Grace to You Resources
Grace to You - Resource

Saat ini adalah waktu yang sangat istimewa bagi kami di Gereja Grace, setidaknya bagi keluarga kecil kami, karena Patricia, istri saya, dan saya sedang merayakan ulang tahun pernikahan kami yang kelima puluh. Dan setidaknya saya ingin Anda melihat hadiah ini—hadiah terbaik yang Tuhan berikan kepada saya dalam hidup ini. Patricia, maukah kamu berdiri dan berbalik sebentar supaya semua orang bisa melihatmu?

Lalu saya mulai berpikir, bagaimana caranya merayakan 50 tahun pernikahan dengan empat anak? Mereka semua sudah menikah, dan semuanya ada di gereja kami. Lima belas cucu kami juga semuanya ada di gereja kami, dan kami sedang satu per satu membaptis mereka. Sejauh ini sudah sekitar tujuh cucu yang dibaptis. Usia cucu-cucu kami berkisar dari 23 sampai 3 tahun. Jadi, bagaimana caranya merayakan semua ini?

Jadi saya terpikir sesuatu yang spontan, saya berkata (kepada istri saya), “Bagaimana kalau saya memberimu 50 hari untuk 50 tahun?” Kedengarannya memang sederhana kalau dipikir-pikir, 50 hari untuk 50 tahun. Jadi sekarang kami sedang menjalani itu, lalu kami pulang sebentar untuk konferensi ini, dan setelah itu kami akan pergi lagi. Bahkan, mungkin saja jadi 60 hari kalau dipikir-pikir, karena kami sedang menikmati waktu ini dengan sangat luar biasa. Tapi tentu saja, dalam beberapa minggu lagi kami akan kembali untuk melanjutkan pelayanan yang indah di sini.

Kami sangat bersyukur atas kasih dari jemaat, juga kasih dari anak-anak dan cucu-cucu kami. Tadi pagi ada sebuah catatan di meja saya dari dua cucu perempuan saya, yang bersama-sama menulis pesan untuk saya dan mengatakan, “khotbah yang baik hari ini ya.” Jadi mereka selalu mendoakan saya. Dan dari semua hadiah yang Tuhan bisa berikan, memiliki keluarga yang ada di dalam Kristus, ada di dalam gereja, dan melayani Tuhan bersama-sama benar-benar merupakan berkat yang tidak ada tandingannya dari Tuhan.

Dalam konferensi minggu ini, kami membahas sebuah topik, yaitu gerakan karismatik kontemporer, dengan judul “Api yang Asing (Strange Fire).” Ini adalah hal yang sudah menjadi perhatian saya selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun. Kalau ditarik ke awal-awal pelayanan saya, saat saya mulai pelayanan dan melihat munculnya gerakan ini, saya sudah merasa sangat, sangat prihatin. Selama bertahun-tahun, saya membahas hal ini dari mimbar ini. Empat puluh tahun yang lalu, saya pernah menyampaikan seri khotbah tentang gerakan karismatik, membahas berbagai isu yang ada di dalamnya. Beberapa tahun kemudian, saya menulis buku berjudul The Charismatics, lalu disusul dengan buku lain berjudul Charismatic Chaos (Kekacauan Karismatik). Saya juga terus membuat seri khotbah lainnya dan memberi perhatian lebih pada topik ini, dengan tujuan membantu jemaat kami memiliki kemampuan untuk membedakan dan menilai dengan bijaksana.

Nah, ketika orang bertanya kepada saya, “Apa masalah terbesar dalam gereja?” saya selalu memberikan jawaban yang sama: tidak adanya kemampuan membedakan kebenaran. Itulah masalah terbesar dalam gereja. Karena kalau Anda tidak bisa membedakan kebenaran dengan Firman Tuhan di tangan Anda, dengan Alkitab di tangan Anda, kalau Anda tidak bisa membedakan kebenaran, Anda bisa mati karena seribu ajaran sesat. Ini seperti memiliki AIDS secara rohani. Orang yang sistem kekebalannya lemah bisa mati karena seribu penyakit. Gereja pun bisa mati karena seribu ajaran sesat jika tidak memiliki kemampuan untuk membedakan. Ini selalu menjadi masalahnya.

Dan bagian dari tanggung jawab pelayanan adalah sisi positifnya, yaitu mengajar dengan penuh kesabaran, seperti yang Paulus katakan kepada Timotius. Tetapi ada juga sisi lainnya, yaitu menegur, memperingatkan, dan mendorong, semuanya dengan menggunakan Firman Tuhan. Memiliki kemampuan membedakan ini adalah inti dari kehidupan Kristen, karena hidup Kristen adalah cerminan dari cara berpikir Kristen, dan cara berpikir Kristen harus terikat pada ajaran yang benar. Di situlah kemampuan membedakan itu dimulai.

Sangat jelas bahwa sebagian besar dari orang yang mengaku sebagai orang Kristen tidak memiliki kemampuan untuk membedakan. Karena itu, tujuan dari konferensi di hari-hari ini, bersama dengan rekan-rekan saya yang akan membuka Firman Tuhan dan berbicara kepada Anda, adalah untuk menolong Anda memiliki kemampuan untuk membedakan. Kita tahu ada orang-orang dalam gerakan ini yang memang menipu, dan mereka sadar bahwa mereka penipu. Mereka adalah guru-guru palsu, dan mereka tahu bahwa mereka itu guru palsu. Mereka melakukannya demi uang, dan mereka sadar bahwa itulah motivasi mereka.

Namun kita juga tahu ada orang-orang yang terlibat dalam gerakan ini yang sebenarnya tertipu, dan mungkin tidak menyadari bahwa mereka sedang tertipu. Mereka adalah jiwa-jiwa yang perlu diselamatkan dari kebinasaan, bila meminjam kata-kata dari kitab Yudas. Ada pemimpin-pemimpin yang perlu ditegur dan disingkapkan, dan ada juga pemimpin yang tanpa sadar tersesat, yang perlu ditolong, dikuatkan, dan dibimbing untuk mengenal kebenaran.

Kita ingin menjadi seperti orang-orang Berea yang mulia. Kita ingin menyelidiki Kitab Suci untuk melihat apakah semuanya itu benar, mengukur segala sesuatunya dengan Firman Tuhan, dan itulah yang akan menjadi fokus kita minggu ini. Dan seperti yang saya katakan tadi, Anda benar-benar adalah orang-orang yang terpilih. Anda memiliki kesempatan khusus untuk hadir dalam acara ini. Sepanjang yang saya tahu, hal seperti ini belum pernah terjadi dalam gereja selama masa hidup saya, di mana orang-orang berkumpul untuk memikirkan isu ini secara serius.

Seberapa besar sebenarnya hal ini? Ada setengah miliar orang yang mengaku sebagai bagian dari gerakan karismatik di seluruh dunia, setengah miliar orang. Sebagai perbandingan, ada sekitar satu miliar umat Katolik Roma. Untuk perbandingan lainnya, ada sekitar 14 juta orang Mormon. Empat belas juta Mormon dibandingkan dengan setengah miliar karismatik. Ini adalah isu yang sangat besar.

Saya rasa tidak ada yang akan menyalahkan para pendeta jika mereka menentang ajaran Mormonisme, dan memang seharusnya demikian. Pandangan mereka tentang Allah salah, pandangan mereka tentang Kristus salah, dan pandangan mereka tentang keselamatan juga salah. Lalu mengapa kita enggan untuk menghadapi gerakan besar ini yang telah memikat lebih dari 500 juta orang?

Jadi, apa yang ingin kita lakukan dalam hari-hari ini secara bersama-sama—dan melakukannya dengan setia, dengan kasih, dan dengan penuh belas kasihan, tetapi juga dengan cara yang sangat jelas dan terus terang—adalah untuk menolong Anda melihat isu-isu ini sebagaimana adanya dan memiliki kemampuan untuk membedakan. Dengan begitu, Anda bisa menjadi orang-orang yang mampu menolong orang lain untuk melihat kebenaran.

Saya ingin Anda membuka Alkitab Anda di Imamat pasal 10. Di dalam Imamat 10 kita menemukan bagian Kitab Suci yang menjadi sumber dari judul konferensi ini, yaitu “Api yang Asing.” Tugas yang paling tinggi dan hak istimewa yang paling besar, perilaku yang paling penting, dan tanggung jawab yang tertinggi bagi manusia adalah menyembah Tuhan. Saya ulangi lagi, karena mungkin Anda tadi sedang fokus membuka bagian Alkitabnya. Tugas dan hak istimewa yang paling tinggi, perilaku yang paling penting, dan tanggung jawab yang tertinggi bagi manusia adalah menyembah Tuhan.

Bapa mencari penyembah-penyembah yang benar. Orang-orang yang percaya kepada Injil, kepada Tuhan Yesus Kristus, adalah penyembah-penyembah yang benar itu. Jadi, inilah tugas, hak istimewa, dan prioritas kita untuk selama-lamanya. Bahkan, setiap gambaran tentang surga dalam kitab Wahyu menunjukkan bahwa semua yang ada di sana, baik orang-orang kudus maupun para malaikat, sedang memuliakan Tuhan dan memberikan hormat kepada-Nya. Aktivitas paling serius yang akan pernah dilakukan oleh siapa pun adalah penyembahan. Aktivitas paling serius yang akan pernah dilakukan oleh siapa pun adalah penyembahan.

Dan bukan hanya di surga, tetapi juga di bumi. Ketika Anda berkumpul dan mengatakan bahwa tujuan Anda adalah untuk menyembah Tuhan, maka sebenarnya Anda sedang menetapkan bagi diri Anda sendiri sebuah kesungguhan, keseriusan, dan bobot yang besar dalam aktivitas yang Anda lakukan itu. Tidak ada yang lebih serius daripada penyembahan. Saya khawatir, dalam budaya kita, penyembahan sudah menjadi sesuatu yang sembrono, dangkal, dan kehilangan makna yang sebenarnya.

Sedangkan aktivitas paling serius yang akan pernah dilakukan oleh siapa pun ialah menyembah Tuhan. Kita dipanggil untuk menyembah dalam roh, artinya dengan emosi kita dan seluruh kemampuan sebagai manusia. Tetapi kita juga harus menyembah dalam kebenaran, yaitu sesuai dengan Firman yang telah dinyatakan. Kita harus menyembah dengan segenap hati, jiwa, pikiran, dan kekuatan kita. Kita harus menyembah dalam kasih, karena kita dipanggil untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, pikiran, dan kekuatan. Seluruh keberadaan kita, semua yang ada dalam diri kita, harus terarah pada penyembahan yang penuh kasih kepada Tuhan, sesuai dengan kebenaran yang telah Dia nyatakan kepada kita.

Tuhan telah menetapkan sistem penyembahan bagi Israel di dalam kitab Imamat ini. Para pemimpin awal dalam penyembahan, yang datang menghadap Tuhan mewakili umat, adalah para imam. Dan secara resmi, semuanya dimulai dengan Harun dalam kehidupan bangsa Israel. Harun pertama kali dipanggil dalam kitab Keluaran pasal 29. Ia dikuduskan dalam Imamat pasal 8. Dan ia akan menjadi kepala dari sebuah keluarga imam, yang memiliki tanggung jawab untuk menjadi pemimpin penyembahan bagi umat Tuhan.

Dalam Imamat pasal 9, Harun mempersembahkan korban bagi umat kepada Tuhan sesuai dengan ketetapan yang Tuhan berikan. Harun diberitahu bahwa Tuhan akan berkenan saat ia mempersembahkan korban itu sesuai dengan perintah yang Tuhan tetapkan. Dalam Imamat 9:6 dikatakan, “Musa berkata, ‘Inilah firman yang diperintahkan TUHAN untuk kamu lakukan, agar kemuliaan TUHAN tampak kepadamu.’” Lalu Musa berkata kepada Harun, “Datanglah mendekat ke mezbah. Olahlah kurban penghapus dosa dan kurban bakaranmu, serta adakanlah pendamaian bagi dirimu sendiri dan bagi bangsa itu. Sesudah itu olahlah persembahan bangsa itu dan adakanlah pendamaian bagi mereka, seperti yang diperintahkan TUHAN.” Tuhan telah memberikan perintah, dan Harun harus mengikuti perintah itu serta mempersembahkan korban tersebut. Dan jika ia melakukannya sesuai dengan rencana yang telah Tuhan nyatakan, maka kemuliaan Tuhan akan dinyatakan sebagai respons-Nya.

Kalau Anda melihat ke ayat 22 dalam pasal yang sama, dikatakan, “Harun mengangkat tangannya atas bangsa itu, lalu memberkati mereka. Ia turun setelah mempersembahkan kurban penghapus dosa, kurban bakaran, dan kurban keselamatan. Musa dan Harun masuk ke dalam Kemah Pertemuan, lalu memberkati bangsa itu. Tampaklah kemuliaan TUHAN kepada segenap bangsa itu. Keluarlah api dari hadapan TUHAN melahap kurban bakaran dan seluruh lemak di atas mezbah. Tatkala seluruh bangsa itu melihatnya, bersorak-sorailah mereka lalu sujud menyembah.”

Harun melakukan apa yang diperintahkan kepadanya, dan apa yang Tuhan janjikan pun terjadi. Jika ia melakukan apa yang Tuhan perintahkan dalam mempersembahkan kurban, maka kemuliaan Tuhan akan dinyatakan. Dan memang ia melakukannya, sehingga seperti yang tertulis di ayat 23, kemuliaan TUHAN tampak kepada seluruh bangsa itu. Lalu Tuhan sendiri menurunkan api untuk menghanguskan kurban tersebut, karena Tuhan berkenan atas persembahan itu.

Hal ini membawa kita ke pasal 10. “Nadab dan Abihu, anak-anak Harun, masing-masing mengambil perbaraannya, membubuhkan api ke dalamnya serta menaruh dupa di atas api itu. Dengan demikian, mereka mempersembahkan ke hadapan TUHAN api lain yang tidak diperintahkan-Nya kepada mereka. Api pun keluar dari hadapan TUHAN melahap keduanya, sehingga mereka mati di hadapan TUHAN. Berkatalah Musa kepada Harun, ‘Inilah yang difirmankan TUHAN: Kepada orang yang dekat dengan-Ku, Aku menyatakan kekudusan-Ku, dan di hadapan seluruh bangsa itu akan Kuperlihatkan kemuliaan-Ku.’ Harun pun terdiam.”

Ia baru saja melihat kedua anaknya hangus terbakar. “Berkatalah Musa kepada Harun, ‘Inilah yang difirmankan TUHAN: Kepada orang yang dekat dengan-Ku, Aku menyatakan kekudusan-Ku, dan di hadapan seluruh bangsa itu akan Kuperlihatkan kemuliaan-Ku.’” Musa juga memanggil Misael dan Elsafan, anak-anak Uziel, paman Harun, dan berkata kepada mereka, “Datanglah kemari, angkatlah saudara-saudaramu ini dari depan Tempat Kudus ke luar perkemahan.” Mereka pun datang, dan mengangkat mayat itu, keduanya masih berjugah dalam, ke luar perkemahan, seperti yang dikatakan Musa. Kemudian Musa berkata kepada Harun serta kepada Eleazar dan Itamar, anak-anak Harun, “Janganlah kamu berkabung, membiarkan rambutmu terurai dan mengoyak pakaianmu, supaya jangan kamu mati dan segenap umat ini dimurkai TUHAN. Saudara-saudaramulah, seluruh bangsa Israel, yang harus menangis karena api yang dinyalakan TUHAN itu.” Jadi, seluruh bangsa dipanggil untuk berkabung atas peristiwa ini. “Jangan kamu pergi dari depan pintu Kemah Pertemuan, supaya jangan kamu mati, karena minyak urapan TUHAN ada atasmu.” Mereka melakukannya sesuai dengan perkataan Musa.

“TUHAN berfirman kepada Harun, ‘Jangan engkau minum anggur atau minuman keras, engkau serta anak-anakmu, ketika kamu masuk ke dalam Kemah Pertemuan, supaya jangan kamu mati. Itulah suatu ketetapan untuk selamanya bagi kamu turun-temurun. Kamu harus dapat membedakan antara yang kudus dan yang tidak kudus, antara yang najis dan yang tahir, serta dapat mengajarkan kepada orang Israel segala ketetapan yang telah difirmankan TUHAN kepada mereka dengan perantaraan melalui Musa.’”

Harun taat, dan Tuhan menghanguskan kurban persembahan itu. Tetapi kedua anaknya tidak taat, dan Tuhan menghanguskan mereka. Saya tidak ingin masuk ke semua detailnya. Cukup untuk dikatakan bahwa ketika Anda datang ke hadapan Tuhan, Anda harus menghormati Tuhan. Anda harus datang dengan cara yang sesuai dengan kehendak dan penyataan-Nya. Inilah artinya menyembah dalam kebenaran.

Anak-anak Harun adalah orang-orang yang sangat dihormati, sangat disegani. Mereka adalah imam-imam dari satu-satunya Allah yang benar. Anak yang sulung bahkan berada dalam posisi untuk menjadi imam besar berikutnya. Musa adalah paman mereka. Nama mereka tercantum di antara para pemimpin Israel dalam Keluaran pasal 24. Mereka adalah orang-orang yang sangat dihormati. Selain Abraham dan Musa, merekalah yang disebutkan secara khusus dalam Kitab Suci ketika pertama kali Kitab Suci menyebutkan para pemimpin Israel. Jadi, selain Harun dan Musa, hanya dua anak ini saja yang disebutkan namanya ketika daftar pertama para pemimpin Israel dituliskan. Itu ada dalam kitab Bilangan, yang berkaitan dengan tujuh puluh tua-tua pertama, semacam Sanhedrin awal. Jadi, mereka bukan orang jahat. Mereka bukan orang fasik. Mereka bukan perebut kekuasaan. Mereka ini adalah orang-orang yang dihormati.

Dan bersama dengan ketujuh puluh tua-tua itu, mereka mendapat hak istimewa untuk naik sebagian ke Gunung Sinai dan menyaksikan dari kejauhan saat Tuhan berbicara dengan Musa. Itu adalah suatu kehormatan besar, karena bangsa itu tidak diizinkan mendekati gunung itu, bahkan hewan pun tidak boleh mendekat, seperti yang tertulis dalam Keluaran pasal 19. Semua orang harus berada sangat, sangat jauh. Orang-orang hanya bisa melihat dari kejauhan di padang gurun, menyaksikan api dan asap di atas gunung, sementara Nadab dan Abihu justru diundang untuk naik mendekat. Dan menurut Keluaran pasal 24, mereka melihat Allah, lalu makan dan minum. Mereka adalah orang-orang yang sangat istimewa, lebih dekat kepada Tuhan dibanding siapa pun yang lain. Hanya Musa yang bisa dianggap lebih dekat lagi. Posisi mereka tampak begitu aman, begitu terjamin.

Lalu terjadilah hal itu, seperti yang tertulis di ayat 2, “Api pun keluar dari hadapan TUHAN melahap keduanya, sehingga mereka mati di hadapan TUHAN.” Musa menjelaskan bahwa hal itu terjadi karena mereka datang kepada-Nya dengan cara yang tidak kudus dan mempersembahkan api yang lain atau asing. Kita tidak tahu secara pasti apa yang dimaksud dengan api yang asing itu. Namun, kemungkinan terbaik adalah bahwa api itu berasal dari sumber lain, bukan dari mezbah yang seharusnya, yaitu mezbah yang telah dinyalakan oleh Tuhan sendiri dari surga. Seharusnya mereka mengambil api dari mezbah itu, yang Tuhan nyalakan secara supranatural. Tetapi jelas, mereka mengambil api dari tempat lain, dari sumber yang berbeda. Mungkin hal ini terlihat sepele. Dan bagi cara berpikir yang duniawi, santai, dan cenderung mengikuti keinginan sendiri seperti zaman kita sekarang, hal ini bisa terlihat seperti reaksi yang berlebihan. Mengapa Tuhan begitu mempermasalahkan dari mana asal api itu? Bukankah itu hanya hal kecil?

Mungkin ada lebih dari itu. Bagi Tuhan, ini bukan hal kecil, dan kemungkinan ada hal lain yang terlibat. Fakta bahwa di ayat 9, Harun diperintahkan untuk tidak minum anggur atau minuman keras bisa menunjukkan bahwa mereka sebenarnya sedang mabuk. Mereka tidak mengendalikan pikiran mereka, dan hal itu membawa mereka pada sikap yang tidak menghormati ketetapan yang telah Tuhan tetapkan.

Api yang sama yang menyalakan kurban dalam pasal 9 ayat 24, justru membinasakan mereka dalam pasal 10. Hal ini adalah sesuatu yang serius dan menakutkan. Hal ini mengingatkan kita pada peristiwa ketika Tuhan membunuh Ananias dan Safira di hadapan jemaat dalam Kisah Para Rasul pasal 5, karena mereka berdusta kepada Roh Kudus tentang jumlah uang dari penjualan tanah mereka. Bagi budaya yang santai dan duniawi, hal ini mungkin terlihat seperti reaksi yang berlebihan. Tetapi biarlah saya sampaikan dengan sederhana: pelanggaran yang paling serius terhadap Tuhan terjadi dalam penyembahan yang rusak. Pelanggaran yang paling serius terhadap Tuhan terjadi dalam penyembahan yang rusak.

Sekarang, mari kita kembali sejenak ke Keluaran pasal 32. Ada begitu banyak hal yang ingin saya sampaikan, jadi kita akan sedikit mempercepat ini. Tetapi saya yakin Anda mengingat kisah dalam Keluaran pasal 32, karena ini adalah kisah tentang anak lembu emas. Di ayat 4 pasal itu, ayat ini berbicara tentang Harun yang memimpin peristiwa tersebut.

“Ia menerimanya dari tangan mereka, merancang bentuknya dengan alat, dan membuat anak lembu tuangan. Lalu kata mereka: "Hai Israel, inilah Allahmu, yang menuntun engkau keluar dari tanah Mesir!”

Anak lembu emas itu adalah gambaran yang salah tentang Allah yang benar. Dan seperti yang tertulis di ayat 6, bangsa itu “bangun pagi-pagi, mempersembahkan kurban bakaran dan kurban keselamatan. Kemudian bangsa itu duduk makan dan minum, lalu mereka bangkit dan bersenang-senang.” Mereka sedang menyembah Allah yang benar, tetapi dengan cara yang salah, dengan mengubah kemuliaan Allah menjadi gambaran dan bentuk yang menghujat serta menyimpang dari kebenaran.

Dan Anda tahu bagaimana kisah ini berakhir. Hal itu menjadi bencana bagi mereka. Terjadi pembantaian besar. Orang-orang dibunuh di tempat. Saudara melawan saudara dengan pedang dan bahkan membunuh anggota keluarganya sendiri, menjalankan perintah Tuhan untuk menghukum para penyembah yang telah merusak penyembahan itu.

Saya ingin mengulanginya sekali lagi. Pelanggaran paling serius yang pernah dilakukan terhadap Tuhan terjadi dalam penyembahan yang rusak. Dari sinilah kita sampai pada kesimpulan bahwa gerakan karismatik terus-menerus tidak menghormati Tuhan melalui bentuk-bentuk penyembahan yang salah. Gerakan ini tidak menghormati Bapa, tidak menghormati Anak, dan secara khusus tidak menghormati Roh Kudus. Gagasan yang tidak menghormati, tindakan yang tidak hormat, keyakinan yang tidak benar, klaim-klaim palsu, janji-janji palsu, perilaku yang berasal dari kedagingan—semua hal ini sering dikaitkan dengan Roh Kudus, padahal justru itu merupakan penghinaan bagi-Nya ketika hal-hal tersebut disandarkan kepada nama-Nya. Yang mereka lakukan adalah bentuk lain dari “api yang asing,” dan yang menyedihkan lagi, hal ini menjadi dasar untuk penghakiman. Hal ini menjadi dasar untuk penghakiman.

Ketika saya membahas hal ini beberapa bulan lalu di gereja kami, saya berkata, “Ini benar-benar serius.” Yesus berkata kepada para pemimpin Yahudi, “Kamu telah menganggap pekerjaan Roh Kudus yang Aku lakukan sebagai pekerjaan Iblis.” Artinya, mereka mengatakan bahwa Yesus melakukan semua itu dengan kuasa Iblis, seperti yang tertulis dalam Matius pasal 12. Dan Yesus berkata, “Kamu telah mengaitkan pekerjaan Roh Kudus dengan Iblis.”

Bisa dikatakan bahwa hal yang sebaliknya justru terjadi di banyak tempat dalam gerakan karismatik. Mereka mengaitkan kepada Roh Kudus hal-hal yang sebenarnya berasal dari Iblis. Dahulu, orang mengaitkan pekerjaan Roh Kudus kepada Iblis. Sekarang justru dibalik. Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus—Allah Tritunggal—tidak boleh dipermainkan. Ini adalah hal yang berbahaya bagi siapa pun yang mempersembahkan “api yang asing.” Adalah berbahaya bagi siapa pun yang mempersembahkan penyembahan yang rusak. Adalah berbahaya ketika seseorang menyatakan bahwa Roh Kudus melakukan sesuatu, mengatakan sesuatu, atau terlibat dalam sesuatu, padahal Dia tidak pernah melakukannya. Ini bukanlah hal yang kecil. Ini adalah pelanggaran yang sangat serius dalam menghina Roh Kudus, yang tampaknya tidak disadari oleh banyak orang.

Beberapa waktu lalu saya melihat perilaku dari sekelompok penganut Hindu yang termasuk dalam apa yang disebut kultus Kundalini. Mereka menunjukkan gerakan-gerakan tubuh tertentu yang tampaknya paling tepat dijelaskan sebagai kerasukan roh jahat. Dan yang mengejutkan, gerakan tubuh itu persis sama dengan apa yang terlihat pada sebagian orang dalam gerakan karismatik, khususnya dalam perilaku ekstrem yang muncul dalam apa yang disebut kebangunan rohani. Ini adalah praktik yang bersifat penyembahan berhala. Ini adalah pekerjaan Iblis. Ini adalah bagian dari kerajaan kegelapan, dan tidak boleh disandarkan kepada Roh Kudus.

Ini adalah hal yang tragis. Dalam beberapa sisi, mungkin terlihat begitu tidak masuk akal sampai orang bisa menertawakannya. Tetapi sebenarnya ini adalah ironi yang menyakitkan. Mereka yang mengaku paling mengasihi Roh Kudus, yang mengklaim memiliki akses khusus terhadap kuasa-Nya, yang merasa sedang mengalami hadirat-Nya, justru mengikuti pola-pola yang menghina nama-Nya, dan bahkan sama dengan pola orang-orang yang berhubungan dengan roh-roh jahat.

Mengaitkan kepada Roh Kudus tindakan yang tidak pernah Dia lakukan, perkataan yang tidak pernah Dia ucapkan, dan pengalaman yang bukan berasal dari-Nya adalah pelanggaran yang sangat serius, sangat serius. Dalam beberapa hal, gerakan karismatik seolah-olah melemparkan khayalan mereka ke dalam “api yang asing” berupa pengalaman mistis dan kuasa yang bersifat jahat, lalu menyembah “allah” palsu yang muncul dari situ.

Apakah saya sedang menyalahkan semua orang dalam gerakan ini? Tidak. Saya percaya ada orang-orang di dalamnya yang sungguh ingin menyembah Tuhan dengan benar. Namun mereka bisa saja terjebak dalam penyembahan yang salah ini, karena niat saja tidak cukup. Gerakan itu sendiri—perhatikan baik-baik—tidak memberikan apa pun bagi penyembahan yang benar. Saya ulangi lagi, gerakan itu sendiri tidak membawa apa pun yang memperkaya penyembahan yang sejati.

Mengapa saya mengatakan demikian? Karena gerakan karismatik, sebagai sebuah gerakan, tidak memberikan kontribusi apa pun terhadap kejelasan Alkitab. Tidak memberikan kontribusi dalam penafsiran Alkitab. Tidak memberikan kontribusi terhadap ajaran yang sehat. Kita sudah memiliki penafsiran Alkitab yang benar jauh sebelum gerakan karismatik muncul. Kita sudah memiliki doktrin yang kuat jauh sebelum gerakan ini ada. Sejak dahulu, melalui rangkaian panjang orang-orang yang setia, bahkan sampai kepada para rasul, telah ada aliran kebenaran yang jelas yang memberi kita pemahaman yang kaya dan utuh tentang Firman Tuhan.

Itulah sebabnya orang Kristen saat ini bisa membaca tulisan para rasul, lalu membaca para tokoh Reformasi, membaca kaum Puritan, dan mengikuti alur kebenaran sepanjang sejarah, sehingga menemukan kekayaan, pemahaman, dan kejelasan dalam setiap hal sampai ke masa lalu. Tapi gerakan ini tidak menambahkan apa pun pada itu. Sebaliknya, yang dibawanya justru kekacauan, kebingungan, penyimpangan, dan kesalahpahaman.

Apakah ada orang dalam gerakan karismatik yang percaya kebenaran? Ada. Memang ada. Apakah ada yang memiliki pemahaman teologi yang benar dalam beberapa hal? Ada. Tetapi semua pemahaman yang benar itu bukan berasal dari gerakan tersebut. Kebenaran itu sudah ada sejak lama, dalam rangkaian panjang para pengkhotbah dan pengajar yang setia, yang dipakai Tuhan untuk menjaga kebenaran dan menuntun gereja tetap pada jalurnya. Gerakan ini tidak menambahkan apa pun pada hal itu. Justru malah mengurangi dan membingungkan. Gerakan ini bukan sumber yang membawa kemajuan dalam pemahaman kita akan Kitab Suci atau ajaran yang sehat.

Apakah ada orang yang sungguh-sungguh diselamatkan di gereja-gereja karismatik dan melalui khotbah para pengkhotbah karismatik? Jawabannya: ya, ada. Tetapi bukan karena sesuatu yang berasal dari gerakan itu mereka diselamatkan. Injillah yang menyelamatkan mereka, dan Injil itu tidak diciptakan oleh gerakan tersebut. Di beberapa tempat, Injil itu masih tetap ada. Sedangkan di tempat lain, tidak lagi demikian.

Tidak ada sesuatu pun dari gerakan karismatik yang membawa pemulihan atau penguatan terhadap Injil yang alkitabiah. Tidak ada sesuatu pun dari gerakan ini yang menjaga kebenaran dan ajaran yang sehat. Yang dihasilkan justru penyimpangan, kebingungan, dan kesalahan. Iman dari Injil yang alkitabiah tetap utuh. Ia tetap bertahan. Dan akan terus bertahan, karena Tuhan menjaganya dan membangkitkan orang-orang yang setia dalam gereja-gereja yang setia untuk meneruskannya dari generasi ke generasi.

Ya, memang ada orang-orang dalam gerakan karismatik yang mengenal kebenaran, yang mengasihi kebenaran, yang memiliki pemahaman yang benar tentang Injil, tetapi keliru dalam hal Roh Kudus. Tidak semua dari mereka adalah pengajar sesat. Tetapi saya ulangi lagi, kebenaran yang dimiliki oleh orang-orang dalam gerakan itu bukan berasal dari gerakan itu sendiri. Kebenaran itu tetap ada walaupun ada gerakan itu, bukan karena gerakan itu.

Di sisi lain, gerakan karismatik juga dipenuhi oleh orang-orang yang bukan Kristen, orang-orang yang tidak mengenal Tuhan, yang terlibat karena alasan yang bersifat kedagingan, keinginan pribadi, dan pengalaman emosional. Saya bersyukur untuk mereka yang benar-benar mengenal kebenaran dan setia pada kebenaran. Tetapi saya khawatir, sebagian besar orang justru masih berada dalam kegelapan. Dan ini adalah salah satu bentuk penyesatan yang paling besar. Seperti yang dikatakan dalam Matius pasal 7 tentang banyak orang yang berkata, “Aku melakukan ini dalam nama-Mu, aku melakukan itu dalam nama-Mu, aku berkhotbah dalam nama-Mu, aku melakukan mujizat dalam nama-Mu.” Tetapi Yesus berkata kepada mereka, “Enyahlah dari hadapan-Ku… Aku tidak pernah mengenal kamu.” Di satu sisi, ini merupakan gambaran atau nubuat tentang gerakan seperti karismatik ini.

Saya memuliakan Tuhan atas kasih karunia-Nya kepada para pendosa yang ada di gereja-gereja tersebut dan berada di bawah pengaruh-pengaruh itu, karena Tuhan masih mengizinkan kebenaran tetap ada di beberapa tempat seperti itu. Dan saya memberi kemuliaan kepada-Nya atas kasih karunia yang diberikan kepada orang-orang berdosa di sana. Memang mungkin seseorang bisa menjadi percaya meskipun berada dalam gerakan itu, tetapi bukan karena gerakan itu ia percaya.

Di seluruh dunia, ketakutan terbesar saya adalah banyak orang tersesat—tersesat di dalam gerakan ini, mengejar keinginan kedagingan dan janji-janji palsu, dengan sedikit atau bahkan tanpa pemahaman maupun ketertarikan terhadap Injil yang sejati, pertobatan yang sejati, Kristus yang sejati, dan keselamatan yang sejati. Tidak ada gerakan yang mengaku berdasar pada Injil yang benar, yang telah merusak gereja lebih besar daripada gerakan ini, tidak ada gerakan lain.

Seperti yang saya katakan, jumlah orang Mormon hanya sekitar 14 juta. Tetapi kerusakan yang bisa ditimbulkan oleh 500 juta orang terhadap pemahaman yang benar tentang Kitab Suci dan kebenaran ilahi sangatlah besar. Dan saya khawatir, keberhasilan gerakan ini bukan karena keterkaitannya dengan kebenaran, melainkan karena keterkaitannya dengan kerajaan kegelapan. Gerakan ini berhasil karena menawarkan apa yang memang diinginkan oleh orang-orang yang belum dilahirkan baru. Dunia kekristenan Injili seolah-olah telah membuka pintu lebar-lebar dan menyambut “kuda Troya” dari gerakan karismatik masuk ke dalam kota Tuhan. Dan pasukannya kemudian mengambil alih, serta menempatkan berhala, dan bukan kebenaran, di dalam kota Tuhan.

Apakah ada yang lebih serius dari ini? Tidak ada. Sebaliknya, teologi Reformed, ajaran yang sehat, bukanlah tempat bagi pengajar palsu. Teologi Reformed bukan tempat di mana pengajar palsu bertumbuh. Teologi Reformed, ajaran yang sehat, dan penjelasan Alkitab yang setia sepanjang sejarah orang-orang saleh, bukanlah tempat bagi pengajar palsu. Itu bukan tempat bagi para penipu. Bukan tempat bagi orang-orang serakah yang menyesatkan. Bukan tempat bagi para pendusta atau mereka yang memutarbalikkan kebenaran. Anda tidak akan datang ke persekutuan gereja-gereja Reformed—yang berpegang pada ajaran Reformasi yang membawa kita kembali kepada ajaran Perjanjian Baru—lalu menemukan mujizat palsu, penglihatan palsu, nubuat palsu, atau “pengurapan” palsu, atau kekacauan aneh yang tidak terkendali. Anda tidak akan menemukan orang-orang gemetar, berbicara tanpa makna, berguling-guling, jatuh-jatuh, atau mengatakan hal-hal aneh tentang Roh Kudus. Hal-hal seperti itu tidak akan terjadi di lingkungan Reformed, karena mereka berpegang teguh pada kebenaran. Dan kalau pengalaman, emosi, dan intuisi dijadikan sebagai penentu kebenaran, maka segala kekacauan pasti terjadi.

Pada tahun 1657, John Owen menulis sebuah pembahasan tentang persekutuan dengan Tuhan dengan cara yang bisa dibilang klasik. Memang, kaum Puritan sering menulis seperti ini. Judul bukunya adalah: Persekutuan dengan Allah, Bapa, Putra dan Roh Kudus, setiap orang secara terpisah dalam kasih, rahmat dan penghiburan. Judul yang cukup panjang, bukan? Atau, seperti yang ia katakan, judul lainnya adalah: Persekutuan Orang Kudus dengan Bapa, Putra, dan Roh Kudus Terungkap. Buku karya John Owen ini adalah harta yang sangat berharga, karena membahas tentang persekutuan dengan Allah Tritunggal.

Disini Owen menjelaskan bagaimana persekutuan kita dengan Bapa, dengan Anak, dan dengan Roh Kudus, serta bagaimana kita menerima dari setiap Pribadi dalam Tritunggal dan merespons kepada-Nya. Hubungan perjanjian kita terikat dengan setiap Pribadi dalam Tritunggal. Hubungan kita dimulai oleh Bapa, diteguhkan oleh Anak, dan disampaikan oleh Roh Kudus. Bapa menyatakan kasih ilahi yang berdaulat. Anak menyatakan kasih karunia ilahi yang berdaulat. Roh Kudus membagikan hidup ilahi yang berdaulat. Artinya dengan bahasa yang lebih sederhana:

Kita seharusnya benar-benar menyembah Roh Kudus dengan sepenuh hati, mensyukuri semua yang sudah Allah lakukan sejak awal, semua yang telah dilakukan oleh Anak untuk meneguhkan keselamatan kita, dan semua yang dikerjakan oleh Roh Kudus dalam menguduskan kita—yaitu saat Dia benar-benar menyelamatkan dan mengubahkan hidup kita.

Apa pekerjaan Roh Kudus? Dia menyadarkan manusia akan dosa. Dia melahirbarukan. Dia membenarkan. Dia memberi pengertian. Dia membersihkan. Dia membawa orang berbalik kepada Tuhan. Dia menguduskan. Dia mengangkat kita menjadi anak-anak Allah. Dia membaptis. Dia tinggal di dalam kita. Dia memperlengkapi. Dia memberi kuasa. Dia memimpin. Dia melepaskan. Dia menghasilkan buah dalam hidup kita. Dia menjaga dan meneguhkan kita. Inilah yang diajarkan oleh Kitab Suci.

Dan Kitab Suci tidak pernah mengatakan hal-hal seperti ini: Roh Kudus menjatuhkan orang. Roh Kudus membuat orang tertawa secara tidak wajar. Roh Kudus menaikkan suhu tubuh kita. Roh Kudus membuat kita cegukan. Roh Kudus membuat kita kejang-kejang, seperti tidak sadar, terlihat seperti orang mabuk, jatuh-jatuh, berbicara tanpa arti, mengeluarkan suara-suara aneh, melompat-lompat, atau berguling-guling. Semua itu tidak sesuai dengan ajaran Kitab Suci.

“Pelayanan Roh Kudus,” tulis John Owen, “terlihat dalam bagaimana Dia mengingatkan kita akan janji-janji Kristus, memuliakan Kristus di dalam hati kita, mencurahkan kasih Allah di dalam kita, bersaksi bersama kita tentang keadaan rohani kita, memeteraikan kita sampai hari penebusan sebagai jaminan warisan kita, mengurapi kita dengan penghiburan, meneguhkan bahwa kita adalah anak-anak Allah, dan hadir bersama kita saat kita berdoa.” Inilah hikmat iman, yaitu mengenal dan mengalami Roh Kudus dalam semua hal ini. Jangan sampai kita kehilangan keindahan dari karya-Nya hanya karena kita tidak menyadari bahwa Dialah yang melakukannya, atau karena kita tidak merespons-Nya dengan benar. Kita tidak boleh membiarkan karya Roh Kudus yang luar biasa itu seolah-olah tersembunyi dan tidak diperhatikan. Kita harus mengakuinya dan hidup dalam persekutuan dengan-Nya, dengan hati yang penuh syukur atas semua yang telah Dia kerjakan.

Owen berkata, “Pola persekutuan yang benar sebagai orang percaya adalah berhubungan dengan ketiga Pribadi Allah—Bapa, Anak, dan Roh Kudus—melalui perenungan, doa, dan kehidupan yang tertata dengan benar. Kita seharusnya memikirkan secara khusus kasih dan pelayanan dari masing-masing Pribadi ini kepada kita, lalu meresponsnya dengan kasih dan ketaatan kepada masing-masing Pribadi ini.” Inilah persekutuan yang utuh dengan Tuhan. Tuhan tidak berkenan ketika Roh Kudus dipermainkan atau tidak dihormati. Dalam Roma 12 juga dibahas tentang penyembahan yang berkenan kepada Tuhan. Ini adalah hal yang sangat penting, bahkan yang paling utama.

Seorang Puritan lainnya, Thomas Goodwin, berkata, “Penyembahan kita kadang tertuju kepada Bapa, lalu kepada Anak, lalu kepada Roh Kudus. Kadang hati kita digerakkan untuk merenungkan kasih Bapa dalam memilih, lalu kasih Kristus dalam menebus, dan kemudian kasih Roh Kudus yang menyelidiki hal-hal terdalam dari Allah dan menyatakannya kepada kita, serta bekerja dengan sabar dalam hidup kita. Jadi seseorang berpindah dari satu kesaksian ke kesaksian yang lain secara jelas,” kata Goodwin, “dan itulah persekutuan yang seharusnya kita miliki.”

Ia juga berkata, “Kita seharusnya tidak pernah merasa puas sampai ketiga Pribadi Allah hadir sepenuhnya dalam diri kita, dan kita seolah-olah berada di tengah-tengah mereka, saat mereka semua menyatakan kasih-Nya kepada kita. Inilah hal tertinggi yang pernah Kristus janjikan dalam hidup ini.” Saya sangat menyukai ungkapan itu, yaitu ketika ketiga Pribadi Tritunggal hadir seimbang dalam hidup kita, dan kita memberikan penghormatan yang sama kepada masing-masing.

Ada sebuah peringatan dalam Ibrani pasal 10, jika Anda mau melihatnya sejenak. Ibrani 10:29 berkata, “Bayangkan betapa lebih beratnya hukuman yang harus dijatuhkan atas orang yang menginjak-injak Anak Allah dan menganggap najis darah perjanjian yang menguduskannya, dan menghina Roh anugerah!” Kita sering menekankan bagian awal ayat itu, bahwa ada hukuman yang lebih berat bagi mereka yang merendahkan Anak Allah. Kita tidak suka ketika orang merendahkan Anak Allah.

Selama sekitar 25 tahun terakhir, telah muncul upaya yang sangat serius dan penting untuk mempertahankan Injil melalui berbagai organisasi, institusi, koalisi, dan kelompok. Saya teringat masa sebelum Jim Boice meninggal dunia, ketika ia memulai Association of Confessing Evangelicals, dan banyak orang ikut bergabung. Kita harus mempertahankan Kristus—mempertahankan keilahian-Nya, karakter-Nya, natur-Nya, karya-Nya di kayu salib, kebangkitan-Nya, ajaran tentang pembenaran, dan seluruh rangkaian kebenaran besar yang berkaitan dengan salib dan kebangkitan-Nya.

Gerakan ini terus berkembang, semakin besar dan terus berlanjut, bahkan mungkin sampai sedikit berlebihan, di mana sekarang segala sesuatu diarahkan kepada salib, segala sesuatu dilihat dari salib, dan segala sesuatu direnungkan melalui salib. Kita telah membela Kristus dengan sangat kuat dan tanpa henti setiap kali Dia diserang.

Dan kurang lebih kita juga melakukan hal yang sama ketika Allah diserang. Ketika beberapa teolog muncul dan mengatakan bahwa Allah tidak mengetahui masa depan, tidak bisa merencanakan masa depan, dan tidak tahu apa yang akan terjadi, yang dikenal sebagai “teologi keterbukaan,” maka muncul respons besar. Banyak sarjana, penulis, dan pengkhotbah mulai bersatu untuk memperlengkapi komunitas Injili menjawab serangan terhadap Allah Bapa ini.

Tetapi dalam ayat ini, kita diingatkan bahwa ada hukuman yang lebih berat bagi orang yang menghina Roh anugerah. Kata “menghina” di sini dalam bahasa Yunani adalah enubrizō, dengan bentuk kata bendanya hubristēs, yang menjadi asal kata bahasa Inggris “hubris.” Artinya adalah sikap berani yang tidak pantas, kesombongan, penghinaan yang keras, atau penghinaan yang sangat keterlaluan.

Inilah Roh Yahweh, napas dari Yang Mahakuasa. Inilah Allah Roh Kudus. Kita semua setuju bahwa hukuman yang lebih berat akan dialami oleh mereka yang menginjak-injak Anak Allah—artinya mereka yang tahu kebenaran tentang hidup-Nya, kematian-Nya, dan karya keselamatan-Nya, tetapi tetap meremehkan-Nya. Namun peringatan yang sama juga diberikan kepada mereka yang dengan berani, dengan sikap sombong, dan dengan cara yang menghina, merendahkan Roh anugerah.

Dan ayat berikutnya mengatakan, “Pembalasan adalah hak-Ku, Akulah yang akan menuntut pembalasan.” Dan lagi, “Tuhan akan menghakimi umat-Nya.” Umat-Nya sendiri. “Ngeri benar, kalau jatuh ke dalam tangan Allah yang hidup.” Seharusnya orang merasa gentar ketika menghina Roh Kudus - benar-benar merasa gentar.

Perjanjian Baru menyatakan kepada kita bahwa Roh Yahweh, napas Allah, yaitu Roh Kudus, memberi kehidupan, mengubahkan hidup, menyucikan, menghibur, dan membentuk orang berdosa menjadi serupa dengan Kristus. Dia juga memperlengkapi, memberi kuasa, memeteraikan, menjaga, dan menerangi. Inilah hal-hal yang membuat Dia layak dihormati dan dikasihi.

Ada sebuah kutipan yang mengatakan, “Penyesatan terbesar dari Iblis yang pernah ada adalah ajaran palsu bahwa sekali selamat, tetap selamat.” Lalu pertanyaannya: siapa yang menjaga kita untuk selama-lamanya? Siapa yang memeteraikan kita untuk selamanya? Siapa yang menjadi jaminan warisan kita? Roh Kudus. Pekerjaan Roh Kudus adalah menjaga kita tetap aman untuk selama-lamanya.

Ini adalah kutipan dari seorang pemimpin karismatik: “Penyesatan terbesar dari Iblis yang pernah ada adalah ajaran palsu bahwa sekali selamat, tetap selamat.” Dengan pernyataan itu, berarti Anda menuduh pekerjaan Roh Kudus sebagai pekerjaan Iblis. Padahal dalam Roma 8 dikatakan bahwa Roh Kudus berdoa syafaat bagi kita dengan keluhan yang tidak terucapkan, dan setiap orang yang dipanggil dibenarkan, dan setiap orang yang dibenarkan akan dimuliakan. Ini adalah penghinaan terhadap Roh Kudus. Ini adalah hal yang berbahaya, sangat berbahaya.

Benny Hinn mengatakan hal ini: “Tidak, jangan pernah sekali pun datang kepada Tuhan dan berkata, ‘Jika itu kehendak-Mu.’” Katanya, jangan pernah mengatakan itu. “Gerakan Roh Kudus bergantung pada perkataan saya. Dia tidak akan bergerak sampai saya mengatakannya.” Benarkah begitu? Dalam dua kutipan ini saja, Anda bisa melihat Roh Kudus dituduh melakukan sesuatu yang jahat, dan kedaulatan-Nya dipertanyakan. Seolah-olah manusia yang berdaulat, bukan Roh Kudus.

Omong-omong, perkataan ini berasal dari seorang pengajar palsu yang mengaku memiliki “pengurapan” dari Tuhan. Padahal, “pengurapan” itu hanyalah sesuatu yang dibuat-buat. Ia bahkan mengatakan bahwa ia mendapatkannya saat mengunjungi makam dua pengkhotbah wanita yang sudah meninggal, yaitu Aimee Semple McPherson dan Kathryn Kuhlman, dan di sanalah ia merasa menerima “pengurapan” itu.

Saya tidak ingin membuang waktu membahas semua klaim yang tidak masuk akal itu. Saya hanya ingin menekankan betapa seriusnya hal ini. Kembali ke poin utama: penyembahan kepada Allah Tritunggal adalah tugas yang paling mendasar dan tanggung jawab yang paling tinggi. Dalam Keluaran pasal 20, kita diajar tentang Allah, dan bagian pertama dari Sepuluh Perintah Allah berfokus kepada-Nya, termasuk larangan untuk membuat patung atau gambaran. Dan semuanya itu berujung pada perintah, “Jangan menyebut nama TUHAN dengan sembarangan.” Apa artinya? Artinya berbicara tentang Tuhan dengan cara yang tidak hormat. Bukan hanya menggunakan nama Tuhan sebagai kata makian, tetapi juga setiap cara berbicara tentang Tuhan yang tidak pantas—yang menyimpangkan siapa Dia sebenarnya, baik dalam sifat-Nya, karakter-Nya, karya-Nya, maupun firman-Nya.

Segala sesuatu yang disandarkan kepada Tuhan padahal bukan berasal dari Tuhan, itu berarti menyebut nama-Nya dengan sembarangan. Memikirkan Tuhan, membayangkan Tuhan, atau berbicara tentang Tuhan tidak sesuai dengan siapa Dia sebenarnya, serta mengaitkan kepada diri-Nya hal-hal yang tidak pernah Dia lakukan atau katakan, itu juga berarti menyebut nama-Nya dengan sembarangan. Ini bukan hanya soal berkata kasar. Ini soal mengabaikan kebenaran tentang Tuhan dan menyalahgambarkan Dia. Ini adalah pelanggaran yang sangat serius.

Dalam Ulangan 28:58 dikatakan, “Jika kamu tidak melakukan dengan setia segala perkataan hukum yang tertulis dalam kitab ini, dan kamu tidak takut akan Nama yang mulia dan dahsyat ini, akan TUHAN, Allahmu, maka TUHAN akan menimpakan kepadamu dan kepada keturunanmu tulah-tulah yang luar biasa, tulah yang keras dan lama, juga penyakit-penyakit yang parah dan lama. Ia akan mendatangkan kembali segala wabah Mesir yang kamu takuti itu kepadamu, sehingga semuanya itu melekat padamu.”

Artinya, jika seseorang menyebut nama Tuhan dengan sembarangan, Tuhan akan menghukumnya. Hal seperti itu tidak akan dibiarkan tanpa diberi hukuman, seperti yang dinyatakan dalam kitab Ulangan.

Anda tahu, saya sendiri heran bagaimana gerakan ini bisa terus bertahan seperti sekarang. Banyak orang bertanya kepada saya, “Mengapa Tuhan tidak langsung menghukum mereka?” Jawabannya, karena pada dasarnya Tuhan itu sabar, dan rencana-Nya tidak sepenuhnya kita ketahui. Saya tidak lebih tahu tentang rencana tersembunyi Tuhan daripada Ayub. Dan Tuhan tidak berkewajiban menjelaskan semuanya kepada saya. Tetapi satu hal yang saya tahu: pertumbuhan gerakan karismatik yang salah ini tidak akan menghentikan tangan Tuhan dalam membawa penghakiman, pada waktu yang telah Dia tetapkan.

Kita tidak membutuhkan versi “anak lembu emas” dari Roh Kudus. Kita tidak membutuhkan Roh Kudus yang palsu. Kita membutuhkan Roh Kudus yang dinyatakan dalam Kitab Suci—yang disebut sebagai “napas Yang Mahakuasa” dalam Ayub 33, “Roh yang kekal” dalam Ibrani 9, “Roh yang rela memberi” dalam Mazmur 51, dan “Roh yang baik” dalam Mazmur 143. Dan juga dengan berbagai sebutan lainnya: Roh Allah yang hidup, Roh Allah, Roh Bapa, Roh Kristus, Roh Anak, Roh kehidupan, Roh kasih karunia, Roh hikmat, Roh nasihat, Roh keperkasaan, Roh pengertian, Roh pengetahuan, dan Roh takut akan Tuhan; Roh kebenaran, Roh kekudusan, Roh kemuliaan, Sang Penghibur, dan dalam Lukas 1 disebut sebagai kuasa dari Yang Mahatinggi.

Sebagaimana Bapa dan Anak itu kudus, demikian juga Roh Kudus itu kudus. Sebagaimana Bapa dan Anak berdaulat, demikian juga Roh Kudus berdaulat. Sebagaimana Bapa dan Anak penuh kuasa, demikian juga Roh Kudus penuh kuasa. Sebagaimana Bapa dan Anak penuh kasih karunia, demikian juga Roh Kudus penuh kasih karunia. Sebagaimana Bapa dan Anak penuh kasih, demikian juga Roh Kudus penuh kasih. Mereka satu dalam kesempurnaan.

Semua ini membawa saya pada satu hal: kita ada di sini untuk menyerukan pemulihan penyembahan yang benar kepada Roh Kudus di dalam gereja. Bagi saya, ini bukan hal yang mudah untuk dihadapi. Kalau boleh meminjam kata-kata yang juga dipakai Yesus dari pemazmur, “Gairah cinta untuk rumah-Mu menghanguskan aku; dan celaan yang mencela Engkau telah menimpa aku.” Ketika Roh Kudus begitu tidak dihormati, saya merasakan dukanya. Gereja telah bangkit untuk membela Bapa, juga bangkit untuk membela Anak. Lalu mengapa tidak bangkit untuk membela Roh Kudus? Sulit untuk menjelaskan kegagalan ini.

Gerakan karismatik telah berhasil menuntut penerimaan atas dasar kasih dan toleransi. Karena itu, gerakan ini diterima, lalu mulai merusak gereja, mendorong emosi secara berlebihan, dan membingungkan banyak orang tentang doa, penyembahan, pujian, iman, rasa cukup, kerendahan hati, kedaulatan Tuhan, dan banyak hal lainnya. Padahal, di masa lain dalam sejarah, gerakan seperti ini kemungkinan besar akan ditolak sebagai ajaran yang menyimpang atau bahkan sesat.

Sebagai penutup, izinkan saya menyampaikan beberapa hal, sekaligus menenangkan kembali pikiran kita dari hal-hal berat yang tadi dibahas. Ada satu penghormatan besar kepada Roh Kudus yang ingin saya tinggalkan bagi Anda, satu hal yang sangat penting. Sebuah penghormatan yang terlepas dari semua pembahasan tentang penyesatan dan pengajar palsu—dan ini adalah pemberian terbesar-Nya bagi kita.

Untuk hal ini, saya ingin Anda membuka Roma pasal 8. Ini adalah bagian Alkitab yang sangat kita kenal, tetapi saya ingin Anda melihatnya dengan sudut pandang yang mungkin baru. Inilah karya terbesar Roh Kudus bagi kita. Kita mulai dari ayat 26: “Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri menyampaikan permohonan kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, memohon untuk orang-orang kudus.” Ini jelas berbicara tentang Roh Kudus.

“Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambar Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.”

Roma pasal 8 bisa disebut sebagai pasalnya Roh Kudus, karena berbicara tentang Roh Kudus dan pelayanan-Nya. Lalu kita sampai pada ayat 26, bahwa Roh Kudus menolong kelemahan kita. Salah satu caranya adalah dengan berdoa syafaat bagi kita. Dia menjadi perantara, sama seperti Kristus juga menjadi perantara bagi kita. Dan Dia selalu berdoa sesuai dengan kehendak Allah, karena Dia mengetahui kehendak Allah. Akibat dari pekerjaan syafaat Roh Kudus ini, segala sesuatu bekerja bersama untuk kebaikan kita. Segala sesuatu benar-benar dipakai untuk kebaikan kekal kita sebagai orang percaya—bukan hanya karena Allah mengatakan demikian, tetapi karena Roh Kudus sendiri yang memastikan hal itu terjadi. Roh Kuduslah yang mengatur segala sesuatu untuk kebaikan kita, segala sesuatu, tanpa terkecuali.

Tetapi ada satu hal lagi di sini. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan “kebaikan” itu? Ketika dikatakan semua hal bekerja bersama untuk kebaikan, kebaikan yang seperti apa? Jawabannya ada di ayat 29. Di situlah kebaikan itu dijelaskan: “Semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambar Anak-Nya.” Inilah karya utama Roh Kudus, yaitu membentuk kita menjadi serupa dengan Kristus. Roh Kudus bekerja di dalam kita sehingga segala sesuatu dalam hidup kita mengarah pada satu tujuan utama, yaitu menjadi serupa dengan Anak Allah. Dengan demikian, Kristus menjadi yang utama di antara banyak orang yang menjadi serupa dengan-Nya.

Jadi, apa yang ingin Roh Kudus lakukan dalam hidup Anda? Sederhananya, Dia ingin membentuk Anda menjadi seperti siapa? Kristus, untuk menjadikan Anda serupa dengan Kristus. Untuk dibentuk sesuai dengan eikōn, eikōn, gambar Kristus. Dia bekerja di dalam kita untuk menjadikan kita seperti Yesus Kristus.

Inilah yang Paulus maksud dalam kitab Filipi ketika ia berkata, “Aku berlari kepada tujuan.” Lalu kita bertanya, apa tujuan itu? Tujuannya adalah hadiah dari panggilan surgawi. Apa hadiah itu? Kita akan menjadi seperti Kristus. Apa yang nanti kita alami saat dimuliakan, itulah sebenarnya tujuan dari proses pengudusan kita sekarang. Jika kita telah ditentukan, dipanggil, dan dibenarkan, maka kita juga akan dimuliakan. Dan ketika dimuliakan, kita akan menjadi seperti Kristus. Dalam 1 Yohanes 3 dikatakan, “Kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.” Itulah tujuan akhirnya, dan Roh Kuduslah yang akan membawa kita sampai ke sana.

Sementara itu, sebelum kita dimuliakan dan menjadi seperti Kristus, pekerjaan Roh Kudus adalah terus-menerus membentuk kita semakin serupa dengan-Nya. Jadi, untuk memahami pekerjaan Roh Kudus, kita perlu melihat kepada Kristus. Karena dalam diri Kristus, yang sepenuhnya manusia, kita bisa melihat gambaran sempurna dari pekerjaan Roh Kudus.

Bagaimana Roh Kudus bekerja di dalam Kristus? Apakah Dia menjatuhkan Kristus? Apakah Dia membuat-Nya terlihat seperti orang mabuk? Apakah Dia membuat-Nya jatuh, tergeletak, berguling-guling, tertawa tak terkendali, menggonggong, mengoceh, atau berbicara tanpa arti? Membayangkan hal seperti itu saja sudah terasa aneh. Dan orang-orang yang membuat orang lain bertindak seperti itu bukanlah dipenuhi oleh Roh Kudus. Karena itu bukanlah pekerjaan Roh Kudus.

Roh Kudus adalah pendamping yang terus menyertai Yesus sepanjang hidup-Nya. Roh Allah yang memberi Dia kehidupan di dalam kandungan Maria. Anak Allah dengan rela melepaskan hak-hak ilahi-Nya, tunduk kepada kehendak Bapa, dan hidup dalam kuasa Roh Kudus. Yesus membatasi penggunaan kuasa ilahi-Nya secara mandiri, dan menyerahkan diri-Nya untuk dipimpin oleh Roh Kudus.

Jadi, kehidupan-Nya berjalan seperti ini. Perhatikan baik-baik. Menurut Lukas pasal 1, Ia dikandung oleh Roh Kudus. Menurut Injil Lukas, Dia bertumbuh oleh pertolongan Roh Kudus—bertambah dalam hikmat, pertumbuhan fisik, serta berkenan di hadapan Allah dan manusia. Menurut Markus pasal 1, Dia diurapi oleh Roh Kudus saat baptisan-Nya. Menurut Lukas pasal 4, Dia dipelihara oleh Roh Kudus ketika menghadapi pencobaan. Dalam pasal yang sama, Lukas 4:14-15, Dia dipenuhi kuasa Roh Kudus untuk melayani. Dia hidup dipenuhi Roh Kudus, sehingga berjalan dalam ketaatan yang sempurna. Dia disempurnakan melalui ketaatan, yang dikerjakan dalam kuasa Roh, bahkan melalui penderitaan, di mana Dia belajar taat. Ibrani 9:14 mengatakan bahwa Dia menghadapi kematian dengan kemenangan oleh kuasa Roh Kudus.

Roh Kuduslah yang bekerja di dalam Yesus. Roma pasal 1 mengatakan bahwa Dia dibangkitkan oleh kuasa Roh Kudus. Bahkan setelah kebangkitan-Nya, pelayanan-Nya pun, menurut Kisah Para Rasul pasal 1 ayat 1-2, dilakukan dalam kuasa Roh Kudus saat Dia mengajar tentang Kerajaan Allah.

Sekarang perhatikan ini: Roh Kudus bekerja dalam diri Kristus sama seperti Dia bekerja dalam diri kita. Jika Anda ingin melihat kesempurnaan pekerjaan Roh Kudus dalam hidup manusia, lihatlah apa yang Dia lakukan dalam diri Manusia yang sempurna itu. Mari kita ulangi lagi secara singkat.

Yesus dikandung oleh Roh Kudus, dan Roh Kudus juga memberi kita kehidupan—kita dilahirkan oleh Roh. Yesus bertumbuh oleh pekerjaan Roh Kudus, dan Roh Kudus juga yang memberi kita kekuatan untuk bertumbuh. Dia diurapi oleh Roh Kudus saat baptisan-Nya, dan melalui Roh Kudus kita juga dibaptis ke dalam tubuh Kristus. Dia dipelihara oleh Roh Kudus dalam pencobaan, dan Roh Kudus juga yang menguatkan kita di dalam batin ketika kita menghadapi pencobaan. Dia diperlengkapi dengan kuasa oleh Roh Kudus dalam pelayanan-Nya, dan Roh Kudus juga yang memberi kita karunia dan kuasa untuk melayani. Dia hidup dipenuhi oleh Roh Kudus, sehingga terlihat buah Roh dan kekudusan dalam hidup-Nya. Roh Kudus juga yang memenuhi kita dan menghasilkan buah dalam hidup kita. Yesus disempurnakan dalam ketaatan oleh kuasa Roh Kudus, dan Roh Kudus melakukan hal yang sama dalam hidup kita. Yesus menghadapi kematian dengan kemenangan oleh Roh Kudus, dan Roh yang sama menopang kita dalam penderitaan. Dia dibangkitkan dari kematian oleh Roh Kudus, dan Roh Kudus juga yang akan membangkitkan kita.

Jika Anda ingin melihat bagaimana pelayanan Roh Kudus dan bagaimana Dia bekerja dalam hidup kita, lihatlah apa yang Dia lakukan dalam diri Kristus. Memang, dalam Kristus ada ketaatan yang sempurna. Tetapi Roh Kudus yang bekerja di dalam Anak Allah adalah Roh yang sama yang bekerja di dalam kita. Roh Kudus berkomitmen untuk melakukan dalam hidup kita apa yang telah Dia tunjukkan dalam diri Kristus.

Dalam Yohanes 16 ada ayat yang sangat menarik, ayat 7: “Benar yang Kukatakan ini kepadamu: Lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penolong itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.” Yesus berkata, “Lebih baik Aku pergi.” Mengapa lebih baik Engkau pergi? “Karena jika Aku pergi, Aku akan mengutus Roh Kudus. Aku akan mengutus Roh Kudus.” Lebih baik, karena Roh Kudus akan melakukan di dalam kamu apa yang Dia lakukan di dalam Aku. Itulah pelayanan-Nya. Pelayanan-Ku sudah berjalan, dan akan berakhir; pelayanan-Nya akan dimulai secara penuh.

Dalam Yohanes 14:16 dikatakan, “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh kebenaran.” Lalu di ayat 26, “Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” Perkataan ini pertama-tama ditujukan kepada para rasul yang akan menulis Perjanjian Baru, tetapi juga berlaku bagi semua orang percaya yang menerima manfaat dari pelayanan Roh Kudus dalam menyatakan kebenaran.

Dalam Yohanes pasal 15, ayat 26, dikatakan hal yang serupa: “Jikalau Penolong yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku.” Lalu dalam Yohanes 16:13, “Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari Aku.”

Dengan kata lain, pelayanan Roh Kudus adalah menuntun kita kepada kebenaran, menyatakan hal-hal tentang Kristus kepada kita, supaya kita semakin dibentuk menjadi serupa dengan Kristus. Ini adalah kebenaran yang sederhana tetapi luar biasa. Roh Kudus melakukan di dalam kita apa yang Dia lakukan di dalam Anak Allah, yaitu membentuk kita menjadi serupa dengan Kristus.

Yesus menunjukkan kepada kita seperti apa manusia yang sempurna itu. Dan Roh Kudus sedang membentuk kita menuju ke arah itu—memberi kuasa kepada umat tebusan Tuhan untuk menang atas dosa, atas kedagingan, Iblis, dan dunia, sehingga kita semakin menjadi seperti Anak Allah. Roh Kudus bekerja di dalam kita menghasilkan pengetahuan yang kudus, ajaran yang benar, perbuatan yang kudus, sikap yang kudus, perkataan yang kudus, karakter yang kudus, tindakan yang kudus, kerinduan yang kudus, dan kasih yang kudus.

Betapa besarnya kesombongan dan penghinaan besar terhadap Roh Kudus ketika orang mengatakan bahwa Dia bertanggung jawab atas kerusakan, ketidak-kudusan, hal-hal yang tidak masuk akal, bahkan unsur-unsur yang bersifat jahat yang sebenarnya justru tidak menghormati Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Pekerjaan Roh Kudus adalah mengambil manusia yang telah rusak—yang tidak mampu memuliakan Tuhan, yang gambar ilahinya sudah begitu tercemar sehingga menuju manusia itu kebinasaan kekal—lalu memulihkan mereka menjadi serupa dengan Yesus Kristus.

Saya akan mulai percaya bahwa kebenaran benar-benar nyata dalam gerakan karismatik ketika saya melihat para pemimpinnya—orang-orang yang paling terpengaruh oleh ajaran-ajarannya ini—menjadi semakin serupa dengan Yesus Kristus. Saat itulah mereka akan terlihat bahwa mereka benar-benar mengambil bagian dalam sifat ilahi.

Bapa, kami bersyukur karena kami boleh berkumpul bersama. Terima kasih untuk orang-orang yang berharga ini. Ada kerinduan dalam hati mereka akan kebenaran—bukan sekadar demi mengetahui kebenaran itu sendiri, tetapi supaya mereka dapat mengenal Engkau, mengasihi Engkau, melayani Engkau, dan memberitakan firman-Mu. Kami tahu apa pekerjaan Roh Kudus yang sejati, karena Engkau telah menyatakannya kepada kami.

Dan di mana kami melihat keserupaan dengan Kristus—kerendahan hati Kristus, kelemahlembutan Kristus, kebaikan Kristus, ketulusan Kristus—di mana firman Tuhan ditinggikan dan dihormati, kami tahu Roh Kudus sedang bekerja. Di mana ada pengorbanan, di mana ada kasih, di mana ada kerinduan akan Firman Tuhan, di mana ada kepekaan untuk membedakan dan kebenaran berkuasa, di situlah kami tahu Roh Kudus sedang bekerja.

Tapi kami tidak melihat hal-hal itu secara luas dalam gerakan ini. Karena itu, kami tidak bisa menyimpulkan bahwa ini adalah pekerjaan Roh Kudus. Kami tidak akan pernah mengaitkannya dengan-Nya. Bahkan memikirkannya saja seharusnya membuat kami gentar. Jadikanlah kebenaran itu jelas, ya Tuhan. Tolong kami untuk memahaminya, supaya kami juga bisa menolong orang lain untuk mengerti.

Terima kasih untuk semua yang telah Engkau kerjakan dalam hidup kami. Kami tidak merasa kekurangan. Kami tidak perlu mengejar hal-hal yang sia-sia dan menyesatkan itu. Kami sudah merasa cukup, karena pekerjaan Roh Kudus sungguh nyata dalam hidup orang-orang percaya yang sejati. Dan kami bersyukur karena kami mengalaminya—terlihat dalam kasih kami kepada-Mu, kasih kami kepada kebenaran, dan kasih kami kepada umat Tuhan.

Inilah hal-hal yang dihasilkan oleh Roh Kudus. Bukan hanya terlihat dari apa yang kami kasihi, tetapi juga dari apa yang kami benci—kebencian terhadap kesalahan, dosa, dan kerusakan. Kami memang tidak sempurna, jauh dari itu. Tetapi apa yang kami kasihi dan apa yang kami benci dibentuk oleh pekerjaan Roh Kudus di dalam kita. Kami bersyukur untuk itu. Kami memuliakan nama-Mu. Berikan kami minggu yang indah, dan genapilah di dalam kami segala yang berkenan kepada-Mu. Kami berdoa dalam nama Kristus. Amin.

SELESAI

This sermon series includes the following messages:

Please contact the publisher to obtain copies of this resource.

Publisher Information
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969

Welcome!

Enter your email address and we will send you instructions on how to reset your password.

Back to Log In

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize
View Wishlist

Cart

Cart is empty.

Subject to Import Tax

Please be aware that these items are sent out from our office in the UK. Since the UK is now no longer a member of the EU, you may be charged an import tax on this item by the customs authorities in your country of residence, which is beyond our control.

Because we don’t want you to incur expenditure for which you are not prepared, could you please confirm whether you are willing to pay this charge, if necessary?

ECFA Accredited
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Back to Cart

Checkout as:

Not ? Log out

Log in to speed up the checkout process.

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize