Saya ingin kembali pada tema kita di bagian ini. Bagaimana kita mengharmoniskan persoalan kedaulatan ilahi, tanggung jawab manusia, dengan tugas kita dalam penginjilan? Kita, setelah semua yang telah kita pelajari, adalah duta-duta Kristus. Kita telah diberikan pelayanan pendamaian. Kita telah diberikan Firman pendamaian, yaitu pesan tentang Allah yang mendamaikan, yang telah menyediakan jalan bagi orang berdosa untuk diperdamaikan dengan Dia. Kita dikendalikan, dibatasi, didorong, digerakkan, dan dituntun oleh kasih Kristus kepada kita—kasih yang juga menjangkau semua orang yang untuknya Kristus mati. Kita diperintahkan untuk pergi ke seluruh dunia, memberitakan Injil kepada setiap makhluk. Kita, sebagaimana yang dikatakan Paulus dalam 2 Korintus 5:11, harus berusaha meyakinkan orang karena kita memahami kedahsyatan Tuhan, penghakiman ilahi, neraka kekal, dan semuanya itu. Maka jelas, tugas untuk setia dalam tanggung jawab penginjilan telah diletakkan atas diri kita.
Pada saat yang sama, terkadang kita bergumul dengan kenyataan tentang kedaulatan ilahi, dan bertanya-tanya apa yang dapat kita lakukan ketika segala sesuatu sudah ditentukan oleh Allah dan dikerjakan oleh Roh Kudus. Jawaban sederhana dari pertanyaan ini adalah bahwa Allah tidak hanya menetapkan siapa yang akan diselamatkan, tetapi juga menetapkan bahwa melalui kesetiaan kita dalam penginjilan, kita menjadi sarana yang dipakai-Nya untuk menyelamatkan umat pilihan-Nya. Menjadi berguna bagi-Nya adalah tujuan dalam penggenapan rencana kedaulatan-Nya, menjadi alat yang dapat Dia pakai, bejana yang layak bagi Sang Tuan; hidup dalam ketaatan, karena itu mendatangkan berkat, upah di dalam kehidupan ini, dan juga upah yang kekal.
Tetapi dalam usaha untuk mengharmoniskan persoalan kedaulatan ilahi dan tanggung jawab manusia—yang menurut saya merupakan isu utama yang paling sering digumulkan oleh orang-orang yang mempelajari Alkitab—jawaban saya selama bertahun-tahun hanyalah dengan memperjelas persoalan itu, karena Alkitab sendiri sebenarnya tidak memberikan resolusi yang tuntas, sebab hal ini melampaui pemahaman kita. Ini adalah sebuah realitas transenden yang secara sempurna selaras dalam pikiran Allah, tetapi menjadi sebuah dilema bagi kita. Tanggung jawab kita adalah memberikan kemuliaan kepada Allah atas keselamatan, dan menyerahkan hidup kita untuk memanggil orang berdosa kepada pertobatan dalam pelayanan pendamaian. Nah, sebuah ilustrasi yang luar biasa tentang bagaimana kedua hal ini disandingkan dapat kita temukan dalam Roma pasal 9, 10, dan 11. Dan saya sudah cukup sering diejek minggu ini karena hanya membahas beberapa ayat saja. Jadi mari kita lihat apakah kita bisa membahas tiga pasal dalam waktu 45 menit.
Dan seperti yang Jonathan katakan, salah satu hal yang saya sukai adalah sekadar menunjukkan kepada Anda apa yang Alkitab katakan. Ada sifat yang jelas dengan sendirinya dalam Alkitab. Alkitab adalah penjelasan terbaik bagi dirinya sendiri, dan terkadang dengan membacanya dengan seksama, maka akan menjadi jelas, dan saya pikir kita akan melihat hal itu dalam teks ini. Kita tidak punya banyak waktu untuk menggali ayat demi ayat secara mendalam, jadi kita hanya akan melihat gambaran besarnya.
Dalam pasal 9 sampai 11, rasul Paulus mencurahkan isi hatinya tentang penerapan Injil kepada orang-orang berdosa, terutama mereka yang paling dekat dengan hatinya, yaitu orang-orang Yahudi. Apakah Paulus mengerti Injil? Tentu saja, kita sudah melihat itu. Apakah dia mengerti tanggung jawabnya? Tentu saja. Kita juga mengerti itu. Apakah dia mengerti bahwa keselamatan adalah karya kedaulatan Allah? Jelas dia sudah menguraikan itu bagi kita. Apakah dia mengerti bahwa orang berdosa bertanggung jawab dan harus bertobat serta percaya? Dia pun mengerti hal itu.
Setelah memberikan kita gambaran tentang Injil dalam Roma pasal 1 sampai 8 — yang sesungguhnya merupakan penyingkapan penuh dari pemahaman Paulus tentang Injil — pada pasal 9 dia membuat sebuah penerapan. Ini adalah cara yang luar biasa untuk menutup pembahasan kita minggu ini tentang Injil menurut Paulus. Kita akan membicarakan sesuatu lagi pada Minggu pagi, tetapi untuk bagian ini, ini adalah penutup yang tepat. Di sinilah terlihat keprihatinan rasul Paulus mengenai penerapan dari Injil yang agung, yang mendamaikan, dan yang berdaulat ini.
Roma 9:1, “Aku mengatakan kebenaran dalam Kristus, aku tidak berdusta. Suara hatiku turut bersaksi dalam Roh Kudus.” Semua itu hanyalah untuk menegaskan kepada kita bahwa kita tidak bisa meragukan motivasi Paulus. Kita tidak bisa meragukan semangatnya. Kita tidak bisa meragukan integritasnya. Ini adalah bagian Alkkitab yang penuh dengan luapan hatinya. Paulus begitu bergairah tentang keselamatan orang berdosa; dia ingin setiap orang mengerti kebenaran dari semangatnya itu. Dan ini bukanlah kepalsuan. Hati nuraninya tentang hal itu jelas dalam Roh Kudus. Dan inilah yang ingin dia sampaikan: “Aku sangat berdukacita dan selalu bersedih hati.”
Anda tahu, saya hanya perlu mengatakan ini; ada banyak orang yang memeluk teologi Reformed, namun menurut saya tidak memiliki hal itu. Di mana dukacitanya? Di mana kesedihan yang tak henti-hentinya? Di mana kepedihan itu? Di mana rasa sakit atas keadaan orang-orang yang terhilang? Seseorang bisa begitu yakin dan nyaman dengan doktrin kedaulatan Allah sampai sepenuhnya meninggalkan hasrat hati ini. Sedalam apa hasrat itu bagi Paulus? Ayat 3 berkata, “Aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani.”
Saya rasa saya sendiri tidak pernah mendengar diri saya berkata seperti itu kepada Allah: Kutuklah aku jika dengan mengutuk aku Engkau bisa menyelamatkan orang lain. Kirim aku ke neraka jika dengan aku masuk neraka ada orang lain yang bisa masuk surga. Inilah sebuah hasrat yang begitu meluap dalam hidup Paulus, sampai-sampai dia merenungkan kemungkinan untuk berharap dirinya sendiri terkutuk, jika dengan cara itu keselamatan dapat datang kepada orang-orang yang sangat menghancurkan hatinya. Tidak ada seorang pun yang lebih memahami doktrin kedaulatan Allah dibandingkan rasul Paulus, bukan? Namun pada saat yang sama, dia memiliki kerinduan yang begitu dalam bagi jiwa-jiwa yang terhilang. Khususnya, seperti yang ia katakan dalam ayat 3: “Saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani. Sebab mereka adalah orang Israel, mereka telah diangkat menjadi anak, dan mereka telah menerima kemuliaan, dan perjanjian-perjanjian, dan hukum Taurat, dan ibadah, dan janji-janji. Mereka adalah keturunan bapak-bapak leluhur, yang menurunkan Mesias secara jasmani, yang ada di atas segala sesuatu. Dialah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin!”
Paulus adalah seorang pria yang bisa tiba-tiba meledak dalam doksologi tanpa direncanakan. Itulah doksologi. Dia hanya menyebut nama Kristus lalu langsung meluap dengan pujian: “Yang ada di atas segala sesuatu. Dialah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin. Inilah orang yang mengalami kesedihan dan duka yang tak henti-hentinya atas orang-orang yang dia kasihi yang sedang terhilang.
Perhatikan Roma pasal 10 ayat 1: “Saudara-saudara, kerinduan hatiku dan doaku kepada Allah ialah, supaya mereka diselamatkan.” Anda mungkin bertanya kepada Paulus, jika sudah ditentukan sebelumnya siapa yang akan diselamatkan, mengapa engkau masih berdoa? Untuk apa engkau berdoa? Dan dia akan menjawab, “Kerinduanku mendorong doaku karena aku peduli, karena aku begitu terbeban, karena aku sangat berduka. Karena aku tahu bahwa aku telah diperintahkan dan dipanggil untuk berdoa.” Paulus sendiri bahkan berkata kepada Timotius untuk berdoa bagi semua orang mengenai keselamatan mereka. Paulus begitu bergairah akan keselamatan orang berdosa sehingga dia memberikan seluruh hidupnya dalam upaya itu, baik lewat pelayanan publik maupun doa pribadi bagi mereka; dan doanya kepada Allah adalah supaya mereka diselamatkan.
Perhatikan Roma pasal 11 ayat 1, “Karena itu, aku bertanya,” tulis Paulus, “Mungkinkah Allah telah membuang umat-Nya? Sekali-kali tidak! Mē genoito, ungkapan penolakan yang paling kuat dalam bahasa Yunani. Tidak, tidak, tidak, tidak, tidak. ‘Aku berdukacita,’ katanya, ‘atas keadaan bangsaku. Aku berdoa untuk keselamatan mereka, dan aku tahu bahwa Allah belum menolak mereka untuk selamanya.’” Inilah sesungguhnya rentang sikap yang diperlukan bagi seorang penginjil yang efektif. Kita harus berdukacita atas kondisi orang yang terhilang. Kita harus menginginkan keselamatan mereka sampai pada tingkat kita sungguh-sungguh mendoakan mereka, dan kita harus percaya kepada Allah bahwa Dia telah merencanakan keselamatan bagi sebagian dari mereka.
Dalam tiga pasal ini, 9, 10, dan 11, Paulus menyingkapkan gairah yang menggerakkannya, gairah akan keselamatan orang berdosa. Dan mereka mencakup baik orang Yahudi maupun non-Yahudi, sebagaimana kita ketahui, karena sekalipun dia memiliki kerinduan khusus bagi orang Yahudi, dia pun adalah rasul bagi bangsa-bangsa lain. Ketika pasal-pasal ini berkembang, kita akan melihat ada empat komponen penting, empat realitas, empat kebenaran mengenai penginjilan. Semuanya penting, meskipun tampaknya paradoksal. Kebenaran-kebenaran itu menempatkan kita pada ketegangan rohani tertentu. Jadi mari kita lihat satu per satu.
Pasal 9 menekankan kedaulatan ilahi. Lihat mulai dari ayat 6. Fakta bahwa Israel tidak percaya, fakta bahwa Israel tidak diselamatkan, fakta bahwa mereka telah menolak Kristus, ayat 6 berkata, “Akan tetapi, firman Allah tidak mungkin gagal.” Mengapa? Karena tidak semua orang yang berasal dari Israel adalah Israel. Apa artinya itu? Allah tidak pernah bermaksud untuk menyelamatkan semua orang Yahudi. Itulah yang sedang dijelaskan. Penjelasan ini menegaskan kedaulatan Allah, “juga tidak semua yang terhitung keturunan Abraham adalah anak Abraham,” ayat 7, “tetapi: ‘Yang berasal dari Ishak yang akan disebut keturunanmu.’ Artinya: Bukan anak-anak secara jasmani yang adalah anak-anak Allah, tetapi anak-anak perjanjian yang disebut keturunan yang benar. Sebab firman ini mengandung janji, ‘Pada waktu seperti inilah Aku akan datang dan Sara akan mempunyai seorang anak laki-laki.’ Tetapi bukan hanya itu saja. Lebih terang lagi ialah Ribka yang mengandung dari satu orang, yaitu dari Ishak, bapak leluhur kita. Sebab waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat — supaya rencana Allah tentang pemilihan-Nya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilan-Nya — dikatakan kepada Ribka, ‘Anak yang tua akan menjadi hamba anak yang muda,’ seperti ada tertulis: ‘Yakub Kukasihi, Esau Kubenci.’”
Anda tahu, lima ayat pertama di sini mungkin membuat seseorang berpikir bahwa semuanya telah salah, bahwa pada awalnya Allah bermaksud menyelamatkan semua orang Yahudi dan rencana itu telah gagal. Dan jawaban Paulus adalah, “Ketidakpercayaan Israel sepenuhnya konsisten dengan tujuan dan janji Allah yang berdaulat. Janji Allah tidak gagal. Kuasa Allah tidak gagal. Sejak awal, Allah telah membuat pilihan, bahkan terlihat sebelum Yakub dan Esau dilahirkan.”
Ayat 14 kemudian mengantisipasi kritik yang mungkin muncul segera, “Jika demikian, apa yang hendak kita katakan? Apakah Allah tidak adil?” Ini tampak tidak adil. Tidak adil bahwa Allah memilih. Bukankah itu tidak adil? Jadi, apakah kita mengatakan ada ketidakadilan? Tidak, tidak, tidak.” Mazmur 119 berkata tentang Allah, “Keadilan-Mu adil untuk selama-lamanya, dan Taurat-Mu benar.” Mazmur 7:9 berkata, “Engkau, yang menguji hati dan batin orang, ya Allah yang adil.” Allah-lah yang menentukan arti keadilan.
Dan dia menjawab dengan kedaulatan. Ayat 15, Dia berkata kepada Musa, “Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati.” Jadi, itu tidak bergantung pada manusia yang mau atau manusia yang berbalik, tetapi pada Allah yang menunjukkan kasih. Alkitab berkata kepada Firaun, “Itulah sebabnya Aku mengangkat engkau, yaitu supaya Aku memperlihatkan kuasa-Ku di dalam engkau dan supaya nama-Ku dimasyhurkan di seluruh bumi." Jadi, Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia mengeraskan hati siapa yang dikehendaki-Nya.” Wah! Itu jelas bahwa Allah yang membuat pilihan. Anda bertanya, “Apakah itu adil?” Adil akan mengirim semua orang ke mana? Ke neraka. Anda ingin adil? Saya rasa tidak. Tidak ada keraguan dalam pemahaman Paulus tentang kedaulatan Allah, sama sekali tidak.
Ayat 19, kritik lain akan dilontarkan terhadap hal ini, “Sekarang kamu akan berkata kepadaku, ‘Jika demikian, apa lagi yang masih disalahkan-Nya? Sebab siapa yang menentang kehendak-Nya?’” Bagaimana mungkin, jika semua ini telah ditentukan oleh Allah, Anda bisa disalahkan jika tidak percaya? Bagaimana bisa begitu? Dan inilah jawabannya, ayat 20, “Siapakah engkau, hai manusia, maka engkau membantah Allah?” Tutup mulut Anda. Jangan mempertanyakan keadilan Allah. “Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya, ‘Mengapa engkau membentuk aku demikian?’” Tidak, bukan. “Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu bejana untuk tujuan yang mulia dan yang lain untuk tujuan yang biasa?”
Bukankah pembuat tembikar berhak melakukan apa yang Ia kehendaki? Bukankah Allah benar-benar berdaulat? Mengapa Anda menanyakannya? Mengapa Anda mempertanyakan-Nya? Bahkan, ayat 22 berkata, “Jadi?” Apa urusan Anda? Mengapa Anda berpikir perlu ikut campur jika Allah, yang ingin menunjukkan murka-Nya dan menyatakan kuasa-Nya, kuasa penghakiman-Nya, menaruh kesabaran yang besar terhadap bejana-bejana kemurkaan-Nya, yang telah disiapkan untuk kebinasaan? Dan Ia melakukan itu “untuk menyatakan kekayaan kemuliaan-Nya atas bejana-bejana belas kasihan-Nya yang telah dipersiapkan-Nya untuk kemuliaan.” Anda tidak memiliki hak untuk memberitahu Allah apa yang bisa atau tidak bisa Dia lakukan. Bagaimana jika Allah ingin menunjukkan murka-Nya? Bukankah Dia berhak memperlihatkan murka-Nya? Bukankah Dia berhak memperlihatkan keadilan-Nya yang kudus?
Ada penggunaan kata kerja yang menarik di sini. “Dia menaruh kesabaran yang besar terhadap bejana-bejana kemurkaan-Nya.” Kata kerja pasif, kata kerja pasif. Bersabar terhadap mereka yang telah disiapkan untuk kebinasaan. Allah bukanlah agen aktif dalam hal ini. Kata kerjanya pasif. Ini bukan predestinasi ganda. Mereka disiapkan untuk kebinasaan oleh dosa mereka. Pelakunya tidak disebutkan dalam proses kebinasaan itu, tetapi jelas pelakunya tersebut adalah orang itu sendiri, pelaku tersebut adalah dosa yang tinggal di dalam orang itu. Sedangkan di ayat 23 dan 24, kata kerjanya aktif, dan Allah-lah yang melakukannya. Dialah yang telah menyiapkan sebelumnya kemuliaan bagi mereka yang Dia panggil dari kaum Yahudi dan dari orang bukan Yahudi. Jadi yang Anda miliki di sini adalah pernyataan yang sangat kuat bahwa keselamatan adalah karya Allah berdasarkan pilihan-Nya yang berdaulat, kekal, dan tidak dipengaruhi siapa pun.
Sekarang Paulus ingin membuktikan hal ini dari Perjanjian Lama, jadi di ayat 25, dia meminjam bahasa dari Hosea dan Yesaya. Seperti yang dikatakan juga dalam Hosea, “Yang bukan umat-Ku akan Kusebut 'umat-Ku' dan yang bukan kekasih 'kekasih'. Dan di tempat, di mana akan dikatakan kepada mereka, 'Kamu ini bukanlah umat-Ku', di sana akan dikatakan kepada mereka, 'Anak-anak Allah yang hidup.’” Ayat 27, “Yesaya berseru tentang Israel, ‘Sekalipun jumlah anak Israel seperti pasir di laut, namun hanya sisanya akan diselamatkan. Sebab apa yang telah difirmankan-Nya, akan dilakukan Tuhan di atas bumi, sempurna dan segera.’ Seperti yang dikatakan Yesaya sebelumnya, ‘Seandainya Tuhan semesta alam tidak meninggalkan pada kita keturunan, kita sudah menjadi seperti Sodom dan sama seperti Gomora.’”
Dia meminjam dari nabi Hosea dan nabi Yesaya teks-teks Perjanjian Lama yang melihat ketidakpercayaan Israel di masa depan dan juga melihat keselamatan sisa bangsa Israel, keselamatan sisa bangsa Israel. Ayat 27 adalah kuncinya, “Sekalipun jumlah anak Israel seperti pasir di laut, namun hanya sisanya akan diselamatkan.” Allah menyelamatkan sisa bangsa Israel, mengingatkan pada pasal enam Yesaya di mana Yesaya melihat penglihatan, dan Allah berkata, “Siapa yang akan pergi bagi-Ku?” Yesaya berkata, “Inilah aku, Tuhan. Utuslah aku.” Dia telah dibersihkan dengan bara api yang menyentuh bibirnya, dan sekarang dia akan diutus oleh Allah kepada bangsa Yehuda untuk memberitakan datangnya hukuman Babilonia. Murka Allah akan turun dan Allah berkata, “Siapa yang akan pergi dan memberitahu umat ini?” Yesaya berkata, “Inilah aku. Engkau dapat mengutusku.” Kemudian Allah berkata kepadanya, “Telinga mereka akan tertutup. Mereka tidak akan mendengar. Mata mereka akan buta. Mereka tidak akan melihat. Mereka tidak akan berbalik. Mereka tidak akan bertobat.”
Kemudian Yesaya mengajukan pertanyaan yang juga akan saya ajukan, “Berapa lama aku harus melakukan itu?” Maksud saya, bagaimana perasaan Anda saat penahbisan jika seseorang berkata, “Sekarang Anda siap pergi, dan, omong-omong, tidak ada seorang pun yang akan mendengarkan apa yang Anda katakan?” Jadi, berapa lama saya harus melakukan itu? Dan Tuhan berkata kepada Yesaya dalam pasal enam itu, “Sampai tidak ada lagi orang yang tersisa untuk itu. Sampai seluruh umat habis.” Kemudian Yesaya menutup pasal itu dengan mengatakan, “Akan ada sepersepuluh dari mereka. Akan ada tunas yang kudus. Akan ada tunggul.” Itulah doktrin sisa bangsa Israel.
Hal itu akan selalu begitu. Bahkan di masa depan, pada hari eskatologis ketika Israel datang kepada iman kepada Kristus, hanya sepertiga dari populasi Yahudi yang akan diselamatkan. Dua pertiga akan ditandai, kata para nabi Perjanjian Lama, sebagai pemberontak. Mereka akan disingkirkan. Sepertiga akan diselamatkan. Mereka akan memandang kepada Dia yang telah mereka tikam. Mereka akan ditebus. Sebuah mata air penyucian akan dibuka bagi mereka, dan mereka akan menerima Kerajaan yang dijanjikan dalam Perjanjian Lama.
Tidak ada keraguan tentang apa yang dia katakan. Apakah Israel tidak memiliki tanggung jawab manusia dalam hal ini? Tentu saja ada. Lihat ayat 30, “Jika demikian, apa yang hendak kita katakan? Ternyata, bangsa-bangsa lain yang tidak mengejar kebenaran, telah beroleh kebenaran, yaitu kebenaran berdasarkan iman. Sedangkan Israel, sungguhpun mengejar hukum yang akan mendatangkan kebenaran, tidak sampai kepada hukum itu?” Akan lebih baik menjadi orang bukan Yahudi.”
Di sini ada semua orang Yahudi yang telah bekerja keras mengejar kebenaran melalui hukum, dan mereka gagal, sedangkan orang bukan Yahudi yang mengejarnya melalui iman menerima keselamatan yang tidak dapat ditemukan orang Yahudi melalui usaha hukum. Alasannya, mereka tidak mengejarnya melalui iman, tetapi seolah-olah melalui perbuatan. Mereka tersandung pada batu sandungan, yaitu Kristus, sebagaimana tertulis kembali di Yesaya, “Sesungguhnya, Aku meletakkan sebagai dasar di Sion sebuah batu, batu yang teruji, sebuah batu penjuru yang mahal, suatu dasar yang teguh: Siapa yang percaya, tidak akan gelisah!”
Pernyataannya sangat jelas. Orang-orang bukan Yahudi memperoleh kebenaran melalui iman. Israel tidak memperoleh kebenaran karena mereka mencarinya lewat perbuatan. Mereka mencarinya melalui perbuatan. Jadi, di satu sisi, keselamatan adalah keputusan kedaulatan Allah akan siapa yang akan diselamatkan. Namun di sisi lain, manusia dihukum karena mencari keselamatan dengan cara yang salah. Apakah Anda mengerti? Israel tidak memperoleh kebenaran yang datang dari iman karena keselamatan itu hanya mungkin melalui iman, bukan melalui hukum Taurat, dan hanya tersedia melalui Kristus—dan mereka tersandung pada Kristus. Injil, menurut 1 Korintus, bagi orang bukan Yahudi adalah kebodohan dan bagi orang Yahudi suatu batu sandungan.
Dalam Yohanes 8:24 Yesus berkata, “Aku berkata kepadamu bahwa kamu akan mati dalam dosamu; sebab jikalau kamu tidak percaya bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu.” Anda harus percaya. Baik orang bukan Yahudi maupun orang Yahudi harus percaya. Keselamatan selalu melalui iman, dan iman itu harus ditempatkan kepada Kristus Yesus. Orang-orang Yahudi menolak melakukan itu. Mereka tersandung pada Kristus. Karena itu mereka binasa. Apakah itu berarti rencana Allah gagal? Tidak. Allah tidak pernah bermaksud bahwa seluruh Israel akan menjadi Israel sejati, tetapi akan ada suatu sisa. Dan jika Allah menentukan untuk menyatakan kasih karunia-Nya kepada yang sisa itu, Dia berhak melakukan itu. Jika Dia menentukan untuk menyatakan penghakiman dan murka-Nya serta kekudusan-Nya dalam menghukum orang-orang berdosa, Dia berhak melakukan itu. Jadi di situlah letak persoalan kedaulatan ilahi.
Masuk ke pasal 10, dan di pasal 10 ini terjadi perubahan yang dramatis, benar-benar perubahan dramatis karena sekarang pokok pembahasannya adalah tentang tanggung jawab manusia. Kita mendapat sedikit gambaran tentang hal itu di akhir pasal 9. “Saudara-saudara, kerinduan hatiku dan doaku kepada Allah ialah, supaya mereka diselamatkan.” Keinginan ini berarti sebuah kerinduan yang memohon, semacam hasrat penuh permohonan. Paulus tidak menjadi acuh karena doktrin kedaulatan dalam pasal 9. Dialah yang baru saja menulis pasal itu. Dia juga tidak menjadi acuh karena doktrin pemilihan dan predestinasi, sebab dia memahami kebenaran paralel dari tanggung jawab manusia. Hal itu terungkap dengan begitu indah dalam pasal 10. Sungguh mengejutkan sebenarnya bahwa keduanya diletakkan bersebelahan dan tidak saling bertentangan, melainkan sejajar.
Apa masalahnya? Apa isunya di sini? Paulus berkata, “Aku ingin mereka diselamatkan.” Ayat 1, “Aku ingin mereka diselamatkan.” Hatiku berseru untuk keselamatan mereka sampai-sampai aku hampir berharap diriku sendiri terkutuk jika itu bisa membuat mereka diselamatkan. Jadi apa masalahnya?
Nah, di ayat 2 dia menjelaskannya. Dia tidak berkata, “Oh, mereka bukan orang-orang pilihan.” Dia berkata, “mereka sungguh berapi-api untuk Allah, tetapi – ” apa? “Masalah pertamanya adalah mereka tanpa pengertian.” Oh, mereka tidak memiliki pengertian. Tentang apa?
Ayat 3 berkata, “Mereka tidak mengenal pembenaran oleh Allah.” Hal pertama – dan ini sangat penting – yang mereka kurang pahami adalah pengenalan yang benar tentang Allah, khususnya tentang kebenaran-Nya, kekudusan-Nya, kesempurnaan-Nya yang mutlak. Mereka berpikir bahwa Allah itu kurang benar dari yang sebenarnya. Bagaimana kita tahu itu? Karena mereka berusaha menegakkan kebenaran mereka sendiri. Logikanya begini: mereka menganggap Allah kurang benar sehingga mereka bisa memenuhi standar kebenaran yang Allah tuntut. Dengan begitu, mereka merasa mampu mengumpulkan kebenaran yang cukup untuk memuaskan tuntutan kebenaran Allah. Jadi, mereka bukan hanya memiliki pengetahuan yang salah tentang kebenaran Allah, tetapi juga memiliki pemahaman yang salah tentang keberdosaan mereka sendiri. Mereka mengira Allah kurang benar dari yang sesungguhnya, dan mereka sendiri lebih benar daripada yang sesungguhnya. Karena itu mereka berpikir bisa menegakkan kebenaran mereka sendiri di hadapan Allah daripada tunduk pada kebenaran Allah yang sempurna dan berseru memohon belas kasihan-Nya.
Mereka tidak memiliki pengenalan akan Allah. Mereka tidak memiliki pengenalan akan dosa. Mereka juga tidak memiliki pengenalan akan Kristus, seperti yang tertulis dalam ayat 4. Mereka tidak mengerti bahwa Kristus adalah tujuan akhir dari hukum Taurat. Kristus adalah satu-satunya yang menggenapi hukum itu demi kebenaran bagi setiap orang yang percaya. Dengan kata lain, kita kembali kepada kebenaran aktif Kristus, yaitu karakter Yesus Kristus sendiri. Mereka tidak mengerti bahwa satu-satunya yang mampu dan sudah menggenapi hukum Taurat dengan sempurna adalah Tuhan Yesus Kristus, dan bahwa kebenaran-Nya yang sempurna itu diperhitungkan oleh Allah bagi siapa saja yang percaya kepada-Nya. Mereka tidak mengerti hal itu. Mereka tidak mengerti karakter Allah. Mereka tidak mengerti sifat kejatuhan mereka sendiri. Mereka tidak mengerti kebenaran Allah yang datang melalui Kristus. Mereka juga tidak mengerti bahwa keselamatan hanya diperoleh melalui iman, seperti penutup ayat 4, “tiap-tiap orang yang percaya.”
Lalu Paulus melanjutkan penjelasannya dalam ayat 5, “Sebab Musa menulis tentang kebenaran berdasarkan hukum Taurat: ‘Orang yang melakukannya, akan hidup karenanya.’” Artinya, jika seseorang memilih jalur hukum Taurat, maka dia harus bertanggung jawab untuk menuruti hukum Taurat dengan sempurna, dan hal itu hanya akan berakhir pada kebinasaan. Tetapi, ayat 6 berbicara tentang kebenaran karena iman—dan inilah yang Paulus ingin tekankan. "Jangan katakan di dalam hatimu: ‘Siapa yang akan naik ke surga?’, yaitu: Untuk membawa Kristus turun, atau: ‘Siapa yang akan turun ke jurang maut?’, yaitu: Untuk membawa Kristus naik dari antara orang mati.” Siapakah manusia sehingga dia berpikir dapat menurunkan Kristus dari surga? Atau mengangkat Kristus dari dunia orang mati demi menolong dirinya melalui kebenaran yang dihasilkan oleh dirinya sendiri? Itu tidak mungkin. Manusia tidak bisa membawa Kristus turun dari surga, dan tidak bisa pula membangkitkan-Nya dari kematian. Inilah bahasa dari kesombongan pembenaran diri sendiri.
Kekeliruan pandangan ini terletak pada kenyataan bahwa orang berdosa mengira Allah kurang benar dari yang sebenarnya, mengira dirinya lebih benar dari yang sebenarnya, dan karena itu percaya bahwa adalah mungkin baginya untuk membawa Allah masuk ke dalam dunianya supaya Allah memberinya kebenaran. Ini adalah perjalanan yang mustahil. Inilah Don Quixote rohani, “Mimpi yang Mustahil.”
“Apa yang sedang kami beritakan?” katanya dalam ayat 8. “Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu.” Ini bukan pesan yang baru. Kalimat itu diambil dari Ulangan 30. “Firman iman yang kami beritakan,” inilah yang kami sampaikan. Inilah isinya: “jika engkau mengaku dengan mulutmu bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dengan hatimu bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka engkau akan diselamatkan.” Tidak ada unsur kedaulatan di sini. Ini adalah panggilan kepada orang berdosa untuk mengaku dengan mulutnya bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya di dalam hatinya bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati—yang adalah pengesahan ilahi atas kesempurnaan hidup dan karya-Nya—dan dia akan diselamatkan. “Karena dengan hati,” ayat 10, “orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan. Jika Anda menginginkan kebenaran, Anda tidak dapat mencapainya dengan usaha Anda. Anda tidak bisa menariknya turun dari atas, atau membawanya naik dari bawah. Itu adalah anugerah Allah bagi siapa saja yang percaya.
Dan Paulus bahkan melangkah lebih jauh lagi. Lihatlah ayat 11: “Siapa saja yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan,” yang merupakan gema dari ayat 33 dalam pasal sebelumnya. “Barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan.” Setiap penginjil harus percaya akan hal itu, bukan? Setiap orang Kristen harus percaya akan hal itu. Kita tidak boleh terjebak dalam ekstrapolasi pemahaman tentang kedaulatan Allah lalu bersikap masa bodoh terhadap orang-orang yang terhilang. Inilah pria yang hatinya berdarah, merintih, menangis, dan selalu dalam pergumulan serta kesedihan atas kondisi orang-orang yang terhilang. Dia tidak melihat seorang pun hanya dari luarnya. Kita sudah melihat itu kemarin, bahwa dia tidak menilai seorang laki-laki atau perempuan secara lahiriah. Dia melihat mereka dalam kondisi keterhilangan mereka. Hatinya sakit karena mereka. Dia telah mengalami kasih Kristus. Dia tahu Kristus telah mati bagi semua orang yang akan percaya kepada-Nya. Dia ingin membawa pesan itu kepada mereka. Inilah hati yang penuh gairah dari seorang penginjil, dan inilah yang dimaksud dengan frasa “Siapa saja”: “Siapa saja yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.”
Dan kemudian tibalah pada bagian Alkitab yang sangat penting ini, dimulai dari ayat 14. Bagian ini membawa kita kepada poin ketiga yang ingin saya tunjukkan pagi ini. Pertama, Paulus berbicara tentang kedaulatan ilahi; lalu dia berbicara tentang tanggung jawab manusia untuk percaya; dan di sini dia berbicara tentang tugas Injil, tugas Injil.
Perhatikan ayat 14. Apakah dia berkata, “Bagaimana mereka akan berseru kepada-Nya jika mereka bukan orang pilihan?” Bukan. Tapi apa yang dia katakan? “Bagaimana orang dapat berseru kepada Dia yang belum mereka percayai? Bagaimana orang dapat percaya kepada Dia yang belum pernah mereka dengar? Bagaimana orang mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya?” Luar biasa. Bagaimana mereka akan mendengar jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Bagaimana mereka dapat memberitakan jika mereka tidak diutus? Seperti yang tertulis dalam kitab Yesaya, Alangkah menyenangkan kedatangan mereka yang membawa kabar baik!” Tidakkah Anda merasa demikian terhadap orang yang telah membawakan Injil kepada Anda? Kita tidak layak menerima pujian itu, tetapi hati orang yang telah dijangkau selalu dipenuhi sukacita dan kasih kepada orang yang telah menjangkaunya.
Tidak semua orang mengindahkan kabar baik, kata ayat 16. Tidak semua orang. Apa yang salah? Ada yang skeptis, seperti perkataan Yesaya, “Tuhan, siapakah yang percaya pada pemberitaan kami?” Tetapi ayat 17 merangkum semuanya. Mengapa mereka tidak percaya? Mengapa mereka tidak menerima keselamatan? Karena iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus. Yang dimaksud di sini bukan sekadar mendengar dengan telinga, tetapi mendengar dengan hati. Masalahnya, mereka tidak sungguh-sungguh mendengarkan. Mereka tidak mendengarkan dengan saksama. Iman timbul dari apa yang didengar, dan apa yang didengar itu berasal dari pemberitaan tentang Kristus.
Jadi itu memperjelas bagi kita tentang tugas Injil. Ya, kita mengerti kedaulatan ilahi. Ya, kita mengerti tanggung jawab manusia sebagaimana sudah dijelaskan di bagian awal pasal 10. Dan sekarang kita mengerti tugas Injil bahwa mereka tidak bisa berseru kepada Dia yang mereka tidak percayai. Mereka tidak bisa percaya kepada Dia yang mereka tidak kenal. Mereka tidak bisa mengenal Dia tanpa ada yang memberitakan. Mereka tidak bisa memberitakan kecuali jika mereka diutus, sebab iman datang dari pendengaran akan kebenaran tentang Kristus. Iman datang dari mendengar kebenaran tentang Kristus. “Tetapi aku bertanya,” ayat 18, “Apakah mereka tidak mendengarnya? Justru mereka telah mendengarnya, bukan? Memang benar. Suara pembawa berita sudah sampai ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi. Tetapi aku bertanya: Apakah Israel mengerti? Pertama-tama Musa berkata, ‘Aku membuat kamu cemburu terhadap orang-orang yang bukan umat dan membangkitkan kemarahanmu terhadap bangsa yang bebal.’”
Dan Yesaya dengan sangat berani berkata, “Aku telah berkenan ditemukan oleh orang yang tidak mencari Aku. ku telah berkenan memberi petunjuk kepada orang yang tidak menanyakan Aku. Tetapi tentang Israel,” katanya, “Sepanjang hari Aku telah mengulurkan tangan-Ku kepada suku bangsa yang memberontak.” Apa maksudnya? Intinya adalah bahwa Paulus berkata, “Kalian semua orang Yahudi menolak untuk mendengar, kalian menolak pesan Kristus, pesan yang telah sampai ke seluruh dunia, sementara bangsa-bangsa bukan Yahudi mendengarnya dan percaya. Kalian mendengarnya lebih dahulu, tetapi kalian menolaknya.” Jadi Paulus menegaskan bagi kita tugas penginjilan ini, tanggung jawab Injil ini, tepat di tengah kebenaran besar tentang kedaulatan ilahi dan tanggung jawab manusia.
Selagi kita masuk ke pasal 11, secara singkat ada beberapa komentar. Kita kembali pada isu pemeliharaan ilahi. Dan saya tidak bisa membahas seluruh pasal ini karena waktunya tidak cukup, jadi hanya melihatnya secara umum. Saya katakan, ayat 1, “Mungkinkah Allah telah membuang umat-Nya? Sekali-kali tidak!” Dan di sini kita kembali pada kedaulatan ilahi. “Karena aku sendiri pun orang Israel.” Itu adalah bukti bahwa Dia tidak menolak umat-Nya karena ada orang-orang Yahudi yang diselamatkan selama zaman gereja. “Aku dari keturunan Abraham, dari suku Benyamin. Allah tidak membuang umat yang telah Ia pilih sejak dulu. Atau tidak tahukah kamu apa yang dikatakan Kitab Suci tentang Elia, waktu ia mengadukan Israel kepada Allah, ‘Tuhan, nabi-nabi-Mu telah mereka bunuh, mezbah-mezbah-Mu telah mereka runtuhkan; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup dan mereka ingin mencabut nyawaku.’” Dan apakah jawaban Tuhan kepadanya? “Apakah kamu bercanda? Aku masih menyisakan tujuh ribu orang bagi-Ku, yang tidak pernah sujud menyembah Baal. Demikian juga pada waktu ini terdapat suatu sisa, menurut pilihan berdasarkan anugerah.”
Jadi, jawabannya adalah ini. Pada akhirnya kita melihat ketidakpercayaan Israel, tetapi itu bukanlah akhir dari cerita. Dan bisa dikatakan ada poin keempat yang bisa kita tambahkan di sini, yaitu janji ilahi. Akan ada keselamatan di masa depan bagi Israel dan itulah janjinya dalam pasal 11. Janji itu sangat jelas, tidak bisa disangkal. Tidak mungkin dihindari. Ayat 5 menyebutkan, “Terdapat suatu sisa, menurut pilihan berdasarkan anugerah.”
Paulus harus menjawab pertanyaan, “Bagaimana dengan Israel?” Karena di akhir pasal 10 tadi dikatakan bahwa orang-orang Yahudi telah menolak, sementara bangsa-bangsa lain yang datang belakangan dalam pesta Injil justru percaya. Gereja berkembang dan bertumbuh, sementara orang-orang Yahudi terus-menerus menolak dengan sikap permusuhan.
Bagaimana dengan Israel? Apakah ini akhir bagi Israel? Apakah semuanya sudah berakhir? Ada orang yang mengatakan demikian, bahwa gereja adalah Israel Allah dan tidak ada masa depan lagi bagi bangsa Israel. Tetapi sulit menjelaskan apa yang sedang terjadi di tanah Israel saat ini jika memang Allah tidak akan melakukan sesuatu bagi bangsa itu di masa depan. Pernahkah Anda bertemu dengan orang Hewi, Yebus, Amori, atau Het? Saya sendiri tidak pernah. Mereka telah bercampur dan lenyap berabad-abad yang lalu. Namun orang Yahudi tetap ada, sama murninya seperti pada zaman Alkitab, bahkan sejak masa Perjanjian Lama. Jadi apa yang sedang Allah kerjakan?
Akan tiba waktunya. Sekarang memang ada sisa umat, dan gereja kita, misalnya, dipenuhi oleh banyak orang Yahudi—sisa umat yang masih ada hingga hari ini, dan kita sangat bersyukur untuk itu. Tetapi akan datang suatu hari di mana keselamatan akan kembali kepada Israel sebagai sebuah bangsa.
Perhatikan ayat 11, “Aku bertanya: Apakah mereka tersandung dan harus jatuh? Sekali-kali tidak! Tetapi karena pelanggaran mereka, keselamatan telah sampai kepada bangsa-bangsa lain.” Jadi yang terjadi adalah, melalui penolakan Israel, Allah membawa keselamatan kepada bangsa-bangsa lain. Lalu Paulus menjelaskan bahwa keselamatan bagi bangsa-bangsa lain dimaksudkan untuk membuat orang Yahudi cemburu, sehingga dalam kecemburuan itu mereka akhirnya kembali menerima janji yang mula-mula diberikan kepada mereka. Jika penolakan mereka—seperti pada ayat 15—berarti “pendamaian bagi dunia,” maka penerimaan mereka kelak akan menjadi “hidup dari kematian.” Bayangkan, jika penolakan Israel terhadap Kristus membawa Injil tersebar ke seluruh dunia bangsa-bangsa lain dengan begitu besar dampaknya, apa yang akan terjadi saat mereka menerimanya kembali? Jawabannya jelas bila kita membaca kitab Wahyu: pertama akan ada 144.000 orang Yahudi—12.000 dari setiap suku—yang menjadi penginjil. Mereka akan pergi ke seluruh dunia untuk memberitakan Injil, dan akan ada begitu banyak orang yang diselamatkan sehingga itu menjadi masa kebangunan rohani terbesar dalam sejarah dunia. Dan setelah itu Tuhan akan datang kembali untuk mendirikan Kerajaan yang telah dijanjikan kepada mereka. Jadi, mereka hanya terputus sementara saja, bukan untuk selamanya.
Ayat 17 menggambarkan bahwa cabang-cabang tertentu telah dipatahkan dari pohon zaitun keselamatan, dan bangsa-bangsa lain yang diibaratkan seperti pohon zaitun liar dicangkokkan ke dalamnya. Dengan demikian, bangsa-bangsa lain turut mengambil bagian dalam akar yang kaya dari pohon itu. Paulus menasihati agar jangan sombong terhadap cabang-cabang yang dipatahkan, sebab bukan kita yang menopang akar, melainkan akarlah yang menopang kita. Cabang-cabang itu dipatahkan karena ketidakpercayaan, sedangkan bangsa-bangsa lain berdiri teguh oleh iman. Karena itu jangan tinggi hati, melainkan takut, sebab jika Allah tidak menyayangkan cabang-cabang asli, Ia juga tidak akan menyayangkan yang lain.
Paulus mengingatkan bahwa gereja pun bisa mengalami akhir yang menyedihkan bila jatuh dalam kesombongan atau menjadi gereja palsu, sebab Tuhan bisa saja “memotong” mereka, katanya di ayat 22. Tapi akan datang harinya ketika Israel akan diselamatkan. Ayat 25, “Saudara-saudara, supaya kamu jangan menganggap dirimu pandai, aku mau agar kamu mengetahui rahasia ini: Sebagian dari Israel telah menjadi keras hatinya.” Kekerasan hati itu hanya sebagian karena masih ada sisanya yang setia. “Sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain masuk.” Artinya gereja telah lengkap. “Dengan demikian, seluruh Israel akan—” apa? “— diselamatkan.” seperti ada tertulis: ‘Dari Sion akan datang Penebus, Ia akan menyingkirkan segala kefasikan dari Yakub. Dan inilah perjanjian-Ku dengan mereka, apabila Aku menghapuskan dosa mereka.’”
Mengapa ini akan terjadi? Ayat 29, “Sebab Allah tidak menyesali karunia-karunia dan panggilan-Nya.” Janji-janji Allah tidak bisa dibatalkan, tidak dapat dibatalkan. Pada akhirnya Allah akan menyelamatkan umat-Nya, Israel.
Jadi semuanya kembali pada janji Allah. Sekarang semuanya kembali pada kuasa Allah, dan pada akhirnya itu kembali pada kemuliaan-Nya. Ketika semuanya selesai, inilah kesimpulannya: “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!”
Tahukah Anda apa artinya itu sekarang? Itu di luar kemampuan kita untuk sepenuhnya memahami. “Siapa yang mengetahui pikiran Tuhan?” Anda tidak berpikir bisa mengetahuinya, bukan? Siapa yang menjadi penasihat-Nya? Dia tidak punya penasihat. Atau siapa yang telah memberi kepada-Nya sehingga harus dibayar kembali kepada-Nya? Dia tidak berutang penjelasan apapun kepada Anda. “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” Dan semua orang berkata? Amin. Amin.
SELESAI
This article is also available and sold as a booklet.
