Kita sudah berbicara tentang Injil menurut Paulus, Injil yang dia ajarkan, dan saya akui kepada Anda bahwa ini merupakan tantangan besar bagi saya untuk mencoba merangkum semuanya hanya dalam beberapa pokok saja. Sejujurnya saya agak bimbang, berubah-ubah pikiran di sana-sini, jadi mohon Anda bersabar sedikit dengan saya. Malam ini saya ingin Anda membuka Alkitab Anda kembali di 2 Korintus pasal 5. Kita sudah berbicara tentang kemuliaan Injil, kita juga sudah berbicara tentang hakekat Injil dalam dua sesi pagi ini, dengan menggali lebih dalam doktrin pembenaran. Bahwa hakekat Injil adalah kebenaran Allah yang harus turun kepada manusia, diterima melalui iman, dan itu adalah anugerah semata—dan begitulah caranya keselamatan terjadi. Itulah yang sudah kita bahas.
Injil ini adalah Injil yang mulia. Inilah Injil yang menggantikan, seperti yang kita lihat pagi tadi. Malam ini kita akan melihat sedikit lebih jauh tentang hal itu. Tetapi saya ingin Anda memahami konsep pendamaian ini. Ini adalah Injil yang mendamaikan. Injil mendamaikan orang berdosa dengan Allah. Ada sebuah bagian di akhir pasal 5 yang sangat penting dalam memahami Injil Paulus—Injil Yesus Kristus, Injil Allah yang penuh berkat, Injil damai sejahtera, anugerah, dan keselamatan—yang oleh Paulus disebut sebagai injilku bahkan juga injil kita.
Saya ingin Anda mulai dengan melihat ayat 18. “Semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami. Sebab di dalam Kristus, Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya tanpa memperhitungkan pelanggaran mereka dan Dia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami. Jadi, kami ini utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: Berilah dirimu didamaikan dengan Allah. Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.” Lima kali dalam bagian ini kata pendamaian muncul. Anda melihatnya sendiri. Ayat 18: “Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami.” Ayat 19: “Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya, mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami.” Ayat 20: “Berilah dirimu didamaikan dengan Allah.” Semuanya berbicara tentang pendamaian.
Kata pendamaian itu mengasumsikan adanya keterasingan. Bukan begitu? Pendamaian mengasumsikan adanya permusuhan, kebencian. Pendamaian mengasumsikan bahwa manusia adalah musuh—bahkan musuh yang kejam. Dan karena itu pendamaian perlu terjadi. Nah, Anda akan melihat bahwa Paulus mengatakan kita telah diberikan pelayanan pendamaian. Dan untuk melaksanakan pelayanan itu, kita telah diberikan Firman pendamaian. Pesan kita adalah pesan pendamaian, sebuah berita pendamaian. Bagaimana kita harus memahami pendamaian ini? Nah, dalam bagian ini—bukan hanya pada ayat 18 sampai 21, tetapi juga kalau kita mundur sedikit—kita menemukan apa yang menurut saya adalah inti dari pemahaman Injil sebagai pendamaian. Kita telah diberikan pelayanan pendamaian. Kita telah menerima pesan tentang pendamaian. Dan hal ini, menurut ayat 20, merupakan hakekat dari tugas kita sebagai duta. Seorang duta adalah wakil dari seorang raja yang ditempatkan di dalam budaya asing untuk mewakili raja itu. Demikian juga dengan kita: kita mewakili sang Raja segala raja, dan kita berada di tengah budaya yang asing. Tanggung jawab kita adalah memberitahu orang-orang di dalam budaya asing ini—yang secara kodratnya adalah musuh Allah—bahwa mereka dapat didamaikan dengan Allah. Itulah pesan kita. Itulah pesan kita.
Kadang-kadang ketika saya sedang naik pesawat, ada orang yang duduk di sebelah saya dan bertanya apa pekerjaan saya. Saya ingat pernah menjawab pertanyaan itu dalam sebuah penerbangan dari New York ke Los Angeles, dan saya berkata, “Saya seorang pemberita Injil.” Orang yang duduk di sebelah saya itu—yang tubuhnya ditindik di segala tempat yang bisa ditindik—mungkin ketakutan, karena setelah itu dia bangkit dari kursinya dan tidak pernah kembali lagi. Padahal itu penerbangan lima jam. Jadi saya belajar untuk tidak selalu blak-blakan. Namun di lain kesempatan, saya kadang berkata begini: “Oh, saya punya pekerjaan yang luar biasa. Saya memberitahu orang berdosa bahwa mereka bisa didamaikan dengan Allah. Apakah Anda tertarik?” Itu yang disebut langsung pada intinya. Tetapi memang itulah yang saya lakukan. Itulah yang kita lakukan. Pesan kita adalah bahwa orang berdosa bisa didamaikan dengan Allah. Bahwa Allah adalah Allah yang mendamaikan, yang telah menyediakan jalan pendamaian, dan pesan pendamaian itu adalah tanggung jawab setiap duta Kristus. Pendamaian mengasumsikan adanya keterasingan, permusuhan, relasi yang penuh permusuhan—tetapi relasi itu dapat diubah menjadi pendamaian yang penuh dan sempurna.
Nah, selagi kita melihat bagian ini, saya ingin menunjukkan kepada Anda beberapa elemen dari pelayanan pendamaian. Beberapa elemen dari realitas pendamaian. Dan untuk itu, kita harus mundur ke ayat 14 dan mengambil beberapa hal yang ada di sana. Dengan kembali ke ayat 14, saya ingin mengatakan bahwa komponen pertama dari pendamaian adalah bahwa pendamaian itu digerakkan oleh kasih Allah. Pendamaian dimotivasi oleh kasih Allah. Saya seharusnya tidak perlu terlalu banyak membahas hal ini, karena Anda semua sudah sangat akrab dengan fakta bahwa Allah begitu mengasihi dunia, bukan? Sehingga Ia memberikan. Inilah kasih itu: bukan kita yang mengasihi Allah, tetapi bahwa Dialah yang telah mengasihi kita dan mengutus Anak-Nya menjadi pendamaian bagi dosa-dosa kita. Ketika kita masih seteru, Paulus berkata, Dia telah mengasihi kita. Dalam ayat 14 Paulus menegaskan hal ini: “Kasih Kristus menguasai kami.” Kata kerja itu berarti memberi tekanan pada sesuatu untuk menghasilkan suatu tindakan. Bahkan bisa diterjemahkan juga sebagai: kasih Kristus memerintah atas kami. Saya sebenarnya menyukai kata mengendalikan seperti dalam Alkitab versi NAS (New American Standard). Paulus tidak sedang berbicara tentang kasihnya kepada Kristus, melainkan tentang kasih Kristus kepadanya. Apa yang mendorong Paulus? Kita sudah melihat bahwa dia memahami kemuliaan Injil, bukan? Dari 2 Korintus kita telah membahas hal itu. Kita memahami kemuliaan Injil yang melampaui segalanya dan termotivasi oleh keagungan yang tiada tara. Nah, dia juga mengalami kasih Kristus. Kristus telah meletakkan klaim keselamatan atas hidup Paulus sedemikian rupa sehingga dia begitu dikuasai oleh kasih yang menyelamatkan itu, sampai-sampai dia tidak bisa hidup untuk hal lain selain memberitakan Injil kasih yang menyelamatkan itu.
Kasih Kristus yang menyelamatkan itu mengendalikan Paulus, mendominasi dia, memotivasi dia, memerintah dia. Dan Paulus tidak melihatnya dengan cara yang pribadi semata. Dia tidak melihatnya dengan cara yang egois. Tidak juga dengan cara yang terpisah. Karena dia berkata dalam ayat 15: “Kristus telah mati untuk semua orang.” Apa yang Allah telah lakukan bagi saya melalui kasih-Nya, apa yang Kristus telah lakukan bagi saya melalui kasih yang begitu agung, menyelamatkan, mengampuni, dan penuh anugerah itu, bukan hanya untuk saya. Dia mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, melainkan untuk Dia yang telah mati dan dibangkitkan bagi mereka.
Apa yang menggerakkan Paulus? Apa yang mendorong dia? Apa yang memotivasinya? Bukan hanya kemuliaan Injil dalam arti yang luas, tetapi kemuliaan Injil itu terikat pada fakta bahwa Injil adalah ekspresi kasih Allah yang begitu agung kepada seorang pendosa yang tidak layak—seperti dirinya yang mengakui bahwa dia adalah seorang penghujat. Dan dia menyadari bahwa kasih yang Allah berikan kepadanya di dalam Kristus—yang telah sepenuhnya mengubah hidupnya—bukan hanya untuk dia, melainkan Kristus mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup tidak lagi hidup bagi dirinya sendiri, tetapi bagi Dia yang telah mati dan dibangkitkan bagi mereka. Dia mati untuk semua orang.
Apa maksudnya untuk semua orang? Dia mati untuk semua orang yang percaya kepada-Nya. Semua yang percaya kepada-Nya. Dia mati dan bangkit bagi mereka. Di akhir ayat 14 dikatakan: “Satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati.” Saya tidak ingin menjadi terlalu teknis di sini; maksudnya adalah bahwa Dia mati untuk semua orang yang mati di dalam Dia. Dia mati untuk semua orang yang mati di dalam Dia. Itu tidak berarti bahwa Dia mati untuk seluruh dunia. Jika Kristus benar-benar mati bagi seluruh dunia, maka seluruh dunia pasti diselamatkan. Apakah Anda mengerti? Jika Kristus benar-benar membayar lunas hukuman untuk seluruh dunia, maka seluruh dunia harus diselamatkan, karena hukumannya sudah dibayar. Ada orang yang mengajarkan bahwa Dia mati bagi seluruh dunia, dan kalau Anda mengajarkan bahwa Dia mati bagi seluruh dunia—semua orang yang pernah hidup—maka kematian-Nya hanyalah kematian yang potensial (mungkin terjadi) dan bukan kematian yang nyata. Itu berarti pendamaian-Nya adalah pendamaian yang potensial, bukan pendamaian yang nyata. Jika Anda mengatakan bahwa Dia mati bagi semua orang secara umum, maka sesungguhnya Dia tidak mati bagi siapa pun secara khusus.
Itulah masalahnya. Kristus mati bagi semua orang yang mati di dalam Dia. Dia mati dan bangkit bagi semua orang yang mati di dalam Dia, yang dinyatakan melalui iman mereka. Inilah pendamaian yang nyata. Kristus benar-benar menanggung dosa-dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, benar-benar membayar lunas hukuman itu. Kematian-Nya bukanlah kematian yang mungkin saja terjadi, melainkan kematian yang sungguh-sungguh nyata. Kematian-Nya bukan sekadar membuat keselamatan mungkin terjadi, melainkan membuat keselamatan itu pasti terjadi. Kematian Kristus adalah kematian bagi umat-Nya, orang-orang pilihan-Nya yang akan percaya. Dialah yang menanggung hukuman dosa mereka.
Anda mungkin berkata, “Kedengarannya seperti predestinasi.” Betul sekali. Saya tahu Anda ingin mengajukan pertanyaan itu. Semua orang pasti punya pertanyaan itu. Jadi besok saya akan berbicara tentang bagaimana pandangan Paulus mengenai predestinasi itu berkaitan dengan hasrat Injilnya. Oke? Kita akan membahasnya besok pagi. Baiklah.
Paulus menyadari bahwa anugerah keselamatan yang penuh kasih, yang telah diberikan kepadanya dan yang menguasai hidupnya, tidak bisa dia simpan untuk dirinya sendiri. Karena Kristus telah mati bagi semua orang yang mati di dalam Dia—termasuk mereka yang pada saat itu bahkan belum lahir, yang belum mendengar berita Injil, tetapi yang kelak akan mendengarnya, percaya, dan diselamatkan. Yang menguasai hidup Paulus adalah kasih yang Allah tunjukkan kepadanya di dalam Kristus, kasih yang menebusnya dari kebinasaan dan dari hukuman kekal. Kasih itu mengambil alih hidupnya, karena dia tahu bahwa dirinya dipanggil untuk menjadi alat untuk membawa pesan kasih itu kepada sebanyak mungkin orang yang bisa dijangkaunya.
Jadi, seluruh hidup Paulus berubah. Perhatikan ayat 16, apa yang ia katakan: “Sebab itu, kami tidak lagi menilai seorang pun juga menurut ukuran manusia.” Anda mengerti maksudnya? Apa yang terjadi dalam hidup Paulus? Tiba-tiba saja dia tidak lagi memandang orang dari sisi luarnya. Dia tidak melihat orang hanya sebagai makhluk jasmani. Dia tidak hanya melihat penampilan luar mereka. Ia tidak lagi tertarik pada rupa mereka atau pada perilaku lahiriah mereka. Itu bukan lagi cara dia menilai manusia. Dia berkata di ayat 16, “Sebab itu, kami tidak lagi menilai seorang pun juga menurut ukuran manusia.” Kita tidak menghakimi orang hanya dari apa yang bisa kita lihat dan alami dari kehidupan jasmani mereka. Lalu Paulus menambahkan: “Memang kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia.” Ada waktu ketika Paulus hanya mengenal Kristus secara lahiriah. Dan apa kesimpulannya waktu itu? Bahwa Yesus adalah seorang penghujat. Bahwa Dia seorang penipu. Bahwa Dia mesias palsu. Bahwa Dia masalah besar bagi Yudaisme. Bahwa Dia pantas disalibkan, dan para pengikut-Nya pantas dibunuh. Ingat peristiwa ketika Stefanus dirajam? Siapa yang berdiri di sana dan menjaga jubah orang-orang yang melempari Stefanus? Paulus. Dia pernah menilai Kristus hanya secara lahiriah, dan itu terbukti sepenuhnya salah. Tetapi sekarang, dia berkata: “Kami tidak lagi mengenal Dia dengan cara itu.” Seluruh pandangannya tentang Kristus berubah sejak peristiwa di jalan menuju Damsyik. Dia tidak lagi melihat orang hanya dari sisi luarnya. Dan yang paling buruk dari cara pandang lamanya—cara pandang seorang Farisi, seorang penganut agama palsu, seorang yang terhilang—adalah bagaimana dia salah menilai Kristus. Betapa kelirunya dia! Sekarang ia berkata: “Aku melihat setiap orang dari sudut pandang rohani.” Begitu juga dengan Anda, bukan? Anda mengerti maksudnya?
Anda tahu, kalau Anda punya anak-anak yang belum mengenal Tuhan, mereka bisa saja berdandan rapi, tampil baik, lalu keluar rumah—tetapi hati Anda tetap bisa hancur. Semua bisa tampak sempurna dari luar, tapi yang Anda pedulikan adalah hati mereka, bukan? Atau mungkin Anda punya pasangan hidup yang menarik dari luar, tetapi tidak mengenal Kristus—Anda bisa melihat melampaui penampilan itu. Kita tidak menilai dunia seperti dunia menilai dirinya sendiri.
Beberapa tahun lalu saya berada di Gedung Putih, berbicara dengan staf di sana, dan saya berkata, “Kalian tahu, kalian punya masalah di sini.” Saya bilang, “Dan itu bukan masalah seperti yang kalian pikirkan.” Saya berkata, “Kalian begitu sibuk,” —ini terjadi di masa pemerintahan Bush— “begitu sibuk memastikan bahwa kalian menyerang Partai Demokrat, menyerang lawan-lawan kalian, sampai-sampai kalian menjadikan ladang misi sebagai musuh kalian. Itu tidak boleh. Mungkin kalian tidak suka dengan politik mereka, tetapi kalian tidak bisa memandang mereka secara lahiriah. Mereka itu ladang misi.” Begitulah cara Paulus memandang dunia. Dan begitulah seharusnya cara setiap orang percaya memandang dunia. Paulus mengatakan ini dengan kata-kata yang sudah sangat kita kenal dalam ayat 17: “Jadi, siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: Yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” Dan kata kuncinya di sini adalah “siapa”. Siapa pun. Saya tidak tahu siapa saja orang-orang yang mati di dalam Kristus—mereka yang benar-benar sudah dibayar lunas oleh-Nya—saya tidak tahu siapa mereka. Tetapi yang saya tahu adalah bahwa siapa pun yang percaya termasuk dalam kelompok itu. Dan siapa pun yang ada di dalam Kristus adalah ciptaan baru.
Karena itulah Paulus terdorong masuk ke dalam pelayanan pendamaian—sebab dia sendiri mengalami secara pribadi kasih Allah di dalam Kristus yang diberikan kepadanya, yang membawa transformasi rohani dalam jiwanya, mengubah tujuan kekalnya, dan menganugerahkan kepadanya kebenaran Allah sebagai ganti kebenaran manusia yang sia-sia dan mendatangkan hukuman. Itulah yang kemudian menjadi gairah hidupnya. Kasih Kristus itulah yang menguasai Paulus—dan juga semua orang yang bersamanya, termasuk kita. Perhatikan kata ganti yang dipakai dalam ayat 14: “kami.” Kita semua dikuasai oleh kenyataan bahwa kita telah dijadikan ciptaan baru oleh kasih Allah di dalam Kristus, dan hal ini tidak bisa dibatasi hanya untuk kita. Setiap orang yang ada di dalam Kristus adalah ciptaan baru. Karena itu kita tidak lagi melihat orang dengan cara yang lama. Kalau Anda bertanya kepada Paulus, dia akan berkata: “Di dalam Kristus tidak ada lagi laki-laki atau perempuan, budak atau orang merdeka, orang Yahudi atau orang bukan Yahudi.” Tidak ada lagi perbedaan. Paulus melihat semua orang sebagai jiwa yang kekal.
Saya yakin Anda juga mengalaminya. Saya sendiri begitu. Ketika saya bertemu dengan seseorang—siapa pun dia, entah saya kenal atau tidak—yang saya lihat bukan hanya orangnya, tetapi jiwa mereka. Yang memenuhi pikiran saya adalah jiwa mereka. Kita tidak lagi mengenal orang hanya di permukaan saja. Kita hidup di dunia yang penuh dengan jiwa-jiwa yang terhilang. Mereka ada di sekitar kita. Mungkin Anda tidak suka pandangan politik mereka, tidak suka dengan tingkah laku mereka, tidak suka dengan status sosial mereka, bahkan tidak suka dengan kepribadian mereka. Tapi Anda harus melihat lebih dalam daripada itu, karena untuk sebagian dari mereka, Kristus telah mati dan membayar penuh hukuman dosa mereka. Dan mungkin Anda—jika Anda mau dipakai—akan menjadi alat yang dipakai Tuhan untuk membawa mereka kepada keselamatan yang sudah direncanakan bagi mereka sejak sebelum dunia dijadikan. Kita telah diberikan pelayanan pendamaian. Itulah inti dari tanggung jawab kita sebagai orang percaya, dan itulah cara Paulus memandang hidupnya. Pelayanan kita adalah mendamaikan manusia dengan Allah—mendamaikan para pria dengan Allah, mendamaikan para wanita dengan Allah—memberitakan Kabar Baik bahwa hubungan permusuhan, kebencian, dan keterasingan antara Allah dan manusia bisa diubah sepenuhnya. Dan tentu saja, bagian dari pemberitaan itu adalah menjelaskan bahwa memang benar ada keterasingan antara manusia dan Allah. Itulah Kabar Baiknya: bahwa orang berdosa bisa didamaikan dengan Allah Yang Mahakuasa.
Saya selalu ingat pengalaman ini. Mungkin Anda pernah mendengarnya di kaset atau di tempat lain. Saya sedang naik pesawat Southwest Airlines menuju El Paso, duduk di kursi tengah yang paling tidak nyaman. Saya terjepit di situ, dan sedang bersiap-siap untuk konferensi pria di Pusat El Paso Civic. Saya membuka Kitab Perjanjian Baru kecil saya dan menuliskan beberapa catatan tentang apa yang akan saya bagikan. Di sebelah saya duduk seorang pria Arab, saya bisa langsung mengenalinya. Saat saya sedang melihat ke Kitab Perjanjian Baru saya, pesawat baru saja mengudara, lalu beberapa menit kemudian dia menoleh kepada saya dan berkata, “Permisi, Pak. Apakah itu Alkitab?” Saya menjawab, “Ya, ini Alkitab.” Lalu dia berkata, “Bolehkah saya bertanya sesuatu?” Saya menjawab, “Tentu saja.” Dia berkata, “Saya berasal dari Iran, saya baru di Amerika. Saya sedang dalam proses imigrasi dan saya tidak mengerti tentang agama di Amerika. Di negara saya semua orang Muslim, semua orang. Tapi saya tidak mengerti agama di Amerika. Bisakah Bapak menjelaskan kepada saya perbedaan antara Katolik, Protestan, dan Baptis?” Jadi dia sudah pernah mendengar tentang tiga kategori itu. Saya jawab, “Ya, saya bisa menjelaskannya.” Lalu saya memberikan gambaran sederhana: Katolik adalah bentuk agama yang bersifat sakramental, penuh upacara, dan sebagainya. Protestan muncul sebagai protes terhadap hal itu, dengan menekankan kembali hubungan pribadi dengan Allah melalui Kristus. Dan saya masukkan Baptis ke dalam kategori Protestan, sebagaimana seharusnya.
Dia berkata, “Terima kasih, terima kasih banyak.” Lalu saya bertanya kepadanya, “Bolehkah saya menanyakan sesuatu?” Dia menjawab, “Tentu saja.” Saya sebenarnya sudah tahu jawabannya, tetapi ingin mendengarnya langsung darinya, jadi saya bertanya, “Apakah orang Muslim punya dosa?” Dia menjawab, “Oh, apakah kami punya dosa? Kami punya begitu banyak dosa; saya bahkan tidak tahu semua jenis dosanya.” Saya bertanya lagi, “Lalu, apakah Anda melakukannya?” Dia menjawab, “Sepanjang waktu.” Kemudian dia berkata, “Saya terbang ke El Paso untuk berbuat dosa.” Saya agak terkejut dan bertanya, “Serius?” Dia menjawab, “Ya, saya bertemu dengan seorang perempuan ketika mengurus imigrasi, dan kami akan bertemu di sana untuk melakukan dosa.” Ini informasi yang lebih dari yang sebenarnya saya perlukan, tetapi saya lanjut bertanya, “Bagaimana perasaan Allah tentang dosa-dosa Anda?” Dia berkata, “Oh, sangat buruk. Saya bisa masuk neraka.” Saya bertanya, “Kalau begitu, mengapa Anda tidak berhenti melakukannya?” Dia menjawab, “Saya tidak bisa.” Saya berkata, “Jadi Anda terus berbuat dosa yang bisa membuat Anda masuk neraka kekal?” Dia pun berkata, “Saya berharap Allah akan mengampuni saya.” Dan tanpa saya pikirkan sebelumnya, saya langsung berkata, “Saya mengenal Dia secara pribadi, dan saya bisa katakan kepada Anda—Dia tidak akan mengampuni begitu saja.”
Ia menatap saya dengan heran, seakan berpikir dalam benaknya, “Bagaimana mungkin Anda mengaku mengenal Allah secara pribadi tapi duduk di kursi tengah pesawat Southwest?” Saya berkata kepadanya, “Saya sungguh mengenal Dia secara pribadi, dan Dia tidak akan begitu saja mengampuni.” Dia menjawab, “Tapi saya berharap Dia akan melakukannya.” Saat itu saya berkata, “Saya punya kabar baik untuk Anda. Saya tahu bagaimana Anda bisa didamaikan sepenuhnya dengan Allah, bagaimana Anda bisa diampuni dengan sempurna, menjadi sahabat Allah dan anak Allah, serta menerima segala sesuatu yang dimiliki-Nya sebagai pemberian bagi diri Anda.” Dia belum pernah mendengar hal seperti itu seumur hidupnya, karena dalam Islam tidak ada konsep penebusan. Saya pun menjelaskan Injil kepadanya. Dia tidak langsung meresponi Kristus, tetapi saya yakin akhir pekannya berubah total dan mungkin membuat seorang perempuan kebingungan, tidak tahu apa yang terjadi. Saya memberinya banyak materi, mengirimkannya beberapa bahan tambahan, dan memberitahu ke gereja mana dia bisa pergi di kota tempat dia tinggal, meski sampai sekarang saya tidak pernah mendapat kabar lanjutannya. Tetapi itulah kebenarannya, bukan? Bukankah memang itulah yang kita lakukan—memberitahu orang bahwa mereka bisa diperdamaikan dengan Allah?
Mari kita kembali ke pasal 5, di sini dikatakan bahwa Dia telah mempercayakan kepada kita Firman pendamaian, secara harfiah menempatkan di dalam kita logos sebagai lawan dari mythos. Logos adalah firman yang benar, sementara mythos adalah firman yang tidak benar. Allah telah menaruh di dalam kita logos pendamaian. Karena itu kita dipanggil untuk memberitakan pelayanan pendamaian, yaitu memberitahu orang berdosa bahwa mereka bisa didamaikan dengan Allah. Dan hal itu mengandaikan bahwa kita perlu membantu mereka memahami bahwa saat ini mereka sedang terpisah dari Allah. Dengan kata lain, kita tidak bisa mengatakan kepada seseorang bahwa mereka dapat diperdamaikan sebelum menjelaskan bahwa mereka memang membutuhkan pendamaian, sebab tidak seorang pun ingin menjadi musuh dari Allah yang kudus.
Nah, waktu kita memikirkan tentang pelayanan pendamaian ini, ada beberapa hal yang perlu kita pahami tentang hakikat kebenaran besar ini. Yang pertama, pendamaian terjadi oleh kehendak Allah. Pendamaian adalah karya Allah. Mari kita kembali ke ayat 18 dan melihat teks aslinya: “Semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya.” Semua hal apa? Semua hal yang Paulus bicarakan sejak ayat 14: keselamatan, penyediaan dalam kematian Kristus, menjadi ciptaan baru, yang lama berlalu dan yang baru sudah datang. Pernyataan ini berbicara bukan sekadar tentang pembenaran, tetapi tentang kelahiran kembali (regenerasi). Semua ini berasal dari kehendak Allah. Ayat 19 berkata, “Sebab di dalam Kristus, Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya.” Ayat 20 menambahkan, “Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami.” Jadi, pendamaian adalah oleh kehendak Allah. Inilah realitas yang mendasar. Kita tidak bisa memutuskan sendiri untuk didamaikan dengan Allah. Kita tidak memiliki kuasa untuk memuaskan murka-Nya. Kita tidak sanggup menyingkirkan keadilan-Nya atau mencapai kebenaran-Nya. Kita adalah pihak yang bersalah, kita telah dibuang dari hadirat-Nya untuk selamanya. Karena itu, setiap perubahan dalam hubungan kita dengan Allah harus berasal dari Dia sendiri. Pendamaian hanya mungkin terjadi karena rancangan-Nya. Dan inilah inti dari Injil.
Allah mengasihi orang berdosa dan rindu mendamaikan mereka dengan diri-Nya. Dia merancang jalan pendamaian untuk mengubah orang berdosa menjadi anak-anak-Nya. Dialah yang mendamaikan kita dengan diri-Nya, Dialah Sang Pendamai itu. Ini adalah kebenaran yang begitu mendalam. Jika kita meneliti agama-agama di dunia, kita tidak akan pernah menemukan—seperti yang sudah disebutkan sebelumnya— “allah” yang bersifat pendamai. Tidak ada tuhan yang pada hakekatnya adalah pendamai. Tetapi Allah kita adalah Allah yang mendamaikan. 1 Timotius 4:10 berkata, “Itulah sebabnya kita berjerih payah dan berjuang, karena kita menaruh pengharapan kita kepada Allah yang hidup, Juruselamat semua manusia, terutama mereka yang percaya.” Apa maksudnya Allah adalah Juruselamat semua manusia, tetapi secara khusus mereka yang percaya?
Ya, benar. Ada pengertian di mana Allah adalah Juruselamat semua orang—dalam arti yang umum, luas, dan menyeluruh. Apa maksudnya? Secara fisik dan sementara. Alkitab berkata, “Upah dosa ialah maut.” Alkitab juga berkata, “Orang yang berbuat dosa, dialah yang harus mati.” Bahkan, “mengabaikan satu bagian saja, ia bersalah terhadap seluruhnya.” Dan Daud menegaskan, “Sesungguhnya, dalam kesalahan aku dilahirkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.” Jadi, mengapa kita masih hidup? Mengapa kita masih ada di sini? Jawabannya adalah karena Allah pada hakekatnya adalah Juruselamat. Setiap orang berdosa yang masih diberi napas adalah bukti hidup bahwa Allah pada hakekat-Nya adalah Juruselamat. Kalau bukan karena belas kasihan dan kesabaran Allah, kita sudah binasa sejak lama. Itulah yang dikatakan Roma 2, bahwa kesabaran dan kelapangan hati Allah terhadap orang berdosa dimaksudkan untuk menyatakan bahwa Dialah Juruselamat—dan menuntun mereka untuk bertobat.
Fakta bahwa kita sebagai orang berdosa masih bisa menikmati anugerah—mencium aroma kopi, mencium orang yang kita kasihi, memiliki anak, menikmati matahari terbenam, makan hidangan yang lezat, berlibur dengan indah, meraih keberhasilan, atau mengapresiasi musik—itu semua adalah bukti nyata sifat Allah. Semua itu bukan hanya dinikmati oleh orang benar, tapi juga oleh orang berdosa. Setiap kali seorang berdosa bisa merasakan hal-hal itu, bahkan sekadar mengambil satu tarikan napas lagi, itu menjadi kesaksian bahwa Allah pada hakekat-Nya adalah Juruselamat. Sebab jika Allah bukan Juruselamat, Dia sudah akan membinasakan orang berdosa bahkan sebelum mereka sempat menarik napas lagi.
Jadi, kabar baiknya adalah kita tidak perlu berusaha membujuk Allah untuk menyelamatkan kita; yang perlu dilakukan hanyalah meyakinkan orang berdosa agar mau menerima keselamatan itu. Salah satu hal yang membuat saya sangat terganggu dengan ajaran Katolik Roma—dan banyak hal lain juga—adalah pandangan mereka yang begitu merendahkan dan menghina Allah. Mereka mengajarkan, jika Anda ingin Allah menolong Anda keluar dari kesulitan, jika Anda ingin Allah memperhatikan Anda dan menyelamatkan Anda, jangan langsung datang kepada-Nya. Menurut mereka, Allah terlalu sibuk. Dia terlalu kudus, tidak punya waktu untuk Anda, terlalu keras, terlalu sulit untuk didekati. Dengan kata lain, Anda tidak ingin pergi kepada Tuhan. Jangan berseru langsung kepada-Nya.
Nah, menurut ajaran itu, Anda bisa datang kepada Kristus. Anda bisa datang kepada Kristus karena Dia pernah menjadi manusia, mengalami segala hal yang manusia alami, bahkan dicobai dalam segala hal sama seperti kita. Jadi mungkin Dia akan sedikit lebih simpatik. Tetapi, mereka juga menggambarkan Yesus cukup keras, cukup tegas. Maka kalau Anda benar-benar punya masalah dan kebutuhan, pergilah kepada Maria. Mengapa kepada Maria? Karena Yesus tidak bisa menolak Maria. Dia mungkin bisa menolak Anda, tetapi tidak bisa menolak ibunya. Maka pergilah kepada Maria. Itu adalah sebuah penghujatan terhadap sifat Allah yang sejati, yang adalah Allah yang mengasihi, Allah yang mendamaikan, Allah yang menantikan orang berdosa datang ke hadirat-Nya dan memohon pengampunan. Anda tidak perlu pergi kepada Maria. Maria tidak pernah mendengar doa satu pun dari manusia sejak dia tiba di surga. Dan begitu pula semua orang lain di surga—tidak seorang pun yang mendengar doa, kecuali Tritunggal Allah sendiri. Allah pada hakikat-Nya adalah Allah yang mendamaikan. Anda mungkin bertanya, “Kalau begitu, bagaimana dengan Perjanjian Lama? Bagaimana bisa dikatakan Allah itu penuh kasih dan mendamaikan, ketika sekelompok anak muda berkata kepada seorang nabi, ‘Hei, Botak! Botak!’ lalu Allah mengirim beruang-beruang dari hutan untuk mencabik-cabik mereka? Allah macam apa yang melakukan itu? Allah macam apa yang mengirim beruang dari hutan untuk mengoyak sekumpulan pemuda hanya karena mereka berteriak ‘Botak, Botak’ kepada seorang nabi?”
Bukan itu sebenarnya pertanyaannya. Orang mungkin berkata, “Allah macam apa yang membelah tanah lalu menelan sekelompok orang?” atau, “Allah macam apa yang meruntuhkan bangunan di atas orang Filistin?” atau, “Allah macam apa yang memerintahkan orang Israel membunuh orang Kanaan?” Tetapi, sekali lagi, bukan itu pertanyaannya. Pertanyaannya bukan: mengapa Allah mengambil nyawa orang berdosa di Perjanjian Lama dengan cara-cara dahsyat seperti itu. Pertanyaan yang sesungguhnya adalah: mengapa Allah justru membiarkan sebagian besar orang berdosa terus hidup? Upah dosa adalah maut, dan kematianlah yang mereka layak terima. Dalam Lukas 13, ada orang-orang yang datang kepada Yesus dan berkata, “Kami tidak mengerti, kami tidak mengerti. Ada beberapa orang Galilea yang sedang beribadah di Bait Allah, lalu pasukan Pilatus datang, menghunus pedang, dan membunuh mereka semua. Mengapa hal itu terjadi?”
Mereka sedang beribadah. Mereka ada di sana melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan. Jadi, bagaimana mungkin Tuhan membiarkan itu terjadi? Tapi, Yesus berkata, “Kamu pun akan binasa kalau tidak bertobat.” Lalu mereka mengajukan pertanyaan kedua. Mereka mengetahui bahwa ada menara yang runtuh dan menimpa sekelompok orang hingga menewaskan mereka. Tuhan macam apa yang membiarkan hal itu terjadi? Tapi bukan itu pertanyaannya. Sepanjang sejarah manusia, melalui peristiwa-peristiwa dahsyat seperti itu, Allah sedang memberi kesaksian tentang apa yang memang layak diterima oleh semua orang berdosa. Namun, fakta bahwa sebagian besar orang berdosa tetap hidup dan masih bisa menikmati begitu banyak kebaikan dari kasih karunia umum, menunjukkan bahwa Allah pada hakekatnya adalah Allah yang menyelamatkan. Dia memperlihatkan belas kasihan dan kemurahan-Nya bagi orang berdosa melalui kasih karunia umum, sebagai peringatan supaya mereka bertobat. Dalam arti itu, benar bahwa Dia adalah Juruselamat semua orang, tetapi Dia terutama adalah Juruselamat bagi mereka yang percaya, sebab mereka diselamatkan bukan hanya secara fisik dan sementara, melainkan secara rohani dan kekal. Allah adalah sumber pendamaian. Dan betapa bersyukurnya kita karena kita tidak perlu membujuk Allah agar Dia mau menerima orang berdosa.
Ketika Yesus mati di kayu salib, ada tabir di Bait Suci yang memisahkan Allah dari semua orang, yaitu lambang hadirat Allah. Allah merobek tabir itu dari atas ke bawah dan membukanya lebar-lebar. Itu artinya semua orang berdosa yang mau datang memiliki akses kepada Allah yang pada hakekat-Nya adalah Allah yang mau mendamaikan. Sekarang kembali kepada teks: Dialah Allah yang mendamaikan kita dengan diri-Nya. Dialah Allah di dalam Kristus yang mendamaikan dunia. Dialah Allah yang merayu, yang memohon. Tidak ada saat di mana kita lebih sejalan dengan kehendak Allah daripada ketika kita memberitakan firman pendamaian itu.
Pendamaian, pertama-tama, adalah karena kehendak Allah. Kedua, pendamaian terjadi melalui tindakan pengampunan. Lalu bagaimana mungkin Allah melakukan hal ini? Jawabannya ada di ayat 19. Satu-satunya cara Allah dapat mendamaikan diri-Nya dengan orang berdosa adalah dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Hanya itu caranya. Bagaimana pendamaian bisa terjadi? Bagaimana Allah dapat mendamaikan dunia—yakni orang-orang dari segala bangsa yang akan diperdamaikan? Caranya adalah dengan tidak memperhitungkan dosa-dosa mereka. Itulah kuncinya: Allah harus menyingkirkan dosa mereka.
Sekarang, kita sudah tahu, bukan? Kita sudah membicarakannya. Dalam Mikha 7 tertulis, “Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni?” Dalam Keluaran pasal 33 juga dinyatakan bahwa Allah itu pada hakekat-Nya penuh belas kasihan dan pengasih. Dia adalah Allah yang mengampuni. Perjanjian Lama penuh dengan kebenaran itu, demikian juga Perjanjian Baru. Allah adalah Pribadi yang rindu mengampuni orang berdosa yang bertobat, dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Itulah hal yang harus kita sampaikan kepada orang berdosa. Pertanyaannya sederhana saja: Anda bisa diperdamaikan dengan Allah. Allah akan mengampuni semua dosa Anda untuk selama-lamanya. Apakah Anda tertarik? Itulah inti persoalannya. Sering kali dalam penginjilan orang berkata, “Apakah Anda ingin punya tujuan dalam hidup?” “Apakah Anda ingin memiliki pernikahan yang lebih baik?” “Anda mau memperbaiki pukulan golf Anda yang melenceng?” “Mau mencetak lebih banyak gol?” atau “Apa yang Anda cari dalam hidup? Kebahagiaan, kepuasan, rasa damai?” Tetapi itu bukan yang terpenting. Pertanyaannya adalah: apakah Anda mau mati dalam dosa Anda dan masuk neraka untuk selamanya, atau Anda tertarik pada pengampunan penuh, lengkap, dan kekal? Itulah pesan yang sesungguhnya.
Mazmur 32:2 berkata, “Berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN.” Itulah yang ada di balik ayat ini. Paulus mungkin mengingat hal itu karena ia mengutipnya kembali dalam Roma 4:8, “Berbahagialah orang yang dosanya tidak diperhitungkan Tuhan kepadanya.” Itu sebenarnya adalah parafrase dari Mazmur 32. Allah rela menghapus dosa. Bahkan, Perjanjian Lama mengatakan bahwa Dia akan membuangnya sejauh timur dari barat, menguburnya ke dalam kedalaman laut yang terdalam, dan tidak lagi mengingatnya. Kolose 2:13 menyatakan bahwa Allahlah yang telah mengampuni kita segala pelanggaran kita. Dan, Saudara, ketika kita setia kepada Injil yang Paulus wartakan, maka pesan yang kita sampaikan kepada orang berdosa adalah tentang pengampunan dosa mereka secara pribadi. Inilah kabar baiknya: Allah akan mengampuni semua dosa Anda. Inilah berita pendamaian. Kita harus melewati segala bentuk hal-hal dangkal, melewati semua khotbah kemakmuran palsu yang mengatakan Tuhan Yesus ingin Anda sehat, kaya, sukses. Bukan itu yang Dia tawarkan. Bahkan mungkin Anda akan lebih sakit setelah diselamatkan daripada sebelumnya, mungkin juga lebih miskin setelah percaya daripada sebelumnya. Namun, Anda ada dalam pemeliharaan Allah yang berdaulat, yang memastikannya demi kebaikan Anda dan kemuliaan-Nya. Yang pasti, Anda dapat mengandalkan kenyataan ini: Anda sedang menuju surga karena Dia tidak lagi memperhitungkan dosa-dosa Anda.
Sebenarnya, saya sangat menyukai bahasa dalam Kolose yang mengatakan bahwa Allah menghapus pelanggaran yang tertulis terhadap kita, mengambilnya dari jalan, dan menyingkirkannya. Itulah pendamaian yang Paulus kenal karena dia sendiri telah mengalaminya secara pribadi. Pendamaian itu terjadi karena kehendak Allah, melalui tindakan pengampunan. Dan yang ketiga, melalui ketaatan iman. Kita sudah membicarakan hal ini, jadi saya tidak perlu terlalu lama membahasnya. Pendamaian terjadi melalui ketaatan iman, seperti yang tersirat dalam ayat 20. Supaya ini terwujud, orang berdosa harus merespons. Karena itulah, kita menjadi duta Kristus. Kita adalah wakil dari Raja yang agung, yang ingin berdamai dengan umat-Nya yang terasing. Kita membawa kabar baik untuk mereka: Allah mau berdamai dengan Anda. Allah tidak akan memperhitungkan dosa Anda, Dia akan mengampuni Anda. Terimalah anugerah ini. Itulah yang dikatakan ayat 20—seolah-olah Allah sendiri, melalui kita, sedang membuat sebuah permohonan. Kami memohon kepada Anda, demi Kristus: berdamailah dengan Allah.
Nah, itu terdengar tidak terlalu Calvinis, bukan? Anda mungkin berpikir kita tidak akan pergi berkeliling sambil memohon kepada orang-orang, “Berdamailah dengan Allah, bertobatlah, percayalah, akuilah dosa Anda, tinggalkan dosa Anda, terimalah Kristus.” Karena, yah, kita ini Calvinis. Kalau memang itu akan terjadi, maka pasti akan terjadi. Benarkah begitu? Dengarkan baik-baik: bukan hanya kita seharusnya memohon agar orang berdosa mau berdamai dengan Allah sebagai tindakan iman, tetapi sesungguhnya Allah sendirilah yang sedang membuat permohonan itu melalui kita. Jadi bisa saja orang menyimpulkan bahwa Allah sendiri bahkan bukanlah “Calvinis” yang baik. Apa maksudnya? Allah yang memohon kepada orang berdosa supaya berdamai dengan-Nya? Ini sangat terdengar seperti pandangan Arminian, bukan? Tapi itulah yang tertulis. Dan kita akan melihat dilema itu besok.
Tidak ada keselamatan tanpa iman. Tidak ada keselamatan tanpa kerelaan dari pihak orang berdosa. Yohanes 1:12 berkata, “Namun semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.” Tapi, mereka bukan dilahirkan dari darah, atau dari keinginan daging, atau keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah. Kita tahu bahwa ini adalah pekerjaan Allah, tetapi tetap saja tidak terlepas dari respons orang berdosa. Ini terjadi melalui ungkapan kehendak orang berdosa. Allah digambarkan seperti seorang pengemis yang memohon kepada orang berdosa.
Lihatlah Yesus berkata, “Kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu. Yerusalem, Yerusalem, berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau. Lihatlah, rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi.” Dan Dia menangis. Anda ingat itu? Dia menangis. Nabi Yeremia pun meneteskan air mata Allah dalam nubuatnya: “Jika kamu tidak mau mendengarkannya, aku akan menangis di tempat yang tersembunyi.” Allah sendiri sedang memohon melalui Anda kepada orang-orang berdosa. Kita ini adalah wakil dari Allah yang memohon, Allah yang “mengemis”, berseru kepada orang berdosa, meminta mereka untuk percaya, diselamatkan, dan diperdamaikan dengan-Nya.
Jadi, pelayanan pendamaian, karya pendamaian itu terjadi oleh kehendak Allah, melalui pengampunan, melalyu iman. Dan sekarang kita tiba pada poin keempat dan terakhir, yang merangkum semua yang sudah kita bahas hari ini: pendamaian terjadi melalui karya substitusi—karya pengganti. Sebab pertanyaan yang langsung muncul adalah: Bagaimana mungkin Allah begitu saja memutuskan untuk tidak memperhitungkan dosa kita kepada kita?
Meminjam bahasa Roma 4:5, bagaimana mungkin Allah membenarkan orang fasik? Pernyataan itu, bahwa Allah membenarkan orang fasik, adalah kalimat yang paling sulit diterima dalam konteks Yahudi. Bagaimana mungkin Allah memutuskan bahwa orang fasik itu benar? Bagaimana mungkin Allah membenarkan orang fasik? Itu benar-benar keterlaluan. Bayangkan seperti ini: seorang hakim duduk di kursinya, lalu masuklah seorang penjahat yang dituduh melakukan banyak pembunuhan. Dia berdiri dan berkata, “Ya, saya memang melakukannya. Saya membunuh mereka, saya bahkan memutilasi mereka, lalu menguburkan potongan tubuh mereka di berbagai tempat. Saya memang melakukannya. Tapi saya menyesal sekarang, saya sungguh-sungguh minta maaf pada keluarga korban, dan saya juga minta maaf pada hakim. Tolong ampuni saya, biarkan saya bebas.” Dan sang hakim menjawab, “Karena kamu sudah minta maaf, aku mengampunimu. Kamu boleh pergi.” Jika itu terjadi, hakim tersebut tidak layak disebut hakim lagi, sebab dia tidak menegakkan hukum. Itu akan jadi sebuah skandal besar. Nah, pertanyaannya: Apakah itu yang Allah lakukan? Apakah Allah hanya berkata, “Ya sudah, tidak apa-apa, silakan jalan?”
Tidak, Allah tidak melakukan itu. Keadilan-Nya harus dipuaskan, dan itulah yang dijelaskan dalam ayat 21 sebagai karya substitusi. BB Warfield pernah berkata bahwa substitusi adalah inti dari inti Injil. Mari kita lihat 2 Korintus 5:21. Hanya ada 15 kata dalam bahasa Yunani, tetapi ini adalah pernyataan yang paling ringkas, jelas, dan padat mengenai makna pendamaian lewat substitusi di seluruh Perjanjian Baru: “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.” Kalau Allah tidak mengimputasikan pelanggaran kita kepada kita, tetapi justru mengimputasikan kebenaran kepada kita, bagaimana mungkin Dia tetap adil? Inilah caranya: “Dia” adalah Allah, “menjadikan Dia yang tidak mengenal dosa.” Siapa itu? Daftarnya sangat pendek. Benar? “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa.” Artinya apa? Nah, pengkhotbah seperti Kenneth Copeland, Kenneth Hagin dan beberapa pengajar Word of Faith mengatakannya berkali-kali dengan mulut mereka sendiri, bahwa di kayu salib Yesus menjadi seorang pendosa, lalu harus masuk neraka selama tiga hari. Dan setelah itu baru Allah membangkitkan Dia dari kematian karena Dia telah menebus dosa-dosa-Nya.
Ini adalah penghujatan. Dialah Anak Domba yang tidak bercacat dan tidak bernoda. Dia tetap tanpa dosa ketika tergantung di salib, sama seperti Dia kekal tanpa dosa selamanya. Itulah sebabnya Dia berseru, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Jika Dia seorang pendosa, tidak ada alasan untuk bertanya “mengapa”. Di kayu salib, Yesus tidak menjadi seorang pendosa. Dalam arti apa Dia menjadi dosa? Dalam arti ini saja: Allah memperlakukan Dia seolah-olah Dia seorang pendosa, padahal Dia bukan.
Sekarang, perhatikan baik-baik: di kayu salib, Allah memperlakukan Kristus seolah-olah Dia secara pribadi melakukan setiap dosa yang pernah dilakukan oleh setiap orang yang akan percaya, padahal sesungguhnya Dia tidak melakukan satu pun. Anda mengerti maksudnya? Di kayu salib, Allah memperlakukan Kristus seolah-olah Dia secara pribadi melakukan setiap dosa yang pernah dilakukan oleh setiap orang percaya sepanjang sejarah, padahal Dia tidak melakukannya. Saya katakan dengan cara yang lebih pribadi: di kayu salib, Allah memperlakukan Yesus seolah-olah Dia yang menjalani hidup Anda. Dia tidak melakukannya, tetapi Allah memperlakukan-Nya seolah-olah Dia melakukannya. Dia memperlakukan Kristus seolah-olah Dia menjalani hidup saya. Allah mencurahkan murka-Nya sepenuhnya atas dosa kita seakan-akan Kristuslah yang bersalah. Bukankah itulah yang digambarkan dalam sistem kurban, yang sudah dijelaskan sejak Imamat pasal 1 ayat 1–9?
Jadi, kita katakan begini: di kayu salib, Allah memperlakukan Yesus seolah-olah Dia seorang pendosa, padahal Dia bukan pendosa. Mengapa Dia melakukan itu? Demi kita, untuk kita. Karena keadilan-Nya harus dipenuhi. Dan seperti yang saya katakan pagi ini, dalam tiga jam kegelapan itu, Yesus sanggup menanggung hukuman yang tak terhingga, hukuman kekal dari semua orang yang akan percaya, karena Dia adalah Pribadi yang tak terbatas dengan kapasitas yang tak terbatas, dan kemampuan-Nya untuk menanggung hukuman itu tidak ada batasnya.
Itu baru bagian pertamanya. Allah memperlakukan Yesus seolah-olah Dia melakukan setiap dosa yang pernah dilakukan oleh setiap orang yang akan percaya, lalu sisi lain dari doktrin substitusi ada di akhir ayat 21: “supaya di dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.” Nah, ini harus dipahami supaya kita mendapat gambaran penuh dari ayat besar ini. Apakah Anda benar-benar hidup benar? Di hadapan Allah Anda dianggap benar, tapi apakah Anda sungguh-sungguh benar? Kalau ragu, coba saja tanya orang di sebelah Anda, pasti jawabannya jujur. Apakah Anda benar? Tidak. Paulus sendiri, di puncak kedewasaan rohaninya, berkata, “Aku adalah yang paling berdosa,” bukan “yang paling benar.” Jadi, apa maksudnya? Maksudnya Allah memperlakukan Anda seolah-olah Anda benar. Lebih jauh lagi, di kayu salib, Allah memperlakukan Anak-Nya seolah-olah Dia menjalani hidup Anda supaya Dia bisa memperlakukan Anda seolah-olah Anda menjalani hidup Anak-Nya. Begitulah Allah melihat Anda. Dia memandang salib dan melihat diri Anda; Dia memandang diri Anda dan melihat Anak-Nya. Itulah sebabnya tidak ada penghukuman.
Nah, mungkin ada yang berkata, “Kalau saya jadi Tuhan, saya pasti akan merancang semuanya dengan cara berbeda. Mengapa Yesus harus tinggal di dunia selama 33 tahun dan melewati semua kesulitan itu? Mengapa Bapa tidak langsung berkata, ‘Bolehkan Aku meminjam-Mu satu akhir pekan saja? Turunlah pada hari Jumat, mereka akan menyalibkan-Mu, lalu bangkitlah pada hari Minggu, dan Minggu malam setelah beberapa penampakan, Engkau sudah bisa kembali. Penebusan selesai. Aku hanya butuh Engkau untuk akhir pekan.’” Jadi, untuk apa 30 tahun itu? Alkitab menjelaskan alasannya: Dia telah dicobai dalam segala hal sama seperti kita, namun tanpa dosa. “Dalam segala hal” berarti sepanjang waktu, sejak lahir. Sepanjang hidup-Nya tanpa dosa. Masa bayi, masa kanak-kanak, remaja, dewasa muda, hingga dewasa penuh, Yesus hidup sempurna dan menggenapi seluruh kebenaran. Mengapa? Karena hidup itulah yang akan diperhitungkan kepada Anda. Itulah kebenaran aktif Kristus yang tadi kita bicarakan.
Jadi, di kayu salib Allah memperlakukan Yesus seolah-olah Dia menjalani hidup Anda, dan sekarang Dia memperlakukan Anda seolah-olah Anda menjalani hidup-Nya. Itu kemurahan yang luar biasa, bukan? Allah memandang salib dan melihat diri Anda; Dia memandang diri Anda dan melihat Anak-Nya. Itu adalah kabar baik bagi orang berdosa. Paulus berkata, “Aku tidak bisa melihat siapa pun dengan cara lain kecuali sebagai pribadi rohani yang sangat membutuhkan kabar pendamaian.” Kita telah menerima pelayanan ini, kita telah menerima pesan ini, kita hadir di dunia asing ini sebagai duta-duta-Nya. Kita tidak boleh melihat orang dari luarnya saja, melainkan sebagaimana adanya: jiwa-jiwa kekal yang akan menghabiskan kekekalan, baik di surga atau di neraka. Dan pesan yang harus kita sampaikan kepada mereka adalah pesan pendamaian—bahwa Allah begitu mengasihi mereka, Dia begitu rindu untuk mengampuni, hingga Dia bersedia menghapus dosa mereka dan menggantikannya dengan kebenaran-Nya sendiri yang dinyatakan dalam kehidupan sempurna Anak-Nya. Dia menghukum Anak-Nya seolah-olah Dia menjalani hidup Anda, agar Dia bisa memberi upah kepada Anda seolah-olah Anda menjalani hidup Anak-Nya. Inilah kemuliaan Injil.
Bapa, kami bersyukur untuk kebenaran-Mu. Semua ini sungguh melampaui pengertian kami, keajaiban yang begitu besar. Kami begitu kecil, begitu berdosa, tidak layak, dan sama sekali tidak pantas. Namun Engkau telah mengaruniakan keselamatan yang agung ini. Biarlah kami seperti Paulus, dikuasai oleh kasih yang begitu besar, menyadari bahwa Engkau tidak hanya melakukan ini bagi kami, tetapi Engkau telah mati bagi semua orang. Dan biarlah kami memberikan hidup kami dengan tekun dan penuh kerinduan untuk pelayanan pendamaian, untuk memberitakan kepada orang berdosa bahwa mereka dapat diperdamaikan dengan Allah yang penuh kasih dan pengampunan, yang akan memperlakukan mereka seolah-olah mereka benar seperti Anak-Mu yang sempurna. Semua ini tersedia melalui iman di dalam nama Kristus. Terima kasih untuk malam persekutuan yang indah ini. Terima kasih untuk hak istimewa untuk menyembah Engkau. Kami tahu Engkau rindu agar kami menyembah-Mu dalam roh—kami sudah melakukannya ketika bernyanyi—tetapi juga dalam kebenaran. Dan sekarang, setelah kami diperkaya dengan kebenaran, penuhi hati kami dengan sukacita selagi kami terus menyembah-Mu dalam nama Anak-Mu. Amin.
SELESAI
This article is also available and sold as a booklet.
