Grace to You Resources
Grace to You - Resource

Bertahun-tahun yang lalu saya menulis sebuah buku berjudul Injil Menurut Yesus; beberapa dari Anda mungkin sudah tahu tentang itu. Buku itu kemudian diikuti dengan Injil Menurut Para Rasul, dan sampai titik ini saya belum menulis Injil Menurut Paulus. Buku itu akan muncul sebentar lagi sebagai karya terakhir dalam trilogi ini. Injil menurut Paulus penting karena sedang diserang saat ini. Doktrin pembenaran seperti yang dijelaskan oleh rasul Paulus sedang diserang oleh mereka yang telah menciptakan sesuatu yang disebut “Perspektif Baru tentang Paulus.” Kita perlu memiliki pemahaman yang jelas tentang apa yang dikatakan Perjanjian Baru dan apa yang ditulis Paulus dengan ilham Roh Kudus mengenai Injil. Jadi, selama beberapa hari terakhir, mulai Kamis malam lalu, kita telah mempelajari Injil sebagaimana Paulus menuliskannya dalam Perjanjian Baru. Kita telah belajar bahwa Injil itu mulia – dari 2 Korintus pasal 4. Injil itu memuaskan – Roma pasal 3. Injil itu mendamaikan – 2 Korintus pasal 5. Dan kemarin kita melihat bahwa Injil itu sifatnya berdaulat. Dan pesan terakhir, pagi ini, adalah melihat kenyataan bahwa Injil itu adalah Injil yang merendahkan hati – Injil yang merendahkan hati. Saya tahu bahwa, umumnya, ketika saya mengajar Alkitab, saya akan menyelami beberapa ayat secara mendalam, tetapi kali ini pendekatannya agak berbeda. Karena waktu kita yang terbatas dan keinginan untuk mencakup bahasan sebanyak mungkin, kita telah mengambil bagian-bagian ayat Firman Tuhan yang lebih besar, potongan-potongan yang lebih panjang, bahkan yang mencakup beberapa pasal sekaligus, seperti yang kita lakukan pada hari Sabtu lalu, saat kita membahas Roma pasal 9, 10, dan 11; kita sudah mengambil sudut pandang yang lebih luas terhadap Alkitab, yang sangat penting jika kita ingin benar-benar memahami Injil menurut Paulus.

Nah, pagi ini, saya ingin Anda kembali membuka 1 Korintus pasal 1 dan 2 — 1 Korintus 1 dan 2 — dan teks yang saya bacakan untuk Anda adalah teks yang ingin saya ajak untuk Anda lihat. Jelas, kita akan melihatnya secara garis besar, semacam pandangan dari atas, bukan dari bawah seperti biasanya kita lakukan. Saya akan mengajukan sebuah pertanyaan yang berkaitan dengan tema kita. Kita akan membahas tentang Injil yang merendahkan hati. Kita belum akan menyampaikan poin itu sampai semua hal lainnya terlebih dahulu disampaikan. Jadi, poin itu akan muncul di bagian akhir. Tapi untuk memulainya, saya ingin mengajukan pertanyaan: Mengapa kita mencintai Alkitab? Mengapa Anda datang ke Konferensi Truth Matters (Kebenaran itu Penting)? Mengapa Anda datang ke Gereja Grace Community? Mengapa Anda datang minggu demi minggu? Mengapa Anda ikut kelompok persekutuan? Mengapa begitu banyak buku terjual di tempat ini? Mengapa orang-orang mengunduh khotbah dari situs Grace To You? Mengapa Anda memiliki kerinduan seperti itu akan Firman Tuhan? Mengapa tampaknya kerinduan itu tidak pernah terpuaskan? Mengapa Anda rela membayar dan meluangkan waktu yang berharga untuk datang jauh-jauh ke tempat ini, padahal Anda tahu di sini hampir tidak ada hiburannya, hanya akan ada penyelaman mendalam tentang Firman Tuhan? Dari mana datangnya kecintaan ini? Mengapa Anda memiliki kecintaan seperti ini terhadap Alkitab? Mengapa Anda memiliki kecintaan seperti ini terhadap Injil?

Itu pertanyaan yang sangat penting. Apakah karena Anda lebih pintar daripada orang lain di dunia ini? Apakah karena Anda lebih tajam wawasannya daripada orang lain? Apakah karena Anda telah mendengar argumen-argumen yang lebih meyakinkan tentang kebenaran Alkitab? Apakah karena seseorang memberi Anda pelajaran apologetika, dan apologetika itu tampak begitu masuk akal bagi Anda sehingga Anda menerima Alkitab? Apa yang sebenarnya telah menumbuhkan kecintaan ini di dalam hati Anda?

Itulah sesuatu yang kita semua alami di Gereja Grace. Kita seakan-akan tidak pernah merasa cukup dengan Firman Tuhan. Firman Tuhan seperti makanan bagi kita, dan tidak ada jumlah makanan yang bisa memuaskan Anda untuk waktu yang lama secara permanen. Anda perlu diberi makan lagi, dan lagi, dan lagi secara fisik; dan hal yang sama berlaku secara rohani. Apa yang membangkitkan hasrat ini? Mengapa kita merasakan seperti ini terhadap Alkitab dan Injil? Mengapa, setelah kita memahami Injil, percaya kepada Injil, kita bisa mendengar Injil diberitakan seribu kali dan hati kita terus-menerus berkobar kembali? Mengapa kita seperti mereka yang di jalan ke Emaus, yang ketika Kitab Suci dijelaskan kepada mereka, hati mereka seperti menyala-nyala? Apa yang menciptakan itu? Bagaimana kita bisa terpisah dari sikap acuh tak acuh dunia terhadap Alkitab, dan dari permusuhan dunia terhadap Alkitab? Orang-orang yang kita temui tidak lagi punya ketertarikan terhadap Alkitab.

Bahkan, banyak gereja menyadari hal itu, sehingga mereka menyingkirkan Alkitab dan mencoba memberikan kepada orang-orang apa yang mereka inginkan. Alkitab bukan hanya akan membuat mereka bosan setengah mati, tetapi juga akan menyinggung mereka. Tetapi, apa yang terjadi pada kita? Mengapa kita justru menjadi orang-orang yang mengasihi Alkitab? Mengapa ada orang-orang di seluruh dunia ini yang mengasihi Alkitab? Nah, Alkitab memberikan jawabannya tepat di dalam teks ini. Tapi pertama-tama, izinkan saya menekankan satu hal: jika Anda adalah orang Kristen sejati, Anda akan mencintai Alkitab. Saya ulangi lagi, ini cukup sederhana—jika Anda adalah orang Kristen sejati, Anda akan mencintai Alkitab. Mazmur 19 mungkin menggambarkan pengalaman Anda. Mazmur 19:10 mengatakan bahwa firman itu lebih berharga daripada emas, “bahkan daripada banyak emas murni; dan lebih manis daripada madu, bahkan daripada madu tetesan dari sarang lebah.” Mengapa kebenaran begitu manis bagi kita? Mengapa begitu berharga bagi kita? Dapatkah kita berkata bersama Daud dalam Mazmur 119:97, “Betapa kucintai Taurat-Mu!” Dan lima kali lagi dalam mazmur yang sama dia mengatakannya, “Aku mencintai Taurat-Mu, aku mencintai Taurat-Mu, aku mencintai Taurat-Mu.” Di banyak bagian lain dia berkata, “Aku bergemar akan Taurat-Mu. Aku bergembira akan Taurat-Mu. Aku bersukacita dalam Firman-Mu.” “Aku mencintai perintah-perintah-Mu.”

Paulus bahkan mengatakan bahwa orang-orang Kristen dapat disebut dengan sebutan ini: mereka adalah orang-orang yang mengasihi kebenaran. 2 Tesalonika 2:10 menyatakan bahwa “mereka tidak menerima dan tidak mengasihi kebenaran.” Yohanes mengungkapkannya seperti ini: “Jika kamu mengasihi Tuhan, kamu akan menuruti perintah-perintah-Nya.” Kasih Anda kepada Tuhan dinyatakan melalui kerinduan Anda akan Firman Allah, bahkan terhadap hal-hal yang bersifat perintah dan ketetapan. Yohanes menyampaikan hal itu di beberapa tempat—Yohanes 14, Yohanes 15, dan dalam suratnya, 1 Yohanes 5:2–3. Mazmur 40:9 mengatakan, “Aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku.” Dan dilanjutkan dengan, “Taurat-Mu ada dalam lubuk hatiku.”

Bagi orang percaya sejati, ada suatu kerinduan di dalam hati akan Alkitab, akan kebenaran, akan Injil. Petrus bahkan mengatakan dalam 1 Petrus pasal 2 bahwa kita memiliki kerinduan akan firman seperti bayi yang sangat menginginkan susu. Dengan kata lain, itu adalah keinginan yang tunggal, menggebu-gebu, dan tidak pernah terpuaskan. Ketika Yesus mengajar orang banyak dalam Yohanes pasal 6 dan menyampaikan pesan yang sangat sulit untuk diterima, mereka pergi. Yohanes 6:66 mengatakan, “Banyak murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia.” Yesus memandang kepada mereka yang masih tinggal dan berkata, “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Dan Petrus, mewakili semua orang percaya sejati, menjawab, “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Engkau memiliki perkataan hidup yang kekal.” Kami tidak bisa hidup tanpa firman-Mu.

Tanda dari seorang Kristen sejati adalah rasa lapar akan Alkitab, rasa lapar akan Firman Tuhan. Roti saja tidak cukup bagi kita. Kita tidak hidup dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah. Gereja sejati Allah — ya, gereja sejati Allah — selalu, di segala waktu dan di segala tempat, lapar akan kebenaran Alkitab yang kudus: untuk membacanya, untuk dapat memahaminya, agar dapat bersukacita di dalamnya, bergemar di dalamnya, memeluknya, memberitakannya, menerapkannya, dan menyembah Allah karenanya. Namun sayangnya, berseberangan dengan kerinduan gereja sejati ini adalah kepentingan dari gereja yang sesat. Pembelajaran Alkitab yang serius dan tekun dalam Firman Tuhan untuk memberi makan gereja sejati Allah tampaknya tidak lagi menjadi prioritas utama. Beberapa tahun yang lalu, Jim Packer menulis pengantar untuk sebuah buku yang sangat tua yang berjudul Direktori Kristen (The Christian Directory), dan itu bukanlah buku telepon. Direktori Kristen ini ditulis oleh Richard Baxter. Richard Baxter adalah seorang Puritan yang hidup antara tahun 1615 dan 1691, hidup selama 76 tahun. Richard Baxter adalah seorang pemikir mendalam tentang Alkitab, dan ia menulis Direktori Kristen ini. Saya punya salinannya. Buku ini sangat tebal. Buku ini memang buku “direktori Kristen” dalam arti bahwa buku itu membimbing orang Kristen mengenai bagaimana seharusnya mereka menjalani hidup mereka di hadapan Allah berdasarkan Alkitab.

Packer, dalam pengantarnya untuk buku Direktori Kristen ini, mengatakan: “Evangelikalisme kontemporer itu berpusat pada ego, aneh, dangkal, bobrok, seperti mantera sihir setengah yang tak masuk akal, dan penuh dengan rangkaian petunjuk ‘cara-cara praktis’.” Lalu ia melanjutkan, “Bandingkan itu dengan Direktori Kristen karya Baxter, dengan lebih dari satu juta kata penafsiran dan penerapan Alkitab yang mendalam.” Packer berkata, “Direktori Kristen adalah tingkat kebijaksanaan yang tinggi—berbasis Alkitab, terintegrasi secara teologis, dengan kejelasan yang tak pernah gagal dan tak tergoyahkan—yang sungguh memesona pikiran.” Apa yang telah terjadi dengan kita? R.C. Sproul mengatakan, “Budaya kita tenggelam dalam mediokritas yang sombong—seni murahan, musik murahan, pemikiran murahan—dan kita telah menyesuaikan diri dengannya dengan gereja murahan.” Kita menerima kualitas biasa-biasa saja karena kita menginginkannya. Budaya ini menginginkan yang medioker. Bukan sekadar menerima, tapi benar-benar menginginkannya. Maka muncullah semacam budaya pop Kristen untuk mengakomodasi hal itu. Dan apa yang disebut gereja telah memutuskan untuk menyingkirkan yang transenden, menyingkirkan yang mendalam, menyingkirkan teologi yang kuat, menyingkirkan Alkitab, menyingkirkan eksposisi, menyajikan mediokritas, memberikan kepada orang banyak yang lapar apa yang mereka inginkan, dan membiarkan gereja sejati kelaparan. Itu tidak memuaskan Anda, bukan? Itu juga tidak memuaskan saya. Saya tidak pernah merasa cukup. Kita mencintai Alkitab. Kita mencintai teologi. Kita mencintai penyembahan yang berlandaskan oleh teologi.

Mengapa kita mencintai Alkitab? Mengapa kita mempercayainya? Mengapa kita meyakininya? Mengapa kita mempelajarinya? Mengapa kita menghafalkannya? Mengapa kita membicarakannya? Mengapa kita mengajarkannya? Mengapa kita menerapkannya? Apakah kita lebih unggul dari orang lain? Apakah kita lebih pintar, lebih cerdas? Apakah kita telah diberikan bukti-bukti yang lebih baik yang meyakinkan kita bahwa Alkitab layak dipercaya dan diimani?

Kita memiliki beberapa petunjuk untuk menjawabnya. Luther berkata, “Alkitab tidak bisa dipahami hanya dengan belajar atau bakat. Itu harus datang dari Roh Kudus.” Zwingli, Reformator besar di Zurich, berkata, “Sekalipun engkau menerima Injil Yesus langsung dari seorang rasul, engkau tidak akan bisa menaatinya kecuali Bapamu yang di surga yang mengajarimu dan menarikmu kepada-Nya melalui Roh-Nya.” John Calvin memiliki pandangan yang sama. Menurut Calvin, Alkitab hanya dapat dipercaya, dipahami, ditaati, dan dicintai ketika Allah meregenerasi seseorang melalui kuasa Roh Kudus dan memberi hidup kepada orang berdosa yang telah mati. Mengapa Anda percaya pada Alkitab? Mengapa Anda mencintai Alkitab? Mengapa Anda lapar akan Alkitab? Mengapa Anda menikmati kebenaran Firman Tuhan? Mengapa Anda senang mendengarnya? Mengapa ketika kebenaran Alkitab dijelaskan ke dalam pikiran Anda, kebenaran itu menimbulkan sukacita, pujian, dan penyembahan yang begitu dalam? Itu karena ada karya besar yang telah dilakukan oleh Roh Kudus di dalam hati Anda, dan Dia benar-benar telah menghidupkan Anda dari kematian. Itulah kelahiran kembali. Dan kita akan membahas tentang hal itu.

Tidak ada pembahasan yang lebih baik tentang masalah ini selain teks di hadapan kita yang telah saya bacakan sebelumnya. 1 Korintus pasal 1 dan 2, dimulai dari ayat 18, hingga akhir pasal 2. Dan jelas kita akan membahasnya secara luas, tetapi saya rasa Anda akan mendapatkan pesannya di sini. Ada dua hal yang ingin saya sampaikan dari teks ini, hanya dua. Pertama: mengapa orang non-Kristen menolak Alkitab – mengapa orang non-Kristen menolak Alkitab. Yang kedua: mengapa orang Kristen mencintai Alkitab. Apa bedanya di sini? Ada banyak penjelasan tumpang tindih, saling terkait, dan pernyataan ulang, tetapi kita tidak akan membahas semua itu, saya hanya akan memberikan gambaran besarnya di sini, oke? Pertanyaan pertama: mengapa orang non-Kristen menolak Alkitab? Saya akan memberikan lima alasan. Alasannya ada di sini, Paulus memaparkannya untuk kita. Lima alasannya, pertama – dan kita akan membahasnya dari sudut pandang pewahyuan Injil dalam Alkitab – mengapa orang non-Kristen tidak memercayai Injil Alkitab? Mengapa? Pertama: pesannya tidak masuk akal. Pesannya tidak masuk akal. Atau, jika Anda mau katakan, sejauh menyangkut pikiran manusia, apa yang dikatakannya tidak rasional. Dan manusia terpikat oleh pikirannya sendiri, bukan?

Mungkin keadaannya tidak separah ini sebelum masa Pencerahan (Enlightenment), tetapi sekarang kita hidup berabad-abad setelahnya, dan kita adalah para pewaris dari penyembahan terhadap akal budi manusia. Kita sudah sangat dalam berada di zaman rasionalisme. Dan Alkitab tidak mendapat tempat di dalamnya. Injil yang alkitabiah tidak mendapat tempat. Ayat 18 mengatakan, “Pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa.” Mereka yang akan binasa adalah kategori orang-orang yang sedang menuju neraka. Bagi orang-orang yang sedang dalam proses menuju kebinasaan, orang-orang yang ada dalam paradigma kebinasaan, Injil ini—pesan tentang keselamatan melalui kematian Kristus di salib—adalah suatu kebodohan. Kata “kebodohan” muncul enam kali dalam bagian pembukaan ini, begitu pentingnya kata itu. Omong-omong, kata Yunani untuk “kebodohan” adalah kata yang Anda kenal—moron; memang itulah kata aslinya, moron. Artinya bodoh, tidak masuk akal, tidak bernalar, tolol. Itu tidak cocok dengan kebijaksanaan manusia untuk mengatakan bahwa hanya ada satu Allah, hanya ada satu jalan kepada Allah, dan jalan itu adalah melalui Pribadi Allah yang menjadi manusia; yaitu Yesus Kristus—yang adalah seorang Yahudi yang disalibkan, dieksekusi oleh bangsa Romawi, ditolak oleh bangsanya sendiri, digantung di kayu salib, dan seterusnya—dan keselamatan hanya bisa diperoleh dengan menolak segala perbuatan baik Anda sendiri, mengakui dosa-dosa Anda yang tercela, dan menerima dengan iman pengorbanan Kristus menggantikan Anda. Semua itu bertentangan dengan hikmat manusia. Pikiran yang telah jatuh dalam dosa berkata, “Engkau orang baik,” dan kalau Anda sudah cukup baik, maka Anda akan baik-baik saja. Itulah kebijaksanaan manusia yang telah jatuh, yang dikuasai oleh kesombongan.

Pesan tentang salib dianggap bodoh dan tidak ada gunanya—kita tidak perlu mengulanginya lagi, karena selama tiga hari terakhir kita sudah membahasnya. Pesan tentang salib ini tidak sesuai dengan logika manusia jika kita memberi tahu orang bahwa mereka sedang menuju neraka, bahwa mereka tidak mau dan tidak mampu melakukan apa pun untuk mengubah keadaan mereka sendiri. Mereka tidak memiliki kekuatan rasional, kekuatan moral, maupun kekuatan rohani untuk mengubah kondisi mereka. Mereka tidak berdaya di hadapan Allah. Semua pesan ini tidak cocok dengan kesombongan manusia. Tetapi itulah yang dikatakan Alkitab—dan itulah sebabnya mereka tidak mencintai Alkitab, mereka tidak menyukai Alkitab. Ada orang-orang yang bersikap acuh tak acuh terhadap Alkitab. Dan mereka akan tetap acuh tak acuh terhadap Alkitab, kecuali mereka akhirnya menjadi mencintai Alkitab karena mereka benar-benar mendengar apa yang dikatakan Alkitab. Seluruh gagasan tentang Injil—Injil yang alkitabiah—dianggap tidak masuk akal, tidak rasional, bodoh, dan tolol.

Alasan yang kedua adalah Injil itu tidak terjangkau. Kita harus mengakui bahwa salah satu alasan mengapa mereka menolak Injil yang alkitabiah adalah karena, terus terang saja, Injil itu tidak dapat dijangkau—karena mereka akan mencoba menjangkaunya dengan akal manusia. Itulah mekanisme yang digunakan manusia berdosa untuk mengejar segala sesuatu. Mereka menyelesaikan semua masalah dengan akal manusia: yang ini tampak masuk akal; yang ini tampak rasional. Dan memang Allah telah memberikan akal kepada manusia untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu dalam ranah fisik. Jadi, mereka pun memindahkan mekanisme itu ke ranah rohani dan merasa bisa memahaminya—mereka bisa mencari jalan sendiri. Dan sesekali kita bertemu dengan orang-orang yang berkata, “Saya ini orang yang sangat spiritual,” seolah-olah mereka hidup dalam dunia ala Harry Potter, tempat mereka bisa melontarkan diri ke dalam dunia lain. Mereka merasa bisa menempatkan diri di dalam suatu dimensi di mana orang-orang bisa terbang, hal-hal aneh terjadi, makhluk roh beraksi, dan mereka bisa menyesuaikan diri dengan dunia itu serta memahami hal-hal yang tidak bisa dipahami oleh kita-kita yang biasa ini. Apa maksudnya menjadi “orang yang spiritual”? Gagasan bahwa dengan akal, intuisi, dan indera Anda sendiri, Anda bisa melontarkan diri Anda ke dalam pemahaman sejati tentang Injil yang alkitabiah, lalu mempercayainya, dan mencintainya— dan itu tidak benar. Lihatlah ayat 19: “Karena ada tertulis: “Aku akan membinasakan hikmat orang-orang berhikmat dan kearifan orang-orang bijak akan Kulenyapkan.’  Di manakah orang yang berhikmat? Di manakah ahli Taurat? Di manakah pembantah dari dunia ini? Bukankah Allah telah membuat hikmat dunia ini menjadi kebodohan?  Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmat.” Anda tidak bisa sampai kepada Allah melalui hikmat manusia; melalui apa yang tampak masuk akal, logis, dan rasional.

Dan ayat 19 dikutip dari Yesaya 29:14, yaitu kutipan dari Septuaginta, yang merupakan Alkitab berbahasa Yunani yang biasa dibaca oleh banyak penulis Perjanjian Baru yang berbahasa Yunani. Nabi Yesaya datang dan memperingatkan kerajaan utara, Israel. Dia memperingatkan mereka tentang penghukuman yang akan datang karena Sanherib, raja Asyur, sedang mengancam dan "menghembuskan api" di perbatasan mereka. Dia sedang mengancam kerajaan utara. Pertolongan tidak akan datang dari manusia. Jika akan ada pembebasan, jika akan ada tindakan penyelamatan, itu tidak akan datang dari hikmat manusia. “Aku akan membinasakan hikmat orang-orang berhikmat, dan kearifan orang-orang arif akan lenyap.” Orang-orang itu sendiri, dengan semua hikmat mereka, dengan segala strategi mereka, bahkan setelah mengumpulkan semua orang bijak dan pemimpin mereka, tetap tidak bisa menemukan jalan keluar untuk menghadapi bangsa Asyur. Tentu saja, Allah sendiri yang kemudian mengatasi bangsa Asyur—seperti yang tercatat dalam Yesaya 37:36—dengan mengutus satu malaikat yang membunuh 185.000 tentara Asyur. Dengan kata lain, ada dimensi dimana tindakan Allah tidak dapat diakses oleh manusia dengan hikmatnya. Mereka tidak bisa mengatasi pengkhianatan di perbatasan mereka dengan hikmat manusia.

Yeremia 8:9 berkata, “Orang bijaksana menjadi malu, mereka terkejut dan terperangkap; sesungguhnya, mereka telah menolak firman TUHAN, hikmat apa yang ada pada mereka?” Apa yang tersisa? Maka dalam ayat 20, Paulus memanggil mereka semua. “Di manakah orang yang berhikmat? Bawa mereka ke sini. Di manakah ahli Taurat?” Kata ini menunjuk kepada para pakar. “Di manakah pembantah dari dunia ini? Bukankah Allah telah membuat hikmat dunia ini menjadi kebodohan?” Kumpulkan semua orang bodoh, semua filsuf, semua pendidik, semua ahli teori, semua teolog. Dan, ngomong-ngomong, ayat 20 itu merujuk pada Yesaya 19:12 dan Yesaya 33:18, dan saya pikir itu juga mengacu pada para penasihat Mesir yang dijadikan bodoh oleh Allah, juga ahli-ahli Taurat dari Asyur, yang juga adalah orang-orang bodoh. Mereka semua bodoh. Bawa semuanya ke sini, karena ayat 21 berkata, “Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmat, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil.” Paulus hanya meminjam kutipan-kutipan kecil dari Perjanjian Lama yang dikenal oleh para pendengarnya untuk menegaskan maksudnya bahwa seluruh hikmat dunia, semua kecerdikan orang-orang cerdik, semua orang bijak, semua ahli hukum, semua pendebat, filsuf—semuanya tidak bisa mengenal Allah; ayat 21. Anda bisa mengumpulkan semua pikiran yang paling cemerlang dari seluruh universitas di dunia, di negeri kita ini, dan jika mereka dikumpulkan bersama pun, mereka tidak akan bisa mengenal Allah. Anda tidak bisa sampai kepada Allah dengan dasar hikmat manusia, bahkan pada tingkat tertingginya, pada bentuk terbaiknya. Jadi mengapa orang yang belum percaya menolak Alkitab? Mengapa mereka membenci Alkitab? Mengapa mereka tidak tertarik pada Alkitab? Mengapa mereka bersikap masa bodoh atau bahkan memusuhi Alkitab? Karena Injil yang alkitabiah bagi mereka tidak masuk akal dan juga tidak dapat dijangkau oleh pikiran mereka.

Yang ketiga, jika pun mereka bisa menjangkaunya dengan pikiran mereka, bagi mereka itu tetap tidak bisa dipercaya. Ini memang saling tumpang tindih, tapi di ayat 22 Paulus berkata, “Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, 23tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: Untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan.” Saliblah yang menjadi masalah. Orang Yahudi tidak sanggup menerima itu. Tanda seperti apa yang mereka inginkan? Mereka menginginkan tanda di langit, di bulan dan bintang, seperti yang telah dinubuatkan oleh para nabi tentang kedatangan Tuhan dan pendirian Kerajaan yang dijanjikan. Padahal mereka sudah melihat begitu banyak tanda. Yesus menunjukkan kuasa atas penyakit, setan, kematian, dan alam—bahkan secara harfiah mengakhiri penyakit di tanah Israel selama pelayanan-Nya. Mereka telah melihat kuasa-Nya yang luar biasa. Tidak ada seorang pun yang pernah mengatakan bahwa mukjizat-mukjizat Yesus itu palsu. Tidak ada yang mendiskreditkan mukjizat-mukjizat-Nya. Bahkan soal kebangkitan pun, mereka tahu bahwa Dia bangkit dari kematian, mereka tahu itu, para pemimpin tahu itu. Mereka menyuap para prajurit untuk berbohong dan mengatakan bahwa tubuh-Nya dicuri, padahal mereka tahu itu tidak benar. Orang-orang semacam itu tidak akan pernah puas dengan berapa pun tanda yang diberikan—tidak akan pernah. Semua orang yang berpura-pura melakukan mukjizat di hadapan orang banyak dan tampil di televisi, yang mengira bahwa hal itu akan membuat orang percaya Injil—mereka keliru. Bukan itu yang membawa orang kepada Injil. Anda bisa melakukan sebanyak apa pun tanda palsu; tapi bukan itu yang meyakinkan orang. Satu-satunya alasan mengapa seseorang bisa percaya kepada Injil adalah karena Roh Kudus memberi dia hidup. Dan satu-satunya cara Roh Kudus memberi dia hidup adalah melalui pemberitaan kebenaran. Mereka dilahirkan kembali oleh firman kebenaran, 1 Petrus 1:23.

Jadi sejujurnya, semuanya ini terdengar tidak masuk akal. Bagi orang Yahudi, mereka menginginkan tanda-tanda, terutama tanda besar, dan yang mereka ingin lihat adalah Mesias datang dengan tanda-tanda di langit, lalu mereka berharap Mesias itu akan membenarkan agama mereka, bukan? Kalau Yesus adalah Mesias, maka Dia seharusnya memuji mereka, karena mereka merasa sebagai penganut agama yang sejati. Tapi Yesus datang dan justru mengucapkan kata-kata paling keras dan paling menghukum para pemimpin agama Israel. Baca Matius 23—Dia menyebut mereka “kuburan yang dicat putih, yang sebelah luarnya memang indah tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan berbagai jenis kotoran.” Dia berkata bahwa mereka melahirkan anak-anak neraka. Itu bukan yang mereka harapkan dari Mesias. Mereka tidak mengira Mesias akan menyerang mereka; mereka berharap Mesias akan menyerang bangsa Romawi. Tapi kenyataannya, justru Dia dibunuh oleh orang Romawi. Ini menjadi batu sandungan yang besar. Bagaimana mungkin Dia Mesias kalau bangsa-Nya sendiri menolak Dia, para pemimpin menolak Dia, dan Dia dibunuh oleh bangsa Romawi? Sementara bagi orang Yunani, seluruh gagasan itu benar-benar konyol—bahwa seorang Yahudi yang disalibkan, seorang Yahudi—dari bangsa yang tidak terkenal, di tempat yang juga tidak terkenal, sebuah wilayah kecil dalam Kekaisaran Romawi, yaitu tanah Israel—bahwa orang itu, yang disalibkan oleh Romawi dan ditolak oleh bangsanya sendiri, adalah Allah yang kekal, satu-satunya Allah yang benar, dan bahwa Dia datang ke dunia dalam wujud manusia, mati sebagai pengganti untuk menyediakan keselamatan—dan satu-satunya jalan keselamatan bagi orang berdosa. Bagi mereka itu sungguh tidak masuk akal.

Jika Anda pergi ke Sirkus Maximus di kota Roma pada hari ini, Anda dapat menemukan sebuah lokasi tua di sana dengan ukiran batu, beberapa diantaranya masih tersisa. Anda bisa melihat ukiran sebuah salib, dan yang tergantung di salib itu adalah seorang pria berkepala keledai. Di bawahnya ada seorang pria sedang membungkuk menyembah, dan tertulis, “Alexus Menos menyembah dewa-nya.” Itu adalah ejekan terhadap kekristenan. Orang seperti apa yang mau menyembah keledai yang disalibkan? Begitulah bodohnya hal itu menurut mereka—sama sekali tidak dapat diterima. Terus terang, Injil itu dianggap kebodohan, dianggap omong kosong, dianggap tidak masuk akal. Dan lebih dari itu, mereka terjebak karena Injil tidak bisa dijangkau melalui upaya mereka, karena satu-satunya cara mereka mencari kebenaran adalah melalui akal manusia. Dan sejujurnya, meskipun mereka bisa menjangkaunya, mereka tidak akan mau, karena bagi mereka itu terlalu aneh.

Izinkan saya memberi Anda alasan keempat mengapa orang tidak percaya Injil: karena orang-orang yang mewakilinya tidak mengesankan. Ya, pesannya dianggap tidak masuk akal, realitasnya tidak dapat dijangkau dengan pikiran manusia, kebenarannya tidak dapat dipercaya, dan orang-orang yang mewakilinya tidak menonjol. Anda mungkin berkata, “Tuhan, kalau Engkau ingin menyampaikan pesan ini, Engkau harus menaruhnya di tangan orang-orang berkuasa. Engkau harus memberikannya kepada orang-orang penting. Mereka bisa membuatnya tampak masuk akal.” Benarkah begitu? Itu bukan rencana Allah. Kembali ke teks kita; ayat 26: “Ingat saja, Saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: Menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang.” Tiga kali dikatakan: tidak banyak, tidak banyak, tidak banyak – mayoritas orang percaya memang tidaklah mengesankan, terutama bagi dunia yang mengagungkan kecerdasan dan status. Kita bukanlah kaum intelektual elite dunia. Kita bukan orang-orang yang berkuasa, dalam arti memiliki pengaruh besar atau kedudukan tinggi. Dan kita bukan orang terpandang. Apa artinya itu? Lahir dari keturunan bangsawan, berdarah biru, memiliki kedudukan sosial yang tinggi. Tidak. Lalu siapa kita? Ayat 27 mengatakan, “Kita ini bodoh, lemah,” dan ayat 28 mengatakan, “Kita hina, rendah, bahkan dianggap tidak ada.” Kita bukan orang bijak, kita justru bodoh jika dibandingkan dengan dunia. Kita bukan orang kuat, kita lemah. Kita bukan bangsawan, kita orang rendahan.

Lihat kata “hina” dalam ayat 28, “apa yang hina bagi dunia.” Kata Yunani untuk “hina” adalah agenēs. Genos berarti “dilahirkan” – dari situ kita mendapatkan kata “genetik.” Kita ini agenēs. Apa artinya? Kita tidak dilahirkan, kita “belum lahir” – dengan kata lain: kita tidak ada. Kata itu kemudian berarti: tidak penting, tidak diperhitungkan. Kita bukanlah para penggerak sejarah. Dan Paulus bahkan melangkah lebih jauh. Menjadi agenēs saja sudah cukup rendah – karena belum lahir, bahkan tidak dianggap ada – tapi dia menambahkan: “yang hina” dan kemudian mengatakan bahwa Allah memilih “apa yang tidak ada.” Itu adalah bentuk partisip present dari kata kerja eimi (“ada”), dan ini adalah ungkapan yang paling menghina dalam seluruh bahasa Yunani. Artinya secara harfiah: “Kamu bahkan tidak ada.” Jika kamu ingin benar-benar merendahkan seseorang, katakan: “Kamu bahkan tidak eksis.” Jadi, “tidak banyak orang bijak menurut ukuran manusia, tidak banyak orang berpengaruh, tidak banyak orang terpandang,” tetapi Allah telah memilih – perhatikan, kata itu diulang terus – Allah telah memilih, Allah telah memilih, Allah telah memilih – kalau-kalau Anda masih bergumul dengan doktrin pemilihan ilahi (sovereign election). Allah telah memilih, Allah telah memilih, Allah telah memilih – empat kali – ayat 29: “supaya jangan ada seorang manusia pun yang memegahkan diri di hadapan Allah.”

Inti dari semua ini adalah: kita ini biasa-biasa saja, tidak menonjol. Saya teringat satu ilustrasi — tiba-tiba saja melintas di pikiran saya saat ibadah pertama — saya pernah bersama Deepak Chopra di sela-sela sesi wawancara di sebuah program bincang-bincang televisi. Dia seorang mistikus Hindu yang juga seorang dokter medis. Dia orang yang cerdas. Dan dia sudah menemukan cara untuk memisahkan orang dari uang mereka. Jadi dia memang sangat pintar, tapi dia percaya bahwa dirinya adalah Allah. Dia sudah menulis banyak hal tentang itu. Dia sangat spiritual, sangat esoterik, sangat Hindu — semuanya itulah — dan sangat sulit baginya untuk berurusan dengan saya. Sangat sulit. Pada suatu titik dalam percakapan kami, dia berkata, “Yah, Anda toh tidak akan mengerti soal itu.” Lalu saya berkata, “Faktanya, saya mengerti. Saya mengerti filsafat itu. Saya tahu persis dari mana arah pemikiran Anda berasal.” Saya jelaskan sedikit tentang itu, dan saya katakan, “Bahkan saya menulis buku tentang itu.” Lalu dia berkata — ini kutipan langsung — “Saya tidak akan pernah membaca apapun yang kamu tulis.” Baiklah; saya bahkan tidak ada. Seolah-olah dia berkata, “Anda bahkan tidak hidup di dunia saya. Pergi sana.” Begitulah pandangan mereka terhadap kita, para intelektual elit itu. Nah, orang-orang yang tidak percaya berada dalam kondisi seperti itu karena keterbatasan-keterbatasan ini. Mereka tidak terkesan oleh kita. Mereka tidak terkesan oleh pesan kita. Mereka terkesan oleh diri mereka sendiri. Dan masalahnya adalah, mereka ingin mengikuti akal mereka sendiri — dan dengan cara itu, mereka tidak akan pernah bisa sampai kesana.

Satu hal lagi yang bisa kita katakan: bukan hanya orang-orangnya yang tidak menonjol, tapi para pembawa pesannya juga tidak menarik. Ya, itulah Paulus, seperti yang ia katakan dalam 1 Korintus 2:1, “Aku datang kepadamu, Saudara-saudara, aku tidak datang dengan kata-kata yang muluk atau dengan hikmat yang tinggi.” Ketika pertama kali dia datang ke Korintus untuk memberitakan Injil dan mendirikan jemaat, Paulus berkata, “Aku tidak datang dengan keunggulan kata-kata atau kebijaksanaan manusia.” Apa maksudnya? Dia sedang membandingkan dengan apa yang biasa didengar orang-orang Korintus dari para filsuf dan guru mereka. Orang Yunani sangat menyukai seni orasi. Mereka menyukai kompleksitas filosofis, argumen yang berlapis-lapis dan sulit dipahami. Dan ketika mereka mendengar Injil, mereka menolaknya karena dirasa terlalu sederhana — bahkan dianggap bodoh. Paulus berkata, “Aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.” Dan mereka pun berkata, “Kamu terus saja mengatakan hal bodoh yang sama tentang orang itu dan salib itu. Di mana kepintaran yang tersembunyi? Di mana spekulasi rasional? Di mana kerumitan filosofisnya?” Itulah sebabnya dalam 2 Korintus 10:10, orang-orang berkata tentang Paulus: “Sikapnya lemah dan perkataan-perkataannya tidak berarti.” Siapa yang mau mendengarkan dia? Dia tidak cerdas, tidak punya sophia — tidak punya hikmat dunia yang canggih. Maka jelas: pesannya menyinggung, para utusannya tidak menonjol, dan para pemberitanya tidak mengesankan.

Bukan hanya Paulus menyampaikan pesan yang sempit dan sederhana yang terus ia ulang-ulang (ayat 2), tetapi ia juga berkata dalam ayat 3, “Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar.” Ayo, di mana kebanggaanmu? Di mana kepercayaan dirimu? Harusnya ada sedikit rasa percaya diri, keberanian, dan sikap dominasi! Begitulah gaya para filsuf dan pengajar dunia pada waktu itu. Tapi Paulus datang dalam kelemahan, ketakutan, dan gemetar. Lalu dia berkata dalam ayat 4, bahwa pemberitaan dan pesannya “tidak dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan bukti bahwa Roh berkuasa.” Mengapa? Supaya iman mereka “jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah.” Dia mengerti. Ini bukan soal apologetika, bukan soal bukti-bukti. Ini bukan soal meyakinkan mereka lewat akal. Ini bukan soal menyesuaikan Injil dengan logika mereka. Mereka adalah manusia yang telah jatuh dalam dosa. Secara alami mereka berada dalam kegelapan. Secara rohani, mereka mati. Mereka dibutakan dua kali oleh Iblis. Mereka terpisah dari kehidupan Allah — dan mereka tidak bisa percaya, dan mereka juga tidak akan mau percaya.

Intinya, orang non-Kristen tidak percaya Alkitab karena mereka tidak bisa. Mereka memang tidak bisa. Dan Anda tidak bisa membuatnya tampak masuk akal. Semua usaha Anda untuk menjadi relevan, keren, dan cerdas untuk mengesankan mereka tidak akan berhasil. Anda tidak bisa menemukan Allah, menemukan Kristus, menemukan Injil, menemukan keselamatan, dan mencintai Alkitab hanya dengan melalui akal manusia. Hikmat manusia bisa melakukan hal-hal luar biasa dalam dunia fisik dan dunia sementara — sains, teknologi, genetika, kedokteran, industri, seni, budaya, akademik, dan segala macam pencapaian. Tapi hikmat manusia, baik secara individu maupun kolektif, tidak dapat mengenal Allah dengan cara yang menyelamatkan. Mereka bisa tahu bahwa Allah itu ada — Roma 1. Mereka bisa tahu bahwa Allah punya hukum moral — Roma 2. Tapi mereka tidak bisa mengenal Allah. Injil tidak dapat diakses melalui hikmat manusia. Itulah masalahnya. Manusia memilih jalan yang menurut mereka menarik: jalan akal manusia yang memuaskan diri sendiri — tapi mereka tidak akan sampai ke sana dengan jalan itu.

Jadi, mengapa kita percaya? Mari kita ubah arah pembicaraan kita sekarang. Kita masih punya beberapa menit lagi. Jadi, mengapa kita percaya? Anda mungkin berkata, “Ya karena kita paling pintar di antara mereka semua.” Bukan, bukan itu alasannya. Kenapa kita percaya? Ayat 6: “Sungguhpun demikian kami memberitakan hikmat…” Nah, sekarang kita berbelok secara drastis — “Sungguhpun demikian kami memberitakan hikmat.” Tunggu dulu. Mereka tidak mengerti, tapi kitalah orang-orang paling berhikmat di muka bumi. Tahukah Anda, saat ini, dalam ruangan ini, sedang berkumpul kumpulan hikmat manusia yang paling murni, paling benar, paling dalam, paling akurat, paling menyeluruh di seluruh kota Los Angeles — bahkan mungkin di seluruh negara bagian California — ya, di sini. Dan bagian yang menyedihkan adalah tidak ada satu pun orang di luar sana yang bertanya apa-apa kepada kita, padahal kita punya semua jawabannya. Kita memperkatakan hikmat. Saya terus menunggu seseorang menelepon saya dari Washington — atau dari mana saja — untuk bertanya. Tanya saja. Pernah ada satu orang yang mencoba mengejek saya dalam wawancara radio dan bertanya, “Anda sekolah hukum di mana?” Saya jawab, “Saya tidak sekolah hukum, saya cuma baca Alkitab.” Wah, jawaban itu benar-benar membuat mereka marah sekali.

“Kami memberitakan hikmat di kalangan mereka yang telah matang.” Itu kuncinya yang pertama. Kata “matang” di sini adalah teleios, artinya lengkap. Saya membacanya seperti itu: lengkap, diselamatkan, telah dijadikan utuh, karena Anda telah menjadi lengkap di dalam Dia. Itu adalah kelahiran baru. Mengapa kita mengenal hikmat? Mengapa kita menyampaikan hikmat? Karena kita telah dijadikan lengkap. Kita telah datang kepada Kristus, di dalam Dia tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan, seperti dikatakan dalam kitab Kolose. Ini adalah anugerah Allah bagi kita dalam kelahiran baru kita. Bukan karena kita lebih pintar dari orang lain, tetapi karena Roh memberi kita hidup, Roh memberi kita terang, Roh menghidupkan kita, menghilangkan penutup mata kita, dan menolong kita melihat kebenaran Injil. Ingat dalam 2 Korintus 4: “Sebab Allah yang telah berfirman, "Dari dalam gelap akan terbit terang!", Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang tampak pada wajah Kristus.” Allah menyalakan terang dan menghidupkan kita melalui pekerjaan Roh. Kita mencintai Alkitab karena pekerjaan Roh. Dialah yang memberi kita hidup, dan dengarkan ini: hidup itu ditopang oleh makanan, seperti halnya kehidupan fisik Anda, dan kehidupan rohani juga ditopang oleh makanan, dan makanannya apa? Makanannya adalah Firman Allah. Firman Allah.

Kembali ke ayat 6, “Hikmat yang kita miliki sebagai orang-orang yang telah dijadikan lengkap di dalam Kristus bukanlah hikmat dari dunia ini, dan yang bukan dari penguasa-penguasa dunia ini, yaitu penguasa-penguasa yang akan ditiadakan.” Hikmat ini bukanlah hikmat dunia. Hikmat ini bukanlah seperti yang disebut Yakobus sebagai hikmat dari bawah. Ini adalah hikmat dari atas, seperti dalam Yakobus 3:15–18, yang datang dari surga dan bersifat murni serta membawa damai. Kita memiliki hikmat yang sejati.

Tapi lihatlah budaya ini. Jika mereka bisa, para pemegang kekuasaan dalam masyarakat ini akan menyingkirkan setiap orang Kristen sejati, setiap orang Kristen yang berpegang pada Alkitab, dari percakapan publik untuk selamanya. Mereka tidak ingin mendengar apa pun dari Anda. Hikmat yang kita miliki bertentangan dengan hikmat mereka. Inilah hikmat yang tidak akan lenyap. Ayat 7 berkata, “Kami beritakan hikmat Allah.” Luar biasa! Apakah Anda mengerti betapa pentingnya Anda bagi dunia? Anda mungkin tidak mengikuti tren. Saya mungkin tidak menarik di mata dunia, tidak seperti apa yang mereka senang dengar atau nikmati. Anda mungkin tidak luar biasa, saya pun tidak luar biasa, tidak ada dari kita yang sungguh luar biasa, kita hanyalah orang-orang biasa di sini. Tapi Anda menyampaikan hikmat Allah, karena Roh Kudus telah memberikan hidup kepada Anda, dan Anda mencintai kebenaran-Nya. Hikmat ini adalah sebuah rahasia. Mustērion adalah kata Paulus untuk Injil yang tersembunyi dalam Perjanjian Lama dan dinyatakan sepenuhnya dalam Perjanjian Baru. Anda menyampaikan hikmat—hikmat dari rahasia itu—seperti yang dikatakannya, “hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia, yang sebelum dunia dijadikan, telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita,” yaitu hikmat Injil yang telah Allah tentukan sebelumnya untuk dinyatakan pada waktu ini dan zaman ini untuk membawa umat-Nya kepada kemuliaan. Kita memperkatakan hikmat Allah.

Ayat 8 berkata, “Tidak ada dari penguasa dunia ini yang mengenal hikmat ini, sebab sekiranya mereka mengenalnya, mereka tidak menyalibkan Tuhan yang mulia.” Kelompok pemimpin yang paling terlatih dan paling pahamKitab Suci di dunia pada zaman Yesus—yang mengenal Perjanjian Lama lebih baik dari siapa pun, satu-satunya sumber pewahyuan ilahi—adalah orang-orang Farisi dan para pemimpin Israel, namun mereka tidak dapat memahaminya, sebab jika mereka memahaminya, mereka tidak akan menyalibkan Dia. Mengapa mereka tidak memahaminya? Kembali ke ayat 9: karena hikmat itu berisi hal-hal yang tidak pernah dilihat oleh mata dan tidak pernah didengar oleh telinga. Itu artinya Anda memang tidak bisa memahaminya—ini kembali ke soal akal—ini soal empirisme. Anda tidak bisa melihatnya, Anda tidak bisa mendengarnya. Dengan kata lain, hikmat itu tidak bisa datang kepada Anda dari luar. Hikmat itu tidak bisa datang secara empiris, eksternal, atau melalui pengalaman lahiriah. Lalu dikatakan dalam ayat 9, “dan yang tidak timbul di dalam hati manusia,” artinya itu juga tidak bisa datang dari dalam. Anda tidak bisa mengenal rahasia ini, Injil ini, Injil keselamatan dari Kristus ini, dengan cara pengalaman lahiriah dari luar. Anda juga tidak bisa mengenalnya secara intuisi rohani dari dalam. Anda tidak bisa mengenalnya—karena “Allah telah menyediakan itu bagi mereka yang mengasihi Dia,” dan lalu ayat 10 berkata, “Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh.” Di situlah kuncinya. Pertama, Allah memberikan hidup kepada Anda, lalu Dia memberikan pewahyuan. Mari kita katakan dengan cara lain: Dia memberikan kelahiran baru, lalu Dia memberikan pewahyuan.

Lalu, apa gunanya kita dilahirkan kembali jika kita tidak memiliki ini? Jika kita telah dijadikan mampu untuk memahami hikmat Allah, maka tentu kita juga harus memiliki hikmat Allah, bukan? Jadi, Roh Kudus memberi kita hidup, lalu Ia memberi kita firman yang menghidupkan. Mengapa kita mencintai Alkitab? Karena kelahiran baru oleh Roh Kudus, dan karena pewahyuan oleh Roh Kudus; Dialah penulis dari Alkitab. Inilah hikmat yang tersembunyi, Injil yang utuh dan lengkap, yang telah dinyatakan dan hanya dikenal oleh kita, seperti dikatakan dalam ayat 10, melalui Roh Kudus. Lalu Paulus meneguhkan maksudnya dengan mengatakan, “Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah.” Apa yang telah Roh Kudus berikan kepada kita dalam Alkitab? Hasil dari penyelidikan-Nya terhadap kedalaman-kedalaman Allah—sungguh ini pemikiran yang luar biasa. Sungguh ini kenyataan yang menakjubkan. Kitab ini adalah kedalaman Allah, yang diselidiki oleh Roh Kudus yang mahatahu, dan dinyatakan kepada para penulis Alkitab. Betapa berharganya itu. Betapa tak ternilai dan tak terhitung nilainya harta ini.

Inilah karya Roh Kudus. Ayat 11 memberikan analogi: “Siapa di antara manusia yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri manusia selain roh manusia sendiri yang ada di dalam dia? Demikian pulalah tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah.” Sama seperti roh Anda yang mengenal diri Anda. Itulah perbedaan antara manusia dan hewan. Hewan tidak sadar bahwa dia ada, sedangkan Anda sadar bahwa Anda ada. Anda menghitung pikiran Anda. Anda memikirkan pikiran Anda. Dan kemudian Anda mengevaluasi pikiran Anda. Dan seperti roh di dalam Anda yang mengenal Anda, demikian pula Roh mengenal Allah secara sempurna. Roh Kudus adalah Mahatahu. Roh Kudus sepenuhnya adalah Allah, mengetahui semua yang Allah ketahui, dan Allah mengetahui segala sesuatu yang dapat diketahui. Jadi kita telah diberi pengetahuan penuh tentang Allah dari Roh Kudus, yang diperlukan bagi kita untuk memiliki segala sesuatu yang berkenaan dengan hidup dan kesalehan. “Manusia duniawi,” ayat 14, “tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani,” dan perlu diingat, ia mati secara rohani. “Tetapi manusia rohani menilai segala sesuatu, tetapi ia sendiri tidak dinilai oleh orang lain.” Kita benar-benar berdiri di dunia ini—saya bisa mengambil Alkitab saya, dan saya bisa mengevaluasi segala sesuatu, dan tidak ada seorang pun yang dapat membantah penilaian tersebut. Saya bisa memberitahu Anda dengan tepat bagaimana seharusnya segala sesuatu berjalan. Saya bisa memberitahu apa yang benar dan apa yang salah, berdasarkan apa yang dikatakan oleh kitab ini. Dan saya tidak tunduk pada penghakiman apa pun selain kitab ini.

Ada satu hal lagi yang perlu disampaikan di sini. Alasan Anda mencintai Alkitab adalah karena Anda telah dilahirkan kembali, karena Anda telah menerima pewahyuan. Dan yang ketiga, karena Anda telah menerima pencerahan. Inilah yang dikatakan dalam ayat 13, “Kami berkata-kata tentang karunia-karunia Allah dengan perkataan yang bukan diajarkan kepada kami oleh hikmat manusia, tetapi oleh Roh.” Di mana Roh Kudus tinggal? Di mana Roh itu berdiam? Di dalam kita. 1 Yohanes 2:20 dan 27 berkata, “Kamu telah beroleh pengurapan dari Yang Kudus, karena itu, kamu tidak perlu diajar oleh orang lain karena kamu diajar oleh Allah.” Anda memiliki seorang pengajar kebenaran yang tinggal di dalam Anda, yaitu Roh Kudus. Coba pikirkan. Roh Kudus adalah guru pribadi Anda. Roh Kudus yang mengajar Anda adalah Penulis dari pewahyuan yang memuat seluruh kebenaran yang sedang Dia ajarkan kepada Anda, dan bukan hanya itu, Roh Kudus yang adalah Pengajar Anda, yang menyatakan isi ajaran-Nya, adalah Roh yang sama yang telah memberikan Anda hidup untuk dapat memahami semuanya. Itulah sebabnya kita hidup dan bergerak di dalam Roh.

Mengapa kita mencintai Alkitab? Karena karya kelahiran kembali, karya pewahyuan, dan karya pencerahan. Salah satu ayat favorit saya dalam Alkitab adalah ayat 16; saya sangat menyukai ayat ini. Ayat 16 mengutip dari Yesaya 40:13 pernyataan, “Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan, sehingga ia dapat menasihati Dia?” Anda tahu, dalam kitab Yesaya dikatakan siapa yang mengetahui pikiran Allah? Siapa yang bisa memahami pikiran Allah? Saya sering dengar orang berkata, “Siapa yang tahu apa yang dipikirkan Allah?” Saya mengetahuinya. Apakah Anda melihat bagian akhir ayat itu? Kita memiliki pikiran Kristus. Pernahkah Anda mendengar sesuatu yang lebih menakjubkan dari itu? Kita memiliki pikiran Kristus.

Saya bisa masuk ke kelas filsafat universitas mana pun dan berkata, “Saya di sini untuk memberitahu Anda apa yang Kristus pikirkan tentang segala hal, dan Dia adalah Pencipta alam semesta, tanpa Dia tidak ada satu pun yang jadi dari segala sesuatu yang telah jadi. Dia adalah Hakim atas alam semesta. Dia adalah Pribadi yang menentukan takdir setiap orang. Dia adalah sumber dari semua moralitas, semua relasi, dan semua yang benar, dan Dia akan menjadi Hakim atas segala kejahatan. Dan saya di sini untuk memberitahu Anda secara mutlak segala hal yang Dia pikirkan.” “Apa?” Saya pernah mencoba hal ini di kelas filsafat di Cal State Northridge. Itu benar-benar mengejutkan mereka. “Apa? Siapa orang ini?” Saya memang pernah berkata begitu di kelas Dr. Kramer – karena dia ingin menghadirkan seseorang yang menurutnya seorang fundamentalis untuk datang ke kelas filsafat. Dan saya berkata, “Saya akan memberitahu Anda kebenaran tentang segala sesuatu, karena saya tahu apa yang Allah pikirkan tentang segala sesuatu.” Dan Anda bisa lihat sendiri ekspresi para mahasiswa tingkat atas itu mulai menyipitkan mata mereka.

Dan saya berkata, “Tapi, saya harus katakan bahwa tidak satu pun dari kalian akan percaya pada apa yang saya katakan. Kalian tidak akan percaya.” Lalu seorang mahasiswa berkata, “Tunggu, tunggu, tunggu, maksud Anda apa kami tidak akan percaya? Kenapa?” Saya berkata, “Karena kalian tidak bisa.” Nah, sekarang mereka berada dalam dilema, karena mereka ingin membuktikan kepada saya bahwa mereka bisa percaya. Tapi saya memang berkata, saya ingat – saya berkata, “Saya bisa memberitahu kalian segala sesuatu yang kalian butuhkan – segala hal yang penting, setiap kebenaran yang kalian perlukan, saya mengetahuinya – saya mengetahuinya – karena saya memiliki pikiran Kristus.” Ini bukan – tahu kan, ada orang yang berkata, “Saya harap saya punya pikiran Kristus dalam hal ini.” Bukan, bukan, bukan soal apa yang Yesus mau Anda lakukan, apakah harus membeli mobil biru atau merah? Apakah menikah dengan gadis ini? Dengan laki-laki itu? Bukan, bukan itu pikiran Kristus. Ketika dikatakan bahwa Anda memiliki pikiran Kristus, itu berarti Anda tahu bagaimana Dia berpikir tentang segala sesuatu yang telah dinyatakan di sini, bukan? Inilah pikiran Kristus, Anda mengerti? Itulah sebabnya Yesus berkata dalam Yohanes 15, “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.”

Tidak ada tempat di mana Anda tidak bisa masuk dan berkata, “Saudara-saudara, saya di sini untuk memberitahu Anda dengan tepat bagaimana perasaan Allah tentang segala sesuatu – tentang segalanya.” Menyedihkan bahwa kita punya begitu banyak hal untuk ditawarkan, tetapi audiensnya begitu sedikit, ya? Tapi inilah alasan mengapa kita mencintai Firman Tuhan – karena kita tidak pernah merasa cukup dengannya. Kita adalah persekutuan – perpanjangan dari persekutuan hati yang menyala-nyala di jalan ke Emaus. Anda ingat? ketika Yesus berjalan bersama para murid, dan saat Dia membuka Kitab Suci serta menjelaskan segala sesuatu? Dikatakan bahwa hati mereka berkobar di dalam mereka. Itulah persekutuan hati yang menyala. Mengapa kita mencintai Alkitab? Kita mencintaid Alkitab karena Tuhan memberikan kita hidup, dan secara berdaulat Dia memilih kita. Dia memberikan kita hidup. Dia meregenerasi kita. Dia memberikan kita iman. Kita percaya. Kita menerima hidup. Dia memberikan kita wahyu. Dia meletakkannya di tangan kita. Dan Dia menempatkan penulis wahyu itu di dalam hati kita untuk menjadi penafsirnya. Dia bahkan melangkah lebih jauh dari itu. Dia menetapkan guru-guru dan pemimpin-pemimpin di dalam gereja yang, oleh kuasa Roh Kudus, menjadi pengajar dan gembala kita, dan membawa kita lebih dalam lagi ke dalam kebenaran ilahi.

Anda berkata, “Bukankah Anda tadi hendak membahas bahwa ini adalah Injil yang merendahkan hati?” Saya memang akan membahas itu. Kembali ke pasal 1 ayat 30. Fakta bahwa Anda berada dalam posisi untuk mencintai Injil, mencintai Alkitab, dan mengasihi kebenaran — dengarkan ini, di ayat 30: “Oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus.” Siapa yang melakukannya? Siapa yang melakukannya? Allah yang melakukannya. “Oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita.” Allah telah memberikan kepada Anda sebuah anugerah yang berdaulat. Oleh karena Dialah Anda berada dalam Kristus. Anda memiliki hikmat ilahi, kebenaran, pengudusan, dan penebusan, supaya seperti ada tertulis dalam Yeremia 9, “Baiklah ia bermegah” karena hal itu. Ini memang Injil yang merendahkan hati, bukan? Inilah Injil yang merendahkan hati.

Bapa, kami bersyukur kepada-Mu atas hari-hari yang luar biasa ini bersama-sama, dan kami bersyukur atas Firman-Mu. Firman-Mu begitu berkuasa. Firman-Mu begitu berharga bagi kami. Terima kasih atas sukacita yang kami alami dalam beberapa hari terakhir bersama saudara-saudari terkasih yang telah datang dari berbagai penjuru negeri dan dunia. Terima kasih untuk gereja kami yang terkasih dan berharga, untuk jemaat yang ada di sini, yang melayani Engkau dengan setia dan yang saling mengasihi serta mencerminkan pikiran Kristus dengan cara yang begitu indah, baik di dalam maupun di luar gereja. Terima kasih atas semua yang Engkau kerjakan di tempat ini. Terima kasih atas pria-pria setia yang telah Engkau tempatkan dalam kepemimpinan di sini, dan pria serta wanita yang telah Engkau tempatkan dalam pelayanan untuk melayani dan menjadi Kristus bagi orang-orang di tempat ini. Namun kami tahu bahwa Engkau datang kepada kami melalui saudara-saudari kami, bahkan sebagai pembawa Injil di seluruh dunia. Kami berdoa, Tuhan, kiranya Engkau terus membuat gereja ini bertumbuh dalam kasih kepada-Mu dan kasih kepada Firman-Mu. Perdalamlah kasih dan kecintaan kami terhadap Firman Tuhan. Kami bersyukur karena kami memiliki pikiran Kristus. Kami tahu bagaimana cara Engkau berpikir. Kiranya kami mengasihi kebenaran itu sedemikian rupa sehingga hal itu nyata dalam ketaatan kami. Kami bersyukur dalam nama Kristus, dan semua orang berkata, “Amin.”

SELESAI

This sermon series includes the following messages:

Please contact the publisher to obtain copies of this resource.

Publisher Information
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969

Welcome!

Enter your email address and we will send you instructions on how to reset your password.

Back to Log In

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize
View Wishlist

Cart

Cart is empty.

Subject to Import Tax

Please be aware that these items are sent out from our office in the UK. Since the UK is now no longer a member of the EU, you may be charged an import tax on this item by the customs authorities in your country of residence, which is beyond our control.

Because we don’t want you to incur expenditure for which you are not prepared, could you please confirm whether you are willing to pay this charge, if necessary?

ECFA Accredited
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Back to Cart

Checkout as:

Not ? Log out

Log in to speed up the checkout process.

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize