Untuk pagi ini, kita kembali membuka Alkitab kita ke pasal 8 dari kitab Roma, selagi kita melanjutkan pembahasan tentang pelayanan Roh Kudus. Saya pribadi sangat diberkati dan dikuatkan ketika mempelajari Roh Kudus dan pelayanan-Nya dalam kehidupan orang percaya. Saya juga sangat bersyukur atas respons yang saya terima dari saudara-saudara sekalian—banyak kesaksian pribadi dari orang-orang yang sebelumnya berasal dari gereja-gereja di mana Roh Kudus dihina, di mana Roh Kudus dihujat, dan di mana pribadi serta pelayanan Roh Kudus disalahpahami. Karena itu, sungguh mengharukan mendengar komentar-komentar yang menyegarkan, menghibur, dan menguatkan dari mereka yang mulai memahami kebenaran tentang pelayanan-Nya, dan akhirnya dapat menyembah Dia sebagaimana seharusnya—menyembah Dia sesuai dengan siapa Dia adanya.
Dan saya sendiri sangat menikmati keistimewaan yang saya punya untuk kembali mengambil buku-buku dari rak saya—buku-buku yang selama bertahun-tahun saya simpan tentang pribadi Roh Kudus dan doktrin mengenai Roh Kudus—lalu membacanya kembali satu per satu. Saya menelaah cukup banyak buku, murni untuk bacaan pribadi, untuk memperkaya pikiran dan hati saya, sekaligus menata ulang pemahaman dan teologi yang sehat dan alkitabiah tentang Roh Kudus dalam benak saya. Hal ini sungguh menyegarkan bagi saya dan menolong saya untuk kembali memberi hormat dan penyembahan saya kepada Roh Kudus. Saya mendapati diri saya melakukannya secara teratur, bahkan sepanjang hari—mengucap syukur kepada Roh Kudus atas semua yang Dia kerjakan dalam hidup saya. Namun di sisi lain, melihat bagaimana Roh Kudus sering kali disalahpahami dan disalahrepresentasikan dalam gereja Kristen masa kini sama mengecewakannya, sebagaimana kebenaran tentang Dia sendiri itu begitu menguatkan dan menggembirakan.
Beberapa hari yang lalu saya sempat melakukan semacam pencarian singkat tentang hal-hal yang saat ini sering dikaitkan dengan Roh Kudus dalam gerakan Karismatik—dan bahkan mungkin meluas sedikit ke luar dari itu. Lalu saya menyusun daftar tentang hal-hal yang disebut-sebut sebagai pelayanan Roh Kudus, yang diklaim sebagai karya Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya. Daftarnya kira-kira seperti ini: menjatuhkan orang sampai ke lantai, membuat orang terkikik dan tertawa tanpa bisa mengendalikan diri, membuat orang merasa seperti tersetrum listrik atau seolah-olah suhu tubuhnya meningkat, menyebabkan orang jatuh ke dalam kondisi seperti hipnosis dan kadang-kadang ke dalam keadaan trance yang berlangsung selama berjam-jam. Lalu ada juga yang disebut kejang-kejang Roh Kudus dan cegukan Roh Kudus.
Ada juga yang mengatakan bahwa ketika Roh Kudus datang atas seseorang, orang itu akan bertingkah seperti orang mabuk: berjalan terhuyung-huyung, sempoyongan, tersandung, bahkan bisa jatuh ke lantai dalam keadaan setengah sadar. Roh Kudus juga dikatakan dapat membuat seseorang gemetar dan bergetar, bahkan mengalami kelumpuhan sementara. Jika Roh Kudus datang atas seseorang, konon Dia dapat membuat orang itu berbicara hal-hal yang tidak masuk akal, kata-kata omong kosong. Dia bahkan bisa membuat seseorang mengeluarkan suara-suara binatang, seperti ayam, bebek, atau anjing. Roh Kudus juga disebut dapat membuat seseorang meronta-ronta, merobek, dan mencabik-cabik pakaiannya. Roh Kudus dikatakan dapat membuat seseorang melayang, terangkat sekitar tiga meter ke udara dan bergerak melintasi ruangan. Dan dalam satu kasus, sepatu orang itu justru terlempar ke arah yang berlawanan. Roh Kudus juga dikatakan dapat memberi kuasa dan dorongan kepada seorang penyembuh untuk memukul seseorang sekuat tenaga di bagian perut demi kesembuhan, atau mungkin memukul rahangnya, bahkan memukul wajahnya—tergantung bagian mana yang perlu disembuhkan. Lalu ada juga yang disebut “tamparan Roh Kudus”, yang dianggap sedikit kurang dramatis dan tidak terlalu menyakitkan. Ada pula lompatan Roh Kudus dan tarian Roh Kudus.
Dan omong-omong, Roh Kudus yang katanya melakukan semua hal ini bisa menjadi milik Anda—asal Anda mengirimkan uang kepada para penginjil itu. Hal ini mengingatkan saya pada pasal 8 dari kitab Kisah Para Rasul, ketika Simon si tukang sihir datang dan menawarkan uang kepada para rasul. Ketika ia melihat bahwa Roh Kudus diberikan melalui penumpangan tangan para rasul, ia menawarkan uang kepada mereka sambil berkata, “Berikanlah juga kepadaku kuasa itu, supaya jika aku menumpangkan tanganku di atas seseorang, ia boleh menerima Roh Kudus.” Tetapi Petrus berkata kepadanya, “Binasalah kiranya uangmu itu bersama dengan engkau, karena engkau menyangka bahwa engkau dapat membeli karunia Allah dengan uang.” Tidak ada satu pun yang bisa kita beli dari Allah—terlebih lagi kuasa Roh Kudus—meskipun hal seperti itulah yang sangat sering dijanjikan.
Semua hal seperti ini—dan masih banyak lagi—sering sekali dikaitkan dengan Roh Kudus. Padahal semuanya itu bersifat menghina, mendukakan, dan menghujat. Tidak satu pun dari hal-hal tersebut ada kaitannya dengan Roh Kudus, dalam bentuk atau cara apa pun. Semua itu justru merupakan kebalikan total dari penyembahan yang seharusnya Dia terima. Ini bukan persoalan sepele, bukan sesuatu yang bisa ditoleransi—ini sama sekali tidak dapat diterima. Ini adalah kebalikan yang mutlak dari penyembahan yang sejati. Saya pikir, kadang-kadang orang memandang Roh Kudus seolah-olah Dia hanya sedikit lebih “tinggi” daripada Casper si hantu baik hati—seperti sesuatu yang bisa dipermainkan. Padahal kita seharusnya memandang Roh Kudus sebagai Allah yang sepenuhnya dan dalam setiap pengertian adalah Allah yang kekal, Pribadi ketiga dari Tritunggal, yang layak untuk dikasihi, dipuja, dihormati, dan disembah karena siapa Dia adanya serta apa yang benar-benar telah dan sedang Dia kerjakan. Dia adalah Allah, bukan untuk diabaikan dan bukan untuk disalahrepresentasikan, melainkan untuk disembah.
Ironisnya, justru Roh Kuduslah Pribadi Allah yang paling intim terlibat dalam kehidupan orang percaya. Seperti yang telah kita pelajari, Roh Kuduslah yang memberikan kita hidup yang baru. Roh Kuduslah yang melahirbarukan kita. Roh Kuduslah yang mengangkat kita menjadi anak dan memasukkan kita ke dalam keluarga Allah. Roh Kuduslah yang kemudian menguduskan kita. Roh Kuduslah yang, dari dalam diri kita, memberi kita kuasa melalui kepenuhan-Nya. Roh Kuduslah yang menempatkan kita—melalui baptisan rohani—ke dalam tubuh Kristus. Roh Kuduslah yang menerangi pikiran kita dan mengajarkan Firman Tuhan kepada kita, Firman yang Dia sendiri adalah penulisnya. Roh Kuduslah yang suatu hari kelak akan memuliakan kita, membangkitkan tubuh kita kepada hidup yang kekal. Semua pelayanan ini adalah pelayanan Roh Kudus. Sepanjang hidup kita sebagai orang percaya, Dia terus bekerja membentuk kita agar serupa dengan standar kekudusan, yaitu gambar Tuhan Yesus Kristus sendiri. Dia melakukannya secara terus-menerus, membawa kita dari satu tingkat kemuliaan ke tingkat kemuliaan berikutnya, sampai pada hari ketika Dia menyempurnakan kita di surga. Inilah pelayanan Roh Kudus. Bukan pelayanan yang bersifat main-main atau konyol, melainkan pelayanan kekudusan—perbedaannya sangat besar.
Nah, saya ingin saudara tahu gambaran besar tentang pelayanan Roh Kudus. Karena itu, mari kita lihat Efesus pasal 1. Bagian ini, menurut saya, akan menolong kita untuk memahami secara lebih terfokus apa sebenarnya isi dari seluruh rencana penebusan Allah. Apa yang sedang Allah kerjakan di dunia ini? Apa yang hendak Dia capai? Apakah rencana-Nya?
Hal ini dinyatakan dengan jelas dalam Efesus 1:3–4. Bagian ini merupakan suatu doksologi, suatu ungkapan pujian kepada Allah. “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus”—Allah yang dalam Perjanjian Baru tidak lagi dikenal terutama sebagai Allah Abraham, Ishak, dan Yakub, melainkan dikenal sebagai Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus. Artinya, Dia setara dalam natur, setara dalam hakekat, satu adanya dengan Tuhan Yesus Kristus. Dia telah memberkati kita dengan segala berkat rohani di dalam sorga, di dalam Kristus. Dia telah memberkati kita dengan setiap berkat rohani di dalam sorga—sekarang dan juga di masa yang akan datang—dalam arti yang penuh dan sempurna. Untuk tujuan apa? Apa maksud Allah? Apa alasan-Nya? Mengapa Dia melakukan semua ini? Jawabannya ada pada ayat 4: “Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.”
Pernyataan ini adalah sebuah pernyataan yang sangat menyeluruh, yang membawa kita dari kekekalan masa lalu sampai kekekalan masa depan. Pernyataan ini dimulai sebelum waktu ada dan berakhir setelah waktu selesai. Ini adalah pernyataan tentang pemilihan dan pemuliaan. Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan dengan tujuan supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dan hal itu akan terwujud sepenuhnya di surga, ketika kita melihat Dia muka dengan muka. Bapa memberikan kepada kita segala berkat dengan tujuan menghasilkan di dalam diri kita kekudusan dan ketidakbercelaan—atau kebenaran, bahkan kesempurnaan—sehingga kita dapat berdiri di hadapan-Nya tanpa binasa. Sebab seperti yang dikatakan Perjanjian Lama, “Tidak seorang pun dapat melihat Aku dan tetap hidup.”
Tidak seorang pun dapat memandang kemuliaan Allah. Musa hanya dapat melihat sebagian kecil dari kemuliaan Allah yang terselubung. Ketika Yehezkiel melihat sedikit saja dari kemuliaan Allah, ia jatuh dalam keadaan seperti setengah tidak sadar. Hal yang sama terjadi pada Yesaya—ia bahkan mengutuki dirinya sendiri. Hal yang sama juga dialami rasul Paulus ketika Kristus yang dimuliakan menampakkan diri kepadanya di jalan menuju Damsyik: ia jatuh ke tanah dan menjadi buta. Demikian pula dengan Yohanes dalam pasal pertama kitab Wahyu, ketika ia hampir mati karena terguncang hebat setelah mendapat penglihatan tentang kemuliaan Kristus. Kemuliaan itu adalah kemuliaan yang tidak dapat dipandang oleh manusia yang belum disempurnakan. Namun janji Allah adalah bahwa Dia sedang mengumpulkan umat manusia yang telah ditebus, yang akan menjadi kudus dan tak bercacat dalam ukuran dan kesempurnaan sedemikian rupa, sehingga mereka benar-benar dapat berdiri di hadapan-Nya, di dalam hadirat-Nya. Inilah rencana-Nya.
Sementara itu, di antara pemilihan dan pemuliaan, Roh Allah sedang bekerja membentuk umat Allah yang telah dibenarkan untuk dikuduskan—dengan kata lain, menjadikan mereka semakin kudus, semakin benar, dan semakin serupa dengan Kristus. Ingat, Kristus adalah gambaran yang sepenuhnya dan sempurna dari manusia yang sempurna. Dialah teladannya. Kita sedang dibentuk agar serupa dengan gambar-Nya.
Lalu, apakah tujuan Allah? Tujuan Allah adalah kekudusan. Tujuan Allah adalah ketidakbercelaan. Tujuan Allah adalah kebenaran yang sempurna dan mutlak, yang memungkinkan kita berdiri di hadapan-Nya. Inilah rencana penebusan yang dimulai oleh Allah, untuk menghasilkan suatu umat yang akan bersama-sama dengan Dia dalam kemuliaan untuk selama-lamanya, melayani Dia dan memuliakan Dia. Rencana ini dimulai oleh Allah, dinyatakan melalui Kristus, kemudian diteguhkan oleh Kristus di kayu salib, dan seluruhnya diterapkan oleh Roh Kudus. Roh Kuduslah yang memberikan kita hidup. Roh Kuduslah yang akan membawa kita kepada kemuliaan. Dan Roh Kuduslah yang menguduskan kita.
Jadi, Roh Kudus sedang bekerja di dalam diri kita, seperti yang kita lihat dalam 2 Korintus 3:18, membawa kita dari satu tingkat kemuliaan ke tingkat kemuliaan berikutnya, ketika kita memandang kemuliaan Kristus. Dialah teladannya, Dialah gambar yang sempurna. Yesus berkata bahwa Roh Kudus akan datang dan memberitahukan kepada kita hal-hal yang berkaitan dengan Kristus, dan ketika kita memandang Kristus, Roh Kudus mengubah kita menjadi serupa dengan gambar-Nya. Dan suatu hari kelak, seperti yang kita baca dalam Roma 8—dan saudara bisa membukanya sekarang—suatu hari kelak, kita yang telah ditentukan dari semula, dipanggil, dan dibenarkan—seperti dikatakan ayat 30—akan dimuliakan. Seperti apakah pemuliaan itu? Jawabannya ada pada ayat 29: “Kita juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambar Anak-Nya.”
Inilah karya Allah dalam penebusan: menciptakan umat manusia yang telah ditebus agar menyerupai Anak-Nya—jadi ada keserupaan keluarga. Dan pada pertemuan yang lalu kita telah belajar, bukan, bahwa Allah telah mengangkat kita menjadi anak-anak-Nya di dalam keluarga-Nya, sehingga kita memiliki seluruh hak sebagai ahli waris. Namun bukan hanya itu, Dia juga telah melahirbarukan kita, sehingga kita bukan hanya anak angkat, melainkan anak yang dilahirkan.
Sebagai anak angkat, kita memiliki hak; sebagai anak yang dilahirkan, kita memiliki natur. Kita telah menjadi peserta dalam kodrat ilahi. Dan sekarang Roh Kudus sedang membentuk kita, membaharui kita, agar memiliki keserupaan keluarga itu—membuat kita semakin serupa dengan Saudara kita, Yesus Kristus. Inilah pekerjaan Roh Kudus. Karena itu, Roh Kudus tidak tertarik pada hal-hal yang konyol atau remeh; Dia tertarik pada kekudusan. Dia tertarik pada kehidupan yang semakin serupa dengan Kristus.
Nah, dalam Roma pasal 8, kita telah melihat beberapa unsur dari karya ini. Roh Kudus membebaskan kita dari dosa dan maut—hal itu kita lihat dalam ayat 2 dan 3. Roh Kudus memampukan kita untuk memenuhi tuntutan hukum Taurat, ayat 4. Roh Kudus mengubah natur kita, ayat 5 sampai 11. Roh Kudus memberi kita kuasa untuk menang atas dosa, ayat 12 dan 13. Dan kemudian, pada pembahasan yang lalu, kita melihat bahwa Roh Kudus mengangkat kita menjadi anak-anak Allah, sebagai anak-anak-Nya, dalam ayat 14 sampai 16. Semua ini adalah pelayanan Roh Kudus, dan karena itulah kita patut memberikan pujian dan ucapan syukur kepada-Nya.
Sekarang kita sampai pada poin yang terakhir: Roh Kudus menjamin kemuliaan kekal kita. Roh Kudus menjamin kemuliaan kekal kita. Dan hal itu dibahas dalam ayat 17 sampai 30, yang telah saya bacakan bagi saudara sebelumnya. Lalu ayat 31 sampai 39, menurut penilaian saya, merupakan rangkuman penutup yang paling agung dan puncaknya tentang kemuliaan keselamatan di seluruh Alkitab. Bagian itu adalah respons terhadap karya besar Roh Kudus. Kita akan melihatnya mulai ayat 31. Namun sekarang, dari ayat 17 sampai 30, selama beberapa minggu ke depan kita akan mempelajari bagaimana Roh Kudus menjamin kemuliaan kekal kita. Saudara akan melihat dalam teks yang tadi kita baca—khususnya ayat 23—bahwa Roh Kudus disebut sebagai “buah sulung”, yaitu buah sulung dari Roh. Ini adalah konsep yang sangat penting. Seorang petani selalu tahu seperti apa hasil panennya ketika buah sulung mulai muncul. Buah yang pertama itu menjadi tanda seperti apa buah-buah yang akan menyusul. Demikian juga, Roh Kudus diberikan kepada kita, dan seluruh kemuliaan-Nya serta semua berkat yang Dia bawa hanyalah buah sulung—hanya sebuah jaminan, hanya sebuah cicipan, hanya sebuah kepastian—dari semua hal lain yang telah Allah sediakan bagi mereka yang mengasihi Dia.
Roh Kudus juga disebut sebagai jaminan, arrabōn. Kata ini dipakai untuk cincin pertunangan, uang muka, atau jaminan. Roh Kudus adalah cincin pertunangan yang membuktikan bahwa pernikahan itu pasti akan terlaksana. Roh Kudus adalah uang mukanya; Allah akan melunasi sisanya ketika kita masuk ke dalam kemuliaan. Dia adalah jaminan. Roh Kudus juga disebut sebagai meterai. Meterai ini adalah cap Allah yang menyatakan keaslian, otoritas, dan kepemilikan. Itulah meterai Roh Kudus. Kita dimeteraikan oleh Roh, kita memiliki jaminan dari Roh, dan kita memiliki buah sulung dari Roh.
Dalam 2 Korintus 1:21–22 dikatakan, “Dia yang telah meneguhkan kami bersama-sama dengan kamu di dalam Kristus, adalah Allah yang telah mengurapi memeteraikan tanda milik-Nya atas kita dan yang memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan.” Di dalam satu bagian ini kita melihat sekaligus konsep meterai dan jaminan. Jadi, Roh Kudus tinggal di dalam diri kita untuk memeteraikan kita, menjadi uang muka, menjadi jaminan atas kemuliaan kekal yang akan kita terima kelak. Inilah pelayanan Roh Kudus bagi kita.
Nah, sebagai rangkuman dari semua yang telah kita bahas adalah kebebasan yang kita miliki dari kuasa dosa dalam hidup kita, kuasa untuk melakukan yang benar, kerinduan untuk memikirkan hal-hal yang berasal dari Roh, kekuatan untuk mengalahkan kedagingan, sukacita serta keyakinan yang teguh sebagai anak-anak Allah—semua ini adalah pekerjaan Roh Kudus dalam kelahiran baru dan pengudusan. Dan semua itu sekaligus menjadi jaminan atas karya pemuliaan yang akan datang. Filipi 1:6 berkata, “Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.” Pekerjaan itu baru dimulai dan pasti akan diselesaikan. Itulah sebabnya Paulus membuka pasal ini dengan berkata, “Sebab itu, sekarang sama sekali tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.” Kita diyakinkan bahwa tidak ada penghukuman; kita dijamin dan diamankan dari segala penghukuman di masa depan oleh janji Allah dan oleh karya Roh Kudus.
Jadi, Roh Kudus tinggal di dalam diri kita untuk menjaga dan memelihara kita sepanjang hidup ini sampai akhirnya, lalu membawa roh kita ke dalam hadirat Allah, dan pada suatu hari akan membangkitkan tubuh kita untuk dipersatukan kembali dengan roh itu, sehingga untuk selama-lamanya kita akan berdiri di dalam kemuliaan hadirat Allah yang penuh dan menyala-nyala di surga yang tertinggi, melayani Dia dan menyembah Dia di sana. Kita sedang berada di jalan menuju kemuliaan, dan Roh Kudus adalah Penjaga kita dalam proses itu.
Dan saya pernah katakan hal ini sebelumnya: jika ada kemungkinan sedikit pun untuk kehilangan keselamatan, saya pasti akan kehilangannya. Jika ada kemungkinan untuk menggugurkan diri saya sendiri dari keselamatan, saya pasti akan gugur. Saya tidak bisa menyelamatkan diri saya sendiri dan saya juga tidak bisa mempertahankan keselamatan saya sendiri. Saya tidak cukup benar untuk menyelamatkan diri saya—dan Anda pun demikian—dan saya juga tidak cukup benar untuk menjaga diri saya tetap selamat. Allah harus menyelamatkan saya oleh kasih karunia; dan Dia juga harus memelihara saya oleh kasih karunia. Dia harus menyelamatkan saya oleh kuasa-Nya, yaitu kuasa Roh Kudus dalam kelahiran baru; dan Ia juga harus memelihara saya oleh kuasa-Nya, yaitu kuasa perlindungan Roh Kudus, sampai akhir. Dan itulah janji Allah.
Kita sedang menuju kepada kemuliaan, saudara-saudara yang terkasih. Dan itu berarti kita akan menjadi serupa dengan Manusia yang sempurna, yaitu Yesus Kristus. Dalam 1 Yohanes 3:2 dikatakan, “Kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.” Dalam Filipi 3:20–21 dikatakan bahwa “kita akan memiliki tubuh yang serupa dengan tubuh kemuliaan-Nya.” Kita telah dipilih sebelum dunia dijadikan untuk menjadi kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya, dan tidak seorang pun akan hilang dalam proses itu. Yohanes 6 berkata, “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan tidak seorang pun dari mereka akan Kubuang.” “Aku tidak akan kehilangan seorang pun dari mereka, melainkan akan membangkitkan mereka semua pada hari terakhir oleh kuasa Roh Kudus,” seperti yang dikatakan Roma 8:11. Roh yang telah membangkitkan Kristus dari antara orang mati itulah juga yang akan membangkitkan kita dari antara orang mati.
Lalu, apa sebenarnya tujuan dari keselamatan? Tujuannya adalah supaya kita dibawa masuk ke dalam hadirat Allah, berdiri di hadapan-Nya, dan melihat kepenuhan kemuliaan-Nya yang memancar dari takhta-Nya di Yerusalem yang baru, di pusat langit yang baru dan bumi yang baru, dan tinggal bersama-Nya untuk selama-lamanya—bersama-Nya untuk selama-lamanya. Ketika manusia datang ke dunia ini, ia tidak memiliki kemuliaan. Seperti yang dikatakan Paulus dalam kitab Roma, kita telah kehilangan kemuliaan Allah—kita jauh sekali dari kemuliaan Allah itu. Kita tidak mampu mencapainya. Kita tidak memiliki kemuliaan. Gambar Allah yang kita bawa sejak penciptaan semula hanyalah bayangan yang sangat pudar, yang telah rusak dan tercemar dengan parah. Namun di dalam Kristus, kita dapat memiliki kemuliaan. Di dalam Kristus, kita dapat menjadi mulia. Di dalam Kristus, kita sungguh-sungguh mengambil bagian dalam kemuliaan Allah sendiri. Dalam Perjanjian Lama Allah berkata, “Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain”—bukan kepada berhala, bukan kepada allah palsu yang lain. Tetapi Ia bersedia membagikan kemuliaan-Nya kepada umat-Nya.
Paulus berkata bahwa kita hidup di dalam pengharapan akan kemuliaan. Kristus di dalam kamu adalah pengharapan akan kemuliaan. Saat ini kita belum mulia sepenuhnya, meskipun kita sudah mencicipi kemuliaan itu. Kemuliaan itu telah masuk ke dalam diri kita—Roh Kudus tinggal di dalam kita—namun kemuliaan itu belum dinyatakan secara nyata. Itulah sebabnya Roma 8, yang tadi saya bacakan, mengatakan bahwa dunia ini belum melihat penyataan yang mulia dari anak-anak Allah. Untuk sementara ini, kita masih terselubung. Kita tertutup. Orang-orang dapat melihat kita berjalan di jalan, tetapi mereka tidak melihat kemuliaan itu. Namun suatu hari nanti, kita akan dimuliakan sepenuhnya dan kita akan menjadi serupa dengan Kristus. Itulah tujuan keselamatan, seperti yang saya jelaskan pada akhir ayat 30. Mereka yang telah ditentukan dari semula itulah yang juga akan dimuliakan.
Jadi, Roh Kudus telah berdiam di dalam diri kita untuk menjaga dan memastikan keselamatan kita sepanjang proses pengudusan sampai nanti kita tiba pada kemuliaan. Dialah meterai, jaminan, cincin pertunangan, uang muka, dan buah sulung dari kemuliaan yang akan kita terima kelak. Semua ini didasarkan pada kenyataan bahwa kita telah dijadikan anak-anak Allah, sehingga kemuliaan yang suatu hari nanti akan menjadi milik kita diberikan kepada kita sebagai warisan dari Bapa. Kita telah diangkat ke dalam keluarga Allah, kita juga telah dilahirkan ke dalam keluarga Allah. Kita adalah anak-anak-Nya dalam kedua pengertian itu, dan kita menjadi anak-anak-Nya supaya kita dapat menerima kemuliaan. Kita adalah anak-anak Allah dengan hak penuh untuk mengambil bagian dalam segala yang dimiliki Allah. Ini adalah suatu kenyataan yang sungguh agung.
Sekarang, mari kita melihat ayat 17 dan 18. Hari ini kita hanya akan membahas dua ayat ini saja; bagian selebihnya akan kita lanjutkan setelah Natal. Saya ingin menguraikannya sedikit demi sedikit. Di sini kita sedang berbicara tentang warisan. Ayat 17 berkata: “Jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” Lalu ayat 18 melanjutkan: “Sebab aku yakin bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.” Jadi, ayat 18 ditutup dengan pembicaraan tentang kemuliaan yang tak terbandingkan—kemuliaan yang sama sekali tidak ada bandingannya. Dan kita juga tahu bahwa kemuliaan itu, yang kelak akan kita miliki bersama Dia, adalah warisan kita. Kita adalah ahli waris Allah, ahli waris bersama-sama dengan Kristus, dan apa yang kita warisi adalah kemuliaan. Itulah warisan kita.
Nah, mari kita lihat dan uraikan bagian yang sederhana ini sedikit demi sedikit, dan kita berbicara tentang fakta dari warisan kita—fakta dari warisan kita. Ini adalah sebuah janji bagi Anda. Ayat 17 berkata, “Jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris.” Di sini ada sebuah partikel kecil pada kata “jika”. Dalam bahasa Yunani, ini adalah sebuah konstruksi tertentu. Ketika partikel ini digunakan, yang dimaksud bukanlah suatu kondisi yang belum pasti, melainkan apa yang disebut kondisi yang telah terpenuhi. Dan kondisi yang telah terpenuhi bukanlah “jika”, melainkan “karena” atau “sebab”. Jadi, ayat ini seharusnya dibaca seperti ini: “Dan karena kita adalah anak…”—itu adalah kondisi yang sudah pasti. Bagaimana kita tahu bahwa ini sudah pasti? Karena hal itu baru saja dijelaskan dalam ayat 14, 15, dan 16. Kita adalah anak-anak Allah—ayat 16 ditutup dengan pernyataan bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dan ayat 14 juga diakhiri dengan kalimat, “bahwa kita adalah anak-anak Allah.”
Kita telah diangkat menjadi anak-anak Allah. Kita memiliki hak penuh untuk berseru, “Abba, Bapa.” Dan karena kita adalah anak—dan itu adalah suatu kenyataan, suatu kondisi yang sudah terpenuhi—maka kita adalah ahli waris. Kita adalah ahli waris. Galatia 3:26 berkata, “Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah melalui iman di dalam Yesus Kristus.” Kita bukan menjadi anak Allah karena dilahirkan ke dalam dunia ini. Kita menjadi anak Allah, dan sekaligus ahli waris, oleh iman kepada Kristus Yesus. Jadi, jika kita adalah anak dan anak-anak Allah, maka kita adalah ahli waris. Kita adalah ahli waris juga.
Nah, ingatlah hukum adopsi dalam budaya Romawi. Seorang anak angkat tidak dipandang lebih rendah dibandingkan anak yang lahir secara alami dalam sebuah keluarga. Bahkan, sering kali anak angkat dipilih justru karena orang tua menginginkan anak yang dianggap lebih unggul daripada anak-anak yang sudah mereka miliki. Jadi, ketika seseorang memutuskan untuk mengangkat seorang anak, itu dilakukan dengan sengaja—dengan pertimbangan matang—demi masa depan dan kesejahteraan keluarga tersebut. Anak itu akan memiliki seluruh hak warisan yang sama persis dengan anak-anak yang lahir secara alami dalam keluarga itu. Faktanya, anak angkat itu setidaknya setara, dan dalam banyak kasus bahkan dipandang lebih unggul dibandingkan anak-anak yang lain.
Dalam tradisi Yahudi, warisan diberikan dengan porsi ganda kepada anak sulung. Jika ada dua anak laki-laki, anak sulung menerima dua pertiga, sedangkan yang bungsu menerima sepertiga. Anak sulung memang mendapatkan bagian warisan dua kali lipat. Namun hal ini tidak berlaku dalam hukum Romawi. Tidak ada catatan dalam sejarah Romawi yang menunjukkan praktik seperti itu. Yang kita temukan dalam hukum Romawi justru sebaliknya: semua anak laki-laki menerima warisan yang sama. Ada kesetaraan penuh dalam pembagian warisan menurut sistem Romawi, dan hal itu juga berlaku bagi anak-anak angkat. Itulah ketentuannya. Apakah hukum itu selalu diterapkan dalam praktiknya tentu bisa diperdebatkan, tetapi itulah prinsip hukumnya.
Jadi, Paulus menggunakan kebiasaan Romawi dalam analoginya di sini. Yang ia sampaikan adalah bahwa menurut hukum Romawi, semua yang berstatus sebagai anak adalah ahli waris yang setara. Dalam analogi hukum Romawi ini, semua anak Allah adalah ahli waris yang sama—semuanya setara sebagai ahli waris. “Jika anak”—atau lebih tepatnya, “karena kita adalah anak”—maka kita juga adalah ahli waris. Dan perlu diingat, menurut hukum Romawi, sesuatu yang diterima melalui warisan jauh lebih aman daripada sesuatu yang dimiliki melalui pembelian. Apa pun yang diperoleh lewat warisan adalah kepemilikan yang paling terjamin yang mungkin dimiliki seseorang. Itulah yang sedang dikatakan Paulus. Kita, sebagai anak-anak Allah, menerima warisan yang sama dan warisan itu jauh lebih aman daripada apa pun yang dapat kita usahakan sendiri. Sebab apa pun yang kita peroleh dengan usaha kita sendiri pada akhirnya akan kita tinggalkan di dunia ini, bukan? Karena kita adalah anak-anak, maka kita adalah ahli waris.
Untuk menolong kita memahami hal ini lebih jauh, Galatia pasal 4 adalah bagian yang sangat baik. Saya akan mulai membacanya dari ayat 4—dan ayat ini sudah Anda dengar sebelumnya dalam ibadah tadi. “Setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka yang takluk kepada hukum Taurat.” Lalu, penebusan itu untuk apa? “Supaya kita diterima menjadi anak.” Dengan kata lain, inilah tujuan keselamatan: membawa kita masuk ke dalam keluarga Allah. Diangkat menjadi anak memberi kita seluruh hak, dan dilahirbarukan sebagai anak memberi kita natur. Dengan demikian, kita dapat dibentuk sesuai dengan keserupaan keluarga, dengan Kristus sebagai teladan. Dan sebagai akibat dari pengangkatan sebagai anak-anak itu, Allah mengutus Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru, “Abba, Bapa.” Karena itu, Anda bukan lagi hamba, melainkan anak. Dan—perhatikan ini—jika Anda adalah anak, maka Anda juga adalah ahli waris melalui Allah.
Inilah fakta dari warisan kita—inilah kepastian warisan kita. Fakta ini kembali dinyatakan dengan sangat indah dalam kata-kata yang agung dari 1 Petrus pasal 1, dan bagian ini sungguh sayang untuk dilewatkan. 1 Petrus 1—dan ini sekali lagi merupakan sebuah doksologi, suatu pujian kepada Allah—berkata: “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus.” Sekali lagi ditegaskan bahwa Allah adalah Allah dan Bapa Tuhan Yesus Kristus; artinya, hakekat-Nya sama, satu dalam natur—keilahian Kristus ditekankan di sini. “Yang karena rahmat-Nya yang besar”—semua ini adalah rahmat, semua ini adalah kasih karunia—“telah membuat kita lahir kembali.” Dalam kitab Galatia kita berbicara tentang pengangkatan sebagai anak; di sini kita berbicara tentang kelahiran baru. Kedua hal ini berbicara tentang hak kita dan tentang natur kita. Kita “dilahirkan kembali kepada suatu pengharapan yang hidup,” yaitu melalui kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati.
Apakah pengharapan yang hidup itu? Inilah jawabannya: “untuk menerima warisan”—untuk menerima suatu warisan. Lalu bagaimana warisan itu? Warisan itu tidak dapat binasa—tidak bisa mati, tidak bisa lenyap, tidak bisa dihapus—dan tidak dapat cemar—tidak dapat ternodai, tidak dapat dirusak, tidak tercemar, tidak memudar, tidak hilang atau berkurang—dan tersimpan di surga bagi Anda. Itulah sebabnya Anda diselamatkan. Itulah sebabnya Anda dilahirkan kembali. Itulah sebabnya Anda diangkat ke dalam keluarga Allah: supaya Anda menerima suatu warisan yang tidak dapat binasa, tidak dapat cemar, tidak dapat layu, yang tersimpan di surga bagi kamu—bukan untuk orang lain, melainkan untuk Anda. Dan kamu—ayat berikutnya, ayat 5—dipelihara dalam kekuatan Allah. Kekuatan Allah yang mana? Kuasa Roh Kudus. “Kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu.” Memang itu adalah kuasa untuk bersaksi, tetapi juga kuasa untuk perlindungan. Roh Kudus yang tinggal di dalam kitalah yang memelihara dan menjaga kita—melalui cara yang luar biasa ini—yaitu kuasa Allah melalui iman.
Lalu, bagaimana Roh Kudus menjaga kita tetap di dalam Kristus? Bagaimana Roh Kudus melindungi kita agar tidak gagal, tidak jatuh, tidak meninggalkan, tidak menyangkal Kristus, dan tidak murtad? Jawabannya: melalui iman. Dengan kata lain, Roh Kuduslah yang memberi kuasa kepada iman kita. Efesus 2 berkata, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman—itu pun bukan hasil usahamu sendiri, tetapi pemberian Allah.” Seseorang mungkin berkata, “Saya pernah mengenal orang yang punya iman, tetapi imannya mati.” Tidak. Setiap iman yang mati adalah iman manusia. Iman yang diberikan Allah adalah iman yang tidak dapat mati. Kita dipelihara oleh iman itu, iman yang dikuatkan oleh Roh Kudus. Lalu Petrus melanjutkan dengan berkata, “untuk keselamatan yang telah siap untuk dinyatakan pada zaman akhir.” Seluruh tujuan keselamatan adalah membawa kita menjadi kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya dalam kekekalan, di mana kita akan menerima warisan. Itulah kepastian warisan kita: tidak dapat binasa, tidak dapat cemar, tidak dapat layu, tersimpan di surga, dan Roh Kudus adalah Penjaga di dalam diri kita yang menopang iman kita sampai akhir.
Siapakah sumber dari warisan ini? Itulah fakta berikutnya tentang warisan kita. Sumbernya disebutkan dalam ayat 17: ahli waris Allah. Allah adalah sumbernya. Kita adalah ahli waris Allah. Kita mewarisi apa yang Allah tetapkan untuk kita terima. Allah adalah Pribadi yang memberikan warisan itu. Allah jugalah yang telah menyimpannya. Seperti yang dikatakan 1 Petrus, warisan itu “tersimpan bagimu.” Allahlah yang telah menaruh harta warisan kita di surga bagi kita. Ini sungguh menakjubkan. “Terpujilah Allah dan Bapa” yang telah membuat kita memiliki warisan ini. Dalam Kolose 3:24—dan masih banyak ayat indah lainnya yang berbicara tentang hal ini—ayat ini menurut saya sangat luar biasa. Dikatakan, “Dari Tuhanlah kamu akan menerima warisan yang menjadi upahmu.” Dari Tuhanlah Anda akan menerima upah berupa warisan itu. Warisan itu akan datang dari Tuhan. Warisan itu milik-Nya untuk diberikan, dan hanya Dia yang berhak memberikannya.
Nah, mari kita dalami sedikit lagi. Anda mungkin bertanya, “Apakah sebenarnya warisan itu? Apa yang Tuhan sediakan bagi kita?” Dalam pengertian yang paling murni, paling sejati, dan paling menyeluruh, warisan itu adalah kesempurnaan: kekudusan, ketidakbercelaan, kebenaran yang mutlak, keutuhan yang penuh. Itulah kesempurnaan dari kemanusiaan yang telah dimuliakan. Namun, warisan itu bahkan lebih dari sekadar itu. Cara yang lebih baik untuk memahaminya adalah seperti ini: pemazmur berbicara tentang Tuhan sebagai bagiannya. Yeremia juga berbicara tentang Tuhan sebagai bagiannya. Dan dalam Wahyu 21:3 kita membaca bahwa ketika kita masuk ke dalam surga dalam kemuliaan akhir kita, Allah sendiri hadir dan berkata, “Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku, dan Aku akan diam di tengah-tengah mereka, dan Aku akan menghapus segala air mata dari mata mereka,” dan seterusnya. Saudara-saudara, warisan itu adalah Allah sendiri. Itulah warisan kita.
Apa yang sedang menanti kita? Allah—Allah sendiri. Dialah Pribadi yang bercahaya dari takhta-Nya di Yerusalem yang baru; kemuliaan-Nya menjangkau tanpa batas hingga ke ujung-ujung langit yang baru dan bumi yang baru. Dan kita akan masuk langsung ke dalam pancaran penuh kemuliaan itu tanpa hangus binasa, karena kita telah dijadikan kudus dan tak bercacat. Segala sesuatu yang Allah ada dan segala sesuatu yang Allah miliki menjadi milik kita. Ini adalah kenyataan yang sungguh menakjubkan. Kita mewarisi Allah. Kita bahkan mengambil bagian dalam kemuliaan-Nya, di surga-Nya, untuk selama-lamanya.
Untuk mendorong pemahaman ini lebih jauh, izinkan saya mengangkat isu ketiga yang dibahas oleh teks ini, yaitu luasnya warisan itu. Seberapa luas sebenarnya warisan ini? Luasnya adalah sejauh ini: kita adalah ahli waris bersama-sama dengan Kristus—ahli waris bersama-sama dengan Kristus. Hal ini sekali lagi menegaskan kebiasaan Romawi tentang kesetaraan warisan. Betapa luar biasanya pikiran ini: segala sesuatu yang akan menjadi milik Kristus akan menjadi milik kita juga. Dalam Mazmur 2, apa yang Allah katakan kepada Kristus? “Aku akan memberikan bangsa-bangsa sebagai milik pusaka-Mu.” Dan bukan hanya itu—Allah memberikan segala sesuatu. Kristus akan menjadi “segala sesuatu di dalam semua orang,” dan segala sesuatu akan berada di dalam Kristus. Seperti yang dikatakan dalam 1 Korintus 15, segala sesuatu akan disatukan dan diselesaikan di dalam Kristus—segala sesuatu.
Efesus pasal 1 berbicara tentang fakta bahwa Kristus adalah Penguasa atas segala sesuatu. Segala sesuatu ditaklukkan kepada-Nya; semuanya adalah milik-Nya—benar-benar semuanya. Dan pada akhirnya, apa pun yang menjadi milik-Nya akan menjadi milik kita juga. Kita benar-benar akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan Kristus. Ibrani 1:2 menyebut Kristus sebagai “ahli waris segala sesuatu.” Di dalam Dia, kita pun menjadi ahli waris segala sesuatu. Ini adalah kenyataan yang luar biasa. Kita akan memerintah bersama Dia, seperti dikatakan Wahyu 20. Kita akan duduk bersama Dia di atas takhta-Nya, seperti dikatakan Wahyu 3:21. Kita akan mengenakan rupa-Nya, rupa dari Yang Surgawi, seperti yang tertulis dalam 1 Korintus 15:49. Semua ini adalah kenyataan yang menyatakan bahwa apa pun yang menjadi milik Kristus akan menjadi milik kita. Kita tidak akan menjadi Allah, tetapi kita akan menjadi manusia yang dimuliakan. Namun sejauh manusia yang telah dimuliakan dapat mengambil bagian dalam kemuliaan Allah dan warisan Kristus, kita akan mengambil bagian di dalamnya sepenuhnya.
Seseorang mungkin bertanya, “Bukankah Kristus akan merasa kurang senang dengan hal itu? Dia telah melakukan begitu banyak untuk memperoleh warisan itu di kayu salib—mengapa warisan itu harus dibagikan kepada kita? Apakah ini menjadi kekecewaan bagi Kristus, bahwa Bapa begitu murah hati kepada orang-orang yang tidak layak seperti kita?” Kita memiliki jawaban yang jelas untuk pertanyaan itu. Ini bukanlah sesuatu yang Tuhan berikan dengan berat hati. Dengarkan doa-Nya dalam Yohanes 17: “Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu.” (Yohanes 17:22). Dia membagikan kemuliaan-Nya kepada kita sepenuhnya, tanpa sedikit pun keberatan.
Keagungan warisan ini sungguh mencengangkan. Warisan ini diberikan oleh kasih karunia, bukan oleh perbuatan. Ini adalah karya kedaulatan Allah, bukan hasil usaha manusia. Ini adalah perjanjian dari Allah yang tidak dapat berdusta dan tidak berubah. Warisan ini tidak berkurang meskipun harus dibagikan kepada banyak ahli waris, karena persediaan Allah adalah kemuliaan yang tak terbatas. Warisan ini mulia, menyeluruh, dan terjamin. Kita akan mewarisi Allah, mengambil bagian dalam kemuliaan-Nya, berbagi kemuliaan-Nya, dan segala sesuatu yang menjadi milik Kristus akan menjadi milik kita. Demikianlah keuntungan kemuliaan yang tak terbandingkan ini—dan meminjam istilah lama—dianugerahkan kepada kita oleh Roh Kudus, yang menjaga dan melindungi iman kita sampai akhir.
Ada hal keempat yang perlu dipertimbangkan dalam ayat ini, yaitu persiapan untuk menerima warisan. Kita semua menerima hidup yang kekal yang sama, kita semua menerima kemuliaan yang sama—seperti satu dinar dalam perumpamaan yang Yesus ceritakan, tidak peduli berapa lama kita bekerja. Kita semua menerima hadirat Allah yang sama, kita semua menerima warisan yang sama bersama Kristus. Namun, akan ada tingkat tanggung jawab dan tingkat pelayanan yang berbeda, yang berkaitan dengan kesetiaan kita dalam kehidupan sekarang ini. Tuhan sendiri menjelaskan hal itu dengan jelas dalam beberapa perumpamaan—gambaran tentang “setia dalam perkara kecil, akan diangkat menjadi pemimpin atas perkara yang lebih besar.”
Namun ada satu prinsip yang membawa kita pada kesimpulan ini: penentu terpenting dari sifat warisan kekal kita pada tingkat pribadi bukanlah keberhasilan seperti yang diukur oleh dunia, melainkan penderitaan. Kembali ke ayat 17. Kita telah membahas bagian “jika kita adalah anak, maka kita adalah ahli waris; ahli waris Allah; ahli waris bersama-sama dengan Kristus.” Lalu kita sampai pada bagian ini: “jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” Sejak abad ke-12, kata “jika” di sini—sekali lagi—telah diterjemahkan oleh para ahli Alkitab sebagai “karena” atau “sebab”. Ini bukan kondisi yang meragukan, melainkan pernyataan fakta. Karena kita adalah anak-anak, maka kita adalah ahli waris. Dan karena kita memang menderita bersama dengan Dia— dan itu pasti—maka kita juga akan dimuliakan bersama dengan Dia.
Dengan kata lain, ada suatu keniscayaan dalam hidup orang percaya bahwa ia akan mengalami penderitaan. Saya tidak sedang berbicara terutama tentang kemartiran, meskipun itu bisa saja terjadi—“Pikul salibmu dan ikutlah Aku.” Memang ada orang-orang yang telah mati demi Injil. Namun yang dimaksud di sini adalah bahwa kita menderita sebagai suatu kenyataan hidup, karena kita meninggikan Kristus, hidup bagi Kristus, dan memberitakan Kristus di dunia yang tanpa Kristus, yang membenci Kristus, dan yang menolak Kristus. Karena itu, selalu ada kadar penderitaan. Bisa dikatakan, kita menanggung celaan Kristus. Penderitaan yang dimaksud berkaitan dengan hal ini. Yang tidak sedang dibicarakan di sini adalah penyakit yang Anda alami, cacat tertentu, tantangan dalam pernikahan, atau masalah dalam pekerjaan. Semua hal itu termasuk dalam kategori penderitaan manusia secara umum. Tuhan peduli, Dia berbelaskasihan dan penuh simpati terhadap semua itu. Namun yang diperhitungkan dalam kaitannya dengan kemuliaan dan upah kekal adalah penderitaan yang dialami orang percaya karena nama Kristus.
Dan saya tahu, kita tidak sedang dianiaya—kita tidak digantung, tidak direbus dalam minyak, atau ditusuk bambu ke bawah kuku kita. Kita tidak mengalami penganiayaan sampai tingkat seperti itu. Namun kita semua memahami ejekan yang kejam yang dialami oleh mereka yang setia memberitakan nama Kristus di lingkungan yang bermusuhan. Kita semua, dalam satu atau lain cara, telah mengalami penderitaan. “Yesus berkata, ‘Di dunia ini kamu akan mengalami kesesakan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.’” Dia juga berkata, “Di dunia ini mereka akan memperlakukan kamu sama seperti mereka memperlakukan Aku; mereka membenci Aku, maka mereka juga akan membenci kamu.” Dan memang begitulah kenyataannya.
Kita akan menikmati apa yang Paulus sebut sebagai persekutuan dalam penderitaan Kristus. Paulus bahkan berkata dalam Kolose 1 bahwa ia “menggenapkan dalam tubuhnya apa yang kurang pada penderitaan Kristus.” Maksudnya, ia menanggung tekanan dan penderitaan karena hubungannya dengan Kristus. Petrus juga berbicara tentang hal ini—dalam 1 Petrus pasal 4—tentang menderita karena Kristus, dan pada saat yang sama, bersukacita.
Jalan menuju kemuliaan adalah melalui penderitaan. Saudara ingat bahwa Yesus pergi ke kayu salib demi sukacita yang disediakan bagi-Nya. Dan bukankah para rasul memberitakan bahwa Mesias harus menderita? Mengapa? Karena Yesus sendiri mengatakan demikian. Dalam Lukas 24, Dia berkata, “Bukankah Mesias harus menderita dan kemudian masuk ke dalam kemuliaan-Nya?” Ketika kita bersekutu dalam penderitaan Kristus, ketika kita menanggung celaan Kristus, kita sedang berjalan di jalan yang sama menuju kemuliaan. Ini sangat berbeda dengan gagasan bahwa Allah hanya ingin kita sehat, kaya, bahagia, sukses, populer, dan hidup nyaman. Tidak. Roh Kudus berfokus pada kemuliaan kekal kita, dan Dia memahami bahwa jalan menuju kemuliaan kekal itu adalah dengan menanggung celaan karena Yesus Kristus.
Jadi, meskipun kita semua menerima Allah, dan kita semua adalah ahli waris bersama dari segala yang dimiliki Kristus, ada suatu cara di mana pelayanan kita dalam kemuliaan surga nanti akan ditentukan oleh sejauh mana kita telah menanggung penderitaan demi perkara Kristus. Kekristenan bukanlah jalan pelarian dari kenyataan. Adalah suatu kebohongan untuk berpikir bahwa yang diinginkan Roh Kudus hanyalah supaya kita memiliki segala yang kita inginkan dan hidup bahagia. Roh Kudus menghendaki kita dimuliakan, dan Dia memahami bahwa jalan menuju kemuliaan adalah melalui penderitaan. Inilah Firman Allah bagi kita.
Baiklah, satu kata penutup, lalu kita akan mengambil Perjamuan Tuhan. Paulus mengatakan hal ini dalam ayat 18: “Sebab aku yakin bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.” Jadi, terimalah apa pun yang datang. “Aku menanggung pada tubuhku tanda-tanda milik Kristus.” Tanggunglah celaan Kristus. Menderitalah bagi Kristus. Semua itu tidak layak dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita. Saudara-saudara terkasih, ada kemuliaan yang tak terbandingkan yang sedang menanti kita di hadirat Tuhan. Itulah janji-Nya kepada kita. Dan adalah pekerjaan Roh Kudus yang mulia untuk menjaga dan meneguhkan kita sampai akhir, supaya kita sungguh-sungguh menerima kemuliaan itu. Roh Kudus—seperti dikatakan dalam Efesus 1—adalah Roh perjanjian yang diberikan sebagai jaminan atas warisan kita, sampai pada penebusan milik kepunyaan Allah sendiri, bagi pujian kemuliaan-Nya. Mari kita tundukkan kepala dalam doa.
Bapa, kami teringat bahwa Paulus berkata, “Janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.” Kiranya kami menghormati Roh Kudus, kiranya kami menyembah Dia dengan cara yang layak bagi-Nya. Sekarang, Tuhan, saat kami datang ke perjamuan ini, kami ingin memastikan bahwa kami menghormati perayaan Perjamuan Kudus ini dengan mengakui setiap dosa yang kami ketahui dalam hidup kami—apa pun yang mungkin masih kami pegang. Kami mau bertobat, berpaling darinya, dan menyembah di kaki salib, dengan hati yang penuh syukur, karena semua ini telah disediakan bagi kami oleh sebab Kristus yang memungkinkannya melalui kematian-Nya.
SELESAI
This article is also available and sold as a booklet.
