Saya sangat menghargai pilihan lagu yang dinyanyikan oleh Nichol bersaudara, karena pemikiran tentang mengasihi Tuhan Yesus Kristus benar-benar ada di hati saya hari ini. Sepanjang minggu ini, di beberapa momen yang tenang, saya banyak berpikir, merenung, dan membuka Firman Tuhan, sambil memeriksa hati saya sendiri dan mencari kehendak Tuhan tentang apa yang seharusnya saya sampaikan kepada Anda sebagai persiapan untuk perjamuan-Nya ini. Ketika saya mulai mengikuti pimpinan Roh Allah, pikiran saya dipenuhi oleh dorongan untuk menekankan betapa pentingnya mengasihi Tuhan Yesus Kristus.
Gereja adalah sesuatu yang kompleks, dan kehidupan kita pun menjadi sangat rumit. Kadang-kadang kerumitannya begitu besar sampai kita kehilangan fokus pada hal yang paling mendasar. Saya sungguh percaya bahwa unsur paling dasar dalam kehidupan Kristen adalah mengasihi Tuhan Yesus Kristus. Cepat atau lambat, kita harus menghadapi hal itu. Kita harus kembali kepada dasar itu. Itu tidak mudah. Saya tidak tahu apakah Anda sering memikirkannya, tetapi belakangan ini hal itu begitu kuat muncul dalam pikiran saya, bahwa kita hidup di dunia yang penuh dengan begitu banyak pilihan sampai rasanya hampir membingungkan.
Bahkan, minggu lalu saya membaca sebuah buku yang gagasan utamanya mengatakan bahwa kita memiliki begitu banyak alternatif, begitu banyak pilihan, sampai-sampai orang akhirnya menyerah terhadap semuanya. Salah satu penyebab utama orang tidak punya keyakinan tentang apa pun, dan tidak benar-benar tahu apa yang menjadi prioritas mereka, adalah karena mereka benar-benar kewalahan oleh begitu banyaknya pilihan. Maksud saya, hal itu bisa sesederhana berdiri di satu tempat selama 15 menit, berdebat karena tidak bisa memutuskan mau membawa anak-anak makan di tempat fast food yang mana. Pilihannya seakan tidak ada habisnya.
Itu memang contoh yang sederhana. Tetapi kita hidup dalam masyarakat yang sangat majemuk, dan kita dihadapkan dengan begitu banyak pilihan; pilihan tentang apa yang kita makan, pilihan tentang apa yang kita pakai, pilihan tentang bagaimana kita menghibur diri, pilihan dalam hal pendidikan, pilihan dalam hal rekreasi. Pilihan, pilihan, dan pilihan.
Dalam kehidupan di mana orang benar-benar hidup berdasarkan pilihan—mau mobil seperti apa, rumah seperti apa, pakaian seperti apa, dan segala macam lainnya—entah bagaimana cara kita memandang kekristenan dan cara kita memandang gereja pun ikut tercampur ke dalam semua pilihan itu. Akibatnya, hal-hal yang kita lakukan bagi Kerajaan Allah, hal-hal yang kita lakukan bagi Tuhan, dan hal-hal yang kita lakukan dalam kaitannya dengan gereja terasa seperti hanya menjadi salah satu dari sekian banyak pilihan yang ada. Seolah-olah semuanya sama opsionalnya dengan yang lain. Pada akhirnya, seakan-akan kita hanya memilih: apakah kita pergi ke gereja, atau bermain golf, atau sekadar jalan-jalan, atau pergi makan siang santai, atau apa pun itu; atau kita bisa mengadakan pertemuan doa bersama keluarga, atau menonton televisi, atau pergi menonton pertandingan, atau pergi piknik.
Dengan kata lain, di tengah begitu banyaknya pilihan yang kita miliki, sepertinya kita telah kehilangan satu kategori yang seharusnya tidak bisa ditawar, yaitu dimensi rohani. Semuanya jadi tercampur. Dengan pilihan yang seakan tak terbatas, kita menempatkan hal-hal tentang Tuhan di suatu tempat di dalamnya, jika memang itu yang kita ingin pilih. Kalau berbicara tentang mengasihi Tuhan Yesus Kristus, mungkin kita bisa mengatakan bahwa kita telah belajar untuk mengasihi-Nya secara selektif. Kita ingin mengasihi Tuhan Yesus Kristus, dan kita akan menyanyikannya. Kita akan bernyanyi tentang betapa kita mengasihi Dia.
Kita sudah sering mengatakannya, dan jika kita ditanya, “Apakah kamu mengasihi Tuhan Yesus Kristus?” kita akan menjawab, “Oh ya.” Jika ditanya lagi, “Apakah kamu mengasihi Dia dengan segenap hatimu?” “Oh ya.” “Dan dengan segenap jiwamu, seluruh pikiranmu, dan seluruh kekuatanmu?” “Ya, tentu itu yang saya inginkan.” Kita bisa dengan mudah mengungkapkan kasih kita kepada Tuhan Yesus Kristus, tetapi pertanyaannya adalah apakah itu benar-benar terlihat dalam cara kita hidup; atau jangan-jangan di satu sisi kita berkata bahwa kita mengasihi Tuhan Yesus Kristus, tetapi di sisi lain, hal-hal yang seharusnya membuktikannya justru hanya menjadi salah satu dari sekian banyak pilihan dan alternatif, sama seperti hal-hal lain di dunia ini, sehingga pada akhirnya kita mendapati diri kita mengasihi banyak hal lain sama besarnya dengan kita mengasihi Tuhan Yesus Kristus.
Maksud saya, kita mengasihi Tuhan Yesus Kristus kalau harganya tidak terlalu mahal. Kita mengasihi Tuhan Yesus Kristus kalau itu membuat kita nyaman. Kita mengasihi Tuhan Yesus Kristus kalau itu adalah pilihan yang paling baik. Saya merasa prihatin tentang hal ini, karena saya melihat bahwa di banyak tempat, di negara kita, di banyak gereja, bahkan mungkin di dalam hati kita sendiri, telah muncul masalah yang nyata—kita kehilangan rasa akan kekudusan, kehilangan kesadaran akan hal yang kudus, dan kehilangan rasa tanggung jawab terhadap yang ilahi. Seharusnya ada kesadaran akan kekudusan itu, dan ada tanggung jawab terhadap yang ilahi. Namun semua itu justru menjadi sekadar bagian dari keseluruhan kehidupan yang dipenuhi berbagai macam pilihan. Hal ini membuat saya sangat prihatin. Karena itu, pagi ini saya ingin mencoba mengarahkan kembali fokus Anda, mengembalikan perhatian Anda kepada Tuhan Yesus Kristus. Dan percayalah, saya juga sedang berbicara kepada hati saya sendiri.
Apa tanda utama dari seorang kudus di Perjanjian Lama? Jika Anda ingin mengenali ciri paling utama dari seorang yang kudus di Perjanjian Lama, apa itu? Coba buka Alkitab Anda sejenak ke kitab Kitab Ulangan. Dalam Ulangan 6:5, saya rasa di situlah kita menemukan inti dari kehidupan rohani di Perjanjian Lama, inti dari komitmen seorang yang kudus. Di sana ada dasar yang paling mendasar dari kebajikan rohani: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan segenap kekuatanmu.” Itulah pengabdian yang utuh—dengan seluruh jiwa, seluruh hati, dan seluruh kekuatan kepada Allah. Itulah satu prioritas yang menguasai hidup, yang tidak bisa dibandingkan dengan apa pun. Tidak ada konsep bahwa mengasihi Allah itu pilihan. Tidak ada konsep bahwa menaati Allah itu pilihan. Tidak ada konsep bahwa menyembah dan melayani Allah itu pilihan. Ini adalah prioritas hidup yang menguasai dan mendominasi seluruh kehidupan.
Dalam pasal 10 kitab Kitab Ulangan ayat 12, tertulis, “Sekarang, hai orang Israel, apa yang dituntut TUHAN, Allahmu, darimu?” Itulah pernyataan yang sangat penting. Apa yang Tuhan inginkan? Apa inti dari tuntutan Tuhan? Jika diringkas, apa yang Tuhan kehendaki dari hidupmu? Yaitu “takut akan TUHAN, Allahmu, hidup menurut segala jalan-Nya, mengasihi Dia, beribadah kepada TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu; serta berpegang pada perintah dan ketetapan TUHAN yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, supaya baik keadaanmu.” Apa intinya? Yaitu mengasihi Tuhan, Allah sedemikian rupa sehingga Anda hidup menurut segala jalan-Nya, melayani Dia dengan segenap hati dan segenap jiwa, serta menaati perintah dan ketetapan-Nya yang Dia berikan kepada Anda.
Dengan kata lain, jika diringkas dalam satu kata, mengasihi Tuhan, Allahmu, adalah soal ketaatan. Ini berarti melakukan apa yang telah Dia perintahkan, melayani Dia dengan segenap hati dan segenap jiwa. Tidak ada ruang untuk hal yang lain. Karena itulah dalam Kitab Yakobus dikatakan bahwa apa pun yang kurang dari penyerahan total kepada Allah menjadi seperti perselingkuhan rohani. Ia mengatakan bahwa jika kita mencoba mengasihi Allah sekaligus mengasihi dunia, kita menjadi seperti orang yang tidak setia. Kita seakan menyerahkan diri kita pada sesuatu yang merusak hubungan yang seharusnya unik, intim, dan sepenuh hati dengan Tuhan Yesus Kristus. Itulah intinya. Kita dipanggil untuk mengasihi Allah.
Dalam pasal 11 ayat 1 kitab Kitab Ulangan, kembali ditegaskan bahwa orang kudus di Perjanjian Lama diperintahkan untuk “mengasihi TUHAN, Allahmu, dan tetap berpegang pada kewajiban-Nya, ketetapan-Nya, peraturan-Nya, dan perintah-Nya senantiasa.” Tidak ada celah di sini. Tidak ada jalan keluar. Ini adalah satu prioritas yang menguasai seluruh hidupnya. Tidak heran ketika seorang ahli Taurat datang kepada Yesus Kristus dan bertanya, “Bagaimana merangkum seluruh perintah ini?” Dia menjawab, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, jiwamu, akal budimu, dan kekuatanmu.” Semua kembali kepada hal itu. Hal yang sama juga berlaku dalam hidup kita hari ini. Kita perlu kembali memusatkan perhatian pada kebutuhan yang sama, yaitu memiliki kasih yang menguasai seluruh hidup kita kepada Tuhan Yesus Kristus, yang sejalan dengan perintah dalam Perjanjian Lama kepada umat-Nya pada waktu itu untuk mengasihi Tuhan, Allah mereka.
Perhatikan juga bahwa dalam Ulangan 10:13 di Kitab Ulangan dikatakan, “supaya baik keadaanmu.” Ini bukanlah kasih yang tidak mendapat balasan. Ini adalah kasih yang justru mencurahkan berkat yang melimpah kepada orang yang memberikannya kepada Allah. Apakah Anda ingat doa Daniel dalam pasal 9, ketika ia mulai mencurahkan isi hatinya bagi bangsanya? Ia berkata, “Aku memohon kepada TUHAN, Allahku, dan mengaku dosa, ‘Ya Tuhan, Allah yang Maha Besar dan dahsyat,’ perhatikan ini, ‘yang memegang Perjanjian dan kasih setia terhadap mereka yang mengasihi Engkau serta berpegang pada perintah-Mu.’” Allah memegang dan menggenapi janji-Nya, dan Allah mencurahkan kasih setia-Nya kepada orang-orang yang mengasihi Dia. Jadi, mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan menempatkan kita pada posisi untuk menikmati perjanjian-Nya dan mengalami kasih setia-Nya.
Ngomong-ngomong, doa yang sama yang dipanjatkan oleh Daniel juga dipanjatkan oleh Nehemia, hampir kata demi kata. Dalam Nehemia 1:5 di Kitab Nehemia, ia berdoa, “Ya TUHAN, Allah semesta langit, Allah yang Maha Besar dan dahsyat, yang berpegang pada perjanjian dan kasih setia terhadap orang yang mengasihi-Nya dan menaati perintah-perintah-Nya.” Fakta bahwa dua orang ini, Nehemia dan Daniel, yang tidak berkaitan secara langsung, dapat memanjatkan doa yang hampir sama persis, membuat saya berpikir bahwa mungkin itu adalah doa yang umum di kalangan orang Yahudi pada waktu itu. Doa itu menunjukkan suatu pengertian bahwa orang-orang yang mengalami kasih setia Allah, dan orang-orang yang menerima berkat dari perjanjian-Nya, adalah mereka yang menunjukkan kasih yang utuh—dengan segenap hati dan jiwa—serta penyerahan diri yang penuh dalam kasih kepada-Nya. Bukankah hal itu juga ada di hati pemazmur dalam Mazmur 18:1 di Kitab Mazmur, “Aku mengasihi Engkau, ya TUHAN, kekuatanku. Aku mengasihi Engkau, ya TUHAN, kekuatanku.” Ini adalah tindakan kehendak. Ini adalah suatu pilihan untuk mengasihi Tuhan, dan bukan mengalihkan kasih itu kepada hal-hal yang lain.
Dalam Amsal 8:17, Allah berkata, “Aku mengasihi orang yang mengasihi Aku.” Apakah ini juga berlaku dalam Perjanjian Baru? Apakah panggilan kita tetap sama? Saya percaya, ya. Petrus merangkumnya bagi kita dalam 1 Petrus 1:8 di Surat 1 Petrus. Berbicara tentang Kristus, ia berkata, “Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi Dia.” Itulah tanda seorang percaya yang sejati. Dalam Efesus 6:24 di Surat Efesus tertulis, “Anugerah menyertai semua orang, yang mengasihi Tuhan kita Yesus Kristus dengan kasih yang tidak binasa,” dengan integritas, dengan kejujuran, dengan pengabdian yang tidak terbagi dan tanpa kemunafikan. Bahkan dalam Matius 16, Yesus Kristus berkata bahwa jika seseorang tidak mengasihi Dia lebih dari ayahnya, ibunya, saudara laki-laki, saudara perempuan, dan siapa pun juga, ia tidak layak menjadi murid-Nya. Dan dalam 1 Korintus 16:22 di Surat 1 Korintus dikatakan, “Siapa yang tidak mengasihi Tuhan, terkutuklah ia.”
Jadi, saya percaya bahwa kita dipanggil untuk mengasihi Tuhan Yesus Kristus, mengasihi Dia dengan kasih yang melibatkan seluruh jiwa, seluruh hati, seluruh pikiran, dan seluruh kekuatan. Kita mungkin berkata bahwa kita melakukannya, tetapi ketika saya melihat masyarakat kita, melihat gereja, saya tidak melihat jenis pengabdian yang sama, komitmen yang sama, penyerahan diri yang sama kepada prioritas-prioritas ilahi. Yang saya lihat justru kita tersebar dalam begitu banyak pilihan, memberi bobot yang sama—bahkan lebih besar—kepada hal-hal yang sementara, dibandingkan dengan hal-hal yang kekal. Karena itu, ketika kita datang kepada perjamuan Tuhan ini, kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apakah kita sungguh mengasihi Tuhan Yesus Kristus? Kita akan berkata, “Kita mengasihi Dia karena Dia lebih dahulu mengasihi kita,” seperti tertulis dalam 1 Yohanes 4:19 di Surat 1 Yohanes. Dan kita juga menyadari bahwa perjamuan-Nya ini adalah ungkapan kasih-Nya, bukan? Karena perjamuan ini mengingatkan kita akan salib, dan salib adalah lambang terbesar dari kasih Allah.
Jadi ketika kita datang ke sini, kita memikirkan tentang kasih. Kita memikirkan betapa besar Dia mengasihi kita, dan betapa banyak yang telah Dia berikan bagi kita. Saya tidak tahu bagaimana itu memengaruhi Anda, tetapi bagi saya itu membuat saya berhenti sejenak dan berpikir, “Saya begitu ingin menerima semua kasih yang Allah bisa berikan kepada saya, tetapi saya tidak seantusias itu untuk membalas dengan semua yang bisa saya berikan kepada-Nya.” Memang tidak sebanding sama sekali. Bahkan, sering kali saya seperti memanfaatkan anugerah-Nya. Saya cenderung ingin menerima semua kasih yang bisa Dia curahkan kepada saya, tetapi memberi kembali dengan sangat sedikit. Dan ini juga menjadi semangat di zaman kita sekarang. Bahkan ini juga menjadi semangat di dalam gereja.
Hati saya terus merasa sedih melihat berkembangnya teologi yang berpusat pada diri sendiri di dalam gereja, dengan pola pikir “sebutkan dan klaim saja,” dengan pendekatan “Yesus harus melakukan ini untukmu”; di mana kekristenan telah begitu berbalik arah, sehingga bukan lagi hidup saya menjadi tindakan kasih yang penuh pengabdian kepada Yesus Kristus, apa pun harganya, tetapi justru hidup saya menjadi tuntutan atas kasih-Nya supaya Dia memberikan semua hal baik yang saya minta. Ini adalah penyimpangan dari maksud yang sebenarnya.
Kemarin saya membaca autobiografi rohani John Bunyan, di mana ia menceritakan perjalanan rohaninya sampai akhirnya ia memeluk Sang Juruselamat. Perjalanan itu adalah sesuatu yang luar biasa untuk dibaca, karena rasanya seperti kita dibawa oleh mesin waktu ke zaman pemikiran yang berbeda. Di sana ada seorang berdosa yang memukul dadanya sendiri, menyadari bahwa ia adalah orang berdosa, menyadari bahwa ia layak masuk neraka, benar-benar ketakutan bahwa ia mungkin tidak dipilih untuk keselamatan, takut bahwa anugerah keselamatan dari Allah yang berdaulat tidak akan pernah datang kepadanya karena ia merasa begitu tidak layak; ia berseru agar ia boleh dipilih untuk ditebus. Dan ketika akhirnya ia sampai pada iman yang sungguh kepada Yesus Kristus, ia tidak bisa melakukan apa-apa selain terus-menerus mengakui daftar panjang kejahatannya, dan hanya menginginkan satu hal dalam seluruh hidupnya, yaitu menyerahkan dirinya sepenuhnya, dalam setiap aspek hidupnya, untuk melayani Yesus Kristus, apa pun harganya. Dan Anda tahu apa harganya. Ia harus masuk penjara, bukan?
Ketika membaca hal seperti itu, kita mungkin berpikir, “Orang ini bisa saja ditolak oleh banyak gereja masa kini.” Karena apa yang ia alami bertolak belakang dengan ajaran yang menekankan harga diri, bertolak belakang dengan ajaran kemakmuran—kesehatan dan kekayaan—dan juga bertolak belakang dengan konsep iman yang dangkal dan anugerah yang murahan. Kita telah membentuk kekristenan yang bisa menyesuaikan diri dengan begitu banyak pilihan dan alternatif, sehingga siapa pun bisa masuk dengan cara apa pun yang mereka inginkan, bahkan tanpa disadari. Bukan berarti kita secara sadar berkata, “Saya memilih untuk tidak mengasihi Tuhan Yesus Kristus.” Tetapi kita perlahan-lahan terseret dan teralihkan tanpa kita sadari. Inilah strategi musuh, dan ia sangat berhasil melakukannya. Iblis telah menjalankan pekerjaannya dengan sangat efektif.
Saya sempat berkata kepada para penatua dalam pertemuan terakhir, “Mungkin akan baik kalau kita menanggalkan semua yang ada di Gereja Grace, dan hanya menyisakan penyembahan kepada Tuhan pada hari Minggu pagi dan malam, kelas-kelas pelatihan untuk memberitakan Injil kepada orang yang terhilang, serta doa. Hanya itu saja. Yang lain dihentikan. Dengan begitu kita akan melihat dengan jelas di mana posisi setiap orang. Kita akan langsung tahu seberapa besar tingkat komitmen mereka.” Ini karena kita memang perlu kembali kepada hal-hal yang menjadi prioritas. Dan salah satu yang paling mendasar adalah memahami bahwa kita dipanggil untuk mengasihi Tuhan Yesus Kristus.
Seperti yang saya katakan, saya bisa dengan mudah berkata, “Aku mengasihi Engkau, Tuhan. Aku mengasihi Engkau.” Saya tidak punya masalah untuk mengatakannya. Yang menjadi masalah adalah menjalaninya, dan kita semua menyadari itu. Karena itu, saya ingin Anda menguji diri Anda dengan melihat kehidupan yang lain. Mari kita lihat Yohanes 21 di Injil Yohanes, secara singkat, sebagai persiapan kita menuju perjamuan Tuhan. Saya ingin Anda memberi perhatian sejenak pada bagian ini. Apakah Anda ingat ketika rasul Yohanes menulis dalam 1 Yohanes 3:18 di Surat 1 Yohanes, “Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.” Ya, di situlah letaknya. Bukan pada apa yang kita katakan, tetapi pada apa yang kita lakukan. Itulah intinya.
Sekarang, dalam Yohanes 21, kita melihat perjumpaan antara Yesus dan Petrus. Izinkan saya memberi sedikit latar belakang. Jika Anda membaca pasal terakhir dalam Injil Matius, Anda akan melihat bahwa setelah kebangkitan-Nya—dan setelah Dia beberapa kali menampakkan diri kepada para murid—Yesus berkata, “Pergilah ke sebuah gunung dan tinggal di sana. Tunggulah Aku, dan Aku akan datang.” Itulah yang Dia perintahkan kepada para murid. Maka mereka pun pergi. Dalam ayat 2 disebutkan bahwa di sana ada Simon Petrus, Tomas, Natanael, anak-anak Zebedeus yaitu Yakobus dan Yohanes, serta dua murid lainnya—kemungkinan besar Filipus dan Andreas. Jadi mereka semua pergi ke gunung itu, bersama pemimpin mereka, Simon Petrus. Peristiwa ini menyiapkan sebuah gambaran yang sangat penting dan memberi pelajaran bagi kita tentang apa artinya mengasihi Tuhan Yesus Kristus.
Hal pertama yang ingin saya tunjukkan adalah kegagalan dalam mengasihi. Perhatikan ini. Ingat, dalam Injil Matius, mereka diperintahkan untuk pergi dan menunggu di gunung. Nah, Petrus sebelumnya sudah menyatakan kasihnya. Bahkan dengan sangat kuat ia menyatakannya dalam Matius 26:33-34. Ia berkata, “Biarpun mereka semua terguncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak.” Ia juga berkata, “Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku tidak akan menyangkal Engkau.” Semua murid yang lain juga ikut mengatakan hal yang sama. Petrus seolah berkata, “Aku mengasihi Engkau. Aku akan mengasihi Engkau meskipun harus kehilangan nyawaku. Apa pun harganya, aku tetap akan mengasihi Engkau. Aku tidak akan pernah meninggalkan Engkau.” Ia memiliki semua komitmen secara lisan. Semua kata-katanya terdengar benar. Maka Tuhan pun memberikan sebuah ujian kecil kepada dia dan kepada murid-murid yang lain, yang telah menyatakan kasih mereka itu.
Dia hanya berkata, “Pergilah ke gunung dan tunggulah,” dan itu sebenarnya bukan perintah yang sulit, bukan? Bukan tantangan yang besar. Hanya duduk di sebuah bukit sampai Aku datang. Pernyataan kasih mereka sebelumnya seakan-akan justru menjadi dasar untuk menguji mereka. Kita melihat kegagalan kasih itu dalam ayat 3 di Injil Yohanes. “Kata Simon Petrus kepada mereka,” dan ia mengatakannya dengan tegas, “Aku mau pergi menangkap ikan.” Saya percaya maksudnya adalah, “Aku mau kembali ke pekerjaan lamaku.” Ia sudah diberi perintah yang sederhana: “Tunggulah di gunung sampai Aku datang.” Tetapi ia tidak menaati perintah itu. Saya tidak tahu apa saja faktor rohani atau psikologis yang ada dalam pikirannya saat itu, tetapi kenyataannya ia tidak taat. Dan karena ia adalah seorang pemimpin, yang lain pun berkata, “Kami pergi juga dengan engkau.” Maka mereka semua meninggalkan gunung itu. Dalam sekejap, mereka mengabaikan perintah yang sangat jelas dan sederhana dari Yesus Kristus yang telah bangkit, yang bahkan sudah mereka lihat dua kali sebelumnya. Mereka tahu bahwa Dia hidup.
“Mereka berangkat lalu naik ke perahu,” demikian tertulis dalam Injil Yohanes. Teks Yunani memberi kesan bahwa mungkin itu adalah perahu yang dulu pernah dipakai Petrus sendiri untuk menangkap ikan. Artinya, ia benar-benar kembali ke pekerjaan lamanya. Di sinilah kita melihat kegagalan kasihnya. Semua kata-kata yang diucapkan sebelumnya menjadi tidak berarti. Ketika diberikan perintah yang sederhana, sebuah prioritas yang jelas—“Lakukan ini karena Aku memintanya”—ia tidak mampu memegangnya. Ia meninggalkannya, dan kasihnya seakan langsung runtuh. Ketidaktaatannya terhadap sebuah perintah yang sederhana.
Nah, saya ingin menyampaikan satu hal yang sangat jelas: kasih itu gagal ketika kita tidak taat. Saya tidak peduli seberapa besar perasaan yang Anda rasakan. Saya tidak peduli seberapa kuat emosi Anda terhadap Yesus. Saya tidak peduli berapa banyak air mata yang Anda teteskan, atau lagu-lagu tertentu yang membuat Anda terharu. Perasaan bukanlah inti persoalannya. Kasih Anda gagal ketika Anda tidak taat, sesederhana itu. Karena pada akhirnya, itulah selalu ujian yang sesungguhnya.
Yesus Kristus mengatakan hal ini dalam Yohanes 14:21 di Injil Yohanes, “Jika kamu mengasihi Aku, kamu akan…” apa? “…menuruti perintah-Ku.” Jadi, kasih itu gagal. Dan tentu saja, mereka menangkap ikan sepanjang malam dan hasilnya apa? Tidak ada, sama sekali tidak ada. Tuhan yang memegang kendali atas hal itu. Mereka tidak mendapatkan apa pun. Anda bisa membayangkan Petrus berkata kepada mereka, “Aku mungkin tidak terlalu mengerti soal penginjilan, aku juga tidak terlalu paham soal pemberitaan Kerajaan Allah, tapi ada satu hal yang aku tahu bisa aku lakukan, dan aku akan melakukannya.” Namun justru satu hal itu yang tidak bisa ia lakukan malam itu—menangkap ikan. Seumur hidupnya ia adalah nelayan. Ia pasti tahu di mana ikan berada di Danau Galilea. Ia mungkin sangat memahami pergerakan ikan pada musim tertentu dan waktu tertentu dalam sehari. Tetapi sekarang, ia tidak bisa menangkap satu pun.
Anda lihat disini, hal yang ia pikir bisa ia lakukan, ternyata tidak bisa lagi ia lakukan, karena Allah sudah meletakkan tangan-Nya atas hidupnya dan memegang kendali. Di sinilah pelajaran itu dimulai. Jadi kita melihat kegagalan kasih, tetapi syukurlah kita juga melihat pemulihan kasih. Ini penting untuk kita ketahui, karena kita semua pernah gagal. Kita semua pernah berkata, “Oh, saya mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, pikiran, dan kekuatan kita. Saya sungguh mengasihi Tuhan Yesus Kristus.” Kita mungkin menyanyikan lagu-lagu itu dengan penuh perasaan, bahkan dengan emosi yang dalam. Namun pada kenyataannya, kita sering gagal, karena prioritas hidup kita menjadi kacau.
Maksud saya, ketika Anda membaca biografi rohani John Bunyan, Anda bisa merasa diri ini begitu dangkal—seperti orang percaya yang sangat ringan, hanya sedalam satu inci. Atau ketika Anda mendengar tentang dedikasi dan tingkat komitmen seorang misionaris, yang hidupnya benar-benar terkuras—bukan terkuras dalam arti tujuan, tetapi terkuras secara fisik sampai akhirnya meninggal. Atau ketika Anda mendengar tentang kemartiran begitu banyak orang, hanya Tuhan yang tahu berapa ribu jumlahnya, dalam revolusi di Tiongkok, Anda mulai bertanya-tanya seperti apa sebenarnya tingkat komitmen Anda, ketika untuk melakukan hal-hal yang sangat sederhana saja kita sering tidak mampu melakukannya dengan baik.
Saya rasa ini seumpama Tuhan memberi mereka suatu ujian yang sederhana terlebih dahulu, supaya nanti mereka bisa menghadapi ujian yang lebih berat. Di sini Dia hanya berkata, “Pergi dan tinggal di gunung untuk sementara waktu.” Nanti Dia akan berkata, “Pergi dan mati disalibkan bagi-Ku.” Tapi kita semua pernah gagal, dan kabar baiknya adalah ada pemulihan kasih. Perhatikan ayat 5. Dalam ayat 4 di Injil Yohanes dikatakan, “Ketika hari mulai siang, Yesus berdiri di pantai; akan tetapi murid-murid itu tidak tahu bahwa itu adalah Yesus.” Menariknya, setelah kebangkitan-Nya, mereka tidak pernah langsung mengenali Dia kecuali Dia sendiri yang menyatakan diri-Nya kepada mereka. Ada semacam perubahan dalam diri-Nya. Ada kemuliaan yang Dia miliki setelah kebangkitan, sehingga identitas-Nya seperti terselubung sampai Dia menyatakannya kepada mereka. Karena itu, mereka tidak dapat mengenali-Nya hanya dengan melihat, walaupun jaraknya hanya sekitar seratus meter dari pantai. Jarak itu juga mungkin menjadi salah satu alasan mengapa mereka tidak dapat mengenali-Nya dengan jelas.
Lalu Yesus kepada mereka, “Hai anak-anak, apakah kamu punya ikan?” Maksudnya, “Apakah kamu mendapat sesuatu?” Padahal Dia sudah tahu jawabannya. Dan mereka menjawab, “Tidak.” Mungkin dengan nada yang agak tertahan. Kemudian Dia berkata, “Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka kamu akan mendapatnya.” Lalu mereka menebarkannya, dan mereka tidak sanggup lagi menariknya karena banyaknya ikan. Karena itu murid yang dikasihi Yesus—siapa itu? Itu adalah Yohanes—berkata… ya, memang, kalau bisa menyebut diri sebagai “murid yang dikasihi Yesus,” kenapa harus pakai nama biasa saja? Saya bisa mengerti itu.
Jadi ia berkata, “Lalu murid yang dikasihi Yesus itu berkata kepada Petrus, ‘Itu Tuhan.’” Bagaimana ia bisa tahu? Siapa lagi yang menguasai ikan-ikan itu? Siapa lagi yang bisa berkata, “Tebarkan jalamu di sebelah kanan perahu; semuanya ada di sana”?
“Ketika Petrus mendengar bahwa itu adalah Tuhan, maka ia mengenakan pakaianny,” karena sebelumnya ia hanya memakai kain sederhana, “lalu terjun ke dalam danau.” Ia bahkan tidak memikirkan apa yang akan terjadi. Ia hanya tahu satu hal: ia harus segera kembali kepada Tuhan. Ia benar-benar terburu-buru untuk mengalami pemulihan kasih, bukan? Sementara itu, murid-murid yang lain masih di perahu, berusaha membawa jala penuh ikan itu ke darat. Petrus sudah jauh lebih dulu. Mereka menyeret perahu bersama jala dan ikan-ikan itu. “Ketika mereka tiba di darat,” tertulis dalam Injil Yohanes, “mereka melihat api arang dan di atasnya ikan dan roti. Kata Yesus kepada mereka, ‘Bawalah beberapa ikan, yang baru kamu tangkap itu.’” Simon Petrus naik ke perahu lalu menarik jala itu ke darat, penuh ikan-ikan besar. Entahlah, ia pasti orang yang sangat kuat. Ia memegang jala itu dan menarik semuanya—153 ekor ikan besar.
Ada begitu banyak ikan, tetapi jala itu tidak koyak. “Lalu Yesus Kristus berkata kepada mereka, ‘Marilah dan sarapanlah.’ Tidak ada di antara murid-murid itu yang berani bertanya kepada-Nya, ‘Siapakah Engkau?’ Sebab mereka tahu bahwa Ia adalah Tuhan.” Inilah pemulihan kasih, dan inilah kabar yang menguatkan. Dengarkan baik-baik: tidak peduli seberapa besar kasih saya pernah gagal, tidak peduli seberapa besar kasih Anda pernah gagal, selalu ada pemulihan. Saya ingin Anda memperhatikan satu hal dari bagian ini. Banyak hal yang bisa kita bahas, tetapi satu ini penting: pemulihan itu dimulai oleh Sang Juruselamat yang telah disakiti. Anda mengerti? Justru Dia yang tersakiti yang mengambil inisiatif untuk memulihkan hubungan itu. Dan memang, akan selalu seperti itu.
Saya khawatir kadang-kadang orang Kristen yang sadar bahwa mereka telah gagal mengasihi seperti seharusnya, justru menjauh dari Tuhan. Mereka merasa cemas atau malu untuk kembali. Padahal yang perlu mereka sadari adalah bahwa Dia sangat rindu untuk mereka kembali. Dan ketika mereka sampai di “pantai”, Dia tidak membawa cambuk untuk menghukum mereka; Dia sudah menyiapkan sarapan bagi mereka. Anda mengerti? Itulah hati dari kasih Sang Juruselamat yang memulihkan.
Jadi kita melihat kegagalan kasih, lalu kita juga melihat pemulihan kasih. Dan saya bersyukur untuk itu, karena sering kali saya sendiri berada “di danau” itu ketika seharusnya saya ada “di gunung.” Saya selalu bersyukur ketika saya sampai di “pantai,” dan Dia tidak datang dengan cambuk. Dia datang dengan sarapan. Dia datang untuk makan bersama saya. Begitulah hati Dia yang memulihkan. Seperti yang dikatakan dalam Kitab Yeremia 31:3, “Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal.” Tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus. Bahkan ketidaktaatan kita sendiri. Bahkan kurangnya kasih kita dari waktu ke waktu tidak dapat membatalkan kasih-Nya, yang tidak pernah berakhir, dan yang terus menjangkau kita untuk membawa kita kembali, dan kembali, dan kembali lagi.
Saya bersyukur melihat kerelaan Petrus. Ia langsung terjun dan berenang. Ia ingin segera membereskan semuanya. Ia tahu. Hatinya langsung tersentuh begitu ia sadar bahwa itu adalah Yesus Kristus. Ia tahu bahwa ia tidak seharusnya berada di danau, karena ia seharusnya ada di gunung. Ia tahu bahwa ia telah melenceng. Tetapi alasan mengapa ia menjadi begitu berguna adalah karena secepat ia gagal, bahkan lebih cepat lagi ia kembali dipulihkan. Ketika Anda melihat hidup Anda sendiri, ingatlah ini: bukan berarti Anda tidak pernah gagal yang membuat Anda berguna bagi Allah. Tetapi ketika Anda gagal, Anda segera bergegas untuk dipulihkan. Itulah yang membuat perbedaan.
Yang perlu diwaspadai adalah ketika kita gagal, lalu terus gagal, dan akhirnya menjadi terbiasa dengan kegagalan itu. Ketika kita tidak lagi rindu untuk dipulihkan menjadi seperti yang Tuhan kehendaki, dan kita merasa nyaman dengan kekristenan yang dangkal—yang menghindari prioritas-prioritas utama dari Kerajaan Allah—dan di situlah seharusnya kita mulai khawatir. Karena di titik itu, Tuhan tidak banyak dapat memakai kita. Masalahnya bukan karena kita tidak pernah gagal. Tetapi bagaimana kita meresponi kegagalan itu—apakah kita akan segera kembali, bergegas menuju tempat di mana berkat Tuhan dinyatakan.
Jadi kita melihat kegagalan kasih, lalu pemulihan kasih, dan sekarang tuntutan dari kasih itu. Mereka sedang sarapan bersama. Dalam ayat 13 di Injil Yohanes ini, Yesus Kristus datang, mengambil roti dan ikan, dan memberikannya kepada mereka. Dia bukan hanya menyiapkan makanan, tetapi juga melayani mereka. Bukankah itu luar biasa? Dia melayani mereka. Dia tidak duduk lalu berkata, “Aku ini Raja, dan kamu sudah tidak taat kepada-Ku. Sekarang sujudlah di hadapan-Ku.” Tidak seperti itu. Ada keindahan yang begitu dalam di sini. Dia bukan hanya membuatkan sarapan—dan tentu saja, kalau Tuhan yang membuat sarapan, itu pasti luar biasa—tetapi Dia juga melayani mereka. Mereka berkumpul di sekeliling-Nya, dan bukannya Dia menuntut mereka untuk melayani-Nya, justru Dia yang melayani murid-murid yang kurang mengasihi dan yang sudah tidak taat itu. Hal ini membuat hati saya bersukacita, karena sesering saya gagal mengasihi Dia, sesering itu pula Dia tidak pernah gagal mengasihi saya. Bahkan ketika saya kembali, Dia tetap melayani saya.
“Itulah ketiga kalinya Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya sesudah Ia dibangkitkan dari antara orang mati,” demikian tertulis dalam ayat 14 di Injil Yohanes. Sekarang kita masuk pada tuntutan kasih itu, yang terlihat dalam bagian yang sangat dikenal ini, ayat 15. “Sesudah sarapan…” Kata yang dipakai dalam versi King James memang berarti sarapan. “Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus, ‘Simon, anak Yohanes.’” Ia memanggilnya dengan nama lamanya, karena ia sedang bertindak seperti dirinya yang lama. “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” Di sini digunakan kata agapaō, yaitu kasih yang paling tinggi, kasih dengan pengabdian yang paling besar. “Apakah engkau mengasihi Aku dengan kasih yang tertinggi, lebih dari semua ini?”
Anda ingat, Petrus pernah berkata, “Sekalipun semua orang meninggalkan Engkau, aku tidak akan pernah meninggalkan Engkau.” Mungkin di sini Tuhan sedang berkata, “Benarkah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka semua mengasihi Aku?” Atau bisa juga “semua ini” menunjuk pada perahu, jala, laut, ikan—semua hal yang Petrus kenal sejak lama, yang merupakan bagian dari hidupnya. Bukan sesuatu yang jahat, bukan. Hanya saja, itu bukan panggilan yang Tuhan berikan kepadanya. Seolah-olah Tuhan bertanya, “Apakah engkau benar-benar mengasihi Aku lebih daripada engkau mengasihi jalanmu sendiri, hidupmu sendiri, kepuasanmu sendiri, keinginanmu sendiri, dan kesenanganmu sendiri?”
Maksudnya, kembali menangkap ikan itu mudah. Tetapi memberitakan Kerajaan Allah itu tidak mudah. Anda bisa kehilangan nyawa Anda. Menangkap ikan itu mudah. Seolah-olah Yesus Kristus berkata, “Apakah engkau benar-benar mengasihi Aku melebihi semua ini?” Lalu Simon Petrus menjawab dalam ayat 15 di Injil Yohanes, “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Tetapi sebenarnya kata yang ia pakai bukan agapaō, melainkan phileō—lebih seperti, “Aku sangat menyukai Engkau.” Petrus tahu ia tidak bisa berkata, “Ya, Tuhan, aku mengasihi Engkau dengan kasih yang tertinggi.” Jika ia berkata demikian, Tuhan bisa saja menegurnya, “Bagaimana engkau bisa mengatakan itu, padahal engkau baru saja tidak taat?” Jadi Petrus sadar, ia tidak bisa mengklaim hal itu, baik di hadapan Tuhan maupun di hadapan yang lain. Karena itu ia berkata dengan lebih rendah hati, “Tuhan, Engkau tahu aku sangat mengasihi Engkau.” Lalu Tuhan berkata kepadanya, “Jika demikian, gembalakanlah anak-anak domba-Ku.” Bukan lagi menangkap ikan, tetapi memberi makan domba. Engkau bukan lagi nelayan, tetapi gembala. Bukan lagi menangkap ikan secara jasmani, tetapi memelihara jiwa-jiwa secara rohani.
Dengan kata lain, jika Anda berkata bahwa Anda mengasihi Tuhan, maka biarlah itu terlihat dalam prioritas hidup Anda. Apa yang Anda lakukan dengan waktu Anda? Untuk hal apa Anda menggunakan uang Anda? Untuk hal apa Anda menghabiskan tenaga dalam tubuh Anda? Apa yang Anda pikirkan dan rencanakan? Di mana sebenarnya prioritas Anda? Jika Anda benar-benar mengasihi Tuhan, maka “gembalakanlah anak-anak domba-Nya.” Kemudian Tuhan berkata lagi untuk kedua kalinya kepada Simon Petrus dalam Injil Yohanes, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?”—mengasihi dengan kasih yang tertinggi, kasih agapaō. Petrus kembali menjawab, “Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau,” tetapi sekali lagi ia memakai kata yang lebih rendah, seolah berkata, “Aku sangat menyukai Engkau.” Ia menjawab dengan cara yang sama seperti sebelumnya.
Lalu Dia berkata, “Gembalakanlah domba-domba-Ku. Peliharalah domba-domba-Ku.” Perintah pertama dan ketiga lebih menekankan memberi makan, sedangkan yang di tengah menekankan untuk menggembalakan—memelihara kawanan-Nya. Intinya, jangan lagi sibuk memikirkan ikan. Uruslah domba-domba-Ku. Tetaplah berada dalam pekerjaan Kerajaan Allah. Jaga agar prioritasmu tetap jelas. Apa yang Yesus Kristus katakan di sini adalah, “Jika kamu sungguh mengasihi Aku, maka tunjukkan itu dengan mengasihi Aku dengan segenap hatimu, jiwamu, pikiranmu, dan kekuatanmu, dan arahkan seluruh energimu kepada hal yang paling utama dalam tujuan-Ku.”
Kemudian untuk ketiga kalinya Ia bertanya, dan saya percaya Dia melakukannya tiga kali karena Petrus telah menyangkal Kristus berapa kali? Tiga kali. Jadi seolah-olah Dia memberi satu kesempatan untuk setiap penyangkalan itu. “Simon, anak Yohanes,” dan perhatikan ini, Dia berkata, “Apakah engkau sungguh mengasihi Aku?”—kali ini Dia turun memakai kata yang dipakai Petrus, phileō, seakan berkata, “Apakah engkau benar-benar bahkan sekadar menyukai Aku seperti itu?” Petrus sebelumnya tidak bisa berkata, “Aku mengasihi-Mu dengan kasih yang tertinggi,” tetapi ia merasa masih bisa berkata, “Aku sangat mengasihi Engkau.” Namun sekarang Tuhan seolah berkata, “Aku bahkan mempertanyakan apakah engkau benar-benar mengasihi Aku seperti itu.” Maka Petrus menjadi sedih, seperti tertulis dalam Injil Yohanes, karena untuk ketiga kalinya Ia bertanya, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Ia bukan sedih karena ditanya tiga kali, tetapi karena pada pertanyaan yang ketiga itu, Tuhan mempertanyakan tingkat kasih yang menurut Petrus masih bisa ia klaim.
Ia berkata, “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu. Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Lalu Yesus berkata, “Lakukan ini: peliharalah domba-domba-Ku.” Ujian kasih itu bukan perasaan. Bukan soal emosi. Bukan soal merinding secara rohani ketika menyanyikan lagu-lagu tertentu. Bukan sekadar memiliki perasaan hangat terhadap Yesus. Ujian dari kasih kita kepada Kristus adalah apakah prioritas hidup kita bersifat rohani atau jasmani, surgawi atau duniawi. Apakah kita sibuk “menangkap ikan”—hal-hal yang kita nikmati, yang kita kuasai, yang bersifat duniawi—atau kita hidup untuk “menggembalakan domba,” yaitu hal-hal yang memiliki dimensi rohani.
Tuntutan dari kasih adalah ketaatan. Sekarang, saya ingin menutup bagian ini dengan satu pendekatan yang mungkin bisa menolong Anda, seperti juga pernah menolong saya dalam pertumbuhan rohani saya. Dulu saya sering berpikir bahwa ada orang-orang tertentu yang mengasihi Allah dan mengasihi Kristus dengan cara yang terasa sangat jauh, bahkan hampir seperti mistis. Pernah Anda merasa seperti itu? Mungkin ada di antara Anda yang berpikir seperti itu tentang saya, atau tentang pendeta lain, atau pemimpin rohani, atau para misionaris—seolah-olah mereka berada di tingkat yang berbeda. Seolah-olah mereka ada di level lain, di suatu dimensi rohani yang belum Anda pahami.
Saya ingat waktu masih kecil, saya sering membaca tulisan para mistikus, dan mereka mengasihi Allah dengan cara yang terasa sangat aneh dan mistis. Dulu saya berpikir bahwa pasti ada sesuatu yang terjadi dalam hidup seseorang yang membuatnya tiba-tiba naik ke level itu. Seolah-olah ada lompatan rohani—semacam “loncatan kudus.” Tiba-tiba saja, seperti meloncat ke tingkat yang lebih tinggi. Saya sering pergi ke kebaktian atau pertemuan rohani, dan ada orang yang mencurahkan hatinya tentang penyerahan diri atau dedikasi. Ia benar-benar mendorong apa yang oleh para teolog disebut “triumfalisme,” atau yang saya sebut sebagai “loncatan kudus” tadi. Seolah-olah ada satu lompatan besar, dan tiba-tiba Anda sudah berada di tingkatan rohani yang baru. Orang-orang berkata, “Itu bisa terjadi kalau kamu memahami hidup yang lebih dalam, atau mengalami berkat kedua, atau menerima baptisan Roh, atau berbicara dalam bahasa roh, atau ketika seluruh hidupmu diletakkan di atas mezbah.” Lalu seolah-olah Anda melakukan lompatan besar itu.
Saya ingin Anda tahu, hal itu dulu membuat saya frustrasi, karena saya tidak bisa melakukannya. Saya tidak bisa “meloncat” ke level itu. Saya melihat orang-orang mencoba melompat, tetapi kemudian saya lihat lagi, mereka kembali seperti semula. Saya jadi bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi. Saya pikir, kalau bisa melompat naik, mungkin juga bisa jatuh kembali. Gagasan bahwa ada suatu wilayah rohani yang mistis, tempat “orang Kristen super” hidup dengan kemampuan luar biasa untuk mengasihi—itu sebenarnya tidak benar. Itu hanyalah sesuatu yang berlebihan. Yang ada hanyalah pertumbuhan yang bertahap menuju keserupaan dengan Kristus, yang terjadi melalui ketaatan setiap hari. Tidak ada yang namanya “loncatan rohani.”
Memang, bisa saja ada momen-momen penting dalam hidup kita. Ada saat-saat di mana kita memahami kebenaran firman Tuhan dengan lebih dalam; ada saat kita melepaskan dosa yang sudah lama kita pegang; ada saat kita mengambil keputusan untuk setia, dan kita memilih dengan sadar untuk melakukannya. Tetapi itu tidak langsung melontarkan kita ke dimensi rohani yang baru. Itu hanyalah satu langkah dalam proses—mungkin langkah yang lebih besar dibandingkan langkah lainnya, tetapi tetap saja bagian dari proses pertumbuhan. Saya baru menyadari hal ini ketika saya melihat bahwa saya terus bertumbuh dalam mengasihi Tuhan Yesus—semakin hari semakin dalam. Di situlah intinya. Itulah kuncinya. Dan itu terjadi melalui ketaatan. Itulah tuntutan dari kasih, bukan sesuatu yang mistis.
Harga dari kasih itu, seperti yang Dia katakan dalam ayat 18 dan 19 di Injil Yohanes, adalah bahwa “engkau akan mati.” Artinya, itu bisa menuntut nyawa Anda. Harga dari kasih adalah segalanya. Jadi di sini kita melihat kegagalan kasih, pemulihan kasih, tuntutan kasih, dan harga dari kasih. Dan setelah semua itu disampaikan, pada akhirnya Dia berkata kepada Simon Petrus, “Ikutlah Aku.” Dia mengatakannya lagi, “Ikutlah Aku.”
Anda lihat, pada akhirnya, seperti yang saya katakan, semuanya kembali kepada ketaatan. Ketaatan yang menyenangkan hati Tuhan. Dia ingin umat-Nya mengasihi Dia. Seperti seorang anak kecil yang sedang memeluk bonekanya, lalu masuk dan memeluk ibunya dengan erat. Ibunya bertanya, “Ada apa?” Anak itu menjawab, “Tidak ada apa-apa. Aku sudah lama mengasihi bonekaku, tapi dia tidak membalas kasihku. Jadi aku datang untuk mengasihimu, karena ibu mengasihi aku kembali.”
Saya rasa ada satu hal yang perlu kita pahami: Allah yang mencurahkan kasih-Nya yang begitu besar kepada kita, juga menghendaki agar kita mengasihi Dia kembali. Namun dalam banyak hal, di dalam kehidupan gereja, kita telah kehilangan kasih itu—kasih yang utuh, yang melibatkan seluruh hati dan pikiran. Prioritas kita menjadi kacau. Karena itu, ketika kita datang ke meja perjamuan Tuhan, marilah kita datang dengan mengakui kegagalan kita dalam mengasihi, mencari pemulihan, dan berkomitmen kembali untuk hidup dalam ketaatan—apa pun harganya.
SELESAI
This article is also available and sold as a booklet.
