatakan bahwa beban itu bahkan melampaui semua penderitaan fisik yang pernah ia alami. Seolah-olah ia berkata, “Di atas semua rasa sakit karena cambukan, pukulan tongkat, dan penderitaan yang telah menghantam tubuh saya, masih ada satu beban yang lebih besar, yaitu perhatianku terhadap gereja-gereja.” Dalam Kolose 2:1 ia berkata, “Aku mau, supaya kamu tahu, betapa beratnya perjuangan yang kulakukan untuk kamu.” Jika diterjemahkan ke dalam bahasa sehari-hari, seakan-akan Paulus berkata, “Kalian benar-benar membuatku bekerja keras.” Menanggung beban semua gereja yang perlu bertumbuh adalah tanggung jawab yang sangat berat. Seolah-olah ia harus memikul di punggungnya semua gereja yang masih perlu dibangun dan didewasakan.

Sekarang, dalam kedua ayat ini, ketika Paulus mengidentifikasi kelima kelompok tersebut, ia juga menjelaskan bagaimana kita harus memperlakukan mereka. Bagian ini berada dalam pembahasan yang telah kita beri judul “Membangun Kawanan Domba yang Sehat.” Ayat 12 dan 13, yang sudah kita pelajari sebelumnya, membahas hubungan antara gembala dan domba, serta hubungan antara domba dan gembala. Ayat 16 dan seterusnya berbicara tentang hubungan domba dengan Sang Gembala Agung. Sedangkan bagian yang sedang kita pelajari sekarang membahas hubungan antara sesama domba. Jadi, bagian kecil ini sebenarnya mencakup seluruh aspek hubungan dalam kehidupan gereja.

Dalam ayat 12 dan 13, Paulus berbicara kepada para gembala mengenai bagaimana mereka harus memperlakukan domba-domba mereka. Ia mengatakan kepada para gembala, “Bekerjalah keras di tengah-tengah domba-domba, pimpinlah mereka dengan otoritas yang Tuhan berikan, dan ajarlah mereka.” Kemudian ia berbicara kepada domba-domba mengenai bagaimana mereka harus memperlakukan para gembala. Ia berkata, “Hargailah para gembala, hormatilah para gembala, dan tunduklah kepada para gembala.”

Mulai dari ayat 16, Paulus akan berbicara tentang bagaimana domba harus berhubungan dengan Sang Gembala Agung. “Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal. Janganlah padamkan Roh,” dan seterusnya. Namun pada bagian ini, ia sedang berbicara kepada domba mengenai bagaimana mereka harus memperlakukan sesama domba. Karena itu kata kunci dalam ayat 14 adalah kata “saudara-saudara.” Memang benar bahwa para gembala memiliki tanggung jawab khusus untuk menjalankan otoritas rohani ketika menghadapi kelima kelompok orang yang bermasalah ini. Namun dalam hal ini, batas antara gembala dan jemaat cukup cair. Paulus menggunakan kata “saudara-saudara.” Sebagai perbandingan, lihat ayat 12: “Kami minta kepadamu, Saudara-saudara, supaya kamu menghormati mereka yang bekerja keras di antara kamu, yang memimpin kamu dalam Tuhan dan menegur kamu.” Dengan kata lain, “hargailah para gembalamu.” Di sana kata “saudara-saudara” digunakan ketika Paulus berbicara kepada seluruh jemaat mengenai sikap mereka terhadap para pemimpin rohani mereka.

Jadi kata “saudara-saudara” dalam ayat 12 jelas ditujukan kepada seluruh jemaat. Karena itu, kita dapat menyimpulkan bahwa kata “saudara-saudara” dalam ayat 14 juga ditujukan kepada seluruh jemaat. Paulus sedang berbicara kepada domba-domba mengenai bagaimana mereka harus memperlakukan sesama domba. Ini tentu tidak mengecualikan kami yang berada dalam kepemimpinan, tetapi mencakup semua orang. Perlu diperhatikan juga bahwa Roma 12:14-17 merupakan bagian yang sangat mirip dengan teks ini, dan jelas ditujukan kepada seluruh jemaat.

Paulus juga menunjukkan adanya unsur mendesak dalam nasihat ini. Ia berkata, “Kami menasihati kamu.” Ia menggunakan kata Yunani yang sudah sangat dikenal, yaitu parakaleō, yang berarti datang mendampingi seseorang untuk menolongnya. Kata itu mengandung nuansa kesungguhan dan urgensi. Jadi Paulus dengan sungguh-sungguh, dengan semangat, dan dengan penuh perhatian mendorong jemaat untuk terlibat menolong saudara-saudara yang membutuhkan pertolongan. Gereja bukanlah sekadar datang pada hari Minggu, lalu menepuk punggung sendiri karena merasa sudah cukup religius. Keterlibatan yang sejati dalam kehidupan gereja jauh melampaui sekadar hadir sebagai penonton atau memenuhi daftar kehadiran.

Keterlibatan itu berarti masuk ke dalam kehidupan lima kelompok orang yang sedang menghambat perkembangan gereja dan memberikan pengaruh yang nyata kepada mereka. Mari kita mulai dengan kelompok yang pertama.

Kelompok pertama adalah orang-orang yang menyimpang dari jalur. Dalam ayat 14 Paulus menulis, “Kami menasihati kamu, Saudara-saudara, tegurlah mereka yang hidup dengan tidak tertib.” Ungkapan “tegurlah mereka yang hidup dengan tidak tertib” memperkenalkan kita kepada kelompok orang yang menyimpang dari jalur. Kata Yunani yang digunakan adalah ataktos. Kata ini sering dipakai dalam konteks militer. Dalam penggunaan militer, kata itu menggambarkan seorang prajurit yang keluar dari barisan, tidak berada pada posisinya, bertindak tidak tertib, tidak tunduk kepada otoritas, menolak perintah, dan tidak menjalankan tugasnya sebagaimana mestinya. Ia tidak berjalan seirama dengan yang lain. Ia keluar dari langkah yang seharusnya. Seiring waktu, kata itu digunakan untuk menggambarkan siapa saja yang tidak melakukan tugasnya atau tidak menjalankan tanggung jawabnya. Penerjemah Moffatt menerjemahkannya sebagai “pemalas.” Ada juga yang mengusulkan terjemahan seperti “orang yang menyerah,” “orang yang menganggur,” “malas,” “tidak berguna,” atau “apatis.” Namun maknanya tidak harus terbatas pada hal-hal tersebut saja.

Kata ini dapat menunjuk kepada seseorang yang tidak menjalankan tugasnya, bukan hanya karena sikap apatis, tetapi juga karena pemberontakan. Dalam 2 Tesalonika terdapat beberapa bentuk lain dari kata yang sama. Kata ini sendiri hanya muncul di sini dalam Perjanjian Baru, tetapi bentuk-bentuk turunannya digunakan dalam 2 Tesalonika 3, khususnya pada ayat 6, 7, dan 11.

Dalam bagian itu, kata tersebut digunakan untuk menggambarkan beberapa orang yang malas, suka mencampuri urusan orang lain, tidak mau bekerja, tetapi berharap orang lain bekerja dan memenuhi kebutuhan mereka. Bagi kita, kata ini menunjuk kepada orang-orang yang menyimpang dari jalur. Mereka berada di luar barisan. Mereka tidak berjalan seirama dengan yang lain. Semua orang bergerak ke satu arah, tetapi mereka tidak. Semua orang memahami tanggung jawab rohani mereka, bersedia melakukannya, dan menjalankan apa pun yang Tuhan karuniakan kepada mereka. Mereka terlibat dalam pelayanan, melayani Tuhan dengan karunia mereka, memberi sesuai dengan berkat yang Tuhan berikan, mendukung kepemimpinan gereja, mendukung arah yang sedang dituju gereja, berada di dalam tim, ikut ambil bagian, dan terlibat. Orang-orang seperti itulah yang membuat gereja bergerak maju dan bertumbuh.

Kelompok ini justru menolak semua itu. Mereka tidak berjalan seirama. Mungkin mereka tidak menjalankan tanggung jawab mereka karena tidak peduli. Mungkin juga karena mereka marah, memberontak, suka bertengkar, dan suka menentang. Mereka tidak mendukung. Mereka tidak menjadi bagian dari apa yang sedang terjadi. Kadang-kadang mereka bertahan di pinggiran untuk sementara waktu, lalu akhirnya menjadi kepahitan sehingga mereka pergi dan mencari tempat lain. Istilah bagi mereka ini adalah para penghangat bangku cadangan. Dan saya belajar beberapa hal ketika terlibat dalam dunia olahraga. Salah satunya adalah bahwa para penghangat bangku cadangan ini sering kali justru menjadi para pengkritik.

Orang-orang yang paling banyak mengkritik biasanya adalah orang-orang yang gagal menjalankan tanggung jawab mereka. Saya masih ingat duduk di bangku cadangan selama satu musim pertandingan sepak bola. Saya mendapat kesempatan menjadi pemain utama di posisi running back, dan ada beberapa pemain lain yang tidak mendapat posisi itu karena saya yang mengisinya. Pada awalnya mereka cukup mendukung saya, karena mereka berpikir bahwa suatu saat nanti kesempatan mereka akan datang. Tetapi ketika kesempatan itu tidak kunjung datang, diam-diam mereka mulai berharap saya patah kaki. Ketika saya ternyata tidak patah kaki, mereka mulai melampiaskan kekecewaan mereka dengan menyalahkan pelatih yang dianggap bodoh karena tidak bisa melihat bakat yang sesungguhnya. Dan pada akhirnya, mereka malah mulai mendukung tim lawan. Begitulah prosesnya.

Orang-orang yang menolak untuk terlibat, yang tidak pernah mau melampaui mentalitas sebagai penonton, baik karena sikap apatis maupun karena pemberontakan, datang hanya untuk menonton dan kemudian mengkritik. Dalam keadaan terburuk mereka menjadi pengkritik, dan dalam keadaan terbaik mereka tidak melakukan apa-apa.

Seorang pengkhotbah pernah berkata bahwa biasanya mereka duduk di bagian belakang. Tetapi saya tidak ingin mengatakan hal itu. Namun saya akan mengatakan bahwa kadang-kadang Anda dapat melihat seseorang yang mulai menjadi kritis secara perlahan-lahan terus bergeser ke belakang. Jadi saya memperhatikan Anda. Jika setiap minggu Anda mundur dua atau tiga baris ke belakang, saya tahu apa yang sedang terjadi.

Inilah bentuk kemalasan yang dapat dipersalahkan. Orang-orang yang hanya ingin bertahan di pinggiran, tetap berada di tepi, tidak ingin terlalu terlibat. Mereka tidak ingin memiliki tanggung jawab. Mereka sebenarnya tidak ingin benar-benar masuk ke dalam kehidupan gereja. Mereka tidak ingin menjadi bagian darinya. Mereka tidak berjalan seirama dengan yang lain. Sikap seperti itu tidak dapat ditoleransi dalam gereja yang sedang bertumbuh. Lalu bagaimana kita harus menghadapinya? Sangat sederhana. Tegurlah mereka. Tidak ada rumus khusus. Tidak ada program khusus. Tidak ada sistem khusus.

Domba-domba yang lain harus mendatangi domba-domba yang berada di pinggiran itu, yang tidak menjalankan tanggung jawab mereka, yang tidak menggunakan karunia mereka, yang tidak melayani, yang tidak benar-benar mendukung, yang tidak sejalan dengan apa yang sedang dikerjakan bersama, yang tidak bergerak ke arah yang sama dengan yang lain. Mereka berada di luar barisan, di luar posisi mereka, tidak tertib, seperti prajurit yang meninggalkan tugasnya tanpa izin.

A.T. Robertson mengatakan bahwa kata kerja noutheteō berarti “memasukkan pengertian ke dalam pikiran seseorang,” yaitu datang mendampingi seseorang dan menolongnya memahami keadaan yang sebenarnya. Seorang penulis menjelaskan bahwa kata ini mengandung gagasan mendatangi seseorang yang sedang menempuh jalan yang pada akhirnya akan membawa akibat yang serius, lalu menjelaskan kepadanya bahwa akibat-akibat itu pasti akan terjadi jika ia terus berjalan di jalan tersebut. Dengan kata lain, kata ini dapat diterjemahkan sebagai “memperingatkan seseorang.” Namun kata ini tidak mengandung makna menghakimi dari kejauhan.

Kata ini juga tidak mengandung gagasan mengkritik dari posisi yang merasa lebih unggul. Sebaliknya, kata ini berbicara tentang datang mendekat secara pribadi dan penuh perhatian, lalu menunjukkan kepada seseorang konsekuensi dari perilakunya. Sesederhana mengatakan, “Saya memperhatikan hidupmu. Saya melihat sikap acuh tak acuhmu. Kamu hanya datang sesekali ke gereja dan tidak setia. Kamu tidak terlibat dalam pelayanan. Kamu bersikap negatif terhadap beberapa hal atau terus mengkritik berbagai hal.” Lalu berkata kepadanya, “Kamu sadar, bukan, bahwa jika kamu terus berjalan di jalan ini, akan ada akibat-akibat tertentu? Dan saya tidak ingin kamu mengalami akibat-akibat itu.”

Inilah jenis peringatan yang lembut, yang datang mendampingi seseorang dan berkata, “Kamu sedang berjalan ke arah yang pada akhirnya akan membawa kekecewaan besar.” Inilah peringatan yang pernah diberikan Paulus kepada para penatua di Efesus dengan air mata, seperti dicatat dalam Kisah Para Rasul 20:31. Ada semangat dan kepedulian yang mendalam di dalamnya. Ada rasa sakit yang berkata, “Aku tidak ingin kamu terus melakukan hal itu, karena ujung jalan tersebut akan membawa akibat yang serius.” Sebab Tuhan akan mendisiplin sikap apatis seperti itu, pemberontakan seperti itu, ketidaktaatan seperti itu, dan perilaku yang tidak tertib seperti itu.

Ketika Anda sungguh-sungguh mengasihi seseorang, Anda tidak akan ragu untuk memperingatkannya. Saya tidak ragu melakukan hal itu kepada istri saya, anak-anak saya, dan orang-orang yang dekat dengan saya. Kembalilah ke jalur yang benar. Bukan karena saya memiliki agenda pribadi tertentu, tetapi karena saya tidak ingin Anda harus menanggung akibat dari cara hidup seperti itu. Saya ingin Anda mengalami kepenuhan berkat Tuhan, kepenuhan pemeliharaan Tuhan, dan saya ingin melihat gereja menjadi segala sesuatu yang Tuhan kehendaki.

Saya sama sekali tidak memiliki anggapan yang keliru bahwa jika kita bisa menjadi lebih kreatif atau lebih cerdas dalam apa yang kita lakukan di atas panggung, maka gereja akan menjadi lebih kuat. Tidak, sama sekali tidak. Jika kita ingin memiliki gereja yang lebih kuat dan memberikan dampak yang lebih besar kepada dunia, persoalannya bukan seberapa canggih atau kreatif penampilan kita di atas panggung. Persoalannya adalah seberapa rela kita datang mendampingi orang-orang percaya yang menyimpang dari jalur dan dengan kasih membawa mereka kembali ke jalur yang benar. Ketika itu terjadi, kuasa Tuhan mulai mengalir. Ketika itu terjadi, gereja mulai bergerak maju dan memberikan dampak yang nyata kepada dunia. Inilah konfrontasi yang memang harus dilakukan.

Gereja bukanlah sekadar datang, duduk, dan memandangi bagian belakang kepala orang lain. Bukan itu makna gereja. Jangan memuji diri sendiri hanya karena Anda hadir. Gereja berarti terlibat dalam kehidupan orang lain, termasuk orang-orang yang sedang menjadi masalah. Kita harus datang mendampingi mereka. Mereka yang berada di luar lingkaran, yang terus menguji batas-batas, yang hidup di pinggiran, yang menjalani hari demi hari dalam penyimpangan mereka, harus kita tarik kembali masuk. Kita melakukannya karena kasih, karena kita memahami akibat yang akan mereka alami jika terus berjalan di jalan itu.

Kelompok kedua adalah orang-orang yang penuh kekhawatiran. Mereka bukan berada di pinggir. Mereka justru berkerumun di tengah. Mereka tidak mau mendekati pinggiran. Mereka berkumpul rapat di tengah. Dan mengenai mereka Paulus berkata, “Hiburlah mereka yang tawar hati.” Ini adalah istilah yang sangat menarik, dan kata ini juga hanya digunakan di sini dalam Perjanjian Baru. Kata Yunani yang dipakai adalah oligopsuchos, gabungan dari dua kata yang berarti “jiwa” dan “kecil.” Jadi secara harfiah artinya adalah orang-orang yang “berjiwa kecil.”

Cara terbaik untuk menjelaskan istilah ini adalah dengan melihat lawan katanya, yaitu megalopsychos. Kata mega berarti besar, luas, atau agung. Jadi mari kita berbicara tentang orang yang megalopsychos, yaitu orang yang berjiwa besar. Aristoteles berkata, “Orang yang megalopsychos adalah orang yang telah mencapai banyak hal, menuntut banyak hal, dan layak menerima banyak hal.” Ketika Gandhi ingin menggambarkan dirinya sendiri, meskipun banyak orang menganggapnya sangat rendah hati, ia memilih bentuk Sanskerta dari kata megalopsychos, yaitu Mahatma. Artinya adalah “jiwa yang besar” atau “orang yang berjiwa agung.” Ia merasa mampu merangkul persoalan-persoalan besar dan kebutuhan-kebutuhan yang sangat luas dari begitu banyak manusia. Itulah gambaran orang yang berjiwa besar.

Istilah itu menunjuk kepada orang yang berani mengambil risiko besar karena ada prinsip dan kebenaran yang besar yang sedang dipertaruhkan. Istilah itu menunjuk kepada orang yang memiliki keberanian, ketegasan, dan kesediaan mempertaruhkan hidupnya demi tujuan yang mulia. Ia adalah orang yang menyukai tantangan, menikmati petualangan, mencari kesempatan untuk berjuang, mencintai pertempuran karena ia merasakan sukacita kemenangan. Ia tidak takut menghadapi kesulitan. Ia tidak takut terhadap penganiayaan. Ia memiliki visi yang besar dan mampu mencapai hal-hal besar karena ia melihat kesempatan dalam setiap peluang yang terbentang di hadapannya.

Tetapi Paulus berkata bahwa sayangnya, di tengah-tengah gereja, berkerumun orang-orang yang gemetar karena ketakutan, yaitu para oligopsychos, orang-orang yang berjiwa kecil. Mereka tidak menyukai perubahan. Mereka mencintai tradisi. Mereka ingin segala sesuatu selalu dilakukan dengan cara yang sama seperti sebelumnya. Mereka takut terhadap hal-hal yang belum dikenal. Mereka mengkhawatirkan segala sesuatu. Kasihan mereka. Seperti yang pernah dikatakan William Hardy, mereka selalu melihat tumpukan pupuk kandang di setiap padang rumput yang indah. Mereka tidak memiliki keberanian. Mereka tidak ingin mencoba sesuatu yang belum pernah dilakukan. Mereka menyukai segala sesuatu yang aman. Mereka hanya ingin berjalan di jalan yang sudah diaspal oleh orang lain. Mereka hanya ingin mengulangi apa yang sudah pernah dilakukan sebelumnya. Mereka menginginkan kehidupan tanpa risiko dengan jaminan keamanan yang mutlak. Mereka biasanya murung. Mereka tidak memiliki kekuatan untuk melangkah maju bersama gereja dan menghadapi tantangan baru atau memulai pelayanan yang baru. Mereka takut terhadap penganiayaan. Mereka tidak suka memberitakan Kristus kepada orang lain. Mereka takut terhadap penolakan dan perlawanan. Mereka biasanya sedih, terus-menerus khawatir, dan sering kali tertekan, putus asa, serta patah semangat.

Dan tentu saja, kelompok kecil seperti ini di Tesalonika, yang sedang berusaha didorong oleh semua orang untuk maju, adalah kelompok yang paling terpukul oleh dua masalah besar yang mereka hadapi. Masalah pertama adalah penganiayaan. Mereka sedang mengalami penganiayaan, dan Paulus berkata, “Seharusnya kalian sudah mengharapkannya. Aku sudah membacakannya kepada kalian.” Dalam pasal 2 ia berkata, “Kalian seharusnya sudah mengharapkan hal itu. Saya sudah memberitahukannya kepada kalian.”

Tetapi ketika penganiayaan itu datang, mereka berkata, “Oh, jangan-jangan hari Tuhan sudah tiba dan kita tertinggal dalam pengangkatan. Ini pasti hari Tuhan. Kita semua akan binasa.” Karena itu Paulus harus menulis kepada mereka dan berkata, “Tidak. Ini bukan hari Tuhan.” Lalu mereka juga adalah orang-orang yang paling terluka oleh kematian teman-teman mereka. Mereka berkata, “Lihatlah, mereka sudah meninggal dan Yesus belum datang. Mereka akan ketinggalan pengangkatan. Aduh, betapa malangnya kami.” Maka Paulus harus menulis lagi dan berkata, “Tidak, tidak, tidak. Orang-orang yang mati dalam Kristus akan dibangkitkan terlebih dahulu. Mereka akan ada di sana. Bahkan mereka akan sampai lebih dulu daripada kalian. Jadi pergilah dan hiburlah orang-orang itu dengan perkataan-perkataan ini.”

Tetapi setiap gereja memiliki orang-orang seperti itu. Mereka tidak memiliki semangat petualangan. Mereka tidak mampu bangkit mengatasi masalah-masalah mereka. Mereka selalu tertindih oleh keadaan. Semua persoalan hidup terasa lebih besar daripada yang mampu mereka tanggung, dan mereka menjadi jiwa-jiwa yang remuk. Mereka seperti beban yang harus terus ditarik ke mana-mana. Jika gereja diibaratkan sebuah pawai, mereka adalah orang-orang yang membawa bendera merah. Ketika semua orang sedang bergerak maju, mereka mengangkat tanda berhenti. Mereka kurang memiliki visi. Mereka takut gagal. Mereka kurang memiliki keberanian. Saya rasa, jauh di dalam hati mereka, pahlawan mereka adalah Indiana Jones, tetapi mereka tidak akan pernah mengakuinya.

Lalu bagaimana kita menghadapi orang-orang seperti ini? Dalam ayat 14 Paulus berkata, “Hiburlah mereka.” Sebuah kata yang indah. Kata itu berarti berbicara kepada seseorang dengan datang mendekat ke sisinya. Berbicara kepada mereka. Dengarkan saya, disini tidak ada jalan pintas. Ini adalah pekerjaan domba terhadap sesama domba. Jika Anda mengenal seseorang yang selalu takut, selalu khawatir, selalu putus asa, selalu sedih, dan tidak pernah mampu bangkit mengatasi persoalan hidupnya, maka Anda harus datang mendampinginya dan berbicara kepadanya. Bangunlah hubungan yang akrab dengannya. Kata ini mengandung gagasan datang mendekat untuk menghibur, menguatkan, meneguhkan, menenangkan, menyegarkan, dan menenteramkan hati seseorang. Tetapi tidak ada cara lain untuk melakukannya selain melalui sebuah hubungan yang nyata.

Kita bisa berbicara panjang lebar secara akademis tentang pemuridan, tetapi inilah inti sebenarnya dari pemuridan. Inilah persekutuan pribadi yang dekat antara orang-orang percaya, di mana mereka yang lebih kuat menolong mereka yang lemah. Dan ini adalah sebuah sukacita. Anda mungkin tidak mengetahuinya, tetapi ada orang-orang di gereja ini yang termasuk dalam kategori tersebut, dan saya bertemu dengan mereka secara teratur hanya untuk memberikan lagi penguatan dan keyakinan yang baru kepada mereka. Dan saya sangat menghargai kesempatan untuk melakukan hal itu.

Tidak ada hal lain yang perlu dilakukan selain datang mendampingi mereka dalam persekutuan yang akrab sebagai sesama orang percaya yang lebih kuat, lalu dengan lembut memberi dorongan kepada mereka. Ini sangat mirip dengan apa yang Paulus katakan dalam 1 Tesalonika 2:7, ketika ia berkata, “Kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawat anaknya.” Karena kasih kami yang begitu besar kepada kamu, seolah-olah kami memelukmu dan menyusui kamu sampai bertumbuh.

Dorongan yang lembut seperti itulah yang dibutuhkan. Hal ini dapat mencakup dorongan melalui persekutuan pribadi, dorongan melalui doa kepada Allah sumber segala penghiburan, dorongan melalui pengharapan Injil, dorongan melalui jaminan keselamatan yang pasti, dorongan melalui pengenalan akan Allah yang berdaulat yang bekerja melalui tujuan dan pemeliharaan-Nya untuk menggenapi kehendak-Nya, dorongan melalui kasih Kristus, dorongan melalui pengharapan akan kebangkitan yang akan datang, dorongan melalui kesediaan untuk mengambil bagian dalam penderitaan Kristus, atau bentuk penguatan lainnya yang mereka perlukan.

Jika gereja ingin menjadi kuat, bertumbuh, dan berdaya, hal itu akan terjadi ketika kita menangani orang-orang yang menyimpang dari jalur dan orang-orang yang penuh kekhawatiran secara pribadi, secara pribadi. Karena ketika orang-orang yang menyimpang kembali masuk ke dalam barisan dan orang-orang yang penuh kekhawatiran mulai ikut ambil bagian dalam petualangan iman, maka penghalang yang menghambat gereja telah disingkirkan sehingga gereja dapat bergerak maju.

Kemudian ada kelompok yang lemah. Dalam ayat 14 Paulus berkata dengan sederhana, “Belalah mereka yang lemah.” Inilah kelompok ketiga, yaitu orang-orang yang lemah. Apa yang dimaksud dengan orang-orang yang lemah? Salah satu maknanya tentu adalah lemah dalam iman. Rasul Paulus telah memperkenalkan konsep yang disebut “saudara yang lemah” dalam 1 Korintus 8–10 dan Roma 14–15. Anda tentu mengingatnya.

Yang dimaksud hanyalah bahwa imannya lemah. Ia tidak memiliki iman yang cukup kuat untuk menikmati seluruh kebebasan dan kemerdekaan yang sebenarnya sudah menjadi miliknya di dalam Kristus. Imannya lemah. Dan iman yang lemah menimbulkan masalah. Apa masalahnya? Iman yang lemah membuat seseorang sangat rentan terhadap pencobaan dan dosa. Ia memiliki kepekaan yang berlebihan terhadap dosa. Bahkan, ia bisa menjadi begitu sensitif sehingga menganggap sesuatu sebagai dosa padahal sebenarnya bukan dosa sama sekali. Akibatnya, ia cenderung menarik diri dan menjadi takut untuk melangkah.

Paulus berkata, “Engkau tidak boleh memaksakan orang seperti itu. Engkau tidak boleh mendorong orang yang lemah imannya terlalu cepat, karena engkau bisa menyeretnya ke dalam kebebasan atau pengalaman yang belum siap ia hadapi, atau ke dalam pencobaan yang belum siap ia tanggung.”

Sebagai contoh, bayangkan Anda bertobat dari penyembahan berhala. Dahulu Anda menyembah Artemis atau Diana, dewi orang Efesus, yaitu allah palsu. Lalu Anda bertobat dan menjadi pengikut Yesus Kristus. Kemudian seseorang mengundang Anda makan dan menyajikan hidangan yang lezat. Anda bertanya, “Makanan ini enak sekali. Dari mana Anda membelinya?” Lalu orang itu menjawab, “Saya membelinya di kuil. Daging ini sebelumnya pernah dipersembahkan kepada Diana, dan sekarang saya menyajikannya untuk Anda.” Seketika Anda terkejut dan berkata, “Saya tidak bisa makan daging yang pernah dipersembahkan kepada berhala itu.” Kemudian orang itu menjawab, “Ah, Anda sudah merdeka di dalam Kristus. Berhala itu tidak ada artinya. Daging yang dipersembahkan kepada berhala juga tidak ada artinya. Alkitab sudah mengajarkan hal itu.”

Masalahnya adalah, begitu orang itu memakan daging tersebut, pikirannya langsung kembali kepada seluruh kehidupan lama yang baru saja ia tinggalkan. Semua penyembahan berhala, semua praktik kafir, semua kenajisan moral, semua sampah rohani yang menjadi bagian dari sistem lama itu kembali memenuhi pikirannya. Semua kenangan itu muncul kembali dan mengguncangnya. Sampai imannya bertumbuh cukup kuat dan ia sungguh-sungguh memahami perubahan hidupnya. Pengalaman seperti itu dapat mendorongnya berbuat dosa menurut hati nuraninya sendiri, karena semua pengalaman masa lalunya akan kembali hidup dalam pikirannya. Karena itu, Anda tidak boleh mendorong orang seperti itu terlalu cepat.

Dengarkan saya: hati nurani itu sendiri bukanlah standar moral. Hati nurani hanya mengaktifkan apa yang diyakini pikiran seseorang sebagai benar atau salah. Dan hati nurani orang itu masih terlalu lemah dan terlalu terikat pada masa lalunya sehingga ia belum bebas untuk bertindak seperti itu. Karena itu Anda tidak boleh mendorongnya terlalu keras, atau Anda justru akan membuatnya jatuh. Ada orang-orang yang lemah, lemah dalam iman mereka. Mereka belum mampu menikmati kebebasan yang mereka miliki di dalam Kristus. Mereka sangat rentan terhadap hati nurani yang terluka, yang dapat membawa mereka kepada dosa yang lebih banyak dan kelemahan yang lebih besar. Namun ada kelompok lain yang mungkin lebih langsung dimaksud di sini, yaitu mereka yang lemah secara moral.

Paulus paling sering menggunakan kata ini dalam Perjanjian Baru untuk menunjuk kepada orang yang rentan terhadap dosa, orang yang mudah jatuh ke dalam dosa. Mereka adalah orang-orang yang baru saja Anda angkat keluar dari lubang dosa dan bersihkan dari debu, tetapi tidak lama kemudian mereka sudah jatuh lagi ke dalam lubang yang sama. Mereka adalah orang-orang yang merasa sangat sulit melakukan kehendak Tuhan. Mereka terus jatuh ke dalam dosa yang sama berulang kali. Anda sudah berusaha begitu keras menolong mereka, tetapi mereka kembali jatuh lagi.

Saya pikir inilah kelompok yang dimaksud Yakobus dalam Yakobus 5:14 ketika ia berkata, “Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit...” Biasanya kata itu diterjemahkan “sakit,” tetapi kata yang dipakai adalah kata yang sama dengan kata “lemah” di sini. “Kalau ada seorang yang lemah di antara kamu, hendaklah ia memanggil para penatua.” Mengapa? Karena para penatua kuat secara rohani. Mereka akan menopang Anda, mereka akan berdoa untuk Anda, dan jika Anda telah berbuat dosa, dosa-dosa itu akan diampuni. Ketika Anda lemah secara rohani dan moral, datanglah kepada orang-orang yang kuat secara rohani.

Gereja penuh dengan orang-orang seperti ini. Percayalah, mereka dapat menjadi penghalang dan batu sandungan. Mereka menghambat perkembangan, pertumbuhan, dan kuasa gereja. Lalu apa yang harus kita lakukan terhadap mereka? Tolonglah mereka. Kata “tolonglah” terdengar sangat sederhana, tetapi dalam bahasa Yunani kata ini mengandung makna yang sangat indah. Kata itu berarti berpegang erat kepada seseorang, memegangnya dengan kuat, melekat kepadanya, menopangnya, dan menjaga agar ia tetap berdiri. Dalam Galatia 6:1 dikatakan bahwa jika seorang saudara kedapatan melakukan pelanggaran, maka mereka yang rohani harus melakukan apa? Memulihkannya. Mengangkatnya kembali. Lalu ayat berikutnya berkata, “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu.” Itulah langkah berikutnya. Topang dia. Topang dia. Topang dia. Dukung dia.

Bagaimana cara melakukannya? Sekali lagi, jawabannya adalah kedekatan dan keterlibatan pribadi. Anda datang mendampingi mereka. Inilah cara gereja bertumbuh, yaitu ketika domba mulai memperhatikan domba yang lain, ketika mereka cukup peduli untuk mendatangi mereka yang menyimpang dan menegur mereka, ketika mereka cukup peduli untuk mendatangi mereka yang penuh kekhawatiran dan menguatkan mereka, ketika mereka cukup peduli untuk mendatangi mereka yang lemah dan menopang mereka. Itu berarti ada keterlibatan yang nyata.

Kadang-kadang saya teringat kepada seorang pemuda tertentu yang datang menemui saya. Ia sedang bergumul dengan homoseksualitas. Ia telah menyerahkan hidupnya kepada Kristus, tetapi sedang berada dalam pergumulan yang sangat berat akibat bertahun-tahun kehidupan lamanya dalam homoseksualitas. Ia tidak mampu melepaskan dirinya dari masa lalunya dan terus mendapati dirinya jatuh ke dalam tindakan-tindakan homoseksual tertentu. Ia datang dalam keadaan benar-benar putus asa, hancur, dan menangis. Ia berkata, “Saya tidak bisa mengatasinya. Saya tidak bisa menang atasnya. Saya tidak bisa melepaskan diri darinya.”

Saya berkata, “Baiklah, saya ingin menolongmu.” Saya berkata, “Saya tidak bisa mendampingimu setiap hari untuk menjagamu, karena saya tidak memiliki waktu untuk itu. Tetapi saya ingin kamu melakukan sesuatu.” Saya memberinya sebuah buku catatan kecil dan berkata, “Saya ingin kamu menyiapkan satu halaman untuk setiap hari dalam seminggu. Kemudian pada akhir setiap hari, saya ingin kamu menuliskan semua tindakan homoseksual yang kamu lakukan hari itu, apakah ketika kamu sendirian, bersama seseorang, atau hanya membaca bahan tertentu atau apa pun yang kamu lakukan. Apa saja yang membangkitkan dorongan homoseksualmu, apa saja yang menurutmu mencemarkan dirimu, saya ingin kamu menuliskannya secara rinci. Lalu pada akhir minggu, bawalah catatan itu ke sini supaya saya bisa membacanya.”

Tujuh hari kemudian ia datang kembali. Ketika masuk ke ruangan, ia tidak menangis. Ia justru tersenyum. Saya menyapanya dan bertanya, “Apakah kamu membawa buku catatanmu?” Ia menjawab, “Ya.” Tetapi kemudian ia berkata, “Isinya sangat sedikit. Hanya beberapa kali saya bergumul dalam pikiran ketika menghadapi pencobaan, tetapi saya tidak melakukan apa pun.” Saya berkata, “Benarkah? Apa yang membuat perbedaannya?” Ia menjawab, “Menurut Anda, apakah saya mau membawa buku catatan itu ke sini dan membiarkan Anda membaca semua itu?”

Itulah cara sederhana untuk menopangnya, yaitu dengan menciptakan akuntabilitas. Anda harus menopang mereka. Inilah pertumbuhan gereja yang sesungguhnya. Lupakan semua hal lain itu. Jika kita ingin membangun gereja yang bertumbuh, inilah caranya.

Kemudian ada kelompok keempat, yaitu orang-orang yang melelahkan. Paulus berkata, “Sabarlah terhadap semua orang.” Tentu saja ungkapan “semua orang” perlu dipahami dalam konteksnya. Kata “semua” di sini mengacu kepada orang-orang yang paling mudah membuat kita kehilangan kesabaran. “Sabarlah terhadap semua orang.” Sabarlah terhadap semua orang yang menguji kesabaran Anda.

Sangat mudah untuk merasa frustrasi. Sangat mudah untuk marah, kecewa, patah semangat, atau jengkel terhadap sebagian orang. Anda memberi begitu banyak. Anda memberi begitu banyak. Anda memberi begitu banyak. Anda memberi begitu banyak. Tetapi hasil yang Anda terima sangat sedikit.

Saya pernah mengalami hal itu. Anda juga mungkin pernah mengalaminya dalam hubungan pemuridan. Jika Anda telah memuridkan cukup banyak orang dalam waktu yang cukup lama, Anda tahu bagaimana rasanya mengalami kekecewaan yang besar, bahkan sangat besar. Gereja penuh dengan orang-orang seperti itu. Mereka duduk dan diajar, dilatih, dimuridkan, dinasihati, dikuatkan, diinspirasi, dimotivasi, dan didorong, tetapi mereka bertumbuh dengan kecepatan yang hampir tidak terlihat. Mereka tampaknya tidak pernah berkembang secara normal. Segala sesuatu mengalihkan perhatian mereka. Segala sesuatu memperlambat langkah mereka dalam perlombaan. Mereka sangat sulit untuk tetap fokus. Mereka tidak disiplin dalam hal-hal rohani dan tidak disiplin dalam memanfaatkan sarana-sarana anugerah Tuhan. Mereka benar-benar bisa membuat hati kita hancur.

Banyak pendeta yang berhasil bertahan menghadapi orang-orang yang menyimpang. Mereka bahkan berhasil bertahan menghadapi orang-orang yang penuh kekhawatiran. Mereka berhasil bertahan menghadapi orang-orang yang lemah. Tetapi akhirnya mereka tumbang di atas mezbah karena orang-orang yang melelahkan ini. Pada akhirnya mereka menyerah karena orang-orang yang membuat frustrasi tersebut. Mereka berkata kepada diri mereka sendiri, “Saya telah mencurahkan seluruh hidup saya untuk pekerjaan ini. Dan semakin cepat saya bergerak, semakin jauh jarak saya dengan mereka. Saya tidak bisa membuat mereka bergerak maju. Mereka memang tidak bergerak. Mereka telah dilatih, tetapi tidak melakukan apa yang telah kami latih kepada mereka. Mereka telah diajar, tetapi tidak hidup sesuai dengan apa yang telah kami ajarkan.”

Itu sangat, sangat sulit. Anda dapat mendengar nada yang sama dalam perkataan Yesus ketika, dengan suatu tingkat kejengkelan yang tentu saja tanpa dosa, Dia berkata, “Hai kamu yang kurang percaya.” Seolah-olah Dia berkata, “Kapan kalian akhirnya akan mengerti semua ini?” Lalu apa yang harus kita lakukan terhadap orang-orang seperti itu? Bersabarlah terhadap mereka. Anda bertanya, “Seberapa sabar?” Lebih sabar daripada yang selama ini Anda lakukan. Anda bertanya lagi, “Seberapa sabar?” Sabar seperti Allah bersabar terhadap Anda. “Oh, sabar seperti itu?” Ya. Itu berarti sangat sabar.

Kita sebenarnya bisa masuk ke Perjanjian Lama dan mempelajari kesabaran Allah jika waktu memungkinkan. Bacalah Keluaran 34:6. Bacalah Yesaya 63:7, 8, dan 9. Masih banyak bagian lainnya. Tetapi tanpa membuka satu ayat pun, Anda sudah tahu betapa sabarnya Allah terhadap Anda, bukan? Itulah tingkat kesabaran yang harus Anda tunjukkan kepada orang lain.

Petrus pernah bertanya, “Tuhan, sampai berapa kali saya harus mengampuni? Tujuh kali?” Tuhan menjawab, “Bukan tujuh kali, melainkan tujuh puluh kali tujuh kali.” Sebegitu sabarnya? Ya, sebegitu sabarnya. Mereka terus melakukan kesalahan yang sama. Tetap sabar seperti itu? Ya, tetap sabar seperti itu. Datanglah mendampingi orang-orang yang membuat Anda frustrasi dan bersabarlah terhadap mereka. Bersabarlah. Orang-orang yang menyimpang membutuhkan teguran. Orang-orang yang penuh kekhawatiran membutuhkan dorongan. Orang-orang yang lemah membutuhkan topangan. Dan orang-orang yang melelahkan membutuhkan kesabaran.

Jadi, yang mau dikatakan disini adalah bahwa kita harus saling memperlakukan dengan belas kasihan, kasih pribadi, dan perhatian pribadi. Itulah cara gereja bertumbuh. Itulah cara gereja memurnikan dirinya sendiri.

Akhirnya, kelompok yang paling sulit dari semuanya, yaitu orang-orang yang jahat. Apa yang harus kita lakukan terhadap mereka? Sebelum menjawabnya, mari kita kenali mereka terlebih dahulu. Mereka muncul dalam ayat 15. Bahkan mereka mendapat satu ayat penuh untuk diri mereka sendiri. “Perhatikanlah supaya jangan ada orang yang membalas kejahatan dengan kejahatan.”

Implikasinya jelas. Jika Tuhan melarang pembalasan dan tindakan balas dendam, maka diasumsikan bahwa memang ada seseorang yang telah melakukan kejahatan terhadap Anda. Seseorang telah memperlakukan Anda dengan jahat. Kata yang digunakan adalah kakos, yang menunjuk pada keburukan, kejahatan, kekejaman, atau niat yang jahat. Saya percaya bahwa inilah situasi yang paling sulit yang harus kita hadapi sebagai orang Kristen. Inilah bentuk perlakuan yang paling menyakitkan. Perlakuan yang paling menyakitkan bukanlah ketika datang dari dunia, melainkan ketika kejahatan itu datang dari saudara-saudari seiman kita sendiri. Itulah luka yang paling dalam. Dan justru pada titik inilah iman Kristen kita harus bekerja. Dan memang harus demikian.

Jadi Paulus sedang berkata, “Dengarkan baik-baik. Akan ada orang-orang di dalam gereja yang melukaimu. Mereka akan melakukan kejahatan terhadapmu.” Mereka mungkin melukai Anda secara langsung melalui kata-kata yang jahat, menyerang Anda secara terbuka dan berhadapan muka. Mereka mungkin melukai Anda secara tidak langsung melalui gosip, fitnah, dan perkataan-perkataan jahat yang mereka sebarkan kepada orang lain tentang Anda. Kadang-kadang mereka melukai Anda dengan cara menyingkirkan Anda dari persekutuan mereka, mengeluarkan Anda dari lingkaran sosial mereka, atau menutup pintu pelayanan bagi Anda karena iri hati, kecemburuan, kebencian, kepahitan, atau kemarahan.

Mereka mungkin melukai Anda secara langsung dengan merusak kemurnian hidup Anda melalui dosa seksual, menghancurkan pernikahan Anda, mengambil sesuatu yang sangat berharga dari hidup Anda, atau mempengaruhi salah satu anak Anda ke arah kejahatan. Mereka juga dapat melukai Anda secara tidak langsung dengan menyeret Anda ke dalam dosa. Percayalah, ada orang-orang di dalam gereja yang melakukan kejahatan terhadap orang lain. Kejahatan yang disengaja, yang bertujuan menyakiti. Hal itu terjadi di gereja: gosip, fitnah, dosa seksual, dan lainnya.

Sebelum seseorang melakukan hal-hal seperti itu, ia seharusnya terlebih dahulu memperhatikan dengan sungguh-sungguh apa yang dikatakan Yesus dalam Matius 18. Di sana Yesus berkata, “Siapa saja yang menyebabkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya kepada-Ku ini berbuat dosa, lebih baik baginya jika sebuah batu giling diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut.” Lebih baik tenggelam ke dasar laut dengan batu kilangan terikat pada leher daripada mencelakakan salah satu dari “anak-anak kecil” yang percaya kepada-Nya. Yang dimaksud dengan “anak-anak kecil” di sana bukanlah bayi, melainkan orang-orang percaya.

Bahkan Yesus berkata, “Jika tanganmu yang menyebabkan hal itu, penggallah. Jika kakimu yang menyebabkan hal itu, penggallah. Jika matamu yang menyebabkan hal itu, cungkillah.” Celakalah orang yang menjadi batu sandungan bagi salah satu dari mereka yang percaya kepada-Ku. Mereka begitu berharga bagi-Ku sehingga malaikat-malaikat-Ku senantiasa memandang wajah Bapa yang memperhatikan anak-anak-Nya. Dan ketika wajah Sang Bapa menunjukkan perhatian terhadap salah satu dari mereka, para malaikat pergi untuk menolong anak-anak-Nya itu.

Jadi, jika Anda mempermainkan umat Tuhan, Anda sedang berurusan dengan orang-orang yang sangat berharga di mata Tuhan. Namun demikian, sering kali tanpa berpikir panjang, orang-orang Kristen tetap berbuat dosa terhadap sesama orang Kristen. Lalu apa yang harus kita lakukan terhadap hal itu? Bagaimana kita memperlakukan orang-orang yang berbuat jahat? Paulus berkata, “Perhatikanlah supaya jangan ada orang yang membalas kejahatan dengan kejahatan.” Jangan membalas. Jangan membalas. Itu adalah perintah yang ditujukan kepada seluruh jemaat.

Tidak ada tempat bagi pembalasan di dalam gereja. Tidak ada tempat bagi balas dendam pribadi. Satu-satunya Pribadi yang berhak melakukan pembalasan adalah siapa? Allah. Perhatikan apa yang dikatakan Paulus dalam Roma 12, yang seperti saya sebutkan sebelumnya, merupakan bagian yang sangat paralel dengan teks ini. Dalam Roma 12, Paulus menyatakannya dengan sangat jelas. Dalam ayat 19 ia berkata, “Saudara-saudaraku yang terkasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah.”

Jangan mengambil alih murka itu dan melakukan pembalasan sendiri. Berilah tempat bagi murka Allah. Sebab ada tertulis, dan di sini Paulus mengutip Perjanjian Lama, “‘Pembalasan adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan,’ firman Tuhan.” Pembalasan adalah hak-Ku. Akulah yang akan membalas. Aku yang akan mengurusnya, bukan kamu. Sebaliknya, jika musuhmu lapar, berilah dia makan. Jika ia haus, berilah dia minum. Dengan berbuat demikian, engkau akan menumpukkan bara api di atas kepalanya, yaitu rasa bersalah yang akan menekan hatinya. Janganlah kamu dikalahkan oleh kejahatan yang ia lakukan terhadapmu, tetapi kalahkanlah kejahatan itu dengan kebaikan yang kamu lakukan kepadanya. Anda lihat itu?

Sekarang kita kembali ke 1 Tesalonika. Satu-satunya Pribadi yang berhak melakukan pembalasan adalah Allah. Mungkin Anda berkata, “Bagaimana dengan prinsip mata ganti mata, gigi ganti gigi, dan nyawa ganti nyawa?” Itu adalah ketetapan yang diberikan kepada pemerintah. Pemerintah memiliki hak untuk menjatuhkan hukuman yang setimpal kepada pelaku kejahatan. Pemerintah berhak menuntut nyawa ganti nyawa, mata ganti mata, dan gigi ganti gigi. Tetapi itu tidak pernah dimaksudkan sebagai izin untuk melakukan balas dendam pribadi. Itulah yang Yesus ingin para murid pahami dan yang orang-orang Yahudi dengar ketika Ia berkhotbah dalam Khotbah di Bukit. Dia berkata, “Ya, kalian berpikir bahwa kalian harus membenci musuh kalian. Kalian telah memutarbalikkan hukum Allah sampai sejauh itu. Tetapi Aku datang untuk memberitahukan bahwa kalian harus mengasihi musuh kalian, dan kalian harus berbuat baik kepada mereka yang berbuat jahat kepada kalian.”

Jadi bagaimana kita memperlakukan mereka yang berbuat jahat kepada kita? Kita harus selalu, selalu, selalu mengusahakan, mengejar dengan sungguh-sungguh, mengejar dengan penuh semangat apa yang baik, indah, mulia, dan unggul. Dengan kata lain, kita berkata, “Terlepas dari apa yang telah mereka lakukan kepada saya, saya akan melakukan segala yang saya bisa untuk berbuat baik kepada mereka, untuk melakukan apa yang mulia dan terbaik bagi mereka.” Dalam tindakan kasih, saya akan membalas permusuhan mereka dengan kebaikan. Dan bukan hanya kepada mereka, tetapi kepada semua orang, kepada semua orang. Kepada semua manusia. Terlebih lagi kepada keluarga seiman, seperti yang Paulus katakan di tempat lain, tetapi juga kepada setiap orang.

Kawanan domba yang bertumbuh ditandai oleh kemajuan dalam iman, kasih, dan kekudusan menuju kepenuhan keserupaan dengan Kristus. Itulah gereja yang bertumbuh. Pertumbuhan itu dihambat oleh orang-orang yang menyimpang, orang-orang yang penuh kekhawatiran, orang-orang yang lemah, orang-orang yang melelahkan, dan orang-orang yang jahat. Dan jika gereja ingin bertumbuh, pertumbuhan itu tidak akan terjadi karena seseorang menemukan strategi yang cerdas untuk menghindari masalah-masalah tersebut. Gereja akan bertumbuh ketika para gembala dan jemaat membangun hubungan yang akrab dan nyata, di mana mereka menegur yang menyimpang, menguatkan yang penuh kekhawatiran, menopang yang lemah, bersabar terhadap yang melelahkan, dan membalas yang jahat dengan kasih dan kebaikan.

Dan ketika sebuah gereja mengambil bentuk seperti itu, gereja tersebut akan menjadi gereja yang bertumbuh dan penuh kuasa. Kita perlu berkomitmen untuk menjadi gereja sebagaimana Tuhan menghendakinya. Dan inilah gambaran gereja yang sesungguhnya.

Bapa, kami bersyukur kepada-Mu pada pagi ini untuk waktu yang singkat yang telah Engkau berikan kepada kami untuk beribadah dan untuk membiarkan hati serta pikiran kami ditegur oleh kebenaran-Mu. Meteraikanlah firman ini di dalam hati kami. Tolonglah kami memiliki hubungan yang benar sebagai sesama domba, sehingga kami dapat menjadi gereja yang dapat Engkau pakai dengan cara yang luar biasa. Dan kami akan bersyukur kepada-Mu atas hak istimewa itu. Dalam nama Kristus kami berdoa. Amin.

SELESAI

This sermon series includes the following messages:

Please contact the publisher to obtain copies of this resource.

Publisher Information
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969

Welcome!

Enter your email address and we will send you instructions on how to reset your password.

Back to Log In

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize
View Wishlist

Cart

Cart is empty.

Subject to Import Tax

Please be aware that these items are sent out from our office in the UK. Since the UK is now no longer a member of the EU, you may be charged an import tax on this item by the customs authorities in your country of residence, which is beyond our control.

Because we don’t want you to incur expenditure for which you are not prepared, could you please confirm whether you are willing to pay this charge, if necessary?

ECFA Accredited
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Back to Cart

Checkout as:

Not ? Log out

Log in to speed up the checkout process.

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize