Minggu lalu, saya memulai sebuah seri tentang pelayanan Roh Kudus, dengan meninjau Pribadi Roh Kudus dan karya Roh Kudus, supaya kita dapat menyembah Dia dengan cara yang layak bagi-Nya. Dan pada saat saya memulai seri itu minggu lalu, saya menyampaikan kepada Anda bahwa Roh Kudus adalah—setidaknya menurut pemahaman saya—Pribadi Tritunggal yang paling banyak disalahgunakan. Ada begitu banyak orang menyalahkan Roh Kudus atas perilaku mereka, perkataan mereka, dan pengalaman-pengalaman mereka, padahal Roh Kudus sama sekali tidak terlibat di dalamnya.
Sungguh aneh menyadari hal ini, setelah kita membaca apa yang tertulis dalam Yohanes pasal 14, 15, dan 16 tentang Roh Kebenaran, tetapi kemudian melihat begitu banyak ketidakbenaran yang justru dikaitkan dengan Roh Kudus. Begitu banyak dusta, begitu banyak penipu, begitu banyak penyesatan yang pada dasarnya dilekatkan kepada Roh Kudus, demi memperoleh mendapatkan pengaruh dari orang lain, oleh mereka yang memiliki keinginan dan tujuan yang tidak sah. Roh Kudus dipersalahkan atas begitu banyak hal yang mengerikan.
Kita diperingatkan tentang hal itu di dalam Alkitab. Kita diperingatkan tentang bahaya menghujat Roh Kudus. Namun, meskipun ada peringatan itu, hal itu tetap terus terjadi. Kita juga diperingatkan—dan saya akan membahasnya lebih lanjut minggu depan—tentang menghina Roh Kudus; kita diperingatkan tentang melawan Roh Kudus; kita diperingatkan tentang mendukakan Roh Kudus; dan kita diperingatkan tentang memadamkan Roh Kudus. Semua kata kerja itu berkaitan langsung dengan cara kita memperlakukan dan merujuk kepada Roh Kudus itu sendiri. Tetapi persoalannya bukan sekadar berusaha menghindari penghujatan, penyalahgunaan, atau mengaitkan kepada Roh Kudus hal-hal yang sama sekali bukan bagian dari karya-Nya. Lebih dari itu, kita bukan hanya perlu menghindari kesalahan-kesalahan tertentu mengenai Roh Kudus, tetapi kita juga perlu—bahkan sangat perlu—menyembah Roh Kudus sepenuhnya, berdasarkan siapa Dia sebenarnya dan apa yang sungguh-sungguh telah Dia lakukan.
Baru minggu lalu, saya membaca sebuah artikel yang ditulis pada tahun 1657 oleh John Owen, Puritan besar asal Inggris yang begitu produktif, yang menulis banyak sekali karya yang memperkaya pemahaman kita tentang Firman Allah dan teologi. Salah satu risalah terpenting yang ditulis John Owen adalah sebuah analisis tentang apa artinya bersekutu dengan Allah, apa artinya benar-benar menyembah Allah. Judulnya, dengan gaya khas bahasa Puritan, adalah: Persekutuan dengan Allah Bapa, Putra, dan Roh Kudus, Masing-masing Pribadi Secara Terpisah, dalam Kasih, Rahmat, dan Penghiburan —itulah judul Puritan yang sangat khas. Ia juga memberikan judul alternatif, yaitu: Persekutuan Orang Kudus dengan Bapa, dengan Putra, dengan Roh Kudus Terungkap.
Dalam risalah yang ditulis John Owen ini, ia menekankan bahwa kita telah menerima—secara pribadi, secara khusus, dan secara nyata—manfaat-manfaat tertentu dari setiap Pribadi dalam Tritunggal. Dan karena kita menerima manfaat-manfaat itu dari masing-masing Pribadi Tritunggal, kita juga dituntut untuk menanggapi pemberian-pemberian itu kepada setiap Pribadi Tritunggal, sehingga penyembahan Tritunggal kita bukan sekadar tercampur secara umum, melainkan dibedakan dengan jelas. Ada satu bagian Alkitab yang dapat menolong kita melihat hal ini. Jika Anda melihat ayat terakhir dalam pasal terakhir Kitab 2 Korintus, Anda akan membaca demikian: “Anugerah Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian.” Kalimat ini adalah suatu berkat penutup Tritunggal yang menata dan membedakan ciri-ciri khusus dari pelayanan Bapa, Anak, dan Roh Kudus kepada kita sebagai orang percaya. Dari Allah datang kasih—kasih ilahi yang berdaulat. Dari Tuhan Yesus Kristus datang anugerah—Anak yang menyediakan anugerah ilahi yang berdaulat. Dan dari Roh Kudus datang persekutuan ilahi. Dari Bapa datang kasih ilahi; dari Sang Anak, anugerah ilahi; dan dari Roh Kudus, persekutuan ilahi.
Dan rasul Paulus membedakan masing-masing Pribadi dalam Tritunggal serta mengidentifikasi aspek-aspek khusus dari pelayanan mereka. Persekutuan kita dimulai oleh kasih Bapa, diteguhkan oleh anugerah Sang Anak, dan dialirkan serta dialami melalui persekutuan Roh Kudus. Dan sekalipun kita sepakat bahwa di seluruh Alkitab terdapat tumpang tindih dalam karya Tritunggal, tetap ada penekanan pada karya-karya tertentu yang dilakukan oleh setiap Pribadi dengan cara yang khas dan unik.
Saya pikir bagi kebanyakan dari kita yang menyembah Allah dengan cara yang benar—yang memahami bahwa Dia adalah Allah Tritunggal dan mengakui bahwa Dia adalah satu esensi dengan tiga Pribadi, yaitu Bapa, Anak, dan Roh Kudus—kita cenderung mencampur semuanya menjadi satu dan menyembah Dia sebagai Allah Tritunggal. Dan itu, tentu saja, adalah cara yang sah dan benar untuk menyembah Allah. Namun, yang John Owen mau dorong adalah agar kita mulai membedakan Pribadi-Pribadi dalam Tritunggal ini, khususnya dalam mengenali apa yang telah masing-masing Pribadi ini sediakan bagi kita dan bagaimana seharusnya kita menanggapi secara spesifik setiap pemberian itu. Berkenaan dengan Roh Kudus, John Owen menulis demikian: “Pelayanan Roh Kudus terdiri dari membawa janji-janji Kristus ke dalam ingatan kita, memuliakan Kristus di dalam hati kita, mencurahkan kasih Allah di dalam diri kita, bersaksi bersama kita bahwa kita adalah milik Allah dalam keadaan dan kondisi rohani kita, memeteraikan kita sampai hari penebusan, menjadi uang jaminan atau kepastian dari warisan akhir kita, mengurapi kita dengan penghiburan, meneguhkan status kita sebagai anak-anak angkat Allah, dan menyertai kita dalam doa-doa permohonan kita.”
Kemudian Owen menanggapi karya Roh Kudus dengan mengatakan demikian: “Inilah hikmat iman, yaitu menemukan dan berjumpa dengan Sang Penghibur di dalam semua hal ini, tidak kehilangan kemanisannya karena kita membiarkannya tetap samar tentang siapa sumbernya, dan tidak gagal memberikan tanggapan yang seharusnya dituntut dari kita.” Setiap Pribadi dalam Tritunggal, yang telah melakukan karya-karya khusus bagi kita, harus disembah dengan tanggapan yang khusus pula, sesuai dengan karya yang telah dilakukan masing-masing Pribadi itu.
Bukan hanya soal bahwa kita sebagai orang percaya tidak ingin memadamkan Roh Kudus—yang memang bisa dilakukan oleh orang percaya. Bukan hanya bahwa kita tidak ingin mendukakan Roh Kudus—yang juga bisa dilakukan oleh orang percaya. Kita juga tidak ingin melawan Roh Kudus. Masalahnya bukan sekadar apa yang tidak ingin kita lakukan. Lebih dari itu, dalam persekutuan kita sehari-hari, dalam penyembahan kita yang terus-menerus, dan dalam pujian kita yang berkelanjutan, kita perlu dengan sadar mengenali ketiga Pribadi dalam Keallahan—dalam perenungan kita, dalam doa kita, dan dalam penundukan diri kita. Kita perlu merenungkan secara khusus belas kasihan dan pelayanan khusus dari setiap Pribadi Tritunggal kepada kita, dan kita perlu memberikan respons yang spesifik—kasih, penundukan diri, sukacita, dan ucapan syukur yang khusus kepada masing-masing Pribadi Tritunggal. Inilah, kata John Owen, yang disebut sebagai persekutuan yang utuh dan menyeluruh dengan Allah.
Salah satu Puritan favorit saya yang lain adalah Thomas Goodwin. Thomas Goodwin menulis demikian: “Penyembahan kita kadang-kadang tertuju kepada Bapa, kemudian kepada Sang Anak, lalu kepada Roh Kudus. Kadang-kadang hati kita digerakkan untuk merenungkan kasih Bapa dalam memilih kita. Kadang-kadang hati kita tertarik kepada kasih Kristus dalam menebus kita. Dan kadang-kadang kasih hati kita diarahkan kepada Roh Kudus yang menyelidiki hal-hal yang terdalam dari Allah dan menyatakannya kepada kita”—dan saya sangat menyukai kalimat ini—“dan yang bersusah payah menangani kita.” Pernahkah Anda terpikir untuk mengucap syukur kepada Roh Kudus karena Dia bersusah payah bekerja dalam pengudusan Anda? “Terima kasih, Roh Kudus—terima kasih, Roh Kudus, karena Engkau mengajar aku; terima kasih karena Engkau berperang melawan daging; terima kasih karena Engkau berdoa syafaat bagiku; terima kasih karena Engkau memeteraikan dan menjagaku; terima kasih karena Engkau menuntunku menjauh dari jalan pencobaan; terima kasih karena Engkau memberi aku kuasa menghadapi dosa.”
Nah, itulah yang dimaksud Thomas Goodwin. Dan Goodwin berkata, “Hanya ketika kita memahami karya masing-masing Pribadi Tritunggal secara jelas dan terpisah, barulah kita memiliki persekutuan yang sejati dengan Allah.” Ia mengatakan—dan saya mengutip—“Kita seharusnya tidak pernah merasa puas sampai ketiga Pribadi itu sama-sama hadir dan seimbang di dalam diri kita.” Ungkapan yang sangat indah. Seolah-olah kita duduk di tengah-tengah mereka, sementara mereka semua menyatakan kasih mereka kepada kita. Inilah pengalaman tertinggi yang pernah Kristus janjikan dalam hidup ini: duduk, seakan-akan, di tengah-tengah Tritunggal dan menjadi penerima seluruh kasih yang datang dari Bapa, seluruh kasih yang datang dari Sang Anak, dan seluruh kasih yang datang dari Roh Kudus bagi kita. Inilah penyembahan yang sejati.
Kita telah menghabiskan banyak waktu—dan saya pikir memang demikianlah kita sebagai orang percaya—untuk memikirkan kasih Bapa: kasih pilihan-Nya, kasih-Nya yang berdaulat. Kita juga banyak memikirkan pengorbanan Sang Anak, kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita. Ada banyak cara untuk memandangnya. Bapa menginisiasi keselamatan kita, Sang Anak mengesahkan atau meneguhkan keselamatan kita, dan Roh Kudus mengomunikasikan keselamatan itu kepada kita. Bapa memilih kita untuk hidup, Sang Anak menyediakan korban yang membawa kepada hidup, dan Roh Kudus memberikan hidup itu kepada kita. Dan kemampuan untuk mengenali pelayanan masing-masing Pribadi Tritunggal inilah yang membawa kita kepada penyembahan yang utuh dan persekutuan yang utuh dengan Allah.
Jadi, yang sedang kita usahakan dalam seri singkat ini adalah memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang karya dan pelayanan Roh Kudus yang terpuji itu, supaya rasa syukur, ucapan terima kasih, dan penyembahan kita kepada-Nya semakin diperdalam dan diperkaya. Mungkin salah satu ayat paling menakjubkan yang pernah Tuhan kita ucapkan—atau yang pernah dicatat dari bibir-Nya—terdapat dalam Yohanes 16. Saya sudah membacakannya kepada Anda sebelumnya. Ayat ini sungguh mengejutkan jika kita berhenti sejenak dan memikirkannya. Inilah yang Tuhan kita katakan dalam Yohanes 16:7: “Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu:”—seperti yang selalu Dia lakukan—“Lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi.”
Dan mari kita berhenti sejenak di situ dan mengajukan pertanyaan: “Bagaimana para murid menerima perkataan itu?” Selama kurang lebih tiga tahun mereka bersama Tuhan hampir 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Dia adalah segalanya bagi mereka—benar-benar segalanya. Pada suatu kesempatan, menurut Yohanes 6, setelah sekelompok orang meninggalkan Yesus, Dia berkata, “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Dan Petrus, mewakili yang lain, berkata, “Kepada siapakah kami akan pergi? Engkau dan hanya Engkau yang mempunyai perkataan hidup yang kekal. Kami tidak akan pergi ke mana pun. Segala sesuatu yang ingin kami ketahui, segala sesuatu yang ingin kami lihat, segala sesuatu yang kami perlukan—Engkau memilikinya, Engkaulah semuanya itu.” Bagaimana mungkin mereka bisa menerima pernyataan, “Adalah lebih baik bagimu jika Aku pergi”? Apa yang bisa lebih baik dari perkataan itu?
Dan kalau Anda memikirkan fakta bahwa selama ribuan tahun—secara harfiah selama milenia—orang-orang telah menantikan kedatangan Mesias, dan setiap generasi orang Yahudi yang mengetahui bahwa Mesias akan datang berharap merekalah generasi yang hidup pada saat Dia datang, namun ketika Dia benar-benar datang, orang-orang pada zaman itu justru menolak-Nya, seperti yang kita ketahui. Tetapi ada sekelompok orang—para pengikut dan murid-murid-Nya—yang menerima Dia, dan inilah penggenapan seluruh sejarah penebusan, yang membentang kembali sampai ke masa kejatuhan manusia dan janji bahwa akan datang Seorang yang akan meremukkan kepala ular itu. Betapa luar biasanya bahwa Mesias itu akhirnya datang, dan betapa indahnya bahwa Dia ada bersama mereka. Mereka tidak ingin Dia pergi ke mana pun. Mereka tidak ingin Dia meninggalkan mereka. Mereka ingin Dia tetap tinggal dan mendirikan Kerajaan-Nya, dan itulah akhir, puncak, dan penggenapan dari segala sesuatu.
Namun pada malam terakhir kebersamaan mereka, ketika mereka berkumpul di Ruang Atas sebelum Dia ditangkap dan disalibkan, Dia berkata kepada mereka, “Aku akan pergi, Aku akan meninggalkan kamu, dan kamu tidak akan dapat datang kepada-Ku, tetapi Aku akan mengatakan sesuatu kepadamu: adalah lebih baik bagimu jika Aku pergi.” Itu adalah pernyataan yang luar biasa. Bagaimana mungkin hal itu benar? Lalu Dia berkata, “Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penolong itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.” Apa yang bisa lebih baik daripada memiliki Yesus? Memiliki Roh Kudus—memiliki Roh Kudus. “Maksud-Mu Roh Kudus sebelumnya tidak ada?” Tidak. Saya juga sudah membacakan kepada Anda dari bagian Kitab Suci yang sama: “Dia telah menyertai kamu, dan Dia akan”—di mana?—“diam di dalam kamu.” Roh Kudus selalu ada. Roh Kudus adalah Pencipta; Dialah yang melayang-layang di atas permukaan air dalam kitab Kejadian dan menciptakan segala sesuatu. Roh Kudus selalu menjadi pemberi hidup, Roh Kudus selalu menjadi Pribadi yang menginsafkan. Dia terus bergumul dengan manusia, seperti yang dikatakan dalam Kejadian 6.
Roh Kudus selalu menjadi Pribadi yang memberi hidup kepada orang-orang yang mati secara rohani, dan sejak kejatuhan manusia semua orang memang mati secara rohani. Tidak akan pernah ada keselamatan di dalam Perjanjian Lama—tidak ada iman yang sejati, tidak ada pertobatan yang menebus, tidak ada pertobatan yang sungguh-sungguh—tanpa Roh Kudus. Roh Kudus sudah hadir untuk memimpin dan menuntun. Pelayanan Roh Kudus dapat dilihat, sampai batas tertentu, dalam periode Perjanjian Lama. Ungkapan “Dia menyertai kamu” dapat dipahami demikian: untuk hal-hal yang mutlak diperlukan seperti keselamatan dan pengudusan, kehadiran Roh Kudus memang mutlak dibutuhkan.
Namun kemudian datanglah Sang Anak. Bukankah itu sesuatu yang lebih baik? Bukankah jauh lebih indah berada di hadirat Sang Anak Allah yang menjadi manusia? Tentu saja demikian. Orang pasti akan berpikir begitu. Jadi, mungkin itu adalah satu langkah melampaui apa yang mereka alami dalam Perjanjian Lama. Roh Kudus sudah ada, Sang Anak telah dijanjikan, sekarang Roh Kudus tetap bekerja dan Sang Anak juga hadir secara nyata. Lalu bagaimana mungkin Yesus berkata, “Adalah lebih baik bagimu jika Aku pergi”?
Jawabannya adalah karena Roh Kudus membawa kepada orang-orang percaya—sejak pendirian gereja dan seterusnya—suatu pelayanan yang belum pernah dikenal sebelumnya. Bukan berarti Roh Kudus sebelumnya tidak ada; persoalannya bukan soal hadir atau tidak hadir, melainkan soal tingkat dan keluasan karya-Nya. Hal terbaik yang pernah dapat terjadi bagi siapa pun—bahkan lebih baik daripada memiliki Yesus Kristus secara jasmani di tengah-tengah mereka—adalah memiliki Roh Kudus. Dan itulah keadaan kita sekarang. Kita hidup dalam realitas yang begitu indah dan menakjubkan ini. “Lebih baik Aku pergi, supaya Aku dapat mengutus Roh Kudus.”
Kalau itu benar, maka Roh Kudus sungguh sangat, sangat istimewa. Dan memang demikianlah adanya. Karena itu, alih-alih menerima berbagai hal mengerikan yang sering disematkan secara keliru kepada Roh Kudus, kita ingin meninjau pelayanan Roh Kudus yang sejati, supaya kita dapat menyembah Dia dengan benar, dan supaya—seperti yang dikatakan Goodwin—semua Pribadi dalam Tritunggal boleh “berada sejajar” di dalam diri kita dan menerima pujian yang setara.
Ke mana kita harus pergi dalam Firman Allah untuk memahami pelayanan Roh Kudus? Kita telah memilih untuk melihat Roma pasal 8. Jadi, dengan pengantar singkat ini, saya ingin Anda membuka Roma 8, dan kita akan menelusuri pelayanan Roh Kudus yang mengalir di sepanjang pasal ini. Dalam perjalanannya, mungkin kita akan sedikit menyimpang untuk membahas beberapa hal lain, tetapi jelas kita tidak akan mencoba mencakup setiap bagian Perjanjian Baru yang berbicara tentang Roh Kudus. Kita akan memusatkan perhatian pada hal-hal yang paling esensial dan paling penting bagi kita. Dan Roma pasal 8 merupakan titik awal yang sangat baik untuk itu, karena di dalam pasal ini pelayanan Roh Kudus disajikan secara langsung dalam kaitannya dengan keselamatan.
Ingatlah, dalam tujuh pasal pertama kitab Roma, tema-temanya sepenuhnya berkaitan dengan keselamatan. Semuanya berbicara tentang keselamatan. Dimulai di pasal 1 ayat 16 dengan Injil. Paulus berkata bahwa ia tidak malu; ia memberitakan Injil karena Injil adalah kuasa Allah yang menyelamatkan. Lalu ia mulai menguraikan hakikat Injil itu—berbicara tentang dosa dan penghakiman, kemudian tentang kesia-siaan usaha manusia untuk mencapai kebenaran dengan kekuatannya sendiri. Ia berbicara tentang kasih karunia dan iman, menggunakan Abraham sebagai ilustrasi. Ia berbicara tentang makna salib dan persatuan kita dengan Kristus. Semuanya tentang keselamatan, terus berlanjut sampai pasal 8. Dan sekarang kita masuk ke pasal 8, kita berpindah ke satu bagian yang merupakan rangkuman akhir dari kemuliaan keselamatan. Inilah rangkuman puncak tentang apa artinya diselamatkan. Inilah kabar baik yang paling agung, dan semuanya dijamin bagi kita oleh Roh Kudus—oleh Roh Kudus.
Mari kita mulai setidaknya dari ayat 1 dan 2, dan melihat apa yang Roh Kudus lakukan bagi kita. Saya akan memberi Anda semacam “daftar belanja” tentang hal-hal yang dikerjakan Roh Kudus yang mengalir dari pasal ini. Tetapi Anda harus memahami dari mana semuanya bermula. Roma 8 ayat 1 berkata: “Oleh sebab itu, sekarang sama sekali tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.” Bagaimana mungkin tidak ada penghukuman bagi orang-orang berdosa? Bagaimana hal itu bisa terjadi? Jawabannya ada di ayat 2: “Sebab hukum Roh yang memberi hidup telah memerdekakan engkau dalam Kristus Yesus dari hukum dosa dan hukum maut.” Tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus karena sesuatu yang telah dilakukan oleh Roh yang memberi hidup. Roh yang memberi hidup itu adalah Roh Kudus. Jadi, kita bertemu dengan Roh Kudus di ayat 2, dan inilah poin pertama: Roh Kudus membebaskan kita dari maut dengan memberikan kepada kita hidup. Roh Kudus membebaskan kita dari maut dengan memberi kita hidup. Itulah ciri pertama dari kehidupan tanpa penghukuman.
Tapi, mari kita mundur sejenak ke ayat pertama dan memperhatikan kata “Oleh sebab itu” atau “sebab,” yang menghubungkan bagian ini dengan semua yang telah disampaikan sebelumnya. Segala sesuatu yang telah dikatakan tentang keselamatan—dalam seluruh kemuliaan dan keindahannya—sedang dirangkum di sini. Paulus tidak hanya kembali ke ayat 25 pasal 7, bahkan tidak hanya kembali ke pasal 7 saja; ia kembali jauh ke belakang, sampai ke pasal 1 ayat 16, ketika ia mulai berbicara tentang Injil. Seluruh pengajaran Injil itu, oleh karena itu, menghasilkan kesimpulan ini: tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Itulah ringkasan Injil. Itulah kabar baiknya. Anda dapat berdiri di hadapan Allah yang mahakudus sebagai orang berdosa yang sepenuhnya rusak, dan sama sekali tidak dihukum—tidak untuk sekarang, dan tidak untuk selama-lamanya. Itulah kabar baiknya.
Dan untuk memahami kabar baik itu, Anda harus terlebih dahulu memahami kabar buruknya. Kabar buruknya adalah bahwa Alkitab menyebutkan setiap manusia yang lahir ke dunia ini sebagai orang-orang yang harus dimurkai—orang-orang yang harus dimurkai, seperti yang dikatakan dalam Efesus 2 ayat 3. Anda adalah orang yang harus dimurkai. Kita semua adalah orang-orang yang harus dimurkai. Itu adalah cara berbicara khas Ibrani. Artinya, kita mewarisi natur dari mereka yang akan dihukum. Itulah maksudnya. Jika seseorang disebut anak kebinasaan, itu berarti natur dirinya adalah binasa. Jika seseorang disebut orang yang harus dimurkai, itu berarti ia berada di bawah hukuman. Semua manusia adalah orang-orang yang harus dimurkai. Mereka berada di bawah penghukuman, dan itu adalah keadaan yang sangat menyedihkan.
Apa saja unsur-unsur dari kondisi ini? Kita dikuasai oleh dosa. Kita semua telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Kita semua berada di bawah kutuk. Kita didominasi—bahkan benar-benar ditaklukkan dan dikuasai—oleh dosa. Dosa adalah penyakit yang mencemari dan melumpuhkan jiwa setiap manusia, merendahkan setiap orang, menggelisahkan setiap hati, merampas damai dan sukacita, lalu menggantikannya dengan kesusahan, penderitaan, dan ketakutan. Dosa menanamkan di dalam setiap hati prinsip kebinasaan yang mematikan, yang tidak pernah dapat dikalahkan oleh manusia mana pun dan tidak pernah dapat disembuhkan oleh upaya manusia apa pun.
Keadaannya bahkan lebih buruk dari itu. Kita bukan hanya berdosa dan jahat tanpa kemungkinan disembuhkan, tetapi kita juga berada di bawah kendali setan, malaikat kejahatan itu, yaitu Iblis sendiri. Kita adalah anggota kerajaannya. Kita adalah bagian dari keluarganya. Yohanes 8:44 berkata, “Bapamu, yaitu Iblis.” Kita adalah anak-anak Iblis. Kita diperintah oleh penguasa kerajaan angkasa—Efesus 2:2—roh yang sekarang bekerja di dalam anak-anak durhaka. Ia sedang bekerja di dalam semua manusia yang bukan hanya rusak oleh natur mereka sendiri, tetapi semakin dirusak oleh pekerjaan Iblis di dalam diri mereka. Itulah sebabnya Yesus berkata, “Kamu melakukan keinginan-keinginannya.” Apa yang ia inginkan, itulah yang kamu lakukan.
Akibat dari semua itu, kita berada di bawah kesia-siaan, seperti yang dikatakan dalam Roma 8:20. Artinya, dalam kondisi ketika kita dikuasai oleh dosa dan didominasi oleh Iblis, kita tunduk kepada segala sesuatu yang buruk dan mengerikan. Inilah kesia-siaan hidup: kehampaan, kepahitan, kesedihan, penderitaan. Kita dilahirkan untuk kesusahan. Kita tidak memiliki damai sejahtera. Kita takut akan kematian. Kita dipenuhi kecemasan dan tanpa pengharapan. Dan dalam keadaan seperti itu, Ibrani 10:27 berkata bahwa yang tersisa hanyalah penantian yang mengerikan akan penghakiman yang menyala-nyala. Satu-satunya hal yang dapat dinantikan oleh seluruh umat manusia adalah neraka—neraka. Dihukum untuk selama-lamanya, menurut Wahyu 20 ayat 14, oleh kematian yang kedua dan lautan api. Itulah penderitaan kondisi seluruh umat manusia.
Dan ketika hukuman itu dijatuhkan, itu adalah penghukuman yang adil—penghukuman yang sepenuhnya adil. Roma 3 mengatakan hal itu dalam ayat 8 dan 9, bahwa penghukuman tersebut adalah adil. Kita telah melanggar hukum Allah. Galatia 3 mengatakan bahwa jika seseorang melanggar satu hukum saja, ia telah melanggar seluruh hukum. Penghukuman kita memang adil. Sama seperti pencuri di kayu salib, kita memang menerima hukuman yang setimpal. Itulah yang ia katakan.
Jadi, jika semua itu dirangkum, kita melihat bahwa orang berdosa berdiri sebagai orang-orang yang harus dimurkai, berada di bawah penghukuman Allah yang kudus, yang tersinggung oleh setiap dosa dan menjatuhkan penghakiman yang adil. Akhir yang tak terelakkan dari kondisi itu adalah neraka untuk selama-lamanya. Dan itulah keadaan setiap orang sampai Roh Kudus datang. Namun di tengah kegelapan gambaran ini, teks kita menghadirkan terang yang mulia. “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus, sebab hukum—atau prinsip, atau kuasa—Roh yang memberi hidup dalam Kristus Yesus telah memerdekakan engkau dari hukum dosa dan hukum maut.”
Terus terang saja, Alkitab adalah sebuah kitab yang sangat menghakimi—sangat menghakimi. Dalam Roma pasal 5 dikatakan bahwa di dalam Adam semua orang telah mati, bahwa kita semua mewarisi natur dosa dari Adam. Roma 5 menyatakan hal itu berulang kali. Lalu 2 Tesalonika pasal 1 memberikan gambaran yang sangat menakutkan tentang penghakiman akhir yang akan menimpa semua orang berdosa, ketika dikatakan bahwa Tuhan Yesus akan dinyatakan dari surga bersama malaikat-malaikat-Nya yang perkasa, dalam api yang menyala-nyala, untuk menjatuhkan pembalasan kepada mereka yang tidak mengenal Allah dan kepada mereka yang tidak menaati Injil Tuhan kita Yesus. Mereka akan menanggung hukuman kebinasaan kekal, terpisah dari hadirat Tuhan dan dari kemuliaan kuasa-Nya.
Ada dua aspek dari neraka kekal. Yang pertama adalah penderitaan—yaitu rasa sakit yang nyata. Yang kedua adalah keterpisahan—ketiadaan akan Allah. Itulah neraka yang sesungguhnya. Lalu orang berkata, “Bukankah Allah memberikan hukum Taurat-Nya supaya kita punya standar hidup? Dan jika kita hidup sesuai standar itu, kita akan baik-baik saja, kita akan masuk surga?” Itulah kesalahpahaman yang paling umum di dunia, dan sama mematikannya, karena sekalipun hukum itu kudus—dan memang sepenuhnya kudus karena hukum Taurat itu hanyalah cerminan Allah sendiri, etika dari natur Allah yang dituangkan, dituliskan, dan dirumuskan—namun hukum Taurat tidak dapat membuat kita kudus. Hukum Taurat tidak dapat menyelesaikan masalah dosa kita, dan hukum Taurat tidak dapat memberikan jalan keluar dari penghukuman.
Dengarkan apa yang dikatakan dalam Roma 3: “Tetapi kita tahu bahwa segala sesuatu yang tercantum dalam Kitab Taurat ditujukan kepada mereka yang hidup di bawah hukum Taurat, supaya tersumbat setiap mulut dan supaya seluruh dunia berada di bawah penghakiman Allah.” Yang dilakukan hukum Taurat hanyalah menutup mulut Anda ketika Anda mencoba mengklaim kebaikan diri. “Sebab tidak seorang pun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa.” Yang dilakukan hukum Taurat hanyalah memberi pengetahuan tentang dosa. Itulah satu-satunya fungsi hukum Allah, yaitu menunjukkan dosa. Hukum Taurat bukanlah jalan untuk mengalahkan dosa. Hukum Taurat bukanlah jalan untuk lolos dari penghukuman yang dihasilkan oleh dosa. Hukum Taurat tidak sanggup melakukan itu. Hukum Taurat tidak dapat mengubah kondisi Anda; hukum Taurat hanya dapat menyingkapkannya. Dan hukum Taurat tidak dapat mengubah penghukuman Anda; hukum Taurat hanya dapat menegakkannya.
Bahkan, hukum Taurat justru memperburuk keadaan, karena hukum Taurat memperluas pelanggaran. Jadi tidak seorang pun akan dibenarkan di hadapan Allah oleh hukum Taurat. Sebaliknya, melalui hukum Taurat, rasa bersalah kita bertambah dan dosa kita semakin nyata. Karena itu, yang ada hanyalah penghukuman—dan hanya penghukuman—bagi mereka yang berada di bawah hukum Taurat, sebab hukum Taurat tidak dapat menyelamatkan, hukum Taurat tidak dapat menyingkirkan penghukuman. Hukum Taurat yang tertulis tidak sanggup melakukan hal itu. Itulah yang dimaksud ayat 3 ketika dikatakan, “Apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat, karena tak berdaya oleh daging.” Dengan kata lain, hukum Taurat tidak dapat bekerja di dalam diri manusia untuk menghasilkan keselamatan apa pun. Kata “penghukuman” di sini adalah katakrima, dan kata ini lebih menekankan pada hukuman setelah vonis dijatuhkan, bukan sekadar keputusan pengadilan itu sendiri. Ada kata Yunani lain yang menunjuk pada penghakiman atau penetapan vonis, tetapi kata ini melangkah lebih jauh—melampaui vonis—sampai kepada pelaksanaan hukuman yang sesungguhnya.
Dan yang dikatakan di sini adalah ini: tidak ada hukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Terlepas dari semua pelanggaran, terlepas dari fakta bahwa kita telah melanggar hukum Allah, terlepas dari kondisi kita yang sebenarnya layak, benar, kudus, dan adil untuk dihukum, terlepas dari semua itu—terlepas dari kerusakan natur kita, terlepas dari fakta bahwa kita pernah menjadi bagian dari kerajaan kegelapan dan berada di bawah kuasa Iblis sendiri—kita dapat berada, melalui keselamatan, dalam suatu keadaan di mana sama sekali tidak ada penghukuman. Kata “tidak” di sini adalah penyangkalan yang sangat kuat, kata yang sangat tegas. Dalam bahasa Yunani ada banyak cara untuk mengatakan “tidak,” tetapi yang digunakan di sini adalah salah satu yang paling kuat. Sama sekali tidak, tanpa syarat, tanpa pengecualian—tidak ada penghukuman.
Nah, izinkan saya mengatakan ini: itulah kabar baiknya. Itulah Injil. Bahwa seberdosa apa pun Anda, ada kemungkinan untuk masuk ke dalam suatu keadaan di mana sama sekali tidak ada penghukuman—tidak sedikit pun. Apakah keadaan itu? Apakah tempat itu? Yaitu berada di dalam Kristus. Ayat 1 berkata, “bagi mereka yang ada di dalam Kristus.” Atau ayat 2, “di dalam Kristus Yesus.” Ini berbicara tentang persatuan dengan Kristus. Apa artinya berada di dalam Kristus? Artinya berada di dalam Dia dalam pengertian yang sangat nyata, secara rohani. Mari kita kembali sejenak ke Roma pasal 6 ayat 3: “Atau tidak tahukah kamu bahwa kita semua yang telah dibaptis”—atau dimasukkan, ditenggelamkan; di sini bukan berbicara tentang baptisan air, tetapi menggunakan istilah itu secara kiasan—“dalam Kristus Yesus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian, kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia melalui baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita dimungkinkan hidup dalam hidup yang baru.” Dengan kata lain, kita benar-benar ditempatkan ke dalam Kristus dalam kematian-Nya dan ke dalam Kristus dalam kebangkitan-Nya. Kita mati di dalam Dia, dan kita bangkit di dalam Dia.
Ayat 5: “Oleh karena kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, maka kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya. Karena kita tahu bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa. Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa. Jadi, karena kita telah mati dengan Kristus, kita percaya bahwa kita akan hidup juga dengan Dia. Karena kita tahu bahwa sesudah bangkit dari antara orang mati, Kristus tidak mati lagi: Maut tidak berkuasa lagi atas Dia. Sebab Ia mati, yakni mati terhadap dosa, satu kali untuk selama-lamanya; namun Ia hidup, yakni hidup bagi Allah. Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: Bahwa kamu telah mati terhadap dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus.” Di dalam Kristus kita mati, dan di dalam Kristus kita bangkit kembali. Inilah yang disebut persatuan kita dengan Kristus. Dan itulah yang sedang dinyatakan di sini.
Dan semua itu telah diuraikan dan dijelaskan sebelumnya, seperti yang baru saja saya bacakan dari pasal 6. Jadi, pada titik ini kita tidak lagi diberi definisi tentang apa artinya berada di dalam Kristus, karena hal itu sudah dijelaskan sebelumnya. Yang perlu kita ketahui di sini hanyalah ini: bagi mereka yang ada di dalam Kristus, tidak ada penghukuman—tidak ada sama sekali. Secara harfiah, kita telah ditempatkan di luar jangkauan penghukuman—di luar jangkauan penghukuman. Itulah cara pasal ini dimulai, dan itulah juga cara pasal ini diakhiri. Jika Anda ke akhir Roma pasal 8, apa yang Anda baca? “Siapakah yang akan memisahkan kita,” ayat 35, “dari kasih Kristus? Penindasan atau kesengsaraan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?” Tidak. Lalu ayat 38: “Sebab aku yakin bahwa baik maut maupun hidup, baik malaikat-malaikat maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.”
Dengan kata lain, sebutkan saja segala sesuatu yang nyata, segala sesuatu yang dapat dibayangkan—hal-hal yang ada sekarang, maupun hal-hal yang hanya ada dalam bayangan. Tidak satu pun dari semuanya itu dapat mengubah kondisi kita. Tidak satu pun dapat menggoyahkan status “tanpa penghukuman” itu. Kita telah ditempatkan di luar jangkauan penghukuman. Dan seluruh pasal ini adalah pembuktian yang panjang dan sangat luar biasa tentang keamanan orang percaya. Inilah inti pasal ini: keamanan dan kepastian mereka yang ada di dalam Kristus dari segala bentuk penghukuman, sekarang maupun selama-lamanya. Bahkan jika Iblis sendiri muncul—seperti yang dikatakan kemudian dalam pasal ini—siapakah yang dapat mengajukan tuduhan yang akan berhasil terhadap kita di hadapan Allah? Tidak seorang pun, tidak akan pernah. Kita berada di luar jangkauan penghukuman. Dan semua ini, dengan cara yang sangat indah, akan dikaitkan dengan Roh Kudus yang melakukan semua ini bagi kita. Alasan kita berada di luar penghukuman adalah karena—seperti yang dikatakan ayat 2—“hukum Roh yang memberi hidup telah memerdekakan engkau dalam Kristus Yesus dari hukum dosa dan hukum maut.”
Kata “hukum” di sini tidak digunakan dalam pengertian hukum alkitabiah yang tertulis atau dikodifikasi, melainkan dalam arti suatu prinsip, suatu kuasa yang mendominasi. Kuasa yang mendominasi dari Roh yang memberi hidup telah membebaskan Anda dari kuasa yang mendominasi dari dosa, yang berujung pada maut. Ini adalah pernyataan yang luar biasa, jelas, dan sangat spesifik tentang pelayanan Roh Kudus. Mereka yang ada di dalam Kristus benar-benar ada di dalam Kristus. Kita dipersatukan dengan Dia.
Bagaimana kita bisa masuk ke dalam Kristus? Kita secara nyata telah ditempatkan ke dalam Dia oleh Roh Kudus, yang mengambil kita keluar dari kondisi dosa yang membawa kepada maut dan memberi kita hidup. Itulah sebabnya Dia disebut Roh yang memberi hidup, Roh yang melahirkan kembali, Roh yang adalah hidup—Roh yang menghidupkan. Semua ungkapan itu digunakan untuk menggambarkan Roh Kudus.
Martin Luther pernah berkata, “Mustahil seseorang menjadi orang Kristen tanpa memiliki Kristus, dan jika ia memiliki Kristus, maka pada saat yang sama ia memiliki segala sesuatu yang ada di dalam Kristus. Yang memberi damai kepada hati nurani adalah kenyataan bahwa oleh iman, dosa-dosa kita bukan lagi milik kita, melainkan milik Kristus, yang kepadanya Allah telah menanggungkan semuanya; dan sebaliknya, seluruh kebenaran Kristus menjadi milik kita, kepada siapa Allah telah mengaruniakannya. Kristus meletakkan tangan-Nya atas kita dan kita disembuhkan. Dia menyelimuti kita dengan jubah-Nya dan kita dikenakan pakaian, sebab Dia adalah Juruselamat kita yang mulia, terpujilah Dia selama-lamanya.” Kesatuan yang sekarang kita miliki dengan Kristus ini adalah karya Roh Kudus. Dialah yang membawa kita keluar dari kondisi maut dan menempatkan kita ke dalam kesatuan dengan Kristus. Dan di dalam Kristus itulah kita menjadi hidup.
Hal ini terjadi melalui iman. Kita memahami itu. Luther melanjutkan dengan berkata, “Iman mempersatukan jiwa dengan Kristus seperti seorang mempelai perempuan dengan suaminya. Segala sesuatu yang dimiliki Kristus menjadi milik jiwa yang percaya, dan segala sesuatu yang dimiliki jiwa itu menjadi milik Kristus. Kristus memiliki segala berkat dan hidup yang kekal; semuanya itu kemudian menjadi milik jiwa. Jiwa memiliki segala kejahatan dan dosa-dosanya; semuanya itu kemudian menjadi milik Kristus. Maka dimulailah suatu pertukaran yang penuh berkat. Kristus, yang adalah Allah dan manusia, Kristus yang tidak pernah berdosa dan yang kekudusan-Nya sempurna, Kristus yang Mahakuasa dan kekal, mengambil ke atas diri-Nya, melalui cincin pernikahan iman, seluruh dosa orang percaya. Dosa-dosa itu lenyap dan dihapuskan di dalam Dia, sebab tidak ada dosa yang dapat bertahan di hadapan kebenaran-Nya yang tak terbatas. Dan dengan demikian, oleh iman, jiwa orang percaya dibebaskan dari dosa dan dikenakan kebenaran yang kekal, yaitu kebenaran dari Sang Mempelai, Kristus.” Oh, kesatuan yang membahagiakan. Siapakah yang melakukan semua ini? Inilah karya Roh yang memberi hidup, yang memindahkan kita dari kesatuan dengan dosa dan Iblis—yang menghasilkan maut—dan kemudian Roh memberi kita hidup. Inilah karya kelahiran baru oleh Roh Kudus. Itulah yang dimaksud oleh ayat 2.
Mari kita kembali sejenak dan memperhatikan bagian akhirnya. Kita telah dibebaskan dari prinsip—dari kuasa yang mendominasi—yaitu dosa yang menghasilkan maut, kondisi kematian rohani sebagai akibat dari dosa. Bagaimana kita dibebaskan? Oleh kuasa yang mendominasi dari Roh yang memberi hidup, dan itu hanya dapat merujuk kepada Roh Kudus yang terpuji. Dialah Roh yang memberi hidup. Dan Dia disebut demikian dalam 2 Korintus pasal 3. Anda dapat membacanya di sana: hukum mematikan, hukum yang tertulis mematikan, hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan—Roh memberi hidup. Ayat 6, ayat 17, ayat 18, Galatia 6:8, Roh yang memberi hidup. Roh Kuduslah yang memberikan hidup kepada kita.
Dan jika Anda masih bertanya-tanya tentang hal itu, apa yang Yesus katakan kepada Nikodemus? Jika engkau ingin masuk ke dalam Kerajaan Allah, engkau harus dilahirkan dari air dan Roh. Engkau harus dilahirkan dari atas. Roh adalah sumber kehidupan. Dialah yang memberikan hidup. Dialah Roh yang melahirkan kembali.
Mari kita melihat sejenak ke kitab Titus. Di dalam Titus ada pernyataan yang indah tentang keselamatan, yang menegaskan apa yang telah saya katakan dan mungkin memberi kejelasan tambahan. Perhatikan bahwa kita dahulu bodoh—ayat 3, Titus 3:3—kita dahulu tidak taat, sesat, diperhamba oleh berbagai hawa nafsu dan kenikmatan, menjalani hidup dalam kejahatan—yaitu keburukan—iri hati, saling membenci dan saling membenci satu sama lain. Itu adalah gambaran setiap manusia. Bukan gambaran yang indah. “Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia”—di sini Anda melihat bahwa semuanya berawal dari kasih Allah, bekerja melalui kasih karunia Kristus, dan berujung pada persekutuan Roh—“Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia, pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita.”
Bagaimana Dia menyelamatkan kita? Bagaimana Dia membebaskan kita dari kondisi rusak dan penuh kutuk itu? Bagaimana Dia melepaskan kita dari wilayah kekuasaan Iblis? Bagaimana Dia menyelamatkan kita dari tirani dosa? Bagaimana caranya? “Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan benar yang telah kita lakukan.” Jadi jelas, bukan melalui hukum Taurat. Bukan melalui kebaikan kita. “Tetapi karena rahmat-Nya melalui permandian kelahiran kembali dan melalui pembaruan yang dikerjakan”—oleh siapa?—“oleh Roh Kudus, yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita melalui Yesus Kristus, Juruselamat kita.” Saya rasa kita belum sungguh-sungguh memahami sepenuhnya betapa kayanya karya Roh Kudus itu, tetapi kita akan berusaha memahaminya bersama-sama. Bagaimana pembaruan itu terjadi? Bagaimana permandian itu terjadi? Bagaimana kelahiran kembali itu terjadi? Bagaimana hidup itu diberikan? Bagaimana, dan oleh siapa kita dihidupkan? Tidak lain dan tidak bukan oleh Roh yang menghidupkan.
Bagaimana Dia melakukannya? Pertama, seperti yang sudah saya bacakan dari Yohanes 16, Dia menginsafkan kita akan dosa, kebenaran, dan penghakiman. Inilah karya Roh Kudus, yaitu menginsafkan orang berdosa. Lalu Dia membawa kepada kita Injil. Roh Kudus adalah penulis Kitab Suci. Seluruh Kitab Suci diilhamkan oleh Allah—dihembuskan oleh Allah; kata “hembusan” itu berasal dari pneuma, yaitu Roh Allah. Orang-orang kudus digerakkan oleh Roh Kudus, kata Petrus, lalu mereka menuliskan Kitab Suci. Jadi Roh Kudus adalah penulis Firman yang kudus. Maka pertama, Roh Kudus menginsafkan orang berdosa. Kedua, Roh Kudus, yang adalah penulis Injil, membawa Injil itu kepada kita sehingga kita dilahirkan kembali, seperti yang dikatakan Yakobus 1:18, oleh Firman kebenaran. Hal yang sama dikatakan dalam 1 Petrus pasal 1: kita dilahirkan oleh Firman kebenaran. Roh Kudus adalah Pribadi yang menginsafkan; Roh Kudus adalah penulis Injil yang disampaikan kepada kita. Roh Kudus kemudian menjadi Guru kita, membuka pikiran kita oleh kuasa kelahiran baru-Nya, sehingga kita percaya kepada Injil dan berbalik dari dosa. Semua itu adalah karya Roh Kudus. Dialah Roh yang memberi hidup, Roh yang menghidupkan, Roh kehidupan.
Saya tidak tahu apakah Anda pernah sungguh-sungguh meluangkan waktu untuk mengucap syukur kepada Roh Kudus atas apa yang telah Dia berikan kepada Anda—atas karya-Nya yang menginsafkan Anda akan dosa, kebenaran, dan penghakiman; atas karya-Nya menuliskan Firman Allah yang kudus, Injil yang mulia, Firman kebenaran; sebagai Roh Kebenaran yang membawa Firman kebenaran itu kepada Anda; lalu memberi Anda hidup dan pengertian sehingga Anda mendengar kebenaran itu, Anda dihidupkan, Anda bertobat, Anda percaya kepada kebenaran, dan Anda sungguh-sungguh dilepaskan dari kondisi dosa dan maut ke dalam kondisi hidup. Dan sekarang keadaan hidup Anda bukan hanya hidup, tetapi karena Anda telah dikenakan kebenaran Kristus itu sendiri, Anda berada di luar kemungkinan penghukuman—di luar kemungkinan itu sama sekali.
Bagaimana Roh Kudus dapat melakukan semua ini? Bagaimana mungkin Roh Kudus sanggup melakukannya? Dia dapat melakukannya karena apa yang disediakan dalam ayat 3, yang akan kita bahas lebih jauh pada kesempatan berikutnya, tetapi izinkan saya memperkenalkannya sekarang. Hukum Taurat tidak sanggup melakukannya. Hukum itu lemah karena tidak dapat memberi kuasa kepada daging. Hukum Taurat tidak dapat menjadikan seseorang manusia yang lebih baik. Hukum Taurat dapat menetapkan standar yang sempurna, tetapi tidak dapat menghasilkan manusia yang mampu menaatinya. Karena itu, hukum Taurat menjadi lemah oleh daging. Artinya, bukan hukum itu sendiri yang lemah, melainkan karena daging manusia tidak mampu menaatinya. Tetapi Allah melakukan apa yang tidak dapat dilakukan oleh hukum Taurat, dan Dia melakukannya melalui Roh Kudus-Nya, dan Dia melakukannya melalui pengorbanan Kristus, dengan mengutus Anak-Nya sendiri dalam rupa daging yang berdosa sebagai korban penghapus dosa. Dengan demikian Dia menghukum dosa di dalam daging.
Izinkan saya menunjukkan perbedaannya. Lihat kalimat terakhir itu: “Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging.” Tahukah Anda apa yang dapat dilakukan oleh hukum Taurat? Hukum Taurat dapat menghukum orang berdosa. Dan memang, hukum Taurat menghukum orang berdosa. Tetapi salib menghukum dosa. Lihat perbedaannya? Hukum Taurat tidak dapat menghukum dosa; hanya salib yang menghukum dosa. Hukum Taurat menjatuhkan hukuman mati kepada orang berdosa; salib menjatuhkan hukuman mati kepada dosa. Dosa mati; dosa tidak lagi menjadi tuan kita, tidak lagi menjadi kuasa kita—bukan lagi kekuatan yang mendominasi. Dosa tidak lagi dapat menuntut hukuman yang adil dan pelaksanaan hukuman itu. Hukum Taurat menghukum orang berdosa; salib menghukum dosa.
Bagaimana hal itu terjadi? Karena di salib, Yesus membayar hukuman itu sepenuhnya. Tuntutan dosa, yang ditetapkan oleh Allah sendiri, dibayar lunas. Itulah maksudnya ketika dikatakan bahwa kita telah diidentifikasikan dengan Dia dalam kematian-Nya. Ketika Dia mati, semua dosa kita ada di sana dan dibayar sepenuhnya. Hukum Taurat tidak dapat melakukan hal itu. Percayalah, hukum Taurat menghukum setiap orang berdosa. Hukum Taurat tidak dapat menghukum dosa, tetapi salib menghukum dosa bagi mereka yang ada di dalam Kristus. Inilah karya Roh Kudus.
Minggu ini saya sempat mencari-cari beberapa himne tentang Roh Kudus, karena memang ada beberapa lagu yang ditujukan kepada Roh Kudus. Sayangnya, kebanyakan lagu itu terasa agak sentimental, manis berlebihan, dan dangkal. Lalu saya berpikir, saya akan membuka buku nyanyian Presbyterian. Biasanya orang Presbyterian agak lebih teologis. Dan saya menemukan ini—saya belum pernah mendengarnya, saya tidak tahu nadanya; saya bisa saja mendendangkan melodinya, tetapi itu tidak akan diketahu siapapun. Namun inilah sebuah himne lama tentang Roh Kudus, satu-satunya yang saya temukan, dan bunyinya kira-kira seperti ini: “Roh Kudus, kami hendak menyembah-Mu, anugerah mahkota dari kebangkitan, diutus dari takhta-Mu yang telah naik, kepenuhan dari seluruh ke-Allahan, datanglah, jadikan hidup-Mu hidup kami.” Dan itulah tepatnya yang telah Roh Kudus lakukan. Dia datang untuk menjadikan hidup Allah sebagai hidup kita sendiri.
Dan penulis himne ini—yang, omong-omong, adalah Margaret Clarkson, mungkin sebagian dari Anda mengenalnya—melanjutkan syairnya. Saya sudah sedikit mengeditnya, tetapi isinya berbicara langsung kepada Roh Kudus: “Engkau yang pada awal penciptaan melayang-layang di atas samudra yang tak bernyawa, kini melintasi kegelapan natur kami untuk membangunkan jiwa kami dari tidur. Engkau bergerak untuk menggugah, menarik, dan menghidupkan, menusuk hati kami dengan kesadaran akan dosa. Engkau melahirkan kami, memeteraikan dan memenuhi kami, sebagai Pembela yang menyelamatkan di dalam diri kami. Engkau sendiri, Penulis yang hidup, membangkitkan Firman yang kudus menjadi hidup, membaca bersama kami halaman-halaman sucinya dan menyatakan kepada kami Tuhan kami yang bangkit. Engkaulah yang bekerja di dalam kami, mengajar hati yang memberontak untuk berdoa. Engkau yang perantaraan-Mu yang kudus naik bagi kami siang dan malam.” Semua itu sepenuhnya benar, dan itulah alasan yang layak untuk memberi hormat kepada Roh Kudus. Amin.
Bapa, kami mengucap syukur kepada-Mu atas waktu pagi ini untuk memikirkan hal-hal ini. Kami baru saja menyentuh sedikit saja pinggiran dari kebenaran-kebenaran yang begitu besar ini, namun kami sudah memiliki begitu banyak pemahaman yang dapat melengkapi semuanya, sehingga kami mengerti bahwa segala sesuatu yang Kristus lakukan di kayu salib telah memungkinkan Roh Kudus memberi kami hidup. Fakta bahwa Dia telah memikul dosa-dosa kami di dalam tubuh-Nya sendiri di atas kayu salib; fakta bahwa Dia tertikam karena pemberontakan kami, diremukkan karena kejahatan kami, ganjaran yang mendatangkan damai sejahtera bagi kami ditimpakan kepada-Nya, dan oleh bilur-bilur-Nya kami disembuhkan; fakta bahwa Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat menjadi dosa karena kami, supaya kami dibenarkan di dalam Dia; fakta bahwa Dia telah menjadi kutuk bagi kami. Semua kenyataan agung tentang karya penggantian Kristus ini—penyediaan yang mutlak perlu, pengesahan yang mutlak perlu dari inisiatif Allah—membuat penerapan dan penyampaian karya Roh Kudus menjadi mungkin, sehingga Dia memberi kami hidup, dan memberi kami hidup yang menempatkan kami di luar kemungkinan penghukuman, karena kami tahu bahwa Kristus telah sepenuhnya dihukum atas dosa-dosa kami. Tidak ada apa pun yang dapat menghukum kami lagi. Sungguh kabar yang begitu mulia.
Betapa kami bersyukur kepada-Mu, ya Bapa, atas kasih yang begitu menginisiasi itu. Kami bersyukur kepada-Mu, ya Kristus, atas pengorbanan kasih karunia yang demikian besar. Dan kami bersyukur kepada-Mu, ya Roh Kudus, karena Engkau telah memberi kami hidup dan menopang hidup itu sampai kami melihat Kristus muka dengan muka dan menjadi serupa dengan Dia. Kami menyembah Engkau, Allah Tritunggal kami, dan kami melakukannya dengan sukacita dan ucapan syukur. Amin.
SELESAI
This article is also available and sold as a booklet.
