Sekarang kita tiba pada pesan yang ke-13—sejujurnya, itu tidak pernah saya rencanakan—namun inilah pesan ke-13 dalam seri Roma 8 tentang Roh Kudus. Dan kami sungguh menyambut dengan hangat Anda yang hadir sebagai tamu di gereja kami, khususnya di bagian penutup dari seri ini. Memang, sayangnya ada di antara Anda yang tidak sempat mengikuti pesan-pesan sebelumnya, sehingga mungkin agak tertinggal, tetapi tidak apa-apa. Silakan buka Roma pasal 8, dan sementara Anda melakukannya, saya ingin menyampaikan satu catatan singkat mengenai buku penyembahan.
Ada catatan tentang hal itu di buku berjudul Grace Today. Dalam beberapa tahun terakhir, buku tersebut telah melalui penyuntingan yang cukup teliti, dengan penambahan beberapa materi baru untuk memperkaya sekaligus memperbaruinya. Dan mungkin hal yang paling menonjol adalah bahwa bab terakhir dalam buku itu membahas tentang musik—musik seperti apa yang layak dan pantas untuk ibadah. Ada hal-hal dalam bab tersebut yang bersifat khas dan hanya ada dalam edisi ini. Saya hanya ingin memberi tahu Anda bahwa bagian itu, bersama dengan satu bab baru lainnya yang benar-benar ditambahkan, membuat buku ini berbeda dan menonjol dibandingkan edisi-edisi sebelumnya.
Dan berbicara tentang penyembahan, seri yang sedang kita jalani ini memiliki satu tujuan utama, yaitu menolong kita untuk menyembah Roh Kudus sebagaimana seharusnya. Ketika saya menyampaikan pesan pertama dan mengajak jemaat untuk menyembah Roh Kudus, setelah ibadah selesai saya belum sempat melangkah jauh, saya langsung dihentikan oleh seseorang yang sangat marah—marah karena saya berani menyarankan bahwa kita perlu menyembah, menaikkan pujian, dan berdoa kepada Roh Kudus. Hal itu justru menyingkapkan masalah yang ada. Kita perlu menyembah Roh Kudus dengan cara yang sama seperti kita menyembah Anak Allah dan Allah Bapa sendiri.
Dalam Wahyu 22:9, ada satu perintah yang sangat singkat, yaitu, “Sembahlah Allah.” Sembahlah Allah. Di pasal terakhir Alkitab, pesannya jelas: “Sembahlah Allah.” Pesan itu bukanlah sesuatu yang baru. Jika Anda kembali ke awal Alkitab, ke Pentateukh—tulisan-tulisan Musa—Anda akan menemukan banyak seruan untuk menyembah Allah. Ketika Anda masuk ke kitab-kitab sejarah, kitab-kitab puisi, kitab-kitab para nabi—seluruh tulisan kudus yang membentuk Perjanjian Lama—ke mana pun Anda pergi, Anda akan berulang kali diperintahkan, dalam banyak cara, untuk menyembah Allah. Bahkan Yesus sendiri mengatakan dalam Yohanes 4 bahwa Bapa mencari penyembah-penyembah yang benar. Dan Paulus, dalam Filipi 3, menggambarkan kita sebagai orang-orang yang menyembah Allah di dalam Roh—yaitu Roh Allah. Kita adalah para penyembah Allah. Itulah yang kita lakukan, itulah alasan kita ada di sini. Allah adalah hadirin-Nya, dan kita mempersembahkan ibadah kepada-Nya sebagaimana seharusnya—setiap hari secara pribadi dalam hidup kita, dan secara bersama-sama ketika kita berkumpul seperti ini.
Ketika Alkitab memerintahkan kita untuk menyembah Allah, Allah yang dimaksud adalah Allah Tritunggal—Bapa, Anak, dan Roh Kudus—Allah yang benar dan hidup, satu-satunya Allah, tiga dalam satu. Maka ketika kita diperintahkan—dan itu sangat sering—untuk menyembah Allah, perintah itu pasti mencakup ketiga Pribadi dalam Tritunggal. Dalam pengertian apa pun, kita tidak boleh memberikan penyembahan yang lebih rendah kepada satu Pribadi Tritunggal dibandingkan dengan Pribadi yang lain. Kita tidak boleh berasumsi bahwa ketika Kitab Suci berkata “sembahlah Allah,” itu berarti kita hanya menyembah Pribadi-Pribadi tertentu dalam Tritunggal dan bukan yang lain, atau menyembah satu lebih daripada yang lain. Bukankah seharusnya kita memahami bahwa setiap perintah dalam Kitab Suci untuk menyembah Allah adalah juga perintah untuk menyembah Roh Kudus, yang sepenuhnya adalah Allah? Ketika kita mendapat sekilas gambaran tentang surga dalam Wahyu pasal 4, dan kita membaca dalam ayat 10 dan 11 bahwa 24 tua-tua bersama dengan makhluk-makhluk lainnya tersungkur di hadapan Dia yang duduk di atas takhta dan menyembah Dia yang hidup selama-lamanya, apakah kita harus menganggap bahwa yang dimaksud hanyalah satu Pribadi Tritunggal, atau dua, tetapi bukan yang ketiga? Dan ketika kata-kata penyembahan surgawi itu diberikan kepada kita—“Layaklah Engkau, ya Tuhan dan Allah kami, untuk menerima kemuliaan, hormat, dan kuasa, sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu, dan oleh kehendak-Mu semuanya ada dan diciptakan”—apakah itu berarti Roh Kudus dikecualikan? Saya rasa tidak.
Kita dipanggil untuk menyembah Allah yang benar-benar adalah Allah. Dan Allah menyatakan diri-Nya sebagai “Aku adalah Aku”—dan Pribadi yang Dia nyatakan itu adalah tiga dalam satu. Tapi, ketika kita berbicara tentang menyembah Roh Kudus, hal itu terdengar baru, terdengar asing, dan bagi sebagian orang bahkan terdengar keliru. Biasanya argumennya adalah, “Tidak, tidak, Roh itu menunjuk kepada Kristus.” Memang benar, Roh Kudus menunjuk kepada Kristus. Tetapi ketika Dia menunjuk kepada Kristus, Dia tidak sedang mengurangi keilahian-Nya sendiri. Dia tidak merendahkan identitas-Nya. Dia tidak bermaksud mengurangi penyembahan yang seharusnya diberikan kepada-Nya. Dia membawa kita kepada Kristus, tetapi Dia tidak kurang Allah. Dan Allah memang layak untuk disembah.
Roh Kudus sepenuhnya adalah Allah—Allah yang mulia, Allah yang kudus, Allah yang kekal, dan layak untuk disembah. Roh Kudus memiliki secara penuh dan setara seluruh sifat ilahi yang dimiliki oleh Bapa dan Anak. Dia juga turut ambil bagian secara setara dalam setiap karya ilahi, sebab Roh Kudus tidak pernah terpisah dari Bapa dan Anak. Roh Kudus terlibat dalam segala sesuatu, mulai dari penciptaan hingga penggenapan akhir. Karena itu, setiap ibadah yang sejati pasti mencakup Roh Kudus, merangkul kehadiran-Nya. Dia tidak dapat dipisahkan dari Allah Tritunggal yang kita sembah dan yang kita puji.
Mengapa hal ini tidak menjadi jelas bagi kita? Karena bagi banyak orang, poin yang saya sampaikan tentang Roh Kudus yang menunjuk kepada Kristus—sebagaimana Yesus nyatakan pada malam terakhir-Nya bersama para murid di ruang atas—dipahami sedemikian rupa sehingga, bagi sebagian orang, seolah-olah Roh Kudus sedang mengalihkan penyembahan kepada Kristus. Pemahaman ini lalu mendapat tempat dan menjadi bagian dari cara berpikir Kristen. Padahal tidak demikian. Roh Kudus menunjukkan Kristus kepada kita dengan tujuan yang sangat jelas—yang telah kita pelajari beberapa minggu lalu—yaitu supaya kita melihat teladan kemanusiaan yang telah disempurnakan. Dan ketika kita memandang kemuliaan Pribadi yang manusia-Nya telah sempurna itu, Dia mengubah kita menjadi serupa dengan gambar-Nya. Menunjukkan Kristus bukanlah menunda atau mengalihkan penyembahan. Justru itu adalah salah satu cara lain di mana kita seharusnya menyembah Dia dan memuliakan Dia.
Namun, selain kejanggalan dalam pemahaman tradisional tersebut, ada masalah yang lebih serius lagi. Saat ini, Roh Kudus sering kali tidak dipandang dengan cara yang sama seperti Sang Anak dan Bapa dipandang. Hal ini terjadi karena selama bertahun-tahun—bahkan puluhan tahun—dari apa yang bisa disebut sebagai kekuatan ketiga, atau arus ketiga dalam dunia Kristen, telah muncul berbagai hal yang merusak. Jika kita menyebut kolom pertama adalah Protestan, kolom kedua Katolik Roma, maka kolom ketiga adalah Pentakosta Karismatik. Dari arus ketiga inilah telah muncul kebingungan yang parah dan tragis tentang Roh Kudus: ada gambaran yang keliru tentang Roh Kudus, penghujatan terhadap Roh Kudus, berbagai pelecehan dan penghinaan yang diarahkan kepada Roh Kudus. Dan semua itu tanpa henti, berat bobotnya, dan sangat serius dampaknya.
Pemahaman gereja Injili tentang Roh Kudus telah dirusak. Kebenaran Alkitab diremehkan, dan sebagai gantinya muncul berbagai hal aneh yang diatributkan kepada Roh Kudus oleh orang-orang yang, dalam banyak kasus, sama sekali tidak memiliki hubungan apa pun dengan Roh Kudus. Serangan yang tiada henti terhadap pribadi dan karya-Nya terus dilancarkan, terutama dari arus ketiga tersebut. Gerakan ini seakan-akan telah menculik Roh Kudus dan menjadikan-Nya sandera. Dan setiap kritik terhadap penyimpangan serta penghujatan mereka langsung ditolak dan dicap sebagai sikap yang memecah belah, tidak penuh kasih, dan tidak toleran.
Jelas sekali, memikirkan semua hal ini selama tiga bulan terakhir dan mengkhotbahkannya telah menggugah hati saya sendiri, juga hati banyak orang di sekitar saya. Banyak yang berkata, “Kita perlu menulis sebuah buku tentang hal ini. Kita perlu menyingkapkannya ke terang. Sudah lama sejak buku Charismatic Chaos (Kekacauan Karismatik) diterbitkan; isu ini perlu kembali dibahas.” Dan karena itu, kami memutuskan untuk melakukannya. Namun, salah satu alasan terkuat untuk melakukan hal ini adalah sebuah diskusi yang kami lakukan beberapa waktu lalu. Dalam diskusi itu, kami menyadari bahwa ketika menelusuri literatur tentang Roh Kudus—dan tentang berbagai hal yang sekarang ini dikaitkan kepada Roh Kudus, yang tidak benar tentang Dia dan tentang karya-karya-Nya, sehingga doktrin tentang Roh Kudus ini seolah-olah dibiarkan tanpa perlindungan. Kebenaran tentang Roh Kudus juga dibiarkan tanpa penegasan. Dalam arti tertentu, mungkin sejak awal atau pertengahan tahun 1990-an, belum ada buku yang benar-benar definitif yang membahas Pribadi dan karya Roh Kudus yang sejati. Kaum Injili memilih diam dalam isu ini, karena intimidasi dari arus ketiga tersebut. Ini tidak dapat diterima. Kita tidak boleh membiarkan keadaan ini terus berlangsung—di mana Roh Kudus terus didukakan, dipadamkan, dihina, dan dihujat.
Bagi saya, sungguh mengherankan bahwa dunia Injili sama sekali tidak mentoleransi serangan terhadap Allah Bapa. Ketika beberapa tahun lalu muncul serangan yang dikenal sebagai teologi Keterbukaan, yang menyangkal bahwa Allah mengetahui masa depan dan menolak kemahatahuan-Nya—bahkan bukan hanya itu, tetapi juga menyangkal bahwa Dia berdaulat mengendalikan masa depan—hal tersebut merupakan serangan besar terhadap hakikat Allah. Dan kaum Injili bangkit secara massal untuk mengecam teologi Keterbukaan itu, serta sangat produktif menghasilkan berbagai bahan dan tulisan untuk menolaknya. Dalam sekitar 15 hingga 20 tahun terakhir, juga terjadi serangan-serangan terhadap pribadi Kristus—serangan terhadap hakikat-Nya, tetapi lebih khusus lagi terhadap karya-Nya di kayu salib, yaitu doktrin pembenaran, doktrin pembenaran Alkitabiah yang merupakan inti Injil. Serangan ini paling menonjol muncul dalam gerakan yang dikenal sebagai “Perspektif Baru tentang Paulus,” yang pada dasarnya menolak doktrin imputasi dan pembenaran. Literatur untuk membela doktrin pembenaran dan mempertahankan Anak Allah dari serangan-serangan ini sangat melimpah—sebuah perpustakaan besar telah dikumpulkan. Namun, tidak ada satu Pribadi pun dalam Tritunggal yang, dalam periode waktu yang sama, diserang sedemikian hebat seperti Roh Kudus. Dan saya katakan, selama sekitar sepuluh tahun terakhir, hampir tidak ada apa pun yang muncul untuk membela pemahaman Alkitabiah tentang Roh Kudus. Akibatnya, muncullah kebingungan—bahkan ketidakpedulian—terhadap Dia, serta ketidakmampuan untuk menyembah Dia sebagaimana seharusnya. Padahal, Dia layak untuk disembah.
Kita dapat memahami penghujatan terhadap Roh Kudus yang dilakukan oleh orang-orang non-Kristen. Kita juga dapat memahami penghujatan terhadap Roh Kudus yang datang dari orang-orang Kristen palsu dan guru-guru palsu. Tapi kita, sebagai orang Kristen, sekalipun tidak menghujat Roh Kudus, tetap bisa bersalah karena mendukakan Roh Kudus. Dan tentu saja, Roh Kudus berdukacita ketika kita berbuat dosa, karena dosa itu dilakukan terhadap Dia yang diam di dalam kita. Tetapi Roh Kudus juga berdukacita ketika kita memiliki pemahaman yang keliru tentang Dia—ketika kita meremehkan apa yang Dia kerjakan, ketika kita tidak menghargai atau tidak bersyukur, ketika kita gagal menyembah Dia karena tidak menangkap betapa ajaibnya kasih karunia dan betapa dahsyatnya kuasa karya-Nya yang terus-menerus bagi kita, sampai akhirnya membawa kita kepada kemuliaan kekal.
Karena itulah, kita menelusuri Roma pasal 8 untuk kembali memusatkan perhatian kita kepada Roh Kudus, dan untuk merangkul Dia sepenuhnya dalam penyembahan kita. Kita mengetahui bahwa Allah Bapa memprakarsai karya keselamatan, Allah Anak mengesahkan dan menyatakan karya keselamatan itu, dan Roh Kudus mengaktifkan serta menyelesaikan karya keselamatan tersebut di dalam diri orang percaya. Kita bahkan telah mulai mencatat secara rinci karya Roh Kudus bagi kita sebagai orang-orang percaya. Dia melahirbarukan kita; Dia turut ambil bagian dalam pembenaran kita; Dia menguduskan kita; Dia meneguhkan pengangkatan kita sebagai anak-anak Allah. Dia diam di dalam kita; Dia membaptis kita, mempersatukan kita ke dalam kesatuan dengan orang-orang percaya lain yang kita sebut tubuh Kristus. Dia memberikan kepada kita karunia-karunia rohani, yang melaluinya kita melayani satu sama lain. Dia menguatkan kita di dalam batin untuk hidup dalam segala kebenaran. Dia menuntun kita. Dia menghasilkan sikap-sikap yang benar di dalam kita. Dia melepaskan kita dari dosa. Dia menerangi Kitab Suci bagi pengertian kita. Namun karya-Nya yang terbesar—dan yang mendatangkan sukacita terbesar bagi kita—adalah bahwa Dia menjamin kemuliaan kita di masa depan, Dia menjamin kemuliaan kekal kita. Dan justru pada titik inilah gerakan Pentakosta/Karismatik melontarkan salah satu penghinaan terbesar terhadap Dia, dengan menyangkal doktrin jaminan keselamatan kekal dan ketekunan orang-orang kudus, serta menyerang karya-Nya yang paling ajaib dengan menyatakan bahwa Dia tidak dengan pasti menjaga semua orang percaya tetap aman dan terpelihara sampai kepada kemuliaan kekal.
Minggu ini saya sedang membaca tulisan-tulisan Charles Finney, yang pelayanannya menyerang banyak hal dalam Kitab Suci—dan doktrin ini termasuk salah satunya. Finney berkata, “Kamu dimeteraikan oleh Roh, tetapi kamu dapat merusak meterai itu.” Tapi, kesaksian Firman Allah sama sekali tidak sejalan dengan kesesatan tersebut.
Dengarkan perkataan dalam Efesus 1:13–14: “Di dalam Dia—yaitu di dalam Kristus—kamu juga — karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu — di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. Roh Kudus itulah jaminan warisan kita sampai kita memperoleh penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.” Kita adalah milik Allah; dan Allah akan menebus kita demi pujian bagi kemuliaan-Nya sendiri. Roh Kudus diberikan sebagai jaminan atas penebusan yang akan datang itu, yang disebut sebagai warisan kita. Itulah sebabnya Dia disebut Roh yang dijanjikan, karena Dialah jaminan atas janji Allah tentang surga.
Petrus menuliskan hal yang sejalan: “erpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah membuat kita lahir kembali melalui kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada hidup yang penuh pengharapan, 4ntuk menerima warisan yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan tidak dapat layu, yang tersimpan di surga bagi kamu. Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah melalui imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah siap untuk dinyatakan pada zaman akhir.” Roh Kudus adalah meterai itu—jaminan, uang muka, buah sulung, panjar, kuasa, dan pelindung setiap orang percaya yang sejati—yang membawa kita sampai kepada kemuliaan akhir.
Itulah yang menjadi tema Roma 8 mulai dari ayat 17. Di ayat 17, untuk pertama kalinya kita membaca kata “dimuliakan,” dan sejak saat itu sampai ayat 39, seluruh bagian ini berfokus pada kemuliaan kita di masa depan serta rencana Allah untuk memastikan kita sampai ke tujuan tersebut. Semua itu telah kita bahas dengan sangat rinci. Kita juga telah belajar dari ayat 26 dan 27 bahwa Roh Kudus secara terus-menerus, dari dalam diri setiap orang percaya yang sejati, berdoa syafaat bagi kita dalam suatu persekutuan yang tidak menggunakan bahasa apa pun—yang terlalu dalam untuk diungkapkan dengan kata-kata. Ini adalah keluhan antar-Pribadi Tritunggal, di mana Roh Kudus berdoa syafaat, memohonkan kemuliaan kekal kita, selaras dengan Allah yang mengetahui rencana-Nya dan yang telah menetapkan kemuliaan kita. Dan Roh Kudus juga mengetahui rencana Allah, hati Allah. Jadi Allah memiliki suatu rencana. Kristus menyediakan pemenuhan rencana itu. Dan Roh Kudus berdoa agar rencana itu digenapi, sesuai dengan kehendak Allah.
Sebagai hasilnya, ayat 28 berkata, “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan.” Dalam kehidupan yang kita jalani, Allah memang memiliki maksud yang baik di dalam segala hal, dan itu benar demi kemuliaan-Nya. Tapi, yang terutama dimaksud di sini adalah kebaikan yang tertinggi dan terakhir. Segala sesuatu bekerja bersama untuk kebaikan karena kita telah dikasihi oleh Allah dan, pada gilirannya, mengasihi Dia, sesuai dengan maksud-Nya.
Jadi, Roh Kuduslah yang mengerjakan maksud baik Allah, tujuan akhir, dan rencana Allah bagi kita. Rencana Allah adalah ini: Da telah mengenal kita sebelumnya, Dia telah menentukan kita dari semula, Da memanggil kita, Dia membenarkan kita, dan Dia akan memuliakan kita. Dan kemuliaan kita itu adalah keserupaan dengan gambar Anak-Nya, seperti yang dikatakan ayat 29. Semua ini telah kita bahas secara rinci. Allah memiliki rencana untuk memilih orang-orang yang akan Dia muliakan. Kristus menyediakan korban yang membayar lunas dosa mereka sehingga rencana itu dapat terlaksana. Roh Kudus menjadi kuasa dari rencana tersebut—Ia melahirbarukan kita, menguduskan kita, melindungi kita, dan pada suatu hari akan membangkitkan kita ke dalam kemuliaan. Kita berada di dalam rencana itu. Keamanan kita sekuat rencana Bapa, karena apa yang Allah rencanakan, Dia pasti melaksanakannya. Kita aman seaman penyediaan Sang Anak, sebab Kristus sungguh-sungguh telah membayar lunas semua dosa kita—bukan pembayaran yang bersifat kemungkinan, melainkan pembayaran yang nyata dan tuntas. Dan ketiga, kita juga seaman kuasa Roh Kudus, yang berdoa syafaat bagi kita dan yang memelihara kita sampai kepada kemuliaan.
Nah, setelah menyampaikan semua teologi yang agung ini, mari kita masuk ke ayat 31—di bagian inilah kita berhenti terakhir kali. Paulus tahu bahwa akan muncul keberatan-keberatan. Karena itu, ia mengantisipasi adanya orang-orang yang akan berkata, “Mungkin ada pihak-pihak tertentu yang bisa mengubah semua ini. Mungkin ada orang-orang yang dapat memengaruhi perubahan besar dalam rencana Allah.” Dan seperti yang dikatakan Finney, “Kamu bisa merusak meterai itu.” Saya juga membaca beberapa penulis lain yang memegang pandangan serupa, dan mereka mengatakan hal yang sama: “Roh Kudus memeteraikan kamu selama kamu tidak merusak meterai itu.” Apakah itu mungkin? Maka kita bisa mengajukan pertanyaan ini: “Apakah ada manusia yang mampu melakukan hal tersebut?” Paulus sendiri bertanya, “Apakah yang akan kita katakan tentang semuanya ini?” Apakah ada manusia yang bisa melakukannya? Jawabannya ada di ayat 31: “Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” Apakah ada manusia yang lebih kuat daripada Allah? Jika Allah di pihak kita, apakah benar-benar penting siapa yang mungkin menentang kita? Apakah penting siapa yang ingin menghancurkan iman kita? Jika Allah di pihak kita, itu sudah menyelesaikan segalanya, karena tidak ada kuasa yang lebih besar daripada Allah. Tidak ada manusia, tidak ada sistem manusia, tidak ada agama buatan manusia, tidak ada pengaruh manusia, tidak ada masyarakat manusia, tidak ada bentuk pendidikan manusia, dan tidak ada tekanan manusia apa pun yang lebih besar daripada Allah.
“Tapi,” mungkin ada yang berkata, “mungkin Allah sendiri yang akan melakukannya. Mungkin Allah akan lelah terhadap kita.” Allah? Ayat 32 menjawab hal itu. “Dia yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi menyerahkan-Nya bagi kita semua …” Maksud Anda, Allah yang ketika kita masih menjadi musuh-Nya justru memberikan pemberian yang terbaik, yaitu Anak-Nya sendiri—Allah seperti itu akan berbalik melawan kita? Perhatikan akhir ayat 32: “Bagaimana mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?” Ini adalah sebuah argumen dari yang lebih besar kepada yang lebih kecil. Jika ketika kita masih menjadi musuh, Dia memberikan pemberian yang terbesar untuk menyelamatkan kita, tidakkah sekarang, ketika kita sudah menjadi anak-anak-Nya, Dia akan memberikan hal-hal yang lebih kecil untuk memelihara kita? Itu sangat masuk akal. Allah yang telah melakukan hal terbesar bagi kita—memberikan pemberian yang terbaik saat kita masih menjadi musuh-Nya—pasti akan melakukan apa pun yang diperlukan, yang lebih kecil dari itu, karena sekarang kita adalah anak-anak-Nya, dengan maksud untuk menjaga dan memelihara kita.
Seseorang mungkin berkata, “Kalau begitu, bagaimana dengan Iblis? Mungkin Iblis bisa menarik kita keluar dari tangan Allah, karena dia sangat kuat.” Ia pernah mencobanya terhadap Ayub, ia mencobanya terhadap Petrus, ia mencobanya terhadap Paulus, dan ia mencobanya terhadap imam besar dalam Zakharia pasal 3. Ada empat contoh seperti itu di dalam Kitab Suci. Dialah yang dimaksud di sini dalam ayat 33: “Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah?” Atau ayat 34: “Siapakah yang menghukum?” Siapakah dia yang terus-menerus berdiri di hadapan Allah untuk menuduh kita? Siapakah pendakwa saudara-saudara itu? Wahyu 12:10. Iblis dan roh-roh jahatnya berkumpul di hadapan Allah dan mengajukan tuduhan yang tiada henti terhadap orang-orang percaya, siang dan malam, demikianlah Kitab Suci menyatakannya. Tetapi apakah ia bisa berhasil sebagai pendakwa saudara-saudara? Apakah ia berhasil menghancurkan iman Ayub? Tidak. Apakah ia berhasil menghancurkan iman Petrus ketika ia berusaha menampi Petrus? Apakah ia berhasil menghancurkan Paulus ketika utusan-utusan setan benar-benar menyerang pelayanannya? Apakah itu cukup untuk meremukkan Paulus? Mampukah ia mengajukan satu tuduhan yang menghukum, yang dapat membuat Allah berbalik dari umat-Nya?
Pertama-tama, iman yang menyelamatkan tidak dapat dihancurkan, dan tujuan Allah tidak dapat digagalkan. Tetapi selain itu, ada kenyataan tambahan: Kristus berada di sebelah kanan Bapa, berdoa syafaat bagi kita terhadap setiap tuduhan, dan berulang kali menyatakan, “Untuk itu Aku telah membayar lunas melalui kematian-Ku.”
Lalu mungkin ada yang berkata, “Wah, kita benar-benar celaka kalau Kristus berbalik melawan kita. Bagaimana jika Kristus justru menentang kita?” Ayat 34 menjawabnya. Apa yang dikatakan ayat itu? “Kristus Yesus yang telah mati—bahkan yang telah bangkit—yang duduk di sebelah kanan Allah.” Artinya, Dia mati bagi kita, Dia dibangkitkan bagi kita. Kematian dan kebangkitan-Nya merupakan kepuasan yang sempurna bagi Allah. Karena itu Dia ditinggikan di sebelah kanan Allah, setelah sepenuhnya menyelesaikan penebusan kita, dan sekarang Dia juga berdoa syafaat bagi kita. Dia adalah Imam Besar yang agung yang berdoa syafaat bagi kita—Dialah Pembela surgawi kita yang agung.
Bukan manusia, karena Allah jauh lebih berkuasa daripada mereka. Bukan Allah, karena Dia telah memberikan yang terbaik ketika kita masih menjadi musuh-Nya. Bukan Iblis, karena ia tidak dapat berhasil mengajukan tuduhan yang menghukum kita—Kristus sudah membayar lunas semuanya. Bukan juga Kristus, karena Dia hidup senantiasa untuk berdoa syafaat bagi kita. Maka tinggal satu kemungkinan lagi: kita sendiri. Anda bisa merusak meterai itu. Anda bisa menghancurkan meterai itu, kata Finney. Benarkah demikian? Mengapa kita melakukan itu? Alasannya, katanya, karena keadaan hidup. Ya, hidup memang bisa menjadi sangat berat. Selama semuanya berjalan baik—itulah argumen terhadap Ayub, bukan? Ia diberkati, ia kaya, ia memiliki segalanya: keluarga, ladang, ternak, kekayaan. Tidak heran ia setia. Pertanyaannya adalah ini: apakah kita benar-benar memiliki kuasa untuk memutuskan hubungan kita dengan Tuhan? Apakah iman kita bisa larut, hancur, atau runtuh karena keadaan-keadaan tertentu?
Jadi, dalam ayat 31 sampai 34 Paulus berbicara tentang pribadi-pribadi, lalu dalam ayat 35 sampai 37 ia beralih kepada keadaan-keadaan. Ikuti alurnya—sebenarnya cukup sederhana. Ini adalah skenario terburuk. Pertanyaannya adalah: siapa atau apa yang akan melakukannya? Dan di balik setiap “apa” itu, selalu ada “siapa.” Jika ada kesesakan, penderitaan, penganiayaan, kelaparan, ketelanjangan, bahaya, atau pedang, pasti ada pihak yang berada di balik semua itu. Ini adalah jenis keadaan yang ekstrem. Apakah keadaan-keadaan ekstrem bisa menghancurkan iman kita, membuat kita meninggalkan Roh Kudus? Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Ini menjadi pengingat bahwa yang memegang kita adalah kasih Kristus kepada kita. Itulah yang menahan kita—kasih Kristus bagi kita. Dan itu disebutkan lagi di ayat 39 sebagai kasih Allah, -kasih Allah. Dan saya tambahkan, kasih itu juga mencakup kasih Roh Kudus. Kita dikasihi oleh Allah Tritunggal. Apakah mungkin ada sesuatu yang terjadi yang dapat mematahkan kasih itu?
Baiklah, mari kita gambarkan suatu keadaan yang benar-benar ekstrem. Paulus menyebutkan tujuh kondisi hipotetis yang disusun secara bertahap dan makin meningkat. Yang pertama adalah kesesakan—tribulation. Ini menunjuk pada tekanan dari luar. Keadaan di luar diri kita memburuk, dan ini mengasumsikan adanya serangan-serangan yang datang kepada kita. Kata thlipsis berarti suatu tekanan yang menghimpit—kesulitan dari luar, penolakan, kesusahan, penderitaan. Ada tekanan yang menekan kita dari sisi luar. Kata berikutnya adalah penderitaan atau distress. Ini menunjuk pada tekanan dari dalam. Secara harfiah, kata ini menggambarkan keadaan dihimpit ke dalam ruang yang sangat sempit, tetapi yang dimaksud adalah tekanan batin. Ketika tekanan dari luar datang, itu pasti berdampak ke dalam diri kita, bukan? Kita mulai bereaksi: muncul rasa takut, kecemasan, keraguan, pertanyaan-pertanyaan, rasa ngeri. Kita menjadi panik. Rasa percaya diri mulai hilang, karena tekanan itu begitu besar.
Apakah mungkin tekanan dari luar datang sedemikian rupa sampai menghimpit batin kita dan akhirnya kita benar-benar jatuh ke dalam ketakutan dan kecemasan—dan keadaan itu terus memburuk? Lalu datanglah penganiayaan. Ini adalah bentuk kekerasan—kekerasan yang nyata. Dan dalam konteks argumen Paulus di sini, itu adalah kekerasan yang terjadi karena kesaksian tentang Yesus: penderitaan fisik, penderitaan mental. Sekarang semuanya benar-benar berjalan buruk. Inilah skenario terburuk. Segala macam tekanan dari luar menghimpit kita, lalu meresap ke dalam dan mulai menghasilkan kecemasan, ketakutan, dan rasa ngeri. Dan kemudian situasinya makin parah: penganiayaan secara terbuka, diōgmos, yang dilakukan oleh mereka yang menolak Kristus. Keadaan menjadi semakin ekstrem ketika kelaparan menyusul. Anda tidak mendapatkan makanan. Anda dirampas dari kebutuhan dasar—mungkin Anda dipenjara, dikurung di balik jeruji. Dan itu belum akhirnya. Keadaan makin memburuk. Anda hidup dalam compang-camping, tanpa pemeliharaan. Anda menjadi telanjang, membutuhkan pakaian. Lalu keadaan makin genting: Anda berada dalam bahaya, di tepi yang sangat berisiko. Dan akhirnya, pedang mulai diacungkan. Inilah titik akhirnya—nyawa kita dipertaruhkan.
Apakah situasi ini akan menjatuhkan iman kita? Itulah skenario terburuknya. Anda sedang berada di ambang kemartiran. Kepala Anda sebentar lagi akan ditebas. Dan, omong-omong, ini adalah kesaksian pribadi Paulus sendiri. Lebih dari sekali ia berada di tepi bahaya yang mematikan. Dan pada akhirnya, memang terjadi—kepalanya dipenggal dengan pedang. Pertanyaannya: apakah keadaan seperti itu bisa mendorong seseorang untuk meragukan iman? Apakah itu bisa membuat seseorang menolak Yesus Kristus? Berpaling dari Kristus? Berpaling dari Allah? Apakah semua ini cukup untuk menghancurkan iman kita? Paulus mengutip Mazmur 44 untuk menunjukkan bahwa pengalaman seperti ini bukan hanya dialami oleh kita sekarang, tetapi telah dialami oleh umat Allah di sepanjang sejarah. Ia mengutip seruan umat Allah dalam Perjanjian Lama yang memohon kelepasan kepada Allah karena mereka berada dalam kesesakan: “Oleh karena Engkau kami disembelih sepanjang hari, kami dianggap sebagai domba-domba sembelihan.” Mereka menderita di masa lampau. Seperti yang kita ketahui, bangsa Israel berkali-kali menderita di tangan musuh-musuhnya. Terikat kepada Allah bisa menjadi situasi yang sangat berbahaya. Hal ini terjadi dulu, dan terjadi juga sekarang. Dan ketika hal itu terjadi, apakah itu cukup untuk menghancurkan kita? Menghancurkan meterai itu?
Salah satu harta yang sangat berharga bagi saya adalah satu set asli Buku Para Martir karya Foxe. Terdiri dari tiga jilid. Kalau disusun bertumpuk, setebal itu, dan ukurannya sebesar ini—buku-buku yang sangat besar. Buku Para Martir karya Foxe memuat kesaksian ratusan, bahkan ratusan dan ratusan orang yang benar-benar mengalami proses yang baru saja Paulus gambarkan di sini, dan akhirnya berujung pada pedang atau api—dibakar di tiang, atau dieksekusi dengan berbagai cara lainnya. Dan buku-buku itu menjadi kesaksian yang jelas bahwa iman mereka tidak gagal—dan memang tidak mungkin gagal—karena mereka memiliki iman yang dirancang oleh Allah sendiri, iman yang bersifat supranatural, sama seperti iman yang Anda miliki.
Petrus melanjutkan dengan berkata, “Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan.”—di situ muncul lagi kata yang sama—“Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu — yang jauh lebih tinggi nilainya daripada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api — sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya kelak.” Lalu ia menambahkan ini: “Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya.” Bahkan dalam keadaan seperti itu, kamu tetap mengasihi-Nya. Kamu tidak berbalik melawan-Nya, tidak menyimpan kepahitan terhadap-Nya—kamu mengasihi-Nya, sampai kepada kematian.
Ayat 37 merangkum semuanya: “Tetapi dalam semuanya itu kita lebih daripada orang-orang yang menang, melalui Dia yang telah mengasihi kita.” Kita mengasihi Dia karena apa? Karena Dia telah lebih dahulu mengasihi kita. Tidak—tidak ada satu keadaan pun yang akan mematahkan hal ini. Tidak ada keadaan apa pun yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus. Tidak ada keadaan apa pun yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah. Tidak ada satu pribadi pun yang dapat memisahkan kita dari kasih itu—kasih Allah Tritunggal. Hal itu tidak mungkin. Tidak ada kuasa yang dapat menghancurkan iman kita. Tidak ada kuasa yang dapat menghancurkan meterai Roh Kudus. Tidak ada satu pun tuduhan terhadap kita yang belum dibayar lunas oleh Kristus. Tidak ada pengadilan yang lebih tinggi daripada Allah, dan tidak ada kuasa yang lebih besar daripada kuasa Roh Kudus yang memelihara kita dengan aman. Kita keluar sebagai hupernikōmen—dari kata Yunani hupernikaō. Dari kata kerja Yunani nikaō, menaklukkan, menjadi pemenang, kita mendapatkan kata Nike. Tetapi ini bukan sekadar pemenang—ini adalah pemenang yang luar biasa, pemenang yang melampaui, pemenang yang super. Kita lebih dari pemenang; kita menang dengan sangat gemilang—bukan oleh kekuatan kita sendiri, melainkan melalui Dia yang telah mengasihi kita. Melalui Dia yang telah mengasihi kita.
Pencobaan, betapapun beratnya, menguji iman kita dan membuktikan bahwa iman itu sejati. Karena itu, pencobaan justru mendatangkan kebaikan yang lebih besar dan sukacita yang lebih dalam bagi kita, bahkan di tengah penderitaan yang paling berat sekalipun. Pencobaan juga melakukan hal lain: ia menghasilkan bobot kemuliaan yang kekal dalam kehidupan yang akan datang. Tingkat kesulitan dan keparahan seperti ini membentuk orang Kristen yang lebih mulia dan lebih kuat di dunia ini—bukan yang lebih lemah—seseorang yang imannya teguh dan keyakinannya mantap. Ketika iman bertahan di bawah ujian itu, ujian tersebut menjadi bukti bahwa iman itu asli. Dan itu sendiri adalah anugerah Allah yang patut disyukuri dan dirayakan. Selain itu, semua itu juga membawa kita kepada upah yang lebih besar.
Paulus menuliskan semua ini ketika ia berada di Korintus pada musim dingin. Baik dia sendiri maupun jemaat di Roma yang menerima surat itu sama sekali tidak menyadari bahwa tidak lama kemudian mereka akan melihat Paulus berada tepat dalam situasi yang ia gambarkan. Ia sendiri akan sangat membutuhkan kebenaran-kebenaran penghiburan yang ia tuliskan dalam pasal ini, karena hampir semua hal yang tercantum dalam daftar itu akan ia alami. Dan pada akhirnya, ia benar-benar akan dibunuh oleh pedang. Demikian juga para pembaca surat ini di Roma. Mereka akan terseret ke dalam penganiayaan—laki-laki dan perempuan yang darahnya akan membasahi pasir arena dan amfiteater besar di Roma. Namun kehormatan Kristus dan kasih Kristus tetap aman dalam hidup mereka, karena mereka sendiri aman dalam penjagaan-Nya. Mereka tidak perlu takut akan semua hal itu, termasuk kematian. Mereka dicabik-cabik oleh binatang buas, disiram ter dan dijadikan obor, berhadapan dengan manusia, binatang, dan bahkan kuasa-kuasa neraka. Namun mereka tetap aman dalam kasih Kristus, aman dalam kasih Allah, aman dalam kasih Roh Kudus yang melindungi. Aman—sampai mereka akhirnya masuk ke dalam kemuliaan.
Paulus menutup dengan berkata, “Kita adalah lebih dari pemenang.” Lalu ia mengakhiri dengan sebuah refrain yang indah dalam ayat 38 dan 39—hampir rasanya tidak perlu dijelaskan; cukup dibacakan, atau bahkan dinyanyikan. “Sebab aku yakin …” — dan apakah Anda juga yakin? Apakah Anda benar-benar diyakinkan oleh kebenaran yang agung ini? “Aku yakin, aku terpersuasi, aku teguh, aku telah sampai pada kesimpulan yang mantap …” bahwa tidak ada apa pun yang dapat memisahkan kita: Bukan maut—musuh terbesar itu; bukan hidup dengan segala bahaya, kesulitan, pencobaan, dan pergumulannya; bukan malaikat—bahkan malaikat kudus, seandainya itu mungkin; bukan pemerintah-pemerintah, bukan malaikat-malaikat yang jatuh, roh-roh jahat; bukan hal-hal yang sekarang ada, dan bukan juga hal-hal yang akan datang—baik masa kini maupun masa depan; bukan juga kuasa-kuasa—kata ini dalam Perjanjian Baru, dalam bentuk jamak bahasa Yunani, menunjuk pada mujizat, pekerjaan-pekerjaan besar, kuasa supranatural apa pun; Tidak ada—sejauh ini bukan maut, bukan hidup, bukan malaikat kudus, bukan malaikat jatuh, bukan apa pun yang terjadi sekarang atau yang akan datang, bukan kuasa supranatural yang dahsyat dan melampaui—bukan yang di atas, yaitu istilah yang menunjuk pada sebuah bintang di titik tertinggi orbitnya; dan bukan juga yang di bawah, bathos, yaitu bintang di titik terendah orbitnya— Tidak ada apa pun, tidak di titik tertinggi alam semesta dan tidak di titik terendahnya; tidak ada—juga tidak ada ciptaan lain apa pun. Tidak ada di dalam hidup, tidak ada di dalam kematian, tidak ada di dunia malaikat, tidak ada di dunia roh jahat, tidak ada di dalam waktu, tidak ada di dalam kekekalan, tidak ada kuasa mukjizat apa pun, tidak ada di bumi, tidak ada di surga, bahkan sampai ke tepi ruang angkasa—tidak ada, tidak satu pun ciptaan di seluruh alam semesta ini— yang akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada di dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.
Yeremia 31:3 mencatat firman Allah: “Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal.” Dan itulah sebabnya, saudara-saudara yang terkasih, kita dipelihara—oleh Roh Kudus. Karena karya anugerah-Nya itulah kita perlu menyembah Dia. Mari kita berdoa.
Tuhan, kami mengucap syukur karena kami boleh memandang kemuliaan keselamatan kami dengan cara yang begitu indah ini, khususnya melalui pelayanan Roh Kudus. Kami tahu bahwa Kristus sendiri bahkan pergi ke kayu salib di dalam kuasa Roh Kudus. Ketika kami datang untuk mengingat kematian-Nya bagi kami, kami ingin bersyukur dari lubuk hati kami yang paling dalam atas karya keselamatan yang begitu besar ini—yang dimulai di kekekalan lampau melalui pemilihan, berlanjut melalui salib, keluar dari kubur yang terbuka, dan kini dikerjakan di dalam diri kami melalui pelayanan Roh Kudus yang terus berlangsung. Kami menyembah Engkau, ya Allah—Bapa, Anak, dan Roh Kudus—atas karya anugerah yang ajaib dan penuh kuasa ini. Kami mengucap syukur kepada-Mu untuk semuanya itu. Dan sekarang, ketika kami datang untuk mengingat salib Kristus, sucikanlah hati kami, penuhilah kami dengan pujian—pujian yang layak dipersembahkan kepada-Mu, Allah kami yang besar.
SELESAI
This article is also available and sold as a booklet.
