Grace to You Resources
Grace to You - Resource

Sebagaimana Anda tahu, kita sedang mempelajari pribadi dan karya Roh Kudus, Pribadi dalam Tritunggal yang sering diabaikan oleh sebagian orang, dan oleh sebagian yang lain justru dikaitkan dengan hal-hal yang sebenarnya sama sekali tidak ada hubungannya dengan Dia. Kita memulai dengan membahas secara garis besar penghujatan terhadap Roh Kudus di masa kini, bagaimana Roh Kudus dapat didukakan, dipadamkan, dan bahkan diperlakukan dengan sikap meremehkan, dan semua itu untuk memberi gambaran tentang apa yang terjadi di sekitar kita, supaya kita menyadari betapa pentingnya memiliki pemahaman yang benar dan tepat tentang Roh Kudus.

Saya ingin melanjutkan studi kita, dan kita akan terus berada di Roma pasal 8—dan ini menjadi bagian utama atau jangkar pembahasan kita—namun saya tidak hanya sekadar menguraikan Roma 8 secara ekspositori. Hal itu sudah sering kita lakukan selama bertahun-tahun. Yang saya lakukan sekarang adalah menarik dari pasal ini hal-hal yang penting bagi kita untuk memahami pelayanan Roh Kudus. Mengapa ini penting, bahkan sangat krusial? Karena sebagai orang percaya, Anda adalah bait Roh Kudus. Anda telah dibaptis oleh Roh Kudus, ditempatkan ke dalam tubuh Kristus, dan kemudian Roh Kudus diam di dalam Anda, tinggal di dalam Anda. Anda diperintahkan untuk hidup penuh dengan Roh, berjalan dalam Roh, dengan setia menyatakan karunia-karunia Roh, dan memuliakan Roh Kudus. Dapat dikatakan dengan benar bahwa kuasa sejati dari kehidupan rohani Anda adalah Roh Kudus, sehingga memahami pelayanan Roh Kudus yang sesungguhnya—dibandingkan dengan hal-hal yang secara keliru sering dikaitkan dengan Dia—menjadi sesuatu yang sangat, sangat penting.

Dan ketika saya memikirkan bagaimana kita dapat sungguh-sungguh memahami secara utuh tentang pelayanan Roh Kudus dalam hidup kita, saya sampai pada kesimpulan bahwa cara terbaik untuk mengerti pelayanan Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya adalah dengan memahami pelayanan Roh Kudus dalam kehidupan Yesus Kristus—dalam kehidupan Tuhan dan Juruselamat kita. Itulah yang ingin saya lakukan pagi ini, dan nantinya kita akan sampai pada bagian berikutnya di Roma pasal 8, ayat 12 dan 13, tetapi belum sekarang.

Roh Kudus adalah Sahabat yang tak terpisahkan dari Kristus—benar-benar tidak terpisahkan. Seorang penulis mengungkapkannya dengan kalimat ini: “Dari rahim, ke kubur, hingga ke takhta.” Seluruh aktivitas dalam kehidupan Tuhan Yesus Kristus—semua yang Dia lakukan sejak kelahiran-Nya, melalui kematian-Nya, kebangkitan-Nya, sampai kenaikan-Nya ke surga—terjadi dalam kehadiran penuh dan oleh kuasa penuh dari Roh Kudus.

Kita sering berbicara tentang fakta bahwa Kristus adalah teladan kita. Dialah contoh bagi hidup kita. Paulus berkata, “Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga mengikuti Kristus,” yang menunjukkan bahwa pemahaman akan pribadi Kristus dan kehidupan Kristus menetapkan arah bagi kita tentang bagaimana seharusnya kita hidup. Namun, saya jarang mendengar hal ini dibahas dalam terang pelayanan Roh Kudus di dalam diri Tuhan Yesus Kristus. Padahal, itulah cara terbaik untuk memahami kehidupan Kristen: menyadari bahwa Kristus menjalani hidup-Nya sebagaimana Dia hidup oleh karena pelayanan Roh Allah, lalu memahami bahwa kita, yang memiliki Roh yang sama di dalam kita, dapat mengikuti pola hidup yang ditunjukkan oleh Kristus. Dialah teladan hidup yang dikendalikan oleh Roh Kudus, teladan hidup yang dipenuhi oleh Roh, dan teladan hidup yang diberdayakan oleh Roh Kudus. Di dalam diri-Nya, semua itu ditunjukkan secara sempurna—dalam kesempurnaan.

Kita harus memulainya dari awal. Mari kita lihat Lukas pasal 1—Lukas pasal 1 ayat 26. Pada bulan yang keenam, malaikat Gabriel diutus dari hadirat Allah di surga dan datang ke bumi, tiba di wilayah Galilea, di sebuah kota bernama Nazaret. Ia datang kepada seorang perawan muda, kemungkinan berusia sekitar 12 atau 13 tahun, untuk menyampaikan sebuah pengumuman. Perempuan itu bertunangan dengan seorang pria bernama Yusuf; keduanya adalah keturunan Daud. Namanya Maria. Malaikat itu datang kepada gadis muda ini dan berkata, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” Seorang tamu dari surga—sesuatu yang belum pernah terjadi. Ini sangat mengejutkan. Maria pun menjadi bingung dan mencoba memahami apa yang sedang terjadi. Lalu malaikat itu berkata kepadanya dalam ayat 30, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh anugerah di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapak leluhur-Nya, dan Ia akan memerintah atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.” Engkau akan menjadi ibu dari Mesias, Anak Allah, Sang Juruselamat dunia.

Peristiwa ini sungguh mencengangkan dan melampaui kemampuan manusia untuk memahaminya, tetapi masalah pertama yang langsung muncul di benak Maria adalah hal yang sangat praktis: “Bagaimana mungkin aku mengandung? Aku kan belum bersuami dan aku masih perawan.” Ia adalah seorang gadis yang berpikir realistis. Semua yang disampaikan terdengar luar biasa, tetapi kenyataannya, “Aku ini perawan.” Lalu malaikat itu berkata kepadanya, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau.” Kedua pernyataan ini memiliki makna yang sama. “Roh Kudus akan turun atasmu” dan “kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau” adalah satu hal yang identik. Kuasa Allah Yang Mahatinggi adalah Roh Kudus itu sendiri. Roh Kudus adalah kuasa Allah yang sedang bekerja—ruach Allah, ingat istilah itu? Kuasa, energi, dan kekuatan Allah yang dahsyat. Ketika Roh Kudus turun atas seseorang, di dalam Pribadi-Nya hadir kuasa Allah Yang Mahatinggi. Dia akan menaungi engkau, melayang-layang di atas engkau. Apakah gambaran ini terdengar familiar? Jika kita kembali kepada kisah penciptaan, kita melihat Roh Kudus melayang-layang di atas kekosongan dan ketidakberbentukan unsur-unsur materi yang akan dipakai Allah untuk mencipta. Roh Kudus bergerak di atas permukaan air dan membawanya masuk ke dalam ciptaan yang teratur, sebagaimana dinyatakan dalam enam hari penciptaan ilahi yang nyata.

Dengan cara yang sama, melalui tindakan penciptaan yang serupa dan pernyataan kuasa—kuasa yang supranatural—Roh Kudus akan datang, dan kuasa ilahi akan menaungi engkau. Dan oleh karena kehadiran Roh Kudus itu, yaitu kuasa Allah Yang Mahatinggi, Anak yang kudus itu akan disebut Anak Allah. Engkau akan mengandung seorang Anak oleh kuasa penciptaan Roh Kudus, sementara engkau tetap seorang perawan tanpa keterlibatan seorang laki-laki. Ini adalah tindakan ilahi yang bersifat kreatif, dan Anak itu adalah Anak Allah. Anak itu adalah Anak yang kudus. Sesungguhnya, inkarnasi itu sendiri—penciptaan awal dari Anak Allah yang berinkarnasi—adalah karya Roh Kudus. Karya Roh Kudus. Kelahiran Yesus Kristus adalah tindakan Roh Kudus. Bahkan yang lebih mendasar lagi, pembuahan Kristus, Anak Allah, Allah yang menjadi manusia, di dalam rahim Maria, adalah tindakan penciptaan oleh Roh Kudus. Dan sejak saat itu, Roh Kudus tidak pernah meninggalkan kehidupan itu. Selama sembilan bulan di dalam rahim, dan sepanjang hidup Yesus sampai kenaikan-Nya ke surga, Roh Kudus adalah Pribadi yang senantiasa hadir, sahabat yang tidak terpisahkan dari Pribadi yang berinkarnasi itu, Sang Anak Allah. Dia dilahirkan kudus. Dia dilahirkan kudus.

Lalu kita melihat masa muda Yesus dan bertanya, “Bagaimana dengan 30 tahun antara masa kanak-kanak-Nya, masa bayi-Nya, dan awal pelayanan-Nya? Apa yang terjadi dalam hidup-Nya selama masa itu?” Alkitab memberi kita sedikit gambaran. Kita hanya memiliki satu peristiwa, yaitu ketika Dia berusia dua belas tahun, saat Dia pergi bersama orang tua-Nya ke Bait Allah. Namun, meskipun hanya satu peristiwa, jika kita melihat pasal berikutnya dalam Injil Lukas, kita akan mendapati bahwa bagian itu sebenarnya menggambarkan seluruh periode kehidupan-Nya, seluruh proses pertumbuhan-Nya. Dalam Lukas pasal 2 ayat 40, kita membaca tentang Kristus: “Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan anugerah Allah ada pada-Nya.” Kemudian, di ayat 49, kita melihat bahwa Dia memiliki kesadaran bahwa Allah adalah Bapa-Nya. Pemahaman teologi-Nya sudah jelas di dalam pikiran-Nya, dan Dia tahu bahwa Dia harus berada di rumah Bapa-Nya, mengerjakan urusan Bapa-Nya. Dan di ayat 52 dikatakan, “Yesus makin dewasa dan bertambah hikmat-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.” Meskipun peristiwa ini terjadi pada satu kesempatan, yaitu ketika Dia berusia dua belas tahun, ayat-ayat ini menggambarkan seluruh hidup-Nya, seluruh masa perkembangan dan pertumbuhan-Nya. Perhatikan kata-kata ini: Dia menjadi kuat, bertambah hikmat, kasih karunia ada pada-Nya, pengetahuan-Nya bertambah seiring dengan kesadaran-Nya akan kehendak dan pekerjaan Bapa-Nya, dan Dia menyerahkan diri kepada hal itu. Dia terus bertumbuh dalam hikmat, dalam pertumbuhan jasmani, serta dalam perkenanan di hadapan Allah dan manusia.

Kuasa apakah yang menghasilkan semua pertumbuhan itu? Jika kita kembali ke Perjanjian Lama, kita menemukan jawabannya. Dalam Yesaya pasal 11 terdapat nubuat yang indah tentang kedatangan Mesias. Yesaya menulis dalam pasal 11 ayat 1 bahwa suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai—Isai adalah ayah Daud—dan Mesias, Anak Daud yang jauh di kemudian hari, akan muncul dari garis keturunan Isai; sebuah taruk dari akar-akarnya akan berbuah. Ini adalah nubuat Mesianik. Dan perhatikan apa yang dikatakannya. Tanpa mengaitkannya dengan periode waktu tertentu atau peristiwa tertentu dalam kehidupan Yesus, ini adalah pernyataan yang bersifat definitif tentang diri-Nya: “Roh TUHAN akan tinggal pada-Nya.” Dan jika boleh saya tambahkan secara lengkap apa yang Roh Allah nyatakan melalui Yesaya, yaitu: (Yes 11:2) “Roh hikmat dan pengertian, roh perencanaan dan keperkasaan, roh untuk mengenal dan takut akan TUHAN; ya, kesukaannya ialah takut akan TUHAN.”

Pertumbuhan Yesus—perkembangan-Nya, kekuatan-Nya, hikmat-Nya, pengetahuan-Nya, serta kasih karunia Allah yang ada pada-Nya—merupakan hasil langsung dari fakta bahwa sejak awal pembuahan-Nya dan sepanjang seluruh tahun kehidupan-Nya, Roh TUHAN ada dan tinggal atas diri-Nya. Roh itu berdiam atas-Nya.

Dalam Yesaya pasal 42, dalam nubuat Mesianik lainnya, dikatakan demikian: (Yes 42:1) “Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku pada-Nya.”

Apakah kita memahami bahwa segala bentuk pertumbuhan rohani di dalam diri siapa pun dari kita adalah hasil karya Roh Kudus? Jika demikian, maka kita juga harus memahami bahwa dalam inkarnasi-Nya, Yesus tidak memakai atribut-atribut ilahi-Nya secara independen, melainkan sepenuhnya menyerahkan diri-Nya. Dia menjadi hamba Allah, mengosongkan diri-Nya dari segala hak istimewa itu, turun sepenuhnya menjadi seorang hamba, dan tunduk secara total kepada rencana Bapa—semuanya melalui kuasa Roh Kudus. Segala sesuatu yang terjadi dalam hidup-Nya merupakan hasil dari pekerjaan Roh di dalam Pribadi Allah-manusia itu: pertambahan hikmat, pertambahan pengetahuan, pertambahan kasih karunia, serta semakin dalamnya pemahaman akan rencana Bapa. Semua itu adalah karya Roh hikmat, Roh pengenalan, Roh kekuatan, dan Roh kuasa yang berdiam atas-Nya.

Jadi, sejak saat pembuahan-Nya, melalui kelahiran-Nya, dan sepanjang hidup-Nya, Roh Allah adalah sumber yang membentuk dan menumbuhkan Dia menjadi Pribadi yang telah Allah tetapkan. Dapat dikatakan seperti ini: Roh Kudus sedang membentuk-Nya, karena Dia taat kepada kuasa Roh itu—dengan menanggalkan penggunaan atribut-Nya sendiri dan mengizinkan Roh Kudus membentuk serta menjadikan-Nya sesuai dengan rencana Bapa. Pekerjaan Roh Kudus inilah yang menghasilkan perkembangan dan kedewasaan rohani di dalam diri Yesus, seperti yang kita baca dalam Lukas pasal 2.

Setelah tahun-tahun persiapan itu selesai, peristiwa pertama yang perlu kita perhatikan dalam pelayanan publik-Nya dimulai di Injil Markus pasal 1. Markus pasal 1 mencatat sebuah peristiwa yang sangat penting. Pada ayat 10 dikatakan bahwa ketika Yesus keluar dari air setelah dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, Dia melihat langit terbelah dan Roh turun ke atas-Nya seperti burung merpati. Roh itu bukanlah seekor merpati—tidak ada burung merpati di sana. Tidak masalah jika ada simbol merpati di rumah untuk melambangkan Roh Kudus, tetapi Roh Kudus bukan merpati dan tidak pernah menampakkan diri dalam bentuk merpati. Roh Kudus turun dan hinggap ke atas Yesus dalam suatu bentuk yang dapat dilihat, dengan cara yang lembut, seperti seekor merpati yang turun dari langit dan perlahan-lahan bertengger di bahu seseorang. Itulah maksud gambaran tersebut—sebagai perumpamaan atau metafora. Yang kita lihat di sini adalah Roh Kudus turun dan datang atas diri-Nya.

Roh Kudus sebenarnya sudah menyertai-Nya. Roh Kudus telah hadir sejak pembuahan-Nya. Seluruh perjalanan hidup-Nya berlangsung dan berkembang oleh karena karya pembentukan Roh Kudus di dalam diri-Nya. Namun di sini, Roh Kudus turun ke atas-Nya. Apa makna dari peristiwa ini? Pertama-tama, hal ini menyatakan persetujuan dari surga. Pada ayat 11 dikatakan, “Lalu terdengarlah suara dari surga, "Engkaulah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Mulah Aku berkenan.’” Inilah pengumuman resmi bahwa Yesus ini adalah Anak Allah. Dia adalah Anak Allah.

Pengumuman resmi lainnya muncul pada ayat 15: “Saatnya telah genap.” Masa penantian yang panjang akan kedatangan Mesias kini telah digenapi. “Kerajaan Allah sudah dekat,” karena Sang Raja telah hadir. “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.” Jadi, apa yang kita lihat di sini adalah Roh Kudus meneguhkan keilahian-Nya, Bapa menyatakan keilahian-Nya, dan Yesus diidentifikasi sebagai Mesias yang telah lama dinantikan. Dia adalah Anak Allah. Dia adalah Hamba yang menderita. Dan Dia diurapi secara khusus untuk pelayanan yang spesifik. Dia adalah Yang Diurapi. Sekali lagi, seperti yang dinyatakan: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku untuk memberitakan Injil.” “Roh Tuhan ada pada-Ku, Ia telah mengurapi Aku untuk memberitakan Injil”—itu dari Yesaya 61. “Roh TUHAN ada pada-Ku”—Yesaya 42. “Roh TUHAN ada pada-Ku”—Yesaya 61—“untuk memberitakan Injil.”

Jadi, Yesus memiliki Roh Kudus sebagai penyerta yang tetap, sahabat yang tidak terpisahkan, dan selain itu ada juga suatu pernyataan resmi, peneguhan, serta tanda yang kelihatan bahwa Dia menerima pelayanan dan pengurapan yang khusus. Hal ini dapat kita pahami dari Perjanjian Lama, ketika Daud berdoa, “Janganlah mengambil Roh-Mu yang kudus dari padaku,” seperti yang kita lihat dalam Mazmur 51. Daud tidak sedang berkata, “Jangan ambil Roh Kudus dari hidup rohaniku,” seolah-olah tanpa Roh ia tidak bisa bertahan. Bahkan orang-orang kudus Perjanjian Lama pun disucikan oleh karya Roh Kudus. Yang ia maksud adalah, “Jangan ambil Roh Kudus dariku” dalam pengertian pengurapan—atau panggilan khusus untuk pelayanan yang khusus.

Jadi, Roh Kuduslah yang menaungi tubuh Maria dan melalui mukjizat ilahi menciptakan sebuah embrio di dalam rahimnya. Roh Kudus menyertai perkembangan embrio itu dengan kehadiran-Nya di dalam rahim, pada saat kelahiran, dan sepanjang hidup Yesus, serta menjadi Pribadi yang membentuk-Nya menjadi Mesias yang sempurna, Juruselamat yang sempurna, Hamba Allah yang sempurna, Anak Allah yang dinyatakan—inilah kekudusan yang terealisasi sepenuhnya, kekudusan yang dibentuk di dalam diri Anak yang taat oleh Roh Kudus yang sempurna. Dan kemudian ada pengurapan itu, ketika Roh Kudus mengkhususkan-Nya—di samping karya-Nya yang terus-menerus di dalam diri Yesus—untuk suatu pelayanan tertentu yang harus Dia kerjakan demi dunia.

Peristiwa berikutnya dalam pelayanan Tuhan kita tercatat pada ayat selanjutnya, yaitu Markus pasal 1 ayat 12. Ini adalah hal yang sangat penting. Segera setelah baptisan-Nya, dan setelah Bapa menyatakan bahwa Dia adalah Anak-Nya yang terkasih, Roh Kudus mendorong—kata kerja yang dipakai ini berarti “mendorong dengan kuat”— Roh Kudus mendorong Dia ke padang gurun. Dan ketika Dia berada di padang gurun selama empat puluh hari, Dia dicobai oleh Iblis. Roh Kudus hadir dalam pencobaan-Nya. Bukan hanya hadir, dan bukan pula sekadar datang untuk “membereskan” setelah pencobaan itu terjadi; Roh Kuduslah yang justru mendorong-Nya masuk ke dalam konflik itu. Segala sesuatu yang Yesus lakukan dalam hidup-Nya digerakkan oleh Roh Kudus. Ingat ruach Elohim—kuasa Allah yang dahsyat itu sedang bekerja di dalam diri Yesus Kristus, mendorong-Nya masuk ke dalam konflik dengan Iblis. Dan di akhir konflik itu, seperti yang dikatakan dalam Matius 4:10, Yesus mengusir Iblis; Dia telah mengalahkannya. Roh Kuduslah yang mendorong Yesus masuk ke dalam pertempuran itu. Dalam arti tertentu, Roh Kudus adalah perancang peperangan, Sang ahli strategi yang memetakan medan pertempuran dan mengarahkan Sang Raja Pejuang, Yesus Kristus, ke dalam peperangan yang kudus.

Mengapa Roh Kudus melakukan hal ini? Untuk menunjukkan bahwa Yesus Kristus tidak dapat dikalahkan, untuk menyatakan kemenangan-Nya dalam konflik melawan Iblis. Dan konflik itu tidak berhenti di sana. Sepanjang seluruh pelayanan-Nya, Dia terus berperang melawan kerajaan kegelapan, bukan? Hari demi hari, selama tiga tahun pelayanan-Nya, Dia mengusir setan-setan, dan Dia selalu menang. Ada satu pengertian di mana apa yang Roh Kudus lakukan di sini adalah mendorong Yesus masuk ke dalam konflik dengan Iblis supaya Dia memberikan bukti kuasa-Nya untuk merebut dan menguasai seluruh wilayah musuh. Dan suatu hari kelak, Dia akan sepenuhnya mengambil alih wilayah musuh itu bagi Kerajaan-Nya sendiri—mula-mula dengan mengikat Iblis dengan rantai, dan kemudian melemparkannya untuk selama-lamanya ke dalam lautan api. Roh Kudus secara nyata mendorong-Nya ke dalam konflik agar Dia mengalahkan musuh, menang dengan gemilang, dan merebut wilayah bagi Kerajaan-Nya yang sebelumnya berada di bawah kekuasaan Iblis.

Setelah pencobaan itu selesai, Dia memulai pelayanan-Nya. Bagaimana Dia memulai pelayanan-Nya? Lukas memberitahu kita bahwa Dia memulainya dengan cara yang sama seperti semua yang telah terjadi dalam hidup-Nya sebelumnya. Dalam Lukas 4:14, setelah Iblis menyelesaikan setiap pencobaan yang dapat ia lakukan dan semuanya gagal, segera setelah itu Yesus kembali ke Galilea—dan inilah kuncinya—Ia kembali ke Galilea dalam kuasa Roh. Dalam kuasa Roh itulah—ayat 15—Dia mulai mengajar di rumah-rumah ibadat. Seluruh pelayanan-Nya berlangsung dalam kuasa Roh. Dia diberdayakan oleh Roh Kudus. Kuasa itu dinyatakan dalam kemampuan-Nya melakukan mukjizat, mengusir setan, menyembuhkan penyakit, mengalahkan maut, dan melakukan berbagai mukjizat jasmani. Semua itu adalah kuasa Roh Kudus—sepenuhnya kuasa Roh Kudus.

Kesaksian tentang hal itu disampaikan oleh Petrus. Petrus ada bersama-Nya selama tiga tahun penuh. Dengarkan apa yang Petrus katakan dalam Kisah Para Rasul 10:38—saat Petrus berkhotbah kepada orang-orang non-Yahudi dan berbicara tentang Yesus Kristus—ia berkata, “Tentang Yesus dari Nazaret: Bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuasa.” Perhatikan itu. “Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan dengan kuasa, dan Dia berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia.” Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus, dan itu berarti Allah menyertai Dia, karena Roh Kudus adalah Roh Allah sendiri.

Semua bagian ini mengingatkan kita bahwa hakikat inkarnasi itu adalah pengosongan diri yang begitu total, sehingga Yesus sepenuhnya tunduk kepada Roh Allah, yaitu Roh Kudus, yang membentuk-Nya dalam segala hal menjadi Pribadi yang kudus sesuai dengan rancangan Allah. Apa pun yang Dia lakukan—entah Dia mengajar—Dia mengajar dalam kuasa Pribadi yang Dia sebut Roh Kebenaran; berkali-kali Dia menyebut Roh Kudus sebagai Roh Kebenaran. Atau ketika Dia menyembuhkan, itu dilakukan dalam kuasa Roh Kudus. Ketika Dia mengusir setan, itu dalam kuasa Roh Kudus. Ketika Dia meredakan badai, itu pun dalam kuasa Roh Kudus. Itulah sebabnya, ketika orang-orang Yahudi berkata, “Engkau melakukan semua ini dengan kuasa Iblis,” dalam Matius 12, Yesus menjawab, “Bukan terhadap Aku kamu menghujat, melainkan terhadap Roh Kudus.” Dia adalah Pribadi yang tanpa dosa. Dia adalah Yang Kudus. Dia adalah perwujudan kekudusan yang sempurna. Dia hidup dengan sempurna di dalam Roh. Dia menyatakan seluruh buah Roh. Dia menggunakan seluruh karunia Roh. Semuanya adalah kuasa Roh yang mengalir melalui diri-Nya. Inilah hidup-Nya. Inilah pelayanan-Nya.

Bahkan ketika Dia sampai pada kematian-Nya, jika kita melihat Ibrani pasal 9, saat Dia menghadapi salib dan segala yang menyertainya, ada pernyataan yang luar biasa. Ibrani 9:14 mengatakan bahwa darah Kristus dipersembahkan kepada Allah sebagai korban yang tidak bercacat, tanpa noda. Kristus mempersembahkan darah-Nya sebagai korban yang tak bercela kepada Allah—ayat 14—melalui Roh yang kekal. Bahkan kuasa yang menuntun-Nya melewati pergumulan di taman Getsemani, bahkan kuasa yang memampukan-Nya menanggung salib, adalah kuasa Roh Kudus—kuasa Roh Kudus.

Roh Kuduslah yang memberi-Nya kuasa untuk berkata, “Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu yang jadi.” Roh Kuduslah yang memberi-Nya kuasa untuk berkata, “Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Kuasa Roh Kuduslah yang memampukan-Nya bertahan di sana sampai Dia dapat berkata, “Sudah selesai.” Dan dalam kuasa Roh Kudus pula Dia berkata, “Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan Roh-Ku.”

Lalu bagaimana dengan kebangkitan-Nya? Jika kita kembali ke Roma pasal 1, pada Roma 1 ayat 3 kita diperkenalkan kepada Anak Allah, yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud—Maria adalah keturunan Daud. Tetapi perhatikan ayat 4, Roma 1:4: “dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati .” Siapakah yang membangkitkan-Nya? Roh Kudus. Roh Kuduslah yang membangkitkan-Nya dari antara orang mati.

Dalam 1 Timotius pasal 3 kita menemukan sebuah kidung yang indah di bagian akhir pasal itu—besar kemungkinan sebuah himne gereja mula-mula, dilihat dari strukturnya dalam bahasa Yunani. Kidung ini berbicara tentang rahasia ibadah, yaitu misteri yang luar biasa tentang Allah di dalam Kristus: Allah-manusia, sepenuhnya manusia dan sepenuhnya Allah. Kemudian kidung itu menyoroti kebangkitan-Nya. Ini adalah himne tentang kebangkitan. Dia menyatakan bahwa Dia telah dinyatakan dalam daging dan mengalami kebangkitan secara jasmani. Dan kebangkitan jasmani itu adalah pembenaran di dalam Roh. Sekali lagi, ini menjadi kesaksian bahwa Roh Kuduslah kuasa yang membangkitkan Yesus dari antara orang mati. Itulah kuasa-Nya.

Mungkin ada yang bertanya, “Setelah kebangkitan-Nya, apakah Dia kemudian mengambil alih sepenuhnya? Apakah Dia berkata, ‘Baiklah, Roh Kudus, Engkau sudah melakukan bagian-Mu. Selebihnya Aku bisa tangani sendiri’?” Mari kita lihat Kisah Para Rasul pasal 1. Setelah kebangkitan-Nya, berlalu 40 hari sebelum Dia naik ke surga. Selama 40 hari itu, kita dapat melihat apa yang Dia lakukan, sebagaimana dicatat dalam pasal 1 ayat 3: “Selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah.” Dia memberitakan dan mengajarkan murid-murid-Nya sendiri. Selama 40 hari itu, Dia terus mengajar dan memberitakan. Kembali ke ayat 2 dikatakan: “Sampai pada hari Ia diangkat ke surga. Sebelum itu Ia telah memberi perintah-Nya melalui Roh Kudus kepada rasul-rasul yang dipilih-Nya.” Siapakah kuasa di balik pengajaran selama 40 hari itu? Roh Kudus. Roh Kudus terus memberdayakan-Nya selama 40 hari tersebut. Dia memberi perintah kepada para rasul—yang juga berarti Dia berbicara tentang hal-hal yang berkaitan dengan Kerajaan Allah—dan semuanya itu terjadi oleh kuasa Roh Kudus.

Mungkin Anda belum pernah memandang kehidupan dan pelayanan Kristus dengan cara seperti ini, tetapi sungguh menakjubkan, benar-benar menakjubkan. Dan bayangkanlah hal ini: para murid sudah terbiasa dengan kenyataan itu. Mereka tahu bahwa Yesus mengaitkan semua ini dengan Roh Kudus. Mereka juga tahu bahwa orang-orang Yahudi mengaitkannya dengan Iblis, dan Yesus berkata, “Kamu menghujat Roh Kudus.” Mereka ada di sana, mereka menyaksikannya. Masih ingat ketika dalam percakapan di ruang atas, Yesus berkata kepada mereka, “Ia telah menyertai kamu,” berbicara tentang Roh Kudus—Roh Kebenaran? Dalam Yohanes pasal 14 ayat 17 dikatakan, “Ia telah menyertai kamu,” dan kemudian, “Ia akan tinggal di dalam kamu.” Apakah Anda ingat saat Dia mengatakan itu? Ada sesuatu yang mungkin belum pernah Anda pikirkan. Pernyataan “Ia telah menyertai kamu” adalah pernyataan yang sangat khusus. Dalam cara apa Roh Kudus secara khusus telah menyertai mereka? Di dalam Kristus. “Ia telah menyertai kamu.” Seolah-olah Yesus berkata, “Aku telah menyertai kamu, dan Roh Kudus telah menyertai kamu.” “Ia telah menyertai kamu”—dan itu luar biasa. Mereka telah melihat semuanya, mendengar semuanya. Pengalaman yang sungguh luar biasa. “Ia telah menyertai kamu.” Tetapi Yesus juga berkata, “Ia akan tinggal di dalam kamu.” Itu lebih baik. “Kamu telah melihat Dia di dalam Aku, dan Ia akan ada di dalam kamu.” “Kamu telah melihat kuasa-Nya bekerja di dalam Aku; kuasa yang sama itu akan ada di dalam kamu.”

Buat saya, ini adalah janji yang sungguh luar biasa. Itulah sebabnya dalam Yohanes 16:7 Yesus berkata kepada mereka, “Lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penolong itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.” Seandainya saya berdiri di sana ketika Dia mengatakan hal-hal itu, saya pasti akan dipenuhi oleh harapan yang luar biasa. Dan di sini, dalam Kisah Para Rasul pasal 1, Yesus berkata pada ayat 5, “Tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus.” Dalam beberapa hari saja, hal itu akan terjadi.

Sebelumnya, dalam Yohanes pasal 20, setelah kebangkitan-Nya dan masih dalam rentang empat puluh hari itu, Yesus berkata kepada mereka pada ayat 22, “Terimalah Roh Kudus,” lalu Dia mengembusi mereka—seolah-olah mengatakan bahwa kuasa sedang datang kepada mereka. Bahkan lebih awal lagi, dalam Yohanes pasal 7 ayat 37, Yesus berkata, “Siapa saja yang haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!  Siapa saja yang percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.” Sekali lagi, ini berbicara tentang kuasa, tentang suatu daya. Lalu Yohanes menambahkan penjelasan: “Yang dimaksudkan-Nya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya; sebab Roh itu belum datang, karena Yesus belum dimuliakan.” Artinya sama: “Di dalam dirimu akan ada aliran kuasa yang deras seperti sungai, dan kamu belum menerimanya. Kamu telah melihatnya bekerja di dalam Aku. Aku telah menyertai kamu dan Roh itu telah menyertai kamu. Tetapi ketika Aku dimuliakan, Aku akan mengutus Roh Kudus, dan Dia akan diam di dalam kamu.”

Kembali ke Kisah Para Rasul pasal 1. Apa yang akan terjadi ketika hal itu terjadi? Ayat 8 berkata, “Kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu.” “Kamu akan menerima kuasa.” Apa yang telah kita pelajari dalam Roma pasal 8? “Jika seseorang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus.” Itulah poin yang kita bahas sebelumnya. Jadi, jika Anda adalah orang percaya, Anda memiliki Roh Kudus, bukan? Bukankah itu yang terus kita katakan? Tubuh Anda adalah bait Roh Kudus. Roh Kudus diam di dalam diri Anda. Dan itulah yang terjadi pada hari Pentakosta. Sungguh luar biasa. Peristiwa itu terjadi hanya beberapa hari kemudian. Dalam pasal 2 ayat 1 dikatakan, “Ketika tiba hari Pentakosta, mereka semua berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba terdengarlah bunyi dari langit seperti tiupan angin keras.” Sekarang kita tahu itu siapa, bukan? Ruach Elohim—angin yang keras dan dahsyat—simbol kehadiran Roh Kudus.

Dan bukan hanya itu—bukan hanya ada bunyi seperti angin keras yang bertiup dengan dahsyat, tetapi juga tampak lidah-lidah api kecil seperti menari di atas setiap orang. Itu adalah simbol lain dari daya dan kuasa Roh Kudus. Lalu ayat 4 mengatakan, “Mereka semua dipenuhi dengan Roh Kudus.” Mereka semua dipenuhi oleh Roh Kudus. Janji yang Yesus berikan telah digenapi. Dan sejak hari itu, setiap orang percaya menerima Roh Kudus, dan bersama Roh Kudus itu datanglah kuasa.

Sekarang, mari kita memakai Yesus sebagai teladan kita, karena hal-hal yang sama yang Yesus lihat dikerjakan oleh Roh Allah dalam hidup-Nya adalah hal-hal yang sama yang Roh lakukan dalam hidup kita. Kita mulai dari awal. Roh Kudus memberi hidup kepada Kristus yang menjelma, dan Dia juga memberi hidup kepada kita. “Kamu harus dilahirkan dari Roh.” Dialah yang melakukan kelahiran baru. Roh Kuduslah yang menumbuhkan Yesus dalam hikmat dan pengetahuan, dan Roh Kudus pula yang menumbuhkan kita. Dalam 2 Korintus 3:18 dikatakan bahwa ketika kita memandang kemuliaan Tuhan, ketika kita memandang kemuliaan Kristus, kita diubah dari satu tingkat kemuliaan kepada tingkat kemuliaan yang lain oleh Tuhan, yaitu Roh Kudus. Roh Kuduslah yang menumbuhkan kita. Roh Kuduslah yang mengajar kita; Dialah pengurapan yang berasal dari Allah. Roh Kuduslah yang menumbuhkan kita dalam kasih karunia, hikmat, dan pengetahuan. Dia bukan hanya memberi kita sumber melalui Firman, tetapi Dia juga adalah Guru yang tinggal di dalam kita, yang menerangi pengertian kita. Dialah kuasa pertumbuhan dalam hidup kita.

Roh Kuduslah yang turun atas Yesus pada saat baptisan-Nya, dan menurut 1 Korintus 12, Roh Kudus pula yang menjadi sarana di mana Kristus menempatkan kita ke dalam tubuh Kristus. Pada saat pertobatan, kita dibaptis oleh Roh Kudus ke dalam tubuh Kristus. Dengan demikian, kita menjadi bagian dari tubuh Kristus secara khusus, turut menerima pengurapan yang ada pada-Nya, dan mengambil bagian dalam tanggung jawab-Nya di dunia. Kita adalah Kristus di dunia ini. Dialah Kepala, dan kitalah tubuh-Nya. Dalam pengertian tertentu, gereja adalah seperti inkarnasi kedua Kristus. Kita telah dipisahkan untuk pelayanan khusus di dunia sebagai perwakilan Kristus bagi dunia, melalui baptisan ke dalam Kristus yang dikerjakan oleh Roh Kudus.

Roh Kuduslah—perlu diingat—yang menyediakan jalan kemenangan di tengah konflik melawan Iblis. Roh Kuduslah yang memberi kita kuasa. Kita mengalahkan segala tipu daya dan strategi musuh dengan pedang Roh, yaitu Firman Allah, dan bukan hanya dengan Firman itu sendiri, tetapi juga oleh kuasa Roh yang tinggal di dalam kita. Dialah yang memberi kita kemenangan dalam pencobaan. Dialah yang menolong kita untuk menang. Janji Firman Allah jelas: “Ia yang ada di dalam kamu lebih besar daripada dia yang ada di dalam dunia.”

Ketika Yesus pergi ke salib, Roh Kuduslah yang memberi-Nya kuasa atas rasa sakit dan penderitaan, sehingga Dia sanggup menanggung salib. Dan Roh yang sama itulah yang memberi kita kuasa ketika kita menderita demi salib. Itulah sebabnya Petrus berkata dalam 1 Petrus bahwa jika kamu menderita karena Kristus—perhatikan ini—Roh kasih karunia dan kemuliaan ada atas kamu. Alasan mengapa kita mampu menanggung penderitaan, rasa sakit, dan segala kesulitan hidup yang datang adalah karena Roh Kudus memberi kita kekuatan. Dialah Roh kasih karunia dan kemuliaan yang diam atas kita. Dan ketika Kristus keluar dari kubur, Roh Kuduslah yang membangkitkan-Nya dari kematian; demikian pula dengan kita—dan di situlah kita sampai pada Roma pasal 8.

Roma 8 ayat 11 berkata: “Jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, tinggal di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu.” Apakah Anda melihat itu? “Melalui Roh-Nya yang tinggal di dalam kamu.” Dialah yang memberi Anda hidup, yang menumbuhkan Anda ke dalam keserupaan dengan Kristus, yang membaptis Anda ke dalam tubuh Kristus, yang menyediakan kemenangan ketika Anda menghadapi pencobaan, yang memberi kuasa untuk mengalahkan Iblis, yang memberi kekuatan untuk melewati penderitaan, dan yang suatu hari kelak akan membangkitkan Anda dari kubur dengan tubuh yang tidak dapat binasa.

Sementara itu, ada satu hal lagi yang Dia lakukan, dan itu tercatat dalam Kisah Para Rasul 1:8: “Kamu akan menerima kuasa bilamana Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi”—apa kata berikutnya?—“saksi.” Roh Kudus memberdayakan Kristus untuk memberitakan dan memproklamirkan kebenaran, dan Dia melakukan hal yang sama dengan kita. Dia memberdayakan kita untuk memberitakan Injil. Jika Anda meragukannya, lihatlah Kisah Para Rasul pasal 2 dan perhatikan apa yang terjadi. Di situlah kita melihat hasil akhirnya. Apa tujuan Roh Kudus memberi kita hidup? Apa tujuan-Nya menumbuhkan kita ke dalam keserupaan Kristus, menempatkan kita ke dalam tubuh Kristus, memberi kemenangan atas dosa dan Iblis, serta mematangkan kita melalui kemenangan dan penderitaan? Apa tujuan Roh Kudus dalam semua itu? Tujuannya adalah menjadikan kita saksi-saksi yang efektif, supaya—perhatikan ini—Amanat Agung dapat digenapi. Anda ingat ketika Yesus berkata, “Pergilah ke seluruh dunia dan beritakan Injil kepada semua orang”? Itulah penggenapan janji Perjanjian Lama bahwa Dia akan menjadi terang bagi bangsa-bangsa lain, bahwa Allah—seperti dinyatakan dalam Mazmur 2—akan memberikan kepada-Nya bangsa-bangsa sebagai milik pusaka-Nya.

Pada akhirnya, apa yang Roh Kudus ingin lakukan adalah menjadikan Anda saksi yang penuh kuasa bagi kemuliaan Kristus dan kuasa Injil yang mengubahkan. Dan kita mendapat gambaran awalnya pada hari Pentakosta. Roh Kudus turun, lalu apa yang terjadi? Yang terjadi adalah—ayat 5—ada orang-orang di sana dari setiap bangsa di bawah kolong langit. Orang-orang dari segala bangsa. Ketika bunyi itu terdengar, angin keras yang dahsyat itu, orang banyak berkumpul, dan masing-masing dari mereka mendengar 120 orang percaya itu berbicara dalam bahasa mereka sendiri. Tahukah Anda apa yang hal ini tunjukkan? Bahwa tujuan Roh Kudus melakukan pekerjaan-Nya di dalam Kristus dan di dalam diri Anda adalah untuk menggenapi Amanat Agung, membawa berita keselamatan sampai ke ujung-ujung bumi. Dan gambaran awal dari tujuan itu terlihat tepat pada saat pertama Roh Kudus dicurahkan.

Dan tiba-tiba, orang-orang mulai mendengar: orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea, Kapadokia, Pontus, Asia, Frigia, Pamfilia, Mesir, daerah-daerah Libia di sekitar Kirene, para pendatang dari Roma—baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi—orang Kreta dan orang Arab; mereka semua mendengar dalam bahasa mereka masing-masing tentang perbuatan-perbuatan besar Allah, kisah penebusan yang agung, kisah keselamatan, yang diberitakan oleh kuasa Roh Kudus. Dan di sanalah kita mendapatkan gambaran sekilas tentang penggenapan Amanat Agung.

Ketika Bapa berjanji kepada Sang Anak, “Aku akan memberikan bangsa-bangsa sebagai milik pusaka-Mu,” menurut Anda apakah Dia akan menepati janji itu? Lihatlah kitab Wahyu dan Anda akan mendapat gambaran tentang orang-orang dari setiap bahasa, suku, kaum, dan bangsa yang berkumpul di sekeliling takhta. Dan sarana yang dipakai untuk menggenapi nubuat itu—atau cara Bapa memberikan bangsa-bangsa sebagai warisan kepada Anak-Nya—adalah dengan pekerjaan Roh Kudus melalui orang-orang percaya seperti Anda dan saya. Ini sungguh sesuatu yang mencengangkan. Benar-benar mencengangkan.

Bayangkan betapa pentingnya hal ini. Tanpa banyak disadari, Anda adalah kekuatan terbesar di dunia ini bagi penggenapan rencana Sang Pencipta dan Penebus manusia. Jadi, apa yang Roh Kudus ingin lakukan dalam hidup Anda? Dia ingin membentuk Anda menjadi serupa dengan gambar Kristus. Memang, harus diakui, Dia memiliki jauh lebih sedikit “bahan” untuk dikerjakan dalam diri kita dibandingkan dengan apa yang Dia miliki dalam diri Yesus. Ketika Anda lahir, tidak ada seorang pun yang berkata, “Lihat, lahir lagi seorang yang kudus.” Namun inilah yang Dia rindukan untuk lakukan: membawa Anda dari satu tingkat kemuliaan ke tingkat kemuliaan berikutnya, terus bertumbuh semakin serupa dengan Kristus. Dan suatu hari kelak, Dia akan membangkitkan Anda dan menjadikan Anda sepenuhnya sama seperti Kristus. Sementara itu, Dia terus bekerja—tanpa henti—di dalam diri Anda.

Nah, dengan semua hal itu di dalam pikiran kita, mari kita melihat Roma pasal 8. Sekadar satu komentar: Anda mungkin berkata, “Wah, ini luar biasa. Kalau begitu, saya tinggal santai saja dan membiarkan Roh Kudus melakukan pekerjaan-Nya.” Ya, itu adalah pemikiran lama—let go and let God (lepaskan dan serahkan pada Tuhan). Kalimat itu pernah menjadi sebuah gerakan besar, seperti gerakan Keswick, dengan kehidupan yang lebih dalam, atau kaum Quaker yang bersikap tenang. Tetapi tidak demikian. Lihat ayat 12: dengan semua karya Roh Kudus yang luar biasa ini di dalam diri kita, hai saudara-saudara, kita berada di bawah kewajiban. Anda memiliki kewajiban. Anda memiliki utang—itulah arti kata yang dipakai di sini. Utang kepada siapa? Tentu bukan kepada daging, bukan? Anda tidak berutang apa pun kepada daging. Apa yang pernah daging lakukan bagi Anda? Jika seseorang hidup menurut daging, ia akan mati—itu menggambarkan orang yang tidak percaya. Tetapi Anda tidak memiliki kewajiban apa pun kepada daging. Artinya, sekarang tidak ada lagi alasan. Kuasa daging telah dipatahkan. Daging bukan lagi kekuatan yang mendominasi. Jadi tidak ada alasan lagi.

Kita hidup oleh Roh, dan jika kita hidup oleh Roh, kita sedang mematikan perbuatan-perbuatan tubuh ini. Maka kita akan hidup. Dengan kata lain, kita memiliki hidup yang sejati. Jadi, apa yang dilakukan orang percaya? Mereka mematikan sisa-sisa perbuatan tubuh—itulah yang kita sebut dosa yang masih tersisa. Kita bukan seperti Kristus yang kudus, tak bercela, tak ternoda, terpisah dari orang berdosa, Dia Sang Yang Kudus. Kita masih harus berperang melawan dosa. Namun, sama seperti Tuhan Yesus menang atas Iblis, kita memiliki kuasa dari Roh Kudus yang sama. Roh Kuduslah yang berperang di dalam diri kita. Tetapi kita tidak bisa sekadar “melepaskan diri dan membiarkan Allah bekerja.” Sikap seperti itu tidak ada dalam Perjanjian Baru. Anda tidak akan menemukan konsep penyerahan pasif seperti itu di dalam Alkitab.

Apa yang Alkitab katakan adalah: menaklukkan tubuh dan menundukkannya, supaya kita jangan sampai ditolak. Paulus berkata, “Aku berlari”—aku sedang mengikuti perlombaan; “aku bertinju”—aku berjuang dengan segenap kekuatan. Aku bekerja sampai berkeringat dan kelelahan. Aku berjerih lelah, katanya. Berulang kali ia memakai bahasa seperti itu. Ungkapan di sini, “mematikan perbuatan-perbuatan tubuh,” berarti Anda harus membunuh hal-hal itu. Ini bukan soal hidup yang mengambang tanpa arah. Roh Kudus sedang bekerja dengan cara yang begitu dahsyat, dan tanggung jawab Anda adalah menggunakan seluruh kemampuan yang Anda miliki—di dalam kekuatan-Nya—untuk mematikan dosa yang masih tersisa dalam hidup Anda. Itulah yang dilakukan oleh orang-orang yang hidup. Itulah yang dilakukan oleh orang-orang yang hidup di dalam kuasa Roh.

Bapa, kami bersyukur karena kami boleh merenungkan hal-hal ini—meskipun baru sebagian kecil saja, sangat ringan dibandingkan dengan seluruh kekayaan kebenaran yang terkandung di dalamnya. Namun kami memohon kiranya Engkau menolong umat-Mu ini untuk memahami, mungkin dengan cara yang baru dan segar, realitas pelayanan-Mu yang begitu indah di dalam diri kami sebagai orang percaya. Kiranya kami semakin mengasihi Engkau, semakin konsisten mengucap syukur kepada-Mu, dan terus memohon kasih karunia, kepenuhan, serta kuasa-Mu. Kiranya kami, seperti Kristus, menyatakan buah Roh dalam hidup kami. Kiranya kami, seperti Kristus, menggunakan karunia-karunia Roh yang telah Engkau berikan kepada kami. Dan kiranya kami setia kepada panggilan yang Engkau berikan kepada kami, sama seperti Dia setia kepada panggilan yang Engkau berikan kepada-Nya melalui Roh-Mu.

Ya Roh Kudus, kami memohon agar hidup kami memuliakan Sang Anak. Itulah kerinduan-Mu ketika Engkau membentuk kami menjadi serupa dengan gambar-Nya, ketika Engkau menyatakan Kristus kepada kami dan kami memandang kemuliaan-Nya. Kiranya kami semakin hari semakin menyerupai Dia, sehingga dunia dapat melihat Dia nyata melalui hidup kami dan tertarik kepada-Nya.

Terima kasih untuk seluruh pekerjaan yang Engkau lakukan di dalam diri kami. Kami sungguh tidak layak menerimanya, namun kami sangat bersyukur. Kiranya kami setia untuk mematikan dosa yang masih tersisa di dalam diri kami, supaya kami dapat menjadi segala sesuatu yang berkenan kepada-Mu, kepada Sang Anak, dan kepada Bapa. Amin.

SELESAI

This sermon series includes the following messages:

Please contact the publisher to obtain copies of this resource.

Publisher Information
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969

Welcome!

Enter your email address and we will send you instructions on how to reset your password.

Back to Log In

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize
View Wishlist

Cart

Cart is empty.

Subject to Import Tax

Please be aware that these items are sent out from our office in the UK. Since the UK is now no longer a member of the EU, you may be charged an import tax on this item by the customs authorities in your country of residence, which is beyond our control.

Because we don’t want you to incur expenditure for which you are not prepared, could you please confirm whether you are willing to pay this charge, if necessary?

ECFA Accredited
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Back to Cart

Checkout as:

Not ? Log out

Log in to speed up the checkout process.

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize