Grace to You Resources
Grace to You - Resource

Pagi ini, saya ingin Anda membuka Alkitab Anda di kitab Yesaya pasal 53, Yesaya pasal 53. Kita akan mulai studi tentang bagian yang sangat penting dari Perjanjian Lama, sebagai permulaan dari seri kita dalam Perjanjian Lama untuk menemukan Kristus di sana. Bahkan pagi ini, saudara, saya ingin memberi semacam peringatan awal bagi Anda. Anda mungkin akan merasa seolah-olah sedang berada di kelas tingkat lanjutan di Seminari Magister, karena saya perlu memberikan dasar, fondasi, dan sedikit struktur dari bagian Alkitab yang kudus ini.

Anda perlu memahami karakter dan konteksnya, supaya Anda dapat menarik semua kekayaan makna yang ada di dalam pasal ini. Saya pernah mendengar khotbah tentang Yesaya 53, tetapi Anda akan menerima lebih dari sekadar khotbah. Anda akan mengikuti sebuah seri yang mungkin berlangsung selama beberapa bulan. Dan agar seri ini menjadi sebagaimana mestinya dan supaya Anda benar-benar dapat melihat apa yang sebenarnya ada dalam bagian Alkitab yang luar biasa ini, saya perlu memberikan pesan pengantar pagi ini. Jadi, silahkan pakai "topi akademik" Anda dan berpikir dengan cermat dan sungguh-sungguh tentang hal ini—bersiaplah untuk sedikit merasa kewalahan.

Pagi ini kita akan menguji kapasitas gigabyte Anda—seberapa banyak yang bisa Anda serap. Tapi kita akan merekam sesi ini dalam bentuk CD, atau dalam file MP3 untuk keperluan di masa depan. Ini akan menjadi sesuatu yang mungkin Anda ingin dengarkan kembali dan resapi nanti. Saat kita memasuki Yesaya pasal 53, saya harus mengatakan bahwa awal dari bagian ini sebenarnya dimulai di pasal 52 ayat 13. Jadi, ketika saya menyebut secara umum bahwa kita sedang mempelajari Yesaya 53, saya sebenarnya merujuk pada keseluruhan bagian dari Yesaya 52:13 sampai 53:12, yaitu lima belas ayat secara keseluruhan, dimulai dari 52:13. Semuanya merupakan satu kesatuan utuh. Saya hanya bisa berharap bahwa ketika para ahli Alkitab memberi label pasal 53, mereka dapat memulainya dari ayat 13, karena ayat 13 merupakan pengantar bagi apa yang dijabarkan secara rinci dalam pasal 53.

Nah, jika Anda sudah menjadi orang Kristen cukup lama, Anda pasti sudah sangat akrab dengan bagian Alkitab ini—dan memang seharusnya demikian. Bagian ini pernah disebut oleh beberapa sarjana teologia di masa lalu sebagai “Injil Kelima,” sebagai tambahan bagi Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Agustinus di abad kelima pernah berkata, “Ini bukan nubuat, ini Injil.” Dan Polycarpus, murid sekaligus sahabat rasul Yohanes, menyebut bagian Alkitab ini sebagai “Kegairahan Emas dari Perjanjian Lama.”

Martin Luther sendiri pernah berkata, “Setiap orang Kristen seharusnya dapat mengucapkannya di luar kepala.” Jadi, ini akan menjadi tugas Anda: menghafalkan Yesaya 52:13 sampai 53:12. Dan Anda akan terus menggali kekayaannya sepanjang hidup Anda. Kemungkinan besar Anda sudah mengetahui sebagian besar isinya jika Anda telah cukup lama mempelajari Alkitab. Beberapa ahli tologia Jerman yang menulis pada tahun 1866 mengatakan, “Bagian ini seolah-olah ditulis di bawah salib Golgota.” Mereka juga mengatakan, “Banyak orang Israel yang hatinya luluh karenanya.” Para ahli tologia Jerman yang sama juga berkata, “Pasal ini adalah inti yang paling dalam dan paling mulia dari nubuat Perjanjian Lama—sebuah pencapaian yang melampaui dirinya sendiri.”

Dalam bagian Alkitab ini, Anda akan menemukan akar dari pemikiran Kristen, meskipun ini berasal dari Perjanjian Lama. Anda akan menemukan ungkapan-ungkapan yang telah masuk dan menetap dalam bahasa serta percakapan umat Kristen. Anda akan menemukan dalam bagian ini teks yang paling sering digunakan oleh para pengkhotbah Injil dan penulis Kristen sepanjang sejarah, dibandingkan bagian lain mana pun dari Perjanjian Lama. Faktanya, Yesaya 53 adalah inti dari penulisan Ibrani. Ini adalah naskah mesianik profetik yang menjadi puncak dari semua nubuat dalam Perjanjian Lama.

Kemilau dari permata nubuat ini semakin bersinar karena latar belakangnya. Jadi, siapkan Alkitab Anda karena Anda perlu memahami ini bersama saya. Saya ingin memberi Anda gambaran tentang apa yang sedang kita bahas di sini, dimulai dari sudut pandang yang lebih luas. Kitab Yesaya terbagi dalam dua bagian: pasal 1 sampai 39, dan pasal 40 sampai 66. Ini jelas merupakan kitab yang panjang, sangat rinci, dan luar biasa dalam Perjanjian Lama. Kitab ini ditulis sekitar tahun 680 SM, atau sekitar 700 tahun sebelum Masehi. Bagian pertama dari kitab ini, yaitu pasal 1 sampai 39, berbicara tentang penghakiman dan pembuangan yang akan datang—tiga puluh sembilan pasal di mana Allah berbicara melalui nabi Yesaya tentang penghakiman, penghakiman yang akan segera datang atas Israel. Dan penghakiman itu memang terjadi.

Penghakiman itu terjadi kurang dari 100 tahun setelah kitab ini ditulis, yaitu pada awal masa Pembuangan Babel, ketika seluruh kerajaan selatan, yaitu Yehuda dibawa ke pembuangan —dan Yehuda adalah satu-satunya bagian yang tersisa karena kerajaan utara sudah lebih dulu jatuh ke dalam pembuangan pada tahun 720 SM. Pembuangan kerajaan selatan adalah sasaran utama dari 39 pasal pertama. Selain itu, ada juga peringatan tentang penghakiman ilahi atas orang-orang berdosa dari segala zaman dan segala tempat, bahkan ada petunjuk tentang hari penghakiman terakhir yang bersifat eskatologis. Jadi, pasal 1 sampai 39 berfokus pada penghakiman dan pembuangan dalam konteks sejarah Pembuangan Babel, juga pada isu yang lebih besar, yaitu penghakiman atas dosa, dan bahkan yang lebih besar lagi, penghakiman terakhir di akhir sejarah umat manusia.

Jadi, pasal 39 ditutup dengan pernyataan penghakiman yang akan datang atas Israel melalui pembuangan ke Babel, ketika mereka akan dibawa oleh kekuatan kerajaan Babel. Perhatikan ayat 6 dan 7—Yesaya 39:6-7—yang berbunyi: “Sesungguhnya, waktunya akan datang ketiga segala yang dalam istanamu dan yang telah disimpan oleh nenek moyangmu sampai hari ini akan diangkut ke Babel. Tidak ada yang akan ditinggalkan, demikianlah firman TUHAN. Sebagian dari keturunanmu yang akan kau peroleh akan diambil menjadi sida-sida di istana raja Babel.”

Ini adalah nubuat yang sangat spesifik tentang pembuangan ke Babel, yang dimulai pada tahun 603 Sebelum Masehi, kira-kira 80 tahun setelah Yesaya menulisnya. Dia menubuatkan bahwa hal itu akan terjadi, dan memang benar-benar terjadi. Ada tiga gelombang pembuangan: tahun 603, 597, dan 586 Sebelum Masehi— dan yang terakhir adalah yang paling menghancurkan. Bangsa itu tidak kembali sampai 70 tahun setelah pembuangan terakhir itu. Jadi, bagian pertama dari kitab Yesaya ini dapat dipastikan berasal dari Allah karena sejarah membuktikan penggenapan nubuat itu secara persis, sesuai dengan apa yang telah dinyatakan.

Bagian ini membawa kita pada bagian kedua dari kitab Yesaya. Masih tersisa 27 pasal lagi, yaitu pasal 40 sampai 66. Tema dari bagian kedua ini adalah anugerah dan keselamatan—anugerah dan keselamatan. Dua puluh tujuh pasal ini, dimulai dari pasal 40, merupakan bagian yang paling luhur dan paling kaya dari nubuat Perjanjian Lama. Itu benar-benar satu nubuat, satu visi yang mulia, satu wahyu keselamatan yang agung melalui Mesias yang akan datang. Bagian ini agung. Luas cakupannya. Menyeluruh - mencakup bukan hanya pembebasan Israel dari Babel, bukan hanya pembebasan orang berdosa dari dosanya, tetapi juga pembebasan bangsa-bangsa dari kutuk menuju Kerajaan Mesias. Jadi, Anda melihat unsur-unsur yang sejajar antara kedua bagian ini. Bagian pertama berbicara tentang penghakiman atas Israel, penghakiman atas orang berdosa, dan penghakiman terakhir. Sedangkan bagian kedua berbicara tentang pembebasan bagi Israel, pembebasan bagi orang berdosa, dan pembebasan terakhir menuju Kerajaan Mesias.

Yang paling menarik, bagian kedua dari kitab Yesaya—yang akan kita pelajari, pasal 40 sampai 66—dimulai di tempat yang sama dengan permulaan Perjanjian Baru. Saya ingin Anda melihat sejenak ke pasal 40, karena paralelnya sangat menarik. Di Yesaya 40:1 kita membaca, “Hiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku, demikianlah firman Allahmu.” Inilah titik balik dalam kitab Yesaya—dari pengumuman penghakiman dalam 39 pasal pertama, menuju penghiburan di bagian kedua, yang didasarkan pada anugerah dan keselamatan. “Tenangkanlah hati Yerusalem,” lanjutnya. Lalu, pada ayat 3, kita menemukan nubuat tentang Yohanes Pembaptis: “Ada suara yang berseru-seru: ‘Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita!’”

Dan tentu saja, yang datang itu adalah Yohanes Pembaptis, yang merupakan penggenapan dari nubuat itu. Dialah yang menjadi pendahulu bagi Mesias, dialah suara yang berseru-seru di padang gurun, " Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita." Jadi, di situlah Perjanjian Baru dimulai. Perjanjian Baru dimulai dengan Yohanes Pembaptis. Dan di situlah bagian kedua dari kitab Yesaya juga dimulai. Jadi, bagian kitab Yesaya yang disebut sebagai bagian Injil ini dimulai di tempat yang sama dengan awal kisah Injil dalam Perjanjian Baru. Bagian dari kitab Yesaya ini juga berakhir di tempat yang sama dengan akhir Perjanjian Baru. Dan ini merupakan ciri luar biasa lainnya dalam kitab Yesaya pasal 65. Saat Anda mendekati bagian akhir, pada ayat 17 tertulis, "Sesungguhnya, Aku menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru." Langit yang baru dan bumi yang baru, Yesaya pasal 65 ayat 17.

Lalu dalam pasal terakhir, pasal 66 ayat 22, hampir di akhir sekali, tertulis, "Sebab, sama seperti langit dan bumi yang baru yang akan Kujadikan itu, tetap ada di hadapan-Ku, demikianlah firman Tuhan," dan seterusnya. Tebak di mana Perjanjian Baru berakhir? Perjanjian Baru berakhir di Wahyu pasal 21 dan 22, dengan langit yang baru dan bumi yang baru. Jadi, bagian dari kitab Yesaya ini dimulai di mana Perjanjian Baru dimulai, yaitu dengan kedatangan Yohanes Pembaptis. Dan bagian ini berakhir di tempat Perjanjian Baru berakhir, yaitu dengan langit yang baru dan bumi yang baru. Jadi, kita melihat betapa luar biasanya nubuatan ini pararel dengan Perjanjian Baru. Dan semuanya ditulis 700 tahun sebelum Mesias datang untuk mulai menggenapinya.

Nah, siapakah yang akan membawa anugerah dan keselamatan ini? Siapakah yang akan menjadi pribadi yang menyediakan pembebasan ini? Jawabannya adalah hamba Tuhan, hamba Tuhan. Itulah sebutan yang diberikan kepada-Nya. Kata Ibrani yang digunakan adalah ebed, yang berarti budak atau hamba. Kata ini digunakan ratusan kali dalam Perjanjian Lama. Ini adalah kata dalam bahasa Ibrani untuk budak sekaligus hamba. Hamba Yahweh, Budak Yahweh, Dialah yang akan membawa keselamatan. Dialah yang akan membawa penghiburan. Dialah yang akan membawa pengampunan dosa. Karenanya, Dia menjadi tema utama dalam bagian terakhir kitab Yesaya ini.

Sekarang mari kita lihat sejenak pasal 53, dengan gambaran besar seperti tadi. Dan Anda akan menemukan di pasal 52 ayat 13, "Sesungguhnya, hamba-Ku, sesungguhnya, hamba-Ku," ebed-Ku, budak-Ku. Ini adalah sebutan yang sama yang sudah muncul jauh lebih awal dalam bagian ini di kitab Yesaya. Ini adalah nubuat keempat yang secara khusus berbicara tentang sang hamba. Pasal 42 adalah yang pertama, pasal 49 adalah yang kedua, dan pasal 50 ayat 4 sampai 11 adalah yang ketiga. Ayat ini adalah yang keempat dari apa yang biasa kita sebut sebagai nyanyian hamba dalam kitab Yesaya, atau nubuat-nubuat tentang sang hamba.

Dalam penyajian tentang sang hamba yang ada di hadapan kita ini, sang nabi memanggil kita untuk memandang hamba ini dan menjadi takjub. Jika saya harus memberi judul untuk pesan ini, saya akan menamakannya, “Hamba Yahweh yang Mengagumkan.” Saya tidak tahu apa yang mereka tulis di Grace Today, tetapi saya sendiri akan menamainya, “Hamba Yahweh yang Mengagumkan.” Bagian ini adalah pewahyuan tentang Mesias yang paling lengkap, paling kuat, dan paling penting dalam seluruh Perjanjian Lama, dan itu tepat ada di hadapan kita.

Nah, mari kita lihat sedikit latar belakangnya. Jika Anda kembali ke masa Samuel, katakanlah, di sanalah mulai muncul pewahyuan Allah yang disampaikan melalui para nabi. Musa adalah seorang nabi, dalam arti tertentu. Dia memang menyampaikan nubuat ilahi. Dia bahkan menubuatkan tentang Mesias, seorang nabi yang akan datang. Dia mengenali-Nya. Tetapi jabatan kenabian sebagaimana kita mengenalnya dimulai dengan Samuel. Tentu saja ada orang-orang lain yang juga berbicara atas nama Allah, dan itu termasuk dalam pelayanan kenabian. Tapi jabatan kenabian secara resmi dimulai dengan Samuel. Itu terjadi sekitar tahun 1000 sebelum Masehi, jadi sekitar 300 tahun sebelum zaman Yesaya.

Para nabi secara teratur diberi tahu bahwa akan datang suatu zaman ketika Allah akan memerintah dan berkuasa di Israel, dan dari Israel atas seluruh dunia. Itu adalah hal mendasar. Akan datang suatu zaman ketika Allah akan memerintah dan berkuasa dari Israel atas dunia. Tentu saja, hal ini terhubung dengan janji-janji yang diberikan kepada Abraham dan kepada Daud, seperti yang Anda tahu. Allah akan memerintah dan berkuasa di Israel atas seluruh dunia—dan ini kuncinya—melalui seorang raja yang benar, seorang raja yang adil yang dalam Perjanjian Abraham disebut sebagai benih (keturunan), dan dalam Perjanjian Daud disebut sebagai Anak Daud, seorang Raja yang benar. Raja ini akan membebaskan Israel dari musuh-musuhnya, seperti yang kita lihat dalam kidung pujian Zakharia, Benedictus. Raja ini juga akan membebaskan Israel dari dosa-dosanya. Jadi pembebasan itu akan bersifat lahiriah, tetapi yang lebih penting lagi, bersifat rohani.

Sejak janji tentang Sang Benih dan Raja yang benar itu—yang akan datang dan membawa keselamatan serta pembebasan bagi Israel dan melalui Israel bagi dunia—harapan orang-orang Yahudi pun membumbung tinggi. Mereka menginginkan sang Raja itu. Mereka menantikan sang Raja itu. Dan tentu saja, jika Anda mundur kembali ke zaman Samuel, Anda akan mengingat bahwa mereka menginginkan seorang raja. Karena itu mereka memilih seorang raja bernama Saul. Mereka menaruh harapan pada Saul, dan mungkin mereka benar-benar mengira bahwa Saul adalah raja yang dijanjikan itu—raja yang akan datang membawa keselamatan, yang menjadikan Israel sebagai permata dunia, memerintah dari Israel atas seluruh bumi, dan mendirikan Kerajaan Kebenaran dan Kedamaian.

Tapi, Saul ditolak—dia ditolak oleh Allah karena pelanggarannya yang berat, karena campur tangannya ke dalam fungsi imamat, melampaui batas yang telah ditetapkan. Dia adalah orang yang berdosa. Dan bukan hanya dia yang ditolak, tetapi garis keturunannya pun diputuskan untuk tidak pernah memerintah lagi di Israel. Maka harapan kemudian beralih kepada Daud. Tapi Daud pun ada masalahnya sendiri. Daud adalah orang yang sangat berdosa, dan begitu banyak menumpahkan darah, sehingga Allah bahkan tidak mengizinkan dia untuk membangun bait suci. Anda tentu ingat ketika Daud berkata kepada nabi Natan, “Aku akan membangun bait suci.” Dan Natan menjawab, “Lakukanlah, teruskan.” Tetapi kemudian Allah datang kepada Natan pada malam hari dan berfirman, “Mengapa engkau mengatakan itu kepadanya? Engkau tidak bertanya kepada-Ku. Aku tidak menginginkan dia membangunnya. Dia adalah seorang yang tangannya penuh darah.”

Daud punya banyak kelemahan, dia berdosa, dan dia bukanlah Raja yang benar itu. Namun, janji datang dalam 2 Samuel pasal 7 bahwa Raja itu akan datang dari keturunan Daud—dan tentu saja harapan langsung tertuju kepada Salomo. Dan saat Salomo muncul, semuanya tampak sangat menjanjikan. Dia memperluas wilayah kerajaan secara besar-besaran, dan dia menjadi orang terkaya di dunia dengan selisih yang sangat jauh. Bukan hanya itu, karena di awal pemerintahannya dia meminta hikmat, Allah pun memberinya hikmat yang melimpah, sehingga dia berhasil dalam segala hal yang dia lakukan.

Tapi ternyata Salomo adalah sebuah tragedi besar. Hatinya berpaling dari Allah karena dia menikahi begitu banyak istri dan memiliki begitu banyak gundik; dia menjalin hubungan jasmani dengan ratusan perempuan. Dia adalah orang yang sangat rusak secara moral. Dia bukanlah raja yang benar itu. Dan di akhir pemerintahannya, kerajaannya terpecah belah, dan kerajaan utara pun terpisah. Setiap raja yang memerintah di kerajaan utara setelah itu adalah orang yang jahat, rusak, keji, dan fasik. Tidak ada satu pun yang baik. Kerajaan selatan pun berjuang untuk bertahan, dengan daftar panjang raja-raja yang sebagian besar korup, dan hanya beberapa yang bisa dianggap cukup baik.

Rakyat mulai kehilangan harapan terhadap raja manusia, bahkan terhadap keturunan langsung Daud sendiri. Faktanya, garis keturunan Daud menjadi begitu buruk hingga pada satu titik, salah satu keturunannya yang bernama Manasye menjadi raja. Anda mungkin masih ingat Raja Manasye. Izinkan saya menyampaikan semacam “evaluasi akhir hidup” Manasye, dan ini sudah cukup untuk menggambarkannya. Dalam 2 Tawarikh 33:9 tertulis, “Manasye menyesatkan Yehuda dan penduduk Yerusalem, sehingga mereka melakukan yang jahat lebih daripada bangsa-bangsa yang telah dibinasakan TUHAN dari hadapan orang Israel.” Seorang anak keturunan Daud memimpin bangsa itu untuk melakukan kejahatan yang melebihi bangsa Kanaan yang dahulu diusir oleh Israel—dan bangsa Kanaan itu adalah bangsa yang keji, penyembah berhala, dan sangat kafir. Begitulah buruknya keadaan bangsa itu pada waktu itu.

Semua raja di kerajaan utara adalah raja yang rusak. Hampir semua raja di kerajaan selatan pun korup, dengan hanya sedikit pengecualian. Tidak satu pun dari mereka berhasil memenuhi harapan sebagai raja yang benar. Mereka semua gagal, dalam berbagai tingkat kegagalan. Memang ada beberapa raja yang mulia di kerajaan selatan, seperti yang Anda ketahui. Tetapi tidak ada satu pun raja manusia yang tampaknya mampu menggenapi janji yang telah lama dinantikan itu. Bahkan, hidup Yesaya sendiri berakhir pada masa pemerintahan Manasye. Hidup Yesaya berakhir ketika Manasye memerintahkan agar dia digergaji menjadi dua dengan gergaji kayu. Itulah yang diceritakan oleh tradisi, dan itu sejalan dengan Ibrani 11:36–37 yang merujuk pada para pahlawan iman dalam Perjanjian Lama yang "digergaji menjadi dua." Itulah nasib Yesaya.

Seberapa burukkah keadaannya? Tidak ada harapan sama sekali pada raja manusia. Tepat sebelum Yesaya digergaji, pada masa Manasye mulai memerintah, Yesaya sebenarnya bernubuat selama masa pemerintahan empat raja. Jika saya ingat dengan benar: Ahazia, Yoram, Ahas, dan Hizkia … Ahazia, Yoram, Ahas, dan Hizkia. Anda tentu ingat kata-kata dalam pasal 6, “Pada tahun kematian Raja Uzia, aku melihat Tuhan.” Jadi Uzia termasuk juga, dan tiga raja lainnya itu. Nubuat-nubuatnya yang tercatat dalam kitab Yesaya berasal dari masa-masa pemerintahan raja-raja itu. Namun ketika Manasye naik takhta—sejauh yang bisa kita ketahui dari catatan sejarah—di situlah Yesaya dibunuh, kemungkinan besar sekitar tahun 686 SM. Dan kemungkinan besar dia menulis kitab Yesaya ini tepat sebelum peristiwa itu. Jadi, Yesaya menulis nubuat tentang harapan, anugerah, dan keselamatan justru pada saat yang paling kelam dalam sejarah Yehuda.

Mereka memiliki Manasye sebagai raja, dan mereka sedang menuju pembuangan. Keadaannya tidak bisa menjadi lebih buruk dari itu. Bait suci mereka akan dihancurkan, ibu kota mereka akan dihancurkan, kerajaan utara sudah lenyap untuk selamanya dan tidak akan pernah kembali, dan mereka adalah yang berikutnya. Pada masa ketika garis keturunan Daud berada dalam kondisi paling korup, paling keji, dan paling jahat—di saat seperti itulah Allah campur tangan dan memberikan kepada Yesaya pewahyuan yang sangat dramatis tentang Raja yang benar, pewahyuan baru yang mengguncang tentang Raja yang benar. Jika pernah ada saat dalam sejarah mereka dimana mereka sangat membutuhkannya, maka inilah saatnya, bukan? Saat ketika semua harapan sudah sirna. Mereka benar-benar habis, mereka sedang pergi ke pengasingan. Semuanya sudah berakhir. Dan ketika bangsa Babel datang, itu adalah pembantaian berdarah.

Dan inilah kabarnya—berita yang mengejutkan, yang mengherankan, yang tak terduga: Dia bukan hanya akan menjadi Raja yang memerintah. Dia juga akan menjadi Hamba yang menderita. Dia tidak hanya akan datang sebagai Raja yang berkuasa, tetapi Dia akan datang sebagai Hamba yang menderita. Dan kemuliaan-Nya tidak akan datang sebelum Dia terlebih dahulu mengalami penderitaan. Lebih dari itu, Dia tidak akan menderita karena kesalahan yang Dia perbuat, sebab Dia adalah Raja yang benar. Sebaliknya, Dia akan menderita karena dosa orang lain. Dia akan menderita untuk menggantikan. Inilah pewahyuan yang baru: Raja yang benar akan menderita. Raja yang benar akan mati. Tetapi Dia tidak akan mati karena dosanya sendiri—Dia akan mati untuk dosa-dosa umat-Nya. Dia akan mati menanggung hukuman atas dosa-dosa mereka. Dia akan menjadi pengganti, yang mati di tempat umat-Nya. Dan meskipun kenyataan ini sudah digambarkan dalam sistem pengorbanan hewan—ya, gambarannya ada di sana—namun baru pada nubuat inilah hal itu dinyatakan dengan jelas.

Sekarang mari kita bertemu dengan Hamba yang menderita ini. Izinkan saya membacanya, mulai dari ayat 13. “Sesungguhnya, hambaKu akan berhasil, ia akan ditinggikan, disanjung dan dimuliakan. Seperti banyak orang akan terperanjat melihat dia—begitu buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi, dan perawakannya bukan seperti anak manusia lagi—demikianlah ia akan membuat tercengang banyak bangsa, rajaraja akan mengatupkan mulutnya melihat dia; sebab apa yang tidak diceritakan kepada mereka akan mereka lihat, dan apa yang tidak mereka dengar akan mereka pahami. Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar dan kepada siapakah kuasa tangan TUHAN dinyatakan? Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan atau tampak mulia untuk dipandang, dan tidak punya rupa yang membuat kita menginginkannya.”

“Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan biasa menderita kesakitan. Orang pun menutup muka ketika melihat dia; demikianlah ia dihina dan bagi kita ia tidak masuk hitungan. Sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan disakiti Allah. Akan tetapi, dia ditikam karena pemberontakan kita, dia diremukkan karena kejahatan kita. Hajaran yang mendatangkan damai sejahtera bagi kita ditimpakan kepadanya, dan karena bilurbilurnya kita disembuhkan.”

“Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian. Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri disakiti dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan mereka yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya. Sesudah ditahan dan dihukum ia digiring pergi, siapa yang peduli akan apa yang terjadi padanya? Sungguh, ia terputus dari negeri orangorang hidup, dan karena pemberontakan umatKu ia kena tulah. Orang menempatkan kuburnya di antara orangorang fasik, dan makamnya di antara orang kaya, sekalipun ia tidak berbuat kekerasan dan tipu daya tidak ada dalam mulutnya. Namun, TUHAN berkehendak meremukkan dia, membuat dia sakit.”

“Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya. Sesudah kesusahan jiwanya ia akan melihat terang dan menjadi puas; oleh pengetahuannya, hambaKu, orang benar itu, akan membenarkan banyak orang, dan kejahatan mereka dipikulnya. Sebab itu, Aku akan membagikan kepadanya rampasan diantara orang-orang besar, dan ia akan membagikan jarahan bersama orangorang kuat, karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut; juga karena ia terhitung di antara pemberontak, padahal ia menanggung dosa banyak orang, dan berdoa untuk pemberontakpemberontak.”

Apakah Anda melihat Kristus di sana? Bukti bahwa Allah adalah penulis Alkitab dan bahwa Yesus adalah penggenapannya dapat ditemukan hanya dalam satu pasal ini saja—dalam detail-detail kecil yang penting, yang digenapi secara tepat dalam kematian, penguburan, kebangkitan, kenaikan, syafaat, penobatan, dan keselamatan yang diberikan melalui Yesus Kristus. Yesus sendiri, para rasul Perjanjian Baru, dan para penulis kitab-kitab Perjanjian Baru dalam memberitakan Injil berulang kali merujuk kembali pada Yesaya pasal 53. Yesus mengutipnya. Para rasul mengutipnya. Para penulis Perjanjian Baru mengutipnya lagi dan lagi. Ada rujukan pada Yesaya 53 dalam kitab Matius, Markus, Lukas, Yohanes, Kisah Para Rasul, Roma, 1 Korintus, 2 Korintus, Galatia, Efesus, 1 Timotius, Titus, Ibrani, 1 Petrus, dan 1 Yohanes.

Tidak ada bagian dalam Perjanjian Lama yang begitu sering dan dengan begitu meyakinkan diterapkan kepada Yesus Kristus oleh Perjanjian Baru selain yang satu ini. Para penulis Perjanjian Baru merujuk pada hampir setiap ayat dalam pasal 53. Di dalamnya terdapat inti dan substansi dari Injil itu sendiri. Maka, menolak Kristus berarti menolak kesaksian sejarah yang begitu jelas, yang menggenapi setiap detail dari nubuat ini. Tapi, dalam skala yang lebih besar dari sekadar sejarah dan penggenapan—meskipun itu sangat penting, sangat vital, dan sungguh luar biasa—pertanyaannya adalah: apa artinya semua ini bagi saya? Itulah persoalan utamanya.

Anda mungkin terpesona oleh sejarahnya. Anda mungkin takjub bahwa nubuat-nubuat yang begitu rinci tentang kehidupan, kematian, dan kebangkitan seseorang dapat disampaikan 700 tahun sebelum orang itu datang—dan memang seharusnya Anda takjub. Anda mungkin kagum pada kenyataan bahwa tidak ada manusia yang dapat mengetahui hal itu, sehingga Alkitab hanya mungkin ditulis oleh satu-satunya Pribadi yang mengetahui masa depan, yaitu Allah—yang bukan hanya mengetahui, tetapi juga menetapkan masa depan itu. Anda memang seharusnya kagum pada sifat ilahi dari Alkitab. Tapi di situlah Anda tidak boleh berhenti. Karena ada pertanyaan yang lebih besar, lebih agung dari sekadar kekaguman terhadap kebenaran nubuat. Pertanyaannya adalah: Apa artinya semua ini bagi Anda? Apa artinya bagi saya, dan bagi semua orang?

Izinkan saya membahas hal ini sejenak. Kebenaran dari nubuat kuno ini dan penggenapannya di dalam Yesus Kristus menjawab pertanyaan yang paling penting, paling mendasar, paling krusial yang pernah bisa ditanyakan oleh siapa pun. Saya akan menumpuk kata-kata sifat untuk menekankannya. Bagian ini menjawab pertanyaan yang paling signifikan yang bisa diajukan oleh siapa saja, pertanyaan utama, pertanyaan pokok, pertanyaan yang paling vital, paling berbobot, paling serius, paling monumental, paling bermakna, pertanyaan yang paling penting. Dan itu tidak ada hubungannya dengan kesehatan, tidak ada hubungannya dengan kekayaan, tidak ada hubungannya dengan kesuksesan, pendidikan, moralitas, kesejahteraan, filsafat, sosiologi, atau politik. Pertanyaan paling penting yang akan pernah ditanyakan dan dijawab oleh seorang manusia sama sekali tidak berkaitan dengan isu-isu yang biasanya memenuhi pikiran manusia.

Saya rasa jika Anda mencoba mencari di internet, "Apa pertanyaan yang paling sering ditanyakan?" Anda akan menelusuri ribuan pertanyaan sebelum akhirnya, jika pun muncul, Anda akan menemukan pertanyaan ini. Padahal pertanyaan ini seharusnya ada di urutan pertama. Ini adalah pertanyaan yang paling perlu ditanyakan; pertanyaan yang paling mendesak; pertanyaan yang paling menentukan; dan, sejujurnya, pertanyaan yang paling sering dihindari. Pertanyaan ini jauh melampaui semua pertanyaan lain—bahkan tidak terhingga—namun hampir tidak pernah muncul dalam daftar prioritas manusia.

Apa pertanyaannya? Inilah pertanyaannya: Bagaimana seorang pendosa dapat dibenarkan di hadapan Allah sehingga dia luput dari neraka dan masuk ke surga? Itulah pertanyaan yang paling penting. Bagaimana seorang pendosa dapat dibenarkan di hadapan Allah sehingga dia terhindar dari neraka kekal dan masuk ke surga kekal? Itulah pertanyaannya. Bagaimana seorang manusia bisa menjadi benar di hadapan Allah? Bagaimana Allah yang kudus dapat menyatakan seorang pendosa sebagai orang benar? Itulah pertanyaannya. Inilah dilema moral terbesar yang ada di dunia. Inilah dilema moral terbesar yang ada di dunia. Dengarkan baik-baik: justru untuk menjawab pertanyaan itulah Alkitab ditulis. Apakah Anda menangkap maksudnya? Justru untuk menjawab pertanyaan itulah Alkitab ditulis. Justru untuk menjawab pertanyaan itulah Yesaya 53 ditulis. Itulah pertanyaannya.

Pada zaman Perjanjian Baru, ada jutaan budak dan begitu banyak penyiksaan terhadap mereka. Jumlahnya kadang terdengar luar biasa. Ada yang mengatakan 15 juta budak; ada yang mengatakan 60 juta. Orang-orang yang peka terhadap isu sosial mungkin akan berasumsi bahwa Perjanjian Baru seharusnya berbicara soal perbudakan manusia, perdagangan manusia, karena memang pada masa itu ada budak-budak seks—seperti yang Anda ketahui jika Anda pernah mempelajari sejarah kuno. Dan segala bentuk penyalahgunaan terhadap para budak itu memang ada.

Yang menarik bagi saya adalah bahwa rasul Paulus—yang menulis 13 dari 27 kitab dalam Perjanjian Baru—tidak pernah menulis tentang ketidakadilan sosial dalam perbudakan. Yang dia lakukan adalah menulis penjelasan yang sangat mendalam tentang bagaimana seorang pendosa dapat dibenarkan di hadapan Allah, luput dari neraka kekal, dan masuk ke surga kekal—dan itulah isi dari kitab Roma. Yesaya 53 adalah "kitab Roma"-nya Perjanjian Lama. Kitab Roma adalah pewahyuan terbesar dalam Perjanjian Baru yang menjawab pertanyaan itu. Tentu, seluruh Perjanjian Baru juga merupakan bagian dari jawaban atas pertanyaan itu. Tapi kitab Roma merangkum semuanya dan secara khusus berfokus untuk menjawab pertanyaan itu. Dan Yesaya 53 adalah pewahyuan terbesar dalam Perjanjian Lama yang menjawab pertanyaan yang sama.

Dan perlu dicatat bahwa baik Yesaya maupun Paulus memberikan jawaban yang sama. Mereka memberikan jawaban yang sama. Seorang pendosa—ini jawabannya—dapat dibenarkan di hadapan Allah, luput dari neraka kekal, dan masuk ke surga kekal karena Hamba Yahweh menjadi pengganti dan menanggung penghakiman Allah menggantikan orang berdosa tersebut. Itulah pesan kitab Roma, dan itulah juga pesan kitab Yesaya. Allah mencurahkan murka-Nya terhadap pendosa kepada Sang Hamba sebagai penggantinya. Inilah inti dari bagian kitab Yesaya pasal 40 sampai 66. Dan sekarang saya akan menunjukkan kepada Anda betapa menariknya hanya satu aspek kecil dari bagian ini.

Ada 27 pasal. Percayalah pada saya; pasal 40 sampai 66, itu memang 27 pasal. Mereka dibagi menjadi tiga bagian, masing-masing 9 pasal, berdasarkan tema pembahasan. Bagian pertama berakhir dengan pernyataan: “Tidak ada damai sejahtera bagi orang-orang fasik.” Bagian kedua, yang juga terdiri dari 9 pasal, berakhir dengan pernyataan yang sama: “Tidak ada damai sejahtera bagi orang-orang fasik.” Bagian ketiga berakhir, di pasal 66 ayat 24, dengan pernyataan penghakiman serupa. Ketiga bagian itu masing-masing diakhiri dengan peringatan tentang penghakiman atas orang fasik. Namun, ketiga bagian itu juga menjanjikan keselamatan. Ketiganya sangat bersifat injil. Ketiganya menjanjikan keselamatan dan mengakhirinya dengan peringatan jika Anda menolaknya. Ketiga bagian tersebut menampilkan berkat dan damai sejahtera bagi orang benar, dan tidak ada damai sejahtera serta penghakiman bagi orang fasik. Ketiganya menegaskan bahwa kebenaran dan kefasikan bersifat tetap selamanya. Takdir tidak dapat diubah.

Bagian pertama berbicara tentang keselamatan dari pembuangan Babel. Bagian kedua membahas keselamatan dari dosa. Dan bagian ketiga, sembilan pasal terakhir, membahas keselamatan dari bumi yang dikutuk. Jadi, bagian pertama berkaitan dengan pembebasan Israel dari Babel. Bagian tengah, seperti yang saya katakan tadi, berkaitan dengan pembebasan orang berdosa dari dosa. Dan bagian ketiga berkaitan dengan pembebasan bumi dari kutukan, yaitu Kerajaan Mesias yang mulia yang akan datang.

Jadi bagian tengahlah yang sedang kita pelajari sekarang. Bagian tengah ini meliputi pasal 49 sampai 57. Dan bagian tengah ini membahas tentang pengampunan dosa, serta mengajukan pertanyaan tentang keselamatan dari dosa. Bukan pembebasan sementara dari Babel, dan bukan juga tentang Kerajaan eskatologis yang akan datang di masa depan, melainkan pembebasan dari dosa. Nah, ini menimbulkan pertanyaan yang sangat penting. Jangan sampai terlewat ya; ini sangat layak untuk dinantikan. Mengapa Allah perlu menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka? Ini sangat penting. Sangat penting.

Dan inilah masalahnya dengan orang Yahudi. Mereka tidak yakin bahwa mereka membutuhkan, dengarkan baik-baik, seorang penyelamat. Mereka berpikir bahwa yang mereka butuhkan hanyalah seorang Raja yang benar. Mereka percaya bahwa berdasarkan keturunan Abraham mereka, berdasarkan Perjanjian dan janji-janji itu, mereka sudah berada dalam posisi terberkati karena kebaikan dan kesalehan mereka, karena usaha mereka dalam kegiatan keagamaan, upacara, ritual, dan upaya mereka untuk menaati Hukum Allah, mereka merasa telah memperoleh kasih karunia dari Allah sehingga mereka memilikinya berdasarkan keturunan dan juga berdasarkan jasa.

Jadi, pesan tentang seorang penyelamat yang akan membebaskan kita dari dosa agar kita terhindar dari neraka kekal dan masuk ke dalam surga kekal menjadi bahasa yang asing bagi mereka. Seharusnya tidak begitu. Kembali ke pasal pertama kitab Yesaya. Yesaya sedang mencoba menyampaikan pesan ini kepada mereka. Pasal 1 ayat 4, “Sungguh celaka bangsa yang berdosa, umat yang sarat dengan kesalahan, keturunan orang yang jahat-jahat, orang-orang yang berlaku busuk! Mereka meninggalkan TUHAN, menista Yang Maha Kudus, Allah Israel, dan berpaling membelakangi Dia. Mengapa kamu mau dipukul lagi, kamu yang semakin murtad?”

Dan kemudian ini, “Seluruh kepala sakit dan seluruh hati lemah lesu.– ’” atau lemah. Seperti Yeremia 17, “Hati itu licik melebihi segala sesuatu.” – “Dari telapak kaki sampai kepala tidak ada yang sehat, bengkak dan bilur serta luka baru, tidak dibersihkan atau dibalut atau dioleskan minyak. Negerimu menjadi sunyi sepi, kota-kotamu habis terbakar, di depan matamu orang asing menjarah tanahmu.” Dia berbicara tentang kehancuran. “Dengarlah firman TUHAN,” ayat 10, “hai pemimpin-pemimpin Sodom! Perhatikanlah pengajaran Allah kita, hai rakyat Gomora!”

“Apa gunanya bagi-Ku kurbanmu yang banyak-banyak?" firman TUHAN. "Aku sudah jemu dengan kurban bakaran berupa domba jantan dan lemak anak lembu yang gemuk. Darah lembu dan anak kambing domba jantan tidak Kusukai. Ketika kamu datang di hadirat-Ku, siapakah yang menuntut itu darimu, sehingga kamu menginjak-injak pelataran bait-Ku? Jangan lagi membawa persembahan yang sia-sia, persembahan dupa adalah hal yang menjijikan bagi-Ku. Perayaan bulan baru dan Sabat, atau pertemuan-pertemuan—Aku tidak tahan melihat perkumpulan raya diserta kejahatan.”

“Perayaan bulan baru dan hari-hari rayamu Aku benci. Semua itu menjadi beban bagi-Ku, Aku sudah lelah menanggungnya. Ketika kamu menadahkan tanganmu, Aku akan menutup mata-Ku terhadap kamu; bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah. Basuhlah, bersihkanlah dirimu! Jauhkanlah perbuatan-perbuatan yang jahat dari depan mata-Ku! Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakan keadilan, kendalikan orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkan perkara janda-janda! Marilah, baiklah kita berperkara! —firman TUHAN— Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.”

Mereka membutuhkan keselamatan. Mereka sangat membutuhkan keselamatan. Mereka adalah bangsa yang jahat. Dan seperti yang saya katakan sebelumnya, tepat pada masa pemerintahan Manasye—raja yang paling jahat di antara mereka dan membuat bangsa itu hidup seperti orang Kanaan—mereka sangat membutuhkan keselamatan dan penebusan. Jadi, ketika Anda sampai pada nyanyian-nyanyian tentang Hamba Tuhan dalam kitab Yesaya pasal 42, di sanalah janji-janji tentang keselamatan itu muncul. Pasal 42 ini—saya berharap bisa membacakannya seluruhnya kepada Anda—berisi pernyataan yang begitu kuat.

“Beginilah firman Tuhan Allah,” ayat 5, “yang menciptakan langit dan membentangkannya, yang menghamparkan bumi dengan segala yang tumbuh di atasnya, yang memberikan napas kepada umat manusia yang mendiaminya dan nyawa kepada mereka yang hidup di atasnya.”

“Aku, TUHAN, telah memanggil engkau dalam kebenaran, telah memegang tanganmu; Aku telah menjaga engkau dan menjadikan engkau perantara perjanjian bagi umat manusia, terang untuk bangsa-bangsa, untuk membuka mata yang buta, untuk mengeluarkan orang hukuman dari penjara, dan orang-orang yang duduk dalam kegelapan dari rumah tahanan. Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN– ” —ayat 10 — “dan pujilah Dia dari ujung bumi. Tuhan akan membawa keselamatan bagi umatNya.”

Pasal 43, ayat 1, “Beginilah firman TUHAN, yang menciptakan engkau, hai Yakub, yang membentuk engkau, hai Israel: ‘Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau adalah milik-Ku. Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melintasi sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, nyala api tidak akan membakar engkau. Sebab, Akulah TUHAN, Allahmu, Yang Maha Kudus, Allah Israel,’ Apa kata selanjutnya? – ‘Juruselamatmu.’” – Akulah Juruselamatmu. Akulah Juruselamatmu. Ayat 11 – “Aku, Akulah TUHAN dan tidak ada juruselamat selain Aku. Akulah yang memberitahukan, menyelamatkan. Beginilah firman TUHAN” – ayat 14 – “Penebusmu, Yang Mahakudus, Allah Israel.”

Aku akan menjadi Juruselamatmu. Aku akan menjadi Penebusmu. Itulah sebabnya bagian ini dimulai dengan kata-kata penghiburan, di pasal 40: "Hiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku, demikian firman Allahmu. Tenangkanlah hati Yerusalem dan serukanlah kepadanya, bahwa perhambaannya sudah berakhir, bahwa kesalahannya telah impas, sebab ia telah menerima hukuman dari tangan TUHAN dua kali lipat karena segala dosanya." Keselamatan akan datang. Apakah mereka membutuhkan keselamatan? Ya. Diagnosa yang disampaikan di pasal 1 diulangi secara ringkas di pasal 6 ketika Yesaya mendapat penglihatan tentang Allah. Dan dia berkata, “Aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir.” Yesaya mengerti kebutuhan akan keselamatan, kebutuhan akan penyucian.

Jadi bagian inti dari tiga bagian sembilan pasal ini adalah bagian tengahnya. Bagian pertama berbicara tentang keselamatan dari Babel; bagian terakhir tentang keselamatan dalam Kerajaan yang akan datang secara eskatologis; dan bagian tengahnya, keselamatan dari dosa bagi umat Allah, baik Yahudi maupun non-Yahudi. Dan keselamatan ini akan datang melalui Sang Hamba, yang akan menjadi Juruselamat yang diutus oleh Allah. Karena itu, bagian tengah—dengarkan baik-baik—pasal 49 sampai 57, memiliki inti di pasal 52 dan 53. Dan ayat inti dari pasal 53 adalah ayat 5: “Akan tetapi, dia ditikam karena pemberontakan kita, dia diremukkan karena kejahatan kita. Hajaran yang mendatangkan damai sejahtera bagi kita ditimpakan kepadanya, dan karena bilur-bilurnya kita disembuhkan.” Bagian tengah, pasal tengah, di bagian tengah pasal, dan ayat tengah. Semuanya mengarah pada inti ini: tertikamnya Sang Hamba Yahweh sebagai pengganti bagi kita.

Dengan cara apa Allah akan menyelamatkan umat-Nya? Dengan cara apa Dia akan mengampuni dosa-dosa mereka? Melalui kematian pengganti yang menanggung hukuman dari Hamba-Nya, Hamba itu adalah Sang Mesias, Raja yang benar. Dan Dia-lah yang akan menggenapi nubuat ini. Teks ini, Saudara, menunjuk kepada Tuhan Yesus Kristus, dan itu begitu jelas hingga tidak dapat disalahpahami.

Nah, izinkan saya memberikan sedikit latar belakang sejarah. Orang-orang Yahudi kuno awalnya menafsirkan nubuat ini sebagai nubuat mesianik. Dalam semua literatur Yahudi kuno, pasal ini, pasal 53, seluruh bagian ini—bagian tengah dari 27 pasal terakhir—dianggap sebagai nubuat mesianik. Semuanya dipahami sebagai mesianik, meskipun mereka belum mengerti dengan jelas bagaimana sang Mesias akan menderita. Ketika mereka sampai pada pasal 53, para rabi menulis, “Bahwa Dia akan berbelas kasih, bahwa Dia akan dengan simpatik merasakan penderitaan kita,” dan hanya sampai di situ mereka berani menafsirkan.

Mereka memahami bahwa sang Mesias itu akan bersimpati, bahwa Dia akan menjadi Raja yang benar—dengan kata lain, seseorang yang merasa sangat iba karena bangsa yang begitu mulia telah menderita begitu berat, sehingga Dia merasakan penderitaan mereka. Mereka tidak melihat adanya kematian pengganti yang bersifat mesianik, meskipun dalam sejarah mereka setiap hari, ada hewan yang dikorbankan, yang menggambarkan kematian pengganti. Yang mereka lihat dalam tulisan mereka hanyalah belas kasihan, belas kasihan. Sebagai catatan saja, pandangan mesianik terhadap bagian ini juga muncul dalam liturgi Yahudi untuk Hari Raya Pendamaian.

Ini adalah kutipan dari apa yang mereka ucapkan:“Kengerian telah menimpa kami. Kami tidak memiliki siapa pun yang dapat menyelamatkan kami. Dia telah memikul kuk dari kesalahan dan pelanggaran kami, terluka karena pelanggaran kami. Dia menanggung dosa kami di atas bahu-Nya agar Dia dapat memperoleh pengampunan bagi kesalahan kami. Kami disembuhkan oleh luka-Nya pada waktu kekekalan menciptakan Dia sebagai ciptaan yang baru. Oh, angkatlah Dia dari lingkaran bumi. Bangkitkanlah Dia dari Seir untuk berkumpul kembali pada waktu yang kedua di Gunung Lebanon oleh tangan Yinon.”Yinon adalah kata Ibrani untuk Mesias.

Jadi, pada perayaan Hari Raya Pendamaian, mereka memparafrasakan Yesaya 53, lalu menarik kembali pasal itu dan berkata bahwa itu hanya berarti Dia akan bersimpati kepada mereka. Pemikiran bahwa Mesias itu sendiri akan mati? Itu tidak mungkin, sesuatu yang tidak dapat diterima. Itulah sebabnya Yesus merujuk kembali ke Perjanjian Lama untuk menjelaskan penderitaan-Nya yang harus terjadi, dan para rasul pun memberitakan hal itu. Tapi mereka sama sekali tidak tertarik dengan hal itu.

Dengarkan saya baik-baik, ini sangat penting. Mereka tidak merasa membutuhkan seorang juruselamat. Mereka tidak merasa memerlukan korban untuk dosa mereka. Dalam sistem yang berbasis perbuatan, tidak ada kebutuhan akan juruselamat. Yang mereka butuhkan hanyalah seorang yang bersimpati. Mereka menyambut seorang yang bersimpati. Mereka menginginkan seorang Raja yang memahami penderitaan mereka dan karena belas kasihan serta simpati-Nya, akan memberikan kepada mereka apa yang mereka rasa layak mereka terima. Itulah pandangan Yudaisme kuno. Itulah pandangan Yudaisme pada zaman Perjanjian Baru. Itulah pandangan Yudaisme pasca-Perjanjian Baru. Dan itulah pandangan Yudaisme modern.

Yudaisme tidak akan pernah mendefinisikan dirinya seperti yang digambarkan dalam Yesaya 1—sakit dari kepala sampai telapak kaki. Mereka tidak merasa membutuhkan seorang juruselamat. Jika seseorang tidak memahami doktrin tentang kebejatan manusia, dan tidak menyadari bahwa dia sama sekali tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri melalui perbuatannya, maka dia juga tidak merasa perlu ada juruselamat untuk menyelamatkannya. Keselamatan dianggap bisa dicapai. Dan setiap sistem yang mengajarkan bahwa keselamatan bisa dicapai melalui usaha manusia, tidak punya tempat bagi penebusan yang bersifat pengganti dan mewakili. Setelah Tuhan Yesus datang dan gereja lahir, gereja secara jelas menafsirkan Yesaya 53… semua penulis Perjanjian Baru, seperti yang telah saya katakan tadi, mereka juga melakukannya… gereja mulai memberitakan kepada orang-orang Yahudi bahwa Yesus adalah penggenapan dari Yesaya 53.

Tapi mereka tidak ingin mendengar itu, maka itu mereka menganiaya gereja. Mereka membunuh orang-orang Kristen, seperti yang Anda tahu. Dan sampai hari ini, Yudaisme sebagai sebuah institusi menolak Yesus Kristus dan menolak Yesus Kristus sebagai penggenapan Yesaya 53. Ketika saya membacakannya kepada Anda tadi, itu adalah pengalaman yang menggetarkan, bukan? Hanya dengan mendengarnya dibacakan saja, setiap pembaca Kristen bisa merasakan kekuatan dari deskripsi tentang Yesus Kristus ini. Anda merasakan kuasa dari karya-Nya yang menanggung dosa Anda di kayu salib. Namun di sisi lain, seorang Yahudi yang membaca bagian itu akan melihat sesuatu yang sama sekali berbeda. Ia akan melihat inilah penafsiran yang umum—bahwa itu menggambarkan Israel. Ini adalah Israel yang sedang menderita.

Israel adalah hamba yang menderita—itulah pandangan umum dalam Yudaisme—yang telah menderita dan terus menderita, dan suatu hari nanti akan masuk ke dalam kemuliaan. Kemuliaan Israel akan datang, tetapi untuk saat ini mereka sedang mengalami penderitaan, mungkin tidak adil, mungkin tidak semestinya. Inilah pandangan Yudaisme yang menyanjung dirinya sendiri terhadap Yesaya 53, bahwa mereka sebagai bangsa yang mulia sedang menderita secara tidak adil, dan melewati berbagai penderitaan. Tetapi suatu hari nanti, mereka akan muncul dalam kemuliaan yang telah dijanjikan kepada mereka, dan mereka akan menjadi bangsa tertinggi yang akan memberkati seluruh dunia. Mereka akan memperoleh kemuliaan itu melalui agama mereka, melalui pembenaran diri mereka, dan perhatikan ini—melalui penderitaan mereka. Tetapi Yesus, menurut mereka, tidak ada dalam Yesaya 53.

Itulah sebabnya Yesaya 53 dijuluki sebagai Ruang Penyiksaan bagi para rabi. Yesaya 53 disebut sebagai suara hati nurani yang bersalah dalam kalangan para rabi, karena mereka tidak bisa memaksakan Israel ke dalam bagian ini. Israel bukanlah seorang penderita yang rendah hati, dan tidak pernah menjadi penderita yang sukarela. Israel bukanlah bangsa yang benar dan tanpa dosa, yang menderita secara tidak adil dan sekaligus menanggung penderitaan secara pengganti bagi orang lain. Tidak ada cara yang masuk akal untuk menjadikan Israel sebagai subjek dari Yesaya 53. Bagian ini hanya dapat menunjuk kepada satu Pribadi, yaitu Yesus.

Tetapi pada titik ini, saya ingin menunjukkan sesuatu yang akan berguna bagi Anda. Israel pada masa itu, Israel pada zaman Yesus, dan Israel sekarang tidak merasa membutuhkan korban pengganti. Mereka tidak merasa perlu seorang juruselamat yang mewakili mereka. Mereka tidak merasa membutuhkan seorang Pengantara yang mati bagi mereka. Yang mereka rasa butuhkan hanyalah seorang raja yang bersimpati. Mereka hanya menginginkan seorang penguasa. Mereka hanya merasa butuh seorang raja. Tidak ada kebutuhan akan juruselamat yang menanggung dosa mereka; tidak ada kebutuhan akan juruselamat yang menanggung murka Allah atas nama mereka. Yang mereka inginkan hanyalah seorang Raja yang menyelamatkan mereka dari semua penderitaan, ketidakadilan, dan kesakitan—dan yang kemudian akan meninggikan mereka, memberikan kemuliaan yang menurut mereka pantas mereka terima karena mereka keturunan Abraham, karena janji Allah kepada Daud, dan karena kebaikan mereka sendiri.

Jadi, setiap kali Anda berbicara dengan seorang Yahudi, pertanyaan yang harus diajukan adalah, “Apakah Anda membutuhkan seorang juru selamat? Apakah Anda membutuhkan seorang juru selamat?” Kekristenan menawarkan seorang juru selamat. Apakah Anda membutuhkan pengganti untuk mati menggantikan Anda? Apakah Anda membutuhkan seseorang yang menanggung murka Allah atas dosa Anda? Itulah pertanyaannya. Dan itu kembali kepada pertanyaan dari segala pertanyaan: Bagaimana seorang pendosa bisa dibenarkan di hadapan Allah sehingga dia dapat lolos dari neraka kekal dan masuk ke surga kekal? Dan satu-satunya jawaban adalah, “Jika dosa-dosa orang itu telah sepenuhnya dibayar lunas.” Dan satu-satunya yang dapat melakukan itu adalah korban pengganti yang dipilih secara tidak langsung, Yesus Kristus sendiri.

Perbedaan mendasar, dan ini sangat penting, perbedaan mendasar antara Yudaisme dan Kekristenan adalah ini. Yudaisme adalah agama yang mengagungkan usaha manusia dan tidak membutuhkan juru selamat. Kekristenan adalah agama yang merendahkan usaha manusia dan sangat membutuhkan juru selamat. Itulah perbedaannya. Orang Yahudi tidak membutuhkan pengganti untuk menanggung hukuman atas dosa-dosa mereka. Allah akan menerima mereka berdasarkan Abraham dan berdasarkan kebaikan mereka, hak istimewa mereka, dan janji-janji mereka. Itulah perbedaannya. Jangan berpikir sejenak pun bahwa tidak ada jurang yang besar antara keduanya. Orang Yahudi tidak membutuhkan juru selamat untuk menyelamatkan mereka dari dosa-dosa pribadi mereka. Mereka hanya membutuhkan seorang pembebas untuk menyelamatkan mereka dari musuh dan kesulitan mereka. Orang Kristen membutuhkan juru selamat untuk menyelamatkan mereka dari pelanggaran, kejahatan, dan dosa pribadi mereka.

J adi, pertanyaan yang perlu diajukan kepada setiap orang Yahudi adalah, “Apakah Anda secara pribadi membutuhkan seorang juru selamat yang menggantikan Anda dan mati di bawah penghakiman Allah atas dosa-dosa Anda? Apakah Anda membutuhkan seorang juru selamat?” Itulah pertanyaannya. Dan itulah masalah moral dari seluruh eksistensi manusia. “Hamba-Ku – ” ayat 11 dari pasal 53 – “Hamba-Ku akan membenarkan banyak orang, Dia akan membuat mereka benar di hadapan Allah – ” Bagaimana caranya? – “Dia akan memikul – ” Apa? – “kesalahan mereka.” Dalam penebusan, Hamba Yahweh membenarkan banyak orang. Dia telah dijanjikan dalam Perjanjian Lama akan datang dari bangsa Israel, sebagai keturunan Abraham, dan turun melalui keluarga Daud. Perjanjian Lama mengatakan bahwa Dia akan lahir di Betlehem, dan Yesaya mengatakan bahwa Dia akan lahir dari seorang perawan.

Tetapi kita baru benar-benar tahu siapa Dia setelah Dia datang. Mereka tidak bisa tahu siapa Dia sebelumnya. Namun ketika Dia datang, kita tahu siapa Dia karena pada saat baptisan-Nya terdengar suara dari surga, suara Bapa berkata, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Apa yang Allah katakan di situ? Dia sedang menggemakan Yesaya 42:1, “Lihat, itu Hamba-Ku, yang Kupegang, orang pilihan-Ku yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku padanya.” Itulah yang terjadi saat pembaptisan. Roh Kudus turun seperti burung merpati. Hamba yang memadai itu, menurut kesaksian langsung dari Allah dan turunnya Roh Kudus, tidak lain adalah Yesus. Dia adalah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.

Jadi sebagai penutup, mari kita lihat Kisah Para Rasul 8. Saya cukup tepat waktu. Saya kira tadi pagi saya akan berbicara selama satu setengah jam. Saya akan menutup dengan Kisah Para Rasul 8. Ini tidak bisa dihindari. Bagian lainnya tidak akan sepanjang ini. Anda masih ingat Filipus dan sida-sida dalam Kisah Para Rasul 8? Filipus dituntun oleh Roh untuk pergi ke kereta seorang pejabat istana. Dia adalah seorang... seorang non-Yahudi yang baru menjadi penganut Yudaisme, dia baru pulang dari Yerusalem, dan dia sedang membaca kitab Yesaya. Dia sedang membaca kitab nabi Yesaya. Dan Filipus bertanya kepadanya di ayat 30, “Mengertikah Tuan apa yang Tuan baca itu?” Dan dia menjawab, “Bagaimana aku dapat mengerti kalau tidak ada yang membimbing aku?”

Lalu Filipus naik ke dalam kereta, dan bagian yang sedang dibaca oleh sida-sida itu adalah, “Seperti seekor domba Ia dibawa ke pembantaian; dan seperti anak domba yang kelu di depan orang yang menggunting bulunya, demikianlah Ia tidak membuka mulut-Nya. Dalam kehinaan-Nya, keadilan tidak diberikan kepada-Nya; siapa yang akan menceritakan asal usul-Nya? Sebab nyawa-Nya diambil dari bumi.” Ini langsung dari Yesaya 53. “Lalu kata pejabat istana itu kepada Filipus, ‘Aku bertanya kepadamu, tentang siapa nabi berkata demikian? Tentang dirinya sendiri atau tentang orang lain?’  Filipus pun mulai berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil tentang Yesus kepadanya.” Saudara, itulah yang akan kita lakukan. Kita akan memberitakan Yesus dari bagian Akitab yang sama itu.

Bapa, kami mengucap syukur atas waktu yang telah kami miliki pagi ini—waktu untuk merayakan, waktu untuk bersukacita, waktu untuk menyembah, waktu untuk merenungkan kebesaran Firman-Mu, Putra-Mu, dan Juruselamat kami. Sertailah kami dan berkatilah kami, kami berdoa hari ini. Dalam nama-Nya yang mulia kami berdoa. Amin.

SELESAI

This sermon series includes the following messages:

Please contact the publisher to obtain copies of this resource.

Publisher Information
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969

Welcome!

Enter your email address and we will send you instructions on how to reset your password.

Back to Log In

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize
View Wishlist

Cart

Cart is empty.

Subject to Import Tax

Please be aware that these items are sent out from our office in the UK. Since the UK is now no longer a member of the EU, you may be charged an import tax on this item by the customs authorities in your country of residence, which is beyond our control.

Because we don’t want you to incur expenditure for which you are not prepared, could you please confirm whether you are willing to pay this charge, if necessary?

ECFA Accredited
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Back to Cart

Checkout as:

Not ? Log out

Log in to speed up the checkout process.

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize