Sekitar 25 tahun yang lalu dalam hidup saya, saya diminta untuk menulis sebuah buku kecil, dan judul aslinya adalah Fokus pada Fakta. Mungkin Anda belum pernah melihatnya, karena buku itu tidak bertahan lama. Beberapa tahun kemudian buku itu diterbitkan lagi dengan judul lain, yaitu Mengapa Saya Percaya Alkitab, pada tahun 1983. Ketika saya sedang bersiap untuk menulis buku itu—tentang alasan mengapa saya mempercayai Alkitab, yang sebenarnya juga menjadi inti dari buku pertama—saya harus menjawab satu pertanyaan mendasar: mengapa saya mempercayai Alkitab? Apa yang membuat kebenaran Alkitab begitu dapat dipercaya bagi saya? Apakah karena saya lebih pintar dari orang lain? Apakah karena saya pernah menerima serangkaian bukti yang lebih kuat tentang keabsahan Alkitab? Dan tentu saja, bukti-bukti seperti itu memang bisa disajikan. Tapi, mengapa saya memiliki keyakinan yang begitu besar terhadap Alkitab?
Saya masih ingat masa-masa kuliah saya, ketika hampir tidak ada hal yang menarik perhatian saya selain kegiatan olahraga. Saat itu, kebahagiaan terbesar saya ada di lapangan football. Tapi bahkan pada masa itu, saya sudah memiliki keyakinan penuh terhadap Firman Allah. Saya benar-benar tidak sabar untuk segera masuk seminari. Ketika akhirnya saya memutuskan untuk meninggalkan karier atletik dan kesempatan untuk bermain secara profesional demi pergi ke seminari, banyak teman-teman atlet dan pelatih saya yang tidak bisa memahami alasan di balik keputusan itu. Tapi alasan saya sebenarnya bukan karena saya memiliki dorongan kuat untuk berkhotbah atau mengajar. Saya hanya memiliki kerinduan yang begitu mendalam untuk menggali Firman Allah dan memahami maknanya, karena saya sudah berkomitmen sepenuhnya pada kebenarannya.
Dari mana keyakinan itu datang? Mengapa saya begitu yakin akan kebenaran Alkitab? Saya belum pernah mempelajari apologetika atau pembelaan atas Alkitab. Saya belum banyak membaca hal-hal seperti itu. Tapi di dalam hati saya sudah ada komitmen yang utuh terhadap Firman Allah. Ketika saya mulai merenungkan alasan mengapa saya mempercayai Alkitab, saya teringat beberapa bagian Alkitab yang relevan. Saya ingat bahwa Yesus pernah berkata kepada Petrus dalam Matius 16, “Bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga.” Dan saya menyadari bahwa alasan Petrus tahu bahwa Yesus adalah Kristus, Anak Allah yang hidup, adalah karena penyataan ilahi—karena Allah sendirilah yang menyingkapkan kebenaran itu kepadanya.
Lalu saya melihat 1 Korintus pasal 12 ayat 3 yang berkata, “Tidak ada seorang pun yang dapat mengaku: ‘Yesus adalah Tuhan’, selain oleh Roh Kudus.” Bagi saya, wajar untuk mengatakan bahwa Yesus adalah Kristus, Anak Allah yang hidup. Wajar pula untuk berkata bahwa Yesus adalah Tuhan. Tapi, tidak ada seorang pun yang dapat mengatakannya dengan iman yang sejati, sekalipun tampaknya begitu masuk akal, kecuali Bapa yang menyingkapkannya dan Roh Kudus yang menyatakannya. Saya juga tertarik kepada Yohanes pasal 6, ketika Yesus berbicara dan banyak murid-Nya meninggalkan Dia. Lalu Dia bertanya kepada mereka yang tetap tinggal, “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Dan dari mulut Petrus, mewakili yang lain, keluar jawaban ini, “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Engkau memiliki perkataan hidup yang kekal.” adalah penegasan kuat lainnya bahwa segala sesuatu yang dikatakan oleh Tuhan Yesus Kristus—segala sesuatu yang difirmankan Allah—adalah kebenaran.
Itu semua, sekali lagi, seperti yang Yesus katakan, telah diberikan kepada-Nya oleh Bapa. Bahkan dalam bagian itu Yesus berkata, “Bukankah Aku sendiri yang telah memilih kamu?” Lalu saya teringat—dan saya ingin mengajak Anda melihat bagian ini—Roma pasal 8. Dengan sangat jelas kita membaca dalam ayat 5: “Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh.” Di sini kita melihat dua dimensi yang sama sekali saling bertentangan dan tidak bisa dipersatukan.
Pikiran yang dikuasai oleh daging, ayat 6, menghasilkan maut; tetapi pikiran yang dikuasai oleh Roh menghasilkan hidup dan damai sejahtera. Ayat 7 menambahkan, “Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena keinginan itu tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya.” Dan ayat 8 menegaskan, “Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.” Jika seseorang masih berada dalam daging—artinya belum dilahirkan kembali oleh Roh Allah—maka dia tidak dapat menyenangkan Allah. Padahal, percaya kepada Alkitab akan sangat menyenangkan hati Allah. Hal itu bahkan berada di puncak daftar hal-hal yang berkenan di hadapan-Nya. Percaya kepada Injil juga menyenangkan Allah. Mengakui keilahian dan karya penyelamatan Tuhan Yesus Kristus adalah hal yang sangat berkenan bagi Allah.
Ketiga hal itu akan menjadi yang teratas dalam daftar hal-hal yang menyenangkan Allah. Dan, kenyataannya, jika seseorang masih hidup “dalam daging,” dia tidak dapat menyenangkan Allah, bahkan dalam hal yang paling dasar sekalipun, apalagi dalam hal yang tertinggi seperti percaya kepada firman-Nya. Lalu mengapa saya bisa memiliki keyakinan yang begitu besar terhadap Alkitab? Saya teringat kembali akan Efesus 4, yang menyampaikan kebenaran yang sama seperti Roma 8, hanya dengan cara yang berbeda. Dalam ayat 17, Paulus menulis, “Sebab itu, kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup yang berasal dari Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kekerasan hati mereka.”
Nah, rangkaian deskripsi ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa manusia yang belum dilahirkan kembali benar-benar berada dalam kondisi tanpa jalan keluar, mereka terperangkap total, tanpa campur tangan ilahi. Karena itu, saya menyimpulkan bahwa melalui kemampuan alami, wawasan manusia, atau pemahaman logis semata, saya tidak mungkin bisa sampai pada keyakinan seperti ini terhadap Alkitab. Satu-satunya alasan saya dapat mempercayai Alkitab dengan begitu teguh adalah karena Allah sendiri telah memberikannya kepada saya sebagai anugerah. Dalam kedaulatan-Nya, Dia telah menanamkan dalam hati saya kehendak untuk percaya kepada Injil, untuk percaya kepada Kristus, dan untuk memegang teguh keaslian, otoritas, serta kebenaran mutlak dari firman-Nya.
Jadi, pada tahun 1983 ketika saya menerbitkan edisi kedua dari buku kecil berjudul Mengapa Saya Percaya Alkitab, inilah yang saya tulis: “Orang-orang yang tidak percaya tidak dapat menerima bukti yang sah karena mereka buta terhadapnya. Manusia duniawi tidak menerima hal-hal dari Roh Allah sebab hal itu adalah kebodohan baginya, dan dia tidak dapat memahaminya karena hal-hal itu hanya dapat dinilai secara rohani” (1 Korintus 2:14). Hanya ketika Roh Kudus melakukan karya kelahiran kembali dengan membuka pikiran, menyingkirkan selubung kebutaan, memberikan hidup, dan menanamkan pengertian akan wahyu Allah, barulah seseorang dapat percaya bahwa Alkitab adalah Firman Allah dan mempercayainya sepenuhnya.
Saya tahu bahwa Alkitab itu benar karena Roh Allah sendiri yang telah meyakinkan saya akan hal itu. Saya menulis pernyataan itu lebih dari 25 tahun yang lalu. Sehubungan dengan hal itu, saya menulis dalam paragraf berikutnya—dan Anda tahu Anda dalam masalah ketika Anda mulai mengutip diri Anda sendiri—“Dalam terang kebenaran ini, saya menyarankan agar kita mengubah pendekatan kita. Selama ini kita berkata bahwa nubuatan telah digenapi, Alkitab terbukti akurat secara ilmiah, mukjizat terjadi dengan saksi mata, dan pesan keselamatan melalui iman kepada Yesus Kristus menghasilkan perubahan hidup yang revolusioner bagi mereka yang percaya. Karena semua bukti ini, kita beralasan bahwa Alkitab adalah Firman Allah.”
Dan kemudian saya menulis, “Sebagai gantinya, saya mengusulkan agar kita menyatakan bahwa Alkitab adalah Firman Allah, oleh karena itu nubuatan telah digenapi, mukjizat telah terjadi, pernyataan ilmiah itu akurat, dan kehidupan telah diubah.” Keyakinan pada Alkitab dimulai dengan karya Roh. Saya percaya Alkitab ditulis oleh Allah semesta alam untuk menyingkapkan diri-Nya kepada umat manusia.
Saya percaya bahwa Alkitab adalah satu-satunya wahyu yang otoritatif dan benar-benar dapat diandalkan dari Allah mengenai asal-usul manusia, keselamatannya, standar moral dan rohani yang harus dijalani, serta takdir akhirnya. Saya juga percaya bahwa Alkitab itu benar dalam setiap detailnya, bahkan sampai pada kata-kata dalam naskah asli. Allah-lah penulisnya. Dan saya menutupnya dengan ini, “Roh Kudus telah menuntun saya kepada keyakinan yang dapat dipertanggungjawabkan ini.”
Bagi saya, itu merupakan penemuan yang sangat berarti. Dan, di kemudian hari, saya mengenal beberapa tulisan dari seorang teolog terkenal bernama John Calvin. Karena penasaran dengan apa yang dia percayai mengenai isu yang sama ini, saya mulai menemukan beberapa hal yang sangat menarik. Dengarkan perkataan John Calvin: “Alkitab sendirilah yang ada sebagai sarana di mana Allah berkenan menempatkan kebenaran-Nya agar diingat selama-lamanya. Otoritas penuh yang mereka peroleh di hati orang-orang percaya tidak berasal dari pertimbangan lain selain keyakinan bahwa kata-kata Alkitab itu berasal dari surga, seolah-olah Allah sendiri yang menyingkapkannya.” Pernyataan ini terdapat dalam karyanya, Institutes.
Ia juga berkata lebih lanjut, “Alkitab itu sendiri memperlihatkan dengan jelas bahwa Allahlah yang berbicara. Kita tidak pernah diteguhkan dalam iman terhadap doktrin ini sampai kita benar-benar diyakinkan bahwa Allah adalah penulisnya. Karena diterangi oleh-Nya – yaitu Roh Kudus – kita tidak lagi percaya berdasarkan penilaian sendiri maupun penilaian orang lain bahwa Alkitab berasal dari Allah, tetapi dengan cara yang melampaui penilaian manusia, kita yakin sepenuhnya bahwa Alkitab telah sampai kepada kita melalui pelayanan manusia dari mulut Allah sendiri. Kita merasakan keyakinan yang paling teguh bahwa kita memegang kebenaran yang tak terkalahkan, semua ini oleh karena Roh Kudus.”
Nah, Calvin memang tepat. Tidak mengherankan, bukan? William Niesel mengatakan bahwa Calvin memandang firman Alkitab, “Sebagai sesuatu yang mati dan tidak berdaya bagi kita jika tidak diberi kehidupan secara ilahi –” diberikan hidup – “dan begitu dia dipisahkan dari-Nya –” yaitu Kristus – “dia menjadi tubuh kata-kata yang mati tanpa jiwa.” Calvin memahami bahwa seseorang hanya dapat mempercayai Alkitab ketika Roh Kudus menganugerahkan iman dan keyakinan itu. Kepercayaan yang teguh terhadap Firman Allah dan Alkitab bukanlah hasil dari argumen rasional, kecerdasan manusia, akal budi, maupun emosi. Itu adalah karya Roh Kudus dalam hati manusia.
Calvin lebih lanjut mengatakan, “Karena hanya Allah sendiri yang menjadi saksi yang cukup atas diri-Nya dalam Firman-Nya, demikian pula Firman itu tidak akan memperoleh kepercayaan dalam hati manusia sampai dimeteraikan oleh kesaksian batiniah Roh. Oleh karena itu, perlu bahwa Roh yang sama yang berbicara melalui mulut para nabi menembus ke dalam hati kita supaya Dia dapat meyakinkan kita bahwa mereka dengan setia menyampaikan apa yang telah dipercayakan secara ilahi kepada mereka.” Dia lalu menyimpulkan, “Biarlah tetap menjadi kebenaran yang tetap bahwa mereka yang diajar secara batiniah oleh Roh dengan teguh tunduk kepada Firman Tuhan.” Keyakinan kita terhadap Firman Allah datang dari Roh Kudus. Ini adalah bagian dari karunia kelahiran kembali yang berdaulat.
Pendekatan tradisional biasanya mencoba membuktikan kebenaran Alkitab kepada orang yang belum dilahirkan kembali dengan mengumpulkan berbagai macam bukti yang bisa mereka pahami melalui akal mereka yang terbatas—yang dipengaruhi dosa, pikiran yang gelap, hati yang keras, serta ketidakpedulian dan sensualitas jiwa mereka. Kita bisa mengumpulkan bukti-bukti nubuat, bukti ilmiah, bukti mujizat, bukti sejarah dan arkeologi, bahkan bukti perubahan hidup orang-orang.
Pada akhirnya, meskipun semua bukti itu masuk akal dan memang mencerminkan kebenaran Alkitab, tapi semuanya tidak bisa membuka mata yang tertutup, tidak bisa memberi hidup pada jiwa yang mati. Alkitab menjelaskan bagaimana hal ini bekerja dalam salah satu teks pentingnya. Buka Alkitab Anda di 1 Korintus pasal 1. Ada terlalu banyak yang harus saya sampaikan dalam satu khotbah. Karena saya tidak akan membahasnya dalam dua khotbah, saya akan menyampaikan versi ringkasnya. Bahkan untuk satu ayat pun saya harus hati-hati, apalagi dua pasal atau sebagian dari dua pasal.
Tapi saya ingin Anda memperhatikan, mulai dari 1 Korintus pasal 1 ayat 18 sampai pasal 2. Kita akan menyinggung kebenaran-kebenaran ini secara ringan sambil tetap mengikuti alur pemikiran dan inti pesannya. Tema dari bagian ini, mulai pasal 1 ayat 18 hingga akhir pasal 2, adalah hikmat ilahi. Kata “bijaksana” atau “hikmat” muncul sekitar 20 kali di sini, berlawanan dengan kata “kebodohan” yang muncul sekitar enam kali.
Bagian ini membahas tentang hikmat ilahi. Seluruh bagian ini menjelaskan mengapa sebagian orang menolak hikmat Allah dan mengapa orang lain menerimanya; mengapa ada yang menolak Firman Allah, Injil, dan salib, sementara yang lain menerimanya. Bahkan ada beberapa ungkapan di sini seperti “hikmat Allah,” “pemberitaan tentang salib,” dan “kesaksian Allah.” Namun, apakah itu berbicara tentang hikmat Allah, firman salib, atau kesaksian Allah, semuanya merujuk pada wahyu ilahi yang tertulis. Inilah tema utamanya.
Cara paling sederhana untuk memahaminya adalah dengan membaginya menjadi dua bagian, meskipun kedua bagian ini saling tumpang tindih dan mengulang beberapa hal. Namun, tetap saja, ada dua bagian yang agak terlihat. Bagian pertama: mengapa orang non-Kristen menolak Alkitab. Bagian kedua: mengapa orang Kristen menerima Alkitab. Jadi intinya adalah: mengapa non-Kristen menolak dan mengapa orang Kristen menerima. Dari awal, saya tekankan, ini bukan tentang bukti-bukti, bukan tentang akal manusia, bukan tentang cara memanipulasi kehendak atau emosi orang. Ini bukan soal bukti, akal, atau emosi. Ini soal kondisi—kondisi orang non-Kristen dan kondisi orang Kristen.
Mari kita lihat, pertama-tama, mengapa orang non-Kristen tidak percaya pada Alkitab. Ada lima alasan yang dijelaskan di bagian awal. Alasan pertama: pesannya dianggap tidak masuk akal. Itu sebab pertama mereka tidak percaya. Ayat 18 mengatakan, “pemberitaan tentang salib” — atau kesaksian Allah, atau firman hikmat Allah — yaitu wahyu Allah yang tertulis, “bagi mereka yang binasa,” yaitu kondisi mereka, “adalah kebodohan.” Dengan kata lain, bagi mereka yang tidak diselamatkan, pesan Alkitab tampak bodoh dan tidak masuk akal.
Dengan nada yang agak sarkastik, ide ini diulang di ayat 21: “Allah berkenan melalui kebodohan pemberitaan itu.” Ayat 23 berkata tentang orang bukan Yahudi, “Itu adalah kebodohan.” Dan kemudian dalam nada sarkastik lain di ayat 25: “Yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya daripada manusia.” Jadi, jelas ada gagasan bahwa wahyu Allah dalam Alkitab dianggap bodoh. Kata yang dipakai bisa diartikan sebagai “bodoh,” “tidak masuk akal,” “sia-sia,” atau “tidak cocok dengan akal manusia.” Mereka memperlakukan Firman Allah dengan penghinaan dan cemoohan. Tuhan yang disalibkan tampak konyol bagi orang bukan Yahudi dan bahkan lebih konyol lagi bagi orang Yahudi. Keselamatan melalui iman kepada Tuhan yang disalibkan terasa lebih tidak masuk akal lagi. Secara keseluruhan, semuanya tampak tidak rasional bagi mereka.
Yang kedua, orang yang bukan Kristen tidak percaya pada Alkitab bukan hanya karena pesannya tidak masuk akal, tetapi juga karena kenyataannya terasa tidak bisa dicapai atau dipahami. Anda mungkin mendengar beberapa kali malam ini saat baptisan, orang berkata, “Saya tahu Yesus mati, tapi saya tidak mengerti bagaimana atau mengapa itu ada hubungannya dengan hidup saya.” Atau ada yang berkata, “Saya dibesarkan di gereja dan mendengar banyak kisah yang tidak berhubungan ini dalam pikiran saya, dan saya tidak yakin bagaimana semuanya saling berkaitan.” Intinya sama seperti yang dikatakan di sini: bagi orang yang binasa, semuanya terasa tidak masuk akal.
Ayat 19 berkata, “Ada tertulis, ‘Aku akan membinasakan hikmat orang-orang berhikmat dan kearifan orang-orang bijak akan Kulenyapkan.’ Di mana orang berhikmat itu? Di mana orang bijak itu? Di mana pembicara zaman ini? Bukankah Allah telah menjadikan hikmat dunia menjadi bodoh? Karena dalam hikmat Allah –’ artinya, Allah menentukan ini – ‘dunia melalui hikmatnya sendiri tidak mengenal Allah.’” Intinya: sejak kejatuhan manusia, Allah menempatkan manusia dalam kondisi di mana dengan hikmat manusia saja, mustahil untuk mengenal Allah. Anda tidak bisa sampai ke sana sendiri.
Allah memang merancangnya sedemikian rupa. Dia mengatakan, “Aku akan menghancurkan hikmat orang bijak, menolak kepintaran orang cerdik. Aku akan mengubah hikmat dunia menjadi kebodohan.” Artinya, tidak seorang pun, secerdik apa pun, bisa mengenal Allah hanya dengan kepintaran duniawi mereka. Ayat 19 mengutip dari Yesaya 29:14, dari versi Yunani (Septuaginta). Saat itu Sanherib mengancam Yehuda—mereka menghadapi serangan dan penjarahan—Yesaya mengatakan bahwa keselamatan akan datang dari Allah, bukan dari hikmat para pemimpin atau hikmat orang bijak, pengkhianatan rahasia mereka yang licik yang sedang dilakukan terhadap Yehuda akan binasa bukan oleh kecerdikan manusia tetapi karena kuasa Tuhan.
Tuhanlah yang akan turun tangan dan menyelamatkan umat-Nya. Hikmat orang bijak dan kepintaran orang cerdik tidak cukup. Hanya Tuhan yang mampu menyelamatkan mereka. Dan seolah ayat ini berkata, “Jadi, di manakah orang bijak saat kau membutuhkannya? Di manakah ahli Taurat? Di manakah ahli debat zaman ini? Bariskan mereka semua, bariskan... orang terpelajar, kaum elit, kaum intelektual, para filsuf.” Dan ayat 20 bahkan merujuk pada Yesaya 19:12 dan 33:18, di mana penasihat-penasihat “bijak” Mesir dibuat bodoh dan tak berguna oleh Allah.
Dan kemudian, para juru tulis bangsa Asyur, yang sudah siap mencatat semua rampasan yang akan mereka dapatkan, tiba-tiba terlihat bodoh karena Allah campur tangan. Para pendebat, ahli filsafat, dan orang-orang pintar pun tidak bisa mengenal Allah, meski mereka menggunakan semua kecerdasan dan kebijaksanaan mereka. Dengan kebijaksanaan-Nya, Allah membuat mustahil bagi manusia untuk mengenal-Nya sendiri. Tanpa pertolongan Allah, seseorang tidak bisa percaya, tidak bisa yakin akan Firman-Nya, atau memahami Injil dan kesaksian Ilahi. Jadi, orang tidak percaya karena hal itu tampak bodoh, tidak masuk akal, dan tidak bisa dicapai dengan usaha sendiri.
Yang ketiga, karena sejujurnya hal itu memang sulit dipercaya, bahkan bisa dikatakan konyol. Ayat 22: “Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat.” Orang Yahudi ingin tanda-tanda. Anda mungkin berkata, “Tunggu dulu, Yesus sudah menunjukkan banyak tanda.” Betul, tapi mereka ingin tanda yang besar: mengalahkan bangsa Romawi, mendirikan Kerajaan, memenuhi janji Abraham dan Daud. Ketika Yesus mulai berbicara tentang kematian-Nya, Dia pergi ke kayu salib, dan semuanya berakhir. Penyaliban terjadi karena Yesus mau menegur agama mereka yang munafik, karena Dia tidak menunjukkan kuasa-Nya untuk memenuhi rencana mereka tentang Mesias. Bahkan di kayu salib mereka berkata, “Mengapa Engkau tidak turun?” Mungkin masih ada harapan terakhir mereka. Tapi penyaliban Tuhan? Penyaliban Mesias oleh Romawi? Sama sekali tidak terpikirkan oleh mereka.
Di sisi lain, orang Yunani mencari hikmat. Maksudnya apa? Mereka menginginkan filosofi yang rumit, kompleks, penuh istilah sulit dan konsep tersembunyi. Mereka menertawakan kesederhanaan Injil dan gagasan yang mustahil dipercaya bahwa Tuhan yang disalib harus disembah. Bahkan hingga kini ada sebuah batu di Roma yang menunjukkan seorang pria bersujud kepada seekor keledai, dengan tulisan “Alexamenos menyembah dewa-nya.” Menariknya, keledai itu digambarkan di atas salib. Siapa yang menyembah keledai di atas salib? Jelas ini mustahil dipercaya.
Nomor empat, karena orang-orangnya biasa-biasa saja. Orang-orang Yahudi ingin tanda; orang Yunani mencari hikmat. Paulus memberitakan Kristus yang disalibkan. Orang Yahudi tersandung karenanya. Orang Yunani menganggapnya bodoh. Ayat 26 menegaskan hal ini: “Saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: Menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang.” Intinya, kita bukan orang hebat. Mereka dulu bukan orang hebat, kita pun sekarang juga bukan. Mayoritas orang percaya selalu biasa-biasa saja dan selalu terlihat tidak mengesankan di mata dunia, terutama bagi orang-orang elit yang memandang rendah kita.
Kita bukan yang paling pintar dan bukan yang terpandang. Bahkan, ayat 27 mengatakan, “Apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti.” Semakin ke bawah daftar ini, standarnya semakin rendah. Allah tidak memilih yang bijak, tidak memilih yang terpandang, bukan intelektual elit, bukan yang kuat, bukan yang hebat, berpengaruh, penggerak dan pengubah dunia, bukan yang terpandang.
Sebenarnya kata itu dalam bahasa Yunani berarti lahir dari keluarga terpandang, tinggi kedudukannya, punya status sosial. “Tetapi Dia telah memilih yang bodoh, lemah, rendah, agenēs – yang tak punya status, yang tak dikenal, yang anonim, yang tidak penting, dan yang terhina.” Lalu turun lebih rendah lagi: “yang tidak berarti” – bentuk partisip sekarang dari kata eimi, artinya mereka yang seakan-akan tidak eksis. Omongan terakhir Paulus ini, “yang tidak berarti,” adalah ungkapan paling merendahkan dalam bahasa Yunani untuk meremehkan seseorang, seolah-olah orang itu tidak pernah ada. Jadi, mereka tidak percaya. Dan fakta bahwa kita hanyalah orang-orang biasa, tak menarik, justru menambah penolakan mereka.
Kemudian yang kelima, bukan hanya orang-orang dalam kitab ini yang tampak biasa-biasa saja, tapi para pengkhotbahnya juga tidak menarik bagi dunia. Paulus berkata di pasal 2, “Ketika aku datang kepadamu, Saudara-saudara, aku tidak datang dengan kata-kata yang muluk atau dengan hikmat yang tinggi.” Hal ini menjadi masalah karena orang-orang waktu itu suka pengajaran yang rumit, dalam, berlapis-lapis, dan terdengar cerdas. Tapi Paulus berkata, “Aku tidak datang dengan kepandaian bicara atau dengan hikmat manusia. Aku bertekad untuk tidak mengetahui apa pun di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.” Dan bagi dunia, pesan yang sesederhana itu terasa menjijikkan dan terlalu sederhana untuk dipercaya.
Selain itu, Paulus juga tidak membantu “daya tarik” pelayanannya dengan penampilannya sendiri. Jemaat Korintus bahkan berkata bahwa penampilannya tidak menarik dan cara bicaranya tidak berkesan. Dia datang dalam kelemahan, ketakutan, dan banyak gemetar. Pesannya pun bukan disampaikan dengan kata-kata yang indah atau penuh hikmat manusia, tetapi dengan bukti kuasa dan pekerjaan Roh Kudus. Jadi, kita bisa melihat dengan jelas alasan mengapa orang tidak percaya. Pertama, karena mereka memang tidak mampu. Mereka tidak memiliki kehidupan dari Allah, tidak bisa keluar dari sifat manusia lamanya, dan hanya memikirkan hal-hal duniawi. Karena itu, mereka tidak mungkin mengerti hal-hal rohani — semuanya tetap tersembunyi bagi mereka.
Dan jika kita menambahkan fakta bahwa semua ini memberi alasan untuk menolak, kita bisa memahami betapa sulitnya keadaan orang yang belum dilahirkan kembali. Pesannya sendiri terasa menyinggung, tidak masuk akal, mustahil dipercaya, dan sulit dimengerti. Umatnya terlihat hina di mata dunia, dan para pengkhotbahnya tampak lemah, tidak berwibawa, penuh ketakutan, dan gemetar. Ditambah lagi dengan kondisi manusia yang sudah jatuh dalam dosa, kegelapan batin, kebutaan rohani oleh Iblis, dan hukuman dari Allah — maka jelaslah bahwa orang yang belum diperbarui oleh Roh tidak mungkin bisa percaya kepada kebenaran.
Jadi, pencarian akan Allah, pencarian akan Kristus, pencarian akan kebenaran, dan usaha untuk membuktikan apakah Alkitab benar atau tidak, tidak bisa dimulai dan diakhiri dengan akal manusia. Itulah sebabnya setiap kali kita melihat acara di televisi seperti “Pencarian Yesus yang Sejati” atau “Pencarian akan Kebenaran,” hasilnya selalu berakhir dengan kesalahan. Pikiran manusia yang telah jatuh dalam dosa tidak akan pernah bisa menemukan kebenaran itu dengan kekuatannya sendiri. Itulah alasan mengapa orang yang belum percaya tidak dapat mempercayai Alkitab.
Sekarang mari kita ajukan pertanyaan kedua: mengapa orang Kristen percaya pada Alkitab? Terlepas dari semua halangan yang ada, lihat ayat 6 dalam pasal 2. Di situ tertulis, “Sungguhpun demikian”—kata “sungguhpun” di sini penting sekali, karena menunjukkan perbedaan besar—“ kami memberitakan hikmat di kalangan mereka yang telah matang (teleiois).” Kata teleiois berarti mereka yang sudah diperlengkapi sepenuhnya, yang telah menjadi sempurna dalam Kristus. Inilah cara untuk menggambarkan orang-orang percaya. Jadi, Paulus berkata, “Kami berbicara tentang hikmat—hikmat yang bisa dipahami, diterima, dan diyakini—di antara mereka yang telah disempurnakan.” Kami telah datang kepada Kristus, - kata Paulus kepada jemaat Kolose - sebab di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan.
Bukan karena kita lebih pintar atau karena kita mendapat bukti yang lebih banyak. Alasannya adalah karena kita telah disempurnakan di dalam Kristus. Paulus berkata, “Kamu telah menjadi sempurna di dalam Dia.” Dan melalui karya ilahi dari kelahiran baru, pertobatan, dan perubahan hidup itu, kita bukan hanya menerima keyakinan kepada Yesus Kristus dan kepada Allah yang hidup dan benar, tetapi juga keyakinan penuh terhadap Firman-Nya. Karena itu, di ayat 6 Paulus berkata, “Kami memberitakan hikmat.” Kata “kami” di sini menunjuk pada dirinya dan para rasul lainnya. “kami memberitakan hikmat di kalangan mereka yang telah matang—tetapi hikmat yang bukan dari dunia ini, dan yang bukan dari penguasa-penguasa dunia ini.”
Inilah hikmat yang baru saja saya jelaskan—hikmat yang tidak dikenal oleh para pemikir paling hebat dan para pemimpin terbesar dunia ini. Paulus berkata dalam ayat 7, “Yang kami beritakan ialah hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia.” Lalu bagaimana kita bisa mengetahuinya? Lihat kelanjutannya: “Hikmat yang telah ditetapkan Allah dunia dijadikan, bagi kemuliaan kita.” Jadi, mengapa saya bisa memahami Alkitab? Karena Allah sudah menetapkan sejak semula agar saya dapat memahaminya demi kemuliaan saya di masa depan. Anda mungkin bertanya, “Apakah Anda percaya pada predestinasi?” Saya percaya pada Alkitab, dan Alkitab mengatakan bahwa alasan saya bisa mengerti hikmat Allah adalah karena Allah telah menetapkan saya untuk kemuliaan kekal, dan melalui kelahiran baru serta pertobatan, Dia memberi saya iman kepada Anak-Nya, kepada Injil, dan kepada Firman-Nya.
Apakah itu berarti sekarang saya percaya pada Alkitab meskipun isinya tidak masuk akal? Tentu tidak. Segala sesuatu di dalamnya sepenuhnya masuk akal. Nubuat-nubuatnya telah digenapi, mukjizat-mukjizatnya benar dan dapat dibuktikan, isinya akurat secara ilmiah, dan sejarah serta arkeologinya bisa diverifikasi hingga ke detail terkecil. Namun, bukan hal-hal itu yang meyakinkan akal alami saya, melainkan karena Allah telah memberi saya iman kepada Firman-Nya, barulah saya dapat melihat bahwa semua itu memang benar. Cara lain untuk memandang hal ini adalah dengan melihat 1 Yohanes pasal 2, hanya untuk sejenak berpindah dari teks yang sedang kita bahas.
Terkadang ada orang yang bergabung dengan gereja untuk sementara waktu, tetapi tidak bertahan lama. Ayat 19 menggambarkan mereka: “Memang mereka berasal dari antara kita.” Itu adalah hal yang cukup umum dalam pengalaman rohani banyak orang Kristen. “Memang mereka berasal dari antara kita.” “Ya, dulu si A pernah datang ke sini, ikut paduan suara, melayani di sana-sini, hadir di gereja. Tapi sekarang sudah tidak terlihat lagi, apa yang terjadi?” “Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, tentu mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi, supaya nyata bahwa mereka semua tidak termasuk pada kita.” Mereka pergi, mereka keluar, dan itu membuktikan bahwa sejak awal mereka sebenarnya tidak pernah benar-benar menjadi bagian dari kita.
“Tetapi,” ayat 20 berkata, “kamu telah beroleh pengurapan dari Yang Kudus, dan dengan demikian kamu semua mengetahuinya.” Apa yang kita ketahui? Lihat ayat berikutnya: “Aku menulis kepadamu, bukan karena kamu tidak mengetahui kebenaran, tetapi justru karena kamu mengetahuinya dan karena kamu juga mengetahui bahwa tidak ada dusta yang berasal dari kebenaran.” Artinya, tidak ada kebohongan yang dapat menyesatkanmu atau menjerumuskanmu ke dalam kemurtadan. Mengapa? Karena kamu mengenal kebenaran. Mengapa kamu mengenal kebenaran? Karena kamu telah menerima pengurapan dari Allah. Dan apakah pengurapan itu? Atau lebih tepatnya, siapakah pengurapan itu? Dialah Roh Kudus.
Saya percaya Alkitab karena Allah telah memberikan saya keyakinan terhadap Firman-Nya sebagai bagian dari keselamatan dan kelahiran baru saya. Saya tetap berpegang pada kebenaran. Saya percaya pada kebenaran. Saya memeluk kebenaran. Saya terus hidup di dalam kebenaran, karena Roh Allah telah menunjukkan kepada saya apa itu kebenaran — dan saya mengenali kebohongan ketika melihatnya. Di akhir pasal yang sama, ayat 27 berkata, “Di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari Dia.” Luar biasa. Inilah jaminan kita — Roh Kudus yang tinggal tetap di dalam diri kita, menjadi jangkar yang meneguhkan kita pada kebenaran. Dia tinggal di dalam Anda, dan Anda tidak memerlukan seorang pun untuk mengajar Anda, “Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu — dan pengajaran-Nya itu benar, bukan dusta — dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia.”
Itulah kebenaran yang sangat mendalam untuk dipahami. Ketika seseorang diselamatkan, dia menerima keyakinan terhadap Firman Allah — dan di sanalah dia tetap tinggal. Di situlah tempatnya bertahan. Orang-orang yang hanya bertahan sementara lalu pergi, menunjukkan bahwa mereka sebenarnya tidak pernah benar-benar menjadi milik Allah dan tidak pernah memiliki Roh Kudus. Saya percaya Alkitab karena Allah telah memberikan kepada saya karunia iman — iman kepada Anak-Nya, iman kepada Injil-Nya, dan iman kepada Firman-Nya. Saya terus mempercayainya bukan hanya untuk pembenaran saya, tetapi juga untuk pengudusan saya. Sebab Roh Allah yang tinggal di dalam saya terus menuntun saya kepada kebenaran dan menjauhkan saya dari kesesatan. Itulah alasan saya percaya kepada Alkitab.
Sekarang saya mengerti, seperti yang dikatakan dalam ayat 6, bahwa hikmat yang kita miliki berbeda dari hikmat dunia ini, berbeda dari hikmat para penguasa zaman ini — pikiran-pikiran besar dunia. Semua itu katargeō — semuanya sedang dilenyapkan, dibuat tidak berdaya, tidak menghasilkan apa-apa. Semua itu sebenarnya kosong dan bodoh di hadapan Allah. Tetapi saya percaya, dan Anda pun percaya, karena Allah telah menentukan sejak sebelum dunia dijadikan bahwa kita akan percaya dan dimuliakan bersama-Nya. Kita percaya pada hikmat yang, seperti tertulis di ayat 8, “tidak satu pun dari penguasa zaman ini yang memahaminya.” Sebab jika mereka mengerti, mereka tidak akan menyalibkan Tuhan yang mulia — dan mereka juga tidak akan terus menolak Dia yang mulia, yang telah disalibkan itu.
Paulus merangkumnya dalam ayat 9 dengan mengatakan ini — ayat yang sangat dikenal dan diambil dari beberapa bagian dalam kitab Yesaya: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: Semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” Kita tahu semua yang telah Allah sediakan bagi kita, dan kita mengetahuinya melalui penyataan ilahi. Tidak ada cara lain untuk mengetahuinya, sebab mata manusia tidak bisa melihatnya, telinga tidak bisa mendengarnya, dan pikiran manusia tidak dapat membayangkannya.
Kebenaran Allah tentang keselamatan, tentang kehidupan rohani dan kekal, adalah sesuatu yang tidak pernah didengar, tidak pernah dilihat, dan tidak pernah terpikirkan oleh manusia. Kebenaran itu tidak bisa dikenal melalui pengalaman indrawi (empirisme), dan tidak bisa dipahami melalui logika atau akal manusia (rasionalisme). Kebenaran itu hanya bisa dikenal melalui penyataan ilahi. Dalam Yohanes 8, Yesus berbicara kepada orang-orang Farisi yang keras hati dan berkata, “Jika Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku.” Luar biasa! “Tapi karena Allah bukan Bapamu, kamu tidak mengasihi Aku, sebab Aku datang dari Allah dan diutus oleh-Nya.” Lalu Yesus bertanya, “Mengapa kamu tidak mengerti apa yang Aku katakan?”
Mengapa orang-orang tidak mengerti? Karena, seperti kata Yesus, “Kamu tidak dapat menangkap firman-Ku, sebab kamu berasal dari bapamu, yaitu Iblis, dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata dari diri sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapak pendusta. Tetapi karena Aku mengatakan kebenaran kepadamu, kamu tidak percaya kepada-Ku.” Mereka tidak bisa percaya. Dan Yesus menegaskannya lagi dalam ayat 47, “Siapa saja yang berasal dari Allah, ia mendengarkan firman Allah; itulah sebabnya kamu tidak mendengarkannya, karena kamu tidak berasal dari Allah.” Sangat jelas, bukan? Siapa yang percaya kepada Alkitab? Hanya mereka yang berasal dari Allah. Ini adalah karya ilahi.
Kembali ke 1 Korintus 2:10, dan mari kita simpulkan dengan ayat ini. “Karena kepada kita Allah telah menyatakannya.” Menyatakan apa? “Hal-hal yang telah disediakan Allah bagi mereka yang mengasihi Dia,” yaitu hal-hal yang berkaitan dengan keselamatan, kehidupan rohani dan kekal, serta Kerajaan-Nya. Dengan kata lain, seluruh hikmat Allah, seluruh firman tentang salib, seluruh kesaksian Allah yang tertulis dalam Kitab Suci—semuanya itu telah dinyatakan kepada kita melalui Roh Kudus. Itulah hal yang sangat penting untuk dipahami. Kita percaya bukan karena kita lebih pintar atau lebih layak, tetapi karena Allah telah memilih dan menetapkan kita sejak semula untuk mengetahuinya, sehingga suatu hari nanti kita akan datang kepada kemuliaan kekal.
Sebagai penutup yang akan menyentuh hati kita, mari kita renungkan gagasan ini: kita bisa tahu dan percaya karena Allah sendiri yang memilih untuk menyatakannya kepada kita, untuk melahirkan kita kembali, untuk memberi kita kehidupan, untuk menyingkirkan kebutaan, untuk membangkitkan hati kita, untuk menyingkapkan misteri, untuk membawa kebenaran yang tersembunyi dan menyatakannya kepada kita. Dengan pemahaman itu sebagai latar belakang, mari kita baca ulang mulai dari ayat 24: “Tetapi bagi mereka yang terpanggil.” Setiap kali Anda menemukan istilah “yang terpanggil” atau “panggilan” dalam surat-surat Perjanjian Baru, itu selalu menunjuk pada panggilan yang efektif menuju keselamatan.
Kita adalah orang-orang yang dipanggil, dipanggil keluar dari kegelapan menuju terang, dipanggil keluar dari kematian menuju kehidupan. Dalam ayat 26, Paulus kembali menegaskan, “Perhatikan panggilanmu,” yaitu panggilan ilahi, panggilan yang memberi hidup, panggilan menuju kelahiran baru. Dan mengapa kita? Ayat 27 menjawab, “Allah telah memilih.” Ayat 28 juga mengatakan, “Allah telah memilih.” Lalu ayat 30 menegaskan, “Oleh karena Dialah kamu berada dalam Kristus Yesus.” Mengapa kita berada di dalam Kristus? Bukan karena kita memahami atau menalar dengan sempurna, bukan karena bukti-bukti meyakinkan kita, melainkan karena Allah sendiri yang melakukannya. Dialah yang menentukan, yang menyingkapkan, yang memilih. Dan seperti yang Paulus katakan dalam Roma 8, “Mereka yang dipanggil-Nya, dibenarkan-Nya; dan mereka yang dibenarkan-Nya, dimuliakan-Nya.”
Kembali ke ayat 30, “Oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita.” Semuanya terjadi karena karya-Nya. Dan Kristus, yang membuat kita berada di dalam Dia, telah menjadi hikmat bagi kita — melalui kehadiran-Nya, kuasa-Nya, Roh-Nya, dan firman-Nya — serta menjadi kebenaran, pengudusan, dan penebusan bagi kita.
Mengapa Allah melakukannya dengan cara seperti ini? Mengapa demikian? Ayat 29 menjawab, “Supaya jangan ada seorang manusia pun yang memegahkan diri di hadapan Allah.” Dan ayat 31 menegaskan, “Siapa saja yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan.” Maka kita pun jadi tertegun menyadari keyakinan yang kita miliki terhadap firman Allah. Dan ketika seseorang bertanya, “Dari mana datangnya keyakinanmu itu?” kita dapat menjawab, itu terjadi karena karya-Nya — sebab Dialah yang menempatkan kita di dalam Kristus, dan Kristus telah menjadi hikmat bagi kita. Melalui kasih kita kepada Allah lewat Kristus, kita memperoleh keyakinan terhadap firman-Nya, dan kita percaya kepada kebenaran karena kita berasal dari Allah.
Martin Luther pernah berkata begini, “Manusia itu seperti tiang garam — seperti istri Lot — ya, seperti sebatang kayu, atau batu, seperti patung tak bernyawa yang tidak bisa menggunakan mata atau mulutnya, tidak punya perasaan atau hati, sampai Roh Kudus menerangi, mengubah, dan melahirkannya kembali.” Jadi, saya tidak mengarang ini. Mereka membaca Alkitab yang sama seperti yang saya baca dan yang Anda baca. Anda percaya pada Alkitab, hidup dalam terang kebenarannya yang mulia, dan hati Anda terpesona oleh keajaibannya, karena Allah, demi kemuliaan-Nya sendiri, berkenan untuk menentukan, memilih, membenarkan, dan menguduskan Anda melalui firman-Nya. Dan ketika Dia memberikan Kristus kepada Anda, Dia juga memberikan di dalam Kristus seluruh hikmat-Nya, sebab di dalam Dialah tersembunyi semua harta hikmat dan pengetahuan. Saya tidak bisa memisahkan kasih saya kepada Kristus dari kasih saya kepada firman-Nya.
Pada bagian akhir, di ayat 16, ada pernyataan luar biasa ini: “Kita memiliki pikiran Kristus.” Betapa luar biasanya pernyataan itu. Dengan memiliki keyakinan pada Firman Allah, kita diberi akses kepada pikiran Kristus. Anda mengerti? Bagi saya, tidak ada lagi misteri tentang bagaimana Allah berpikir atau apa yang Dia kehendaki. Semua yang Allah ingin saya ketahui sudah Dia nyatakan di sini. Di dalam Alkitab ini, saya memiliki pikiran Kristus, saya tahu bagaimana Kristus berpikir, apa yang Dia kehendaki, apa yang menyenangkan hati-Nya, apa yang Dia kasihi, apa yang Dia benci, apa yang Dia perintahkan, dan apa yang Dia larang. Saya memahami semuanya karena Dialah yang memampukan saya untuk memahaminya. Dan saya menjalani hidup ini dengan memeluk kekaguman akan kasih karunia yang begitu dalam dan tak terlukiskan yang telah Dia berikan bagi saya. Mari kita berdoa.
Bapa kami, kami tahu bahwa kuasa untuk memenangkan jiwa bukan terletak pada cara-cara yang cerdik, musik, atau hiburan yang disesuaikan dengan budaya, tetapi ada di dalam Alkitab. Kuasa untuk membangun iman dan menguduskan hidup juga ada di dalam Alkitab. Kami dipanggil untuk memberitakan Firman Tuhan — pemberitaan tentang salib, hikmat Allah, dan kesaksian Allah. Kami harus menyampaikannya, memberitakannya, membelanya, karena inilah satu-satunya harapan dan satu-satunya sarana yang melaluinya Engkau membenarkan dan menguduskan umat-Mu. Biarlah kami selalu memakai Firman-Mu — bukan agar orang yang belum percaya dapat melihat betapa masuk akalnya Firman itu, tetapi supaya Engkau sendiri yang membangunkan hati mereka melalui mukjizat kasih karunia-Mu yang ilahi lewat Firman-Mu.
Kami bersyukur kepada-Mu, Bapa, karena seumur hidup kami mempelajari Firman-Mu akan terus membuktikan bahwa Alkitab itu masuk akal, dapat dipahami, dapat dipercaya, dan sanggup bertahan dalam setiap ujian. Kami tahu itu karena Engkau telah memberi kami hidup dan pengertian. Kami bersyukur karena Engkau telah mendengar doa dalam Mazmur 119:18, “Singkapkanlah mataku, supaya aku memandang keajaiban-keajaiban dari Taurat-Mu.” Tuhan, doa itu telah Engkau jawab bagi kami, dan keajaiban-Mu tak pernah berhenti. Pakailah kami, Tuhan, sebagai alat dalam memberitakan kebenaran-Mu — untuk membangunkan orang berdosa dan menguduskan orang percaya. Terima kasih atas hak istimewa untuk boleh dipakai demi tujuan itu, dalam nama Kristus kami berdoa. Amin.
SELESAI
This article is also available and sold as a booklet.
