Salah satu pertanyaan yang paling sering ditanyakan orang, dan ini juga beberapa kali disampaikan kepada saya untuk dibahas, adalah pertanyaan: “Bagaimana saya bisa mengetahui kehendak Tuhan dalam hidup saya?” Saya ingat ketika masih menjadi mahasiswa, saya sangat aktif dalam olahraga. Saya bermain sepak bola, basket, baseball, dan berbagai hal lainnya. Biasanya, para atlet mendapat cukup banyak perhatian. Karena saya seorang Kristen, saya mulai diminta untuk datang dan berbicara. Jadi sebagai mahasiswa, saya mulai berbicara di sana-sini. Itu bisa dibilang pengalaman pertama saya sebagai seorang pengkhotbah. Dalam proses itu, saya menyadari bahwa orang-orang selalu menanyakan hal yang sama: “Bagaimana saya bisa mengetahui kehendak Tuhan dalam hidup saya?” Karena itu, sejak awal saya mulai mempelajari hal tersebut, mencoba memahami pola dari Kitab Suci tentang bagaimana mengetahui kehendak Allah.
Sejak awal pelayanan saya dalam berkhotbah, hal itu menjadi salah satu bagian penting dari isi yang saya sampaikan ketika berbicara kepada kelompok anak muda, sesuatu yang cukup rutin saya lakukan. Selama beberapa tahun, mungkin sekitar tiga tahun, saya berkhotbah sekitar 30 sampai 40 kali setiap bulan di berbagai tempat di seluruh negeri, khusus untuk pemuda. Salah satu topik utama yang hampir selalu diminta untuk saya bahas adalah tentang bagaimana mengetahui kehendak Tuhan. Pada masa itu juga, saya sempat datang ke Institut Alkitab Moody. Phil Johnson pernah mengingatkan saya tentang hal ini, bahkan beberapa kali. Dia adalah seorang mahasiswa di sana ketika saya datang untuk berbicara. Dia berkata kepada seseorang, mungkin kepada Darlene, meskipun saat itu mereka belum menikah, “Saya dengar ada seorang bernama MacArthur yang akan datang. Dia akan membahas apa?”
Saya sudah memberi tahu mereka bahwa saya akan berbicara tentang kehendak Tuhan, dan Phil berkata, “Apa dia tidak tahu bahwa semua orang yang datang ke sini juga berbicara tentang kehendak Tuhan? Itu saja yang selalu kami dengar di kapel. Kenapa dia pikir dia bisa mengatakan sesuatu yang belum pernah dikatakan sebelumnya?” Waktu itu, saya tidak tahu bahwa semua orang juga membahas topik itu, tapi saya tahu bahwa itu adalah hal yang penting. Phil juga mengatakan bahwa meskipun dia sebenarnya tidak ingin mendengarkan saya dan tidak ingin mendengar lagi khotbah tentang kehendak Tuhan, dia tetap ingin duduk di sebelah Darlene. Jadi karena motivasi yang kurang tepat itu, dia akhirnya tetap datang ke kapel. Dia sering mengingatkan saya bahwa saya memang berkhotbah tentang kehendak Tuhan hari itu. Saya sendiri tidak tahu dampaknya bagi orang lain, tapi Phil terus mengikuti pelayanan saya sejak saat itu. Jadi saya pikir memang itu adalah kehendak Tuhan supaya dia mendengar pesan itu pada hari itu. Kita memang tidak pernah tahu ke mana arah kehendak Tuhan akan membawa kita.
Nah, inilah pertanyaan yang terus ada sepanjang waktu. Anak-anak muda sering menanyakannya, dan bukan hanya mereka, tetapi pertanyaan ini terus muncul berulang kali sepanjang perjalanan hidup kita sebagai orang Kristen. Ke mana saya harus sekolah? Siapa yang harus saya nikahi? Apa jalur karier saya? Apakah saya harus mengambil pekerjaan ini atau yang itu, kesempatan ini atau yang itu? Apakah saya harus membeli ini, menjual itu, atau melakukan ini terhadap anak-anak saya? Apakah saya harus menyekolahkan mereka di rumah, atau memasukkan mereka ke sekolah Kristen? Ada begitu banyak keputusan yang terus diambil orang sepanjang hidup mereka. Kapan saya akan pensiun, dan apa yang akan saya lakukan setelah itu, dan seterusnya, dan seterusnya? Jadi, ini bukan hanya soal keputusan-keputusan besar saja, tetapi juga hal-hal rutin yang kita hadapi setiap hari.
Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sangat kuat dan mendesak. Bagaimana saya bisa tahu apa yang Tuhan ingin saya lakukan? Masalahnya, ada banyak kebingungan tentang hal ini. Ada orang-orang yang berpikir bahwa Tuhan seolah-olah enggan memberitahukan kehendak-Nya kepada kita, seakan-akan Dia mendapatkan semacam kesenangan dengan menyembunyikannya. Jadi kita menjalani hidup seperti sedang ikut undian ilahi, berharap bisa mendapatkan tiket yang beruntung. Seolah-olah Tuhan membagikan kupon undian, dan mungkin punya kita berisi angka yang benar, dan mungkin juga tidak. Seakan-akan Tuhan senang karena hal itu hanya terbatas untuk segelintir orang saja. Padahal, tidak ada anggapan yang lebih keliru daripada itu.
Ada juga orang-orang yang berpikir bahwa kehendak Tuhan itu semacam pengalaman yang bersifat mistis atau di luar nalar. Seolah-olah Anda sedang berlari di jalan saat hujan, lalu terpeleset, jatuh, dan mendarat di selokan tepat di atas peta India, lalu itu dianggap sebagai panggilan ilahi. Akhirnya Anda langsung pergi mendaftar untuk jadi misionaris. Ada juga orang-orang yang menunggu suara. Mereka menunggu semacam suara dari dalam diri, atau bahkan suara dari luar yang memerintahkan mereka untuk melakukan sesuatu. Cara berpikir seperti ini sangat, sangat umum terjadi.
Minggu ini saya menerima sebuah email, email yang cukup menarik. Isinya adalah suatu tindakan yang indah, yang memberitahukan bahwa seseorang dengan murah hati telah memberikan satu salinan Alkitab Studi The MacArthur kepada setiap anggota Mahkamah Agung Amerika Serikat. Itu adalah hal yang luar biasa, dan saya sangat menghargainya. Orang yang mengirim email itu mengatakan bahwa mereka sangat bersemangat, karena orang yang melakukan hal tersebut berkata bahwa Tuhan menyuruhnya melakukannya, sehingga itu berarti dia sedang melakukan kehendak Tuhan. Pengirim email itu pun merasa sangat senang bahwa Tuhan telah mengatakan hal ini kepada orang tersebut. Saya tentu bersyukur mereka cukup murah hati untuk memberikan Alkitab kepada Mahkamah Agung, tetapi saya ragu bahwa Tuhan benar-benar mengatakan hal itu secara langsung kepada mereka. Mungkin saja ada dorongan yang kuat untuk melakukannya, atau perasaan yang kuat yang mereka tafsirkan sebagai suara Tuhan, tetapi sebenarnya tidak ada cara untuk memastikan hal itu. Tuhan tidak lagi menyatakan diri-Nya dengan suara yang bisa didengar. Kanon Kitab Suci sudah ditutup. Firman Tuhan sudah lengkap. Itu adalah iman yang sekali untuk selamanya telah disampaikan kepada orang-orang kudus. Sekarang, Tuhan berbicara kepada kita melalui Firman-Nya.
Apakah Tuhan memberi kita dorongan dalam hati? Apakah Dia mengarahkan kita? Ya, Dia melakukannya, tetapi kita tidak punya cara untuk memastikan hal itu dengan pasti. Saya tidak punya lampu merah di kepala saya—seperti yang pernah saya katakan sebelumnya—yang menyala kalau itu dari Tuhan dan mati kalau itu dari diri saya sendiri. Saya tidak punya cara seperti itu untuk mengetahuinya. Kita melakukan apa yang kita lakukan, dan mungkin setelahnya, barulah kita bisa melihat tangan Tuhan bekerja. Tetapi bagaimana kita bisa mengetahui kehendak Tuhan? Kita tidak bisa mengandalkan suara-suara di dalam kepala kita. Kita juga tidak bisa memastikan bahwa dorongan yang kita rasakan itu benar-benar berasal dari Tuhan. Kita pun tidak bisa menunggu suatu pengalaman besar atau spektakuler terjadi, baru kemudian merasa mendapat petunjuk.
Bagaimana kita bisa, setiap hari, secara rutin mengetahui kehendak Tuhan? Saya akan membawa kita ke tempat di mana kita harus mulai, yaitu Injil Matius pasal 6, Matius pasal 6. Pagi ini saya akan menyampaikannya dengan sangat praktis dan agak singkat, karena saya harus menyelesaikan semuanya dalam waktu sekitar 35 sampai 40 menit. Jadi akan berjalan cukup cepat. Di Matius pasal 6, Yesus sedang mengajar murid-murid-Nya tentang bagaimana berdoa. Ini adalah bagian yang sangat tidak asing. Dia berkata, “Berdoalah demikian…” ayat 9. Inilah yang Aku mau kamu doakan. Inilah pola doa yang rutin. Inilah doa sehari-hari. Berdoalah seperti ini: “Bapa kami yang di surga, dikuduskanlah nama-Mu. Datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga.”
Ini adalah soal pola pikir. Pola pikirnya adalah: saya peduli supaya nama Tuhan dihormati, saya peduli supaya kerajaan Tuhan semakin dinyatakan, dan saya peduli supaya kehendak Tuhan terjadi. Jadi kalau Anda ingin mengetahui kehendak Tuhan, di sinilah Anda mulai. Mulailah dengan mendoakannya. Anda ingin tahu kehendak Tuhan? Doakan itu. Berdoalah, “Jadilah kehendak-Mu di bumi.” Itu bukan hanya berarti dalam arti yang paling luas, seolah-olah Tuhan menggenapi kehendak-Nya atas seluruh waktu, kekekalan, dan ciptaan. Bukan hanya soal Tuhan menggenapi kehendak-Nya bagi gereja secara umum, atau bagi gereja lokal saya, atau kelompok orang yang sering saya temui, atau keluarga saya, atau pernikahan saya. Ini bersifat pribadi. Saya sedang berkata, “Tuhan, saya mau kehendak-Mu yang jadi.” Itulah pola pikir awal yang sangat penting untuk menempatkan seseorang di dalam kehendak Tuhan. Anda harus benar-benar menginginkan itu. Anda tidak akan sampai pada bagian, “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya, dan ampunilah kami akan kesalahan kami, dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan”—yang berbicara tentang kebutuhan pribadi kita—sebelum Anda terlebih dahulu melewati pintu ini, yaitu, “Jadilah kehendak-Mu.”
Sikap hati ini harus menjadi posisi kita setiap hari. Ini harus menjadi pola pikir kita. Kita ingin berada di tempat di mana kehendak Tuhan dinyatakan. Kita ingin kehendak Tuhan terjadi melalui hidup kita. Tentu saja, Tuhan Yesus memberikan teladan, hamba yang sempurna, yang ketika menghadapi situasi terburuk sekalipun—kematian yang menyakitkan di kayu salib, di tangan orang-orang yang kepada mereka Dia datang untuk memberitakan kebenaran, dan juga di dalam rencana Allah, Bapa-Nya sendiri—ketika menghadapi kematian yang menyakitkan itu, Dia berkata, “Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang jadi.”
Anda ingat, di taman itu Dia berkata, “Kalau ada cara supaya Aku bisa melewati salib ini, kalau ada cara supaya Aku tidak perlu meminum cawan ini, biarlah itu terjadi. Namun, bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu yang jadi.” Itulah pola pikir yang mendasar. Kalau Anda masih berpegang pada kehendak Anda sendiri, jalan Anda sendiri, rencana Anda sendiri, dan kepuasan Anda sendiri, maka sebenarnya sangat kecil, bahkan hampir tidak ada harapan untuk Anda bisa hidup dalam kehendak Tuhan. Jauh sebelum Dia sampai di taman itu, bahkan sejak awal dalam hidup-Nya, Tuhan Yesus sudah berkata, “Aku datang untuk melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku.” Rasul Paulus, yang mengikuti teladan Yesus dan juga menghadapi kemungkinan kematian, berkata, “Jadilah kehendak Tuhan.”
Menurut saya, itu harus menjadi pola pikir dasar yang mendasari setiap orang percaya. Mari kita lihat Surat Efesus 6:6, karena ada satu ungkapan di sana yang merangkum hal ini dengan sangat jelas. Di Efesus 6:6, di bagian akhir ayatnya, saya ingin mengambil ungkapan ini karena sifatnya cukup luas dan bisa diterapkan dalam berbagai situasi, tidak hanya terbatas pada konteks langsungnya. Ungkapan di akhir ayat itu adalah: “dengan segenap hati melakukan kehendak Allah.” Ini kembali mencerminkan sikap hati seperti yang dinyatakan dalam doa tadi: “Jadilah kehendak-Mu.” Melakukan kehendak Allah dengan segenap hati, bukan dengan terpaksa, bukan hanya secara lahiriah atau di permukaan saja, tetapi sungguh dari dalam hati. Di situlah kita harus mulai. Jadi kalau Anda ingin mengetahui kehendak Tuhan dalam hidup Anda, maka Anda harus menginginkan kehendak Tuhan lebih dari segalanya, apa pun itu bentuknya, apa pun yang mungkin terlibat di dalamnya. Dalam arti tertentu, ini berarti mematikan atau menyalibkan agenda pribadi, kehendak sendiri, keinginan sendiri, kerinduan, harapan, impian, rencana, dan ambisi kita. Di situlah titik awalnya. Saya bisa katakan dengan pasti, kalau Anda tidak memiliki komitmen dari hati untuk melakukan kehendak Tuhan, Anda tidak akan mengalami kepenuhannya dalam hidup Anda.
Rasul Paulus beberapa kali dalam tulisannya menggunakan ungkapan singkat “oleh kehendak Allah, oleh kehendak Allah.” Misalnya, di pasal pertama Surat Roma, kalau tidak salah ayat 10. Lalu di pasal 15 dia menggunakannya lagi. Surat Kolose 4:12 juga berbicara tentang “oleh kehendak Allah” atau “di dalam kehendak Allah.” Bahkan Rasul Petrus juga membahas hal ini. Dalam suratnya, 1 Petrus pasal 4, dia mengatakan bahwa kita harus hidup “menurut kehendak Allah dan bukan menurut keinginan daging.” Dalam hidup Anda ada dua hal yang saling bersaing. Yang satu adalah keinginan daging Anda sendiri—apa yang Anda mau, dengan cara Anda, waktu Anda, dan sesuai keinginan Anda. Yang satu lagi adalah kehendak Allah. Anda akan hidup mengikuti kehendak Allah atau mengikuti kehendak daging Anda sendiri.
Jadi ketika kita mulai berbicara tentang kehendak Tuhan, kita harus memulainya dari dasar itu. Apakah Anda bersedia melakukan kehendak Tuhan dengan segenap hati, apa pun yang terlibat di dalamnya, apa pun artinya? Di situlah Anda mulai melangkah untuk mengalami kehendak Tuhan. Selama Anda masih berpegang pada kehendak Anda sendiri, agenda Anda, rencana Anda, ambisi Anda, dan tujuan Anda, maka akan selalu ada konflik yang tidak akan menghasilkan kehendak Tuhan dalam hidup Anda.
Sekarang, izinkan saya mendefinisikan terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan kehendak Tuhan, supaya kita benar-benar jelas tentang apa yang sedang kita bicarakan. Kalau kita melihat konsep kehendak Tuhan secara menyeluruh, kita bisa membaginya menjadi tiga kategori. Yang pertama adalah kehendak tujuan, atau yang oleh para teolog sering disebut sebagai kehendak ketetapan. Inilah kehendak Tuhan yang terkait dengan rencana kekal-Nya. Hal ini disebutkan di beberapa bagian Alkitab. Saya beri satu contoh saja, Kitab Yeremia 51:29, yang mengatakan, “Sebab segala rencana TUHAN akan terlaksana.” Ada kehendak Tuhan yang merupakan tujuan-Nya, dan itu pasti digenapi. Itu bukan sesuatu yang hanya Dia inginkan tetapi tidak terjadi. Itu adalah apa yang Dia tetapkan, dan pasti terjadi.
Kehendak Tuhan yang seperti itu pada dasarnya dinyatakan dalam Surat Roma 8:28, “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Inilah yang disebut sebagai kehendak tujuan ilahi. Dia menetapkan untuk menciptakan manusia. Dia menetapkan untuk menebus manusia. Dia menetapkan untuk menyelamatkan mereka yang dipilih oleh Bapa. Dia menetapkan bangsa Israel sebagai bangsa yang menyampaikan hukum-Nya dan Injil-Nya. Dia menetapkan untuk sementara waktu membiarkan bangsa itu dalam ketidakpercayaan, tetapi suatu hari akan memulihkan dan menyelamatkan mereka. Dia menetapkan untuk mengutus Anak-Nya ke dalam dunia, untuk hidup, mati, bangkit kembali, naik ke sebelah kanan-Nya, lalu mengutus Roh Kudus dan mendirikan gereja. Dia juga menetapkan bahwa gereja akan pergi ke seluruh dunia untuk memberitakan Injil.
Dia menetapkan bahwa gereja akan menjadi kumpulan orang-orang tebusan yang suatu saat akan diangkat. Dia juga menetapkan akan ada masa yang disebut kesengsaraan besar, yang akan berakhir dengan kedatangan Kristus kembali, lalu didirikannya kerajaan seribu tahun, yang menjadi penggenapan semua janji kepada Abraham dan Daud. Pada akhirnya, akan ada penghancuran semua orang fasik dan kuasa jahat, dan kemudian didirikannya langit yang baru dan bumi yang baru, yaitu keadaan kekal. Seluruh rencana besar penebusan ini adalah kehendak tujuan Allah, dan setiap rencana Tuhan pasti akan terlaksana.
Untuk menunjukkan hal itu, mari kembali lagi ke Surat Efesus pasal 1, kalau tadi Anda masih di Efesus 6 yang baru saja saya sebutkan. Kalau belum, mari lihat Efesus 1, karena ini penting untuk kita perhatikan secara singkat. Dalam Efesus 1:9 kita menemukan ungkapan, “Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita.” Jadi ada kehendak Tuhan di sini, yaitu kehendak yang berkaitan dengan rencana dan tujuan kekal-Nya, yang sebelumnya merupakan rahasia, sebelum Dia menyatakannya. Sekarang Dia sudah menyatakannya kepada kita, dan inilah isinya: “sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus.” Jadi sekarang kita sedang melihat kehendak tujuan. Ini adalah kehendak Tuhan yang dulu tersembunyi, sekarang dinyatakan, yaitu bahwa Dia menetapkan untuk menyatakan kebaikan-Nya kepada kita di dalam Kristus. Dengan kata lain, ini adalah tujuan Tuhan untuk berbelas kasih kepada orang berdosa dan menebus kita melalui Kristus.
Ayat 10 mengatakan, “sebagai persiapan” atau pengaturan yang termasuk dalam suatu rancangan yang mencapai puncaknya pada “kegenapan waktu.” Apa maksudnya itu? Yaitu “untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di surga maupun yang di bumi.” Jadi itulah gambaran besarnya, yaitu maksud Tuhan yang sudah Dia tetapkan sebelum dunia dijadikan, di dalam Kristus, melalui seluruh rencana penebusan, sampai pada kepenuhan waktu, yaitu saat segala sesuatu dirangkum dan disatukan di dalam Kristus, dalam kemuliaan kerajaan seribu tahun dan langit serta bumi yang baru. Itulah yang disebut sebagai kehendak tujuan-Nya.
Kita juga mengambil bagian di dalamnya, ayat 11. “Di dalam Dialah kami diberi warisan — kita yang dari semula sudah dipilih-Nya.” Artinya, sejak awal Dia sudah merencanakan bahwa pada akhirnya kita akan menerima bagian itu, dan Dia melakukan semuanya itu, seperti dikatakan di ayat 11, “Sesuai dengan maksud Allah, yang mengerjakan segala sesuatu menurut keputusan kehendak-Nya.” Jadi di sini dikatakan setidaknya dalam tiga cara. Tuhan memiliki kehendak berupa tujuan kekal, dan Dia sedang menggenapinya. Ini menunjuk kepada rencana kekal-Nya.
Elemen kedua dari kehendak Tuhan adalah kehendak keinginan-Nya. Kita sebut saja kehendak keinginan. Pada yang pertama, yaitu kehendak tujuan, semua yang Tuhan tetapkan pasti terjadi persis seperti yang Dia kehendaki. Tetapi pada kategori kedua ini, yaitu kehendak keinginan, ada hal-hal yang Tuhan kehendaki tetapi tidak terjadi. Ini juga merupakan sesuatu yang misterius bagi kita. Bagian dari kehendak-Nya ini tidak dijelaskan sepenuhnya dalam Kitab Suci, tetapi ada hal-hal yang memang tidak menyenangkan hati Tuhan. Hal-hal itu tidak berkenan kepada-Nya. Misalnya, Tuhan berkata bahwa Dia tidak berkenan atas kematian orang fasik. Dia menghendaki Yerusalem diselamatkan, seperti tertulis dalam Injil Lukas 13:34, tetapi itu tidak terjadi. Dia juga tidak menghendaki seorang pun binasa, melainkan supaya semua orang datang kepada pertobatan. Ini adalah pembahasan yang terbatas untuk saat ini, dan nanti kita akan membicarakannya lebih lanjut.
Namun benar juga bahwa Tuhan berkata kepada Yerusalem, melalui perkataan Kristus, “Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, tetapi kamu tidak mau.” Dalam Perjanjian Lama, Tuhan berkata melalui nabi-Nya, “Mengapa kamu mau mati?” Dalam Perjanjian Baru, Yesus berkata, “Datanglah kepada-Ku, kamu semua yang letih lesu dan berbeban berat, dan Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Ketika Yerusalem tidak bertobat, Yesus pun menangis. Jadi kita melihat bahwa ada keinginan dari pihak Tuhan yang tidak terjadi. Tuhan tidak berkenan pada dosa, pada setiap tindakan dosa. Tuhan juga tidak berkenan pada kehidupan yang terus-menerus dalam dosa. Dan perhatikan ini, Dia juga tidak berkenan pada dosa yang kekal, yang pada dasarnya adalah gambaran dari neraka. Neraka adalah keadaan di mana makhluk, baik malaikat maupun manusia, hidup selamanya dalam kondisi berdosa dan dalam kebencian yang tetap terhadap Tuhan; tapi Tuhan tetap mengizinkannya terjadi. Di sinilah letak misterinya. Mengapa Dia mengizinkannya? Karena hal itu menyatakan kemuliaan-Nya. Ini menjadi cara bagi Tuhan untuk menyatakan sifat-Nya dalam murka dan penghakiman terhadap mereka yang menolak Injil.
Jadi ada kehendak tujuan-Nya, yang selalu terjadi. Ada kehendak keinginan-Nya, yang kadang tidak sejalan dengan apa yang sebenarnya menyenangkan hati-Nya. Tetapi yang sedang kita bicarakan sekarang adalah kategori yang ketiga, yaitu kehendak perintah Tuhan. Ini adalah bagian dari kehendak Tuhan dalam Kitab Suci yang berisi perintah-perintah yang Dia ingin umat-Nya taati. Dia menghendaki kita untuk menaati perintah-perintah itu, tetapi Dia juga memberi kita kebebasan untuk taat atau tidak taat. Inilah yang sedang kita bahas. Apa kehendak Tuhan bagi hidup saya? Bukan dalam arti rencana kekal-Nya, tetapi apa kehendak Tuhan bagi hidup saya sebagai milik-Nya, sebagai orang yang telah dipilih dan ditetapkan untuk menjadi milik-Nya? Apa kehendak-Nya bagi hidup saya? Itulah pertanyaannya: yaitu bagaimana saya harus hidup di dunia ini, sesuai dengan kehendak-Nya yang dinyatakan melalui perintah-perintah-Nya untuk kehidupan saat ini. Karena dalam kekekalan nanti tidak ada lagi perintah, yang ada hanyalah ketaatan sepenuhnya tanpa pilihan lain.
Apa yang Tuhan inginkan dari saya? Baik, saya akan menjelaskannya. Tapi sebelum itu, saya ingin menegaskan satu hal: Tuhan memang menginginkan sesuatu dari hidup Anda. Dia memiliki kehendak untuk hidup Anda. Kalau Dia punya kehendak untuk hidup Anda, maka masuk akal kalau Dia juga ingin Anda mengetahuinya. Anda setuju dengan itu? Setidaknya kita bisa melihat hubungan yang logis di sini. Tuhan memiliki kehendak bagi hidup Anda dalam arti kehendak perintah. Dia punya tujuan dan arah untuk hidup Anda di dunia ini, di sini dan sekarang. Dan kalau Dia punya kehendak, tentu Dia ingin Anda mengetahuinya. Kalau Dia ingin Anda mengetahuinya, maka sangat masuk akal bahwa Dia telah menyatakannya di tempat yang paling jelas. Lalu pertanyaannya, di mana kita harus mencarinya? Hanya ada satu tempat. Iman Kristen berpusat pada satu kitab, yaitu Alkitab, dan ke sanalah kita akan pergi.
“Ya,” mungkin Anda berkata, “tapi tunggu dulu. Tidak ada pasal tentang saya di sana. Tidak ada bagian yang secara langsung mengatakan siapa yang harus saya nikahi, ke mana saya harus pergi, atau apa yang harus saya lakukan.” Oh ya, Anda mungkin akan terkejut. Anda ada di sana. Anda ada di dalamnya. Memang bukan ‘1 Albert’ atau ‘3 Elizabeth,’ tapi itu ada, dan saya akan tunjukkan. Pertama-tama, pertanyaan pentingnya adalah ini: apakah Tuhan sudah menyatakan kehendak-Nya dalam Kitab Suci? Jawabannya: ya. Nah, kalau Dia sudah menyatakan kehendak-Nya di dalam Kitab Suci, tetapi Anda tidak melakukannya, lalu apa yang membuat Anda berpikir bahwa Anda bisa menuntut Tuhan untuk memberitahukan kehendak-Nya yang tidak dinyatakan di sana? Intinya di situ. Anda tidak punya harapan untuk mengetahui kehendak Tuhan secara spesifik yang tidak tertulis, kalau Anda belum menaati kehendak-Nya yang sudah jelas dinyatakan. Jadi kita mulai dari sana.
Kalau Anda mengikuti bersama kami melalui beberapa bagian ini, Anda mungkin akan melihat semacam kerangka sederhana. Saya sempat menuliskannya di beberapa catatan kaki dalam Alkitab Studi The MacArthur dengan harapan itu bisa membantu. Mari kita mulai dari hal pertama yang kita tahu sebagai kehendak Tuhan. Kehendak Tuhan adalah supaya Anda diselamatkan. Ya, kehendak Tuhan adalah supaya Anda diselamatkan. Kehendak Tuhan ini dinyatakan, seperti yang saya sebutkan sebelumnya, dalam 2 Petrus 3:9, dan saya ingin sedikit menjelaskan ayat ini. Di sini kita melihat kehendak Tuhan yang dinyatakan kepada mereka yang menjadi milik-Nya. Ayat 9 berkata, “Tuhan tidak lambat menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelambatan, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.”
Tuhan tidak menghendaki Anda binasa, tetapi supaya Anda datang kepada pertobatan. Tuhan menghendaki Anda diselamatkan. Ini adalah ayat yang sangat menarik, dan kita akan melihatnya secara singkat. Konteksnya adalah penghakiman. Lihat ayat 7. Di situ berbicara tentang langit dan bumi, bahwa “langit dan bumi yang sekarang terpelihara dari api dan disimpan untuk hari penghakiman dan kebinasaan orang-orang fasik.” Lalu di ayat 10 dikatakan, “Hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus oleh nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap.”
Jadi kita sedang berbicara tentang penghakiman terakhir, penghakiman yang final. Petrus memahami bahwa hal ini pasti akan datang, tetapi pertanyaannya adalah, mengapa Tuhan belum mendatangkan penghakiman itu sekarang? Mengapa Dia membiarkan segala sesuatu semakin lama semakin buruk? Mengapa Tuhan tidak segera bertindak? Kita melihat waktu terus berjalan, dan kita berpikir, “Sudah waktunya untuk mengakhiri semua penderitaan ini, mengakhiri dosa, mengakhiri penghinaan terhadap kekudusan-Mu. Tuhan, mengapa Engkau tidak bertindak? Waktu seakan-akan terus berjalan tanpa alasan.” Apakah Tuhan lambat? Secara harfiah, apakah Dia sedang menunda-nunda? Apakah Dia hanya membuang waktu? Apakah Dia lalai?
Kita diingatkan di ayat 8 bahwa Sang Pencipta ilahi atas alam semesta tidak bekerja berdasarkan waktu seperti kita. “Satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari.” Apa yang bagi kita terasa sangat lama, bagi Dia sebenarnya bukan waktu yang lama sama sekali. Jadi Dia tidak berjalan mengikuti jadwal, jam, atau kalender kita, dan itu perlu kita ingat. Fakta bahwa Tuhan belum menggenapi janji penghakiman, bahwa Dia belum datang untuk menghancurkan alam semesta, adalah karena Dia sabar terhadap Anda—atau seperti terjemahan lain mengatakan, “terhadap kita,” yang pada dasarnya sama. Artinya, Dia tidak menghendaki seorang pun dari milik-Nya binasa, tetapi Dia menunggu sampai semua yang telah dipilih datang kepada apa? Pertobatan.
Jadi alasan Tuhan belum mengakhiri dunia ini, alasan Dia belum datang dalam kuasa penghancuran, adalah karena belum semua milik-Nya diselamatkan. Kehendak Tuhan adalah supaya orang berdosa diselamatkan, dan Dia yang telah berjanji itu setia. Dia pasti akan menggenapi janji penghakiman-Nya, tetapi Dia dengan sabar menunggu sampai “yang mana pun” yang adalah milik-Nya—“Anda,” “kita,” dan “semua”—datang kepada pertobatan dan diselamatkan. Penundaan ini bukan karena Dia menunda-nunda tanpa tujuan, tetapi karena Dia dengan sabar menantikan keselamatan milik-Nya. Kehendak Tuhan adalah supaya Anda diselamatkan. Anda bahkan tidak bisa masuk ke dalam pengalaman hidup dalam kehendak Tuhan kalau Anda belum diselamatkan. Itu hanya berlaku bagi mereka yang sudah diselamatkan.
Izinkan saya mengatakan ini dengan sangat sederhana: kalau Anda bukan orang Kristen, kalau Anda belum diselamatkan, kalau Anda belum mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, belum bertobat dari dosa Anda dan menerima Dia, maka tidak ada kehendak Tuhan bagi Anda selain satu hal. Tuhan menetapkan bahwa Anda akan binasa dalam hukuman kekal. Itu saja. Hal-hal lainnya sebenarnya tidak ada artinya. Jadi kalau Anda belum diselamatkan, jangan bertanya, “Apa yang Tuhan inginkan untuk hidup saya?” Karena kalau Anda belum datang kepada iman di dalam Yesus Kristus, Anda bahkan belum mampu untuk mengetahui atau mengalami kehendak Tuhan yang diperuntukkan bagi mereka yang sudah diselamatkan.
Sekarang, mari lihat 1 Timotius 2:4. Ayat 3 memperkenalkan Tuhan sebagai Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran. Yang dimaksud di sini adalah semua yang menjadi milik-Nya, semua yang telah Dia pilih, semua yang telah Dia tetapkan untuk diselamatkan. Tuhan menghendaki mereka semua datang kepada-Nya. Seperti yang sudah saya katakan, Tuhan tidak berkenan atas kematian orang fasik. Dia membenci dosa. Dia juga membenci akibat dari dosa. Dia tidak menghendaki manusia terus hidup dalam kefasikan selamanya, dalam kebencian kekal terhadap-Nya di dalam neraka, tetapi Dia mengizinkan hal itu terjadi. Dalam Surat Roma dikatakan bahwa Dia “menaruh kesabaran yang besar terhadap bejana-bejana kemurkaan-Nya, yang telah disiapkan untuk kebinasaan.” Tapi Dia tetap menunggu untuk menggenapi kehendak-Nya, yaitu supaya semua yang menjadi milik-Nya datang kepada pengenalan akan kebenaran dan diselamatkan.
Hanya orang-orang yang diselamatkan, hanya mereka yang menerima Sang Juruselamat, hanya mereka yang melakukan kehendak Bapa—seperti yang dikatakan dalam Injil Matius 12 dan Injil Markus pasal 3—hanya mereka yang melakukan kehendak Bapa dengan percaya kepada Sang Anak yang memiliki kemampuan untuk mengenal kehendak Tuhan. Mereka yang melakukan kehendak Tuhan dengan percaya kepada Sang Anak dan menerima Dia, menurut 1 Yohanes 2:17, merekalah yang memiliki hidup yang kekal. Jadi itulah unsur pertama dari kehendak Tuhan. Kalau Anda ingin mengetahui kehendak Tuhan, maka Anda harus diselamatkan, menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.
Yang kedua, mari kita lihat Surat Efesus pasal 5. Inilah poin kedua tentang kehendak Tuhan. Kita sedang melihat apa saja kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan, dan nanti saya akan tunjukkan bagaimana caranya mengetahui bagian yang tidak secara spesifik tertulis, yang berlaku secara pribadi bagi hidup Anda. Bagian itu akan sangat menarik. Efesus 5 berkata, “Sebab itu janganlah kamu bodoh… tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.” Jadi kalau Anda tidak mengerti kehendak Tuhan, berarti apa? Ya, itu artinya Anda bodoh. Memang itu yang dikatakan di sana. Paulus berbicara dengan sangat langsung, tanpa berbasa-basi.
Sekarang Anda mungkin bertanya, “Jadi apa itu? Apa kehendak Tuhan itu?” Ini dia, ayat 18: “Janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh.” Sekarang saya beri sedikit konteksnya. Ini sebenarnya cukup ironis. Orang-orang percaya yang dulunya berasal dari latar belakang agama kafir pernah mengalami bentuk ibadah dalam agama-agama misteri Yunani. Dalam praktik ibadah itu, ada keyakinan bahwa kalau seseorang ingin bersekutu dengan para dewa, mereka bisa melakukannya melalui keadaan mabuk.
Itu sangat mirip dengan penyesatan pada era 1960-an melalui tokoh seperti Timothy Leary dan budaya narkoba yang mengajarkan bahwa jika Anda memakai obat-obatan, Anda akan mengalami kondisi “high,” dan kondisi itu dianggap sebagai pengalaman religius yang mengangkat Anda untuk bersekutu dengan dewa-dewa. Hal seperti ini sebenarnya diambil langsung dari praktik agama misteri Yunani, di mana orang-orang pergi ke kuil-kuil seperti kuil Bakhus. Saya sendiri pernah mengunjungi reruntuhannya di wilayah timur jauh dari Damaskus, tempat diadakannya pesta-pesta besar Bakhanalia. Di sana, mereka terlibat dalam ritual yang sangat rusak secara moral. Mereka masuk ke dalam kuil, lalu terlibat dengan para imam perempuan dalam pesta seks yang liar, kemudian makan dengan rakus. Bahkan disediakan lubang besar di tengah ruangan tempat mereka muntah, supaya bisa kembali makan lagi. Pada saat yang sama mereka juga minum anggur secara berlebihan. Semua tiang di tempat itu dihiasi dengan ukiran sulur-sulur dan buah anggur, sebagai perayaan bagi Bakhus, sang dewa kemabukan.
Jadi itulah cara mereka membawa diri ke dalam suatu keadaan—melalui pesta seks, kerakusan, dan kemabukan—di mana mereka merasa terangkat untuk bersekutu dengan dewa-dewa. Lalu Paulus datang dan berkata, “Salah! Kalau kamu melakukan itu, kamu tidak sedang naik, tetapi justru turun. Itu adalah kebinasaan.” Apa itu kebinasaan? Itu bisa diartikan sebagai kehancuran atau kerusakan. Itu adalah kebalikan dari peningkatan atau pengangkatan. Itu adalah sesuatu yang merusak. Kalau kamu ingin bersekutu dengan Tuhan, kalau kamu ingin naik, kalau kamu ingin memiliki persekutuan dengan-Nya, mengenal hati dan pikiran-Nya, maka jangan lakukan hal-hal itu. Lakukan ini: “Hendaklah kamu dipenuhi oleh Roh.”
Itulah yang menghasilkan persekutuan dengan Tuhan. Itulah yang menghasilkan kedekatan dengan Tuhan. Itulah yang membuat kita mengenal pikiran Tuhan. Semua orang Kristen memiliki Roh Kudus, seperti dikatakan dalam Surat Roma 8:9. Kalau Anda tidak memiliki Roh, Anda bukan orang Kristen. Tetapi kalau Anda orang Kristen, maka Anda memiliki Roh Kudus. Dalam 1 Korintus 6:19-20 dikatakan bahwa tubuh Anda adalah bait Roh Kudus. Dan dalam pasal 12:12-13 dikatakan bahwa kita semua telah diberi minum dari satu Roh yang sama. Jadi yang kita perlukan adalah dipenuhi oleh Roh Kudus. Ini sebenarnya menunjuk pada konsep dikendalikan sepenuhnya. Kata “dipenuhi” berasal dari kata Yunani plēroō. Saya beri sedikit gambaran tentang arti kata itu. Dipenuhi bukanlah sesuatu yang statis. Bukan seperti mengisi gelas sampai penuh. Arti ini lebih jelas terlihat kalau kita melihat bagaimana kata itu digunakan dalam beberapa ilustrasi di Injil. Saya rasa Anda akan melihatnya dengan lebih jelas.
Sebagai contoh, kata plēroō digunakan dalam Injil Yohanes 16:6, “hatimu berdukacita.” Ini berbicara tentang dukacita yang menguasai seseorang, dukacita yang mengambil kendali. Dalam Injil Lukas 6:11 dikatakan bahwa “Kemarahan mereka meluap.” Di Lukas 4:28, “Sangat marahlah semua orang.” Di Lukas 5:26, “Mereka sangat takut.” Dalam setiap kasus, kata ini menunjukkan suatu emosi yang mendominasi, bahkan sampai seseorang kehilangan keseimbangan dan kendali diri. Ketika kita mengatakan seseorang dipenuhi dengan dukacita, itu berarti dukacita tersebut sudah tidak lagi bisa diimbangi dengan sukacita yang biasanya membantu kita menjaga keseimbangan emosi.
Ketika kita mengatakan seseorang dipenuhi dengan kegilaan, itu berarti dia sudah kehilangan kendali sepenuhnya—langsung jatuh ke satu sisi tanpa keseimbangan. Ketika kita mengatakan seseorang dipenuhi dengan amarah, kita bilang dia sudah tidak bisa mengendalikan diri, emosinya meledak. Ketika kita mengatakan seseorang dipenuhi dengan ketakutan, kita mengerti bahwa dia sedang panik. Tidak ada lagi keseimbangan dalam kondisi emosinya. Pada dasarnya, dalam hidup ini selalu ada hal-hal yang membuat kita senang, dan ada juga hal-hal yang membuat kita sedih, dan keduanya selalu ada bersamaan. Kita biasanya berusaha menjaga keseimbangan di antara keduanya. Tetapi ketika kita mulai terlalu fokus pada hal-hal yang menyedihkan, maka keseimbangan itu mulai terganggu. Lalu kita mencoba menghibur diri dengan memikirkan hal-hal baik yang terjadi, supaya kita bisa kembali menyeimbangkan hidup kita.
Hal yang sama juga berlaku dengan kemarahan. Ada banyak hal yang bisa membuat Anda kesal dan marah. Tetapi lalu Anda mengingat hal-hal yang seharusnya Anda syukuri, dan Anda menjaga keseimbangan itu. Ada juga banyak hal yang bisa membuat Anda takut—gempa bumi, kebakaran, banjir, penembakan di jalan, kecelakaan mobil, kecelakaan pesawat, dan terus begitu, belum lagi penyakit seperti kanker dan gangguan jantung. Anda bisa saja menjalani hidup dalam kepanikan terus-menerus, tetapi Anda tidak melakukannya. Anda memikirkan anak-anak Anda. Anda memikirkan cucu-cucu Anda. Anda mencium aroma bunga. Anda menikmati makanan yang enak. Anda mencium orang yang kamu kasihi.
Anda menjaga keseimbangan hidup Anda … sampai suatu saat orang yang Anda kasihi meninggal, lalu Anda dipenuhi dengan dukacita. Atau suatu hari Anda masuk ke rumah Anda dan ada seseorang di sana dengan senjata, dan Anda menatap larasnya— Anda tidak bisa lagi menyeimbangkan rasa takut Anda. Atau Anda sedang berada di dalam pesawat dan semua mesinnya mati, dan Anda berkata, “Pesawat ini tidak bisa meluncur.” Jantung Anda seperti naik ke tenggorokan. Itulah arti kata “dipenuhi.” Itu berarti dikuasai. Tidak ada lagi keseimbangan. Sayangnya, banyak orang menjalani kehidupan Kristen seperti itu—berusaha menyeimbangkannya. Di satu sisi Roh Kudus, di sisi lain diri sendiri. Seolah-olah kita mencoba menjaga semuanya tetap seimbang. “Saya sudah pergi ke gereja beberapa kali bulan lalu. Hari Minggu saya ikut sampai selesai, tidak pulang duluan. Roh Kudus, pasti Engkau senang dengan itu. Saya membaca Alkitab dua kali bulan ini, dan saya melakukan beberapa hal baik. Di sisi lain, saya juga menyisakan beberapa hal untuk diri saya sendiri. Saya beri Engkau sedikit, dan saya ambil sedikit.”
Dengarkan, dipenuhi oleh Roh berarti diri Anda tidak lagi memegang kendali. Anda tidak lagi hidup berdasarkan kehendak Anda sendiri. Anda tidak lagi punya tujuan atau ambisi yang berasal dari diri Anda, selain yang berasal dari Roh Kudus. Itulah arti dipenuhi oleh Roh. Itu berarti dikuasai, dikendalikan sepenuhnya oleh Roh Kudus. Kendali total, di mana seluruh “timbangan” hidup Anda sepenuhnya condong kepada Roh Kudus.
Intinya adalah hidup sepenuhnya di bawah kendali Roh Kudus. Artinya sederhana: hidup Anda dikuasai oleh pikiran Roh. Lalu bagaimana itu bisa terjadi? Itu bukan pengalaman ekstatis. Bukan sesuatu yang seperti “awan rohani” turun ke dalam diri Anda lalu melakukan hal-hal tertentu. Dikuasai oleh kehendak Roh, dikuasai oleh pikiran Roh, berarti dikuasai oleh Kitab Suci. Saya tidak bisa menjelaskannya dengan lebih jelas dari itu. Ini bukan soal emosi yang meluap-luap, bukan sesuatu yang mistis atau di luar kesadaran. Dikuasai oleh Roh berarti Anda menaati Firman Tuhan, karena Firman Tuhan itu dinyatakan oleh Roh Kudus, bukan? Siapa penulis Kitab Suci? “Segala tulisan diilhamkan oleh Allah,” oleh napas Allah, yaitu Roh Allah. Orang-orang kudus di zaman dahulu digerakkan oleh Roh Kudus.
Tentu saja, dalam Surat Efesus pasal 5—kamu pasti tahu bagian ini—dikatakan, “Hendaklah kamu penuh dengan Roh,” lalu dijelaskan apa yang terjadi. “Kamu berkata-kata seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung pujian, dan nyanyian rohani, sambil bernyanyi dan bersorak di dalam hatimu bagi Tuhan.” Anda mulai memuji, dan terus memuji, karena ketika Anda dipenuhi oleh Roh, hidup Anda dikuasai oleh Roh Kudus. Lalu Anda juga mengucap syukur. Anda bersyukur atas segala sesuatu yang Anda terima melalui Tuhan Yesus Kristus. Anda mengucap syukur kepada Allah Bapa.
Lalu Anda saling merendahkan diri seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus. Jika Anda seorang istri, Anda tunduk kepada suami Anda. Jika Anda seorang suami, Anda mengasihi istri Anda. Jika Anda adalah seorang anak, seperti di pasal 6 ayat 1, Anda menaati orang tua Anda. Jika Anda adalah orang tua, Anda tidak membangkitkan amarah anak-anak Anda, tetapi membesarkan mereka dalam didikan dan nasihat Tuhan. Jika Anda seorang pekerja, Anda taat kepada atasan Anda, seperti di ayat 5. Jika Anda seorang atasan, seperti di ayat 9, Anda memperlakukan para pekerja Anda dengan baik. Semua hubungan dalam hidup dipengaruhi oleh hal ini.
Pertama-tama, Anda memuji Tuhan. Anda mengucap syukur kepada Tuhan. Anda saling merendahkan diri satu dengan yang lain. Anda menjadi seperti yang seharusnya sebagai istri, seperti yang seharusnya sebagai suami, seperti yang seharusnya sebagai anak, seperti yang seharusnya sebagai orang tua, dan bahkan di luar rumah, dalam hubungan sosial Anda, Anda menjadi seperti yang seharusnya. Hal ini memengaruhi setiap aspek kehidupan. Itulah artinya dipenuhi oleh Roh, seperti yang dijelaskan dalam Surat Efesus pasal 5.
Mari kita lihat Surat Kolose pasal 3. Saya ingin menunjukkan satu paralel di sini. Kolose 3:16. Kamu akan melihat hal yang sama: saling mengajar, saling menasihati, dengan mazmur, kidung pujian, dan nyanyian rohani. Kolose 3:16 berbicara tentang bernyanyi dan mengucap syukur dalam hati kepada Tuhan; persis seperti yang dikatakan dalam Surat Efesus pasal 5, sama persis. Ayat 18, istri tunduk kepada suami. Ayat 19, suami mengasihi istri. Ayat 20, anak-anak menaati orang tua. Ayat 21, orang tua tidak menyakiti hati anak-anak mereka. Lalu pekerja di ayat 22, dan atasan di pasal 4 ayat 1.
Semua itu menunjukkan kategori dan hasil yang sama, tapi hanya ada satu perbedaan. Perhatikan kembali ayat 16. Di sana tidak dikatakan, “Dipenuhilah dengan Roh,” lalu hal-hal itu terjadi. Yang dikatakan adalah, “Hendaklah perkataan Kristus tinggal dengan limpahnya di antara kamu,” dan kemudian hal-hal itu terjadi. Perhatikan baik-baik, kalau hasilnya sama, maka penyebabnya juga sama, bukan? Kalau hasilnya sama—dan memang sama antara Efesus 5 dan Kolose 3—maka penyebabnya juga sama. Di satu bagian dikatakan, “Dipenuhilah oleh Roh.” Di bagian lain dikatakan, “Biarlah firman itu diam dengan kaya di dalam kamu.” Kesimpulannya: keduanya adalah hal yang sama.
Dikuasai oleh Roh, benar-benar didominasi oleh Roh, pada dasarnya sama dengan dikuasai oleh pikiran Roh, yang dinyatakan dalam Kitab Suci. Jadi apa kehendak Tuhan bagi hidup Anda? Kehendak Tuhan adalah supaya Anda diselamatkan, dan supaya Anda dipenuhi oleh Roh, yang berarti hidup di bawah kendali terus-menerus dari pikiran Roh yang dinyatakan melalui Firman.
Yang ketiga, mari kita lihat 1 Tesalonika pasal 4. Ini sangat praktis, sangat praktis. Kita sudah mengatakan bahwa kehendak Tuhan adalah supaya Anda diselamatkan, dan supaya Anda hidup dipenuhi oleh Roh atau dikendalikan oleh Roh. Sekarang yang ketiga, lihat pasal 4 ayat 3. Dengarkan ini: “Karena inilah kehendak Allah.” Lihat, ternyata tidak sesulit yang Anda kira, bukan? Sudah ada di sana selama ini. “Inilah kehendak Allah, yaitu pengudusanmu.” Apa artinya itu? Kekudusan, kemurnian, hidup yang terpisah dari dosa. Itulah kehendak Tuhan. Lalu maksudnya apa? Itu memang kategori yang luas. Saya jelaskan: yaitu, seperti dikatakan di ayat 3, “supaya kamu menjauhi percabulan.” Jadi prinsip pertama kehendak Tuhan adalah supaya Anda menjauh dari dosa seksual. Jelas ya—jauhi dosa seksual.
Seseorang mungkin bertanya, “Seberapa jauh harus menjauhinya?” Itu pertanyaan yang wajar. Jawabannya: cukup jauh sampai Anda hidup dalam kekudusan, cukup jauh sampai Anda tetap tidak ternoda, cukup jauh sampai tidak ada pikiran najis yang Anda pelihara dalam pikiran Anda. Jauhi itu. Itu sisi negatifnya—jauhi. Lalu ada sisi positifnya di ayat berikutnya, ayat 4: “Supaya masing-masing kamu tahu bagaimana menguasai tubuhnya dalam kekudusan dan kehormatan.”
Prinsip pertama: jauhi dosa seksual. Seberapa jauh? Cukup jauh sampai Anda tidak ternoda sedikit pun oleh pengaruhnya, sampai tidak ada pikiran najis yang kamu pelihara. Prinsip kedua: kelola tubuh Anda sedemikian rupa sehingga itu memuliakan Tuhan. Itu sisi positifnya. Yang negatif adalah menjauhi dosa seksual, yang positif adalah menggunakan tubuh Anda untuk kemuliaan Tuhan. Jangan lakukan hal-hal yang tidak menghormati Dia, tetapi lakukanlah hal-hal yang menghormati Dia. Prinsip ketiga di ayat 5: “Jangan hidup dalam hawa nafsu seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah.” Artinya, jangan hidup seperti dunia di sekitar Anda. Jangan terseret arus gaya hidup dunia. Jangan hidup seperti orang-orang yang tidak mengenal Tuhan. Jangan berperilaku seperti mereka. Itu bukan yang Tuhan kehendaki dari hidup Anda. Anda tidak boleh tunduk pada budaya di sekitar Anda.
Bagaimana mereka berperilaku? Bagaimana orang yang tidak mengenal Tuhan hidup? Mereka hidup berdasarkan hawa nafsu. Mereka menginginkannya, mereka mengambilnya, lalu mereka membenarkannya. Anda tidak bisa hidup seperti itu. Anda tidak boleh hidup mengikuti cara hidup orang yang tidak mengenal Tuhan. Mereka hidup menurut nafsu mereka sendiri, seperti yang dikatakan di sini. Anda tidak boleh seperti itu. Itu bukan kehendak Tuhan. Jauhi dosa seksual. Kelola tubuh Anda sehingga memuliakan Tuhan. Jangan hidup seperti orang yang tidak mengenal Tuhan. Lalu yang keempat, jangan melampaui batas—itulah artinya “melanggar”—dan “merugikan saudaramu dalam hal ini.” Jangan pernah mengambil keuntungan dari orang lain secara seksual. Jangan melampaui batas itu. Jangan memanfaatkan orang lain. Anda sedang merampas kemurnian, kekudusan, dan kehormatan orang itu. Jangan lakukan itu. Itulah kehendak Tuhan.
Kadang ada pasangan datang untuk konseling pernikahan. Biasanya pertanyaan pertama yang diajukan adalah, “Apakah kalian sedang menjalani hubungan seksual?” Karena kalau iya, bagaimana mungkin kalian bisa tahu apakah Tuhan memang menghendaki kalian untuk menikah? Bagaimana mungkin Anda bisa mengetahui bagian kehendak Tuhan yang tidak dinyatakan secara spesifik, kalau Anda bahkan tidak menaati bagian yang sudah jelas dinyatakan? Tuhan tidak punya kewajiban untuk menunjukkan kehendak-Nya secara pribadi kepada Anda, kalau Anda tidak mau menaati kehendak-Nya yang sudah tertulis dalam Firman-Nya.
Ini hal yang sangat serius, seperti dikatakan di ayat 6. “Kamu harus melakukan ini… karena Tuhan adalah pembalas dari semuanya ini.” Kalau Anda ingin mengalami masalah dalam hidup, cukup berada di bawah pembalasan Tuhan. Dia berkata, “Kami sudah mengatakan hal ini sebelumnya, dan kami telah memperingatkan kamu dengan sungguh-sungguh.” Ini bukan hal yang cukup dikatakan sekali saja. Saya sudah bilang. Saya sudah bilang dengan tegas, dan saya katakan lagi: “Jangan hidup seperti ini, karena Tuhan adalah pembalas.” Mengapa? Ayat 7 mengulangi apa yang sudah dikatakan di ayat 3, “Sebab Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus.” Mungkin ada yang berkata, “Saya tidak harus menerima itu darimu.” Baik, kalau begitu terimalah dari Tuhan. Ayat 8 berkata, “Siapa yang menolak ini bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan juga Roh-Nya yang kudus kepada kamu.”
Jadi Anda bisa melihat bahwa kehendak Tuhan itu jelas, yaitu diselamatkan. Kalau Anda sudah diselamatkan, Dia memberikan Roh-Nya kepada Anda. Dan kalau Dia memberikan Roh-Nya, maka Dia mengharapkan Anda hidup kudus, karena Anda memiliki kemampuan—oleh kekuatan Roh—untuk hidup kudus ketika Anda dikendalikan oleh Roh melalui kebenaran yang tinggal di dalam diri Anda. Anda ada di gereja ini, itulah sebabnya kami terus mengajarkan kebenaran, lagi dan lagi, supaya Anda memiliki pikiran Roh, sehingga Roh Tuhan dapat mengendalikan hidup Anda. Tuhan yang telah memberikan Roh Kudus kepada Anda untuk tujuan itu, menghendaki supaya Anda hidup dalam pengudusan.
Apa kehendak Tuhan? Supaya Anda diselamatkan, dipenuhi oleh Roh, dan hidup dalam pengudusan. Anda boleh saja mulai bertanya siapa yang harus Anda nikahi, pekerjaan apa yang harus Anda ambil, sekolah mana yang harus Anda pilih, dan seterusnya. Tetapi lakukan itu setelah Anda mulai menaati kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan. Setelah itu, barulah Anda bisa bertanya kepada Tuhan tentang hal-hal yang belum dinyatakan secara spesifik. Namun ada satu hal lagi, yang keempat, dan saya hanya akan menyebutkannya karena waktunya sudah hampir habis: ketundukan. Ketundukan. Dalam 1 Petrus pasal 2, hal ini dijelaskan dengan sangat jelas. Dikatakan, “Tunduklah, karena Tuhan, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi, maupun kepada para penguasa yang diutusnya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan menghormati orang-orang yang berbuat baik.”
Ngomong-ngomong, secara Alkitabiah, pemerintah memiliki satu fungsi utama. Pemerintah, seperti yang kita kenal di Amerika maupun di seluruh dunia sekarang ini, sudah jauh melampaui apa yang sebenarnya Tuhan maksudkan. Tetapi tujuan dasar pemerintah adalah untuk menghukum orang yang berbuat jahat dan memberi penghargaan kepada mereka yang berbuat baik. Itulah intinya. Pemerintah ada untuk melindungi masyarakat, supaya kita tidak hidup dalam kondisi “siapa yang kuat dia yang bertahan.” Karena itu, kita diminta untuk tunduk kepada pemerintah, karena pemerintah ditetapkan oleh Tuhan, seperti yang dijelaskan dalam Surat Roma pasal 13. Lalu di ayat 15 dikatakan, “Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh.”
Kalau Anda hidup tunduk di dalam masyarakat, bukan berarti kita menganggap itu masyarakat yang saleh. Bukan masyarakat yang memuliakan Kristus; bahkan pada zaman Petrus pun tidak demikian. Tetapi kita tetap tunduk pada otoritas pemerintah, dan dengan begitu kita membungkam orang-orang yang mengkritik kekristenan. Sangat disayangkan, sekarang ini banyak orang Kristen terlalu terlibat dalam lobi dan urusan politik, sampai-sampai menjadi batu sandungan bagi nama Yesus Kristus, karena dunia mulai melihat kita hanya sebagai kelompok politik biasa, bukan sebagai pembawa kabar penebusan. Jadi kalau kita ingin menutup mulut para pengkritik, kita harus hidup benar. Dan bagian dari hidup benar adalah hidup dalam ketundukan. Itulah sebabnya saya menulis buku berjudul Mengapa Pemerintah Tidak Bisa Menyelamatkan Anda, untuk mengembalikan orang-orang percaya ke arah yang benar. Namun jelas, kehendak Tuhan adalah supaya kita hidup saleh di tengah masyarakat yang tidak saleh, dan kita tunduk kepada otoritas selama mereka menegakkan apa yang benar dan salah. Dengan kata lain, kita hidup dengan benar di tengah masyarakat.
Jadi, hendaklah Anda diselamatkan, dipenuhi oleh Roh, hidup dalam pengudusan, dan melakukan apa yang benar sebagai warga dalam masyarakat Anda dengan tunduk kepada otoritas. Ada satu lagi, yang kelima dalam rangkaian ini, yaitu penderitaan. Di 1 Petrus pasal 3 ayat 17 dikatakan, “Lebih baik menderita karena berbuat baik, jika hal itu dikehendaki Allah.” Sekarang dengarkan baik-baik, ini sangat penting. Kalau Anda mau hidup dalam kehendak Tuhan—diselamatkan, dipenuhi Roh, hidup kudus, dan tunduk—akan ada titik di mana terjadi benturan, karena ketika Anda hidup seperti itu, Anda akan berhadapan dengan orang-orang di sekitar Anda yang tidak hidup seperti itu. Akibatnya, akan ada penolakan. Akan ada penderitaan dalam tingkat tertentu. Bahkan bisa menjadi ujian yang sangat berat, seperti yang dikatakan di pasal 4 ayat 12. Ini bisa menjadi sesuatu yang sangat serius.
Jadi kita bisa saja menderita. Di 1 Petrus pasal 5 ayat 10 dikatakan bahwa kita mungkin menderita untuk sementara waktu dalam hidup ini, sesuai dengan kehendak Tuhan. Dan kita tahu bahwa Tuhan memakai penderitaan itu untuk menyempurnakan kita, membentuk kita, merendahkan hati kita, membuat kita lebih berdoa dan lebih percaya kepada-Nya, serta menunjukkan anugerah-Nya kepada kita. Tetapi yang sebenarnya ditekankan di sini adalah: jangan berkompromi. Karena cara paling mudah untuk mengurangi penderitaan adalah dengan berkompromi, bukan? Sulit hidup sebagai orang Kristen di dalam keluarga, lalu kita berkompromi. Sulit hidup sebagai orang Kristen di sekolah, lalu kita diam dan berkompromi. Sulit hidup sebagai orang Kristen di tengah teman-teman, atau di tempat kerja, lalu kita berkompromi. Padahal kehendak Tuhan adalah, jika Anda harus menderita, maka menderitalah karena melakukan yang benar. Terus lakukan yang benar, percayai yang benar, nyatakan yang benar, dan kalau harus menderita, maka Anda menderita. Ini memang pesan yang sulit diterima zaman sekarang, karena banyak orang sudah tidak lagi memegang hal ini.
Kita sedang berada dalam kemerosotan yang besar dalam gereja Injili saat ini. Ada tiga tahap dalam kemerosotan itu. Minggu ini saya berkhotbah setiap hari kepada para mahasiswa di sebuah perguruan tinggi atau seminari, dan saya mengatakan kepada para mahasiswa seminari bahwa ada tiga jenis pemberitaan firman yang menunjukkan kemunduran gereja, dan kita sedang ada di dalam proses itu sekarang. Yang pertama adalah pemberitaan Alkitabiah, yaitu doktrin Alkitab yang disampaikan dalam bentuk Alkitab. Artinya, Anda menyampaikan kebenaran Kitab Suci melalui Kitab Suci itu sendiri. Anda mengerti maksudnya? Itulah eksposisi Alkitab. Dengan kata lain, Anda menyampaikan kebenaran ilahi dalam “pakaian” Alkitab, karena Tuhan telah memberikan kebenaran ilahi dan membungkusnya di dalam Kitab Suci.
Dia menaruhnya dalam kitab para nabi, dalam hukum Taurat, dan dalam tulisan-tulisan kudus Perjanjian Lama. Dia juga menaruhnya dalam Injil, dalam kisah sejarah di Kisah Para Rasul, dalam surat-surat para rasul, dan dalam kitab Wahyu. Semua kebenaran itu dibungkus di dalam Kitab Suci. Jadi “pakaian” Alkitab itu membungkus kebenaran ilahi. Ketika gereja kuat dan sehat, Anda akan mendengar doktrin Alkitab disampaikan dalam bentuk Alkitab, karena memang begitulah Tuhan memberikannya. Anda akan mendengar Alkitab dijelaskan dengan benar. Tetapi hari ini, hal itu sudah jarang terdengar. Anda harus benar-benar mencarinya untuk bisa menemukannya.
Gelombang baru berkata, “Orang-orang tidak suka Alkitab. Mereka tidak merasa terhubung dengan Alkitab. Mereka tidak bisa mengaitkan diri dengan Alkitab. Itu dianggap sesuatu yang kuno. Mereka tidak berpikir seperti itu lagi.” Jadi mereka berkata, “Kami tetap injili, kami tetap percaya pada kebenaran Alkitab, tetapi kita harus melepaskannya dari ‘pakaian’ Alkitab itu.” Akhirnya, yang terjadi adalah orang berkhotbah tentang hal-hal seperti tim basket, tokoh terkenal, atau cerita-cerita populer, lalu menyisipkan sedikit kebenaran rohani di dalamnya. Atau mereka membuat perumpamaan atau cerita sendiri, atau membahas film dan budaya populer, lalu mencoba menarik makna teologis dari situ. Intinya, mereka mengambil apa saja yang sedang populer dalam budaya dan menjadikannya bahan utama, lalu hanya menambahkan sedikit kebenaran Alkitab di dalamnya.
Anda berkata bahwa Anda seorang injili. Anda tetap memegang kebenaran injili, tetapi Anda melepaskannya dari “pakaian” Alkitab, lalu membungkusnya dengan budaya. Anda berkata, “Itulah cara kita menjangkau budaya.” Padahal kenyataannya, Anda justru sedang menjauh dari Firman Tuhan. Tuhan memberikan kebenaran-Nya dalam “pakaian” Alkitab karena memang itulah cara Dia ingin itu diajarkan. Langkah berikutnya, setelah kebenaran itu sudah dilepaskan dari bentuk Alkitabnya, kompromi berikutnya adalah membuang kebenaran itu sendiri. Itulah langkah ketiga, dan kita sedang bergerak cepat ke arah sana. Itulah yang disebut kompromi.
Jadi apa yang Tuhan inginkan dari kita? Dia ingin kita hidup dalam kebenaran Alkitab yang dinyatakan tetap dalam “pakaian” Alkitab, tanpa kompromi, dan itu mungkin akan membawa kita kepada penderitaan. Jadi apa kehendak Tuhan bagi hidup Anda? Supaya Anda diselamatkan, dipenuhi oleh Roh, hidup dalam pengudusan, hidup tunduk, hidup benar di tengah masyarakat, dan bersedia menderita karena Anda tidak mau berkompromi dengan kebenaran. Itulah kehendak Tuhan bagi hidup Anda. Anda mungkin berkata, “Ini tidak membantu. Saya masih belum tahu harus bagaimana. Saya harus membuat keputusan besok. Apa maksudnya semua ini?”
Masih ada satu hal lagi, yaitu mengucap syukur. Dalam 1 Tesalonika 5:18 dikatakan, “Ucapkanlah syukur dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” Itu tidak sulit, bukan? Jadi, diselamatkan, dipenuhi Roh, hidup dalam pengudusan, hidup tunduk, tidak berkompromi, bersedia menderita, dan mengucap syukur dalam segala hal. Tidak ada kepahitan, tidak ada keluhan, tidak ada rasa tidak bersyukur, tidak ada kekecewaan. Terimalah setiap hal yang terjadi dalam hidup Anda sebagai sesuatu yang Tuhan izinkan untuk kebaikan Anda dan kemuliaan-Nya, dan milikilah hati yang penuh syukur. Itulah yang Tuhan katakan tentang kehendak-Nya. Anda mungkin berkata, “Tapi bagaimana dengan saya?” Anda siap untuk ini? Kalau Anda hidup seperti itu—diselamatkan, dipenuhi Roh, hidup kudus, tunduk, tidak berkompromi, bersedia menderita, dan selalu mengucap syukur—tahukah Anda apa kehendak Tuhan? Apa pun yang Anda mau. Anda suka itu? Lakukan saja apa yang Anda mau. Anda mungkin berkata, “Serius?” Ya, saya serius.
Anda mungkin berkata, “Maksudnya bagaimana? Saya tidak bisa begitu saja melakukan apa yang saya mau!” Ya, Anda bisa, karena kalau Anda hidup seperti itu, siapa yang mengendalikan keinginan Anda? Nah, di situlah kuncinya. Dalam Mazmur 37:4 dikatakan, “Bergembiralah karena Tuhan.” Dia menjadi sukacita Anda. Hidup Anda dipenuhi dengan kesenangan di dalam Dia. Anda menginginkan kehendak-Nya dari hati, Anda hidup dalam semua hal tadi, dan Dia akan memberikan apa? Keinginan hati Anda. Mengapa? Karena Dialah yang mengendalikan keinginan itu. Keinginan yang Anda miliki adalah keinginan yang Dia taruh dalam hati Anda. Jadi lakukanlah apa yang Anda inginkan. Orang sering bertanya kepada saya, “Mengapa Anda datang ke Gereja Grace?” Karena saya ingin datang. Saya tidak mendengar suara apa pun, selain suara istri saya yang berkata, “Pergilah ke sana.” Tapi saya tidak mendengar suara supranatural. Saya datang karena saya ingin datang. Saya tidak pernah mendengar suara apa pun. Saya hanya melakukan apa yang saya rasa ingin saya lakukan, dan saya percaya bahwa keinginan itu ada dalam kerangka hidup yang berkenan kepada Tuhan, dan bahwa Tuhanlah yang menaruh keinginan itu. Ketika dikatakan, “Dia akan memberikan keinginan hatimu,” itu bukan berarti Dia memberi apa yang Anda inginkan, tetapi Dia membuat Anda menginginkan apa yang Dia kehendaki. Jadi lakukanlah apa yang Anda mau, jika hati Anda benar di hadapan Tuhan. Bukankah itu kabar baik? Bukankah itu kebebasan? Tetapi ingat, semuanya dimulai dengan ketaatan pada pola hidup yang sudah Tuhan tetapkan. Mari kita berdoa.
Bapa, terima kasih bahwa ketika kami mulai melangkah, seperti yang dikatakan dalam Kitab Kejadian 24:27, “Ketika aku berjalan di jalan, TUHAN menuntun aku,” saat kami mulai bergerak ke arah yang kami inginkan, Engkau akan mengambil alih, memimpin kami, dan membawa kami kepada tempat yang sempurna dalam kehendak-Mu. Tolong kami untuk melakukan apa yang sudah Engkau nyatakan, supaya kami boleh bersukacita dalam kebebasan untuk menjalani hal-hal yang secara khusus Engkau rencanakan bagi hidup kami. Ketika kami melangkah mengikuti keinginan yang Engkau tanamkan dalam hati kami, tuntunlah kami menuju tempat penggenapan yang sempurna itu. Kami memuji-Mu dalam nama Kristus. Amin.
SELESAI
This article is also available and sold as a booklet.
