Senang rasanya bisa kembali membuka Firman Allah. Ketika saya tidak berada di sini, saya sangat merindukan berada di gereja. Saya benar-benar mencoba mencari pengalaman yang bisa menggantikan Gereja Grace. Ketika saya harus tinggal di rumah dan tidak bisa pergi ke mana-mana— yang kurang lebih seperti itulah keadaannya sejak operasi—saya hanya bisa berharap ada anggota keluarga yang menyiapkan komputer supaya saya bisa mendengarkan siaran audio dari Grace secara daring. Saya sangat menyukainya, tetapi sayangnya hal itu tidak terjadi sesering yang saya inginkan. Pada kesempatan-kesempatan lainnya, saya mencoba mencari sesuatu di televisi yang bisa mengisi kekosongan itu. Dan ternyata itu sangat sulit.
Saya ingin Anda tahu bahwa Alkitab, menurut saya, sungguh luar biasa. Benar-benar luar biasa. Kekayaannya tidak terselami, begitu dalam, jauh melampaui semua gagasan, semua filsafat, semua pendapat, dan semua wawasan yang pernah dihasilkan oleh seluruh umat manusia jika digabungkan. Tapi, saya mendapati bahwa hampir mustahil menemukan seseorang yang benar-benar mau menggali kedalaman Alkitab itu.
Pendapat—ada banyak sekali. Wawasan—juga melimpah. Namun hampir mustahil menemukan seseorang yang benar-benar memahami keindahan dan keluhuran Kitab Suci. Khotbah yang dangkal mencerminkan pandangan yang lemah tentang Kitab Suci, pemahaman yang dangkal tentang kekayaannya yang luar biasa. Karena itu, sungguh menyenangkan bisa berada di sini, dan menyenangkan pula bersama orang-orang yang saya kasihi dan yang mengasihi saya di Gereja Grace.
Nah, setelah mengatakan hal-hal mendalam tentang Kitab Suci,—dan memang ada begitu banyak hal yang mendalam—ada satu catatan tambahan yang perlu saya sampaikan. Kemarin saya baru saja membaca sebuah buku yang ditulis oleh Leland Ryken, dan saya mau merekomendasikannya kepada Anda. Buku itu membahas tentang penerjemahan bahasa Inggris. Isinya membahas filosofi penerjemahan—misalnya, mengapa versi King James, New King James, NAS, dan ESV merupakan terjemahan kata demi kata atau kesepadanan formal, berbeda dengan banyak terjemahan lain yang disebut sebagai “kesepadanan dinamis.” Jika tersedia di toko buku, ini adalah buku yang layak dibaca,
Penulis buku itu mengirimkan satu eksemplar kepada saya untuk dibaca. Buku ini sangat layak dibaca karena membantu kita memahami bahwa bahkan dalam dunia penerjemahan Alkitab pun ada orang-orang yang memiliki pandangan yang rendah terhadap Kitab Suci. Mereka merasa bahwa kuasa utama yang menentukan makna Kitab Suci adalah pembaca masa kini, bukan penulis aslinya. Karena itu, tujuan penerjemahan bukan lagi menyampaikan apa yang dimaksudkan oleh penulis, melainkan apa yang diinginkan oleh pembaca.
Jadi muncullah terjemahan-terjemahan seperti The Message, The Living Bible, The New Living Translation, NIV, TNIV, Good News for Modern Man, dan seterusnya, dan seterusnya. Semua terjemahan itu menempatkan pembaca sebagai pihak yang paling berdaulat, dan berusaha memasukkan Alkitab ke dalam konteks serta bahasa modern, tanpa terlalu memedulikan apa sebenarnya yang dimaksudkan oleh penulis aslinya.
Inilah terjemahan-terjemahan yang populer—dan saya kira bisa dikatakan demikian. Terjemahan-terjemahan itu mendominasi dunia Injili saat ini, dan pada akhirnya menunjukkan kurangnya pemahaman yang sama: bahwa ketika kita datang kepada Alkitab, yang seharusnya kita cari adalah apa yang dimaksudkan oleh penulisnya, apa yang diilhamkan oleh Roh Kudus, bukan membaca versi yang merupakan tafsiran atau “olah ulang” suatu panitia modern tentang apa yang mereka kira ingin dibaca oleh pembaca masa kini. Jadi ini adalah isu yang sangat, sangat penting. Dan pada akhirnya, semuanya bermuara pada hal itu.
Dan kami sangat bersyukur—saya pribadi sangat bersyukur—atas pengaruh-pengaruh dalam hidup saya selama bertahun-tahun, dan atas pengaruh dalam pelayanan yang kita jalani bersama di Gereja Grace ini, yang menuntun kami pada keyakinan ini: kami ingin mengetahui apa yang Allah maksudkan dengan apa yang Dia katakan, dan kami ingin mengetahui apa yang Dia katakan sejak semula, dengan cara Dia mengatakannya. Kami ingin Allah yang berdaulat atas Firman-Nya, bukan pembaca modern.
Karena itu kami menggunakan terjemahan yang bersifat literal. Saya berkhotbah menggunakan versi New American Standard (NAS). New King James juga merupakan terjemahan yang literal. ESV, English Standard Version—yang lebih baru, mungkin lebih puitis dan lebih indah susunannya—juga termasuk apa yang disebut “kesepadanan formal,” yaitu terjemahan kata demi kata, bukan suatu bentuk parafrasa. Itulah sebabnya kami menggunakan terjemahan-terjemahan tersebut, dan itulah sebabnya saya memakai NAS dan New King James, yang juga merupakan terjemahan kesepadanan formal yang sangat baik.
Jadi kita datang kepada Firman Allah dan di sanalah kita menemukan semua hal yang perlu kita ketahui. Kita tidak membutuhkan Alkitab yang disesuaikan dengan suasana zaman. Kita tidak membutuhkan Alkitab yang “diperbarui” untuk kita. Kita bisa kembali ke teks aslinya dan mendapatkan semua yang kita perlukan.
Dan salah satu hal yang perlu kita pahami adalah pentingnya ibadah. Ketika kita membahas pentingnya ibadah, kita ingin mengerti bagaimana hari Minggu masuk di dalamnya, bagaimana Hari Tuhan memiliki tempat di dalamnya. Itulah sebabnya saya menyampaikan khotbah tentang hari Sabat, karena ada banyak orang yang masih bingung mengenai hari Sabat. Dan malam ini saya ingin berbicara sedikit kepada Anda tentang Hari Tuhan. Ini tidak akan menjadi khotbah yang panjang—bahkan kebaktian yang panjang—tetapi saya ingin menyampaikan apa yang dikatakan Kitab Suci, karena saya percaya hal ini sangat penting.
Sekarang ini hari Minggu, bukan? Dan Anda ada di sini. Kita selalu ada di sini pada hari Minggu, dan itu ada alasannya. Itu tidak terjadi secara kebetulan. Ini adalah suatu pola. Bukan hanya pola di Gereja Komunitas Grace, tetapi hampir menjadi pola di gereja-gereja di seluruh Amerika Serikat. Ini adalah pola tradisional yang telah dijalani sejak lama, dan jejaknya bisa ditelusuri terus ke belakang, dan ke belakang lagi, dan ke belakang lagi, sampai akhirnya kembali ke zaman Perjanjian Baru. Umat Allah, orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, beribadah pada hari Minggu.
Saya telah mengunjungi banyak tempat di dunia sepanjang hidup saya. Saya pernah pergi sejauh Kazakhstan di Asia Tengah, dan orang-orang percaya di sana beribadah pada hari Minggu. Mereka selalu beribadah pada hari Minggu, dan sampai hari ini pun mereka tetap beribadah pada hari Minggu. Saya juga sudah berkali-kali pergi ke Britania Raya—ke Inggris, Irlandia, dan Skotlandia—dan orang-orang percaya di sana beribadah pada hari Minggu.
Saya juga pernah ke Belarus, sebuah negara yang sangat luar biasa, yang belakangan ini dikenal karena sikap para pemimpinnya yang anti-Kristen, bahkan bersifat menganiaya, dan karena tekanannya yang keras terhadap gereja. Orang-orang percaya di sana tetap berkumpul pada hari Minggu. Di negara-negara lain bekas Uni Soviet—Rusia, Ukraina—orang-orang percaya juga berkumpul pada hari Minggu. Mereka berkumpul pada hari Minggu di India. Mereka berkumpul pada hari Minggu di Tiongkok. Mereka berkumpul pada hari Minggu di Filipina. Mereka berkumpul pada hari Minggu di Selandia Baru dan Australia.
Mereka berkumpul pada hari Minggu di pegunungan Ekuador, di tengah suku-suku Indian di desa Colta, tempat Patricia dan saya pernah berkunjung. Mereka berkumpul pada hari Minggu di Brasil, baik di hutan-hutan maupun di kota-kota. Mereka berkumpul pada hari Minggu di seluruh Amerika Selatan. Bahkan di Israel pun, mereka berkumpul pada hari Minggu.
Bagaimana hal ini bisa terjadi? Mengapa mereka tidak berkumpul pada hari yang berbeda-beda? Mengapa tidak ada yang berkumpul pada hari Kamis, yang lain pada hari Selasa, yang lain pada hari Rabu, dan yang lain lagi pada hari Sabtu? Keadaannya memang selalu seperti ini, dan memang selalu demikian di sepanjang sejarah gereja Kristen, di seluruh penjuru dunia.
Dan saya ingat, hal ini dulu menjadi semacam beban bagi saya pada masa kecil, karena ada orang-orang yang memberlakukan begitu banyak aturan ketat tentang hari Minggu. Semua orang berkumpul pada hari Minggu. Dan ketika saya masih kecil, saya didandani dengan setelan kecil, dipakaikan kemeja putih kecil, lalu dipasangi dasi kupu-kupu kecil, dan saya harus tetap seperti itu sepanjang hari—sepanjang hari Minggu. Saya ingat ada pembatasan yang sangat keras tentang apa yang boleh dan tidak boleh saya lakukan.
Saya tidak boleh keluar rumah. Saya tidak boleh main lempar tangkap bola di halaman. Saya tidak boleh main bola. Waktu kami tinggal di Philadelphia, saya tidak boleh main step ball, permainan yang sangat populer di tangga rumah-rumah deret di sana. Kami harus duduk diam. Satu-satunya dosa yang boleh kami lakukan—dan itu kami lakukan habis-habisan—adalah makan sebanyak-banyaknya. Saya menjalani hari Minggu seperti satu waktu makan yang sangat panjang. Kami pulang dari gereja sekitar jam setengah satu siang, lalu makan terus sampai waktunya kembali lagi ke gereja malam hari.
Tapi hari Minggu itu seharusnya menjadi hari ketika segala sesuatu seolah-olah berhenti total, dan hari itu dipisahkan untuk merenungkan tentang Tuhan, membaca Alkitab, membaca cerita-cerita Alkitab, membaca buku-buku Kristen atau teologi, berbicara tentang hal-hal yang berkaitan dengan Tuhan, dan yang paling penting, membingkai hari itu dengan ibadah di gereja pada pagi dan malam hari—ditambah Sekolah Minggu dan mungkin persekutuan pemuda sebelum ibadah malam—sehingga satu hari penuh benar-benar terisi.
Kurang lebih begitulah keadaannya di seluruh negeri, di Amerika Serikat. Saya ingat ketika saya datang ke Gereja Komunitas Church pada tahun 1969, hanya ada satu pusat perbelanjaan di Lembah San Fernando, dan itu adalah mal pertama yang dibangun di daerah ini, yaitu Panorama City Mall. Panorama City—kota kecil tempat kami menempati sebagian wilayahnya—adalah kota pascaperang, di mana rumah-rumah kecil dibangun untuk menampung para veteran yang pulang dari Perang Dunia II.
Dan ketika mal pertama itu dibangun di sini, mal itu tidak pernah buka pada hari Minggu—tidak pernah buka pada hari Minggu. Demikian juga dengan tempat-tempat lain. Semua toko tutup pada hari Minggu. Tidak ada acara-acara terorganisir pada hari Minggu. Tidak ada olahraga anak-anak pada hari Minggu. Tidak ada kegiatan masyarakat yang direncanakan pada hari Minggu. Bahkan sebenarnya ada undang-undang yang melarang hal-hal itu, undang-undang yang dibuat oleh negara bagian dan oleh pemerintah.
Hari Minggu selalu sangat berbeda dengan hari Sabtu. Toko-toko buka pada hari Sabtu. Orang-orang sibuk dan bergerak pada hari Sabtu. Semua acara, semua kegiatan olahraga dijadwalkan pada hari Sabtu—perjalanan, rekreasi, pekerjaan rumah. Hari Minggu adalah hari yang sangat, sangat berbeda, dan hal itu diakui secara luas di sini. Itu juga diakui oleh para leluhur kita di Inggris dan di Eropa, bahkan sampai kembali ke zaman Reformasi, dan bahkan sebelum itu.
Saya ingat tahun ketika peraturan daerah di Lembah San Fernando diubah sehingga toko-toko diizinkan buka pada hari Minggu. Sejak itu, perlahan-lahan hari Minggu menjadi seperti hari Sabtu, dan hampir tidak ada perbedaan. Tapi selama berabad-abad—secara harfiah selama berabad-abad—ibadah dan persekutuan pada hari Minggu di antara orang-orang Kristen di seluruh dunia merupakan kebiasaan gereja.
Dan orang bisa bertanya, apakah semua ini hanya kebetulan? Apakah ini sekadar terjadi begitu saja? Sulit sekali meyakinkan orang dengan gagasan itu, mengingat begitu banyak negara, begitu banyak bahasa, dan begitu banyak abad yang terlibat, tapi polanya tetap sama tanpa terputus. Lalu bagaimana semua ini bermula? Siapa yang memulainya? Dan mengapa kita masih mengadakan ibadah pada hari Minggu? Mengapa kita masih memberi semacam penghormatan khusus kepada hari Minggu dalam pola kerja lima hari yang berakhir pada hari Jumat? Apakah semua ini benar-benar terjadi secara kebetulan?
Dalam kira-kira 25 tahun terakhir, banyak gereja mulai mengikis makna hari Minggu. Hari Minggu dipersempit menjadi pengalaman satu jam yang tidak mengganggu, yang bisa diikuti sambil mampir dalam perjalanan ke pantai—bahkan dengan pakaian renang, kalau mau. Hari Minggu diperkecil menjadi satu jam saja yang bisa “diselesaikan,” dan untuk menyesuaikan diri dengan orang-orang yang bahkan tidak ingin sedikit pun terganggu hari Minggunya, mereka menyediakan kebaktian Sabtu malam. Dengan begitu, Anda bisa datang ke kebaktian Sabtu malam dan sama sekali tidak perlu memikirkan hari Minggu. Anda bisa menikmati seharian penuh di pantai, lalu mengikuti kebaktian Sabtu malam ketika hari sudah gelap dan toh tidak bisa lagi bermain di luar. Inilah pola yang khas dari tren gereja masa kini.
Dan tampaknya banyak orang tidak lagi melihat perbedaan berarti antara berkumpul pada hari Sabtu atau hari Minggu, seolah itu bukan isu yang penting. Ada banyak orang yang ingin membiarkan hari Minggu sepenuhnya bebas untuk olahraga, rekreasi, pergi ke pusat perbelanjaan, atau ke mana pun mereka mau, lalu menambahkan kebaktian Sabtu malam yang hanya sebentar dan terasa sangat praktis untuk mengakomodasi keinginan itu.
Lalu pertanyaannya: apakah ini benar-benar penting? Apakah penting bagi kita untuk melakukannya pada hari Minggu? Tidakkah kita bisa melakukannya sama baiknya pada hari lain, atau bahkan pada hari apa pun?
Nah, mari kita lanjutkan dari bagian terakhir yang kita bahas sebelumnya dalam menjawab pertanyaan itu. Silakan buka Kolose pasal 2 sejenak. Kita hanya akan menelusuri beberapa bagian Kitab Suci, dan saya akan membiarkan Anda menarik kesimpulannya sendiri. Kolose 2:16 berkata, “Karena itu, jangan biarkan orang menghakimi kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedangkan wujudnya ialah Kristus.”
Ingat apa yang saya sampaikan terakhir kali tentang hari Sabat? Hari Sabat itu sudah berlalu, bukan? Hari Sabat itu sudah berlalu. Jadi apa pun yang sedang kita bicarakan mengenai hari Minggu, ini bukanlah hari Sabat. Hari Sabat adalah hari ketujuh dalam satu minggu. Hari Sabat ditetapkan di bawah hukum Musa. Antara kejatuhan manusia ke dalam dosa dan zaman Musa, tidak ada hukum Sabat. Tidak ada kewajiban memelihara hari Sabat. Semua itu baru muncul dalam hukum Musa. Berabad-abad telah berlalu, dan tidak satu pun dari para bapa leluhur memiliki hukum atau ketetapan apa pun tentang hari Sabat.
Pada hari ketujuh setelah penciptaan, Anda ingat bahwa Allah berhenti dan Allah memberkati hari itu. Mengapa? Karena hari itu ditetapkan sebagai peringatan yang terus-menerus bahwa Allah telah menciptakan alam semesta dalam enam hari. Jadi hari ketujuh selalu dimaksudkan sebagai pengingat bahwa Allah adalah Pencipta kita. Dan hal ini sudah kita bahas pada pertemuan sebelumnya. Setiap hari Sabtu yang datang—yaitu hari ketujuh dalam satu minggu, dengan hari Minggu sebagai hari pertama—setiap hari Sabtu merupakan hari yang baik bagi kita untuk mengingat, pertama-tama, bahwa Allah adalah Pencipta.
Dan hal itu tertanam dalam warisan budaya kita. Itulah sebabnya dahulu orang-orang tidak bekerja pada akhir pekan, karena hari Sabtu bisa menjadi hari untuk menikmati ciptaan, hari untuk rekreasi. Anda tidak harus pergi bekerja. Semua ini terbentuk dalam kerangka pemikiran Kristen. Anda bisa keluar rumah, membawa keluarga, berpiknik, bermain bola, menikmati alam terbuka, menikmati ciptaan Allah. Semua itu merupakan bagian dari mengingat Allah sebagai Pencipta.
Kami juga telah menyampaikan kepada Anda bahwa ketika hukum Musa diberikan, Allah menetapkan hari Sabat bagi umat-Nya untuk dipelihara sebagai ketaatan kepada Allah, dan Dia memberikan berbagai pembatasan untuk mengingatkan mereka akan keberdosaan mereka. Jadi setiap hari Sabtu datang, ada semacam peran ganda di hari itu. Hari itu mengingatkan kita bahwa Allah adalah Pencipta, dan sekaligus mengingatkan kita betapa berdosanya kita sebenarnya—dan memang kita sungguh berdosa.
Tapi hari Sabat itu kini sudah berlalu. Kolose 2:16–17 berkata, “Jangan biarkan siapa pun mengikat kamu pada hari Sabat.” Hari Sabat itu telah berlalu. Itu adalah bagian dari Yudaisme yang telah digantikan oleh perjanjian yang baru. Dan perjanjian yang baru memiliki hari yang sepenuhnya berbeda. Hari Sabtu, seperti yang telah saya katakan, mengingatkan kita akan Allah sebagai Pencipta dan Allah sebagai pemberi hukum Taurat. Hari itu mengingatkan kita akan keindahan ciptaan Allah, kemegahan ciptaan-Nya, dan keberdosaan hati kita sendiri.
Tetapi ketika kita masuk ke dalam perjanjian yang baru, kita menemukan suatu bentuk peringatan yang baru—bukan lagi memperingati Allah sebagai Pencipta, bukan pula sebagai pemberi hukum, melainkan dalam perjanjian yang baru Allah menyatakan diri-Nya sebagai apa? Sebagai Juruselamat. Karena itu, perjanjian yang baru memiliki harinya sendiri, yaitu hari ketika kita memusatkan perhatian kepada Allah sebagai Juruselamat kita.
Sekarang mari kita lihat bagaimana semua ini terjadi. Silakan buka bagian akhir Injil Matius. Bisa dikatakan bahwa dari sudut pandang sejarah, gereja memang menanggapi hal ini dengan sangat serius, dan gereja telah memberi perhatian khusus pada hari Minggu sejak zaman Perjanjian Baru. Sekarang kita sudah dua ribu tahun kemudian, dan gereja masih berkumpul pada hari Minggu. Jadi, saya kira ini menunjukkan bahwa hal ini tertanam sangat dalam.
Dalam Matius pasal 28, peristiwanya terjadi pada hari setelah Sabat, yaitu hari Minggu—karena hari Sabat jatuh pada hari Sabtu. “Menjelang menyingsingnya fajar pada hari pertama minggu itu, pergilah Maria Magdalena dan Maria yang lain, menengok kubur itu. Tiba-tiba terjadilah gempa bumi yang hebat sebab seorang malaikat Tuhan turun dari langit dan datang ke batu itu dan menggulingkannya lalu duduk di atasnya. Wajahnya bagaikan kilat dan pakaiannya putih bagaikan salju. 4Penjaga-penjaga itu pun gentar ketakutan dan menjadi seperti orang-orang mati.”
“Akan tetapi, malaikat itu berkata kepada perempuan-perempuan itu, ‘Janganlah kamu takut; sebab aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan itu. Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya. Mari, lihatlah tempat Ia berbaring. Segeralah pergi dan katakanlah kepada murid-murid-Nya bahwa Ia telah bangkit dari antara orang mati. Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia. Sesungguhnya aku telah mengatakannya kepadamu.’”
“Mereka segera pergi dari kubur itu, dengan takut dan dengan sukacita yang besar dan berlari cepat-cepat untuk memberitahukannya kepada murid-murid Yesus. Tiba-tiba Yesus menjumpai mereka dan berkata, ‘Salam bagimu.’ Mereka mendekati-Nya dan memeluk kaki-Nya serta menyembah-Nya. Lalu kata Yesus kepada mereka, ‘Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku.’”
Hari itu adalah fajar hari Minggu pagi—pemandangan yang sudah sangat akrab, bukan? Inilah hari Minggu ketika Yesus bangkit dari kematian dan menampakkan diri kepada Maria Magdalena dan Maria, ibu Yakobus. Inilah hari kebangkitan.
Ayat 7, “Segeralah pergi dan katakanlah kepada murid-murid-Nya bahwa Ia telah bangkit dari antara orang mati.” Katakanlah kepada mereka dengan segera, karena akan ada banyak hal yang terjadi pada hari ini. Anda ingat, ini terjadi tepat saat fajar menyingsing. Sebelum peristiwa ini, hari Minggu tidak memiliki tempat khusus dalam kalender Yahudi—tidak ada tempat yang penting sama sekali. Hari itu tidak dipandang sebagai hari yang istimewa, baik secara religius maupun sosial. Hari Minggu sama seperti hari-hari lainnya.
Tapi begitu Tuhan bangkit dari kematian pada hari pertama minggu itu, hari pertama minggu itu tidak akan pernah sama lagi. Sebab jika hari ketujuh dipakai untuk memperingati penciptaan, dan jika hari ketujuh juga dipakai—dalam pengertian tertentu—untuk memperingati hukum Taurat, tentu kita ingin memperingati kebangkitan, bukan? Jika kita merayakan Allah sebagai Pencipta dan Allah sebagai pemberi hukum, tentu kita ingin merayakan Dia secara teratur—bahkan dengan sukacita yang jauh lebih besar—sebagai Juruselamat.
Ngomong-ngomong, Anda memiliki ibadah hari Minggu yang pertama di ayat 9. Mereka datang, memegang kaki-Nya, dan menyembah-Nya. Ibadah yang sederhana, tetapi tetap sebuah ibadah penyembahan.
Sekarang buka Alkitab Anda di Lukas pasal 23, dan kita sedang menyusun gambaran peristiwanya. Saya tidak akan masuk ke semua rinciannya. Kita sudah membahasnya ketika menutup Injil Lukas, semua hal yang terjadi di sana. Tetapi hal kunci yang perlu diperhatikan dalam ayat itu—ayat 7—adalah kata “segeralah,” sampaikan beritanya dengan cepat, karena hari ini akan penuh dengan peristiwa. Hari ini harus dimulai sejak dini.
Lukas 23:55, “Perempuan-perempuan yang datang bersama-sama dengan Yesus dari Galilea, ikut serta dan mereka melihat kubur itu dan bagaimana mayat-Nya dibaringkan. Setelah pulang, mereka menyediakan rempah-rempah dan minyak mur. Pada hari Sabat mereka beristirahat menurut hukum Taurat. Tetapi pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu, - ” Lukas 24:1 “ - mereka pergi ke kubur membawa rempah-rempah yang telah mereka sediakan. Mereka mendapati batu sudah terguling dari kubur itu, dan setelah masuk mereka tidak menemukan mayat Tuhan Yesus. Sementara mereka berdiri termangu-mangu karena hal itu, tiba-tiba ada dua orang berdiri dekat mereka memakai pakaian yang berkilau-kilauan. Mereka sangat ketakutan dan menundukkan kepala, tetapi kedua orang itu berkata kepada mereka, ‘Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati? Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea, yaitu bahwa Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan, tetapi akan bangkit pada hari yang ketiga.’”
“Lalu teringatlah mereka akan perkataan Yesus itu. Setelah mereka kembali dari kubur, mereka menceritakan semuanya itu kepada kesebelas murid dan kepada semua saudara yang lain. Perempuan-perempuan itu ialah Maria dari Magdala, Yohana dan Maria ibu Yakobus. Perempuan-perempuan lain juga yang bersama-sama dengan mereka memberitahukannya kepada rasul-rasul. Tetapi bagi mereka perkataan-perkataan itu seakan-akan omong kosong dan mereka tidak percaya kepada perempuan-perempuan itu. Sungguh pun demikian Petrus bangun, lalu cepat-cepat pergi ke kubur itu. Ketika ia menjenguk ke dalam, ia melihat hanya kain kapan saja. Lalu ia pergi dan bertanya dalam hatinya apa yang kiranya telah terjadi.”
Anda ingat bahwa Petrus dan Yohanes pergi ke kubur, seperti yang diceritakan oleh penulis Injil lainnya, dan mereka menyadari bahwa kebangkitan telah terjadi. Sekali lagi, semua ini berlangsung pada fajar hari Minggu. Para perempuan datang terlebih dahulu. Mereka kembali dan menyampaikan berita itu. Lalu yang lain datang, para rasul pun datang, dan sangat pagi sekali menjadi jelas bahwa Tuhan telah bangkit dan hidup. Artinya, Dia telah menyelesaikan karya penebusan di kayu salib. Dia dibangkitkan untuk pembenaran kita. Dia telah mengalahkan dosa, maut, dan neraka. Dia telah menanggung dosa-dosa kita di dalam tubuh-Nya sendiri di atas kayu salib, menjadi dosa bagi kita, dan Dia telah bangkit dari antara orang mati dalam kemenangan.
Dan ini masih pagi sekali. Sekali lagi di hari yang sama, ayat 13, “Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus - ” Ini masih hari pertama, masih hari Minggu, “pergi ke sebuah desa bernama Emaus, yang terletak kira-kira sebelas kilometer dari Yerusalem, dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia. Yesus berkata kepada mereka, ‘Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?’ Lalu berhentilah mereka dengan muka muram. Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya, "’Apakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari ini?’
“Kata-Nya kepada mereka, ‘Apakah itu?’ Jawab mereka, ‘Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan seluruh bangsa kami. Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. Padahal kami dahulu mengharapkan bahwa Dialah yang akan membebaskan bangsa Israel. Sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi.’”
Dan tentu saja hal itu sangat penting, karena Anda ingat Dia telah mengatakan bahwa Dia akan bangkit pada hari yang ketiga, tetapi pada saat itu mereka belum benar-benar memahami hal tersebut—setidaknya mereka belum mempercayainya.
“Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat yang mengatakan bahwa Ia hidup.” Mereka belum sungguh-sungguh menerima hal itu. Mereka belum mempercayainya. “Ia berkata kepada mereka, ‘Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu - ‘ ayat 25 ‘ - untuk mempercayai segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?’ Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.”
“Mereka mendekati desa yang mereka tuju, lalu Ia berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya. Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya, ‘Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam.’ Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka. Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap syukur, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka.”
Hari yang luar biasa. Hari yang benar-benar luar biasa. Pada pagi hari Dia menampakkan diri kepada para rasul dan para perempuan. Pada sore hari Dia menampakkan diri kepada dua murid di jalan menuju Emaus—dua murid yang tidak disebutkan namanya, kecuali Kleopas, sementara yang satu lagi tidak disebutkan. Tetapi masih ada lagi. Masih ada lagi yang akan terjadi.
Menurut ayat 32, “Kata mereka seorang kepada yang lain, ‘Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?’ Lalu bangkitlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu dan orang-orang yang ada bersama mereka, sedang berkumpul. Kata mereka itu, ‘Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon.’ Lalu kedua orang itu pun menceritakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenali Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti.”
Wah, itu benar-benar hari Minggu yang luar biasa. Dan omong-omong, pada hari itu Anda bukan hanya memiliki ibadah hari Minggu yang pertama, tetapi juga khotbah hari Minggu yang pertama. Itu terdapat dalam ayat 25–27, “Lalu Ia berkata kepada mereka, ‘Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu untuk mempercayai segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?" Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.” Khotbah pertama itu adalah khotbah ekspositori, dan disampaikan pada hari Minggu pertama.
Ibadah pertama pada hari Minggu, khotbah pertama pada hari Minggu, dan itu belum berakhir. Belum berakhir. Setelah mereka menyadari bahwa Yesus benar-benar hidup, mereka “segera kembali ke Yerusalem”—menempuh jarak sekitar 11 kilometer—dan mereka mendapati kesebelas murid itu dan orang-orang lain yang sedang berkumpul bersama mereka, lalu mereka memberitakan bahwa Tuhan benar-benar telah bangkit.
Lalu keadaan menjadi semakin menarik, ayat 36. “Sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka, ‘Damai sejahtera bagi kamu!’ Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu. Akan tetapi, Ia berkata kepada mereka, ‘Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu? Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku.’ Sambil berkata demikian, Ia memperlihatkan tangan dan kaki-Nya kepada mereka. Ketika mereka belum percaya karena girangnya dan masih heran, berkatalah Ia kepada mereka, ‘Apakah kamu punya makanan di sini?’ Lalu mereka memberikan kepada-Nya sepotong ikan goreng. Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka.” Dan sekarang mereka tahu. Mereka tahu “bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur.”
Catatan Yohanes juga sangat menarik. Mari kita buka Yohanes pasal 20. Sekali lagi, kita tidak sedang membahas rincian satu per satu, tetapi mencoba melihat gambaran besarnya. Yohanes 20:1, “Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu penutupnya telah diambil dari kubur.” Lalu ia berlari dan datang kepada Simon Petrus dan murid yang lain. Mereka mengalami kisah yang sama menakjubkannya. Inilah peristiwa ketika Simon Petrus tiba, mereka menemukan kain peluh dan kain kafan itu. Inilah juga saat ketika Maria Magdalena berjumpa dengan Yesus dan berkata pada ayat 18, “Aku telah melihat Tuhan.”
Nah, kita lanjutkan kisahnya di Yohanes 20:19, tepat di bagian di mana kita berhenti di Lukas 24. “Ketika hari suda malam”—dua murid dari Emaus telah kembali ke ruang atas tempat kesebelas murid berkumpul—“pada hari pertama minggu itu.” Perhatikan hal itu, ya. Ayat 19 menegaskan, “Pada hari pertama minggu itu.” Tidak heran Yesus berkata, “Segeralah dan beritahukan kepada semua orang,” karena dengan semua orang berlari ke sana kemari, waktu terus berjalan. Penting bahwa semua peristiwa penampakan Kristus yang bangkit itu terjadi pada hari pertama tersebut.
Jadi dikatakan, “Pada hari pertama minggu itu, pintu-pintu terkunci.” Anda ingat Lukas mengatakan bahwa mereka ketakutan dan terkejut ketika Yesus datang? Tentu saja, karena pintu-pintu itu terkunci. Dia menembus dinding. “Datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata, ‘Damai sejahtera bagi kamu!’” Dan Dia mengatakan, “Damai sejahtera bagi kamu,” karena tidak diragukan lagi mereka berada dalam keadaan panik ketika Dia menampakkan diri—panik karena mereka mengira Dia telah mati, dan panik karena pintu itu terkunci.
“Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan.” Lalu Yesus berkata lagi kepada mereka, “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Dia menegaskan kembali tugas perutusan mereka. Kemudian “Ia mengembusi mereka dan berkata, ‘Terimalah Roh Kudus.’” Ini merupakan janji pendahuluan tentang penerimaan Roh Kudus. Sungguh hari itu adalah hari yang luar biasa.
Pada Jumat malam, ketika Yesus telah mati, semua pengharapan mereka hancur, remuk, dan sirna. Hal terbaik yang bisa mereka bayangkan hanyalah beristirahat pada hari Sabat, karena mereka tidak boleh bekerja atau melakukan perjalanan apa pun. Bahkan para perempuan yang berniat meminyaki tubuh-Nya pun harus menunggu sampai hari Sabat berlalu untuk melakukannya. Itu pun hanya sebuah tindakan kebaikan—meminyaki jenazah Yesus. Itulah puncak harapan yang tersisa bagi mereka: melakukan satu tindakan kasih terakhir kepada tubuh orang yang telah mereka percayai.
Namun ketika hari Minggu berakhir, mereka semua tahu bahwa Yesus hidup kembali dari kematian. Petrus mengetahuinya, Yohanes mengetahuinya, Maria Magdalena mengetahuinya, Maria yang lain dan para perempuan lainnya mengetahuinya, murid-murid yang lain pun mengetahuinya. Dan pada Minggu malam, semua murid mengetahuinya dengan satu pengecualian—siapakah yang tidak hadir? Tomas. Tomas tidak hadir.
Kita lanjutkan di Yohanes 20:21. “Lalu kata Yesus sekali lagi, ‘Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.’ Sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata, ‘Terimalah Roh Kudus.’” Ayat 24: “Tetapi Tomas, salah seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ.” Si peragu ini barangkali sedang menyendiri sambil berkata dalam hati, “Aku benar. Aku memang punya alasan untuk ragu.”
“Jadi, kata murid-murid yang lain itu kepadanya, ‘Kami telah melihat Tuhan!’ Tetapi Tomas berkata kepada mereka, ‘Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku menaruh jariku ke dalam bekas paku itu dan menaruh tanganku ke lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.’” Ini luar biasa. Ayat 26 berkata, “Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu.” Hari apa itu? Hari Minggu. Tidak ada apa pun yang dicatat terjadi dalam tujuh hari di antaranya. Baru pada hari kedelapan itulah murid-murid kembali berkumpul bersama.
Apakah mereka berkumpul juga pada hari-hari yang lain? Tentu saja mereka berkumpul. Mereka sedang bersembunyi. “Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang,” sekali lagi, “Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata, ‘Damai sejahtera bagi kamu!’ Kemudian Ia berkata kepada Tomas, ‘Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan taruhlah ke lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.’ Tomas menjawab Dia, ‘Ya Tuhanku dan Allahku!’ Kata Yesus kepadanya, ‘Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.’”
Masih banyak tanda lain selain yang dituliskan di sini, kata Yohanes, yang sebenarnya bisa dicatat tentang karya Kristus. Tetapi poin yang ingin saya tekankan adalah ini: tiba-tiba hari Minggu menjadi hari yang sangat, sangat istimewa. Yesus menampakkan diri dua kali secara ajaib kepada para murid setelah kebangkitan-Nya, dan keduanya terjadi pada hari Minggu, keduanya pada hari Minggu. Pada hari Minggu itulah mereka tahu bahwa Dia hidup kembali dari kematian. Pada hari Minggu itulah mereka mengerti bahwa Perjanjian Lama sedang digenapi. Pada hari Minggu itulah mereka tahu bahwa Bapa telah meneguhkan karya penebusan-Nya di kayu salib. Pada hari Minggu itulah Dia berjanji kepada mereka bahwa mereka akan menerima Roh Kudus untuk diperlengkapi bagi pelayanan di masa depan. Pada hari Minggu itulah seluruh pelayanan-Nya di masa lalu dan kematian-Nya mulai dipahami dengan jelas. Betapa luar biasanya hari Minggu itu.
Yesus bangkit dari kematian pada hari Minggu itu. Dia menampakkan diri pada hari Minggu itu di pagi hari. Dia menampakkan diri pada hari Minggu itu di siang hari. Dia menampakkan diri pada hari Minggu itu di malam hari. Dia menunjukkan diri-Nya hidup kepada para perempuan pada hari Minggu itu. Ibadah pertama berlangsung pada hari Minggu itu. Yesus menyampaikan khotbah pertama pada hari Minggu itu. Dia bertemu dengan dua murid pada hari Minggu itu. Dia memecahkan roti bersama mereka, menyatakan diri-Nya kepada mereka, lalu menghilang secara ajaib.
Pada malam hari Minggu itu juga Dia bertemu dengan kesebelas murid—tanpa Tomas—dan dua kali mengucapkan damai sejahtera kepada mereka serta makan bersama mereka. Dia pasti mengajar beberapa kali pada hari Minggu itu, bukan hanya di jalan ke Emaus, tetapi juga—tanpa diragukan—di ruang atas, ketika Dia menjelaskan kepada mereka bahwa Dia benar-benar datang untuk menggenapi janji-janji Perjanjian Lama.
Pada hari Minggu itu Dia memberitahukan kepada para murid bahwa pengampunan dosa kini tersedia melalui apa yang telah Dia kerjakan, dan bahwa pengampunan itu tersedia bagi semua orang yang mau bertobat dan percaya. Pada hari Minggu itu Dia menyatakan Amanat Agung, bahwa mereka harus pergi dan memberitakan Injil. Pada hari itulah Dia, boleh dikatakan, meluncurkan misi penginjilan yang tidak terbatas dan berskala dunia, dengan mengutus murid-murid dan rasul-rasul-Nya untuk membawa Injil dan memberitakannya sampai ke ujung bumi.
Dan pada hari Minggu itu juga, seperti yang saya katakan, Dia berjanji kepada mereka bahwa mereka akan menerima kuasa Roh Kudus. Perjanjian baru yang agung itu telah disahkan. Pengampunan dosa bagi semua orang berdosa dari segala zaman yang datang kepada Allah telah digenapi. Betapa luar biasanya hari itu. Betapa luar biasanya hari itu. Dan itu adalah hari Minggu. Sebelumnya, hari Minggu sama sekali tidak memiliki makna apa pun—tidak ada sama sekali. Namun sejak hari itu, hari Minggu memperoleh makna yang sepenuhnya baru. Hari Minggu tidak akan pernah sama lagi.
Hari Minggu menjadi hari kebangkitan perjanjian baru di dalam pikiran mereka, karena Allah sendiri yang memilih hari itu. Jika hari ketujuh dirancang oleh Allah untuk bersukacita di dalam Dia sebagai Pencipta, dan kemudian—karena kejatuhan manusia—hari ketujuh itu juga dipakai untuk menanamkan rasa gentar di hati manusia karena pelanggaran terhadap hukum-Nya yang kudus, maka kini ada hari yang lain. Ini bukan hari untuk merayakan penciptaan, bukan pula hari untuk merayakan dosa atau keberdosaan dosa, melainkan hari untuk merayakan keselamatan. Kebangkitan adalah fajar dari hari yang baru, dan karena itu perjanjian baru memiliki hari yang baru. Hari Sabat telah berlalu, dan hari yang baru telah datang—yaitu hari untuk merayakan karya Kristus.
Nah, ceritanya tidak berhenti di situ. Mengapa delapan hari kemudian? Tuhan sedang menyatakan sesuatu tentang hari Minggu, sesuatu tentang penetapan hari peringatan yang baru dalam perjanjian baru. Mari kita beralih ke Kisah Para Rasul pasal 2 untuk sedikit lagi menegaskan hal itu, Kisah Para Rasul 2. “Ketika tiba hari Pentakosta, mereka semua berkumpul di satu tempat. 2Tiba-tiba terdengarlah bunyi dari langit seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti lidah api” —bukan api sungguhan, tetapi tampak seperti api— “yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. 4Lalu mereka semua dipenuhi dengan Roh Kudus dan mulai berbicara dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk dikatakan.” Inilah peristiwa turunnya Roh Kudus.
Seperti yang telah Yesus janjikan ketika dikatakan bahwa “Ia mengembusi mereka” dalam Yohanes 20, ini pun adalah sebuah janji. Ini adalah sebuah kepastian yang digenapi pada hari Pentakosta. Inilah penggenapan nubuat yang sangat monumental.
Ngomong-ngomong, mari kita kembali ke Kisah Para Rasul 1:8, “Kamu akan menerima kuasa bilamana Roh Kudus turun ke atas kamu.” Dia akan datang, dan tidak lama setelah Yesus mengucapkan janji itu, Roh Kudus benar-benar datang. Roh Kudus datang, seperti yang kita semua ketahui, untuk memberi kuasa kepada orang-orang percaya agar mereka dapat menggenapi amanat untuk memberitakan Injil yang mulia, sekaligus untuk meneguhkan iman mereka, memeteraikan iman mereka, memberi kepastian dan keyakinan kepada mereka, serta memberikan kesaksian batin kepada mereka tentang kebenaran Injil.
Yesus telah mengulangi janji ini berkali-kali. Yohanes 14:16 berkata, “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu. Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu.” Secara harfiah, artinya, “Aku akan datang kepadamu melalui Roh Kudus, yang adalah Roh Kristus.”
Yesus membuat janji ini dalam Yohanes 14, Yohanes 15, dan Yohanes 16—berulang kali. Roh Kudus akan datang. Dia akan tinggal di dalam kamu. Dia akan membaptiskan kamu secara harfiah ke dalam tubuh-Ku, menjadikanmu satu sebagai gereja. Dia akan memberikan kepadamu karunia-karunia rohani dan berbagai kemampuan. Dia akan memberikan kuasa untuk penginjilan. Dan Roh itu benar-benar datang, tepat seperti yang dijanjikan.
Dan menarik sekali bukan, bahwa hal itu terjadi pada hari Pentakosta? Inilah saat gereja dilahirkan. Inilah saat para murid diperlengkapi dengan kuasa. Inilah pekerjaan pembaptisan pertama dari Kristus, ketika Dia membaptiskan orang-orang percaya melalui Roh ke dalam tubuh-Nya. Inilah hari ketika kerajaan Allah mulai dinyatakan dengan hidup dan kuasa. Inilah hari yang mulia, hari yang luar biasa.
Dan Anda ingat bahwa dalam Kisah Para Rasul 2:14 Petrus berdiri dan menyampaikan khotbah yang luar biasa tentang makna kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Ia berkata pada ayat 23, “Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh melalui tangan bangsa-bangsa durhaka. Tetapi Allah membangkitkan Dia setelah melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu.”
Kemudian Petrus melanjutkan dengan berkhotbah dari Mazmur 16, menjelaskan janji kebangkitan Mesias. Dan dampaknya sungguh luar biasa. “Ketika mereka mendengar hal itu,” kata ayat 37, “hati mereka tersayat.” Lalu Petrus berkata, “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia, yaitu Roh Kudus.” Dan pada hari itu tiga ribu orang bertobat dan percaya.
Mengapa saya membawa hal ini ke dalam pembahasan kita? Pernahkah Anda bertanya hari apa dalam minggu itu ketika Pentakosta terjadi? Tahukah Anda hari apa itu? Kebetulan sekali hari itu adalah hari Minggu. Ya, tepat di hari Minggu. Menurut Imamat 23:16, Hari Raya Tujuh Minggu, yaitu Pentakosta, ditetapkan untuk mempersembahkan hasil pertama dari panen gandum, yang biasanya terjadi sekitar bulan Mei atau Juni. Hari itu disebut Pentakosta—“penta” berarti “lima”—karena dirayakan lima puluh hari setelah Sabat yang mendahului Hari Raya Buah Sulung. Jadi hitungannya adalah satu hari Sabat ditambah lima puluh hari. Perhitungan sederhana: satu hari Sabat ditambah tujuh kali tujuh hari, yaitu empat puluh sembilan hari, akan jatuh pada hari Sabat lagi, bukan? Maka hari kelima puluh adalah hari pertama dari minggu berikutnya. Itu adalah hari Minggu lagi.
Pentakosta terjadi pada hari Minggu. Betapa uniknya hal ini. Tapi, semua rujukan ini tetap tidak memerintahkan kita untuk merayakan hari pertama minggu itu seolah-olah hari itu memiliki kewajiban khusus seperti dalam hukum Musa. Kita tidak memiliki satu pun perintah dalam Perjanjian Baru mengenai pemeliharaan hari pertama minggu itu. Yang kita miliki adalah fakta yang sangat jelas bahwa Allah memenuhi hari itu dengan peristiwa-peristiwa paling penting dalam pendirian gereja, yaitu kebangkitan Yesus Kristus dan kedatangan Roh Allah.
“Kebangkitan Kristus, kelahiran dan pemberdayaan gereja, selesainya karya keselamatan, serta kedatangan Roh Kudus—semua kenyataan mulia ini berada di pusat penebusan kita dan menggantikan bayang-bayang serta bentuk-bentuk hari Sabat. Semua itu terjadi pada hari Minggu, dan dengan demikian Tuhan sendiri telah memilih hari-Nya.
Dan seperti yang saya katakan pagi ini, ketika Dia menetapkan dua belas rasul, Dia meninggalkan para pemimpin Israel di belakang. Demikian pula, ketika Tuhan kita menetapkan hari pertama, Dia meninggalkan hari ketujuh di belakang. Hukum Musa mengenai hari ketujuh itu telah berlalu.
Hal yang paling keliru bagi orang-orang yang menyebut diri mereka Kristen adalah mengambil pembatasan-pembatasan yang dimaksudkan untuk Sabat Musa lalu mencoba menerapkannya pada hari Minggu. Itu justru bertentangan dengan maksud Tuhan kita. Jangan biarkan siapa pun mengikat Anda pada hari Sabat. Anda tidak lagi berada di bawah hukum Musa. Anda tidak lagi berada di bawah ikatan, upacara, ketentuan, dan pembatasan hukum Musa.
Kita memiliki hari yang baru. Kita telah meninggalkan Yudaisme. Kita telah meninggalkan hari Sabat. Kita telah meninggalkan para pemimpin Israel. Kita memiliki perjanjian yang baru. Kita memiliki para pelayan dari perjanjian yang baru itu, dan kita memiliki hari yang baru. Hari itu sama sekali bukan seperti hari Sabat Musa—tidak sama sekali.
Oh, menurut saya, Anda tetap bisa memandang hari ketujuh, hari Sabtu, dalam satu pengertian sebagai hari yang mengingatkan kita bahwa Tuhan menciptakan segala sesuatu dalam enam hari. Itu adalah hal yang baik dan indah untuk diingat. Anda juga dapat diingatkan bahwa hukum Allah pernah diberlakukan dengan sangat tegas terkait hari Sabat, dan hal itu mengingatkan kita bahwa kita adalah orang berdosa. Tetapi dalam Perjanjian Baru, tidak ada yang memindahkan aturan dan pembatasan hari Sabat Musa ke hari pertama minggu.
Harap diingat dengan sungguh-sungguh: sejak Kejadian pasal 2, ketika Allah berhenti, sampai pada pemberian hukum Musa—ratusan tahun, bahkan berabad-abad kemudian—selama seluruh rentang waktu itu, tidak ada satu pun pembatasan atas perilaku siapa pun pada hari Sabtu. Hari itu hanyalah hari untuk mengingat Allah sebagai Pencipta, meskipun manusia sudah berdosa. Tidak ada larangan dan tidak ada ketentuan apa pun. Semua pembatasan itu baru muncul pada zaman Musa. Dan semuanya itu dimulai dengan Musa dan berakhir dengan ditiadakannya perjanjian lama serta ditegakkannya dan disahkannya perjanjian yang baru.
Jadi, hari Minggu dalam perjanjian baru itu, dalam satu pengertian, mirip dengan hari Sabat lama dari kitab Kejadian. Anda ingat bahwa Allah memberkati hari Sabat dan menjadikannya hari yang diberkati untuk mengingat Sang Pencipta. Nah, Dia juga memberkati hari pertama dan menjadikannya hari untuk mengingat Sang Penebus. Ketika Allah mula-mula menetapkan hari perhentian, itu benar-benar hari perhentian. Di bawah hukum Musa, hari itu justru menjadi hari yang sama sekali tidak memberi perhentian. Tetapi bagi kita sekarang, Hari Tuhan dimaksudkan sebagai hari sukacita—hari berkat, bukan hari yang dibebani dengan peraturan-peraturan lahiriah. Dalam Kristus, perhentian yang pertama kali dialami di Eden itu dipulihkan kembali.
Lalu apa tujuan dari hari pertama itu? Agar jiwa kita disegarkan. Jiwa kita disegarkan dengan sukacita dan damai sejahtera, dengan kenikmatan rohani. Jiwa kita disegarkan oleh kebenaran ilahi. Jiwa disegarkan dalam penyembahan, melalui pengajaran dan pemberitaan Firman Allah. Semua ini adalah anugerah yang manis dari Allah.
Kita patut bersyukur karena masih hidup di negara yang masih menyisakan komitmen terhadap hari Minggu—meskipun komitmen itu makin memudar, bukan? Tapi sejak semula, hari Minggu dimaksudkan sebagai hari perhentian. Bukan hari yang dibebani dengan pembatasan dan aturan yang dipinjam dari hukum Musa. Itulah yang selalu menjadi persoalan dalam teologi perjanjian tertentu: mereka tidak jelas di mana sesuatu berakhir dan di mana hal yang baru dimulai. Dalam Galatia 4:9 dikatakan, “Sekarang sesudah kamu mengenal Allah, atau lebih baik, sesudah kamu dikenal Allah, bagaimana kamu berbalik lagi kepada roh-roh dunia yang lemah dan miskin dan mau mulai memperhamba diri lagi kepadanya?” Kamu tidak mau kembali ke sana. “Kamu dengan teliti memelihara hari-hari tertentu, bulan-bulan, masa-masa yang tetap dan tahun-tahun.” Jangan lakukan itu. “Aku khawatir,” kata Paulus, “kalau-kalau susah payahku untuk kamu telah sia-sia.” Seolah Paulus berkata, apakah aku menyia-nyiakan waktuku dengan membebaskan kamu di dalam Kristus, lalu kamu mau kembali lagi pada pemeliharaan hari-hari, Sabat, bulan-bulan, masa-masa, dan tahun-tahun? Kita tidak berada di bawah hukum Sabat apa pun.
Hari Minggu kebangkitan adalah hari Minggu yang sangat istimewa. Minggu berikutnya juga merupakan hari Minggu yang sangat istimewa. Hari Pentakosta pun adalah hari Minggu yang sangat istimewa. Dan tentu saja, setelah Pentakosta, hari Minggu telah tertanam kuat di hati umat Allah. Apakah mereka hanya beribadah pada hari Minggu saja? Tidak, tentu tidak. Mereka beribadah seberapa sering? Setiap hari. Kisah Para Rasul 2:46 berkata, “Dengan bertekun dan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergiliran dan makan bersama-sama dengan gembira dan tulus hati, sambil memuji Allah dan mereka disukai semua orang.”
Mereka mengalami hal itu setiap hari, dan itulah gambaran tentang bagaimana seharusnya hari Minggu. Hari Minggu seharusnya menjadi hari untuk berkumpul bersama. Hari untuk bertekun dalam pengajaran para rasul, persekutuan, pemecahan roti, dan doa. Hari untuk makan bersama dengan sukacita dan ketulusan hati, dan memuji Allah. Hari yang penuh kebahagiaan dan sukacita. Bukan hari pembatasan. Bukan hari ketika kita berada di bawah ancaman hukum yang menakutkan, melainkan hari ketika kita merayakan penebusan kita.
Jadi mereka memang berkumpul setiap hari, tetapi tidak butuh waktu lama sampai akhirnya ada satu hari yang menjadi hari khusus. Mari kita buka Kisah Para Rasul pasal 20. Pasal ini memberi kita sedikit lagi gambaran sejarah. Lukas menulis—bersama Paulus—bahwa, “Sesudah hari raya Roti Tidak Beragi kami berlayar dari Filipi dan dalam waktu lima hari sampailah kami di Troas dan bertemu dengan mereka. Di situ kami tinggal tujuh hari lamanya.” Sekarang perhatikan ayat 7, “Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti—”
Menarik sekali, bukan? Tidak ada hukum yang ditetapkan untuk hal ini. Padahal, saat itu pelayanan rasul Paulus sudah berlangsung cukup lama. Bertahun-tahun telah berlalu sejak kebangkitan Yesus Kristus, tapi hal ini tidak diperlakukan sebagai sesuatu yang istimewa. Hal ini dicatat begitu saja, secara wajar: “Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti.” Itulah yang telah mereka lakukan. Dan mereka tetap melakukannya.
Dan, omong-omong, mereka beribadah pada malam hari. Kemungkinan besar mereka telah berkumpul sepanjang hari. Lalu, bagaimana kita tahu kalau itu kebaktian malam? Karena Paulus berkhotbah “sampai tengah malam.” Ia berkhotbah “sampai tengah malam.” Dan dikatakan bahwa “Di ruang atas, di mana kami berkumpul, dinyalakan banyak lampu.” Ada seorang pemuda bernama Eutikhus—yang berarti “keberuntungan baik”—duduk di jendela. Eutikhus duduk di ambang jendela, yang jelas bukan tempat terbaik jika seseorang mulai mengantuk. Ia “tertidur lelap; dan ketika Paulus terus berbicara”—lihat, bahkan pengkhotbah terbesar pun bisa membuat orang tertidur—pemuda itu “tertidur lelap dan jatuh dari tingkat ketiga ke bawah. Ketika ia diangkat orang, ia sudah meninggal.”
Nah, itu jelas kebaktian malam yang berlangsung lama sekali—terus, dan terus, dan terus. Anak muda malang ini akhirnya tidak sanggup lagi menahannya. “Paulus turun ke bawah. Ia merebahkan diri ke atas pemuda itu, mendekapnya, dan berkata, ‘Jangan khawatir, ia masih hidup.’” Ia dibangkitkan dari kematian. Dan tahu apa yang terjadi setelah itu? “Setelah kembali di ruang atas, Paulus memecah-mecahkan roti lalu makan; sehabis makan ia masih berbicara lama lagi sampai fajar menyingsing.” Saya suka bagian ini. Orang ini benar-benar tidak mengenal kata selesai dalam menyampaikan apa yang ingin ia katakan. Kalau ada orang jatuh dari jendela dan mati, kamu bangkitkan dia dan bawa kembali. Aku belum selesai, dan kamu juga belum selesai mendengarkan. “Sementara itu mereka mengantarkan pemuda itu dalam keadaan hidup ke rumahnya, dan mereka semua merasa sangat terhibur.”
Jadi apa yang mereka lakukan? Mereka berkumpul pada hari Minggu, dan pertemuan itu berlangsung lama, dan terus berlangsung, karena mereka memuji Allah dan mereka menikmati apa yang mereka dengar. Itulah pengajaran para rasul. Ini bukan ibadah singkat satu jam yang sekadar diselipkan sebelum pergi ke pantai. Ini adalah orang-orang yang lapar akan perkara-perkara Allah. Jemaat di Troas ini menjadi contoh nyata pola ibadah hari Minggu dalam gereja mula-mula, dan pola itu terus berlanjut sejak saat itu.
Sekarang mari kita buka 1 Korintus pasal 16. Paulus menulis kepada jemaat di Korintus, dan ia sedang membahas tentang persembahan, yaitu pengumpulan uang. “Tentang pengumpulan uang bagi orang-orang kudus.” Paulus sedang berusaha mengumpulkan bantuan bagi orang-orang kudus yang miskin di Yerusalem. Beberapa jemaat non-Yahudi memiliki sumber daya yang bisa dikirimkan untuk menolong saudara-saudara seiman yang miskin di Yerusalem.
Yang terjadi adalah, ketika Pentakosta berlangsung, ada banyak peziarah di Yerusalem, dan banyak dari mereka menjadi percaya. Tapi setelah itu, mereka tidak ingin kembali ke kota asal mereka. Lalu ke mana? Di sana hanya ada sinagoge Yahudi dan kuil-kuil kafir, tetapi belum ada gereja. Gereja hanya ada di Yerusalem. Jadi mereka tinggal di sana.
Lalu bagaimana mereka hidup? Ada orang-orang percaya di Yerusalem yang, ketika mereka menerima Kristus, diusir dari rumah mereka. Ada orang lain yang harus menampung mereka. Karena itu, menyediakan bantuan untuk merawat orang-orang ini menjadi tantangan besar. Anda ingat, ada orang-orang yang menjual tanah milik mereka lalu membawa uangnya dan menyerahkannya kepada para rasul untuk dibagikan demi memenuhi kebutuhan orang-orang ini, seperti yang kita pelajari dalam pasal-pasal awal Kitab Kisah Para Rasul.
Jadi, Paulus merencanakan pengumpulan dana bagi orang-orang kudus di Yerusalem. Seperti yang telah ia perintahkan kepada jemaat-jemaat di Galatia, ia juga ingin jemaat Korintus melakukan hal yang sama. Inilah yang ia katakan kepada mereka:
“Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu hendaklah kamu masing-masing — sesuai dengan apa yang kamu peroleh — menyisihkan sesuatu dan menyimpannya, supaya jangan pengumpulan itu baru diadakan pada saat aku datang.” Dengan kata lain, Paulus ingin hal itu menjadi kebiasaan dalam ibadah hari Minggu mereka. Persembahan dikumpulkan pada hari pertama dalam minggu itu.
Ini bukan hari ketika kita lebih kudus daripada hari-hari lainnya. Ini juga bukan hari yang dipenuhi dengan berbagai aturan tentang bagaimana kita harus bersikap. Ini adalah hari untuk merayakan keselamatan kita. Ini adalah hari untuk memuliakan Allah, hari ketika kita memusatkan perhatian pada apa yang telah Kristus lakukan bagi kita. Itulah sebabnya kita berkumpul untuk berdoa. Itulah sebabnya kita berkumpul untuk menyanyikan puji-pujian. Itulah sebabnya kita berkumpul untuk membaca Alkitab. Itulah sebabnya Anda berlama-lama di teras gereja, berbincang tentang perkara-perkara Kristus, bersekutu satu sama lain, dan saling berbagi tentang apa yang sedang Anda pelajari. Ini adalah hari ketika Anda memandang realitas yang paling penting dalam hidup Anda, yaitu keselamatan Anda.
Dan akhirnya, hari pertama ini menjadi begitu berharga bagi gereja sehingga hari itu memiliki nama tersendiri. Mari kita buka Wahyu pasal 1. Hari itu memiliki nama khusus. Wahyu 1:9, Yohanes sedang berada di pulau Patmos karena Firman Allah dan kesaksian tentang Yesus, karena ia dibuang ke sana oleh musuh-musuh Injil.
Dan Yohanes berkata pada ayat 10, “Pada hari Tuhan aku dikuasai oleh Roh.” “Pada hari Tuhan.” Ada orang-orang yang mengira bahwa ini berarti “Hari Tuhan” dalam pengertian eskatologis, yaitu hari penghakiman terakhir. Hampir tidak mungkin. Yohanes tidak sedang mengalami Hari Tuhan yang terakhir dan penuh penghakiman itu di pulau Patmos. Lagipula, “Hari Tuhan” dalam pengertian eskatologis memiliki frasa Yunani yang berbeda, yaitu tē hēmera tou kyriou, sedangkan “Hari Tuhan” di sini adalah tē kyriakē hēmera—frasa yang sama sekali berbeda dan hanya digunakan di sini. Ini bukan pernyataan eskatologis. Ini hanyalah sebutan untuk hari milik Tuhan, dan Yohanes bahkan tidak merasa perlu untuk memberi penjelasan tambahan.
Kapan Yohanes menulis hal ini? Ia menulis sekitar 30 sampai 40 tahun setelah Paulus. Ia menulis sekitar tahun 96 Masehi, di akhir abad pertama. Dan pada saat itu, hari ini tidak lagi sekadar disebut hari Minggu atau dengan sebutan-sebutan lain. Bagi orang percaya saat itu, hari itu dikenal sebagai Hari Tuhan, dan tidak perlu dijelaskan lagi.
Ada begitu banyak kesaksian dari abad kedua—yang hanya berselang beberapa tahun setelah Yohanes menulis pada tahun 96 —yang menunjukkan bahwa pada abad kedua, inilah cara yang lazim untuk menyebut hari pertama dalam minggu itu. Hari pertama dalam minggu disebut sebagai Hari Tuhan, yaitu hari untuk menghormati Tuhan. Sebutan ini untuk hari Minggu banyak ditemukan dalam berbagai tulisan Kristiani mula-mula, dan sebutan itu terus dipakai sepanjang sejarah gereja, bahkan sampai hari ini.
Saya tidak menyebut hari Minggu sebagai “Minggu.” Saya menyebutnya Hari Tuhan. Anda sering mendengar saya mengatakan itu—Hari Tuhan, Hari Tuhan. Pada Hari Tuhan itulah Yohanes menerima penglihatannya, penglihatan pertamanya tentang Yesus sebagai Tuhan atas gereja, bukan? Apa yang ia katakan di sana? “Pada hari Tuhan aku dikuasai oleh Roh dan aku mendengar dari belakangku suatu suara yang nyaring, seperti bunyi sangkakala.” Ia berbalik dan melihat Kristus sedang melayani di tengah kaki dian—Kristus melayani di dalam gereja-Nya. Inilah Tuhan atas gereja yang sedang melayani gereja-Nya, dan Yohanes menerima penglihatan tentang Tuhan yang bergerak di tengah gereja-Nya pada hari Minggu. Tuhanlah yang memulai penglihatan itu, dan Dia memulainya pada hari Minggu, pada Hari Tuhan.
Yohanes menerima banyak penglihatan dalam kitab Wahyu. Tidak satu pun dari penglihatan-penglihatan itu yang dikaitkan dengan suatu hari tertentu—tidak satu pun—kecuali yang satu ini. Inilah Hari Tuhan, karena ini adalah hari kebangkitan, ini adalah hari Roh Kudus. Ini bukan pagi Tuhan. Ini bukan siang Tuhan. Ini bukan sore Tuhan. Ini bukan jam Tuhan. Ini adalah Hari Tuhan.
Apa artinya semua ini bagi Anda? Ada alasannya mengapa kami tidak mengadakan kebaktian Sabtu malam. Apakah itu salah? Tidak, ini bukan soal hukum, dan tidak selalu salah. Tetapi saya tidak ingin menjadi orang yang merusak tradisi ini. Saya tidak ingin menjadi orang yang merusak penghormatan yang begitu indah dan mulia kepada Kristus yang bangkit. Kristus tentu harus ditinggikan 24 jam sehari, tujuh hari seminggu, bukan? Dia harus ditinggikan pada Sabtu pagi, Sabtu malam, dan setiap hari lainnya. Tapi bagi saya, tampaknya Allah sendiri telah meletakkan tangan-Nya yang Mahakuasa atas hari pertama dalam minggu dan berkata, “Ini adalah hari-Ku. Ini adalah hari-Ku.”
Dan kebaktian Minggu malam semakin menghilang di mana-mana—kalau pun masih ada. Sangat sulit menemukannya sekarang. Tetapi seperti yang saya katakan, ini bukan Hari Tuhan pagi. Ini adalah Hari Tuhan. Dan kita ingin memastikan bahwa kita tidak melakukan, seperti yang dikatakan dalam Ibrani 10:25, “menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, tetapi saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” Semakin kita mendekati kedatangan Yesus Kristus, seharusnya persekutuan kita semakin meningkat, dan bukan semakin berkurang, bukan? Kita justru sedang bergerak ke arah yang salah. Kebaktian semakin singkat, semakin dangkal, dan semakin jarang, pada saat seharusnya kebaktian itu menjadi lebih dalam, lebih panjang, dan lebih sering.
Tapi sekali lagi, kita kembali pada apa yang saya katakan sebelumnya. Khotbah yang dangkal mengkhianati kedalaman realitas Kitab Suci. Gereja dipenuhi oleh orang-orang yang dangkal dan pemahaman yang dangkal tentang betapa tingginya prioritas ibadah. Karena itu, selama saya masih diberi hidup dan napas, akan selalu ada rangkaian kebaktian Minggu pagi, dan akan selalu ada kebaktian Minggu malam.
Dan kami sudah menyesuaikan kebaktian Minggu malam kita, demi kenyamanan Anda, dengan tidak memakai lantai dua, jadi Anda tidak perlu khawatir jatuh keluar dan mati. Hal terburuk yang mungkin terjadi hanyalah kepala Anda membentur bangku gereja saat jatuh, dan itu masih bisa kami tangani.
Lalu apa yang Tuhan harapkan dari kita pada hari-Nya? Yang bisa saya katakan adalah bahwa apa yang Dia harapkan sebenarnya jelas, bukan? Bahwa kita merayakan Dia sebagai Juruselamat, bersukacita dalam salib-Nya, bersukacita dalam kebangkitan-Nya, berdoa bersama, bersekutu bersama, memecahkan roti bersama di sekitar meja-Nya, dan mendengarkan ajaran para rasul, mendengar pemberitaan Firman, serta menerima kebenaran-Nya yang mulia. Saya tidak sedang berbicara tentang legalisme. Kita tidak sedang berbicara tentang hukum hari Sabat perjanjian lama yang dipaksakan kepada kita. Tetapi kasih karunia tentu tidak menuntut lebih sedikit daripada hukum Taurat, bukan?
Mungkin pertanyaannya adalah: seberapa besar Anda mengasihi Kristus? Seberapa kuat kerinduan Anda untuk beribadah? Kami tidak akan membebani Anda dengan aturan-aturan lahiriah apa pun. Segala sesuatu dalam perjanjian baru lebih baik daripada perjanjian lama—semuanya, termasuk harinya, termasuk harinya. Karena hari ini bukanlah beban. Hari ini penuh sukacita. Dan saya tahu Anda merasakannya, karena ketika Clayton berdiri di sini pada Minggu pagi bersama para pemusik, Anda bernyanyi dengan segenap kekuatan dari sukacita hati Anda. Saya tidak pernah ingin melihat orang datang ke kebaktian hanya sebagai persinggahan di tengah jalan sebelum menuju ke hal lain yang ingin mereka lakukan. Itu bukan berarti Anda tidak boleh bekerja sedikit di sore hari. Itu juga bukan berarti Anda tidak boleh menikmati rekreasi, persekutuan, atau melakukan hal-hal lain. Artinya adalah: ada satu hari yang Allah sendiri tetapkan agar Anda secara khusus memusatkan perhatian pada kemuliaan keselamatan Anda. Manfaatkan setiap kesempatan ini untuk memenuhi hari itu dengan ibadah, pujian, persekutuan, dan kebenaran ilahi.
Kita tidak lagi hidup di bawah ketentuan Perjanjian Lama atau sistem penghukuman. Kita tidak membutuhkan bayang-bayang, karena kita memiliki kenyataannya—yaitu perhentian sejati di dalam Kristus. Hari ini adalah hari untuk beristirahat, bukan dengan merayakan penciptaan lama, melainkan beristirahat dalam arti merayakan ciptaan yang baru, yaitu keselamatan.
Karena itu, daripada bertanya, “Apa yang tidak boleh saya lakukan pada hari Minggu?” lebih baik kita bertanya, “Apa yang seharusnya saya lakukan?” Apa yang dituntut oleh kasihku kepada Kristus? Apa yang diminta oleh hatiku bagi Dia? Aku tidak dilarang bekerja. Aku tidak dilarang bermain. Tetapi yang terpenting adalah berkata: inilah hari di antara semua hari ketika saya akan menemukan kesenangan saya yang terbesar. Dan apakah kesenangan saya yang terbesar? Kesenangan saya yang terbesar adalah beribadah dan bersekutu bersama umat Allah. Dan itu tidak mungkin terjadi jika Anda hanya membawa tubuh Anda ke sini tanpa hati Anda. Periksalah hati Anda. Apakah ini sungguh-sungguh Hari Tuhan bagi Anda? Saya berharap demikian.
Bapa, kami kembali mengucap syukur kepada-Mu untuk Firman-Mu—untuk kesegarannya, keindahannya, kesederhanaannya, dan kekayaannya. Konsistensinya sungguh membuat kami takjub. Dan meskipun kami mempelajarinya minggu demi minggu, tahun demi tahun, Firman-Mu selalu datang kepada kami dengan kesegaran yang membawa sukacita ke dalam hati kami. Inilah hari-Mu. Kami rindu mengisinya dengan segala sesuatu yang memusatkan perhatian kami kepada-Mu—bersukacita di dalam Engkau, mengasihi Engkau, mengasihi umat-Mu, mengasihi kebenaran-Mu—memisahkan hati kami dari hal-hal duniawi dan mengarahkan kasih kami kepada perkara-perkara yang di atas. Dan semua itu, tentu saja, tidak ditentukan oleh apa yang tidak kami lakukan, melainkan oleh apa yang kami lakukan; bukan ditentukan oleh apa yang tidak diizinkan bagi kami, melainkan oleh apa yang dirindukan oleh hati kami.
Saya melihat jemaat yang hadir malam ini, dan mereka ada di sini karena memang inilah tempat yang mereka inginkan. Dari sekian banyak tempat lain yang bisa mereka pilih, mereka memilih berada di sini karena mereka mengasihi Engkau dan ingin menghormati Engkau. Inilah hari-Mu. Kiranya seluruh hidup kami dipenuhi dengan pemahaman yang khusus dan mendalam tentang betapa indahnya pengingat mingguan ini akan keselamatan kekal kami yang terbangun di dalam Hari Tuhan. Berikanlah kepada kami kasih akan hari ini, karena di dalamnya terkandung kasih kepada-Mu. Kami mengucap syukur dalam nama Kristus, Amin.
SELESAI
This article is also available and sold as a booklet.
