Silakan buka Alkitab Anda di Yesaya pasal 53. Bagi Anda yang bersama kami akhir pekan ini karena acara wisuda khusus atau mungkin Hari Ibu, saya mohon maaf karena Anda akan langsung masuk di tengah-tengah perjalanan ini. Dalam banyak hal, ini adalah rangkaian khotbah yang saling terhubung dengan sangat erat, dan Anda akan melewatkan banyak bagian awalnya, tetapi kami berharap ini tetap akan menjadi penyemangat bagi Anda.
Saya selalu merasa perlu melakukan sedikit pengantar agar Anda dapat mengikuti dengan baik. Kita telah memasuki studi Perjanjian Lama, setelah menghabiskan lebih dari 40 tahun mempelajari Perjanjian Baru di Gereja Grace ini. Kita sangat tertantang dalam studi ini dan, saya percaya, akan sangat diberkati. Kita akan mencari Kristus dalam Perjanjian Lama di mana pun kita bisa menemukan-Nya, dan kita memulainya di tempat dimana Dia dinyatakan dengan sangat luar biasa dan paling lengkap, yaitu di pasal 53 dari kitab Yesaya.
Sebenarnya, pewahyuan tentang Tuhan kita ini dimulai dari pasal 52 ayat 13 dan berlanjut sampai pasal 53 ayat 12. Ada lima bait dalam nyanyian tentang Hamba ini – kita bisa menyebutnya demikian. Pasal ini adalah sebuah nyanyian. Pasal ini memiliki lirik tertentu, memiliki irama tertentu ketika dibacakan dalam bahasa Ibrani aslinya. Pasal ini adalah nyanyian tentang Hamba. Dan ini adalah nyanyian Hamba yang keempat yang ditulis oleh Yesaya. Dalam paruh kedua nubuat Yesaya ini, dari pasal 40 hingga akhir di pasal 66, dia berfokus pada keselamatan. Dan keselamatan itu bergantung pada Sang Juruselamat, sehingga dalam bagian ini Yesaya memperkenalkan kita kepada Sang Juruselamat.
Ada bagian lain dalam nubuatnya di mana ia merujuk pada Sang Juruselamat. Kembali di pasal 7, dia menyebut tentang kelahiran dari seorang perawan. Di pasal 9, dia mengidentifikasi Sang Juruselamat dengan berbagai cara yang luar biasa. Allah yang perkasa, Raja Damai, Bapa yang kekal, Anak yang telah lahir bagi kita, yang di atas bahu-Nya pemerintahan yang kekal akan diletakkan. Jadi banyak hal yang dia katakan tentang Mesias. Namun secara khusus dalam paruh kedua dari nubuat agungnya ini, terdapat empat nyanyian Hamba. Satu di pasal 42, satu di pasal 49, satu lagi di pasal 50, dan kemudian penggambaran epik tentang Mesias di pasal 53. Dan dalam masing-masing dari keempat pasal ini, Yesaya memberitahukan kepada kita hal-hal tentang Mesias.
Ingatlah, semua ini ditulis 700 tahun sebelum Mesias datang. Tujuh ratus tahun sebelum Yesus, Yesaya sudah memberikan nubuat ini kepada kita. Nubuat-nubuat ini bukan nubuat yang samar-samar tentang Dia; nubuat-nubuat ini sangat spesifik, terutama dalam pasal 53. Dalam pasal 42, Mesias diperkenalkan dengan gelar “Hamba Yahweh, Hamba TUHAN, atau Budak TUHAN.” Ebed adalah kata dalam bahasa Ibrani yang berarti “budak.”
Sang Hamba ini, Sang Mesias ini, Pribadi yang akan datang ini, menurut pasal 42, akan dipilih oleh Allah. Dia akan diperlengkapi oleh Roh Kudus. Dia akan membawa keadilan, atau kebenaran, ke dunia. Dia akan membawa keselamatan bagi dunia. Dia akan membebaskan para tawanan yang buta dari penjara gelap dosa mereka. Itulah cara Dia digambarkan dalam pasal 42.
Dalam pasal 49 kita belajar sedikit lebih banyak. Dia akan menjadi manusia; Dia a akan menjadi seorang laki-laki dewasa. Bahkan ada rujukan di sana tentang kelahiran-Nya dari seorang perawan. Dia akan sekali lagi menyelamatkan Israel dan membawa keselamatan kepada bangsa-bangsa di dunia, dan akhirnya dimuliakan. Pasal 50 memberitahu kita sedikit lebih banyak lagi. Dia akan dihina; pasal 50 memperkenalkan unsur itu. Dia akan mengalami penghinaan yang melaluinya Dia akan belajar ketaatan dan, pada akhirnya, Dia dibenarkan. Namun ketika kita sampai pada pasal 53, rincian yang diberikan jauh lebih lengkap dan lebih menakjubkan daripada nubuat-nubuat sebelumnya.
Nah, saat kita memasuki pasal 52 ayat 13 hingga pasal 53 ayat 12, kita mulai berfokus pada Mesias yang akan datang dengan tingkat ketepatan yang hanya bisa diketahui oleh Allah, 700 tahun sebelum kenyataannya terjadi. Kita melihat di sini bahwa kita bukan hanya memiliki seorang Mesias yang dipilih, yang diberi kuasa oleh Roh Allah, yang membawa keadilan dan keselamatan bagi dunia, seorang manusia yang lahir dari seorang perawan, seorang manusia yang belajar taat melalui kehinaan dan penderitaan seperti yang dinyatakan dalam pasal 50, tetapi kita juga memiliki seorang Mesias yang mati sebagai korban penghapus dosa. Itulah yang secara unik kita temukan dalam pasal 53. Dalam pasal ini, bangsa Yahudi diberitahu 700 tahun sebelum Mesias datang, bahwa Dia akan menjadi Anak Domba kurban Allah.
Pernyataan penting muncul dalam ayat 7. Dia ditindas dan Dia dianiaya, namun Dia tidak membuka mulut-Nya. Seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian dan seperti domba yang diam di depan para pencukur bulunya, demikianlah Dia tidak membuka mulut-Nya. Dia adalah anak domba yang dibawa ke pembantaian. Di sini, dengan ungkapan yang jelas, tanpa keraguan, dan bukan simbol, melainkan pernyataan langsung, kita diberitahu bahwa Mesias akan disembelih seperti seekor anak domba dan dalam penyembelihan itu Dia akan diam sebagaimana seekor domba yang diam.
Gambaran ini tidak bisa dihindari bagi orang-orang Yahudi yang mendengar nubuat ini atau membacanya. Mereka hidup pada zaman kuno dalam masyarakat agraris, suatu masyarakat yang terdiri dari ladang-ladang tanaman dan biji-bijian di dataran rendah, juga kebun anggur di lereng-lereng bukit. Dan mereka sangat akrab dengan peternakan, terutama dengan domba. Domba adalah bagian pokok dalam kehidupan mereka. Demi mendapatkan wol, domba sangat penting, dan demi makanan, mereka juga sangat penting. Domba tidak hanya dicukur bulunya, tetapi juga dimakan. Mereka dicukur dan mereka disembelih. Itu adalah bagian kehidupan yang sangat akrab pada zaman kuno di tanah Israel. Mereka membunuh domba untuk dimakan. Mereka menggunduli domba untuk membuat pakaian.
Di sini, mereka diperkenalkan kepada Mesias mereka sebagai anak domba yang akan disembelih. Bagian tentang penyembelihan adalah kenyataan; sedangkan anak domba adalah analogi. Dalam ayat 7 ini, kita diberitahu bahwa Mesias akan ditindas, dianiaya, diam, dan disembelih. Dan Dia akan tetap tenang dan diam ketika Dia disembelih, seperti seekor domba yang diam saat disembelih dan juga diam saat dicukur bulunya. Dua kali dalam ayat 7 dikatakan bahwa Dia tidak membuka mulut-Nya.
Tapi ingat, meskipun pasal ini mengarah ke depan pada kematian Kristus, pasal ini juga melihat ke belakang dari pertobatan Israel di akhir sejarah manusia, dan itulah mengapa kata kerjanya ditulis dalam bentuk lampau. Dia ditindas. Dia dianiaya. Dia tidak membuka mulut-Nya. Ini adalah sudut pandang masa lalu karena semua yang dikatakan di sini tentang kematian Yesus Kristus bukan dilihat dari sudut pandang masa depan oleh Yesaya, melainkan dilihat dari masa depan ketika Israel bertobat dan memandang kepada Dia yang telah mereka tikam, seperti yang dikatakan dalam Zakharia 12, dan mereka akan meratapi Dia seperti meratapi anak tunggal.
Ini adalah sudut pandang dari bangsa Israel yang akan ditebus di masa depan, yang belum terjadi dalam sejarah manusia, ketika mereka melihat ke belakang dan menyadari bahwa Dia ditindas dan dianiaya, dan Dia dibawa seperti anak domba ke pembantaian, tapi Dia diam, dan Dia melakukan semua itu demi pelanggaran mereka, seperti yang dikatakan dalam ayat 8. Jadi, Anda memiliki sudut pandang yang sangat luar biasa dalam pasal ini. Meskipun ini adalah nubuat tentang salib, itu hanyalah makna yang kedua. Yang terutama, pasal ini adalah nubuat tentang pertobatan Israel di masa depan, dan inilah yang akan mereka ucapkan ketika mereka membuat pengakuan yang tulus dan bertobat dari penolakan mereka terhadap Yesus Kristus serta menyatakan iman mereka kepada-Nya sebagai Juruselamat dan Penebus mereka.
Inilah yang akan mereka ucapkan. Kata-kata dalam Yesaya 53 ini adalah pengakuan mereka. Jadi ini adalah nubuat yang menakjubkan yang melampaui salib dan kemudian kembali kepada salib, menggambarkan bukan hanya pengakuan Israel di masa depan, keselamatan Israel di masa depan, dan kata-kata yang akan mereka ucapkan, tetapi juga memberikan kepada kita rincian tentang salib yang akan mereka akui dan yang bagi kita yang percaya sudah kita akui. Apa yang suatu hari nanti akan ditegaskan oleh bangsa Israel sebagai pandangan yang benar tentang Kristus, kita yang percaya pada zaman ini, baik orang Yahudi maupun non-Yahudi, telah lebih dahulu menegaskannya.
Kita diselamatkan karena kita percaya bahwa Dia tertikam oleh sebab pelanggaran kita, seperti yang tertulis dalam ayat 5. Kita diselamatkan karena kita percaya bahwa Dia diremukkan oleh sebab kejahatan kita, bahwa hukuman yang menimpa Dia adalah demi kesejahteraan kita, dan bahwa oleh bilur-bilur-Nya, kita disembuhkan. Kita diselamatkan karena dalam ayat 6 kita percaya bahwa Tuhan telah menimpakan kejahatan kita semua kepada-Nya. Kita diselamatkan karena ayat 8. Kita percaya bahwa Dia disingkirkan karena pelanggaran kita. Kita percaya, seperti yang dikatakan dalam ayat 10, bahwa Tuhan berkenan meremukkan Dia dan membuat-Nya menderita, agar Dia menjadi persembahan penebus salah atas dosa-dosa kita. Kita percaya, dalam ayat 11, bahwa Dia membenarkan banyak orang dengan menanggung kejahatan mereka. Dan di akhir ayat 12, kita percaya bahwa Dia menanggung dosa banyak orang dan bersyafaat bagi para pemberontak.
Untuk menjadi seorang Kristen, seseorang harus percaya kepada pengorbanan Kristus yang menggantikan kita, yang dilakukan-Nya di salib demi kita. Tetapi suatu hari nanti, seluruh bangsa Israel akan percaya. Zakharia memberitahu kita bahwa dua pertiga dari bangsa itu akan disucikan dari ketidakpercayaan dan dihakimi oleh Allah, dan sepertiga sisanya dari Israel akan mengalami pertobatan nasional melalui tindakan ilahi Allah yang berdaulat. Jika kita mengambil angka saat ini, ada sekitar 15 juta orang Yahudi di dunia, maka dalam suatu saat nanti, akan ada lima juta orang Yahudi yang datang kepada iman di dalam Yesus Kristus di bawah kuasa Allah yang berdaulat.
Dan perlu diingat, apa pun yang sedang terjadi di dunia ini, seberapa besar pun kekuatan nuklir yang dihasilkan di Timur Tengah, sebanyak apa pun bom yang bisa dibuat oleh Iran dan diarahkan ke Israel, mereka tidak akan menghancurkan Israel. Mereka tidak akan menghancurkan Israel karena Allah memiliki rencana keselamatan bagi Israel yang telah ditulis secara rinci dalam Alkitab. Keselamatan mereka dijanjikan dalam Yeremia 31; dijanjikan dalam Yehezkiel 36, seperti yang telah kita lihat; dijanjikan dalam Zakharia 12 dan 13; dan dijanjikan di sini dalam Yesaya 53, mengenai kata-kata pengakuan mereka. Dan Paulus menegaskan kembali hal ini dalam kitab Roma dengan mengatakan, "Dengan demikian seluruh Israel akan diselamatkan."
Jadi apa pun yang mungkin terjadi dalam sejarah langsung di Timur Tengah, Allah akan memelihara umat-Nya untuk keselamatan akhir mereka. Mungkin akan ada serangan terhadap tanah itu. Mungkin akan ada serangan dahsyat terhadap tanah itu, tetapi akan tetap ada sisa Israel yang akan menaruh iman mereka kepada Kristus di masa depan. Di sinilah mereka mengetahui melalui nubuat bahwa Mesias mereka akan disembelih dan itu bukanlah hal yang mereka harapkan. Mereka mengharapkan Dia datang sebagai raja, tetapi sebelum Dia datang sebagai raja pada kali yang kedua, Dia harus datang pertama kali sebagai anak domba. Sebelum Dia datang untuk hidup dan memerintah, Dia harus datang untuk mati.
Di sepanjang sejarah, orang-orang Yahudi sangat akrab dengan hewan kurban. Di sepanjang sejarah mereka sejak kitab Imamat, ketika mereka diajarkan dalam kitab itu bahwa Allah menghendaki mereka mempersembahkan korban darah, yang sebenarnya bukan hal baru. Cara itu sudah ada sejak zaman Habel yang mempersembahkan korban darah kepada Allah, dan kembali lagi pada Abraham, ketika Abraham diperintahkan untuk mempersembahkan anaknya di atas mezbah. Dan ketika Abraham mengangkat pisau untuk menusukkannya ke jantung Ishak, tangannya dihentikan, dan Allah menyediakan korban pengganti. Mereka telah diajarkan bahwa dosa mendatangkan maut, dan bahwa jiwa yang berbuat dosa itu harus mati, seperti yang dikatakan oleh para nabi. Dan bahwa harus ada hukuman yang dibayar untuk dosa. Seseorang harus mati untuk dosa itu. Dan perwujudan dari kebenaran itu tampak dalam setiap hewan kurban yang pernah disembelih sepanjang sejarah Israel.
Tapi keselamatan tidak datang dari kematian hewan itu sendiri; hewan itu hanyalah melambangkan kenyataan bahwa dosa menuntut kematian dan bahwa Allah bersedia menyediakan pengganti yang tidak bersalah untuk mati menggantikan si pendosa yang bertobat. Tidak ada pengampunan dosa yang akan diberikan oleh Allah tanpa adanya korban pengganti yang layak dan tak bersalah. Sejak zaman Abraham, dalam Kejadian 22, mereka telah mengetahui bahwa Allah akan menyediakan korban. Bahkan sejak masa Abraham pun, mereka sudah bisa menantikan siapa yang pada akhirnya akan menjadi korban itu.
Hewan-hewan itu sendiri tidak pernah menjadi korban yang memuaskan. Hewan-hewan itu disembelih dalam jumlah puluhan ribu setiap kali Paskah sejak Keluaran 12 sampai kehancuran Bait Suci pada tahun 70 M oleh bangsa Romawi. Hewan-hewan dikorbankan di Bait Suci dan di Kemah Suci setiap hari, pada korban pagi dan korban petang. Selain itu, ada juga korban perseorangan sesuai dengan Imamat 5. Setiap orang harus membawa korban mereka sendiri. Sepanjang sejarah Israel, mereka terus-menerus menyembelih anak domba. Ada satu cara untuk melihat peran para imam, yaitu dengan memandang mereka sebagai tukang jagal. Pada dasarnya, itulah yang mereka lakukan. Ketika mereka menjalankan tugas keimaman mereka di Bait Suci, mereka akan menyembelih hewan-hewan selama mereka bertugas di sana. Hari demi hari mereka berdiri dengan darah sampai di mata kaki mereka, dan Allah sedang menyampaikan simbol yang kuat kepada mereka bahwa dosa mereka menuntut kematian.
Dan bagi orang-orang Yahudi yang setia dengan hati yang tulus dan bertobat, mereka akan datang dan memahami hal itu, lalu mempersembahkan korban mereka, dan melalui korban itu mereka menyatakan, “Aku tahu dosaku menuntut kematian. Aku tahu aku tidak benar. Aku bertobat dan memohon Engkau mengampuniku atas dasar ketaatan ini dalam mempersembahkan korban.” Mereka tidak diselamatkan oleh ritual itu. Mereka tidak diselamatkan oleh korban itu. Mereka diselamatkan oleh pertobatan dan kepercayaan kepada Allah untuk menunjukkan belas kasihan melalui satu korban yang akan datang dan memuaskan hati-Nya, yang dilambangkan oleh hewan-hewan kurban itu.
Mereka tahu bahwa pengampunan tidak ada di dalam hewan itu. Mereka tahu bahwa kepuasan bagi Allah tidak ada dalam hewan itu. Bagaimana mereka tahu? Karena begitu mereka mempersembahkan satu kurban, mereka harus mempersembahkan yang lain. Setiap hari dalam tahun kalender mereka, dan kemudian ditambah lagi dengan kurban-kurban khusus pada Hari Raya Pendamaian, Yom Kippur, dan lebih banyak lagi korban pada Paskah, dan kurban-kurban pribadi. Dan mereka tahu bahwa itu tidak pernah berakhir. Jadi mereka tahu bahwa kurban yang benar-benar memuaskan belum datang. Tetapi seorang Yahudi yang sungguh-sungguh, seorang Israel sejati, seorang Israel yang mengenal dan menyembah Allah dengan cara yang benar, akan memahami bahwa dirinya tidak benar, bahwa dirinya celaka, bahwa dirinya berdosa, dan bahwa dia layak mati. Dan dia datang dengan pertobatan dan ketaatan, melakukan apa yang diperintahkan Allah, dan memohon kepada Allah untuk belas kasihan dan anugerah, sambil menantikan Allah menyediakan kurban yang sejati.
Mereka sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa kurban terakhir dan yang diterima oleh Allah itu ternyata adalah sang Mesias sendiri, yang — perlu diingat — diperkenalkan sebagai Hamba di pasal 52 ayat 13. Dan Dia akan berhasil, ditinggikan, disanjung, dan dimuliakan. Dan menurut ayat 15, Dia akan mengejutkan banyak bangsa, dan raja-raja akan menutup mulut mereka karena Dia. Ini adalah pribadi yang akan mengejutkan, menakjubkan, kuat, berpengaruh, dan sangat dimuliakan. Di akhir pasal 53, Dia akan menerima bagian bersama orang-orang besar, membagi jarahan bersama orang-orang kuat. Mereka memang memiliki pandangan tentang Mesias mereka sebagai seorang penguasa dan raja yang dimuliakan — Raja yang agung, Raja di atas segala raja.
Tetapi sekarang mereka mengetahui bahwa sebelum Dia pernah dinobatkan sebagai Raja, Dia akan disembelih. Mesias disembelih? Seperti anak domba. Jika Anda pernah memiliki pengalaman dengan hal itu, Anda tahu bahwa ketika domba-domba dibawa ke tempat penyembelihan, mereka pergi dengan diam. Menariknya, saya mengalami hal ini di Selandia Baru dan Australia. Ada satu domba yang disebut sebagai "domba Yudas." Itulah nama untuk domba yang memimpin semua domba lainnya menuju tempat penyembelihan. Dan mereka semua mengikuti domba Yudas itu melalui lorong-lorong kayu atau logam menuju kematian mereka, dan itu adalah pemandangan yang sangat sunyi, benar-benar hening saat mereka berjalan untuk disembelih satu per satu. Mereka sama diamnya saat disembelih, sama seperti saat dicukur, dan saya pernah duduk berjam-jam untuk menyaksikan proses pencukuran domba yang luar biasa itu dan keheningan domba-domba itu.
Gambaran yang disampaikan di sini adalah tentang Mesias yang disembelih dan diam seperti seekor domba yang diam. Itulah gambaran yang digunakan. Kenyataannya adalah bahwa Mesias akan dibawa ke tempat penyembelihan. Analogi yang dipakai adalah bahwa sama seperti seekor domba, Dia akan diam dalam penyembelihan itu. Tidak satu pun dari kurban-kurban yang dipersembahkan sebelum kematian Mesias yang memuaskan Allah. Tetapi begitu Yesus disembelih, tabir di Bait Suci terbelah dari atas sampai ke bawah, dan semua kurban setelah itu dibatalkan. Dan tidak lama setelah itu, Allah menghancurkan Bait Suci melalui bangsa Romawi. Seluruh sistem itu berakhir karena kurban yang dipilih Allah telah dipersembahkan. Maka di sini, dalam ayat 7, kita membaca bahwa Dia diam, tanpa suara. Kita bisa menyebut pesan ini sebagai Hamba yang disembelih, atau Hamba yang diam, atau Hamba yang diam dan disembelih.
Nabi terakhir dalam Perjanjian Lama, yaitu Yohanes Pembaptis, adalah seorang yang luar biasa. Dia adalah nabi yang terisolasi. Tidak ada nabi lain pada masanya, dan dia muncul 400 tahun setelah nabi sebelumnya. Dia muncul di luar waktu yang tepat. Dia adalah sebuah anomali. Sebenarnya dia tidak seharusnya hidup karena ayah dan ibunya, Zakharia sang imam dan Elisabet, mandul. Mereka sudah lanjut usia, jauh melampaui usia untuk memiliki anak, tetapi Allah secara ajaib mengizinkan mereka untuk memiliki anak ini yang diberi nama Yohanes, yang juga disebut sebagai Pembaptis, meskipun mungkin lebih tepatnya disebut sebagai Yohanes si Pembaptis, karena dari situlah nama itu berasal. Sejak dalam kandungan ibunya, dia telah dipenuhi oleh Roh Kudus, sehingga Allah memiliki maksud yang sangat khusus baginya, dan pada akhirnya, seperti yang Anda ketahui, dia menjadi pendahulu bagi sang Mesias.
Yesus mengatakan bahwa Yohanes adalah manusia terbesar yang pernah hidup sampai pada waktu itu. Bukan karena dia lebih cerdas dari yang lain, bukan karena dia lebih mulia, lebih bermoral, lebih rohani, atau lebih benar, tetapi karena dia memiliki tugas terbesar yang pernah diberikan kepada seorang manusia. Kehebatannya terkait dengan tugas istimewanya, yaitu menunjuk kepada sang Mesias. Dialah yang ditulis oleh Yesaya dalam Yesaya 40 ayat 3 sampai 5, “Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan.” Dialah yang ditulis oleh Maleakhi, baik dalam pasal 3 maupun pasal 4, di mana Maleakhi menyatakan bahwa ketika Mesias akhirnya datang, akan ada seseorang yang mendahului-Nya untuk menyatakan kedatangan-Nya. Yohanes adalah pemberita yang dijanjikan itu, pendahulu yang dijanjikan itu, dan nabi yang mengenali dan memperkenalkan Mesias.
Dan ketika momen yang dramatis itu tiba, saat Yohanes Pembaptis dan Yesus berhadapan langsung, saling menatap di tempat umum, dan Yesus hendak memulai pelayanan-Nya — kejadiannya terjadi di Sungai Yordan, dan dikatakan bahwa seluruh Yerusalem dan Yudea datang ke sana untuk dibaptis oleh Yohanes karena Yohanes terus berkata, "Mesias sudah datang, Mesias sudah datang, persiapkan hatimu, persiapkan hatimu." Dia memberitakan tentang Kerajaan Allah dan kebenaran, dan menyerukan kepada orang-orang untuk bersiap, sambil menawarkan baptisan sebagai simbol dari keinginan mereka untuk dibersihkan, dan orang banyak berdatangan. Dan pada suatu hari Yesus muncul, dan bagaimana Yohanes memperkenalkan Yesus? Dia tidak berkata, “Lihatlah Rajamu.” Dia berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.” Dan itu langsung merujuk kepada Yesaya 53.
Itulah yang Yohanes katakan pertama kali saat dia menunjuk kepada Kristus, seperti yang tertulis dalam Yohanes 1:29. Keesokan harinya, Kristus kembali hadir dan sekali lagi bertatap muka dengan Yohanes, dan Yohanes sekali lagi berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah.” Yohanes tidak menjelaskan apa pun. Dalam Yesaya 53 sudah cukup jelas untuk dipahami bahwa Mesias akan datang sebagai anak domba dan sebagai kurban bagi dosa, Dia yang akan disembelih dan diam dalam penyembelihan-Nya. Israel akan memiliki Raja yang hidup dan ditinggikan, tetapi hanya setelah Dia menjadi Anak Domba yang mati dan ditolak. Gambaran yang digunakan di sini begitu nyata dan jelas. Ayat 6 mengatakan, “Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri.” Itulah gambaran manusia yang berdosa; kita semua seperti domba yang tersesat. Maka Sang Hamba menjadi seperti kita, seekor anak domba, agar Dia dapat menjadi anak domba kurban untuk menyelamatkan domba-domba yang tersesat itu.
Sekarang, kita akan mulai membahas ayat 7 sampai 9 pagi ini, meskipun belum akan menyelesaikannya. Ini adalah bagian keempat dari lima bait yang membentuk bagian yang luar biasa ini. Dan penekanan utama dalam ayat 7 sampai 9 adalah keheningan, atau bisa kita katakan berbicara tentang penyerahan diri, kerelaan, ketaatan. Di sini kita melihat Hamba Yahweh yang menderita, menderita sampai mati dengan sukarela, secara sadar. Inilah saat di mana Dia menghidupi doa-Nya: “Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu yang jadi,” seperti yang Dia panjatkan di taman itu.
Bisa dikatakan bahwa mulut Mesias menjadi sorotan. Dalam ayat 7, dikatakan dua kali bahwa Dia tidak membuka mulut-Nya. Dan dalam ayat 9 disebutkan bahwa tidak ada tipu daya dalam mulut-Nya. Dia diam dalam pengadilan-Nya; itu terdapat dalam ayat 7. Dia diam dalam kematian-Nya; itu dalam ayat 8. Dan Dia diam dalam penguburan-Nya; itu dalam ayat 9. Di masa depan, Israel akan melihat kembali dan menyadari bahwa keheningan-Nya adalah kerelaan untuk dibunuh, seperti yang dikatakan dalam ayat 8, “karena pemberontakan umatKu ia kena tulah.” Mereka akan memiliki pandangan yang sama sekali berbeda tentang pengadilan-Nya, kematian-Nya, dan penguburan-Nya.
Sekarang, saya ingin menyampaikan sesuatu dalam pengertian yang lebih luas. Pasal ini sangat penting bagi siapa pun yang ingin memberitakan Injil yang setia, karena bahasa yang digunakan di sini adalah bahasa Injil. Dan saya ingin menunjukkan maksudnya. Banyak orang ingin berbicara tentang Kristus, tentang percaya kepada Yesus, tentang menerima Yesus sebagai Juruselamat, tentang membiarkan Kristus memimpin hidup Anda — semua itu benar dan baik. Tetapi bahasa keselamatan yang sejati adalah bahasa Yesaya 53, ketika orang-orang Yahudi di generasi masa depan, atau ketika Anda dan saya di generasi ini, memandang kepada Yesus Kristus; beginilah seharusnya cara kita melihat-Nya. Bukan sekadar sebagai guru, bukan sekadar sebagai penyelamat yang lemah lembut dan bersedia menolong — meskipun memang Dia adalah guru dan Juruselamat. Tetapi kita harus melihat Kristus dalam bahasa pengorbanan. Itu kuncinya. Kita harus melihat Dia dalam bahasa pengorbanan.
Kalau Anda membaca bagian ini, Anda sedang mendengar pengakuan orang Yahudi di masa depan, dan juga pengakuan dari siapa pun yang sungguh-sungguh bertobat pada masa kini. Nah, bagaimana bahasanya? Lihat kembali ayat 3: dihina, dihindari orang, penuh kesengsaraan, biasa menderita kesakitan. Ayat 4: penyakit, kesengsaraan, kena tulah, dipukul, disakiti. Ayat 5: ditikam, diremukkan, hajaran, bilur-bilur. Ayat 7: ditindas, dianiaya, disembelih. Ayat 8: penindasan, penghakiman, disingkirkan, dipukul. Akhir ayat 8: mati. Ayat 10: Tuhan berkenan meremukkan Dia, membuat-Nya sakit. Dia adalah korban penebus salah. Ayat 11 dan 12: menanggung kesalahan, menanggung dosa. Itulah bahasa keselamatan. Bukan sekadar undangan lembut untuk mengenal Yesus, tetapi pengakuan akan kenyataan bahwa keselamatan datang melalui penderitaan, kematian, dan kurban pengganti Yesus Kristus yang menderita demi kita.
Apa yang saya mau katakan? Injil adalah tentang dosa, dan tentang penghakiman, dan tentang pendamaian, dan tentang kematian, dan tentang kurban persembahan, dan tentang darah. Injil adalah tentang penindasan, penderitaan, penghakiman, eksekusi, dan pemukulan. Injil adalah tentang kejahatan, pelanggaran, dosa. Itulah Injil. Itu harus dipahami dan dijelaskan dengan cara seperti itu. Tentu saja, kecenderungan saat ini mengarah pada pesan yang tidak menyinggung siapa pun, pesan yang disederhanakan, dengan referensi yang samar terhadap Kristus. S. Lewis Johnson pernah berkata, “Orang Kristen menyetel ulang teologi mereka terhadap setiap ide baru, seperti menyetel ulang jam tangan Anda setiap kali Anda menemukan jam yang berbeda.” Tetapi kata-kata keselamatan adalah kata-kata yang Anda temukan dalam Yesaya 53. Itulah cara Anda harus memahami kematian Kristus. Itulah cara orang lain juga harus memahaminya.
Siapa yang sedang dibicarakan di sini? Siapa yang mengalami pengadilan seperti yang digambarkan dalam ayat 7, kematian seperti yang dijelaskan dalam ayat 8, dan penguburan seperti yang disebut dalam ayat 9? Siapa Dia? Siapa Hamba Yahweh yang menderita dan tunduk ini? Siapa pribadi yang tidak bersalah, tanpa dosa, namun dengan sabar dan rela menanggung kematian yang begitu brutal ini? Siapa Dia? Hanya ada satu jawaban yang mungkin: Dia adalah Hamba yahweh, Dilah Mesias, Dialah Yesus. Dan Dia bukan terjebak dalam rangkaian peristiwa yang tidak terkendali, tetapi justru secara diam-diam dan sukarela menyerahkan diri-Nya kepada segala sesuatu yang terjadi.
Sekarang Mesias berbicara dalam nyanyian Hamba yang ke-42, Mesias berbicara dalam nyanyian Hamba yang ke-49. Mesias juga berbicara dalam pasal 50 dari nyanyian Hamba. Namun dalam Yesaya 53, Mesias sama sekali tidak berkata apa-apa. Dia adalah Hamba yang diam dan menderita. Tidak berkata apa-apa; tidak melakukan apa-apa, tetapi membiarkan semuanya terjadi atas diri-Nya. Inilah kematian Hamba yang sukarela, dengan kesediaan penuh, menggantikan orang lain, dan sebagai kurban pengganti.
Nah, pagi ini, selama beberapa menit, mari kita lihat ayat 7, yang pertama dari tiga ayat ini, dan di sinilah pengadilan Yesus digambarkan. Bagaimana kita tahu itu? Ayat 7 mengatakan, “Dia dianiaya.” Dalam bahasa Ibrani, secara harfiah artinya adalah: “Dia sendiri benar-benar dianiaya.” Ini adalah kata yang menunjuk pada kekerasan, membawa kita pada gambaran perbudakan. Ini adalah kata yang berarti ditangkap, dianiaya, diperlakukan secara kejam. Dan penderitaannya sangat berat. Begitu beratnya perlakuan terhadap Dia ketika Dia ditangkap dan dianiaya, sehingga dalam pasal 52 ayat 14 dikatakan bahwa penampilan-Nya dirusak melebihi siapa pun, dan perawakannya bukan seperti anak manusia lagi. Dia bahkan tidak tampak seperti manusia.
Pada saat mereka selesai memperlakukan Dia — baik secara fisik melalui pukulan yang menghantam tubuh-Nya, maupun penyiksaan yang Dia alami di kepala dan wajah-Nya, mulai dari mahkota duri, pukulan tongkat ke wajah, ludah, keringat, dan darah yang mengalir di wajah-Nya — Dia bahkan tidak tampak seperti manusia lagi. Setelah cambukan dan percikan darah yang membasahi seluruh tubuh-Nya, tubuh-Nya membungkuk dalam penderitaan yang menyiksa, wajah-Nya mencerminkan kepedihan yang dalam dalam emosi saat itu — inilah bentuk penyiksaan terhadap-Nya. Semuanya dimulai dengan penangkapan-Nya di tengah malam di taman. Lalu berlanjut dalam serangkaian pengadilan palsu yang penuh ejekan, saksi-saksi palsu, perlakuan keji yang diterima-Nya di sana, siksaan psikologis yang Dia alami, serta ketidakadilan yang luar biasa ketika Dia diserahkan kepada orang Romawi — dan bagaimana mereka memperlakukan-Nya serta menyiksa tubuh-Nya secara brutal.
Dari penangkapan di taman Getsemani sampai pengadilan di rumah imam besar, upaya menjatuhkan Dia dengan kesaksian palsu dari para saksi dusta, hingga waktu-Nya di hadapan Herodes, lalu Pilatus, dan semua perlakuan buruk yang diberikan baik oleh orang Yahudi maupun orang Romawi — tidak pernah ada satu pun kejahatan yang terbukti, tidak pernah ada bukti yang sah, dan tidak pernah ada kesalahan yang bisa dibuktikan. Menurut Lukas 23:15, Herodes menyatakan bahwa Dia tidak bersalah. Dalam Lukas 23, Pilatus menyatakan tiga kali bahwa Yesus tidak bersalah… tiga kali, dan dia adalah seorang gubernur. Jadi itu adalah keputusan hukum: tiga kali dinyatakan tidak bersalah. Namun para pemimpin Israel, para pemimpin Yahudi dengan persetujuan dari rakyat, mendesak Pilatus untuk mengikuti pernyataan tiga kalinya tentang ketidakbersalahan Yesus dengan tindakan eksekusi. Itulah yang akhirnya dia lakukan dalam Lukas 23:25. Nah, itulah yang terlihat di sini dalam Yesaya 53:7: “Dia dianiaya.”
Dan kemudian dikatakan bahwa Dia “disakiti.” Tetapi kata kerja ini berbentuk pasif, dan perlu dilihat dengan cara yang sedikit berbeda, lebih cermat. Artinya: Dia membiarkan diri-Nya ditindas. Begitulah cara Anda menerjemahkan kata kerja pasif. Pasif berarti tindakan terjadi atas diri Anda, bukan berasal dari Anda. Kata ini juga bisa dimaknai — dan cukup adil diterjemahkan seperti itu, sebagaimana muncul dalam Keluaran 10:3 — bahwa Dia merendahkan diri-Nya, yang merupakan cara lain untuk mengatakan bahwa Dia membiarkan diri-Nya ditindas. Paulus mungkin saja memikirkan frasa ini ketika dia menulis dalam Filipi 2: “Dia merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” Sangat mungkin sekali ayat ini merupakan cerminan langsung dari Yesaya 53:7.
Ini bukanlah hal yang normal bagi orang yang disiksa. Ini bukanlah hal yang wajar bagi orang tak bersalah yang disiksa. Biasanya, seseorang yang tertindas dan disiksa, yang tahu bahwa dirinya tak bersalah dan sedang mengalami ketidakadilan yang besar, akan berseru, berteriak tentang ketidakadilan itu, dan menyatakan ketidakbersalahannya. Tapi tidak demikian dengan Hamba Yahweh. Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun. “Namun Ia tidak membuka mulut-Nya.” Meskipun semua ini adalah kejahatan, kezaliman, ketidakadilan yang keji terhadap bukan sekadar manusia yang tidak bersalah, tetapi juga terhadap manusia yang benar-benar kudus dan benar, Dia tetap tidak membuka mulut-Nya. Orang berdosa tidak menderita dalam diam. Kita tidak bisa diam. Ada suara dari hati yang merasa bersalah. Ketika kita menderita karena dosa kita, kita berseru, seperti Daud dalam Mazmur 32 dan Mazmur 51, bukan? “Terhadap Engkau, terhadap Engkau saja aku telah berdosa... basuhlah aku, sucikanlah aku.” Itulah seruan dari orang berdosa yang bersalah.
Sementara itu, seruan dari orang berdosa yang merasa tak bersalah bisa kita lihat pada Ayub, yang berulang kali berseru kepada Allah mengenai ketidakbersalahannya. Dalam Ayub 7:1–13, seluruh bagian itu berbunyi, “Tuhan, mengapa ini terjadi? Aku adalah orang yang tidak bersalah. Aku tidak bersalah atas apa yang bahkan dituduhkan oleh teman-temanku kepadaku.” Orang berdosa tidak menderita dalam keheningan. Ketika kita menderita karena rasa bersalah, kita berseru kepada Allah memohon pengampunan. Dan ketika kita menderita saat kita tidak bersalah, kita berseru kepada Allah dan bertanya mengapa.
Namun ini adalah seorang yang menderita dalam diam. Dia diburu di tengah malam dan ditemukan di Taman Getsemani lewat tengah malam. Penulis Perjanjian Baru memberitahu kita bahwa mereka datang kepada-Nya dengan kerumunan besar — polisi Bait Allah, para pemimpin agama, dan tentara Romawi — untuk menangkap Dia, seperti sedang memburu hewan malam. Dia ditangkap, Dia dikhianati oleh Yudas. Dia dibawa ke dalam tahanan, diperlakukan dengan buruk, disiksa, disakiti, dilecehkan, dan dianiaya dengan segala cara yang bisa dibayangkan dan bahkan yang tak terbayangkan, lalu digiring menuju eksekusi tanpa perlawanan sedikit pun, tanpa keluhan apa pun.
Ketika Dia dibawa ke hadapan imam besar, Matius 26 mencatat bahwa Dia tetap diam. Dalam pasal berikutnya, Matius 27, ketika Dia dibawa ke hadapan para imam kepala, ahli Taurat, dan tua-tua, Dia tetap diam. Dalam Markus 15, ketika Dia dibawa ke hadapan Pilatus, Dia tetap diam. Yohanes 19 juga mencatat hal yang sama: keheningan-Nya di hadapan Pilatus. Dalam Lukas 23, Dia dibawa ke hadapan Herodes, raja bawahan orang Idumea di bawah kekuasaan Romawi, dan sekali lagi, Dia tetap diam. Dia diam di hadapan imam besar, diam di hadapan Sanhedrin, diam di hadapan Pilatus, dan diam di hadapan Herodes. Dia tidak pernah mengucapkan satu kata pun untuk membela diri-Nya atau menyatakan ketidakbersalahan-Nya.
Dan Yesaya mengatakan bahwa Dia seperti anak domba. Dia dibawa ke pembantaian, dan seperti domba yang bisu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, demikianlah Dia tidak membuka mulut-Nya. Inti dari bagian ini adalah kesediaan Mesias untuk mati. Ini bukanlah rencana baik yang berakhir buruk. Tujuh ratus tahun sebelum Yesus datang, nubuat ini sudah sangat jelas: ketika Dia datang, Dia akan datang sebagai domba sembelihan. Dan ketika Dia tiba, sebelum memulai pelayanan-Nya, Yohanes berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.” Dan itu berarti bahwa Dia harus menjadi domba kurban, karena hanya melalui kematian kurbanlah dosa bisa dihapuskan.
Ketika Yesus mati di akhir tiga tahun pelayanan-Nya, itu bukanlah seperti yang digambarkan beberapa orang, sebagai suatu hal baik yang berakhir buruk. Itu adalah tujuan utama dari kedatangan-Nya. Ada begitu banyak hal yang bisa Dia katakan kepada para penuduh-Nya. Oh, betapa banyak yang bisa Dia sampaikan kepada imam besar, kepada para imam kepala dalam Sanhedrin, dan kepada Pilatus serta Herodes. Tetapi Dia tidak melakukannya. Itu adalah keheningan karena ketundukan-Nya kepada kehendak Bapa-Nya. Tapi itu juga adalah keheningan sebagai bentuk penghakiman. “Kalian tidak mau mendengarkan, dan sekarang Aku tidak punya apa-apa lagi untuk dikatakan kepada kalian. Ketika dahulu Aku berbicara tentang hidup dan keselamatan, tentang pengampunan dan Kerajaan Allah, kalian tidak mau mendengarkan. Maka sekarang Aku tidak punya apa-apa lagi untuk dikatakan kepadamu.”
Dia benar-benar diam dalam penghakiman. Dan ayat 7 sekali lagi diakhiri dengan pernyataan, “Dia tidak membuka mulut-Nya.” Dia bukan hanya menerima penghakiman yang tidak adil dari manusia, tetapi Dia juga menerima penghakiman yang adil dari Allah atas nama orang-orang berdosa yang tidak benar, supaya mereka dapat dijadikan benar. Tidak ada kurban yang begitu sempurna seperti ini; tidak ada kurban yang pernah semurni ini. Inilah Anak Domba Allah yang tidak bercacat dan tidak bernoda, yang dapat diterima oleh Allah, yang dipilih oleh Allah dan yang terpilih, dan mati bagi orang-orang berdosa. Di sinilah, saudara terkasih, soteriologi Perjanjian Lama mencapai puncaknya. Inilah titik tertinggi dari seluruh Perjanjian Lama. Sang Mesias adalah kurban, disembelih oleh Allah bagi kita.
Dialah Hamba Yahweh; Dialah Hamba yang melayani; dan pelayanan-Nya menuntut agar Dia mati, agar Dia dihukum demi kesejahteraan kita, agar Dia dicambuk demi kesembuhan kita, agar Dia diremukkan demi kejahatan kita, agar Dia tertikam karena pelanggaran kita. Dan seperti yang dikatakan dalam ayat 8, agar Dia disingkirkan dari negeri orang hidup karena pelanggaran kita, kepada siapa hukuman itu seharusnya dijatuhkan. Inilah pesan dari Injil. Dan ini adalah pesan tentang dosa dan penghakiman, tentang kematian dan pengorbanan.
Hamba Yahweh yang menderita, diam, tunduk, disembelih, dan dihina ini menanggung hukuman Allah atas utang moral yang sangat besar dari umat pilihan sepanjang sejarah manusia, dan membayar harga tebusan itu dengan nyawa-Nya. Itulah isi dari ayat 7. Itulah pengadilan yang membawa kita kepada kematian-Nya di ayat 8. Dan kita membahasnya di waktu berikutnya. Kita melihat Dia diam dalam kematian, bahkan diam dalam penguburan-Nya, ayat 9. Sekarang, mari kita tunduk dalam doa.
Bapa, kami tak bisa tidak mendengar kata-kata yang luar biasa dari Petrus yang berkata tentang Kristus, “Dia tidak berbuat dosa, dan tipu daya tidak ada dalam mulut-Nya,” yang diambil langsung dari ayat 9. “Ketika Dia dicaci maki, Dia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Dia menderita, Dia tidak mengancam, tetapi Dia menyerahkan diri-Nya kepada Dia yang menghakimi dengan adil. Dia sendiri telah memikul dosa kami di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kami yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran; oleh bilur-bilur-Nya kami telah sembuh.”
Kami takjub akan keajaiban pengorbanan Kristus ini. Kami takjub bahwa Engkau telah menerapkannya atas kami yang sama sekali tidak layak ini. Mengapa Engkau memilih kami dari seluruh dunia untuk menerima pencapaian yang luar biasa ini sungguh di luar pemahaman kami, namun itulah yang menjadi dasar dari penyembahan kami. Itulah mengapa kami mengasihi Engkau, memuji Engkau, memuliakan Engkau, dan menyembah Engkau.
Dan inilah juga kenyataan agung yang untuknya Engkau telah memanggil kami untuk memberitakannya hingga ke ujung bumi: bahwa siapa pun yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan, baik orang Yahudi maupun non-Yahudi. Inilah hari keselamatan itu. Inilah waktu perkenanan itu. Ya, akan ada waktu di masa depan, di akhir sejarah manusia, ketika bangsa Israel akan diselamatkan; tetapi sementara itu, sementara waktu masih ada, siapa pun yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan. Injil adalah kekuatan Allah yang membawa kepada keselamatan bagi siapa saja yang percaya, baik Yahudi maupun non-Yahudi.
Kami mohon, ya Tuhan, bahwa hari ini, bahkan di jam ini, Engkau menarik beberapa jiwa kepada-Mu, baik orangn Yahudi maupun non-Yahudi, yang sedang duduk dan mendengarkan ini. Kiranya inilah saat ketika mereka keluar dari kegelapan menuju terang, dari kematian menuju kehidupan, dari kebingungan menuju kejelasan, dari ketidaktahuan menuju pengenalan, dari kematian menuju hidup. Dan kiranya mereka tertarik kepada Kristus, dengan tidak tertahankan oleh Roh Kudus-Mu yang kudus dan penuh kasih; kiranya hari ini menjadi hari keselamatan itu. Bapa, kerjakanlah sesuatu dalam hati dan genapilah hal itu demi kemuliaan-Mu, demi kehormatan-Mu, agar surga bersukacita atas kembalinya satu orang berdosa yang tersesat. Kami berdoa agar Engkau dimuliakan dengan cara itu, agar Engkau ditinggikan. Dalam nama Kristus. Amin.
SELESAI
This article is also available and sold as a booklet.
