Grace to You Resources
Grace to You - Resource

Teks kita pagi ini adalah 1 Tesalonika 5:18. Paulus menulis, “Ucapkanlah syukur dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” Paulus dengan sederhana dan sangat langsung berkata, “Dalam segala hal mengucap syukurlah.” Tidak ada pengecualian, tidak ada alasan, tidak ada sesuatu pun yang berada di luar batasan itu. Dalam segala hal, mengucap syukurlah. Frasa singkat dalam bahasa Yunani, en panti, berarti berkaitan dengan segala sesuatu yang terjadi. Berkaitan dengan segala sesuatu yang terjadi dalam hidup, bersyukurlah, apa pun yang terjadi.

Tentu saja dengan pengecualian yang jelas yaitu dosa pribadi, Paulus sedang mengatakan bahwa apa pun yang terjadi dalam hidupmu, tetaplah bersyukur. Apa pun bagian hidup yang kamu terima, keadaan yang kamu alami, pergumulan, perubahan hidup yang tak terduga, pencobaan, atau ujian yang kamu hadapi, bersyukurlah, ucapkan syukur. Apa pun situasinya, kita harus menemukan alasan untuk berterima kasih kepada Allah. Ini bukan ucapan syukur yang samar-samar yang dilemparkan begitu saja ke langit, tapi ini adalah ucapan syukur yang ditujukan langsung kepada Allah.

Sebagai pengingat, kita perlu menyadari bahwa mengucap syukur adalah inti dari kehidupan dan sikap orang Kristen. Sebaliknya, tidak tahu berterima kasih adalah ciri utama hati yang belum diperbarui oleh keselamatan. Rasul Paulus, dalam Roma pasal 1, menggambarkan orang fasik dengan kata-kata yang sangat tegas. Dalam ayat 21 ia berkata, “Mereka mengenal Allah,” yaitu melalui hati nurani dan ciptaan. Allah telah menyatakan diri-Nya kepada mereka secara nyata dan juga melalui pengalaman hidup mereka. Tetapi sekalipun mereka mengenal Allah melalui ciptaan dan hati nurani, Paulus berkata, “Mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya.”

Di situlah letak dakwaan terhadap manusia yang belum diselamatkan. Di situlah letak dakwaan terhadap orang yang tidak percaya. Ia menolak melakukan hal yang paling mendasar, yaitu mengucap syukur kepada Allah atas segala sesuatu. Padahal Allah adalah Pencipta segala sesuatu. Allah yang memberikan kepadanya hidup dan napas. Allah yang di dalam-Nya ia hidup, bergerak, dan ada. Allah yang telah menyatakan diri-Nya melalui hati nurani sehingga memberinya standar tentang yang benar dan yang salah. Allah yang memberikan setiap pemberian yang baik dan sempurna. Dialah satu-satunya Pribadi yang layak menerima segala ucapan syukur.

Dan memang itulah keadaan dan karakter manusia yang belum dilahirkan baru, manusia yang belum diselamatkan: ia tidak mau mengucap syukur kepada Allah. Mungkin tanpa benar-benar memikirkan artinya ia mengucapkan kalimat seperti, “Syukur kepada Tuhan,” atau mungkin dalam suatu aktivitas yang tampak religius ia memanjatkan doa syukur kepada Allah yang sebenarnya tidak ia kenal. Namun semua itu bukanlah ucapan syukur yang sejati. Jika kita melihat orang-orang yang belum diselamatkan di dunia ini, secara umum mereka dapat dibagi ke dalam beberapa kelompok yang membantu kita memahami mengapa mereka tidak memiliki hati yang bersyukur.

Pertama, ada orang-orang yang menjalani hidup dengan keyakinan bahwa segala sesuatu terjadi karena keberuntungan. Mereka menganggap hidup hanyalah rangkaian peristiwa yang kebetulan terjadi, tanpa ada satu pun pihak yang mengendalikannya. Segalanya hanya terjadi begitu saja. Dan ketika segala sesuatu tidak berjalan sesuai harapan mereka, mereka menjadi kepahitan, suka mengeluh, marah, dan penuh permusuhan. Hidupnya terasa suram dan kehilangan makna yang menyenangkan. Meskipun mereka berusaha mengatur atau memanfaatkan faktor-faktor keberuntungan dalam hidup, mereka tetap tidak berhasil. Karena itu mereka sama sekali tidak memiliki rasa syukur. Kepada siapa mereka harus bersyukur? Anda tidak bisa berterima kasih kepada keberuntungan, karena keberuntungan bahkan tidak memiliki kendali atas dirinya sendiri. Tidak ada ucapan syukur di dalam hati mereka. Sedikit hal baik yang mereka terima dianggap sebagai hasil keberuntungan, sedangkan sisanya hanya mereka sesali dan keluhkan.

Lalu ada juga kaum fatalis di dunia ini. Mereka tidak selalu percaya bahwa keberuntunganlah yang mengendalikan hidup, tetapi mereka percaya bahwa ada suatu kekuatan yang tak dapat dilawan di luar sana. Mereka meyakini bahwa ada suatu kepastian yang sudah ditetapkan sebelumnya, mungkin oleh bintang-bintang atau oleh pemikiran keliru lainnya. Mereka merasa bahwa segala sesuatu telah dipaksa berjalan pada jalurnya sendiri, sehingga dengan sikap pasrah dan enggan, mereka menerima apa yang dianggap mutlak, tidak terhindarkan, dan tidak dapat diubah. Menurut mereka, memang begitulah hidup akan berjalan. Itulah takdir; jangan dilawan. Lalu kepada siapa mereka harus bersyukur atas hal-hal baik yang terjadi? Tidak ada seorang pun. Yang mereka percayai hanyalah suatu kekuatan tanpa nama, suatu gerakan yang tidak dapat dikenali dan tidak memiliki pribadi. Karena itu tidak ada seorang pun yang dapat mereka syukuri atas apa pun, baik yang baik maupun yang buruk.

Lalu ada kelompok ketiga, yaitu orang-orang yang percaya bahwa mereka sendirilah yang mengendalikan hidup mereka. Mereka adalah para penganut pemikiran positif. Biasanya mereka adalah orang-orang yang cukup berhasil dalam hidup. Pada awalnya mereka mungkin tidak begitu yakin mengapa mereka berhasil, tetapi akhirnya mereka menyimpulkan bahwa keberhasilan itu adalah hasil kemampuan mereka sendiri. Setiap hal baik yang terjadi pada mereka dianggap sebagai hasil usaha mereka. Mereka yang mengaturnya, mereka yang merencanakannya, mereka yang mewujudkannya. Mereka memimpikannya, menyusun strateginya, membuat rencananya, lalu berhasil melaksanakannya. Semua pujian dan penghargaan diberikan kepada diri mereka sendiri. Tidak ada bagian untuk Allah. Lagi pula, menurut mereka, apa yang Allah sudah lakukan dalam semuanya itu?

Jadi dunia ini dipenuhi oleh orang-orang yang tidak memiliki rasa syukur seperti itu. Ada yang tidak bersyukur karena mereka menganggap semuanya hanya soal keberuntungan, sehingga tidak ada yang perlu disyukuri. Ada yang tidak bersyukur karena mereka menganggap semuanya hanyalah takdir, dan tidak ada pribadi yang benar-benar berada di baliknya. Ada pula yang tidak bersyukur kepada Allah karena jika ada sesuatu yang baik terjadi, merekalah yang merasa layak menerima ucapan terima kasih. Bagaimanapun juga, merekalah yang berhasil melakukannya, sehingga Allah tidak mendapat penghargaan apa pun. Sesekali mereka mungkin memberikan sedikit pengakuan kepada Allah melalui ungkapan keagamaan yang formal. Tapi itu sebenarnya lebih merupakan penghujatan daripada penyembahan, karena hanya mengungkapkan hati yang palsu dan munafik.

Karakter seperti ini dapat ditemukan pada semua orang yang belum lahir baru. Bentuknya mungkin berbeda dari tiga contoh yang saya sebutkan tadi, tetapi pada dasarnya mereka memiliki karakter yang sama, yaitu tidak tahu bersyukur. Mereka tidak mengucap syukur kepada Allah. Sebaliknya, ketika seseorang menjadi orang Kristen, salah satu ciri khas hidupnya adalah ia mengucap syukur kepada Allah atas segala sesuatu. Tiba-tiba ia memiliki hati yang baru, jiwa yang baru, dan kehidupan batin yang baru. Ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya. Dan di dalam kehidupan baru itu tertanam hati yang penuh syukur, yang berseru kepada Allah dengan rasa terima kasih. Sangat sulit menemukan seseorang yang lebih bersyukur daripada seorang Kristen yang baru bertobat. Ucapan syukur menjadi bagian dari jalinan kehidupan baru kita. Itu adalah buah anugerah Allah dan hasil pekerjaan Roh Kudus di dalam diri kita.

Tapi bukankah menarik bahwa bahkan orang Kristen pun bisa tidak bersyukur? Bagi orang yang belum diselamatkan, sikap tidak bersyukur adalah sesuatu yang wajar. Tetapi bagi orang Kristen, sikap tidak bersyukur adalah sesuatu yang tidak wajar. Itu bertentangan dengan arah kehidupan baru, natur baru, pribadi baru, “aku” yang baru, dan “diri Anda” yang baru. Karena itulah, sebab kita masih bisa jatuh ke dalam dosa ketidakbersyukuran, Perjanjian Baru berulang kali memanggil kita untuk hidup dengan hati yang bersyukur. Saya tidak memiliki waktu untuk membahas semua bagian dalam Perjanjian Baru yang memerintahkan kita untuk bersyukur. Saya hanya akan membagikan beberapa di antaranya yang kiranya dapat membangun suatu pemahaman tentang ucapan syukur dan mendorong kita untuk hidup di dalamnya.

Prinsip utama yang menjadi dasar bagi semuanya terdapat dalam Roma 8:28, “Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Inilah payung besar yang menaungi setiap persoalan dalam hidup. Apa pun yang terjadi, semuanya berada di bawah payung Roma 8:28. Allah sedang bekerja melalui semuanya demi kebaikan kita. Mungkin hal itu sendiri bukan sesuatu yang baik, tetapi Allah dapat mengambil sesuatu yang buruk dan mengubahnya menjadi sarana untuk mencapai tujuan yang baik bagi kita dan bagi kemuliaan kekal kita. Jika Anda hidup dengan keyakinan bahwa Allah sedang bekerja, bahwa Dia secara berdaulat mengendalikan semua peristiwa dalam hidup, menyatukan semuanya, dan memakai setiap bagian untuk membawa kita kepada tujuan yang telah Dia tetapkan demi kebaikan dan kemuliaan kita, maka Anda akan mampu menghadapi apa pun dalam hidup dengan hati yang bersyukur. Anda tahu bahwa semuanya merupakan bagian dari rencana-Nya yang sempurna.

Saya dapat bersyukur atas rasa sakit yang saya alami saat menjalani operasi jika saya tahu bahwa kesembuhan akan datang melalui proses itu. Saya dapat bersyukur atas kesulitan yang saya hadapi dalam masa persiapan jika saya tahu bahwa hasil dari persiapan itu akan mengubah hidup banyak orang. Saya dapat bersyukur atas rasa sakit yang mungkin saya timbulkan pada tubuh saya ketika berolahraga jika saya tahu bahwa pada akhirnya saya akan menjadi lebih sehat. Ada banyak hal dalam hidup yang bekerja dengan cara seperti itu. Selama kita melihat hasil akhirnya, kita dapat tetap bersyukur, bahkan ketika proses yang harus dilalui tidak menyenangkan atau penuh sukacita. Ketika kita melihat tujuan akhir dari apa yang Allah sedang kerjakan, yaitu menyatukan segala sesuatu dalam hidup kita untuk mendatangkan kebaikan dan kemuliaan yang kekal, maka kita dapat mengucap syukur dalam segala hal.

Tapi bukankah menarik bahwa kita pun kadang gagal untuk bersyukur? Gereja mula-mula dikenal sebagai komunitas yang penuh dengan ucapan syukur. Saya sering teringat pada 1 Korintus 14 karena pasal itu banyak berbicara tentang bahasa roh. Namun sering kali ada mutiara-mutiara kebenaran yang indah di dalamnya yang terlewatkan karena kita tidak memperhatikannya. Salah satunya terdapat dalam 1 Korintus 14:16. Di sana Rasul Paulus sedang berbicara tentang jemaat Korintus yang menggunakan bahasa-bahasa yang bersifat ekstatis, yang sebenarnya merupakan penyimpangan dari bahasa yang sesungguhnya. Dalam ayat 16 ia berkata, “Sebab, jika engkau mengucap syukur dengan rohmu saja, bagaimanakah orang biasa yang hadir sebagai pendengar dapat mengatakan "amin" atas pengucapan syukurmu? Bukankah ia tidak tahu apa yang engkau katakan? Sebab sekalipun pengucapan syukurmu itu sangat baik, tetapi orang lain tidak dibangun olehnya.” Jika Anda berbicara dalam bahasa yang tidak dimengerti siapa pun, bagaimana orang lain bisa tahu bahwa Anda sedang mengucap syukur?

Wawasan kecil yang kita peroleh dari bagian itu adalah bahwa ketika jemaat mula-mula berkumpul, salah satu tujuan mereka berkumpul adalah untuk mengucap syukur. Itu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ibadah mereka. Ada yang membawa mazmur, ada yang memanjatkan doa, ada yang menyampaikan firman dari Tuhan, dan banyak orang mendapat kesempatan untuk mengungkapkan rasa syukur mereka. Ketika Anda bersekutu dengan sesama orang percaya, terutama dalam kelompok yang lebih kecil, akan sangat baik jika Anda menyediakan waktu khusus untuk saling mengucap syukur kepada Tuhan. Itulah salah satu ciri khas gereja mula-mula. Kebiasaan itu menumbuhkan dalam hati orang-orang percaya kesadaran dan dorongan untuk terus bersyukur ketika mereka berkumpul bersama.

Kita hidup pada zaman di mana sangat sulit untuk melepaskan diri dari pengaruh budaya yang terus merayap dan menekan kita dari segala arah. Kita hidup di zaman yang miskin rasa syukur. Mungkin inilah zaman yang paling tidak tahu bersyukur dalam sejarah. Di satu sisi, banyak orang memiliki lebih banyak daripada yang pernah dimiliki manusia sebelumnya. Namun di sisi lain, mereka juga tahu bahwa masih ada lebih banyak lagi yang belum mereka miliki. Akibatnya, sebanyak apa pun yang mereka miliki, mereka tetap merasa belum memiliki semua yang bisa mereka miliki. Mereka tidak mendapatkan semua yang mereka inginkan, dan hal itu melahirkan sikap tidak bersyukur yang sangat dalam. Karena itu, perintah-perintah dalam Perjanjian Baru untuk hidup dengan hati yang bersyukur perlu terus-menerus diingatkan kepada umat Tuhan, supaya kita tidak terjebak mengikuti pola hidup orang-orang di sekitar kita.

Dalam 2 Korintus 4:15 tertulis, “Sebab semuanya itu terjadi karena kamu, supaya anugerah yang semakin besar berhubung dengan semakin banyaknya orang yang menjadi percaya, menyebabkan semakin melimpahnya ucapan syukur bagi kemuliaan Allah.” Maksud Paulus adalah bahwa ketika orang menerima kasih karunia Allah dalam keselamatan, hasilnya adalah melimpahnya ucapan syukur. Itulah hal yang seharusnya normal. Itulah yang seharusnya menjadi ciri khas. Itulah pola hidup setiap orang Kristen, yaitu terus-menerus mengucap syukur kepada Allah tanpa henti. Dalam 2 Korintus 9:11, Paulus pada dasarnya mengatakan bahwa karena kita telah diperkaya dalam segala hal, maka hal itu menghasilkan ucapan syukur kepada Allah. Bukan hanya keselamatan yang Anda miliki, tetapi juga segala sesuatu yang lain. Allah telah mencurahkan semuanya. Allah memberikan roti sebagai makananmu, Dia menyediakan benih untuk ditaburkan, dan Dia memperbesar hasil dari kebenaranmu. Hasil dari semua yang Allah kerjakan dalam hidupmu seharusnya adalah ucapan syukur yang tidak pernah berhenti.

Dalam Efesus pasal 5, Rasul Paulus menulis pada bagian awal pasal itu, tepatnya ayat 3, “Percabulan dan rupa-rupa kecemaran atau keserakahan disebut saja pun jangan di antara kamu,.” Di sana ia sedang berbicara tentang perbuatan. Kemudian dalam ayat 4 ia berkata, “Demikian juga perkataan yang kotor, yang kosong atau yang sembrono — karena hal-hal ini tidak pantas — tetapi sebaliknya ucapkanlah syukur.” Di sini ia berbicara tentang perkataan. Maksudnya, ketika Anda membuka mulut, tidak seharusnya keluar kata-kata yang kotor. Yang seharusnya keluar adalah ucapan syukur. Orang Kristen seharusnya dikenal karena sikap syukurnya. Sikap itu menjadi sesuatu yang terus-menerus hadir dalam hidup mereka. Ketika mereka berbicara, yang keluar adalah ungkapan rasa syukur kepada Allah.

Masih dalam pasal yang sama, Efesus 5:18, dengarkan apa yang Paulus katakan: “Janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh.” Lalu apa yang akan terjadi? “Dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati.” Akan ada sukacita, pujian, penyembahan, dan doa. Kemudian ayat 20 berkata, “Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita.” Orang percaya yang dipenuhi Roh adalah orang percaya yang normal. Ia adalah orang yang bersyukur, orang yang bersukacita, dan orang yang berdoa. Itulah yang Paulus maksudkan. Jika Anda dipenuhi oleh Roh Kudus, Anda akan mengucap syukur atas segala sesuatu. Rasa syukur itu akan mengalir keluar secara alami dari dalam hidup Anda.

Anda seharusnya mengucap syukur karena keselamatan yang telah Anda terima. Anda seharusnya mengucap syukur karena Allah telah mencurahkan segala sesuatu yang Anda perlukan untuk kehidupan rohani Anda. Dan Anda akan mengucap syukur jika Anda dipenuhi oleh Roh Kudus. Bahkan di masa-masa kesulitan, Paulus berkata, “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan” – apa? – “ucapan syukur.” Bahkan pada saat-saat penuh kecemasan, ketakutan, kekhawatiran, dan tekanan yang berat, hidup Anda tetap harus ditandai oleh rasa syukur.

Dalam Kolose 2:6 tertulis, “Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman sebagaimana telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.” Luar biasa. Paulus mengatakan bahwa kita harus berbicara dengan benar, dan inilah cara kita harus hidup: hiduplah dengan hati yang melimpah oleh rasa syukur, yang terus mengalir karena semua yang kita miliki di dalam Kristus. Kehidupan kita seharusnya ditandai oleh rasa syukur yang berlimpah. Seharusnya setiap orang Kristen dikenal sebagai pribadi yang bersyukur. Orang lain seharusnya dapat berkata, “Orang itu adalah orang yang penuh syukur. Betapa bersyukurnya dia.” Setiap kali orang itu membuka mulutnya, yang keluar adalah ucapan syukur. Yang keluar adalah rasa terima kasih kepada Allah yang melimpah dan terus mengalir dari dalam hatinya.

Kolose 3:15 berkata, “Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil dalam satu tubuh. Dan bersyukurlah.” Kemudian ayat 17 berkata, “Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur melalui Dia kepada Allah, Bapa kita.” Dalam segala sesuatu, tanpa terkecuali. Lalu dalam Kolose 4:2 Paulus berkata, “Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah dengan mengucap syukur.” Dengan kata lain, jadikan itu sebagai bagian dari hidup Anda. Dedikasikan hidup Anda untuk berdoa dengan sikap hati yang penuh syukur. Jadikan itu sebagai pola hidup Anda.

Nah, inilah komponen ketiga dalam teks kita. Mari kembali ke 1 Tesalonika pasal 5. Di sini kita menemukan komponen ketiga dari sikap domba terhadap Sang Gembala Agung. Yang pertama adalah sukacita. Yang kedua adalah doa. Yang ketiga adalah ucapan syukur. Ketiganya terdapat dalam ayat 16, 17, dan 18. Di sini kita melihat tanggung jawab orang percaya di hadapan Tuhan dalam hal sikap hatinya. Ia harus memiliki sukacita yang terus hidup di dalam dirinya, doa yang tidak pernah berhenti, dan ucapan syukur yang hadir setiap hari. Itulah karakter dan pola hidup yang seharusnya mewarnai kehidupan kita. Perlu diperhatikan juga bahwa ketiga perintah ini — “Bersukacitalah senantiasa,” “Tetaplah berdoa,” dan “Mengucap syukurlah dalam segala hal” — menjangkau bagian terdalam dari hati orang yang telah ditebus. Ketiga perintah ini menembus sampai ke ruang yang paling dalam dari hati orang percaya.

Anda mungkin berkata, “Apa maksudnya?” Maksudnya adalah bahwa ketiga hal itu merupakan ukuran terbaik untuk mengetahui kondisi rohani seseorang. Apakah Anda menangkap maksudnya? Ketiga hal itu merupakan ukuran terbaik untuk mengetahui kondisi rohani seseorang. Jangan menilai kerohanian Anda berdasarkan kehadiran di gereja. Jangan menilai kerohanian Anda berdasarkan aktivitas pelayanan. Jangan menilai kerohanian Anda hanya karena Anda melakukan kewajiban sebagai orang Kristen, memberi persembahan, hadir dalam kelompok pendalaman Alkitab, atau apa pun bentuknya. Jangan menilai kerohanian Anda hanya karena Anda tidak memperkosa, tidak mencuri, tidak membunuh, tidak berzina, tidak hidup dalam percabulan, tidak berbohong, tidak menipu dalam urusan pajak, tidak memperlakukan istri dengan kasar, atau tidak menyiksa anak-anak Anda. Jangan menilai kerohanian Anda berdasarkan hal-hal itu. Gali lebih dalam dari itu.

Ada banyak orang yang dapat menjalankan semua fungsi lahiriah dengan cara yang munafik. Jika Anda ingin mengetahui kondisi rohani Anda yang sesungguhnya, jika Anda ingin tahu apakah Anda dipenuhi oleh Roh Kudus, maka yang perlu Anda lakukan hanyalah bertanya kepada diri sendiri, “Apakah saya selalu bersukacita? Apakah saya terus-menerus berdoa? Dan apakah saya semakin bertumbuh dalam rasa syukur?” Karena itulah yang memancar dari dalam diri. Itulah yang keluar dari hati yang paling dalam. Hal itu akan menghasilkan sikap yang benar dalam semua tugas, tanggung jawab, dan pelayanan yang Anda lakukan. Namun bagian terdalam dari hati orang yang telah ditebus terlihat ketika ada sukacita yang terus-menerus, doa yang terus-menerus, dan ucapan syukur yang terus-menerus. Jika Anda bukan orang yang bersukacita, berdoa, dan bersyukur, berarti Anda sedang bergumul dengan kedagingan. Ketika Anda dikendalikan oleh Roh Kudus, hal-hal itu akan berada pada tempatnya.

Kemudian Paulus berkata dalam ayat 18, “Sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” Inilah kehendak Allah bagi Anda di dalam Kristus Yesus. Perlu diketahui, ungkapan ini sebenarnya berkaitan dengan ketiga perintah tersebut, bukan hanya dengan perintah yang terakhir. Kehendak Allah di dalam Kristus Yesus adalah supaya Anda memiliki sukacita yang terus-menerus, doa yang terus-menerus, dan ucapan syukur yang terus-menerus. Itulah kehendak-Nya. Lalu apa artinya ketika dikatakan, “Inilah kehendak Allah bagi kamu di dalam Kristus Yesus”? Frasa “di dalam Kristus Yesus” menjelaskan kata “kamu”, yaitu kamu yang adalah orang-orang Kristen, kamu yang berada di dalam Kristus Yesus. Bagi kamulah ini merupakan kehendak Allah. Tidak ada gunanya Allah menetapkan hal ini bagi dunia yang belum percaya. Mereka tidak dapat memiliki sukacita sejati yang terus-menerus. Mereka tidak dapat hidup dalam persekutuan yang terus-menerus dengan Tuhan. Mereka bahkan tidak memiliki hubungan dengan-Nya, dan tentu saja mereka tidak akan hidup dalam ucapan syukur yang sejati. Tetapi bagi Anda yang ada di dalam Kristus Yesus, Anda yang adalah bagian dari tubuh Kristus, Anda yang telah dipersatukan dengan-Nya, kehendak Allah ini diberikan kepada Anda sebagai sebuah perintah yang harus ditaati.

Anda mungkin berkata, “Apakah saya harus mengusahakannya sendiri?” Tidak. Bukan hanya kehendak Allah untuk memerintahkannya, tetapi juga kehendak Allah untuk mengerjakannya. Filipi 2:13 berkata, “Karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” Jadi, Dia menghendakinya dan Dia juga mengerjakannya melalui Roh Kudus-Nya. Itulah sebabnya saya katakan bahwa jika Anda dipenuhi oleh Roh Kudus, Anda akan berkata-kata dalam mazmur, kidung pujian, dan nyanyian rohani. Mengapa? Karena itulah sukacita. Dan Anda akan mempersembahkannya kepada Tuhan. Mengapa? Karena itulah doa. Dan Anda akan mengucap syukur karena itulah yang mengalir keluar dari hati yang berada di bawah kendali Roh Kudus. Karena itu, mereka yang menjadi anggota tubuh Kristus seharusnya ditandai oleh sukacita yang tidak putus-putus, doa yang tidak putus-putus, dan ucapan syukur yang tidak putus-putus. Itulah hal yang biasa. Itulah hal yang normal. Itulah pola hidup sehari-hari, karena seharusnya kita dipenuhi oleh Roh Kudus sebagai bagian dari kehidupan kita setiap hari.

Namun ketika kita melihat hidup kita sendiri, kita berkata, “Tunggu sebentar. Saya berharap itu benar. Saya berharap saya selalu hidup dengan melimpah dalam sukacita, menyanyikan pujian, memanjatkan doa kepada Tuhan, dan mengucap syukur atas segala sesuatu apa pun keadaannya. Tetapi kenyataannya saya tidak selalu seperti itu.” Nah, itu karena Anda masih berdosa dan karena kedagingan masih ada dalam diri Anda. Tapi kita perlu memahami hal ini dengan lebih baik. Bagaimana kita mengatasinya? Apa yang mencemari mata air batin kita sehingga kita tidak selalu bersukacita, berdoa, dan bersyukur? Apa yang merusak semua itu? Saya akan memberikan suatu daftar, ada tujuh hal. Tujuh hal yang dapat mencemari mata air hati yang paling dalam dan menghambat sukacita, doa, dan ucapan syukur.

Yang pertama adalah keraguan. Keraguan. Apa maksudnya? Yang saya maksud adalah keraguan terhadap Allah, keraguan terhadap karakter Allah. Pertama-tama, Anda tidak benar-benar yakin bahwa Firman Allah dapat dipercaya. Ketika Dia berkata bahwa segala sesuatu bekerja bersama untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Allah dan yang terpanggil sesuai dengan rencana-Nya; ketika Dia berkata bahwa hati dan kehendak-Nya bagi kita adalah untuk kebaikan dan bukan kecelakaan; ketika Dia berkata bahwa Dia ingin mencurahkan berkat kasih-Nya kepada kita, Anda mungkin berkata, “Ya, saya tidak yakin kita bisa mempercayai-Nya.” Ketika Dia berkata bahwa Dia setia dan bahwa rahmat-Nya selalu baru setiap pagi, mungkin Anda berpikir bahwa Dia tidak sedang mengatakan yang sebenarnya. Jika Anda meragukan kebenaran Allah, jika Anda meragukan karakter Allah, maka Anda akan kesulitan untuk bersyukur. Sebab Anda tidak akan benar-benar yakin bahwa Dia akan menepati janji-Nya untuk membuat segala sesuatu bekerja demi kebaikan Anda.

Atau mungkin Anda meragukan kuasa kedaulatan-Nya. Mungkin Anda berpikir bahwa Dia memiliki maksud yang baik, tetapi Dia tidak mampu mewujudkannya. Anda mungkin berkata, “Saya yakin Firman-Nya dapat dipercaya. Saya yakin niat-Nya baik. Hanya saja Dia tidak memiliki kuasa untuk menangani persoalan ini. Masalah ini terlalu besar bagi-Nya, terlalu rumit, terlalu sulit. Dia tidak akan bisa menyelesaikan yang satu ini. Dia tidak akan berhasil melakukannya.” Jadi Anda meragukan kuasa kedaulatan-Nya. Atau mungkin Anda meragukan hikmat-Nya. Anda berkata, “Begini, Dia memang ingin menepati Firman-Nya. Dia juga memiliki kemampuan untuk menepatinya. Hanya saja Dia tidak terlalu bijaksana. Jadi ketika Dia mengatur semuanya, hasilnya tidak benar-benar baik. Kalau saja Dia mau berkonsultasi dengan saya, saya bisa menjelaskan beberapa hal kepada-Nya. Saya sudah memiliki rencana yang sangat jelas, dan jika semuanya berjalan menurut cara saya, hasilnya akan sempurna. Dan dari apa yang sedang terjadi sekarang, jelas bahwa rencana Allah tidak sebaik rencana saya.” Jadi Anda sedang mempertanyakan hikmat-Nya.

Dan ada juga orang yang bahkan mempertanyakan kasih-Nya. Mereka berkata, “Kalau Allah benar-benar mengasihi saya, Dia tidak akan membiarkan hal ini terjadi. Tidak mungkin Dia mengasihi saya sementara Dia membiarkan semua ini terus berlangsung.” Keraguan-keraguan seperti itu, yang melekat pada karakter Allah, Firman Allah, kasih Allah, hikmat Allah, kuasa Allah, atau sifat-Nya secara keseluruhan, akan merampas rasa syukur Anda. Semua itu akan meracuni mata air hati yang telah ditebus, hati yang seharusnya memancar dengan ucapan syukur yang melimpah.

Yang kedua adalah keegoisan. Selain keraguan, tambahkan juga keegoisan. Inilah sesuatu yang sangat meracuni mata air ucapan syukur. Sikap ini berkata, “Saya tidak menginginkan keadaan seperti sekarang. Saya ingin semuanya berjalan sesuai keinginan saya. Saya tidak puas dengan cara Allah mengatur hidup saya. Saya tidak puas dengan keadaan yang sedang saya alami saat ini. Saya tidak puas dengan hal-hal yang sedang terjadi dalam dunia kecil saya. Saya tidak menginginkannya seperti ini. Ini bukan apa yang saya harapkan.”

Itulah keegoisan. Dan pada dasarnya keegoisan berkata, “Allah, turunlah dari takhta dan biarkan saya yang duduk di sana. Saya ingin memegang kendali. Saya ingin mengatur hidup saya sendiri. Saya ingin menentukan semuanya.” Kehendak diri sendiri menjadi lebih penting daripada kehendak Allah. Rencana saya menjadi lebih penting daripada rencana Allah. Itulah keegoisan. Saya ingin hidup saya seperti ini. Saya ingin pekerjaan saya seperti ini. Saya ingin gereja saya seperti ini. Saya ingin pasangan saya seperti ini. Saya ingin anak-anak saya seperti ini. Saya ingin karier saya seperti ini. Saya ingin, saya ingin, saya ingin, saya ingin. Dan jika Allah tidak datang lalu menyesuaikan semuanya dengan gambaran yang saya inginkan, maka kehendak diri mulai menginjak-injak rencana Allah, dan hasilnya adalah hati yang tidak tahu bersyukur.

Yang ketiga. Penghalang ketiga bagi hati yang bersyukur adalah keduniawian, yaitu cinta kepada dunia. Anda mungkin bertanya, “Apa maksudnya?” Maksud saya adalah seseorang yang pandangannya dipenuhi oleh hal-hal yang sepele. Seseorang yang pikirannya dipenuhi oleh kesenangan, kedudukan, popularitas, prestise, orang-orang, tempat-tempat, harta milik, dan berbagai ambisi hidup. Saya tidak bisa memikirkan lagi kata-kata lain yang diawali huruf yang sama saat ini. Intinya, pandangannya dipenuhi oleh segala sesuatu yang fana dan sementara di dunia ini. Dan mereka begitu dikuasai oleh semua hal itu sehingga ketika semuanya tidak berjalan sesuai keinginan mereka, mereka tidak akan bersyukur.

Mereka menaruh harapan pada suatu hubungan dengan seseorang. Mereka mengincar suatu pencapaian, pengalaman, atau kenikmatan tertentu. Mereka memimpikan suatu tempat yang ingin mereka capai, suatu harta yang ingin mereka miliki, atau suatu tujuan yang ingin mereka raih. Mereka mengejar prestise tertentu atau popularitas yang ingin mereka peroleh, tetapi semuanya tidak terjadi. Dan karena hal itu tidak terjadi, seluruh hidup mereka terasa hancur. Kita semua mengenal orang-orang seperti itu.

Ada orang-orang di sekitar kita yang, karena tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan di suatu titik dalam hidup mereka, akhirnya menyerah secara rohani. Mereka menarik diri dan menghabiskan sisa hidup mereka dengan sikap yang tidak tahu bersyukur. Mereka tidak pernah melihat berkat Allah, karena mereka tidak pernah memandang ke arahnya. Anda tentu mengenal lagu rohani lama yang berbunyi, “Jadilah penglihatanku, ya Tuhan, Raja hatiku.” Itulah inti dari pandangan hidup orang Kristen. “Jadilah penglihatanku, ya Tuhan, Raja hatiku.” Engkaulah yang ingin kulihat. Engkaulah yang kuinginkan. Engkaulah yang kurindukan. Dan selama itulah yang menjadi fokus pandangan Anda, Anda akan melihat berkat Allah terus dicurahkan ke dalam hidup Anda. Tetapi jika pandangan Anda tertuju pada dunia materi, maka Anda akan kehilangan semua itu. Akibatnya, Anda tidak memiliki alasan untuk bersyukur. Sebab setiap kali Anda melekatkan hati pada sesuatu yang kemudian tidak berjalan sesuai harapan, hal itu hanya akan membuat Anda menjadi orang yang tidak tahu berterima kasih dan kehilangan rasa syukur.

Yang keempat adalah roh yang suka mengkritik. Roh yang suka mengkritik. Sekali lagi, inilah sesuatu yang dapat mencuri habis rasa syukur seseorang. Roh yang suka mengkritik adalah sikap orang yang pahit hati, orang yang negatif, orang yang memiliki pandangan hidup yang suram. Sikap ini bisa muncul karena berbagai alasan, tetapi jika dibiarkan tanpa kendali, ia akan menghancurkan hati yang bersyukur. Ia akan membutakan pandangan Anda. Ia akan memutarbalikkan pemahaman Anda. Ia akan membuat Anda tidak berguna bagi Allah dan menjadi beban bagi orang-orang di sekitar Anda. Sikap ini akan menggerogoti kerohanian Anda dan mengikis kasih Anda. Sikap yang terus-menerus menganalisis segala sesuatu secara berlebihan dan selalu merasa perlu mengkritik segala sesuatu yang tidak persis seperti yang diinginkannya. Roh yang suka mengkritik menghasilkan pribadi yang pahit, negatif, dan tidak tahu bersyukur. Dan sekali lagi, hal itu berakar pada kesombongan. Hal itu muncul dari ego yang membesar yang berkata, “Saya layak mendapatkan yang lebih baik daripada ini. Saya pantas menerima yang lebih baik.” Atau berkata, “Saya ingin orang lain menganggap saya lebih baik daripada keadaan saya yang sebenarnya. Karena itu saya ingin segala sesuatu di sekitar saya membuat saya terlihat baik. Dan karena semua itu tidak membuat saya terlihat sebaik yang saya inginkan, saya menjadi pahit dan kecewa.” Atau mungkin, “Saya telah disakiti. Saya telah dilukai oleh seseorang, dan saya akan terus membawa luka itu sepanjang hidup saya.” Sikap kritis seperti itu menghancurkan rasa syukur.

Yang kelima adalah ketidaksabaran. Ketidaksabaran. Ada orang-orang yang tidak bersyukur hanya karena mereka tidak puas dengan kenyataan bahwa Allah tidak bekerja mengikuti jadwal mereka. Allah tidak beroperasi sesuai agenda mereka. Allah tidak bergerak mengikuti jam mereka. Mereka tidak sanggup menerima proses. Anda pasti mengenal orang-orang seperti itu. Mereka menginginkan kepuasan yang instan, hasil yang instan. Mereka tidak bisa menghargai proses. Mereka tidak dapat berkata, “Terima kasih, Tuhan. Saya dapat melihat tangan-Mu sedang bekerja. Prosesnya memang lambat, saya menyadarinya. Tetapi saya bersyukur untuk itu. Saya memuji-Mu untuk itu.” Sebaliknya mereka berkata seperti anak kecil yang sedang ngambek, “Tuhan, saya mau itu. Saya mau sekarang juga. Tidak perlu proses. Waktu saya, bukan waktu-Mu.” Mereka ingin segala sesuatu dalam hidup mereka diperbaiki, dan mereka ingin semuanya diperbaiki saat itu juga. Mereka tidak dapat menunggu dengan sabar. Mereka tidak dapat dengan sabar mengucap syukur kepada Allah atas sebuah proses yang belum selesai. Mereka ingin Allah bekerja untuk mencapai semua tujuan mereka menurut jadwal mereka sendiri. Ketidaksabaran akan menghancurkan rasa syukur. Belajarlah untuk bersyukur kepada Allah atas proses yang sedang berlangsung. Dan belajarlah, ketika Anda melihat pasangan hidup Anda, anak-anak Anda, atau siapa pun yang Tuhan tempatkan dalam hidup Anda, untuk memperhatikan tanda-tanda kecil dari proses itu. Bersyukurlah kepada Allah atas setiap kemajuan kecil yang menunjukkan bahwa Dia sedang mengerjakan tujuan-Nya yang besar. Jangan terburu-buru ingin melihat hasil akhir dari sesuatu yang sebenarnya sedang berlangsung dengan sangat tepat menurut waktu yang telah Allah tetapkan.

Apa yang merampas rasa syukur? Keraguan, keegoisan, keduniawian, roh yang suka mengkritik, dan ketidaksabaran. Masih ada dua lagi. Yang keenam adalah sikap dingin secara rohani. Anda bisa menyebutnya apati. Anda bisa menyebutnya kelesuan rohani. Saya menggunakan istilah “dingin” karena mengingat hati jemaat Laodikia yang suam-suam kuku, atau jemaat Efesus dalam kitab Wahyu yang telah meninggalkan kasih mereka yang mula-mula. Ada semangat yang kurang dalam pelayanan Kristen. Ada kasih yang kurang kepada Kristus. Ada ketekunan yang kurang dalam mempelajari Kitab Suci. Ada kurangnya gairah dalam penyembahan. Ada pengabaian terhadap Alkitab dan pengabaian terhadap doa. Ada begitu banyak waktu yang dihabiskan untuk hal-hal sepele dalam hidup. Dan semua itu membuat orang menjadi kosong. Mereka menjadi tidak peduli secara rohani, lesu, dan apatis.

Seseorang datang kepada saya beberapa waktu yang lalu dan berkata, “Bagaimana kita menghadapi apati rohani yang ada di sekitar kita ketika para penatua berkumpul minggu ini?” Banyak orang menyadari bahwa ada sikap apatis yang berkembang di antara banyak orang Kristen. Dan sikap dingin seperti itulah yang mencuri rasa syukur. Mereka bahkan tidak lagi mencari hal-hal yang patut disyukuri. Mereka telah kehilangan keintiman dengan Tuhan. Mereka telah kehilangan sukacita yang mendalam dalam mempelajari Firman Tuhan. Akibatnya, hati mereka tidak lagi dipenuhi rasa syukur.

Dan yang terakhir adalah pemberontakan. Yang saya maksud dengan ini adalah pemberontakan yang terang-terangan dan disengaja. “Saya tidak bersyukur karena saya marah kepada Allah. Saya tidak bersyukur karena saya tidak menyukai apa yang sedang Dia lakukan dalam hidup saya. Saya marah dan saya tidak bersyukur. Saya tahu bahwa saya tidak bersyukur, dan saya akan tetap tidak bersyukur.” Itu adalah pemberontakan yang murni. Ada orang-orang seperti itu. Sungguh mengherankan. Keadaan hidup mereka tidak sesuai dengan apa yang mereka inginkan, dan karena itu mereka dengan sengaja menahan ucapan syukur. Mereka memilih untuk tidak bersyukur karena memang mereka tidak mau bersyukur.

Dalam bentuk apa pun, jika salah satu dari tujuh hal itu ada dalam hidup Anda, maka itu adalah dosa yang serius. Anda sedang menentang perintah Allah untuk mengucap syukur dalam segala hal. Anda sedang menentang ajaran Perjanjian Baru yang mengatakan bahwa Anda harus senantiasa bersyukur atas keselamatan Anda dan atas berkat-berkat Allah yang tidak pernah berakhir. Anda seharusnya bersyukur atas karunia Kristus yang tak terkatakan itu. Anda seharusnya bersyukur atas keselamatan, bersyukur atas kemenangan atas dosa dan maut. Anda seharusnya bersyukur atas pimpinan Allah, atas pemeliharaan-Nya yang sempurna bagi semua kebutuhan Anda. Anda seharusnya bersyukur atas pengharapan akan kemuliaan. Anda seharusnya bersyukur atas kuasa Firman Tuhan, kuasa doa, kebaikan Allah, kemurahan Allah, dan kekudusan Allah yang tidak pernah salah. Anda seharusnya bersyukur atas hidup dan napas, bersyukur atas surga, bersyukur atas segala sesuatu. Dan jika Anda tidak bersyukur, itu adalah dosa. Jika Anda tidak bersyukur karena memberontak, karena dingin dan tidak peduli, karena tidak sabar, karena suka mengkritik, karena mencintai dunia, karena egois, atau karena meragukan Allah, itu adalah dosa. Dalam segala hal, mengucap syukurlah.

Ucapan syukur adalah hasil dari kehidupan yang dipenuhi Roh Kudus. Seperti yang telah saya katakan dari Filipi 2, Anda tidak dapat menciptakannya dari kekuatan Anda sendiri. Itulah sebabnya Allah bekerja di dalam diri Anda, baik untuk menghendaki maupun untuk melakukan apa yang berkenan kepada-Nya. Dia sedang bekerja untuk menjadikan Anda seorang yang bersyukur, dan Dia melakukannya melalui kuasa Roh Kudus. Jika Anda dipenuhi oleh Roh Kudus, Dialah yang menghasilkan sikap itu. Apa yang terjadi ketika Anda hidup dengan hati yang bersyukur? Allah dimuliakan, Anda diberkati, gereja dibangun, dan orang-orang yang belum percaya dijangkau. Dampaknya sangat besar, sungguh sangat besar, ketika Anda menjadi pribadi yang bersyukur.

Apa yang Allah kehendaki dari kawanan domba yang sedang bertumbuh? Apa yang Dia tuntut dari domba-domba-Nya dalam hubungan mereka dengan-Nya? Dia menghendaki agar mereka selalu bersukacita, selalu berdoa, dan selalu mengucap syukur. Itulah tanggung jawab rohani mereka. Dan tanggung jawab itu dikerjakan oleh kuasa Roh Kudus yang tinggal di dalam kita. Ketika kita menyerahkan diri kepada pimpinan Roh Kudus, Allah sendiri yang akan menghasilkan semua itu di dalam hidup kita.

SELESAI

This sermon series includes the following messages:

Please contact the publisher to obtain copies of this resource.

Publisher Information
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969

Welcome!

Enter your email address and we will send you instructions on how to reset your password.

Back to Log In

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize
View Wishlist

Cart

Cart is empty.

Subject to Import Tax

Please be aware that these items are sent out from our office in the UK. Since the UK is now no longer a member of the EU, you may be charged an import tax on this item by the customs authorities in your country of residence, which is beyond our control.

Because we don’t want you to incur expenditure for which you are not prepared, could you please confirm whether you are willing to pay this charge, if necessary?

ECFA Accredited
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Back to Cart

Checkout as:

Not ? Log out

Log in to speed up the checkout process.

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize