Grace to You Resources
Grace to You - Resource

Sekarang, mari kita membuka Firman Tuhan ke pasal 53 dari kitab Yesaya. Ini adalah perjalanan kita yang keenam ke dalam pasal yang luar biasa ini. Dan dengan setiap minggu yang berlalu selagi saya mempelajari teks yang ada di sini dan semua jejak yang membawanya ke tempat-tempat lain, saya diingatkan betapa dalamnya pasal ini sebenarnya. Seseorang bisa menghabiskan seumur hidup di sini, dan beralih dari sini ke semua hal yang tersirat dan dijelaskan oleh pasal yang luar biasa ini. Yesaya 53 menjadi tantangan bagi setiap pengkhotbah, yaitu untuk mengeditnya agar tidak menjadi terlalu rumit dan kehilangan pokok utamanya. Saya sedang sedikit berjuang melawan hal itu.

Saya semakin tertantang lagi karena biasanya saya mempersiapkan diri untuk memiliki bagian awal, tengah, dan akhir, satu khotbah utuh. Minggu lalu saya melakukannya dan berencana membahas ayat 4 sampai 6. Saya tidak berhasil menyelesaikannya. Saya hanya sampai pada ayat 4 dan 5, dua pertiga jalan, tetapi kita tidak punya cukup waktu untuk ayat 6. Jadi saya seperti masih memiliki sepertiga pesan yang tersisa. Nah, hal ini memberikan saya kesempatan besar untuk mengisinya dengan hal-hal yang benar-benar perlu dan terkait serta, menurut saya, bermanfaat. Ini memungkinkan saya mengambil langkah tambahan yang diperlukan, tapi bukan karena keinginan semata. Dan saya akan membahasnya sedikit dengan Anda pagi ini.

Buat saya, akan sangat membantu untuk mendapatkan sudut pandang baru bila saya ada di posisi ketinggian selagi saya melihat sebuah bagian Alkitab. Semakin tinggi saya berada di atas bagian itu, semakin luas jangkauan yang bisa saya lihat. Bahkan saya senang berada di ketinggian 40 ribu kaki di atas bagian itu, sehingga saya bisa melihat segala sesuatu mulai dari Kejadian sampai Wahyu, lalu secara perlahan turun dari ketinggian itu, menurunkan roda pendaratan, dan tiba di bagian yang sedang kita pelajari. Dan itulah yang akan kita lakukan. Saya ingin membawa Anda ke ketinggian terlebih dahulu, dan kemudian kita akan menurunkan roda pendaratan kita sebentar lagi di Yesaya 53 dan menyelesaikan pemahaman kita untuk ayat 4 sampai 6. Tapi saya ingin memulai dari sudut pandang yang jauh lebih luas.

Sejarah bangsa Yahudi adalah sejarah etnis yang paling luar biasa dalam... dalam sejarah dunia. Sejarah mereka adalah kisah panjang dan menakjubkan tentang keberlangsungan hidup mereka dari sudut pandang mereka. Memikirkan bahwa masih ada orang Yahudi di dunia ini, dan jumlahnya 14 atau 15 juta orang, menunjukkan bahwa mereka telah bertahan hidup meskipun segala rintangan menghalangi mereka untuk bertahan hidup. Tidak ada seorang pun di sini yang pernah bertemu dengan orang Hewi, Yebus, Feris, Amori, atau bangsa lainnya dari Perjanjian Lama karena mereka sudah lama punah. Tetapi kita benar-benar memiliki orang Israel yang duduk di sini hari ini, dan banyak dari mereka ada di gereja kita, dan masih banyak lagi di seluruh dunia. Mereka adalah garis keturunan murni orang Yahudi yang telah melewati sejarah Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru hingga hari ini. Dari sudut pandang mereka, ini adalah kisah besar tentang keberlangsungan hidup mereka. Tapi dari sudut pandang Allah, ini adalah kisah yang jauh lebih menakjubkan tentang pemeliharaan-Nya.

Kita mungkin bisa memuji sisi manusianya dan berkata bahwa inilah suatu bangsa yang begitu berkomitmen untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan keberadaan mereka, sehingga mereka menjadi kesaksian terbesar atas kehendak untuk bertahan hidup dibandingkan bangsa mana pun dalam sejarah dunia. Tapi dari sudut pandang ilahi, kita perlu berhati-hati dan mengatakan bahwa ini bukanlah kisah tentang kehendak manusia untuk bertahan atau tetap bersatu sebagai suatu bangsa. Ini adalah kisah tentang perlindungan dan pemeliharaan ilahi.

Bangsa Yahudi masih ada di dunia karena Allah telah memastikan bahwa mereka tetap ada. Mereka masih dapat diidentifikasi hingga ke suku asal mereka, meskipun mereka sendiri tidak tahu berasal dari suku mana karena catatan silsilah mereka telah dihancurkan pada tahun 70 M sewaktu bangsa Romawi menghancurkan Bait Allah. Tetapi Allah tahu suku mereka, dan Dia akan mengidentifikasi kembali suku-suku itu dan memilih 12.000 orang dari setiap suku untuk membentuk 144.000 orang Yahudi yang akan memberitakan Injil di akhir sejarah manusia. Mereka akan tetap dikenali berdasarkan suku asal mereka, bahkan pada masa Kesengsaraan Besar, tepat sebelum kedatangan Yesus Kristus. Ini adalah kisah yang luar biasa.

Ya, memang ada unsur manusiawi dalam kelangsungan hidup mereka, tetapi yang jauh lebih penting adalah bahwa mereka merupakan kisah luar biasa tentang perlindungan dan pemeliharaan Allah. Allah telah melindungi dan memelihara mereka secara providensial, yaitu dengan mengatur keadaan dan situasi untuk menjamin kelangsungan hidup mereka. Tapi dalam beberapa kesempatan, Dia juga melindungi mereka secara ajaib, dengan cara menangguhkan hukum alam dan jalannya sejarah demi perlindungan mereka—seperti saat Dia membelah laut sehingga mereka dapat berjalan di tanah kering ketika keluar dari Mesir. Jadi, baik melalui providensi Allah, di mana Dia mengatur peristiwa, maupun melalui kuasa mujizat Allah, di mana Dia menangguhkan hukum alam, Allah telah memastikan bahwa bangsa Yahudi tidak punah.

Nah, ini luar biasa. Pertama-tama karena mereka adalah kelompok yang kecil. Mereka ini adalah kelompok yang kecil. Tapi mereka adalah bangsa yang luar biasa dalam banyak hal. Dalam hal kemanusiaan, mereka termasuk yang paling mulia. Mereka adalah bangsa yang sangat istimewa. Tetapi mereka dipilih oleh Allah untuk tujuan-Nya sendiri. Mereka menjadi seperti sekarang bukan karena mereka pantas menerimanya. Mereka menjadi seperti sekarang bukan karena mereka berhasil mencapainya. Mereka menjadi seperti sekarang ini karena Allah yang telah menetapkannya demikian. Dan mereka telah dipilih oleh Allah untuk diberkati sebagai suatu bangsa dan untuk menjadi saluran berkat bagi dunia.

Karena mereka telah dipilih oleh Allah untuk tujuan-tujuan yang belum digenapi, maka mereka menjadi sasaran dari para musuh Allah. Mereka adalah sasaran Iblis, musuh utama Allah. Mereka adalah sasaran dari roh-roh jahat, para sekutu kegelapan yang menyebarkan kejahatan supranatural di dunia ini. Mereka juga menjadi sasaran dari manusia yang berada di bawah kuasa kerajaan kegelapan. Sepanjang sejarah, telah ada upaya-upaya yang berulang, baik oleh iblis maupun manusia, untuk melenyapkan bangsa Yahudi. Namun semua upaya itu gagal. Mereka memang menjadi sasaran khusus dari kuasa neraka dan dari manusia-manusia yang melayani kekuatan jahat tersebut, dengan tujuan menggagalkan rencana akhir Allah. Namun semua upaya itu tidak berhasil.

Tetapi ketika kita melihat kembali sejarah mereka, kita sadar bahwa mereka hanyalah sekelompok kecil orang yang tinggal di wilayah yang sangat rentan di Timur Tengah, dikelilingi oleh banyak kekuatan kafir yang sepanjang sejarah ingin memusnahkan mereka. Namun mereka tetap bertahan. Berkali-kali mereka nyaris punah. Kelaparan di zaman Yakub dan anak-anaknya hampir saja menghabisi mereka. Mereka bisa saja punah karena kelaparan itu, tetapi Allah tidak membiarkan itu terjadi.

Allah menempatkan salah satu anak Yakub, melalui pengkhianatan, di tengah-tengah Mesir dan memberinya kuasa untuk membagikan makanan — dan mereka tahu bahwa makanan itu tersedia. Oleh karena mimpi yang dimiliki oleh Yusuf, seperti yang kita ingat, Mesir bisa bersiap menghadapi kelaparan dan dapat menyediakan makanan bagi bangsa-bangsa lain yang bisa saja binasa tanpa bantuan mereka. Allah menempatkan Yusuf, menjadikannya penafsir mimpi, mempersiapkan Mesir untuk masa kelaparan, dan karena itu bisa menyelamatkan Yakub—yaitu Israel. Dan ketika saudara-saudara Yusuf datang ke Mesir untuk mencari makanan dari lumbung Mesir, bisa saja Yusuf, yang telah dikhianati dan dijual sebagai budak oleh mereka, marah dan penuh dendam lalu memutuskan untuk membunuh saudara-saudaranya. Tapi Allah tidak membiarkan hal itu terjadi.

Allah bekerja melalui belas kasihan dan pengampunan dalam hati Yusuf untuk menyelamatkan saudara-saudaranya dan dengan itu memperpanjang keturunan keluarga tersebut. Keluarga itu lalu tinggal di Mesir, dan dari satu keluarga kecil itu, yaitu Yakub dan keturunannya, mereka berkembang menjadi jutaan orang — sekitar dua juta orang — di tanah Gosyen. Butuh waktu empat ratus tahun bagi bangsa itu untuk terbentuk. Di akhir masa itu, tulah-tulah menimpa Mesir. Tulah-tulah itu membawa dampak yang sangat mematikan bagi orang Mesir. Dan tulah itu juga bisa menimpa anak-anak Israel, seandainya Allah tidak memastikan bahwa mereka dilindungi.

Pembunuhan anak sulung bisa saja menghancurkan bangsa Yahudi jika Allah tidak campur tangan dan menyediakan jalan agar anak sulung mereka dapat diselamatkan—yaitu dengan cara mengoleskan darah dari anak domba kurban di ambang pintu dan tiang pintu rumah mereka. Firaun bisa saja membantai bangsa Yahudi secara massal saat mereka melarikan diri, dan itulah yang dia coba lakukan sewaktu dia mengejar mereka. Tapi Allah membelah laut, membuka jalan bagi umat-Nya untuk lewat, lalu menenggelamkan seluruh pasukan Firaun ketika laut itu kembali menutup. Mereka juga bisa lenyap dari sejarah selama empat puluh tahun pengembaraan mereka di padang gurun. Mereka mengeluh, mereka memberontak, mereka berdosa besar terhadap Allah, dan satu generasi penuh meninggal—mayat-mayat mereka mengering di padang gurun.

Namun tetap ada sisa dari bangsa itu—sekelompok kecil umat yang setia—di bawah kepemimpinan Yosua, yang akhirnya masuk ke Tanah Perjanjian. Saat mereka memasuki Kanaan, mereka bisa saja dihancurkan lagi. Mereka hanyalah sekelompok kecil bangsa yang lemah, memasuki wilayah yang dihuni oleh musuh-musuh kafir yang kuat dan tidak mau kehilangan tanah dan harta milik mereka. Bangsa Israel bisa saja dimusnahkan oleh banyak bangsa yang menduduki negeri itu. Tetapi Allah memastikan hal itu tidak terjadi. Hal ini secara metaforis tergambar dalam kisah Daud dan Goliat: seorang gembala muda mengalahkan raksasa hanya dengan batu dan umban. Seperti itulah gambaran Israel—bagaikan seorang gembala kecil menghadapi raksasa raksasa di tanah Kanaan. Namun Allah memastikan mereka tetap selamat.

Ini bukan sekadar kisah tentang kelangsungan hidup manusia. Ini adalah kisah tentang pemeliharaan ilahi. Ketika mereka masuk ke tanah itu, menetap di sana, tersebar di seluruh wilayah dan dibagi menurut suku, kita tahu apa yang terjadi. Mereka terjerumus ke dalam penyembahan berhala. Mereka jatuh ke dalam kemurtadan. Mereka terlibat dalam penyembahan kepada ilah-ilah palsu. Lalu mereka terjerumus ke dalam kenajisan moral. Agama mereka menjadi dangkal dan munafik. Mereka mulai menyerap budaya kafir di sekeliling mereka, dan mereka bisa saja benar-benar punah dengan melebur ke dalam bangsa-bangsa lain. Tetapi Allah memastikan hal itu tidak terjadi. Mereka bisa saja hilang selamanya karena kawin campur dengan orang-orang kafir, dan identitas etnis mereka pun lenyap.

Dan ketika kerajaannya terpecah, sepuluh suku pergi ke utara dan membentuk apa yang kemudian dikenal sebagai Israel, sementara dua suku tetap di selatan, yaitu Yehuda dan Benyamin, yang kemudian dikenal sebagai Yehuda. Di tahun-tahun berikutnya, tidak ada satu pun raja yang baik di utara. Mereka begitu memberontak dan jahatnya sehingga Allah mendatangkan penghukuman atas mereka. Bangsa Asyur datang pada tahun 722 SM, menghancurkan kerajaan utara, dan menawan semua orang yang tidak mereka bunuh. Orang-orang itu tidak pernah kembali. Mereka lenyap dalam percampuran bangsa-bangsa dan benar-benar menghilang dari sejarah, yang kemudian hanya menyisakan dua suku di selatan—beserta orang-orang dari sepuluh suku lainnya yang sebelumnya telah bermigrasi ke selatan sebelum kerajaan utara dihancurkan. Jadi, ada orang dari setiap suku yang kini tinggal di selatan.

Tetapi kemudian bangsa Babel datang sekitar tahun 600 SM dan mereka menyerbu Yerusalem serta melakukan pembantaian terhadap penduduknya. Mereka yang tidak dibunuh dibawa ke Babel, di mana mereka diharapkan untuk menyatu dengan budaya Kasdim. Orang-orang seperti Daniel dan ketiga temannya diberikan nama-nama yang bukan nama asli mereka—nama-nama yang dikaitkan dengan dewa-dewa Kasdim/Babel—dan mereka kemudian dilatih dalam budaya tersebut.

Penawanan itu bisa saja menjadi akhir dari segalanya. Seluruh umat Allah yang berada di Babel bisa benar-benar terserap melalui pernikahan campur dan agama campuran, lalu hilang selamanya dari sejarah manusia. Tetapi itu tidak terjadi. Mereka tidak pernah benar-benar terserap ke dalam budaya Kasdim. Tujuh puluh tahun kemudian, sejumlah besar dari mereka kembali dan membangun kembali tanah mereka. Begitulah perjalanan sejarah mereka.

Lalu, seorang raja muncul di Persia. Namanya Xerxes—dalam bahasa Yunani; atau dengan nama lain yang mungkin lebih dikenal, Ahasyweros. Ia memerintah di Persia sekitar tahun 486 hingga 465 SM, dan bangsa Yahudi masih tetap ada di Persia saat itu. Namun, ada upaya genosida yang dipimpin oleh seorang bernama Haman, yang ingin memusnahkan seluruh bangsa Yahudi. Dan Anda tentu ingat kisahnya, karena kisah ini diceritakan dalam kitab Ester—bagaimana Allah memakai Ester di dalam kerajaan untuk momen seperti itu, demi menyelamatkan bangsa Yahudi dari genosida di tanah Persia. Dan Allah harus mengatur segala peristiwa secara providensial sehingga raja, yang mengadakan kontes kecantikan, memilih Ester sebagai pemenangnya.

Ia menjadi istrinya, dan kasih sayangnya terhadap sang raja menyelamatkan bangsanya. Setiap tahun ada sebuah perayaan yang diadakan oleh orang-orang Yahudi. Itu disebut “Festival Purim” (P-U-R-I-M). Ini adalah hari raya non-alkitabiah dan tidak dicatat dalam Alkitab. Perayaan ini seperti Hanukkah, salah satu hari raya Yahudi lainnya yang juga tidak tercatat dalam Alkitab. Purim adalah perayaan atas keberlangsungan hidup mereka. Hari itu adalah perayaan untuk Ester dan kelangsungan hidup bangsa Yahudi.

Lalu datanglah kekuasaan Yunani, dan Antiokhus Epifanes menyerang serta membantai orang-orang Yahudi. Setelah itu datanglah bangsa Romawi pada tahun 70 Masehi dan membantai ratusan ribu orang Yahudi, dan menurut berbagai catatan, menghancurkan kota Yerusalem, menghancurkan Bait Suci, lalu menyerbu sekitar seribu kota dan desa di tanah Israel pada tahun-tahun berikutnya, dan membantai banyak orang. Peristiwa itu terus berlangsung setelah tahun 70 M. Kisah keberlangsungan hidup mereka adalah kisah yang menakjubkan tentang perlindungan ilahi.

Dari tahun 250 Masehi, mari kita lompat ke tahun 1933, hanya untuk merangkum semuanya. Anda bisa memeriksa sejarah ini; semuanya didokumentasikan dengan sangat baik. Orang-orang Yahudi di berbagai tempat—dan kita berbicara terutama yang di Eropa, tetapi juga yang di sekitar Eropa, yang membentang hingga ke Timur Tengah dan Afrika—pada waktu dan tempat yang berbeda diserang, diusir dari kota-kota, diusir dari negara-negara, dipaksa untuk pindah keyakinan dengan ancaman hukuman mati, diperbudak, dijadikan buronan, dibantai, harta benda mereka disita, dipaksa mengenakan lambang identitas agar bisa diasingkan secara sosial, dan dijebloskan ke dalam inkuisisi yang mematikan. Dalam beberapa peristiwa, mereka dibakar hidup-hidup. Itu terjadi dari tahun 250 hingga 1933. Lalu, jika kita lanjutkan dari tahun 1938 hingga 1945, terjadilah Holocaust di bawah rezim Hitler, dan jutaan orang Yahudi dibantai.

Dan hari ini, mereka menjadi sasaran langsung dari seluruh kebencian yang terakumulasi dari dunia Islam yang ingin melenyapkan mereka, dan menghapus mereka dari muka bumi. Jadi ketika kita berbicara tentang kelangsungan hidup bangsa Yahudi, kita sedang membicarakan sesuatu yang benar-benar menakjubkan. Dan ini lebih dari sekadar kesaksian atas keinginan mereka untuk bertahan hidup. Ini adalah bukti pemeliharaan Allah. Hanya itu satu-satunya penjelasan yang masuk akal. Mereka ini adalah bangsa kecil. Mereka bukan bangsa yang kuat. Memang, di era modern ini mereka telah memperoleh persenjataan yang kuat, tetapi sepanjang sejarah mereka adalah bangsa kecil, tertekan, dan dalam banyak hal lemah, secara militer.

Ya, mereka memang memiliki kehendak yang kuat untuk hidup, tetapi itu bukan penjelasan utamanya. Penjelasannya adalah adanya tujuan Allah bagi mereka. Mengapa mereka bisa tetap bertahan sebagai bangsa hingga hari ini? Jawabannya adalah karena Allah belum menggenapi janji-Nya kepada Abraham, kepada Daud, dan kepada para nabi untuk memberkati Israel dengan keselamatan dan menjadikan Israel sebagai berkat bagi dunia. Itu tidak akan terjadi sampai mereka, sebagai suatu bangsa, menaruh kepercayaan mereka kepada Yesus Kristus. Dan itu akan terjadi di masa depan.

Kita telah membahasnya, Zakharia 12:10, “Mereka akan memandang kepada dia yang telah mereka tikam, dan akan meratapi dia seperti orang meratapi anak tunggal,” dan suatu mata air untuk penyucian akan dibukakan bagi mereka. Mereka akan diselamatkan, dan melalui mereka dunia akan diberkati ketika Tuhan mendirikan Kerajaan-Nya (Zakharia 12–14). Keselamatan Israel di masa depan adalah janji dalam Perjanjian Lama, sekaligus janji dalam Perjanjian Baru. Dalam Roma pasal 11, sebuah pasal yang sangat penting, rasul Paulus berbicara tentang hal ini secara langsung. Dia berkata, “Saudara-saudara, supaya kamu jangan menganggap dirimu pandai, aku mau agar kamu mengetahui rahasia ini: Sebagian dari Israel telah menjadi keras hatinya sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain masuk.”

Itulah gereja. “Sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain masuk," — dengan kata lain, ketika semua orang pilihan dalam gereja telah dikumpulkan dan jumlahnya lengkap — "maka seluruh Israel akan diselamatkan." Dan Paulus berkata, "Seperti ada tertulis —" lalu dia mengutip dari kitab Yesaya: "Dari Sion akan datang Penebus, Ia akan menyingkirkan segala kefasikan dari Yakub. Dan inilah perjanjian-Ku dengan mereka, apabila Aku menghapuskan dosa mereka." Perkataan ini berasal dari Yesaya 59. Jadi Paulus menyatakan bahwa akan datang waktunya ketika gereja telah lengkap, dan setelah itu akan datang keselamatan bagi Israel; itulah perjanjian Allah dengan mereka.

Mereka dipelihara untuk keselamatan di masa depan. Mereka perlu diselamatkan agar mereka dapat diberkati, karena itulah janji Allah dalam Kejadian 12 dan yang diulang berkali-kali kepada Abraham. Bukan hanya supaya mereka diselamatkan dan diberkati oleh keselamatan, tetapi juga agar melalui mereka dunia akan diberkati. Ketika mereka diselamatkan, Mesias akan datang, mendirikan Kerajaan-Nya, dan memerintah di Yerusalem atas Israel dan juga atas seluruh dunia. Israel akan menjadi bangsa yang paling berkuasa dan paling berpengaruh di dunia dan akan menjadi pengaruh bagi perdamaian dan kebenaran. Mereka tidak hanya akan diberkati, tetapi juga akan menjadi berkat bagi dunia. Itulah janji Allah. Dan janji itu tidak berubah. Dan itulah sebabnya mereka masih ada hingga hari ini.

Dan ada satu kenyataan penting lainnya yang perlu dipertimbangkan. Kita sedang membicarakan suatu bangsa yang, dalam dirinya sendiri, rentan dan lemah. Kita sedang membicarakan suatu bangsa yang terus-menerus diserang oleh neraka dan umat manusia. Tapi ada satu hal lagi yang tidak bisa diabaikan, dan itu sangat penting: bukan hanya mereka telah bertahan dari kebencian dari kuasa-kuasa neraka dan dari kebencian umat manusia, tetapi pada saat yang sama — dengarkan ini — mereka juga berada di bawah penghakiman ilahi.

Artinya, ada tiga tekanan besar yang menimpa mereka. Mereka berada di bawah penghakiman ilahi. Dan ini sudah dimulai sejak lama, sejak kitab Ulangan — sejak tulisan Musa ketika mereka berada di ambang memasuki tanah perjanjian. Tuhan berkata kepada mereka, “Jika kamu taat kepada-Ku, kamu akan diberkati.” Ingat itu? Ulangan pasal 27 dan 28? “Kalau kamu taat, Aku akan memberkati; kalau kamu tidak taat, Aku akan mengutuk.” Dan Tuhan merinci berkat-berkat itu serta kutuk-kutuknya. Dan kalau Anda membaca bagian itu kembali, itu adalah cerminan sejarah mereka. Mereka tidak taat kepada Tuhan; mereka terus-menerus melakukannya. Karena itu mereka menjadi bangsa yang berada di bawah kutuk. Mereka hidup di bawah penghakiman Allah.

Jadi Allah sedang memelihara bangsa yang sedang Dia hakimi. Itulah yang telah Dia lakukan sejak dahulu. Dia mulai menghakimi mereka sejak zaman Perjanjian Lama, dan Dia terus menghakimi mereka sepanjang sejarah manusia — sambil tetap memelihara mereka di bawah penghakiman itu. Penghakiman atas Israel masih berlangsung hari ini; penghakiman atas orang-orang Yahudi masih berlanjut hari ini karena mereka telah menolak Kristus. 1 Korintus 16:22 berkata, “Siapa yang tidak mengasihi Tuhan, terkutuklah ia.”

Mereka dikutuk karena ketidaktaatan mereka di masa lalu, tetapi mereka juga mendapat kutuk yang lebih besar karena telah menolak Yesus Kristus. Dan jika Anda melihat Israel hari ini, Anda sedang melihat sebuah bangsa yang belum mengalami berkat Allah. Mereka adalah bangsa yang murtad. Mereka adalah suatu etnis yang menolak Kristus. Agama mereka bukanlah agama yang saleh. Mereka mengaku menyembah Allah Abraham, Ishak, dan Yakub — tetapi mereka tidak melakukannya; mereka tidak bisa, karena seseorang tidak bisa menghormati Bapa tanpa menghormati Anak. Mereka tidak setia. Mereka tidak taat kepada Allah.

Mereka adalah musuh Injil, seperti yang dikatakan dalam Roma 11:28 — mereka adalah musuh Injil. Orang-orang Yahudi menolak Tritunggal. Mereka menolak keilahian Kristus. Mereka menolak ajaran sejati dari Perjanjian Lama dan mereka juga menolak seluruh isi Perjanjian Baru. Sikap mereka ini bukanlah formula untuk menerima berkat. Mereka menolak Mesias mereka. Mereka percaya bahwa orang Kristen menghujat karena menyembah seorang manusia yang, menurut pandangan mereka, adalah seorang penghujat. Mereka mengikuti kebohongan tentang keselamatan melalui perbuatan, usaha manusia, dan kebenaran diri sendiri. Oleh karena itu, saat ini mereka adalah bangsa yang terkutuk, yang berada di bawah penghakiman — tetapi pada saat yang sama, mereka tetap dipelihara oleh Allah.

Jika Anda menyarankan bahwa sebuah bangsa yang begitu lemah, begitu kecil, dan begitu kuno masih akan ada hingga hari ini, maka secara logika sejarah saja, itu terdengar seperti gagasan yang tidak masuk akal. Lalu jika Anda menambahkan fakta bahwa kekuatan yang besar—baik yang bersifat supranatural maupun alami—telah diarahkan untuk menghancurkan mereka, maka mustahil mereka ada. Dan jika Anda juga memasukkan fakta bahwa Allah selama ribuan tahun telah mencurahkan penghakiman atas mereka, Anda akan menganggap bahwa kelangsungan hidup mereka sepenuhnya mustahil. Tapi kenyataannya, mereka tetap ada—dan Allah telah memelihara mereka untuk menyelamatkan mereka pada akhirnya sebagai sebuah bangsa.

Dalam Lukas pasal 13, di bagian akhir pasal tersebut, Tuhan kita memandang ke arah Yerusalem—kota yang mewakili seluruh bangsa—dan Dia berkata, “Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu!” (ayat 34). Mereka sedang bersiap untuk membunuh Dia. “Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau. Sesungguhnya rumahmu ini akan ditinggalkan.” Rumah itu masih sunyi hingga sekarang. Bangsa Yahudi berada dalam keadaan sunyi, mereka tidak memiliki hubungan dengan Allah.

Memang ada orang-orang Yahudi percaya yang telah datang kepada Kristus dan menjadi bagian dari gereja—baik Yahudi maupun non-Yahudi. Tetapi yang dimaksud di sini adalah bangsa itu secara keseluruhan, umat sebagai satu kesatuan. Namun Yesus berkata dalam Lukas 13:35, “Aku berkata kepadamu: Kamu tidak akan melihat Aku lagi sampai pada saat kamu berkata: Terpujilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!” Akan tiba waktunya di masa depan ketika Israel akan memandang kepada Yesus Kristus dan berkata, “Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan.” Mereka akan mengakui Mesias mereka. Itulah yang dituliskan oleh nabi Zakharia, yaitu saat mereka akan memandang kepada Dia yang telah mereka tikam dan meratapi Dia seperti meratapi anak tunggal, dan sebuah mata air penyucian akan terbuka bagi mereka. Itulah keselamatan mereka di masa depan.

Para nabi Perjanjian Lama menulis tentang hal ini, dan mereka menuliskannya dengan sangat jelas, bukan dalam istilah yang samar. Saya ingin menunjukkan kepada Anda dua bagian dari Alkitab. Karena kita memiliki waktu pagi ini, kita akan melihatnya bersama. Bukalah kitab Yehezkiel pasal 36. Ada dua nabi besar lainnya yang menonjol, selain Yesaya—mereka adalah Yehezkiel dan Yeremia. Tentu saja, Anda juga bisa menambahkan Daniel ke dalam daftar nabi besar itu. Tapi Yehezkiel dan Yeremia adalah nabi-nabi yang hidup pada waktu yang hampir bersamaan. Mereka datang kira-kira 100 tahun setelah Yesaya, dan mereka bernubuat tepat pada masa ketika bangsa Babel menyerang. Yehezkiel ditawan dan dibawa ke pembuangan pada tahun 597 SM; sedangkan Yeremia dilemparkan ke dalam sumur dan akhirnya melarikan diri ke Mesir. Jadi mereka hidup pada masa kehancuran besar yang dibawa oleh invasi Babel. Nubuat-nubuat mereka, pesan-pesan mereka, sangat penting dan relevan, karena disampaikan langsung dari Tuhan pada masa krisis yang besar.

Yehezkiel 36, ada beberapa wawasan yang sangat penting di ayat 16. Inilah pesan yang datang kepada bangsa Israel, orang-orang Yahudi. Ayat 16, “Datanglah firman TUHAN kepadaku, – ” dan inilah sejarahnya – “Hai anak manusia – ” itu adalah gelar yang diberikan kepada Yehezkiel – “kaum Israel yang tinggal di tanah mereka telah menajiskan tanah itu dengan tingkah laku dan perbuatan mereka. Tingkah laku mereka sama seperti kenajisan haid di hadapan-Ku.” Sangat menjijikkan. “Aku menumpahkan amarah-Ku ke atas mereka karena darah yang mereka tumpahkan di tanah itu dan karena mereka menajiskannya dengan berhala-berhala mereka. Aku menyerakkan mereka di antara bangsa-bangsa, sehingga mereka tercerai-berai di berbagai negeri. Aku menghakimi mereka sesuai dengan tingkah laku dan perbuatan mereka.”

Dan itulah yang benar-benar terjadi. Dan itu disebut Diaspora, dan setiap orang Yahudi tahu tentang itu. Dan semuanya dimulai dengan pembuangan ke Babel. Beberapa memang kembali untuk membentuk kembali bangsa itu, tetapi itulah awal dari penyebaran mereka. Bahkan setelah pembangunan kembali dan pemulihan bangsa itu, orang-orang Yahudi telah tersebar ke ujung-ujung dunia seperti yang kita semua tahu. Dan itu adalah bagian dari penghakiman mereka. Namun, ayat 20, “Ke mana pun mereka pergi di antara bangsa-bangsa,” ketika mereka terserak ke seluruh dunia, “mereka menajiskan nama-Ku yang kudus.”

Bagaimana cara mereka melakukannya? “Ketika orang menyindir mereka: Katanya mereka umat TUHAN, tetapi mereka harus keluar dari tanah-Nya.” Apa artinya itu? Ini artinya: Ketika mereka tersebar ke seluruh dunia, mereka menajiskan nama-Ku yang kudus karena orang-orang berkata, “Tuhan macam apa yang dimiliki oleh bangsa ini yang bahkan tidak sanggup mempertahankan mereka di tanah mereka sendiri?” Dan mereka mencemooh Allah. Bangsa-bangsa lain mencemooh Allah. Allah orang Yahudi telah dicemooh oleh bangsa-bangsa tempat mereka tersebar di sepanjang sejarah manusia.

Dan karena itu, dalam ayat 21 Allah berkata, “Aku menaruh perhatian pada nama-Ku yang kudus, yang dinajiskan oleh kaum Israel di antara bangsa-bangsa, ke mana mereka pergi.” Orang-orang Yahudi di seluruh dunia, orang-orang Yahudi yang tertindas di mana-mana sepanjang sejarah mereka, sangat sulit meyakinkan bangsa-bangsa lain tentang kebesaran, kemuliaan, dan kuasa Allah mereka. Allah itu bahkan tidak bisa menjaga mereka tetap tinggal di tanah mereka sendiri. Dan jika hari ini Anda bertanya kepada seseorang di Timur Tengah, “Siapa yang memiliki Allah yang lebih berkuasa, Islam atau Yudaisme?” Menurut Anda apa jawaban mereka? Allah yang memiliki uang, senjata, kuasa, populasi, dan jumlah massa adalah Allah dari Islam – itulah Allah menurut pandangan mereka. Inilah gambaran penajisan nama Allah yang sejati melalui penyebaran orang-orang Yahudi sepanjang sejarah.

Ayat 22 adalah kata “Sebab itu.” “Sebab itu katakanlah kepada kaum Israel: ‘Beginilah firman Tuhan ALLAH: Bukan karena kamu Aku bertindak – ’ ” Ini bukan soal kalian – ‘tetapi karena nama-Ku yang kudus yang kamu najiskan di antara bangsa-bangsa ke mana kamu pergi.’” Aku harus melakukan sesuatu untuk memulihkan reputasi-Ku. Itu yang Allah katakan. “Aku akan – ” ayat 23 – “menguduskan nama-Ku yang besar yang sudah dinajiskan di antara bangsa-bangsa, dan yang kamu najiskan di tengah-tengah mereka. Maka bangsa-bangsa akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, demikianlah firman Tuhan ALLAH, ketika Aku menunjukkan kekudusan-Ku kepadamu di hadapan bangsa-bangsa.’”

Satu-satunya cara agar Aku dapat menyatakan kemuliaan-Ku di antara bangsa-bangsa adalah dengan menyatakannya melalui engkau. Bagaimana Aku akan melakukannya? Pertama, ayat 24: “Aku akan mengambil kamu dari antara bangsa-bangsa dan mengumpulkan kamu dari semua negeri serta akan membawa kamu kembali ke tanahmu.” Kita sudah melihat pratinjau dari hal itu, bukan? Tahun 1948, mereka kembali, membentuk kembali bangsa mereka. Itu adalah suatu fakta… fakta yang tak terbantahkan… mereka ada di sana. Tapi ini bukanlah keselamatan Israel, ini hanyalah pratinjau, dan pertanda dari apa yang akan datang. Aku akan membawa kamu kembali, dan kemudian hal itu akan terjadi. Ketika Aku membawa kamu kembali ke tanah itu… dan ini sedang terjadi di hadapan kita, bukan? Orang-orang Yahudi dari seluruh dunia, bermigrasi masuk, dan terus berdatangan. Sebagian dari mereka bahkan sudah datang kepada Kristus sebagai individu. Sebagian dari mereka kini menerima Injil, menerima Yesus sebagai Mesias mereka.

Tapi, bangsa itu sendiri tetap menolak Kristus sebagai suatu bangsa. Tetapi hari itu akan datang di masa depan, dan di sini Tuhan sedang berbicara tentang umat itu, bangsa itu, kaum Israel. Ayat 25 adalah kuncinya: “Aku akan mengambil kamu dari antara bangsa-bangsa dan mengumpulkan kamu dari semua negeri serta akan membawa kamu kembali ke tanahmu. Aku akan mencurahkan ke atasmu air jernih sehingga kamu menjadi tahir. Aku akan menahirkan kamu dari segala kenajisan dan berhalamu. Aku akan memberikan kepadamu hati yang baru dan roh yang baru dalam batinmu. Aku akan menyingkirkan dari tubuhmu hati yang membatu dan memberikan kepadamu hati yang lembut. Roh-Ku akan Kutaruh dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku serta melakukannya.”

Itulah pernyataan tentang keselamatan dan pernyataan itu sangat dramatis. Karena keprihatinan-Nya terhadap nama-Nya yang kudus, dan untuk membuktikan kesetiaan-Nya, dan menyatakan kemuliaan-Nya, Allah suatu hari nanti akan menyelamatkan orang-orang Yahudi. Ia sudah mulai memulihkan mereka kembali, dan di masa depan Ia akan menyelamatkan mereka. Sekarang perhatikan bagian-bagian dari hal ini. Ini adalah elemen-elemen keselamatan. Ayat 25: “Aku akan mencurahkan ke atasmu air jernih sehingga kamu menjadi tahir. Aku akan menahirkan kamu dari segala kenajisan dan berhalamu.” Itulah keselamatan—pembersihan, pembaharuan, dan pengudusan.

Dan kemudian Dia berkata dalam ayat 26, yang kedua dari dua ayat ini, “Aku akan memberikan kepadamu hati yang baru.” Itu adalah kelahiran kembali. Bisa dikatakan bahwa penyucian adalah pengudusan dan hati yang baru adalah kelahiran kembali. Hati yang baru berarti hidup yang baru. Dan Aku akan memberikan roh yang baru, watak yang baru, sikap yang baru, sifat yang baru…itulah pertobatan…pikiran yang baru, kasih sayang yang baru. Aku akan memberikan kuasa yang baru. Kuasa yang baru, apakah itu? Roh-Ku akan Kutaruh dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku serta melakukannya. Perilaku yang baru, ketaatan; kondisi yang baru, pengudusan, dibersihkan dari dosa; hati yang baru, kelahiran kembali; watak atau roh yang baru, pertobatan; kuasa yang baru, Roh Kudus yang diam di dalam; perilaku yang baru, yaitu ketaatan.

Semua itu akan datang kepada Israel di masa depan. Itulah keselamatan bagi bangsa itu. Saya sangat menyukai ini, ayat 28, “Kamu akan tinggal di negeri yang telah Kuberikan kepada nenek moyangmu. Kamu akan menjadi umat-Ku dan Aku menjadi Allahmu. Aku akan membebaskan kamu dari segala kenajisanmu.” Di ayat 31, dikatakan, “Kamu akan teringat pada tingkah lakumu yang jahat dan perbuatanmu yang tidak baik. Kamu akan merasa muak melihat dirimu sendiri karena kesalahanmu dan perbuatanmu yang menjijikakn.” Itu adalah inti dari pertobatan sejati, bukan? Mereka akan melihat kembali dosa dan pelanggaran mereka, dan mereka akan mendengar pemberitaan Injil. Dari siapa mereka akan mendengarnya? Dari 144.000 orang Yahudi, orang-orang bukan Yahudi yang bertobat dari segala bangsa, suku, bahasa, dan kaum selama masa Kesusahan Besar; malaikat-malaikat di surga, dan dua saksi.

Injil akan diberitakan di mana-mana selama masa terakhir dari penghakiman ilahi di bumi sebelum kedatangan Kristus. Mereka akan mendengar Injil; mereka akan melihat dosa mereka; mereka akan bertobat dari dosa mereka; mereka akan memandang kepada Dia yang telah mereka tikam; mereka akan meratapi-Nya seperti meratapi anak tunggal. Mereka akan dikuduskan, dilahirkan kembali, bertobat, dikuatkan oleh Roh, dan diubahkan menjadi pengikut Kristus yang taat. Inilah hal yang sejati. Ayat 32, “Bukan karena kamu Aku bertindak, tetapi demi nama-Ku sendiri. Pada hari itu – ” ayat 33 – “Aku menahirkan kamu dari segala kesalahanmu.” Inilah keselamatan. Ini adalah janji Allah bagi Israel. Pertobatan sejati untuk kemuliaan Allah.

Sekarang saya ingin Anda melihat Yeremia 31, Yeremia 31. Dan saya hanya ingin membahas ini secara singkat karena waktu kita hampir habis. Yeremia 31:31, ini adalah puncak dari nubuat Yeremia. “Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah firman TUHAN, Aku akan mengikat perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda, bukan seperti perjanjian yang telah Kuikat dengan nenek moyang mereka pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir. Perjanjian-Ku itu telah mereka ingkari, meskipun Aku menjadi tuan atas mereka, demikianlah firman TUHAN.” Perjanjian yang manakah itu? Itu adalah perjanjian Hukum Taurat, perjanjian Musa yang diberikan di Gunung Sinai, dan mereka melanggarnya, bahkan sebelum Musa turun dan membacakannya kepada mereka. Ketika dia turun sambil membawa loh-loh batu itu di tangannya, mereka sudah melanggarnya. Mereka tidak bisa menaati perjanjian itu. Itu adalah perjanjian yang tak seorang pun sanggup untuk menaatinya. Maka Aku akan memberikan perjanjian baru kepadamu. Aku akan membuat perjanjian yang baru, yang tidak seperti itu.

Apa sifat dari perjanjian yang baru itu? Ayat 33, “Tetapi, beginilah perjanjian yang Kuikat dengan kaum Israel sesudah waktu itu,” pada akhir sejarah. Inilah perbedaannya. Hukum itu dahulu berada di luar, tetapi yang ini berbeda, “Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya pada hati mereka. Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku” — sama seperti yang dikatakan oleh Yehezkiel — “Tidak perlu lagi orang mengajar sesamanya atau saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN!” penginjilan akan berhenti di Israel karena mereka semua akan mengenal TUHAN. “Sebab, mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikianlah firman TUHAN; karena Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak mengingat lagi dosa-dosa mereka.”

Itulah pertobatan bangsa ini. Unsur-unsurnya tetap sama. Di sini ada pengampunan, kelahiran baru, pertobatan, pengenalan yang sejati, dan ketaatan. Mereka akan menyadari bahwa mereka adalah orang-orang berdosa yang celaka, dan mereka akan percaya bahwa Tuhan Yesus adalah satu-satunya Juruselamat. Mereka akan percaya secara kolektif sebagai suatu bangsa. Hal itu sendiri, Saudara, adalah kesaksian tentang kedaulatan Allah dalam keselamatan. Satu-satunya cara orang diselamatkan secara pribadi adalah melalui pekerjaan Allah yang berdaulat. Satu-satunya cara suatu bangsa diselamatkan—karena hanya ada satu bangsa yang dijanjikan keselamatan dalam satu momen—adalah melalui tindakan Allah yang berdaulat, karena tidak semua orang Yahudi secara individu akan sampai pada kesimpulan yang sama oleh kehendak bebas mereka sendiri dalam satu waktu. Allahlah yang menyelamatkan mereka.

Dan yang luar biasa, Perjanjian yang Baru ini dibuat dengan Israel, tetapi Israel menolak Mesias mereka. Dan setelah kematian dan kebangkitan Kristus, Perjanjian Baru dibuka untuk merangkul semua orang, semua orang. Tidak malu akan Injil, karena itu adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan, pertama-tama bagi orang Yahudi secara kronologis, tetapi juga bagi orang bukan Yahudi. Atau dalam Roma 10, keselamatan adalah bagi orang Yahudi maupun bukan Yahudi. Barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan. Maka Perjanjian Baru telah disahkan dalam kematian Yesus Kristus dan diperluas melampaui Israel kepada gereja. Tidak ada gereja ketika perjanjian itu dijanjikan kepada mereka. Tetapi sekarang, gereja telah hadir, kita diselamatkan dengan cara yang sama, melalui perjanjian baru yang sama. Itulah sebabnya Paulus dalam 2 Korintus 3:6 berkata, “Kami menjadi pelayan-pelayan dari suatu perjanjian baru.” Dan Paulus sedang berbicara kepada orang-orang bukan Yahudi ketika ia mengatakan hal itu di surat kepada jemaat Korintus.

Dan setelah jumlah yang genap dari bangsa-bangsa bukan Yahudi masuk melalui Perjanjian Baru, maka datanglah keselamatan bagi Israel. Ayat 31 berbicara tentang pendamaian. Ayat 31 berkata, “Aku akan mengadakan perjanjian baru.” Ayat 33 berbicara tentang kelahiran kembali, “Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya pada hati mereka. Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku” – itulah persekutuan. Ayat ini berbicara tentang pengetahuan. Mereka akan memiliki pengetahuan yang benar, mereka akan mengenal Tuhan. Ayat ini berbicara tentang pengampunan. Semua ini adalah komponen dari keselamatan.

Baiklah, Anda sudah mendapat gambaran besarnya. Sekarang mari kita mulai mendarat. Kembali ke Yesaya 53. Ketika mereka (bangsa Israel) sampai pada titik ini di masa depan, mereka akan membuat pengakuan yang terdapat dalam Yesaya 53; pasal ini akan menjadi kata-kata mereka. Mari kita lihat teksnya, ayat 4 sampai 6. Mereka akan melihat kembali kepada Kristus yang telah mereka tikam. Mereka akan mengevaluasi kembali sikap mereka. Mereka tidak percaya. Ayat 1 berkata, “Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar?” Sedikit. “Dan kepada siapa tangan kekuasaan Tuhan dinyatakan?” Sangat sedikit yang memahaminya. Kami tidak terkesan dengan asal-usul-Nya. Dia seperti taruk yang tumbuh dari tanah kering. Kami tidak terkesan dengan hidup-Nya; Dia tidak tampak elok atau megah. Tidak ada sesuatu pun yang menarik perhatian kami. Kami jelas tidak terkesan dengan kematian-Nya. Dia dihina dan ditolak orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan biasa menderita kesakitan. Dia begitu hina dalam kematian-Nya, sehingga kami bahkan tidak mau memandang-Nya. Dia dihina dan kami menganggap-Nya tidak berharga. Dia bukan siapa-siapa. Itulah yang kami pikirkan.

"Tapi sekarang, semuanya telah berubah. Sekarang kami tahu bahwa semua kesedihan itu, semua penderitaan itu adalah milik kami. Sesungguhnya, penderitaan kamilah yang ditanggung-Nya, dan kesengsaraan kami yang dipikul-Nya. Kami dulu menganggap Dia kena tulah, dipukul dan ditimpa Allah. Kami pikir Allah sedang menghukum Dia karena penghujatan-Nya. Tapi sekarang kami tahu bahwa Dia tertikam oleh karena pelanggaran kami, diremukkan oleh karena kejahatan kami; hajaran yang mendatangkan keselamatan bagi kami ditimpakan kepada-Nya, dan oleh bilur-bilur-Nya kami disembuhkan." Itulah perubahan total dalam penilaian mereka terhadap Kristus. Mereka mengakui kesalahan besar mereka pada hari itu di masa depan. Mereka akan mengakuinya. Mereka tahu sejarah Yesus. Mereka tahu bahwa Dia ditikam, bahwa Dia diremukkan. Mereka tahu bahwa Dia dihukum setelah pengadilan palsu. Mereka tahu bahwa Dia disesah. Itu adalah bagian dari sejarah mereka; setiap orang Yahudi mengetahuinya.

Tetapi suatu hari nanti mereka akan mengakui bahwa semua itu bukan karena penghujatan-Nya, melainkan karena penghujatan mereka sendiri. Mereka akan berkata, “Kami mengerti pelanggaran-pelanggaran kami. Kami mengerti kejahatan-kejahatan kami.” Pelanggaran kami dan kejahatan kami—itu adalah hal-hal yang negatif. Mereka akan mengakui bahwa Yesus dihukum oleh Allah oleh karena pelanggaran mereka. Pelanggaran berarti melangkahi batas, melanggar Hukum Allah. Kesalahan adalah kata yang berbeda. Secara esensial, itu berarti membengkokkan secara ganda, terpuntir seperti kue pretzel, sesuatu yang bengkok. Kesalahan menunjuk pada penyimpangan. Mereka sekarang sadar bahwa Dia menderita karena pelanggaran-pelanggaran dan penyimpangan-penyimpangan mereka. Itulah sisi negatifnya.

Sisi positifnya adalah Dia menderita untuk membawa damai sejahtera bagi kita. Lihat di bagian tengah ayat itu, “damai sejahtera kita.” Hajaran yang mendatangkan damai sejahtera bagi kita ditimpakan kepadanya. “Dan karena bilur-bilur-Nya kita disembuhkan.” Inilah sisi positifnya. Dia mati di bawah beratnya hukuman Allah atas pelanggaran dan kejahatan kita, atas pelanggaran dan penyimpangan kita. Dan dengan melakukan itu, Dia membeli bagi kita damai sejahtera dan kesembuhan. Damai sejahtera dalam bahasa Ibrani adalah Shalom — damai sejahtera, berkat penuh, dan kesembuhan, keutuhan rohani, kesehatan rohani. Kematian Sang Tabib menjadikan pasiennya sembuh. Kita berdosa, dan karena itu sakit — berduka, penuh kesedihan, bersalah… bersalah karena pelanggaran, bersalah karena penyimpangan, terpisah dari Allah, tanpa damai, tanpa kesehatan rohani.

Tetapi Dia menanggung dosa-dosa kita dan dukacita serta kesedihan kita, dan segala sesuatu yang menyertai dosa, dan Dia menempatkan diri-Nya sendiri — secara sukarela — di bawah penghakiman Allah untuk dihukum karena dosa-dosa kita, dan kemudian membeli damai sejahtera kita dengan Allah serta kebahagiaan sejati kita. Demikianlah seluruh bangsa Israel — setidaknya sepertiga dari mereka, setelah dua pertiga pemberontak disingkirkan, menurut kitab Zakharia — sepertiga dari bangsa itu akan mengakui penolakan mereka yang panjang terhadap Kristus, penghujatan mereka yang panjang terhadap Allah, dan mereka akan diselamatkan. Inilah kenyataan yang mengejutkan tentang masa depan bagi bangsa Israel.

Ada satu hal lagi yang ingin saya lakukan pagi ini, yaitu membantu Anda melihat ayat 6 dari sudut pandang yang lain. Dalam ayat 6, kita menemukan pengakuan dosa yang paling dalam. Mereka berbicara tentang sikap mereka; dan mereka akan mengakuinya ketika mereka berkata, “Kami memiliki penilaian yang salah tentang Dia, kami menganggap-Nya, atau meragukan Dia, atau mengira tentang Dia.” Dengan kata lain, cara berpikir kami telah rusak. Kami salah dalam apa yang kami pikirkan tentang Dia. Mereka berbicara tentang perilaku — itulah pelanggaran dan kejahatan. Dan mereka juga berbicara tentang kekurangan. Orang-orang berdosa menyadari hal ini. Mereka kekurangan damai sejahtera; mereka kekurangan Shalom; mereka kekurangan damai sejahtera dengan Allah. Mereka tidak memiliki, seperti yang dikatakan dalam Yesaya 54, perjanjian damai yang tidak terguncangkan. Dan mereka juga kekurangan keutuhan — kesehatan rohani. Mereka sakit. Pasal 1 mengatakan, “Sakit dari kepala sampai kaki, sakit karena dosa.”

Jadi mereka memahami persoalan-persoalan itu—pemikiran yang rusak, perilaku yang rusak, dan ketiadaan segala sesuatu yang baik. Mereka mengetahuinya. Tetapi ada sesuatu yang lain yang juga harus disadari oleh seorang pendosa. Dan itu bukan hanya soal bagaimana kita berpikir, soal sikap kita; bukan hanya soal apa yang kita lakukan; bukan hanya soal apa yang kurang dari kita, karena pengakuan dosa adalah sampai pada akar persoalannya. Pengakuan dosa menyangkut siapa kita sebenarnya. Masalahnya ada dalam sifat alami kita, dan itulah inti dari ayat 6. Masalahnya ada pada sifat alami kita. Masalah ini lebih dalam daripada yang umumnya disadari orang saat membaca bagian ini. Bagian pengakuan ini tidak berfokus pada perwujudan dosa, tetapi pada penyebabnya. Inilah masalahnya: kita semua sesat seperti domba, masing-masing mengambil jalannya sendiri. Dan dia mengatakan, ini adalah persoalan sifat alami kita.

Domba bertindak seperti layaknya domba. Domba tidak bertindak seperti apa pun selain domba. Kita bertindak sesuai dengan sifat alami kita. Dan, memang, mereka akan menemukan kesamaan dengan domba. Domba itu bodoh, tidak berdaya, pengembara yang tidak bisa melindungi diri. Mereka tidak membentuk kawanan seperti angsa, dan mereka tidak bergerak dalam kelompok seperti sapi. Mereka tidak tinggal bersama. Jadi domba adalah analogi yang tepat. Di dalam diri mereka sudah tertanam kecenderungan untuk menyimpang jauh dari keamanan, perlindungan, dan penyediaan, dan mereka menyimpang bukan secara berkelompok, tetapi masing-masing menyimpang dengan caranya sendiri. Mereka mengikuti dorongan batin yang membawa mereka menjauh dari segala yang aman, terjamin, dan bermanfaat. Masalah kita ada di dalam sifat alami kita. Kita seperti domba—tak berdaya, bodoh, dan pengembara yang tak punya arah.

Ingat dalam Matius 9:36, Yesus memandang orang banyak dan berkata, “Mereka seperti domba yang tidak mempunyai – ” apa? – “gembala.” Mereka hanya mengikuti jalan mereka sendiri, mengikuti jalur dosa yang ditentukan oleh sifat alami mereka sendiri. Mereka mengikuti intuisi dari kejatuhan mereka yang celaka. Itulah yang dilakukan oleh orang berdosa. Itulah yang dilakukan oleh orang berdosa. Maksud saya, berapa banyak pilihan yang dimiliki orang berdosa saat ini? Berapa banyak yang Anda miliki? Tidak terhitung banyaknya. Anda bisa mengikuti jalan Anda sendiri. Dan tanpa Yesus Kristus, Anda akan melakukannya; Anda akan mengikuti jalur dosa yang Anda pilih. Anda akan pergi dengan cara Anda sendiri seperti yang dilakukan seekor domba. Oh, mungkin akan ada orang lain yang juga memilih jalan yang sama, jadi Anda akan bertemu mereka di jalan. Tapi semuanya sangat pribadi, dan sangat mandiri. Begitulah cara domba berfungsi.

Dan inilah bagian dari pengakuan dosa yang sejati, Saudara. Inilah pertobatan yang sejati, yang mengakui bahwa bukti-bukti dari dosa menunjukkan adanya sifat dosa. Mengumpulkan semua rasa bersalah itu dan semua hukuman yang adil itu, dan, seolah-olah, mati bukan hanya karena apa yang telah kita lakukan, tetapi juga karena siapa kita sebenarnya. Yesus menanggung sepenuhnya beratnya keberdosaan kita atas diri-Nya, dalam arti bahwa Ia menerima hukuman dari Allah. Itulah yang dikatakan ayat tersebut di bagian akhir: “TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.” Perbuatan jahat kita, pikiran jahat kita, kekurangan dan kehampaan kita, dan juga sifat jahat kita—untuk semua itu, untuk semuanya, Hamba Yahweh yang menanggung penuh beban hukuman.

Itulah yang dikatakan. TUHAN telah menimpakan kejahatan kita semua kepada-Nya. TUHAN Allah sendiri yang memilih Anak Domba kurban itu, Sang Hamba, Sang Mesias, sebagai Anak Domba yang akan dikorbankan. Sang Hamba Mesias dengan sukarela bersedia menyerahkan diri-Nya menjadi pengganti yang menanggung hukuman bagi kita. Allah membuat-Nya memikul seluruh kesalahan yang seharusnya ditanggung oleh kita dan menerima murka ilahi sepenuhnya. Lima kali dalam ayat-ayat itu dikatakan dengan cara yang berbeda bahwa Yesus Kristus memberikan diri-Nya sebagai korban pengganti yang menanggung hukuman bagi kita. Inilah inti dari Injil.

Sekadar catatan tambahan: Bukan dosa yang membunuh-Nya; Allah-lah yang membunuh-Nya. Bukan dosa. Dia tidak memiliki dosa. Dia tak berdosa, kudus, tidak bercela, terpisah dari dosa. Dosa tidak membunuh Yesus. Allah yang membunuh Yesus untuk membayar dosa yang tidak pernah Dia lakukan, tetapi yang Anda dan saya lakukan. Yesus tidak mati sebagai pengaruh moral, yang menunjukkan kekuatan kasih. Yesus tidak mati sebagai teladan pengorbanan untuk suatu tujuan mulia. Yesus tidak mati semata-mata sebagai Christus Victor (Kristus Pemenang). Itu adalah sebuah teori yang muncul pada tahun 1930-an dan masih ada hingga sekarang. Gagasan itu menyatakan bahwa Yesus mati untuk memperoleh kemenangan atas kuasa-kuasa jahat dan membebaskan umat manusia dan kosmos dari ketidakadilan sosial. Yesus bukan mati karena kita adalah korban yang terjebak dalam keadaan tidak adil dan perlu diselamatkan.

Hanya ada satu cara untuk memahami kematian Kristus, yaitu berdasarkan prinsip substitusi hukuman. Dia adalah pengganti kita untuk menanggung hukuman atas dosa-dosa kita, untuk memuaskan keadilan Allah. Perjanjian Baru menegaskan hal ini, bukan? 2 Korintus 5:21, “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.” Petrus mengatakannya begini, “Dia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya.” Dan Paulus berkata dalam Galatia 3, “Dia telah menjadi kutuk karena kita.” Itulah penegasan Perjanjian Baru atas kebenaran dari Yesaya 53. Allah tidak memperlakukan kita setimpal dengan kejahatan kita, Dia tidak memperlakukan kita setimpal dengan pelanggaran kita. Tetapi Dia juga tidak mengabaikan dosa kita, melainkan menghukum Anak-Nya, Sang Hamba, Sang Mesias, sebagai pengganti kita—dan kasih karunia pun berkuasa atas keadilan.

Inilah pengakuan yang akan dibuat oleh Israel di masa depan. Tetapi ini juga adalah pengakuan yang bisa dibuat oleh siapa saja yang berdosa sekarang—dan Anda bisa melakukannya hari ini. Ingat 2 Korintus 6:2, “Waktu ini adalah waktu perkenanan itu. Hari ini adalah hari penyelamatan itu,” kata-kata yang dikutip dari Yesaya lagi. Hari ini adalah harinya. Sekaranglah waktunya keselamatan. Paulus berkata dalam Roma, mengutip lagi dari Yesaya, Roma 10:11, “Siapa saja yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan.” Tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan bukan Yahudi. Tuhan yang sama adalah Tuhan dari semua orang, kaya dalam kemurahan bagi semua orang yang berseru kepada-Nya, sebab “Siapa saja yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.” Itu berarti sekarang. Inilah waktu yang berkenan. Itu berarti Allah akan menerima Anda sekarang juga. Inilah hari keselamatan itu.

Bapa, kami kembali menyelami kekayaan dari pasal yang luar biasa ini. Dan meskipun kami hanya sedikit menyentuh satu ayat saja, tepatnya ayat 6, tapi kami terhanyut oleh kenyataan besar yang menjadi inti dari bagian besar Alkitab ini. Dan ini bukanlah latihan untuk belajar. Ini bukan soal informasi; ini soal keselamatan.

Saya berdoa bagi setiap orang di sini, yang sekarang sungguh-sungguh memahami Injil, memahami pengorbanan Kristus, baik orang Yahudi maupun bukan Yahudi. Saya berdoa agar hari ini menjadi hari keselamatan bagi mereka. Kiranya waktu yang berkenan ini menjadi waktu mereka, bahkan… bahkan pagi ini juga, agar mereka berpaling kepada Kristus, berseru kepada nama-Mu untuk keselamatan. Selamatkanlah orang-orang berdosa sekarang juga, Tuhan, demi kemuliaan nama-Mu, demi kemuliaan nama-Mu. Bapa, lakukanlah pekerjaan-Mu di dalam hati mereka, kami berdoa sekarang juga, dalam nama Kristus.

SELESAI

This sermon series includes the following messages:

Please contact the publisher to obtain copies of this resource.

Publisher Information
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969

Welcome!

Enter your email address and we will send you instructions on how to reset your password.

Back to Log In

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize
View Wishlist

Cart

Cart is empty.

Subject to Import Tax

Please be aware that these items are sent out from our office in the UK. Since the UK is now no longer a member of the EU, you may be charged an import tax on this item by the customs authorities in your country of residence, which is beyond our control.

Because we don’t want you to incur expenditure for which you are not prepared, could you please confirm whether you are willing to pay this charge, if necessary?

ECFA Accredited
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Back to Cart

Checkout as:

Not ? Log out

Log in to speed up the checkout process.

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize