Grace to You Resources
Grace to You - Resource

Bukalah Alkitab Anda di Yesaya 53 untuk terakhir kalinya. Ini adalah pesan yang kesepuluh dalam seri ini, dan saya ingin mengatakan bahwa dengan sangat berat hati saya mengucapkan perpisahan dengan bagian ini. Pasal ini telah menyatu begitu dalam ke dalam jiwa saya, menjadi bagian dari DNA rohani saya. Tapi, sejujurnya, setiap bagian dari Firman Tuhan tampaknya selalu melakukan hal yang sama pada saya. Tapi yang satu ini, sungguh, melampaui yang lainnya dalam begitu banyak cara. Saya telah berusaha membagikannya kepada Anda selama sembilan jam terakhir yang telah kita lalui bersama dalam pasal ini.

Ketika kita memulai studi ini beberapa bulan yang lalu, saya memperkenalkan kepada Anda bahwa kebenaran dalam pasal ini akan menjawab pertanyaan yang paling penting, esensial, vital, dan krusial yang pernah diajukan. Bahwa pasal ini akan memberikan jawaban atas pertanyaan yang paling berat, paling serius, dan paling bermakna dari semuanya. Bahwa pertanyaan yang dijawab oleh pasal ini jauh lebih penting daripada pertanyaan apa pun yang lain. Bahkan, pertanyaan ini lebih penting daripada semua pertanyaan lain jika digabungkan. Pertanyaan ini secara tak terhingga lebih penting daripada semua pertanyaan lainnya bersama-sama. Dan pertanyaan yang dijawab dalam pasal ini tidak ada hubungannya dengan kesehatan, tidak ada hubungannya dengan kekayaan, tidak ada hubungannya dengan kesuksesan, tidak ada hubungannya dengan pendidikan, tidak ada hubungannya dengan sosiologi, tidak ada hubungannya dengan agama itu sendiri, tidak ada hubungannya dengan politik, moralitas, atau filsafat. Pertanyaan ini melampaui semua pertanyaan tersebut, dan faktanya, inilah pertanyaan yang menjadi alasan utama Alkitab ditulis.

Alkitab ditulis untuk menjawab pertanyaan ini, yang secara utama dijawab dalam pasal ini. Apa pertanyaannya? Pertanyaannya adalah: Bagaimana seorang pendosa dapat diampuni sepenuhnya dan diperdamaikan dengan Allah yang kudus, sehingga terluput dari neraka yang kekal dan masuk ke dalam surga yang kekal? Itulah pertanyaan dari segala pertanyaan. Dan karena setiap manusia akan hidup selamanya—baik dalam neraka kekal maupun dalam surga kekal—maka itulah pertanyaan yang paling mendesak untuk dijawab. Bagaimana seorang pendosa dapat diampuni sepenuhnya, diperdamaikan dengan Allah yang kudus, sehingga terhindar dari neraka kekal dan masuk ke surga kekal? Itulah pertanyaan moral tertinggi, pertanyaan rohani tertinggi, pertanyaan keagamaan tertinggi—dan tidak ada sistem moral, tidak ada spiritualitas mistik, dan tidak ada agama yang memiliki jawaban untuk pertanyaan ini selain Kekristenan. Dan Alkitab ditulis untuk memberikan jawaban atas pertanyaan itu.

Jika Anda mengambil pertanyaan itu dan jawabannya dari Alkitab, maka Alkitab tidak berbeda dengan buku lainnya. Justru demi pertanyaan dan jawaban itulah Alkitab diwahyukan. Dan sejauh menyangkut Perjanjian Lama, tidak ada bagian yang menjawabnya lebih jelas daripada Yesaya 53, seperti yang telah kita pelajari sampai saat ini. Hal ini menjadikan pasal 53 ini sebagai puncak tertinggi dalam Perjanjian Lama. Inilah Gunung Everest-nya Perjanjian Lama. Inilah nubuat yang diinspirasikan oleh Roh Kudus mengenai makna kematian dan kebangkitan Yesus Kristus, yang ditulis 700 tahun sebelum Ia datang. Saat saya memperkenalkan seri ini, saya katakan bahwa beberapa penafsir sepanjang sejarah menyebutnya sebagai Injil kelima. Saya pribadi tidak akan menyebutnya begitu. Saya lebih suka menyebutnya sebagai Injil yang pertama, dan Matius sebagai yang kedua, Markus yang ketiga, Lukas yang keempat, dan Yohanes yang kelima.

Inilah Injil yang pertama. Inilah catatan tentang Pribadi Allah yang menjadi manusia, yang datang ke dunia untuk mati bagi orang berdosa, bangkit kembali untuk memberikan keselamatan, dan telah ditinggikan ke surga. Ini bukan hanya Injil yang pertama; saya bahkan cukup berani untuk mengatakan bahwa ini adalah surat rasuli yang pertama. Surat rasuli yang pertama. Anda bisa menempatkan bagian ini tepat setelah kitab Kisah Para Rasul, sebelum kitab Roma, karena pesan di sini bukan hanya sama dengan yang Anda baca dalam keempat Injil, tetapi juga merupakan penafsiran yang sama atas Injil seperti yang Anda temukan dalam tulisan Paulus, Petrus, dan Yohanes. Oleh karena itu, ini adalah demonstrasi yang tiada tanding dalam Perjanjian Lama mengenai kepenulisan ilahi, sebab di sinilah tercatat kehidupan dan kematian Yesus Kristus melalui penyaliban, penusukan, dan penguburan, 700 tahun sebelum peristiwa itu terjadi—dengan segala detailnya. Dan di sinilah pula ditemukan penafsiran Perjanjian Baru tentang kematian dan kebangkitan-Nya, yang mengatakan persis seperti yang kita baca dalam surat-surat rasuli Perjanjian Baru.

Seperti yang telah kita pelajari, kata-kata dalam pasal yang mulia ini, pasal 53, semuanya ditulis dalam bentuk lampau. Dan meskipun ini adalah nubuat tentang masa depan, pasal ini bukanlah nubuat tentang peristiwa-peristiwa dalam kehidupan Kristus. Tapi, pertama-tama, ini adalah nubuat tentang pertobatan akhir Israel, ketika di masa depan, seperti yang dikatakan oleh Zakharia, mereka akan memandang kepada Dia yang telah mereka tikam dan akan meratapi-Nya seperti meratapi anak tunggal, dan Roh kasih karunia serta permohonan akan dicurahkan atas mereka, dan mata air penyucian akan terbuka bagi mereka, dan mereka akan mengenal Allah. Itulah yang dikatakan dalam Zakharia pasal 12 dan 13 akan terjadi di masa depan.

Janji Allah dalam Yehezkiel 36 adalah keselamatan Israel di masa depan. Janji ini diulang dalam Yeremia 31, dan diteguhkan dalam Zakharia 12, 13, dan 14. Dari sanalah Paulus mengutip apa yang dia katakan dalam Roma 11, bahwa seluruh Israel akan diselamatkan. Nabi Yesaya diberi penglihatan tentang keselamatan masa depan Israel pada akhir sejarah manusia, tepat sebelum kedatangan Yesus Kristus, ketika mereka memandang kembali kepada Dia yang telah mereka tikam dan melihat-Nya sebagaimana Dia sebenarnya, dan mereka menerima-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat, disucikan dari dosa-dosa mereka, diselamatkan, dan masuk dalam pengenalan sejati akan Allah. Ketika itu terjadi di masa depan, inilah kata-kata yang akan mereka ucapkan. Inilah pengakuan mereka. Itulah sebabnya semua kata kerjanya ditulis dalam bentuk lampau dan semua kata ganti orangnya berbentuk jamak. Ini adalah bangsa Israel yang membuat pengakuannya di masa depan.

Dan meskipun pengakuan dalam pasal ini adalah pengakuan masa depan Israel yang akan membawa keselamatan bagi bangsa itu, pengakuan ini juga merupakan pengakuan yang sama yang telah diucapkan oleh setiap orang Yahudi dan non-Yahudi sejak kedatangan Kristus—pengakuan yang menyelamatkan kita. Suatu hari nanti Israel akan mengucapkan pengakuan ini; sedangkan kita sudah mengucapkannya. Kita telah mengakui bahwa Dia tertikam karena pelanggaran kita, diremukkan karena kejahatan kita. Kita telah mengakui bahwa Tuhan telah menimpakan kepada-Nya kejahatan kita semua. Kita mengakui bahwa Tuhan berkenan meremukkan Dia karena Dia adalah kurban penebus salah. Kita memahami itu dan kita mempercayainya. Kita percaya pada pengorbanan Yesus Kristus yang bersifat menggantikan dan mewakili bagi orang berdosa. Kita percaya bahwa Dia terputus dari negeri orang-orang hidup karena pelanggaran umat Allah, yang sebenarnya patut menerima hukuman itu. Dia menanggung hukuman kita, penghakiman kita. Kita percaya akan hal itu dan itulah sebabnya kita diselamatkan.

Inilah Injil. Pengakuan ini adalah inti dari teologi keselamatan. Di sinilah terdapat doktrin pembenaran melalui imputasi dosa-dosa kita kepada Pribadi yang benar, Hamba Yahweh, yang menjadi kurban pengganti, yang mati menggantikan kita, yang menanggung hukuman yang dijatuhkan oleh Allah atas dosa-dosa kita dan atas semua dosa dari setiap orang yang akan percaya kepada-Nya. Dan suatu hari nanti bangsa Yahudi akan mengucapkan hal ini – sementara kita sudah mengucapkannya: “Dia ditikam karena pelanggaran kita. Dia diremukkan karena kejahatan kita. Hajaran yang mendatangkandamai sejahtera bagi kita ditimpakan kepada-Nya dan karena bilur-bilur-Nya kita sembuh.” Suatu hari nanti orang Yahudi akan berkata, “Tuhan telah menimpakan kepada-Nya kejahatan kita semua.” Suatu hari nanti mereka akan berkata, “Karena pelanggaran umat-Ku, yang seharusnya menerima hukuman itu, Dia dibuang.” Suatu hari mereka akan berkata demikian.

Dan dengarkan: sampai seseorang mengucapkan pengakuan ini, ia tidak dapat diselamatkan. Tidak ada cara lain untuk diselamatkan. Ada pengkhotbah, pendeta, yang dengan mudah menyatakan bahwa orang Yahudi dapat diselamatkan hari ini tanpa Kristus. Itu tidak benar. Setiap orang Yahudi atau orang bukan Yahudi dapat diselamatkan hari ini. Jemaat ini terdiri dari orang Yahudi dan bukan Yahudi yang telah membuat pengakuan ini. Tetapi tidak seorang pun dapat diselamatkan tanpa pengakuan ini. Kita bersukacita karena suatu hari nanti seluruh bangsa itu akan membuat pengakuan ini dalam karya anugerah ilahi yang agung ketika Allah, melalui Roh Kudus-Nya yang penuh kasih karunia, turun atas mereka, membangkitkan mereka kembali, dan mereka melihat kembali, mereka melihat Kristus, mereka membalikkan keputusan yang telah mereka ambil selama dua ribu tahun, dan kemudian mereka menerima Dia sebagai Juruselamat.

Inilah pengakuan mereka. Inilah pengakuan saya. Inilah pengakuan Anda. Pengakuan ini tidak berhenti pada salib. Kita juga, bersama dengan mereka, mengakui bahwa sekalipun Dia adalah kurban penebus salah, seperti yang tertulis dalam ayat 10, “Ia akan melihat keturunan-Nya, umur-Nya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana oleh-Nya. Sesudah kesusahan jiwanya, Ia akan melihat terang dan menjadi puas.” Pengakuan ini juga mencakup kebangkitan-Nya. Jika Dia mati, bagaimana mungkin Dia melihat keturunan-Nya? Bagaimana mungkin umur-Nya diperpanjang? Bagaimana mungkin Dia melaksanakan kehendak TUHAN dan melihat hasilnya serta menjadi puas? Itu akan terjadi hanya jika Dia bangkit dari kematian. Kita mengakui bahwa Yesus bukan hanya mati, tetapi Dia juga bangkit kembali. Roma 10 menyatakan, “Jika engkau percaya dalam hatimu bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mengaku dengan mulutmu bahwa Yesus adalah Tuhan, maka engkau akan diselamatkan.” Itulah yang kita percayai. Itulah cara kita melihatnya. Dan itulah cara orang-orang Yahudi akan melihatnya juga.

Namun itu sendiri bukanlah kata terakhir. Apakah kita benar? Apakah pemahaman kita benar? Dengarkan, pengertian tentang doktrin pembenaran ini—penebusan yang bersifat menggantikan dan mewakilli—telah diserang sejak zaman Perjanjian Baru. Hingga hari ini, doktrin ini masih terus diserang. Ada teolog-teolog yang menyangkal penebusan substitusi oleh Yesus Kristus ini sebagai pengganti bagi dosa-dosa semua orang yang percaya secara pribadi. Selalu ada pertempuran atas doktrin ini. Bahkan, selama seribu tahun seolah-olah pertempuran ini telah kalah sampai Reformasi membangkitkannya kembali. Tapi pertanyaannya: apakah kita memahaminya dengan benar? Apakah yang kita baca di sini, pengakuan orang Yahudi di masa depan ini, benar-benar merupakan pemahaman yang akurat tentang salib? Apakah ini pemahaman yang tepat tentang makna kematian Kristus dan kebangkitan-Nya? Dan bukan hanya kematian dan kebangkitan-Nya, tapi juga tentang kenaikan-Nya? Sebab menurut pasal 52:13, Ia akan ditinggikan, Ia akan disanjung, Ia akan sangat dimuliakan, Ia akan membuat tercengang banyak bangsa, Ia akan membungkam mulut semua raja dunia karena kemuliaan-Nya akan jauh melebihi mereka semua. Pasal ini berbicara bukan hanya tentang kedatangan-Nya yang pertama untuk mati, tapi juga kedatangan-Nya yang kedua untuk memerintah.

Apakah orang-orang Yahudi memahaminya dengan benar? Apakah mereka melihatnya dengan tepat? Atau, itu hanya cara kita melihatnya? Atau, itukah cara Allah melihatnya? Bagaimana Allah memandang salib? Nah, kita tahu dari awal teks ini, Yesaya pasal 52 ayat 13 sampai 15, bahwa Allah sendirilah yang berbicara, “Sesungguhnya hamba-Ku” – hamba-Ku, ebed, hamba Yahweh, yang sejak pasal 42 menjadi sebutan bagi Mesias. Jadi, kita tahu bahwa di sini Allah berbicara dalam bentuk orang pertama, dan Ia sedang menggambarkan perjalanan hidup Sang Mesias, hamba-Nya. Dan Dia berkata bahwa Sang Hamba akan berhasil, Dia akan ditinggikan dan dimuliakan, Dia akan membuat banyak bangsa tercengang. Bagian ini berbicara tentang kemuliaan dan kedaulatan-Nya. Lalu pada ayat 14, bagian yang berada di tengah-tengah, berbicara tentang cacat tubuh-Nya, luka-luka-Nya, penganiayaan-Nya, dan itu akan lebih buruk dari manusia mana pun. Penampilan-Nya akan begitu hina, begitu tak layak dikenali dibandingkan siapa pun. Jadi Allah sedang memberitahu kita bahwa perjalanan hidup hamba-Nya yang akan datang itu akan mencakup kemuliaan dan penderitaan. Dan itulah teka-teki besar bagi orang Yahudi.

Saya sedang membaca sebuah buku dalam penerbangan tadi malam dari Seattle ke sini, dan buku itu menjelaskan apa yang para rabi pikirkan dan telah pikirkan sepanjang sejarah tentang bagian Alkitab ini. Dan mereka benar-benar berada dalam dilema besar. Bagaimana mungkin Mesias bisa ditinggikan dan dimuliakan, tetapi juga dianiaya dan direndahkan lebih dari siapa pun? Upaya mereka untuk menjelaskan bagaimana hal ini dapat menggambarkan Mesias—sejak zaman sebelum dan sesudah Kristus, hingga zaman modern—hampir tidak terhitung banyaknya. Mereka berputar-putar mencari penjelasan. Lalu, bagaimana kita bisa menyelesaikan teka-teki itu?

Nah, pasal 53 menyelesaikan dilema itu dengan sederhana: sebelum Dia ditinggikan, Dia akan direndahkan. Kita mengerti itu. Kedatangan-Nya yang pertama adalah untuk dianiaya dan dieksekusi; kedatangan-Nya yang kedua adalah untuk memerintah dan berkuasa. Begitulah cara kita memahaminya. Tapi apakah pemahaman itu selaras dengan cara Allah memahaminya? Karena pada akhirnya, sudut pandang Allah-lah yang paling penting. Masalah keselamatan, pengampunan, pendamaian, dan hidup yang kekal bukanlah soal bagaimana kita melihat semuanya itu. Bukan kita pengadil terakhir yang menentukan kebenaran, melainkan bagaimana Allah melihat semuanya. Saya ingin tahu bagaimana pandangan Allah tentang kematian Kristus dan kebangkitan-Nya. Dan itulah yang kita temukan dalam dua ayat terakhir dari pasal yang luar biasa ini.

Dimulai dari pertengahan ayat 11, Allah sendiri yang berbicara. Kata ganti langsung berubah—dari bentuk jamak menjadi tunggal. Kata kerjanya juga berubah—dari waktu lampau menjadi waktu yang akan datang. Fokusnya berpindah dari bangsa Yahudi yang memandang kembali kepada salib, menjadi Allah yang memandang ke depan kepada salib. Lalu bagaimana pandangan Allah? Dengarkan, dimulai dengan, “Oleh pengetahuan-Nya,” ayat 11. “Oleh pengetahuan-Nya, hambaKu, orang benar itu, akan membenarkan banyak orang, dan kejahatan mereka dipikulnya. Sebab itu, Aku akan membagikan kepadanya rampasan diantara orang-orang besar, dan ia akan membagikan jarahan bersama orangorang kuat, karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut; juga karena ia terhitung di antara pemberontak, padahal ia menanggung dosa banyak orang, dan berdoa untuk pemberontakpemberontak.” Itu adalah perkataan langsung dari Allah sendiri, menyelesaikan misteri ayat 13 sampai 15 di pasal 52. Inilah pandangan Allah. Kata ganti “Aku” dan “Ku”; kata kerja dalam bentuk waktu yang akan datang; Allah secara pribadi berbicara, menubuatkan kenyataan yang suatu hari nanti akan diakui oleh bangsa Yahudi. Dia menubuatkan kematian dari Yang Benar. Dia menubuatkan bahwa Dia akan menyerahkan diri-Nya sampai mati. Dia menubuatkan bahwa kematian itu adalah kematian yang menanggung dosa—bahwa Dia akan menanggung dosa banyak orang, dan melalui itu Dia akan membenarkan banyak orang. Itulah doktrin pendamaian pengganti yang bersifat menggantikan—pembenaran melalui imputasi. Itulah doktrin agung yang telah diakui oleh generasi masa depan orang Yahudi dan oleh kita semua—dan Allah meneguhkannya. Allah meneguhkannya.

Allah meneguhkan keilahian Hamba-Nya ketika dalam ayat 11 Dia menyebut-Nya sebagai Orang Benar. Orang Benar. Saya akan jelaskan lebih lanjut tentang hal itu sebentar lagi. Dia meneguhkan kemanusiaan-Nya ketika Dia berbicara tentang Pribadi yang mencurahkan nyawa-Nya sampai mati dan termasuk di antara para pemberontak. Tetapi yang paling utama, Allah menegaskan penebusan pengganti yang mewakili dan kurban penghapus dosa, ketika dalam ayat 11 Dia berkata, “Ia akan menanggung kesalahan mereka,” dan dalam ayat 12, “Ia telah menanggung dosa banyak orang.” Bahkan, Allah meneguhkan kebangkitan-Nya karena “Ia akan mendapat bagian di antara orang-orang besar dan membagi rampasan dengan orang-orang kuat.” Ia juga menegaskan pelayanan perantaraan-Nya, doa syafaat-Nya, dalam kalimat terakhir: “Ia berdoa untuk para pemberontak.” Jadi, inilah firman dari Yahweh, firman dari TUHAN, yang menyatakan jawaban atas pertanyaan terbesar dalam hidup: Bagaimana seorang berdosa dapat diampuni sepenuhnya dan diperdamaikan dengan Allah, sehingga dilepaskan dari neraka kekal menuju surga kekal? Jawaban Allah adalah melalui kematian Dia yang Benar, yang mati menggantikan orang berdosa, membayar penuh hukuman atas dosa. Inilah peneguhan dari Allah.

Mari kita lihat lebih dekat lagi. Seperti yang telah saya katakan, Allah adalah Sang Juru Bicaranya—Yahweh, Allah Bapa kembali berbicara—dan Dia memperkenalkan Hamba-Nya sekali lagi. "Hamba-Ku," demikian Ia menyebut-Nya dalam ayat 11—dan itulah sebutan yang Ia gunakan ketika Dia memperkenalkan-Nya di Yesaya 52:13, “Hamba-Ku, hamba TUHAN”—gelar Mesianik yang sudah akrab bagi kita. Tetapi saya ingin menyoroti sebutan Yang Benar, Orang Benar itu. Hanya ada satu yang dapat menyandang gelar itu, satu-satunya di dunia ini, satu manusia, satu Pribadi yang dapat disebut Yang Benar. Dan ini adalah sebutan yang luar biasa dalam Perjanjian Lama bagi Sang Mesias yang begitu dikenal oleh orang-orang percaya Perjanjian Baru yang memahami Perjanjian Lama. Misalnya, Petrus menyampaikan khotbah yang luar biasa dalam Kisah Para Rasul pasal 3 dan dia mengutip gelar itu. Ia berkata, Allah Abraham, Ishak dan Yakub, Allah nenek moyang kita telah memuliakan Hamba-Nya, yaitu Yesus yang kamu serahkan dan tolak di depan Pilatus, walaupun Pilatus memutuskan untuk melepaskan Dia.  Tetapi kamu telah menolak Yang Kudus dan Benar”—Yang Benar. Dia satu-satunya Yang Benar.

Stefanus memberitakan khotbah yang luar biasa itu sebelum ia diremukkan di bawah lemparan berdarah dari batu-batu itu, dan dia berkata kepada orang-orang Yahudi, “Siapa dari nabi-nabi yang tidak dianiaya oleh nenek moyangmu?” Mereka membunuh orang-orang yang sebelumnya telah memberitakan tentang kedatangan Yang Benar. Orang yang Benar itu. Gelar itu telah menjadi gelar Mesianik. Dalam pasal ke-22, Paulus mengulangi kesaksiannya tentang peristiwa di jalan ke Damsyik, dan dia berkata, “Aku pergi ke rumah Ananias, dan Ananias berbicara kepadaku tentang Yang Benar.” Kembali lagi ke pasal 53. Allah juga menetapkan gelar ini di sini dengan menyebut Hamba-Nya sebagai Orang Benar, satu-satunya yang kudus, tanpa cela, tidak bercacat, terpisah dari orang berdosa, yang di dalam-Nya tidak ada dosa, yang tentang-Nya Allah berkata, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.”

Jadi di sini Allah sedang berbicara tentang Anak-Nya, Hamba-Nya, Yang Benar, dan Dia berkata, “Oleh pengetahuan-Nya Ia akan membenarkan banyak orang” — “banyak orang” itu berarti mereka yang percaya; “banyak orang” itu berarti umat Allah; “banyak orang” itu berarti mereka yang untuk dosa-dosanya Dia mati dan melakukan penebusan. Mereka akan dibenarkan; artinya, Dia akan menyediakan kebenaran bagi mereka. Dia, melalui pengorbanan-Nya, dengan menanggung dosa mereka, akan dapat menganugerahkan kebenaran-Nya kepada mereka. Kita memahami doktrin pembenaran ini, bahwa Dia mati — Dia yang Benar — untuk membenarkan banyak orang berdosa.

Frasa yang ingin saya tekankan, karena Anda mungkin sudah memahami bagian lainnya, adalah “oleh pengetahuan-Nya.” Pengetahuan siapa yang dimaksud di sini? Dalam bahasa Ibrani, ini bisa ditafsirkan dalam dua arah. Bisa berarti “oleh pengetahuan-Nya,” seperti yang tersirat dalam terjemahan NASB — yaitu pengetahuan sang Hamba, Yang Benar, bahwa Dia akan membenarkan banyak orang. Bisa jadi ini merujuk pada pemahaman-Nya akan rencana Allah, pada hikmat sempurna yang Dia miliki.

Yesaya menekankan dalam pasal 1 dan pasal 5 tentang kurangnya pengetahuan bangsa Israel. Dia juga membuat pernyataan yang sangat tegas dalam pasal 44 mengenai bangsa-bangsa yang tidak memiliki pengetahuan. Maka mungkin di sini maksudnya adalah, “Tetapi Yang Benar memiliki pengetahuan yang dibutuhkan untuk melakukan kehendak Allah dan untuk memberikan pembenaran bagi banyak orang.” Namun masalahnya adalah, bukan karena pengetahuan-Nya kita dibenarkan; melainkan karena apa? Karena kematian-Nya. Bahasa Ibrani memungkinkan kita untuk menerjemahkannya seperti ini: “Oleh pengetahuan akan Dia, Yang Benar, Hamba-Ku, Dia akan membenarkan banyak orang.” Pembenaran akan diberikan kepada mereka yang mengenal Dia — yang mengenal Dia. Maka penafsiran yang terbaik adalah bahwa ini merujuk pada pengenalan kita tentang Dia, tentang pribadi-Nya, karya-Nya, dan penyediaan-Nya melalui kematian dan kebangkitan-Nya, yaitu Injil. Di sini Allah meneguhkan Amanat Agung. Di sini Allah menyatakan bahwa Dia akan membenarkan banyak orang yang memiliki pengetahuan tentang Dia. Tidak ada keselamatan dalam nama lain. Tidak seorang pun datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.

Nah, dalam Roma 10, Paulus sedang merujuk pada kitab Yesaya ketika dia menulis, bahkan mengutip beberapa bagian dari Yesaya. Dan Paulus berkata demikian: “Siapa saja yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.” Tapi lalu dia berkata, “Bagaimana orang dapat berseru kepada Dia yang belum mereka percayai?” Mereka tidak bisa melakukannya. Lalu dia berkata, “Bagaimana orang dapat percaya kepada Dia yang belum pernah mereka dengar?” Dan kemudian dia berkata, “Bagaimana orang mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya?” Dan, “Bagaimana orang dapat memberitakan-Nya, jika tidak diutus?” Lalu muncul pernyataan yang luar biasa itu: “Alangkah menyenangkan kedatangan mereka yang membawa kabar baik!” Hanya mereka yang mengenal Dia yang dapat diselamatkan. Dan itulah yang dimaksud di sini, melalui pengenalan akan Dia, “Yang Benar, Hamba-Ku, Ia akan membenarkan banyak orang.” Itulah sebabnya kita pergi ke ujung bumi untuk memberitakan Injil. Itulah sebabnya kita memberitakan kepada setiap makhluk. Tidak ada cara lain bagi mereka untuk diselamatkan. Israel tidak diselamatkan hanya karena mereka orang Yahudi, atau karena mereka percaya kepada satu Allah. Mereka tidak akan diselamatkan sampai, baik secara pribadi di zaman gereja ini maupun nanti di akhir zaman, mereka memandang kepada Dia yang telah mereka tikam, menangisi-Nya, dan mengakui Dia sebagai Tuhan.

Inilah kesaksian Allah tentang pentingnya memberitakan pesan tentang Yesus Kristus sampai ke ujung bumi. Banyak orang, yaitu mereka yang untuknya Kristus telah mati, hanya dapat diselamatkan jika mereka mendengarnya, karena iman yang menyelamatkan – seperti tertulis dalam Roma 10 – datang dari pendengaran akan pemberitaan tentang Kristus. Iman datang dari pendengaran akan firman yang memberitakan Kristus. Itulah mandat kita, dan mandat itu diberikan kepada kita di sini oleh Allah sendiri. Maka di dalam pasal ini juga termuat Amanat Agung dan panggilan untuk beriman – iman yang didasarkan pada pengenalan akan pewahyuan Kristus yang sejati.

Lalu Allah berkata begini: Mengenal Dia dengan cara yang menyelamatkan, mengenal Dia dalam iman yang disertai pertobatan, akan membenarkan banyak orang. Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin mengenal Dia dapat membenarkan? Karena Dialah yang akan menanggung kesalahan mereka. Allah sendiri percaya kepada doktrin pembenaran. Allah percaya pada doktrin imputasi, karena Allah sendirilah yang menetapkannya.

Dia masih memiliki lebih banyak hal untuk disampaikan. Bagian kedua dari ayat 12, ini adalah firman dari Tuhan, Yahweh, yang kembali berbicara tentang Hamba-Nya, Orang Yang Benar: “Dia mencurahkan nyawa-Nya sampai mati.” Kata kerja yang digunakan di sini selalu menunjukkan kerelaan. “Dia mencurahkan nyawa-Nya sampai mati.” Seperti yang dikatakan kembali dalam ayat 7, “Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri disakiti.” Kita sudah membahas semuanya itu. Kerelaan-Nya tercermin dengan jelas di seluruh bagian Alkitab ini. Secara harfiah, artinya Dia menyerahkan jiwa-Nya kepada maut. Jadi Allah sedang menggemakan pengakuan yang telah kita baca dari bangsa Yahudi. Ya, Dia memang menyerahkan diri-Nya kepada maut. Lalu kemudian muncul pernyataan yang sangat indah ini: “Dan Ia terhitung di antara pemberontak.” Secara harfiah dalam bahasa Ibrani, itu berarti Dia membiarkan diri-Nya dimasukkan di antara para pelanggar hukum. Bahkan, Yesus mengutip bagian ini dalam Lukas 22:37 sebelum Ia sampai ke salib. Dia mengutip kata-kata ini secara langsung. Perkataan ini adalah rujukan kepada inkarnasi-Nya, bahwa Dia secara harfiah hidup di tengah-tengah para pelanggar. Dia tinggal di antara mereka. Dia berbaur di dunia ini. Dan dari penampilan luar, Dia tidak tampak berbeda dengan orang lain. Tidak ada lingkaran cahaya di atas kepala-Nya. Ia tidak berjalan melayang di atas tanah. Dia tidak memiliki rupa yang gagah atau keagungan. Tidak ada sesuatu pun dalam penampilan-Nya yang membuat-Nya tampak menarik. Dia terlihat seperti manusia pada umumnya. Dia berjalan seperti manusia lainnya. Dia berbicara dengan suara seperti suara manusia lainnya, Dia makan. Dia melakukan apa yang dilakukan oleh manusia.

Tidak ada apa pun pada diri-Nya yang membuat orang-orang langsung menyimpulkan bahwa Dia bersifat supranatural. Itulah salah satu masalah yang muncul ketika Dia melakukan mukjizat. Ada jarak yang sangat besar antara penampilan-Nya yang biasa dengan kuasa luar biasa yang Dia miliki, sehingga dalam ketidakpercayaan mereka, orang-orang akhirnya menyimpulkan bahwa kuasa itu berasal dari Setan yang entah bagaimana bekerja melalui Dia. Di sini Allah menegaskan inkarnasi. Di sini, Allah sendiri, dengan firman-Nya sendiri, menyatakan bahwa Dia turun dan membiarkan diri-Nya masuk ke dalam dunia manusia yang telah jatuh dalam dosa. Inilah yang dikatakan dalam Filipi pasal 2, bahwa Ia merendahkan diri-Nya, mengambil rupa seorang manusia, seorang hamba, dan menyerahkan diri-Nya kepada kematian, bahkan sampai mati di kayu salib.

Jadi, ini bukan semata-mata tentang kematian-Nya bersama para penjahat; melainkan fakta bahwa Dia datang untuk mengambil tempat di antara orang-orang berdosa. Dan meskipun Dia menjadi akrab dengan para pendosa, meskipun Dia dihitung sebagai manusia di antara para pelanggar, namun Dia sendiri mampu melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh manusia mana pun, yaitu menanggung dosa banyak orang. Walaupun Dia menyatu dengan para pendosa di dunia ini, Dia adalah satu-satunya yang memenuhi syarat untuk bangkit melampaui mereka dan menjadi kurban bagi dosa-dosa mereka. Dia adalah Yang Benar, Allah yang tertanam dalam kemanusiaan, Allah-manusia, dan Dia tampak seperti manusia pada umumnya, tetapi Dia mampu memikul dosa mereka. Dan seperti kambing yang dikirim ke padang gurun pada Hari Raya Pendamaian – Imamat 16 – Dia membawa dosa-dosa itu pergi, dan rujukan terhadap hal ini muncul beberapa kali dalam pasal ini, seperti yang sudah kita ketahui.

Dan kata terakhir dari Bapa tentang kematian dan bahkan kebangkitan-Nya – baris terakhir: “Ia berdoa untuk pemberontakpemberontak.” “Ia menjadi pengantara bagi para pelanggar.” Saya berharap para penerjemah dalam versi NASB menggunakan kata “menengahi.” Kata itu berarti menjadi pengantara. Artinya menjadi penengah, menjadi perantara, berdiri di antara dua pihak. Dan inilah pernyataan dari Allah, bahwa Kristus adalah Pribadi yang berada di antara Allah dan manusia. 1 Timotius 2:5 berkata, “Karena Allah itu esa dan esa pula pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus.” Ya, dalam peran sebagai perantara itu, Dia juga menjadi pendoa syafaat. Dia adalah Pribadi yang membela perkara kita. Dialah jembatan menuju Allah, jembatan menuju surga. Dia membuat perantaraan itu menjadi mungkin melalui kematian-Nya. Peran perantara-Nya bagi kita sebenarnya sudah dimulai dalam Perjanjian Baru, di Yohanes 17, sebelum Dia sampai ke salib, ketika Dia menaikkan Doa Imam Besar itu, di malam Dia dikhianati. Dia mulai berdoa bagi kita. Dia mulai memohon dalam doa yang luar biasa itu agar Allah membawa kita semua ke surga, agar semua yang menjadi milik-Nya sepanjang sejarah manusia dikumpulkan bersama dan dibawa ke dalam kemuliaan, agar mereka dapat melihat Dia dalam kemuliaan-Nya dan melihat kemuliaan Bapa. Dan saat itulah Dia mulai menjadi pendoa syafaat bagi mereka yang menjadi tujuan kematian-Nya.

Namun ada catatan penting dalam bahasa Ibrani mengenai kata kerja “berdoa”. Kata kerja ini berbentuk imperfektif, yang berarti tindakan yang terus berlangsung – terus-menerus. Semua kata kerja sebelumnya berbentuk perfektif, yang berarti tindakan yang sudah selesai dilakukan. Jika kita melihat kembali tiga kata kerja sebelumnya: “Ia menyerahkan nyawa-Nya sampai mati” – itu adalah tindakan yang sudah selesai; Ia melakukannya satu kali. “Ia terhitung di antara para pelanggar” – itu adalah inkarnasi-Nya; terjadi satu kali. “Ia menanggung dosa banyak orang” – itu Ia selesaikan di kayu salib dan tidak akan pernah diulang lagi. Semua itu adalah tindakan yang selesai dan sempurna. Namun perantaraan-Nya berbentuk imperfektif karena masih terus berlangsung. “Ia hidup senantiasa untuk menjadi pengantara bagi kita.” Ia selalu menjadi pembela kita. Ia terus-menerus menjadi perantara kita. Ia senantiasa dan untuk selamanya menjadi pengantara kita sampai akhirnya kita tiba di surga. Ibrani 7:25 dan Roma 8:34 menyatakan sukacita atas karya Kristus yang terus menjadi pengantara dan pembela bagi kita.

Jadi, Allah sendiri, dalam bagian ini, menegaskan bahwa pengorbanan Kristus yang menggantikan dan menjadi korban substitusi adalah satu-satunya persembahan yang dapat memuaskan keadilan-Nya, memberikan keselamatan bagi orang berdosa, dan membawa pembenaran bagi mereka. Artinya, mereka dinyatakan benar oleh Allah. Hal itu hanya terjadi kepada mereka yang mengenal Dia. Mengenal Dia adalah cara bagaimana pembenaran itu terjadi secara pribadi. Maka, pengetahuan akan Dia menjadi sangat penting. Hal ini menjadi mandat bagi kita untuk menyebarkan pengetahuan tentang Dia ke seluruh dunia. Dan inilah pengakuan yang suatu hari akan diucapkan oleh bangsa Yahudi. Inilah pengakuan yang sudah saya dan saudara-saudari ucapkan. Dan inilah pengakuan yang Allah sendiri teguhkan.

Akhirnya kita sampai pada kata terakhir, yaitu ayat 12. Kita telah melihat sang Hamba yang mengejutkan, sang Hamba yang dihina, kita telah melihat sang Hamba yang menjadi pengganti, sang Hamba yang diam, sang Hamba yang disembelih, dan sekarang inilah sang Hamba yang berdaulat. Dimulai dari ayat 12: “Sebab itu, Aku akan membagikan kepadanya rampasan diantara orang-orang besar, dan ia akan membagikan jarahan bersama orangorang kuat.” Kebangkitan tentu saja tersirat di sini karena Dia sekarang akan menerima upahnya. Setelah penderitaan, datanglah kepuasan. Setelah kesedihan, keselamatan. Setelah kematian, kelepasan. Setelah darah, kemuliaan. Setelah derita, sukacita. Setelah mahkota duri, takhta. Setelah salib, mahkota. Kedatangan-Nya yang pertama dalam kerendahan; Kedatangan-Nya yang kedua dalam kemuliaan.

Jadi, teks ini berakhir pada kedatangan Kristus yang kedua. Teks ini berakhir di tempat yang sama seperti saat dimulai, dalam Yesaya 52:13: Ia akan berhasil, ditinggikan, disanjung,d dimuliakan, mengejutkan bangsa-bangsa, dan membungkam para raja. Teks ini diakhiri dengan kemenangan dan arak-arakan kejayaan, ketika Tuhan Allah sendiri menempatkan Hamba-Nya di atas takhta dan memberikan kepada-Nya seluruh rampasan kemenangan-Nya. Dia ditinggikan, Dia mulia, Dia didudukkan di atas takhta. Inilah Wahyu 11, ketika kerajaan-kerajaan dunia menjadi kerajaan Tuhan kita dan Kristus-Nya. Inilah Wahyu 19, ketika Dia datang menunggang kuda putih bersama semua orang kudus untuk menghakimi dan memerangi orang-orang fasik, lalu mendirikan Kerajaan-Nya yang mulia di bumi selama seribu tahun, dilanjutkan dengan langit dan bumi yang baru yang kekal, di mana Dia memerintah dan ditinggikan selama-lamanya. Inilah gambaran kerajaan yang penuh kuasa. Inilah gambaran pahlawan yang menaklukkan, yang kembali membawa seluruh rampasan kemenangan-Nya. Setelah mengalahkan semua kekuatan yang memusuhi-Nya dan mempermalukan semua raja kecil, Dia datang sebagai pemenang.

Dan Allah menyatakan dua hal tentang Dia: “Aku akan memberikan bagian kepada-Nya bersama orang-orang besar” dan “Ia akan membagi rampasan dengan orang-orang kuat.” Ini adalah pernyataan yang luar biasa. Kita mungkin mengharapkan Dia berkata, “Aku akan memberikan segalanya kepada-Nya.” Dan itu memang benar. “Aku akan meninggikan Dia.” Seperti yang dikatakan Paulus dalam Filipi, “Aku akan memberikan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus setiap lutut bertelut.” Dan nama itu, omong-omong, bukan Yesus; melainkan nama Yesus - Tuhan—itulah nama yang membuat kita sujud.

Kita akan mengerti jika Dia berkata, “Aku akan memberikan segalanya kepada-Nya,” dan memang Dia akan memberikan segalanya kepada-Nya, tetapi penekanannya di sini bukan soal pemberian penuh itu. Penekanan di sini adalah tentang berbagi. “Aku akan membagikan kepadanya rampasan diantara orang-orang besar, dan ia akan membagikan jarahan bersama orangorang kuat.” Siapa orang-orang besar dan orang-orang kuat itu? Orang-orang itu adalah kita. Bagaimana kita bisa menjadi besar dan kuat, padahal kita tidak berarti dan lemah? Sebenarnya, kata “besar” di sini dalam bahasa Ibrani adalah harabim, yang secara harfiah berarti “banyak orang”—orang banyak—orang banyak yang telah dibenarkan oleh-Nya. Kita sudah melihat kata “banyak” itu sebelumnya. Dia akan membenarkan banyak orang, di akhir ayat 12 disebutkan, “Ia menanggung dosa banyak orang.” Inilah orang banyak itu. Maka dari itu, Aku akan memberikan bagian kepada-Nya bersama banyak orang.

Lalu, mengapa penerjemah menerjemahkannya dari "banyak" menjadi "besar"? Karena pada saat itu, kita telah dijadikan besar. Anda mungkin bertanya, “Apakah kita akan ditinggikan?” Ya, benar. Kita akan menjadi ahli waris Allah – Roma 8:17 – dan ahli waris bersama dengan Kristus. Segala sesuatu yang dimiliki-Nya akan menjadi milik kita juga. Bukankah ini adalah anugerah Allah yang luar biasa? Bahwa kita tidak akan duduk dalam kekekalan sebagai orang yang miskin, menyaksikan Kristus menikmati semua upah-Nya sendirian, melainkan segala sesuatu yang dimiliki-Nya juga menjadi milik kita. Inilah besarnya anugerah Allah. Ia membagi rampasan dengan orang-orang kuat. Siapa orang-orang kuat itu? Mereka adalah orang-orang lemah yang dijadikan kuat. Kita adalah orang banyak yang dijadikan besar dan orang lemah yang dijadikan kuat. Kita adalah orang-orang yang menang—itulah artinya. Kita berbaris di belakang-Nya dalam kemenangan.

Saya berharap saya punya waktu untuk membuka kitab Korintus, di mana Paulus berkata, "Kristus selalu memimpin kami di jalan kemenangan-Nya." Semua rampasan yang Kristus menangkan di kayu salib, semua orang tebusan sepanjang zaman akan menjadi bagian dari persekutuan kekal yang akan memperkaya hidup kita. Segala sesuatu yang dimiliki-Nya – kemuliaan kekal dari langit dan bumi yang baru – akan menjadi milik kita juga. Kita akan memerintah di bumi dalam Kerajaan Seribu Tahun bersama dengan Dia. Kita akan duduk di takhta bersama dengan Dia. Dan kita akan memerintah sampai selama-lamanya bersama Dia dalam kemuliaan langit baru dan bumi baru. Dan segala sesuatu yang menjadi milik-Nya akan menjadi milik kita juga.

Jadi janji dalam kitab Yesaya adalah bahwa suatu generasi Israel di masa depan akan diselamatkan pada akhirnya, dan inilah pengakuan mereka. Dan Allah sendiri meneguhkan bahwa pengakuan ini adalah pemahaman yang benar tentang karya Kristus di kayu salib. Tetapi pengakuan ini harus menjadi pengakuan Anda. Bertobatlah dari dosa Anda, ketahuilah apa yang telah Kristus lakukan, terimalah Dia dalam iman sebagai pengganti yang mengambil tempat Anda, akuilah Dia sebagai Tuhan yang telah bangkit – maka Anda akan diselamatkan. Anda akan diselamatkan. Siapa pun yang berseru kepada nama-Nya akan diselamatkan dan luput dari neraka kekal serta masuk ke surga yang kekal. Inilah satu-satunya pertanyaan yang memiliki jawaban yang menentukan nasib Anda untuk selama-lamanya.

Mari kita tundukkan kepala dan berdoa. Bapa kami, kami bersyukur untuk Firman-Mu. Firman-Mu begitu kuat dan menusuk hati. Terima kasih karena telah memberikan kepada kami penglihatan yang luar biasa tentang salib Kristus. Sekarang, ketika kami datang ke meja perjamuan ini, kami mohon agar Engkau bekerja dalam hati kami, agar kami mengakui setiap dosa yang ada dalam hidup kami, segala sesuatu yang menjadi penghalang antara kami dan Engkau. Dan bagi mereka yang belum mengenal Kristus, kiranya inilah saatnya Engkau membangunkan hati mereka dan membawa mereka untuk menerima Sang Juruselamat sebagai satu-satunya pengharapan mereka. Kiranya ini menjadi waktu pujian dan penyembahan, sekaligus waktu untuk pengakuan dosa dan pertobatan kami.

SELESAI

This sermon series includes the following messages:

Please contact the publisher to obtain copies of this resource.

Publisher Information
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969

Welcome!

Enter your email address and we will send you instructions on how to reset your password.

Back to Log In

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize
View Wishlist

Cart

Cart is empty.

Subject to Import Tax

Please be aware that these items are sent out from our office in the UK. Since the UK is now no longer a member of the EU, you may be charged an import tax on this item by the customs authorities in your country of residence, which is beyond our control.

Because we don’t want you to incur expenditure for which you are not prepared, could you please confirm whether you are willing to pay this charge, if necessary?

ECFA Accredited
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Back to Cart

Checkout as:

Not ? Log out

Log in to speed up the checkout process.

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize