Grace to You Resources
Grace to You - Resource

Baik, beberapa bulan yang lalu—di awal musim panas ketika kita sedang membahas Injil Markus—kita sudah sampai di akhir pasal 2 dan awal pasal 3, bagian di mana Yesus dianggap melanggar hukum Sabat menurut standar orang-orang Yahudi. Ketika mereka menegur dan menantang Dia, Yesus mengatakan dua hal. Dia berkata, “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat.” Maksud-Nya, Hari Sabat bukanlah beban yang harus dipikul dan ditaati manusia dengan terpaksa, melainkan suatu anugerah yang seharusnya dinikmati. Orang-orang Yahudi pada waktu itu telah mengubahnya menjadi beban yang hampir tidak tertahankan.

Hal kedua yang Dia katakan—yang bahkan jauh lebih mengejutkan—adalah, “Anak Manusia adalah Tuhan, bahkan atas hari Sabat.” Dengan pernyataan ini, Yesus menegaskan otoritas dan kedaulatan-Nya atas hari Sabat.

Jika memang ada peran hari Sabat, lalu bagaimana seharusnya kita memahami peran itu dalam kehidupan umat Allah? Nah, mari sejenak membuka Alkitab kita di Keluaran pasal 20. Di sinilah terdapat Dekalog, yaitu Sepuluh Perintah Allah. Dan di bagian tengah dari Sepuluh Perintah itu ada perintah keempat. Kita mulai membacanya dari ayat 8. “Ingat dan kuduskanlah hari Sabat. Enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu. Tetapi, hari ketujuh adalah hari Sabat bagi TUHAN, Allahmu. Jangan melakukan pekerjaan apa pun, engkau, anakmu laki-laki atau perempuan, hambamu laki-laki atau perempuan, hewanmu, ataupun pendatang di dalam kotamu. Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh. Itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya.”

Tidak ada keraguan bahwa sembilan perintah lainnya bersifat tetap dan mengikat. Kita tidak boleh memiliki allah lain. Kita tidak boleh membuat patung berhala. Kita harus menyembah Allah yang benar dan hidup saja. Kita tidak boleh menyalahgunakan nama Tuhan. Kita tidak boleh tidak menghormati ayah dan ibu kita, sebaliknya kita harus menghormati mereka. Kita tidak boleh membunuh, berzina, mencuri, berdusta, atau mengingini milik orang lain.

Semua itu adalah tuntutan moral, perintah-perintah moral, dengan satu pengecualian, yaitu ayat 8 sampai 11, yaitu perintah keempat tentang hari Sabat. Dan pertanyaan yang sering diajukan sangat sederhana. Jika semua perintah lainnya bersifat tetap, bukankah seharusnya perintah yang satu ini juga bersifat tetap?

Ada orang-orang yang percaya bahwa perintah ini memang tetap berlaku, dan kita bisa menyebut mereka sebagai penganut hari Sabat yang ketat. Secara umum, mereka terbagi ke dalam dua kelompok. Yang pertama adalah Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh. Kita rasanya sudah cukup mengenal mereka. Dan menurut saya, cukup beralasan untuk menganggap Adventisme Hari Ketujuh sebagai sebuah sekte, karena mereka percaya bahwa tulisan-tulisan Ellen G. White diilhamkan oleh Allah dan dapat disejajarkan dengan Alkitab. Tapi, mereka melihat diri mereka sebagai orang-orang yang setia menaati perintah keempat.

Ada juga Baptis Hari Ketujuh, sebuah kelompok yang lebih kecil, yang juga menafsirkan perintah ini sebagai perintah yang mengikat untuk selamanya. Dengan pendekatan yang tidak terlalu ketat, ada pula yang bisa disebut sebagai penganut Sabat Kristen. Mereka berpendapat bahwa sebagai orang Kristen, kita tetap harus memelihara hari Sabat, hanya saja bukan lagi pada hari ketujuh, melainkan pada hari pertama. Jadi, mereka menggeser perintah dalam Keluaran dari hari Sabtu ke hari Minggu.

Pandangan ini merupakan pandangan klasik di kalangan teolog Reformed. Ini adalah pandangan banyak orang, bahkan mungkin sebagian besar dari kaum Puritan. Bahkan, jika kita menelusuri kembali Pengakuan Iman Baptis tahun 1689, kita akan menemukan sebuah pasal yang bersifat sabatarian Kristen di dalam pengakuan itu, yang menyatakan bahwa orang Kristen harus memperlakukan hari Minggu sebagai hari Sabat yang baru, dan secara umum mengikuti ketentuan serta pembatasan yang dahulu diberlakukan atas hari Sabat yang lama.

Dan pertanyaan yang kita hadapi malam ini adalah: apakah pandangan itu benar? Apakah benar bahwa kita harus merayakan hari Sabtu, hari Sabat lama, atau mungkin hari Minggu sebagai semacam hari Sabat pengganti yang baru sebagai hari suci, yang dipisahkan dari semua hari lainnya?

Untuk menjawab hal itu, kita perlu kembali ke Kejadian pasal 2. Jadi mari kita lakukan itu. Kejadian pasal 2. Pasal ini dibuka dengan penegasan bahwa karya penciptaan telah selesai. Lalu kita membaca kata-kata ini, “Demikianlah diselesaikan langit dan bumi serta segala isinya” —segala sesuatu yang ada di dalamnya. “Pada hari ketujuh Allah telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya. Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dilakukan-Nya.”

Anda akan memperhatikan di ayat 3 ada kata “menguduskannya.” Kata ini pada dasarnya sama dengan kata “kudus,” dan inilah pertama kalinya kata “kudus” digunakan di dalam Alkitab. Akar katanya berarti “memisahkan,” atau mungkin lebih tepat jika diubah menjadi konsep yang bersifat vertikal, yaitu “mengangkat” atau “meninggikan.” Ini adalah pemisahan yang sekaligus meninggikan atau memuliakan.

Jadi, di sinilah untuk pertama kalinya kita menemukan gagasan tentang sesuatu yang dipisahkan justru dengan cara ditinggikan. Artinya, Allah menetapkan hari ketujuh ini sebagai hari yang mulia, satu hari yang diangkat di atas semua hari lainnya. Allah menjadikannya kudus dan menyatakannya demikian karena tiga alasan. Ketiga alasan itu pada dasarnya berkaitan dengan tiga kata kerja yang membentuk teks ini.

Pertama, hari ini bersifat unik karena langit dan bumi beserta seluruh isinya telah diselesaikan. Inilah kata kerja yang pertama: seluruh pekerjaan penciptaan telah selesai. Pekerjaan penciptaan ini dilakukan Allah dalam waktu enam hari yang pada dasarnya masing-masing adalah dua puluh empat jam, dan sejak berakhirnya hari keenam itu tidak pernah ada lagi penciptaan yang baru, kecuali mukjizat-mukjizat ilahi yang sesekali kita baca dalam Perjanjian Lama, dan rangkaian mukjizat melalui pribadi Tuhan Yesus Kristus, di mana Dia memulihkan keutuhan dan kesejahteraan di tengah-tengah ciptaan-Nya yang kini telah jatuh.

Selain itu, penciptaan berhenti pada hari keenam. Penciptaan tidak berlangsung selama ribuan tahun. Tidak juga berlangsung selama jutaan atau miliaran tahun. Setelah enam hari, semuanya selesai, benar-benar tuntas. Karena itu, hari ini menjadi hari yang istimewa karena menandai bahwa seluruh karya penciptaan Allah telah selesai.

Alasan kedua berkaitan dengan kata kerja “berhenti” atau “beristirahat.” Ketika ayat 2 mengatakan bahwa “pada hari ketujuh Allah telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya, dan Ia berhenti,” lalu di ayat 3 kembali dikatakan, “Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya.” Ini adalah hari yang unik karena setelah penciptaan diselesaikan, Allah berhenti dan beristirahat.

Kalimat itu sama sekali tidak menyiratkan kelelahan. Tuhan tidak pernah menjadi letih, seperti yang dikatakan dalam Yesaya 40:28. Pemazmur juga mengatakan bahwa Dia tidak terlelap dan tidak tertidur. Allah berhenti hanya dalam arti Dia menghentikan pekerjaan-Nya, bukan karena Dia perlu memulihkan tenaga. Tapi, makna sebenarnya dari pernyataan bahwa Dia berhenti adalah bahwa Dia merasa puas. Hal ini membawa kita kembali ke Kejadian 1:31, “Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.” Ciptaan-Nya adalah karya yang sempurna, dan perhentian itu adalah perhentian dalam kepuasan yang penuh.

Dan perlu diingat, setelah itu tidak ada lagi penciptaan, dan untuk sementara waktu tidak ada lagi pekerjaan yang harus dilakukan Allah. Allah baru kembali bekerja pada pasal 3 Kitab Kejadian, tidak lama kemudian, ketika Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa dan Allah harus mulai bekerja kembali. Dan apakah yang pertama kali Allah lakukan? Kejadian 3:21, “TUHAN Allah membuat jubah kulit untuk Adam dan untuk istri, lalu mengenakannya kepada mereka.” Setelah itu, Dia mengusir mereka keluar dari taman itu.

Allah tidak melakukan pekerjaan apa pun antara selesainya penciptaan dan kejatuhan manusia. Namun ketika manusia jatuh ke dalam dosa, pekerjaan Allah dimulai kembali. Allah harus memelihara ciptaan-Nya, seperti yang dikatakan Ibrani pasal 1, bahwa Ia “menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan,” karena ciptaan itu kini berada di bawah kerusakan. Karena itu, Dia mulai bekerja untuk memelihara alam semesta yang telah Dia ciptakan, ciptaan yang telah Dia buat, dan Dia juga mulai bekerja untuk menggenapi segala hal yang diperlukan bagi penebusan ciptaan itu.

Nah, dalam tiga ayat tersebut, Anda tidak mendengar apa pun tentang manusia yang beristirahat. Tidak ada di sana tentang manusia yang berhenti, tidak ada tentang Adam yang beristirahat. Dan karena Adam belum berdosa dan merupakan manusia yang sempurna dalam segala hal, tidak ada pengurasan tenaga ketika ia melakukan apa pun yang berkaitan dengan tugas sederhana untuk mengusahakan taman. Tidak ada kebutuhan akan hari perhentian bagi manusia. Dari apa ia harus beristirahat? Ia hidup di dalam firdaus tanpa kerja keras, tanpa peluh, dan tanpa tenaga yang terkuras atau hilang.

Tidak ada hukum Sabat yang diberikan kepada Adam di sini, sama sekali tidak ada. Tidak ada satu pun pernyataan bahwa hari ini adalah hari ibadah. Teks ini tidak mengatakan hal itu. Tidak ada perintah atau ketetapan apa pun yang diberikan kepada siapa pun. Semua ini sepenuhnya berfokus pada Allah. Dia menyelesaikan penciptaan-Nya, Dia berkenan dan puas dengan hasilnya, lalu Dia berhenti, dan itulah yang disebut perhentian. Dan kata kerja ketiga dalam ayat 3 adalah, “Allah memberkati hari ketujuh itu.”

Allah merancang hari ketujuh itu sebagai sebuah peringatan khusus akan karya penciptaan-Nya dan kesempurnaan ciptaan pada mulanya. Ini sangat penting untuk Anda pahami. Hari ini ditinggikan di atas semua hari lainnya sebagai sebuah monumen peringatan, agar manusia mengingat kemuliaan kesempurnaan Allah dalam penciptaan. Setiap hari ketujuh sejak saat itu seharusnya menjadi pengingat bahwa Allah menciptakan alam semesta dalam enam hari, dan Dia melakukannya dengan sempurna.

Pernahkah Anda bertanya pada diri sendiri mengapa di seluruh dunia kita menggunakan kalender dengan siklus tujuh hari? Angka ini tampak agak aneh, bukan? Tentu saja tidak ada alasan rasional untuk menciptakan angka tujuh, lalu menetapkan minggu, bulan, dan tahun dalam pola tujuh. Bahkan, cara ini terasa agak canggung. Mungkin akan lebih sederhana jika semuanya dibuat dalam kelipatan sepuluh. Tapi faktanya, sistem ini diterima secara universal di seluruh dunia, dan sifatnya memang unik. Keunikannya disengaja, karena setiap hari ketujuh menjadi pengingat akan kuasa dan kemuliaan Allah yang dinyatakan dalam keagungan penciptaan selama enam hari.

Menolak Allah sebagai Pencipta—menolak bahwa Allah mencipta dalam enam hari—sama dengan meniadakan berkat atas hari ketujuh. Mengatakan bahwa Allah memakai ribuan, jutaan, atau miliaran tahun berarti menanggalkan kekudusan hari ketujuh. Ada alasan mengapa kita hidup dalam siklus tujuh hari, dan manusia selalu melakukannya, yaitu karena setiap hari ketujuh memberikan pengingat bagi kita bahwa Allah adalah Pencipta yang menciptakan seluruh alam semesta dalam enam hari.

Dalam Wahyu pasal 14 terdapat kesaksian tentang Injil—tapi, saya tidak akan membacakannya untuk Anda—kesaksian ini tentang para malaikat yang terbang di tengah langit, dan inti kesaksian Injil itu adalah pengakuan bahwa Allah adalah Pencipta. Itulah kabar baik yang kekal: bahwa Allah adalah Pencipta. Setiap hari ketujuh yang berlalu seharusnya menjadi kesaksian tentang Sang Pencipta.

Setiap hari Sabtu, Amerika dan dunia Barat dengan pengaruh Kekristenannya mengarah pada pola kerja lima hari dalam seminggu. Salah satu dasar pemikirannya adalah kesadaran bahwa hari Sabtu merupakan hari untuk menikmati ciptaan. Hari Sabtu adalah kesaksian yang terus-menerus tentang Allah sebagai Pencipta. Di sisi lain, Hari Minggu adalah kesaksian yang terus-menerus tentang Allah sebagai Penebus. Kita akan membahas hal itu lebih lanjut di lain waktu.

Jadi, kalau kita kembali ke Kejadian pasal 2, tidak ada penyebutan tentang hari Sabat sebagai sebuah hukum, dan tidak ada pula penyebutan tentang hari Sabat sebagai hari ibadah. Bahkan, kata itu sendiri baru muncul lagi dalam Keluaran pasal 16. Ratusan tahun telah berlalu. Para bapa leluhur datang dan pergi. Sejauh yang kita ketahui, tidak satu pun dari mereka beribadah pada hari Sabat. Hari itu tidak ditetapkan bagi mereka. Tidak diperintahkan kepada mereka. Tidak diwajibkan bagi mereka—baik Abraham, Ishak, Yakub, Yusuf, maupun umat Allah lainnya. Untuk pertama kalinya hari Sabat disebutkan secara berarti adalah dalam Keluaran pasal 16, ketika Allah memberi makan umat-Nya dengan manna dari surga selama mereka mengembara di padang gurun. Manna turun setiap hari kecuali pada hari Sabat, dan pada hari sebelumnya mereka menerima cukup untuk dua hari supaya mereka tidak perlu bekerja pada hari itu. Hal ini memberi mereka gambaran awal tentang apa yang akan datang, karena dalam pasal 20 kita menemukan Sepuluh Perintah Allah. Di dalam Sepuluh Perintah itu—yang tadi telah saya bacakan—diberikan ketetapan-ketetapan yang benar-benar menetapkan hukum tentang hari Sabat. Inilah pertama kalinya hukum semacam itu diberikan oleh Allah.

Hal ini sangat penting untuk dipahami supaya kita mengerti bahwa hari Sabat tidak ditetapkan bagi manusia di Kitab Kejadian. Hari Sabat secara resmi ditetapkan dalam Kitab Keluaran, di dalam hukum Musa. Pemahaman ini semakin ditegaskan dalam Keluaran pasal 31. Anda mungkin ingin melihatnya sejenak. Tuhan berbicara kepada Musa di ayat 12 dan berkata kepadanya, “Katakanlah kepada orang Israel: Camkanlah, kamu harus memelihara hari-hari Sabat-Ku, sebab itulah tanda antara Aku dan kamu turun-temurun, supaya kamu mengetahui bahwa Akulah TUHAN, yang menguduskan kamu. Kamu harus memelihara hari Sabat, sebab hari itu kudus bagimu. Siapa yang melanggar kekudusannya, pasti dihukum mati, sebab setiap orang yang melakukan pekerjaan pada hari itu harus dilenyapkan dari antara bangsanya. Enam hari lamanya boleh dilakukan pekerjaan, tetapi pada hari ketujuh harus ada Sabat, perhentian penuh, hari kudus bagi TUHAN. Setiap orang yang melakukan pekerjaan pada hari Sabat pasti dihukum mati. Orang Israel harus memelihara hari Sabat dengan merayakannya turun-temurun sebagai perjanjian kekal. Itulah tanda antara Aku dan orang Israel untuk selama-lamanya,” —mengapa?— “sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, dan pada hari yang ketujuh Ia berhenti bekerja dan beristirahat.”

Di sini kita menemukan bahwa hari Sabat adalah sebuah tanda. Hari Sabat adalah tanda. Artinya, hari Sabat menunjuk kepada sesuatu yang lain. Hari Sabat adalah sebuah lambang, jika boleh dikatakan demikian. Itulah sebabnya hari Sabat ditempatkan di tengah, atau dekat dengan bagian tengah, dari Sepuluh Perintah Allah, karena hari Sabat merupakan simbol yang berkaitan dengan perjanjian Musa.

Saya coba jelaskan dengan contoh. Ketika Allah mengadakan perjanjian dengan Nuh, Dia berjanji bahwa Dia tidak akan pernah lagi memusnahkan dunia, dan Allah menetapkan sebuah tanda. Apakah tanda dari perjanjian dengan Nuh? Pelangi. Ketika Allah membuat perjanjian dengan Abraham, Dia membuat perjanjian itu dengannya dan menetapkan sebuah tanda. Dan tanda dari Perjanjian Abraham, yang menandai keikutsertaan seseorang di dalam umat perjanjian Israel, adalah sunat.

Dan di dalam Perjanjian Musa ini, kita menemukan satu tanda yang lain, dan tanda itu adalah Sabat. Hari Sabat hanyalah sebuah tanda. Memeliharanya dengan hati yang munafik tidak menghasilkan apa pun. Bahkan, dalam Yesaya 1:13 dikatakan, “Jangan lagi membawa persembahan yang sia-sia, persembahan dupa adalah hal yang menjijikan bagi-Ku. Perayaan bulan baru dan Sabat…”

Nabi Hosea juga menyampaikan penghukuman yang serupa terhadap hari Sabat yang dijalani secara munafik. Ia berkata, “Aku akan menghentikan segala kegirangannya, hari rayanya, bulan barunya dan hari Sabatnya.” Memelihara hari Sabat secara lahiriah tanpa hati yang mengasihi dan berbakti kepada Allah tidak memiliki makna apa pun.

Lalu, tanda itu sebenarnya untuk apa? Apa makna dari simbol ini? Mengapa harus ada tanda seperti ini? Saya rasa Anda akan memahaminya kalau saya menjelaskannya. Hari Sabat adalah sebuah pengingat akan penciptaan. Hari Sabat dimaksudkan untuk mengingatkan bangsa Israel bahwa mereka telah kehilangan firdaus, bahwa manusia telah kehilangan firdaus. Hukum Taurat berkata kepada mereka, “Taatilah hukum ini dan kamu akan diberkati.” Allah berulang kali mengatakan hal itu, “Taatilah hukum ini dan kamu akan diberkati,” untuk menunjukkan bahwa perilaku yang benar akan memulihkan kembali secicip rasa dari taman firdaus Eden. Perilaku yang benar juga menunjuk ke masa depan, kepada sebuah kerajaan yang akan datang, ketika firdaus itu akan dipulihkan kembali.

Jadi, hari Sabat—setiap kali hari Sabat tiba dan mereka berhenti dari pekerjaan mereka—itu menjadi pengingat akan penciptaan yang sempurna, tentang firdaus Allah yang dikuasai oleh kebenaran, yang telah hilang karena dosa dan hanya dapat diperoleh kembali melalui kebenaran. Karena itu, Allah menetapkan sistem hari ketujuh ini bukan untuk semua orang di dunia. Bahkan, secara khusus dikatakan bahwa hal itu ditetapkan bagi Israel. Ayat 17 menyatakan, “Itulah tanda antara Aku dan orang Israel untuk selama-lamanya.” Setiap hari ketujuh menjadi pengingat bahwa mereka hidup di dalam dunia yang telah jatuh. Setiap hari ketujuh mengingatkan bahwa mereka telah kehilangan firdaus. Dan satu-satunya cara untuk kembali merasakan secuil firdaus adalah dengan ketaatan kepada Allah, yaitu hidup dalam kebenaran.

Oleh sebab itu, mereka harus merenungkan pentingnya menaati Sepuluh Perintah Allah. Pada hari ketujuh itu mereka dipanggil untuk memikirkan kehidupan mereka sendiri, menilai sejauh mana mereka hidup sesuai dengan hukum Allah. Tujuannya adalah untuk menyadari dosa dan membawa mereka kepada pertobatan.

Jadi, hari ketujuh yang pertama menyatakan Allah sebagai Pencipta, tetapi penetapan hari Sabat dalam tatanan Perjanjian Musa menyatakan Allah sebagai pemberi hukum. Yang pertama bertujuan menumbuhkan rasa syukur atas keajaiban penciptaan. Yang kedua bertujuan menimbulkan pertobatan karena hilangnya segala sesuatu yang benar. Dengan demikian, hari Sabat memperoleh makna yang baru. Ya, hari Sabat tetap menjadi pengingat bahwa Allah adalah Pencipta, tetapi juga menjadi pengingat bahwa ciptaan Allah yang semula sempurna kini telah rusak. Kita pun telah rusak. Seluruh tatanan ciptaan-Nya telah tercemar oleh dosa, dan kita juga telah tercemar oleh dosa. Ciptaan itu, seperti yang dikatakan Paulus, sedang mengeluh, dan kita pun ikut mengeluh.

Tanda di tengah Perjanjian Abraham, yaitu sunat, merupakan cara untuk mengatakan, “Engkau perlu menjadi bersih. Engkau perlu disucikan.” Dan tanda di sini—hari Sabat—yang ditempatkan di tengah Sepuluh Perintah, pada dasarnya menyampaikan pesan yang sama. Engkau perlu menyadari bahwa engkau telah kehilangan firdaus, dan satu-satunya cara untuk mendapatkannya kembali adalah melalui kebenaran. Tentu saja mereka tidak sanggup menaati hukum Taurat itu, tetapi melalui ketidakmampuan itu mereka seharusnya didorong untuk datang dengan penyesalan, memohon kepada Allah agar berbelaskasihan kepada mereka sebagai orang berdosa. Jadi kita memahami bahwa hal ini bersifat khusus bagi bangsa Israel. Dan seperti yang saya katakan pagi ini, ketika Yesus datang, segala sesuatunya berubah—segala sesuatunya berubah. Anda ingat bahwa saya mengatakan pagi ini bahwa apa yang Dia lakukan bukan sekadar membersihkan Bait Allah, melainkan menghapuskan Bait Allah itu sendiri. Dia tidak hanya ingin menyingkirkan imam-imam yang jahat dan mempertahankan imam-imam yang baik. Dia hendak menghapuskan seluruh sistem keimaman.

Dia tidak sekadar ingin membereskan sikap hati umat ketika mereka mempersembahkan korban. Yesus melenyapkan seluruh sistem persembahan kurban, karena Dia mengakhiri Yudaisme dengan segala upacaranya, seluruh ritualnya, semua korban persembahannya, semua bentuk lahiriahnya—Bait Allah, ruang Maha Kudus, semuanya—termasuk hari Sabat, ya, termasuk hari Sabat. Pemeliharaan hari Sabat lenyap bersama semua hal lain yang menjadi bagian dari Yudaisme. Kita mulai memahami hal ini dengan memperhatikan Yesus dan cara Dia memperlakukan hari Sabat. Bagaimana Yesus memperlakukan hari Sabat? Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, Dia melakukannya dengan cara apa pun yang Dia kehendaki—benar-benar apa pun yang Dia kehendaki. Kita tahu bahwa Dia adalah Pengantara dari suatu perjanjian yang baru, perjanjian yang lebih baik. Dan penting untuk dicatat bahwa sama seperti Dia melenyapkan sistem kurban, Dia juga melenyapkan sistem Sabat.

Nah, mungkin Anda ingat bahwa kita sudah membahas hal ini secara rinci dalam Injil Markus, tetapi mari kita melihat beberapa bagian lain untuk mempertimbangkannya, karena inilah inti dari pesan kita malam ini. Perhatikan Matius 12:1. “Pada waktu itu, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum. Karena lapar, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya.” Perlu diketahui, sebenarnya tidak ada hukum Perjanjian Lama yang melarang mereka melakukan hal itu. Bahkan, hal tersebut diperbolehkan. Tapi orang-orang Yahudi telah menambahkan begitu banyak pembatasan dan aturan di luar hukum Perjanjian Lama.

“Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada-Nya, ‘Lihatlah, murid-murid-Mu melakukan sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat.’ Tetapi jawab-Nya kepada mereka, ‘Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud,’—kalian menganggap ini buruk?—‘ketika ia dan orang-orang yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan bagaimana mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh mereka yang mengikutinya, kecuali oleh imam-imam?’”

Bahkan Aku akan memberi contoh yang lebih berat lagi. Daud dan orang-orangnya memakan roti sajian. “‘Atau tidakkah kamu baca dalam kitab Taurat bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat di dalam Bait Allah, namun tidak bersalah?’” Kalian membuat persoalan besar tentang tidak bekerja pada hari Sabat. Tetapi kenyataannya, sementara kalian tidak bekerja, para imam justru bekerja, melakukan semua kurban dan persembahan.

Hal ini mengingatkan kita bahwa hukum ini bukan hukum moral, melainkan bersifat simbolis. Karena itu, Yesus tidak menuruti kekhawatiran mereka tentang pelanggaran hari Sabat, tetapi justru menunjuk pada pelanggaran-pelanggaran Sabat yang lain. Pada ayat 8 Dia berkata, “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” Artinya, Dia berhak melakukan apa pun terhadap hari Sabat. Dia dapat menetapkannya. Dia dapat memberi perintah-perintah pembatasan. Dia dapat menetapkan hukuman mati bagi pelanggaran perintah-perintah itu, seperti dalam hukum Musa, atau Dia dapat menyingkirkannya sama sekali. Dia dapat membatalkannya. Dia dapat meniadakannya. Dan di sinilah terjadi masa peralihan dalam Perjanjian Baru. Ketika Yesus datang, segala sesuatu yang merupakan bagian dari sistem Yudaisme akan berakhir.

Kita lihat di Lukas pasal 14, Lukas pasal 14. Sekali lagi, di ayat 1 dikatakan, “Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama. Datanglah seorang yang sakit busung air berdiri di hadapan-Nya. Lalu Yesus berkata kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu, ‘Apakah boleh menyembuhkan orang pada hari Sabat atau tidak?’ Mereka diam semuanya. Lalu Ia memegang tangan orang sakit itu dan menyembuhkannya serta menyuruhnya pergi. Kemudian Ia berkata kepada mereka, ‘Siapakah di antara kamu yang tidak segera menarik ke luar anaknya atau lembunya kalau terperosok ke dalam sebuah sumur pada hari Sabat?’ Mereka tidak sanggup membantah-Nya.”

Mereka menganggap bahwa menyembuhkan orang adalah pelanggaran terhadap hari Sabat. Yesus tampaknya dengan sengaja memilih hari Sabat untuk melakukan penyembuhan, karena hal itu akan menghantam langsung simbol ini. Dan Yesus sedang menyatakan berakhirnya hari Sabat. Omong-omong, menyembuhkan orang sama sekali bukan pelanggaran terhadap hukum Sabat—Perjanjian Lama tidak pernah menyatakan hal itu. Tetapi sekali lagi, penyembuhan memang tidak pernah terjadi pada waktu itu.

Dalam Markus pasal 2—mari kita kembali ke pasal yang pertama kali kita bahas mengenai hal ini baru-baru ini—Yesus sedang berjalan melewati ladang gandum pada hari Sabat. Murid-murid-Nya berjalan sambil memetik bulir-bulir gandum. Peristiwa yang sama juga dicatat dalam Injil Matius. Orang-orang Farisi berkata kepada-Nya, “Lihat, mengapa mereka melakukan hal yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” Lalu Yesus memberikan contoh tentang Daud dan seterusnya, dan akhirnya sampai pada pernyataan di ayat 27, “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat. Karena itu Anak Manusia adalah Tuhan, bahkan atas hari Sabat."

Allah merancang hari Sabat sebagai sebuah berkat, untuk menghadirkan kelegaan, untuk menyediakan satu hari dalam seminggu ketika manusia dapat bersyukur kepada Allah atas kemuliaan ciptaan-Nya dan sekaligus disadarkan bahwa firdaus telah hilang. Sabat adalah hari untuk mengucap syukur atas penciptaan dan hari untuk bertobat, untuk mencari pengampunan. Hari Sabat ditempatkan tepat di tengah-tengah hukum Taurat, karena manusia hidup dalam pelanggaran terhadap hukum itu—jika bukan secara nyata, maka di dalam hati mereka. Seperti yang dikatakan Yesus, “Jika kamu melakukan hal-hal itu di dalam hatimu, itu sama seperti kamu telah melakukan dosa-dosa itu,” sebagaimana Dia ajarkan dalam Khotbah di Bukit.

Jadi Tuhan kita memberikan hari Sabat sebagai berkat bagi manusia: untuk memberi perhentian dari pekerjaan, memberikan gambaran tentang Eden—di mana sebelum kejatuhan semuanya adalah perhentian—memberi kesempatan untuk bersyukur kepada Allah atas penciptaan, lalu menilai hidupnya sendiri berdasarkan hukum Allah. Dan ketika melihat dosa di sana, manusia dipanggil untuk mencari pengampunan dan belas kasihan, sehingga menghasilkan sukacita, damai sejahtera, dan keselamatan.

Sekali lagi, Dia adalah Tuhan atas hari Sabat. Dia lebih besar daripada hari Sabat. Hari Sabat akan menjadi apa pun yang Dia kehendaki, apa pun yang Dia rancang—tidak lebih dan tidak kurang. Hari Sabat bukanlah hukum moral. Hari Sabat bahkan tidak diberikan sampai pada zaman Musa dan kemudian ditiadakan pada zaman Kristus.

Sekarang, mari kita beralih ke Yohanes pasal 5. Di pasal ini, penentangan terhadap Yesus sebenarnya sudah mulai terjadi di bawah permukaan, tetapi penyembuhan yang satu ini membuatnya muncul secara terbuka. Di situ ada sebuah hari raya orang Yahudi. Kita tidak tahu dengan pasti hari raya yang mana, tetapi kita bisa menyebutnya sebagai suatu perayaan atau perayaan hari Sabat. “Di Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda; ada lima serambinya.” Lalu dikatakan, “dan di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit: orang-orang buta, orang-orang timpang dan orang-orang lumpuh. Mereka menantikan guncangan air kolam itu.” Ada perdebatan mengenai keaslian bagian tertentu dari teks ini. “Sebab sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu,” dan seterusnya. Sebagian dari ayat 3 dan 4 mungkin merupakan tambahan kemudian. Itulah sebabnya dalam Alkitab ada tanda kurung pada bagian tersebut.

Tapi pada ayat 5, teks aslinya kembali dilanjutkan. “Di situ ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit. Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya, ‘Maukah engkau sembuh?’ Jawab orang sakit itu kepada-Nya, ‘Tuan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu ketika airnya mulai terguncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku.’” Jadi ini tampaknya suatu kepercayaan takhayul bahwa siapa pun yang pertama masuk ke dalam air ketika air berguncang akan disembuhkan. “Kata Yesus kepadanya, ‘Bangunlah, angkatlah tikarmu dan berjalanlah.’” Tilam itu hanyalah alas jerami tipis yang bisa digulung dan disampirkan di bahunya. “Pada saat itu juga sembuhlah orang itu,” dikatakan pada ayat 9, “lalu ia mengangkat tikarnya dan berjalan.” Dan inilah persoalannya: Tetapi hari itu hari Sabat.”

Hukum Perjanjian Lama tidak melarang orang berjalan, dan tidak melarang membawa tilam dari satu tempat ke tempat lain. Namun tradisi rabinik telah merumuskan—entah berapa jumlah pastinya; ada yang mengatakan hampir empat puluh banyaknya aktivitas yang dilarang. Kita menemukannya dalam Mishnah, dan salah satunya adalah membawa alas tidur. Jadi Yesus membuat orang itu melanggar hari Sabat menurut aturan mereka. Padahal Yesus tidak harus menyembuhkan orang itu pada hari Sabat. Dia juga tidak harus memerintahkan orang itu melakukan sesuatu yang melanggar kepekaan mereka tentang hadi Sabat. Tetapi Dia melakukannya, dan Dia melakukannya dengan sengaja. Ayat 15 berkata, “Orang itu keluar, lalu menceritakan kepada para pemuka Yahudi bahwa Yesuslah yang telah menyembuhkan dia. Karena itu, para pemuka Yahudi berusaha menganiaya Yesus, karena Ia melakukan hal-hal itu pada hari Sabat.”

Yesus tidak pernah melanggar Sepuluh Perintah Allah. Yesus tidak pernah melanggar hukum Allah. Dia kudus, tidak bersalah, tidak ternoda, terpisah dari orang-orang berdosa. Namun Yesus melakukan apa pun yang Dia kehendaki pada hari Sabat, dan melakukannya di hadapan para pemimpin itu, karena hal tersebut merupakan bagian dari upaya untuk meruntuhkan seluruh sistem itu.

Pada ayat 17, Yesus melangkah lebih jauh lagi dan membela apa yang Dia lakukan dengan berkata demikian, “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga.” Ini luar biasa. Ini adalah klaim keilahian. Seolah Dia berkata, Bapa-Ku dan Aku sedang bekerja di hadapan mata kalian. Kami sedang bekerja. “Sebab itu”—ayat 18—“para pemuka Yahudi makin berusaha untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Ia melanggar peraturan Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah.” Dia menyebut Allah sebagai Bapa-Nya dan terus-menerus melakukan hal-hal yang, menurut mereka, melanggar hukum hari Sabat.

Orang-orang Farisi menuduh Yesus melanggar hukum hari Sabat dan menyamakan diri-Nya dengan Allah, dan tuduhan inilah yang akhirnya membawa mereka untuk membunuh-Nya. Yesus tidak pernah berusaha menyesuaikan aktivitas-Nya dengan hukum hari Sabat dalam perjanjian lama. Dia menegakkan otoritas-Nya sendiri sebagai satu dengan Allah dan sebagai Tuhan atas hari Sabat. Orang-orang Farisi adalah pemelihara hari Sabat yang sangat ketat. Mereka menaati perjanjian lama beserta segala tambahan aturannya secara harfiah.

Tapi mereka sama sekali melewatkan inti dari hari Sabat itu sendiri. Mereka tidak pernah menemukan perhentian dari upaya tanpa henti untuk memperoleh keselamatan melalui perbuatan. Mereka tidak mengalami pertobatan yang sungguh-sungguh dan tulus. Hukum-hukum hari Sabat hanyalah bayangan pengharapan, sebuah pengingat mingguan bahwa ada firdaus yang dapat diperoleh kembali, dan jalannya adalah melalui kebenaran.

Seharusnya ada perhentian dari pergumulan tanpa akhir dan dari beban berat untuk mencoba memperoleh keselamatan dengan usaha sendiri. Ketika Yesus datang, Dia membawa perhentian itu—perhentian yang sejati. Anak Allah kini menjadi ciptaan yang baru. Di bawah perjanjian yang baru, kita disembuhkan, dibersihkan, ditemukan, dan diterima. Kita telah masuk ke dalam perhentian bersama Sang Pencipta sendiri. Kita telah dianugerahi kebenaran. Kita bersukacita dalam anugerah itu. Kita berhenti dari segala usaha untuk memperoleh keselamatan. Yesus benar-benar mengakhiri hari Sabat.

Bagaimana dengan bagian Perjanjian Baru yang lain? Apa yang Perjanjian Baru katakan kepada gereja mengenai hari Sabat? Mari kita melihat Ibrani pasal 3. Masih banyak hal yang bisa dibahas tentang ini. Saya hanya mencoba menyampaikan pokok-pokok utamanya. Dan Minggu malam depan, kita akan membahas tentang Hari Tuhan, yaitu hari Minggu, dan melihat bagaimana hal itu sesuai dengan tujuan Allah.

Tapi ada beberapa bagian Firman Tuhan yang sangat menentukan. Ibrani 3:7 adalah tempat yang baik untuk memulai. “Sebab itu, seperti yang dikatakan Roh Kudus: ‘Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam pemberontakan, pada waktu pencobaan di padang gurun, di mana nenek moyangmu mencobai Aku dengan menguji Aku, sekalipun mereka melihat perbuatan-perbuatan-Ku, empat puluh tahun lamanya Itulah sebabnya Aku murka kepada orang-orang itu, dan berkata: Selalu mereka sesat hati, dan mereka tidak mengenal jalan-Ku, sehingga Aku bersumpah dalam murka-Ku: Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku.’”

Perhentian sejati dari Allah tidak datang melalui Yosua. Perhentian sejati dari Allah juga tidak datang melalui Musa. Perhentian sejati hanya datang melalui Yesus Kristus. Yosua memang memimpin bangsa Israel masuk ke tanah yang dijanjikan sebagai tempat perhentian mereka, tetapi itu tidak lebih dari perhentian sementara di dunia ini, melainkan hanyalah bayangan dari perhentian surgawi yang terakhir dan sempurna.

Perhentian-Ku. Inilah janji keselamatan yang Allah berikan kepada mereka yang menaruh kepercayaan kepada-Nya. Ayat 12 berkata, “Waspadalah, Saudara-saudara, supaya di antara kamu jangan terdapat seorang pun yang hatinya jahat dan tidak percaya sehingga murtad dari Allah yang hidup. Tetapi nasihatilah seorang akan yang lain setiap hari, selama masih dapat dikatakan ‘hari ini’, supaya jangan ada di antara kamu yang menjadi tegar hatinya karena tipu daya dosa. Karena kita telah menjadi bagian dari Kristus, asal saja kita berpegang teguh sampai akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula. Ketika dikatakan, ‘Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam pemberontakan.’”

“Siapakah mereka yang membangkitkan kemarahan Allah, sekalipun mereka mendengar suara-Nya? Bukankah mereka semua yang keluar dari Mesir di bawah pimpinan Musa?  Siapakah yang Ia murkai selama empat puluh tahun? Bukankah mereka yang berbuat dosa dan yang mayatnya bergelimpangan di padang gurun? Siapakah yang telah Ia sumpahi bahwa mereka tidak akan masuk ke tempat perhentian-Nya? Bukankah mereka yang tidak taat? Demikianlah kita lihat bahwa mereka tidak dapat masuk karena mereka tidak percaya.”

Jenis perhentian yang penting bagi kita adalah perhentian keselamatan yang datang melalui iman, yaitu iman kepada Allah. Ketidakpercayaan membuat seseorang kehilangan perhentian itu. Perhentian yang menjadi perhatian para penulis Perjanjian Baru—termasuk penekanan dalam Kitab Ibrani, yang merupakan surat dengan nuansa Yahudi yang sangat kuat—bukanlah pemeliharaan hari Sabat, melainkan perhentian rohani dalam keselamatan.

Perhatikan Ibrani 4:1, “Sebab itu, baiklah kita waspada, supaya jangan ada seorang pun di antara kamu yang dianggap ketinggalan, sekalipun janji akan masuk ke dalam perhentian-Nya masih berlaku.” Perhentian yang dibicarakan Perjanjian Baru bukanlah satu hari tertentu dalam seminggu, melainkan keselamatan. “Karena kepada kita diberitakan juga kabar kesukaan sama seperti kepada mereka, tetapi firman yang didengar itu tidak berguna bagi mereka, karena mereka tidak dipersatukan dalam iman dengan orang-orang yang mendengarkannya. Sebab kita yang beriman, akan masuk ke tempat perhentian seperti yang dikatakan-Nya.”

Tidak pernah ada perintah dalam Perjanjian Baru untuk memelihara hari Sabat. Kesepuluh perintah Allah diulangi dalam Perjanjian Baru berkali-kali, kecuali perintah keempat. Perintah itu tidak pernah diulang dalam Perjanjian Baru, tidak satu kali pun. Di tengah hukum moral, hari Sabat berfungsi sebagai tanda dan simbol untuk menuntun umat kepada perhentian dan pertobatan. Tetapi ketika kita masuk ke Perjanjian Baru, perintah itu sama sekali tidak diulang.

Perhentian yang menjadi perhatian Perjanjian Baru adalah perhentian yang dialami jiwa melalui mendengar dan mempercayai Injil yang diberitakan. Itulah perhentian yang ditawarkan Perjanjian Baru. Ayat 9 berkata, “Jadi, masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah. Sebab siapa saja yang telah masuk ke tempat perhentian-Nya, ia sendiri telah berhenti dari segala pekerjaannya, sama seperti Allah berhenti dari pekerjaan-Nya.” Ini sungguh luar biasa.

Apa artinya semua ini? Hanya ada dua konsep tentang bagaimana seseorang masuk ke surga. Entah seseorang berusaha masuk melalui perbuatannya, atau itu adalah pemberian anugerah, benar? Bagi orang-orang Yahudi, mereka sedang berusaha melalui perbuatan. Tetapi ketika seseorang masuk ke dalam perhentian anugerah dan perhentian iman, usaha itu berhenti. Pada hari ketika Anda datang kepada Yesus Kristus, Anda berhenti mencoba memperoleh keselamatan dengan usaha sendiri, bukan? Anda masuk ke dalam perhentian yang bersifat tetap dan kekal.

Ini merupakan penekanan Perjanjian Baru yang sangat indah. Hari Sabat dalam hukum Musa—sebagai simbol dan tanda—hanyalah bayangan samar dari perhentian yang sejati. Sekarang perhatikan Roma pasal 14 sejenak. Karena Perjanjian Baru berbicara tentang perhentian rohani—yaitu keselamatan yang diterima bukan lewat perbuatan, melainkan oleh iman—maka hari Sabat tidak lagi menjadi kewajiban yang mengikat.

Perhatikan Roma 14:5, “Yang seorang menganggap hari tertentu lebih penting daripada hari yang lain, tetapi yang lain menganggap semua hari sama saja. Hendaklah setiap orang benar-benar yakin dalam hatinya sendiri. Siapa yang berpegang pada suatu hari yang tertentu, ia melakukannya untuk Tuhan.” Ada orang-orang Yahudi yang telah datang kepada iman di dalam Kristus, tetapi masih sulit melepaskan hari Sabat. Hal itu sudah begitu tertanam dalam hidup mereka. Mereka mengira bahwa dengan tetap memelihara hukum hari Sabat perjanjian lama, mereka masih menaati Tuhan. Mereka memeliharanya untuk Tuhan. “Siapa yang berpegang pada suatu hari yang tertentu, ia melakukannya untuk Tuhan. Siapa yang makan”—mengikuti hukum makanan—“ia melakukannya untuk Tuhan, sebab ia mengucap syukur kepada Allah. Dan siapa yang tidak makan, ia melakukannya untuk Tuhan, dan dia juga mengucap syukur kepada Allah.”

Dengan kata lain, seperti yang dikatakan ayat 5, setiap orang bertindak berdasarkan keyakinannya sendiri tentang apa yang dianggap benar. Pada akhirnya, hal itu bukanlah masalah yang menentukan. Ayat 8 berkata, “Jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi, baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan.” Karena itu, jangan menjadikan hari Sabat sebagai persoalan.

Seperti yang ia katakan kembali di ayat 2, ada orang-orang yang masih mempersoalkan hukum makanan. Ada juga orang-orang yang masih mempersoalkan pemeliharaan hari Sabat. Semua hal itu adalah bagian dari sebuah sistem yang sedang berlalu. Dan di tempat lain, Perjanjian Baru memberi arahan agar orang-orang seperti ini dibiarkan bertumbuh dalam pemahaman mereka tentang kebebasan dari ketetapan-ketetapan tersebut. Jangan memaksa mereka bertindak melawan suara hati mereka. Orang-orang percaya berlatar belakang Yahudi masih merasa terikat untuk memelihara hukum hari Sabat dan hukum makanan. Biarkan mereka melakukan hal itu sampai mereka tiba pada kebebasan penuh mereka.

Yang menarik adalah, tidak ada satu pun perintah di sini yang mewajibkan hal-hal tersebut. Padahal ini akan menjadi tempat yang sangat tepat untuk mengatakan, “Dan kalian yang tidak melakukannya, bereskanlah hidup kalian.” Tetapi hal itu sama sekali tidak terjadi.

Dalam Galatia 4:9 dikatakan, “Tetapi sekarang sesudah kamu mengenal Allah, atau lebih baik, sesudah kamu dikenal Allah, bagaimana kamu berbalik lagi kepada roh-roh dunia yang lemah dan miskin dan mau mulai memperhamba diri lagi kepadanya? Kamu dengan teliti memelihara hari-hari tertentu, bulan-bulan, masa-masa yang tetap dan tahun-tahun. Aku khawatir kalau-kalau susah payahku untuk kamu telah sia-sia.” Artinya, kamu tidak memiliki kewajiban untuk kembali kepada ketetapan-ketetapan kalender berupa hari raya dan hari Sabat dalam sistem Musa.

Sekarang kita beralih ke Kolose pasal 2. Bagian ini mungkin yang paling tegas, karena di sini dua tanda disatukan: tanda Perjanjian Abraham, yaitu sunat, dan tanda Perjanjian Musa, yaitu hari Sabat. Dan dalam Kolose pasal 2 ini, kita tahu bahwa sunat telah sepenuhnya dihapuskan dalam perjanjian baru, benar-benar dihapuskan.

Galatia 5:2 berkata, “Jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu.” Jika kamu menerima sunat, Kristus tidak memberi manfaat apa pun bagimu. Itu tidak berarti apa-apa. “Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih.”

Karena itu, dalam Kolose 2:11 dikatakan, “Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan tubuh yang berdosa.” Kamu telah mengalami tindakan yang jauh lebih radikal, dan itu bersifat batiniah. Kamu “dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga melalui kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati.  Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh karena pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita.”

Singkirkan sunat. Jika kamu tetap berpegang pada sunat, maka kamu menjadikan Kristus tidak berarti apa-apa. Tanda Perjanjian Abraham sudah berlalu. Perjanjian itu tidak dapat menyelamatkan. Lalu pada ayat 16 dikatakan, “Karena itu, jangan biarkan orang menghakimi kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedangkan wujudnya ialah Kristus.” Jangan biarkan siapa pun mengikat kamu pada hari Sabat. Dan yang dimaksud di sini adalah Sabat mingguan, karena Sabat-sabat perayaan lainnya sudah tercakup dalam istilah “hari raya dan bulan baru.”

Jangan biarkan siapa pun mengikat Anda pada hari Sabat. Hari Sabat adalah bagian dari sebuah sistem yang mencakup Bait Allah, keimaman, dan korban-korban persembahan. Sistem itu telah berlalu. Hari Sabat hanyalah bayangan, bukan wujud yang sesungguhnya. Hari Sabat hanya menunjuk pada kenyataan bahwa Allah adalah Pencipta, bahwa firdaus telah hilang, bahwa manusia berada di bawah penghakiman hukum yang menggentarkan dan membutuhkan pertobatan serta datang kepada Allah untuk mencari kebenaran, belas kasihan, dan anugerah dari tangan-Nya. Namun hari Sabat itu sendiri tidak pernah memberikan semua itu. Semua itu diberikan di dalam Yesus Kristus. Paulus sedang mengatakan bahwa Anda tidak lagi memerlukan bayangan, karena Anda telah memiliki wujud yang sejati. Anda telah memiliki perhentian itu—perhentian yang sejati.

Masih banyak hal yang bisa dikatakan tentang hal ini. Tapi sebagai penutup, mari kita rangkum beberapa pemikiran terakhir sebelum kita mengakhirinya. Tidak ada satu pun perintah dalam Perjanjian Baru untuk memelihara hari Sabat. Kesepuluh perintah Allah diulangi dalam Perjanjian Baru, kecuali perintah tentang hari Sabat. Perintah itu tidak pernah dikutip dalam Perjanjian Baru. Tidak ada satu pun ketetapan atau aturan hari Sabat dalam perjanjian baru. Tidak ada instruksi tentang perilaku pada hari Sabat di mana pun dalam Perjanjian Baru.

Dalam Kisah Para Rasul pasal 15, ketika Konsili Yerusalem memutuskan apa saja yang harus dituntut dari orang-orang bukan Yahudi yang percaya di dalam gereja, mereka tidak mewajibkan pemeliharaan hari Sabat. Para rasul tidak pernah memerintahkan siapa pun untuk memelihara hari Sabat. Mereka tidak pernah menegur siapa pun karena tidak memelihara hari Sabat. Mereka tidak pernah memperingatkan orang percaya tentang pelanggaran hari Sabat. Mereka juga tidak pernah mendorong orang percaya untuk tetap berpegang pada hari Sabat.

Semuanya telah berlalu, dengan satu pengecualian. Kita bisa kembali ke Kejadian pasal 2 yang semula, dan di sana kita diingatkan bahwa setiap hari ketujuh yang berlalu merupakan kesempatan bagi kita untuk mengakui kebesaran Sang Pencipta kita. Kita dapat memberkati hari itu dengan menjadikannya waktu untuk mengakui Allah sebagai Pencipta.

Dan kemudian, seperti yang saya katakan—dan ini akan kita bahas minggu depan—hari pertama adalah hari ketika kita mengakui Allah sebagai Penebus. Kita tidak pernah lagi merayakan hari Sabat dalam pengertian Musa, karena itu adalah pelayanan yang membawa kematian. Tetapi kita dapat merayakan hari Sabat dalam pengertian kitab Kejadian, yaitu dengan merayakan Allah sebagai Pencipta kita, dan kemudian pada hari pertama dalam minggu itu, kita merayakan Dia sebagai Penebus kita.

Nah, Minggu malam depan, dengan gambaran besar yang singkat ini, saya ingin beralih membahas bagaimana kita memandang hari Minggu. Apakah ada sesuatu yang penting tentang hari itu? Apakah ada sesuatu yang unik, sesuatu yang istimewa? Dan apa yang dikatakan Alkitab tentang hal itu? Saya rasa Anda akan menikmati untuk memahami apa yang Tuhan ingin kita ketahui dan bagaimana seharusnya kita menanggapinya ketika kita membahasnya pada kesempatan berikutnya.

Bapa, kami bersyukur kepada-Mu untuk hari yang indah ini. Kami bersyukur atas konsistensi kebenaran-Mu. Kami bersyukur atas Firman-Mu yang membuka pengertian kami tentang segala sesuatu. Kami sungguh-sungguh bersukacita tanpa henti atas kebenaran mulia dari Firman Tuhan yang menjadi jelas dan tidak terbantahkan bagi kami. Kami bersyukur karena kami telah melampaui bayang-bayang itu, perjanjian-perjanjian itu, dan simbol-simbol itu.

Kami hidup di dalam kenyataan perhentian itu. Kami telah beristirahat untuk selamanya dari usaha untuk memperoleh kebenaran melalui perbuatan kami sendiri, dari upaya untuk menyelamatkan diri kami sendiri. Kami telah masuk ke dalam perhentian Injil. Bahkan sekarang ini kami sudah mencicipi firdaus melalui perhentian itu, dan suatu hari nanti kami akan masuk ke dalam kemuliaan firdaus surgawi sepenuhnya. Tapi Engkau telah memberi kami sedikit gambarannya sejak saat ini. Bagi kami, setiap hari adalah hari Sabat, karena setiap hari kami beristirahat di dalam karya Yesus Kristus yang telah selesai. Kepada-Nya kami naikkan segala pujian. Amin.

SELESAI

This sermon series includes the following messages:

Please contact the publisher to obtain copies of this resource.

Publisher Information
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969

Welcome!

Enter your email address and we will send you instructions on how to reset your password.

Back to Log In

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize
View Wishlist

Cart

Cart is empty.

Subject to Import Tax

Please be aware that these items are sent out from our office in the UK. Since the UK is now no longer a member of the EU, you may be charged an import tax on this item by the customs authorities in your country of residence, which is beyond our control.

Because we don’t want you to incur expenditure for which you are not prepared, could you please confirm whether you are willing to pay this charge, if necessary?

ECFA Accredited
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Back to Cart

Checkout as:

Not ? Log out

Log in to speed up the checkout process.

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize