Grace to You Resources
Grace to You - Resource

Sekarang kita membuka Firman Tuhan di Roma pasal 8 untuk melanjutkan pembahasan kita tentang hidup di dalam Roh Kudus. Selama ini kita berusaha menempatkan Pribadi Roh Kudus yang mulia dan penuh berkat itu dalam gambaran yang lebih jelas di dalam pengertian kita. Mengingat begitu banyak hal yang saat ini dibicarakan tentang Roh Kudus di kalangan gereja Injili, saya khawatir bahwa sebagian besar justru merupakan gambaran yang keliru tentang pribadi dan karya-Nya. Sejak awal saya telah menyampaikan sebuah pernyataan yang cukup tegas, dan saya akan mengulanginya kembali: Tuhan Yesus mengecam para pemimpin Israel karena mereka mengaitkan pekerjaan Roh Kudus dengan Iblis. Namun dalam gerakan Pentakosta modern saat ini, justru yang terjadi adalah kebalikannya—pekerjaan Iblis dikaitkan dengan Roh Kudus. Ini adalah suatu penghinaan yang sangat menyedihkan, mendukakan Roh Kudus, dan dalam beberapa kasus bahkan merupakan penghujatan terhadap Roh Kudus yang mulia.

Ketika kita menyembah Allah, kita menyembah Allah Tritunggal: Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Namun entah bagaimana, dalam hal penekanan, Roh Kudus sering tertinggal di belakang, padahal sesungguhnya Dialah Pribadi Tritunggal yang paling pribadi dan paling intim terlibat dalam kehidupan seorang percaya.

Kita telah mempelajari hal ini dalam pasal 8 surat Roma. Sekarang kita sampai pada bagian tengah pasal ini, dan saya ingin membacakan ayat 24 sampai 30—ayat 24 sampai 30. Kita sebenarnya sudah membahas ayat 24 dan 25, tetapi kita perlu membacanya kembali untuk konteks. Dan kita tidak akan masuk secara mendalam ke ayat 29 dan 30, namun ayat-ayat itu tetap memberi kita gambaran yang utuh tentang bagian ini.

Roma 8:24: “Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya? Tetapi, jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun. Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri menyampaikan permohonan kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, memohon untuk orang-orang kudus. Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambar Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.”

Dalam pembahasan-pembahasan sebelumnya dari pasal ini, kita telah mempelajari betapa luar biasa tinggi, lebar, panjang, dan dalamnya pelayanan Roh Kudus bagi orang percaya yang di dalamnya Ia diam. Di ayat 2 dan 3 kita melihat bahwa Dia membebaskan kita dari dosa dan maut. Di ayat 4 kita diajarkan bahwa Dia memampukan kita untuk menggenapi hukum Allah yang kudus. Di ayat 5 sampai 11 kita diberitahu bahwa Dia mengubah natur kita. Di ayat 12 dan 13, Dia memberi kuasa kepada kita untuk hidup benar. Di ayat 14 sampai 16, kita belajar bahwa Dia meneguhkan pengangkatan kita sebagai anak-anak Allah, dan hal itu membawa kita kepada ayat 17. Mulai dari ayat 17 sampai 30, ada satu bagian yang cukup panjang yang menekankan pekerjaan Roh Kudus dalam menjamin kemuliaan kekal kita—menjamin kemuliaan kekal kita. Dan barusan kita membaca, pada dasarnya, cara atau sarana bagaimana Roh bekerja untuk menjamin kemuliaan itu. Kita akan melihatnya lebih dalam lagi ketika kita sampai pada ayat 26.

Namun izinkan saya memberikan dasar bagi pemikiran kita hari ini. Berkat terbesar yang Allah berikan kepada orang percaya adalah janji yang pasti tentang hidup kekal dalam kemuliaan surgawi. Sejak awal pasal ini kita sudah mengetahui bahwa kita berada dalam status “tidak ada penghukuman” di hadapan Allah. Hal itu ditegaskan kembali dalam ayat 34 ketika diajukan pertanyaan retoris, “Siapakah yang menghukum?” Apakah ada pengadilan yang lebih tinggi daripada Kristus atau Allah sendiri? Sekali lagi kita diberitahu bahwa tidak ada apa pun yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah yang menjadi milik kita di dalam Yesus Kristus, Tuhan kita. Jadi tema pasal ini dari awal sampai akhir adalah bahwa kita hidup di hadapan Allah dalam suatu keadaan yang tidak dapat diubah dan tidak dapat digoyahkan. Ini adalah status “tidak ada penghukuman” yang sifatnya permanen. Artinya, setiap orang yang menjadi milik Kristus pasti akan dimuliakan. Kita melihat ringkasan kebenaran ini secara jelas dalam ayat 29, bahwa kita telah ditentukan dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya. Itu berarti kita bergerak dari ditentukan sejak semula, lalu dipanggil, kemudian dibenarkan, dan akhirnya dimuliakan—dan tidak ada seorang pun yang akan terabaikan.

Saya dapat katakan kepada saudara-saudara yang terkasih, bahwa tidak ada satu pun doktrin dalam Kitab Suci yang lebih menghibur dari kebenaran ini, yang lebih menguatkan, dan yang lebih memberi penguatan daripada ini. Itulah sebabnya kita hidup dengan pengharapan. Kita hidup dengan pengharapan—bukan sekadar sebuah harapan kosong, melainkan pengharapan yang merupakan kepastian yang teguh, yang berdasar pada janji-janji Allah.

Ada satu bagian firman yang sebanding dengan ini dan sangat menolong kita untuk memahami kebenaran ini. Perkataan Petrus dalam suratnya yang pertama, pasal 1 ayat 3, merupakan semacam berkat penutup, semacam doksologi, ketika ia merenungkan kenyataan tentang kemuliaan kita yang terjamin. Di sana Petrus menulis, “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah membuat kita lahir kembali melalui kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima warisan yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan tidak dapat layu, yang tersimpan di surga bagi kamu. Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah.” Tak heran jika dia tiba-tiba melantunkan pujian kepada Tuhan. Kita memiliki janji tentang kemuliaan yang akan datang, dan kita dipelihara oleh kuasa Allah melalui iman menuju kemuliaan itu. Artinya, Allah secara berdaulat telah memberikan kepada kita iman yang tidak akan gagal, iman yang tidak akan mati. Iman itu dijamin bagi kita oleh kuasa Allah—dan kuasa Allah itu tidak lain adalah Roh Kudus itu sendiri.

Dalam Yohanes pasal 6, Yesus pada dasarnya menyatakan hal yang sama ketika Ia berkata, “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.” “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku,” dan “Aku tidak akan kehilangan seorang pun dari mereka, melainkan akan membangkitkan mereka pada hari terakhir.” Ia berkata, “Inilah kehendak Bapa.” Perjanjian Baru menyebut kebenaran ini, misalnya dalam 1 Korintus dan Efesus, sebagai pemeteraian oleh Roh, yang memeteraikan kita dengan aman menuju kemuliaan yang akan datang. Paulus mengungkapkannya dengan cara ini: “Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.” Namun mungkin tidak ada teks yang lebih besar dan lebih kuat tentang doktrin yang agung ini daripada bagian yang sedang kita pelajari. Kita merindukan kenyataan dari pemuliaan kita—kita sudah mempelajarinya, bukan? Kita hidup di dalam dunia yang berada di bawah kutuk.

Kita sendiri, meskipun telah dilahirkan kembali di dalam batin, masih terkurung di dalam daging yang belum ditebus, dan dalam kemanusiaan kita, kita mengeluh. Hal-hal yang ingin kita lakukan, justru tidak kita lakukan. Dan hal-hal yang kita lakukan, justru tidak ingin kita lakukan. Kita masih membawa tubuh maut yang melekat pada kita, seperti yang Paulus katakan dalam surat Roma. Kita juga masih memiliki, seperti yang ia katakan dalam 1 Korintus 15, tubuh yang dapat binasa—tubuh yang fana dan dapat rusak—yang sangat kita rindukan untuk ditinggalkan. Kita rindu agar yang dapat binasa mengenakan yang tidak dapat binasa, yang fana mengenakan yang tidak fana, yang rusak mengenakan yang tidak dapat rusak. Kita merindukan kemuliaan.

Karena itu, mulai dari ayat 19 sampai ayat 23, Paulus berbicara tentang keluhan seluruh ciptaan. Ia menjelaskan bagaimana dunia ini sendiri—baik ciptaan yang bernyawa maupun yang tidak bernyawa, meskipun tidak memiliki pribadi—mengeluh di bawah beban kutuk akibat kejatuhan Adam dan Hawa. Bukan hanya ciptaan yang mengeluh, tetapi kita pun mengeluh. Ayat 23 mengatakan bahwa kita mengeluh di dalam diri kita sendiri, merindukan untuk menjadi sepenuhnya seperti yang telah dijanjikan kepada kita, dalam kemuliaan yang penuh. Kita merasakan beratnya dosa kita, kita merasakan kutuk Allah, kita merasakan kuasa kebinasaan yang bekerja di dalam diri kita. Kita memahami kerusakan dan kepastian kematian yang terus membayangi kita semua. Kita mengeluh; ciptaan pun mengeluh. Seperti yang saya sampaikan minggu lalu, seluruh ciptaan sedang mengeluh sambil menantikan penyataan yang mulia dari anak-anak Allah—penyingkapan anak-anak Allah—semua yang akan terjadi ketika Allah menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru. Pada saat itu, seluruh kutuk akan lenyap melalui suatu “penghapusan” ciptaan yang lama, semacam ledakan yang dahsyat, ketika unsur-unsur alam akan hancur karena panas yang sangat hebat. Segala sesuatu di alam semesta ciptaan Allah ini akan lenyap, dan sebagai gantinya akan ada langit yang baru dan bumi yang baru, dan tanpa kutuk lagi.

Ciptaan digambarkan seolah-olah memiliki perasaan: merasakan sakit, menanti, dan merindukan hari itu. Dan kita pun sungguh-sungguh merindukan hari tersebut. Ketika saya memandang surga, bagi saya surga bukan soal jalan-jalan emas—meskipun saya tentu bersukacita tinggal di sana—melainkan tentang tidak adanya dosa, tidak adanya pencobaan, dan tidak adanya ketidaktahuan. Itulah yang membuat surga begitu menarik. Kita semua mengeluh, merindukan kemuliaan.

Namun dalam bagian ini ada keluhan ketiga yang sangat luar biasa, yaitu keluhan dari Roh Kudus. Ya, keluhan Roh Kudus. Roh Kudus yang mulia, yang dengannya kita menikmati persekutuan—yang disebut persekutuan dengan Roh Kudus—Roh Kudus juga mengeluh, menanti pemuliaan kita. Ciptaan menderita karena kutuk. Kita menderita karena kutuk. Dan bahkan Roh Kudus pun turut merasakan penderitaan akibat ketidakgenapan hidup orang-orang percaya yang di dalamnya Ia diam, sampai kutuk itu disingkirkan.

Saat kita menelusuri pasal ini, pada dasarnya kita sedang mempelajari bahwa Roh Kudus bertanggung jawab atas tiga pelayanan yang luar biasa dalam hidup kita. Pertama, pelayanan kelahiran baru. Dialah yang memberi kita hidup. Kita dilahirkan oleh Roh—dilahirkan oleh Roh. Ia memberi kita hidup ketika kita masih mati; inilah regenerasi.

Kedua, pelayanan pengudusan. Dialah yang semakin membentuk kita menjadi serupa dengan gambar Kristus. Dalam 2 Korintus 3:18 dikatakan bahwa perubahan itu terjadi dari satu tingkat kemuliaan ke tingkat berikutnya, lalu ke tingkat berikutnya lagi, dan seterusnya, ketika kita memandang Kristus sebagaimana Dia dinyatakan dalam Kitab Suci—Dia yang adalah teladan sempurna dari kemanusiaan yang dipenuhi Roh. Ketika kita melihat Dia sebagai teladan, ketika kita memandang Dia dalam kepenuhan keilahian dan kemanusiaan-Nya, Roh Kudus mengubah kita semakin serupa dengan gambar-Nya, dari satu tingkat kemuliaan ke tingkat kemuliaan yang lain. Itulah pekerjaan-Nya dalam pengudusan.

Dan seiring dengan pekerjaan pengudusan itu, pelayanan ketiga yang Dia lakukan dalam masa anugerah ini adalah pelayanan pemeliharaan atau kepastian. Dialah yang menjaga kita sampai pada pelayanan terakhir, yaitu pelayanan pemuliaan, ketika sama seperti Roh Allahmembangkitkan Kristus dari antara orang mati, Dia juga akan membangkitkan kita untuk menjadi serupa sepenuhnya dengan Dia.

Ketika saya memikirkan pekerjaan Roh Kudus dalam hidup saya—melahirkan kembali, menguduskan, dan memelihara saya sampai kepada kemuliaan yang akan datang—sungguh ini suatu pelayanan yang begitu penuh berkat. Namun di saat yang sama, saya merasa sedih oleh sebuah ironi yang luar biasa—sebuah ironi yang mengejutkan—bahwa justru pelayanan-pelayanan Roh Kudus inilah, yang begitu berharga bagi kita dan begitu jelas dinyatakan dalam Kitab Suci, yang disangkal oleh gerakan Pentakosta/Karismatik. Mereka mengklaim sebagai gerakan kepenuhan Roh Kudus. Mereka mengklaim seolah-olah memiliki hak istimewa atas Roh Kudus. Mereka mengklaim memiliki suatu pengalaman dengan Roh yang tidak kita miliki. Namun pada kenyataannya, mereka menyangkal pekerjaan Roh itu sendiri dalam kehidupan orang percaya.

Pertama-tama, mereka menyangkal karya kelahiran baru. Alkitab mengajarkan kepada kita bahwa kita semua mati di dalam pelanggaran dan dosa, dan kita tidak mampu memberi hidup kepada diri kita sendiri. Kita harus dilahirkan dari atas, dilahirkan oleh Roh, dan itu sepenuhnya merupakan pekerjaan Allah—bukan dari kehendak daging, bukan dari kehendak manusia, melainkan dari Allah. Roh Kudus bertiup ke mana Dia kehendaki, seperti angin; Dia melakukan apa yang Dia kehendaki, kepada siapa yang Dia kehendaki. Ini adalah pekerjaan yang berdaulat, penuh kuasa, dan ilahi. Kaum Karismatik ingin kita percaya bahwa kelahiran baru adalah suatu pekerjaan yang bersifat sinergis—bahwa Roh memang harus terlibat, tetapi orang berdosa memiliki kuasa di dalam dirinya sendiri untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna menghadirkan hidup bagi dirinya, bekerja sama dengan Roh Kudus. Mereka juga menyangkal pekerjaan-Nya yang penuh kuasa dalam pengudusan. Mereka kurang tertarik pada pekerjaan Roh Kudus di dalam batin, kurang tertarik pada karya-Nya yang menyempurnakan kita menjadi serupa dengan Kristus, kurang tertarik pada pembentukan kasih akan kekudusan, kasih akan kebenaran, dan kasih akan kemurnian. Mereka jauh lebih tertarik pada hal-hal yang bersifat lahiriah.

Gerakan ini disebut gerakan kekudusan, tetapi sesungguhnya bukan tentang kekudusan. Disebut gerakan Roh Kudus, tetapi sesungguhnya bukan tentang Roh Kudus. Hampir tidak ada ketertarikan pada kekudusan dan kemurnian batin—yang justru merupakan pekerjaan sejati Roh—dan hampir sepenuhnya terfokus pada fenomena-fenomena lahiriah yang mereka kaitkan dengan Roh Kudus, yang pada kenyataannya sama sekali tidak ada hubungannya dengan Dia. Hal-hal itu mencakup apa yang mereka sebut sebagai mukjizat, bahasa roh, jatuh tersungkur, mendengar suara-suara, menggonggong seperti anjing, tertawa tanpa kendali, kemakmuran materi, dan keberhasilan duniawi. Dan karena semua itu bukanlah suatu pola pengudusan, maka gerakan ini sarat dengan skandal, seks, keserakahan, korupsi, dan penyimpangan.

Tahukah Anda, sedikit membaca tentang sejarah gerakan ini adalah hal yang sangat menarik. Jika saya bertanya kepada Anda, “Apakah bentuk agama yang pertumbuhannya paling cepat di dunia?” kemungkinan besar Anda tidak akan memberikan jawaban yang benar. Jawaban yang benar adalah Pentakostalisme. Itulah bentuk agama yang paling cepat bertumbuh di dunia. Gerakan ini tidak ada pada tahun 1900. Hanya segelintir orang yang memulai sesuatu pada tahun 1901 di Topeka, Kansas, lalu diikuti oleh peristiwa lain pada tahun 1906 di Los Angeles. Dan pada saat ini, perkiraannya adalah sekitar setengah miliar orang mengidentifikasikan diri dengan gerakan ini—dari tidak ada siapa pun pada tahun 1900 menjadi setengah miliar orang. Gerakan ini terbagi dalam tiga bentuk. Ada Pentakostalisme tradisional, ada Neo-Pentakostalisme, dan ada gerakan Karismatik sejak tahun 1960 dan seterusnya, namun pada akhirnya semuanya saling bercampur dan sulit dipisahkan.

Apa yang terjadi dalam gerakan ini adalah pusat perhatiannya dialihkan dari Injil kepada baptisan Roh Kudus. Pusatnya kemudian bergeser dari Alkitab kepada pengalaman—kepada pengalaman palsu yang didukung oleh teologi yang keliru. Ibadah pun kemudian diubah secara radikal, menjauh dari penyembahan dalam roh dan kebenaran, menjadi sekadar upaya untuk memicu ledakan emosi. Orang-orang menjadi bosan dengan Alkitab, bosan dengan khotbah, sehingga pemberitaan firman mulai memudar. Doktrin yang sehat harus disingkirkan, karena gerakan ini tidak dapat bertahan di bawah pengujian doktrin yang benar. Maka, sebagai pengganti pemberitaan Alkitab dan ajaran yang sehat, muncullah musik yang sarat emosi serta perasaan-perasaan yang dimanipulasi. Kebenaran telah digantikan oleh kebohongan, dan itulah penghakimannya sendiri. Itulah penghakimannya sendiri.

Pekerjaan Roh Kudus telah begitu disalahpahami dan disalahgambarkan. Dalam Kekristenan, pada dasarnya ada tiga kekuatan utama. Ini sering disebut sebagai kekuatan ketiga: Katolik Roma, Protestan, dan Pentakostalisme. Selama bertahun-tahun, gereja telah banyak berbicara tentang kesalahan-kesalahan Katolik Roma. Namun kita jauh lebih sedikit berbicara tentang kesalahan-kesalahan Pentakostalisme, karena mereka sering mengancam dengan tuduhan bahwa kita bersifat memecah-belah, dan hal itu membuat sebagian orang memilih untuk diam.

Saya tidak sedang membela kebenaran demi gereja saya sendiri atau demi pendapat pribadi saya. Saya rindu membela kebenaran demi Roh Kudus—bukan karena Dia membutuhkan saya sebagai pembela, tetapi karena Dia menuntut saya untuk tidak mendukakan-Nya, tidak memadamkan-Nya, tidak menghina-Nya, dan tentu saja untuk mengenali hal-hal yang tidak memuliakan-Nya. Saya merasa seperti pemazmur yang berkata, “Sebab oleh karena Engkaulah aku menanggung cela.” Ketika Roh Kudus tidak dihormati, saya merasakan kepedihan itu, dan tampaknya hal tersebut telah menjadi sesuatu yang sangat populer untuk dilakukan.

Sekarang mari kita melihat pelayanan Roh Kudus yang sejati berkaitan dengan keluhan-Nya dalam hubungannya dengan kepastian keselamatan kita. Ini adalah bagian Alkitab yang sangat menakjubkan, khususnya pada ayat 26. “Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri menyampaikan permohonan kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.” Bagian ini adalah salah satu harta terbesar dalam Alkitab. Di sini dijelaskan sarana yang dipakai Roh Kudus untuk menopang dan menjaga kita dalam perjalanan anugerah menuju kemuliaan yang terakhir. Tapi ini juga merupakan salah satu teks Perjanjian Baru yang paling sering disalahgunakan oleh kaum Karismatik. Saya selalu merasa seolah-olah Alkitab saya akan berdarah di bagian ini, karena sudah begitu sering “dilukai.” Mereka ingin kita percaya bahwa ayat ini merupakan dasar atau pembelaan bagi praktik bahasa roh—bahwa “keluhan-keluhan yang tidak terucapkan” itu merujuk pada berbicara dalam bahasa roh. Mereka ingin kita percaya bahwa ayat ini mengatakan bahwa ketika kita tidak tahu bagaimana berdoa dengan kata-kata yang kita mengerti, mulailah berbicara dalam bahasa roh dengan kata-kata yang tidak kita mengerti, dan ini adalah Roh Kudus yang melakukan apa yang tidak dapat kita lakukan. Namun itu sama sekali bukan maksud ayat ini, seperti yang akan segera kita lihat. Memaksakan penafsiran seperti itu sama sekali bertentangan dengan makna sebenarnya dari teks ini.

Mari kita melihat kembali konteksnya: “Demikian juga Roh.” Kata “demikian juga” itu maksudnya apa? Maksudnya adalah: sama seperti ciptaan mengeluh sambil menantikan penyataan yang mulia dari anak-anak Allah; sama seperti kita sendiri mengeluh sambil menantikan pengangkatan sebagai anak-anak, yaitu penebusan tubuh kita; demikian pula Roh Kudus mengeluh. Kita telah melihat keluhan ciptaan, keluhan orang percaya, dan sekarang keluhan Roh Kudus—dan semua keluhan ini mengarah kepada kemuliaan kita yang akan datang. Akan satu hal jika ciptaan merindukan untuk dimuliakan, dan satu hal lagi jika orang percaya merindukan untuk dimuliakan. Namun kedua hal itu, pada dirinya sendiri, tidak serta-merta menjamin terwujudnya kemuliaan tersebut. Tetapi sekarang muncul keluhan yang paling penting dari semuanya, yaitu keluhan Roh Kudus demi kemuliaan kita di masa depan. Dengan cara yang sama, Roh Kudus mengeluh “dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.” Ini adalah suatu pemikiran yang menakjubkan.

Roh Kudus terlibat secara mendalam dalam kenyataan yang menyakitkan akan beban dan beratnya dosa dalam kehidupan orang-orang yang di dalamnya Dia tinggal. Dia menyatu dengan kerinduan kita untuk dibebaskan dari daging, dari kemanusiaan kita yang belum ditebus, dan untuk menerima keselamatan yang penuh—keanakan yang penuh, kesempurnaan kebenaran yang utuh. Maka, kemuliaan kekal kita dijamin melalui doa syafaat Roh Kudus yang disertai keluhan ini. Hal ini memang perlu. Kembali ke ayat 26, di sana dikatakan bahwa Roh “membantu kita dalam kelemahan kita.” Kita telah mengidentifikasi kelemahan kita itu sebelumnya. Di ayat 23 dikatakan bahwa kita mengeluh di dalam diri kita sendiri. Kita memiliki uang muka dari kemuliaan yang akan datang, yaitu buah sulung, tetapi kita tetap mengeluh di bawah kelemahan yang melemahkan, yaitu dosa yang masih tinggal di dalam diri kita. Roh Kudus membantu kita dalam kelemahan kita.

Ini bukan berarti doa kita lemah, atau kehidupan doa kita lemah. Ini juga bukan berarti kita kurang memahami apa yang sedang terjadi. Yang dimaksud di sini adalah seluruh kuasa yang melemahkan dari kejatuhan kita ke dalam dosa yang masih tinggal di dalam diri kita. Inilah kelemahan kita secara menyeluruh sebagai manusia yang telah jatuh. Inilah istilah yang sifatnya komprehensif. Seluruh cakupan keberdosaan kita menjadi beban bagi kita—beban yang begitu berat, begitu luar biasa, sampai-sampai kita bahkan tidak tahu bagaimana seharusnya berdoa. Kita bahkan tidak memiliki strategi untuk menghadapinya. Kita begitu tidak berdaya dalam dosa kita dan begitu tidak berdaya dalam penderitaan kita, sehingga kita tidak tahu bagaimana mengalahkan kuasa kejatuhan itu. Kita tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk menjaga jiwa kita sendiri.

Saya membaca tulisan seorang teolog Karismatik yang cukup populer yang mengatakan: “Saya percaya Roh Kudus itu sangat kuat, tetapi meterai-Nya dapat dipatahkan jika seseorang, dengan kehendak bebasnya sendiri, memilih untuk menjalani hidup di sisi yang lebih gelap. Dosa dapat membuat orang Kristen tidak masuk surga. Jika seseorang tidak dapat setia kepada pasangannya, ia juga tidak dapat setia kepada Tuhannya, dan tidak akan mampu tetap setia kepada-Nya bahkan setelah ia masuk ke dalam surga. Seperti Iblis dan para malaikat, ia bisa saja diusir.” Benarkah demikian? Seberapa tidak amannya ketidakamanan itu? Saya tidak bisa setia dengan kekuatan saya sendiri di dunia ini, dan saya juga tidak bisa setia dengan kekuatan saya sendiri di surga, dan saya masih mungkin diusir? Pandangan seperti itu sepenuhnya—sepenuhnya—mengabaikan Firman Allah yang dengan jelas menggambarkan pelayanan Roh Kudus yang menjaga dan menjamin keselamatan orang percaya.

Izinkan saya mengatakannya dengan sederhana: jika keselamatan itu bisa hilang, kita pasti akan kehilangannya. Jika saya bisa kehilangannya, saya sudah pasti kehilangannya. Bahkan, jika saya harus melakukan apa pun untuk mempertahankannya, saya sama sekali tidak akan mampu mempertahankannya. Saya tidak memiliki kuasa itu. Saya bahkan tidak tahu bagaimana mempersenjatai diri saya. Saya terlalu lemah. Saya tidak dipelihara oleh kuasa saya sendiri. Saya tidak dipelihara oleh doa-doa saya sendiri. Ya, memang dikatakan, “Berjaga-jagalah dan berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan,” tetapi dengan kekuatan saya sendiri, tanpa pertolongan kuasa Allah, itu sama sekali tidak akan cukup.

Hal ini digambarkan dengan jelas dalam Lukas pasal 22, ketika Petrus berada di ambang kegagalannya yang besar, di sekitar api unggun saat pengadilan Tuhan kita terjadi, dan Yesus memberikan peringatan kepadanya. Yesus berkata kepadanya dalam Lukas 22 ayat 31, “Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum.” “Iblis sedang datang menyerangmu,” dan memang demikianlah yang terjadi. Namun ayat 32 berkata, “Tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur.” Bagaimana sikap Petrus saat menghadapi pencobaan itu? Ia berkata dengan penuh keyakinan diri, “Sekalipun semua orang meninggalkan Engkau, aku tidak akan.” Itu adalah kepercayaan dirinya. Ia tidak tahu bagaimana harus berdoa untuk dirinya sendiri. Ia tidak memahami secara mendalam betapa lemahnya dirinya. Ia tidak memiliki kemampuan untuk mengerti kekuatan-kekuatan yang akan dihadapinya. Petrus tidak dijaga oleh imannya sendiri. Ia tidak dijaga oleh kekuatan kehendaknya sendiri. Ia dijaga karena Tuhan Yesus berdoa baginya supaya imannya tidak gugur. Itulah karya doa syafaat Tuhan Yesus Kristus yang menjamin Petrus, dan itulah gambaran dari pelayanan keimaman-Nya yang agung. Dia hidup senantiasa untuk berdoa syafaat bagi kita.

Alasan mengapa Anda akan sampai kepada kemuliaan, alasan mengapa Anda tetap diselamatkan dan berada dalam keadaan aman, adalah karena Anda memiliki seorang Imam Besar di surga yang terus-menerus berdoa syafaat bagi Anda. Dan Anda juga memiliki seorang imam syafaat yang kedua yang tinggal di dalam diri Anda, yaitu Roh Kudus. Berapa besar kuasa yang dibutuhkan? Seberapa besar kuasa ilahi yang diperlukan untuk membawa seorang percaya dari anugerah menuju kemuliaan? Hal itu melibatkan doa syafaat yang terus-menerus, tanpa henti, dan tak kenal lelah dari Sang Anak dan dari Roh Kudus.

Apakah Anda berpikir bahwa Anda bisa bertahan dengan kekuatan Anda sendiri? Kita tidak akan pernah dapat mencapai kebangkitan menuju kemuliaan dengan kekuatan daging kita sendiri. Kita tidak akan pernah mampu mengalahkan keberdosaan kita sendiri. Kita tidak akan pernah dapat menjaga diri kita dari kegagalan, kecuali Allah telah memberikan kepada kita iman yang tidak akan gagal—iman yang dipelihara oleh Kristus dan dipelihara oleh Roh Kudus. Itulah sebabnya, seperti yang dinyanyikan Grace beberapa saat yang lalu, apa pun yang datang menghantam kita, iman kita tidak akan gagal. Ilustrasinya adalah Ayub. Iman kita tidak akan gagal.

Dalam konteks ayat 26 ini, bagaimana Roh Kudus membantu dalam kelemahan kita dan fakta bahwa kita tidak tahu bagaimana membela diri kita sendiri—bahkan melalui doa, bahkan ketika kita mencoba menjangkau kuasa ilahi? Jawabannya adalah ini: “Roh itu sendiri berdoa syafaat.” Ya, “Roh itu sendiri berdoa syafaat.” Kata huperentunchano adalah kata majemuk yang sangat kuat, yang berarti menyelamatkan seseorang yang berada dalam bahaya yang sangat besar dan sama sekali tidak memiliki sumber daya dalam dirinya sendiri—seperti seseorang yang hanyut di sungai dan sedang menuju Air Terjun Niagara. Itulah tingkat ekstrem dari kata kerja ini. Kita membutuhkan Pribadi yang berada di luar diri kita dan di atas diri kita, dengan pengertian yang jauh lebih besar dan kuasa yang jauh lebih besar daripada yang kita miliki, dan Pribadi itu adalah Roh Kudus itu sendiri. Saya sangat menyukai kata ganti auto, yang menunjuk kembali kepada Roh itu sendiri—bukan seseorang yang diutus oleh Roh Kudus, melainkan Roh Kudus itu sendiri. Inilah karya-Nya. Inilah pekerjaan-Nya. Dialah yang memberi kita hidup. Dialah yang semakin membentuk kita menjadi serupa dengan gambar Kristus. Dialah yang memelihara dan menjamin kita.

Bagaimana Dia melakukannya? “Dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.” Ya, “dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.” Tolong dipahami—ini bukan berbicara dengan erangan, ocehan, atau bahasa roh; ini bukan ucapan ekstatis; dan ini bukan sesuatu yang diucapkan oleh siapa pun sehingga dapat didengar. Ini adalah Roh Kudus yang mengatakan hal-hal yang tidak dapat didengar. Teks itu sendiri menyatakannya: “terlalu dalam untuk diungkapkan dengan kata-kata.” Ini adalah keluhan—bukan keluhan manusia, melainkan keluhan Roh Kudus. Keindahan yang luar biasa dari kebenaran ini adalah bahwa hati Roh Kudus merasakan kepedihan dan kerinduan akan pemuliaan setiap orang percaya. Dan kerinduan yang penuh belas kasihan itu—kerinduan akan penyataan yang mulia dari anak-anak Allah—mendorong Roh Kudus untuk berbicara secara diam-diam kepada Bapa dalam percakapan intra-Trinitas mengenai kesejahteraan orang-orang percaya. Kita tidak aman hanya karena Allah mengatakannya. Kita aman karena Allah mengatakannya, dan Allah memastikan hal itu terjadi melalui pekerjaan Anak-Nya dan Roh-Nya.

Roh Kudus memahami kedagingan kita, memahami kelemahan kita, memahami pencobaan. Dia tidak akan pernah—tidak akan pernah—membawa kita ke dalam situasi yang tidak sanggup kita hadapi, bukan? “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami tidak melebihi kekuatan manusia.” Allah selalu menyediakan jalan keluar. Yohanes pasal 18 merupakan gambaran dari kebenaran ini. Ketika mereka datang untuk menangkap Yesus, Dia tidak mengizinkan mereka menangkap para murid, karena Firman Allah harus digenapi bahwa tidak seorang pun dari mereka akan binasa. Dengan demikian, mereka tidak pernah ditempatkan dalam posisi di mana kemurtadan bisa terjadi. Ini adalah pemeliharaan yang bukan sekadar fakta yang dinyatakan. Ini adalah pemeliharaan yang merupakan pekerjaan yang terus-menerus melalui doa syafaat Sang Anak dan Roh Kudus. Roh Kudus merindukan kemuliaan kita yang terakhir.

Inilah hati Allah, sesungguhnya. Saya sedang membaca Hosea pasal 11 dan sampai pada ayat 8, di mana Allah berkata, “Masakan Aku membiarkan engkau, hai Efraim? Menyerahkan engkau, hai Israel? … Hati-Ku berbalik dalam diri-Ku, belas kasihan-Ku bangkit serentak.” Dan Anda tahu, dalam arti yang sejati, Allah memang tidak pernah meninggalkan Israel, bukan? Dia akan memulihkan Israel. Itulah hati Allah. “Bagaimana mungkin Aku menyerahkan engkau?”

Keluhan-keluhan ini memiliki isi. Keluhan-keluhan ini memiliki makna. Keluhan-keluhan ini memiliki tujuan. Itu adalah komunikasi pribadi, intra-Trinitas, tanpa kata-kata, yang melampaui bahasa manusia, dan yang menjamin tempat Anda di surga. Dan kepada siapa Roh Kudus berbicara? Kembali ke ayat 27: “Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu.”

Siapakah Dia itu? Siapakah Dia yang menyelidiki hati? Alkitab memberi jawaban yang sangat jelas. Dalam 1 Samuel 16:7 dikatakan, “Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” Dalam 1 Raja-raja 8:39 tertulis, “Engkau sajalah yang mengenal hati semua anak manusia.” Dalam 1 Tawarikh 28:9 dikatakan, “TUHAN menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita.” Mazmur 139 berkata, “TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku. Engkau mengetahui kalau aku duduk atau berdiri.” Seluruh mazmur itu menjelaskan hal tersebut. Amsal 15:11 menyatakan, “Dunia orang mati dan kebinasaan terbuka di hadapan TUHAN.” Yeremia berkata, “Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?” Lalu jawabannya diberikan: “Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin.” Dalam Kisah Para Rasul 1:24 tertulis, “Ya Tuhan, Engkaulah yang mengenal hati semua orang.” Dan penulis Ibrani mengatakan bahwa tidak ada satu makhluk pun yang tersembunyi dari hadapan Allah. “Segala sesuatu terbuka dan tersingkap di hadapan Dia, yang kepada-Nya kita harus memberi pertanggungan jawab.” Jadi, Roh Kudus sedang berdoa syafaat bagi kita melalui komunikasi tanpa kata-kata, dari pikiran-Nya yang kekal dan kudus kepada Bapa dan pikiran-Nya. Dia yang menyelidiki hati—yaitu Allah—mengetahui maksud Roh itu, ada persekutuan yang sempurna, karena Roh Kudus berdoa syafaat bagi orang-orang kudus sesuai dengan kehendak Allah.

Apakah kehendak Allah bagi orang-orang kudus? Apakah kehendak Allah bagi kita? Apakah supaya kita dimuliakan? Apakah itu kehendak-Nya? Bukankah kehendak-Nya bahwa setiap orang yang telah Dia tentukan dari semula, akan dipanggil-Nya juga; Siapa pun yang Dia panggil akan Dia benarkan? Siapa pun yang Dia benarkan akan Dia muliakan? Apakah kehendak-Nya untuk membawa umat tebusan-Nya masuk ke dalam surga? Apakah itu kehendak-Nya? Apakah itu tujuan-Nya? Apakah itu rencana-Nya? Tentu saja itu rencana-Nya. Bapa telah merencanakannya. Sang Anak telah menyediakannya. Dan Roh Kudus memelihara serta melindunginya. Karena itu, Roh Kudus berdoa syafaat bagi kemuliaan kita sejalan sepenuhnya dengan kehendak Bapa. Bapa merencanakan kemuliaan kita, Sang Anak menyediakan kemuliaan kita, dan Roh Kudus menjaga kemuliaan kita. Ini benar-benar ayat yang menakjubkan.

Dalam menjalani hidup, kita sering memikirkan banyak hal yang ada di sekitar kita dan di luar diri kita. Pernahkah Anda memikirkan apa yang ada di dalam diri Anda? Pernahkah Anda memikirkan pekerjaan doa syafaat Roh Allah yang terus berlangsung—Roh yang tidak pernah terlelap dan tidak pernah tidur, karena Allah tidak pernah terlelap dan tidak pernah tidur? Pernahkah Anda memikirkan bahwa di tengah segala perubahan, pergumulan, dan persoalan hidup, Roh Allah dengan tekun dan tanpa henti berdoa syafaat bagi Anda—secara diam-diam, dalam persekutuan yang sempurna dengan pikiran Allah, untuk menggenapi maksud-maksud Allah? Dan bahwa Anda juga memiliki seorang Pembela terhadap setiap tuduhan yang dilayangkan kepada Anda, yaitu Yesus Kristus, yang berdiri di sebelah kanan Bapa untuk membela Anda sebagai Pribadi yang telah membayar lunas harga untuk semua dosa Anda? Itulah sebabnya Anda sampai kepada kemuliaan. Itulah sebabnya tidak seorang pun dapat menghukum Anda.

Sekarang, semua yang telah kita bahas itu menghasilkan kebenaran yang terdapat dalam ayat 28. Semua itu membawa kita kepada ayat 28. Dan saya tahu bahwa ayat 28 adalah ayat yang sangat populer—setiap orang yang sudah lama berada di gereja pasti mengenalnya. Ayat ini sering kali dipisahkan dari konteksnya, tetapi justru kontekslah yang memberi makna yang begitu kaya pada ayat ini, dan kita harus melihatnya di dalam konteksnya. Kalimat “Dan kita tahu”—ini bersifat berurutan, merupakan kelanjutan, dan saling terhubung. Hal ini terjadi karena pelayanan doa syafaat Roh Kudus yang disertai keluhan, yang bekerja dalam keselarasan sempurna dengan maksud-maksud Allah untuk membawa kita kepada kemuliaan yang kekal. Karena pekerjaan doa syafaat Roh Kudus dan karena tujuan ilahi Allah inilah, maka Allah sendiri—sebagai jawaban atas doa dan permohonan Roh—“turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Allah, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana-Nya.”

Hal ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Dan izinkan saya mengatakannya—karena kita tidak mungkin membahas semuanya sekarang—saya sudah membahas ayat 28 ini secara mendalam pada tahun-tahun sebelumnya. Ayat ini bisa dibahas tanpa habisnya, karena ini adalah salah satu ayat yang sangat luas dan dapat dikembangkan ke berbagai arah. Namun untuk saat ini, mari kita katakan bahwa “kebaikan” yang dimaksud di sini adalah kemuliaan kekal. “Kebaikan” yang dimaksud di sini adalah kemuliaan kekal, karena kemuliaan kekal itulah tujuan dari segala sesuatu, seperti yang ditunjukkan ayat 30, “dimuliakan”; ayat 19, “penyataan anak-anak Allah”; ayat 21, “kemuliaan anak-anak Allah”—itulah temanya; serta ayat 24 dan 25, yaitu “pengharapan” kita. Jadi, kebaikan yang sedang dibicarakan di sini adalah kemuliaan kekal kita.

Intinya adalah ini: karena rencana Allah, karena penyediaan Kristus, dan karena perlindungan Roh Kudus melalui pelayanan doa syafaat-Nya, Allah membuat segala sesuatu bekerja bersama-sama untuk kebaikan kita yang terakhir, kekal, dan tertinggi. Tidak semua hal dalam hidup ini terasa atau terlihat bekerja untuk kebaikan—sama sekali tidak. Namun, Anda mungkin menarik pelajaran yang baik darinya. Anda mungkin memperoleh hasil yang baik darinya. Anda mungkin ditarik lebih dekat kepada Tuhan. Hal itu mungkin memperdalam kehidupan doa Anda. Hal itu mungkin menguatkan Anda. Hal itu mungkin menumbuhkan kesabaran. Hal itu mungkin menyempurnakan dan mendewasakan Anda. Bahkan, pengalaman itu mungkin memampukan Anda untuk menasihati dan menguatkan orang lain, karena Anda dapat menghibur mereka yang sedang bergumul dengan penghiburan yang sama yang telah Anda terima dari Allah dalam pergumulan tersebut.

Semua hal itu adalah kenyataan-kenyataan yang indah, tetapi bukan itu “kebaikan” yang sedang dibicarakan di sini. Kebaikan yang mendominasi bagian ini adalah kebaikan yang terakhir dan tertinggi, yaitu pemuliaan orang-orang percaya yang sejati. Kita dijamin menuju kebaikan terakhir itu—kebaikan yang paling utama. “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu”—sebagai respons terhadap pelayanan doa syafaat Roh Kudus yang mulia—“untuk mendatangkan kebaikan.” Di sinilah kita melihat luasnya jaminan itu. Inilah keluasan dari kepastian itu: “segala sesuatu.” “Segala sesuatu.” “Segala sesuatu.” Apa artinya itu? Artinya, tidak ada apa pun yang dapat mengubah kebaikan yang terakhir itu—tidak ada. Ini adalah cara positif untuk mengatakan bahwa kita berada dalam status “tidak ada penghukuman.” Tidak ada batasan atasnya. “Segala sesuatu,” pantos—apa pun sifatnya, apa pun jumlahnya, apa pun luasnya, apa pun karakternya—apa pun yang mungkin datang di dalam dunia yang telah jatuh dan rusak ini kepada manusia yang masih memikul beban kutuk dalam kemanusiaan mereka yang belum ditebus—semuanya itu. Segala sesuatu yang terjadi—semuanya—dirajut bersama oleh Allah untuk kebaikan kita yang terakhir.

“Turut bekerja” berasal dari kata sunergei, dari mana kita mendapatkan kata sinergi. Allah adalah Sang Penyatu Agung—kita bisa mengatakan bahwa inilah yang disebut sebagai providensi Allah. Tidak semua hal baik dengan sendirinya, dan tidak semua hal berpadu untuk menghasilkan kebaikan dalam hidup ini. Sebagian dari Anda sedang mengalaminya. Hidup terasa tidak baik—penyakit, kehilangan pekerjaan, kehilangan rumah, kehilangan banyak hal, bahkan kehilangan sahabat. Namun pada akhirnya, ada satu kebaikan—kebaikan yang tertinggi—yaitu kemuliaan kekal, yang pasti akan terwujud. Itulah kebaikan yang menjadi tema di sini, dan kebaikan itu terikat erat dengan pengharapan yang disebutkan dalam ayat 24 dan 25, yaitu pengharapan kekal kita.

Dan “kebaikan” di sini adalah kebaikan dalam pengertian moral, bukan kalos, yang lebih menunjuk pada sesuatu yang baik secara tampilan atau menarik bagi mata. Yang dimaksud adalah agathos—kebaikan dalam arti moral; kebaikan yang sejati, kebaikan yang nyata, kebaikan yang terakhir dan tertinggi. Kita memang dapat berbicara tentang banyak hal baik—dan hidup memang penuh dengan banyak hal baik; jelas kita diberkati. Hal-hal baik bekerja bersama-sama untuk kebaikan kita. Namun demikian, hal-hal buruk juga bekerja bersama-sama untuk kebaikan kita—penderitaan, pergumulan melawan pencobaan, bahkan dosa. Allah mengambil semua hal ini dan mengolahnya, sebagai respons terhadap pelayanan doa syafaat Roh Kudus, untuk kebaikan kita yang terakhir.

Maka, inilah keluasan jaminan keselamatan kita. Bagaimana mungkin kita kehilangan keselamatan jika segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita bekerja bersama-sama untuk kebaikan kekal kita? Tidak ada pilihan lain lagi.

Jadi, itulah keluasan jaminan keselamatan. Nah, siapa penerima dari jaminan ini? Siapa penerima dari kepastian ini, dari janji ini—secara singkat saja. Ayat 27 memberitahu kita bahwa Roh Kudus berdoa syafaat “bagi orang-orang kudus”—“bagi orang-orang kudus,” yaitu mereka yang telah dikenakan kebenaran Kristus dan karena itu di hadapan Allah dinyatakan kudus. Lalu dalam ayat 28, mereka didefinisikan lebih lanjut sebagai “mereka yang mengasihi Allah.” “Mereka yang mengasihi Allah”—itulah penerima dari janji ini.

Pernahkah Anda bertanya pada diri sendiri, “Bagaimana kita tahu bahwa seseorang benar-benar seorang Kristen? Bagaimana saya tahu bahwa seseorang—ya, mungkin dia pernah berdoa, dia pergi ke gereja? - Bagaimana kita tahu dia itu orang Kristen? Ini jawabannya: mereka mengasihi Allah. Mereka mengasihi Allah. Mereka mengasihi Allah. Mengapa mereka mengasihi Allah? Karena mereka adalah orang-orang yang terpanggil. Ini adalah panggilan yang efektif—panggilan yang sungguh-sungguh menghasilkan. Ini bukan sekadar undangan, seperti dalam Matius 22 ketika Tuhan mengundang orang-orang untuk datang. Ini adalah panggilan yang efektif, panggilan yang mutlak. Ayat 30 berkata, “Mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya.” Ini adalah panggilan dari kematian rohani kepada hidup. Inilah yang oleh para teolog disebut sebagai panggilan efektif. Semua orang yang dipanggil dengan cara ini—dipanggil kepada hidup, dipanggil kepada keselamatan oleh kuasa Roh Kudus—kemudian digambarkan sebagai mereka yang mengasihi Allah.

Bagaimana kita dapat mengenali seorang Kristen sejati? Mereka mengasihi Allah. Mereka mengasihi Allah. Sederhana saja—mereka mengasihi Allah; mereka mengasihi Kristus. “Siapa yang tidak mengasihi Tuhan, terkutuklah ia,” demikian dikatakan dalam 1 Korintus 16:22. Menjadi seorang Kristen adalah soal mengasihi Kristus—mengasihi Kristus. Kita seperti perempuan dalam Lukas pasal 7, yang begitu mengasihi karena telah begitu banyak diampuni. Perintah terbesar dalam Perjanjian Lama adalah mengasihi Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan segenap akal budimu, dan dengan segenap kekuatanmu. Kita rindu melakukan hal itu. Kita tidak melakukannya dengan sempurna, tetapi kita sungguh mengasihi Allah. Di seluruh isi Firman Allah, orang-orang percaya yang sejati digambarkan sebagai mereka yang mengasihi Allah. “Janganlah mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, kasih akan Bapa tidak ada di dalam dirinya.” Kita mengasihi Allah. Kita mengasihi Yesus Kristus.

Kasih itu adalah kasih yang merenungkan kemuliaan-Nya yang agung. Kasih yang rindu menyembah, rindu menyanyikan puji-pujian bagi-Nya. Kasih yang mencari persekutuan dengan orang-orang lain yang juga mengasihi Dia. Kasih yang mengasihi mereka yang mengasihi Dia dan yang dikasihi oleh-Nya. Kasih itu adalah kasih yang mencari persekutuan dengan Allah—persekutuan yang intim. Kasih yang mencari pengenalan akan Allah di dalam Firman Allah, agar semakin mengenal Dia. Kasih yang peka terhadap kehormatan Allah dan terhadap hal-hal yang menghina Allah. Kasih itu membenci apa yang Allah benci dan mengasihi apa yang Allah kasihi. Kasih itu berduka atas dosa dan bersukacita atas kebenaran. Kasih itu menolak dunia. Kasih itu merindukan kedatangan Yesus Kristus. Namun yang terutama, kasih itu adalah kasih yang taat kepada Firman Allah. “Jikalau kamu mengasihi Aku”—lalu apa?—“turutilah perintah-perintah-Ku.” “Barangsiapa memegang firman-Ku dan menaatinya, dialah yang mengasihi Aku.”

Bagi semua orang percaya yang sejati, yang mengasihi Tuhan, janji ini adalah janji yang sungguh indah. Roh Kudus berdoa syafaat dalam keselarasan yang sempurna dengan kehendak Allah, sehingga Allah membuat segala sesuatu yang terjadi dalam hidup mereka yang mengasihi-Nya pada akhirnya berpadu untuk kebaikan kekal dan kemuliaan kekal mereka, karena itulah tujuan-Nya sejak semula. Kita telah ditentukan dari semula untuk tujuan itu. Inilah pekerjaan Roh Kudus. Dan saya percaya, sudah saatnya gereja Tuhan Yesus Kristus memberi hormat kepada Roh Kudus, menyembah-Nya, mengasihi-Nya, dan memuliakan Dia sebagaimana layaknya—serta menghentikan segala hal yang tidak masuk akal yang justru membawa kehinaan bagi nama-Nya yang kudus.

Kita banyak berbicara tentang menyembah Allah. Kita sering menekankan penyembahan kepada Allah. Dan tampaknya, khususnya di zaman sekarang ini, kita sangat merayakan—dan memang tidak mungkin berlebihan—kita merayakan baik Bapa maupun Anak; kita merayakan salib dan karya Kristus, dan hal itu memang tidak pernah bisa dirayakan terlalu banyak. Namun di tengah semua itu, menurut saya, Roh Kudus sering kali tertinggal. Padahal Dia sama-sama Allah dan sama-sama layak untuk dihormati dan disembah.

Semua ini adalah keyakinan yang kita miliki. Ayat 28 berkata, “Kita tahu.” “Kita tahu.” Ini bukan kemungkinan; ini adalah kepastian. Inilah kepastian dari jaminan keselamatan kita. “Kita tahu.” Lalu bagaimana kita tahu? Karena kita mengetahui tujuan Allah: untuk menentukan dari semula, memanggil, membenarkan, dan memuliakan suatu umat tebusan. Inilah rencana itu. Kristus telah menyediakan korban yang diperlukan, dan Roh Kudus memastikan bahwa rencana itu terlaksana sampai tuntas.

Sekarang, ayat 29 dan 30 adalah dua ayat yang sangat mendalam untuk kita bahas pada kesempatan berikutnya. Tetapi saat ini, saya ingin Anda benar-benar mendengarkan saya. Biasanya, ketika saya selesai menyampaikan Firman Allah kepada Anda, saya menutup dengan doa, lalu kalian semua langsung berdiri dan bergegas pergi. Saya tidak tahu ke mana Anda pergi. Saya tidak tahu apa yang begitu mendesak. Saya hanya berasumsi bahwa itu karena keyakinan yang sangat dalam—dan siapa pun yang berdiri paling dulu adalah yang paling tergerak. Karena itu, kami ingin meminta Anda untuk sejenak memperhatikan hal ini. Ketika Firman Allah diajarkan, Roh Allah sedang bekerja—Anda percaya itu, bukan? Dan sering kali semuanya langsung berakhir begitu saja. Jadi, yang akan kita lakukan adalah ini: saya akan menutup ibadah kita dengan doa terakhir bersama Anda, dan kami ingin memberi tahu bahwa ruang doa tersedia dan terbuka bagi siapa pun yang membutuhkan pertolongan rohani—apa pun yang Anda perlukan. Pusat keanggotaan juga terbuka untuk informasi tentang keanggotaan, baptisan, dan hal-hal lainnya—Anda sudah tahu semua itu.

Namun setelah doa penutup ini, saya akan meminta Anda untuk tetap duduk dengan tenang dan merenung sejenak, memikirkan apa yang telah Anda dengar, sementara Steve memainkan musik pelan selama kira-kira 30 detik sebagai latar yang tenang. Mari kita gunakan waktu singkat itu untuk memeriksa diri secara pribadi, ya? Dan nanti, ketika ia menekan pedal dengan kedua kakinya, itu akan menjadi tanda bahwa Anda sudah boleh mulai bergerak. Bisa kita lakukan itu? Jadi mari kita menutup ibadah ini dengan suasana yang hening dan reflektif setelah doa ini.

Bapa, terima kasih—terima kasih untuk semua ini. Apa lagi yang dapat kami katakan? Apa yang sungguh dapat kami ucapkan? Apa yang bahkan mampu kami pahami dari keagungan anugerah yang begitu murah hati ini, dari belas kasihan yang begitu melimpah yang Engkau berikan kepada kami? Kami bersyukur kepada-Mu karena Engkau bukan hanya memberikan kepada kami Kristus sebagai Pembela kami di surga, tetapi juga memberikan Roh Kudus sebagai Pengantara kami di bumi—Dia yang berseru demi kemuliaan kami. Dan Engkau mendengar, Engkau menjawab, dan kami dijamin oleh Penjaga yang supranatural. Kami memuliakan Engkau, ya Anak Allah, atas karya yang dahsyat di kayu salib, atas harga penebusan yang Engkau bayarkan bagi keselamatan kami. Kami juga memuliakan Engkau, ya Roh Kudus yang terberkati, karena Engkau telah melahirkan kami kembali, menguduskan kami, memelihara kami, dan suatu hari kelak akan memuliakan kami. Kami rindu menghormati Engkau, Allah Tritunggal, dalam segala hal, dan hidup dengan cara yang menghiasi segala kebenaran tentang diri-Mu, sejauh yang mungkin bagi manusia lemah seperti kami ini. Terima kasih karena Engkau telah menjadikan kami anak-anak-Mu, mengangkat kami sebagai anak-anak, dan kami pun kini mengeluh sambil menantikan hari kemuliaan kami, ketika kami dapat tersungkur di kaki-Mu dan menyembah-Mu, ya Allah, dalam kebenaran yang sempurna. Itulah doa kami. Dan sambil menantikan hari itu, kami mempersembahkan sisa perjalanan anugerah ini kepada-Mu dalam ketaatan, supaya Kristus dimuliakan, ditinggikan, dan menarik banyak orang datang kepada-Nya. Kami berdoa dalam nama-Nya. Amin.

SELESAI

This sermon series includes the following messages:

Please contact the publisher to obtain copies of this resource.

Publisher Information
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969

Welcome!

Enter your email address and we will send you instructions on how to reset your password.

Back to Log In

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize
View Wishlist

Cart

Cart is empty.

Subject to Import Tax

Please be aware that these items are sent out from our office in the UK. Since the UK is now no longer a member of the EU, you may be charged an import tax on this item by the customs authorities in your country of residence, which is beyond our control.

Because we don’t want you to incur expenditure for which you are not prepared, could you please confirm whether you are willing to pay this charge, if necessary?

ECFA Accredited
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Back to Cart

Checkout as:

Not ? Log out

Log in to speed up the checkout process.

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize