Kita sedang membahas Roma pasal 8—Roma pasal 8—dan tema kita adalah hidup di dalam Roh, hidup di dalam Roh Kudus. Bagi Saudara-saudara yang belum mengikuti sembilan minggu pembahasan sebelumnya, ini adalah pesan yang ke-10. Saya tidak tahu dengan Anda, tetapi bagi saya waktu berlalu begitu cepat, dan kami sungguh menikmati proses mempersiapkan pesan-pesan ini. Namun tujuan dan sasaran dari rangkaian pembahasan Roma 8 ini adalah menolong Anda memahami pelayanan Roh Kudus yang sesungguhnya, di tengah kenyataan bahwa dalam dunia Kristen Injili saat ini, pelayanan Roh Kudus sering kali disalahpahami dan disalahartikan.
Hal itu sebagian besar merupakan warisan dari gerakan Pentakosta/Karismatik, yang bisa dikatakan sebagai kekuatan ketiga dalam Kekristenan. Ada Katolik Roma, Protestan, dan Pentakosta. Itulah tiga kekuatan utama. Dan tentu saja, kita memahami kesalahan-kesalahan dalam Katolik Roma. Itulah sebabnya Protestan ada—karena merupakan sebuah protes terhadap kesalahan-kesalahan tersebut. Namun kita belum melakukan protes, sebagaimana seharusnya kita lakukan, terhadap penyimpangan Alkitabiah dalam gerakan Pentakosta. Selama bertahun-tahun saya berusaha melakukan suatu bentuk protes, meskipun kecil. Bertahun-tahun lalu saya menulis sebuah buku berjudul Kaum Karismatik, lalu melanjutkannya dengan buku Kekacauan Karismatik.. Banyak dari Anda telah membaca buku kedua itu. Buku tersebut masih beredar sampai hari ini, dan kiranya terus menolong orang-orang yang terjerat dalam gerakan itu dan dalam penyesatan doktrinalnya.
Jadi, melalui seri singkat ini, yang kami upayakan adalah membawa Roh Kudus ke dalam terang Alkitab dan mengeluarkan-Nya dari bayang-bayang kesalahan representasi Pentakosta. Mengenal kebenaran tentang Roh Kudus berarti mampu menyembah Allah dengan benar. Allah harus disembah karena siapa Dia sesungguhnya dan karena apa yang telah Dia lakukan, dalam pernyataan Tritunggal yang utuh. Kita dipanggil untuk menyembah Bapa dengan benar, menyembah Sang Anak dengan benar, dan menyembah Roh Kudus dengan benar, dan kita menyembah dalam Roh dan kebenaran. Pemahaman yang benar tentang Roh Kudus adalah hal yang sangat penting.
Merupakan sebuah paradoks yang aneh bahwa gerakan Pentakosta/Karismatik mengklaim diri sebagai gerakan Roh Kudus, namun justru menjadi pihak yang paling bersalah dalam menyalahartikan siapa Dia dan apa yang Dia kerjakan. Seolah-olah mereka berpikir bahwa dengan terus-menerus membicarakan Roh Kudus, orang-orang akan yakin bahwa mereka memang memiliki kuasa Roh Kudus. Padahal, justru hal itulah yang kami pertanyakan, karena penyimpangan-penyimpangan doktrinal yang begitu melekat pada gerakan tersebut dan yang sebenarnya mendefinisikannya. Dan sebagian besar penyimpangan itu berkaitan dengan Roh Kudus, meskipun tidak terbatas hanya pada itu. Ada juga penyimpangan dalam gerakan itu terkait doktrin Kitab Suci atau doktrin wahyu ilahi, dan itu bukan persoalan kecil. Mereka meyakini bahwa Allah masih terus menyatakan diri-Nya, Allah masih berbicara, memberikan penglihatan, kata-kata hikmat, kata-kata pengetahuan—bahwa pewahyuan kepada manusia masih terus berlangsung. Keyakinan ini mempertanyakan keunikan dan finalitas Kitab Suci, serta mengingatkan kita pada peringatan di akhir kitab Wahyu bahwa “Jika seseorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini.” Mencampuradukkan wahyu ilahi adalah kesalahan yang serius, dan hal itu merajalela dalam gerakan tersebut.
Lalu ada persoalan penafsiran. Bagaimana Firman Allah ditafsirkan dalam gerakan Pentakosta/Karismatik? Dalam banyak hal, penafsirannya bukan sekadar dangkal, tetapi diselewengkan dengan cara menspiritualisasikannya—menafsirkan Alkitab berdasarkan intuisi dan pengalaman, lalu memasukkan makna ke dalam teks. Kita menyebutnya eisegesis, yaitu membaca ke dalam teks apa pun yang kita ingin teks itu katakan. Ada juga kesalahan yang sangat serius dalam hal otoritas. Apa yang memiliki otoritas di dalam gereja? Apakah pengalaman seseorang memiliki otoritas? Apakah perasaan seseorang memiliki otoritas? Apakah kebenaran ditentukan oleh pengalaman eksistensial? Apakah kebenaran divalidasi oleh pengalaman eksistensial? Apakah ada kuasa dalam diri manusia untuk menciptakan dunianya sendiri? Apakah kita memiliki wewenang untuk mewujudkan dunia kita sendiri melalui ucapan, seperti yang diajarkan dalam gerakan pengakuan positif? Dapatkah kita menciptakan realitas kita sendiri? Bahkan, apakah kita memiliki otoritas atas Allah untuk memaksa Dia melakukan hal-hal tertentu karena kita telah mengucapkannya dan, melalui iman kita, kita memaksa Dia bertindak bagi kita? Persoalan otoritas adalah isu yang sangat besar dan telah disalahartikan dalam gerakan tersebut.
Persoalan keunikan kerasulan adalah isu lainnya. Menurut gerakan Pentakosta, para rasul masih ada, para nabi masih ada. Para rasul itu dikatakan masih memiliki tanda-tanda kerasulan. Muncul gelombang baru dari apa yang disebut rasul-rasul, yang konon mampu melakukan mukjizat, membaca pikiran orang, dan menerima pewahyuan dari Allah. Hal ini mempertanyakan keunikan pelayanan kerasulan dari para rasul sejati yang telah melihat Yesus yang bangkit dan yang secara khusus ditetapkan demikian dalam Perjanjian Baru.
Ada juga isu-isu lain yang mengkhawatirkan. Eksternalisme—yaitu perhatian yang lebih besar pada fenomena-fenomena lahiriah daripada pengudusan batiniah. Namun tampaknya tidak ada satu pun area yang disalahartikan secara lebih luas dibandingkan dengan hal-hal yang berkaitan dengan Roh Kudus. Begitu banyak dari apa yang terjadi dianggap sebagai kuasa Roh atau pekerjaan Roh, padahal sesungguhnya itu sama sekali bukan demikian.
Dengan latar belakang dominasi pengaruh gerakan Pentakosta/Karismatik dalam media Kristen, sangat penting bagi kita untuk memahami pelayanan Roh Kudus yang sejati. Selain itu, sebagai orang-orang percaya yang rindu menyembah Tuhan, kita ingin memahami siapa yang kita sembah dan mengapa kita menyembah-Nya—dan hal ini juga berlaku bagi Roh Kudus. Saya kira hampir semua dari kita memiliki pemahaman tentang Allah: tentang hakikat-Nya, kemuliaan-Nya. Kita menyembah Allah, kita mengenal sifat-sifat-Nya. Kita juga memiliki pemahaman tentang Kristus—pribadi-Nya, karya-Nya, apa yang telah Dia lakukan—dan kita merayakannya. Namun, ketika berbicara tentang pribadi dan karya Roh Kudus, ada jauh lebih banyak kebingungan dan ketidakjelasan. Seperti yang pernah saya sampaikan kepada Anda—mungkin sekitar seminggu yang lalu—tentang sebuah buku yang konon ditulis oleh seorang anak berusia empat tahun mengenai perjalanannya ke surga, lalu ia kembali dan melaporkan bahwa Roh Kudus adalah fenomena yang transparan. Buku itu terjual lima juta eksemplar dalam sembilan bulan. Ada begitu banyak kebingungan mengenai pelayanan Roh Kudus. Jika kita kembali kepada Kitab Suci, kita dapat melihat dengan jelas bagaimana Roh Kudus diperkenalkan kepada kita dan bagaimana pelayanan-Nya dijabarkan.
Itulah yang sedang kami upayakan dengan menelaah Roma pasal 8, jadi silakan membuka Roma 8, jika Anda belum berada di sana. Bukan berarti Roma 8 adalah satu-satunya bagian Alkitab yang mengajarkan hal-hal ini—sebenarnya, pengajaran tersebut tersebar di seluruh isi Alkitab—namun pasal ini menjadi titik fokus yang sangat penting karena begitu banyak hal dibahas di dalamnya. Hampir semua aspek penting mengenai pelayanan Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya dirangkum bersama dalam satu pasal yang luar biasa ini, yang saya suka sebut sebagai pasalnya Roh Kudus sendiri—pasalnya Roh Kudus sendiri.
Kesalahan yang melahirkan gerakan Karismatik/Pentakosta pada tahun 1901 adalah penafsiran yang keliru terhadap baptisan Roh Kudus. Mereka menciptakan sesuatu yang mereka sebut baptisan Roh Kudus, yang sama sekali tidak berkaitan dengan karya Kristus yang sejati—yaitu bahwa Kristus, melalui Roh Kudus, membaptis setiap orang percaya pada saat ia diselamatkan ke dalam tubuh Kristus. Itulah yang diajarkan Perjanjian Baru. Namun mereka mengembangkan gagasan bahwa baptisan Roh Kudus adalah suatu peristiwa—sebuah peristiwa yang dapat diulang—yang terjadi setelah keselamatan. Peristiwa ini harus dicari, dikejar, dan ketika seseorang mengalaminya, ia tahu bahwa ia telah mendapatkannya karena ia berbicara dalam bahasa yang tidak dapat dimengerti, memiliki kuasa yang lebih besar, dan diangkat ke tingkat kuasa rohani yang lebih tinggi.
Bahkan, jika seseorang menerima apa yang mereka anggap sebagai baptisan Roh Kudus ini dalam kadar yang cukup besar, ia bisa masuk ke dalam apa yang mereka sebut perfeksionisme Kristen, yaitu keadaan di mana seseorang tidak lagi berbuat dosa secara sengaja. Ia mungkin masih melakukan kesalahan tanpa disengaja, tetapi tidak dengan sadar berdosa. Ini adalah representasi lengkap dari baptisan Roh Kudus, yang merupakan deskripsi sederhana tentang karya Kristus yang menempatkan Anda pada titik keselamatan Anda ke dalam tubuh Kristus —yaitu gereja—oleh kuasa Roh Kudus. Hal itu terjadi satu kali pada saat keselamatan bagi setiap orang percaya, tidak pernah diulang, dan tidak pernah untuk dicari.
Namun sekali lagi, seluruh gerakan ini dimulai dari pandangan yang menyimpang, lalu berkembang kepada berbagai pandangan menyimpang lainnya. Kita tidak ingin terjebak di dalam gerakan itu; kita justru ingin keluar darinya. Saya menyinggung hal ini hanya supaya Anda memahami bahwa ini adalah sebuah gerakan yang sangat, sangat besar. Saya pernah mengatakan kepada Anda bahwa saat ini—sekitar seratus tahun setelah gerakan itu dimulai—, dan ini berdasarkan statistik yang saya lihat hanya dalam beberapa hari terakhir, ada sekitar setengah miliar orang yang mengaku menjadi bagian dari gerakan ini. Itu adalah pertumbuhan yang sangat mencengangkan bagi sebuah gerakan yang menyimpang.
Karena itulah kita terus menelaah Roma pasal 8, untuk bersentuhan dengan pelayanan Roh Kudus yang sejati dan murni. Dan saya mendorong Anda bahwa semua pengajaran ini tersedia bagi Anda. Anda dapat mengunduhnya melalui situs GTY.org jika ingin mendapatkan seluruh seri ini, atau Anda juga dapat memesannya dari Grace To You dalam bentuk CD; semuanya tersedia di sana.
Sekarang kita sampai pada Roma 8:26–30—Roma 8:26–30. Kita telah membahas ayat 26, 27, dan 28, dan kita akan melanjutkannya kembali dari bagian itu. Izinkan saya membacakan bagian ini supaya Anda mengingatnya dengan jelas: “Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri menyampaikan permohonan kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, memohon untuk orang-orang kudus. Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambar Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.”
Bagian Kitab Suci ini bahkan bisa dikatakan sebagai rangkuman sekaligus fondasi, dalam banyak hal, dari semua yang kita pahami tentang teologi Reformed. Bisa dikatakan bahwa Calvinisme pada dasarnya lahir dari bagian Kitab Suci ini. Semua unsur yang kita pahami sebagai ajaran Alkitabiah mengenai keselamatan—pengetahuan sebelumnya, predestinasi, panggilan, pembenaran, dan pemuliaan—semuanya disebutkan di sini. Dan tentu saja, pengajaran ini tidak bersifat samar, tidak berbelit-belit, dan tidak sulit untuk dipahami. Ini adalah firman Allah yang sangat jelas.
Ketika kita masuk ke bagian khusus Roma 8 ini, kita sedang menyoroti pelayanan Roh Kudus. Dialah yang menjamin kemuliaan kita di masa depan. Oke? Sebelumnya dalam pasal ini kita telah melihat hal-hal lain yang Dia kerjakan. Dia membebaskan kita dari maut dan dari penghukuman. Dia memampukan kita untuk menaati hukum Taurat, menggenapi hukum itu, dan hidup dalam kebenaran. Dia mengubah natur kita. Dia mengangkat kita sebagai anak-anak dan memasukkan kita ke dalam keluarga Allah. Lalu ketika kita mulai pada ayat 17, sebenarnya kita mulai mendengar tentang pemuliaan. Dan dari ayat 17 sampai ayat 30, seluruh bagian ini berbicara tentang bagaimana Roh Kudus menjamin kita untuk kemuliaan kekal—menjamin kita untuk kemuliaan kekal. Inilah berkat terbesar dari semua berkat.
Kita membaca dalam Efesus 1 bahwa “kita telah diberkati dengan segala berkat rohani di dalam sorga.” Nah, dalam daftar semua berkat itu, bagi saya jaminan ini berada di posisi paling atas. Diberkati dengan keselamatan yang tidak dapat dicabut, yang tidak mungkin gagal, adalah berkat terbesar dari semua berkat. Dan itu berarti, seperti yang dikatakan Efesus 1:12, bahwa kita berharap di dalam Kristus—di situlah pengharapan kita. Dan Roh Kudus adalah Roh Kudus yang dijanjikan—ayat 13 Efesus 1—yang diberikan kepada kita sebagai jaminan dari bagian warisan kita, sampai terjadinya penebusan atas milik kepunyaan Allah sendiri, bagi pujian kemuliaan-Nya. Roh Kudus adalah uang muka, jaminan, cincin pertunangan—angsuran pertama dari Allah atas kemuliaan kita di masa depan. Pemberian Roh Kudus adalah pemberian perlindungan. Petrus berkata, “Kita dipelihara oleh kuasa Allah sampai memperoleh kemuliaan, yaitu menerima bagian warisan kita.” Kuasa Allah yang memelihara kita itu bukanlah sesuatu yang impersonal. Kuasa Allah yang memelihara kita adalah tidak lain dan tidak bukan adalah Roh Kudus. Inilah berkat yang terbesar di dalam keselamatan kita.
Setelah mengatakan semua itu, dengarkan kutipan berikut ini. Ini adalah kutipan dari seorang pemimpin terkenal dalam gerakan Pentakosta. Ia mengatakan demikian: “Penyesatan terbesar yang pernah dirancang oleh Iblis adalah doktrin palsu ‘sekali selamat, tetap selamat.’” Itu adalah tuduhan yang sangat serius. Penyesatan terbesar yang dirancang oleh Iblis adalah bahwa keselamatan itu bersifat kekal? Apakah itu benar-benar sebuah penyesatan satanis? Pandangan inilah yang menjadi dasar teologi mereka. Adalah kebohongan yang sangat mendalam untuk mengatakan bahwa doktrin tentang kepastian keselamatan orang percaya adalah penyesatan satanis, bahwa orang Kristen dapat kehilangan keselamatannya. Dan di dalam pasal ini—bahkan di dalam bagian yang sedang kita bahas ini—saya akan tunjukkan kepada Anda bukti yang mutlak, tidak dapat dilanggar, tidak terbantahkan, dan sama sekali tidak dapat disangkal bahwa keselamatan Anda bersifat kekal.
Ketika saya memikirkan orang-orang yang duduk dalam lingkungan seperti itu, yang terus mencari fenomena lahiriah berikutnya untuk menopang ketakutan dan keraguan mereka, itu adalah pengalaman yang menyedihkan bagi saya. Orang-orang dalam keadaan seperti itu hidup dalam ketakutan yang tidak perlu—takut mereka akan murtad, takut mereka akan kehilangan keselamatan mereka. Karena itu mereka harus mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti ini: Bagaimana caranya supaya saya tetap selamat? Bagaimana caranya supaya saya bisa bertahan? Dan hanya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti itu saja sudah mengandaikan adanya kuasa dalam kehendak manusia yang sebenarnya tidak dimiliki oleh kehendak manusia. Jika itu bergantung pada Anda untuk bertahan, hal itu tidak akan terjadi. Jika itu bergantung pada Anda untuk mempertahankan keselamatan Anda, hal itu tidak akan terjadi. Orang-orang yang terkasih ini hidup dalam ketakutan—ketakutan yang tidak perlu—akan kehilangan keselamatan yang sebenarnya bersifat kekal. Pandangan ini menghina Roh Kudus, yang pelayanan-Nya adalah menjamin orang-orang percaya melalui kasih karunia sampai kepada kemuliaan. Orang-orang dalam gerakan itu hidup dalam ketidaknyamanan, kegelisahan, keraguan, dan ketakutan. Itulah sebabnya mereka mencari fenomena-fenomena lahiriah, untuk menopang iman mereka yang lemah dan untuk menyingkirkan ketakutan mereka.
Mari kita mulai dari ayat 28, karena kita sudah membahas ayat 26 dan 27. Dalam ayat 28 dikatakan, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan.” Dan kebaikan itu—seperti yang saya sampaikan pada pertemuan terakhir—adalah kebaikan kekal kita, yaitu kemuliaan kekal kita. “Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk kemuliaan kekal bagi mereka yang mengasihi Allah,” dan itu adalah sebutan bagi orang-orang percaya sejati, “yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana-Nya.” Ayat ini sangat, sangat penting. Dalam segala sesuatu, Allah membuat semuanya bekerja bersama—kata kerjanya adalah bersinergi—untuk kebaikan kekal kita. Artinya, tidak ada satu pun yang dapat menghasilkan hasil akhir yang negatif. Segala sesuatu—hal-hal yang baik, hal-hal yang buruk, maupun hal-hal yang netral—Allah kerjakan bersama-sama untuk kebaikan kekal kita.
Mengapa? Mengapa Allah melakukan hal itu? Dan inilah kuncinya, dan saya ingin Anda menangkap hal ini—jika tidak ada yang lain lagi—pagi ini. Saya akan kembali ke poin ini berkali-kali. Alasan semua itu terjadi adalah karena itulah tujuan Allah. Di akhir ayat dikatakan: Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan, yaitu kebaikan kekal kita, bagi kita yang mengasihi Allah—bukan bagi mereka yang tidak mengasihi-Nya; ini adalah sebutan bagi orang-orang percaya sejati—yaitu bagi mereka yang mengasihi Allah karena mereka telah dipanggil untuk melakukannya. Semua ini terjadi karena sesuai dengan tujuan-Nya. Keselamatan adalah seperti apa yang Allah tetapkan untuk menjadi demikian. Mari kita mulai dari sini: keselamatan adalah seperti apa yang Allah maksudkan dan rencanakan berdasarkan kehendak-Nya sendiri. Kita aman karena memang begitulah Allah merancang keselamatan. Apa pun hasilnya di akhir nanti akan sama persis dengan apa yang sudah ada sejak awal. Apa pun yang Allah kehendaki bagi rencana keselamatan-Nya, itulah yang akan terjadi.
Tidak ada variabel di dalam hal ini. Tidak ada ujung yang terlepas. Itulah sebabnya Yesus berkata dalam Yohanes 6, “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang; dan semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan Aku tidak akan kehilangan seorang pun dari mereka, supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman." Tidak ada kehilangan di sini. Apa pun yang Allah tetapkan untuk terjadi, pasti akan terjadi. Karena itu, akhir dari keselamatan ditentukan sejak awalnya. Saya ingin menunjukkan hal ini kepada Anda melalui sebuah bagian Kitab Suci yang sangat penting dan seharusnya sudah Anda kenal. Bagian itu terdapat dalam Yesaya pasal 46, kembali ke Perjanjian Lama, pasal 46 kitab Yesaya. Di masa-masa awal saya mempelajari Firman Allah dan berusaha memahami semua kebenaran ini, bagian Kitab Suci ini benar-benar muncul sebagai pernyataan yang sangat kuat dan meyakinkan mengenai hakikat keselamatan dan tujuan Allah. Bagian ini sungguh menjadi bagian Kitab Suci yang mengubah hidup saya.
Ayat 9 dari Yesaya 46. Dan tentu saja, di bagian ini Allah sedang membandingkan diri-Nya dengan berhala-berhala Babel. “Ingatlah hal-hal yang dahulu dari sejak purbakala, bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain; Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku.” Ini adalah monoteisme—hanya ada satu Allah. Dan inilah yang membedakan Allah sebagai Allah dalam bagian ini: “yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian.” Dengan kata lain, pernyataan ini berarti bahwa sejak awal, Allah dapat menyatakan dengan tepat bagaimana akhirnya nanti. Itulah kemahatahuan Allah, dan kemahatahuan-Nya itu menjangkau sampai ke akhir.
Tidak menjadi soal apakah sesuatu itu sudah terjadi atau belum terjadi. Tidak menjadi soal apakah hal itu dapat dicatat secara historis atau tidak. Tidak menjadi soal apakah ada orang yang mengetahuinya atau mengalaminya—semuanya dikenal oleh Allah. Allah mengetahui apa yang belum terjadi sama seperti Dia mengetahui apa yang telah terjadi. Allah mengetahui masa depan sama seperti Dia mengetahui masa lalu. Bahkan, Dia mengetahui masa depan dengan kesempurnaan yang sama seperti Dia mengetahui masa lalu. Tidak ada satu pun yang tidak Dia ketahui. Fakta bahwa sesuatu belum terjadi tidak berarti Allah tidak tahu bahwa hal itu akan terjadi. Bahkan saya akan melangkah lebih jauh. Allah bukan hanya mengetahui apa yang akan terjadi, tetapi Dia juga menentukan apa yang akan terjadi. Dia menetapkan akhir sejak awal. Karena itu, apa pun akhir yang telah Allah tetapkan bagi keselamatan, itulah yang sungguh-sungguh akan menjadi akhirnya.
Lanjutkan membaca di sana. Ayat 10 berkata, “yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata”—dan inilah kuncinya—“Keputusan-Ku akan sampai, dan segala kehendak-Ku akan Kulaksanakan.” Itulah pernyataan Allah sendiri tentang ketetapan mutlak yang Dia miliki untuk melakukan apa yang telah Dia rencanakan. Di akhir ayat 11 dikatakan, “Aku telah mengatakannya, maka Aku hendak melangsungkannya; Aku telah merencanakannya, maka Aku hendak melaksanakannya.” Ambil pernyataan itu dan terapkan pada keselamatan. Apa pun yang Allah rencanakan, itulah yang akan dikerjakan-Nya. Lalu, apakah yang Allah rencanakan? Apakah tujuan keselamatan itu? Nah, sebelum saya menjawab pertanyaan itu, saya ingin kembali dan meneguhkan pemahaman Anda tentang konsep tujuan Allah ini—tujuan Allah. Ini sangat penting untuk kita pahami.
Pagi ini kita akan membahas tujuan Allah dalam keselamatan, dan Minggu depan kita akan membahas proses Allah dalam mewujudkan tujuan itu. Jadi, tujuan hari ini, dan prosesnya pada pertemuan berikutnya.
Mari kita kembali sejenak ke Efesus 1, dan saya membacanya karena kaitannya dengan pembahasan ini. Efesus pasal 1. Saya hanya ingin Anda menarik satu hal dari bagian yang indah ini—yang sekarang sudah ada dalam pikiran Anda karena saya telah membacanya—bahwa yang sedang kita hadapi di sini adalah keseluruhan kisah keselamatan. Di dalamnya ada pengangkatan sebagai anak, ada kasih karunia, ada penebusan, ada darah Kristus, ada pengampunan dosa—semua hal yang kita ketahui berkaitan dengan keselamatan. Namun yang ingin saya tekankan agar Anda pahami adalah bahwa semua ini digerakkan oleh sebuah rencana ilahi.
Ayat 4 berkata, “Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan.” Untuk apa Dia memilih kita? Apakah tujuan-Nya? “Supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.” Dan hal itu tidak akan terjadi dalam hidup ini, bukan? Itu tidak akan terjadi sekarang. Saya tahu bahwa kebenaran Kristus diperhitungkan kepada kita dalam hidup ini, selama kita hidup dalam masa kasih karunia, tetapi tujuan akhir dari predestinasi adalah umat yang kudus yang berdiri di hadapan Kristus. Karena itu, “Ia telah menentukan kita dari semula melalui Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya.” Semuanya dimulai dari kehendak-Nya. Namun perhatikan ayat 6. Ke mana semua ini menuju? “Supaya terpujilah anugerah-Nya yang mulia.” Jadi tujuan keselamatan adalah menyelamatkan orang-orang oleh kasih karunia, memelihara mereka oleh kasih karunia, dan membawa mereka kepada kemuliaan, sehingga selama-lamanya Dia dapat menyatakan kasih karunia-Nya bagi mereka.
Bahkan para malaikat pun menjadi sasaran dari tujuan ini. Paulus berbicara tentang para malaikat yang memperhatikan kemuliaan Injil, karena mereka sendiri tidak pernah mengalami kasih karunia. Jika tidak ada orang berdosa yang ditebus oleh kasih karunia, maka aspek dari natur Allah itu tidak akan pernah dinyatakan. Karena itu, demi pujian akan kemuliaan Allah, demi pujian akan kemuliaan kasih karunia-Nya, Dia menebus orang-orang berdosa dan membawa mereka ke dalam hadirat-Nya yang kekal untuk menyatakan kasih karunia-Nya selama-lamanya. Itulah kehendak-Nya. Itulah kerelaan kehendak-Nya. Kehendak itu baik, karena kitalah yang menjadi penerima manfaatnya. Itu baik bagi kita, tetapi tujuan akhirnya adalah pujian bagi-Nya, yaitu kemuliaan kasih karunia-Nya.
Selanjutnya, ayat 7 mengatakan bahwa kita memiliki penebusan, yaitu pengampunan dosa, dan bahwa kekayaan kasih karunia-Nya dicurahkan dengan limpah kepada kita—semua hal ini. Mengapa Dia melakukan semuanya ini? Ayat 11 menjelaskannya: kita telah menerima bagian warisan, karena kita telah ditentukan dari semula sesuai dengan maksud Allah, yang mengerjakan segala sesuatu menurut keputusan kehendak-Nya. Dia memiliki suatu tujuan. Dia menentukan kita dari semula untuk tujuan itu. Dia mengerjakan segala sesuatu sesuai dengan tujuan itu, sesuai dengan kehendak-Nya. Lalu ayat 12 berkata, “supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya.” Dengan kata lain, akhirnya adalah bahwa semua orang yang telah Dia tentukan dari semula akan diselamatkan, akan dimuliakan, dan akan selama-lamanya menjadi puji-pujian bagi kemuliaan kasih karunia-Nya. Itulah tujuan-Nya, itulah maksud-Nya, itulah rencana-Nya, dan itulah yang sedang Dia kerjakan. Dan Dia memberi kita sebuah jaminan. Ayat 13, di bagian akhir ayat itu, mengatakan bahwa kita dimeteraikan di dalam Kristus—dimeteraikan, dilindungi—oleh Roh Kudus yang dijanjikan, yang adalah jaminan dari bagian warisan kita, “sampai kita memperoleh penebusan yang menjadikan kita milik Allah”—yaitu kita—“untuk memuji kemuliaan-Nya.”
Jika Anda tidak memahami konsep kepastian keselamatan orang percaya dalam konteks yang lebih besar—yaitu kuasa ilahi Allah, tujuan Allah, dan kemahatahuan Allah—maka Anda tidak akan menangkap pemahaman yang seharusnya tentang realitas kosmik yang begitu besar ini.
Dalam Ibrani pasal 6 terdapat kesaksian lain yang sangat kuat tentang kepastian yang kita miliki karena tujuan Allah. Dalam Ibrani 6:17—dan sebelumnya, di bagian awal pasal 6, penulis berbicara tentang orang-orang yang murtad dari kebenaran, yang sebenarnya bukan orang percaya sejati, yang jatuh meskipun mereka telah terpapar kepada seluruh pewahyuan. Mereka tidak berguna, terkutuk, dan akan dibakar, seperti yang dikatakan ayat 8. Namun kemudian nada pembicaraan berubah, dan mulai berbicara kepada orang-orang percaya pada ayat 9: “Tetapi, Saudara-saudaraku yang kekasih, kami yakin bahwa kamu memiliki sesuatu yang lebih baik.” Lalu, berbicara tentang kita, turun ke ayat 17: “Karena itu, ketika Allah bermaksud menunjukkan dengan lebih meyakinkan kepastian rencana-Nya kepada para ahli waris janji itu, Ia menjamin dengan sumpah.”
Ini sungguh luar biasa. Allah ingin menunjukkan kepada para ahli waris—yaitu kita—janji Allah tentang kemuliaan kekal. Kita adalah para ahli waris yang sedang menantikan warisan yang sepenuhnya. Dia ingin memperlihatkan kepada kita bahwa tujuan-Nya tidak berubah. Tujuan itu tidak akan berubah. Apa pun yang telah Dia tetapkan, itulah yang akan Dia lakukan. “Ia menjamin dengan sumpah, supaya melalui dua kenyataan yang tidak berubah-ubah — dalam hal ini Allah tidak mungkin berdusta — kita yang mencari perlindungan, beroleh dorongan yang kuat untuk berpegang pada pengharapan yang terletak di depan kita.” Apakah dua hal itu? Janji dan sumpah. Allah berjanji, lalu Dia bersumpah untuk setia pada janji-Nya. Melalui dua hal yang tidak berubah itu, Allah menyatakan ketidakberubahan tujuan-Nya. Dan sebagai hasilnya, Dia yang tidak mungkin berdusta memberi kita tempat perlindungan dengan dorongan yang kuat, sehingga kita dapat berpegang teguh pada pengharapan yang ada di hadapan kita. Pengharapan ini, seperti yang dikatakan ayat 19, adalah sauh bagi jiwa.
Saya tidak tahu bagaimana orang bisa hidup di bawah pengajaran yang terus mengancam bahwa keselamatan mereka bisa hilang. Kita memiliki sauh yang benar-benar tertancap—seperti yang dikatakan dua ayat berikutnya dalam Ibrani 6—sampai ke dalam Ruang Mahakudus, sampai ke belakang tabir, terikat kepada Kristus sendiri. Kita memiliki Allah yang tidak berubah, yang telah memberikan janji-janji yang tidak berubah, dan kemudian Dia menambahkan sumpah di atas janji itu, sehingga melalui dua realitas yang tidak berubah itu, Allah yang tidak mungkin berdusta telah mengikatkan diri-Nya kepada kita dengan janji kemuliaan kekal. Dengan demikian, Dia telah memberikan kepada kita pengharapan yang kokoh dan aman. Dan kita dijaga dengan aman oleh syafaat Anak Allah di sebelah kanan Allah, dan oleh syafaat Roh Kudus yang terus berlangsung di dalam kita—seperti yang kita lihat dalam ayat 26 dan 27—di mana Roh Kudus senantiasa berdoa sesuai dengan kehendak Allah. Karena itu, kita dijamin keamanannya: pertama, oleh janji Allah; kedua, oleh karya keimamatan Kristus; dan ketiga, oleh syafaat pribadi Roh Kudus yang terberkati bagi kita.
Keselamatan Anda bersifat kekal karena memang demikianlah Allah merancangnya. Itulah cara Dia merencanakannya, dan itulah pula cara semuanya akan terjadi. Karena itu, segala sesuatu bekerja bersama-sama untuk kebaikan kita, sebab hal itu sejalan dengan tujuan Allah. Lalu, apa sebenarnya tujuan Allah dalam keselamatan kita? Apa itu? Mungkin Anda berkata, “Supaya kita masuk surga.” Ya, itu benar, tetapi itu belum sepenuhnya menggambarkan tujuan yang sesungguhnya. Maksud saya, itu hanyalah bagian dari perjalanan menuju tujuan itu. Saya rasa banyak orang berpikir bahwa keselamatan hanyalah soal bagaimana caranya bisa sampai ke sana—asal bisa masuk surga. Lalu mereka berharap, ketika nanti dibagikan kecapi, mereka setidaknya mendapat kecapi kecil untuk dimainkan, dan mungkin sebidang awan kecil untuk diduduki, lalu memetik kecapi itu selamanya dalam lingkungan yang sempurna. Gambaran seperti itu jauh sekali dari pemahaman tentang realitas surga. Dan itu adalah bagian dari pembodohan yang muncul dari buku-buku yang ditulis oleh orang-orang yang mengaku pernah melakukan perjalanan ke surga.
Saya sudah berada di ambang untuk menulis buku yang lain, dan topiknya adalah: “Maukah Anda mengetahui kebenaran tentang surga?” Karena ketika Anda membandingkan semua kisah aneh tentang orang-orang yang mengaku pernah pergi ke surga, tidak satu pun dari kisah-kisah itu saling sejalan. Jadi, ke mana pun sebenarnya mereka pergi, itu bukan surga. Sebab jika itu benar-benar surga, semuanya pasti akan sama—karena surga adalah surga apa adanya, bukan seperti yang digambarkan oleh orang-orang yang ceritanya saling bertentangan. Kebenaran itu ada di dalam Firman Allah. Dan ketika Anda benar-benar pergi ke surga nanti, apa yang akan menjadi tujuannya? Apa yang akan menjadi sasaran utamanya?
Saya ingin Anda melihat hal ini, jadi mari kita kembali ke Roma pasal 8 dan, dalam beberapa menit ke depan, kita melihat tujuan itu—tujuan tersebut. Poin yang sudah kita tekankan adalah bahwa tujuan Allah pasti digenapi, dan fakta tentang tujuan-Nya sudah ditetapkan sebelum dunia dijadikan. Dia telah menentukannya terlebih dahulu, dan hasil akhirnya akan persis seperti itu. Apa pun yang Dia rencanakan, itulah yang akan terjadi. Akhirnya akan sama dengan permulaannya. Tetapi, apakah tujuan itu? Apa sasaran utamanya? Mengapa Allah mengerjakan segala sesuatu untuk membawa kita ke dalam kemuliaan kekal? Mengapa itu menjadi tujuan-Nya? Mengapa kita dipanggil menuju akhir seperti itu? Mengapa kita telah dikenal sebelumnya, ditentukan sebelumnya? Inilah jawabannya, di tengah ayat 29—inilah tujuan kedua, sasaran kedua: supaya kita menjadi serupa dengan gambar Anak-Nya. Supaya kita menjadi serupa dengan gambar Anak-Nya—apakah Anda mendengarnya? Supaya kita menjadi serupa dengan gambar Anak-Nya.
Dalam sebuah buku yang ditulis tentang seorang anak kecil berusia empat tahun, dikatakan, “Surga itu penuh dengan anak-anak yang berlarian ke sana kemari.” Benarkah? Surga itu hanya penuh dengan anak-anak yang berlarian ke mana-mana? Saya rasa tidak. Sama sekali tidak. Siapa pun yang ada di surga dibentuk menjadi serupa dengan gambar siapa? Kristus. Kemanusiaan yang utuh dan dimuliakan—baik laki-laki maupun perempuan—kemanusiaan yang sempurna. Inilah tujuan kedua dari keselamatan: supaya kita menjadi serupa dengan gambar Anak-Nya. Itulah tujuannya. Apa artinya menjadi seperti Kristus? Itu tidak berarti kita akan menyerupai wajah-Nya secara fisik. Yang dimaksud adalah, sejauh kemanusiaan yang telah dimuliakan dapat menyerupai Allah yang menjadi manusia, kita akan menjadi seperti Dia. Filipi 3:20–21 mengatakan bahwa kita akan memiliki tubuh yang serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, bukan? Surat 1 Yohanes 3:1–2 menyatakan bahwa kita akan menjadi seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia sebagaimana adanya. Itulah hadiah dari panggilan ke atas. Filipi pasal 3 berkata, “Aku berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi.” Apa hadiah dari panggilan surgawi itu? Keserupaan dengan Kristus.
Saat ini pun, Roh Kudus sedang membentuk kita, bukan? Dari satu tingkat kemuliaan ke tingkat kemuliaan berikutnya. Kita sudah membahas hal itu. Dia sedang membentuk kita menjadi serupa dengan gambar Kristus ketika kita memandang kemuliaan-Nya di dalam Kitab Suci. Semakin Kristus menjadi mulia bagi kita, semakin kita mengenal Dia, Roh Kudus secara nyata membentuk kita ke dalam gambar-Nya. Namun proses itu belum selesai, belum sempurna, sampai kita dibangkitkan dan penebusan tubuh kita terjadi, seperti yang disebutkan sebelumnya dalam pasal ini. Tetapi ketika kita benar-benar tiba di surga, tujuannya adalah supaya kita menjadi serupa—kata kerjanya berarti “dibawa ke dalam bentuk yang sama,” persis seperti bunyinya—dibawa ke dalam bentuk yang sama dengan gambar Kristus. Kata “gambar” di sini adalah eikōn, dari mana kita mendapatkan kata ikon. Kata ini dipakai empat kali dalam Perjanjian Baru dengan rujukan yang serupa kepada Yesus Kristus. Kata ini digunakan dalam 2 Korintus 3:18, yang mengatakan bahwa kita diubahkan menjadi serupa dengan gambar-Nya dari satu tingkat kemuliaan ke tingkat kemuliaan berikutnya. Kata yang sama juga dipakai lagi dalam pasal 4, yang kembali berbicara tentang rupa Kristus. Kita juga menemukannya dalam Kolose pasal 1 dan Kolose pasal 3. Rupa ini adalah rupa yang dihasilkan secara sengaja, bukan kebetulan atau tidak disengaja. Dengan kata lain, ini bukan seperti, “ups—ternyata dia mirip Yesus,” sebagaimana kemiripan yang kadang terjadi secara kebetulan dalam kehidupan manusia. Ini adalah rupa yang dibentuk secara sadar dan terencana. Secara harfiah, kita dibawa ke dalam bentuk yang sama dengan sengaja. Sekali lagi, ini tidak berarti kita semua akan memiliki ciri fisik yang persis sama dengan Kristus, tetapi berarti bahwa secara hakiki kita akan menjadi seperti Dia—yaitu kemanusiaan yang sempurna, dewasa, benar, kudus, dan murni.
Dan ingat, kita sudah membicarakan hal ini, bukan? Bahwa Kristus menjadi teladan bagi kita. Dialah manusia yang sempurna. Dia menunjukkan kepada kita seperti apa kemurnian yang sempurna, kekudusan yang sempurna, dan kebenaran yang sempurna itu. Dialah standarnya. Dia berada dalam rupa Allah, lalu mengambil rupa manusia. Dia datang ke dunia, ya, untuk menggenapi rencana Allah dengan mempersembahkan diri-Nya sebagai korban bagi dosa. Tetapi Dia juga datang untuk memperlihatkan rencana Allah itu sendiri. Jadi, ketika Anda memikirkan surga, pikirkanlah Kristus, dan pikirkanlah fakta bahwa segala sesuatu yang benar tentang Kristus akan menjadi benar juga tentang Anda. Ini terdengar sangat mustahil, bukan? Terasa terlalu jauh. Tapi pada dasarnya, Dialah yang menunjukkan seperti apa kemanusiaan yang sempurna itu—kemanusiaan yang benar-benar kudus dan benar. Dan tujuan Allah adalah membentuk kita menjadi serupa dengan gambar itu. Ini bukan soal hal-hal sampingan; ini tentang menjadi seperti Kristus. Menjadi seperti Kristus. Ketika kita memandang Dia, Roh Kudus perlahan-lahan membentuk kita ke dalam gambar-Nya—sedikit demi sedikit. Paulus berkata, “Bukan seolah-olah aku telah mencapai hal itu”—Filipi pasal 3—“tetapi aku berlari-lari kepada tujuan.” Namun suatu hari nanti, kita akan menjadi seperti Dia.
Itulah tujuan kedua Allah—itulah tujuan kedua Allah. Lalu, apa tujuan yang utama? Teruskan membaca. Kembali ke ayat 29. Tujuan yang utama adalah supaya Dia—tujuan kedua adalah supaya Anda dibentuk menjadi serupa dengan Anak-Nya; tujuan yang utama adalah supaya Dia, yaitu Anak-Nya, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Mungkin Anda berkata, “Ah, itu tidak terdengar terlalu penting—yang sulung di antara banyak saudara. Kedengarannya biasa saja.” Itu karena Anda belum memahami arti kata “yang sulung.” Dan dalam beberapa hal, saya berharap terjemahan ini tidak menggunakan istilah tersebut, karena kata prōtotokos memiliki makna yang jauh lebih luas daripada yang biasanya kita bayangkan ketika mendengarnya—seolah-olah hanya anak pertama yang lahir dalam sebuah keluarga. Begitulah cara kita memahaminya dalam budaya kita, karena kita tidak lagi hidup seperti masyarakat kuno. Kita biasanya tidak memberikan kedudukan atau hak istimewa khusus kepada anak sulung laki-laki sebagai anak utama dalam keluarga.
Anda tahu, kita dibesarkan dalam budaya demokratis, di mana semuanya seharusnya setara, dan semua dibagi rata kepada anak-anak. Tetapi pada zaman kuno, ketika warisan diteruskan, harta itu diberikan kepada anak yang paling dewasa—biasanya anak laki-laki sulung—dia yang memiliki kekuatan, kemampuan, dan kedewasaan untuk mengelola seluruh harta keluarga. Dialah yang menerima semua aset, juga semua tanggung jawab dan kewajiban, lalu menata semuanya dan meneruskan keberlangsungan keluarga, serta merawat seluruh keluarga besar yang menjadi bagian dari struktur masyarakat saat itu. Karena itu, warisan diberikan kepada anak sulung—dia yang paling berpengalaman, paling dewasa, dan paling matang. Dia dipandang sebagai yang utama, yang menonjol. Dari situlah latar belakang makna kata itu berasal. Namun, maknanya sebenarnya jauh lebih dalam daripada sekadar itu.
Kata “yang sulung” sebaiknya Anda pahami sebagai “Dia yang paling utama”—yang paling utama—sehingga ayat itu dapat dibaca: supaya Dia menjadi yang paling utama di antara banyak saudara. Menarik sekali bahwa dalam Ibrani pasal 2 dikatakan Tuhan tidak malu menyebut kita, yaitu orang-orang percaya, sebagai saudara-Nya. Kita telah diadopsi ke dalam keluarga Allah. Kita adalah anak-anak dalam keluarga itu. Dalam pengertian tertentu, kita adalah saudara-saudara Kristus. Kita juga mengambil bagian dalam kodrat ilahi—sejauh kemanusiaan yang telah dimuliakan dapat menyerupai Allah yang menjadi manusia, itulah yang akan kita miliki dan alami. Saya tidak sepenuhnya memahami hakikat dari semua itu, tetapi satu hal yang saya ketahui dengan pasti: realitasnya adalah kekudusan yang sempurna, kemurnian yang mutlak, dan kebenaran yang sepenuhnya.
Semua itu akan menjadi milik kita, dan tidak ada sedikit pun keraguan atau keberatan dari pihak Allah untuk memberikannya kepada kita—bahkan untuk memberikan kebenaran-Nya sendiri kepada kita. Kebenaran itu sudah diperhitungkan ke dalam hidup kita pada saat pembenaran, dan kelak akan menjadi kenyataan sepenuhnya dalam pemuliaan. Allah tidak segan untuk memberikan hal itu kepada kita, dalam arti tertentu bahkan membagikan kemuliaan-Nya kepada kita pada akhirnya. Sebab Dia akan membentuk kita menjadi serupa dengan gambar Anak-Nya, sehingga kita sungguh-sungguh memantulkan kemuliaan Anak itu. Namun pada akhirnya, sekalipun kita adalah saudara-saudara-Nya, Kristus tetaplah prōtotokos—Dia yang paling utama. Dan itulah, Saudara, tujuan keselamatan. Tujuan misi Allah di dunia ini adalah untuk meninggikan Anak-Nya, Anak yang dikasihi-Nya, sehingga Dia menjadi yang paling utama dalam surga yang kekal, di mana Dia akan dimuliakan selamanya oleh mereka yang mengasihi dan menyembah-Nya. Mungkin Anda berkata, “Bukankah para malaikat juga bisa melakukan itu?” Tidak—setidaknya bukan dari sudut pandang kasih karunia. Bukan dari sudut pandang belas kasihan. Allah tidak dapat untuk selama-lamanya mempertunjukkan pujian atas kemuliaan kasih karunia-Nya jika Dia tidak menciptakan manusia, menebus orang-orang berdosa, dan membawa mereka ke surga.
Pada akhirnya—dan saya sudah mengatakan hal ini selama bertahun-tahun—seluruh tujuan keselamatan adalah karena Bapa mengasihi Sang Anak dengan begitu sempurna, begitu tak terbatas, begitu mulia, begitu agung—begitu sempurna—sehingga kasih itu harus dinyatakan. Lalu, bagaimana Bapa menyatakan kasih-Nya kepada Sang Anak? Dia melakukannya dengan memberikan kepada-Nya sekumpulan besar orang-orang kudus yang telah dimuliakan, yang untuk selama-lamanya akan memuji dan menghormati Dia. Itulah alasan mengapa semua ini terjadi. Bahwa Anda dibentuk menjadi serupa dengan gambar-Nya itu adalah tujuan kedua. Tujuan utamanya adalah bahwa karena Anda sekarang telah dibentuk menjadi serupa dengan gambar-Nya, Anda dapat memuliakan Dia untuk selama-lamanya. Keutamaan Kristus adalah segalanya. Itulah sebabnya Filipi pasal 2 mengatakan bahwa Allah telah mengaruniakan kepada-Nya Nama yang di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus, setiap lutut bertelut.
Dalam Kolose pasal 1 ada sebuah pernyataan—yang sebenarnya dimulai pada ayat 15: “Dialah gambar Allah yang tidak kelihatan, Dia adalah prōtotokos dari segala ciptaan—yang sulung, lebih utamadari segala ciptaan.” Nah, itu tidak berarti bahwa Dia adalah pribadi pertama yang diciptakan. Banyak manusia telah diciptakan sebelum Yesus lahir. Anak yang kekal tentu tidak pernah diciptakan, meskipun Yesus sebagai manusia dikandung dalam rahim Maria. Jadi, Dia bukan yang sulung secara kronologis dari seluruh ciptaan. Tetapi dari semua yang pernah diciptakan, Dialah prōtotokos—Dialah yang utama, yang paling menonjol, yang paling berkuasa. Itulah arti sebenarnya dari kata itu. Dan untuk menjelaskan makna itu lebih jauh, ayat tersebut melanjutkan: Dialah prōtotokos dari segala ciptaan, karena di dalam Dialah segala sesuatu diciptakan, baik yang di sorga maupun yang di bumi, yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan, baik singgasana, kerajaan, pemerintah, maupun penguasa. Segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Dia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu, dan segala sesuatu ada di dalam Dia. Dialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Dialah permulaan. Dialah prōtotokos dari antara orang mati—artinya, dari semua yang pernah dibangkitkan dari kematian, Dialah yang paling utama dan yang paling menonjol. Karena itu, Dialah yang memiliki tempat pertama dalam segala sesuatu.
Lalu dikatakan demikian: “Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan tinggal di dalam Dia.” Apa yang Allah kehendaki? Kehendak dan kesenangan Allah adalah untuk menghormati Anak-Nya. Dan Dia berkenan mewujudkan hal itu dengan menebus orang-orang berdosa, yang kemudian menjadi sekumpulan umat kekal—orang-orang yang akan menghormati Anak-Nya, memuliakan Anak-Nya, melayani Anak-Nya, bahkan memantulkan kemuliaan Anak-Nya sendiri. Itulah tujuan-Nya. Tujuan Allah bukanlah membawa orang-orang setengah jalan ke surga lalu membiarkan mereka jatuh dan masuk neraka. Tujuan-Nya bukan menyelamatkan mereka hanya untuk sementara waktu. Tujuan-Nya bukan sekadar memberitakan Injil, berharap mereka percaya, lalu berharap mereka bisa bertahan. Tujuan-Nya adalah menciptakan umat manusia yang telah ditebus—orang-orang kudus yang sampai ke surga oleh kasih karunia—yang untuk selama-lamanya akan memuji Dia yang telah mati untuk membuat semua itu mungkin, yaitu Sang Anak Allah.
Allah memang memberi kita sukacita, damai sejahtera, dan surga—tetapi bukan semata-mata untuk kita. Kita hanyalah tujuan kedua. Puncak dari tujuan ilahi adalah supaya kita semua yang ada di sana untuk selama-lamanya dapat memuliakan Anak-Nya. Kristus adalah pusat utama dalam seluruh sejarah penebusan. Dialah yang akan dimuliakan dan dihormati untuk selama-lamanya. Maka, tujuan keselamatan pada akhirnya adalah Kristus—yaitu kasih Bapa kepada Anak. Saya sering mengungkapkannya seperti ini: dalam karya penebusan, Bapa sedang mencari seorang mempelai bagi Anak-Nya. Itulah sebabnya surga disebut kota pengantin, Yerusalem Baru, yang dihiasi seperti seorang mempelai, bukan? Itulah sebabnya gereja disebut mempelai Kristus, dan Dia adalah Mempelai Pria. Seluruh sejarah penebusan adalah kisah tentang Bapa yang menyediakan mempelai yang tunduk dan penuh kasih bagi Anak-Nya—mempelai yang akan memuji dan menghormati Dia untuk selama-lamanya. Itulah tujuan Allah, dan itulah yang sedang Dia kerjakan.
Kembali ke Yesaya 46: “Aku merencanakannya, dan Aku melaksanakannya.” Lalu kembali ke Yohanes 6, ketika Yesus berkata, “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku. Tidak seorang pun akan hilang dari antara mereka. Aku akan membangkitkan mereka pada hari terakhir.” Karena itu, “semua orang yang telah dikenal Allah sebelumnya”—ayat 29—“ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambar Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” Lalu inilah prosesnya: Dia menentukan dari semula, Dia memanggil, Dia membenarkan, dan Dia memuliakan. Tidak ada yang hilang. Siapa yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itulah yang dipanggil-Nya. Siapa yang dipanggil-Nya, mereka itulah yang dibenarkan-Nya. Dan siapa yang dibenarkan-Nya, mereka itulah yang dimuliakan-Nya.
Dan sebagai tambahan, ayat 31 berkata: “Jika Allah di pihak kita”—lalu apa? Jika inilah rencana-Nya, apakah Anda pikir ada seseorang yang bisa merusaknya? Karena itu, bersukacitalah dalam kepastian keselamatan Anda. Bersukacitalah dalam pekerjaan syafaat Kristus di hadapan takhta Allah bagi Anda. Bersukacitalah dalam pekerjaan syafaat Roh Kudus yang terus berlangsung di dalam hati Anda. Bersukacitalah dalam tujuan Allah yang begitu besar, penuh kasih karunia, dan menakjubkan—tujuan yang pasti akan terlaksana. Nah, mungkin sebagian dari Anda sedang memperhatikan kata-kata ini: “pengetahuan sebelumnya,” “penentuan sebelumnya,” “panggilan,” dan bertanya-tanya, “Bagaimana semua ini bekerja?” Nah, itu akan kita bahas minggu depan, ya. Minggu depan.
Nah, sebentar lagi saya akan berdoa, tetapi kita akan melakukan hal yang sama seperti minggu lalu. Saya akan berdoa, lalu saya minta Anda tetap duduk dengan tenang—jangan langsung pergi. Seperti yang saya katakan minggu lalu, ini adalah waktu untuk bermeditasi, waktu untuk merenungkan apa yang telah disampaikan. Kita sering terbiasa di tempat ini untuk segera bergegas ke acara berikutnya. Saya ingin Anda duduk dengan tenang sementara Jan memainkan organ sebentar, dan memikirkan hal-hal yang telah Anda dengar. Nanti, ketika musiknya mulai lebih keras, Anda akan tahu bahwa saatnya beranjak untuk bersekutu. Dan sebelum saya menutup dengan doa, saya ingin mengingatkan bahwa malam ini kita akan berkumpul di sekitar Meja Tuhan. Itu akan menjadi waktu yang sangat indah—waktu untuk merayakan salib dan datang ke hadapan Tuhan di meja-Nya. Jadi, mari hadir bersama kami pukul 6:00 malam ini. Dan ketahuilah juga, ruang doa terbuka di sebelah kanan saya bagi siapa pun yang memiliki kebutuhan rohani. Kami dengan senang hati menyambut Anda. Ada saudara-saudara yang rindu berbicara dan mendoakan Anda.
Sekarang, Bapa, kami sangat bersyukur untuk waktu pagi ini dan mencoba membicarakan hal-hal ini. Saya merasa begitu lemah, begitu terbatas, dan begitu tidak mampu untuk mulai mengungkapkan keagungan dan kebesaran kebenaran-kebenaran ini. Hamba-Mu ini sungguh tidak memadai untuk memahami keagungan yang tak terbatas dari realitas-realitas ini. Kami hanya bisa berdoa, ya Tuhan, kiranya dengan cara apa pun, kata-kata kami yang sederhana, usaha kami yang lemah ini, boleh Engkau tingkatkan dan Engkau perkaya oleh Sang Pengajar yang mulia yang diam di dalam kami—oleh pengurapan yang kami terima dari Allah, yaitu Roh Kudus sendiri—agar Dia membawa kami masuk lebih dalam lagi ke dalam kemuliaan realitas penebusan ini. Terima kasih untuk saudara-saudara yang ada di sini yang bersukacita dalam keselamatan sejati yang kekal, yang hidup dalam pengharapan yang penuh keyakinan, yang jiwanya tertambat dengan kokoh karena keselamatan mereka itu nyata. Tuhan, mungkin ada juga orang-orang di sini yang tidak memiliki keyakinan bahwa mereka sungguh-sungguh diselamatkan—yang sedang bergumul. Bahkan mungkin ada yang tahu bahwa mereka tidak memiliki keselamatan, tidak memiliki pengharapan, hidup tanpa Allah di dunia ini, dan sedang menuju penghakiman. Saya berdoa, ya Tuhan, kiranya mereka berpaling kepada Kristus dan kepada janji hidup yang kekal di dalam Dia. Dan ada juga mereka yang masih ragu, penuh pertanyaan, bertanya-tanya apakah mereka benar-benar diselamatkan atau tidak. Saya berdoa, ya Tuhan, kiranya Engkau sungguh-sungguh menarik mereka kepada Kristus dengan cara yang menyelamatkan, dan memberikan kepada mereka pengharapan yang sejati itu. Kiranya Roh Kudus bersaksi bersama roh mereka bahwa mereka benar-benar adalah anak-anak Allah. Terima kasih untuk semua yang telah Engkau tanamkan dalam pikiran kami hari ini. Kiranya semua itu turun dari pikiran ke hati kami, sehingga terwujud dalam penyembahan dan ketaatan. Kami berdoa dalam nama Kristus. Amin.
SELESAI
This article is also available and sold as a booklet.
