Grace to You Resources
Grace to You - Resource

Saya ingin Anda membuka Alkitab Anda di 1 Yohanes pasal 4. Saya ingin membacakan bagian Firman Tuhan yang sangat berkaitan langsung dengan topik yang sedang kita bahas. 1 Yohanes pasal 4, mari kita lihat ayat 1 sampai 8: “Saudara-saudaraku yang terkasih, janganlah percaya kepada setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia. Dengan inilah kita mengenal Roh Allah: Setiap roh yang mengaku bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah, dan setiap roh yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia. Kamu berasal dari Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu; sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia. Mereka berasal dari dunia; sebab itu mereka berbicara tentang hal-hal duniawi dan dunia mendengarkan mereka. Kami berasal dari Allah: Siapa yang mengenal Allah, ia mendengarkan kami; siapa yang tidak berasal dari Allah, ia tidak mendengarkan kami. Itulah tandanya Roh kebenaran dan roh yang menyesatkan.

“Saudara-saudaraku yang terkasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Siapa yang tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.”

Saya ingin mengajak Anda kembali ke ayat 1, “Ujilah roh-roh.” Ini adalah perintah, sebuah mandat dari rasul Yohanes: “Ujilah roh-roh.” Kata “roh-roh” di sini bisa dipahami sebagai “pribadi-pribadi,” baik manusia maupun makhluk rohani. Kita diminta untuk menguji mereka. Kata “menguji” berasal dari kata Yunani dokimazō, yang digunakan dalam dunia logam untuk menguji kemurnian suatu bahan. Jadi, kita diminta untuk menguji setiap pribadi, baik manusia maupun malaikat. Ujilah setiap pribadi.

Kita juga diingatkan melakukan hal yang sama dalam 1 Tesalonika 5:21-22, yaitu untuk tidak meremehkan nubuat, tetapi menguji segala sesuatu yang kita dengar. Ini sangat penting. Mengapa? Karena Iblis itu nyata, dan roh-roh jahat juga nyata. Mereka menjalankan kerajaan kebohongan yang memengaruhi dunia ini.

Iblis adalah ilah dunia ini, penguasa di udara, pemimpin kuasa kegelapan di tempat-tempat rohani. Ia diizinkan bergerak bebas di dunia ini, seperti singa yang mengaum, mencari siapa yang dapat ditelannya. Ia dan para pengikutnya menyamar sebagai malaikat terang, seperti yang dikatakan rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus. Karena itu, kita seharusnya tidak heran jika Iblis bekerja di sebagian besar waktunya melalui agama yang palsu, melalui kebohongan dan penyesatan.

Iblis bukanlah pihak utama di balik perilaku rusak, penuh dosa, dan kebobrokan dalam suatu masyarakat. Daging manusia sudah cukup untuk menghasilkan hal-hal itu. Iblis lebih berperan di balik agama yang palsu dan sistem kepercayaan yang menyesatkan. Ini sangat penting untuk dipahami. Nah, mari kita lihat sejenak 2 Korintus pasal 10. Banyak orang berbicara tentang peperangan rohani melawan Iblis dan roh-roh jahat, tetapi sering kali pemahamannya keliru. Mereka menganggap bahwa kita harus “mengejar-ngejar” Iblis. Saya pernah menghadiri sebuah konferensi pendeta di sebuah gereja besar. Saat itu, sang pendeta membuka dengan berkata, “Mari kita berdoa,” dan kata pertama yang keluar dari mulutnya adalah, “Iblis, kami mengikatmu.” Saya hampir terkejut. Bagaimana mungkin? “Mari kita berdoa,” tetapi yang pertama disebut justru Iblis, dan dia berbicara langsung kepada Iblis, seolah-olah bisa memerintah apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan olehnya? Mungkin dia mengira itulah peperangan rohani, dan mungkin dia berpikir memiliki kuasa untuk melakukan itu. Tetapi itu hanyalah delusi saja.

Peperangan rohani dijelaskan dalam 2 Korintus 10:4 dengan kata-kata ini: “Senjata kami.” Jadi jelas, yang dibicarakan adalah peperangan dan senjata. Tetapi senjata itu “bukanlah senjata duniawi,” artinya bukan berasal dari kekuatan atau cara manusia. Memang kita hidup “di dalam daging” dalam arti kita adalah manusia, seperti yang disebutkan di ayat 3. Tetapi ketika dikatakan kita “hidup dalam daging,” itu bukan berbicara tentang dosa, melainkan tentang keberadaan kita sebagai manusia. Namun kita tidak berperang “menurut daging,” artinya kita tidak bisa bertempur dengan cara-cara manusia. Senjata kita tidak boleh berasal dari manusia. Bukan kecerdikan, bukan strategi, bukan ide-ide buatan manusia, sebaik atau semulia apa pun niatnya.

Kita tidak bisa menghadapi peperangan ini dengan senjata manusia. Dibutuhkan sesuatu yang jauh lebih dari itu. Menurut ayat 4, senjata kita harus memiliki kuasa Allah. Kita sedang berada dalam peperangan rohani yang tidak bisa dimenangkan dengan cara manusia, betapapun terlihat baik, terencana, atau hebat menurut kita.

Mengapa? Karena kita harus terlibat, seperti di akhir ayat 4, untuk “meruntuhkan benteng-benteng.” Gambaran yang dipakai di sini adalah bahwa senjata manusia tidak akan mampu menembus benteng yang besar dan kuat. Kata “benteng” di sini menggambarkan bangunan batu yang kokoh, yang hampir tidak bisa ditembus. Menariknya, kata “benteng” ini juga bisa berarti “penjara.” Artinya, kita sedang menghadapi struktur yang sangat kuat, yang menahan orang-orang di dalamnya. Karena itu, kita tidak bisa memakai “senjata kecil” atau cara-cara manusia.

Apa yang dimaksud dengan “benteng-benteng” itu? Di akhir ayat 4 disebutkan “meruntuhkan benteng-benteng,” lalu di awal ayat 5 dijelaskan bahwa itu adalah “mematahkan setiap siasat orang.” Jadi, benteng-benteng itu dijelaskan sebagai pemikiran-pemikiran. Kata Yunani yang dipakai adalah logismos, yang berarti ide, ideologi, teori, cara pandang, sistem kepercayaan, psikologi, filsafat, bahkan agama. Inilah yang menjadi medan peperangan rohani kita. Peperangan ini adalah perebutan cara orang berpikir. Ini adalah peperangan di dalam pikiran manusia. Bukan tentang mengejar Iblis atau mengusir roh-roh jahat. Itu bukan bagian dari apa yang kita kerjakan. Tugas kita adalah berperang di wilayah pikiran.

Mengapa? Karena dunia ini terpenjara dalam sistem-sistem kepercayaan. Mereka hidup di dalamnya seperti di dalam benteng yang sulit ditembus—begitu kuatnya ideologi yang mereka pegang. Benteng-benteng itu akhirnya menjadi penjara bagi mereka, bahkan menjadi kubur mereka.

Dan perancang dari semua benteng ini tidak lain adalah Iblis sendiri. Ia adalah bapa segala dusta. Ia adalah penipu utama. Ia menyamar sebagai malaikat terang. Dan ia menjalankan pekerjaannya terutama melalui sistem-sistem kepercayaan yang salah.

Bahkan, hal ini dijelaskan lebih lanjut—lihat kembali ayat 5—sebagai “kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah.” Apa artinya? Setiap ide yang tinggi, yang tampak mulia, intelektual, penuh wawasan, atau terlihat hebat—segala sesuatu yang diangkat sebagai suatu ideologi—perhatikan baik-baik— melawan pengenalan akan Allah. Orang-orang terikat dalam sistem-sistem yang menentang Allah. Mereka anti terhadap Allah. Dalam istilah yang dipakai oleh Yohanes, mereka bersifat antikristus. Dan seperti yang sudah saya katakan, mereka terkurung di dalamnya. Mereka dipenjara di dalamnya. Dan pada akhirnya, mereka akan binasa di dalamnya.

Lalu apa tanggung jawab kita? Tanggung jawab kita adalah meruntuhkan ideologi-ideologi itu, menghancurkan benteng-benteng itu, dan menaklukkan setiap pikiran kepada ketaatan kepada Kristus. Inilah peperangan tentang bagaimana orang berpikir. Sekali lagi, Iblis adalah perancang, pembuat, dan pembangun dari semua ideologi ini. Orang-orang hidup terkurung di dalamnya, dan pada akhirnya menuju kebinasaan kekal karenanya. Dan semuanya itu sering terlihat baik dan menarik, karena dijalankan oleh “malaikat terang” yang palsu.

Dalam Perjanjian Lama, umat Tuhan sudah diperingatkan tentang nabi-nabi palsu. Dalam Perjanjian Baru, peringatan yang sama kembali diberikan. Dalam khotbah di bukit, Yesus memperingatkan tentang nabi-nabi palsu dalam Matius pasal 7. Paulus juga berulang kali memperingatkan tentang nabi-nabi palsu. Petrus bahkan menulis hampir seluruh suratnya, yaitu 2 Petrus, untuk memperingatkan tentang nabi-nabi palsu. Yudas kemudian menegaskan kembali hal yang sama—seolah-olah Roh Kudus menyampaikan pesan yang sama kepada Yudas seperti yang diberikan kepada Petrus dalam 2 Petrus pasal 2—sebagai peringatan tambahan.

Dan Perjanjian Baru ditutup—sebelum kitab Wahyu yang berbicara tentang masa depan—dengan dua surat kecil seperti kartu pos, yaitu 2 Yohanes dan 3 Yohanes. Dalam ayat-ayat pembuka kedua surat itu, kata “kebenaran” muncul berulang kali, masing-masing sekitar lima kali. Surat yang satu ditujukan kepada seorang wanita, dan yang satu lagi kepada seorang pria. Pesan terakhir sebelum masuk ke kitab Wahyu adalah ini: tetaplah setia kepada kebenaran. Kata “kebenaran” begitu ditekankan. Jadi, pesan terakhir dari rasul terakhir, di akhir abad pertama, adalah hidup dalam kebenaran. Dan Yudas juga menambahkan hal yang sama, yaitu “berjuang sungguh-sungguh untuk mempertahankan kebenaran.” Ini adalah peperangan tentang kebenaran. Inilah yang disebut peperangan rohani.

Dan salah satu bagian penting dalam peperangan itu adalah kemampuan untuk menguji roh-roh. Kita tidak bisa begitu saja menerima semua yang orang katakan atau ajarkan. Kita perlu mengujinya. Dan bagian Firman ini memberi kita prinsip-prinsip untuk melakukannya. Jadi, mari kita kembali ke 1 Yohanes pasal 4.

Sebagai tambahan, ketika Kebangunan Rohani Besar terjadi sekitar tahun 1730 sampai 1740, muncul pertanyaan tentang keasliannya. Ada hal-hal yang jelas merupakan pekerjaan Roh Kudus, tetapi ada juga hal-hal yang tampaknya bukan berasal dari Roh Kudus. Jonathan Edwards kemudian menilai gerakan itu, dan ia melakukannya berdasarkan bagian Firman yang sama ini. Jadi, kalau tadi malam Steve Lawson “membangkitkan” Calvin dari masa lalu, hari ini kita seolah-olah “menghadirkan kembali” Jonathan Edwards, untuk mendengarkan sedikit dari pemikirannya.

Jonathan Edwards menulis sebuah karya berjudul Ciri Khas Karya Roh Allah. Karya ini didasarkan pada 1 Yohanes pasal 4 dan diterbitkan pada tahun 1741. Edwards menegaskan bahwa bagian Firman ini adalah dasar yang sangat penting untuk menilai segala sesuatu yang mengaku sebagai pekerjaan Roh Kudus. Prinsip-prinsip ini bukan berasal dari Jonathan Edwards sendiri—ia hanya menjelaskan apa yang sudah ada di dalam Firman Tuhan—melainkan berasal dari Roh Kudus. Ini adalah ukuran yang berlaku sepanjang waktu, yang harus kita gunakan untuk menilai setiap gerakan rohani, setiap pemberitaan, dan setiap pengkhotbah. Semua harus diuji dengan prinsip-prinsip ini.

Apa pun yang benar-benar berasal dari Roh Kudus pasti sesuai dengan prinsip-prinsip ini. Sungguh luar biasa bahwa Roh Kudus sendiri telah memberikan ukuran ini kepada kita. Semua garis pengujian bertemu dalam delapan ayat ini. Ini adalah tanggung jawab setiap pendeta, pengajar, pengkhotbah, dan setiap orang percaya untuk menguji semua klaim, semua orang, dan semua nubuat. Sama seperti orang-orang Berea yang mulia, kita harus memeriksa segala sesuatu untuk melihat mana yang benar.

Lalu apa inti masalahnya di sini? Jelas, ini berbicara tentang pekerjaan Roh Kudus. Lihat kembali ke 1 Yohanes 3:24: “Siapa yang menuruti segala perintah-Nya, ia ada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.” Lalu dikatakan, “Dengan inilah kita ketahui bahwa Allah ada di dalam kita, yaitu dengan Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita.” Artinya, keselamatan kita diteguhkan, dan kita diyakinkan bahwa kita milik Kristus, melalui pekerjaan Roh Kudus. Itulah yang Yohanes maksudkan. Jaminan kita—sekali lagi—keyakinan kita bahwa kita sungguh-sungguh diselamatkan, didasarkan pada pekerjaan Roh Kudus di dalam kita.

Saya tahu Roh Kudus itu tidak terlihat. Dia bekerja secara supranatural, ilahi, dan tidak bisa kita tangkap secara langsung di dalam diri kita. Tapi, meskipun pekerjaan Roh Kudus itu tidak terlihat, hasilnya bisa terlihat. Kita mungkin tidak bisa merasakan atau menyadari secara langsung bagaimana Roh Kudus bekerja, tetapi kita bisa melihat dampak dari pekerjaan-Nya dalam hidup kita. Salah satu kesalahan dalam gerakan karismatik adalah ketika orang berkata, “Roh Kudus memimpin saya,” atau “Roh Kudus mengarahkan saya,” seolah-olah mereka bisa memastikan itu secara langsung. Padahal, kita tidak punya cara untuk mengetahui hal itu secara pasti. Tidak ada mekanisme apapun untuk mengetahui bahwa itu benar-benar dari Roh Kudus. Pekerjaan Roh Kudus itu tidak terlihat, tidak bisa dirasakan secara langsung, dan bersifat ilahi serta supranatural.

Yang bisa saya ketahui adalah saya mengalami hasil dari pekerjaan-Nya dalam hidup saya. Dan itu dimulai sejak saya diselamatkan. Saya langsung memiliki kebencian terhadap dosa dan memiliki kasih terhadap hal-hal yang memuliakan Tuhan. Saya juga menjadi tidak tertarik pada filsafat, padahal dulu saya mengambil studi minor filsafat saat kuliah dan mempelajari filsafat Barat. Tetapi sekarang, mungkin tidak ada orang yang lebih tidak tertarik pada filsafat dibanding saya. Sebaliknya, saya memiliki kerinduan yang besar dan mendalam untuk mengenal Firman Tuhan.

Saya tidak melihat Roh Kudus melakukan itu. Saya juga tidak merasakan secara langsung saat Dia melakukannya. Tetapi saya tahu hasil dari pekerjaan-Nya. Saya bisa mentolerir orang-orang di dunia dengan belas kasihan karena mereka tersesat. Saya mengasihi umat Tuhan. Saya mengasihi orang-orang di dalam gereja Tuhan. Bahkan saya tidak mengenal Anda secara pribadi, tetapi jika Anda mengizinkan, saya hanya mau mengatakan bahwa saya mengasihi Anda dengan sungguh-sungguh. Bukan karena saya tahu semua tentang Anda, tetapi karena ada sesuatu tentang orang-orang yang adalah milik Kristus—mereka juga menjadi bagian dari saya. Hal-hal ini adalah bukti—bukti nyata dari pekerjaan Roh Kudus yang tidak terlihat di dalam diri saya.

Jadi kita tahu bahwa Kristus tinggal di dalam kita, karena Roh yang Dia berikan nyata terlihat dalam hidup kita. Orang sering bertanya kepada saya, “Bagaimana Anda tahu bahwa Anda adalah orang percaya?” Jawabannya bukan pada kesempurnaan, tetapi pada arah hidup. Terlihat dari apa yang kita kasihi, apa yang kita benci, dan apa yang kita rindukan. Bukankah kita semua seperti yang digambarkan dalam Roma pasal 7? Kita tidak melakukan apa yang seharusnya kita lakukan, kita tidak melakukan apa yang sebenarnya kita inginkan. Sebaliknya, kita justru melakukan hal-hal yang tidak kita inginkan dan tidak seharusnya kita lakukan, dan kita membenci hal itu dalam diri kita. Dan justru itulah bukti bahwa Roh Kudus bekerja di dalam kita.

Anda tahu, dalam Yohanes 3:8 Yesus berkata kepada Nikodemus, “Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi.” Itu adalah gambaran tentang Roh Kudus. Pekerjaan Roh Kudus itu tidak terlihat, tetapi dampaknya sangat nyata. Melalui hasil yang terlihat dan bisa dialami dari pekerjaan-Nya yang tidak terlihat, kita tahu bahwa Roh Kudus tinggal di dalam kita.

Apa yang Roh Kudus kerjakan di dalam kita? Saya akan ringkas dengan sederhana. Dia menumbuhkan dalam diri kita kerinduan untuk bertobat dan kebencian terhadap dosa. Dia menumbuhkan keinginan untuk mencari keselamatan dan pengampunan. Dia menumbuhkan iman kepada Injil, kasih kepada Tuhan Yesus Kristus, dan kerinduan untuk tunduk kepada-Nya sebagai Tuhan. Dia juga menumbuhkan kecintaan pada Firman Tuhan dan kerinduan untuk hidup taat. Dia memberi sukacita di tengah pencobaan, kasih kepada sesama orang percaya, dan kerinduan untuk bersekutu. Dia memberi pengertian akan Alkitab, membuka pikiran kita terhadap kebenaran Firman, dan mendorong kita untuk berdoa. Dia menumbuhkan kasih yang kudus, kerinduan untuk memuji Tuhan, hati yang penuh ucapan syukur, menjadikan penyembahan sebagai gaya hidup, dan terus membentuk kita semakin serupa dengan Kristus. Semua ini sangat menguatkan. Dan bisa dikatakan begini: inilah yang Roh Kudus kerjakan di dalam diri kita—suka atau tidak.

Tetapi ada juga roh-roh lain. Dan ini cukup mengejutkan. Seolah-olah ada perubahan mendadak dari kemuliaan yang dijelaskan di 1 Yohanes 3:24—tentang Kristus dan pekerjaan Roh Kudus yang sejati—lalu tiba-tiba Yohanes diarahkan untuk berbicara tentang bahaya yang mematikan dari roh-roh yang tidak kudus, yaitu orang-orang yang bukan dari Allah, yang melawan Allah, yang bersifat antikristus.

Namun sebenarnya kita tidak terlalu heran, karena sejak Perjanjian Lama kita sudah diperingatkan oleh Roh Kudus. Penyesatan dari Iblis selalu ada. Itu sudah ada sejak di taman Eden, bukan? Dan itu terus bekerja sampai sekarang. Selalu aktif, dan sering kali efektif. Tuhan sejak dahulu sudah memperingatkan umat-Nya, memanggil mereka untuk berjaga-jaga dan memiliki kemampuan untuk membedakan. Ini adalah peperangan panjang tentang kebenaran—dan peperangan ini terus berlangsung tanpa henti. Umat Tuhan selalu harus berhadapan dengan nabi-nabi palsu dan para pendusta. Dan yang membuat mereka berbahaya adalah karena penyesatannya terasa meyakinkan.

Ada ironi yang sangat aneh bagi saya dalam gerakan karismatik. Ketika Anda mengkritik mereka, ketika Anda berusaha berjaga-jaga dan memiliki kepekaan untuk membedakan, ketika Anda berjuang untuk mempertahankan kebenaran, berpegang pada Kitab Suci, dan menunjukkan kesalahan mereka—justru Anda yang dianggap bersalah. Mereka akan mengatakan bahwa Anda menghalangi penggenapan doa Yesus dalam Yohanes 17 tentang kesatuan gereja. Bagaimana saya tahu hal itu? Karena saya pernah mengalaminya sendiri.

Agar gerakan itu bisa terus bertahan, mereka harus menjadikan sikap membedakan kebenaran sebagai sesuatu yang salah. Mereka harus menganggap kemampuan untuk membedakan sebagai pelanggaran terhadap Kristus dan doa-Nya. Itu menjadi hal yang penting bagi mereka. Karena itu, mereka menyerang orang-orang yang berdiri untuk kebenaran, dan menggambarkan mereka sebagai musuh Roh Kudus. Sebab jika ajaran yang sehat benar-benar ditegakkan, maka gerakan seperti itu tidak akan bisa bertahan.

Dunia kekristenan Injili pada umumnya telah terintimidasi hingga memilih diam. Kami sempat membicarakan hal ini ketika mulai mengerjakan buku tersebut. Kami bahkan kesulitan menemukan buku yang secara jelas membongkar gerakan karismatik sebagaimana adanya—tidak ada buku yang cukup berarti yang diterbitkan dalam sekitar 15 tahun terakhir. Artinya, mereka cukup berhasil membuat dunia Injili menjadi diam.

Jadi, kita kembali ke 1 Yohanes, dan kita diperintahkan untuk menguji setiap orang yang berbicara atas nama Tuhan dan Kristus—untuk memastikan apakah mereka benar-benar berasal dari Allah. Ayat itu dimulai dengan jelas: “Saudara-saudaraku yang terkasih, janganlah percaya kepada setiap roh.” Jangan langsung percaya. Mengapa? “Sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia.” Karena itu, kita harus mengujinya. Seharusnya ini saja sudah cukup untuk menunjukkan adanya kesalahan dalam suatu gerakan, jika mereka menolak untuk diuji. Jika itu benar-benar pekerjaan Roh Kudus yang sesuai dengan Kitab Suci, mereka justru akan membuka diri untuk diuji. Mereka akan mengundang pemeriksaan sebanyak mungkin, karena mereka ingin diteguhkan dan dibuktikan kebenarannya.

Jadi, apa saja yang diuji? Saya akan mulai dengan satu dulu—sebenarnya ada beberapa, tetapi kita lihat sejauh mana kita bisa membahasnya. Sisanya ada di dalam buku saya. Saya sempat bilang ke Travis bahwa saya butuh tiga jam hari ini, tapi dia bilang, “Tidak, tidak bisa tiga jam.”

Baik, pengujian yang pertama: pekerjaan Roh Kudus yang sejati akan meninggikan Tuhan Yesus Kristus. Pekerjaan Roh Kudus yang sejati selalu memuliakan Yesus. Di ayat 2 dikatakan, “Dengan inilah kita mengenal Roh Allah: Setiap roh yang mengaku bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah, dan setiap roh yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia.”

Pengujian pertama adalah pengujian tentang Kristus. Artinya, berkaitan dengan siapa Yesus Kristus itu. Setiap roh yang mengakui Kristus berasal dari Allah—itu sisi positifnya. Sebaliknya, setiap roh yang tidak mengakui Kristus tidak berasal dari Allah. Jadi semuanya dimulai dari pemahaman tentang Kristus. Dimulai dari pengertian yang benar tentang inkarnasi, bahwa Yesus adalah Allah yang menjadi manusia, sesuai dengan apa yang diajarkan Alkitab.

Lalu, apa yang secara khusus Yohanes maksudkan di sini? Pada waktu itu ada orang-orang yang menyangkal bahwa Yesus benar-benar manusia. Ajaran ini dikenal sebagai Docetisme, dari kata Yunani dokeō yang berarti “tampak.” Ajaran ini berasal dari pemikiran filsafat dualisme Yunani, yang mengatakan bahwa segala sesuatu yang bersifat materi itu jahat, sedangkan yang bersifat roh itu baik. Jadi, menurut mereka, Anak Allah tidak mungkin benar-benar menjadi manusia secara fisik, karena itu berarti Dia menjadi materi dan dianggap jahat. Karena itu, mereka mengatakan bahwa Yesus hanya “tampak” seperti manusia, tetapi sebenarnya tidak sungguh-sungguh manusia. Dengan demikian, mereka meragukan dan menyangkal kemanusiaan sejati dari Yesus Kristus.

Apakah hal ini penting? Ya, sangat penting. Karena jika Yesus menjadi pengganti yang mati menggantikan kita, maka Dia harus benar-benar manusia. Jika dosa kita diperhitungkan kepada-Nya dan Dia dihukum menggantikan kita, maka Dia harus manusia.

Lebih dari itu, jika hidup-Nya diperhitungkan kepada kita, maka Dia harus hidup sebagai manusia. Jadi, kemanusiaan Yesus itu sangat penting. Memang, Yohanes di sini tidak sedang menjelaskan seluruh ajaran tentang Kristus secara lengkap. Bukan itu tujuannya. Dia hanya menyoroti satu kesalahan yang ada pada waktu itu, yaitu yang menyerang kebenaran bahwa Yesus adalah sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia. Dari sini kita bisa melihat satu prinsip penting: yaitu bahwa segala sesuatu dimulai dari pemahaman yang benar tentang Kristus. Yesus adalah sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia.

Pada tahun 451, dalam Konsili Kalsedon, ajaran yang disebut monofisitisme dinyatakan sebagai ajaran sesat. Ajaran ini mengatakan bahwa dua natur Yesus—ilahi dan manusia—bercampur menjadi satu secara menyatu. Ini menjadi perdebatan besar pada masa awal gereja. Tetapi pada akhirnya, gereja menegaskan bahwa Yesus memiliki dua natur—Allah dan manusia—yang ada dalam satu Pribadi, tanpa tercampur.

Memang, tidak semua unsur wahyu Perjanjian Baru atau Perjanjian Lama tentang Kristologi ada di sini. Tapi, pengujian pertamanya tetap sama: apakah seseorang memiliki pemahaman yang benar tentang Anak Allah yang menjadi manusia. Walaupun tidak semuanya dijelaskan secara langsung di sini, semuanya tersirat di dalamnya. Semua agama palsu dan kelompok yang menyimpang selalu memiliki pandangan yang salah tentang Kristus. Misalnya, dalam ajaran Mormon, Yesus dianggap sebagai “saudara roh” dari Lucifer—seorang makhluk ciptaan—dan bahkan Allah sendiri dianggap sebagai makhluk ciptaan. Jadi, semua ajaran yang menyimpang pasti memiliki pemahaman yang keliru tentang Kristus.

Roh Kudus tidak demikian. Roh Kudus selalu memiliki pandangan yang benar tentang Kristus, dan selalu menyatakan kemuliaan Sang Anak dengan setia. Setiap pengkhotbah yang benar-benar dipenuhi Roh Kudus akan berpusat pada Kristus—hidup dan pelayanannya didominasi oleh Kristus, dan ia akan menyampaikan Kristus dengan benar, meninggikan-Nya, dan setia pada kebenaran.

Dan ini bukan hanya soal teologi yang benar, tetapi juga soal siapa yang menjadi pusat utama, dan juga tentang kejelasan Injil. Jadi, jika ada kekurangan dalam pemahaman tentang natur Kristus, atau Kristus tidak menjadi pusat utama, atau Injil tidak disampaikan dengan jelas, maka itu bukan pekerjaan Roh Kudus. Yesus sendiri berkata dalam Yohanes 14:15-16 bahwa ketika Roh Kudus datang, Dia akan menunjukkan tentang diri-Nya. Pelayanan Roh Kudus adalah menunjuk kepada Kristus. Dia akan memimpin kita kepada seluruh kebenaran tentang Kristus.

Siapa pun yang salah dalam memahami Kristus, atau yang merendahkan Kristus, atau yang merusak Injil, atau yang mengalihkan perhatian dari Sang Anak kepada Roh Kudus, tidak sedang bekerja oleh Roh Kudus. Jonathan Edwards mengatakan bahwa Iblis memiliki kebencian yang sangat besar dan mendalam terhadap Kristus. Ia tidak akan pernah berusaha membuat manusia memiliki pandangan yang benar dan tinggi tentang Kristus. Sebaliknya, Iblis berusaha memutarbalikkan, membingungkan, menutupi, dan menyalahgambarkan kemuliaan Anak Allah. Ia juga berusaha mengalihkan perhatian dari Kristus kepada gambaran yang salah tentang Roh Kudus, sambil seolah-olah tetap menghormati Yesus.

Sebaliknya, pekerjaan Roh Kudus yang sejati melakukan hal yang berlawanan. Pekerjaan Roh Kudus yang sejati selalu meninggikan Kristus yang benar, menempatkan-Nya sebagai pusat utama, dan menyatakan Injil-Nya dengan jelas dan benar.

Jika gerakan karismatik benar-benar dihasilkan oleh Roh Kudus, maka kemuliaan Kristus akan terlihat di mana-mana. Gerakan itu akan berpusat pada Kristus, dan setiap orang di dalamnya akan tunduk kepada Kristus yang sejati, percaya kepada Injil yang benar. Orang-orang akan hidup dalam kerendahan hati, penuh sukacita, rela berkorban, mau mengakui dosa, menyatakan Yesus sebagai Tuhan, dan diri mereka sebagai hamba-Nya. Mereka akan menyangkal diri, memikul salib, dan mengikuti Dia ke mana pun Ia memimpin.

Namun, dengan cukup percaya diri, sebuah buku dari Jack Hayford dan seorang penulis bernama Moore menyatakan bahwa ciri khas gerakan karismatik adalah penekanan pada Roh Kudus. Mereka menulis, “Dalam keragaman gerakan Pentakosta, hanya satu hal yang sama: kerinduan mereka untuk mengalami kehadiran dan kuasa Roh Kudus.”

Ketika Roh Kudus dijadikan tujuan utama yang dicari, justru pekerjaan-Nya yang sebenarnya ditinggalkan. Kristus menjadi tersamarkan, Kitab Suci tidak lagi dihargai sebagaimana mestinya, dan perhatian beralih pada pengalaman-pengalaman yang sebenarnya palsu, yang dianggap berasal dari Roh Kudus padahal tidak ada hubungannya dengan Dia.

Dalam Efesus 3:14, Paulus berkata, “Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa, yang dari-Nya semua keluarga yang di dalam surga dan di atas bumi menerima namanya.” Lalu ini doanya: “Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan kamu dengan kuasa melalui Roh-Nya di dalam batinmu.”

Paulus sedang berkata, “Aku berdoa kepada Bapa, dan aku meminta supaya melalui Roh-Nya Dia menguatkan kamu,” dengan tujuan ini: supaya Kristus tinggal di dalam hatimu melalui iman. Supaya kamu, yang berakar dan berdasar dalam kasih, dapat bersama semua orang kudus memahami betapa luas, panjang, tinggi, dan dalamnya kasih Kristus. Dan supaya kamu mengenal kasih Kristus yang melampaui segala pengetahuan, sehingga kamu dipenuhi dengan seluruh kepenuhan Allah. Lalu ia menutup dengan pujian: “Bagi Dia yang dapat melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya.”

Apa isi doa Paulus? Bahwa Roh Kudus akan memimpin kita untuk semakin memahami kasih Kristus. Roh Kudus selalu mengarahkan kepada Kristus. Di sinilah, menurut pandangan ini, gerakan karismatik dianggap gagal dalam ujian ini, karena mereka tidak meninggikan Kristus sebagai pusat utama, melainkan meninggikan gambaran tentang Roh Kudus yang tidak sesuai. Sederhananya: jika seseorang terlalu terfokus pada Roh Kudus itu sendiri, itu justru menunjukkan bahwa ia tidak dipenuhi oleh Roh Kudus. Tetapi jika seseorang begitu terarah kepada Tuhan Yesus Kristus—tidak pernah bosan belajar tentang Dia, mengasihi Dia, terpikat oleh kemuliaan-Nya, dan rindu untuk taat serta menjadi seperti Dia—maka itulah tanda orang yang dipenuhi Roh Kudus.

Sebagian besar dari gerakan itu, menurut pandangan ini, bahkan dianggap bersifat antikristus. Kisah-kisah tentang “penglihatan Yesus” dalam lingkaran karismatik juga dinilai sangat mengkhawatirkan. Ada yang mengatakan melihat Yesus berpakaian seperti pemadam kebakaran. Ada yang mengaku melihat-Nya setinggi 900 kaki. Ada yang merasa bertemu dengan-Nya secara rutin di kamar mandi. Ada yang mengaku melihat-Nya menari di tempat pembuangan sampah. Ada yang mengatakan melihat-Nya duduk di kursi roda di panti perawatan. Ada juga yang mengaku berjalan-jalan bersama-Nya di pantai. Dan berbagai cerita lain yang serupa.

Seorang penulis karismatik bahkan berkata, “Tidak lama setelah Roh Kudus menyatakan diri-Nya, saya melihat Yesus. Lalu saya meminta Tuhan membawa saya ke tempat rahasia-Nya. Saya berbaring di rumput dan berkata, ‘Yesus, maukah Engkau berbaring di samping saya?’ Kami saling memandang. Kemudian Bapa juga datang dan berbaring di samping Yesus.”

Emosi yang berlebihan, imajinasi yang aneh, hal-hal seperti itu sama sekali tidak berkaitan dengan Yesus maupun Roh Kudus. Apakah itu delusi? Mungkin. Kebohongan? Bisa jadi. Tetapi jelas bukan berasal dari Roh Kudus. Dan ini bukan hanya soal gambaran-gambaran aneh seperti yang diceritakan dalam buku Heaven Is for Real (Surga itu Nyata), yang mengklaim seorang anak kecil pergi ke surga lalu kembali dan menggambarkan Yesus, kuda Yesus, juga bahwa Yesus lebih pendek dari Mikhael. Itu saja sudah bermasalah, tetapi yang lebih serius lagi adalah ajaran-ajaran yang menyimpang tentang siapa Yesus sebenarnya.

Di dalam buku itu nanti dijelaskan berbagai ajaran seperti ini: ada yang mengatakan Yesus tidak datang ke bumi sebagai Allah yang menjadi manusia, bahkan Dia tidak pernah mengaku sebagai Allah. Ada juga yang mengajarkan bahwa di kayu salib Yesus mengambil natur berdosa seperti Iblis, mati secara rohani, dan pergi ke neraka selama tiga hari. Seorang pengkhotbah kemakmuran, Kenneth Copeland, bahkan menyampaikan pandangan yang sangat tidak sesuai dengan Alkitab tentang Yesus. Ia mengatakan bahwa ketika Yesus berseru “Allah-Ku,” itu karena Allah bukan lagi Bapa-Nya. Ia juga menyatakan bahwa Yesus mengambil natur Iblis dan menderita di neraka, seolah-olah dikalahkan, sampai kemudian Allah mulai berbicara.

Creflo Dollar, seorang tokoh lain dalam ajaran Word of Faith, juga menyampaikan pandangan yang serupa—yang dianggap tidak menghormati dan bahkan mempertanyakan keilahian Kristus. Ia mengatakan bahwa Yesus tidak datang dalam keadaan sempurna, tetapi bertumbuh menuju kesempurnaan. Ia juga menyoroti bahwa Yesus pernah merasa lelah dan tertidur, lalu menyimpulkan bahwa hal itu berarti Yesus bukan Allah. Nah, berapa banyak dari Anda yang tahu bahwa Alkitab mengatakan, ‘Allah tidak pernah tertidur atau terlelap,’ namun dalam Injil Markus kita melihat Yesus tertidur di bagian belakang perahu.” Pemikiran macam apa yang berbelit-belit, dan menggelikan seperti ini? Menjelek-jelekkan keilahian Kristus - bahwa Dia tidak datang sebagai Tuhan.

Gerakan Word of Faith juga dianggap bermasalah karena menempatkan diri mereka—dan para pengikutnya—seolah-olah memiliki status seperti Allah. Kenneth Copeland bahkan mengklaim berbicara seolah-olah mewakili Yesus, mirip dengan pendekatan yang dipakai Sarah Young dalam tulisannya. Dalam salah satu pernyataannya, Copeland berkata seolah-olah itu adalah perkataan Yesus, yaitu: “Janganlah kamu terganggu ketika orang menuduhmu menganggap dirimu adalah Allah. Mereka menyalibkan Aku karena mengira Aku mengaku sebagai Allah. Aku tidak pernah mengaku sebagai Allah. Aku hanya mengatakan bahwa Aku berjalan bersama Dia dan Dia bersama Aku. Haleluya.”

Ini menunjukkan kesombongan yang besar, kebodohan, kesalahan yang serius, dan bahkan penghinaan terhadap kebenaran. Dan pertanyaannya, di mana orang-orang dalam gerakan itu yang sebenarnya percaya kebenaran tentang Yesus Kristus untuk menegur hal-hal seperti ini dan menghentikan pengaruhnya? Ajaran seperti itu tidak mungkin berasal dari Roh Kudus.

Kita juga bisa melihat bukan hanya kesalahan tentang siapa Kristus, tetapi juga penyimpangan tentang Injil. Dan ini sangat luas. Kita tahu tujuan Roh Kudus datang: untuk menyadarkan dunia akan dosa, kebenaran, dan penghakiman, supaya orang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Dia datang untuk bersaksi tentang kebenaran Injil, seperti yang dikatakan dalam Kisah Para Rasul pasal 5. Dia juga memberi kuasa kepada mereka yang memberitakan Injil, seperti yang tertulis dalam 1 Petrus 1:12. Kita tahu pekerjaan Roh Kudus. Dan Roh Kudus setia kepada Injil. Dia tidak akan pernah menyampaikan Injil dengan cara yang salah atau menyesatkan.

Jadi, di mana pun Injil direndahkan atau disalahartikan, kita bisa tahu bahwa itu bukan pekerjaan Roh Kudus. Dan saya akan bicara dengan sangat jelas: setiap gerakan yang bisa sepenuhnya menerima ajaran Katolik Roma, bukan berasal dari Roh Kudus, karena itu adalah Injil yang menyimpang.

Mengapa hal itu bisa terjadi? Karena dasar utamanya adalah pengalaman rohani yang dianggap sama. Ajaran yang benar akhirnya dikalahkan oleh pengalaman rohani. Pengalaman yang sebenarnya keliru justru diterima, dan bentuk Injil yang tidak tepat pun ikut diterima. Sebagai contoh, pembaruan karismatik dalam lingkungan Katolik dimulai sekitar tahun 1967, ketika sekelompok mahasiswa mengaku menerima apa yang mereka sebut “baptisan Roh,” dan mulai berbicara dengan bahasa yang tidak dimengerti.

Gerakan itu kemudian diakui secara resmi oleh Paus Yohanes Paulus II. Mengapa? Karena dalam pandangan ini, sistem Katolik dianggap memiliki kecenderungan untuk “menyerap” berbagai kelompok. Dengan cara itulah, sistem tersebut berkembang. Anda mungkin pernah mendengar pernyataan Paus seperti ini, ‘Mari semua kembali ke gereja. Homoseksual tidak masalah. Ateis juga akan masuk surga kalau berusaha hidup baik.’ Dalam pandangan ini, hal itu dilihat sebagai bagian dari pendekatan yang menerima semua orang—menyerap perbedaan, menerima mereka yang berada di luar, dan membangun suatu sistem yang luas. Mengapa? Karena sistem itu hanya memiliki satu raja, dan raja itu adalah raja kegelapan.

Pada sekitar tahun 2000, diperkirakan ada sekitar 120 juta orang karismatik dalam lingkungan Katolik. Dari total lebih dari 500 juta orang karismatik di seluruh dunia, itu berarti kira-kira satu dari lima berasal dari latar belakang Katolik. Dalam pandangan yang disampaikan di sini, kelompok karismatik Katolik tetap memegang teologi dan doktrin Katolik, termasuk pemahaman bahwa pembenaran tidak hanya oleh iman, tetapi juga melibatkan perbuatan. Mereka juga memegang keyakinan tentang efektivitas ketujuh sakramen Roma, serta praktik-praktik seperti misa dan memuja Maria dan para santo. Mereka telah sepenuhnya dirangkul oleh kaum Pentakosta Protestan.

Mengapa ada orang yang melakukan hal seperti itu? Mengalah terhadap ajaran Katolik? Hal ini sudah menjadi bagian dari pola yang umum dalam kekristenan Injili masa kini. Ini ada sebuah laporan: “Sepuluh ribu orang karismatik dan pentakosta berdoa, bernyanyi, menari, bertepuk tangan, dan bersorak bersama dalam ikatan yang sama, yaitu Roh Kudus, selama sebuah konvensi ekumenis empat hari di musim panas lalu. Sekitar setengah dari peserta dalam kongres tentang Roh Kudus dan Penginjilan Dunia adalah orang Katolik. ‘Roh Kudus ingin meruntuhkan tembok antara Katolik dan Protestan,’ kata Vinson Synan, dekan teologi di Universitas Regent milik Pat Robertson, yang memimpin kongres tersebut.”

Jika sebuah gerakan bisa menerima ajaran Katolik, maka itu bukan gerakan yang berasal dari Roh Kudus. Teologi Katolik Roma dianggap telah menyimpang dan memiliki Injil yang tidak benar. Karena itu, gerakan karismatik dalam lingkungan Katolik dipandang bukan berasal dari Roh Kudus.

Bukan hanya itu. Di seluruh dunia, ada sekitar 24 juta orang karismatik yang termasuk dalam kelompok yang dikenal sebagai pentakosta “keesaan.” Apa itu pentakosta keesaan? Kadang disebut juga “Yesus saja.” Mereka menolak ajaran Tritunggal. Jumlahnya sekitar 24 juta, bahkan di Amerika bisa mencapai sekitar satu dari empat orang dalam kelompok tertentu. Apa yang mereka percayai? Mereka menganut ajaran yang disebut modalisme, yaitu keyakinan bahwa hanya ada satu Allah yang menampakkan diri dalam tiga bentuk yang berbeda—kadang sebagai Bapa, kadang sebagai Anak, dan kadang sebagai Roh—tetapi tidak pernah sebagai tiga Pribadi sekaligus di waktu yang sama.

Menurut ajaran itu, Allah memiliki tiga “mode” atau cara penampakan. Tetapi hal ini menimbulkan masalah, misalnya pada peristiwa baptisan Yesus—di mana Bapa, Anak, dan Roh Kudus hadir secara bersamaan. Sulit dijelaskan kalau hanya satu Pribadi yang sekadar berganti-ganti peran. Sejak awal, melalui Pengakuan Iman Athanasius, gereja menegaskan bahwa Allah adalah Bapa, Anak, dan Roh Kudus—tiga Pribadi yang setara, kekal, dan ilahi. Ajaran modalisme sepanjang sejarah gereja telah dinyatakan sebagai ajaran sesat, karena menyentuh inti dari siapa Allah itu sendiri dan dianggap menjauhkan dari pemahaman keselamatan yang benar. Salah satu tokoh pentakosta kesatuan yang mungkin Anda kenal adalah T. D. Jakes, yang menolak ajaran Tritunggal. Dalam pandangan ini, jika seseorang tidak memiliki pemahaman yang benar tentang Allah, maka ia juga tidak memiliki pemahaman yang benar tentang Kristus maupun Roh Kudus.

Ajaran modalisme mengatakan bahwa hanya ada satu Allah yang bisa disebut dengan tiga nama yang berbeda. Dia bisa disebut Bapa, Anak, dan Roh Kudus pada waktu yang berbeda. Ketiga sebutan ini bukan pribadi yang berbeda, melainkan hanya cara atau “mode” dari satu Allah yang sama. Menurut pandangan ini, Allah disebut Bapa sebagai Pencipta dan pemberi hukum. Dia disebut Anak ketika Allah menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus. Dia disebut Roh Kudus dalam masa gereja. Jadi, Yesus Kristus dianggap sebagai Allah dan Roh Allah, tetapi bukan sebagai Pribadi yang berbeda. Namun, dalam sejarah gereja, ajaran ini telah ditolak. Dalam Konsili Nicea dan Konsili Konstantinopel, modalisme dinyatakan sebagai ajaran sesat.

Gereja terbesar di Amerika—atau mungkin bisa disebut “gereja” dengan huruf kecil—adalah Joel Osteen di Houston. Ajarannya digambarkan sebagai sesuatu yang dangkal, manis di permukaan, dan mengarah pada universalisme—pandangan bahwa semua orang pada akhirnya bisa diselamatkan—yang bertentangan dengan ajaran Alkitab. Ketika ia ditanya tentang orang-orang yang menolak menerima Yesus Kristus, ia memberikan jawaban seperti ini: “Saya tidak tahu apakah saya percaya bahwa mereka salah. Saya percaya—ini yang Alkitab ajarkan, dan sebagai orang Kristen, ini yang saya percaya. Tetapi saya juga berpikir bahwa hanya Tuhan yang bisa menghakimi hati seseorang. Saya pernah menghabiskan banyak waktu di India bersama ayah saya. Saya tidak tahu banyak tentang agama mereka, tetapi saya tahu mereka mengasihi Tuhan. Saya tidak tahu. Saya melihat ketulusan mereka, jadi saya tidak tahu. Yang saya tahu, bagi saya pribadi, dan dari apa yang Alkitab ajarkan, saya ingin memiliki hubungan dengan Yesus.”

Pada kesempatan lain, ia ditanya apakah orang Mormon adalah orang Kristen sejati. Jawabannya, “Menurut saya, iya. Mitt Romney mengatakan bahwa ia percaya kepada Kristus sebagai Juruselamatnya, dan itu juga yang saya percaya. Jadi, saya bukan orang yang menilai hal-hal detail seperti itu. Jadi saya percaya mereka adalah orang Kristen.”

Apakah Anda menyadari betapa besar pengaruhnya? Sangat besar. Ini adalah bentuk universalisme. Menariknya, dalam sejarah, ajaran Mormon juga mengklaim mengalami fenomena supranatural yang mirip dengan yang sering dikaitkan dengan gerakan pentakosta dan karismatik saat ini. Pada peresmian Kirtland Temple yang dibangun tahun 1836 oleh Joseph Smith, dilaporkan terjadi berbagai fenomena seperti: bahasa roh, nubuat, dan penglihatan-penglihatan ajaib. Ada juga kesaksian lain yang mengatakan, “Ada manifestasi kuasa yang besar, seperti berbicara dalam bahasa roh, melihat penglihatan, dan penampakan malaikat. Roh Tuhan dicurahkan seperti pada hari Pentakosta. Ratusan penatua berbicara dalam bahasa roh.”

Nah, di situ kita melihatnya. Lebih dari setengah abad sebelum Charles Parham memulai gerakan karismatik, kaum Mormon sudah mengalami hal-hal yang serupa. Padahal, seperti diingatkan, ajaran Mormon memandang Yesus sebagai “saudara roh” Lucifer. Pertanyaannya: apakah itu pekerjaan Roh Kudus? Dalam pandangan ini, tidak—baik pada kasus Mormon maupun pada mereka yang mengikuti pola yang sama.

Selain itu, ada juga penyimpangan besar lain dalam gerakan karismatik, yaitu janji untuk kesehatan dan kekayaan dalam gerakan Word of Faith. Ini dipandang sebagai Injil yang berbeda. Ajaran ini menekankan janji keberhasilan, kesehatan, dan kekayaan sebagai bagian utama dari iman. Dalam pandangan ini, ajaran tersebut menjadi sangat dominan di banyak kalangan pentakosta—bahkan di banyak negara, sebagian besar pengikutnya mempercayainya. Itulah sebabnya gerakan ini berkembang pesat, karena menawarkan hal-hal yang diinginkan banyak orang. Namun, kritiknya adalah bahwa ajaran ini sering memanfaatkan orang-orang yang sedang dalam kondisi sulit, khususnya mereka yang miskin.

Injil kemakmuran tidak tertarik pada Injil yang sejati menurut Alkitab. Yang ditawarkan hanyalah janji kekayaan, kesehatan, dan kenyamanan bagi orang-orang yang sedang sangat membutuhkan. Ajaran ini menjanjikan kenyamanan duniawi, harta, dan kesuksesan kepada jutaan orang—bahkan kepada mereka yang rela memberikan harta mereka yang sedikit untuk bisa mendapatkannya. Dalam pandangan ini, itulah yang paling buruk—memanfaatkan orang sakit dan orang miskin, lalu menjadi kaya dengan cara menipu mereka. Dan lebih parah lagi, semua itu dikaitkan dengan Roh Kudus dan memakai nama Yesus.

Para pengajar ajaran ini dianggap bersalah karena menyebarkan Injil yang palsu dan memperdagangkan ajaran yang menyimpang. Bahkan ada yang mengatakan, “Injil kemakmuran adalah versi gulat profesional dalam kekristenan.” Gambaran itu menunjukkan betapa dangkal dan manipulatifnya. Namun, keyakinan ini juga menegaskan bahwa mereka yang menyesatkan orang lain dengan cara seperti itu pada akhirnya akan menghadapi penghakiman.

Kalau kita jumlahkan semua orang yang terhubung dengan kelompok-kelompok yang dianggap menyimpang ini—Katolik Roma, pentakosta keesaan, dan Injil kemakmuran Word of Faith—jumlahnya mencapai ratusan juta orang. Bahkan, dalam pandangan ini, mereka menjadi mayoritas dalam gerakan tersebut. Semua ini kembali ke poin utama: pekerjaan Roh Kudus yang sejati melakukan hal apa? Meninggikan siapa? Kristus—pribadi-Nya, karya-Nya, dan Injil-Nya.

Nanti ketika Anda membaca bukunya, Anda akan menemukan lebih banyak lagi contoh seperti ini yang menjelaskan berbagai penyimpangan dalam gerakan tersebut.

Sekarang, saya akan singgung secara singkat poin berikutnya, dan nanti bisa Anda pelajari lebih lanjut. Poin kedua, lihat 1 Yohanes 4:4-5: “Kamu berasal dari Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu; sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia. Mereka berasal dari dunia; sebab itu mereka berbicara tentang hal-hal duniawi dan dunia mendengarkan mereka.”

Tahukah Anda mengapa gerakan itu berkembang? Karena ia menawarkan kepada orang-orang di dunia apa yang memang sudah mereka inginkan. Sifatnya duniawi. Yang ditawarkan adalah apa yang diinginkan hati manusia yang belum diperbarui: kesehatan, kekayaan, dan kemakmuran. Semua itu dikemas sedemikian rupa. Mereka bisa memberikan pengalaman emosional yang kuat. Mereka bisa membawa orang keluar dari kejenuhan hidup sehari-hari. Mereka bisa menempatkan mereka di tengah kerumunan, dengan lampu yang gemerlap, musik yang keras, lalu mengangkat emosi mereka ke suatu pengalaman tertentu—yang mungkin terasa mirip dengan pengalaman orang yang mencari pelarian lewat hal-hal lain. Semua ini bersifat duniawi: musik, emosi, rasa bebas, janji kesehatan, kekayaan, pengalaman yang intens, harapan akan kemakmuran. “Mereka berasal dari dunia,” ayat 5 berkata, “; sebab itu mereka berbicara tentang hal-hal duniawi dan dunia mendengarkan mereka.”

Di situlah jawabannya mengapa gerakan itu berhasil. Ini adalah orang-orang dunia yang berbicara kepada orang-orang dunia tentang hal-hal dunia. Tidak ada kaitannya dengan Kerajaan Allah.

Sebaliknya, kita diingatkan bahwa kita telah mengalahkan dunia. Kita tidak tertarik dengan hal-hal seperti itu. Bukankah sudah jelas peringatannya: jangan mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Karena semua yang ada di dunia—keinginan mata, keinginan daging, dan kesombongan hidup—semuanya berasal dari dunia dan akan lenyap.

Joel Osteen menulis buku berjudul Your Best Life Now (Hidup Terbaikmu Sekarang). Itulah pesannya: hidup terbaikmu adalah sekarang. Satu-satunya cara agar pernyataan benar adalah jika Anda akan masuk neraka, karena jika Anda akan masuk surga, maka saat ini bukanlah masa terbaik Anda.

Dan semua musik yang penuh emosi itu sering membawa janji-janji palsu, dibungkus dalam irama yang membuat orang larut dalam pencarian kepuasan diri. Bahkan bisa mengarah pada hal yang bersifat sensual. Roh Kudus tidak memberikan keinginan dangkal dan tanpa arah seperti itu. Itu bukan pekerjaan-Nya. Roh Kudus justru menghasilkan kerendahan hati, hati yang hancur, pertobatan, dan buah-buah seperti kasih, sukacita, damai sejahtera, kelemahlembutan, kebaikan, kesetiaan, penguasaan diri—dan itu tidak bergantung pada musik atau suasana. Masalahnya, yang dijadikan daya tarik utama sering kali adalah keinginan daging.

Dan perhatikan juga bagaimana sebagian pengkhotbah menampilkan gaya hidup duniawi mereka. Mereka sengaja menunjukkannya. Karena itulah cara “menjual” pesan itu: lihat saya, lihat apa yang saya dapatkan, itu juga bisa terjadi pada Anda. Dalam pandangan ini, hal tersebut dibandingkan dengan Skema Ponzi. Ini adalah versi rohani dari Bernie Madoff. Ironisnya, Sembilan dari setiap sepuluh penganut Pentakosta hidup dalam kesulitan. Sembilan dari setiap sepuluh penganutnya hidup dalam kemiskinan. Lebih dari 90 persen penganut Pentakosta dan karismatik hidup di Nigeria, Afrika Selatan, India, dan Filipina, namun tetap diyakinkan bahwa Tuhan pasti memberi kekayaan jika mereka memiliki iman yang cukup. Ini adalah janji yang tidak benar.

Anda tahu, dalam pandangan ini, Injil kemakmuran dianggap bahkan lebih buruk secara moral daripada kasino di Las Vegas, karena ia menyamar sebagai agama. Di kasino, orang tahu mereka akan kehilangan uang—memang itu sistemnya. Tetapi orang tidak berharap hal yang sama dari mereka yang mengaku mewakili Tuhan. Ketika Yesus melihat seorang janda memasukkan dua keping uang terakhirnya ke dalam persembahan di Bait Suci, Dia berkata bahwa Bait itu akan diruntuhkan, tidak ada satu batu pun yang akan tersisa di atas batu yang lain. Sering kali kisah janda itu dipahami sebagai contoh tentang memberi dengan iman. Tetapi dalam sudut pandang ini, itu bukan contoh yang harus ditiru. Tuhan tidak menghendaki seseorang memberi sampai tidak punya apa-apa untuk hidup. Kisah itu justru dilihat sebagai gambaran seseorang yang terjebak dalam sistem agama yang salah—yang mengajarkan bahwa keselamatan bisa “dibeli” dengan perbuatan. Pesan yang ingin ditekankan adalah: sistem apa pun yang menekan orang sampai habis, dengan janji harapan yang keliru, pada akhirnya akan runtuh.

Izinkan saya hanya menyebutkan poin-poin lainnya. Saya melewati banyak bagian yang sebenarnya menarik. Saya juga melewati cerita tentang “nabi yang mabuk” di kantor saya—tetapi nanti Anda bisa membacanya sendiri.

Baik, poin ketiga, secara singkat saja karena kita harus berhenti. Pekerjaan Roh Kudus yang sejati akan selalu mengarahkan orang kepada Alkitab. Kita sudah mendengar hal ini juga sebelumnya. Lihat ayat 6: “Kami berasal dari Allah: Siapa yang mengenal Allah, ia mendengarkan kami; siapa yang tidak berasal dari Allah, ia tidak mendengarkan kami. Itulah tandanya Roh kebenaran dan roh yang menyesatkan.”

Bagaimana kita membedakan Roh kebenaran dan roh yang menyesatkan? Roh kebenaran akan selalu membawa kita kepada Firman Tuhan, kepada Alkitab. Itulah tandanya. Di situlah kita bisa mengenalinya.

Dengarkan pernyataan Peter Wagner: “Ada yang keberatan dengan gagasan bahwa Tuhan berkomunikasi langsung dengan kita, karena mereka berpikir bahwa semua yang Tuhan ingin nyatakan sudah ada di dalam Alkitab. Tetapi itu tidak benar, karena tidak ada satu pun ayat dalam Alkitab yang mengatakan bahwa Alkitab terdiri dari 66 kitab. Bahkan, Tuhan membutuhkan beberapa ratus tahun untuk menyatakan kepada gereja kitab mana yang harus dimasukkan dan mana yang tidak. Itu adalah wahyu di luar Alkitab. Selain itu, saya percaya bahwa doa itu dua arah. Kita berbicara kepada Tuhan dan mengharapkan Dia berbicara kepada kita. Kita bisa mendengar suara Tuhan. Dia juga menyatakan hal-hal baru kepada para nabi, seperti yang telah kita lihat.”

Jack Deere, yang dulu pernah mengajar di Dallas Theological Seminary sebelum akhirnya keluar, mengatakan hal ini: “Kecukupan Alkitab adalah ajaran yang berasal dari Iblis. Untuk dapat menggenapi tujuan tertinggi Tuhan dalam hidup kita, kita harus bisa mendengar suara-Nya, baik melalui firman tertulis maupun melalui firman yang disampaikan secara langsung dari surga. Iblis memahami betapa pentingnya orang Kristen mendengar suara Tuhan, sehingga ia melancarkan berbagai serangan di area ini.” Intinya, dalam pernyataan ini, justru kesetiaan pada Alkitab dianggap sebagai sesuatu yang salah, bahkan dikaitkan dengan Iblis.

Ia juga berkata, “Salah satu serangan Iblis yang paling berhasil adalah menciptakan ajaran yang mengatakan bahwa Tuhan tidak lagi berbicara kepada kita selain melalui Firman tertulis. Pada akhirnya, ajaran ini bersifat jahat, meskipun para teolog Kristen ikut mengembangkannya.” Disebut jahat? Maka, menurut pengujian tadi, ini sudah gagal.

Ada satu pengujian lagi, saya sebutkan singkat saja. “Saudara-saudaraku yang terkasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Siapa yang tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” Pekerjaan Roh Kudus yang sejati akan nyata melalui kasih Allah. Kasih kepada Tuhan dan kasih kepada sesama umat Tuhan. Pekerjaan Roh Kudus yang sejati akan meninggikan kasih yang alkitabiah. Kasih itu terlihat dalam penyembahan yang murni, benar, dan kudus kepada Tuhan. Dan juga terlihat dalam kerendahan hati serta kerelaan berkorban untuk melayani dan membangun orang lain.

Ini hal yang sebenarnya cukup jelas, dan saya tutup dengan ini. Dalam gerakan karismatik, semuanya sering berpusat pada diri sendiri, bukan pada orang lain. Karunia dipakai untuk membangun diri sendiri. Doa dipakai untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Orang melekat pada sistem ini supaya bisa memperoleh apa yang mereka cari. Kasih sejati justru tidak terlihat. Jonathan Edwards pernah menulis bahwa ada jenis “kasih” yang tampak di antara orang-orang dalam kelompok seperti ini, tetapi itu bukan kasih yang rela berkorban. Ketika mistisisme dan materialisme bercampur, yang muncul adalah sikap yang berpusat pada diri sendiri. Semuanya tentang apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, apa yang saya dapatkan, apa yang saya miliki. Itu adalah bentuk kasih diri yang kekanak-kanakan, materialisme yang dingin, dan keegoisan yang disamarkan seolah-olah itu adalah pekerjaan Roh Kudus.

Jadi kita tidak perlu berspekulasi. Benar-benar tidak perlu. Kita sudah punya pengujian-pengujian itu. Tinggal lihat saja ukurannya, bandingkan dengan gerakan yang ada, dan miliki kepekaan seperti orang-orang Berea. Maka semuanya akan menjadi jelas.

Saya ingin menutup dengan membaca 2 Yohanes ayat 7: “Sebab banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia, yang tidak mengaku bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia. Itulah si penyesat dan antikristus. Waspadalah, supaya kamu jangan kehilangan apa yang telah kami kerjakan itu, tetapi supaya kamu mendapat upahmu sepenuhnya. Setiap orang yang tidak tinggal di dalam ajaran Kristus, tetapi melangkah keluar dari situ, tidak memiliki Allah. Siapa yang tinggal di dalam ajaran itu, ia memiliki Bapa maupun Anak. Jikalau seseorang datang kepadamu dan ia tidak membawa ajaran ini, janganlah kamu menerima dia di dalam rumahmu dan janganlah memberi salam kepadanya. Sebab siapa yang memberi salam kepadanya, ia mendapat bagian dalam perbuatannya yang jahat.” Ini adalah peringatan untuk tidak sembarangan menerima atau menyatukan diri dengan ajaran yang memiliki pemahaman yang salah tentang Kristus.

Bapa, kami bersyukur karena pagi ini kami boleh melihat semua hal ini dalam terang Firman-Mu. Kami tidak ingin merasa lebih pintar atau lebih baik dari orang lain. Kami hanya telah menerima kasih karunia-Mu. Engkau yang memberi kami hidup dari surga, dan kami memuliakan Engkau untuk itu. Sebab tanpa kasih karunia-Mu, kami pun bisa sama-sama hidup dalam kegelapan seperti mereka yang tersesat. Terima kasih untuk anugerah-Mu.

Tuhan, muliakanlah nama-Mu. Biarlah nama-Mu ditinggikan. Hentikan segala sesuatu yang tidak menghormati Engkau. Biarlah kebenaran yang murni bersinar di tengah segala kebohongan dan penyesatan. Letakkan Iblis di bawah kaki kami, dan biarlah Kristus ditinggikan, supaya semua orang datang kepada-Nya. Kami berdoa dalam nama-Nya. Amin.

SELESAI

This sermon series includes the following messages:

Please contact the publisher to obtain copies of this resource.

Publisher Information
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969

Welcome!

Enter your email address and we will send you instructions on how to reset your password.

Back to Log In

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize
View Wishlist

Cart

Cart is empty.

Subject to Import Tax

Please be aware that these items are sent out from our office in the UK. Since the UK is now no longer a member of the EU, you may be charged an import tax on this item by the customs authorities in your country of residence, which is beyond our control.

Because we don’t want you to incur expenditure for which you are not prepared, could you please confirm whether you are willing to pay this charge, if necessary?

ECFA Accredited
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Back to Cart

Checkout as:

Not ? Log out

Log in to speed up the checkout process.

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize